Pencarian

Jumat, 07 Juni 2024

Perhiasan Yang Baik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Kemurnian seseorang dalam ibadah kepada Allah mempunyai tanda-tanda yang menyertai. Di antara tanda kemurnian ibadah adalah pengetahuan kehidupan duniawi yang ditentukan bagi dirinya berdasarkan ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Bentuk kehidupan denikian merupakan merupakan jalan ibadah manusia di alam dunia dalam bentuk amaliah ragawi.

Untuk memperoleh keadaan demikian, setiap orang harus memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat. Memohon ampunan kepada Allah dan menempuh jalan kembali kepada Allah akan menjadikan seseorang memulai langkah untuk memperoleh perhiasan duniawi dan memperoleh keutamaan yang disediakan bagi mereka.

﴾۳﴿وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi perhiasan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS Huud : 3)

Langkah pemurnian ibadah harus dilakukan dengan melakukan permohonan ampunan kepada Allah dan menempuh jalan taubat kepada Allah. Hal ini lazimnya dikenal sebagai langkah tazkiyatun-nafs. Sebenarnya langkah tazkiyatun-nafs tidak terbatas pada prosesi-prosesi yang dibimbing sang syaikh. Tazkiyatun nafs sebenarnya juga menghadirkan perbuatan-perbuatan Allah atas seorang hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs. Allah akan memerintahkan alam langit untuk mendatangkan hujan pengetahuan yang sangat banyak kepada hamba-Nya yang ingin memperoleh keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Hujan deras yang diturunkan langit akan menjadikan manusia dapat tumbuh hingga memperoleh fadhilah yang disediakan bagi mereka. Demikian pula Allah akan memberikan perhiasan-perhiasan duniawi kepada hamba-hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs dengan benar.

Hujan deras itu akan terwadahi oleh orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan Allah dan beramal mengikuti petunjuk Allah. Sangat penting bagi setiap hamba Allah untuk menyediakan wadah bagi hujan yang diturunkan Allah, dan wadah yang dapat menampungnya adalah akalnya. Bila tidak menyediakan wadah, barangkali seorang hamba akan menjadi suci karena hujan deras yang diturunkan, akan tetapi tidak dapat memahami kehendak Allah. Bila (hanya) untuk menjadi suci, maka seseorang tidak dapat memenuhi takdir dirinya sebagai manusia. Sebenarnya sangat banyak makhluk Allah yang telah diciptakan sebagai makhluk suci bukan dari golongan manusia. Takdir manusia akan dapat dipenuhi oleh seorang manusia bila ia menggunakan akalnya hingga memperoleh fadhilah yang disediakan Allah bagi dirinya.

Akal yang dimaksud adalah kemampuan untuk memahami kehendak Allah dengan benar. Pemahaman yang benar itu selalu mempunyai landasan berupa ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik secara langsung sebagai pokok ataupun sebagai cabang dari keduanya. Tidak ada orang yang memahami kehendak Allah tetapi tidak menemukan landasan dari ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman tanpa landasan demikian seringkali sifatnya sangat berbahaya, dapat merusak tatanan umat manusia dan makhluk lainnya. Orang yang menggunakan akal adalah orang yang berusaha memahami alam kauniyah dirinya baik pada sisi dzahir ataupun sisi bathinnya selaras dengan tuntunan Allah. Hujan pengetahuan yang diturunkan langit bisa menjadi contoh sisi bathin alam kauniyah manusia, dan kauniyah itu harus dipahami manusia dengan akalnya selaras tuntunan Allah.

Fundamen penggunaan akal seseorang adalah permohonan ampunan dan taubat kepada Allah. Manusia merupakan makhluk di alam rendah yang sangat mudah berbuat salah dan ditempatkan di alam yang terjauh dari sumber cahaya Allah. Permohonan ampunan dan taubat merupakan sarana utama yang disediakan Allah bagi manusia untuk memperoleh kemuliaan. Hal ini harus disyukuri oleh setiap hamba Allah. Kesalahan dan dosa dari manusia hendaknya dijadikan pendorong untuk memohon ampunan dan taubat kepada Allah. Allah tidak pernah membebani manusia untuk terbebas dari kesalahan dan dosa, walaupun memerintahkan manusia untuk berbuat yang terbaik. Istighfar dan taubat harus menjadi fundamen seseorang dalam menggunakan akal, lebih penting daripada keinginan terbebasnya dari kesalahan dan dosa. Seandainya Allah membuat aturan yang menuntut hamba-Nya agar tidak melakukan kesalahan, pastilah tuntutan itu tidak ditujukan kepada manusia. Hal demikian akan mendzalimi manusia. Demikian dalam menggunakan akal, hendaknya setiap hamba Allah berusaha memperoleh pemahaman yang terbaik, akan tetapi ia harus selalu menyadari bahwa selalu ada kemungkinan kesalahan dalam pemahamannya. Karena itu hendaknya ia tidak meninggalkan permohonan ampunan dan bertaubat kepada Allah, tidak perlu berusaha mencapai kebebasan dari kemungkinan berbuat kesalahan dan dosa, atau mencitrakan diri bebas dari dosa dan kesalahan.

Orang-orang yang baru memulai langkah memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah akan menemukan dirinya dalam keadaan yang gelap sangat terliputi oleh karakter alam duniawi. Semakin jauh langkah taubatnya, ia akan semakin mengenal bentuk kehidupan yang lebih sempurna. Seseorang akan menyadari bahwa dirinya bukan semata-mata makhluk bumi yang sama dengan binatang dan makhluk material lain. Ada sisi nafs dalam dirinya yang membutuhkan cahaya Allah untuk kehidupanya sebagaimana jasmaninya membutuhkan makanan. Kesadaran tentang bentuk kehidupan yang lebih sempurna ini akan lebih menyadarkan manusia untuk memohon ampunan dan bertaubat, dan entitas yang lebih menyeluruh inilah yang akan menjadikan seseorang mampu berkembang hingga memperoleh fadhilah yang disediakan Allah bagi purnarupa makhluk-Nya. Ia akan menyadari kebutuhannya akan hujan deras dari langit atas perintah Allah, terus berkembang untuk mencapai fadhilah bagi dirinya.

Realitas demikian bisa dijadikan sebagai suatu peta jalan bagi manusia, dan untuk mengukur keadaan dirinya pada peta jalan itu. Hendaknya setiap orang menyadari posisi dirinya dalam peta jalan itu. Manakala baru memulai langkah istighfar dan taubat, hendaknya ia mengambil pelajaran tentang keadaan gelap terliput dunia sesuai dengan tuntunan Allah tentang kegelapan dunia. Bila ia membangun pemahaman sebagai manusia sempurna dalam keadaannya yang masih gelap, maka pemahaman yang terbangun berdasarkan hujan yang diturunkan itu akan keliru. Ia membangun pemahaman berdasarkan hawa nafsu. Seringkali seseorang terburu-buru membina pemahaman berdasarkan waham yang dibina bersama orang lain, sedangkan keadaannya berbeda dengan sahabatnya. Ia boleh meraba-raba arah kehidupan yang lebih terang tetapi hendaknya tidak menyematkan status kepada dirinya lebih dari keadaan diri yang sebenarnya. Kesalahan-kesalahan demikian dapat dihindari manakala seseorang tidak lepas dari langkah memohon ampunan dan bertaubat. Bila berbuat demikian, ia akan mengetahui langkah terdekat yang harus dilakukan untuk memperoleh keadaan yang lebih baik. Mengukur dengan baik keadaan diri dalam peta jalan itu hanya dapat dilakukan bila seseorang selalu memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah.

Tumbuhnya Akal

Dalam perjalanannya, setiap orang hendaknya menyadari kebutuhannya terhadap kitabullah Alquran. Kebutuhan itu akan menumbuhkan akal. Kebutuhan itu bisa muncul pada setiap keadaan, baik dalam keadaan masih terikat kepada dunia maupun ketika telah mengetahui keadaan langit dirinya. Berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan meraba-raba maknanya tidaklah berbahaya dan tidak menjadi suatu dosa bagi seseorang selama tetap memohon ampunan Allah dan bertaubat, walaupun kandungan yang sebenarnya dari kitabullah Alquran tidak tersentuh kecuali oleh hati yang disucikan. Upaya memahami demikian akan menyuburkan kebutuhan diri seseorang terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Hanya saja perlu dijaga agar ia tidak melepaskan diri dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah.

Yang berbahaya dari upaya memahami demikian adalah terlepasnya diri dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Bahaya ini tidak hanya berlaku bagi manusia yang masih melekat pada dunia. Setinggi apapun kedudukan yang dicapai manusia yang berusaha memahami, ia akan tertimpa bahaya manakala terlepas dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Mengikuti bacaan seseorang yang mengetahui akan memudahkan seseorang memahami kitabullah, tetapi bisa berbahaya manakala orang yang mengikuti atau diikuti melepaskan diri dari memohon ampunan dan bertaubat. Karenanya, setiap orang harus tetap memohon ampunan bagi dirinya sendiri dan bertaubat, memeriksa setiap potensi kesalahan yang mungkin terjadi baik karena dirinya ataupun yang datang dari orang lain.

Hal yang sedikit berbeda berlaku terhadap petunjuk yang diturunkan langit karena tazkiyatun-nafs. Petunjuk demikian tidak boleh dicari-cari sendiri maknanya manakala seseorang masih dalam keadaan terikat pada aspek duniawi. Mereka harus mencari maknanya melalui syaikh yang membimbing mereka. Akan tetapi seseorang boleh menggunakan petunjuk itu untuk mengungkap tuntunan kitabullah Alquran, tanpa mencari makna petunjuknya berdasarkan Alquran. Kebutuhan dirinya terhadap kitabullah Alquran boleh dipenuhi dengan berlandaskan petunjuk yang diturunkan, akan tetapi makna petunjuk itu tidak boleh dicari-cari sendiri sekalipun melalui Alquran. Hendaknya ia tidak memperalat kitabullah Alquran untuk mencari pembenaran petunjuk, karena petunjuk yang paling utama adalah kitabullah Alquran, tidak sebaliknya.

Walaupun demikian, akal setiap orang harus berkembang untuk dapat memahami makna dari hujan deras yang diturunkan langit atas perintah Allah. Manusia tidak boleh mensia-siakan akalnya. Manakala suatu proses tazkiyatun nafs tidak menjadikan seseorang berproses untuk bisa memahami pengetahuan yang diturunkan langit atas perintah Allah, ada yang keliru dalam proses tazkiyatun nafsnya. Fundamen tazkiyatun nafs berupa kesadaran dalam memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah perlu ditingkatkan lagi. Demikian pula kebutuhan akan tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW perlu ditingkatkan. Manakala seseorang tidak berani menggunakan akalnya untuk berusaha memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena takut salah, maka ia sebenarnya tidak membangun kesadaran untuk memohon ampunan Allah dan bertaubat. Hal itu menjadi pangkal masalah dan mereka sebenarnya tidak mengetahui makna memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah.

Kurangnya kesadaran dalam memohon ampunan Allah dan bertaubat sebagai fundamen dapat menyebabkan banyak masalah pada setiap lapisan manusia. Seseorang bisa menjadi berpikiran menyimpang dari pemikiran manusia dan menyimpang dari tuntunan Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala penyimpangan mereka tidak terlihat secara jelas, mempunyai bentuk lahiriah yang sama hanya tidak menyentuh makna yang dikehendaki Allah sesuai firmannya, kemudian hal itu menjadi hijab mereka terhadap kebenaran. Tidak sedikit orang-orang demikian menjadi orang-orang yang bodoh tidak mampu menggunakan akal. Mereka mungkin menyangka bahwa mereka orang yang paling memahami sedangkan Allah tidak menghendaki pemahaman demikian. Manakala suatu kebenaran dibacakan, mereka tidak mengenali kebenaran itu. Hal itu menunjukkan kurangnya kesadaran memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Akal yang memahami kitabullah menjadi dasar bagi seseorang memahami hujan deras dari langit. Pemahaman terhadap hujan deras pengetahuan yang diturunkan dari langit akan dipahami seseorang manakala ia dapat menyentuh kandungan ayat-ayat Allah sebagai orang yang disucikan dengan akal yang cukup kekuatannya. Para syaikh mempunyai ilmu untuk menjelaskan makna hujan deras bagi semua murid-muridnya, tetapi bagi kebanyakan orang pemahaman itu berlaku secara personal atau berlaku terbatas pada kalangan tertentu, tidak untuk menerangkan tentang hujan yang diturunkan kepada orang lain secara umum. Seorang isteri merupakan bagian dari suaminya sehingga kebanyakan hujan deras yang diturunkan kepada isteri seringkali merupakan petunjuk bagi suaminya pula sehingga suaminya dapat memahami makna petunjuk itu. Sekiranya pasangan itu berjalan seiring, mereka dapat membicarakan bersama-sama. Barangkali tidak semua petunjuk merupakan petunjuk bersama, maka suatu petunjuk tertentu mungkin perlu disimpan sendiri, tetapi perlu disadari bahwa hujan deras yang diturunkan langit itu harus digunakan untuk memakmurkan bumi dengan tumbuhnya tanaman di bumi, tidak hanya untuk disimpan secara sia-sia. Tumbuhnya tanaman itu adalah pertumbuhan nafs yang seringkali berproses secara berpasangan.

Perempuan Shalihah

Pemakmuran bumi akan terwujud melalui orang-orang yang mempunyai kesadaran memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Mereka akan diberi perhiasan dalam kehidupan dunia yang mempunyai ajal tertentu ini. Terwujudnya perhiasan duniawi ini sebenarnya terkait pula dengan fadhilah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, dan tidak semua orang yang memohon ampunan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh memperoleh perhiasan duniawi demikian. Ada amr-amr Allah terkait dengan kehidupan duniawi yang harus diperhatikan oleh orang yang bertaubat agar hasil-hasil duniawi menjadi nyata.

Terwujudnya perhiasan demikian akan mengikuti perhiasan yang terbaik berupa wanita shalihah. Perempuan shalihah merupakan perhiasan yang terbaik bagi dunia khususnya bagi suaminya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a, ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
لدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Kedudukan perhiasan demikian tidak menunjukkan kedudukan rendah sebagaimana harta benda dunia, tetapi menekankan perkara pentingnya manusia menunjukkan kebenaran dari sisi Allah bagi makhluk hingga dalam wujud duniawi. Kasih sayang Allah harus ditunjukkan hingga tingkatan duniawi, tidak hanya dalam tataran langit. Bagaimanapun manusia adalah makhluk bumi yang membutuhkan performa-performa duniawi, tidak hanya hubungan secara vertikal. Kualitas akhlak mulia yang terbina dalam diri manusia akan dapat ditampilkan ke wujud duniawi sebagai perhiasan manakala seseorang bersanding dengan perempuan shalihah.

Kedudukan perempuan sebagai perhiasan terbaik sebenarnya termasuk dalam induk dari perhiasan-perhiasan. Bahwa perhiasan-perhiasan akan terwujud mengikuti perempuan shalihah. Dalam istilah lainnya, perempuan dikatakan sebagai tiang negara. Pembangunan suatu bangsa tidak dapat dilakukan hanya dengan membina kaum laki-laki, karena potensi mereka akan terpendam tanpa kaum perempuan yang terbina dengan benar. Hal ini terkait dengan fungsi mereka dalam kelahiran potensi-potensi umat manusia ke alam dunia. Kelahiran seorang bayi merupakan gambaran paling mewakili dari fungsi perempuan, tetapi sebenarnya fungsi demikian tidak terbatas pada kelahiran seorang bayi. Seluruh potensi yang tersimpan pada manusia dapat dilahirkan oleh kaum perempuan, baik potensi pada diri suami ataupun anak-anak mereka. Manakala para perempuan tidak dibina dengan sebaik-baiknya untuk dapat melahirkan potensi yang ada pada kaum laki-laki, maka suatu bangsa akan runtuh.

Di dunia, tidak semua hal yang baik dapat diterima oleh umat manusia. Sangat banyak nabi dan rasul yang didustakan oleh umat mereka. Tentu para rasul itu menyeru pada kebaikan, tidak menyeru pada keburukan, tetapi seruan itu tidak diterima oleh umat mereka. Demikian pula kebaikan-kebaikan yang dikenal oleh para hamba Allah tidak jarang tidak dapat terlahirkan ke alam dunia karena keadaan umat. Untuk memudahkan kelahiran kebaikan-kebaikan dalam diri seorang hamba Allah ke alam dunia, ada urusan-urusan yang harus diperhatikan. Yang paling utama diperhatikan adalah peran perempuan sebagai ibu bagi potensi-potensi yang seharusnya dilahirkan dari para laki-laki.

Terlahirnya perhiasan dunia bagi hamba-hamba yang memohon ampunan Allah dan bertaubat akan terwujud bersama dengan terlahirnya potensi mereka ke alam dunia setelah mereka menyerap hujan deras dari langit yang diturunkan atas perintah Allah. Perhiasan dunia demikian ini merupakan perhiasan yang hasan, bukan perhiasan dunia yang bersifat merongrong ketenteraman hati manusia. Mereka memperoleh perhiasan dunia karena memberikan pula manfaat yang besar kepada masyarakat, maka masyarakat akan menghormati perhiasan-perhiasan dunia yang mereka peroleh, tidak membenci perhiasan dunia yang demikian. Manusia dapat mengusahakan perhiasan dunia dengan bermacam cara, tetapi bila cara yang digunakan tidak benar, perhiasan dunia demikian tidak bersifat hasan. Mungkin ada orang lain merasa dirugikan atau iri hati hingga berbuat tidak baik kepada pemilik perhiasan, dan perhiasan itu mungkin tidak memberi manfaat bagi orang lain. Selain baik di mata manusia, perhiasan yang hasan adalah perhiasan yang baik dalam pandangan Allah. Perhiasan yang tidak baik di mata Allah bukanlah perhiasan yang hasan, sekalipun mungkin dipandang baik oleh manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar