Pencarian

Jumat, 21 Maret 2025

Alquran yang Bertutur

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan terletak pada pengenalan terhadap amr Allah. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan tertentu berupa pelaksanaan amr Allah. Amr Allah itulah jalan menuju kedekatan kepada Allah apabila ditempuh. Allah menjelaskan kepada hamba-hamba yang dikehendaki sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah. Setiap amr Allah pada jaman Rasulullah SAW dan setelahnya telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang-orang berilmu yang takut kepada Allah akan menemukan amal-amal shalih dari kitabullah Alquran. Mereka akan menjumpai kitabullah itu sebagai suatu kitab yang berbicara dengan suatu hakikat, menceritakan tentang kauniyah yang terjadi di sekitar mereka terkait dengan suatu kehendak Allah atas diri mereka. Dengan berita tentang hakikat yang terjadi itu mereka mengetahui amal-amal yang dapat mereka lakukan sebagai hamba Allah. Itu merupakan amal-amal shalih dalam kedudukan yang sesungguhnya.

﴾۲۶﴿وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang berbicara dengan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS Al-Mukminun : 62)

Demikian itulah orang-orang yang diberi ilmu yang takut kepada Allah beramal sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tidak beramal hanya dengan suatu dugaan tentang amal terbaik apa yang harus mereka lakukan, tetapi kitabullah menceritakan kepada mereka keadaan kauniyah yang terjadi. Cerita itu berbentuk tuturan kitabullah yang membangkitkan pengetahuan dalam hati seorang hamba, bukan berbentuk bisikan jin jahat yang menyamar dengan kebaikan tetapi mempunyai keinginan jahat. Pengetahuan itu bangkit di dalam hati manusia dengan membenarkan firman-firman Allah dan menjadikan seorang hamba mengetahui keadaan kauniyahnya secara tepat. Dengan pengetahuan itu mereka mengetahui amal apa yang harus dilakukan. Sebagian ulama lain mungkin lebih memperoleh pengetahuan  tentang amal yang harus dilakukan, atau bahkan suatu dengan daya karamah untuk melaksanakan amal bukan sekadar diberitahu keadaan kauniyah mereka. Hal itu barangkali menunjukkan perbedaan derajat di antara para alim tersebut. Apapun derajat pengetahuan yang mereka peroleh, berita yang diperoleh dari cerita (nathiqah) Alquran merupakan ilmu yang besar, salah satu tidak boleh dipandang rendah hanya karena tidak setinggi derajat yang lain.

Luasan dan jenis dari ilmu yang dibangkitkan di antara manusia mungkin berbeda-beda pula antara satu dengan orang lain. Hal ini merujuk pada jati diri penciptaan manusia. Setiap manusia diciptakan untuk suatu tujuan tertentu dengan kedudukan tertentu di hadirat Allah. Di akhirat, ada orang-orang yang akan mengenal kursi yang disediakan bagi dirinya. Seseorang tidak dapat menduduki kursi orang lain, hanya berhak untuk duduk di kursi yang disediakan bagi dirinya di hadapan Allah. Boleh jadi ada orang-orang lain di antara sahabatnya yang berkedudukan dekat dan hampir serupa, tetapi kursi mereka tetap berbeda. Orang yang lebih bertakwa akan lebih bertabur perhiasan dengan kedudukan dirinya, tidak berpindah menduduki kedudukan orang lain yang berkedudukan lebih tinggi.

Suatu ilmu mungkin akan menjadikan seseorang tampak hebat di mata manusia, tetapi setiap orang harus berhati-hati bahwa banyak pula makhluk alam syaitan yang pernah memperoleh ilmu. Syaitan dapat memunculkan fenomena keserupaan antara orang menggunakan jin dengan orang berilmu. Khalayak umum kadangkala tidak dapat membedakan kesaktian orang-orang yang menggunakan jin dengan orang-orang yang memperoleh ilmu. Ilmu dari kitabullah Alquran bersifat mengajak para hamba Allah untuk membina akhlak mulia untuk dekat kepada Allah. Orang yang memperoleh ilmu dari kitabullah tidak ingin dipandang lebih dari manusia lainnya kecuali terhadap ilmu yang diberikan karena ilmu itulah yang berharga pada dirinya. Kadangkala terdapat dualitas dorongan pada mereka terkait ilmunya manakala dipandang rendah manusia, berupa emosi atau dorongan untuk tetap berbuat yang terbaik. Dorongan itu sering dipengaruhi oleh keadaan orang yang merendahkannya. Pada prinsipnya, tindakan seorang yang berilmu Alquran akan berlandaskan akhlak mulia walaupun mungkin saja berbuat salah.

Sebaliknya, suatu ilmu kadang tidak bisa dipersepsi kebenarannya oleh suatu kaum. Boleh jadi ada sebab internal yang menyebabkan ilmunya tidak dipandang sebagai suatu kebenaran yang bernilai, atau boleh jadi akal kaumnya terlalu lemah untuk memahami kebenaran. Kedua sebab itu bisa ada secara bersamaan dan saling menguatkan. Tidak semua kebenaran dapat ditampilkan secara indah kepada orang lain. Bukan tidak mungkin suatu kebenaran justru mendatangkan kebencian dari orang lain yang tidak menyukainya, atau bahkan dijadikan terlihat buruk oleh syaitan untuk menjatuhkan orang yang menyampaikannya. Ini mudah dilakukan apabila keadaan masyarakat sangat buruk. Kadangkala apapun yang dikerjakan oleh seseorang yang ingin berbuat baik justru mendatangkan efek buruk bagi diri mereka dari sikap orang lain. Hal demikian dapat terjadi pada suatu masyarakat yang keadaannya sangat buruk.

Di antara nilai internal seseorang terkait kemampuan menghadirkan kebenaran adalah terbinanya masalah sakinah dalam kehidupannya. Ada beberapa tingkatan sakinah yang harus dibangun manusia. Ada sakinah dalam hati yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, berikutnya ada sakinah dalam hubungan pernikahan yang berfungsi sebagai antarmuka penyampaian kebenaran kepada umat, dan berikutnya sakinah dalam urusan keumatan sebagaimana turunnya tabut tanda datangnya kekuasaan Thalut yang berfungsi untuk mewujudkan pemakmuran bumi. Terbentuknya sakinah dalam berbagai tingkatan itu akan mendatangkan kemampuan menghadirkan keindahan kebenaran bagi manusia sesuai dengan tingkatan masing-masing. Dengan Sakinah dalam hati saja akan menghadirkan bentuk keindahan kebenaran dari suatu ilmu tetapi mungkin tidak dapat dipersepsi oleh orang lain. Sakinah dalam rumah tangga akan mendatangkan hubungan yang baik antar manusia, dan sakinah di antara umat akan mendatangkan kemakmuran suatu negeri.

Kebaikan-kebaikan demikian akan dapat dibina di masyarakat melalui pembinaan manusia secara benar melalui pernikahan sebagai setengah bagian agama. Untuk pembinaan demikian, setiap orang hendaknya membangun landasan yang benar tentang hakikat pernikahan, tidak secara sembarangan mengarahkan biduk rumah tangga pada waham-waham yang keliru. Kaum laki-laki hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar hakikat-hakikat dari sisi Allah tidak memandang enteng suatu kebenaran yang berharga. Para perempuan hendaknya dapat mendampingi suaminya untuk melahirkan amal-amal yang bermanfaat bagi umat mereka, menghormati tidak menghinakan suaminya karena akan menjatuhkan diri mereka di antara masyarakat. Seorang isteri hendaknya tidak mementingkan atau memperhatikan perkataan orang lain melebihi perhatiannya terhadap perkataan suaminya, karena akan mengunci kedudukan suaminya dalam melaksanakan amal shalihnya pada posisi tertentu yang keliru.

Orang-orang yang mengikuti berita yang diceritakan oleh Alquran tidak akan terdzalimi dengan pengetahuannya. Apabila seseorang mengikuti tuturan Alquran, tidak akan ada sedikitpun tuturan Alquran yang akan menjadikannya berbuat buruk atau menjadikan dirinya buruk. Berbeda dengan tuturan nafs atau syaitan yang kadangkala tampak baik tetapi tersembunyi atau terselip di antaranya sesuatu yang buruk atau menjadikan seseorang buruk. Selalu ada sesuatu pada tuturan nafs dan syaitan yang akan mengantarkan seseorang menjadi buruk. Seseorang tidaklah akan tersesat jalannya apabila mengikuti tuturan kebenaran oleh Alquran. Adapun adanya kesesatan pada orang yang mengikuti tuturan Alquran terjadi karena adanya hal lain selain dari Alquran yang terselip pada tuturan yang diikutinya.

Tenang Dan Yakin dengan Alquran

Kesulitan mewujudkan kebenaran di masyarakat seringkali terjadi karena rusuhnya hati umat dalam mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Manakala tuntunan kitabullah dibacakan seseorang kepada mereka, mereka tidak merasa tenang dengan petunjuk yang dibacakan dan berkeinginan mengikuti pendapat mereka sendiri baik untuk amal mereka ataupun untuk memenuhi keinginan rendah pada diri mereka. Orang-orang yang ingin beramal tidak merasa tenang dengan tuntunan kitabullah, dan orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia tidak pula senang dengannya. Dengan keadaan demikian mereka memilih melakukan amal-amal selain apa yang dituturkan oleh kitabullah kepada seseorang dari mereka.

﴾۳۶﴿بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ
Tetapi hati mereka dalam keruwetan dalam perkara ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada itu, mereka tetap mengerjakannya. (QS Al-Mukminun : 63)

Alquran merupakan pokok dari kebenaran yang harus diperhatikan oleh setiap orang beriman. Orang beriman tidak boleh memandang ada hal lain lebih benar dari Alquran. Bila hal ini tidak diperhatikan, hati manusia akan berada dalam keruwetan, merasa rusuh dalam mengikuti Alquran. Keruwetan demikian inilah yang disebutkan oleh ayat di atas, keruwetan yang terjadi pada orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Tanda keruwetan dalam urusan tuturan Alquran ini terlihat dalam amal-amal. Boleh jadi masing-masing manusia mengerjakan apa yang mereka pandang baik, sedangkan mereka mengabaikan yang dituturkan oleh kitabullah Alquran. Boleh jadi mereka beramal suatu kebaikan tanpa merasa perlu memperoleh landasan dari kitabullah karena menganggap amalnya sudah merupakan kebaikan.

Anggapan ini kurang tepat. Manakala ada orang yang mengetahui tuturan Alquran, maka orang lain hendaknya ikut mewujudkan tuturan Alquran itu karena itu merupakan sumber amal shalih bagi orang-orang beriman. Ketika ada seseorang di antara suatu kaum membacakan tuturan Alquran, hendaknya mereka mengikuti Alquran itu maupun tuturannya. Apabila kaum tersebut mengabaikan tuturan Alquran yang ada di antara mereka, mereka termasuk kaum yang mengalami keruwetan dalam beramal. Kadangkala sekalipun tuturannya belum terpisah sedikitpun dari redaksi Alquran, orang-orang telah tidak meyakininya, maka mereka tidak akan mempunyai keyakinan terhadap tuturan lain dari Alquran yang lebih jauh terkait keadaan kauniyah. Ini merupakan bentuk keruwetan yang terjadi pada suatu kaum. Mereka akan ditimpa masalah-masalah tanpa mengetahui jalan keluarnya karena keruwetan yang terjadi dalam cara berpikir masing-masing.

Dalam mengikuti tuturan Alquran, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami redaksi dari kitabullah Alquran yang menuturkan tentang hal itu, dan berikutnya hendaknya mereka memperhatikan tuturan yang mungkin diperoleh oleh seseorang di antara mereka. Barangkali suatu kaum tidak bisa langsung menyadari kebenaran dari tuturan itu, maka hendaknya mereka melihat ayat-ayat kauniyah yang terkait dengan tuturan itu agar tuturan itu diketahui kebenarannya atau hanya omong kosong. Kadangkala seseorang yang memperoleh tuturan Alquran tidak dapat menceritakan dengan baik apa yang diperolehnya. Manakala berita tentang tuturan itu menyimpang dari redaksi Alquran, tuturan itu mengandung kesalahan walaupun mungkin tidak seluruhnya keliru. Apa-apa yang dapat dibuktikan kebenarannya hendaknya diikuti karena akan memperkuat akal, dan apa yang menyimpang tidak diikuti. Hendaknya setiap orang menggunakan akal untuk menimbang kebenaran yang dapat diperoleh. Dengan cara demikian suatu kaum akan terlepas dari keruwetan dalam beramal.

Sulitnya kebenaran dipahami oleh masyarakat seringkali disebabkan akal yang lemah. Kadangkala suatu kaum memandang suatu omongan tanpa dasar mempunyai bobot yang lebih besar dari tuturan dari ayat kitabullah Alquran, atau bahkan dari ayat Alqurannya sendiri. Orang yang menyampaikan sesuatu terkait nathiqah (tuturan) Alquran sangat mungkin tidak dipandang dengan layak oleh kaumnya karena mereka lebih ingin mengikuti pandangan mereka sendiri. Demikian itu merupakan salah satu pangkal masalah keruwetan yang mungkin terjadi pada suatu kaum. Ini bisa terjadi atas kaum yang menyangka mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Apabila suatu kaum tidak terbiasa untuk menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah, kebenaran akan sulit dipersepsi maka mereka mengalami keruwetan berpikir. Mungkin mereka mempunyai keyakinan tetapi keyakinan mereka tidak tepat. Keyakinan yang benar harus diuji dengan Alquran. Manakala Alquran berseberangan dengan cara pandang kebenaran manusia dan mereka hanya mengikuti pendapat mereka sendiri maka itu hanya keyakinan tanpa dasar.

Contoh keyakinan tanpa dasar ini dapat dilihat pada suatu kaum yang menginginkan kebenaran tetapi terjebak dalam kebenaran versi mereka sendiri. Dalam ungkapan jawa, kaum demikian seperti “tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok” (berkacamata tempurung kelapa, sekalipun mereka membuka mata lebar-lebar tetapi tidak dapat melihat). Mereka mungkin tidak buta, mempunyai indera bathin tajam tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah karena lebih mengikuti indera-indera bathiniah mereka sendiri daripada tuntunan kitabullah. Dengan keadaan demikian akal mereka lemah untuk mempersepsi nilai kebenaran ayat-ayat Allah karena terkungkung oleh suatu kebenaran virtual (virtual reality) yang dibuat makhluk. Mereka tidak menyadari bahwa kebenaran yang mereka ikuti hanyalah rekaan dari suatu makhluk yang menipu mereka. Dalam banyak kasus, rekaan itu hanya berupa selipan pada kebenaran tetapi selipan itu sangat berbahaya, maka manusia tidak menyadari kesalahan yang terjadi. Hal ini bisa membangkitkan suatu keyakinan yang keliru, dan hanya akan berkurang atau hilang manakala mereka berusaha melihat tuntunan kitabullah Alquran dan ayat Allah lainnya dengan benar.

Dampak dari ketidakyakinan terhadap Alquran adalah amal-amal yang tidak menyentuh akar masalah. Suatu kaum akan berbuat amal hanya sesuai dengan persangkaan diri mereka tanpa mengetahui akar masalah yang terjadi, maka amal-amal itu tidak dapat mendatangkan solusi masalah. Masalah hanya berputar-putar di sekitar mereka. Seandainya mereka melihat suatu sasaran menurut tuntunan Allah yang tampak dapat dicapai, mereka tidak dapat mencapai sasaran itu dan sasaran itu seolah-olah hanya suatu utopia. Hal ini terjadi karena diabaikannya tuturan Alquran kepada mereka. Amal-amal yang tepat untuk melangkah mencapai sasaran itu hanya akan diperoleh manakala suatu kaum memperhatikan tuturan Alquran kepada mereka, tidak mengandalkan amal kebaikan menurut pandangan mereka sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar