Pencarian

Jumat, 06 Februari 2026

Bid'ah dan Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen kebaikan sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang ditipu dengan konsep tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin.

Munculnya Perbuatan Bid’ah

Selain tipuan oleh kaum musyrikin, kaum mukminin harus berhati-hati terhadap tipuan yang dibuat oleh syaitan secara langsung. Syaitan menggunakan perkataan-perkataan tentang Allah untuk menipu manusia, sedemikian orang-orang yang beriman dapat tertipu dengan perkataan itu. Syaitan bisa hadir ke hadapan manusia yang beriman dengan wujud yang indah dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah tuhan yang harus disembah. Itu salah satu contoh perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan yang digunakan syaitan untuk menipu. Orang yang mengenal Allah akan mengenal bahwa Allah memperkenalkan dirinya dalam suatu tajalli asma-Nya, tidak dengan cara syaitan yang sangat penipu. Tidak hanya demikian, syaitan bisa menipu manusia dengan perkataan-perkataan tentang Allah yang mungkin akan tampak baik dalam pandangan manusia yang tidak mempunyai pengetahuan. Mereka membuat perkataan-perkataan yang diada-adakan.

dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah SAW biasa memulai khutbah mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867, Sunan Ibnu Majah no.44)

Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah Alquran. Kitabullah menceritakan segala sesuatu dari sisi Allah dengan cara yang paling baik, sempurna dan tidak ada kesalahan di dalamnya, walaupun mungkin kebanyakan manusia tidak mengetahui tingkat kebaikannya. Orang yang mengetahui kebenaran dari sisi Allah akan mengetahui tingkat kebaikan dalam perkataan yang dikandung kitabullah Alquran. Barangkali mereka dapat membuat perkataan-perkataan yang selaras dengan apa yang dikatakan kitabullah Alquran tetapi tidak dapat menyampaikan dengan kesempurnaan, dan boleh jadi ada kesalahan dalam penyampaian dirinya. Mereka menyadari keterbatasan dirinya, dan dapat mengagumi cara berkata-kata kitabullah Alquran dengan keterbatasan dirinya.

Rasulullah SAW dapat menyampaikan dengan cara sebaik-baiknya petunjuk kepada manusia untuk memahami perkataan yang terbaik berupa kitabullah Alquran. Demikian pula orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW mungkin akan diberi kemampuan untuk menunjukkan kepada manusia cara memahami perkataan kitabullah Alquran, akan tetapi barangkali cara mereka menunjukkan tidak sebaik cara Rasulullah SAW menunjukkan. Rasulullah SAW selalu menunjukkan kepada manusia dengan tepat tanpa kesalahan, sedangkan orang lain tidak akan mampu melakukan cara tersebut karena keterbatasan ilmunya dan mungkin saja ia salah dalam menunjukkan. Walaupun demikian, mungkin saja seseorang mempunyai cara menunjukkan kebenaran kepada manusia secara terbatas, dalam batas-batas kemampuan dirinya.

Tidak semua orang menunjukkan kebenaran kepada manusia dengan benar. Ada orang-orang yang menunjukkan cerita tentang kebenaran dari sisi Allah kepada manusia tetapi sebenarnya tidak terhubung dan tidak mengarah untuk memahami perkataan kitabullah Alquran. Perkataan mereka itu hanya cerita-cerita yang dibuat-buat saja tentang Allah. Hendaknya setiap orang menghindari perkataan demikian. Manakala seseorang mencari pengetahuan tentang kebenaran dari sisi Allah, hendaknya mereka berpegang sepenuhnya pada kitabullah Alquran, dan tidak menganggap perkataan-perkataan yang mereka anggap baik sebagai kebenaran dari sisi Allah kecuali telah jelas hubungannya dengan firman Allah. Sekalipun demikian ia hendaknya berusaha memahami kebaikan pada kalimat yang disampaikan orang lain kepadanya, karena boleh jadi perkataan itu akan mengantarkannya memahami perkataan dari sisi Allah. Apabila perkataan yang disampaikan tidak diketahui kebaikannya, ia hendaknya tidak menjadikan perkataan itu sebagai petunjuk jalan. Sebenarnya syaitan juga membuat-buat perkataan tentang Allah dan mengajarkannya kepada manusia agar mereka mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum mukminin hendaknya tidak mengikuti bisikan-bisikan ke hatinya tentang sesuatu dari Allah sebelum ia mengetahui tuntunan Allah tentang perkara itu, dan tidak menganggap benar suatu perkataan yang dikatakan dari Allah sebelum ditunjukkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkara itu.

Berbahayanya suatu perkataan timbul manakala dikatakan bahwa perkataan itu terkait dengan Allah. Orang didorong untuk menghormati perkataan itu layaknya perkataan tentang Allah sedangkan Allah mungkin saja tidak menghendaki perkataan demikian. Orang yang mengenal dan mengikuti suatu kebenaran relatif tetapi tidak menganggapnya sebagai kebenaran dalam tingkat kebenaran dari sisi Allah bukan termasuk orang yang mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, yaitu apabila ia dapat memahami maksud perkataan, menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang dapat timbul dari perkataan kebenaran itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang tidak lagi dapat atau tidak boleh menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang mungkin timbul dari perkataan itu, mungkin ia sebenarnya telah menganggap perkataan itu sebagai perkataan tentang Allah sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan. Setiap orang harus bersikap membenarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW baik ia mengetahui atau tidak mengetahui kandungannya, dan harus menimbang perkataan yang lain dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengetahui bobot kebenarannya, tidak mengikuti secara membuta agar tidak terjebak pada perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu merupakan perkataan yang dibuat-buat, dan perkataan yang dibuat-buat itu merupakan bahan terwujudnya amal lahiriah sebagai perbuatan bid’ah. Perbuatan bid’ah dapat dijelaskan sebagai amal-amal yang dipandang sebagai bentuk amal mewujudkan kehendak Allah akan tetapi sebenarnya tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang mungkin berbuat baik tanpa mempunyai sebelumnya pengetahuan tentang amalnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi sebenarnya ada tuntunannya, maka amal tersebut bukan bid’ah. Demikian pula manakala seseorang beramal tetapi tidak memandang dirinya sebagai pelaksana bagi kehendak Allah, maka ia tidak berbuat bid’ah. Dengan kata lain, bid’ah terlahir karena memandang diri sebagai pelaksana urusan Allah tanpa landasan yang sah. Suatu bid’ah dilakukan dengan anggapan melaksanakan kehendak Allah sedangkan tidak ada tuntunan tentang hal itu. Bid’ah terlahir dari perkataan-perkataan yang diada-adakan tanpa mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Setiap orang akan memperoleh jalan mengenal amanah dirinya dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kitabullah dan kauniyah. Jauh lebih mudah bagi seseorang untuk mengenal amanah dirinya apabila menemukan wali mursyid yang menunjukkan cara memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi urusan setiap orang hanya akan dikenali seseorang manakala ia mengenali ayat Allah yang menjadi amanah dirinya. Peran wali mursyid itu tidak terbatas menunjukkan ayat-ayat yang menjadi amanah bagi murid-muridnya, tetapi juga membimbing tazkiyatun-nafs sebagai landasan memahami ayat-ayat Allah, serta menjaga para murid agar tidak menyimpang dari kehendak Allah. Kemampuan seseorang untuk mengenal amanah dirinya dari kitabullah akan muncul setelah melakukan tazkiyatun-nafs, karena itu sangat penting bagi seseorang untuk menempuh jalan tazkiyatun-nafs.

Orang-orang yang memahami amanah dirinya dari kitabullah dan melaksanakan amanah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak dikatakan berbuat bid’ah. Mungkin saja Allah menurunkan ilmu-ilmu yang baru dalam pandangan manusia tetapi sebenarnya merupakan penjelasan dari suatu ayat kitabullah tertentu, maka ilmu dan amal yang terwujud dari penjelasan itu tidak termasuk sebagai bid’ah. Urusan Allah tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Memperoleh penjelasan ayat kitabullah Alquran (al-bayaan) dan sunnah Rasulullah SAW berbentuk suatu keterbukaan tentang kandungan ayat kitabullah di alam kauniyah. Ia mengetahui keadaan alam kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan ia mengetahui amal-amal yang harus dilakukan untuk mensikapi keadaan kauniyah tersebut. Ia tidak mengalami keterbukaan seluruh keadaan alam kauniyah, tetapi hanya keadaan kauniyah terkait amal yang harus ia tunaikan di alam dunia. Tidak jarang keterbukaan itu disertai dengan turunnya kemampuan tertentu untuk beramal sesuai dengan kehendak Allah. Melaksanakan amal berdasarkan ilmu demikian tidak termasuk sebagai bid’ah. Benarnya suatu penjelasan ayat kitabullah ditunjukkan dengan tidak menyimpangnya pemahaman yang terbuka dengan bunyi ayat kitabullah yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW. Mungkin seseorang mengalami ketercampuran pengetahuan antara penjelasan ayat kitabullah yang diberikan dengan yang dikumpulkannya hingga salah ketika menjelaskan, tetapi penjelasan mereka tidak menyimpang dari ayat kitabullah.

Kadangkala seseorang mengalami keterbukaan akan tetapi menjadikannya cenderung menyangkal redaksi suatu ayat tertentu dari kitabullah. Ia memperoleh atau mempunyai penjelasan yang menyimpang atau berbeda dengan redaksi kitabullah. Keterbukaan demikian bukanlah keterbukaan sebagai penjelasan (al-bayaan) dari Ar-Rahman, tetapi justru perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak ada sedikitpun al-bayaan dari Ar-Rahman yang menyimpang dari bunyi ayat kitabullah, dan seluruh penjelasan yang dibukakan dapat dijelaskan dengan redaksi kitabullah Alquran. Amal-amal dari orang-orang mempunyai kecenderungan menyangkal redaksi ayat kitabullah demikian itu justru merupakan ciri paling nyata dari perbuatan bid’ah. Urusan-urusan yang mereka kerjakan sebenarnya tidak mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, hanya dibuat hubungannya  saja.

Amal dari pengetahuan demikian kadangkala terlihat baik, akan tetapi tidak dapat mengikuti Al-Jamaah dan justru menghalangi Al-jamaah dalam melaksanakan urusan Allah. Selisih penjelasan seseorang dari Al-bayaan demikian akan mendatangkan kerusakan yang besar, sekalipun perbuatan-perbuatan yang lain mungkin tampak baik. Selisih pengetahuan itu akan menyeret seseorang untuk berselisih dengan Al-Jamaah termasuk dalam amal-amalnya. Setiap pihak dalam perselisihan demikian akan memandang dirinya berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi sebenarnya ada yang menyimpang. Masalahnya bukan hanya adanya sedikit penyimpangan yang dapat diperbaiki, tetapi juga terkait dengan lurusnya pemahaman urusan Allah secara menyeluruh. Ketika ada bagian perkataan yang diada-adakan diikuti, sebenarnya ada peran syaitan yang membantu membangun perkataan yang mereka ikuti dengan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Orang yang melakukan bid’ah akan sulit melihat kebenaran secara utuh, atau sulit melihat kesalahan diri. Setiap orang harus kembali meneliti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkataan mereka dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Perbuatan bid’ah juga akan menimbulkan kesulitan bagi manusia dalam kehidupan di dunia. Jalan-jalan pemakmuran akan menyimpang sedemikian manusia akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai kebenaran yang diikuti manusia menjadi bengkok sedemikian mungkin saja orang yang benar dikatakan salah dan orang yang salah dikatakan benar, maka upaya untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baik akan menjadi sulit. Jalan-jalan untuk menumbuhkan kesejahteraan di alam dunia mungkin akan menjadi rusak karena perbuatan-perbuatan mengikuti bid’ah, dan para manusia yang seharusnya menjadi pemakmur bumi mungkin akan melaksanakan pemakmuran secara menyimpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar