Pencarian

Selasa, 03 Februari 2026

Dasar Pembinaan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Akhlak mulia harus dibentuk sedemikian seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Pemahaman terhadap ayat Allah harus dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Suatu pemahaman dapat diuji dengan cara ini, untuk menentukan apakah suatu pemahaman terhadap tuntunan Allah telah bersifat benar atau tidak tepat. Kadangkala dijumpai kaum yang tidak memandang baik kehidupan yang baik di dunia, maka hal itu merupakan pandangan yang tidak tepat dalam mengikuti tuntunan Allah. Memang seringkali dijumpai manusia berlomba dalam kehidupan dunia hingga melanggar ketentuan Allah tanpa mengetahui kehidupan yang baik, tetapi sebenarnya ada bentuk kehidupan yang baik di dunia yang harus terlahir melalui pemahaman terhadap kehendak Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Pengetahuan demikian hanya dapat dibangun dengan pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.

Itu adalah pokok dari keharaman yang ditentukan bagi manusia. Apabila ketentuan-ketentuan haram di atas tidak diperhatikan oleh manusia, pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah akan menyimpang. Penyimpangan dalam pemahaman itu dapat mendatangkan madlarat terhadap kehidupan umat manusia ataupun kehidupan beragama orang-orang beriman. Mungkin saja kehidupan masyarakat menjadi kacau dan perhatian muslimin terhadap masalah itu tidak memadai. Banyak contoh kasus yang dapat terjadi. Penegak hukum menegakkan hukum tanpa mengerti keadilan dimana hukum hanya dijadikan permainan orang yang kuat. Nusantara negeri yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya sulit untuk sejahtera, dan kaum muslimin tidak mengetahui masalah yang terjadi. Kadang ada orang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran untuk melaksanakan perintah Allah mengikuti waham sendiri. Ini merupakan kesalahan pemahaman tentang perintah Allah. Hal demikian bisa menjadi contoh-contoh kasus yang bisa terjadi sebagai dampak dari penyimpangan dalam memahami tuntunan Allah. Sebagian muslim mungkin tidak memahami tuntunan, dan sebagian mungkin memahami tuntunan secara keliru. Seandainya orang beriman memahami tuntunan Allah dengan benar secara berjamaah, masalah-masalah yang buruk di masyarakat seharusnya dapat dihindarkan. Sebenarnya tuntunan Allah terhadap mukminin meliputi permasalahan demikian dan tugas orang beriman adalah mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang baik dengan memahami dan mengikuti tuntunan dengan benar.

Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar dengan hanya mengatakan perkataan yang benar tentang segala sesuatu dari sisi Allah dengan pengetahuan. Muslimin dituntut untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dengan pengetahuan, dan dilarang untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan. Ini adalah tuntutan terhadap setiap muslim dalam bertauhid. Hal ini juga mencegah manusia agar tidak mudah ditipu syaitan.

Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah menjelaskan segala sesuatu tentang kebenaran dari sisi Allah dengan sempurna, dan seluruh perkataan dari kedua tuntunan itu adalah benar tidak ada yang keliru. Walaupun demikian, mungkin saja terjadi kesalahan pada diri orang-orang yang berusaha memahaminya atau orang yang menyampaikannya. Kaum muslimin sebenarnya tidak diperbolehkan membuat-buat perkataan terkait dengan kitabullah Alquran. Ini merupakan tuntutan agar seseorang mengatakan sesuatu dari Alquran dengan pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah, tidak mengatakan sesuatu darinya berdasarkan pemikiran sendiri. Membahas kandungan Alquran saja tanpa komitmen untuk berbuat kebaikan berdasar cahaya Allah tidak akan menjadikan manusia mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Pengetahuan selaras dengan kehendak Allah itu hanya diketahui oleh orang yang mempunyai komitmen kepada Allah untuk menyiarkan kemuliaan dari cahaya kitabullah Alquran setelah membina dirinya sebagai misykat cahaya membentuk akhlak mulia.

Kaum muslimin hendaknya juga berhati-hati dalam mengikuti perkataan tentang Allah agar tidak teerjebak mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Setiap orang hendaknya memperhatikan kebaikan dari perkataan-perkataan tauhid yang mereka ikuti, tidak bermudah-mudah untuk meyakini suatu perkataan berasal dari Allah tanpa berharap kepada Allah untuk memberikan pemahaman yang selaras dengan kehendak-Nya. Ini bukan sebuah larangan mengikuti penjelasan dari orang lain, tetapi hendaknya setiap orang tidak melupakan harapan kepada Allah untuk memberikan pemahaman selaras dengan kehendak-Nya, tidak terjerumus mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak pula terlarang bagi seseorang untuk mengikuti kebenaran yang bersifat relatif parsial selama ia tidak menutup diri dari pemahaman terhadap kebenaran yang lebih baik. Nabi Ibrahim a.s telah mencontohkan sikap hanif dalam mengenal Allah, walaupun muslimin jaman ini tidak perlu terlalu jauh melangkah dengan menyembah benda-benda.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen mengenal kebaikan dari sisi Allah untuk berbagi kepada orang lain sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan.

Selain kaum khawarij, ada kelompok lain di antara kaum muslimin yang bermudah-mudah mengatakan sesuatu yang ada pada mereka sebagai kehendak Allah. Apa-apa yang melintas dalam persepsi indera mereka kemudian dipandang sebagai kehendak Allah tanpa berusaha mengetahui kedudukannya secara tepat dalam urusan Allah sebagaimana telah dicantumkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak pula mereka memikirkan akibat buruk dari apa yang mereka pandang sebagai perintah Allah. Tidak jarang sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula sebagai perintah Allah. Perkataan demikian itu termasuk sebagai perkataan tentang Allah tanpa landasan pengetahuan, dan hal itu merupakan hal yang diharamkan Allah. Di antara kelompok demikian itu adalah para ahli bid’ah yang mengerjakan banyak urusan-urusan tanpa memperhatikan urusan Rasulullah SAW.

Sikap para ahlul bid’ah akan mengganggu upaya Al-Jamaah. Orang-orang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW yang harus diwujudkan pada ruang dan jaman mereka adalah bagian dari Al-jamaah. Kaum muslimin ahlul bid’ah mungkin akan melakukan usaha tanpa arah yang tepat karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian sumber daya kaum muslimin akan tersedot melakukan upaya tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin meninggalkan usaha Al-Jamaah untuk mewujudkan urusan mereka sendiri. Bukan tidak mungkin pula mereka menghalangi atau menghancurkan usaha Al-jamaah sedangkan mereka memandang diri mereka melaksanakan urusan Allah. Keadaan ini bisa menjadi kuncian bagi mukminin yang tidak ingin terjebak kekacauan perselisihan, dimana mukminin hanya bisa menjauh. Hal demikian terjadi disebabkan menyimpangnya pemahaman terhadap kehendak Allah karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam bentuk perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Untuk memahami dengan tepat kehendak Allah, setiap orang harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah.

Mencari Pengetahuan Melalui Urusan Allah

Mengumpulkan pengetahuan tentang Allah bukanlah perkara mudah. Allah Maha Tinggi sedangkan manusia berada di alam bumi yang rendah. Demikian pula menyampaikan kepada manusia perkataan tentang Allah berdasarkan pengetahuan bukanlah perkara mudah. Sekalipun demikian selalu ada jalan bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah. Allah memperkenalkan diri kepada manusia melalui berbagai urusan yang harus ditunaikan manusia hingga di alam dunia. Pengetahuan tentang Allah itu dapat diperoleh manusia dengan berusaha mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing.

Setiap urusan Allah diturunkan melalui Rasulullah SAW dalam wujud kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan urusan Allah itu bisa membuahkan urusan-urusan yang banyak bagi setiap manusia. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan yang harus dikerjakan dirinya melalui pengenalan terhadap urusan Allah. Mengenal urusan Allah dan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman menjadi jalan yang lebih aman bagi setiap mukmin untuk mengenal urusan diri sendiri, tidak sebaliknya. Kadangkala suatu kaum mengerjakan urusan-urusan sendiri yang mereka pandang baik disertai sikap mengabaikan seruan untuk melaksanakan urusan Allah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka itu akan menjadi golongan ahli bid’ah. Seringkali akan ditemukan adanya hal-hal yang diharamkan Allah dalam upaya mereka melaksanakan urusan. Orang yang ingin mengenal urusan dirinya hendaknya mencari pengenalannya melalui kepedulian terhadap urusan Rasulullah SAW, yaitu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersamaan dengan memperhatikan kauniyah diri mereka. Pengetahuan terkait perkatan tentang Allah selalu mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berupa pengetahuan tentang keutamaan diri sendiri saja.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Urusan Allah yang hendak Dia perkenalkan tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Kadangkala seorang muslim keliru dalam membuat batasan tentang urusan Allah. Mungkin saja ada muslim yang membatasi perintah Allah hanya dalam urusan-urusan tertentu terutama terkait dirinya saja, melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai batasannya. Ketika ada orang lain mengerjakan urusan yang tidak benar-benar terkait dirinya, ia tidak memandang orang tersebut mengerjakan urusan Allah. Kadangkala seseorang tidak dapat mengenali washilah dirinya karena pembatasan keliru yang dilakukannya, memandang dirinya puncak dari urusan mengabaikan urusan Rasulullah SAW. Membatasi urusan Allah itu mungkin benar manakala seseorang merupakan pemangku urusan jamannya semisal khalifatullah Al-Mahdi. Seringkali orang keliru mengenal batasan urusan Allah. Hal itu bisa jadi disebabkan karena mungkin seseorang tidak benar-benar mengetahui urusan Allah bahkan bagi dirinya, dimana pengetahuan tentang urusan dirinya pun mungkin masih menyimpang dari tuntunan kitabullah. Pemangku urusan jaman yang benar akan menunjukkan urusan-urusan Allah kepada manusia berdasar ayat Allah, bukan membatasi urusan umat dalam batas urusan dirinya saja. Ia mengetahui batas urusan Allah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kekeliruan batasan urusan Allah bisa juga terjadi dengan bentuk membatasi urusan Allah hanya pada urusan yang dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya saja. Kaum demikian membatasi pemahaman menurut kaum salaf saja tidak menyadari bahwa kitabullah merupakan pedoman sepanjang masa. Mereka memandang urusan Allah hanya dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, dan selanjutnya umat islam diseret dalam perselisihan dalam ketelitian dalam melaksanakan ibadah mahdlah diajak bersaing dengan tatacara Dzulkhuwaisirah melaksanakan ibadahnya. Mereka tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW dengan hati yang jernih dan justru mencegah manusia untuk mengenal urusan yang seharusnya ditunaikan sebagai langkah mengikuti Rasulullah SAW.

Minggu, 01 Februari 2026

Tauhid dan Washilah Kepada Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus ditempuh oleh umat Rasulullah SAW dengan pembinaan dalam diri, dimulai dari keadaan yang tercerai berai menuju keadaan yang mengarah pada penyatuan terhadap kehendak Allah. Banyak orang yang merasa mengikuti tuntunan Allah tetapi sebenarnya hanya mencomot potongan-potongan kebenaran tanpa melangkah menuju penyatuan terhadap kehendak Allah. Seringkali orang-orang demikian merasa sebagai orang-orang yang benar atau membawa kebenaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka justru berbuat kerusakan yang besar dengan waham mereka sendiri tanpa menyadari kerusakan yang mereka lakukan. Orang-orang demikian tidak mengikuti langkah tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para rasul yang lain. Yang mengikuti langkah bertauhid adalah orang yang berusaha mengetahui kehendak Allah dan melaksanakannnya, bukan orang yang mengaku mengikuti.

Arah proses yang harus dijadikan pedoman dalam mengikuti langkah tauhid Rasulullah SAW dan khalilullah Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bentuk bayt demikian adalah keluarga yang bersatu dalam mewujudkan kehendak Allah di bumi layaknya langkah keluarga nabi Ibrahim a.s beserta siti Hajar dan Ismail meninggikan pondasi baytullah. Hanya orang-orang yang mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah saja yang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang atau suatu kaum hanya mengikuti contoh tanpa mengetahui arah melangkah, mereka sebenarnya belum mengikuti Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang atau suatu kaum melakukan kebaikan-kebaikan tetapi juga melakukan perusakan terhadap bayt atau pernikahan di antara mereka dan kemudian menyangka telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hal demikian menunjukkan rusaknya langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebaikan mereka hanya pada kulitnya saja, tetapi inti dari agama mereka justru rusak.

Inti dari pembinaan bayt dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pembinaan Al-Arham (الْأَرْحَامَ). Penyatuan diri seseorang terhadap kehendak Allah terjadi melalui penyatuan al-arham yang tumbuh dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim, salah satu dari asma Allah yang tertinggi.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Karena itu pernikahan merupakan sasaran utama pembinaan manusia dalam bertauhid. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim.

Memahami Kebenaran Secara Utuh

Banyak orang yang ingin membina tauhid dalam dirinya akan tetapi tidak memperoleh jalan untuk mengenal tauhid yang terbaik. Sebagian orang membina tauhid dengan membentuk imajinasi dalam pikiran mereka tentang Allah. Sebagian orang melangkah membina diri untuk memahami kehendak Allah akan tetapi tidak selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Sebagian manusia hanya mengikuti perkataan orang lain tanpa keberanian mengikuti kebenaran. Setiap orang demikian mungkin melakukan proses tauhid dengan membaca kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi tidak benar-benar memahami pembinaan yang sebaik-baiknya. Keinginan membina tauhid itu sendiri merupakan sesuatu yang berharga dalam diri setiap orang, akan tetapi seringkali hawa nafsu atau kebodohan mengalahkan keinginan baik itu. Seringkali seseorang yang berusaha bertauhid terjebak merasa menjadi orang yang paling benar tanpa mengetahui kebodohan dirinya. Banyak orang tergelincir justru mengikuti syaitan karena merasa tinggi dengan ilmu yang dikumpulkan. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan dengan utuh.

Utuhnya pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan terjadi manakala mereka berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Maksud dari utuhnya pemahaman adalah benarnya pemahaman terhadap tuntunan sedemikian pemahaman yang terbentuk tidak mengandung potensi merusak, bukan tuntutan tentang sempurnanya pemahaman terhadap kehendak Allah. Utuhnya pemahaman ini hendaknya diperhatikan dengan benar-benar berusaha memahami kebaikan dari ilmu. Ilmu yang benar itu akan mendatangkan kebaikan bukan suatu waham kebenaran saja. Manakala suatu pengetahuan terlihat mendatangkan kerusakan, hal itu bukan ilmu yang benar. Manakala suatu pengetahuan belum terlihat kebaikannya, pengetahuan itu belum menjadi ilmu. Suatu pengetahuan menjadi ilmu yang benar apabila seseorang melihat kebaikan dalam ilmu itu. Hendaknya diperhatikan bahwa hasil penilaian seseorang terhadap pengetahuan akan sangat dipengaruhi akhlak masing-masing tidak dapat dipersamakan nilai suatu pengetahuan antara satu orang dengan orang lain.

Tidak jarang seseorang merasa sebagai orang yang benar tetapi sebenarnya hanya prasangka saja karena ia tidak memperhatikan keutuhan pemahamannya. Seseorang mungkin saja mempunyai cara pandang yang salah tanpa menyadarinya, dan hal itu wajar saja terjadi pada banyak orang. Akan tetapi hal itu akan menjadi suatu yang berbahaya manakala orang tersebut memandang kesalahan itu sebagai kebenaran. Seseorang akan sulit kembali kepada kebenaran manakala kesalahan dipandang sebagai kebenaran, sedangkan prasangka dalam intensitas demikian seringkali menjadi kendaraan syaitan untuk mendatangkan kerusakan. Setiap orang hendaknya memperhatikan keutuhan kebenaran yang mereka ikuti agar tidak terjebak pada kebenaran parsial yang berbahaya, dan hal itu lebih mudah dilakukan dengan memperhatikan arah berupa terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang tidak harus merasa takut mengikuti kebenaran sekalipun baru parsial, akan tetapi harus disertai kemampuan untuk menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Manakala seseorang tidak mampu menyadari kesalahan, ia akan mudah dimanfaatkan syaitan.

Mencari kebenaran harus dilakukan dengan menggunakan akal secara setimbang. Kebenaran mungkin akan ditemukan manusia yang mencarinya dalam berbagai bentuk yang bercampur-campur bahkan dengan kebathilan dan setiap diri harus memilah antara kebenaran yang ada dengan sesuatu yang salah. Hal ini harus dilakukan dengan setimbang, tidak membuang sepenuhnya kebenaran karena adanya kebathilan atau tidak menghakimi suatu kesalahan secara berlebihan dari kesalahan yang terjadi. Tindakan demikian akan menambah kekuatan akal. Manakala seseorang mengikuti orang lain secara membuta tanpa berusaha memahami kebaikan pada langkah yang diikuti, mereka tidak akan menjadikan akalnya kuat dalam memahami kebenaran sekalipun jika langkahnya benar. Tidak jarang orang demikian terjemurus pada kerusakan. Demikian pula manakala seseorang bersikap berlebihan menolak kebenaran karena adanya kesalahan di dalamnya, atau menghakimi secara berlebihan tanpa melihat kedudukan kesalahan itu, akal mereka akan tetap lemah dalam memahami kehendak Allah. Orang demikian seringkali mudah menghakimi orang lain salah tanpa mengetahui kesalahannya, dan itu adalah kebodohan.

Kerusakan oleh orang-orang yang salah dalam membina tauhid akan semakin besar manakala mereka tidak menyadari kesalahannya. Bentuk-bentuk yang diharamkan Allah harus diperhatikan oleh orang yang membina tauhid karena hal-hal yang diharamkan itu akan merusak tauhid mereka. Wajar saja bila seseorang salah dalam perjalanan mereka membina tauhid, tetapi sikap mereka terhadap kesalahan akan berpengaruh terhadap akibat yang timbul. Akibat dari hal itu akan dipengaruhi sikap mereka terhadap kesalahan yang diperbuat. Orang yang melakukan kesalahan dengan suatu kesungguhan iktikad menganggap kesalahannya sebagai perintah Allah akan mendatangkan kerusakan yang paling besar. Apabila seseorang melakukan kesalahan dan menyadari kesalahannya serta berusaha menghindari kesalahan yang sama, ia mungkin tidak menimbulkan kerusakan karena Allah menutupi kesalahannya. Manakala seseorang atau suatu kaum tidak mengarahkan kehidupan mereka untuk sungguh-sungguh mengikuti Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sistem kesadaran mereka terhadap kesalahan yang terjadi akan lemah.

Mengetahui arah itu akan memudahkan untuk melihat jalan dan menyadari kesalahan. Yang paling penting bagi setiap orang adalah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang yang merasa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan mereka tidak mengetahui maksud dari tuntunan tersebut. Orang demikian kadangkala membantah ketika diberitahu kesalahan mereka dan mungkin mereka menguatkan diri dengan meminta pendapat orang lain tentang kebenaran diri mereka, sedangkan yang dimintai pendapat juga tidak mempunyai pemahaman. Hal demikian akan mendatangkan kebodohan yang menguat di masyarakat, merasa benar dengan kebodohan sendiri. Setiap orang harus berusaha melangkah mengikuti Rasulullah SAW dengan arah yang benar, tidak hanya meniru contoh tanpa mengarah pada tauhid yang benar. Arah akhir yang benar itu adalah terbentukya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Lurusnya Al-Arham

Bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pasangan suami dan isteri yang membina al-arham dalam diri mereka hingga terhubung pada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Tauhid hakiki akan diketahui seseorang manakala seseorang terhubung kepada Ar-Rahim. Terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim terjadi melalui pertumbuhan Al-arham. Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Pertumbuhan al-arham itulah yang akan menyambungkan seseorang terhadap Ar-Rahim.

Pembinaan bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dibina dengan memahami tuntunan Allah melalui pernikahan. Pembinaan pernikahan demikian itu harus dilakukan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan Allah. Ada hal-hal yang diharamkan yang harus diharamkan berupa kekejian (al-fakhsya’) baik yang dzahir ataupun yang bathin, permusuhan (al-baghyu), dosa-dosa, kesyirikan dan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Apabila ketentuan-ketentuan itu tidak diperhatikan, manusia tidak akan dapat membina tauhid dengan benar untuk menuju penyatuan al-arham dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim. Apabila al-arham dalam diri mereka tumbuh, ia tidak akan terhubung terhadap Ar-Rahim dan mungkin akan ditunggangi atau terhubung pada entitas lain di langit yang jahat. Sekalipun tampak baik, langkah mereka sangat mungkin akan mendatangkan kerusakan yang besar karena tidak taatnya seseorang dalam membangun pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pembinaan untuk mengenal Allah harus dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan, karena hal yang haram menumbuhkan kerusakan dalam pengenalan kepada Allah. Sangat banyak kerusakan bisa terjadi karena hal yang diharamkan sedangkan manusia tidak menyadari kerusakan yang dilakukan. Setiap orang harus tumbuh akalnya untuk memahami keburukan dalam hal yang diharamkan Allah. Ada keburukan dalam hal yang haram yang secara umum diketahui manusia tanpa perlu pemberitahuan, walaupun mungkin saja menjadi terlihat rumit pada sebagian manusia. Sebagian keburukan hal yang haram baru diketahui manusia apabila menggunakan akal. Misalnya dalam perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, seringkali manusia memandang baik perkataan demikian karena tampak layaknya perkataan yang memperkenalkan Allah pada makhluk, tetapi mungkin sebenarnya mendatangkan keruwetan logika berpikir dan merusak kemampuan akal. Demikian pula manakala seseorang menemukan suatu perkataan atau tindakan yang menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang benar atau beriman, perkataan itu tidak boleh dipersepsi sebagai perintah Allah sekalipun dikatakan kepadanya bahwa itu perintah Allah. Setiap orang harus memahami bahwa Allah tidak menghendaki permusuhan antara manusia. Pernyataan sebagai perintah Allah demikian itu merupakan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Membangun kesadaran tentang hal ini membutuhkan tumbuhnya akal. Setiap orang harus menjauhkan diri dari apa yang diharamkan Allah dalam membina pengenalan kepada kehendak Allah.

Ujung dari pembinaan yang harus dijadikan tujuan adalah terhubungnya seseorang kepada Ar-Rahiim dengan menumbuhkan Al-arham dalam dirinya. Pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan representasi pembinaan al-arham yang paling utama. Seseorang dapat memulai setengah pembinaan agama dirinya dengan melakukan pernikahan, dan pembinaan itu dapat dilakukan seterusnya hingga seseorang mampu menunaikan agamanya secara utuh. Pembinaan melalui pernikahan mencakup pembinaan agama dari awal hingga tercapainya tujuan beragama, sedangkan terkandung di dalam proses pernikahan itu pengajaran-pengajaran yang banyak hingga seseorang memahami urusan Allah dengan utuh. Manakala seseorang berbangga dengan pencapaian pengajaran-pengajaran secara parsial tanpa mengarahkan pembinaan menuju ujung sasaran yang harus dicapai, ia akan mudah tersimpangkan oleh syaitan dengan kebanggaannya. Kadangkala seseorang mengabaikan kebenaran karena kebanggaannya, sedangkan ia belum benar-benar bertauhid berupa tersambungnya washilah kepada Ar-Rahim.

Tanda dari terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s sebagai dua uswatun hasanah hingga ia mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Hal ini tentu saja harus disertai dengan kesadaran tentang pentingnya mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan uswatun hasanah dengan benar. Seseorang yang bersaksi kedudukan uswatun hasanah tetapi tidak memahami atau bahkan merusak langkah yang dicontohkan uswatun hasanah menunjukkan dirinya tidak mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Mungkin saja sebenarnya ia justru terlempar jauh dari Al-jamaah tanpa menyadarinya. Orang yang mengenal kedudukan dua uswatun hasanah akan berusaha mewujudkan tuntunan uswatun hasanah, bukan mewujudkan keinginan diri sendiri.