Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan secara berjamaah. Secara khusus, ada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Orang-orang yang diperintahkan demikian adalah penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung.
﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)
Para penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung demikian dapat menunjukkan manusia pada kebaikan (الْخَيْرِ), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Kebaikan (الْخَيْرِ) menunjuk pada kebaikan yang berwujud nilai-nilai kebaikan, tatanan yang mendatangkan kebaikan maupun kebaikan dalam wujud harta benda yang baik. Al-ma’ruf ( المَعْرُوف ) menunjuk pada pengetahuan terhadap kehendak Allah sedemikian orang-orang yang mengikuti perintah orang-orang demikian akan memahami kehendak Allah atas diri mereka atau diri masing-masing. Al-munkar (الْمُنكَرِ ) menunjuk pada kebodohan terhadap kebenaran.
Kebaikan, al-ma’ruf dan al-munkar dikenali oleh orang-orang yang menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka bukan sekadar orang-orang yang membaca sekilas tuntunan kitabullah kemudian berbantah-bantah tentang ayat Allah, tetapi berusaha benar-benar memahami maksud Allah sesuai tuntunan yang disampaikan kepada diri mereka. Usaha itu dilakukan dengan upaya melakukan tazkiyatun nafs agar pemahaman yang terbentuk dalam diri mereka tidak terkotori oleh hawa nafsu dan syahwat, bukan sekadar bertanya-tanya tentnag kehendak Allah terkait ayat yang dibaca. Mereka menyadari bahwa akal yang bisa menyentuh tuntunan kitabullah hanyalah akal yang berada pada nafs yang dibersihkan dari pengaruh dosa-dosa hawa nafsu dan syahwat. Selama hawa nafsu dan syahwat berkuasa, seseorang tidaklah mampu menyentuh makna dalam ayat kitabullah dengan benar.
Dengan kata lain, orang-orang yang menempuh langkah tazkiyatun-nafs sebenarnya mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk menyeru manusia pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Hal ini hendaknya disikapi dengan tepat, bahwa suatu langkah tazkiyatun nafs sebenarnya akan mendatangkan pemahaman yang mengandung tanggung jawab. Manakala pemahaman terhadap tuntunan kitabullah belum diberikan, seseorang tidak harus/tidak boleh mengada-adakan usaha untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan alma’ruf dan mencegah dari al-munkar. Manakala proses tazkiyatun nafs telah berjalan lama dan tidak mendatangkan pemahaman, ia harus menimbang bahwa mungkin tazkiyatun nafs yang ia tempuh sebenarnya hanya sia-sia karena tidak mendatangkan pemahaman terhadap ayat Allah berupa ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan untuk pergi dari jalan tazkiyatun nafs, tetapi hendaknya mereka memandang diri layaknya orang-orang yang mengolah lahan tanpa menanamkan benih pada lahan-lahan yang mereka olah. Berikutnya hendaknya mereka berusaha menanamkan benih-benih yang ada pada diri mereka, bukan meninggalkan mengolah lahan. Wujud benih itu akan terlihat apabila mereka memperhatikan ayat-ayat Allah, yaitu memperhatikan ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak memperhatikan wujud tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW di alam kauniyah, mereka tidak akan merasakan keberadaan benih dalam diri sendiri.
Dewasa ini sangat banyak tatanan manusia yang justru membuat kesejahteraan menjauh dari bangsa, tetapi seperti tidak ada orang yang mengetahui jalan keluar dari masalah tersebut. Sistem demokrasi menjadikan bangsa semakin melarat terlilit beban yang semakin berat. Demikian pula sistem keuangan menjerat rakyat hingga orang miskin hidup semakin sulit. Sebenarnya hanya musyrikin yang menikmati sistem riba demikian. Sumber daya alam rusak karena keserakahan manusia terhadap harta dan kekuasaan. Tingkat kesehatan manusia semakin rendah dengan kebergantungan terhadap obat-obatan yang semakin tinggi. Pendidikan tidak menjadikan orang-orang yang dididik mampu tumbuh menyatu dengan semesta mereka, sedangkan orang-orang yang berusaha berpikir justru disingkirkan. Fenomena-fenomena tersebut merupakan gambaran-gambaran yang muncul dari kurang utuhnya agama, terjadi pemisahan isteri dari suaminya atau pemisahan manusia dengan akalnya sebagai perusakan setengah bagian dari agama. Sangat banyak persoalan bangsa tidak terbatas pada perkara-perkara di atas yang seharusnya dientaskan oleh orang-orang beriman dengan menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Upaya itu dapat dilakukan dengan melakukan upaya penataan akal pada setiap insan dan penataan keluarga sebagai taatanan sosial.
Penataan akal dan pikiran dalam hal ini adalah pengenalan terhadap nilai-nilai kemuliaan dalam kebenaran. Pengajaran untuk penataan akal dan pikiran harus dilakukan agar terjadi pembinaan akhlak mulia, bukan hanya dalam bentuk keterampilan melakukan manipulasi duniawi. Seseorang yang merendahkan orang lain karena pengetahuan dirinya tidak menunjukkan akal dan pikiran yang benar, bahkan bila sekalipun terkait pengetahuan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kaum tidak bisa mengapresiasi nilai suatu kebenaran yang disampaikan oleh orang lain karena waham yang diajarkan, maka pengajaran kaum itu sebenarnya gagal. Kadangkala seorang isteri tidak bisa menghormati suaminya sekalipun telah diberi pengetahuan kehidupan yang banyak hanya karena sempitnya rezeki. Ia mungkin mengikuti suatu pengajaran dari orang lain. Hal demikian tidak menunjukkan pembinaan akal yang benar. Sekalipun orang banyak memandang hebat pengetahuan yang dimiliki seseorang, bila pengajaran yang dilakukan menghasilkan orang yang tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan dalam tuntunan Allah, sebenarnya pengajaran itu tidak mendidik akal dan pikiran manusia dengan benar. Pembinaan akal dan pikiran harus menghasilkan manusia-manusia yang peka terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan di dalamnya.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memperhatikan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait berbagai persoalan yang terjadi. Bila orang beriman hanya mengikuti perkataan orang saja, mereka tidak akan mengetahui benih dalam diri mereka dan tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran. Seandainya perkataan orang yang diikuti benar, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menjelaskan kebenaran lebih baik dari kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebanyakan perkataan manusia terkait kauniyah hanyalah ungkapan kepingan fenomena. Banyak perkataan manusia yang disampaikan hanya untuk menunjukkan ia mengetahui tanpa suatu dorongan untuk berbuat berdasar kebenaran. Sangat banyak perkataan yang diorganisir untuk diarahkan menutup pandangan manusia dari melihat kebenaran yang sesungguhnya, dan hanya sebagian kecil yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat terhadap kebenaran. Perkataan yang paling bermanfaat bagi manusia adalah perkataan yang dimaksudkan agar manusia mengetahui hakikat yang terjadi berdasarkan berita dari sisi Allah, agar manusia dapat berbuat dengan benar hingga diperoleh kebaikan dari sisi Allah. Perkataan demikian berbentuk seruan terhadap kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran.
Menghindari Keburukan
Menyeru pada kebaikan (الْخَيْرِ), menyuruh dengan al-ma’ruf (المَعْرُوف ), dan mencegah dari al-munkar (الْمُنكَرِ) harus dilakukan oleh orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang mewujud pada fenomena kauniyah pada semesta mereka. Tanda bahwa upaya demikian dilakukan dengan benar adalah apabila umat menjadi mengetahui amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Bila umat tidak menjadi mengerti urusan Allah untuk mereka, boleh jadi mereka bukan termasuk golongan orang-orang yang seharusnya melakukan amal-amal itu, atau mereka harus berusaha untuk lebih memahami lagi tuntunan Allah secara lebih tepat. Boleh jadi amal mereka menyeru orang lain kepada Allah merupakan amal yang baik yang harus tetap dilakukan terus menerus, hanya saja sebenarnya ayat Allah di atas bukan ditujukan bagi mereka. Ada hal yang harus diperhatikan, bahwa mungkin saja seruan akan menimbulkan perselisihan yang banyak bila tanpa suatu landasan pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Di antara langkah syaitan adalah memecah-belah muslimin dengan perselisihan satu dengan yang lain berdasarkan kebanggaan terhadap kebenaran pada diri masing-masing.
Sangat banyak perselisihan terjadi di antara umat manusia karena pemahaman yang berbeda-beda. Perselisihan demikian tidak boleh terjadi, sedangkan perbedaannya hendaknya dijadikan bahan pemikiran. Setiap orang islam hendaknya berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW sesuai dengan pengetahuan dirinya. Apabila ia tidak mempunyai pengetahuan tentang suatu perkara, hendaknya ia mengikuti pemahaman yang dapat ia peroleh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan menghindari perselisihan dengan orang lain. Ia tidak boleh berselisih dengan orang lain dengan berlandaskan pemahamannya sendiri ataupun berselisih mengikuti orang-orang lain yang menghasut untuk melakukan perselisihan dengan muslimin lain.
Hal ini hendaknya tidak mengurangi kewaspadaan. Di antara kaum muslimin, sebenarnya ada kaum yang dibangkitkan oleh musyrikin agar memudahkan musyrikin mengalahkan kaum mukminin, maka menyelisihi muslimin yang merupakan bagian dari musyrikin diperbolehkan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya mengikuti perkataan manusia.
﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)
Kaum musyrikin sebenarnya juga membangkitkan golongan-golongan di antara muslimin sebagai sekutu. Ciri golongan demikian adalah mereka memecah-belah umat islam dalam beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan golongannya sendiri. Suatu kelompok yang berbangga-bangga dengan pendapat mereka sendiri dan menuding muslimin lain sebagai kelompok-kelompok yang salah merupakan ciri kuat bahwa mereka kelompok muslim terafiliasi kepada musyrikin. Mereka tidak menyeru muslimin untuk menjadi hamba Allah yang bersifat rahman dan rahim, tetapi lebih mengutamakan kebanggaan terhadap ajaran kelompok sendiri untuk memecah-belah umat islam.
Kebenaran yang bisa digunakan syaitan melalui musyrikin demikian sebenarnya hanya merupakan potongan kebenaran, bukan kebenaran yang utuh. Syaitan mungkin saja merasa senang ketika seseorang mengenal suatu potongan kebenaran apabila bisa dijadikan bahan untuk panutan orang-orang menjadi sesat. Hal pertama yang dilakukan syaitan terhadap orang yang mengenal potongan kebenaran adalah menjadikan mereka memandang potongan kebenaran itu sebagai kebenaran mutlak. Apabila ia berhasil melakukannya kemudian syaitan menjadikannya pemimpin bagi orang-orang lain menuju kesesatan. Ia tidak mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan tidak lagi melihat jalan untuk menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap kebenaran yang terpisah dari amr jami’ Rasulullah SAW merupakan potongan kebenaran, baik ia merupakan pokok yang terpisah maupun cabang dari pokok yang terpisah sedangkan ia tidak berusaha mencari hubungan kepada Rasulullah SAW. Tanda terpisahnya seseorang dari amr jami’ Rasulullah SAW berupa tindakan durhaka terhadap kebenaran sedangkan ia mungkin memandangnya indah.
Suatu kebenaran yang utuh akan menjadikan orang-orang yang mengikutinya dapat menyatukan langkah dengan amr jami’ Rasulullah SAW. Mungkin saja seseorang hanya memahami sebagian dari kebenaran, tetapi bersifat utuh yaitu apabila kebenaran itu menjadikannya dapat menyatukan diri terhadap urusan jamannya, atau dengan kata lain menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Mustahil bagi para makhluk untuk dapat memahami seluruh kebenaran yang digelar Allah kecuali bagi Rasulullah SAW. Seluruh makhluk hanya dapat memahami kebenaran yang menjadi bagian bagi dirinya, tetapi kebenaran itu sebenarnya telah menjadi kebenaran yang utuh manakala dapat menjadikannya menyatukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Manakala seseorang memahami kebenaran secara utuh, ia akan mengetahui arah seruan yang harus dilakukan kepada orang lain, mengetahui adanya kemungkinan kebenaran pada mukminin lain dan tidak memecahbelah dirinya dari mukminin lain yang berjihad di jalan Allah terutama tidak memisahkan diri dari para washilah bagi dirinya kepada amr jami’ Rasulullah SAW.
Sekutu musyrikin dari kalangan muslimin demikian benar-benar ada dan mereka memperjuangkan kemenangan musyrikin dengan tampilan muslimin. Manakala suatu kelompok dalam islam berjuang melawan kaum musyrikin, sebagian kelompok muslim lain memecah-belah umat islam yang lain agar memusuhi muslimin yang berjuang. Mungkin hanya para pemimpin mereka yang benar-benar terhubung dengan pergerakan kaum musyrikin, sedangkan para pengikutnya hanya orang-orang bodoh yang mudah dihasut untuk memusuhi orang islam dan jihadnya. Sekalipun hanya karena kebodohan, tetapi kebodohan mereka merepotkan kaum mukminin. Para pemimpin mereka duduk mesra dengan musyrikin agar diberi kekayaan atau kekuasaan dengan menggunakan pakaian muslim dan potongan-potongan kebenaran sebagai bahan hasutan kepada muslimin. Ajaran mereka itu terutama digunakan untuk memecah belah muslimin dalam berbagai kelompok, dan membangkitkan kebanggaan terhadap kelompok mereka sendiri agar dapat digunakan memunculkan permusuhan di antara muslimin.
Masalah besar yang mungkin timbul dari sekutu musyrikin dari kelompok muslimin adalah agitasi terhadap dunia muslimin. Mungkin saja mereka tampak berperang dengan musyrikin yang telah memberikan kepada mereka kekayaan dan kekuasaan tetapi sebenarnya perang itu hanya suatu sandiwara untuk menimbulkan kesengsaraan yang besar terhadap seluruh umat manusia termasuk kepada kaum muslimin. Manakala kaum mukminin berperang terhadap musyrikin, mereka masing-masing berperang untuk dapat mengakhiri upaya dari pihak lain. Mungkin berlangsung lama tetapi mempunyai tujuan yang jelas. Bila musyrikin berperang dengan sekutunya dari kalangan muslimin, mereka bisa memanjang-manjangkan perang tanpa keinginan untuk mengakhiri, hanya bertujuan untuk menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia. Mungkin orang lapangan bertempur sangat hebat, tetapi keputusan-keputusan yang diambil para pemimpin mereka lebih bertujuan menyengsarakan umat manusia secara menyeluruh daripada strategi untuk menang. Syaitan berkeinginan demikian, dan demikian pula kaum musyrikin karena keuntungan yang bisa diperoleh. Sekutu kaum musyrikin dari kaum muslimin akan terhasut karena kebodohan mereka menyangka berjuang untuk agama Allah.