Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Manusia tidak akan dapat mencapai tingginya kedekatan kepada Allah tanpa pertolongan-Nya. Bila seorang hamba menyangka dapat menempuh jalan kedekatan kepada Allah dengan usahanya sendiri, ia telah keliru. Boleh jadi ia tidak berjalan sama sekali dan menyangka telah berjalan mendekat, atau boleh jadi ia ditolong oleh makhluk lain menuju langit tetapi makhluk itu berkeinginan jahat terhadap manusia. Tidak ada manusia dapat menempuh jalan kembali kepada Allah tanpa pertolongan Allah. Orang demikian hanya berangan-angan atau orang yang tersesat.
Di antara bentuk pertolongan Allah kepada hamba-Nya adalah diturunkannya Alquran. Alquran merupakan pembimbing jalan setiap manusia untuk mendekat kepada Allah yang selalu hadir. Alquran memberikan manusia petunjuk untuk menjadi hamba yang dekat kepada Allah, memberikan penjelasan atas petunjuk-petunjuk benar yang diperoleh oleh setiap hamba Allah, dan memberikan keterangan hingga seseorang dapat membedakan kebenaran dengan kebathilan agar hamba Allah dapat memilih mengikuti kebenaran dan menghindari kebathilan. Dengan Alquran, para hamba Allah dapat menempuh jalan untuk dekat kepada Allah dengan selamat.
﴾۵۸۱﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan agar kamu menyempurnakan bilangannya dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah : 185)
Di Antara Manfaat Kitabullah
Alquran memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mencari petunjuk Allah. Dalam setiap keadaan, Alquran dapat memberikan petunjuk kepada yang membutuhkan petunjuk, selama orang tersebut mempunyai keinginan yang baik. Seseorang yang ingin mengenal kemuliaan Allah dapat memperolehnya melalui Alquran. Bila seseorang ingin mengetahui amal terbaik yang harus dilakukan dalam kehidupan di bumi, ia dapat mencari pengetahuannya dari kitabullah Alquran. Orang-orang yang ingin memperoleh pengetahuan tentang keadaan kauniyah mereka dapat menemukan pengetahuannya melalui Alquran. Demikian pula orang yang sedang memperoleh kesulitan dapat mencari penenang bagi hatinya dari Alquran dan mencari petunjuk untuk masalahnya melalui Alquran. Petunjuk Alquran membentang sangat luas bagi setiap orang yang membutuhkan petunjuk Allah, tidak terbatas pada kasus-kasus di atas.
Selain memberikan petunjuk, Alquran akan memberikan penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk yang ditemukan orang yang bertaubat. Allah menurunkan petunjuk tidak hanya dalam bentuk ayat-ayat dalam kitabullah Alquran, tetapi juga melalui seluruh kauniyah yang terjadi pada setiap makhluk dan juga melalui hati manusia-manusia yang dapat memperoleh petunjuk. Keseluruhan petunjuk itu akan mengarahkan kehidupan manusia untuk dapat mengenal kehendak Allah atas diri masing-masing. Akan tetapi sangat banyak bias-bias makna yang bisa muncul dalam petunjuk yang diterima manusia hingga makna petunjuk itu buram atau bahkan menyimpang. Bahkan tidak sedikit petunjuk-petunjuk yang diterima manusia merupakan petunjuk palsu. Seseorang yang menerima petunjuk melalui indera-indera bathiniah bisa saja tiba-tiba menempuh langkah yang jauh menyimpang dari kebenaran karena bias-bias makna dalam petunjuk. Bila seorang hamba Allah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah, Alquran akan meluruskan bias-bias makna dalam petunjuk yang diterimanya dan menghilangkan petunjuk-petunjuk palsu. Alquran akan memberikan penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk yang dapat diterima oleh manusia.
Ada kelompok-kelompok yang menafikan keberadaan petunjuk selain dari yang dapat ditemukan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bahkan hingga mencela orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah dalam bentuk kauniyah yang digelar. Sikap kelompok demikian terhadap orang yang bisa memperoleh petunjuk dalam bentuk petunjuk dalam hatinya seringkali lebih keras lagi dan sembrono mengatakannya sebagai hanya halusinasi. Tentu saja tidak demikian, karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang dapat menerima petunjuk bahkan sebagian berkedudukan lebih tinggi dari malaikat muqarrabun. Untuk kedudukan demikian tentulah manusia diberi kemampuan untuk dapat memahami kehendak Allah, bisa lebih baik daripada malaikat. Akan tetapi hendaknya manusia selalu berhati-hati karena mereka pun dilekati pula dengan hawa nafsu yang tidak jarang mendorong manusia menuju kesesatan. Ada pula syaitan yang telah merasakan luasnya alam semesta ciptaan Allah hingga dapat menyesatkan manusia dengan berbagai cara dan pengetahuannya.
Banyak orang yang bertaubat melupakan manfaat Alquran sebagai penjelasan terhadap petunjuk yang mungkin diterimanya. Tidak jarang orang-orang yang menerima petunjuk ke dalam hatinya tidak mempunyai dorongan untuk bertanya kepada Alquran terhadap makna petunjuknya. Sebenarnya Alquran akan memberikan penjelasan terhadap makna petunjuk yang diterima oleh seseorang berupa penjelasan terkait dengan kebenaran yang lebih luas. Petunjuk yang diterima seseorang seringkali bersifat pribadi atau lokal, tetapi sebenarnya terkait dengan suatu kebenaran yang sangat luas. Setiap orang yang menerima petunjuk hendaknya berusaha menemukan penjelasan bagi petunjuknya agar dapat menyatukannya dengan kebenaran yang lebih luas. Bila tidak mendapatkan penjelasan dari Alquran, petunjuk yang diterima itu dapat mendatangkan kerusakan pada diri manusia. Seseorang bisa menjadi megaloman karena petunjuk-petunjuk yang diterimanya sedangkan petunjuk itu tidak ditempatkan dalam kebenaran yang lebih universal. Tidak jarang manusia salah memaknai petunjuk yang diterima. Sekalipun pemaknaan petunjuk itu benar, seseorang bisa saja tetap dalam kegelapan karena tidak terhubung dengan kebenaran yang universal.
Keterlupaan seseorang terhadap kitabullah sebagai penjelasan terhadap petunjuk dapat terjadi dengan cara yang sangat halus. Misalnya seseorang mungkin sangat taat kepada syaikhnya hingga melupakan hubungan petunjuknya dengan hakikat yang melandasinya. Bukan berarti seseorang boleh meninggalkan ketaatan kepada syaikh, tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk tetap selalu berusaha memahami landasan petunjuknya dari kitabullah tidak melupakannya. Manakala terjadi suatu kesalahan, setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak melupakannya. Bila ia melupakannya, ia akan dapat terjebak pada suatu bentuk kegelapan tertentu. Ada suatu kaum penghuni jahannam berupa orang-orang yang mempunyai hati, mempunyai mata bathiniah dan telinga bathiniah tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Kaum ini bisa tampak menakjubkan, disertai dengan pengalaman bathiniah yang tampak baik. Sekalipun seseorang tampak menakjubkan dengan pengalaman-pengalaman bathiniahnya, manakala tidak digunakan untuk berusaha memahami ayat-ayat Allah maka mereka akan bisa menjadi penghuni neraka jahannam. Banyak bahaya menghadang manusia manakala melupakan kedudukan kitabullah sebagai pertolongan Allah untuk perjalanan taubatnya.
Manakala seseorang memperoleh suatu petunjuk, ia harus bersikap tenang dengan petunjuknya. Hawa nafsu manusia akan menjadi aktif dalam menafsirkan petunjuk yang diterima oleh hatinya, maka akan muncul penafsiran-penafsiran yang salah terhadap petunjuk yang diterima. Bukan berarti petunjuk itu tidak bermakna, tetapi seseorang harus mempunyai pijakan yang tepat untuk memahami makna dari petunjuk yang diterima hatinya, dan pijakan itu terletak pada pengenalan terhadap landasan kebenarannya dalam kitabullah Alquran. Kebenaran dalam kitabullah Alquran itu merupakan kebenaran dalam derajat hakikat, kebenaran yang paling tinggi dari sisi Allah. Para syaikh akan sangat membantu seseorang menemukan pijakan dalam kitabullah Alquran hingga seseorang dapat memperoleh sudut pandang yang tepat terhadap petunjuknya, maka petunjuk itu akan mendapatkan penjelasan dari kitabullah Alquran. Apabila seseorang telah memperoleh pijakan dari tuntunan kitabullah Alquran bagi petunjuknya, kendali terhadap hawa nafsu akan terraih, dan ia memperoleh alat kendali bagi hawa nafsu bila ia mau mengendalikannya.
Bila seseorang mengikuti waham dirinya tanpa meluruskan dengan membaca kitabullah, ia akan tersesat dari jalan yang lurus. Kesesatan itu tidak selalu tumbuh dari landasan yang salah. Misalnya mungkin seseorang berusaha menunaikan sesuatu dari kitabullah tetapi tidak meluruskan pemahaman yang tumbuh, maka pemahaman yang tumbuh itu kemudian menjadi menyimpang. Kadangkala seseorang membaca sesuatu dari kaum salaf tetapi memperoleh makna yang salah. Penyimpangan pertumbuhan itu dapat dicegah bila hamba Allah mencari landasan pertumbuhannya dari kitabullah dan meluruskan pemahamannya itu dengan kitabullah. Seseorang akan dapat menempuh langkah yang lurus bila ia berpegang pada kitabullah. Lebih penting bagi seseorang untuk berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada memperjuangkan kebenarannya. Boleh jadi seseorang mempunyai pemahaman yang keliru tetapi ia mau mengikuti tuntunan kitabullah manakala ayatnya sampai kepada dirinya, maka ia kembali ke jalan yang selamat.
Manfaat lainnya, Alquran juga berfungsi sebagai pembeda (al-furqan) sehingga manusia dapat membedakan hal-hal yang baik terhadap yang buruk, yang mendatangkan manfaat dan yang mendatangkan madlarat dan lain-lain. Fungsi ini tidak dapat dipandang remeh, karena banyak bentuk-bentuk keburukan yang menyaru sebagai kebaikan, dan suatu kebaikan dapat dijadikan buruk dalam pandangan manusia. Pada beberapa segi, manusia sama sekali tidak bisa mengandalkan kekuatan inderawi dirinya dalam memandang kebaikan dan keburukan, terutama dalam hal-hal di mana kitabullah Alquran membahas masalah kebaikan dan keburukan dalam urusan itu. Apa-apa yang difirmankan sebagai kebaikan adalah kebaikan dan apa yang difirmankan sebagai keburukan tidak boleh dipandang baik oleh manusia.
Sangat penting bagi setiap orang untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran. Ilmu dalam hal ini bukan pengetahuan yang bersifat hafalan, tetapi lebih pada pengetahuan terhadap nilai manfaat yang dapat diperoleh dari petunjuk-petunjuk kitabullah untuk kehidupan manusia. Pengetahuan itu mungkin berada pada tataran alam mulkiyah, atau boleh jadi tentang alam-alam yang lebih tinggi atau bentuk-bentuk pengetahuan lebih lanjut dari kehidupan diri manusia misalnya alam kubur hingga alam akhirat. Sangat banyak bentuk pengetahuan yang bermanfaat bagi diri setiap manusia yang dapat diperoleh dari Alquran, dan orang-orang yang mengetahui nilai manfaat dari pengetahuan itu adalah orang yang memperoleh ilmu. Manakala pengetahuan itu baru bersifat hafalan tanpa mengetahui nilai manfaatnya, maka ilmu itu hanya berupa pengetahuan untuk pikiran jasmaniah saja. Pengetahuan akal berbentuk pengetahuan tentang nilai-nilai manfaat dan yang lebih tinggi yang dapat diperoleh dari tuntunan kitabullah yang diketahui pikirannya.
Usaha seseorang mengasah akal untuk mengenali nilai manfaat tuntunan kitabullah Alquran kadangkala dapat dilalaikan dengan cerita-cerita indah yang menjadi perhiasan dari nilai tuntunan kitabullah Alquran. Ada cerita-cerita indah yang dapat muncul dalam akal pikiran dan hawa nafsu manusia ketika berusaha memahami kitabullah Alquran. Manusia hendaknya tidak terlena dengan perhiasan-perhiasan indah itu tanpa mengabaikan keindahannya. Hati manusia harus menghadap kepada Allah tanpa melupakan untuk membagikan rahmat Allah yang dapat diperoleh dirinya kepada umat-Nya, tidak terlena dengan keindahan-keindahannya. Umat Rasulullah SAW tidak boleh mabuk dalam ibadah kepada Allah dengan suatu hakikat yang dikenal, tetapi harus tetap sadar tentang kedudukan Allah dan kedudukan dirinya baik terhadap Allah ataupun terhadap makhluk-makhluk lainnya. Pada tingkat lebih ringan, kadangkala seseorang kehilangan arah dalam mempelajari kitabullah Alquran karena keindahannya, membangun suatu menara pengetahuan tanpa diikuti tumbuhnya keinginan melaksanakan fungsi sebagai hamba Allah.
Bagi orang-orang khusus tertentu, Alquran bisa memberikan petunjuk hingga masalah-masalah terinci dalam kehidupan diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai derajat khusus di antara manusia. Bagi sebagian orang khusus lain, pengetahuan Alquran lain mungkin hanya menyangkut prinsip-prinsip pokok sedangkan hal-hal terinci terkait sesuatu yang terjadi pada mereka harus dipikirkan hubungannya dengan tuntunan kitabullah Alquran dengan cara berpikir yang benar. Hal demikian termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung selama tidak menyimpang dalam mencari petunjuk. Ada orang-orang yang menyimpang dari kitabullah Alquran tetapi merasa sebagai orang-orang yang menerima petunjuk terinci karena kurang sungguh-sungguh dalam berpegang pada kitabullah Alquran, mungkin ia berpegang tetapi tidak berusaha memperhatikan rincian dari kitabullah. Kebanyakan manusia saat ini berada pada tahap mencari landasan kehidupan dari kitabullah. Ada yang mulai menemukan landasannya, ada yang baru meraba-raba makna kehidupan dan banyak kondisi lain yang menunjukkan upaya yang kurang sungguh-sungguh dalam mencari petunjuk kehidupan dengan kitabullah Alquran.
Tertib Melangkah
Proses membina pemahaman terhadap Alquran hanya dapat dilakukan dengan mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW bersama para nabi yang menjelaskan rincian proses membinanya, seperti langkah para nabi bani Israel. Nabi Yusuf a.s menjadi tauladan dalam menggunakan penalaran yang benar untuk memahami berita yang benar. Nabi Musa a.s mengajarkan umat manusia untuk berhijrah menuju tanah yang dijanjikan. Nabi Ibrahim a.s menjadi tauladan bagi umat manusia untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sehingga seorang hamba Allah memperoleh basis untuk mi’raj kepada Allah mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba Allah yang didekatkan kepada Allah.
Langkah-langkah dalam proses membina pemahaman itu harus dilakukan dengan tertib, tidak meninggalkan satu langkah di antaranya. Proses membina penalaran yang benar untuk memahami berita yang benar terutama terkait khabar dari alam yang tinggi harus dibina dengan baik sebagai landasan keinginannya untuk berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Misalnya ketika menerima petunjuk dalam hati, petunjuk tersebut harus dibaca dengan landasan yang lengkap dan benar dari ayat kauniyah dan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara seksama, tidak tergesa mengambil kesimpulan. Atau manakala seorang syaikh telah memberitahukan persoalan alam bumi diri murid, seorang murid harus berusaha benar-benar memahami persoalan bumi tersebut karena syaikh tersebut sebenarnya memberitahukannya terkait dengan berita langit dirinya. Sang syaikh tidak memberitahukan berita tersebut tanpa memahami urusan yang disampaikan. Bila seorang syaikh memberitakan sesuatu tanpa memahami urusan langitnya, akan sangat banyak kekacauan yang terjadi di alam bumi yang akan menjadi bencana, lebih besar dari seorang murid yang mangkir murtad dari urusannya. Para murid hendaknya tidak mengubah-ubah berita tersebut tanpa suatu landasan yang lebih kuat. Bila ia mengubahnya tanpa memahami, akan muncul suatu penderitaan di alam bumi terkait urusan tersebut, kadang untuk dirinya dan/atau untuk umatnya. Mengubah berita tersebut hanya dapat dilakukan dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu berita yang menyelisihkan berita dari sang syaikh tidak boleh digunakan untuk mengubah tanpa mengetahui benar-benar hakikat keadaan kauniyah yang sebenarnya, karena boleh jadi syaitan memberi khabar agar seseorang menyelisihi berita dari sang syaikh. Syaitan mempunyai sangat banyak cara untuk menyisipkan berita yang salah kepada atau melalui setiap orang.
Hendaknya murid berusaha menemukan landasan berita dari syaikh tersebut dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akalnya akan tumbuh bila bersentuhan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan saja tanpa menggunakan akal tidak akan menjadikan murid mempunyai pijakan pembinaan, seringkali menjadikan seseorang tidak dapat menggunakan penalaran yang benar untuk mengikuti berita yang benar. Pencarian ilmu tanpa berusaha memahami tuntunan Allah akan menjadi sulit dan banyak kesia-siaan. Ada pula orang-orang yang dapat menyesatkan, maka berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW lebih penting daripada sekadar mencari pengetahuan, karena berita yang paling benar adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Membina pemahaman terhadap kedua tuntunan tersebut merupakan pembinaan yang paling baik dalam proses penalaran yang benar terhadap berita yang benar, dan segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan keduanya adalah kesesatan.
Yang paling sulit dalam pembinaan penalaran adalah membedakan berita yang benar dengan berita yang tidak jelas. Kesulitan demikian akan dapat diatasi dengan berpegang pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam hal ini, Alquran merupakan pembeda (Al-furqaan) yang membedakan antara berita yang benar dengan berita yang sia-sia. Kadangkala manusia berusaha menembus keraguan berdasar suatu keyakinan yang dibuat-buat tetapi meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran. Hal demikian akan menjadikan langkah sia-sia. Menembus kesamaran harus dilakukan dengan membina pengetahuan, di mana seorang murid harus melaksanakan bimbingan syaikh dengan sungguh-sungguh disertai dengan mencari akar pengetahuannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak bermudah-mudah mendustakan yang tidak diketahuinya.
Bila penalaran yang benar dapat terbina, seseorang dapat menempuh jalan hijrah ke tanah yang dijanjikan dengan lebih mantap. Tanpa kemampuan penalaran yang benar, berhijrah sangat berpotensi mendatangkan kesesatan. Berhijrah harus dilakukan dengan pembinaan penalaran yang benar, tanpa harus mencapai kemampuan penalaran yang sempurna. Tidak ada kemampuan penalaran sempurna pada makhluk. Yang paling penting, setiap orang harus mempunyai keinginan untuk bersikap memahami kebenaran tidak ingin terjebak pada waham, sedangkan kemampuan penalaran itu harus tetap dibina secara menerus.
Urutan demikian harus dilakukan dari langkah awal hingga langkah tertinggi dalam mendekat kepada Allah. Misalnya pada langkah tertinggi, seorang hamba hendaknya tidak menempuh jalan mi’raj tanpa disertai terbentuknya suatu bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Manakala landasan di bumi belum terbentuk, tidak baik bagi seorang hamba untuk berharap terlalu besar kepada Allah. Boleh jadi perjalanan mi’raj itu akan menyesatkan, atau menjadikan tampaknya akhlak buruk ketika di hadapan Allah, atau menjadikan seseorang berakhlak buruk dengan pangkat yang seharusnya belum disematkan Allah kepadanya. Langkah mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan tertib dengan landasan yang kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar