Pencarian

Minggu, 16 November 2025

Jihad untuk Menemukan Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim.

Untuk menemukan shirat al-mustaqim, umat manusia hendaknya selalu berusaha untuk berjihad menolong Allah. Allah tidak membutuhkan pertolongan manusia, tetapi manusia-lah yang membutuhkan akhlak mulia yang harus dibentuk dengan melakukan usaha menolong Allah. Bentuk akhlak yang seharusnya terbina pada diri setiap manusia adalah menjadi khalifatullah di bumi, dan akhlak demikian dibentuk melalui usaha menolong Allah.

﴾۹۶﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad dalam (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (QS Al-’Ankabuut : 69)

Di jalan Allah (فِي اللَّهِ ) pada ayat di atas menunjuk pada suatu perjuangan yang murni di jalan Allah hingga seseorang bisa dipandang bertindak mewakili Allah. Mereka adalah orang yang tegak melaksanakan apa yang (hanya) diperintahkan Allah melalui kitabullah Alquran, tidak ada pemikiran atau pemahaman pribadi seseorang mencampuri jihad yang dilakukan. Bukan berarti orang yang berjuang dalam derajat demikian tidak berpikir ataupun tidak berusaha memahami, tetapi bentuk pikiran dan pemahamannya benar-benar tumbuh sebagai buah dari petunjuk dan ayat-ayat Allah tanpa menyimpang. Setiap pemahaman yang dijelaskan dan diperjuangkan mempunyai kedudukan sebagai cabang, ranting ataupun buah dari suatu ayat kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Jihad demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengenal Allah dengan tanda terbentuknya diri sebagai misykat cahaya dengan pohon api menyala dalam diri. Pohon api itu terbentuk sepenuhnya hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Kadangkala seseorang membina pemahaman layaknya pohon khuldi yang disukai syaitan dan menganggapnya pohon api. Keadaan demikian tidak termasuk sebagai jihad فِي اللَّهِ dan sebenarnya mungkin akan ditemukan banyak sentuhan syaitan pada pohon demikian. Pohon api dalam misykat diri yang benar benar-benar terbentuk hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Apabila suatu jihad dilakukan dengan adanya suatu penyimpangan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, jihad tersebut tidak termasuk dalam jihad فِي اللَّهِ.

Walaupun hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengenal Allah, jihad فِي اللَّهِ dapat diikuti oleh umat manusia umum dengan mengikuti pemahaman dan cara berpegang orang yang mengenal Allah kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang mengikuti hanya bentuk-bentuk lahir yang dilakukan, mereka tidaklah mengikuti jihad فِي اللَّهِ yang dilakukan. Tidak selalu bernilai buruk tetapi hanya tidak dalam derajat فِي اللَّهِ. Mungkin sebagian orang melakukan bentuk lahir jihad sebagai keburukan karena fanatisme kelompok saja. Pemahaman dan cara berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tampak dalam penggunaan akal dalam memahami kitabullah dan merumuskan langkah-langkah sendiri selaras dengan langkah al-jamaah yang menyatu dengan langkah Rasulullah.

Orang-orang yang mengikuti jihad فِي اللَّهِ akan memperoleh petunjuk tentang jalan-jalan Allah yang harus dilakukan diri mereka terkait dengan kauniyah yang terjadi. Ini adalah janji Allah yang sangat pasti, didahului dengan ‘lam taukid’ dan diakhiri dengan ‘nun taukid’ yang menekankan kepastian diturunkannya petunjuk tentang jalan-jalan Allah bagi orang-orang yang ikut berjihad dalam derajat demikian. Banyak orang yang merasa ikut berjihad فِي اللَّهِ tetapi setelah berjalan sekian lama hingga puluhan tahun tidak juga memperoleh petunjuk Allah atau tidak mengerti tentang jalan-jalan Allah yang harus ditempuh diri masing-masing, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti jihad فِي اللَّهِ. Masalah mereka bisa jadi terdapat pada diri mereka sendiri, atau terdapat pada jihad yang diikuti. Tidak mungkin Allah mengingkari janji yang telah dipastikan.

Para pengikut jihad harus benar-benar memperhatikan bahwa pemahaman mereka terhadap firman Allah yang diperjuangkan telah benar, serta merumuskan dan melakukan amal-amal terkait dengan firman yang diperjuangkan dengan benar. Dalam hal pemahaman, yang penting adalah lurusnya pemahaman dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai kapasitas pemahaman yang berbeda terhadap tuntunan kitabullah baik warna atau jumlahnya yang harus dihormati oleh setiap orang, dan setiap orang tidak perlu merasa iri atau dengki dengan pengetahuan yang ada pada pihak lain. Dalam hal amal, setiap orang hendaknya dapat menyatukan langkah diri terhadap langkah Rasulullah SAW hingga termasuk dalam Al-jamaah, dimulai dengan membina akhlak diri dan pemahaman sesuai dengan maksud Rasulullah SAW. Apabila hal-hal demikian tidak terjadi, seseorang mungkin telah keliru dalam mengikuti jihad فِي اللَّهِ.

Kadangkala kesalahan terdapat pada jihadnya, bahwa seseorang mungkin merasa berjihad فِي اللَّهِ tetapi sebenarnya tidak demikian. Bisa saja seseorang berjuang sendiri tanpa bersandar pada tuntunan kitabullah atau Rasulullah SAW. Mereka bisa menjadi kelompok bid’ah yang tidak memahami kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam kebenaran. Langkah-langkah yang mereka rumuskan seringkali tidak terlahir dari suatu keterbukaan terhadap suatu ayat kitabullah tertentu, hanya berdasarkan keterbukaan secara acak dan dianggap sebagai suatu perintah Allah. Dalam banyak kasus, mereka tidak menyadari keadaan kauniyah sebagai ayat yang digelar Allah untuk ruang dan jaman mereka, memandang bahwa jihad mereka adalah suatu jihad yang diperintahkan Allah tanpa memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat Allah.

Hanya orang yang bersungguh-sungguh menggunakan akalnya yang akan bisa mengenali kebenaran suatu jihad فِي اللَّهِ, baik mengenali kebenaran jihadnya atau mengenali kedudukan suatu jihad dalam urusan Rasulullah SAW, atau mengenali penyimpangan suatu jihad. Apabila seseorang meneliti dengan sungguh-sungguh pemahaman yang terbentuk berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mengetahui nilai suatu jihad tidak dipengaruhi oleh pernyataan orang lain. Nilai yang baik akan terlihat baik sekalipun banyak orang yang melakukan fitnah mengatakannya buruk, dan nilai yang buruk akan terlihat buruk sekalipun dipuji oleh banyak manusia, dan kemudian ia mengikuti yang baik dan menghindari yang buruk. Apabila seseorang terbiasa mengabaikan nilai pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mudah terkelabui pengakuan pernyataan-pernyataan jihad, menilai suatu jihad hanya berdasarkan perkataan orang lain.

Beberapa Potensi Penyimpangan dalam Jihad

Ada banyak potensi bahaya dari orang yang merasa berjihad di jalan Allah tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada bahaya tersembunyi dalam kebodohan langkah yang dilakukan, dan kadangkala langkah yang dilakukan adalah menentang perintah Allah yang tertulis dalam firman-firman dalam kitabullah Alquran. Ini mengandung bahaya yang sangat besar.

﴾۸۶﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan tentang Allah atau mendustakan al-haqq tatkala al-haqq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS Al-’Ankabuut : 68)

Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang telah menempuh perjalanan untuk mengenal Allah akan tetapi menjadi kafir setelah mencapai tanah suci bagi diri mereka sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya. Ada orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah atau mendustakan Al-haqq yang disampaikan kepada mereka. Itu adalah bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi atas orang-orang yang berusaha mengenal Allah. Perkataan dusta tentang Allah dan pendustaan terhadap Al-haqq itu merupakan penyimpangan yang dibisikkan oleh hawa nafsu mereka atau dibisikkan oleh syaitan.

Perkataan dusta tentang Allah bisa terjadi karena seseorang tidak mengenali kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Mereka mungkin menempatkan diri mereka sebagai pembawa kebenaran sebagaimana Rasulullah SAW, tidak berusaha menempati kedudukan diri yang tepat dalam urusan Rasulullah SAW. Orang demikian akan cenderung meyakini kebenaran pendapat mereka sendiri hingga mendustakan kebenaran yang dijelaskan. Mereka tidak menyadari bahwa ada tingkatan jalan turunnya kebenaran dari sisi Allah hingga ke alam dunia. Kebenaran itu secara mutlak ada di dunia berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan secara relatif bisa ditemukan pada orang-orang yang mengikuti kedua tuntunan itu melalui mekanisme al-jamaah dimana setiap orang mengerti kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW.

Orang yang mengadakan perkataan dusta tentang Allah seringkali tidak menyadari jalan diturunkannya kebenaran dari sisi Allah, dan menganggap diri mereka sebagai pembawa kebenaran utama. Mereka seringkali tidak melihat kebenaran pada orang-orang yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar sekalipun orang-orang itu mereka hormati, apalagi orang-orang yang tidak mereka kenali. Pada tingkat tertinggi, boleh jadi mereka tidak melihat kebenaran pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepada mereka karena mengikuti hawa nafsu sendiri. Mereka meletakkan kebenaran itu hanya pada keyakinan sendiri berdasar perkataan dusta mereka tentang Allah, tanpa mengetahui derajat kebenaran yang diturunkan melalui jalan yang ditentukan Allah.

Orang yang menempati kedudukan diri dalam al-jamaah akan selalu berusaha mengantarkan manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menjadikan tuntunan itu sebagai landasan untuk melaksanakan amal-amal shalih baik amal dirinya ataupun orang-orang yang mengikutinya. Sekalipun mereka mengenal urusan yang diturunkan Allah bagi dirinya, mereka seringkali tidak sedikitpun menyeru manusia untuk membantu urusannya, kecuali setelah orang-orang bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah SAW. Mereka menyeru manusia kepada Allah melalui tauladan Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW termasuk mungkin dirinya, tidak mengantarkkan manusia kepada Allah melalui dirinya saja.

Keadaan orang-orang yang mengadakan perkataan dusta dan yang mengikuti mereka akan berantakan. Seringkali mereka merasa mengenal Allah atau mengenal kebenaran-kebenaran tetapi sebenarnya dalam bentuk yang keliru yang sulit dirasakan kekeliruannya. Ketika seseorang kafir, ia akan mudah mengetahui kekufurannya walaupun barangkali mengalami kesulitan beranjak dari bertindak menentang kebenaran. Demikian pula manakala seseorang dalam kebodohan, ia akan lebih mudah mengetahui kebodohannya manakala disampaikan kebenaran kepadanya. Orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan kesulitan mengenali kekeliruan yang terjadi atas diri mereka lebih daripada orang bodoh atau orang kafir. Mereka menyangka membuat perkataan tentang Allah dengan ilmu, dan menyanggah kebenaran yang disampaikan dengan ilmu, sedangkan ilmu mereka keliru. Keadaan mereka akan sangat berantakan dan seringkali mereka tidak menyadarinya. Misalnya boleh jadi mereka melangkah menuju suatu kehancuran dan menyangka bahwa mereka menuju kebaikan.

Kedustaan dalam ayat di atas tidak terbatas pada kedustaan tentang Allah, tetapi juga proses membuat perkataannya. Seseorang mungkin saja telah terjebak mengatakan kedustaan tentang Allah walaupun belum pada tahap membuat perkataan dusta tentang Allah. Misalnya mungkin seseorang menyangka sesuatu yang terbersit dalam diri mereka merupakan suatu perintah Allah dengan penuh keyakinan secara tergesa-gesa tanpa melakukan pemeriksaan terhadap kebenarannya atau kedudukan urusan itu berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala isi bersitan itu bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu merupakan perkataan dusta tentang Allah. Sekalipun ia hanya menyangka bersitan dirinya adalah perintah Allah, belum mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian, ia telah berdusta karena keyakinannya.

Dalam perkara bersitan dalam diri, setiap orang harus bersikap benar agar tidak terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah. Apabila suatu bersitan diketahui menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan tersebut hendaknya segera disingkirkan agar tidak menjadi celah pengotor pikiran bagi syaitan. Bila bersitan itu mempunyai hubungan yang benar dengan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka bersitan itu harus difungsikan untuk lebih memahami kehendak Allah sebagaimana tertera dan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, dimaknai mengikuti dua tuntunan agung tersebut tidak menggunakan dua tuntunan itu mendukung bersitan dalam hatinya. Apabila belum diketahui hubungannya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan hendaknya disikapi sebagai data yang perlu diingat agar bisa digunakan untuk memahami kehendak Allah. Perkataan tentang Allah harus bisa dibuktikan kebenarannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh disusun tanpa suatu landasan yang benar. Tanpa landasan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang akan sangat mudah terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah.

Mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan terjadi bersamaan dengan tindakan mendustakan kebenaran manakala kebenaran itu disampaikan kepada diri mereka. Dalam hal ini tindakan mendustakan kebenaran terjadi karena ilmu yang keliru tentang Allah. Al-haqq merupakan kebenaran dari sisi Allah yang menjelaskan tentang sesuatu. Ada orang-orang yang memperoleh pengetahuan kebenaran dari alam yang tinggi di sisi Allah dan bisa menjelaskan pengetahuan itu kepada manusia. Ada orang yang mendengar kemudian mengenali bahwa penjelasan itu berasal dari sisi Allah dan membenarkan. Ada pendengar yang tidak mengenali nilai kebenaran dari penjelasan itu dan tidak dapat mensikapinya karena jauhnya jati dirinya dari keilmuan yang disampaikan, dan ada orang-orang yang mendustakan kebenaran dari penjelasan itu karena ketidakmampuan memahami. Secara khusus, ada bentuk pendustaan kebenaran yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru. Para pendusta demikian seringkali juga bertindak mengadakan perkataan-perkataan dusta tentang Allah.

Kamis, 13 November 2025

Mensikapi Fitnah Dalam Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah. Tegaknya seseorang di shirat al-mustaqim tidak akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai penyakit kemunafikan ataupun orang-orang yang akalnya kurang kuat dalam berpegang pada tuntunan Allah. Hanya orang-orang yang membina diri untuk selaras dengan tuntunan Allah dan memahami firman-Nya dengan benar yang akan mampu tegak di atas shirat al-mustaqim.

﴾۰۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia ditimpa penderitaan (di jalan) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?(QS Al-’Ankabuut : 10)

Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman kepada Allah tetapi tidak memahami tuntunan Allah. Manakala manusia membuat fitnah-fitnah terhadap diri mereka dalam perjuangan di jalan Allah, mereka mengatakan fitnah itu sebagai adzab Allah. Boleh jadi mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah jalan Allah sedemikian menyangka Allah menurunkan adzab. Bila mereka mempunyai keyakinan bahwa yang mereka perjuangkan adalah kebaikan bagi alam, mereka tidak akan berprasangka bahwa Allah menurunkan adzab. Atau boleh jadi mereka tidak mengetahui nilai buruk dari apa yang diperbuat orang-orang yang membuat fitnah, maka mereka tidak menyadari akibat dari fitnah yang diperbuat sehingga menyangka fitnah tersebut adalah adzab Allah.

Jihad di (Jalan) Allah

Di jalan Allah (فِي اللَّهِ ) pada ayat di atas menunjuk pada suatu perjuangan yang murni di jalan Allah hingga seseorang bisa dipandang bertindak mewakili Allah. Tidak ada pemikiran atau pemahaman pribadi seseorang mencampuri usaha yang dilakukan, apalagi pikiran syaitan. Bukan berarti orang yang berjuang dalam derajat demikian tidak berpikir ataupun tidak berusaha memahami, tetapi bentuk pikiran dan pemahamannya benar-benar tumbuh sebagai buah dari petunjuk dan ayat-ayat Allah tanpa menyimpang. Setiap pemahaman yang dijelaskan dan diperjuangkan mempunyai kedudukan sebagai cabang, ranting ataupun buah dari suatu ayat kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin ada pemikiran atau pemahaman yang tidak merupakan buah dari ayat tertentu Alquran tetapi ia tidak memperjuangkannya, walaupun mungkin menjelaskannya, dan penjelasannya sangat mungkin selaras dengan tuntunan Alquran karena akhlak yang terbentuk mengikuti Alquran. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang tegak melaksanakan apa yang (hanya) diperintahkan Allah melalui kitabullah Alquran. Orang-orang yang demikian itulah yang bisa dikatakan sebagai orang yang berjuang di jalan Allah dalam kategori (فِي اللَّهِ ).

Derajat perjuangan (فِي اللَّهِ ) boleh dikatakan bentuk dari perjuangan yang paling tinggi dalam agama. Banyak perjuangan mulia dalam bentuk lebih rendah dari perjuangan (فِي اللَّهِ ) yang tetap saja bisa menjadikan seseorang menjadi berakhlak lebih mulia. Banyak orang berjuang dalam perjuangan fi sabilillah ataupun jihad-jihad menolong orang lain yang seluruhnya mendatangkan kebaikan. Hanya saja ada perbedaan-perbedaann derajat kebaikan dalam bentuk perjuangan demikian. Setiap orang yang beriman hendaknya berusaha mendapatkan jalan untuk perjuangan dalam derajat yang paling tinggi. Orang-orang yang berjuang mengikuti perjuangan فِي اللَّهِ dengan meniru penyerunya dalam berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan diberi Allah petunjuk ke jalan-jalan Allah (sabil). Mereka akan mengetahui kandungan firman Allah terkait dengan kauniyah ruang dan jamannya, dan memperoleh petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan terkait dengan kauniyah tersebut karena Allah benar-benar akan memberikan petunjuk kepada mereka jalan-jalan-Nya. Apabila suatu kaum telah benar mengikuti suatu perjuangan fillah, mereka akan mengenal sabilillah. Bila suatu kaum tidak bisa mengenal sabilillah untuk ruang dan jamannya ketika mengikuti suatu perjuangan di jalan Allah, mereka belum mengikuti perjuangan (فِي اللَّهِ ), baik karena tidak tepat dalam mengikuti atau keliru perjuangannya.

Orang yang berjuang dalam kategori (فِي اللَّهِ ) tidak serta merta terbebas dari terpaan fitnah, sedemikian orang-orang yang mengikutinya mungkin saja akan berkata bahwa ia memperoleh adzab Allah. Orang yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang lemah keimanannya. Lemahnya keimanan ini lebih sering terjadi karena tidak mempunyai pemahaman yang baik terhadap apa yang dilakukan dengan pemahaman berdasar kitabullah. Barangkali mereka sedikit lebih baik daripada orang-orang yang membuat fitnah, tetapi keimanan mereka hanya dekat-dekat saja dengan keimanan orang-orang munafiq.

Fitnah Terhadap Jihad

Suatu fitnah adalah kesalahan yang membuat seseorang salah persepsi dalam memahami dan bertindak hingga membahayakan. Pada dasarnya, orang akan terkurung pada kebenarannya sendiri karena fitnah yang sampai kepada dirinya hingga ia berbuat salah dan menimbulkan kerugian besar. Suatu kaum muslimin bisa saja terkurung dalam pikirannya sendiri dalam memahami tuntunan agama terpisah dari visi dan misi nabi Muhammad SAW hingga berbuat merugikan manusia, maka apa yang diikutinya adalah fitnah. Pasangan suami isteri mungkin akan selalu bersitegang karena salah dalam memahami pihak lainnya, sedangkan para pemfitnah selalu berusaha untuk membuat kesalahpahaman di antara keduanya. Sangat banyak contoh fitnah bisa terjadi di antara manusia berupa kesalahan persepsi terhadap kebenaran yang menimbulkan bahaya.

Beberapa fitnah yang berbahaya ditegakkan dengan sungguh-sungguh untuk merusak umat manusia. Misalnya dua orang yang membawa kunci kebaikan mungkin saja dibuat untuk selalu salah paham dan dihalangi untuk membangun kesepahaman. Hal itu akan membawa kerusakan yang besar bagi umat manusia. Para pelaku fitnah itu kadangkala tidak terlihat oleh masyarakat umum dan para korban fitnah saling berseteru dengan pihak lainnya. Tidak jarang para korban fitnah itu terjebak mengikuti fitnah hingga melakukan dosa-dosa. Kadangkala korban fitnah menyadari fitnah yang terjadi tetapi terhalangi untuk meredakan fitnah yang menimpa. Kadangkala iktikad meredakan fitnah baru dapat dilakukan apabila disadari oleh kedua pihak. Kadangkala fitnah itu baru bisa diredakan manakala dilakukan konfrontasi dengan penjaga fitnah. Ada banyak kemungkinan cara menghadapi fitnah hingga seseorang atau suatu kaum selamat dari fitnah.

Fitnah demikian diijinkan Allah untuk terjadi atas orang yang berjihad, dan di sisi Allah peristiwa tersebut sebenarnya lebih berfungsi untuk menampakkan tingkat keimanan orang-orang yang mengatakan dirinya beriman. Manakala mereka mengatakan akibat yang menimpa mereka karena fitnah itu adalah adzab Allah, sebenarnya keimanan mereka hanya dekat-dekat saja dengan keimanan orang-orang munafiq. Tidak sedikit orang mengatakan beriman tetapi mempercayai fitnah-fitnah yang dibuat terhadap orang-orang yang berjuang dalam kategori (فِي اللَّهِ), maka boleh jadi mereka adalah orang-orang yang berdusta dengan perkataan keimanannya. Mereka boleh jadi menentang penjelasan-penjelasan ayat Allah yang disampaikan untuk mengikuti fitnah orang-orang yang membuat fitnah maka akan tampak kedustaan perkataan keimanan mereka.

Ada orang-orang yang membuat fitnah terhadap orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Yang membuat fitnah adalah manusia, bukan perintah Allah. Fitnah terhadap orang yang berjihad (فِي اللَّهِ) mempunyai karakteristik yang unik, dapat menyamarkan fitnah itu sebagai urusan Allah dalam bentuk adzab Allah. Sebenarnya Allah tidaklah memerintahkan fitnah itu dengan berfirman tentang hal itu sebagai fitnah manusia (فِتْنَةَ النَّاسِ ), tetapi mengijinkan itu terjadi. Manusia yang mengatakan dirinya beriman-lah yang diuji Allah untuk menunjukkan tingkat keimanan mereka menjadi lebih jelas. Ada orang yang lebih memilih mengikuti fitnah, ada orang yang mengatakan fitnah itu sebagai adzab Allah, masing-masing mempunyai kedudukan tertentu dalam keimanannya. Orang yang benar imannya akan memandang kebenaran terdapat pada firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, kemudian pada orang-orang yang mengikuti keduanya, dan memandang segala sesuatu yang bertentangan dengan keduanya adalah kebathilan tanpa terjebak oleh persepsi inderawi sendiri. Boleh jadi mereka tidak serta-merta memahami perkataan yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak menentangnya. Mereka itu adalah orang yang benar perkataan keimanannya, walaupun dalam tingkatan yang shadiq.

Fitnah-fitnah terhadap jihad di jalan Allah tidak selalu dibuat dalam dikotomi mukminin-kafirin. Orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah bisa dijadikan media untuk membuat fitnah terhadap hamba Allah yang lain. Hal ini bisa terjadi manakala seseorang atau suatu kelompok melupakan mekanisme al-jamaah, tidak berusaha mengenali kedudukan diri dalam perjuangan Rasulullah SAW. Seseorang mungkin akan merasa benar sendirian, berjuang sendiri tanpa bersandar pada tuntunan kitabullah atau Rasulullah SAW. Mereka akan menjadi kelompok bid’ah yang tidak memahami kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam kebenaran, mungkin memandang tidak ada orang lain yang bisa benar sebagaimana diri mereka. Kedua tuntunan mulia tersebut mungkin mereka gunakan tetapi untuk mendukung paham diri saja, bukan menggunakan untuk mengikuti keduanya. Fitnah bisa muncul dengan cara demikian bukan hanya dari orang kafir saja.

Fitnah di antara orang-orang beriman akan mendatangkan suatu kesulitan hingga sebagian di antara mereka menyangka bahwa kesulitan itu adalah adzab Allah. Ada trik-trik tersembunyi yang menjadikan fitnah demikian tidak dikenali keberadaannya oleh sebagian orang yang beriman, terutama yang tidak berpegang pada kitabullah dengan baik. Cara berkembangnya kesulitan karena fitnah itu kadang tidak dikenali oleh orang banyak. Boleh jadi suatu fitnah menimpa satu atau sedikit orang di antara orang beriman hingga orang tersebut mengalami kesulitan, kemudian ia menyeret pula keluarganya dan/ataupun orang lain dalam kesulitan akan tetapi tidak disadari oleh orang-orang umumnya. Sasaran fitnah demikian umumnya adalah orang yang ingin berjihad. Orang yang ditimpa fitnah itu kehilangan kesempatan untuk memberikan manfaat dirinya kepada orang lain dan orang lain, maka masyarakat menjadi tertimpa kesulitan karena hilangnya manfaat itu. Kehilangan manfaat dari diri seseorang semacam itu seringkali tidak ada yang menyadari kecuali orang tertentu. Gambarannya, ada suatu rezeki yang akan diberikan kepada suatu kaum sedangkan kaum tersebut tidak memperoleh kabarnya, dan kemudian rezeki itu hilang di jalan. Hanya sedikit orang tertentu yang akan menyadari kehilangan tersebut. Rezeki itu tidak jarang berupa sesuatu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan bermasyarakat dan kehilangan rezeki itu menjadikan kehidupan masyarakat menjadi sulit.

Orang yang mengenali kehilangan manfaat demikian seringkali hanya orang yang sangat cerdas. Misalnya seorang syaikh mungkin mengenali sekuens tahap perkembangan yang seharusnya dicapai oleh para muridnya secara urutan waktu dalam keadaan normal. Manakala perkembangan-perkembangan komunal muridnya tidak tercapai pada waktu tertentu, ia mungkin akan mengenali adanya suatu kehilangan pada komunitas murid-muridnya. Ini hanya satu contoh skenario, tidak membatasi kemungkinan skenario lain dalam mengenali kehilangan manfaat. Seorang syaikh mungkin memperkenalkan kepada murid-muridnya tanda-tanda yang harus tercapai oleh para murid pada urutan waktu tertentu agar para murid dapat mengamati perkembangan diri mereka. Misalnya seorang syaikh mungkin memberitahu para murid tanda berupa hal-hal tertentu yang seharusnya terjadi pada masa seseorang anak telah bersekolah kelas sekian. Atau bisa juga syaikh memberitahu suatu tanda pada suatu urutan waktu yang tidak bisa dimengerti penalarannya oleh para murid. Hal itu menjadi penanda perkembangan yang seharusnya dicapai para murid, dan para murid harus melakukan introspeksi perjalanan diri berdasarkan tanda-tanda yang diajarkan sang syaikh. Ini sangat berguna untuk mengenali suatu kehilangan manfaat yang mungkin terjadi.

Manakala introspeksi menunjukkan penyimpangan dari yang seharusnya, sangat mungkin telah terjadi suatu kehilangan rezeki terhadap suatu kaum karena fitnah yang terjadi dan tidak terpikirkan. Barangkali ada orang-orang yang dipandang memperoleh adzab Allah sedangkan mereka menanggung fitnah yang terjadi. Perlu dilakukan koreksi terhadap penyikapan agar dapat keluar dari fitnah. Bila umat terus memandang dengan cara yang sama, mereka tidak akan keluar dari fitnah. Fitnah-fitnah utama yang terjadi harus diperbaiki untuk memulai perbaikan karena fitnah-fitnah yang terjadi lainnya.


Rabu, 05 November 2025

Bersikap Teguh di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah. Tegaknya seseorang di shirat al-mustaqim tidak akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai penyakit kemunafikan ataupun orang-orang yang akalnya kurang kuat dalam berpegang pada tuntunan Allah. Hanya orang-orang yang membina diri untuk selaras dengan tuntunan Allah dan memahami firman-Nya dengan benar yang akan mampu tegak di atas shirat al-mustaqim.

﴾۰۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
﴾۱۱﴿وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
(10)Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia ditimpa penderitaan (di jalan) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?(11)Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (QS Al-’Ankabuut : 10-11)

Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman kepada Allah tetapi tidak memahami tuntunan Allah dengan benar. Manakala manusia membuat fitnah-fitnah atas diri mereka dalam perjuangan di jalan Allah, mereka tidak mengerti bahwa apa-apa yang ditimpakan manusia atas diri mereka adalah fitnah-fitnah manusia dan mengira bahwa fitnah itu adalah adzab dari Allah. Itu merupakan bentuk pemahaman yang sangat lemah terhadap tuntunan Allah hingga penderitaan akibat fitnah-fitnah manusia yang seharusnya diluruskan hingga mengikuti tuntunan Allah justru dipandang sebagai adzab dari Allah. Keadaan demikian menjadikan mereka tidak mampu berjuang di jalan Allah.

Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Perkataan yang salah terhadap sesuatu hingga mendatangkan madlarat merupakan fitnah. Perselisihan dalam rumah tangga seringkali menjadi fitnah yang besar bagi masyarakat. Suatu ilmu yang mendatangkan madlarat merupakan fitnah bagi umat manusia walaupun ilmu itu dipandang baik. Manusia yang berpakaian mulia untuk menipu manusia merupakan bentuk fitnah. Sangat banyak fitnah yang bisa terjadi di antara manusia. Menyebarnya fitnah di antara manusia akan menjadi mudah manakala manusia tidak menggunakan akalnya. Orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu akan sangat mudah terjangkiti fitnah. Fitnah yang menyebar di antara manusia akan mendatangkan suatu penderitaan hingga orang-orang mungkin mengira bahwa fitnah itu merupakan adzab dari Allah.

Kadangkala persangkaan diturunkannya adzab Allah terjadi di antara orang beriman terhadap orang beriman lain. Seorang beriman mungkin ditimpa suatu fitnah dari orang lain hingga ia mengalami suatu penderitaan, dan kemudian menyeret pula sahabat-sahabatnya atau orang lain dalam penderitaan. Karena itu kemudian orang beriman itu dituduh secara sembarangan telah mendatangkan adzab Allah. Kadangkala penderitaan itu tidak terjadi secara beruntun tetapi menjadi bahan penghakiman terhadap seseorang di antara orang beriman. Misalnya bisa saja seseorang mengalami sulit jodoh dianggap memperoleh adzab Allah karena sikap dirinya sedangkan ia sebenarnya mungkin sulit jodoh karena tertimpa fitnah dari orang lain. Tuduhan demikian ini tidak boleh dilakukan. Orang-orang beriman harus benar-benar berusaha memahami peristiwa penderitaan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah hingga manakala terjangkit fitnah dapat menentukan sumber fitnah-fitnah yang terjadi dan mengangkat akar penderitaan, tidak secara sembrono menimpakan tuduhan adzab Allah kepada sahabatnya yang berjuang di jalan Allah.

Fitnah itu bisa sedemikian rumit hingga fitnah manusia disangka adzab Allah. Terjadi pengalihan nisbat peran jahat manusia membuat fitnah menjadi dinisbatkan sebagai peran Allah. Demikian pula perbuatan memfitnah itu dibuat menjadi tidak terlihat hingga disangka adzab Allah. Ada mekanisme yang sedemikian rumit untuk menjadikan fitnah dari manusia dipandang sebagai adzab Allah. Walaupun demikian mekanisme itu sebenarnya utamanya hanya bertumpu pada lemahnya keimanan umat dalam memahami kehendak Allah berdasar firman-firman yang tertera dalam kitabullah Alquran dan tuntunan sunnah Rasulullah SAW. Apabila orang beriman benar-benar menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan terhindar dari menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Mereka akan mengetahui orang-orang yang membuat dan mengikuti fitnah-fitnah, dan tidak menganggap fitnah mereka sebagai adzab Allah. Manakala tidak berusaha memahami tuntunan Allah, mereka akan selalu dibelit dengan fitnah-fitnah hingga tidak dapat memahami jalan keluar yang ditunjukkan Allah.

Adanya suatu fitnah kadangkala membuat satu pihak mukminin menuduh pihak lain menimbulkan fitnah. Hal semacam ini bisa saja menjadikan kaum mukminin terjerat dalam suatu putaran tuduhan yang sulit diurai. Walaupun demikian, kaum muslimin harus berusaha untuk dapat keluar dari jeratan putaran fitnah di antara mereka. Untuk menghindari putaran tuduhan fitnah demikian, kaum mukminin hendaknya menentukan objek perselisihan dengan merujuk suatu ayat tertentu yang terkait dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengungkapkan objek perselisihan tanpa landasan kitabullah. Fitnah itu merupakan ujian yang akan menunjukkan tingkat keimanan orang-orang yang berselisih. Orang yang lebih baik dalam keimanannya akan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan yang buruk akan mudah menentukan langkah hanya berdasarkan waham mereka sendiri. Tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai jalan keluar dari jerat fitnah ini tidak dapat digantikan dengan kekuatan atau kemampuan manusia. Kekuatan-kekuatan yang diberikan itu seharusnya digunakan untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh digunakan untuk membantah atau berargumen terhadap kedua tuntunan tersebut.

Orang beriman hendaknya tidak beriman hanya dengan cara yang lemah, tetapi harus bisa benar-benar memahami tuntunan Allah hingga dapat membedakan suatu fitnah yang diperbuat oleh manusia dengan adzab yang ditentukan Allah. Keimanan yang dibina hendaknya bisa menjadikan mereka memahami perbedaan antara fitnah-fitnah dari manusia dan adzab Allah yang ditimpakan, tidak tergelincir mengatakan bahwa fitnah-fitnah manusia yang ditimpakan atas diri orang beriman tersebut sebagai adzab Allah. Ini hendaknya tidak dijadikan bahan perdebatan bahwa segala sesuatu Allah yang menentukan. Itu hanya satu aturan dasar, dan setiap orang beriman hendaknya tidak hanya memahami hukum dasar tetapi juga memahami hukum-hukum yang lain yang digelar Allah. Allah mungkin saja menggelar banyak hukum untuk suatu peristiwa dan menurunkan ketentuannya sesuai dengan keadaan makhluk-Nya. Pemahaman orang beriman hendaknya selalu ditingkatkan hingga mempunyai bekal pengetahuan tentang bagaimana Allah menurunkan ketentuan-Nya bagi makhluk.

Pemahaman yang kuat akan dapat diperoleh apabila orang beriman berusaha memahami tuntunan Allah untuk kehidupan diri mereka disertai dengan membina pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam tuntunan-Nya. Mereka akan mengetahui jalan-jalan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan dapat merasakan dosa-dosa yang dilakukan manusia manakala manusia menyalahi tuntunan Allah. Selanjutnya, mereka akan mengetahui bahwa ada orang-orang yang melakukan dosa-dosa hingga menimbulkan fitnah bagi orang lain khususnya orang beriman dan secara umum umat manusia lainnya. Fitnah-fitnah itu akan menimbulkan penderitaan bagi umat manusia layaknya adzab Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui penderitaan yang disebabkan oleh fitnah manusia dan tidak mengatakan bahwa penderitaan itu adalah adzab Allah. Apabila tidak memahami tuntunan Allah, manusia tidak akan mempunyai kemampuan untuk membedakan fitnah manusia dan adzab Allah.

Manfaat Fitnah

Fitnah demikian itu merupakan bentuk ujian yang akan diturunkan Allah kepada orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Setiap orang yang mengatakan dirinya beriman akan diberi ujian untuk menunjukkan tingkat keimanan yang mereka katakan. Ujian itu terutama berguna agar orang yang bersangkutan mengetahui tingkat keimanan dirinya. Salah satu bentuk ujian yang akan ditimpakan kepada orang yang mengatakan dirinya beriman adalah suatu fitnah yang dibuat oleh manusia baik orang kafir ataupun orang-orang di antara mereka sendiri kemudian fitnah itu ditimpakan atas diri mereka. Fitnah itu akan menunjukkan reaksi mereka terhadap fitnah. Hendaknya mereka mengetahui tuntunan Allah tentang fitnah itu. Apabila mereka mengatakan bahwa fitnah yang dibuat manusia itu adalah adzab Allah, hendaknya mereka mengetahui bahwa keimanan mereka hanyalah keimanan yang lemah.

Keimanan yang lemah demikian merupakan keimanan yang mendekati keimanan orang-orang munafiq yang mempunyai keinginan bercabang, menginginkan dunia dengan mengabdi kepada Allah. Orang yang lemah imannya tidak berkeinginan kuat untuk memahami kehendak Allah. Orang yang beriman hendaknya berkeinginan untuk memahami kehendak Allah dan berusaha menunaikan kehendak tersebut. Bukti dari kuatnya keinginan memahami kehendak tersebut adalah keinginan memahami apa yang telah difirmankan dalam kitabullah dan dijelaskan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada bukti lain yang setara apalagi lebih baik daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik berupa kekuatan indera bathin ataupun yang lainnya. Kadangkala manusia terjebak pada pendapat dan waham umatnya, maka itu termasuk kelemahan keinginan memahami kehendak Allah, dan itu melemahkan keimanan. Ini bukan berarti seseorang tidak boleh mengikuti pemahaman orang-orang yang mengajarkan, akan tetapi hendaknya setiap orang mendengarkan pengajaran orang lain dengan berpegang pada kitabullah.

Allah akan menurunkan pertolongannya kepada orang-orang benar-benar beriman hingga mereka akan mencapai keberhasilan dalam jihad di jalan Allah. Perjuangan itu termasuk melawan fitnah-fitnah yang dibuat oleh manusia. Apabila orang-orang beriman tidak mengambil pengajaran Allah dari fitnah-fitnah yang terjadi, mereka akan terus terbelit dengan fitnah dan tidak memperoleh jalan untuk keluar dari masalah mereka. Kadangkala orang beriman memandang diri mereka sebagai pelopor dalam berbagai urusan tetapi sebenarnya tidak beranjak dari belitan fitnah karena tidak ada keinginan kuat berpegang pada tuntunan Allah, dan keadaan mereka terus saja terpuruk dalam berbagai masalah tanpa menyadarinya. Orang-orang yang lemah imannya itu pada waktu pertolongan Allah datang akan mengatakan bahwa mereka itu telah bersama sejak dahulu dengan orang yang berjihad, sedangkan sebenarnya mereka menyangka sebelumnya bahwa Allah menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan Allah, yaitu yang berjihad dengan mengikuti kitabullah.

Membangun Kebersamaan Di Jalan Allah

Kebersamaan dalam jalan Allah ditunjukkan dengan kebersamaan dalam berjuang di jalan Allah dengan landasan pemahaman terhadap firman Allah, disertai dengan pengetahuan bahwa fitnah yang menimpa dalam perjuangan itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Orang-0rang yang berjihad bersama harus memahami firman Allah yang diperjuangkan. Berjihad tanpa memahami landasan firman Allah tidak termasuk yang berjihad di jalan Allah. Selanjutnya manakala terjadi suatu fitnah atas para mujahid, mereka mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Allah sama sekali tidak mempunyai kehendak menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan-Nya. Mereka hendaknya juga mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah buatan manusia, tidak menisbatkan fitnah itu merupakan kehendak Allah. Orang-orang yang bersama di jalan Allah menunjukkan ciri-ciri yang disebutkan di atas.

Kasus fitnah pada ayat 10 Al-ankabut diijinkan Allah terjadi sebagai sarana untuk menunjukkan keadaan iman orang yang mengatakan dirinya beriman. Pada tingkat dasar, sebagian orang mungkin berjuang tanpa suatu usaha untuk memahami firman Allah yang menjadi landasan perjuangan mereka, maka barangkali lebih baik mereka tidak mengatakan bahwa diri mereka beriman. Bukan mengkafirkan diri, tetapi tidak perlu mendaku bahwa keimanan telah ada dalam dirinya. Boleh jadi mereka berjuang hanya mengikuti waham diri mereka saja atau mengikuti perkataan orang lain. Dalam banyak hal, berjihad di jalan Allah tidak dapat dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab karena jihad itu hanya dapat dilakukan dengan mengikuti ayat Allah. Bila suatu amal bisa dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab, amal-amal demikian boleh jadi belum masuk dalam kategori jihad di jalan Allah. Usaha memahami landasan jihad demikian ini adalah dasar dalam pengakuan keimanan.

Pada tingkat berikutnya, manakala terjadi fitnah atas orang yang berjihad di jalan Allah, hendaknya mukminin mengenali fitnah itu sebagai fitnah bukan adzab Allah. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa persaudaraan di jalan Allah sebagai tanda tumbuhnya keimanan yang benar kepada Allah. Mungkin saja banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak mengenali orang yang berjihad di jalan Allah dan lebih memilih mengikuti orang yang hanya mengaku sebagai mujahid. Ini termasuk tanda rendahnya tingkat keinginan menghamba kepada Allah. Manakala suatu fitnah ditimpakan manusia atas orang yang berjihad, mungkin mereka akan beranggapan bahwa fitnah itu merupakan adzab Allah. Keimanan yang baik akan menunjukkan tumbuhnya persaudaraan di jalan Allah yang tampak pada keyakinan bersikap yang benar terhadap fitnah. Keyakinan membuta tanpa melihat masalah dengan benar tidak termasuk cabang keimanan.

Menganggap fitnah manusia atas orang yang berjihad di jalan Allah sebagai adzab Allah menunjukkan keimanan yang dekat dengan keimanan orang munafiq. Orang yang mengaku telah selalu membersamai orang yang memperoleh pertolongan Allah dalam jihad sedangkan sebelumnya mereka memandang fitnah sebagai adzab, dalam hati mereka terdapat kandungan kemunafikan. Allah mengetahui apa yang terkandung dalam hatinya. Kedekatan secara fisik saja tidak menunjukkan kebersamaan dalam jihad di jalan Allah selama seseorang tidak memahami kebenaran jihadnya di jalan Allah berdasar tuntunan kitabullah. Demikian pula seseorang tidaklah bersama di jalan Allah manakala menganggap fitnah atas sahabatnya di jalan Allah sebagai adzab Allah.

Apabila suatu saat seseorang memperoleh kesadaran merasa butuh untuk berjalan bersama seseorang di jalan Allah, hendaknya ia membangun kebersamaan di jalan Allah. Ia perlu menyampaikan sikap pembenarannya tentang jalan Allah yang ditempuh sahabatnya, dan bersiap untuk ikut bersama menanggung fitnah manusia atas jihadnya di jalan Allah. Pembenaran itu dapat dibina melalui pemahaman berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahwa perjuangan yang dilakukan benar-benar di jalan Allah, tidak melakukan pembenaran secara membuta hingga mudah tergelincir membenarkan para pemfitnah dan menganggapnya jihad di jalan Allah. Kebersamaan juga harus dibina dengan mengetahui bahwa fitnah yang ditimpakan kepada orang di jalan Allah itu adalah fitnah manusia bukan adzab Allah. Itulah sebagian langkah yang harus ditempuh. Tanpa bersikap demikian, seseorang belum dapat benar-benar bersama dengan sahabatnya di jalan Allah.

Minggu, 02 November 2025

Pembinaan Nafs untuk Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi.

Keterhubungan dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap manusia hendaknya dapat mengenal dengan baik alam tempat dirinya tinggal dan dapat memahami dengan baik langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan pemuliaan terhadap semesta diri mereka. Para pemimpin hendaknya menentukan langkah-langkah bangsa sesuai dengan keadaan bangsanya, tidak berbuat hanya untuk diri sendiri. Dalam hal ini, kebanyakan menusia lebih cenderung mendatangkan kerusakan terhadap alam bumi mereka daripada mengenali dengan baik alam buminya dan melakukan pemakmuran. Bahkan kadangkala seseorang merasa benar-benar melakukan pemakmuran tetapi sebenarnya berbuat sesuatu yang sangat merusak.

Seorang presiden misalnya mungkin saja melakukan pemakmuran dalam tingkatan kulitnya saja hingga mendatangkan penderitaan bagi bangsa karena keputusan bodohnya. Suatu pembangunan infrastruktur dibuat sedemikian megah untuk diperlihatkan kepada dunia sebagai pencitraan, tanpa berdasar kebutuhan yang nyata dan tidak memanfaatkan sumberdaya manusia di dalam negerinya secara layak. Ia membanggakan infrastruktur tersebut walaupun tidak mendatangkan manfaat yang memadai bagi bangsanya, tidak mendatangkan kesejahteraan dan justru mengusir orang-orang yang berkompeten dalam urusan tersebut dari kedudukannya. Yang terjadi selanjutnya, rakyatnya menghujat keputusannya membangun infrastruktur itu dan melihat kebodohan yang dilakukan presiden, sedangkan presiden itu berbangga dengan pembangunannya. Contoh dampak yang berbeda dapat dilihat pada pembangunan yang dilakukan pemimpin yang membangun hubungan yang kokoh dengan masyarakatnya. Seorang gubernur dan masyarakatnya dapat berbesar hati dengan suatu stadion kelas internasional yang dibangun dengan teknologi tinggi hasil karya putera bangsa. Banyak lapis masyarakat yang merasa puas memberikan manfaat dirinya dalam kemajuan daerahnya, bukan merasa risih hanya menonton pameran pencitraan sang pemimpin melalui infrastrukturnya. Hal ini bisa menjadi contoh pentingnya membina hubungan yang kokoh antar lapis kedudukan.

Proses pemakmuran yang paling kokoh dapat terjadi apabila proses pemakmuran dilakukan dengan menghubungkan suatu urusan dari sisi Allah untuk dapat terwujud di bumi. Ini merupakan peran utama yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Setiap manusia diberi kelengkapan dalam dirinya untuk terhubung kepada Allah dan entitas-entitas langit hingga alam bumi, menghubungkan setiap lapis alam untuk dapat melakukan proses pemakmuran sesuai dengan keadaan masing-masing. Ini harus dipahami dengan hati-hati. Terhubungnya seseorang dengan urusan Allah hanya benar apabila terhubung melalui urusan Rasulullah SAW, tidak mencomot secara acak urusan mereka. Kebanyakan manusia tidak perlu berkeinginan membina hubungan yang terlalu erat dengan alam langit tertentu karena urusan utama baginya adalah urusan di bumi, sedangkan urusan dengan alam langit hanya bagian bagi beberapa orang tertentu. Setiap manusia hendaknya memperhatikan keadaan diri untuk menentukan langkah melakukan proses pemakmuran.

Lancarnya proses pemakmuran akan mengikuti kokohnya hubungan yang dibangun bersama. Para pemimpin hendaknya tidak hanya mempercayai pikirannya sendiri, tetapi juga memperhatikan keadaan umatnya, kebutuhan mereka atas langkah yang dilakukan, menampung sumbangsih yang ingin diberikan oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat diwadahi hingga dapat diarahkan untuk membantu terwujudnya pikirannya. Ibarat membangun stadion, ide seorang gubernur boleh saja terbatas hanya pada terpenuhinya kebutuhan suatu sarana stadion dengan ide besar tertentu dan budget yang telah ditentukan sedangkan rincian desain dan rekayasa hendaknya muncul dari para desainer dan engineer dari warga yang dilibatkan, sedemikian sebanyak mungkin warga terlibat dalam proses membangun. Sebagian dilibatkan dalam organisasi tertentu yang mendukung terwujudnya stadion, dan sebagian lain dapat berpartisipasi bebas dengan aturan semisal penjual makanan bagi tukang. Bila gubernur tersebut melaksanakan proses hanya setelah menentukan sendiri seluruh rincian, stadion itu tidak akan terbangun. Proses pemakmuran demikian akan bisa terwujud dengan baik apabila seseorang yang mempunyai urusan membangun hubungan yang baik dengan umatnya.

Banyak orang tidak dapat beramal sebagai dampak terputusnya pelaksanaan suatu urusan dengan masyarakatnya. Mungkin pengambil keputusan memutuskan perkara semena-mena tanpa pengetahuan yang mencukupi hingga memutuskan hanya untuk kepentingan sendiri, sedemikian orang-orang yang mempunyai keahlian tidak dapat memberikan keahliannya untuk masyarakat luas, atau terpaksa memberikan bagian yang buruk dari pengetahuannya. Seringkali pengambil keputusan demikian merasa mempunyai pengetahuan yang banyak tetapi sebenarnya ia berbuat dzalim tidak mau mengenal keadaan pengikutnya dengan tepat. Para ahli yang memberikan pandangan berbeda justru dipecat, dan pelaksana teknis diserahkan hampir sepenuhnya kepada pihak asing. Hal demikian seringkali terjadi karena proses pemakmuran tidak dilandaskan pada pengetahuan terhadap keadaan umat. Peristiwa demikian bisa saja terjadi pada orang beriman disebabkan suatu waham mengikuti perintah Allah tanpa memperhatikan dengan benar tuntunan kitabullah dan realitas keadaan umat. Pemegang urusan mungkin saja tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang mengenal kehendak Allah. Hal demikian dapat menyebabkan para arifin tidak dapat beramal menunaikan kehendak Allah sedangkan mereka mengenal keadaan kauniyah dan mengenal perintah Allah.

Pemakmuran dan Pembinaan Nafs

Dasar dari proses pemakmuran bumi terletak pada pembinaan nafs dan apa-apa yang bersama dengan nafs tersebut. Pemakmuran yang dilaksanakan hanya pada tingkat fisik saja sebenarnya tidaklah akan mendatangkan pemakmuran. Boleh jadi pemakmuran demikian mendatangkan perselisihan yang banyak di antara masyarakat atau mungkin terjadi hal-hal lain. Banyak hal yang mungkin terjadi manakala pemakmuran hanya dilakukan di tingkatan fisik. Pemakmuran harus dimulai dari pembinaan nafs para manusia di masyarakat untuk dapat mengerti arti kemuliaan dari sisi Allah dan membina mereka untuk berkiprah dengan kemuliaan-kemuliaan dari sisi Allah.

﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS Ar_Ra’du : 11)

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka sendiri. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka harus dilakukan dengan melakukan pembinaan nafs hingga nafs menyukai hal-hal yang mulia. Mustahil mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Setiap nafs akan selalu terdorong untuk berdekatan dengan apa yang mereka sukai, hingga tidak mungkin mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Nafs yang menyukai dunia dan kejahatan akan selalu mendekati dunia dan kejahatan yang mereka sukai, nafs yang bodoh akan menyukai waham diri mereka dan nafs yang berakal akan menyukai firman-firman Allah. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs suatu kaum hanya akan dapat dilakukan dengan pembinaan nafs sehingga nafs menyukai kemuliaan dari Allah.

Baiknya keadaan suatu kaum akan terjadi manakala orang-orang pada kaum tersebut berkiprah dengan kemuliaan dari sisi Allah. Perubahan nafs dan yang membersamai nafs akan membawa perubahan keadaan kaum. Kadangkala suatu kaum salah bersikap kepada orang-orang yang menyukai kemuliaan di sisi Allah sedemikian kemudian memisahkan nafs mereka dengan apa-apa yang mereka sukai hingga tidak dapat menunaikan urusan-urusan Allah. Hal ini akan mencegah perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan. Banyak kaum sejak jaman dahulu lebih menyukai waham-waham diri mereka hingga mengabaikan ayat-ayat Allah maka keadaan mereka tidak menuju kebaikan sedangkan mereka memandang baik keadaan diri mereka. Boleh jadi keadaan mereka sebenarnya telah tampak buruknya dalam kekuasaan orang dzalim tetapi mereka tidak menyadari bahwa keadaan itu terjadi karena mereka hanya mengikuti waham sendiri tidak berusaha mengikuti firman Allah. Apabila mereka mengikuti firman Allah, keadaan mereka akan berubah menuju keadaan yang lebih baik. Kebaikan yang ada pada sisi nafs itu akan mendatangkan perubahan keadaan suatu kaum.

Untuk melaksanakan pemakmuran, suatu kaum harus mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dimulai dengan mengubah nafs. Setiap anggota masyarakat hendaknya diperkenalkan dan didekatkan pada pengetahuan dan kebaikan sesuai keadaan mereka sedemikian setiap anggota masyarakat dapat berperan serta dalam kebaikan. Adanya kebaikan pada suatu nafs hendaknya difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan menemukan peran, tidak disia-siakan. Tanpa pengetahuan, orang-orang baik mungkin tidak mampu berperan serta dalam pelaksanaan kebaikan. Pada puncaknya kebaikan itu berupa pelaksanaan firman-firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan setiap pengetahuan yang dapat digunakan untuk mewujudkan firman-firman Allah merupakan kebaikan. Proses pengubahan nafs tanpa berlandasakan firman Allah hanya akan mencapai kebaikan di tingkat rendah dan tidak jarang justru terjebak pada kesesatan yang mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Suatu pengetahuan tentang alam bumi bagi seseorang yang menyukai kebaikan akan mendatangkan kebaikan, tetapi bagi orang yang jahat akan mendatangkan kejahatan bagi umat manusia.

Metode pembinaan nafs utamanya dilakukan sebagaimana pembinaan pernikahan, satu nafs dipasangkan dengan pasangan yang tepat dalam kedekatan. Manakala terbentuk pasangan yang tepat, seseorang akan memperoleh media berkembang yang paling baik. Pengenalan atau cercah pengenalan seseorang terhadap pasangannya bisa diperoleh manakala nafs terdidik untuk mengikuti kehendak Allah. Seseorang tidak akan memperoleh jalan pengenalan secara tepat berdasar keinginan hawa nafsu dan syahwat. Sangat banyak pengenalan palsu dan pasangan palsu yang akan ditemukan seseorang manakala kurang dalam keikhlasan di jalan Allah. Apabila seseorang yang mengikuti pembinaan nafs di jalan Allah mulai dapat mengenali pasangannya, mereka hendaknya didekatkan untuk membentuk hubungan yang kokoh karena pasangan demikian akan menjadi bahan pemakmuran bumi. Dalam hal pasangan berupa laki-laki dan perempuan, jalan mendekatkan keduanya yang terbaik adalah dengan jalan pernikahan.

Dua pihak yang menikah harus dibina untuk menyusun hubungan yang kokoh dalam melaksanakan urusan Allah. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah maupun keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri harus dibina untuk mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Pembinaan ketaatan isteri kepada suami setara dengan pembinaan ketaatan para laki-laki mengikuti Rasulullah SAW. Tidak ada laki-laki menjadi shalih dengan jalannya sendiri menempuh jalan di luar jalan Rasulullah SAW. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Para isteri yang berusaha mendampingi nafs suaminya akan menjadi faktor utama inspirasi suaminya dalam melakukan perubahan kaum menuju lebih baik. Nafs para isteri adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami. Para isteri tidak dapat digantikan oleh apapun di sisi nafs suaminya.

Pengubah keadaan manusia yang paling kuat adalah terbentuknya keberpasangan yang haqq dan kokoh di antara nafs-nafs umat. Pemakmuran tidak akan terjadi manakala pembinaan nafs sebagaimana pembinaan melalui pernikahan dirusak karena menyebabkan rusaknya bentuk-bentuk keberpasangan nafs. Tatanan manusia akan menjadi lemah atau bahkan rusak apabila orang-orang yang memperoleh jalan mengenal pasangan diri mereka baik berupa nafs pasangannya, atau pengetahuan-pengetahuan maupun amal-amal shalih yang diperuntukkan bagi masing-masing diusir dan diganggu hingga tidak dapat membentuk hubungan yang kokoh. Kaum yang dijauhkan dari sains dan teknologi akan sulit menjadi kaum yang maju pada bidang sains dan teknologi. Kaum yang mencari pasangan bagi nafs mereka mengikuti semata-mata syahwat dan hawa nafsu akan menjadi kaum yang hidup mengikuti hawa nafsu dan syahwat dan tidak akan bisa mewujudkan pemakmuran. Kaum muslimin yang tidak lagi mengenal apa yang dihalalkan dan yang diharamkan akan mudah terjebak pada penyembahan kepada selain Allah.

Nafs para isteri itu adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami dalam melakukan perubahan keadaan suatu kaum menuju yang lebih baik. Para perempuan itu memimpin ‘akal semesta’, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi ia dan suaminya hingga tingkat pikiran jasmaniah manusia umat mereka. Para perempuan itu menjadi pakaian suaminya yang memancarkan citra diri mereka terhadap umatnya. Tegaknya suatu kaum akan dipengaruhi oleh kebaikan para perempuan. Manakala para perempuan dibina secara salah, kaum itu akan mengalami kekacauan. Baik atau rusaknya para laki-laki mempunyai pengaruh yang lebih kecil terhadap keadaan umat dibandingkan para perempuan, dan kadang pengaruh para laki-laki dapat teredam sepenuhnya oleh para perempuan. Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan baik manakala para isteri dibina dengan benar menjadi orang yang tepat berada di sisi nafs suaminya. Demikian pula menjadi sesuatu yang paling merusak manakala mereka menjadi sesuatu yang salah di sisi nafs suaminya.