Pencarian

Kamis, 27 Juni 2024

Ikhlas dan Pembinaan Peradaban

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Pemahaman yang menjadi landasan keikhlasan adalah pemahaman terhadap sesuatu berdasar hakikat dari sisi Allah, dan semua hakikat itu tercantum dalam kitabullah Alquran. Alquran merupakan puncak dari semua kebenaran yang digelar Allah pada semesta alam bagi seluruh makhluk-Nya. Seseorang dapat menemukan kebenaran-kebenaran parsial di alam semesta, tetapi seringkali tidak membentuk suatu pemahaman terhadap kehidupan dirinya secara terintegrasi. Suatu fenomena dipahami secara terpisah dengan fenomena lainnya, dan kadang-kadang pemahaman mereka salah. Manakala seseorang memahami hakikat dari suatu ayat dalam kitabullah Alquran yang diperuntukkan bagi dirinya, ia akan dapat memahami kehidupan dirinya, walaupun mungkin tidak memahami keseluruhan ayat Allah. Kebenaran-kebenaran parsial yang ditemukan akan membentuk pemahaman yang integral terhadap kehidupan dirinya.

Alquran merupakan puncak dari kebenaran yang dapat dipahami manusia, menghadirkan kebenaran berupa hakikat sebagai firman Allah. Sebagai puncak kebenaran, pengetahuan tentang hakikat dari suatu ayat Alquran harus menjadi tujuan pencarian kebenaran. Suatu ayat Allah tidak boleh diperdebatkan dengan pengetahuan temporer manusia. Pengetahuan demikian tidak akan menjadi bagian dari pengetahuan hakikat, kecuali telah tersusun bersama dengan pengetahuan yang lain hingga kompatibel dengan ayat Alquran. Sebaliknya, suatu ayat Alquran hendaknya tidak dipergunakan secara paksa untuk membenarkan pengetahuan temporer manusia. Hubungan pengetahuan itu bersifat subordinatif, bukan dalam derajat yang sama. Suatu hakikat sangat berguna dalam ibadah kepada Allah dan mencerdaskan manusia untuk memberikan manfaat kepada semesta mereka, sedangkan pengetahuan umum bernilai netral yang kadangkala mungkin bersifat menghancurkan kehidupan manusia.

Puncak kebenaran itu disusun berdasarkan kebenaran-kebenaran yang lain. Ketika seseorang mempunyai suatu waham yang salah, waham itu akan mengganggu terbentuknya integrasi kebenaran untuk memahami kitabullah Alquran. Pengenalan seseorang terhadap ayat kitabullah akan berproses secara bertahap, akan menyusun keping pengetahuan yang benar sebagai bagian konstruk pengetahuan diri, menyimpan apa yang belum dapat tersusun dalam konstruk pengetahuan, dan membuang pengetahuan yang bathil dan sia-sia. Setiap hal yang terjadi mempunyai makna, tetapi tidak semua pengetahuan seseorang merupakan pengetahuan yang benar yang bisa masuk dalam konstruk pengetahuan hakikat, tetapi harus diganti dengan pengetahuan yang benar. Manakala telah tersusun, ayat kitabullah Alquran akan menjadikan pengetahuan-pengetahuan yang benar menjadi bercahaya hingga seseorang mengenali fungsi dari pengetahuannya yang sebelumnya bersifat umum.

Sebagian kaum mencabut makna kebenaran menjadi hanya bentuk-bentuk dalil dari ayat dan sunnah, terlepas dari penyatuan pemahaman terhadap kebenaran ayat kauniyah. Kaum khawarij mencabut makna agama menjadi ritual-ritual yang pada dasarnya Allah tidak membutuhkan ritual yang mereka lakukan. Kadangkala mereka mengatakan bahwa diri mereka-lah, dan umat manusia, yang membutuhkan ibadah-ibadah syar’ie yang mereka lakukan, tetapi sikap itu tidak disertai dengan menjadikan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai puncak dari kebenaran yang harus dicapai, tetapi dijadikan sebagai kebenaran satu-satunya tanpa terintegrasi dengan ayat Allah yang digelar pada kauniyah mereka. Hal ini tidak mencerminkan kebutuhan kepada ibadah, tidak akan menjadikan manusia mampu beribadah secara ikhlas mengikuti tuntunan Allah. Keikhlasan yang mereka bangun hanyalah waham keikhlasan bersembah tanpa mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk memurnikan ibadah kepada Allah. Yang mereka perjuangkan sebenarnya hanyalah pemurnian syariat seperti bapak mereka Dzulkhuwaisirah, bukan keikhlasan beribadah kepada Allah. Mengikhlaskan ibadah kepada Allah harus dilakukan dengan melaksanakan amal bagi alam kauniyah sesuai tuntunan kitabullah berdasarkan pemahaman hakikatnya. Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa menjadikan ibadah-ibadah syar’ie yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai kebutuhan.

Manakala pencari kebenaran memperhatikan pembacaan ayat kitabullah dari orang yang mengenal hakikatnya, pembacaan itu akan sangat membantu untuk mengenali ayat kitabullah yang seharusnya menjadi amanah bagi dirinya. Yang membantu itu adalah pemahaman ayat kitabullah yang tersusun dalam dirinya, bukan bentuk mujarobat dari pembacaan orang lain. Bila ia tidak berusaha memahami ayat kitabullah, pembacaan tersebut akan sia-sia tidak memberikan manfaat kepada dirinya. Pemahaman yang terbentuk dari pembacaan ayat kitabullah terssebut merupakan akal seseorang dalam berpegang pada tuntunan Allah. Bukan perkataan orang itu yang menjadi benih dari akalnya, tetapi firman Allah dalam kitabullah, sedangkan pembacaan itu hanya merupakan cara seseorang menghidangkan ayat Allah. Manakala pendengar mengabaikan makna ayat itu, ia kehilangan bagian akalnya, dan manakala ia mendustakan maka ia telah mendustakan kitabullah. Allah akan memperhitungkan sikap-sikap manusia dalam memperhatikan tuntunan kitabullah.

Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah.

Membina Peradaban

Hakikat dari suatu ayat kitabullah akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Bahkan keping-keping kebenaran yang digelar Allah di alam semesta bagi makhluk akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Sebagian makhluk melakukan perkembangan kemanusiaan yang sangat besar dengan keping-keping kebenaran yang mereka susun sendiri, tetapi tidak sedikit manusia yang menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi karena keping-keping kebenaran yang mereka gunakan. Syaitan sangat ahli dalam menggunakan keping-keping kebenaran untuk berbuat kerusakan yang besar di muka bumi. Orang yang memberikan manfaat paling besar adalah orang-orang yang mengenal hakikat yang terkandung dalam suatu ayat kitabullah.

Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.

Seluruh bentuk petunjuk akan memberikan manfaat bagi umat manusia, yaitu apabila petunjuk tersebut benar dan manusia menyadari kedudukan petunjuknya. Bila suatu petunjuk tidak diuji kebenarannya, petunjuk itu dapat memecah belah umat manusia. Sekalipun suatu umat mempunyai arah perjalanan yang sama, tetapi petunjuk yang salah dapat menjadikan mereka berselisih satu dengan yang lain. Suatu petunjuk dapat menjadi hijab bagi manusia. Manakala manusia membanggakan petunjuk yang diperolehnya, ia akan terjebak pada parsialitas kaun, baik di alam bumi ataupun di alam langit. Tanpa menyadari kedudukan petunjuk yang diterima, seseorang dapat berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Suatu petunjuk dari tingkat tertentu tidak boleh digunakan untuk membantah bentuk petunjuk yang lebih tinggi. Petunjuk dari langit tidak boleh digunakan untuk membatalkan petunjuk dari Rasulullah SAW dan Alquran. Bila benar, petunjuk itu harus digunakan untuk diterapkan pada tingkatan bumi, dan digunakan untuk memahami petunjuk dari Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran. Petunjuk yang benar tidak boleh digunakan untuk membantah washilahnya atau menentang petunjuk dari Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran, karena keduanya merupakan bentuk petunjuk yang tertinggi. Penentangan itu terjadi karena petunjuk yang salah atau karena seseorang tidak mengetahui dan memahami kedudukan petunjuknya. 

Kemajuan yang bisa diperoleh manusia dari keping-keping kebenaran kadangkala menjadi suatu hijab bagi manusia untuk mengenal kebenaran dalam tingkatan hakikat. Bukti kemajuan yang diperoleh manusia dengan keping-keping kebenaran itu dijadikan bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dan memperoleh petunjuk, dan menjadikan mereka sebagai orang yang tidak berkeinginan untuk memahami hakikat dari sisi Allah.

﴾۲۲﴿بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak berada pada suatu umat, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (QS Az-Zukhruf : 22)

Manusia dapat membentuk peradaban umat mereka berdasar keping-keping kebenaran. Hal itu dapat dilihat pada peradaban-peradaban yang telah ada. Suatu keping kebenaran dapat berkembang menjadi dasar pengembangan peradaban. Sebenarnya pengenalan terhadap hakikat berdasarkan firman Allah dalam kitabullah Alquran mempunyai nilai yang jauh lebih besar daripada keping-keping kebenaran yang diperoleh manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari atau tidak mau menyadari. Manusia terlalu tergesa-gesa memandang bahwa telah cukuplah pengetahuan diri mereka tentang keping-keping kebenaran itu untuk kehidupan mereka dan mereka tidak perlu memahami ayat-ayat dalam kitabullah. Begitu pula tentang petunjuk, telah cukuplah bagi mereka mendapatkan petunjuk dengan mengikuti jalan kehidupan bapak-bapak mereka.

Hal demikian tidaklah tepat. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan yang sangat tinggi untuk memanifestasikan kehendak Allah di alam yang paling jauh dari sumber cahaya. Hal itu dapat terwujud apabila manusia berusaha memahami hakikat dalam ayat-ayat kitabullah dan memanifestasikannya di alam dunia. Manusia yang terbuat dari materi paling gelap dan hina di alam raya itu bisa menjadi makhluk yang mencapai hadirat Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Manakala seseorang atau suatu kaum beranggapan bahwa telah cukuplah bagi diri mereka keping-keping kebenaran, mereka belumlah memperoleh derajat yang diperuntukkan bagi diri mereka di sisi Allah. Mungkin telah mencukupi dalam pandangan makhluk, tetapi tidak mencukupi bagi fitrah dirinya dalam pandangan Allah. Akan sangat banyak kekurangan dalam kemajuan peradaban yang dapat ditemukan pada kaum yang tidak berpegang pada kitabullah, dan hal itu akan menjadi sebab keruntuhan peradaban mereka.

Kitabullah akan menarik manusia untuk membentuk pemahaman secara integral terhadap ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupn ayat kauniyah. Petunjuk kitabullah itulah yang akan mengintegasikan petunjuk-petunjuk yang dapat diperoleh oleh manusia, hingga seorang manusia dapat memurnikan agamanya semata-mata bagi Allah. Manakala seseorang atau suatu kaum membanggakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya tanpa suatu integrasi terhadap kehendak Allah, mereka akan terkurung dalam waham merasa cukup dengan mengikuti bapak-bapak mereka. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dari alam langit akan terkurung dalam petunjuk alam langitnya tidak terintegrasi dengan petunjuk Allah, dan orang yang berdedikasi pada petunjuk bumi akan terkurung pada alam bumi mereka. Kaum yang berdedikasi pada keduanya pun tidak terluput dari kemungkinan terkurung pada alam mereka. Hanya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah yang akan mengintegrasikan diri mereka terhadap kehendak Allah.

Yang dikatakan Alquran sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang mempunyai pemahaman kehidupan yang menyatu dengan tuntunan kitabullah Alquran. Mereka menemukan bahwa kitabullah Alquran sebagai cahaya yang menerangi keyakinan mereka, dan mereka membenarkan firman Allah dalam Alquran berdasarkan keyakinan mereka. Keyakinan mereka dapat menembus tingkatan-tingkatan alam ghaib hingga mengenal rabb yang diperkenalkan kepada diri mereka masing-masing hingga mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkan shalat mereka, bukan Allah yang membutuhkan shalat dari mereka. Semua keyakinan dan pemahaman itu menjadikan mereka mengetahui bahwa mereka harus menginfakkan apa-apa yang diberikan kepada mereka sebagi rizki kepada orang lain untuk mewujudkan rasa cinta kasih sebagai jalan ibadah kepada Allah. Umat manusia dapat mengikuti langkah-langkah mereka dan meniru selama sesuai dengan keadaan diri sendiri, tetapi hendaknya tidak tergesa-gesa menyematkan gelar bagi diri sendiri sebagai orang yang mendapat petunjuk karena mengikuti.

Selasa, 25 Juni 2024

Ikhlas dengan Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah walaupun seseorang tidak meniatkannya dalam beramal atau justru berniat sebagai ibadah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Ibadah yang ikhlas semata-mata kepada Allah akan diperoleh seseorang yang benar-benar memperhatikan ibadahnya berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak akan bisa memperoleh kedekatan kepada Allah tanpa suatu keikhlasan berlandaskan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena pemahaman terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan dasar dari keikhlasan. Setiap orang harus membangun pemahaman terhadap kehendak Allah berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar memperoleh keikhlasan.

Akhlak Mulia Untuk Memahami Hakikat

Pemahaman yang menjadi landasan keikhlasan adalah pemahaman terhadap sesuatu berdasar hakikat dari sisi Allah. Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Pembinaan sifat rahman dan rahim itu merupakan pembinaan akhlak mulia, dan akal akan tumbuh mengikuti terbinanya akhlak mulia. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap  pemahaman dan ketaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Sifat-sifat demikian seringkali dinilai kurang tepat menggunakan hawa nafsu. Sifat yang tampak keras boleh jadi merupakan perwujudan sifat rahman dan rahim karena adanya pemahaman terhadap tuntunan Allah dan kecintaan terhadap orang lain. Sifat yang tampak mulia dari seseorang kadangkala bukan merupakan manifestasi akhlak mulia karena tidak disertai dengan pemahaman terhadap kehendak Allah atau tidak merupakan bentuk kecintaan terhadap orang lain tetapi karena adanya kepentingan diri yang harus dijaga.

Di antara umat islam akan terbentuk suatu kaum yang membina pemahaman terhadap tuntunan kitabullah tanpa menggunakan akal, di antaranya kaum khawarij dan para ahli bid’ah. Kaum khawarij menekankan berpegang pada Alquran tetapi hanya dengan kecerdasan jasmaniah saja, sedangkan para ahli bid’ah bersifat mengabaikan kecerdasan dalam berpegang pada kitabullah Alquran. Keduanya bersifat melemahkan akal untuk berpegang pada kitabullah Alquran, walaupun yang tampak dari keduanya berseberangan. Kaum khawarij akan tampak ketat dalam berpegang pada kitabullah dengan logikanya saja dan para ahli bid’ah akan tampak religius dan longgar dalam berpegang pada kitabullah, sedangkan keduanya melemahkan peran akal dalam memahami kitabullah. Kaum demikian akan menemukan perselisihan-perselisihan dalam upaya memahami kitabullah. Banyak ayat yang tidak dapat dipahami berdasar landasan pemahaman yang terbentuk berdasarkan metode mereka. Kedua kutub ini akan memberikan pengaruh warna yang signifikan terhadap umat islam.

Penghambat Sifat Mulia

Lawan utama dari sifat rahman dan rahim adalah sifat sombong, yaitu mengabaikan kebenaran dan memandang sepele orang lain. Mengabaikan kebenaran merupakan lawan dari sifat rahmaniah, sedangkan memandang sepele orang lain merupakan lawan dari sifat rahimiah. Sifat sombong tidak boleh ada dalam diri manusia, apalagi tumbuh menjadi besar. Mustahil menjadi pencari kebenaran manakala kebenaran diabaikan. Demikian pula mustahil menjadi pengasih manakala orang lain diremehkan. Manakala kesombongan tumbuh, seseorang akan merasa menjadi orang besar di antara yang lain hingga ia tidak memahami kebenaran yang datang dari orang lain dan menganggap sepele orang lain. Bahkan Alquran dapat pula dibantah dan orang yang menyampaikan dihujat tanpa suatu nalar yang benar. Sifat sombong akan mendatangkan kerusakan yang besar di bumi sekalipun mungkin saja tampak hebat dalam pandangan manusia.

Akhlak mulia akan membersihkan kesombongan dalam diri manusia hingga ia akan dapat memahami suatu kebenaran dan menyayangi orang lain dengan benar. Kesombongan kadangkala tampak baik di mata manusia yang bodoh. Seseorang mungkin menganggap dirinya atau kelompoknya sebagai orang-orang yang baik, sedangkan sebenarnya mereka mengabaikan kebenaran dan menganggap sepele orang lain. Mereka memuja apa yang mereka anggap baik tanpa berusaha mengukur berdasar tuntunan yang benar. Kebenaran mutlak terdapat pada Alquran dan kebenaran adalah apa yang mengikuti Alquran. Apa yang bertentangan dengan Alquran adalah kebathilan. Mengabaikan kebenaran-kebenaran merupakan bentuk dari kesombongan, baik kebenaran pada turunan terendahnya ataupun kebenaran berupa hakikat dari kitabullah Alquran.

Manakala terbiasa untuk mengabaikan kebenaran pada tingkat rendah, seseorang tidak akan memahami kebenaran pada tingkat yang tinggi. Sikap demikian termasuk dalam kesombongan yang menghalangi manusia untuk mengenal kebenaran. Keterhalangan seseorang tidak hanya terjadi pada tingkat rendah. Kadangkala seseorang telah berjalan menuju suatu kedekatan kepada Allah kemudian terhinggapi suatu kesombongan hingga mengabaikan kebenaran pada tingkat yang lebih tinggi dan menganggap sepele orang lainnya. Mereka akan memandang bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datang dari diri mereka, dan orang lain hanyalah makhluk yang bisa dianggap sepele pengenalan kebenarannya. Bukan tidak mungkin mereka akan mengabaikan atau mendustakan peringatan kitabullah yang dibacakan orang lain dan menganggap bacaan itu salah tanpa mengetahui kesalahannya.

Mengikuti tuntunan kitabullah harus dilakukan secara totalitas. Seseorang tidak dikatakan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran manakala hanya mengikuti apa-apa yang disukai. Mungkin seseorang baru mengetahui suatu perkara berdasarkan Alquran maka hendaknya ia bersegera untuk mengikuti penjelasan yang baru diketahui bila benar, tidak membantahnya manakala bertentangan dengan pendapat dirinya. Bila ia belum bisa benar-benar memahami kebenaran yang baru diperoleh, maka ia harus berusaha memahami dengan sebaik-baiknya hingga dapat mengikutinya. Hal-hal demikian menjadikan seseorang telah berusaha mengikuti secara total, tidak perlu menunggu memahami semua masalah berdasarkan tuntunan Alquran untuk dikatakan sebagai mengikuti kitabullah secara total. Ia hendaknya berusaha selalu menambah pemahaman terhadap tuntunan Alquran tetapi tidak tergesa-gesa memperoleh yang banyak. Apabila tidak melakukan hal-hal demikian, seseorang atau suatu kaum tidaklah mengikuti tuntunan kitabullah dengan sepenuhnya, hanya mengikuti apa yang disukainya. Boleh jadi sebenarnya ia telah mengabaikan kebenaran atau ia mendustakan kebenaran kitabullah Alquran, tidak mengikutinya kecuali hanya dengan hawa nafsu.

Mengabaikan kebenaran hampir selalu diikuti dengan sikap menganggap sepele orang lain. Kedua sifat itu berjalan bersama pada orang yang sombong. Mengabaikan kebenaran akan menjadikan seseorang menganggap sepele orang lain, dan menganggap sepele orang lain akan menyebabkannya mengabaikan kebenaran. Hal buruk yang bisa timbul dari hal itu, kadang suatu kaum merendahkan orang lain hanya karena mengikuti pendapat orang yang sombong, dan mengabaikan kebenaran dari orang yang direndahkan. Bahkan mungkin pula terjadi seorang isteri menghakimi suaminya berdasarkan perkataan orang lain berdasar kesombongan, sedangkan semestinya ia bisa berbicara secara langsung kepada suaminya dan memikirkan duduk kesalahan dan kebenaran dari suaminya. Hal demikian merupakan dampak dari penyakit kesombongan yang menjangkiti umat. Manakala terjadi keadaan demikian, kesombongan itu telah mendatangkan kerusakan yang besar bagi umat manusia. Kaum perempuan sebagai pilar bangsa mungkin berada dalam bahaya, tidak memperoleh pembinaan yang benar atau justru dibina dengan salah. Umat pada dasarnya telah terbungkus oleh suatu waham kebenaran menurut diri mereka sendiri hingga merendahkan manusia.

Efek kesombongan seringkali menyebabkan timbulnya perasaan yang tidak baik bagi orang lain. Manakala berhadapan dengan seseorang yang sombong, hendaknya seseorang berusaha untuk bersikap sabar tidak mengumbar kemarahan. Sebagian ulama menyarankan agar menghadapi orang yang sombong dengan sikap sombong. Imam Abu Hanifah menyarankan sikap demikian agar kesombongan pada diri seseorang padam. Dalam beberapa riwayat (walaupun diperdebatkan), bersikap sombong terhadap orang yang sombong merupakan sedekah. Menampakkan kesombongan demikian tidak boleh terlahir dari akhlak yang sombong dan tidak boleh menjadikan seseorang berakhlak sombong, dan hendaknya ia selalu waspada barangkali terjadi perubahan sikap dan akhlak dari orang yang disikapinya. Dalam prakteknya hal demikian seringkali tidak terkendali. Manakala seseorang dapat menyadarkan sahabatnya dari kesombogannya, maka sikap sombongnya itu merupakan sedekah bagi sahabatnya. Mungkin sedekah demikian termasuk sedekah yang berat. Seseorang boleh bersedekah atau tidak bersedekah dalam urusan itu. Kalau orang sombong celaka karena tidak memperoleh shadaqah dalam bentuk itu, yang tidak bershadaqah tidak mendapatkan dosa.

Untuk mewujudkan masyarakat yang ikhlas dalam menjalankan agama berdasar pengetahuan kebenaran hakiki sebagaimana tercantum dalam kitabullah Alquran, akhlak mulia harus dibina menggantikan akhlak buruk terutama bentuk-bentuk kesombongan. Setiap manusia hendaknya dibina untuk tidak merendahkan sahabatnya atau orang lain, dapat memandang sahabatnya setara dengan dirinya atau lebih baik, dan mengasihi sahabatnya agar dapat tumbuh sesuai kebaikan yang ada pada diri mereka, tidak menghalangi langkah mereka untuk memberikan kebaikan pada diri mereka bagi orang lain. Lebih khusus lagi, setiap isteri atau suami hendaknya memelihara pertumbuhan kasih sayang dengan cara demikian, tidak memandang rendah pasangannya. Manakala ada kesombongan dibiarkan tumbuh atau justru disuburkan, maka kasih sayang itu tidak dapat tumbuh di antara manusia. Suatu keburukan akan menghambat tumbuhnya kebaikan. Sangat sulit suatu kebaikan akan berbuah manakala kesombongan melandasi usaha manusia. Ketika suatu kesombongan menyertai usaha untuk menuju kebaikan, usaha itu akan porak-poranda dan justru menimbulkan keburukan. Hal demikian terjadi manakala seseorang tidak menyadari tumbuhnya keburukan dalam usaha yang dilakukannya.

Mewujudkan Keikhlasan

Kebaikan akan terwujud dari terbentuknya akhlak mulia. Dalam tampilan yang manapun akhlak mulia itu muncul, akhlak itu akan mendatangkan kebaikan. Manakala akhlak mulia muncul dalam tampilan yang keras ataupun sebaliknya menarik, hasil yang akan tercapai oleh perbuatan akhlak itu akan baik kecuali karena adanya campuran hawa nafsu yang menyertai atau yang dihadapi. Sebaliknya tanpa akhlak mulia, manusia akan berputar-putar dalam usahanya tanpa ada hasil berupa barakah Allah. Perjalanan seseorang bertaubat kepada Allah pun akan berhenti tanpa langkah mendekat yang jelas atau hanya berputar-putar dalam waham mendekat kepada Allah. Langkah mendekat kepada Allah akan terjadi manakala terbentuk akhlak mulia, berupa terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba.

Lahirnya kebaikan dari sifat rahman dan rahim akan terwujud manakala sifat itu terbentuk hingga tingkatan jasmaniah, tidak hanya berupa persangkaan. Suatu konsep akan menjadi sempurna manakala diwujudkan dalam bentuk jasmaniah. Gambarannya, kebaikan dan keburukan suatu desain tertentu akan terlihat manakala telah terwujud bentuknya. Suatu perangkat tertentu mungkin akan terlihat indah tetapi kinerjanya buruk, maka kinerja perangkat itu dapat ditingkatkan setelah dilakukan perbaikan desainnya. Suatu perangkat akan berantakan bila tidak dibuat berdasar desain tertentu. Demikian akhlak mulia akan terbentuk pada diri seorang manusia berdasar pengetahuan tertentu tentang kemuliaan, dan harus diwujudkan di alam jasmani dalam amal-amal berdasar pengetahuannya tersebut. Apa yang kurang dari pengetahuannya akan dapat diperbaiki berdasar amal jasmani yang terlahir darinya. Bila tanpa landasan pengetahuan tentang kemuliaan, akan sulit melahirkan amal sebagai bentuk akhlak mulia kecuali hanya dalam wahamnya saja. Manakala hasil dari amal yang diwujudkan buruk, seseorang tidak akan mengetahui keburukannya karena tidak mempunyai tolok ukur kebaikan yang seharusnya dicapai.

Waham demikian tidak jarang membahayakan umat manusia. Seseorang mungkin menyangka ia berbuat kebaikan sedangkan ia telah menimbulkan kerusakan yang besar. Hal demikian akan dapat dihindari bila manusia menyadari fungsi kitabullah sebagai pembawa kebenaran (hakikat). Amal yang berdasar kebenaran kitabullah akan memberi manfaat kepada manusia, dan amal yang menentang kebenaran kitabullah akan memberikan madlarat yang sangat besar kepada manusia. Amal-amal yang merupakan turunan dari keduanya akan mengikuti induknya. Suatu amal yang terkait dengan kitabullah akan memberikan manfaat, dan amal yang terkait penentangan kitabullah secara lemah akan memberikan madlarat lebih sedikit daripada yang menentang secara langsung. Manakala seseorang tidak berpegang pada kitabullah, mereka tidak dapat mengukur kebenaran perbuatan diri mereka, dan seringkali akan memandang baik perbuatan mereka walaupun buruk dalam timbangan kitabullah.

Keikhlasan dalam beribadah kepada Allah akan terwujud dari orang-orang yang berpegang teguh pada kitabullah dan memahami kebenaran yang terkandung di dalamnya. Pemahaman itu akan terbentuk hanya berdasarkan akhlak mulia. Keikhlasan tidak akan terwujud dari prasangka manusia tentang keikhlasan mereka manakala mereka tidak memahami kebenaran dari kitabullah Alquran. Keikhlasan tidak akan terbentuk manakala tidak terbentuk akhlak mulia pada manusia.

Senin, 17 Juni 2024

Rezeki yang Tak Terduga

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan dalam kehidupan dunia, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Bentuk kehidupan demikian merupakan jalan ibadah yang ditentukan bagi manusia di alam dunia dalam bentuk amaliah ragawi. Kehidupan duniawi berdasarkan pengetahuan demikian akan mendzahirkan perhiasan seseorang dalam kehidupan duniawinya. Terwujudnya perhiasan demikian akan mengikuti bentuk rumah tangga seseorang bersama wanita shalihah.

Itu adalah jalan rezeki bagi orang beriman. Amal-amal seorang shalih dalam kehidupan duniawi akan sangat diwarnai oleh keadaan isterinya. Banyak inspirasi orang shalih dalam kehidupan duniawi muncul melalui isterinya. Tetapi rezeki bagi orang beriman tidaklah semata-mata tergantung pada interaksi bersama isterinya. Manakala harus bercerai dengan isterinya, Allah akan memberikan kepadanya rizki dari arah yang tidak diperhitungkan.

﴾۳﴿وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada diperhitungkannya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan menjadi penghitungnya. Sesungguhnya Allah menyampaikan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu kadarnya. (QS Ath-Thalaq : 3)

Ayat di atas sangat terkait dengan keadaan nabi yang akan kehilangan qurrata ‘ain untuk melihat jalan rezeki duniawi manakala harus menceraikan isteri. Allah akan memberikan kepada seseorang yang bertakwa kepada Allah dalam urusan perceraiannya suatu rezeki yang tidak diperhitungkan olehnya. Manakala setelah mempertimbangkan berdasar kema’rufan segala hal yang dijalani dalam pernikahan ternyata harus menceraikan isterinya, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah. Dengan ketakwaan itu, mereka akan memperoleh jalan keluar yang baik dan Allah akan memberikan kepada mereka rezeki dari arah yang tidak diperhitungkan.

Ayat di atas khususnya bercerita bahwa manakala seseorang kehilangan cara memperhitungkan jalan rezeki karena perceraian, maka Allah akan memberi jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak diperhitungkan jika mereka bertakwa. Ayat tersebut tidaklah secara khusus menganjurkan seseorang mengharapkan rezekinya dengan mengandalkan waham ketakwaan tanpa suatu perhitungan. Ketakwaan yang benar terlahir dari pemahaman terhadap kehendak Allah dan bertindak berdasar atas pengetahuan itu. Ketakwaan tidak boleh hanya berupa persangkaan bahwa dirinya telah bertakwa. Bila pengetahuan seseorang tentang kehendak Allah sangat sedikit, adanya keinginan untuk mengikuti kehendak Allah itu telah menjadi ketakwaannya, walaupun tidak setara dengan ketakwaan orang yang mengetahui kehendak Allah dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menyangka telah bertakwa tanpa suatu keinginan untuk memahami kehendak Allah dengan benar, tanpa keinginan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sebenarnya ia hanya mengikuti waham ketakwaan. Waham demikian kadangkala bersifat turunan dalam bentuk mengikuti orang lain tanpa berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ketika seorang nabi harus menceraikan isteri, sebenarnya telah kehilangan suatu qurrata ‘ain untuk perhitungan rezekinya. Demikian pula orang shalih akan mengalami hal demikian dalam tingkatan yang berbeda tetapi dengan warna yang sama. Bukan hanya ketika kehilangan isteri, manakala isteri berkhianat dengan perbuatan keji, atau bersikap tidak taat kepada suami, atau tidak mau mengikuti langkah suaminya, maka hal-hal demikian akan merusak perhitungan jalan rezeki orang-orang shalih yang mengikuti nabi. Apabila orang demikian bertakwa, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak diperhitungkan.

Takwa dan Kema’rufan

Mungkin tidak semua orang mengalami hal demikian. Hal demikian akan terjadi pada para nabi dan orang-orang shalih yang mengikuti. Bila tidak sepenuhnya mengikuti nabi atau tidak mempunyai pengetahuan tentang hal demikian, maka seseorang tidak mengalami atau tidak mengetahui kebuntuan jalan rezeki yang terjadi karena gejolak rumah tangga mereka. Para nabi dan orang yang mengikuti akan mengetahui keadaan demikian. Yang lebih penting dalam pandangan mereka bukan masalah rezeki, tetapi tidak terlaksananya amr Allah yang menjadi amr mereka. Dalam keadaan itu mereka boleh mempertimbangkan untuk menceraikan isteri mereka dengan syarat dilakukan berdasarkan suatu kema’rufan yang mereka temukan dalam kehidupan rumah tangga mereka.

﴾۲﴿فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan ma’ruf atau lepaskanlah mereka dengan ma’ruf dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(QS Ath-Thalaq : 2)

Kema’rufan akan mengantarkan seseorang pada ketakwaan. Ketakwaan dalam urusan demikian akan tercapai manakala keputusan di antara suami isteri terjadi atas dasar kema’rufan. Dalam keadaan yang tidak jelas kema’rufannya, perhitungan rezeki bagi mereka akan menjadi kacau balau. Seorang yang shalih mungkin tidak bisa memperhitungkan jalan rezeki bagi mereka dan tidak pula dapat mencapai keadaan takwa. Ia tidak mengerti harus bertindak bagaimana, sekeras apa mengusahakan jalan rezekinya atau harus melepaskan dan berharap rezeki yang tidak diperhitungkan, karena tidak bisa membuat keputusan berdasarkan suatu hal yang ma’ruf. Manakala telah membuat suatu keputusan berdasarkan hal yang ma’ruf, maka seseorang akan dapat bersikap bertakwa kepada Allah.

Proses mempertimbangkan kema’rufan dalam rumah tangga tidak jarang berjalan rumit. Kadangkala pertimbangan bercerai atau tetap bersama kembali menjadi mentah, tidak bisa matang karena pertimbangannya tidak mencapai derajat al-ma’ruf. Dengan keadaan demikian, seseorang sulit untuk bertakwa setelah mengambil keputusan baik bercerai atau tidak, karena sebenarnya ia tidak memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan yang benar. Banyak hal bisa menyebabkan demikian. Misalnya boleh jadi seseorang mengalami kesulitan untuk mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi karena tertutup sesuatu tabir. Suatu ishlah kadangkala sulit dilakukan karena terhalang informasi yang dibuat kacau balau. Contoh lainnya, kadangkala seseorang tidak dapat memutuskan perkara mereka setelah mengetahui kema’rufannya karena campur tangan pihak lain, maka hubungan pernikahan menjadi berantakan. Bukan tidak mungkin pula ada masalah yang sebenarnya bukan pada diri mereka tetapi dibuat oleh orang ketiga, maka apa yang diputuskan bagi kedua pihak tidak akan menyentuh akar masalah. Karena contoh-contoh demikian maka suatu keputusan tidak bisa mencapai derajat yang ma’ruf. Hal demikian sangat mungkin terjadi terutama pada masyarakat yang mempunyai tingkat pengetahuan atau ketaatan yang rendah terhadap tatanan berumahtangga yang disunnahkan Rasulullah SAW.

Kadangkala pertimbangan kema’rufan tidak bisa mencapai kematangan karena apa yang ditemukan dan apa yang terlintas di dalam hati berbeda, maka mungkin ia tidak mengetahui keputusan yang seharusnya diambil dengan tepat. Hal demikian seharusnya tidak terjadi dalam sebuah pernikahan, di mana semua masalah di antara suami dan isteri seharusnya telah terbuka. Akan tetapi dalam hal tertentu, syaitan bisa menjalar seperti akar menyelipkan suatu masalah yang tidak diketahui pihak lain. Seseorang tidak boleh hanya mengikuti kata hatinya saja manakala berkaitan dengan pihak pasangannya karena bisa merugikannya. Bisa saja kata hati itu merupakan tipuan. Bila terjadi demikian, ia hendaknya membicarakan apa yang terlintas dalam hatinya hingga pihak lain mengetahui apa yang terjadi.

Bila semua telah dibicarakan dan jawaban dari pasangan telah diperoleh, ia boleh memutuskan perkara di antara mereka berdasar apa yang disampaikan pasangannya sekalipun bertentangan dengan kata hatinya. Hal demikian harus disertai dengan sikap terbuka bahwa mungkin saja keputusannya salah, dan siap menerima bila pasangannya memperbaiki informasinya. Manakala pasangannya memilih untuk tidak melanjutkan kebersamaan dengan dirinya, ia boleh menceraikannya. Apabila pasangannya menginginkan melanjutkan kebersamaan mereka, maka itu sangat mungkin merupakan jalan yang tersedia untuk melaksanakan amr Allah. Manakala pasangannya menunjukkan perbaikan sikap terhadap amr Allah di antara mereka, itu merupakan indikasi bahwa ia serius dalam melanjutkan kebersamaan. Manakala sikapnya tetap buruk atau bertambah buruk, boleh jadi meneruskan pernikahan mereka bukan hal yang terbaik.

Suatu pernikahan pada dasarnya bertujuan untuk mewujudkan pengenalan pasangan manusia terhadap Ar-Rahman Ar-Rahim ke alam dunia. Setiap orang harus membina akhlak berdasarkan asma tersebut, dan pernikahan merupakan jalan utamanya. Dalam suatu pernikahan, hendaknya setiap orang berusaha menunjukkan sikap mulia terhadap pasangannya. Manakala suatu pasangan tidak berhasil membina hal demikian dan dilanda masalah, hendaknya setiap pihak menghindari bersikap buruk terhadap yang lain. Sikap buruk akan menjauhkan manusia dari tujuan berpasangan. Sikap buruk tertentu bisa lebih merusak hubungan daripada sikap kurang baik lainnya, dan perbaikan dari dampak sikap demikian kadang perlu langkah lebih panjang. Sikap buruk yang berdampak besar muncul dari adanya akhlak buruk pada seseorang, misalnya kesombongan atau akhlak buruk lainnya. Sikap demikian berdampak lebih buruk daripada ungkapan emosional sesaat yang terjadi antara suami isteri. Sekalipun bisa diperbaiki manakala salah satu atau keduanya berkeinginan, mereka seringkali harus melewati rintangan yang banyak karena syaitan mungkin akan benar-benar memanfaatkan celah tersebut. Kadangkala syaitan menemukan pintu yang sangat efektif untuk merusak upaya-upaya memperbaiki hubungan demikian. Pintu demikian kadang bisa menimbulkan kerusakan lebih banyak lagi manakala tidak disadari oleh pasangan. Lebih ringan bagi setiap orang untuk menghindari bertindak buruk terhadap pasangannya daripada harus memperbaiki keadaan. Sikap baik akan menumbuhkan cinta kasih dan memperbaiki keadaan, terutama bila sikap baik itu terlahir secara tulus dan ikhlas berdasar cinta kasih.

Amr Allah dan Kema’rufan

Kema’rufan dari keputusan terhadap perselisihan suami isteri ditimbang berdasarkan amr Allah, tetapi tidak semua keputusan harus dibuat hanya untuk menjadikan suatu pasangan dapat melaksanakan amr Allah. Suatu kema’rufan dalam iddah kadangkala hanya bisa mencapai sasaran tertentu bagi pasangan tanpa bisa mencapai keadaan terbaik berupa kemampuan melaksanakan amr Allah. Bahkan suatu perceraian bisa merupakan bentuk kema’rufan manakala kedua pihak melihat keburukan dalam kebersamaan mereka. Bila keduanya melihat kebaikan dalam kebersamaan mereka, hendaknya mereka membina kebersamaan kembali dalam rumah tangga hingga dapat melaksanakan amr Allah secara sinergis. Di antara kedua keadaan tersebut ada banyak kemungkinan terjadi pada suatu pasangan, misalnya kedua pihak tidak melihat keburukan dalam kebersamaan mereka, tetapi tidak bisa menyatukan langkah dalam amr Allah, maka kema’rufan bagi mereka berupa hidup bersama tanpa bisa berpasangan menyentuh amr Allah. Untuk hal demikian perlu dilakukan langkah lebih lanjut agar amr Allah dapat ditunaikan.

Kemunkaran pada masyarakat kadangkala terlihat dalam proses iddah misalnya manakala pihak suami dan isteri keduanya berkeinginan mewujudkan kebaikan dalam kebersamaan tetapi harus terpisah dalam perceraian karena keputusan di luar kendali mereka. Hal demikian seringkali merupakan bentuk manifestasi kemunkaran yang terpendam di masyarakat. Pada masyarakat demikian bila dicermati akan tampak banyak kebodohan atau justru kebodohan menjadi tampak dominan pada masyarakat. Mungkin ada orang terdzalimi dari kemunkaran mereka tanpa menyadarinya, dan ada sedikit orang yang kemudian menyadari kesalahan dalam paradigma mereka. Misalnya boleh jadi ada yang mengalami kesulitan mendapatkan jodoh tanpa menyadari apa yang terjadi pada diri mereka, dan sedikit orang yang menyadari kemunkaran yang terjadi.

Setiap amr Allah mempunyai suatu landasan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak berupa sesuatu yang sama sekali baru. Amr Allah tidak diperoleh dengan pemikiran sendiri. Setiap orang bisa mencari amr Allah melalui kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sebaliknya, seseorang yang memperoleh amr Allah dengan suatu cara yang lain hendaknya memeriksa urusannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berjamaah akan memudahkan seseorang dalam memahami urusan Allah dan mengenali amr bagi dirinya, yaitu berjamaah dengan orang-orang yang mengerti urusan jaman mereka berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak mengerti landasan dasar itu, suatu jamaah belum tentu merupakan jamaah yang benar dan bukan tidak mungkin menyimpang, karenanya setiap orang hendaknya mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Bobot pertimbangan berdasarkan suatu amr Allah tidak sama dengan bobot pertimbangan berdasarkan hal yang lain. Suatu pernikahan sebenarnya akan menjadikan suatu pasangan memperoleh suatu amr Allah tertentu, dan hal itu harus ditunaikan bersama-sama. Banyak orang yang tidak berhasil mengetahui amr tersebut. Manakala mengetahui, kadangkala mereka tidak dapat menunaikan amr tersebut. Untuk dapat mengerjakan amr itu, harus terwujud suatu pemahaman bersama-sama antara suami isteri terhadap amr mereka, dan kemudian mengerjakannya bersama secara sinergis. Hal demikian itu yang mendatangkan bobot al-ma’ruf. Dalam prakteknya timbangan al-ma’ruf di antara suami isteri tidak sesederhana itu. Kadangkala suatu pasangan berjalan bersama menuju pelaksanaan amr Allah akan tetapi pemahaman yang terbentuk berbeda, berselisih atau berseberangan. Kadangkala suatu pasangan berkeinginan sama dengan visi yang sama tetapi tercerai-beraikan oleh keadaan. Setiap pasangan hendaknya berusaha menemukan al-ma’ruf dengan sebaik-baiknya berdasarkan kesatuan amanah yang diberikan atas nafs wahidah mereka.

Allah akan memperhatikan amr-Nya (إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ), berupa amr yang seharusnya dilaksanakan oleh seseorang bersama istri mereka walaupun apabila mereka harus berpisah. Orang-orang beriman hanya perlu bertakwa dalam mengambil keputusan dan kemudian bertawakkal sedangkan terlaksananya amanah mereka itu akan diperhatikan Allah. Tawakkal merupakan sikap menyerahkan urusan kepada Allah setelah berusaha dengan jalan terbaik. Segala amr Allah atas orang yang bercerai yang seharusnya ditunaikan bersama dengan isterinya hendaknya ditunaikan sedangkan hasilnya dikembalikan kepada Allah, tidak perlu terlalu merisaukan hasil dari usaha yang dilakukan. Ada hasil ataupun tidak ada hasil, hendaknya ia tidak berhenti mengupayakan amanahnya terlaksana dan tidak berputus asa, karena Allah-lah yang akan menghitung hisab atas amal-amal yang dilakukan, dan Allah yang akan menjadikan amr-Nya terwujud dengan jalan-Nya sendiri.

Upaya bertawakkal demikian seringkali tidaklah mudah. Seseorang bisa saja harus berada pada jalan itu sendirian, tidak ada yang menemani bahkan isterinya pun tidak, dan juga tidak ada orang lain yang mengerti apa yang dia usahakan. Mungkin pula seseorang harus berhadapan dengan orang-orang yang mentaati Allah tetapi tidak mau memperhatikan tuntunan Allah. Ini gambaran tantangan yang paling sulit sebagaimana kehidupan dahulu ketika Azazel hidup di surga sebagai hamba yang taat berdasarkan pikirannya sendiri. Hanya saja tantangan itu terjadi dalam kehidupan di bumi bagi orang yang bertawakkal. Dalam keadaan demikian, akan sulit bagi seseorang untuk bisa berharap suatu hasil yang memadai, akan tetapi hendaknya ia bertawakkal kepada Allah, bahwa Allah yang akan mewujudkan amr-Nya dengan cara-Nya sendiri, tanpa perlu dirinya memikirkan jalan yang efektif untuk mencapai hasil usahanya kecuali sekadar apa yang bisa dikerjakan berdasar kemampuannya.

Selasa, 11 Juni 2024

Meraih Perhiasan Dunia yang Hasan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Ibadah akan mendatangkan kepada seseorang pengetahuan baik untuk kehidupan akhirat maupun duniawi yang ditentukan Allah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Bentuk kehidupan denikian merupakan merupakan jalan ibadah manusia di alam dunia dalam bentuk amaliah ragawi, dan kehidupan duniawi berdasarkan pengetahuan demikian akan menjadi perhiasan seseorang dalam kehidupan duniawinya.

Terwujudnya perhiasan demikian akan mengikuti perhiasan yang terbaik berupa wanita shalihah. Perempuan shalihah merupakan perhiasan yang terbaik bagi dunia khususnya bagi suaminya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a, ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Kedudukan perempuan shalihan sebagai sebaik-baik perhiasan dunia menunjukkan kedudukan pentingnya manusia menampilkan kebenaran dari sisi Allah hingga tingkatan duniawi. Pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan sebenarnya merupakan penyatuan kembali nafs wahidah yang terbagi-bagi dalam kehidupan dunia. Wujud masing-masing insan merupakan pembagian yang berasal dari satu nafs wahidah, yang mempunyai fungsi berbeda tetapi sinergis. Laki-laki merupakan bagian insan yang mempunyai akal lebih kuat untuk memahami kehendak Allah, sedangkan perempuan merupakan bagian insan yang membawa khazanah duniawi. Manakala seorang perempuan shalihah membawakan khazanah dalam dirinya kepada suaminya, dan suaminya mempunyai akal yang cukup kuat untuk memahami kehendak Allah, akan terbentuk bagi keduanya kehidupan yang bertabur perhiasan duniawi yang bersifat hasan.

Seorang laki-laki barangkali bisa mengusahakan perhiasan-perhiasan duniawi dengan caranya sendiri, akan tetapi tidak dalam bentuk perhiasan yang hasan. Perhiasan yang hasan hanya diupayakan oleh orang-orang shalih. Manakala seseorang tidak mempunyai keshalihan maka ia tidak mengusahakan perhiasan yang hasan. Seorang shalih hanya akan mengusahakan perhiasan dunia manakala ia mempunyai isteri dari kalangan wanita yang shalihah. Manakala isterinya tidak shalihah, ia hanya akan mengutamakan agar isterinya menjadi shalihah karena isterinya merupakan perhiasan yang terbaik. Tidak ada manfaatnya bagi seorang laki-laki yang shalih untuk bertabur perhiasan dunia tanpa isteri shlalihah karena boleh jadi perhiasan dunia itu akan mendatangkan celaka bagi mereka atau bahkan umat mereka. Karakter dunia mereka akan cenderung mengikuti karakter isterinya, maka manakala isterinya tidak shalihah banyaknya perhiasan dunia itu akan mendatangkan keburukan. Manakala tanpa isteri shalihah, telah cukup bagi para laki-laki shalih pandangan mata mereka dalam ibadah kepada Allah. Manakala isteri shalihah, maka mereka akan mempunyai keinginan mengusahakan perhiasan-perhiasan yang merupakan wujud dari kebaikan di sisi Allah.

Hal ini tidak menjadikan peran perempuan terhadap nilai ibadah remeh. Bagaimanapun nilai ibadah seseorang ditentukan pula oleh kualitas bayt yang terbentuk dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dalam bayt tersebut. Kualitas terbaik ibadah seseorang dalam ibadah kepada Allah akan diperoleh manakala Allah memberikan ijin bagi mereka untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di dalam bayt mereka. Semakin dekat bentuk bayt seseorang dengan ijin Allah, maka semakin baik kualitas ibadah yang dapat mereka lakukan. Bayt demikian terbentuk hanya apabila seorang laki-laki mengenal urusan Allah bagi dirinya, dan isterinya mengikuti dengan penuh ketenangan memahami apa yang mereka kerjakan, tidak menganggap suaminya orang yang sia-sia. Perhiasan terbaik yang terwujud dari seorang perempuan shalihah adalah terwujudnya kebaikan-kebaikan dari sisi Allah di alam dunia, bukan perhiasan yang semata muncul dari usaha duniawi.

Keshalihan para perempuan akan berpengaruh sangat besar dalam mewujudkan pemakmuran di bumi sebagai perhiasan duniawi yang hasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, karena bentuk pemakmuran demikian tidak akan dapat diwujudkan oleh kaum laki-laki. Kaum laki-laki mungkin saja dapat memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat dari sisi Allah, tetapi ilmu itu akan berhenti pada laki-laki itu bila tidak disertai oleh istri yang shalihah. Kaum beberapa nabi memperoleh adzab karena isteri mereka yang durhaka, sebagaimana kaum nabi Nuh a.s dan kaum nabi Luth a.s. Ilmu dari sisi Allah yang turun justru mendatangkan adzab bagi umat karena sifat isteri mereka.

Pemakmuran Bumi Sebagai Usaha Bersama

Terwujudnya pemakmuran di bumi merupakan peran perempuan, tetapi proses pemakmuran itu sendiri membutuhkan peran semua pihak. Sebenarnya proses pemakmuran merupakan penyambungan hubungan silsilah mata rantai dari alam bumi hingga di sisi Allah, dan pelaku utama dari proses pemakmuran itu adalah manusia. Setiap manusia menempati mata rantai tertentu dalam hubungan silsilah itu, sebagaimana setiap pasangan laki-laki dan perempuan membentuk hubungan silsilah secara khusus. Silsilah di antara para laki-laki lebih bersifat longgar daripada hubungan silsilah antara suami dan isteri. Manakala satu mata rantai terputus, maka jalur silsilah di antara kaum laki-laki dapat tersambung melalui mata rantai yang lain, tetapi di antara suami dan isteri silsilah yang terputus itu tidak dapat digantikan. Manakala seorang perempuan menyambungkan silsilahnya kepada selain suaminya, ia telah berbuat keji terhadap hubungan silsilahnya.

Untuk dapat menempatkan diri dalam suatu silsilah pemakmuran, setiap orang harus menempuh langkah memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Dengan langkah itu, Allah akan mengutus alam langit untuk menurunkan hujan yang deras kepada manusia, dan dengan hujan itu maka harta benda akan menjadi berlimpah dan terlahir karya-karya yang banyak sebagai anak-anak yang terlahir dari manusia. Allah akan menjadikan bagi manusia kebun-kebun dan sungai-sungai bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan.

﴾۰۱﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
﴾۱۱﴿يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
﴾۲۱﴿وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
(10)maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- (11)niscaya Dia akan mengutus langit kepadamu dengan hujan lebat,(12) dan membanyakkan bagimu harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)

Ayat terakhir di atas menceritakan tentang kemakmuran yang timbul di muka bumi berupa melimpahnya harta benda dan karya-karya sebagai anak-anak yang lahir dari manusia, hadirnya kebun-kebun yang memberikan buah bagi manusia serta terwujudnya sungai-sungai bagi manusia. Pemakmuran itu terjadi karena terhubungnya alam langit dan bumi melalui hujan deras karena perintah Allah. Secara tersirat, sebenarnya ayat tersebut juga menceritakan terhubungnya antara aspek laki-laki dan perempuan sebagai kelanjutan dari turunnya hujan yang deras. Bahwa proses pemakmuran di bumi merupakan hasil dari terhubungnya urusan dari sisi Allah hingga mencapai alam bumi. Landasan dari proses penghubungan silsilah itu adalah permohonan seseorang terhadap ampunan kepada Allah.

Istighfar merupakan wujud amal yang terlahir dari kesadaran seseorang tentang keadaan dirinya di hadapan Allah. Manakala seseorang tidak mempunyai kesadaran tentang keadaan dirinya, istighfar yang diucapkan mungkin bukan istighfar yang sebenarnya. Demikian pula manakala seseorang mempunyai kesadaran yang salah, ia tidak mengucapkan istighfar dengan tepat. Istighfar yang tepat akan terwujud dari orang-orang yang mengetahui keadaan dirinya di hadapan Allah dengan tepat, tidak membuat-buat anggapan berdosa dan tidak mengabaikan kesalahan dan dosa yang terjadi. Kebanyakan manusia mengabaikan kesalahan dan dosa yang terjadi hingga tidak mengetahui nilai istighfar yang diucapkannya.

Ketepatan istighfar ini akan mempengaruhi hujan yang diturunkan oleh langit. Yang menurunkan hujan itu adalah langit yang terhubung secara dekat kepada seseorang, atas perintah Allah. Bila disadari, hal ini akan berguna agar seseorang tidak merasa memperoleh ilmu dari Allah, sedangkan sebenarnya itu baru merupakan ilmu dari hubungan yang terbentuk terhadap langit dirinya. Timbangan hujan itu mungkin akan dipengaruhi oleh keadaan orang yang memohon ampunan. Manakala seseorang beristighfar dengan penuh angan-angan dan waham, hujan itu mungkin akan menurunkan hujan angan-angan dan waham mereka sendiri sebagaimana hujan asam, dan kemudian menyuburkan pula angan-angan dan waham mereka. Bila seseorang beristighfar dengan penuh keikhlasan dan kesadaran tentang diri mereka, maka langit mungkin akan menurunkan hujan deras yang bersih yang sesuai untuk keadaan diri mereka. Istighfar yang dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui keadaan diri mereka dengan tepat itulah yang akan menurunkan hujan yang terbaik dari langit.

Ketepatan istighfar seseorang akan diperoleh apabila ia membaca tuntunan kitabullah Alquran untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Seseorang harus berusaha melihat dengan tepat keadaan dirinya dalam mengikuti langkah taubat Rasulullah SAW agar dapat memohon ampunan, dan hal itu harus dilakukan dengan membaca kitabullah Alquran. Sebaliknya kitabullah akan sulit dibaca manakala seseorang tidak berkeinginan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Ketika membaca kitabullah Alquran, hendaknya seseorang mengukur dirinya. Mungkin ia tidak mengetahui artinya, atau ia mengetahui berdasar lafadznya dan ia belum memenuhi tuntunan tersebut atau justru keadaan dirinya bertentangan, atau ia mengetahui lafadznya, telah berusaha mengikuti dan berharap mengetahui jalan yang lebih lanjut, dan sikap-sikap lain yang menunjukkan kesungguhan dalam membaca kitabullah Alquran. Kesungguhan itu harus dilakukan sesuai dengan keadaan dirinya, tidak perlu memaksakan untuk mengetahui, dan tidak boleh mengabaikan apa yang dapat diketahui dari tuntunan Alquran.

Hal-hal demikian bila dilakukan dengan jujur akan menjadikan seseorang mengetahui keadaan dirinya dan dosa-dosanya, maka ia dapat memohon ampunan dengan tepat. Kebanyakan manusia hanya mau menempatkan dirinya pada sisi-sisi yang baik dari penjelasan kitabullah, dan tidak mau mengakui kemungkinan adanya cela dan kekurangan dalam dirinya manakala ditunjukkan, maka ia tidak mengetahui keadaan dirinya dengan tepat. Bila seseorang salah mengukur keadaan dirinya, pertumbuhan dirinya akan menyimpang. Mungkin saja seseorang berbuat melanggar tuntunan kitabullah dan kemudian Allah mengampuni. Bila ia mengakui kesalahannya maka ia dapat memohon ampunan Allah dan bila merasa telah berbuat kebenaran, ia tidak akan bisa memperbaiki dirinya mengikuti kitabullah Alquran. Hal itu menunjukkan bahwa ia telah sesat dalam perjalanannya. Sekalipun mungkin berkeinginan menghamba kepada Allah, ia tersesat. Bila seseorang tidak berkeinginan untuk kembali kepada Allah, ia tidak akan menjadi golongan orang tersesat karena tidak berkeinginan menempuh perjalanan yang benar.

Pembinaan Keluarga dan Tauhid

Umat islam hendaknya membina diri menjadi orang-orang yang memohon ampunan Allah, dan hendaknya sifat ini tidak pernah ditinggalkan. Manakala terbina sebagai orang-orang yang memohon ampunan Allah, Allah akan memerintahkan kepada langit untuk menurunkan hujan yang deras berupa pengetahuan dan Allah akan menyuburkan duniawi mereka hingga harta dan karya serta anak-anak mereka menjadi banyak. Banyaknya harta, karya dan anak-anak pada orang-orang demikian merupakan perhiasan yang hasan tidak bersifat mencelakakan tetapi akan membantu mewujudkan kemakmuran di dunia, berbeda dengan banyaknya perhiasan duniawi yang dikejar orang-orang yang berhasrat terhadap dunia. Kemakmuran demikian hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang membina tauhid dalam beribadah kepada Allah.

Tauhid yang benar pada dasarnya hanya disertai dengan sifat ini. Tauhid adalah upaya mewujudkan doa “bismillaahirrahmaanirrahim” dengan sebaik-baiknya pada setiap perbuatan yang dilakukan. Doa tersebut menunjukkan adanya suatu keinginan untuk menghadirkan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka hendaknya seseorang membina pengetahuan tentang segala sesuatu terkait Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Hal paling utama yang memperkenalkan seseorang terhadap Ar-Rahman adalah kitabullah Alquran dan pengetahuan itu harus disertai dengan amal-amal yang menunjukkan asma Ar-Rahim, maka ia akan membina ketauhidan yang kokoh kepada Allah. Tauhid bagi umat manusia tidak dapat dibina dengan baik mengikuti prinsip tauhid Azazel dahulu ketika masih tinggal di surga, di mana ketika Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam ia menolak perintah itu. Penolakan itu terjadi diantaranya karena prinsip tauhidnya.

Terwujudnya pemakmuran di bumi terjadi melalui jalan wewujudkan asma Ar-Rahman Ar-Rahim. Hujan pengetahuan yang diturunkan kepada seseorang hendaknya digunakan untuk memahami tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran, tidak langsung digunakan untuk beramal tanpa memperoleh akar tuntunan dari kitabullah Alquran. Petunjuk Alquran adalah petunjuk yang merupakan firman Allah, sedangkan petunjuk yang lain bisa berasal dari alam langit selain Allah, baik alam langit yang baik ataupun alam langit yang jahat. Manakala suatu amal tidak berakar dari suatu firman di sisi Allah, amal itu tidak dijamin kebenarannya dan bisa saja bersifat justru sangat merusak. Benarnya suatu petunjuk yang bersifat membangun harus diperhatikan berdasarkan tuntunan Alquran agar pelaksanaan petunjuk itu mendatangkan kemakmuran di bumi.

Proses pemakmuran untuk mewujudkan asma Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu akan terlaksana bila dilakukan secara berpasangan. Pengetahuan terhadap kehendak Allah sekalipun baik tetapi seringkali tidak bisa diterapkan tanpa disertai membina rasa kecintaan terhadap yang lain. Munculnya pengetahuan terhadap kehendak Allah dalam diri seorang hamba merupakan bentuk pengenalannya terhadap Ar-Rahman, sedangkan terbinanya sifat mencintai orang lain merupakan bentuk pengenalan terhadap Ar-Rahim. Pembinaan sifat rahmaniah dan rahimiah pada diri seseorang sebenarnya harus dilakukan pula secara berpasangan melalui pernikahan. Akal seorang laki-laki mungkin akan bisa tumbuh mencapai kekuatan yang baik, akan tetapi manakala tidak disertai sentuhan kecintaan perempuan terutama dari isterinya,  atau ibunya maka kekuatan akal itu akan tumpul untuk diterapkan di dunia. Sebaliknya cinta kasih yang terbina pada perempuan seringkali tidak dapat mencapai pemahaman terhadap kehendak Allah. Pernikahan yang baik akan memadukan kedua kekuatan untuk mewujudkan asma Ar-Rahman dan Ar-Rahim oleh pasangan itu.

Pembinaan pernikahan harus dilakukan hingga setiap pihak bisa tumbuh mengikuti pasangannya, dalam bentuk tumbuhnya cinta kasih pihak laki-laki dan tumbuhnya pengenalan urusan Allah pada pihak perempuan, bukan hanya mewadahi akal pada laki-laki dan cinta kasih pada perempuan dalam satu wadah. Cinta kasih yang dominan berada pada pihak perempuan hendaknya digunakan untuk menumbuhkan sifat cinta kasih suaminya, dan akal pada laki-laki hendaknya diikuti oleh isterinya. Itu merupakan basis pemakmuran bumi. Tidak tumbuhnya pengenalan terhadap urusan Allah pada seorang perempuan boleh jadi merupakan dosa suaminya atau kaumnya, demikian pula tidak tumbuhnya cinta kasih pada laki-laki terhadap yang lain boleh jadi merupakan dosa kaum perempuan atau kaumnya. Untuk pembinaan rumah tangga, setiap pihak harus tumbuh kuat pada jati dirinya.

Bila suatu kaum menjadikan pembinaan manusia melalui rumah tangga menjadi sulit atau justru merusak terbentuknya rumah tangga yang baik, maka bangsa mereka akan terancam runtuh karena perbuatan mereka. Bila suatu kaum tidak memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat, hal demikian tidak akan disadari dan dianggap bahwa ketimpangan seseorang itu merupakan kesalahan orang itu sendiri. Seseorang yang berusaha melaksanakan agamanya dengan memohon ampun dan bertaubat akan mengetahui bahwa pemakmuran dunia tidak akan terjadi tanpa manifestasi asma Ar-Rahman Ar-Rahim melalui diri mereka masing-masing.

Jumat, 07 Juni 2024

Perhiasan Yang Baik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Kemurnian seseorang dalam ibadah kepada Allah mempunyai tanda-tanda yang menyertai. Di antara tanda kemurnian ibadah adalah pengetahuan kehidupan duniawi yang ditentukan bagi dirinya berdasarkan ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Bentuk kehidupan denikian merupakan merupakan jalan ibadah manusia di alam dunia dalam bentuk amaliah ragawi.

Untuk memperoleh keadaan demikian, setiap orang harus memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat. Memohon ampunan kepada Allah dan menempuh jalan kembali kepada Allah akan menjadikan seseorang memulai langkah untuk memperoleh perhiasan duniawi dan memperoleh keutamaan yang disediakan bagi mereka.

﴾۳﴿وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi perhiasan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS Huud : 3)

Langkah pemurnian ibadah harus dilakukan dengan melakukan permohonan ampunan kepada Allah dan menempuh jalan taubat kepada Allah. Hal ini lazimnya dikenal sebagai langkah tazkiyatun-nafs. Sebenarnya langkah tazkiyatun-nafs tidak terbatas pada prosesi-prosesi yang dibimbing sang syaikh. Tazkiyatun nafs sebenarnya juga menghadirkan perbuatan-perbuatan Allah atas seorang hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs. Allah akan memerintahkan alam langit untuk mendatangkan hujan pengetahuan yang sangat banyak kepada hamba-Nya yang ingin memperoleh keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Hujan deras yang diturunkan langit akan menjadikan manusia dapat tumbuh hingga memperoleh fadhilah yang disediakan bagi mereka. Demikian pula Allah akan memberikan perhiasan-perhiasan duniawi kepada hamba-hamba yang melakukan tazkiyatun-nafs dengan benar.

Hujan deras itu akan terwadahi oleh orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan Allah dan beramal mengikuti petunjuk Allah. Sangat penting bagi setiap hamba Allah untuk menyediakan wadah bagi hujan yang diturunkan Allah, dan wadah yang dapat menampungnya adalah akalnya. Bila tidak menyediakan wadah, barangkali seorang hamba akan menjadi suci karena hujan deras yang diturunkan, akan tetapi tidak dapat memahami kehendak Allah. Bila (hanya) untuk menjadi suci, maka seseorang tidak dapat memenuhi takdir dirinya sebagai manusia. Sebenarnya sangat banyak makhluk Allah yang telah diciptakan sebagai makhluk suci bukan dari golongan manusia. Takdir manusia akan dapat dipenuhi oleh seorang manusia bila ia menggunakan akalnya hingga memperoleh fadhilah yang disediakan Allah bagi dirinya.

Akal yang dimaksud adalah kemampuan untuk memahami kehendak Allah dengan benar. Pemahaman yang benar itu selalu mempunyai landasan berupa ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik secara langsung sebagai pokok ataupun sebagai cabang dari keduanya. Tidak ada orang yang memahami kehendak Allah tetapi tidak menemukan landasan dari ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman tanpa landasan demikian seringkali sifatnya sangat berbahaya, dapat merusak tatanan umat manusia dan makhluk lainnya. Orang yang menggunakan akal adalah orang yang berusaha memahami alam kauniyah dirinya baik pada sisi dzahir ataupun sisi bathinnya selaras dengan tuntunan Allah. Hujan pengetahuan yang diturunkan langit bisa menjadi contoh sisi bathin alam kauniyah manusia, dan kauniyah itu harus dipahami manusia dengan akalnya selaras tuntunan Allah.

Fundamen penggunaan akal seseorang adalah permohonan ampunan dan taubat kepada Allah. Manusia merupakan makhluk di alam rendah yang sangat mudah berbuat salah dan ditempatkan di alam yang terjauh dari sumber cahaya Allah. Permohonan ampunan dan taubat merupakan sarana utama yang disediakan Allah bagi manusia untuk memperoleh kemuliaan. Hal ini harus disyukuri oleh setiap hamba Allah. Kesalahan dan dosa dari manusia hendaknya dijadikan pendorong untuk memohon ampunan dan taubat kepada Allah. Allah tidak pernah membebani manusia untuk terbebas dari kesalahan dan dosa, walaupun memerintahkan manusia untuk berbuat yang terbaik. Istighfar dan taubat harus menjadi fundamen seseorang dalam menggunakan akal, lebih penting daripada keinginan terbebasnya dari kesalahan dan dosa. Seandainya Allah membuat aturan yang menuntut hamba-Nya agar tidak melakukan kesalahan, pastilah tuntutan itu tidak ditujukan kepada manusia. Hal demikian akan mendzalimi manusia. Demikian dalam menggunakan akal, hendaknya setiap hamba Allah berusaha memperoleh pemahaman yang terbaik, akan tetapi ia harus selalu menyadari bahwa selalu ada kemungkinan kesalahan dalam pemahamannya. Karena itu hendaknya ia tidak meninggalkan permohonan ampunan dan bertaubat kepada Allah, tidak perlu berusaha mencapai kebebasan dari kemungkinan berbuat kesalahan dan dosa, atau mencitrakan diri bebas dari dosa dan kesalahan.

Orang-orang yang baru memulai langkah memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah akan menemukan dirinya dalam keadaan yang gelap sangat terliputi oleh karakter alam duniawi. Semakin jauh langkah taubatnya, ia akan semakin mengenal bentuk kehidupan yang lebih sempurna. Seseorang akan menyadari bahwa dirinya bukan semata-mata makhluk bumi yang sama dengan binatang dan makhluk material lain. Ada sisi nafs dalam dirinya yang membutuhkan cahaya Allah untuk kehidupanya sebagaimana jasmaninya membutuhkan makanan. Kesadaran tentang bentuk kehidupan yang lebih sempurna ini akan lebih menyadarkan manusia untuk memohon ampunan dan bertaubat, dan entitas yang lebih menyeluruh inilah yang akan menjadikan seseorang mampu berkembang hingga memperoleh fadhilah yang disediakan Allah bagi purnarupa makhluk-Nya. Ia akan menyadari kebutuhannya akan hujan deras dari langit atas perintah Allah, terus berkembang untuk mencapai fadhilah bagi dirinya.

Realitas demikian bisa dijadikan sebagai suatu peta jalan bagi manusia, dan untuk mengukur keadaan dirinya pada peta jalan itu. Hendaknya setiap orang menyadari posisi dirinya dalam peta jalan itu. Manakala baru memulai langkah istighfar dan taubat, hendaknya ia mengambil pelajaran tentang keadaan gelap terliput dunia sesuai dengan tuntunan Allah tentang kegelapan dunia. Bila ia membangun pemahaman sebagai manusia sempurna dalam keadaannya yang masih gelap, maka pemahaman yang terbangun berdasarkan hujan yang diturunkan itu akan keliru. Ia membangun pemahaman berdasarkan hawa nafsu. Seringkali seseorang terburu-buru membina pemahaman berdasarkan waham yang dibina bersama orang lain, sedangkan keadaannya berbeda dengan sahabatnya. Ia boleh meraba-raba arah kehidupan yang lebih terang tetapi hendaknya tidak menyematkan status kepada dirinya lebih dari keadaan diri yang sebenarnya. Kesalahan-kesalahan demikian dapat dihindari manakala seseorang tidak lepas dari langkah memohon ampunan dan bertaubat. Bila berbuat demikian, ia akan mengetahui langkah terdekat yang harus dilakukan untuk memperoleh keadaan yang lebih baik. Mengukur dengan baik keadaan diri dalam peta jalan itu hanya dapat dilakukan bila seseorang selalu memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah.

Tumbuhnya Akal

Dalam perjalanannya, setiap orang hendaknya menyadari kebutuhannya terhadap kitabullah Alquran. Kebutuhan itu akan menumbuhkan akal. Kebutuhan itu bisa muncul pada setiap keadaan, baik dalam keadaan masih terikat kepada dunia maupun ketika telah mengetahui keadaan langit dirinya. Berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan meraba-raba maknanya tidaklah berbahaya dan tidak menjadi suatu dosa bagi seseorang selama tetap memohon ampunan Allah dan bertaubat, walaupun kandungan yang sebenarnya dari kitabullah Alquran tidak tersentuh kecuali oleh hati yang disucikan. Upaya memahami demikian akan menyuburkan kebutuhan diri seseorang terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Hanya saja perlu dijaga agar ia tidak melepaskan diri dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah.

Yang berbahaya dari upaya memahami demikian adalah terlepasnya diri dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Bahaya ini tidak hanya berlaku bagi manusia yang masih melekat pada dunia. Setinggi apapun kedudukan yang dicapai manusia yang berusaha memahami, ia akan tertimpa bahaya manakala terlepas dari memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Mengikuti bacaan seseorang yang mengetahui akan memudahkan seseorang memahami kitabullah, tetapi bisa berbahaya manakala orang yang mengikuti atau diikuti melepaskan diri dari memohon ampunan dan bertaubat. Karenanya, setiap orang harus tetap memohon ampunan bagi dirinya sendiri dan bertaubat, memeriksa setiap potensi kesalahan yang mungkin terjadi baik karena dirinya ataupun yang datang dari orang lain.

Hal yang sedikit berbeda berlaku terhadap petunjuk yang diturunkan langit karena tazkiyatun-nafs. Petunjuk demikian tidak boleh dicari-cari sendiri maknanya manakala seseorang masih dalam keadaan terikat pada aspek duniawi. Mereka harus mencari maknanya melalui syaikh yang membimbing mereka. Akan tetapi seseorang boleh menggunakan petunjuk itu untuk mengungkap tuntunan kitabullah Alquran, tanpa mencari makna petunjuknya berdasarkan Alquran. Kebutuhan dirinya terhadap kitabullah Alquran boleh dipenuhi dengan berlandaskan petunjuk yang diturunkan, akan tetapi makna petunjuk itu tidak boleh dicari-cari sendiri sekalipun melalui Alquran. Hendaknya ia tidak memperalat kitabullah Alquran untuk mencari pembenaran petunjuk, karena petunjuk yang paling utama adalah kitabullah Alquran, tidak sebaliknya.

Walaupun demikian, akal setiap orang harus berkembang untuk dapat memahami makna dari hujan deras yang diturunkan langit atas perintah Allah. Manusia tidak boleh mensia-siakan akalnya. Manakala suatu proses tazkiyatun nafs tidak menjadikan seseorang berproses untuk bisa memahami pengetahuan yang diturunkan langit atas perintah Allah, ada yang keliru dalam proses tazkiyatun nafsnya. Fundamen tazkiyatun nafs berupa kesadaran dalam memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah perlu ditingkatkan lagi. Demikian pula kebutuhan akan tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW perlu ditingkatkan. Manakala seseorang tidak berani menggunakan akalnya untuk berusaha memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena takut salah, maka ia sebenarnya tidak membangun kesadaran untuk memohon ampunan Allah dan bertaubat. Hal itu menjadi pangkal masalah dan mereka sebenarnya tidak mengetahui makna memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah.

Kurangnya kesadaran dalam memohon ampunan Allah dan bertaubat sebagai fundamen dapat menyebabkan banyak masalah pada setiap lapisan manusia. Seseorang bisa menjadi berpikiran menyimpang dari pemikiran manusia dan menyimpang dari tuntunan Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala penyimpangan mereka tidak terlihat secara jelas, mempunyai bentuk lahiriah yang sama hanya tidak menyentuh makna yang dikehendaki Allah sesuai firmannya, kemudian hal itu menjadi hijab mereka terhadap kebenaran. Tidak sedikit orang-orang demikian menjadi orang-orang yang bodoh tidak mampu menggunakan akal. Mereka mungkin menyangka bahwa mereka orang yang paling memahami sedangkan Allah tidak menghendaki pemahaman demikian. Manakala suatu kebenaran dibacakan, mereka tidak mengenali kebenaran itu. Hal itu menunjukkan kurangnya kesadaran memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Akal yang memahami kitabullah menjadi dasar bagi seseorang memahami hujan deras dari langit. Pemahaman terhadap hujan deras pengetahuan yang diturunkan dari langit akan dipahami seseorang manakala ia dapat menyentuh kandungan ayat-ayat Allah sebagai orang yang disucikan dengan akal yang cukup kekuatannya. Para syaikh mempunyai ilmu untuk menjelaskan makna hujan deras bagi semua murid-muridnya, tetapi bagi kebanyakan orang pemahaman itu berlaku secara personal atau berlaku terbatas pada kalangan tertentu, tidak untuk menerangkan tentang hujan yang diturunkan kepada orang lain secara umum. Seorang isteri merupakan bagian dari suaminya sehingga kebanyakan hujan deras yang diturunkan kepada isteri seringkali merupakan petunjuk bagi suaminya pula sehingga suaminya dapat memahami makna petunjuk itu. Sekiranya pasangan itu berjalan seiring, mereka dapat membicarakan bersama-sama. Barangkali tidak semua petunjuk merupakan petunjuk bersama, maka suatu petunjuk tertentu mungkin perlu disimpan sendiri, tetapi perlu disadari bahwa hujan deras yang diturunkan langit itu harus digunakan untuk memakmurkan bumi dengan tumbuhnya tanaman di bumi, tidak hanya untuk disimpan secara sia-sia. Tumbuhnya tanaman itu adalah pertumbuhan nafs yang seringkali berproses secara berpasangan.

Perempuan Shalihah

Pemakmuran bumi akan terwujud melalui orang-orang yang mempunyai kesadaran memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Mereka akan diberi perhiasan dalam kehidupan dunia yang mempunyai ajal tertentu ini. Terwujudnya perhiasan duniawi ini sebenarnya terkait pula dengan fadhilah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, dan tidak semua orang yang memohon ampunan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh memperoleh perhiasan duniawi demikian. Ada amr-amr Allah terkait dengan kehidupan duniawi yang harus diperhatikan oleh orang yang bertaubat agar hasil-hasil duniawi menjadi nyata.

Terwujudnya perhiasan demikian akan mengikuti perhiasan yang terbaik berupa wanita shalihah. Perempuan shalihah merupakan perhiasan yang terbaik bagi dunia khususnya bagi suaminya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a, ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
لدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Kedudukan perhiasan demikian tidak menunjukkan kedudukan rendah sebagaimana harta benda dunia, tetapi menekankan perkara pentingnya manusia menunjukkan kebenaran dari sisi Allah bagi makhluk hingga dalam wujud duniawi. Kasih sayang Allah harus ditunjukkan hingga tingkatan duniawi, tidak hanya dalam tataran langit. Bagaimanapun manusia adalah makhluk bumi yang membutuhkan performa-performa duniawi, tidak hanya hubungan secara vertikal. Kualitas akhlak mulia yang terbina dalam diri manusia akan dapat ditampilkan ke wujud duniawi sebagai perhiasan manakala seseorang bersanding dengan perempuan shalihah.

Kedudukan perempuan sebagai perhiasan terbaik sebenarnya termasuk dalam induk dari perhiasan-perhiasan. Bahwa perhiasan-perhiasan akan terwujud mengikuti perempuan shalihah. Dalam istilah lainnya, perempuan dikatakan sebagai tiang negara. Pembangunan suatu bangsa tidak dapat dilakukan hanya dengan membina kaum laki-laki, karena potensi mereka akan terpendam tanpa kaum perempuan yang terbina dengan benar. Hal ini terkait dengan fungsi mereka dalam kelahiran potensi-potensi umat manusia ke alam dunia. Kelahiran seorang bayi merupakan gambaran paling mewakili dari fungsi perempuan, tetapi sebenarnya fungsi demikian tidak terbatas pada kelahiran seorang bayi. Seluruh potensi yang tersimpan pada manusia dapat dilahirkan oleh kaum perempuan, baik potensi pada diri suami ataupun anak-anak mereka. Manakala para perempuan tidak dibina dengan sebaik-baiknya untuk dapat melahirkan potensi yang ada pada kaum laki-laki, maka suatu bangsa akan runtuh.

Di dunia, tidak semua hal yang baik dapat diterima oleh umat manusia. Sangat banyak nabi dan rasul yang didustakan oleh umat mereka. Tentu para rasul itu menyeru pada kebaikan, tidak menyeru pada keburukan, tetapi seruan itu tidak diterima oleh umat mereka. Demikian pula kebaikan-kebaikan yang dikenal oleh para hamba Allah tidak jarang tidak dapat terlahirkan ke alam dunia karena keadaan umat. Untuk memudahkan kelahiran kebaikan-kebaikan dalam diri seorang hamba Allah ke alam dunia, ada urusan-urusan yang harus diperhatikan. Yang paling utama diperhatikan adalah peran perempuan sebagai ibu bagi potensi-potensi yang seharusnya dilahirkan dari para laki-laki.

Terlahirnya perhiasan dunia bagi hamba-hamba yang memohon ampunan Allah dan bertaubat akan terwujud bersama dengan terlahirnya potensi mereka ke alam dunia setelah mereka menyerap hujan deras dari langit yang diturunkan atas perintah Allah. Perhiasan dunia demikian ini merupakan perhiasan yang hasan, bukan perhiasan dunia yang bersifat merongrong ketenteraman hati manusia. Mereka memperoleh perhiasan dunia karena memberikan pula manfaat yang besar kepada masyarakat, maka masyarakat akan menghormati perhiasan-perhiasan dunia yang mereka peroleh, tidak membenci perhiasan dunia yang demikian. Manusia dapat mengusahakan perhiasan dunia dengan bermacam cara, tetapi bila cara yang digunakan tidak benar, perhiasan dunia demikian tidak bersifat hasan. Mungkin ada orang lain merasa dirugikan atau iri hati hingga berbuat tidak baik kepada pemilik perhiasan, dan perhiasan itu mungkin tidak memberi manfaat bagi orang lain. Selain baik di mata manusia, perhiasan yang hasan adalah perhiasan yang baik dalam pandangan Allah. Perhiasan yang tidak baik di mata Allah bukanlah perhiasan yang hasan, sekalipun mungkin dipandang baik oleh manusia.