Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Alquran menjadi penuntun bagi seluruh muslimin untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Alquran merupakan kitab dari sisi Allah yang memberikan tuturan kepada hamba-hamba Allah manakala mereka mengenal nafs diri mereka, dan tuturan itu menjadi sumber terwujudnya amal-amal shalih baik bagi diri yang menerimanya ataupun orang-orang yang dapat memahami kebenaran tuturan itu. Dengan amal demikian akan terwujud suatu kemakmuran di bumi. Tetapi sayangnya tidak semua orang mau beramal dengan tuturan kitabullah yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Sebagian orang tidak paham nilai kebenarannya, dan sebagian bisa memahami tetapi tidak berkeinginan untuk mengikuti tuturan kitabullah itu.
Umat yang beramal tidak mau mengikuti tuturan Alquran seringkali melakukannya karena mempunyai suatu cita-cita tertentu, tetapi tidak berdasar suatu pemahaman dengan tuntunan kitabullah. Mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita itu. Cita-cita itu sebenarnya hanyalah angan-angan karena mereka tidak mengetahui akar masalah umat sesuai dengan hakikat yang terjadi, dan amal-amal mereka tidak akan mendatangkan manfaat yang terbaik karena hanya merupakan buah yang tumbuh dari pohon yang mempunyai akar tidak cukup kuat. Boleh jadi amal itu memberi manfaat, tetapi masalah besarnya tidak tertangani maka karya itu akan menjadi kurang berarti. Akar pohon yang kuat tumbuh apabila suatu kaum mengenal hakikat dari peristiwa kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah.
Di antara penyebab amal demikian adalah mengikuti bid’ah. Mereka tidak memperhatikan tuturan kitabullah Alquran karena tidak memiliki perhatian terhadap firman Allah. Mungkin ada orang-orang yang memperhatikan firman Allah tetapi terjebak pada suatu bid’ah maka mereka tidak mau mengikuti tuturan kitabullah Alquran dan pemahaman mereka teralihkan dari makna firman yang dikehendaki Allah.
﴾۸۶﴿أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada bapak-bapak mereka dahulu? (QS Al-Mu’minun : 67-68)
Bid’ah merupakan amal-amal yang dipandang sebagai bagian dari agama, sedangkan ia bukan bagian dari agama karena bersumber dari perkataan-perkataan yang diada-adakan. Perkataan yang diada-adakan itu umumnya bersumber dari sesuatu yang datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang sebelumnya kepada bapak-bapak mereka dahulu. Bapak dalam hal ini menunjukkan para pemuka, dan pemuka paling utama dari seluruh orang-orang beriman adalah Rasulullah SAW di mana seluruh kebenaran telah diturunkan kepada beliau SAW. Manakala suatu perkataan tidak mempunyai keterkaitan dengan sesuatu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, perkataan itu bisa menjadi sumber bid’ah manakala dianggap sebagai suatu bagian dari agama. Utamanya, bid’ah berwujud suatu urusan yang diturunkan tetapi sebenarnya bukan merupakan perintah Allah sebagaimana disebutkan ayat di atas.
Hendaknya umat tidak terlalu mudah mengatakan bahwa suatu amal merupakan bid’ah atau perkataan yang diada-adakan. Tidak semua perbuatan yang dilakukan umat islam sedangkan amal itu tidak dilakukan Rasulullah SAW adalah bid’ah. Ada banyak bagian dari agama yang diberikan Allah kepada kaum muslimin sebagai bagian dari ajaran Rasulullah SAW. Para Syaikh yang membimbing para murid melakukan tazkiyatun nafs tidak termasuk dalam perbuatan bid’ah, karena tazkiyatun nafs itu merupakan bagian dari langkah Rasulullah SAW. Para syaikh mendapatkan ilmu untuk melakukan tazkiyatun nafs terhadap para muridnya sebagai bagian urusan Rasulullah SAW menyeru umat bertaubat. Hal itu sama sekali bukan bid’ah. Suatu bid’ah bersumber dari perkataan atau teori yang diada-adakan, bukan semata bentuk-bentuk amal yang tidak dilaksanakan Rasulullah SAW. Kesatuan perkataan (teori) yang diada-adakan dan amal yang diada-adakan itulah yang disebut sebagai bid’ah.
Bid’ah dapat dirasakan oleh orang yang melangkah di jalan Allah, tidak dapat dirasakan oleh orang yang hanya meniru-niru perbuatan Rasulullah SAW tanpa melangkah. Manusia dapat melihat bid’ah dari pengaruh buruknya terhadap langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Bid’ah terletak di antara perkataan yang diada-adakan dan kesesatan, karena itu bid’ah dapat ditimbang berdasarkan landasan perkataannya atau dampak kesesatannya dari langkah Rasulullah SAW dan para nabi dan orang-orang shalih bersama beliau SAW. Apabila suatu perkataan menyebabkan munculnya kesesatan, perkataan itu merupakan perkataan yang diada-adakan dan amal berdasar perkataan itu merupakan bid’ah. Bila seseorang beramal berdasarkan suatu perkataan yang diada-adakan yang menyebabkan kesesatan, maka amal itu merupakan bid’ah. Kadangkala suatu bid’ah dilakukan tanpa suatu landasan perkataan tertentu tetapi menyebabkan kesesatan, maka hal itu termasuk bid’ah. Boleh jadi ada suatu kaum yang melakukan amal berlandaskan teori bahwa tidak perlu landasan pengetahuan untuk beramal, maka perkataan tidak perlu landasan pengetahuan itu sendiri merupakan perkataan yang diada-adakan. Seseorang tidak boleh menghukumi suatu perbuatan sebagai bid’ah tanpa menimbang perkataan yang menjadi landasan perbuatan itu dan/atau kesesatan yang ditimbulkan dari perbuatan itu. Dewasa ini, sangat banyak orang yang bermudah-mudah melakukan tuduhan bid’ah tanpa menimbang landasan perbuatan dan kesesatan dari orang yang dituduh.
Pada pokoknya, mengikuti langkah Rasulullah SAW terbagi dalam beberapa tahapan. Tahap paling sempurna adalah mi’raj ke hadirat Allah melalui terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbentuknya bayt ini terjadi setelah seseorang menempuh tahap mengenal penciptaan diri sebagai tanah haram yang dijanjikan. Untuk mencapai pengenalan diri, setiap orang harus dapat menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar untuk memahami kehendak Allah. Tanpa kemampuan menggunakan pikiran dan akal dengan benar, seseorang tidak akan dapat mengenal jati diri penciptaan diri mereka masing-masing. Tahapan-tahapan ini harus ditempuh secara integral dan tertib. Terbentuknya bayt merupakan sasaran final perjalanan manusia di bumi, berupa terbentuknya tatanan masyarakat inti dari diri masing-masing manusia sesuai dengan kehendak Allah. Sebenarnya tatanan itu juga terkait tatanan masyarakat besar mereka yang akan mengikuti tatanan inti diri manusia mengikuti kehendak Allah.
Pokok bid’ah adalah penyimpangan dari tahapan-tahapan di atas. Misalnya manakala suatu perkataan menjadikan manusia tidak dapat menggunakan penalaran yang benar dan memperoleh berita yang benar, maka itu adalah suatu perkataan yang diada-adakan yang menjadi sumber bid’ah. Suatu pengenalan terhadap penciptaan diri tetapi menjadikan diri seseorang terpisah dari Al-jamaah Rasulullah SAW termasuk sebagai bid’ah, misalnya bila orang tersebut membuat-buat kedudukan dirinya sendiri di antara umat tidak mau mengetahui kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Demikian pula manakala suatu aturan membuat seseorang atau umat kehilangan kesempatan membina rumah tangga dengan baik mengikuti millah nabi Ibrahim a.s maka aturan itu merupakan perkataan yang diada-adakan dan penegakan aturan itu merupakan bid’ah. Tidak terbatas pada hal-hal di atas, ada sangat banyak sumber-sumber bid’ah berupa perkataan-perkataan yang diada-adakan manusia yang akan menjadikan manusia menyimpang dari langkah mengikuti Rasulullah SAW, mulai dari dari pelanggaran terhadap pokok-pokok hingga pelanggaran masalah-masalah cabang, seluruh hal yang menjadi sebab menyimpangnya langkah manusia menuju kedekatan kepada Allah bisa menjadi sumber bid'ah. Misalnya suatu perkataan atau teori baru tentang pernikahan yang menyimpang dari pokok konsep pernikahan berdasar nafsul wahidah, perkataan itu bisa menjadi perkataan yang diada-adakan yang menjadi sumber bid’ah di antara umat islam.
Menghindari Bid’ah
Untuk memudahkan mengenali perkataan yang diada-adakan dan bid’ah, pengetahuan terinci tentang sunnah Rasulullah SAW, millah nabi Ibrahim a.s dan langkah-langkah nabi yang lain akan sangat membantu seseorang untuk mengenali. Semakin terinci pengetahuan seseorang tentang keadaan dari setiap tahap langkah yang ditempuh Rasulullah SAW, semakin terang baginya perkataan-perkataan yang diada-adakan hingga ia mengetahuinya sekalipun disembunyikan dalam berbagai teori. Pengetahuan rincian langkah ini dapat dibangun seseorang dimulai dari pokok-pokok langkahnya kemudian dibina pemahaman yang lebih rinci pada setiap langkah. Hal demikian akan mencegah seseorang kehilangan arah manakala berkecimpung dalam rincian-rincian langkah, sedangkan ilmu-ilmu perincian itu sangat berguna bagi umat manusia untuk mengenali jalannya kembali kepada Allah.
Misalnya dalam membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, hal itu hanya akan terjadi apabila seseorang bersungguh-sungguh untuk menjunjung syariat tidak mencederainya. Bayt demikian itu dibentuk melalui penyatuan nafs wahidah terhadap bagian-bagian yang merupakan turunan dari dirinya tanpa suatu kekejian yang menyimpang. Manakala suatu kekejian mewarnai suatu keluarga, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang laki-laki harus berusaha mengenali isterinya sebagai bagian dari dirinya, dan tidak berbuat melampaui batas mengumpulkan sesuatu yang bukan merupakan bagian dirinya. Mengumpulkan bagi dirinya sesuatu yang bukan bagian dari dirinya merupakan kekejian, sebagaimana menginginkan isteri orang lain merupakan kekejian. Hal demikian merupakan perbuatan melampaui batas yang tidak boleh dilakukan dalam membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang hendaknya mengetahui batas-batas bagian dirinya berdasarkan syariat dan pengetahuan yang benar.
Hal demikian juga harus diperhatikan sejak langkah dasar yaitu melakukan penalaran yang benar dengan berita yang benar. Setiap orang harus berusaha memperoleh berita-berita yang benar untuk dinalar. Tidak setiap berita yang benar layak untuk dinalar, tetapi setiap orang harus memperoleh berita yang benar bagi dirinya untuk dinalar. Bila ia mengabaikan berita-berita berbobot bagi dirinya, ia akan kehilangan sangat banyak penalaran benar yang akan membina akalnya. Berita paling benar dengan bobot paling besar adalah ayat-ayat kitabullah. Tuturan kitabullah kepada seseorang hamba Allah juga termasuk berita benar yang sangat besar bobotnya selama terhubung dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar. Bobot berita dari para hamba Allah akan berkurang bobotnya dengan jauhnya berita dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang mengabaikan berita yang benar dari tuturan kitabullah, ia telah kehilangan sangat banyak berita yang berbobot bagi dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kekuatan akal seseorang. Seseorang tidak perlu menalar terlalu jauh kebenaran yang tidak penting, misalnya pernyataan anak kecil tentang manisnya permen, karena bobot berita itu sangat ringan bagi kebanyakan orang walaupun itu berita yang benar. Ayat-ayat kauniyah merupakan berita dalam bentuk lain yang benar dan bernilai besar bagi seseorang manakala disikapi dengan benar dan dapat terhubung dengan firman Allah.
Suatu bid’ah dapat terjadi pada pokok langkah Rasulullah SAW ataupun pada cabang-cabang yang mengantar pada pokoknya. Tidak semua kesalahan seseorang dalam melangkah merupakan bid’ah. Suatu kekejian mungkin terjadi oleh seorang hamba tetapi ia tidak mengatakan itu sebagai bagian dari perintah Allah, maka ia tidak melakukan bid’ah. Demikian pula seseorang mungkin mempunyai pemahaman yang salah tetapi mungkin ia menyadari kesalahannya maka itu bukan suatu bid’ah. Suatu bid’ah terjadi manakala seseorang melakukan kesalahan melangkah sedangkan ia mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah Allah. Misalnya kala suatu kaum membuat mekanisme tertentu yang menyebabkan masyarakat sulit untuk memperoleh, menalar dan/atau mengikuti berita yang benar bagi dirinya, maka aturan yang diterapkan oleh kaum tersebut merupakan bid’ah, suatu bid’ah yang terjadi karena kebodohan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Sunnah dalam hal ini berupa langkah kembali untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah, bukan sunnah yang dalam definisi contoh-contoh perbuatan. Semua hal yang menyebabkan tersimpangnya langkah manusia mengikuti langkah Rasulullah SAW merupakan bid’ah atau kesesatan.
Rumitnya persoalan bid’ah ini terjadi manakala suatu bid’ah bercampur dengan hakikat. Umat manusia akan kehilangan sensibilitas terhadap kesalahan manakala kesalahan itu dicampur dengan hakikat. Suatu bid’ah boleh jadi tampak baik dalam pandangan manusia tetapi menjadikan menyimpang, berbeda dengan kesesatan yang tampak jelas keburukannya. Samarnya melihat penyimpangan bid’ah ini akan semakin berlipat-lipat manakala bercampur dengan hakikat dan pandangan manusia akan terbalik-balik dalam menilai kebenaran. Dalam keadaan demikian, setiap orang harus berusaha sungguh-sungguh menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah dengan berpegang erat sepenuhnya pada kitabullah dengan mengesampingkan semua pendapat sendiri yang bertentangan dengan kitabullah. Kuatnya indera-indera bathiniah tidak boleh digunakan untuk menghukumi suatu perkara karena kekuatan indera itu dapat dikelabui syaitan. Manakala Alquran berbicara tentang suatu perkara, firman Allah itulah yang harus digunakan untuk menghukumi perkara, serta perkataan-perkataan yang mendekatkan manusia pada firman Allah tersebut. Bila tidak berhukum dengan firman Allah, dalam keadaan demikian manusia akan dapat memandang sesuatu secara terbalik-balik, kebaikan dipandang sesat dan kesesatan sebagai kebaikan.
Suatu bid’ah akan menghalangi manusia untuk mengikuti tuturan kitabullah Alquran manakala tuturan itu dibacakan kepada mereka. Umat manusia bisa memandang bid’ah yang mereka ikuti lebih baik daripada tuturan kitabullah itu tanpa merasa berdosa meninggalkan urusan kitabullah mengikuti cara pandang mereka sendiri. Bila diperhatikan, akan terlihat bahwa sebenarnya muncul sikap sombong dalam diri mereka dengan tanda mengabaikan kebenaran dan meremehkan manusia. Tetapi kebanyakan orang yang mengikuti bid’ah tidak memperhatikan hal ini. Mereka tertutup oleh pandangan bahwa mereka itu kaum yang paling benar dalam melangkah, sedangkan itu sebenarnya simptom kesombongannya. Bila mereka mau memperhatikan firman Allah, mereka akan melihat kesombongan dalam diri mereka dan mampu melihat kebenaran tanpa mengabaikannya, serta tidak meremehkan orang yang menyampaikan kebenaran. Bid’ah menjadi penutup yang berlapis-lapis bagi umat manusia dalam mengikuti firman Allah secara tepat.
Untuk melepaskan diri dari bid’ah, setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mendustakan pendapatnya sendiri manakala berseberangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ini bukan perkara mudah bagi orang yang terjerat bid’ah. Mereka memandang pengetahuan pada diri mereka merupakan kebenaran, dan mereka akan memandang remeh orang lain yang menyampaikan ayat kitabullah. Tidak jarang apabila ada yang datang berupa kebenaran kepada mereka, makna yang mereka tangkap dari kebenaran itu melenceng dari konteksnya. Dengan dorongan demikian, mereka tidak merasa menentang kitabullah Alquran, hanya merasa tidak menerima pendapat orang yang menyampaikannya. Sebenarnya pandangan mereka keliru, karena seringkali mereka telah benar-benar menolak Alquran bukan hanya pendapat orang lain. Ini harus benar-benar disadari. Bila tidak benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran, mereka tidak akan terlepas dari bid’ah yang mereka ikuti.