Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.
Setiap rasul akan menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadahnya. Setiap jin dan manusia diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah, maka para rasul akan menyeru umatnya untuk beribadah semata-mata kepada Allah. Ibadah adalah penghambaan, yaitu melaksanakan amal-amal untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh tuan. Seruan para rasul untuk beribadah kepada Allah adalah agar manusia ikut melaksanakan amal-amal untuk mencapai tujuan yang dikehendaki Allah. Sebenarnya Allah tidaklah membutuhkan ibadah dari hamba-hamba-Nya, tetapi hamba-hamba Allah itulah yang sesungguhnya berkepentingan untuk memuliakan diri mereka bersama-sama dengan mengikuti kehendak Allah.
﴾۰۱۱﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al-Kahfi : 110)
Kemurnian ibadah seseorang tidak dapat ditunjukkan dengan pengakuan-pengakuan seseorang tentang ibadahnya. Kemurnian ibadah kepada Allah ditunjukkan dengan terlaksananya amanah Allah oleh seorang makhluk dengan cara dan tujuan sesuai dengan kehendak-Nya. Manakala suatu makhluk tidak mengenal amanat Allah yang ditetapkan bagi dirinya, ia tidak akan mengetahui ukuran kemurnian ibadahnya. Bila ia tidak menunaikan amanat yang dikenal, maka ia tidak beribadah kepada Allah. Manakala ia mengarah pada tujuan yang salah dalam menunaikan amanahnya, maka barangkali ia telah tertipu oleh syaitan. Manakala seseorang mengenal kehendak Allah atas dirinya dan ia melaksanakan amanahnya untuk tercapainya kehendak Allah tersebut, maka ia telah beribadah kepada Allah dengan benar. Manakala ia berkeinginan hanya menunaikan amanah Allah tanpa suatu keinginan terhadap lainnya, maka ia memurnikan ibadahnya kepada Allah.
Kemurnian ibadah kepada Allah tidak hanya berupa pelaksanaan ibadah mahdlah. Ibadah kepada Allah harus dilaksanakan hingga terwujud amal-amal duniawi sebagai pelaksanaan amanah Allah. Perintah melaksanakan ibadah secara ikhlas tidak menjadikan seorang yang melakukan pengabdian kepada masyarakat, orang yang menjadi abdi dalem seorang raja atau panutan mereka, orang yang mengikuti walinya untuk menemukan jalan kembali kepada Allah dan orang-orang lainnya sebagai orang-orang yang mensekutukan Allah. Contoh orang-orang di atas setara dengan para malaikat yang diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam di surga dahulu. Itu bukan perintah syirik, tetapi perintah agar makhluk menemukan jalan ibadah dalam amaliah di alam mereka. Kemurnian ibadah hendaknya ditemukan manusia hingga dalam wujud amaliah di alam duniawi mereka, tidak hanya ibadah dalam pelaksanaan ibadah mahdlahnya, karena pada dasarnya Allah tidak membutuhkan ibadah dari manusia atau makhluk-Nya sedikitpun.
Kemurnian ibadah berupa amaliah duniawi itu hendaknya dilakukan manusia dengan sungguh-sungguh berpegang pada tuntunan Allah. Sangat banyak hal yang dapat menyesatkan seseorang dari kemuliaan Allah baik di alam rendah ataupun di alam yang tinggi. Sekalipun para wali merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah, tetapi manusia tidak boleh mengambil wali-wali selain Allah agar tidak menyimpang menuju kehinaan. Hal ini menunjukkan larangan untuk menjadikan seseorang sebagai wali tanpa berpegang pada tuntunan Allah karena bisa menyimpangkan manusia menuju kehinaan, tetapi hendaknya menjadikan mukmin lain sebagai wali baginya berdasarkan tuntunan Allah. Hal itu harus dilakukan hingga jelas bahwa langkahnya akan menuju kemuliaan yang datang dari Allah. Manakala seseorang menjadikan mukmin lain sebagai wali tanpa berpegang pada tuntunan Allah maka ia akan tersesat.
Ilmu Melalui Tazkiyatun-nafs
Pemurnian seseorang dalam beribadah kepada Allah mempunyai tanda-tanda yang menyertai langkahnya. Seseorang yang berusaha memurnikan ibadah kepada Allah di antaranya akan mengetahui langkah-langkah kehidupan duniawi dirinya berdasarkan ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Pengetahuan seseorang tentang jalan kehidupan duniawi dirinya termasuk sebagai tanda keikhlasan. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Orang-orang yang memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya dan menempuh jalan kembali kepada Allah akan memperoleh perhiasan duniawi dan memperoleh keutamaan.
﴾۰۱﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
﴾۱۱﴿يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
﴾۲۱﴿وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
(10)maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- (11)niscaya Dia akan mengutus langit kepadamu dengan hujan lebat,(12) dan membanyakkan bagimu harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)
Langkah pemurnian ibadah harus dilakukan dengan melakukan permohonan ampunan kepada Allah dan menempuh jalan taubat kepada Allah. Hal ini lazimnya dikenal sebagai langkah tazkiyatun-nafs. Sebenarnya langkah tazkiyatun-nafs tidak terbatas pada prosesi-prosesi yang dibimbing sang syaikh. Tazkiyatun nafs sebenarnya juga menghadirkan perbuatan-perbuatan Allah atas seorang hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs. Allah akan mendatangkan hujan pengetahuan yang sangat banyak kepada hamba-Nya yang ingin memperoleh keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Demikian pula Allah akan memberikan perhiasan-perhiasan duniawi kepada hamba-hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs dengan benar. Amal-amal Allah itu akan terwadahi oleh orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan Allah dan beramal mengikuti petunjuk Allah secara lahir dan bathin.
Allah akan mengutus langit untuk membawakan air pengetahuan yang banyak bagi orang yang beristighfar dan bertaubat. Permohonan ampunan dari seorang hamba akan menggugurkan dosa-dosa yang menempel pada nafs mereka, maka nafs mereka akan menjadi jernih karena gugurnya dosa-dosa itu. Bila disertai dengan keinginan untuk kembali kepada Allah, nafs itu akan melihat jalan yang ditunjukkan baginya. Kedua amal itu harus dilakukan secara simultan, maka Allah akan mendatangkan bagi orang yang mengamalkannya pengetahuan-pengetahuan yang akan mendatangkan kesegaran bagi nafs melalui langit mereka. Suatu langkah taubat tidak akan terlaksana tanpa melakukan permohonan ampunan atas dosa-dosa, dan permohonan ampunan saja hanya akan menjadikan nafs suci tetapi tidak melangkah mendekat kepada Allah. Kedua amal itu harus dikerjakan secara simultan agar mendatangkan pengetahuan dari langit.
Salah satu sasaran dari tazkiyatun-nafs adalah penataan hawa nafsu untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar. Penataan ini seringkali tidak menghilangkan karakter seseorang untuk berubah sama sekali menuju sifat yang baru, tetapi hanya menatanya hingga seseorang mengetahui jalannya untuk mengabdi kepada Allah. Penataan ini tidak boleh bertujuan memaksa seseorang menjadi orang lain. Sekalipun tidak mengubah, penataan semacam ini membutuhkan hilangnya sifat-sifat buruk dan sifat syaitaniah dari diri seseorang. Hilangnya sifat buruk dan sifat syaitan ini bersifat lebih fundamental yang akan mengawali penataan hawa nafsu. Manakala sifat syaitan atau ilmu-ilmu syaitan melekat pada diri seseorang, ia tidak akan dapat mengetahui tatanan diri untuk beribadah kepada Allah dengan benar hingga sifat atau ilmu itu ditanggalkan. Kadangkala Allah mengijinkan atau membiarkan seseorang untuk menjadi dekat walaupun membawa sifat buruk, akan tetapi ada suatu tipuan Allah yang sedang terjadi.
Sifat kasih sayang Allah hendaknya menjadi landasan dari semua pembinaan karakter dan akhlak seseorang. Manakala sifat kasih sayang itu telah menjadi keinginan utama bagi seseorang, penataan sifat-sifat yang mengikutinya akan menjadi lebih terlihat arahnya dan dapat diarahkan untuk mengenal ayat-ayat Allah yang terbentang di sekitarnya. Adanya suatu perilaku buruk seseorang setelah landasan kasih sayang itu terbentuk seringkali hanya merupakan reaksi terhadap informasi yang diterima. Manakala informasi atau masukan yang diterima keliru atau buruk, mungkin orang itu akan berperilaku buruk sesuai dengan apa yang sampai kepadanya. Bila menjumpai informasi atau masukan yang baik, ia akan berusaha mensikapinya dengan baik. Dalam segala keadaan, setidaknya akan dijumpai padanya keinginan untuk mengarah menuju keadaan yang baik.
Akal harus digunakan sebaik-baiknya oleh setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs agar pengetahuan-pengetahuan itu mempunyai wadah yang tepat. Setiap orang harus bersikap jujur terhadap diri sendiri tentang segala sesuatu yang didatangkan Allah kepada dirinya. Dalam banyak hal, sesuatu yang didatangkan Allah bersifat menguji agar angan-angan dan hawa nafsu yang ada pada hamba menjadi bersih, bukan pengetahuan yang benar. Ketika nafs seseorang bersih, ia akan melihat perbedaan antara pengetahuan yang didatangkan terhadap pembersihan hawa nafsu. Landasan dari pengenalan terhadap pengetahuan itu adalah keinginan untuk mengenal Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan membina sifat yang sama dalam diri. Manakala masih banyak keinginan terhadap hal lain, akan banyak hal yang bersifat pembersihan yang didatangkan Allah.
Kekuatan akal seseorang tergantung besarnya keinginan untuk menjadi hamba yang bersifat pengasih dan penyayang. Akal seseorang tidak akan benar sepenuhnya hingga keinginan bersifat pengasih dan penyayang menjadi keinginan yang paling utama. Permohonan ampunan seorang hamba akan menyusun struktur keinginan dalam dirinya sehingga seseorang dapat menginginkan sifat itu bagi dirinya. Manakala telah menginginkan sifat itu, mungkin seorang hamba masih mempunyai beberapa keinginan lain, tetapi selama tidak menggantikan keinginan bersifat pengasih dan penyayang sebagai kedudukan utama, maka akal masih akan memperoleh pijakan hingga keinginan yang lain dapat dikendalikan. Manakala keinginan menjadi pengasih dan penyayang itu telah menetap, seseorang akan memperoleh akal yang cukup mampu memahami hujan pengetahuan yang diturunkan Allah bagi dirinya melalui proses tazkiyatun-nafs.
Akal dalam diri seseorang akan menampakkan jalan taubat yang harus ditempuh. Allah menurunkan pengetahuan yang banyak bagi orang yang beristighfar dan bertaubat. Pada awalnya jalan taubat itu mungkin akan tampak samar-samar akan tetapi menarik perhatian. Satu realitas dengan realitas lain akan disadari tampak saling berhubungan hingga hubungan-hubungan itu semakin nyata. Kadangkala kesadaran seseorang terhadap suatu realitas bertentangan dengan pandangan orang pada umumnya, tetapi ia akan melihat alasan tertentu yang membuatnya tidak dapat mengabaikan kesadarannya tersebut. Bahkan ia akan melihat dalil-dalil yang membenarkan kesadarannya tersebut, baik dari khazanah nenek moyang, data-data fenomena yang terjadi ataupun puncaknya dari sunnah Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran. Sekalipun berbeda, pengetahuan itu tidak akan menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengetahuan ini berupa pengetahuan yang tidak terkungkung oleh perkataan orang lain.
Dalam
bentuk lain, pengetahuan kadangkala terwujud dalam bentuk
petunjuk-petunjuk yang akan mengubah cara berpikirnya tentang sesuatu
di sekitarnya. Petunjuk ini belum merupakan suatu perintah, tetapi
petunjuk yang seharusnya mengubah cara memandang kauniyah mereka agar
dapat menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah. Tanpa
mengubah cara pandangnya, akal mereka akan terhijab oleh fenomena
atau perkataan orang lain. Apabila digunakan untuk membuka kandungan kitabullah, petunjuk demikian dapat mendatangkan pengetahuan dari sisi Allah.
Setiap orang hendaknya berusaha membina kesadaran berdasar pengetahuan atau petunjuk-petunjuk itu sesuai tuntunan Allah. Sebenarnya petunjuk-petunjuk dan pengetahuan-pengetahuan itu merupakan hujan deras yang diturunkan Allah bagi diri mereka yang harus disikapi dengan tepat. Ini berlaku bila seseorang telah memperoleh keadaan nafs yang bersih dari angan-angan dan hawa nafsu. Ia boleh tidak mengharapkan atau menyingkirkan pengetahuannya atau petunjuk-petunjuk manakala belum terkait tuntunan Allah, tetapi ia akan kesulitan menghilangkan kesadaran itu. Lebih penting bagi setiap orang untuk memohon ampunan dan bertaubat, karena mungkin ia tidak mengetahui kejahatan hawa nafsu yang masih bersarang dalam dirinya. Manakala Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah berbicara tentang pengetahuan itu, hendaknya ia memperhatikan penjelasan tuntunan Allah tersebut, tidak menyingkirkannya. Jalan taubatnya akan ditemukan setelah itu dengan suatu keterbukaan terhadap jati diri penciptaan dirinya.
Tetap Memohon Ampunan
Permohonan ampun harus selalu dilakukan sekalipun seseorang telah melihat dengan jelas jalan taubatnya kepada Allah. Munculnya hujan pengetahuan dari langit seringkali sulit diukur sendiri kebenarannya. Seseorang mungkin tidak mengetahui apakah pengetahuan yang diturunkan kepadanya merupakan kebenaran atau wujud rekapikirnya sendiri yang menguat. Bahkan ketika menemukan referensi dasarnya, mungkin saja referensi itu tmerupakan kepintaran hawa nafsu mencari landasan bagi rekapikirnya. Setiap orang perlu tetap memohon ampunan Allah dari semua kesalahan yang mungkin terjadi pada setiap langkah taubatnya.
Bila seseorang meninggalkan amal memohon ampunan Allah ketika menempuh jalan taubat, ia akan menghadapi hal yang sangat berbahaya. Banyak bentuk bahaya dapat terjadi. Misalnya suatu kepintaran bisa berasal dari Allah atau bisa pula seseorang diajari syaitan. Manakala suatu kepandaian dari syaitan, kepintaran itu akan menyesatkannya dan menyesatkan umat. Manakala seseorang tetap memohon ampunan Allah dengan hatinya, sekalipun menerima bisikan dari syaitan, seseorang bisa mengetahui kebenaran dibalik bisikan itu karena Allah memerintahkan langit untuk menurunkan pengetahuan kebenarannya. Contoh lainnya, bisa jadi seseorang mengenal kebenaran secara parsial atau tidak memahami kebenaran dalam penghayatan sesuai firman Allah, maka pemahaman itu menjadi suatu taghut yang akan menyesatkan manakala seseorang meninggalkan amal memohon ampunan. Contoh berbahaya dapat dilihat manakala seseorang telah memandang dirinya sebagai sumber kebenaran, maka ia akan berhenti memohon ampunan dan akan tersesat. Sangat banyak bahaya yang dapat terjadi atas diri seseorang dalam jalan taubatnya kepada Allah.
Seseorang tidak perlu menginginkan dirinya menjadi cermin sempurna keberadaan Allah di muka bumi, karena keinginan itu akan mencelakakan. Bila berkehendak, Allah-lah yang akan menjadikannya demikian, sedangkan seseorang harus tetap menjadi orang yang memohon ampunan atas dirinya sendiri. Demikian pula masyarakat tidak perlu terlalu berharap seseorang sebagai cermin sempurna yang menampakkan wajah Allah pada setiap hal tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tindakan demikian termasuk menjadikan selain Allah sebagai wali, dan hal itu tidak dibolehkan Allah. Dampak yang paling terlihat berbuat demikian adalah lemahnya akal untuk dapat melihat kebenaran. Mereka akan menjadi mainan bagi syaitan karena kebodohan terhadap ayat Allah. Cukuplah Rasulullah SAW yang menjadi cermin itu, sedangkan yang lain adalah para pengikut beliau SAW. Munculnya cahaya Allah melalui cermin pada seseorang harus dilihat dalam kacamata kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu yang akan menjadi pengubah akhlak mulia diri seseorang.
Menjadikan sesuatu selain Allah sebagai wali harus dilakukan untuk memperoleh kewalian Allah, dan itu hanya dapat dilakukan bila seseorang berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang berbuat demikian, ia akan menemukan walinya sebagai cermin bagi cahaya Allah dengan benar. Setiap orang harus berlepas diri dari perbuatan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa berbuat demikian, bukan tidak mungkin seseorang akan mengikuti para walinya sekalipun mereka mengetahui bahwa mereka akan binasa. Ada orang-orang yang menjadikan walinya sebagai tuhan selain Allah, dan manakala telah mengetahui akan binasa bila mengikuti dalam urusan tertentu, ia tetap mengikuti pada urusan itu. Kadangkala sikap seseorang menjadikan selain Allah menjadi wali dengan cara demikian menyeret orang lain untuk mengalami keadaan buruk. Hal demikian sangat mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui, tidak mengetahui cara memberitahu kebenaran kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar