Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menggunakan akal memahami ayat-ayat Allah, ditunjukkan dengan pelaksanaan amal-amal pekerjaan yang bersumber dari tuntunan kitabullah Alquran. Amal-amal yang bersumber dari kitabullah Alquran tidaklah terbatas pada syariat yang harus ditunaikan, tetapi juga amal-amal terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diterangkan dalam kitabullah Alquran. Sebenarnya ayat-ayat Alquran merupakan kitab yang bertutur kepada hamba-hamba Allah tertentu, maka mengerjakan amal-amal terkait tuturan Alquran itu merupakan amal-amal yang bersumber dari kitabullah Alquran.
Orang-orang atau kaum yang mengabaikan tuturan kitabullah Alquran termasuk dalam golongan orang-orang yang mengalami keruwetan akal.
﴾۳۶﴿بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ
Tetapi hati mereka dalam keruwetan dalam perkara ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada itu, mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (untuk berhasil). (QS Al-Mukminun : 63)
Mereka termasuk kaum yang tidak menggunakan akalnya untuk memahami kitabullah. Ada banyak kaum yang bersikap demikian, dari golongan orang-orang yang hidup untuk mengumpulkan harta benda duniawi saja hingga orang-orang yang tidak mempunyai keberanian untuk menggunakan akal sekalipun mereka telah diberi indera bathiniah yang kuat. Manakala suatu kaum tidak memperhatikan tuturan kitabullah Alquran yang ada di antara mereka hingga terwujud amal-amal yang mengikuti tuturan kitabullah itu, maka mereka termasuk orang-orang yang mengalami keruwetan akal dalam memahami kitabullah Alquran.
Alquran merupakan pokok dari kebenaran yang harus diperhatikan oleh setiap orang beriman. Orang beriman tidak boleh memandang ada hal lain lebih benar dari Alquran. Bila hal ini tidak diperhatikan, hati manusia akan berada dalam keruwetan. Dalam mengikuti tuturan Alquran, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami redaksi dari kitabullah Alquran yang menuturkan tentang hal itu, dan berikutnya hendaknya mereka memperhatikan tuturan yang mungkin diperoleh oleh seseorang di antara mereka. Barangkali suatu kaum tidak bisa langsung menyadari kebenaran dari tuturan itu, maka hendaknya mereka melihat ayat-ayat kauniyah yang terkait dengan tuturan itu agar tuturan itu diketahui kebenarannya atau hanya omong kosong. Mengikuti tuturan Alquran dari orang lain tanpa memperhatikan redaksi dari kitabullah Alquran terkait tuturan itu tidak menunjukkan bahwa seseorang telah lurus akalnya. Pokok dari lurusnya akal manusia adalah ayat kitabullah Alquran, sedangkan tuturan dari kitabullah itu merupakan penjelasan yang bisa menjadi penuntun tumbuhnya akal. Mengingkari tuturan Alquran tanpa suatu alasan yang benar termasuk dari tanda keruwetan akal.
Lurusnya perkembangan akal manusia dalam memahami kehendak Allah terjadi melalui beberapa tahapan. Tahap paling sempurna perkembangan akal adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tahap ini terbentuk setelah seseorang menempuh tahap mengenal penciptaan diri sebagai pencapaian tanah haram yang dijanjikan bagi masing-masing manusia. Untuk mencapai pengenalan diri, setiap orang harus dapat menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar untuk memahami kehendak Allah. Tanpa kemampuan menggunakan pikiran dan akal dengan benar, seseorang tidak akan dapat mengenal jati diri penciptaan diri mereka masing-masing. Tahapan-tahapan ini harus ditempuh secara integral dan tertib. Terbentuknya bayt merupakan sasaran final perjalanan manusia di bumi, berupa terbentuknya tatanan masyarakat inti dari diri masing-masing manusia sesuai dengan kehendak Allah. Sebenarnya tatanan itu juga terkait tatanan masyarakat besar mereka yang akan mengikuti terbentuknya tatanan inti diri manusia dalam mengikuti kehendak Allah. Tatanan bayt ini harus dibentuk sesuai dengan tata aturan yang ditentukan Allah, tidak menempuh cara melanggar aturan Allah.
Kewajiban bagi umat manusia untuk beramal mengikuti tuturan kitabullah Alquran merupakan tuntutan agar manusia menumbuhkan akal. Nilai dari manusia yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran akan menjadi mulia, maka sebenarnya kewajiban itu merupakan dorongan bagi manusia untuk menjadi mulia. Manakala manusia tidak mampu memahami kebenaran berupa tuturan kitabullah Alquran, mereka sebenarnya dalam keadaan yang buruk. Kemuliaan atau keburukan itu secara kumulatif akan terlihat pada dinamika masyarakat. Kaum yang mulia akan membentuk tatanan masyarakat yang baik, sedangkan kaum yang buruk akan membentuk masyarakat yang buruk. Satu orang yang baik mungkin tidak akan bisa mendatangkan keadaan yang baik bila masyarakat mereka tidak menerima kebaikannya, terutama bila rumah tangga orang baik tersebut tidak baik. Keburukan di suatu masyarakat kadangkala sangat mengakar sedemikian sendi rumah tangga di antara mereka menjadi liar tanpa batasan kekejian dan kemungkaran. Bila kekejian dan kemunkaran mendapatkan tempat yang layak pada tatanan suatu masyarakat, maka mereka merupakan masyarakat yang sangat buruk.
Selain menjadi mulia, suatu amal mengikuti tuntunan kitabullah Alquran akan mendatangkan kemakmuran bagi umat manusia. Kadangkala suatu kaum merasa mulia karena telah mengenal suatu kebenaran tertentu, tetapi mereka tidak melihat bahwa kaum mereka terkurung oleh suatu masalah bersama sedangkan mereka tidak mengenal jalan keluar bagi kaumnya dari masalah itu dan mereka tetap merasa mulia. Hal demikian tetaplah merupakan tanda bahwa mereka tidak mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Manakala suatu kaum tetap berada pada masalah yang sama sepanjang waktu, suatu kaum sebenarnya tidak beramal mengikuti tuturan kitabullah. Demikian pula apabila suatu kaum semakin terbelit berbagai masalah yang tumbuh berkembang tanpa diketahui akar masalahnya, hal itu menunjukkan mereka tidak beramal mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Kadangkala bahkan sasaran kehidupan diri mereka sendiri tidak dapat dicapai, apalagi membawakan suatu langkah mengatasi masalah. Mengikuti tuturan kitabullah akan menadatangkan kemakmuran. Bila suatu kaum beramal mengikuti tuturan kitabullah Alquran, satu demi satu masalah kaum akan terurai karena Alquran merupakan petunjuk kehidupan, setidaknya bentuk masalah itu akan berubah bukan tumbuh.
Penghambat Memahami Tuturan
Umat yang beramal tidak mau mengikuti tuturan Alquran seringkali terjadi karena mempunyai suatu cita-cita tertentu tanpa suatu pemahaman keadaan sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita itu. Cita-cita itu sebenarnya hanyalah angan-angan karena mereka tidak mengetahui akar masalah umat sesuai dengan hakikat yang terjadi, dan amal-amal mereka tidak akan mendatangkan manfaat yang terbaik karena hanya merupakan buah yang tumbuh dari pohon yang mempunyai akar tidak cukup kuat. Kadangkala daya yang digunakan untuk menghasilkan manfaat tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Manakala suatu karya memberi manfaat, tetapi masalah besarnya tidak tertangani maka karya itu akan menjadi kurang berarti. Akar pohon yang kuat tumbuh apabila suatu kaum mengenal hakikat dari peristiwa kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah.
Sikap demikian tidak mudah luntur karena kesombongan yang ada dalam diri mereka. Mereka meremehkan orang-orang yang membacakan tuturan Alquran dan mengabaikan tuturan-tuturan kebenaran yang mereka sampaikan dari kitabullah Alquran, membicarakan-nya tanpa ingin diketahui oleh yang bersangkutan dengan tujuan untuk mengasingkan penyampai tuturan kitabullah tersebut.
﴾۷۶﴿مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ
﴾۸۶﴿أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
(67) dengan menyombongkan diri terhadap-nya dengan percakapan tersembunyi terhadapnya di waktu kalian (ingin) mengasingkannya. (68) Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada bapak-bapak mereka dahulu? (QS Al-Mu’minun : 67-68)
Orang yang menyampaikan tuturan kitabullah tidak jarang diasingkan oleh kaum mereka, karena tuturan itu dipandang tidak sesuai dengan cara berpikir umat. Orang tersebut mungkin dianggap tidak waras atau dipandang ingin terhormat di antara kaumnya. Tentu saja tidak demikian. Orang yang memperoleh tuturan dari kitabullah Alquran tentu mempunyai keinginan untuk menjadi baik dan menjauhkan diri dari mempertuhankan hawa nafsu dan syahwat. Pada umumnya, Alquran menjadi mulai berbicara ketika seseorang mencapai tingkatan akal mengenal diri. Penalaran yang benar saja hanya akan menjadikan seseorang mampu memahami pembicaraan tentang kebenaran, belum menjadikan kitabullah berbicara kepadanya. Ketika seseorang mengenal diri, firman Allah akan menjadikan pengetahuan bawaan diri manusia bangkit dan berbicara sesuai firman itu. Bila suatu tuturan dari kitabullah itu dipandang sebagai ketidakwarasan atau keinginan terhadap kedudukan, tuduhan itu jauh dari keadaan yang sebenarnya.
Cara pandang demikian hanya wujud dari kesombongan. Mereka memandang remeh orang yang menyampaikan tuturan dari kitabullah Alquran dan mengabaikan kandungan kitabullah yang disampaikan. Seandainya mereka tidak mengabaikan kebenarannya, mereka tidak akan meremehkan orang yang menyampaikan. Sedikit demi sedikit mereka akan mengikuti tuturan kitabullah Alquran. Mereka seharusnya tidak memandang remeh orang yang menyampaikan tuturan kitabullah hingga berkeinginan untuk mengasingkannya atau menyembuhkannya. Masalahnya ada pada kesombongan diri, bukan adanya penyakit dari diri seseorang yang harus dihindarkan dari umat.
Kesombongan demikian harus disembuhkan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran. Kesombongan demikian terjadi karena tidak memperhatikan ayat-ayat kitabullah, maka penyembuhannya adalah dengan memperhatikan tuntunan ayat kitabullah. Apabila ada keinginan dalam diri seseorang untuk mengikuti tuntunan kitabullah lebih daripada pendapatnya sendiri, ia akan mengetahui kebenaran dengan memperhatikan tuntunan itu. Orang yang hanya ingin mengikuti pendapatnya sendiri akan sulit untuk mengikuti kebenaran dalam tuturan-tuturan dari kitabullah, dan hal itu akan menjadikan kesombongan diri mereka tetap ada. Keinginan mengikuti kitabullah atau hawa nafsu dapat diukur dari seberapa mampu seseorang memahami kebenaran dalam tuturan kitabullah.
Hal demikian itu tidak bersifat tunggal. Ada
hal lain yang bisa menghambat kemampuan
seseorang atau
suatu kaum dalam
memahami tuturan dari kitabullah yang menyebabkan
penyembuhan kesombongan terhambat
secara
signifikan. Penghambat
itu
berupa adanya suatu urusan
yang diturunkan
kepada diri mereka secara baru, atau dikenal sebagai bid’ah, yaitu
urusan yang belum pernah diturunkan beritanya kepada orang-orang
sebelum mereka. Salah satu tanda dari bid'ah adalah manakala pemahaman terhadap urusan umat menyempit pada pemahaman satu pihak sedangkan yang lain tidak dapat memahami secara baik. Suatu bid'ah akan mengebiri akal umat manusia dalam memahami kehendak Allah. Hal itu tidak berlaku pada tuturan dari kitabullah, dimana suatu kaum dapat memperoleh berbagai tuturan yang berbeda-beda untuk urusan yang sama, dan setiap orang dapat mengikuti setiap tuturan tanpa berbenturan satu dengan yang lain. Sebagai ilustrasi, seluruh umat islam dapat memperoleh suatu pemahaman yang bermacam-macam terhadap kehendak Allah dari ayat yang berbeda dari kitabullah Alquran, atau bahkan dari ayat yang sama tanpa saling berbantahan.
Suatu bid'ah merupakan tandingan terhadap tuturan dari kitabullah. Suatu kaum yang mengikuti bid'ah akan memandang bahwa urusan-urusan yang mereka kerjakan merupakan urusan Allah sekalipun mereka tidak menemukan dasarnya dari kitabullah. Manakala suatu kaum mengikuti suatu bid’ah, mereka akan sulit memahami kebenaran dalam tuturan dari kitabullah yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Bid'ah itu akan menjadikan suatu kaum tidak dapat mengenali tuturan dari kitabullah sebagai sumber amal-amal yang harus dilakukan, tertutup oleh urusan-urusan bid'ah mereka jadikan sebagai urusan Allah tanpa memeriksa dasar-dasar amal mereka dari tuntunan kitabullah. Bila kaum tersebut mau memperhatikan kitabullah lebih seksama, mereka akan memahami amal-amal yang mereka lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar