Pencarian

Selasa, 25 Maret 2025

Bid'ah dan Kesesatan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Alquran menjadi penuntun bagi seluruh muslimin untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Alquran merupakan kitab dari sisi Allah yang memberikan tuturan kepada hamba-hamba Allah manakala mereka mengenal nafs diri mereka, dan tuturan itu menjadi sumber terwujudnya amal-amal shalih baik bagi diri yang menerimanya ataupun orang-orang yang dapat memahami kebenaran tuturan itu. Dengan amal demikian akan terwujud suatu kemakmuran di bumi. Tetapi sayangnya tidak semua orang mau beramal dengan tuturan kitabullah yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Sebagian orang tidak paham nilai kebenarannya, dan sebagian bisa memahami tetapi tidak berkeinginan untuk mengikuti tuturan kitabullah itu.

Umat yang beramal tidak mau mengikuti tuturan Alquran seringkali melakukannya karena mempunyai suatu cita-cita tertentu, tetapi tidak berdasar suatu pemahaman dengan tuntunan kitabullah. Mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita itu. Cita-cita itu sebenarnya hanyalah angan-angan karena mereka tidak mengetahui akar masalah umat sesuai dengan hakikat yang terjadi, dan amal-amal mereka tidak akan mendatangkan manfaat yang terbaik karena hanya merupakan buah yang tumbuh dari pohon yang mempunyai akar tidak cukup kuat. Boleh jadi amal itu memberi manfaat, tetapi masalah besarnya tidak tertangani maka karya itu akan menjadi kurang berarti. Akar pohon yang kuat tumbuh apabila suatu kaum mengenal hakikat dari peristiwa kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah.

Di antara penyebab amal demikian adalah mengikuti bid’ah. Mereka tidak memperhatikan tuturan kitabullah Alquran karena tidak memiliki perhatian terhadap firman Allah. Mungkin ada orang-orang yang memperhatikan firman Allah tetapi terjebak pada suatu bid’ah maka mereka tidak mau mengikuti tuturan kitabullah Alquran dan pemahaman mereka teralihkan dari makna firman yang dikehendaki Allah.

﴾۸۶﴿أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada bapak-bapak mereka dahulu? (QS Al-Mu’minun : 67-68)

Bid’ah merupakan amal-amal yang dipandang sebagai bagian dari agama, sedangkan ia bukan bagian dari agama karena bersumber dari perkataan-perkataan yang diada-adakan. Perkataan yang diada-adakan itu umumnya bersumber dari sesuatu yang datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang sebelumnya kepada bapak-bapak mereka dahulu. Bapak dalam hal ini menunjukkan para pemuka, dan pemuka paling utama dari seluruh orang-orang beriman adalah Rasulullah SAW di mana seluruh kebenaran telah diturunkan kepada beliau SAW. Manakala suatu perkataan tidak mempunyai keterkaitan dengan sesuatu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, perkataan itu bisa menjadi sumber bid’ah manakala dianggap sebagai suatu bagian dari agama. Utamanya, bid’ah berwujud suatu urusan yang diturunkan tetapi sebenarnya bukan merupakan perintah Allah sebagaimana disebutkan ayat di atas.

Hendaknya umat tidak terlalu mudah mengatakan bahwa suatu amal merupakan bid’ah atau perkataan yang diada-adakan. Tidak semua perbuatan yang dilakukan umat islam sedangkan amal itu tidak dilakukan Rasulullah SAW adalah bid’ah. Ada banyak bagian dari agama yang diberikan Allah kepada kaum muslimin sebagai bagian dari ajaran Rasulullah SAW. Para Syaikh yang membimbing para murid melakukan tazkiyatun nafs tidak termasuk dalam perbuatan bid’ah, karena tazkiyatun nafs itu merupakan bagian dari langkah Rasulullah SAW. Para syaikh mendapatkan ilmu untuk melakukan tazkiyatun nafs terhadap para muridnya sebagai bagian urusan Rasulullah SAW menyeru umat bertaubat. Hal itu sama sekali bukan bid’ah. Suatu bid’ah bersumber dari perkataan atau teori yang diada-adakan, bukan semata bentuk-bentuk amal yang tidak dilaksanakan Rasulullah SAW. Kesatuan perkataan (teori) yang diada-adakan dan amal yang diada-adakan itulah yang disebut sebagai bid’ah.

Bid’ah dapat dirasakan oleh orang yang melangkah di jalan Allah, tidak dapat dirasakan oleh orang yang hanya meniru-niru perbuatan Rasulullah SAW tanpa melangkah. Manusia dapat melihat bid’ah dari pengaruh buruknya terhadap langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Bid’ah terletak di antara perkataan yang diada-adakan dan kesesatan, karena itu bid’ah dapat ditimbang berdasarkan landasan perkataannya atau dampak kesesatannya dari langkah Rasulullah SAW dan para nabi dan orang-orang shalih bersama beliau SAW. Apabila suatu perkataan menyebabkan munculnya kesesatan, perkataan itu merupakan perkataan yang diada-adakan dan amal berdasar perkataan itu merupakan bid’ah. Bila seseorang beramal berdasarkan suatu perkataan yang diada-adakan yang menyebabkan kesesatan, maka amal itu merupakan bid’ah. Kadangkala suatu bid’ah dilakukan tanpa suatu landasan perkataan tertentu tetapi menyebabkan kesesatan, maka hal itu termasuk bid’ah. Boleh jadi ada suatu kaum yang melakukan amal berlandaskan teori bahwa tidak perlu landasan pengetahuan untuk beramal, maka perkataan tidak perlu landasan pengetahuan itu sendiri merupakan perkataan yang diada-adakan. Seseorang tidak boleh menghukumi suatu perbuatan sebagai bid’ah tanpa menimbang perkataan yang menjadi landasan perbuatan itu dan/atau kesesatan yang ditimbulkan dari perbuatan itu. Dewasa ini, sangat banyak orang yang bermudah-mudah melakukan tuduhan bid’ah tanpa menimbang landasan perbuatan dan kesesatan dari orang yang dituduh.

Pada pokoknya, mengikuti langkah Rasulullah SAW terbagi dalam beberapa tahapan. Tahap paling sempurna adalah mi’raj ke hadirat Allah melalui terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbentuknya bayt ini terjadi setelah seseorang menempuh tahap mengenal penciptaan diri sebagai tanah haram yang dijanjikan. Untuk mencapai pengenalan diri, setiap orang harus dapat menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar untuk memahami kehendak Allah. Tanpa kemampuan menggunakan pikiran dan akal dengan benar, seseorang tidak akan dapat mengenal jati diri penciptaan diri mereka masing-masing. Tahapan-tahapan ini harus ditempuh secara integral dan tertib. Terbentuknya bayt merupakan sasaran final perjalanan manusia di bumi, berupa terbentuknya tatanan masyarakat inti dari diri masing-masing manusia sesuai dengan kehendak Allah. Sebenarnya tatanan itu juga terkait tatanan masyarakat besar mereka yang akan mengikuti tatanan inti diri manusia mengikuti kehendak Allah.

Pokok bid’ah adalah penyimpangan dari tahapan-tahapan di atas. Misalnya manakala suatu perkataan menjadikan manusia tidak dapat menggunakan penalaran yang benar dan memperoleh berita yang benar, maka itu adalah suatu perkataan yang diada-adakan yang menjadi sumber bid’ah. Suatu pengenalan terhadap penciptaan diri tetapi menjadikan diri seseorang terpisah dari Al-jamaah Rasulullah SAW termasuk sebagai bid’ah, misalnya bila orang tersebut membuat-buat kedudukan dirinya sendiri di antara umat tidak mau mengetahui kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Demikian pula manakala suatu aturan membuat seseorang atau umat kehilangan kesempatan membina rumah tangga dengan baik mengikuti millah nabi Ibrahim a.s maka aturan itu merupakan perkataan yang diada-adakan dan penegakan aturan itu merupakan bid’ah. Tidak terbatas pada hal-hal di atas, ada sangat banyak sumber-sumber bid’ah berupa perkataan-perkataan yang diada-adakan manusia yang akan menjadikan manusia menyimpang dari langkah mengikuti Rasulullah SAW, mulai dari dari pelanggaran terhadap pokok-pokok hingga pelanggaran masalah-masalah cabang, seluruh hal yang menjadi sebab menyimpangnya langkah manusia menuju kedekatan kepada Allah bisa menjadi sumber bid'ah. Misalnya suatu perkataan atau teori baru tentang pernikahan yang menyimpang dari pokok konsep pernikahan berdasar nafsul wahidah, perkataan itu bisa menjadi perkataan yang diada-adakan yang menjadi sumber bid’ah di antara umat islam.

Menghindari Bid’ah

Untuk memudahkan mengenali perkataan yang diada-adakan dan bid’ah, pengetahuan terinci tentang sunnah Rasulullah SAW, millah nabi Ibrahim a.s dan langkah-langkah nabi yang lain akan sangat membantu seseorang untuk mengenali. Semakin terinci pengetahuan seseorang tentang keadaan dari setiap tahap langkah yang ditempuh Rasulullah SAW, semakin terang baginya perkataan-perkataan yang diada-adakan hingga ia mengetahuinya sekalipun disembunyikan dalam berbagai teori. Pengetahuan rincian langkah ini dapat dibangun seseorang dimulai dari pokok-pokok langkahnya kemudian dibina pemahaman yang lebih rinci pada setiap langkah. Hal demikian akan mencegah seseorang kehilangan arah manakala berkecimpung dalam rincian-rincian langkah, sedangkan ilmu-ilmu perincian itu sangat berguna bagi umat manusia untuk mengenali jalannya kembali kepada Allah.

Misalnya dalam membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, hal itu hanya akan terjadi apabila seseorang bersungguh-sungguh untuk menjunjung syariat tidak mencederainya. Bayt demikian itu dibentuk melalui penyatuan nafs wahidah terhadap bagian-bagian yang merupakan turunan dari dirinya tanpa suatu kekejian yang menyimpang. Manakala suatu kekejian mewarnai suatu keluarga, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang laki-laki harus berusaha mengenali isterinya sebagai bagian dari dirinya, dan tidak berbuat melampaui batas mengumpulkan sesuatu yang bukan merupakan bagian dirinya. Mengumpulkan bagi dirinya sesuatu yang bukan bagian dari dirinya merupakan kekejian, sebagaimana menginginkan isteri orang lain merupakan kekejian. Hal demikian merupakan perbuatan melampaui batas yang tidak boleh dilakukan dalam membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang hendaknya mengetahui batas-batas bagian dirinya berdasarkan syariat dan pengetahuan yang benar.

Hal demikian juga harus diperhatikan sejak langkah dasar yaitu melakukan penalaran yang benar dengan berita yang benar. Setiap orang harus berusaha memperoleh berita-berita yang benar untuk dinalar. Tidak setiap berita yang benar layak untuk dinalar, tetapi setiap orang harus memperoleh berita yang benar bagi dirinya untuk dinalar. Bila ia mengabaikan berita-berita berbobot bagi dirinya, ia akan kehilangan sangat banyak penalaran benar yang akan membina akalnya. Berita paling benar dengan bobot paling besar adalah ayat-ayat kitabullah. Tuturan kitabullah kepada seseorang hamba Allah juga termasuk berita benar yang sangat besar bobotnya selama terhubung dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar. Bobot berita dari para hamba Allah akan berkurang bobotnya dengan jauhnya berita dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang mengabaikan berita yang benar dari tuturan kitabullah, ia telah kehilangan sangat banyak berita yang berbobot bagi dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kekuatan akal seseorang. Seseorang tidak perlu menalar terlalu jauh kebenaran yang tidak penting, misalnya pernyataan anak kecil tentang manisnya permen, karena bobot berita itu sangat ringan bagi kebanyakan orang walaupun itu berita yang benar. Ayat-ayat kauniyah merupakan berita dalam bentuk lain yang benar dan bernilai besar bagi seseorang manakala disikapi dengan benar dan dapat terhubung dengan firman Allah.

Suatu bid’ah dapat terjadi pada pokok langkah Rasulullah SAW ataupun pada cabang-cabang yang mengantar pada pokoknya. Tidak semua kesalahan seseorang dalam melangkah merupakan bid’ah. Suatu kekejian mungkin terjadi oleh seorang hamba tetapi ia tidak mengatakan itu sebagai bagian dari perintah Allah, maka ia tidak melakukan bid’ah. Demikian pula seseorang mungkin mempunyai pemahaman yang salah tetapi mungkin ia menyadari kesalahannya maka itu bukan suatu bid’ah. Suatu bid’ah terjadi manakala seseorang melakukan kesalahan melangkah sedangkan ia mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah Allah. Misalnya kala suatu kaum membuat mekanisme tertentu yang menyebabkan masyarakat sulit untuk memperoleh, menalar dan/atau mengikuti berita yang benar bagi dirinya, maka aturan yang diterapkan oleh kaum tersebut merupakan bid’ah, suatu bid’ah yang terjadi karena kebodohan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Sunnah dalam hal ini berupa langkah kembali untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah, bukan sunnah yang dalam definisi contoh-contoh perbuatan. Semua hal yang menyebabkan tersimpangnya langkah manusia mengikuti langkah Rasulullah SAW merupakan bid’ah atau kesesatan.

Rumitnya persoalan bid’ah ini terjadi manakala suatu bid’ah bercampur dengan hakikat. Umat manusia akan kehilangan sensibilitas terhadap kesalahan manakala kesalahan itu dicampur dengan hakikat. Suatu bid’ah boleh jadi tampak baik dalam pandangan manusia tetapi menjadikan menyimpang, berbeda dengan kesesatan yang tampak jelas keburukannya. Samarnya melihat penyimpangan bid’ah ini akan semakin berlipat-lipat manakala bercampur dengan hakikat dan pandangan manusia akan terbalik-balik dalam menilai kebenaran. Dalam keadaan demikian, setiap orang harus berusaha sungguh-sungguh menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah dengan berpegang erat sepenuhnya pada kitabullah dengan mengesampingkan semua pendapat sendiri yang bertentangan dengan kitabullah. Kuatnya indera-indera bathiniah tidak boleh digunakan untuk menghukumi suatu perkara karena kekuatan indera itu dapat dikelabui syaitan. Manakala Alquran berbicara tentang suatu perkara, firman Allah itulah yang harus digunakan untuk menghukumi perkara, serta perkataan-perkataan yang mendekatkan manusia pada firman Allah tersebut. Bila tidak berhukum dengan firman Allah, dalam keadaan demikian manusia akan dapat memandang sesuatu secara terbalik-balik, kebaikan dipandang sesat dan kesesatan sebagai kebaikan.

Suatu bid’ah akan menghalangi manusia untuk mengikuti tuturan kitabullah Alquran manakala tuturan itu dibacakan kepada mereka. Umat manusia bisa memandang bid’ah yang mereka ikuti lebih baik daripada tuturan kitabullah itu tanpa merasa berdosa meninggalkan urusan kitabullah mengikuti cara pandang mereka sendiri. Bila diperhatikan, akan terlihat bahwa sebenarnya muncul sikap sombong dalam diri mereka dengan tanda mengabaikan kebenaran dan meremehkan manusia. Tetapi kebanyakan orang yang mengikuti bid’ah tidak memperhatikan hal ini. Mereka tertutup oleh pandangan bahwa mereka itu kaum yang paling benar dalam melangkah, sedangkan itu sebenarnya simptom kesombongannya. Bila mereka mau memperhatikan firman Allah, mereka akan melihat kesombongan dalam diri mereka dan mampu melihat kebenaran tanpa mengabaikannya, serta tidak meremehkan orang yang menyampaikan kebenaran. Bid’ah menjadi penutup yang berlapis-lapis bagi umat manusia dalam mengikuti firman Allah secara tepat.

Untuk melepaskan diri dari bid’ah, setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mendustakan pendapatnya sendiri manakala berseberangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ini bukan perkara mudah bagi orang yang terjerat bid’ah. Mereka memandang pengetahuan pada diri mereka merupakan kebenaran, dan mereka akan memandang remeh orang lain yang menyampaikan ayat kitabullah. Tidak jarang apabila ada yang datang berupa kebenaran kepada mereka, makna yang mereka tangkap dari kebenaran itu melenceng dari konteksnya. Dengan dorongan demikian, mereka tidak merasa menentang kitabullah Alquran, hanya merasa tidak menerima pendapat orang yang menyampaikannya. Sebenarnya pandangan mereka keliru, karena seringkali mereka telah benar-benar menolak Alquran bukan hanya pendapat orang lain. Ini harus benar-benar disadari. Bila tidak benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran, mereka tidak akan terlepas dari bid’ah yang mereka ikuti.



Minggu, 23 Maret 2025

Mengikuti Tuturan dari Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menggunakan akal memahami ayat-ayat Allah, ditunjukkan dengan pelaksanaan amal-amal pekerjaan yang bersumber dari tuntunan kitabullah Alquran. Amal-amal yang bersumber dari kitabullah Alquran tidaklah terbatas pada syariat yang harus ditunaikan, tetapi juga amal-amal terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diterangkan dalam kitabullah Alquran. Sebenarnya ayat-ayat Alquran merupakan kitab yang bertutur kepada hamba-hamba Allah tertentu, maka mengerjakan amal-amal terkait tuturan Alquran itu merupakan amal-amal yang bersumber dari kitabullah Alquran.

Orang-orang atau kaum yang mengabaikan tuturan kitabullah Alquran termasuk dalam golongan orang-orang yang mengalami keruwetan akal.

﴾۳۶﴿بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ
Tetapi hati mereka dalam keruwetan dalam perkara ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada itu, mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (untuk berhasil). (QS Al-Mukminun : 63)

Mereka termasuk kaum yang tidak menggunakan akalnya untuk memahami kitabullah. Ada banyak kaum yang bersikap demikian, dari golongan orang-orang yang hidup untuk mengumpulkan harta benda duniawi saja hingga orang-orang yang tidak mempunyai keberanian untuk menggunakan akal sekalipun mereka telah diberi indera bathiniah yang kuat. Manakala suatu kaum tidak memperhatikan tuturan kitabullah Alquran yang ada di antara mereka hingga terwujud amal-amal yang mengikuti tuturan kitabullah itu, maka mereka termasuk orang-orang yang mengalami keruwetan akal dalam memahami kitabullah Alquran.

Alquran merupakan pokok dari kebenaran yang harus diperhatikan oleh setiap orang beriman. Orang beriman tidak boleh memandang ada hal lain lebih benar dari Alquran. Bila hal ini tidak diperhatikan, hati manusia akan berada dalam keruwetan. Dalam mengikuti tuturan Alquran, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami redaksi dari kitabullah Alquran yang menuturkan tentang hal itu, dan berikutnya hendaknya mereka memperhatikan tuturan yang mungkin diperoleh oleh seseorang di antara mereka. Barangkali suatu kaum tidak bisa langsung menyadari kebenaran dari tuturan itu, maka hendaknya mereka melihat ayat-ayat kauniyah yang terkait dengan tuturan itu agar tuturan itu diketahui kebenarannya atau hanya omong kosong. Mengikuti tuturan Alquran dari orang lain tanpa memperhatikan redaksi dari kitabullah Alquran terkait tuturan itu tidak menunjukkan bahwa seseorang telah lurus akalnya. Pokok dari lurusnya akal manusia adalah ayat kitabullah Alquran, sedangkan tuturan dari kitabullah itu merupakan penjelasan yang bisa menjadi penuntun tumbuhnya akal. Mengingkari tuturan Alquran tanpa suatu alasan yang benar termasuk dari tanda keruwetan akal.

Lurusnya perkembangan akal manusia dalam memahami kehendak Allah terjadi melalui beberapa tahapan. Tahap paling sempurna perkembangan akal adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tahap ini terbentuk setelah seseorang menempuh tahap mengenal penciptaan diri sebagai pencapaian tanah haram yang dijanjikan bagi masing-masing manusia. Untuk mencapai pengenalan diri, setiap orang harus dapat menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar untuk memahami kehendak Allah. Tanpa kemampuan menggunakan pikiran dan akal dengan benar, seseorang tidak akan dapat mengenal jati diri penciptaan diri mereka masing-masing. Tahapan-tahapan ini harus ditempuh secara integral dan tertib. Terbentuknya bayt merupakan sasaran final perjalanan manusia di bumi, berupa terbentuknya tatanan masyarakat inti dari diri masing-masing manusia sesuai dengan kehendak Allah. Sebenarnya tatanan itu juga terkait tatanan masyarakat besar mereka yang akan mengikuti terbentuknya tatanan inti diri manusia dalam mengikuti kehendak Allah. Tatanan bayt ini harus dibentuk sesuai dengan tata aturan yang ditentukan Allah, tidak menempuh cara melanggar aturan Allah.

Kewajiban bagi umat manusia untuk beramal mengikuti tuturan kitabullah Alquran merupakan tuntutan agar manusia menumbuhkan akal. Nilai dari manusia yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran akan menjadi mulia, maka sebenarnya kewajiban itu merupakan dorongan bagi manusia untuk menjadi mulia. Manakala manusia tidak mampu memahami kebenaran berupa tuturan kitabullah Alquran, mereka sebenarnya dalam keadaan yang buruk. Kemuliaan atau keburukan itu secara kumulatif akan terlihat pada dinamika masyarakat. Kaum yang mulia akan membentuk tatanan masyarakat yang baik, sedangkan kaum yang buruk akan membentuk masyarakat yang buruk. Satu orang yang baik mungkin tidak akan bisa mendatangkan keadaan yang baik bila masyarakat mereka tidak menerima kebaikannya, terutama bila rumah tangga orang baik tersebut tidak baik. Keburukan di suatu masyarakat kadangkala sangat mengakar sedemikian sendi rumah tangga di antara mereka menjadi liar tanpa batasan kekejian dan kemungkaran. Bila kekejian dan kemunkaran mendapatkan tempat yang layak pada tatanan suatu masyarakat, maka mereka merupakan masyarakat yang sangat buruk.

Selain menjadi mulia, suatu amal mengikuti tuntunan kitabullah Alquran akan mendatangkan kemakmuran bagi umat manusia. Kadangkala suatu kaum merasa mulia karena telah mengenal suatu kebenaran tertentu, tetapi mereka tidak melihat bahwa kaum mereka terkurung oleh suatu masalah bersama sedangkan mereka tidak mengenal jalan keluar bagi kaumnya dari masalah itu dan mereka tetap merasa mulia. Hal demikian tetaplah merupakan tanda bahwa mereka tidak mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Manakala suatu kaum tetap berada pada masalah yang sama sepanjang waktu, suatu kaum sebenarnya tidak beramal mengikuti tuturan kitabullah. Demikian pula apabila suatu kaum semakin terbelit berbagai masalah yang tumbuh berkembang tanpa diketahui akar masalahnya, hal itu menunjukkan mereka tidak beramal mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Kadangkala bahkan sasaran kehidupan diri mereka sendiri tidak dapat dicapai, apalagi membawakan suatu langkah mengatasi masalah. Mengikuti tuturan kitabullah akan menadatangkan kemakmuran. Bila suatu kaum beramal mengikuti tuturan kitabullah Alquran, satu demi satu masalah kaum akan terurai karena Alquran merupakan petunjuk kehidupan, setidaknya bentuk masalah itu akan berubah bukan tumbuh.

Penghambat Memahami Tuturan

Umat yang beramal tidak mau mengikuti tuturan Alquran seringkali terjadi karena mempunyai suatu cita-cita tertentu tanpa suatu pemahaman keadaan sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita itu. Cita-cita itu sebenarnya hanyalah angan-angan karena mereka tidak mengetahui akar masalah umat sesuai dengan hakikat yang terjadi, dan amal-amal mereka tidak akan mendatangkan manfaat yang terbaik karena hanya merupakan buah yang tumbuh dari pohon yang mempunyai akar tidak cukup kuat. Kadangkala daya yang digunakan untuk menghasilkan manfaat tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Manakala suatu karya memberi manfaat, tetapi masalah besarnya tidak tertangani maka karya itu akan menjadi kurang berarti. Akar pohon yang kuat tumbuh apabila suatu kaum mengenal hakikat dari peristiwa kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah.

Sikap demikian tidak mudah luntur karena kesombongan yang ada dalam diri mereka. Mereka meremehkan orang-orang yang membacakan tuturan Alquran dan mengabaikan tuturan-tuturan kebenaran yang mereka sampaikan dari kitabullah Alquran, membicarakan-nya tanpa ingin diketahui oleh yang bersangkutan dengan tujuan untuk mengasingkan penyampai tuturan kitabullah tersebut.

﴾۷۶﴿مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ
﴾۸۶﴿أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
(67) dengan menyombongkan diri terhadap-nya dengan percakapan tersembunyi terhadapnya di waktu kalian (ingin) mengasingkannya. (68) Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada bapak-bapak mereka dahulu? (QS Al-Mu’minun : 67-68)

Orang yang menyampaikan tuturan kitabullah tidak jarang diasingkan oleh kaum mereka, karena tuturan itu dipandang tidak sesuai dengan cara berpikir umat. Orang tersebut mungkin dianggap tidak waras atau dipandang ingin terhormat di antara kaumnya. Tentu saja tidak demikian. Orang yang memperoleh tuturan dari kitabullah Alquran tentu mempunyai keinginan untuk menjadi baik dan menjauhkan diri dari mempertuhankan hawa nafsu dan syahwat. Pada umumnya, Alquran menjadi mulai berbicara ketika seseorang mencapai tingkatan akal mengenal diri. Penalaran yang benar saja hanya akan menjadikan seseorang mampu memahami pembicaraan tentang kebenaran, belum menjadikan kitabullah berbicara kepadanya. Ketika seseorang mengenal diri, firman Allah akan menjadikan pengetahuan bawaan diri manusia bangkit dan berbicara sesuai firman itu. Bila suatu tuturan dari kitabullah itu dipandang sebagai ketidakwarasan atau keinginan terhadap kedudukan, tuduhan itu jauh dari keadaan yang sebenarnya.

Cara pandang demikian hanya wujud dari kesombongan. Mereka memandang remeh orang yang menyampaikan tuturan dari kitabullah Alquran dan mengabaikan kandungan kitabullah yang disampaikan. Seandainya mereka tidak mengabaikan kebenarannya, mereka tidak akan meremehkan orang yang menyampaikan. Sedikit demi sedikit mereka akan mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Mereka seharusnya tidak memandang remeh orang yang menyampaikan tuturan kitabullah hingga berkeinginan untuk mengasingkannya atau menyembuhkannya. Masalahnya ada pada kesombongan diri, bukan adanya penyakit dari diri seseorang yang harus dihindarkan dari umat.

Kesombongan demikian harus disembuhkan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran. Kesombongan demikian terjadi karena tidak memperhatikan ayat-ayat kitabullah, maka penyembuhannya adalah dengan memperhatikan tuntunan ayat kitabullah. Apabila ada keinginan dalam diri seseorang untuk mengikuti tuntunan kitabullah lebih daripada pendapatnya sendiri, ia akan mengetahui kebenaran dengan memperhatikan tuntunan itu. Orang yang hanya ingin mengikuti pendapatnya sendiri akan sulit untuk mengikuti kebenaran dalam tuturan-tuturan dari kitabullah, dan hal itu akan menjadikan kesombongan diri mereka tetap ada. Keinginan mengikuti kitabullah atau hawa nafsu dapat diukur dari seberapa mampu seseorang memahami kebenaran dalam tuturan kitabullah.

Hal demikian itu tidak bersifat tunggal. Ada hal lain yang bisa menghambat kemampuan seseorang atau suatu kaum dalam memahami tuturan dari kitabullah yang menyebabkan penyembuhan kesombongan terhambat secara signifikan. Penghambat itu berupa adanya suatu urusan yang diturunkan kepada diri mereka secara baru, atau dikenal sebagai bid’ah, yaitu urusan yang belum pernah diturunkan beritanya kepada orang-orang sebelum mereka. Salah satu tanda dari bid'ah adalah manakala pemahaman terhadap urusan umat menyempit pada pemahaman satu pihak sedangkan yang lain tidak dapat memahami secara baik. Suatu bid'ah akan mengebiri akal umat manusia dalam memahami kehendak Allah. Hal itu tidak berlaku pada tuturan dari kitabullah, dimana suatu kaum dapat memperoleh berbagai tuturan yang berbeda-beda untuk urusan yang sama, dan setiap orang dapat mengikuti setiap tuturan tanpa berbenturan satu dengan yang lain. Sebagai ilustrasi, seluruh umat islam dapat memperoleh suatu pemahaman yang bermacam-macam terhadap kehendak Allah dari ayat yang berbeda dari kitabullah Alquran, atau bahkan dari ayat yang sama tanpa saling berbantahan.

Suatu bid'ah merupakan tandingan  terhadap tuturan dari kitabullah. Suatu kaum yang mengikuti bid'ah akan memandang bahwa urusan-urusan yang mereka kerjakan merupakan urusan Allah sekalipun mereka tidak menemukan dasarnya dari kitabullah. Manakala suatu kaum mengikuti suatu bid’ah, mereka akan sulit memahami kebenaran dalam tuturan dari kitabullah yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Bid'ah itu akan menjadikan suatu kaum tidak dapat mengenali tuturan dari kitabullah sebagai sumber amal-amal yang harus dilakukan, tertutup oleh urusan-urusan bid'ah mereka jadikan sebagai urusan Allah tanpa memeriksa dasar-dasar amal mereka dari tuntunan kitabullah. Bila kaum tersebut mau memperhatikan kitabullah lebih seksama, mereka akan memahami amal-amal yang mereka lakukan.

Jumat, 21 Maret 2025

Alquran yang Bertutur

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan terletak pada pengenalan terhadap amr Allah. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan tertentu berupa pelaksanaan amr Allah. Amr Allah itulah jalan menuju kedekatan kepada Allah apabila ditempuh. Allah menjelaskan kepada hamba-hamba yang dikehendaki sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah. Setiap amr Allah pada jaman Rasulullah SAW dan setelahnya telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang-orang berilmu yang takut kepada Allah akan menemukan amal-amal shalih dari kitabullah Alquran. Mereka akan menjumpai kitabullah itu sebagai suatu kitab yang berbicara dengan suatu hakikat, menceritakan tentang kauniyah yang terjadi di sekitar mereka terkait dengan suatu kehendak Allah atas diri mereka. Dengan berita tentang hakikat yang terjadi itu mereka mengetahui amal-amal yang dapat mereka lakukan sebagai hamba Allah. Itu merupakan amal-amal shalih dalam kedudukan yang sesungguhnya.

﴾۲۶﴿وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang berbicara dengan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS Al-Mukminun : 62)

Demikian itulah orang-orang yang diberi ilmu yang takut kepada Allah beramal sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tidak beramal hanya dengan suatu dugaan tentang amal terbaik apa yang harus mereka lakukan, tetapi kitabullah menceritakan kepada mereka keadaan kauniyah yang terjadi. Cerita itu berbentuk tuturan kitabullah yang membangkitkan pengetahuan dalam hati seorang hamba, bukan berbentuk bisikan jin jahat yang menyamar dengan kebaikan tetapi mempunyai keinginan jahat. Pengetahuan itu bangkit di dalam hati manusia dengan membenarkan firman-firman Allah dan menjadikan seorang hamba mengetahui keadaan kauniyahnya secara tepat. Dengan pengetahuan itu mereka mengetahui amal apa yang harus dilakukan. Sebagian ulama lain mungkin lebih memperoleh pengetahuan  tentang amal yang harus dilakukan, atau bahkan suatu dengan daya karamah untuk melaksanakan amal bukan sekadar diberitahu keadaan kauniyah mereka. Hal itu barangkali menunjukkan perbedaan derajat di antara para alim tersebut. Apapun derajat pengetahuan yang mereka peroleh, berita yang diperoleh dari cerita (nathiqah) Alquran merupakan ilmu yang besar, salah satu tidak boleh dipandang rendah hanya karena tidak setinggi derajat yang lain.

Luasan dan jenis dari ilmu yang dibangkitkan di antara manusia mungkin berbeda-beda pula antara satu dengan orang lain. Hal ini merujuk pada jati diri penciptaan manusia. Setiap manusia diciptakan untuk suatu tujuan tertentu dengan kedudukan tertentu di hadirat Allah. Di akhirat, ada orang-orang yang akan mengenal kursi yang disediakan bagi dirinya. Seseorang tidak dapat menduduki kursi orang lain, hanya berhak untuk duduk di kursi yang disediakan bagi dirinya di hadapan Allah. Boleh jadi ada orang-orang lain di antara sahabatnya yang berkedudukan dekat dan hampir serupa, tetapi kursi mereka tetap berbeda. Orang yang lebih bertakwa akan lebih bertabur perhiasan dengan kedudukan dirinya, tidak berpindah menduduki kedudukan orang lain yang berkedudukan lebih tinggi.

Suatu ilmu mungkin akan menjadikan seseorang tampak hebat di mata manusia, tetapi setiap orang harus berhati-hati bahwa banyak pula makhluk alam syaitan yang pernah memperoleh ilmu. Syaitan dapat memunculkan fenomena keserupaan antara orang menggunakan jin dengan orang berilmu. Khalayak umum kadangkala tidak dapat membedakan kesaktian orang-orang yang menggunakan jin dengan orang-orang yang memperoleh ilmu. Ilmu dari kitabullah Alquran bersifat mengajak para hamba Allah untuk membina akhlak mulia untuk dekat kepada Allah. Orang yang memperoleh ilmu dari kitabullah tidak ingin dipandang lebih dari manusia lainnya kecuali terhadap ilmu yang diberikan karena ilmu itulah yang berharga pada dirinya. Kadangkala terdapat dualitas dorongan pada mereka terkait ilmunya manakala dipandang rendah manusia, berupa emosi atau dorongan untuk tetap berbuat yang terbaik. Dorongan itu sering dipengaruhi oleh keadaan orang yang merendahkannya. Pada prinsipnya, tindakan seorang yang berilmu Alquran akan berlandaskan akhlak mulia walaupun mungkin saja berbuat salah.

Sebaliknya, suatu ilmu kadang tidak bisa dipersepsi kebenarannya oleh suatu kaum. Boleh jadi ada sebab internal yang menyebabkan ilmunya tidak dipandang sebagai suatu kebenaran yang bernilai, atau boleh jadi akal kaumnya terlalu lemah untuk memahami kebenaran. Kedua sebab itu bisa ada secara bersamaan dan saling menguatkan. Tidak semua kebenaran dapat ditampilkan secara indah kepada orang lain. Bukan tidak mungkin suatu kebenaran justru mendatangkan kebencian dari orang lain yang tidak menyukainya, atau bahkan dijadikan terlihat buruk oleh syaitan untuk menjatuhkan orang yang menyampaikannya. Ini mudah dilakukan apabila keadaan masyarakat sangat buruk. Kadangkala apapun yang dikerjakan oleh seseorang yang ingin berbuat baik justru mendatangkan efek buruk bagi diri mereka dari sikap orang lain. Hal demikian dapat terjadi pada suatu masyarakat yang keadaannya sangat buruk.

Di antara nilai internal seseorang terkait kemampuan menghadirkan kebenaran adalah terbinanya masalah sakinah dalam kehidupannya. Ada beberapa tingkatan sakinah yang harus dibangun manusia. Ada sakinah dalam hati yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, berikutnya ada sakinah dalam hubungan pernikahan yang berfungsi sebagai antarmuka penyampaian kebenaran kepada umat, dan berikutnya sakinah dalam urusan keumatan sebagaimana turunnya tabut tanda datangnya kekuasaan Thalut yang berfungsi untuk mewujudkan pemakmuran bumi. Terbentuknya sakinah dalam berbagai tingkatan itu akan mendatangkan kemampuan menghadirkan keindahan kebenaran bagi manusia sesuai dengan tingkatan masing-masing. Dengan Sakinah dalam hati saja akan menghadirkan bentuk keindahan kebenaran dari suatu ilmu tetapi mungkin tidak dapat dipersepsi oleh orang lain. Sakinah dalam rumah tangga akan mendatangkan hubungan yang baik antar manusia, dan sakinah di antara umat akan mendatangkan kemakmuran suatu negeri.

Kebaikan-kebaikan demikian akan dapat dibina di masyarakat melalui pembinaan manusia secara benar melalui pernikahan sebagai setengah bagian agama. Untuk pembinaan demikian, setiap orang hendaknya membangun landasan yang benar tentang hakikat pernikahan, tidak secara sembarangan mengarahkan biduk rumah tangga pada waham-waham yang keliru. Kaum laki-laki hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar hakikat-hakikat dari sisi Allah tidak memandang enteng suatu kebenaran yang berharga. Para perempuan hendaknya dapat mendampingi suaminya untuk melahirkan amal-amal yang bermanfaat bagi umat mereka, menghormati tidak menghinakan suaminya karena akan menjatuhkan diri mereka di antara masyarakat. Seorang isteri hendaknya tidak mementingkan atau memperhatikan perkataan orang lain melebihi perhatiannya terhadap perkataan suaminya, karena akan mengunci kedudukan suaminya dalam melaksanakan amal shalihnya pada posisi tertentu yang keliru.

Orang-orang yang mengikuti berita yang diceritakan oleh Alquran tidak akan terdzalimi dengan pengetahuannya. Apabila seseorang mengikuti tuturan Alquran, tidak akan ada sedikitpun tuturan Alquran yang akan menjadikannya berbuat buruk atau menjadikan dirinya buruk. Berbeda dengan tuturan nafs atau syaitan yang kadangkala tampak baik tetapi tersembunyi atau terselip di antaranya sesuatu yang buruk atau menjadikan seseorang buruk. Selalu ada sesuatu pada tuturan nafs dan syaitan yang akan mengantarkan seseorang menjadi buruk. Seseorang tidaklah akan tersesat jalannya apabila mengikuti tuturan kebenaran oleh Alquran. Adapun adanya kesesatan pada orang yang mengikuti tuturan Alquran terjadi karena adanya hal lain selain dari Alquran yang terselip pada tuturan yang diikutinya.

Tenang Dan Yakin dengan Alquran

Kesulitan mewujudkan kebenaran di masyarakat seringkali terjadi karena rusuhnya hati umat dalam mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Manakala tuntunan kitabullah dibacakan seseorang kepada mereka, mereka tidak merasa tenang dengan petunjuk yang dibacakan dan berkeinginan mengikuti pendapat mereka sendiri baik untuk amal mereka ataupun untuk memenuhi keinginan rendah pada diri mereka. Orang-orang yang ingin beramal tidak merasa tenang dengan tuntunan kitabullah, dan orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia tidak pula senang dengannya. Dengan keadaan demikian mereka memilih melakukan amal-amal selain apa yang dituturkan oleh kitabullah kepada seseorang dari mereka.

﴾۳۶﴿بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ
Tetapi hati mereka dalam keruwetan dalam perkara ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada itu, mereka tetap mengerjakannya. (QS Al-Mukminun : 63)

Alquran merupakan pokok dari kebenaran yang harus diperhatikan oleh setiap orang beriman. Orang beriman tidak boleh memandang ada hal lain lebih benar dari Alquran. Bila hal ini tidak diperhatikan, hati manusia akan berada dalam keruwetan, merasa rusuh dalam mengikuti Alquran. Keruwetan demikian inilah yang disebutkan oleh ayat di atas, keruwetan yang terjadi pada orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Tanda keruwetan dalam urusan tuturan Alquran ini terlihat dalam amal-amal. Boleh jadi masing-masing manusia mengerjakan apa yang mereka pandang baik, sedangkan mereka mengabaikan yang dituturkan oleh kitabullah Alquran. Boleh jadi mereka beramal suatu kebaikan tanpa merasa perlu memperoleh landasan dari kitabullah karena menganggap amalnya sudah merupakan kebaikan.

Anggapan ini kurang tepat. Manakala ada orang yang mengetahui tuturan Alquran, maka orang lain hendaknya ikut mewujudkan tuturan Alquran itu karena itu merupakan sumber amal shalih bagi orang-orang beriman. Ketika ada seseorang di antara suatu kaum membacakan tuturan Alquran, hendaknya mereka mengikuti Alquran itu maupun tuturannya. Apabila kaum tersebut mengabaikan tuturan Alquran yang ada di antara mereka, mereka termasuk kaum yang mengalami keruwetan dalam beramal. Kadangkala sekalipun tuturannya belum terpisah sedikitpun dari redaksi Alquran, orang-orang telah tidak meyakininya, maka mereka tidak akan mempunyai keyakinan terhadap tuturan lain dari Alquran yang lebih jauh terkait keadaan kauniyah. Ini merupakan bentuk keruwetan yang terjadi pada suatu kaum. Mereka akan ditimpa masalah-masalah tanpa mengetahui jalan keluarnya karena keruwetan yang terjadi dalam cara berpikir masing-masing.

Dalam mengikuti tuturan Alquran, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami redaksi dari kitabullah Alquran yang menuturkan tentang hal itu, dan berikutnya hendaknya mereka memperhatikan tuturan yang mungkin diperoleh oleh seseorang di antara mereka. Barangkali suatu kaum tidak bisa langsung menyadari kebenaran dari tuturan itu, maka hendaknya mereka melihat ayat-ayat kauniyah yang terkait dengan tuturan itu agar tuturan itu diketahui kebenarannya atau hanya omong kosong. Kadangkala seseorang yang memperoleh tuturan Alquran tidak dapat menceritakan dengan baik apa yang diperolehnya. Manakala berita tentang tuturan itu menyimpang dari redaksi Alquran, tuturan itu mengandung kesalahan walaupun mungkin tidak seluruhnya keliru. Apa-apa yang dapat dibuktikan kebenarannya hendaknya diikuti karena akan memperkuat akal, dan apa yang menyimpang tidak diikuti. Hendaknya setiap orang menggunakan akal untuk menimbang kebenaran yang dapat diperoleh. Dengan cara demikian suatu kaum akan terlepas dari keruwetan dalam beramal.

Sulitnya kebenaran dipahami oleh masyarakat seringkali disebabkan akal yang lemah. Kadangkala suatu kaum memandang suatu omongan tanpa dasar mempunyai bobot yang lebih besar dari tuturan dari ayat kitabullah Alquran, atau bahkan dari ayat Alqurannya sendiri. Orang yang menyampaikan sesuatu terkait nathiqah (tuturan) Alquran sangat mungkin tidak dipandang dengan layak oleh kaumnya karena mereka lebih ingin mengikuti pandangan mereka sendiri. Demikian itu merupakan salah satu pangkal masalah keruwetan yang mungkin terjadi pada suatu kaum. Ini bisa terjadi atas kaum yang menyangka mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Apabila suatu kaum tidak terbiasa untuk menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah, kebenaran akan sulit dipersepsi maka mereka mengalami keruwetan berpikir. Mungkin mereka mempunyai keyakinan tetapi keyakinan mereka tidak tepat. Keyakinan yang benar harus diuji dengan Alquran. Manakala Alquran berseberangan dengan cara pandang kebenaran manusia dan mereka hanya mengikuti pendapat mereka sendiri maka itu hanya keyakinan tanpa dasar.

Contoh keyakinan tanpa dasar ini dapat dilihat pada suatu kaum yang menginginkan kebenaran tetapi terjebak dalam kebenaran versi mereka sendiri. Dalam ungkapan jawa, kaum demikian seperti “tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok” (berkacamata tempurung kelapa, sekalipun mereka membuka mata lebar-lebar tetapi tidak dapat melihat). Mereka mungkin tidak buta, mempunyai indera bathin tajam tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah karena lebih mengikuti indera-indera bathiniah mereka sendiri daripada tuntunan kitabullah. Dengan keadaan demikian akal mereka lemah untuk mempersepsi nilai kebenaran ayat-ayat Allah karena terkungkung oleh suatu kebenaran virtual (virtual reality) yang dibuat makhluk. Mereka tidak menyadari bahwa kebenaran yang mereka ikuti hanyalah rekaan dari suatu makhluk yang menipu mereka. Dalam banyak kasus, rekaan itu hanya berupa selipan pada kebenaran tetapi selipan itu sangat berbahaya, maka manusia tidak menyadari kesalahan yang terjadi. Hal ini bisa membangkitkan suatu keyakinan yang keliru, dan hanya akan berkurang atau hilang manakala mereka berusaha melihat tuntunan kitabullah Alquran dan ayat Allah lainnya dengan benar.

Dampak dari ketidakyakinan terhadap Alquran adalah amal-amal yang tidak menyentuh akar masalah. Suatu kaum akan berbuat amal hanya sesuai dengan persangkaan diri mereka tanpa mengetahui akar masalah yang terjadi, maka amal-amal itu tidak dapat mendatangkan solusi masalah. Masalah hanya berputar-putar di sekitar mereka. Seandainya mereka melihat suatu sasaran menurut tuntunan Allah yang tampak dapat dicapai, mereka tidak dapat mencapai sasaran itu dan sasaran itu seolah-olah hanya suatu utopia. Hal ini terjadi karena diabaikannya tuturan Alquran kepada mereka. Amal-amal yang tepat untuk melangkah mencapai sasaran itu hanya akan diperoleh manakala suatu kaum memperhatikan tuturan Alquran kepada mereka, tidak mengandalkan amal kebaikan menurut pandangan mereka sendiri.




Minggu, 16 Maret 2025

Mengenal Amr Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan terletak pada pengenalan terhadap amr Allah. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan tertentu berupa pelaksanaan amr Allah. Amr Allah itulah jalan menuju kedekatan kepada Allah apabila ditempuh. Allah menjelaskan kepada hamba-hamba yang dikehendaki sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.

﴾۸۸﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang baik (al-husna), dan akan kami katakan kepadanya (suatu perintah) dari perintah-perintah kami secara mudah (QS Al-kahfi : 88).

Setiap amr Allah pada jaman Rasulullah SAW dan setelahnya telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Pengetahuan seseorang tentang perintah Allah berbentuk bagian dari perintah Allah. Manakala seseorang mengenal perintah Allah tanpa mengenal bahwa perintah itu merupakan bagian dari yang lebih besar, ia telah keluar dari al-jamaah. Apabila seseorang mengenal perintah Allah sebagai keseluruhan dari perintah Allah, ia sebenarnya tidak benar-benar mengenal perintah Allah. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal keseluruhan dari perintah Allah, sedangkan orang lain mengenal hanya bagian-bagian dari perintah Allah. Sebagian memperoleh bagian yang besar dan sebagian memperoleh bagian yang merupakan penjelasan dari bagian besarnya hingga ada perintah berupa amal-amal yang praktis dan fisis.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dan millah khalilullah a.s akan memandu pertumbuhan akal manusia dalam memahami kehendak Allah secara tepat. Tujuan yang dicapai dalam sunnah Rasulullah SAW adalah kedekatan kepada Allah dengan akhlak mulia. Keadaan itu mungkin sangat jauh bagi kebanyakan manusia, tetapi ada tahapan yang lebih dekat dengan keadaan setiap hambanya yang diuraikan dengan uswah para nabi yang lain. Nabi Ibrahim a.s menjelaskan tahapan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Nabi Musa a.s menguraikan tahapan berhijrah menuju tanah suci yang menjadi syarat untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Para rasul yang diutus kepada manusia menuntun umat mereka untuk melakukan tazkiyatun nafs dan menuntun perjalanan taubat kepada Allah agar manusia dapat bertaubat kepada Allah dengan ringan dan mudah. Bila manusia tidak berlepas dari mengikuti langkah Rasulullah SAW dan apa yang diturunkan Allah secara haq, ia akan dapat membina akalnya dengan benar dalam memahami kehendak Allah.

Keadaan Zaman Ini

Dewasa ini barangkali mengikuti sunnah dalam pengertian di atas sulit ditemukan. Makna mengikuti sunnah dewasa ini terreduksi menunjuk pada suatu pelaksanaan yang ketat dalam perkara syariat sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, hingga suatu tingkatan bahwa mungkin saja bila para sahabat Rasulullah SAW masih hidup mereka akan merasa takjub dengan ketatnya tata cara pelaksanaan tersebut mengikuti contoh Rasulullah SAW. Sedangkan makna sunnah sebagai suatu perjalanan mengikuti langkah Rasulullah SAW agar menjadi dekat kepada Allah tidak banyak dipahami. Terkait dengan amr Allah, manusia tidak menyadari bahwa Allah Yang Maha Hidup selalu berkehendak pada setiap masa memberikan perintah kepada seluruh makhluk sesuai dengan jaman, tidak hanya memerintahkan meniru syariat Rasulullah SAW.

Hal ini tidak berarti manusia boleh mengabaikan syariat Rasulullah SAW, sama sekali tidak. Setiap orang harus memperhatikan sebaik-baiknya tata cara syariat yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan melaksanakan sesuai dengan yang dicontohkan. Akan tetapi hendaknya diperhatikan bahwa perhatiannya terhadap tata cara syariat itu tidak boleh menjadikannya membanggakan diri atau meremehkan orang lain. Syariat merupakan jalan bagi umat muslim untuk terhubung kepada Allah, maka setiap orang harus memanfaatkan syariat untuk mengenali jalan penghambaan dirinya kepada Allah, tidak menjadikannya sebagai kebanggaan terhadap orang lain. Tanpa syariat, seseorang tidak akan memperoleh jalan untuk mengenal kehendak Allah, tetapi membanggakan syariat akan menyesatkan jalannya dalam beribadah kepada Allah layaknya kaum khawarij yang membanggakan syariat mereka mengikuti jalannya Dzul Khuwaisirah hingga mendatangkan masalah bagi kaum muslimin.

Amr Allah merupakan jalan bagi seseorang untuk menghambakan diri kepada Allah. Penghambaan diri seseorang harus dilakukan dengan memberikan perhatian terhadap perintah Allah melalui ayat-ayat yang digelar Allah pada kauniyah diri mereka dan ayat-ayat kitabullah. Tingginya perhatian seorang hamba ditunjukkan dengan ketepatan dan ketelitian dalam memahami kehendak-Nya. Allah tidaklah membutuhkan pelaksanaan syariat dari para hamba-Nya, sedangkan perhatian seseorang terhadap amr Allah merupakan tanda tumbuhnya akhlak seseorang dalam ibadah kepada Allah. Sangat banyak manusia merasa dekat kepada Allah sedangkan sebenarnya ia tidaklah memperhatikan dengan baik kehendak Allah, maka perasaan demikian hanyalah prasangka saja tanpa suatu realitas.

Tidak jarang syaitan menjadikan indah pandangan seseorang terhadap keadaan dirinya maka ia terlena dengan keindahan itu. Kebanggaan terhadap pelaksanaan syariat merupakan salah satu contoh perbuatan syaitan demikian. Kebanggaan dalam pelaksanaan syariat tidak boleh ada dalam diri seorang hamba. Pelaksanaan syariat harus menumbuhkan suatu pemahaman terhadap kehendak Allah tanpa suatu kesombongan sedikitpun dalam urusan itu. Pemahaman itu berbentuk pemahaman terhadap ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras keadaan kauniyah mereka. Syaitan tetaplah membangkitkan kebanggaan bagi orang demikian dengan cara membuat mereka memahami suatu potongan kebenaran tetapi kemudian potongan itu menutupi pandangan mereka terhadap kebenaran yang lebih utuh. Sama saja hal demikian merupakan cara syaitan menjadikan indah pandangan manusia terhadap diri mereka.

Suatu bid’ah bisa muncul karena perbuatan syaitan demikian, yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai suatu perintah Allah sedangkan Allah tidak memberikan perintah demikian. Sebab utama munculnya bid’ah itu terletak pada cerita yang diada-adakan tentang perintah Allah. Orang yang merasa mengemban perintah Allah harus memperhatikan hal ini, karena bid’ah terkait secara khusus dengan orang yang melaksanakan perintah Allah. Seseorang yang berbuat tidak menjadi bid'ah sekalipun tidak berdasar suatu tuntunan kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW yang telah pasti diketahuinya. Suatu amal tidak termasuk dalam amal bid’ah selama amal tidak dinisbatkan sebagai perintah Allah, atau tidak bersumber dari sesuatu yang dikatakan sebagai perintah Allah. Bid’ah terkait dengan amal yang dikatakan sebagai perintah Allah tanpa landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu urusan yang dinisbatkan sebagai perintah Allah yang mempunyai landasan yang tepat dari kitabullah Alquran atau sunnah Rasulullah SAW tidak termasuk sebagai bid’ah bila tidak menentang ulul amr.

Bid’ah menyerupai perbuatan suatu pasukan yang bertindak di luar komando sedangkan perbuatan itu merusak pencapaian sasaran misi yang harus dilaksanakan. Boleh jadi mereka berbuat menyerang sahabat sendiri karena pendapat mereka. Boleh jadi mereka menganggap ada suatu tindakan yang dianggap baik untuk dilakukan sedangkan mereka tidak mengetahui tujuan dari tugas yang harus ditunaikan. Demikian orang-orang melakukan bid’ah memandang bahwa perbuatan mereka adalah baik, sedangkan perbuatan itu menjadikan mereka menyimpang meninggalkan misi hingga mendatangkan kerusakan yang besar. Hal ini seringkali disertai atau diawali dengan perbuatan membantah arahan washilah mereka, atau menentang sunnah Rasulullah SAW dan tuntunan kitabullah Alquran. Sebagian ahli bid’ah memandang pendapat mereka lebih baik daripada firman dalam kitabullah Alquran. Tentu hal ini tidak masuk akal, tetapi mungkin saja terjadi atas orang-orang yang melakukan bid’ah karena memandang baik keadaan diri mereka.

Untuk menghindari hal demikian, setiap orang hendaknya berusaha memahami dengan seksama tuntunan Allah tidak hanya mengikuti pendapat sendiri. Misalnya tuntunan untuk menggunakan hati, mata dan telinga bathin untuk memahami ayat Allah hendaknya tidak dipahami hanya pada masalah mengasah hati, mata dan telinga saja dengan melupakan perhatian terhadap ayat Allah. Orang yang membanggakan keberadaan indera-indera demikian pada diri mereka akan mudah terjebak bid’ah hingga lebih tersesat dari binatang ternak. Kadangkala kaum demikian lebih percaya dengan indera bathiniah daripada tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian hingga mengabaikan atau meremehkan kebenaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dibacakan kepada mereka, disertai menyerang dengan stigma yang tidak berdasar orang yang menyampaikan kebenaran. Dengan demikian maka mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Bila berusaha memahami dengan seksama tuntunan Allah agar memahami kebenaran secara lebih utuh, usaha itu akan menghindarkan mereka dari bid’ah.

Amr (urusan) Allah pada dasarnya merupakan satu kesatuan perintah yang diturunkan kepada al-jamaah, tetapi bisa dijumpai banyak bentuk amal-amal turunan yang harus dikerjakan setiap orang dari amr Allah itu sesuai dengan masing-masing hamba Allah. Sebagian orang mungkin dikehendaki untuk tazkiyatun-nafs, sedangkan sebagian lain harus beramar ma’uf nahy munkar berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Sangat banyak bentuk kehendak Allah terhadap manusia sekalipun pada jaman yang sama, tetapi seluruhnya harus membentuk suatu kesatuan dalam Al-jamaah. Manakala seseorang melepaskan diri dari Al-jamaah dalam beramal, ia tergelincir pada suatu bid’ah karena mengikuti cerita yang diada-adakan meninggalkan amr Allah yang sebenarnya. Baiknya bentuk amal baik perbuatan bid’ah itu bukanlah suatu kebaikan karena telah ditinggalkannya amr Allah, sedangkan buruknya perbuatan bid’ah merupakan kunci pembuka mushibah. Perlu disadari bahwa orang yang mengikuti kebenaran akan tersingkir manakala suatu kaum mengikuti bid’ah. Setiap orang hendaknya memperhatikan kesatuan terhadap kebenaran yang utuh, tidak melepaskan diri dari kebenaran utuh itu. Hal yang sering melenakan dalam penyatuan itu adalah pengetahuan tentang potongan kebenaran, sedangkan potongan kebenaran itu menjadikan mereka tidak dapat memahami kebenaran yang utuh. Seseorang tidak harus mempunyai pengetahuan yang sempurna untuk mengikuti kebenaran yang utuh, tetapi harus dapat bersikap mengikuti kebenaran.

Membangun Pengenalan Amr

Walaupun tidak banyak contoh orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW dalam mendekatkan diri kepada Allah, sebenarnya selalu ada orang-orang yang tegak di atas amr Allah walaupun mungkin tidak dikenali oleh manusia kebanyakan.

لا تزال طائفة من أمتي قائمة بأمر الله لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون على الناس
Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umatku yang selalu tegak di atas amr Allah. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang tidak menyukai mereka atau menyelisihi mereka hingga datang urusan Allah dan mereka muncul bagi manusia.” (HR. Muslim)

Pada masa tertentu, orang-orang yang tegak di atas amr Allah tidak tampak pada pandangan manusia secara umum karena umat manusia kebanyakan tidak mengenal amr Allah. Pada masa yang lain, Allah mendzahirkan keberadaan mereka. Kebanyakan manusia menganggap bahwa amr Allah adalah bentuk-bentuk syariat, sedangkan sebenarnya syariat merupakan sarana yang disediakan Allah. Amr Allah sebenarnya adalah suatu bentuk amanah perjuangan yang harus ditunaikan untuk kehidupan di bumi. Orang yang mengenal amr Allah dalam bentuk amanah yang harus ditunaikan inilah yang dikatakan sebagai orang yang tegak di atas amr Allah. Jumlah mereka sedikit dan mungkin tidak banyak manusia mengenali keberadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengenal urusan jaman mereka.

Pengetahuan tentang amr Allah pada diri mereka tegak di atas akal yang kuat, bukan suatu pengetahuan yang hanya bersifat pengetahuan inderawi baik lahir ataupun bathin saja. Mereka mempunyai pengetahuan inderawi lahir dan bathin, tetapi pengetahuan mereka berada di atas persepsi inderawi mereka, berupa pengetahuan tentang kehendak Allah. Mereka dapat beramal berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memahami kandungan dari tuntunan itu, tanpa pernah meremehkan tuntunan yang belum dipahami. Apa yang tersamar dari pandangan inderawi dapat mereka persepsi dengan benar. Sekalipun misalnya hanya mendengar, mereka dapat mengenali kebenarannya. Sebaliknya suatu penglihatan bathin yang berasal dari syaitan dapat dipersepsi kekeliruannya walaupun misalnya dalam bentuk penglihatan yang jelas.. Demikian keadaan orang-orang yang tegak berada di atas amr Allah mempunyai pengetahuan akal.

Keadaan demikian hanya dapat tumbuh manakala manusia mempunyai akal. Terdapat beberapa tahapan perkembangan akal yang dapat dilihat dari diri seseorang pada tataran sosialnya. Akal pada tahap pertama adalah kemampuan seseorang melakukan penalaran yang benar atas kabar yang benar. Tahap selanjutnya, perkembangan akal ditunjukkan dengan pengenalan seseorang atas fitrah penciptaan dirinya di sisi Allah. Tahapan lebih lanjut ditunjukkan dengan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan tahapan terakhir berupa kedekatan kepada Allah karena Allah mendekatkannya. Tahapan-tahapan itu adalah tahapan perkembangan akal seseorang pada tataran sosial.

Kemampuan penalaran yang benar atas berita yang benar menjadi landasan pokok perkembangan akal. Akal tidak mungkin berkembang pada diri seseorang manakala ia tidak mempunyai kemampuan menalar dengan benar, dan/atau memilih berita yang benar. Manakala suatu ayat Alquran didustakan, seseorang tidak mempunyai dasar kemampuan memilih berita yang benar. Bila seseorang tidak dapat memahami suatu penjelasan yang benar dari ayat Alquran, itu menunjukkan dasar-dasar kemampuan menalarnya belum tumbuh. Mungkin ia memahami sebagian dan belum memahami sebagian yang lain, maka besarnya pemahaman terhadap suatu penjelasan yang benar menunjukkan tingkat perkembangan akalnya. Kemampuan melakukan penalaran yang benar dan memilih berita benar itu merupakan bentuk dasar pertumbuhan akal, menunjukkan perkembangan akal pada tingkat dasar. Tanpa kemampuan itu, tidak ada akal yang tumbuh pada diri seseorang kecuali akal yang berpenyakit.

Dasar-dasar pertumbuhan akal itu akan mengantarkan seseorang untuk dapat mengenali fitrah penciptaan dirinya. Setiap orang akan berhadapan dengan berbagai berita bagi diri mereka, maka masing-masing harus menggunakan akal untuk memilih berita yang benar bagi dirinya. Berita yang tidak benar harus segera dibuang, dan berita yang benar harus dipahami benar-benar. Akan sangat banyak bentuk-bentuk berita yang tidak diketahui bobotnya, maka seseorang harus berusaha memperoleh landasan menimbang bobot berita itu karena hal itu merupakan sarana menumbuhkan akal. Ia hendaknya mengumpulkan berita yang berbobot kebenaran besar, dan tidak boleh berkutat terlalu lama dengan berita-berita dari hawa nafsu karena akan menumpuk sebagai waham. Apabila berita-berita yang benar diperoleh, ia bisa membangun penalaran yang benar terhadap berita dirinya, karena itu akan mengantarkannya untuk mengenal fitrah diri. Pengenalan terhadap fitrah diri akan terjadi secara tiba-tiba berupa keterbukaan terhadap fitrah diri. Adapun berita dan penalaran yang benar merupakan pengantar agar seseorang menjadi dekat dengan fitrah dirinya.

Dasar kemampuan penalaran ini harus ditumbuhkan baik memilih berita yang benar maupun kemampuan melakukan penalaran. Kadangkala manusia berusaha mengikuti kebenaran dengan membuang kemampuan melakukan penalaran. Hal ini tidak akan mengantarkan menuju kedekatan kepada Allah. Kebanyakan manusia tidak memilih berita yang benar, maka ia mengikuti berita-berita yang tidak berbobot. Hal ini akan membingungkan proses penalaran hingga sulit untuk meningkatkan kemampuan akal dengan benar.

Minggu, 09 Maret 2025

Menemukan Manfaat Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Manusia tidak akan dapat mencapai tingginya kedekatan kepada Allah tanpa pertolongan-Nya. Bila seorang hamba menyangka dapat menempuh jalan kedekatan kepada Allah dengan usahanya sendiri, ia telah keliru. Boleh jadi ia tidak berjalan sama sekali dan menyangka telah berjalan mendekat, atau boleh jadi ia ditolong oleh makhluk lain menuju langit tetapi makhluk itu berkeinginan jahat terhadap manusia. Tidak ada manusia dapat menempuh jalan kembali kepada Allah tanpa pertolongan Allah. Orang demikian hanya berangan-angan atau orang yang tersesat.

Di antara bentuk pertolongan Allah kepada hamba-Nya adalah diturunkannya Alquran. Alquran merupakan pembimbing jalan setiap manusia untuk mendekat kepada Allah yang selalu hadir. Alquran memberikan manusia petunjuk untuk menjadi hamba yang dekat kepada Allah, memberikan penjelasan atas petunjuk-petunjuk benar yang diperoleh oleh setiap hamba Allah, dan memberikan keterangan hingga seseorang dapat membedakan kebenaran dengan kebathilan agar hamba Allah dapat memilih mengikuti kebenaran dan menghindari kebathilan. Dengan Alquran, para hamba Allah dapat menempuh jalan untuk dekat kepada Allah dengan selamat.

﴾۵۸۱﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan agar kamu menyempurnakan bilangannya dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah : 185)

Di Antara Manfaat Kitabullah

Alquran memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mencari petunjuk Allah. Dalam setiap keadaan, Alquran dapat memberikan petunjuk kepada yang membutuhkan petunjuk, selama orang tersebut mempunyai keinginan yang baik. Seseorang yang ingin mengenal kemuliaan Allah dapat memperolehnya melalui Alquran. Bila seseorang ingin mengetahui amal terbaik yang harus dilakukan dalam kehidupan di bumi, ia dapat mencari pengetahuannya dari kitabullah Alquran. Orang-orang yang ingin memperoleh pengetahuan tentang keadaan kauniyah mereka dapat menemukan pengetahuannya melalui Alquran. Demikian pula orang yang sedang memperoleh kesulitan dapat mencari penenang bagi hatinya dari Alquran dan mencari petunjuk untuk masalahnya melalui Alquran. Petunjuk Alquran membentang sangat luas bagi setiap orang yang membutuhkan petunjuk Allah, tidak terbatas pada kasus-kasus di atas.

Selain memberikan petunjuk, Alquran akan memberikan penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk yang ditemukan orang yang bertaubat. Allah menurunkan petunjuk tidak hanya dalam bentuk ayat-ayat dalam kitabullah Alquran, tetapi juga melalui seluruh kauniyah yang terjadi pada setiap makhluk dan juga melalui hati manusia-manusia yang dapat memperoleh petunjuk. Keseluruhan petunjuk itu akan mengarahkan kehidupan manusia untuk dapat mengenal kehendak Allah atas diri masing-masing. Akan tetapi sangat banyak bias-bias makna yang bisa muncul dalam petunjuk yang diterima manusia hingga makna petunjuk itu buram atau bahkan menyimpang. Bahkan tidak sedikit petunjuk-petunjuk yang diterima manusia merupakan petunjuk palsu. Seseorang yang menerima petunjuk melalui indera-indera bathiniah bisa saja tiba-tiba menempuh langkah yang jauh menyimpang dari kebenaran karena bias-bias makna dalam petunjuk. Bila seorang hamba Allah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah, Alquran akan meluruskan bias-bias makna dalam petunjuk yang diterimanya dan menghilangkan petunjuk-petunjuk palsu. Alquran akan memberikan penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk yang dapat diterima oleh manusia.

Ada kelompok-kelompok yang menafikan keberadaan petunjuk selain dari yang dapat ditemukan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bahkan hingga mencela orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah dalam bentuk kauniyah yang digelar. Sikap kelompok demikian terhadap orang yang bisa memperoleh petunjuk dalam bentuk petunjuk dalam hatinya seringkali lebih keras lagi dan sembrono mengatakannya sebagai hanya halusinasi. Tentu saja tidak demikian, karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang dapat menerima petunjuk bahkan sebagian berkedudukan lebih tinggi dari malaikat muqarrabun. Untuk kedudukan demikian tentulah manusia diberi kemampuan untuk dapat memahami kehendak Allah, bisa lebih baik daripada malaikat. Akan tetapi hendaknya manusia selalu berhati-hati karena mereka pun dilekati pula dengan hawa nafsu yang tidak jarang mendorong manusia menuju kesesatan. Ada pula syaitan yang telah merasakan luasnya alam semesta ciptaan Allah hingga dapat menyesatkan manusia dengan berbagai cara dan pengetahuannya.

Banyak orang yang bertaubat melupakan manfaat Alquran sebagai penjelasan terhadap petunjuk yang mungkin diterimanya. Tidak jarang orang-orang yang menerima petunjuk ke dalam hatinya tidak mempunyai dorongan untuk bertanya kepada Alquran terhadap makna petunjuknya. Sebenarnya Alquran akan memberikan penjelasan terhadap makna petunjuk yang diterima oleh seseorang berupa penjelasan terkait dengan kebenaran yang lebih luas. Petunjuk yang diterima seseorang seringkali bersifat pribadi atau lokal, tetapi sebenarnya terkait dengan suatu kebenaran yang sangat luas. Setiap orang yang menerima petunjuk hendaknya berusaha menemukan penjelasan bagi petunjuknya agar dapat menyatukannya dengan kebenaran yang lebih luas. Bila tidak mendapatkan penjelasan dari Alquran, petunjuk yang diterima itu dapat mendatangkan kerusakan pada diri manusia. Seseorang bisa menjadi megaloman karena petunjuk-petunjuk yang diterimanya sedangkan petunjuk itu tidak ditempatkan dalam kebenaran yang lebih universal. Tidak jarang manusia salah memaknai petunjuk yang diterima. Sekalipun pemaknaan petunjuk itu benar, seseorang bisa saja tetap dalam kegelapan karena tidak terhubung dengan kebenaran yang universal.

Keterlupaan seseorang terhadap kitabullah sebagai penjelasan terhadap petunjuk dapat terjadi dengan cara yang sangat halus. Misalnya seseorang mungkin sangat taat kepada syaikhnya hingga melupakan hubungan petunjuknya dengan hakikat yang melandasinya. Bukan berarti seseorang boleh meninggalkan ketaatan kepada syaikh, tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk tetap selalu berusaha memahami landasan petunjuknya dari kitabullah tidak melupakannya. Manakala terjadi suatu kesalahan, setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak melupakannya. Bila ia melupakannya, ia akan dapat terjebak pada suatu bentuk kegelapan tertentu. Ada suatu kaum penghuni jahannam berupa orang-orang yang mempunyai hati, mempunyai mata bathiniah dan telinga bathiniah tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Kaum ini bisa tampak menakjubkan, disertai dengan pengalaman bathiniah yang tampak baik. Sekalipun seseorang tampak menakjubkan dengan pengalaman-pengalaman bathiniahnya, manakala tidak digunakan untuk berusaha memahami ayat-ayat Allah maka mereka akan bisa menjadi penghuni neraka jahannam. Banyak bahaya menghadang manusia manakala melupakan kedudukan kitabullah sebagai pertolongan Allah untuk perjalanan taubatnya.

Manakala seseorang memperoleh suatu petunjuk, ia harus bersikap tenang dengan petunjuknya. Hawa nafsu manusia akan menjadi aktif dalam menafsirkan petunjuk yang diterima oleh hatinya, maka akan muncul penafsiran-penafsiran yang salah terhadap petunjuk yang diterima. Bukan berarti petunjuk itu tidak bermakna, tetapi seseorang harus mempunyai pijakan yang tepat untuk memahami makna dari petunjuk yang diterima hatinya, dan pijakan itu terletak pada pengenalan terhadap landasan kebenarannya dalam kitabullah Alquran. Kebenaran dalam kitabullah Alquran itu merupakan kebenaran dalam derajat hakikat, kebenaran yang paling tinggi dari sisi Allah. Para syaikh akan sangat membantu seseorang menemukan pijakan dalam kitabullah Alquran hingga seseorang dapat memperoleh sudut pandang yang tepat terhadap petunjuknya, maka petunjuk itu akan mendapatkan penjelasan dari kitabullah Alquran. Apabila seseorang telah memperoleh pijakan dari tuntunan kitabullah Alquran bagi petunjuknya, kendali terhadap hawa nafsu akan terraih, dan ia memperoleh alat kendali bagi hawa nafsu bila ia mau mengendalikannya.

Bila seseorang mengikuti waham dirinya tanpa meluruskan dengan membaca kitabullah, ia akan tersesat dari jalan yang lurus. Kesesatan itu tidak selalu tumbuh dari landasan yang salah. Misalnya mungkin seseorang berusaha menunaikan sesuatu dari kitabullah tetapi tidak meluruskan pemahaman yang tumbuh, maka pemahaman yang tumbuh itu kemudian menjadi menyimpang. Kadangkala seseorang membaca sesuatu dari kaum salaf tetapi memperoleh makna yang salah. Penyimpangan pertumbuhan itu dapat dicegah bila hamba Allah mencari landasan pertumbuhannya dari kitabullah dan meluruskan pemahamannya itu dengan kitabullah. Seseorang akan dapat menempuh langkah yang lurus bila ia berpegang pada kitabullah. Lebih penting bagi seseorang untuk berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada memperjuangkan kebenarannya. Boleh jadi seseorang mempunyai pemahaman yang keliru tetapi ia mau mengikuti tuntunan kitabullah manakala ayatnya sampai kepada dirinya, maka ia kembali ke jalan yang selamat.

Manfaat lainnya, Alquran juga berfungsi sebagai pembeda (al-furqan) sehingga manusia dapat membedakan hal-hal yang baik terhadap yang buruk, yang mendatangkan manfaat dan yang mendatangkan madlarat dan lain-lain. Fungsi ini tidak dapat dipandang remeh, karena banyak bentuk-bentuk keburukan yang menyaru sebagai kebaikan, dan suatu kebaikan dapat dijadikan buruk dalam pandangan manusia. Pada beberapa segi, manusia sama sekali tidak bisa mengandalkan kekuatan inderawi dirinya dalam memandang kebaikan dan keburukan, terutama dalam hal-hal di mana kitabullah Alquran membahas masalah kebaikan dan keburukan dalam urusan itu. Apa-apa yang difirmankan sebagai kebaikan adalah kebaikan dan apa yang difirmankan sebagai keburukan tidak boleh dipandang baik oleh manusia.

Sangat penting bagi setiap orang untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran. Ilmu dalam hal ini bukan pengetahuan yang bersifat hafalan, tetapi lebih pada pengetahuan terhadap nilai manfaat yang dapat diperoleh dari petunjuk-petunjuk kitabullah untuk kehidupan manusia. Pengetahuan itu mungkin berada pada tataran alam mulkiyah, atau boleh jadi tentang alam-alam yang lebih tinggi atau bentuk-bentuk pengetahuan lebih lanjut dari kehidupan diri manusia misalnya alam kubur hingga alam akhirat. Sangat banyak bentuk pengetahuan yang bermanfaat bagi diri setiap manusia yang dapat diperoleh dari Alquran, dan orang-orang yang mengetahui nilai manfaat dari pengetahuan itu adalah orang yang memperoleh ilmu. Manakala pengetahuan itu baru bersifat hafalan tanpa mengetahui nilai manfaatnya, maka ilmu itu hanya berupa pengetahuan untuk pikiran jasmaniah saja. Pengetahuan akal berbentuk pengetahuan tentang nilai-nilai manfaat dan yang lebih tinggi yang dapat diperoleh dari tuntunan kitabullah yang diketahui pikirannya.

Usaha seseorang mengasah akal untuk mengenali nilai manfaat tuntunan kitabullah Alquran kadangkala dapat dilalaikan dengan cerita-cerita indah yang menjadi perhiasan dari nilai tuntunan kitabullah Alquran. Ada cerita-cerita indah yang dapat muncul dalam akal pikiran dan hawa nafsu manusia ketika berusaha memahami kitabullah Alquran. Manusia hendaknya tidak terlena dengan perhiasan-perhiasan indah itu tanpa mengabaikan keindahannya. Hati manusia harus menghadap kepada Allah tanpa melupakan untuk membagikan rahmat Allah yang dapat diperoleh dirinya kepada umat-Nya, tidak terlena dengan keindahan-keindahannya. Umat Rasulullah SAW tidak boleh mabuk dalam ibadah kepada Allah dengan suatu hakikat yang dikenal, tetapi harus tetap sadar tentang kedudukan Allah dan kedudukan dirinya baik terhadap Allah ataupun terhadap makhluk-makhluk lainnya. Pada tingkat lebih ringan, kadangkala seseorang kehilangan arah dalam mempelajari kitabullah Alquran karena keindahannya, membangun suatu menara pengetahuan tanpa diikuti tumbuhnya keinginan melaksanakan fungsi sebagai hamba Allah.

Bagi orang-orang khusus tertentu, Alquran bisa memberikan petunjuk hingga masalah-masalah terinci dalam kehidupan diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai derajat khusus di antara manusia. Bagi sebagian orang khusus lain, pengetahuan Alquran lain mungkin hanya menyangkut prinsip-prinsip pokok sedangkan hal-hal terinci terkait sesuatu yang terjadi pada mereka harus dipikirkan hubungannya dengan tuntunan kitabullah Alquran dengan cara berpikir yang benar. Hal demikian termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung selama tidak menyimpang dalam mencari petunjuk. Ada orang-orang yang menyimpang dari kitabullah Alquran tetapi merasa sebagai orang-orang yang menerima petunjuk terinci karena kurang sungguh-sungguh dalam berpegang pada kitabullah Alquran, mungkin ia berpegang tetapi tidak berusaha memperhatikan rincian dari kitabullah. Kebanyakan manusia saat ini berada pada tahap mencari landasan kehidupan dari kitabullah. Ada yang mulai menemukan landasannya, ada yang baru meraba-raba makna kehidupan dan banyak kondisi lain yang menunjukkan upaya yang kurang sungguh-sungguh dalam mencari petunjuk kehidupan dengan kitabullah Alquran.

Tertib Melangkah

Proses membina pemahaman terhadap Alquran hanya dapat dilakukan dengan mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW bersama para nabi yang menjelaskan rincian proses membinanya, seperti langkah para nabi bani Israel. Nabi Yusuf a.s menjadi tauladan dalam menggunakan penalaran yang benar untuk memahami berita yang benar. Nabi Musa a.s mengajarkan umat manusia untuk berhijrah menuju tanah yang dijanjikan. Nabi Ibrahim a.s menjadi tauladan bagi umat manusia untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sehingga seorang hamba Allah memperoleh basis untuk mi’raj kepada Allah mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba Allah yang didekatkan kepada Allah.

Langkah-langkah dalam proses membina pemahaman itu harus dilakukan dengan tertib, tidak meninggalkan satu langkah di antaranya. Proses membina penalaran yang benar untuk memahami berita yang benar terutama terkait khabar dari alam yang tinggi harus dibina dengan baik sebagai landasan keinginannya untuk berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Misalnya ketika menerima petunjuk dalam hati, petunjuk tersebut harus dibaca dengan landasan yang lengkap dan benar dari ayat kauniyah dan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara seksama, tidak tergesa mengambil kesimpulan. Atau manakala seorang syaikh telah memberitahukan persoalan alam bumi diri murid, seorang murid harus berusaha benar-benar memahami persoalan bumi tersebut karena syaikh tersebut sebenarnya memberitahukannya terkait dengan berita langit dirinya. Sang syaikh tidak memberitahukan berita tersebut tanpa memahami urusan yang disampaikan. Bila seorang syaikh memberitakan sesuatu tanpa memahami urusan langitnya, akan sangat banyak kekacauan yang terjadi di alam bumi yang akan menjadi bencana, lebih besar dari seorang murid yang mangkir murtad dari urusannya. Para murid hendaknya tidak mengubah-ubah berita tersebut tanpa suatu landasan yang lebih kuat. Bila ia mengubahnya tanpa memahami, akan muncul suatu penderitaan di alam bumi terkait urusan tersebut, kadang untuk dirinya dan/atau untuk umatnya. Mengubah berita tersebut hanya dapat dilakukan dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu berita yang menyelisihkan berita dari sang syaikh tidak boleh digunakan untuk mengubah tanpa mengetahui benar-benar hakikat keadaan kauniyah yang sebenarnya, karena boleh jadi syaitan memberi khabar agar seseorang menyelisihi berita dari sang syaikh. Syaitan mempunyai sangat banyak cara untuk menyisipkan berita yang salah kepada atau melalui setiap orang.

Hendaknya murid berusaha menemukan landasan berita dari syaikh tersebut dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akalnya akan tumbuh bila bersentuhan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan saja tanpa menggunakan akal tidak akan menjadikan murid mempunyai pijakan pembinaan, seringkali menjadikan seseorang tidak dapat menggunakan penalaran yang benar untuk mengikuti berita yang benar. Pencarian ilmu tanpa berusaha memahami tuntunan Allah akan menjadi sulit dan banyak kesia-siaan. Ada pula orang-orang yang dapat menyesatkan, maka berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW lebih penting daripada sekadar mencari pengetahuan, karena berita yang paling benar adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Membina pemahaman terhadap kedua tuntunan tersebut merupakan pembinaan yang paling baik dalam proses penalaran yang benar terhadap berita yang benar, dan segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan keduanya adalah kesesatan.

Yang paling sulit dalam pembinaan penalaran adalah membedakan berita yang benar dengan berita yang tidak jelas. Kesulitan demikian akan dapat diatasi dengan berpegang pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam hal ini, Alquran merupakan pembeda (Al-furqaan) yang membedakan antara berita yang benar dengan berita yang sia-sia. Kadangkala manusia berusaha menembus keraguan berdasar suatu keyakinan yang dibuat-buat tetapi meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran. Hal demikian akan menjadikan langkah sia-sia. Menembus kesamaran harus dilakukan dengan membina pengetahuan, di mana seorang murid harus melaksanakan bimbingan syaikh dengan sungguh-sungguh disertai dengan mencari akar pengetahuannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak bermudah-mudah mendustakan yang tidak diketahuinya.

Bila penalaran yang benar dapat terbina, seseorang dapat menempuh jalan hijrah ke tanah yang dijanjikan dengan lebih mantap. Tanpa kemampuan penalaran yang benar, berhijrah sangat berpotensi mendatangkan kesesatan. Berhijrah harus dilakukan dengan pembinaan penalaran yang benar, tanpa harus mencapai kemampuan penalaran yang sempurna. Tidak ada kemampuan penalaran sempurna pada makhluk. Yang paling penting, setiap orang harus mempunyai keinginan untuk bersikap memahami kebenaran tidak ingin terjebak pada waham, sedangkan kemampuan penalaran itu harus tetap dibina secara menerus.

Urutan demikian harus dilakukan dari langkah awal hingga langkah tertinggi dalam mendekat kepada Allah. Misalnya pada langkah tertinggi, seorang hamba hendaknya tidak menempuh jalan mi’raj tanpa disertai terbentuknya suatu bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Manakala landasan di bumi belum terbentuk, tidak baik bagi seorang hamba untuk berharap terlalu besar kepada Allah. Boleh jadi perjalanan mi’raj itu akan menyesatkan, atau menjadikan tampaknya akhlak buruk ketika di hadapan Allah, atau menjadikan seseorang berakhlak buruk dengan pangkat yang seharusnya belum disematkan Allah kepadanya. Langkah mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan tertib dengan landasan yang kuat.