Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.
Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.
﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)
Allah mengharamkan dosa ( الْإِثْمَ ) bagi umat manusia. Yang dimaksud dengan dosa ( الْإِثْمَ ) adalah sesuatu yang buruk yang menimpa atau tumbuh pada nafs manusia hingga nafs mendatangkan ketidaksukaan Allah. Dosa dapat terjadi karena perbuatan manusia, perkataan ataupun pikiran-pikiran yang salah baik hal itu terkait dengan akibat kepada orang lain ataupun hanya berakibat pada diri sendiri. Misalnya seseorang yang memakan bangkai barangkali tidak mendatangkan kerugian kepada orang lain, akan tetapi hal itu mendatangkan keburukan pada diri manusia itu dan keburukan itu mendatangkan ketidaksukaan Allah. Setiap manusia harus menjaga diri agar tidak terjatuh sebagai makhluk yang tidak disukai Allah.
Haramnya dosa terkait dengan kehendak Allah atas diri manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah dalam citra Ar-Rahman agar dapat berperan memberitakan kepada manusia tentang Ar-Rahman. Ada amal-amal yang ditentukan Allah bagi setiap manusia dan setiap orang hendaknya mengenal amal-amal yang ditentukan bagi dirinya dan melaksanakan amal-amal itu mengikuti arahan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersama dengan sahabat-sahabatnya dalam suatu Al-Jamaah. Langkah untuk mengenal amal-amal yang ditentukan bagi setiap diri manusia itu akan terbantu dengan ketentuan haramnya dosa, di mana orang yang mengenal dosa bagi dirinya akan berjalan di suatu pagar yang mengarahkan untuk mengenal diri.
Haramnya dosa ( الْإِثْمَ ) juga merupakan bentuk penjagaan agar umat manusia tidak merusak dirinya sendiri hingga tetap layak membentuk diri dalam citra Ar-Rahman. Manakala seseorang bermudah mengerjakan dosa, ia akan mengalami banyak kesulitan dalam membina diri memahami cahaya Allah sedemikian ia tidak dapat memberitakan tentang kehendak Allah kepada manusia yang lain tanpa kesalahan. Nafs mereka akan banyak melakukan pengingkaran tidak akan dapat tenang dalam membentuk zujajah yang berfungsi membentuk bayangan kehendak Allah.
Bersungguh-sungguh Mengenali Kebajikan dan Dosa
Dosa merupakan lawan dari kebajikan (اَلْبِرُّ). Dosa akan menghalangi manusia untuk mengenal kebajikan (al-birr) dan menjadikan manusia resah. Ciri dari dosa adalah ia mendatangkan keresahan dalam hati dan jiwa tidak dapat tenang, berkebalikan tanda dari kebajikan, yaitu mendatangkan ketenangan dalam hati dan jiwa merasa tenteram.
عَنْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَخْبِرْنِـيْ بِمَـا يَـحِلُّ لِـيْ وَ يَـحْرُمُ عَلَيَّ ؟ قَالَ : فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاْلإِثْمُ مَا لَـمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ الْـمُفْتُوْنَ
Dan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan apa saja yang halal dan haram bagiku.” Beliau mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tatapan yang serius bersabda, “Kebajikan ialah apa saja yang apa saja yang menjadikan jiwa berdiam dan hati menjadi tenteram. Dan dosa ialah apa saja yang menjadikan jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram kendati para pemberi fatwa berfatwa kepadamu.” [HR. Ahmad IV/228, ad-Daarimi II/245-246, Abu Ya’la no. 1583, 1584, dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr XXII/no. 40]
Jiwa yang tenteram adalah jiwa yang mempunyai daya tahan dalam menempuh atau melaksanakan sesuatu karena kecocokan nafs dengan sesuatu itu. Pada puncaknya, jiwa yang tenteram itu adalah mengenali nafs wahidah. Gambarannya sebagaimana orang yang menikah dimana setiap pihak mempunyai cara pandang kehidupan yang sama sehingga satu pihak dengan yang lain saling menguatkan langkah hingga terbentuk ketenteraman menghadapi tantangan dan badai kehidupan. Hati yang tenang menunjukkan tidak adanya keresahan dirinya karena sesuatu itu misalnya takut menghadapi masalah dan lain sebagainya. Terbentuknya jiwa yang tenteram dan hati yang tenang menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada suatu kebajikan (اَلْبِرُّ) sedangkan jiwa yang tidak tenteram dan hati yang resah menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada dosa (الْإِثْمَ).
Penjelasan Rasulullah SAW di atas hendaknya menjadi pedoman bagi manusia dalam mencari bentuk kehidupan yang ditentukan bagi diri masing-masing. Pengenalan terhadap dosa bagi diri sendiri merupakan pengarah bagi seseorang untuk mengenal amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dosa bagi dirinya maka ia akan bisa menghindari dosanya dan berusaha untuk mengenal kebajikan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal kebajikan bagi dirinya ia akan bisa melangkah menuju kebajikan yang digariskan Allah. Manakala seseorang mengenal dosa dan ia terus menempuh kehidupan yang membuat berdosa, ia akan menjadi orang fasik. Dosa itu menjadi suatu pagar untuk mengarahkan kehidupan menuju kebajikan.
Ada hal penting yang harus diperhatikan seseorang manakala mengukur ketenteraman jiwa dan ketenangan hati dalam berusaha mengenal ketetapan Allah atas diri masing-masing. Seringkali dosa dan kebajikan itu tidak dikenali manusia dengan persepsi sendiri. Seseorang bisa merasa tenang tanpa pengetahuan, atau berbuat dosa dan memandangnya sebagai amal shalih karena mengikuti persepsi sendiri. Membangun pengetahuan berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk diri seseorang untuk mampu mengenali dengan benar bentuk dosa dan kebajikan diri sehingga dapat menuntun untuk mengenali amal yang ditetapkan bagi dirinya. Untuk bisa mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, seseorang harus membina diri mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Seringkali ketenteraman dan ketenangan itu bersifat relatif. Demikian pula dosa bisa bersifat relatif. Seseorang yang sama sekali tidak mengetahui arah kehidupan bisa tampak hidup tenang mencari harta benda duniawi saja, sedangkan orang yang berpikir sungguh-sungguh tentang makna kehidupan dan ia masih dalam kegelapan akan tampak layaknya orang yang benar-benar terpuruk. Orang yang berpikir sungguh-sungguh tersebut sebenarnya adalah orang yang bisa mengenal dengan benar dosanya walaupun belum mengenal kebajikannya, sedangkan orang yang tenang mengejar kehidupan dunia tanpa tertuntun itu belum mempunyai kemampuan mengenal dosa. Contoh kasus lain tentang relatifnya dosa, seseorang yang makan hal yang diharamkan secara terpaksa bisa saja tidak menjadikannya terjatuh pada dosa. Pada tingkat kebajikan, mungkin saja seseorang mengenal kebajikan dirinya akan tetapi melakukan amal yang bukan kebajikan, sedangkan itu tidak menjadi dosa baginya karena keterpaksaan. Misalnya mungkin ia tidak mampu memperoleh kehidupan yang selayaknya karena haknya dilanggar maka ia tidak berbuat kebajikan.
Orang yang telah membina diri mengenali dosa dan kebajikan diri secara benar harus melangkah menjauhi dosa dan melaksanakan kebajikan diri. Boleh jadi seseorang akan menghadapi berbagai macam perbedaan pendapat dari orang-orang lain termasuk menghadapi perbedaan pendapat dengan para mufti yang memberikan fatwa. Setiap orang harus mengikuti kebajikan diri dan menghindari dosa sekalipun apabila para mufti itu memberikan pendapat yang berbeda. Tentu saja itu berlaku hanya apabila ia mempunyai bukti kebenaran dari pengetahuannya tentang dosa dan kebajikannya. Bila mengikuti dorongan hawa nafsu sendiri saja, maka dorongan hawa nafsu itu sendiri merupakan suatu dosa yang mendatanginya.
Setiap orang harus membina diri mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, kemudian mengikuti kebajikan dan menghindari dosa yang dikenalinya itu sekalipun para mufti memberikan fatwa mereka secara berbeda. Tidak boleh bagi seseorang untuk selalu bergantung kepada perkataan orang lain tanpa berusaha membina diri untuk mengenali dosa dan kebajikannya sedemikian ia tidak terjatuh pada dosa karena mengikuti perkataan orang, dan ia dapat mengenali kebajikan yang harus ditunaikan. Pembinaan diri itu harus dilakukan hingga ia mengenali kebajikan yang harus dilakukannya.
Sasaran dari Kebajikan (Al-Birr)
Kebajikan itu berjalan seiring dengan pengenalan diri. Kokohnya ketenteraman jiwa dan tenangnya hati akan terwujud melalui pengenalan diri. Ada hal yang harus diperhatikan oleh orang yang mengenal diri dalam mewujudkan kebajikan, yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Allah telah menetapkan kepada setiap manusia amal-amal yang harus ditunaikan sebagai amanah, dan amanah itu harus ditunaikan untuk tujuan yang disebutkan di atas.
﴾۷۷۱﴿ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah : 177)
Kebajikan terlahir dari pengenalan diri seseorang terhadap jati diri penciptaannya, yang harus dimanifestasikan hingga kehendak Allah terwujud di masyarakat dan alam semesta. Kebajikan berupa ketenteraman nafs dan tenangnya hati harus diikuti dengan usaha mewujudkan kebajikan sebagaimana ayat di atas, tidak berdiri sendiri sebagai ketenteraman nafs dan tenangnya hati. Untuk mewujudkan kebajikan tersebut, setiap orang termasuk orang yang mengenal kebajikan diri harus memperhatikan kedudukannya dalam al-jamaah, mengetahui batas-batas hak dirinya hingga tidak menyebabkan dirinya melanggar hak orang lain.
Dosa yang terjadi pada masyarakat akan menjadi gangguan atas pewujudan kehendak Allah, baik pada tingkatan pribadi masing-masing orang ataupun upaya kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah. Apabila seseorang tidak mengenali dosa-dosanya, mereka tidak akan mengetahui ketenteraman jiwa atas urusan yang tepat dan hati mereka tidak memperoleh ketenteraman. Apabila mereka merasa tenang dengan dosa-dosanya, mereka tidak akan tergerak untuk mengenal kehendak Allah. Kadangkala dosa-dosa itu bukan hanya menghalangi diri mengenal urusannya, tetapi juga menghalangi kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah yang mereka kenali.
Dosa seseorang tidak jarang terkait dengan pelanggaran batas hak diri sendiri ataupun pelanggaran hak orang lain tetapi tidak dirasakan. Manakala seseorang melanggar hak orang lain dalam menunaikan amal, ia mungkin sebenarnya tidak benar-benar mengenal kebajikan. Hal itu bisa mendatangkan gangguan terhadap hak-hak umat secara luas. Misalnya manakala seorang syaikh memberikan arahan berupa suatu tanda tertentu terkait harus dimulainya pemakmuran negeri, atau diangkatnya ajaran islam di antara umat, sedangkan tanda itu dibiarkan terlewat saja tanpa diperhatikan para murid, para murid itu mungkin saja sebenarnya telah melanggar hak syaikhnya. Mungkin saja hak yang dilanggar itu bukan hanya hak syaikhnya tetapi juga hak-hak umat secara luas. Boleh jadi sang syaikh tersebut telah melihat rezeki-rezeki yang mendatangi negerinya dan kaumnya untuk terwujudnya kemakmuran, tetapi jalan rezeki itu kemudian dilanggar oleh murid-muridnya. Dosa karena pelangggaran hak demikian akan menjadi gangguan untuk mewujudkan kehendak Allah atas umat manusia. Manakala suatu ketenteraman nafs atau ketenangan hati belum bisa menjadi penggerak mewujudkan tujuan-tujuan kebajikan, ketenteraman nafs dan ketenangan hati itu belum menjadi kebajikan yang sesungguhnya.
Kebajikan ditandai dengan ketenteraman jiwa dan ketenangan hati, dan diwujudkan dalam bentuk yang ditentukan Allah yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Tanpa pewujudan kehendk Allah demikian, seseorang belum benar-benar mengenal kebajikan atau bahkan justru mengganggu orang-orang yang berusaha mewujudkan kebajikan. Setiap orang harus berusaha kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah agar memperoleh penjagaan dalam mewujudkan kebajikan, tidak berbalik dari kebajikan.
Mewujudkan kemakmuran duniawi melalui jalan kebajikan tidak menunjukkan harapan duniawi, tetapi merupakan upaya untuk mengenal Allah dengan benar. Manakala seseorang membangun harapan duniawi, ia akan berputus asa dengan keadaan yang akan dihadapi. Bila seseorang berkeinginan mengenal Allah, ia tidak akan berputus asa dengan keadaan yang dihadapi. Mungkin ia akan merasakan sengsara dengan potensi kebinasaan yang dapat menghampiri manusia yang ingin diseru, akan tetapi ia tidak akan meninggalkan upayanya karena tidak adanya hasil. Mungkin saja seseorang bertindak seolah putus asa dengan kesesatan orang lain, tetapi ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hal demikian harus diwujudkan seseorang dalam mewujudkan kebajikan, bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar