Pencarian

Minggu, 15 Februari 2026

Haramnya Kekejian

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, setiap orang harus memahami hal-hal yang diharamkan Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan kekejian-kekejian ( الْفَوَاحِشَ) baik yang dzahir ataupun yang bathin. Kekejian akan menyimpangkan manusia dalam membentuk hubungan kepada Allah, yang dapat terjadi pada setiap tingkat tertentu dari hubungan yang seharusnya menjadi media untuk terhubung kepada Allah. Gambaran paling jelas, manakala salah satu dari dua orang yang terikat pada hubungan pernikahan berkhianat terhadap pasangannya, maka orang yang mengkhianati pasangannya itu terjatuh pada perbuatan keji. Demikian pula orang yang dengan sengaja menyebabkan seseorang berkhianat dalam pernikahannya telah terjatuh pada perbuatan keji. Hal ini harus dilihat secara teliti secara syariat. Seorang laki-laki bisa menikahi lebih dari satu perempuan selama ia tidak berbuat berkhianat kepada isterinya. Demikian pula perempuan bisa menikah dengan laki-laki beristeri selama tidak mendorong suaminya berkhianat kepada isterinya. Itu merupakan contoh perbuatan keji yang paling mudah dilihat oleh manusia.

Perbuatan keji dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Manusia diciptakan dari nafs wahidah. Nafs wahidah itu merupakan bagian diri manusia yang mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, mengetahui kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah. Dari nafs wahidah itu diciptakan berbagai bentuk-bentuk turunannya, baik berupa pasangan nafs dan raganya dari kalangan perempuan, anak-anak laki-laki maupun perempuan yang banyak, dan juga segala sesuatu yang diserakkan bagi mereka di alam dunia, baik berupa kedudukan di masyarakat, harta benda maupun pengetahuan ataupun keahlian-keahlian mengolah potensi-potensi kebumian dan lain sebagainya yang dapat menjadi media membina ibadahnya kepada Allah. Setiap perbuatan yang merusak entitas manusia dan hubungan-hubungannya yang dikehendaki Allah yang dapat menjadi media membina hubungan kepada Allah dapat dipandang sebagai bentuk kekejian.

Menghindari Kekejian

Kekejian dalam bentuk besarnya adalah menyimpangnya manusia dari langkah Rasulullah SAW. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada para makhluk melalui suatu tajalli kepada Rasulullah SAW. Setiap manusia bisa mengenal Allah hanya melalui Rasulullah SAW, dan dapat membangun hubungan kepada Allah melalui tajalli yang Dia perkenalkan kepada Rasulullah SAW dan para washilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang dapat membangun hubungan yang benar kepada Allah tanpa melalui Rasulullah SAW, kecuali hubungan itu hanya suatu bentuk kekejian. Hendaknya setiap orang berhati-hati dalam membangun hubungan kepada Allah karena syaitan akan selalu berusaha untuk menyimpangkan manusia dalam membangun hubungan dirinya kepada Allah. Penyimpangan dalam membangun hubungan kepada Allah itu merupakan bentuk kekejian. Mungkin saja syaitan memperkenalkan dirinya kepada seseorang dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah sedemikian seseorang merasa bahwa ia adalah hamba terbaik sedangkan amalnya mengikuti syaitan. Hal demikian itu merupakan bentuk kekejian yang sangat besar terutama dan khususnya bagi umat Rasulullah SAW.

Hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang bisa mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Dalam urusan tajalli Allah, Allah bertajalli kepada seseorang hanya dalam asma’ tertentu, bukan tajalli sebagai Allah secara sempurna. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW

Tidak terbatas pada kekejian yang besar, kekejian dapat terjadi dalam setiap hubungan yang menyimpang dari bentuk hubungan yang dikehendaki Allah. Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang tidak mempedulikan urusan Al-Jamaah untuk mengikuti urusannya sendiri sedangkan ia mengetahuinya termasuk dalam perbuatan keji. Yang dimaksud urusan Al-Jamaah adalah urusan yang dikerjakan oleh umat untuk mewujudkan kehendak Allah untuk ruang dan jaman masing-masing yang dikenali melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pelaksanaan urusan itu dipimpin oleh orang yang mengetahui urusan jamannya, dan dapat diketahui oleh umat secara luas berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan membaca ayat-ayat kauniyah yang terjadi. Tidak ada urusan Allah yang tidak diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Contoh perbuatan keji dapat dilihat pada perbuatan para ahli bid’ah yang mengerjakan urusan tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Munculnya ahli bid’ah pada dasarnya berasal dari bisikan syaitan sedemikian manusia mengerjakan urusan-urusan yang dipandang urusan Allah tanpa suatu perintah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan bisa saja memerintahkan perbuatan-perbuatan yang baik saja pada ahli bid’ah, hanya agar manusia meninggalkan urusan Allah. Perbuatan bid’ah itu seringkali dipandang baik oleh orang-orang yang mengikutinya. Selain itu syaitan juga akan menggunakan manusia untuk membuat kerusakan sebesar-besarnya apabila mereka menemukan kesempatannya. Barangkali ada amal-amal yang aneh yang diperbuat ahli bid’ah, maka amal yang aneh itu merupakan sumber kerusakan yang sangat besar yang diperintahkan syaitan. Amal yang aneh itu bisa menjadi ciri terjadinya bid’ah dan ditinggalkannya urusan Allah.

Urusan Allah bagi Al-jamaah itu dapat diketahui oleh setiap orang beriman berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras keadaan kauniyah. Setiap muslim dapat terhubung pada urusan Al-Jamaah dengan mudah tanpa harus memelintir atau membengkokkan logika untuk memahami urusan yang harus dikerjakan. Mungkin saja terdapat pengetahuan yang tersembunyi dari pandangan manusia umumnya, akan tetapi tidak ada logika pemikiran yang harus dibengkokkan untuk memahami urusan itu. Misalnya tingkah polah kaum musyrikin dalam membuat kesengsaraan manusia di bumi barangkali hanya diketahui oleh sedikit orang, tetapi sebenarnya kabar itu telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Untuk memahami kabar demikian itu, seseorang hanya perlu melihat keadaan kauniyah secara lebih teliti dengan menghadapi fitnah yang dibuat kaum musyrikin, tidak perlu membengkokkan logika untuk memahaminya. Manakala manusia perlu memelintir atau membengkokkan akal pikirannya untuk memahami suatu urusan, urusan demikian tidak termasuk dalam urusan Allah dan justru langkah syaitan. Orang musyrik juga memelintir logika untuk merusak keadilan dan membuat kekacauan di bumi.

Para ahli bid’ah mengerjakan urusan tanpa landasan urusan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan yang mereka kerjakan itu seringkali ditemukan tanpa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun landasan pengetahuan keadaan kauniyah, kemudian dipandang sebagai perintah Allah. Memandang urusan sebagai perintah Allah tanpa mengetahui landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu adalah titik awal bid’ah yang berbahaya. Allah melarang perbuatan demikian, yaitu mengharamkan untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum demikian seringkali merasa bahwa mereka adalah pemangku urusan Allah sedangkan sebenarnya mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang aspek-aspek urusan yang harus mereka kerjakan dengan mengikuti tuntunan Allah. Seringkali pandangan demikian kemudian menjadikan mereka tidak lagi berusaha mencari landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun menilai tingkat kepentingan urusan berdasarkan kauniyah yang terjadi. Mereka sebenarnya mengerjakan urusan tanpa memperhatikan perintah Allah. Mereka bisa tampak sebagai kaum yang mengerjakan urusan Allah tetapi sebenarnya tidak mengikuti kehendak Allah.

Demikian itu adalah contoh dari gambaran-gambaran perbuatan keji yang dapat terjadi di antara umat manusia. Setiap orang hendaknya memperhatikan bahwa perbuatan keji merupakan hal yang diharamkan yang dapat menyimpangkan mereka dalam beribadah kepada Allah. Setiap orang harus membentuk ibadah yang lurus kepada Allah tanpa tersimpangkan oleh kekejian-kekejian yang mungkin dihembuskan oleh syaitan, dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta berusaha memahami keadaan kauniyah mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang memperoleh suatu pemahaman tentang suatu perintah Allah bagi dirinya, hendaknya ia berusaha menemukan landasan perintah itu dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk memastikan bahwa perintah itu benar bukan perintah yang menyimpang. Kemudian ia melaksanakan perintah yang benar itu untuk mewujudkan tuntunan kitabullah bukan melaksanakan perintah yang dipersepsi sendiri. Manakala belum menemukan landasan perintah itu dari kitabullah, hendaknya ia tidak mengatakan perintahnya sebagai perintah Allah. Manakala perintah itu baik, ia boleh mengerjakan perintah itu tanpa memandang amalnya sebagai amanah Allah tetapi sebagai usahanya untuk berbuat mengikuti kehendak Allah. Apabila perintah itu buruk atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya ia memandang perintah itu hanya tipuan syaitan. Tipuan itu akan membuat seseorang terjatuh pada perbuatan keji.

Berusaha menemukan Al-Jamaah akan sangat membantu seseorang agar tidak terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah mempunyai pengetahuan urusan jaman yang harus ditunaikan sebagai urusan Rasulullah SAW, dan mereka akan mempunyai pengetahuan untuk membantu orang lain mengetahui urusan Allah. Biasanya mereka mempunyai pengetahuan tentang orang-orang yang seharusnya dekat urusannya dengan dirinya. Mungkin mereka tidak mengetahui persis urusan sahabatnya, tetapi bisa memberitahu adanya amal-amal yang keliru. Sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh apabila seseorang menemukan orang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah. Dalam urusan bid’ah, orang yang dalam al-jamaah mungkin akan mempunyai prasangka terputusnya urusan yang dikerjakan ahli bid’ah yang dipandang baik walaupun mungkin tidak atau belum benar-benar dapat menjelaskan apa masalahnya.

Membangun Hubungan Kepada Allah

Berusaha mengenali urusan Allah dan membangun hubungan-hubungan dengan segala sesuatu yang terserak bagi diri harus dilakukan oleh setiap manusia agar menjadi manusia seutuhnya sehingga dapat menumbuhkan pemakmuran di bumi. Membangun hubungan-hubungan itu hendaknya dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Seseorang pastilah tidak secara tiba-tiba mengetahui hubungan yang mesti dibangun, baik pada aspek bathiniah ataupun aspek dzahirnya. Hal yang penting diperhatikan untuk memulai pencarian pengetahuan membangun hubungan-hubungan itu adalah keikhlasan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Di antara langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s adalah melakukan tazkiyatun-nafs dengan belajar mengendalikan hawa nafs dan syahwat, serta melakukan pernikahan.

Pernikahan merupakan setengah bagian agama yang akan diperoleh seseorang manakala dilakukan dengan ikhlas. Setiap orang hendaknya berusaha mengenali pasangan yang ditentukan Allah bagi dirinya dengan mengalahkan dorongan syahwat dan hawa nafsu. Sangat banyak hawa nafsu dan syahwat yang akan menerpa usaha seseorang mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri. Itu merupakan ujian bagi keikhlasan beribadah dalam diri seseorang. Kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kehormatan, kedudukan dan banyak hal lain akan mengombang-ambingkan seseorang untuk sulit mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya. Manakala seseorang masih terombang-ambing dalam berbagai syahwat dan hawa nafsu, mereka tidak akan mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri dengan tepat.

Setelah mengenali pasangan diri, hendaknya seseorang menikah dengannya. Itu adalah hubungan dasar yang akan membentuk hubungan-hubungan seseorang dengan segala yang terserak bagi diri mereka dan juga menumbuhkan hubungan seseorang terhadap urusan Allah. Urusan Allah akan dikenali seseorang melalui pernikahan yang tepat dimana pasangan merupakan cermin yang tepat memantulkan urusan Allah yang perlu dikerjakan. Dalam beberapa hal, tuntutan duniawi merupakan aspek yang harus dipenuhi sebagai bagian dari urusan Allah, akan tetapi hendaknya pasangan menikah tidak mengutamakan urusan duniawi mereka. Hal demikian itu seringkali menjadikan mereka terluput dari urusan Allah. Usaha mengumpulkan hal yang terserak akan ditemukan pada terlaksananya urusan Allah terhadap umat, hendaknya usaha ini yang dijadikan sarana memenuhi kebutuhan duniawi. Seorang suami akan mengenali urusan Allah dan isteri berperan menghubungkan urusan mereka kepada umatnya, dan terwujudnya hubungan demikian akan memunculkan jalan rezeki yang haq bagi pasangan menikah tersebut.

Pasangan-pasangan yang belum mengenal urusan Allah hendaknya berusaha memenuhi kebutuhan duniawi mereka tanpa melupakan urusan Allah. Manakala rezeki yang diberikan berlebih, hendaknya mereka membantu Al-Jamaah mewujudkan kehendak Allah. Manakala Allah tidak melimpahkan rezeki berlebih, mereka hendaknya tidak bersusah payah mengejar rezeki hingga melupakan urusan Allah. Mereka hendaknya memperhatikan urusan bersama pasangannya, karena kebersamaan mereka merupakan hal yang akan membentuk hubungan dengan hal-hal duniawi mereka hingga memudahkan kehidupan duniawi. Manakala seseorang meninggalkan kepedulian terhadap pasangannya baik dalam bentuk khianat ataupun ketidakpedulian yang lain, kehidupan mereka secara duniawi akan menjadi sulit, dan urusan Allah tidak akan dikenali. Manakala suatu pasangan mulai mengenal urusan Allah, hendaknya mereka bersungguh-sungguh melaksanakan urusan Allah hingga kehendak Allah terwujud di bumi. Itu akan menjadikan mereka mampu mengumpulkan segala sesuatu yang terserak secara haq hingga terwujud pemakmuran di bumi.

Pemakmuran bumi itu akan terbentuk melalui terbentuknya hubungan seseorang dengan segala sesuatu yang terserak bagi dirinya secara haq. Hubungan demikian itu harus terbentuk sesuai dengan kehendak Allah tidak hanya dzahiriahnya saja tetapi hingga aspek bathiniah. Setiap pihak hendaknya membangun kebersyukuran dalam pernikahannya dengan mengenali sakinah di mana masing-masing pihak menemukan urusan Allah dalam diri pasangannya. Seorang isteri tidak boleh membentuk sikap merendahkan suaminya, dan seorang suami hendaknya memikirkan urusan Allah bersama isterinya. Manakala tumbuh sikap merendahkan pasangan, sebaiknya tidak dilakukan pernikahan karena pernikahan itu justru akan menjadi media tumbuhnya kekufuran terhadap nikmat Allah. Setiap pihak harus siap untuk membangun kebersyukuran terhadap pasangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar