Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.
Perintah Istiqamah
Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.
﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)
Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Amr Allah itu berbentuk ayat-ayat kitabullah Alquran yang harus ditunaikan dengan meninggalkan segala hal yang lain apabila diperlukan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Penanda gerbang shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah Alquran untuk menegakkan amanah.
Gerbang shirat al-mustaqim itu adalah ayat kitabullah, bukan bentuk-bentuk perjuangan yang dibuat-buatkan bagi umat. Perintah Allah itu seluruhnya tercakup alam suatu ayat tertentu tidak keluar darinya. Intinya, perintah Allah itu berupa keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat Allah. Manakala seseorang mencerap suatu perintah Allah yang tidak tercakup dalam suatu ayat kitabullah, maka hal itu tidak termasuk dalam perintah Allah. Mungkin benar merupakan perintah Allah tetapi hanya berlaku manakala ia telah memahami ayat kitabullah tentang perintah itu. Demikian pula orang-orang yang mencerap perintah Allah tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah, maka dipastikan perintah itu bukanlah perintah Allah. Sangat mungkin perintah demikian merupakan perintah syaitan yang berusaha menyesatkan manusia dan merusak tatanan umat manusia.
Ada beberapa ciri pembenar shirat al-mustaqim. Seruan kepada shirat al-mustaqim itu hanya benar bila seseorang dapat menunjukkan ayat kitabullah yang terbuka kepada dirinya. Bukan hanya kandungan maknanya, gerbang shirat al-mustaqim itu seringkali dapat dilihat secara nyata kesesuaiannya dengan kauniyah yang terjadi. Ciri lain gerbang shirat al-mustaqim adalah seseorang akan mengenal kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW sebagai bagian al-jamaah. Kadangkala seseorang memperoleh landasan perjuangan dari ayat kitabullah tetapi boleh jadi sebenarnya ia belum termasuk dalam golongan al-jamaah karena sifat pemahamannya masih berupa tafsir. Ia harus berusaha memahami kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Bila seseorang merasa sebagai pembawa kebenaran secara mandiri tidak membutuhkan sandaran kebenaran dari Rasulullah SAW, mereka adalah orang yang tersesat. Manakala seseorang tidak dapat menunjukkan ayat kitabullah yang menjadi landasan perjuangannya, pasti amanahnya itu bukan suatu perintah Allah yang telah ditetapkan bagi manusia. Mungkin urusan itu bisa mendatangkan manfaat bagi manusia tetapi bukan benar-benar shirat al-mustaqim, atau boleh jadi urusan itu sebenarnya mendatangkan kerusakan yang besar.
Ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah indikator yang nyata bahwa suatu urusan merupakan shirat al-mustaqim. Banyak tipuan yang datang kepada orang-orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim. Banyak orang yang tertipu untuk menempati kedudukan tertentu dalam urusan Allah tanpa memahami urusannya dari tuntunan kitabullah Alquran. Ia tidak mengetahui langkah yang benar atau kesalahan langkah yang mungkin terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah tetapi mau menerima urusan Allah. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengalami kesalahan dalam melaksanakan urusan Allah, tetapi setiap orang harus mempunyai bekal pengetahuan urusannya dari tuntunan kitabullah dan harus berusaha untuk berbuat benar dan menghindari kesalahan dengan pengetahuannya, sedangkan ia meminta ampunan Allah untuk kesalahan yang mungkin terjadi. Kadangkala manusia tertipu dengan kata-kata makhluk lain atau hawa nafsu dirinya sendiri tentang kedudukan dirinya dalam urusan Allah sedangkan keadaannya jauh dari yang disampaikan. Sebagian orang tertipu memperoleh ilmu yang sebagiannya benar dan sebagian lain merusak manusia. Hal-hal demikian dapat terjadi apabila seseorang tidak berusaha memeriksa keadaan dirinya dengan indikator kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak potensi tipuan-tipuan lain yang mungkin mendatangi orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim.
Bagi orang-orang berakal, sekalipun ribuan makhluk yang tinggi datang memintanya menjadi pemangku urusan Allah, mereka tidak akan bersedia memenuhi permintaan itu selama tidak melihat urusannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan ia dapat memahami tuntunan itu dengan benar. Ia tidak akan menganggap dirinya pemangku urusan Allah tanpa suatu pengetahuan yang benar dari ayat kitabullah dalam urusan itu. Ia mungkin beramal tertentu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, tetapi tidak menuntut pengakuan sebagai pemangku urusan Allah. Dijadikan pemangku urusan Allah hanya bisa diterima oleh orang berakal berdasar kandungan kitabullah yang terbuka kepada dirinya, tidak berdasarkan prasangka diri tentang dirinya ataupun perkataan orang lain tentang dirinya.
Tegak Sebagaimana Diperintahkan
Manakala seseorang mengetahui seruan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan hendaknya orang-orang yang bertaubat menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan shirat al-mustaqim karena boleh jadi mereka terjerat sebagai orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.
Allah memerintahkan untuk melaksanakan amanah secara fokus dengan perintah : فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ. Menyeru sahabat atau pengikut jalan taubat menuju shirat al-mustaqim mungkin tampak mudah tetapi sebenarnya cukup rumit. Kadangkala sekelompok orang bertaubat selama puluhan tahun dan usia menua tetapi tidak ada yang melihat shirat al-mustaqim bagi mereka. Hal ini terkait dengan kejelasan fokus obyek shirat al-mustaqim yang ditunjukkan. “Sebagaimana kamu diperintahkan” merupakan perintah untuk fokus memperhatikan ayat-ayat dalam kitabullah yang menjadi amanahnya. Boleh jadi seseorang tidak terlalu jelas atau kurang fokus menunjukkan ayat dan maknanya kepada para sahabat atau para pengikutnya. Atau boleh jadi para para pengikut atau shahabat yang tidak mampu fokus menangkap penjelasan yang disampaikan. Kadangkala terlalu banyak kembangan atau variasi kebenaran yang bersifat gimik diajarkan hingga para pentaubat itu menjadi tidak fokus terhadap perintah Allah. Hal-hal demikian itu bisa muncul bersamaan pada satu jamaah taubat.
Masalah fokus perhatian dapat dilihat pada contoh kasus metode seorang syaikh yang mempunyai ilmu tentang keadaan jamannya dan tertulis secara jelas dalam kitab-kitabnya. Manakala mengajar para murid, beliau mungkin hanya membacakan ayat-ayat kitabullah yang diamanahkan saja tanpa suatu penjelasan apapun terkait ilmu yang ada padanya. Hal ini bertujuan agar para murid mengarahkan fokus pada ayat kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi mereka. Cara demikian menggambarkan keadaan yang mempengaruhi cara menyeru. Para murid harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk dapat memahami kandungan ayat-ayat kitabullah dengan kesucian jiwa yang mencukupi agar pemahaman yang terbentuk tidak menyimpang. Manakala para murid belum siap, ia tidak membuka seruan menuju shirat al-mustaqim secara jelas. Sebenarnya apabila para murid siap, mereka akan mengetahui dengan sendirinya apa yang tertulis dalam kitab syaikhnya sebagai penjelasan dari ayat-ayat kitabullah yang menjadi amanahnya.
Fokus terhadap amanah dalam ayat kitabullah demikian harus selalu dijaga agar para pengikut atau sahabat perjalanan dapat mengerti amr Allah yang diserukan. Seseorang tidak harus bersikap persis seperti sang syaikh karena boleh jadi keadaan sahabatnya telah berkembang. Tetap saja setiap orang harus menjaga fokus penjelasan amr Allah berdasarkan ayat kitabullah yang menjadi amanah untuk ditunaikan. Memfokuskan perhatian ini bisa disampaikan dengan cara menyampaikan ayat yang menjadi amanah, dan memberikan penjelasan terkait dengan ayat tersebut seperlunya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Penjelasan yang menyimpang, kembangan dan variasi penjelasan yang bersifat gimik mungkin mengganggu fokus orang yang diseru, maka hendaknya hal demikian dihindari. Penjelasan ayat-ayat dengan cara atau redaksi yang jauh dari redaksi ayat hendaknya dihindari karena perhatian pendengar akan menyimpang. Pendengar mungkin terganggu fokus perhatiannya dari perintah Allah dengan gimik-gimik kebenaran yang tidak terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Orang yang diseru pada shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya. Menyeru orang-orang yang tidak bertaubat akan mendatangkan masalah yang relatif banyak. Hawa nafsu orang-orang yang tidak tertata boleh jadi akan membentuk suatu pemikiran baru yang tidak mengarah pada langkah mendekat kepada Allah hingga suatu kebaikan yang diserukan boleh jadi menjadi keburukan karena hawa nafsu. Bila yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat, nilai-nilai kebaikan yang diserukan kemungkinan besar akan tumbuh pada orang-orang yang diseru menjadi kebaikan pula sedemikian kebaikan itu akan menjadi subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan metode penyampaian amanah Allah, karenanya yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat bersama dengan diri penyeru.
Kandungan ayat kitabullah yang dapat dipahami seseorang bisa sangat luas walaupun misalnya hanya hanya berasal dari satu ayat saja. Misalnya seseorang dapat memahami peristiwa dunia dari perang-perang dunia yang terjadi, terbentuknya negara-negara sekutu dengan kuasa yang tidak adil, pengaruh mereka dalam kehidupan berbangsa dalam negeri sendiri, pengaruhnya terhadap ulah-ulah oknum para pejabat negara yang mengambil kebijakan menyengsarakan masyarakat hingga perilaku rumah tangga diri mereka sendiri, seluruhnya bisa diperoleh dari kandungan satu ayat kitabullah saja. Lebih dari itu, bisa jadi mereka mempunyai ilmu tentang ekonomi negara, pengetahuan tentang lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan sumber daya manusia dan lain sebagainya dari satu ayat kitabullah yang sama. Orang-orang yang diseru hendaknya berusaha memahami apa-apa yang terhubung dengan ayat kitabullah yang ditunjukkan, dan penyeru hendaknya menyampaikan apa-apa yang sesuai dengan pendengarnya, yaitu pendengarnya mengetahui bahwa yang disampaikan merupakan bagian dari seruan shirat al-mustaqim. Yang penting, orang yang bertaubat bersama dirinya dapat mengenal shirat al-mustaqim, walaupun harus memulai dari sedikit pengetahuan. Seseorang hendaknya tidak dituntut beramal tanpa suatu pengetahuan hubungan amalnya dengan ayat kitabullah. Tuntutan beramal dengan cara demikian seringkali menjadikan seseorang bertindak berlebihan.
Orang-orang yang diseru hendaknya memperhatikan pokok seruan berupa ayat-ayat Allah. Ayat-ayat kitabullah itulah yang menjadi seruan shirat al-mustaqim, sedangkan penjelasan orang-orang yang menyeru hanya bersifat membantu memahami shirat al-mustaqim. Bila seseorang tidak memahami ayat kitabullah yang diserukan, ia tidak akan melihat shirat al-mustaqim sekalipun memahami pekerjaan yang harus dilakukan. Shirat al-mustaqim itu hanya apa-apa yang diserukan oleh ayat kitabullah Alquran, tidak ada di luar yang diserukan. Hal demikian harus benar-benar disadari oleh orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim, tidak mengambil urusan Allah tanpa landasan firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala suatu kaum justru mempertuhankan orang-orang yang menyeru kepada shirat al-mustaqim, melaksanakan semua perintah-perintahnya tetapi mengabaikan ayat kitabullah yang diserukan tidak berusaha mengetahui perintah Allah melalui ayat kitabullah yang diserukan. Mempertuhankan manusia merupakan satu tanda suatu kaum melampaui batas.
Setiap usaha menyeru hendaknya dilakukan tanpa melampaui batas. Ilmu-ilmu diajarkan agar para pentaubat dapat memahami amal yang dapat dilakukan untuk menegakkan shirat al-mustaqim, dan kemudian ia dapat beramal tanpa melampaui batas. Manakala seseorang bertindak tanpa suatu ilmu misalnya, ia akan sangat mudah bertindak melampaui batas. Bila seseorang dituntut mentaati suatu urusan tanpa didukung dengan pengetahuan tentang urusannya, mereka mungkin akan terjatuh pada ketaatan buta hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ketaatan buta merupakan tanda melampaui batas. Setiap rantai dari kelahiran amal shalih hendaknya dibina dengan sebaik-baiknya agar manusia tidak terjatuh pada sikap berlebihan.
Upaya mewujudkan amal shalih hendaknya dimulai dengan membuka pemahaman para pentaubat terhadap kehendak Allah, tidak digegas mewujudkan amal tanpa suatu landasan pemahaman. Shirat al-mustaqim benar-benar dimulai dari keterbukaan pemahaman terhadap masalah kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, bukan dalam bentuk perintah amal tertentu. Amal yang harus dilaksanakan di shirat al-mustaqim secara umum lebih banyak terbit dari akal manusia, dan hanya beberapa di antara amal itu berbentuk perintah amal tertentu. Boleh jadi keumuman itu berbeda dengan orang-orang khusus. Hendaknya amal shalih sebagai turunan shirat al-mustaqim diwujudkan dengan cara yang sama yaitu memberikan wawasan tentang keadaan kauniyah kemudian diikuti amal shalih yang sesuai dengan wawasan itu. Suatu perintah amal tidak akan bisa dilaksanakan dengan efektif tanpa landasan pemahaman masalah. Perintah tanpa memberikan pengetahuan kepada yang diberi perintah hendaknya dihindari. Produktifitas amal seseorang akan sangat dipengaruhi oleh landasan pemahamannya terhadap persoalan. Seseorang yang memahami masalah akan melahirkan amal-amal yang produktif sesuai dengan masalahnya, sedangkan orang-orang yang tidak memahami masalah akan sulit mewujudkan produktifitas.