Pencarian

Selasa, 11 Juni 2024

Meraih Perhiasan Dunia yang Hasan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Ibadah akan mendatangkan kepada seseorang pengetahuan baik untuk kehidupan akhirat maupun duniawi yang ditentukan Allah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Bentuk kehidupan denikian merupakan merupakan jalan ibadah manusia di alam dunia dalam bentuk amaliah ragawi, dan kehidupan duniawi berdasarkan pengetahuan demikian akan menjadi perhiasan seseorang dalam kehidupan duniawinya.

Terwujudnya perhiasan demikian akan mengikuti perhiasan yang terbaik berupa wanita shalihah. Perempuan shalihah merupakan perhiasan yang terbaik bagi dunia khususnya bagi suaminya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a, ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Kedudukan perempuan shalihan sebagai sebaik-baik perhiasan dunia menunjukkan kedudukan pentingnya manusia menampilkan kebenaran dari sisi Allah hingga tingkatan duniawi. Pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan sebenarnya merupakan penyatuan kembali nafs wahidah yang terbagi-bagi dalam kehidupan dunia. Wujud masing-masing insan merupakan pembagian yang berasal dari satu nafs wahidah, yang mempunyai fungsi berbeda tetapi sinergis. Laki-laki merupakan bagian insan yang mempunyai akal lebih kuat untuk memahami kehendak Allah, sedangkan perempuan merupakan bagian insan yang membawa khazanah duniawi. Manakala seorang perempuan shalihah membawakan khazanah dalam dirinya kepada suaminya, dan suaminya mempunyai akal yang cukup kuat untuk memahami kehendak Allah, akan terbentuk bagi keduanya kehidupan yang bertabur perhiasan duniawi yang bersifat hasan.

Seorang laki-laki barangkali bisa mengusahakan perhiasan-perhiasan duniawi dengan caranya sendiri, akan tetapi tidak dalam bentuk perhiasan yang hasan. Perhiasan yang hasan hanya diupayakan oleh orang-orang shalih. Manakala seseorang tidak mempunyai keshalihan maka ia tidak mengusahakan perhiasan yang hasan. Seorang shalih hanya akan mengusahakan perhiasan dunia manakala ia mempunyai isteri dari kalangan wanita yang shalihah. Manakala isterinya tidak shalihah, ia hanya akan mengutamakan agar isterinya menjadi shalihah karena isterinya merupakan perhiasan yang terbaik. Tidak ada manfaatnya bagi seorang laki-laki yang shalih untuk bertabur perhiasan dunia tanpa isteri shlalihah karena boleh jadi perhiasan dunia itu akan mendatangkan celaka bagi mereka atau bahkan umat mereka. Karakter dunia mereka akan cenderung mengikuti karakter isterinya, maka manakala isterinya tidak shalihah banyaknya perhiasan dunia itu akan mendatangkan keburukan. Manakala tanpa isteri shalihah, telah cukup bagi para laki-laki shalih pandangan mata mereka dalam ibadah kepada Allah. Manakala isteri shalihah, maka mereka akan mempunyai keinginan mengusahakan perhiasan-perhiasan yang merupakan wujud dari kebaikan di sisi Allah.

Hal ini tidak menjadikan peran perempuan terhadap nilai ibadah remeh. Bagaimanapun nilai ibadah seseorang ditentukan pula oleh kualitas bayt yang terbentuk dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dalam bayt tersebut. Kualitas terbaik ibadah seseorang dalam ibadah kepada Allah akan diperoleh manakala Allah memberikan ijin bagi mereka untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di dalam bayt mereka. Semakin dekat bentuk bayt seseorang dengan ijin Allah, maka semakin baik kualitas ibadah yang dapat mereka lakukan. Bayt demikian terbentuk hanya apabila seorang laki-laki mengenal urusan Allah bagi dirinya, dan isterinya mengikuti dengan penuh ketenangan memahami apa yang mereka kerjakan, tidak menganggap suaminya orang yang sia-sia. Perhiasan terbaik yang terwujud dari seorang perempuan shalihah adalah terwujudnya kebaikan-kebaikan dari sisi Allah di alam dunia, bukan perhiasan yang semata muncul dari usaha duniawi.

Keshalihan para perempuan akan berpengaruh sangat besar dalam mewujudkan pemakmuran di bumi sebagai perhiasan duniawi yang hasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, karena bentuk pemakmuran demikian tidak akan dapat diwujudkan oleh kaum laki-laki. Kaum laki-laki mungkin saja dapat memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat dari sisi Allah, tetapi ilmu itu akan berhenti pada laki-laki itu bila tidak disertai oleh istri yang shalihah. Kaum beberapa nabi memperoleh adzab karena isteri mereka yang durhaka, sebagaimana kaum nabi Nuh a.s dan kaum nabi Luth a.s. Ilmu dari sisi Allah yang turun justru mendatangkan adzab bagi umat karena sifat isteri mereka.

Pemakmuran Bumi Sebagai Usaha Bersama

Terwujudnya pemakmuran di bumi merupakan peran perempuan, tetapi proses pemakmuran itu sendiri membutuhkan peran semua pihak. Sebenarnya proses pemakmuran merupakan penyambungan hubungan silsilah mata rantai dari alam bumi hingga di sisi Allah, dan pelaku utama dari proses pemakmuran itu adalah manusia. Setiap manusia menempati mata rantai tertentu dalam hubungan silsilah itu, sebagaimana setiap pasangan laki-laki dan perempuan membentuk hubungan silsilah secara khusus. Silsilah di antara para laki-laki lebih bersifat longgar daripada hubungan silsilah antara suami dan isteri. Manakala satu mata rantai terputus, maka jalur silsilah di antara kaum laki-laki dapat tersambung melalui mata rantai yang lain, tetapi di antara suami dan isteri silsilah yang terputus itu tidak dapat digantikan. Manakala seorang perempuan menyambungkan silsilahnya kepada selain suaminya, ia telah berbuat keji terhadap hubungan silsilahnya.

Untuk dapat menempatkan diri dalam suatu silsilah pemakmuran, setiap orang harus menempuh langkah memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Dengan langkah itu, Allah akan mengutus alam langit untuk menurunkan hujan yang deras kepada manusia, dan dengan hujan itu maka harta benda akan menjadi berlimpah dan terlahir karya-karya yang banyak sebagai anak-anak yang terlahir dari manusia. Allah akan menjadikan bagi manusia kebun-kebun dan sungai-sungai bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan.

﴾۰۱﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
﴾۱۱﴿يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
﴾۲۱﴿وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
(10)maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- (11)niscaya Dia akan mengutus langit kepadamu dengan hujan lebat,(12) dan membanyakkan bagimu harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)

Ayat terakhir di atas menceritakan tentang kemakmuran yang timbul di muka bumi berupa melimpahnya harta benda dan karya-karya sebagai anak-anak yang lahir dari manusia, hadirnya kebun-kebun yang memberikan buah bagi manusia serta terwujudnya sungai-sungai bagi manusia. Pemakmuran itu terjadi karena terhubungnya alam langit dan bumi melalui hujan deras karena perintah Allah. Secara tersirat, sebenarnya ayat tersebut juga menceritakan terhubungnya antara aspek laki-laki dan perempuan sebagai kelanjutan dari turunnya hujan yang deras. Bahwa proses pemakmuran di bumi merupakan hasil dari terhubungnya urusan dari sisi Allah hingga mencapai alam bumi. Landasan dari proses penghubungan silsilah itu adalah permohonan seseorang terhadap ampunan kepada Allah.

Istighfar merupakan wujud amal yang terlahir dari kesadaran seseorang tentang keadaan dirinya di hadapan Allah. Manakala seseorang tidak mempunyai kesadaran tentang keadaan dirinya, istighfar yang diucapkan mungkin bukan istighfar yang sebenarnya. Demikian pula manakala seseorang mempunyai kesadaran yang salah, ia tidak mengucapkan istighfar dengan tepat. Istighfar yang tepat akan terwujud dari orang-orang yang mengetahui keadaan dirinya di hadapan Allah dengan tepat, tidak membuat-buat anggapan berdosa dan tidak mengabaikan kesalahan dan dosa yang terjadi. Kebanyakan manusia mengabaikan kesalahan dan dosa yang terjadi hingga tidak mengetahui nilai istighfar yang diucapkannya.

Ketepatan istighfar ini akan mempengaruhi hujan yang diturunkan oleh langit. Yang menurunkan hujan itu adalah langit yang terhubung secara dekat kepada seseorang, atas perintah Allah. Bila disadari, hal ini akan berguna agar seseorang tidak merasa memperoleh ilmu dari Allah, sedangkan sebenarnya itu baru merupakan ilmu dari hubungan yang terbentuk terhadap langit dirinya. Timbangan hujan itu mungkin akan dipengaruhi oleh keadaan orang yang memohon ampunan. Manakala seseorang beristighfar dengan penuh angan-angan dan waham, hujan itu mungkin akan menurunkan hujan angan-angan dan waham mereka sendiri sebagaimana hujan asam, dan kemudian menyuburkan pula angan-angan dan waham mereka. Bila seseorang beristighfar dengan penuh keikhlasan dan kesadaran tentang diri mereka, maka langit mungkin akan menurunkan hujan deras yang bersih yang sesuai untuk keadaan diri mereka. Istighfar yang dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui keadaan diri mereka dengan tepat itulah yang akan menurunkan hujan yang terbaik dari langit.

Ketepatan istighfar seseorang akan diperoleh apabila ia membaca tuntunan kitabullah Alquran untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Seseorang harus berusaha melihat dengan tepat keadaan dirinya dalam mengikuti langkah taubat Rasulullah SAW agar dapat memohon ampunan, dan hal itu harus dilakukan dengan membaca kitabullah Alquran. Sebaliknya kitabullah akan sulit dibaca manakala seseorang tidak berkeinginan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Ketika membaca kitabullah Alquran, hendaknya seseorang mengukur dirinya. Mungkin ia tidak mengetahui artinya, atau ia mengetahui berdasar lafadznya dan ia belum memenuhi tuntunan tersebut atau justru keadaan dirinya bertentangan, atau ia mengetahui lafadznya, telah berusaha mengikuti dan berharap mengetahui jalan yang lebih lanjut, dan sikap-sikap lain yang menunjukkan kesungguhan dalam membaca kitabullah Alquran. Kesungguhan itu harus dilakukan sesuai dengan keadaan dirinya, tidak perlu memaksakan untuk mengetahui, dan tidak boleh mengabaikan apa yang dapat diketahui dari tuntunan Alquran.

Hal-hal demikian bila dilakukan dengan jujur akan menjadikan seseorang mengetahui keadaan dirinya dan dosa-dosanya, maka ia dapat memohon ampunan dengan tepat. Kebanyakan manusia hanya mau menempatkan dirinya pada sisi-sisi yang baik dari penjelasan kitabullah, dan tidak mau mengakui kemungkinan adanya cela dan kekurangan dalam dirinya manakala ditunjukkan, maka ia tidak mengetahui keadaan dirinya dengan tepat. Bila seseorang salah mengukur keadaan dirinya, pertumbuhan dirinya akan menyimpang. Mungkin saja seseorang berbuat melanggar tuntunan kitabullah dan kemudian Allah mengampuni. Bila ia mengakui kesalahannya maka ia dapat memohon ampunan Allah dan bila merasa telah berbuat kebenaran, ia tidak akan bisa memperbaiki dirinya mengikuti kitabullah Alquran. Hal itu menunjukkan bahwa ia telah sesat dalam perjalanannya. Sekalipun mungkin berkeinginan menghamba kepada Allah, ia tersesat. Bila seseorang tidak berkeinginan untuk kembali kepada Allah, ia tidak akan menjadi golongan orang tersesat karena tidak berkeinginan menempuh perjalanan yang benar.

Pembinaan Keluarga dan Tauhid

Umat islam hendaknya membina diri menjadi orang-orang yang memohon ampunan Allah, dan hendaknya sifat ini tidak pernah ditinggalkan. Manakala terbina sebagai orang-orang yang memohon ampunan Allah, Allah akan memerintahkan kepada langit untuk menurunkan hujan yang deras berupa pengetahuan dan Allah akan menyuburkan duniawi mereka hingga harta dan karya serta anak-anak mereka menjadi banyak. Banyaknya harta, karya dan anak-anak pada orang-orang demikian merupakan perhiasan yang hasan tidak bersifat mencelakakan tetapi akan membantu mewujudkan kemakmuran di dunia, berbeda dengan banyaknya perhiasan duniawi yang dikejar orang-orang yang berhasrat terhadap dunia. Kemakmuran demikian hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang membina tauhid dalam beribadah kepada Allah.

Tauhid yang benar pada dasarnya hanya disertai dengan sifat ini. Tauhid adalah upaya mewujudkan doa “bismillaahirrahmaanirrahim” dengan sebaik-baiknya pada setiap perbuatan yang dilakukan. Doa tersebut menunjukkan adanya suatu keinginan untuk menghadirkan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka hendaknya seseorang membina pengetahuan tentang segala sesuatu terkait Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Hal paling utama yang memperkenalkan seseorang terhadap Ar-Rahman adalah kitabullah Alquran dan pengetahuan itu harus disertai dengan amal-amal yang menunjukkan asma Ar-Rahim, maka ia akan membina ketauhidan yang kokoh kepada Allah. Tauhid bagi umat manusia tidak dapat dibina dengan baik mengikuti prinsip tauhid Azazel dahulu ketika masih tinggal di surga, di mana ketika Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam ia menolak perintah itu. Penolakan itu terjadi diantaranya karena prinsip tauhidnya.

Terwujudnya pemakmuran di bumi terjadi melalui jalan wewujudkan asma Ar-Rahman Ar-Rahim. Hujan pengetahuan yang diturunkan kepada seseorang hendaknya digunakan untuk memahami tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran, tidak langsung digunakan untuk beramal tanpa memperoleh akar tuntunan dari kitabullah Alquran. Petunjuk Alquran adalah petunjuk yang merupakan firman Allah, sedangkan petunjuk yang lain bisa berasal dari alam langit selain Allah, baik alam langit yang baik ataupun alam langit yang jahat. Manakala suatu amal tidak berakar dari suatu firman di sisi Allah, amal itu tidak dijamin kebenarannya dan bisa saja bersifat justru sangat merusak. Benarnya suatu petunjuk yang bersifat membangun harus diperhatikan berdasarkan tuntunan Alquran agar pelaksanaan petunjuk itu mendatangkan kemakmuran di bumi.

Proses pemakmuran untuk mewujudkan asma Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu akan terlaksana bila dilakukan secara berpasangan. Pengetahuan terhadap kehendak Allah sekalipun baik tetapi seringkali tidak bisa diterapkan tanpa disertai membina rasa kecintaan terhadap yang lain. Munculnya pengetahuan terhadap kehendak Allah dalam diri seorang hamba merupakan bentuk pengenalannya terhadap Ar-Rahman, sedangkan terbinanya sifat mencintai orang lain merupakan bentuk pengenalan terhadap Ar-Rahim. Pembinaan sifat rahmaniah dan rahimiah pada diri seseorang sebenarnya harus dilakukan pula secara berpasangan melalui pernikahan. Akal seorang laki-laki mungkin akan bisa tumbuh mencapai kekuatan yang baik, akan tetapi manakala tidak disertai sentuhan kecintaan perempuan terutama dari isterinya,  atau ibunya maka kekuatan akal itu akan tumpul untuk diterapkan di dunia. Sebaliknya cinta kasih yang terbina pada perempuan seringkali tidak dapat mencapai pemahaman terhadap kehendak Allah. Pernikahan yang baik akan memadukan kedua kekuatan untuk mewujudkan asma Ar-Rahman dan Ar-Rahim oleh pasangan itu.

Pembinaan pernikahan harus dilakukan hingga setiap pihak bisa tumbuh mengikuti pasangannya, dalam bentuk tumbuhnya cinta kasih pihak laki-laki dan tumbuhnya pengenalan urusan Allah pada pihak perempuan, bukan hanya mewadahi akal pada laki-laki dan cinta kasih pada perempuan dalam satu wadah. Cinta kasih yang dominan berada pada pihak perempuan hendaknya digunakan untuk menumbuhkan sifat cinta kasih suaminya, dan akal pada laki-laki hendaknya diikuti oleh isterinya. Itu merupakan basis pemakmuran bumi. Tidak tumbuhnya pengenalan terhadap urusan Allah pada seorang perempuan boleh jadi merupakan dosa suaminya atau kaumnya, demikian pula tidak tumbuhnya cinta kasih pada laki-laki terhadap yang lain boleh jadi merupakan dosa kaum perempuan atau kaumnya. Untuk pembinaan rumah tangga, setiap pihak harus tumbuh kuat pada jati dirinya.

Bila suatu kaum menjadikan pembinaan manusia melalui rumah tangga menjadi sulit atau justru merusak terbentuknya rumah tangga yang baik, maka bangsa mereka akan terancam runtuh karena perbuatan mereka. Bila suatu kaum tidak memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat, hal demikian tidak akan disadari dan dianggap bahwa ketimpangan seseorang itu merupakan kesalahan orang itu sendiri. Seseorang yang berusaha melaksanakan agamanya dengan memohon ampun dan bertaubat akan mengetahui bahwa pemakmuran dunia tidak akan terjadi tanpa manifestasi asma Ar-Rahman Ar-Rahim melalui diri mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar