Pencarian

Minggu, 28 September 2025

Memasuki Gerbang Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Perintah Istiqamah

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Amr Allah itu berbentuk ayat-ayat kitabullah Alquran yang harus ditunaikan dengan meninggalkan segala hal yang lain apabila diperlukan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Penanda gerbang shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah Alquran untuk menegakkan amanah.

Gerbang shirat al-mustaqim itu adalah ayat kitabullah, bukan bentuk-bentuk perjuangan yang dibuat-buatkan bagi umat. Perintah Allah itu seluruhnya tercakup alam suatu ayat tertentu tidak keluar darinya. Intinya, perintah Allah itu berupa keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat Allah. Manakala seseorang mencerap suatu perintah Allah yang tidak tercakup dalam suatu ayat kitabullah, maka hal itu tidak termasuk dalam perintah Allah. Mungkin benar merupakan perintah Allah tetapi hanya berlaku manakala ia telah memahami ayat kitabullah tentang perintah itu. Demikian pula orang-orang yang mencerap perintah Allah tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah, maka dipastikan perintah itu bukanlah perintah Allah. Sangat mungkin perintah demikian merupakan perintah syaitan yang berusaha menyesatkan manusia dan merusak tatanan umat manusia.

Ada beberapa ciri pembenar shirat al-mustaqim. Seruan kepada shirat al-mustaqim itu hanya benar bila seseorang dapat menunjukkan ayat kitabullah yang terbuka kepada dirinya. Bukan hanya kandungan maknanya, gerbang shirat al-mustaqim itu seringkali dapat dilihat secara nyata kesesuaiannya dengan kauniyah yang terjadi. Ciri lain gerbang shirat al-mustaqim adalah seseorang akan mengenal kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW sebagai bagian al-jamaah. Kadangkala seseorang memperoleh landasan perjuangan dari ayat kitabullah tetapi boleh jadi sebenarnya ia belum termasuk dalam golongan al-jamaah karena sifat pemahamannya masih berupa tafsir. Ia harus berusaha memahami kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Bila seseorang merasa sebagai pembawa kebenaran secara mandiri tidak membutuhkan sandaran kebenaran dari Rasulullah SAW, mereka adalah orang yang tersesat. Manakala seseorang tidak dapat menunjukkan ayat kitabullah yang menjadi landasan perjuangannya, pasti amanahnya itu bukan suatu perintah Allah yang telah ditetapkan bagi manusia. Mungkin urusan itu bisa mendatangkan manfaat bagi manusia tetapi bukan benar-benar shirat al-mustaqim, atau boleh jadi urusan itu sebenarnya mendatangkan kerusakan yang besar.

Ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah indikator yang nyata bahwa suatu urusan merupakan shirat al-mustaqim. Banyak tipuan yang datang kepada orang-orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim. Banyak orang yang tertipu untuk menempati kedudukan tertentu dalam urusan Allah tanpa memahami urusannya dari tuntunan kitabullah Alquran. Ia tidak mengetahui langkah yang benar atau kesalahan langkah yang mungkin terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah tetapi mau menerima urusan Allah. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengalami kesalahan dalam melaksanakan urusan Allah, tetapi setiap orang harus mempunyai bekal pengetahuan urusannya dari tuntunan kitabullah dan harus berusaha untuk berbuat benar dan menghindari kesalahan dengan pengetahuannya, sedangkan ia meminta ampunan Allah untuk kesalahan yang mungkin terjadi. Kadangkala manusia tertipu dengan kata-kata makhluk lain atau hawa nafsu dirinya sendiri tentang kedudukan dirinya dalam urusan Allah sedangkan keadaannya jauh dari yang disampaikan. Sebagian orang tertipu memperoleh ilmu yang sebagiannya benar dan sebagian lain merusak manusia. Hal-hal demikian dapat terjadi apabila seseorang tidak berusaha memeriksa keadaan dirinya dengan indikator kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak potensi tipuan-tipuan lain yang mungkin mendatangi orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim.

Bagi orang-orang berakal, sekalipun ribuan makhluk yang tinggi datang memintanya menjadi pemangku urusan Allah, mereka tidak akan bersedia memenuhi permintaan itu selama tidak melihat urusannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan ia dapat memahami tuntunan itu dengan benar. Ia tidak akan menganggap dirinya pemangku urusan Allah tanpa suatu pengetahuan yang benar dari ayat kitabullah dalam urusan itu. Ia mungkin beramal tertentu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, tetapi tidak menuntut pengakuan sebagai pemangku urusan Allah. Dijadikan pemangku urusan Allah hanya bisa diterima oleh orang berakal berdasar kandungan kitabullah yang terbuka kepada dirinya, tidak berdasarkan prasangka diri tentang dirinya ataupun perkataan orang lain tentang dirinya.

Tegak Sebagaimana Diperintahkan

Manakala seseorang mengetahui seruan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan hendaknya orang-orang yang bertaubat menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan shirat al-mustaqim karena boleh jadi mereka terjerat sebagai orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.

Allah memerintahkan untuk melaksanakan amanah secara fokus dengan perintah : فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ. Menyeru sahabat atau pengikut jalan taubat menuju shirat al-mustaqim mungkin tampak mudah tetapi sebenarnya cukup rumit. Kadangkala sekelompok orang bertaubat selama puluhan tahun dan usia menua tetapi tidak ada yang melihat shirat al-mustaqim bagi mereka. Hal ini terkait dengan kejelasan fokus obyek shirat al-mustaqim yang ditunjukkan. “Sebagaimana kamu diperintahkan” merupakan perintah untuk fokus memperhatikan ayat-ayat dalam kitabullah yang menjadi amanahnya. Boleh jadi seseorang tidak terlalu jelas atau kurang fokus menunjukkan ayat dan maknanya kepada para sahabat atau para pengikutnya. Atau boleh jadi para para pengikut atau shahabat yang tidak mampu fokus menangkap penjelasan yang disampaikan. Kadangkala terlalu banyak kembangan atau variasi kebenaran yang bersifat gimik diajarkan hingga para pentaubat itu menjadi tidak fokus terhadap perintah Allah. Hal-hal demikian itu bisa muncul bersamaan pada satu jamaah taubat.

Masalah fokus perhatian dapat dilihat pada contoh kasus metode seorang syaikh yang mempunyai ilmu tentang keadaan jamannya dan tertulis secara jelas dalam kitab-kitabnya. Manakala mengajar para murid, beliau mungkin hanya membacakan ayat-ayat kitabullah yang diamanahkan saja tanpa suatu penjelasan apapun terkait ilmu yang ada padanya. Hal ini bertujuan agar para murid mengarahkan fokus pada ayat kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi mereka. Cara demikian menggambarkan keadaan yang mempengaruhi cara menyeru. Para murid harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk dapat memahami kandungan ayat-ayat kitabullah dengan kesucian jiwa yang mencukupi agar pemahaman yang terbentuk tidak menyimpang. Manakala para murid belum siap, ia tidak membuka seruan menuju shirat al-mustaqim secara jelas. Sebenarnya apabila para murid siap, mereka akan mengetahui dengan sendirinya apa yang tertulis dalam kitab syaikhnya sebagai penjelasan dari ayat-ayat kitabullah yang menjadi amanahnya.

Fokus terhadap amanah dalam ayat kitabullah demikian harus selalu dijaga agar para pengikut atau sahabat perjalanan dapat mengerti amr Allah yang diserukan. Seseorang tidak harus bersikap persis seperti sang syaikh karena boleh jadi keadaan sahabatnya telah berkembang. Tetap saja setiap orang harus menjaga fokus penjelasan amr Allah berdasarkan ayat kitabullah yang menjadi amanah untuk ditunaikan. Memfokuskan perhatian ini bisa disampaikan dengan cara menyampaikan ayat yang menjadi amanah, dan memberikan penjelasan terkait dengan ayat tersebut seperlunya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Penjelasan yang menyimpang, kembangan dan variasi penjelasan yang bersifat gimik mungkin mengganggu fokus orang yang diseru, maka hendaknya hal demikian dihindari. Penjelasan ayat-ayat dengan cara atau redaksi yang jauh dari redaksi ayat hendaknya dihindari karena perhatian pendengar akan menyimpang. Pendengar mungkin terganggu fokus perhatiannya dari perintah Allah dengan gimik-gimik kebenaran yang tidak terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang yang diseru pada shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya. Menyeru orang-orang yang tidak bertaubat akan mendatangkan masalah yang relatif banyak. Hawa nafsu orang-orang yang tidak tertata boleh jadi akan membentuk suatu pemikiran baru yang tidak mengarah pada langkah mendekat kepada Allah hingga suatu kebaikan yang diserukan boleh jadi menjadi keburukan karena hawa nafsu. Bila yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat, nilai-nilai kebaikan yang diserukan kemungkinan besar akan tumbuh pada orang-orang yang diseru menjadi kebaikan pula sedemikian kebaikan itu akan menjadi subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan metode penyampaian amanah Allah, karenanya yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat bersama dengan diri penyeru.

Kandungan ayat kitabullah yang dapat dipahami seseorang bisa sangat luas walaupun misalnya hanya hanya berasal dari satu ayat saja. Misalnya seseorang dapat memahami peristiwa dunia dari perang-perang dunia yang terjadi, terbentuknya negara-negara sekutu dengan kuasa yang tidak adil, pengaruh mereka dalam kehidupan berbangsa dalam negeri sendiri, pengaruhnya terhadap ulah-ulah oknum para pejabat negara yang mengambil kebijakan menyengsarakan masyarakat hingga perilaku rumah tangga diri mereka sendiri, seluruhnya bisa diperoleh dari kandungan satu ayat kitabullah saja. Lebih dari itu, bisa jadi mereka mempunyai ilmu tentang ekonomi negara, pengetahuan tentang lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan sumber daya manusia dan lain sebagainya dari satu ayat kitabullah yang sama. Orang-orang yang diseru hendaknya berusaha memahami apa-apa yang terhubung dengan ayat kitabullah yang ditunjukkan, dan penyeru hendaknya menyampaikan apa-apa yang sesuai dengan pendengarnya, yaitu pendengarnya mengetahui bahwa yang disampaikan merupakan bagian dari seruan shirat al-mustaqim. Yang penting, orang yang bertaubat bersama dirinya dapat mengenal shirat al-mustaqim, walaupun harus memulai dari sedikit pengetahuan. Seseorang hendaknya tidak dituntut beramal tanpa suatu pengetahuan hubungan amalnya dengan ayat kitabullah. Tuntutan beramal dengan cara demikian seringkali menjadikan seseorang bertindak berlebihan.

Orang-orang yang diseru hendaknya memperhatikan pokok seruan berupa ayat-ayat Allah. Ayat-ayat kitabullah itulah yang menjadi seruan shirat al-mustaqim, sedangkan penjelasan orang-orang yang menyeru hanya bersifat membantu memahami shirat al-mustaqim. Bila seseorang tidak memahami ayat kitabullah yang diserukan, ia tidak akan melihat shirat al-mustaqim sekalipun memahami pekerjaan yang harus dilakukan. Shirat al-mustaqim itu hanya apa-apa yang diserukan oleh ayat kitabullah Alquran, tidak ada di luar yang diserukan. Hal demikian harus benar-benar disadari oleh orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim, tidak mengambil urusan Allah tanpa landasan firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala suatu kaum justru mempertuhankan orang-orang yang menyeru kepada shirat al-mustaqim, melaksanakan semua perintah-perintahnya tetapi mengabaikan ayat kitabullah yang diserukan tidak berusaha mengetahui perintah Allah melalui ayat kitabullah yang diserukan. Mempertuhankan manusia merupakan satu tanda suatu kaum melampaui batas.

Setiap usaha menyeru hendaknya dilakukan tanpa melampaui batas. Ilmu-ilmu diajarkan agar para pentaubat dapat memahami amal yang dapat dilakukan untuk menegakkan shirat al-mustaqim, dan kemudian ia dapat beramal tanpa melampaui batas. Manakala seseorang bertindak tanpa suatu ilmu misalnya, ia akan sangat mudah bertindak melampaui batas. Bila seseorang dituntut mentaati suatu urusan tanpa didukung dengan pengetahuan tentang urusannya, mereka mungkin akan terjatuh pada ketaatan buta hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ketaatan buta merupakan tanda melampaui batas. Setiap rantai dari kelahiran amal shalih hendaknya dibina dengan sebaik-baiknya agar manusia tidak terjatuh pada sikap berlebihan.

Upaya mewujudkan amal shalih hendaknya dimulai dengan membuka pemahaman para pentaubat terhadap kehendak Allah, tidak digegas mewujudkan amal tanpa suatu landasan pemahaman. Shirat al-mustaqim benar-benar dimulai dari keterbukaan pemahaman terhadap masalah kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, bukan dalam bentuk perintah amal tertentu. Amal yang harus dilaksanakan di shirat al-mustaqim secara umum lebih banyak terbit dari akal manusia, dan hanya beberapa di antara amal itu berbentuk perintah amal tertentu. Boleh jadi keumuman itu berbeda dengan orang-orang khusus. Hendaknya amal shalih sebagai turunan shirat al-mustaqim diwujudkan dengan cara yang sama yaitu memberikan wawasan tentang keadaan kauniyah kemudian diikuti amal shalih yang sesuai dengan wawasan itu. Suatu perintah amal tidak akan bisa dilaksanakan dengan efektif tanpa landasan pemahaman masalah. Perintah tanpa memberikan pengetahuan kepada yang diberi perintah hendaknya dihindari. Produktifitas amal seseorang akan sangat dipengaruhi oleh landasan pemahamannya terhadap persoalan. Seseorang yang memahami masalah akan melahirkan amal-amal yang produktif sesuai dengan masalahnya, sedangkan orang-orang yang tidak memahami masalah akan sulit mewujudkan produktifitas.



Selasa, 23 September 2025

Menemukan Gerbang Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Jalan yang lurus menunjuk pada jarak terpendek yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan, dan shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Setiap hamba Allah tentulah menginginkan suatu kedekatan kepada sumber kebaikan mutlaq bagi diri mereka, dan mereka mengenal Allah sebagai sumber kebaikan tersebut. Untuk itu, mereka selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk shirat al-mustaqim.

﴾۶﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-Fatihah : 6)

Jalan itu adalah jalan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Seorang hamba tidak akan mengetahui shirat al-mustaqim tanpa ijin Allah. Walaupun demikian, setiap hamba bisa berusaha untuk mengetahui shirat al-mustaqim dan memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada dirinya shirat al-mustaqim. Allah akan memberikan petunjuk shirat al-mustaqim kepada hamba-hamba yang benar-benar mencari jalan untuk kembali kepada-Nya.

Pengenalan terhadap shirat al-mustaqim merupakan sesuatu dari puncak tujuan kehidupan manusia. Artinya, sebenarnya shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang berjarak dari kebanyakan umat manusia bahkan umat islam, karena shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang harus dituju. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Ada orang-orang islam yang telah mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu adalah orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Orang-orang islam kebanyakan seharusnya berharap dengan sungguh-sungguh agar Allah memberikan kepada dirinya petunjuk untuk mengenal shirat al-mustaqim, bukan mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas shirat al-mustaqim.

Turunnya petunjuk itu membutuhkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sang hamba., utamanya adalah terbentuknya akhlak mulia pada sang hamba. Akhlak mulia seorang hamba merupakan cerapan akhlak makhluk terhadap kehendak Allah terutama cerapan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang makhluk yang dapat memahami dengan tepat kehendak Allah atas dirinya dengan memahami kebaikan-kebaikan dalam kehendak tersebut dan pemahaman itu dapat diukur berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, makhluk demikian merupakan makhluk yang mempunyai akhlak mulia. Dengan akhlak mulia, seseorang dapat merespon kauniyah yang terjadi sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyi kecerdasan yang tinggi tetapi tidak mampu memahami perintah Allah dengan tepat. Sekalipun cerdas, tetapi akhlak Iblis bukanlah akhlak yang mulia karena tidak mencerap kehendak Allah dengan benar.

Akhlak mulia dibina dengan mengikuti tuntunan Alquran. Ada suatu tahapan yang bisa menjadi bukti terbentuknya akhlak mulia berupa pengenalan seseorang terhadap penciptaan diri. Itu adalah bukti pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah secara khusus kehendak-Nya atas penciptaan dirinya. Akan terbuka kepada seseorang pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang dihadapinya selaras dengan penjelasan-penjelasan kitabullah dan ia mengetahui peran yang harus dilaksanakan terkait dengan keadaan kauniyahnya. Pengetahuan itu mungkin bersifat khusus, tetapi sangat luas dan mendalam walaupun tetap saja sangat banyak hal yang tidak diketahuinya. Bagi beberapa orang, pengetahuan itu berupa pengetahuan hakikat bukan pengetahuan dalam tingkatan praktis. Pengenalan itu merupakan gerbang seseorang memasuki agama (addiin), yaitu pengetahuan seseorang terhadap fitrah untuk apa dirinya diciptakan.

Pengenalan diri dimulai dari pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah, bukan dari pengenalan terhadap potensi-potensi diri. Sebenarnya kedua metode pencarian jati diri tersebut akan saling bersinergi, tetapi setiap orang harus menempatkan keikhlasan sebagai metode utama. Seringkali hamba Allah melupakan keikhlasan dirinya dan berusaha mencari jati diri tanpa disertai keinginan mengetahui kehendak Allah. Apabila kedua metode itu dipisah, seseorang yang ingin mengenal kehendak Allah hingga mengenal bentuk amal yang harus ditunaikan dirinya mempunyai peluang jauh lebih besar untuk mengenal diri daripada orang-orang yang mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dirinya. Keinginan mengenal kehendak Allah ini merupakan bentuk keikhlasan dalam ibadah yang tidak dicampuri hawa nafsu. Pencarian jati diri melalui potensi diri seringkali menimbulkan berkas kebanggaan diri yang mungkin bisa menimbulkan potensi bahaya bagi pencarinya, sedangkan keikhlasan ibadah akan menjaga seseorang dari hawa nafsu. Dalam perjalanan pencarian, keikhlasan akan membantu terbentuknya pengetahuan secara integral hingga seseorang tetap berada pada al-jamaah tidak menyimpang. Kebutuhan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyertai orang-orang yang ikhlash beribadah kepada Allah hingga kedua tuntunan itu dapat membantu menjaga dirinya dari penyimpangan.

Gerbang agama berupa pengenalan diri itu berbentuk pengetahuan hakikat dari suatu ayat dari kitabullah Alquran. Orang yang ingin mengenal kehendak Allah tentulah mencari pengetahuan dari kitabullah Alquran dan dari ayat-ayat kauniyah yang dihadapinya, tidak mengandalkan pengetahuan diri tentang dirinya. Gerbang agamanya akan ditemukan dari kitabullah Alquran. Orang yang bertanya tentang jadi dirinya barangkali akan mencari pengetahuan dari diri sendiri sehingga akan mengalami kesulitan menemukan gerbang agamanya. Boleh jadi seseorang berkutat pada suatu bidang pemikiran tertentu yang sebenarnya telah sesuai dengan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupannya tetapi ia tidak mengetahui bahwa amr Allah untuk dirinya adalah bidang yang digelutinya selama ini. Hal ini tidak membuat dirinya mengenal diri hingga ia menemukan suatu ayat kitabullah Alquran tertentu yang menjelaskan bidang yang digelutinya. Selama ia belum mengalami keterbukaan makna hakiki dari tuntunan kitabullah yang terkait urusannya, ia tidak dapat dikatakan mengenal dirinya walaupun telah menjalankan urusannya dengan baik.

Al-Jamaah Sebagai Sarana Kemudahan

Ada suatu kemudahan yang disediakan bagi manusia untuk mengenal gerbang agamanya, yaitu keberjamaahan. Suatu kaum akan menghadapi persoalan jaman yang relatif mempunyai kesamaan antara satu orang dengan orang lain sedemikian satu orang yang mengenal gerbang agamanya dapat menolong orang lain yang ingin mengenal gerbang agamanya. Ayat kitabullah yang menuntun mereka menghadapi persoalan jaman seringkali sama, satu ayat menjadi gerbang untuk banyak manusia. Dengan karakter demikian, suatu kaum akan memperoleh kemudahan untuk mengenal gerbang agamanya melalui kebersamaan di antara mereka. Hal ini akan terjadi apabila setiap orang pada kaum tersebut mempunyai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sayangnya kebanyakan manusia tidak membangun cukup keikhlasan dalam mencari agamanya, maka pandangan mereka tertutup dari kemudahan yang disediakan Allah. Apabila mereka mau mendengarkan pemahaman salah satu orang di antara mereka terhadap kehendak Allah, mereka akan lebih mudah memahami gerbang agama bagi mereka.

Kemudahan ini harus disikapi dengan tepat oleh setiap hamba Allah. Sebagian hamba Allah bersikap terlalu mengagungkan orang-orang yang dianggap telah mengenal shirat al-mustaqim hingga tidak mengetahui batas-batas uluhiyah. Uluhiyah dalam hal ini menunjuk pada sumber mutlak dari kebenaran yang harus diperjuangkan oleh para hamba Allah, dan tidaklah ada Ilah bagi seluruh makhluk kecuali Allah. Kadang-kadang hamba-hamba Allah bersikap berlebihan terhadap orang-orang yang dianggap mengenal shirat al-mustaqim dengan menganggap semua hal yang disampaikan sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa dari sumber asli berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada kasus berat, bahkan apa-apa yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula layak diperjuangkan. Pada tingkat ringannya, sikap berlebihan itu terjadi dengan menganggap semua yang disampaikan seseorang sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa duduk kebenarannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini mencederai prinsip syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah.

Kelayakan mukminin memperjuangkan suatu kebenaran harus dimulai dari kepastian sumber kebenaran dari sisi Allah, tidak berhenti memeriksa asal-usul kebenaran itu pada sumber yang lain. Bagi hamba Allah, kebenaran yang paling penting untuk diperjuangkan hanyalah kebenaran yang dapat diverifikasi sebagai kebenaran dari sisi Allah. Setiap orang harus berjuang untuk menegakkan kebenaran sejauh yang dapat dikenali dan dapat diupayakan, dan selalu berusaha memperhatikan bertambahnya tingkat pengenalan terhadap kebenaran yang diperjuangkan. Untuk hamba Allah, tingkat kebenaran itu akan meningkat selaras dengan tingkat pemahaman terhadap ayat Allah, baik kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kauniyah. Kaum mukminin harus berusaha menemukan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran yang dapat ditemukan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh terhenti pada suatu kebenaran dari sumber yang lain. Itu merupakan suatu bentuk dari tauhid uluhiyah. Banyak mukminin yang memperjuangkan kebenaran tetapi sebenarnya hanya merupakan sesuatu yang dikatakan sebagai kebenaran, bukan kebenaran yang dikenalinya sendiri.

Keadaan Shirat Al-Mustaqim

Rasulullah SAW menggambarkan keadaan shirat al-mustaqim sebagaimana berikut :

ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

An-Nawwās bin Sam'ān Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,Allah telah membuat sebuah perumpamaan jalan yang lurus. Di dua sisi jalan terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan jalan itu terdapat seseorang yang berseru: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan jangan lah berbelok.’ Di atas itu juga terdapat penyeru yang akan memanggil. Apabila ada seseorang yang ingin membuka pintu-pintu tersebut,penyeru di atas jalan berkata: ’Celaka kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.’ Jalan itu adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu jalan adalah Kitabullah. Penyeru di atas jalan adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap muslim.” [HR. Tirmizi dan Ahmad] - [Musnad Ahmad - 17634]

Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Tidak ada salahnya umat manusia mengikuti tuntunan kitabullah dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah apabila tafsir itu dilakukan dengan cara yang benar, tetapi yang menjadi penyeru untuk memasuki shirat al-mustaqim adalah keterbukaan pengetahuan ayat kitabullah pada tingkatan hakikat. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Shirat al-mustaqim itu merupakan agama, dan gerbang agama itu adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat Alquran. Dalam terminologi lain, gerbang agama itu disebut sebagai pengenalan diri (ma’rifatun-nafs). Sebenarnya terminologi ini mengungkapkan keadaan yang sama. Yang terjadi pada diri seseorang saat pengenalan diri (ma’rifatun-nafs) adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah tertentu yang merupakan amanah yang harus ditunaikan dirinya. Peristiwa ini merupakan penanda utama pengenalan diri yang benar. Ada beberapa bentuk pengenalan diri yang mungkin terjadi pada seorang hamba Allah, dan pengenalan diri yang sebenarnya adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi sang hamba tersebut. Pengenalan diri yang demikian itulah yang merupakan gerbang dari shirat al-mustaqim.

Penjelasan demikian tidaklah menganggap kafir atau mengkafirkan orang-orang yang belum mengalami keterbukaan terhadap ayat-ayat Allah yang harus mereka perjuangkan. Hanya saja harus disadari bahwa orang-orang yang benar-benar telah menempuh shirat al-mustaqim hanyalah dalam kriteria demikian. Orang yang belum mengenal shirat al-mustaqim tidaklah hanya dari kalangan orang-orang kafir. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang diberikan kepada hamba Allah yang benar-benar menginginkan kedekatan kepada Allah. Boleh jadi sangat banyak orang yang tidak mengenal shirat al-mustaqim kelak akan memperoleh surga Allah dalam tingkatan rendah setelah perjalanan berat yang ditempuhnya mungkin melalui neraka. Kaum muslimin diperintahkan untuk berharap shirat al-mustaqim tidak terlena dari berharap demikian, dan tidak boleh menantang perjalanan yang berat tersebut.

Pengenalan diri adalah gerbang memasuki agama. Sangat banyak perjuangan yang harus dilakukan seseorang manakala memasuki shirat al-mustaqim dan setiap mukmin tidak boleh berpaling dari shirat tersebut. Sangat banyak jalan-jalan lain yang akan menggoda orang beriman yang meniti shirat al-mustaqim, sedangkan bisa saja perjuangan di shirat al-mustaqim itu berat untuk dilaksanakan. Kadangkala seorang mukmin harus berhenti tidak bisa melakukan amal apapun yang mendatangkan hasil di shirat al-mustaqim, atau semua amal yang dapat dilakukannya di shirat al-mustaqim tampak tidak mendatangkan hasil apapun baik bagi dirinya ataupun bagi umatnya. Ia tampak menjadi orang yang sia-sia. Hal-hal demikian tidak boleh menjadikan dirinya berpaling dari shirat al-mustaqim untuk menempuh pintu-pintu yang lain. Ia harus tetap berada di shirat al-mustaqim apapun keadaan yang terjadi.

Keadaan sia-sia demikian bukan sifat dari amal seseorang di shirat al-mustaqim. Seseorang tidak boleh beramal hanya karena merasa mengetahui perintah Allah tanpa mengetahui nilai kebaikan di dalamnya. Semua amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim mempunyai bobot nilai kebaikan yang sangat besar baik bagi dirinya ataupun umat manusia seluruhnya. Tetapi kadangkala umat manusia tidak bisa menerima apa-apa yang dilakukannya maka amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim bisa menjadi mandul atau bahkan mendatangkan adzab sebagaimana beberapa nabi tampak dalam pandangan manusia mendatangkan adzab. Seseorang di shirat al-mustaqim harus mengetahui nilai kebaikan dari amal yang dilakukannya, dan tetap melakukannya tidak meninggalkannya sekalipun mandul sia-sia. Apabila ia memasuki pintu-pintu lain yang terbuka selain dari shirat al-mustaqim, ia akan celaka.

Menapaki shirat al-mustaqim membutuhkan suatu tekad yang kuat (‘adzimah) dalam pengabdian kepada Allah. Shirat al-mustaqim tidak boleh ditinggalkan orang-orang yang telah diseru kepadanya untuk mencari kemudahan kecuali seseorang akan celaka. Dengan keadaan semacam ini, tidak semua orang islam ditempatkan di shirat al-mustaqim. Hendaknya seseorang tidak terburu-buru mengharapkan tiba di gerbang shirat al-mustaqim kecuali ia telah mempunyai tekad yang kuat dalam pengabdian kepada Allah. Orang-orang yang telah mempunyai ‘adzimah pengabdian itu yang akan selamat menempuh shirat al-mustaqim.

Minggu, 21 September 2025

Mendengarkan dan Pendidikan Hawa Nafsu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang paling baik akan mendatangkan petunjuk dan menumbuhkan akal. Hal ini berlaku apabila seseorang senang mendengarkan perkataan kebenaran dan ingin memahaminya. Perkataan yang dibutuhkan orang-orang demikian adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan bagi makhluk. Sebenarnya seluruh kebaikan datang dari sisi Allah, dan perkataan yang lebih baik itu adalah perkataan yang dinyatakan oleh orang-orang yang lebih mengenal Allah. Kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan mengikuti perkataan terbaik merupakan sifat penanda orang yang memperoleh petunjuk dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ).

Sikap demikian merupakan hasil dari suatu proses berupa kemauan mendengarkan dan menggunakan akal. Kemauan mendengarkan merupakan bentuk dasar dari kebutuhan mendengarkan. Kebutuhan untuk mendengarkan perkataan yang baik akan tumbuh apabila seseorang mau mendengarkan perkataan yang baik dan menggunakan akalnya untuk menimbang nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu perkataan. Kemampuan menilai bobot kebaikan suatu perkataan ditentukan dengan kelurusan akal yang terbina sesuai dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak berusaha membina akhlak Alquran dalam dirinya, manusia tidak akan bisa menimbang kebaikan suatu perkataan dengan benar. Boleh jadi mereka menganggap sesuatu yang buruk sebagai kebaikan, dan menganggap suatu perkataan yang baik sebagai suatu perkataan hawa nafsu.

Keterampilan mendengarkan akan menjadi mudah diasah apabila disertai dengan usaha memperkuat akal untuk memahami kehendak Allah. Orang-orang yang berusaha menggunakan akal untuk memahami ayat Allah akan menjadi mudah membina keterampilan mendengarkan. Salah satu jebakan dalam langkah agama yang menjadikan orang tidak mendengarkan adalah sikap tidak menggunakan akal. Mungkin seseorang atau suatu kaum menjadi orang-orang yang mempunyai pendengaran bathin, mata bathin hingga qalb karena keimanannya, tetapi mereka memperturutkan persepsi indera-indera bathin mereka untuk melangkah tanpa menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Ini bisa menjadikan mereka orang yang tidak mendengar dan menjadi celaka sebagai orang-orang yang paling tersesat. Mereka mengabaikan tuntunan ayat-ayat Allah karena mengikuti persepsi indera-indera bathin sendiri.

Mendidik Hawa Nafsu

Banyak orang yang dipandang manusia mendengar atau memahami tetapi sebenarnya mereka tidak mendengar atau memahami. Ketika seseorang melakukan tugas hanya berdasarkan doktrin-doktrin dari pihak-pihak yang berkepentingan tanpa mengetahui manfaat dari doktrin yang dijalankannya, maka sebenarnya orang tersebut tidaklah mendengar atau memahami tugasnya sekalipun orang banyak melihatnya pandai melaksanakan urusannya. Sebaliknya, misalnya seorang menteri keuangan melihat masalah kesenjangan di negerinya dan membuat kebijakan-kebijakan keuangan yang benar untuk mengatasi kesenjangan, itu menunjukkan adanya kemampuan memahami masalah. Mendengar dan memahami dalam hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan terhadap kebenaran. Orang-orang beriman hendaknya beramal dengan landasan suatu pemahaman terhadap masalahnya.

﴾۴۴﴿أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (QS Al-Furqaan : 44).

Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan bagi diri mereka. Mempertuhankan hawa nafsu adalah menganggap hawa nafsu sebagai sumber kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan. Mungkin mereka melupakan bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam bentuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Mungkin seseorang bersemangat untuk menolong Allah tetapi ia menenggelamkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka sebenarnya ia mempertuhankan hawa nafsunya.

Melarang dua orang mukmin yang ingin melakukan ishlah setelah berselisih bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu manakala mereka meyakini kebenaran urusan itu, melupakan perintah Allah mengishlahkan dua mukmin yang berselisih. Hawa nafsu dalam perkara itu kadangkala tampak gejalanya misalnya dalam bentuk menyepelekan pihak yang menginginkan ishlah mempertanyakan kedudukan para pelaku ishlah itu di antara manusia. Pertanyaan demikian sangat tidak diperlukan. Tidak ada ishlah di antara mukminin yang menimbulkan madlarat baik mereka hina ataupun mulia dalam pandangan manusia. Sebenarnya tidak ada mukmin yang patut dipandang hina, dan memandang sepele orang mukmin itu sikap yang salah. Ishlah demikian sifatnya berbeda dengan kesepakatan muslim dengan orang-orang musyrik yang mungkin membahayakan hingga boleh jadi perlu dilakukan penyelidikan. Pengabaian terhadap tuntunan Allah untuk mengikuti dorongan hawa nafsu seperti di atas bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala mempertuhankan hawa nafsu tampak sebagai perbuatan yang baik. Mungkin segolongan muslim berusaha mewujudkan kemakmuran di bumi, tetapi mengingkari millah membentuk rumah tangga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Aturan dan norma dibuat untuk dapat mengakomodasi penyimpangan dari tuntunan pernikahan menurut agama. Orang miskin mungkin dibuat kehilangan haknya untuk menikah sekalipun kedua pihak telah bisa saling menerima, atau mungkin orang-orang yang telah menemukan jodohnya sesuai tuntunan agama dengan mudah dicerai-beraikan, atau bahkan suami isteri yang telah menikah dibuat untuk bisa saling mengkhianati secara wajar. Biasanya keadaan demikian dibuat dengan mengakomodasi aturan-aturan dan norma-norma jahiliyah dan hal-hal lain yang dapat merusak proses terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hal demikian merupakan contoh sikap mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala pemikiran orang demikian dihiasi pandangan baik tanpa menyadari akibat yang ditimbulkan. Mereka bisa jadi memandang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebenaran mutlak, tetapi manakala berbicara tuntunan Allah secara terinci mereka menolak tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling tepat untuk menjadikan baik keadaan diri mereka. Mereka mungkin menganggap tafsiran orang lain terhadap tuntunan itu tidak dilakukan dengan benar, sedangkan sebenarnya ia sendiri lah yang mempertuhankan hawa nafsu. Seandainya ia berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepadanya, niscaya ia akan menemukan makna yang penting bagi dirinya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tersebut. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau mendengarkan perkataan orang lain dan tidak berusaha untuk memahami masalah dengan benar.

Hawa nafsu merupakan entitas semu dalam diri manusia yang bersifat bodoh tidak mau memahami nilai-nilai kebaikan, dan ia berkebutuhan terhadap penghormatan makhluk. Mungkin ia mengatakan tidak membutuhkan penghormatan, tetapi manakala terlihat keburukannya ia menjadi sakit atau takut hingga tidak mampu mengikuti kebenaran atau bahkan berusaha menutupi kebenaran daripada mengikutinya. Hal demikian menunjukkan kebutuhan terhadap penghormatan. Tentu tidak perlu membongkar keburukan, tetapi keburukan hawa nafsu akan melemahkan jihad menolong Allah. Hawa nafsu mungkin membangun suatu struktur pengetahuan yang rigid dan kompleks, tetapi struktur pengetahuan itu boleh jadi tidak mendatangkan manfaat bagi umat. Manakala seseorang memperturutkan pengetahuan diri tanpa berusaha mempertimbangkan kebaikan bagi umat, ia boleh jadi telah terjatuh pada memperturutkan hawa nafsu. Bila seseorang mengagungkan struktur pengetahuan dirinya tanpa ingin mendengarkan atau memahami nilai-nilai kebaikan yang harus dicapai dengan ilmunya, boleh jadi ia sebenarnya mempertuhankan hawa nafsu.

Hawa nafsu sangat dibutuhkan oleh setiap manusia sebagai kendaraan untuk memperoleh pengetahuan. Setiap orang harus merawat hawa nafsu masing-masing dengan baik agar dapat digunakan untuk memahami keadaan dunia yang harus dimakmurkan. Tanpa hawa nafsu, manusia akan kesulitan untuk memahami keadaan duniawi dirinya atau untuk melakukan amal-amal shalih. Merawat artinya mendidik dan memberikan pengetahuan kepada hawa nafsu agar tumbuh dengan baik sekaligus tidak tumbuh secara liar atau keliru, dan hawa nafsu itu dapat digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Bila hawa nafsu tumbuh liar, ia akan menguasai manusia dan bisa saja justru menjadi tuhan bagi diri mereka. Harus diperhatikan bahwa setinggi-tingginya keterdidikan hawa nafsu, seseorang tidak boleh menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang menjadi sumber kebenaran. Sumber kebenaran Allah terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak boleh menempatkan diri lebih tinggi daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sekalipun hawa nafsunya telah terdidik dengan sangat baik. Hawa nafsu bisa mengalirkan kebenaran, tetapi bukan sumber kebenaran.

Buruknya Mempertuhankan Hawa Nafsu

Mempertuhankan hawa nafsu merupakan kesesatan yang lebih jauh dari dari memperturutkan hawa nafsu dimana seseorang benar-benar menganggap hawa nafsunya sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak ingat bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Setiap bentuk pengetahuan yang tidak dilandasi suatu penghayatan nilai kebaikan dapat menjadi bentuk pengetahuan hawa nafsu, dan manusia dapat terjatuh hingga memperturutkan atau bahkan mempertuhankan hawa nafsu itu.

Allah bertanya kepada orang beriman, “apakah kalian bisa menjadi wakil (bagi orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu mereka)?”. Pertanyaan ini tampaknya lebih ditujukan kepada orang-orang yang berkewajiban mengurus atau berurusan dengan orang demikian, menggambarkan tingginya tingkat kesulitan dalam berhadapan dengan orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu akan menjadi makhluk yang mendatangkan masalah dalam tingkat yang mungkin tidak teratasi sedemikian Allah bertanya dengan pertanyaan demikian. Sangat sulit bagi seseorang untuk menjadi wakil yang ikut menanggung masalah dari orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Kebenaran mereka ditentukan berdasarkan hawa nafsu sedemikian orang-orang shalih tidak dapat meraba kebenaran versi orang yang dihadapi. Dengan keadaan demikian, orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu tidak akan bisa diwakili oleh orang lain, dan keilmuan mereka justru bisa mendatangkan kesulitan bagi orang lain.

Pada sisi tertentu, barangkali orang beriman tidak perlu memaksakan diri menyatukan langkah bersama. Apabila tampak sikap mempertuhankan hawa nafsu di antara orang-orang, orang beriman tidak harus berusaha menyatukan diri bersama-sama karena mereka tidak akan dapat menanggung kerusakan yang ditimbulkan. Sekalipun bisa menasihati, mereka mungkin tetap akan mengikuti kebenaran tuhannya sendiri menyimpang dari ketentuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka menerapkan aturan-aturan dari hawa nafsu mereka terhadap orang lain sedangkan aturan-aturan itu tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman hendaknya tetap berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengikuti aturan yang mereka terapkan.

Sikap demikian seringkali tidak mudah dilakukan. Seringkali manusia memandang orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Hawa nafsu yang mereka pertuhankan mungkin akan menjadi entitas cerdas yang bisa dibantu oleh syaitan sedemikian hawa nafsu itu bisa bercerita dengan pengetahuan yang banyak bagi orang lain, termasuk pengetahuan-pengetahuan yang merupakan rahasia bagi manusia. Dengan cara demikian, boleh jadi umat manusia akan memandang orang demikian sebagai orang-orang yang mendengar dan memahami. Sebenarnya pandangan itu tidaklah benar. Mereka bukanlah orang-orang yang mendengar dan bukan orang-orang yang memahami. Mereka itu sebenarnya orang yang tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Masalah berikutnya, Allah bertanya kepada orang-orang beriman : ”atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya”. Pertanyaan itu tampaknya ditujukan kepada masyarakat yang lebih umum daripada pertanyaan ayat di atasnya. Umumnya persangkaan orang-orang kebanyakan terhadap orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Persangkaan demikian sebenarnya keliru. Dalam pandangan Allah, mereka itu hanya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya.

Kesesatan itu akan dapat diketahui manakala diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang benar dalam menempuh langkah akan dapat mendengarkan dan memahami pengajaran tentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia dapat mendengarkan pengajaran kebenaran dari orang lain, tidak hanya mengikuti dorongan dalam diri sendiri dalam mengikuti kebenaran. Demikian pula ia akan bisa memahami kebenaran dari orang lain tidak hanya meyakini kebenaran dalam dirinya sendiri. Bila seseorang hanya meyakini kebenaran hanya terdapat pada diri sendiri dan menganggap tidak ada kebenaran dari perkataan orang lain, mereka sebenarnya tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat memahami.

Pada pokoknya, mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi karena pemahaman terhadap kehendak Allah secara benar. Seandainya hanya memahami sepotong kebenaran, mereka mengetahui titik kelanjutan yang benar dari potongan yang dikenalinya tidak kemudian tiba pada titik menyimpang mengikuti kesesatan. Orang-orang yang disangka mendengar dan memahami kadang tidak mengetahui arah yang harus dituju untuk mewujudkan kebaikan di alam bumi, baik arah untuk diri sendiri ataupun arah untuk umatnya, maka mereka mendatangkan kerusakan. Keadaan umat akan menjadi kacau balau. Mereka tidak membina diri untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi bisa saja justru merusaknya dengan kerusakan yang besar. Manusia dididik untuk menyimpang dari ajaran Allah, para perempuan menjadi para perempuan tanpa ketaatan terhadap suaminya, shilaturahmi antara suami isteri dan antara manusia dipotong-potong dibuat saling bermusuh-musuhan dan lain-lain. Sulitnya, ada orang-orang yang melakukan hal demikian atas nama Allah. Itu bisa terjadi karena mereka mempertuhankan hawa nafsu hingga sebenarnya mereka tidak mendengar dan tidak memahami kehendak Allah.

Melaksanakan kehendak Allah hendaknya dilakukan dengan menggunakan akal yang memahami kehendak-Nya. Setiap orang hendaknya berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dengan berusaha memahami kandungan kebaikannya. Terkait dengan urusan Allah yang harus ditunaikan, hendaknya ia tidak mengatakan dirinya membawa perintah Allah kepada orang lain tanpa memahami kandungan kebaikan pada perintah itu. Suatu pemahaman yang benar berbentuk pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang akan terwujud manakala kehendak Allah itu dilaksanakan, hingga pikiran tingkat hawa nafsunya memahami. Pernyataan seseorang dalam menunaikan perintah Allah harus disampaikan dengan membacakan tuntunan ayat kitabullah yang harus ditunaikan, tidak mengaku-aku saja menunaikan perintah Allah.

Kamis, 11 September 2025

Mendengarkan Sebagai Tanda Berakal

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang paling baik akan mendatangkan petunjuk dan menumbuhkan akal. Hal ini berlaku apabila seseorang senang mendengarkan perkataan kebenaran dan ingin memahaminya. Kesenangan seseorang dalam mendengarkan perkataan apabila mencapai derajat menyimak (يَسْتَمِعُونَ) merupakan suatu indikator bahwa orang tersebut adalah orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang yang mempunyai akal ( أُولُوا الْأَلْبَابِ). Mereka merasa membutuhkan mendengar perkataan yang baik dan membutuhkan pemimpin untuk diikuti dalam wujud orang yang menyampaikan perkataan yang paling baik.

Perkataan yang dibutuhkan orang-orang demikian adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan bagi makhluk seluruhnya. Sebenarnya seluruh kebaikan datang dari sisi Allah, dan perkataan yang lebih baik itu adalah perkataan yang dinyatakan oleh orang-orang yang lebih mengenal Allah. Ketika seseorang berusaha menyampaikan suatu perkataan yang baik, orang yang mendapat petunjuk Allah dan berakal akan mendengarkan perkataan itu karena merasa membutuhkan sekalipun mungkin bukan perkataan yang lebih baik. Mereka akan bersikap mengikuti apabila menemukan perkataan yang lebih baik. Orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal mungkin tidak tahan dengan perkataan-perkataan ghibah atau tidak bermanfaat, dan hal itu tidak menunjukkan hilangnya kebutuhan terhadap perkataan dan mengikuti perkataan yang lebih baik. Berat bagi orang yang berakhlak mulia terjebak dalam perbuatan sia-sia.

Kebanyakan manusia barangkali memandang bahwa orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang bisa menampilkan pengetahuan petunjuk dan kecerdasan akalnya tanpa membutuhkan pendapat orang lain dan menginginkan orang lain mengikuti perkataannya. Boleh jadi banyak orang memandang dirinya berakal kuat hingga tidak memerlukan pengetahuan orang lain dan memandang orang lain harus mengikuti perkataan dirinya. Orang-orang kebanyakan mungkin mensikapi orang berakal dengan cara demikian yaitu segan memberikan informasi yang benar kepada orang yang dianggap memperoleh petunjuk dan yang berakal kuat. Persepsi umat tentang ulul albab seharusnya disesuaikan dengan pernyataan ayat di atas. Orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang-orang yang berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ) sebenarnya berbentuk orang-orang yang senang menyimak perkataan yang baik dan senang mengikuti perkataan yang terbaik.

Kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan mengikuti perkataan terbaik merupakan sifat penanda orang yang memperoleh petunjuk dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ). Sifat ini tidak akan terlepas dari mereka. Hanya saja orang-orang demikian seringkali telah mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam sedemikian banyak perkataan orang lain sebnarnya telah diketahuinya. Manakala dirasa perlu, mereka mungkin akan menampilkan pengetahuan-pengetahuannya kepada masyarakat. Boleh jadi mereka tampak ingin diikuti, tetapi sebenarnya mereka menyeru manusia untuk mengenal kebenaran bukan menyeru manusia untuk mengikuti dirinya sendiri. Hal ini tidaklah menghilangkan kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan untuk mengikuti perkataan yang terbaik. Sebenarnya sangat banyak pula yang tidak diketahuinya yang perlu diperdengarkan kepadanya bila orang mengenalnya. Mereka tetap mempunyai keinginan untuk mendengarkan perkataan yang baik dan mengikuti perkataan yang terbaik, walaupun sayangnya seringkali tidak terpenuhi dari orang lain. Seandainya ada orang yang bisa menyampaikan perkataan yang lebih baik, niscaya ia berkeinginan mengikuti perkataan orang lain. Seringkali hanya washilahnya yang bisa memberikan perkataan yang lebih baik dan seharusnya diikuti. Manakala kebutuhan-kebutuhan ini tidak ada pada diri seseorang, mereka sebenarnya bukan orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ).

Keinginan mendengarkan dan mengikuti perkataan yang terbaik terkait dengan pengenalan terhadap imam yang harus diikuti. Pengenalan diri seseorang akan terjadi bukan semata dalam bentuk mengenal fungsi penciptaannya, tetapi juga peran diri dalam al-jamaah untuk melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Ia mengenal kebenaran, tetapi mengetahui bahwa kebenaran yang dikenalnya itu hanya sebagian kecil dari kebenaran yang diajarkan Rasulullah SAW. Ia menyeru umat manusia dengan segelintir kebenaran yang dikenalinya agar manusia mengikuti Rasulullah SAW bukan untuk mengikuti dirinya. Manakala ia mengetahui seseorang dengan perkataan yang lebih baik dari dirinya dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW, ia menyeru manusia untuk mengikuti perkataan yang lebih baik itu, sedangkan ia juga ingin membantu seseorang dengan perkataan yang lebih baik tersebut. Orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ) membutuhkan pemimpin untuk urusannya, setidaknya Rasulullah SAW. Mustahil orang tersebut merasa diri sebagai makhluk yang terbaik yang harus dijadikan panutan orang lain, kecuali sekadar dalam urusan kebenaran yang dikenalinya sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW.

Kemauan Mendengar dan Menggunakan Akal

Kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik dan mengikuti perkataan terbaik merupakan dua hal yang berbeda tingkatan. Setiap orang yang memperoleh petunjuk dan berakal mempunyai kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik. Mereka ingin mendengarkan setiap perkataan yang baik apabila mempunyai kekuatan dan kesempatan untuk mendengarkan. Tetapi belum tentu ia mengikuti. Mereka akan mengikuti perkataan yang lebih baik di antara perkataan-perkataan yang baik. Perkataan yang paling baik itu adalah perkataan orang-orang yang lebih mengenal atau paling mengenal kehendak Allah. Seandainya satu orang mengatakan perkataan yang paling baik dan orang lain mengatakan perkataan-perkataan yang baik, mereka akan mengikuti perkataan yang paling baik.

Sikap demikian merupakan hasil dari suatu proses berupa kemauan mendengarkan dan menggunakan akal. Kemauan mendengarkan merupakan bentuk dasar dari kebutuhan mendengarkan. Mungkin seseorang belum mempunyai kebutuhan untuk mendengarkan, tetapi ia mau mendengarkan perkataan-perkataan yang baik sekalipun hawa nafsunya tidak menyukainya. Hal itu adalah kemauan mendengarkan. Kebutuhan untuk mendengarkan perkataan yang baik akan tumbuh apabila seseorang mau mendengarkan perkataan yang baik dan menggunakan akalnya untuk menimbang nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu perkataan.

﴾۰۱﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS Al-Mulk : 10)

Akal adalah kekuatan dalam memahami kehendak Allah, bukan kekuatan pikiran melakukan manipulasi hal-hal duniawi. Indikator utama kekuatan akal adalah pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Akal akan terbina dengan baik apabila seseorang berusaha untuk memahami dan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kekuatan seseorang menimbang kebaikan yang ada dalam suatu perkataan ditentukan dengan pembinaan akal yang lurus dalam memahami kehendak Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Kemampuan menilai bobot kebaikan suatu perkataan ditentukan dengan kelurusan akal yang terbina sesuai dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak perkataan yang baik di antara manusia, dan masing-masing mempunyai bobot kebaikan yang berbeda. Persepsi setiap manusia terhadap bobot kebaikan dalam suatu perkataan tertentu pun bisa berbeda-beda tergantung pada kekuatan akal masing-masing. Pembobotan kebaikan yang benar adalah pembobotan yang dilakukan berdasarkan penghayatan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak orang-orang yang terkelabui dengan perkataan-perkataan yang indah dalam pendengaran mereka dan menganggap perkataan itu sebagai kebenaran, sedangkan mungkin saja perkataan itu adalah perkataan yang mendatangkan kerusakan besar bukan kebaikan. Hal itu bisa terjadi bila orang-orang tidak berusaha membina akhlak Alquran dalam dirinya. Orang yang akalnya terbina dengan benar tidak mungkin akan menganggap baik perkataan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang kuat akalnya akan mampu membobot nilai kebaikan dari suatu perkataan dengan benar berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik itu tumbuh setelah akal mampu menilai bobot kebaikan dalam suatu perkataan dengan benar. Tanpa tumbuhnya akal, seseorang baru berada pada keadaan mau mendengarkan ( نَسْمَعُ) belum butuh mendengarkan (يَسْتَمِعُونَ). Orang yang butuh mendengarkan perkataan yang baik merupakan hasil dari perkembangan akal dalam tingkatan ulul albab. Sifat ini bersanding dengan kebutuhan untuk mengikuti perkataan yang terbaik. Ulul albab mempunyai pengetahuan tentang siapa orang yang harus diikuti sebagai imamnya, dan pengetahuan ini tidak dibuat tanpa landasan. Ia mengetahui adanya nilai kebaikan yang lebih tinggi dari perkataan orang yang diikutinya, tidak menentukan imam untuk dirinya tanpa suatu pemahaman terhadap nilai kebaikan dalam perkataan-perkataan imamnya. Mereka tidak menjadikan orang yang menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai imam karena tidak mengetahui kebaikan pada penentangan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mungkin mengetahui berbagai keburukan yang mungkin akan menimpa dengan perbuatan demikian.

Melatih Keterampilan Mendengar

Kemauan mendengarkan dan menggunakan akal merupakan batas keselamatan. Orang yang tidak mau mendengarkan dan menggunakan akal akan terseret menjadi orang-orang yang menghuni neraka, dan orang-orang yang mau mendengarkan dan menggunakan akal akan tumbuh sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan orang-orang yang mempunyai akal kuat. Perkembangan seseorang akan dittentukan dengan kemauan dirinya mendengar. Bila ia mau mendengarkan, ia akan menjadi orang yang memperoleh petunjuk dan berakal. Kadangkala seseorang berusaha mengikuti kebenaran tetapi hanya kebenaran dirinya sendiri saja, maka hal demikian tidak termasuk mau mendengar. Ketika ayat-ayat kitabullah dibacakan, mereka tidak mau memperhatikan ayat-ayat kitabullah yang dibacakan karena mengikuti waham diri mereka sendiri tentang kebenaran. Ketika manusia membaca ayat-ayat kauniyah yang terjadi, mereka membangun pikiran kebenaran kauniyah sendiri tanpa suatu landasan realitas yang benar.

Keterampilan mendengarkan merupakan hal yang tampak sederhana tetapi sebenarnya sulit. Keterampilan ini akan menjadi mudah diasah apabila disertai dengan menggunakan akal. Sangat banyak orang-orang yang berbicara tanpa suatu kandungan yang jelas hingga mendengarkan hal itu akan mendatangkan kejenuhan. Demikian pula pembicaraan tentang kauniyah sekalipun bisa menjebak seseorang dalam persepsi kebenaran yang tidak berdasar. Bila seseorang berniat menggunakan akalnya untuk memahami ayat Allah, mereka akan memperoleh kemudahan untuk memilih mendengarkan apa yang bermanfaat, tanpa terjatuh pada sikap tidak mau mendengarkan. Tetap saja hal ini harus dilakukan dengan berhati-hati. Kadangkala seseorang terjebak pada kesombongan dalam meninggalkan pembicaraan hingga perkataan-perkataan yang baik pun dianggap tidak berguna. Bahkan kadangkala seseorang menghakimi orang lain tanpa mendengarkan penjelasan dari orang yang dihakimi karena merasa kedudukannya tinggi. Ini merupakan bentuk kesombongan. Orang-orang yang berusaha menggunakan akal untuk memahami ayat Allah akan menjadi mudah membina keterampilan mendengarkan.

Sikap tidak mau mendengarkan tidak hanya menjangkiti orang-orang kafir tetapi juga orang-orang beriman. Salah satu jebakan dalam langkah agama yang menjadikan orang tidak mendengarkan adalah sikap tidak menggunakan akal. Mungkin seseorang atau suatu kaum menjadi orang-orang yang mempunyai pendengaran bathin, mata bathin hingga qalb karena keimanannya, tetapi mereka memperturutkan persepsi indera-indera bathin mereka untuk melangkah tanpa menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Ini bisa menjadikan mereka orang yang tidak mendengar dan menjadi celaka sebagai orang-orang yang paling tersesat. Mereka mengabaikan tuntunan ayat-ayat Allah karena mengikuti persepsi indera-indera bathin sendiri.







Senin, 08 September 2025

Mendengarkan dan Kesejahteraan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Melangkah mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menggunakan akal dan mau mendengarkan kebenaran. Mustahil bagi manusia mengikuti langkah Rasulullah SAW hanya dengan mempercayai kebenaran diri sendiri saja tanpa bisa mendengarkan kebenaran dari orang lain atau tanpa menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah.

﴾۰۱﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS Al-Mulk : 10-11)

Mendengarkan dan menggunakan akal merupakan salah satu pangkal keselamatan bagi manusia dalam menempuh kehidupan. Sangat banyak orang menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala karena tidak mau mendengarkan dan tidak menggunakan akal. Sangat banyak amal-amal yang harus dikerjakan oleh setiap diri manusia untuk memberikan kemakmuran bagi alam semesta, sedangkan amal-amal itu berjalin antara satu amal dengan amal yang lain, dan antara satu orang dengan orang yang lain. Jalinan-jalinan itu akan bisa menjadi rapi apabila satu orang dengan orang lain saling bisa mendengarkan untuk menguatkan pemahaman pada setiap individu.

Memahami kebenaran perkataan arti mutlaknya adalah mampu menempatkan suatu perkataan dalam kerangka ayat kitabullah, sedangkan ia memahami nilai manfaat dari kebenaran itu. Kemampuan memahami kebenaran harus dibina dalam diri setiap muslim, tidak boleh membiasakan mendustakan kebenaran atau membangun suatu pemahaman tanpa berusaha menyertainya dengan memahami tuntunan ayat kitabullah. Kebenaran yang dipahami tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah akan mempunyai bobot pemahaman ringan. Kadangkala memahami tidak terjadi secara penuh. Mungkin seseorang merasakan kebenaran suatu perkataan tanpa mengetahui kedudukannya dalam kitabullah. Atau mungkin seseorang merasakan kebenaran hanya layaknya bayangan (imajinasi) tentang hubungan antara suatu perkataan dengan suatu ayat kitabullah. Hal demikian juga merupakan suatu cahaya pemahaman. Orang-orang yang berada di shirat al-mustaqim mempunyai kemampuan untuk memahami kebenaran dalam bentuk petunjuk-petunjuk, dapat membedakan petunjuk yang benar dan petunjuk yang salah.

Mendengarkan perkataan tidaklah dilakukan dengan secara membuta membenarkan perkataan orang lain, tetapi harus dilakukan dengan menimbang nilai kebaikan dari perkataan. Setiap orang harus berusaha untuk mendengarkan perkataan orang lain, tidak boleh bersikap senang menyanggah perkataan orang lain tanpa mengetahui secara jelas kesalahan yang ada pada perkataan itu. Adapun pertanyaan untuk menggali nilai hendaknya disampaikan dengan baik. Tidak jarang seseorang berbicara dengan perkataan sia-sia, maka menghindari pembicaraan demikian dibolehkan setelah dipastikan sedikitnya manfaat membicarakan perkataan-perkataannya.

Shilaturahmi dan Kesejahteraan

Kesejahteraan pada makhluk akan muncul apabila terjalin shilaturrahmi. Shilaturrahmi merupakan jalinan kasih sayang yang menghubungkan antara satu orang dengan orang lain dalam bentuk tertentu. Bentuk kasih sayang itu akan diketahui dengan pemahaman terhadap kehendak Allah. Shilaturrahmi ini akan terjalin baik apabila setiap orang dapat mendengarkan orang lain dengan tepat serta berusaha memahami kehendak Allah, dan akan rusak apabila orang-orang tidak mau mendengarkan kebenaran dari orang lain atau tidak mau memahami kehendak Allah atas diri mereka. Dalam semua bentuk turunannya, shilaturrahmi akan membentuk suatu jalan kesejahteraan bagi manusia dalam kehidupan di bumi. Tanpa shilaturahmi, sulit ditemukan jalan kesejahteraan. Shilaturahmi yang sesungguhnya terbentuk di atas pemahaman terhadap kehendak Allah.

Jalinan shilaturrahmi akan menjadi dasar-dasar terbentuknya al-jamaah di antara kaum muslimin. Mereka mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah pemimpin tertinggi bagi urusan besar mereka, dan urusan itu diturunkan hingga setiap diri mempunyai bagian urusan dari satu urusan besar Rasulullah SAW melalui suatu jalinan tertentu. Pengetahuan demikian seharusnya terbentuk hingga dalam wujud yang nyata, satu orang mengetahui hubungan urusannya dengan washilah dirinya dan mengetahui hubungan urusannya dengan sahabatnya. Seseorang tidak boleh membuka urusan dirinya dari Allah hanya untuk diri sendiri tanpa terkait dengan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya.

Basis dari pertumbuhan shilaturahmi di antara manusia adalah pembentukan rumah tangga yang baik dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Penurunan urusan dari urusan Rasulullah SAW hingga terbentuknya pengetahuan urusan setiap diri akan terjadi serupa dengan terbentuknya urusan antara seorang suami dengan isterinya dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang isteri harus mencari urusan Allah bagi dirinya melalui suaminya, dan seorang laki-laki akan mempunyai pengetahuan tentang washilahnya serupa dengan isteri yang mencari urusan Allah melalui suaminya. Demikian urusan itu akan terjalin hingga terhubung dengan urusan Rasulullah SAW. Bila manusia mempunyai keinginan kuat untuk ibadah dengan ikhlas kepada Allah, mereka akan menemukan jalan untuk terhubung dengan urusan Rasulullah SAW melalui washilah-washilah dalam suatu al-jamaah.

Mendengarkan dan menggunakan akal menjadi kunci membina jalinan shilaturahmi. Sangat sulit membangun shilaturrahmi apabila orang tidak mau mendengarkan dan menggunakan akal untuk memahami kebenaran pihak lainnya. Misalnya kala seseorang berkeinginan untuk melakukan ishlah, apabila pembicaraannya hanya dihujat dan tidak dipahami dengan benar oleh pihak lainnya maka ia akan sulit untuk menerima hujatan itu hingga shilaturrahmi tidak dapat disambungkan. Kadangkala proses shilaturrahmi memerlukan proses panjang karena sikap buruk yang saling berbalas. Untuk proses yang lebih baik, cara penyampaian pesan satu pihak kepada pihak yang lain hendaknya dilakukan dengan jelas menghindarkan kesalahpahaman. Hal ini tetap akan mentah kembali bila salah satu pihak tidak mau mendengarkan pihak lainnya. Setiap pihak harus berusaha mendengarkan dan menggunakan akal untuk melangkah menuju keadaan yang lebih baik. Buruknya shilaturrahmi di antara masyarakat akan menjadi sumber masalah sosial di antara masyarakat.

Shilaturrahmi hendaknya mengarah pada realisasi kebenaran dari sisi Allah. Pada pokoknya, mendengarkan dan menggunakan akal harus dilakukan terhadap seruan orang-orang yang menyeru kepada Allah. Tidak terbatas pada pokoknya, hal demikian harus pula dilakukan terhadap pihak lain agar terbentuk hubungan shilaturrahmi yang lebih luas. Shilaturahmi kepada orang-orang yang menyeru kepada Allah akan menjadikan seseorang lebih memahami urusan Allah yang harus direalisasikan dalam kehidupan. Orang-orang yang menyeru kepada Allah adalah orang-orang yang mengenal urusan Allah untuk diwujudkan dalam kehidupan. Shilaturahmi kepada masyarakat luas akan menyebarkan (sedikit) kebenaran yang telah dikenalnya kepada masyarakat hingga masyarakat diharapkan juga menolong realisasi kebenaran yang diperkenalkan kepada diri mereka.

Yang dimaksud orang yang menyeru kepada Allah adalah orang-orang yang menyeru umat manusia untuk memahami ayat-ayat Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW serta menyeru manusia untuk memahami ayat kauniyah sesuai dengan kedua tuntunan itu, agar pengetahuan itu diwujudkan dalam langkah amal-amal mengikuti kehendak Allah sesuai ruang dan jamannya. Kadangkala suatu kaum meletakkan kebenaran pada suatu proses atau pada seseorang di antara mereka tanpa dimanfaatkan untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah. Hal demikian tidak dapat dikatakan mengikuti seruan kepada Allah. Menyeru kepada Allah adalah menyeru manusia melangkah mengikuti firman Allah yaitu Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berprasangka ada kebenaran pada seruan dari orang lain kepada Allah dan memikirkan kebenaran seruan itu. Seseorang tidak boleh mengikuti langkah orang lain kembali kepada Allah secara membuta tanpa disertai usaha memahami tuntunan kitabullah.

Pada kasus tertentu, ketidakmampuan mendengarkan perkataan orang lain menunjukkan adanya suatu kesesatan dalam mencari kebenaran. Kaum yang meletakkan kebenaran pada orang-orang tertentu di antara mereka tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah akan mengalami kesesatan terjebak dalam fanatisme. Mereka bisa saja menjadi tidak mampu mendengarkan kebenaran dari perkataan orang lain sekalipun orang tersebut menjelaskan kandungan dari ayat-ayat kitabullah yang dapat dipikirkan kebenarannya pada kauniyah mereka. Hal ini sangat mungkin terkait langsung dengan sikap mendustakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena salah meletakkan kebenaran. Sikap pendustaan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mencari kebenaran merupakan bentuk kesesatan dalam perjalanan kembali kepada Allah.

Sebagian Madlarat Tidak Mendengarkan

Proses pemiskinan akan terjadi mengikuti kesesatan pada suatu kaum yang disebabkan ketidakmampuan mendengarkan dan menggunakan akal. Orang-orang demikian tidak mempunyai pengetahuan yang tepat terhadap sesuatu yang berharga dan yang tidak berharga. Apa yang berharga mungkin tidak dihormati dengan selayaknya sedangkan mereka bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu yang tidak berharga. Apa yang bermanfaat besar ditinggalkan dan sibuk mengerjakan hal yang tidak penting. Hal demikian akan menumbuhkan proses pemiskinan. Orang-orang yang mempunyai pemikiran berharga kemudian mungkin tidak dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakatnya, sedangkan masyarakat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berkaitan dengan masalah ruang dan jaman mereka. Pola lainnya, kadangkala masyarakat terkumpul pada suatu bidang sempit hingga setiap orang berebut mengerjakan hal yang sama tanpa mengetahui luasnya jalan produktif dalam diri mereka yang harusnya mereka tempuh. Atau boleh jadi satu orang menghancurkan jalan kehidupan orang lain baik disadari atau tidak disadari. Bila dilakukan dengan keinginan, hal itu merupakan kejahatan. Kadangkala menghancurkan yang lain terjadi tanpa disadari karena kebodohan. Hal-hal demikian menyebabkan terjadinya proses pemiskinan.

Bila seseorang benar dalam menghamba kepada Allah, seharusnya terjadi perbaikan dalam kehidupan mereka, setidaknya dalam memahami kauniyah kehidupan dirinya. Pemahaman itu seharusnya merembes dalam bentuk perbaikan kehidupan jasmaniah, tetapi seringkali seseorang dijadikan lebih cerdas dengan ujian-ujian kehidupan yang banyak. Artinya, kebaikan yang diberikan kepadanya lebih berbentuk kecerdasan akal dalam memahami ayat Allah. Kadangkala suatu kaum merasa telah menjadi hamba Allah tetapi tidak ada perbaikan dalam kehidupan mereka dan justru semakin memburuk. Ia tidak bertambah cerdas dalam memahami ayat Allah dan tidak pula kehidupan duniawinya membaik. Hal demikian menjadi indikator bahwa mungkin mereka sebenarnya kurang dalam kemampuan mendengarkan kebenaran dan tidak menggunakan akalnya. Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan keadaan diri mereka dengan seksama, tidak mengaku-aku bahwa Allah suka menimpakan ujian kepada dirinya sedangkan ia tidak bertambah memahami masalah. Hamba Allah yang baik akan mengalami perbaikan kehidupan baik dalam bentuk rezeki bathiniah (dan) akal atau rezeki jasmaniah karena tertatanya kehidupan duniawi sesuai dengan penjelasan (bayyinah) Allah.

Proses pemakmuran akan terjadi mengikuti perbaikan nafs seseorang atau suatu kaum dengan mau mendengarkan dan mau menggunakan akal. Bila tidak ada kemampuan mendengarkan atau menggunakan akal, tidak akan terwujud perbaikan nafs pada suatu kaum, dan tidak akan terwujud pemakmuran pada kaum tersebut. Barangkali proses pemakmuran pada suatu kaum tidak langsung berwujud kemakmuran jasmaniah, tetapi terjadi penataan nafs di antara kaum dalam melaksanakan urusan Allah. Harus diperhatikan bahwa orang-orang pada kaum tersebut mengalami peningkatan akal dalam memahami urusan Allah. Bila tidak terjadi peningkatan pemahaman dalam urusan Allah, tidak akan terwujud sumber-sumber pemakmuran bagi suatu kaum, dan sebenarnya tidak ada proses pemakmuran pada kaum tersebut. Bukan proses pemakmuran yang belum terlihat, tetapi tidak ada proses pemakmuran yang terjadi. Kadangkala tidak adanya proses pemakmuran tampak seperti terjadi suatu proses pemakmuran tetapi kembali runtuh tanpa suatu sebab yang diketahui.

Indikator dari peningkatan pemahaman adalah jumlah ayat-ayat kitabullah yang dipahami selaras dengan kauniyah mereka dan diterapkan dalam kehidupan. Manakala pemahaman itu hanya suatu ajaran yang dijejalkan, ajaran itu bukanlah suatu pemahaman terhadap ayat Allah. Manakala orang-orang mengerti ayat kitabullah terkait kehidupan mereka, itu adalah pemahaman yang tumbuh. Manakala suatu kaum hanya bergantung pada perkataan seseorang, mereka belum mempunyai pemahaman. Mungkin perkataan itu merupakan panduan yang berguna, hanya saja mungkin kaum itu belum memahami. Bila perkataan itu dianggap kebenaran mutlak tanpa usaha memahami kaitan kebenarannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kaum demikian hanya mengikuti bid’ah.

Pemakmuran secara jasmaniah akan terjadi mengikuti terbentuknya jalinan shilaturahmi yang baik dalam rumah tangga dalam melaksanakan amal-amal. Rumah tangga pasangan manusia merupakan bentuk shilaturahmi yang secara khusus berfungsi melahirkan khazanah dalam diri manusia ke alam dunia termasuk pemahaman-pemahaman terhadap kebenaran. Seandainya para laki-laki hanya mengejar kekayaan dan kedudukan duniawi saja, para isteri yang baik akan mendatangkan jalan-jalan kekayaan dan kedudukan bagi mereka sehingga terjadi pemakmuran duniawi. Manakala para laki-laki adalah shalihin yang memahami kehendak Allah, akan terwujud pemakmuran sesuai kehendak Allah bila para isteri mereka mau memperhatikan pemahaman suami mereka. Apabila para isteri meninggalkan suaminya, mereka akan hidup dalam kesulitan terutama bila suami mereka adalah orang-orang yang shalih. Banyak suami dan isteri tidak memperoleh bagian dari dunia karena visi masing-masing berbeda. Sekalipun visi masing-masing tampak indah, tetapi tidak disertai dengan penyatuan arah kehidupan secara benar dengan saling mendengarkan dan menggunakan akal untuk memahami pihak lainnya, kehidupan akan sulit.

Pemakmuran tidak akan tumbuh manakala jalinan shilaturahmi dirusak. Banyak hal dapat merusak shilaturahmi. Bila para perempuan tidak dibina untuk menempati kedudukan sebagai penolong suaminya, shilaturahmi yang terbentuk akan lemah. Bila orang-orang di suatu kaum tidak dibina untuk dapat menempati kedudukan yang tepat, akan terjadi perebutan kedudukan yang akan merusak shilaturahmi. Demikian pula manakala ilmu-ilmu dan kebenaran yang ada di masyarakat tidak dihargai, masyarakat tidak akan dapat membentuk shilaturahmi yang kokoh di antara masyarakat sebagai landasan kesejahteraan. Menempatkan orang pada kedudukan yang tepat harus dilakukan dengan menilai jenis ilmu yang diberikan kepada seseorang serta bobotnya, tidak dilakukan dengan mereka-reka kedudukan baginya. Bila seseorang belum diberi ilmu Allah, ilmu-ilmu kebenaran yang dapat dikumpulkan dapat menjadi pertimbangan menentukan kedudukan yang tepat. Ada ilmu-ilmu tertentu yang bersifat fitnah dapat menggantikan ilmu-ilmu hakikat, hal demikian dapat merusak shilaturahmi di antara masyarakat. Setiap muslimin hendaknya berusaha untuk membina jalinan shilaturahmi yang benar agar terbentuk pondasi untuk pembinaan kesejahteraan.

Kadangkala suatu kaum merasa telah berjuang untuk menegakkan agama tetapi tidak muncul kesejahteraan bagi diri mereka. Bila demikian, hendaknya mereka membina suatu pemahaman yang tepat. Tidak sedikit orang yang merasa berjuang untuk agama sebenarnya telah meruntuhkan nilai-nilai agama. Mereka berjuang memakmurkan syiar-syiar agama tetapi justru meruntuhkan pokok-pokok agama. Salah satu pokok dari agama adalah terbentuknya shilaturahmi dan pernikahan, serta separuh bagian lainnya adalah ketakwaan dalam memahami kehendak Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.