Pencarian

Senin, 28 Juli 2025

Menyeru Pada Kebaikan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan secara berjamaah. Secara khusus, ada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Orang-orang yang diperintahkan demikian adalah penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung.

﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Para penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung demikian dapat menunjukkan manusia pada kebaikan (الْخَيْرِ), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Kebaikan (الْخَيْرِ) menunjuk pada kebaikan yang berwujud nilai-nilai kebaikan, tatanan yang mendatangkan kebaikan maupun kebaikan dalam wujud harta benda yang baik. Al-ma’ruf ( المَعْرُوف ) menunjuk pada pengetahuan terhadap kehendak Allah sedemikian orang-orang yang mengikuti perintah orang-orang demikian akan memahami kehendak Allah atas diri mereka atau diri masing-masing. Al-munkar (الْمُنكَرِ ) menunjuk pada kebodohan terhadap kebenaran.

Kebaikan, al-ma’ruf dan al-munkar dikenali oleh orang-orang yang menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka bukan sekadar orang-orang yang membaca sekilas tuntunan kitabullah kemudian berbantah-bantah tentang ayat Allah, tetapi berusaha benar-benar memahami maksud Allah sesuai tuntunan yang disampaikan kepada diri mereka. Usaha itu dilakukan dengan upaya melakukan tazkiyatun nafs agar pemahaman yang terbentuk dalam diri mereka tidak terkotori oleh hawa nafsu dan syahwat, bukan sekadar bertanya-tanya tentnag kehendak Allah terkait ayat yang dibaca. Mereka menyadari bahwa akal yang bisa menyentuh tuntunan kitabullah hanyalah akal yang berada pada nafs yang dibersihkan dari pengaruh dosa-dosa hawa nafsu dan syahwat. Selama hawa nafsu dan syahwat berkuasa, seseorang tidaklah mampu menyentuh makna dalam ayat kitabullah dengan benar.

Dengan kata lain, orang-orang yang menempuh langkah tazkiyatun-nafs sebenarnya mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk menyeru manusia pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Hal ini hendaknya disikapi dengan tepat, bahwa suatu langkah tazkiyatun nafs sebenarnya akan mendatangkan pemahaman yang mengandung tanggung jawab. Manakala pemahaman terhadap tuntunan kitabullah belum diberikan, seseorang tidak harus/tidak boleh mengada-adakan usaha untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan alma’ruf dan mencegah dari al-munkar. Manakala proses tazkiyatun nafs telah berjalan lama dan tidak mendatangkan pemahaman, ia harus menimbang bahwa mungkin tazkiyatun nafs yang ia tempuh sebenarnya hanya sia-sia karena tidak mendatangkan pemahaman terhadap ayat Allah berupa ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan untuk pergi dari jalan tazkiyatun nafs, tetapi hendaknya mereka memandang diri layaknya orang-orang yang mengolah lahan tanpa menanamkan benih pada lahan-lahan yang mereka olah. Berikutnya hendaknya mereka berusaha menanamkan benih-benih yang ada pada diri mereka, bukan meninggalkan mengolah lahan. Wujud benih itu akan terlihat apabila mereka memperhatikan ayat-ayat Allah, yaitu memperhatikan ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak memperhatikan wujud tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW di alam kauniyah, mereka tidak akan merasakan keberadaan benih dalam diri sendiri.

Dewasa ini sangat banyak tatanan manusia yang justru membuat kesejahteraan menjauh dari bangsa, tetapi seperti tidak ada orang yang mengetahui jalan keluar dari masalah tersebut. Sistem demokrasi menjadikan bangsa semakin melarat terlilit beban yang semakin berat. Demikian pula sistem keuangan menjerat rakyat hingga orang miskin hidup semakin sulit. Sebenarnya hanya musyrikin yang menikmati sistem riba demikian. Sumber daya alam rusak karena keserakahan manusia terhadap harta dan kekuasaan. Tingkat kesehatan manusia semakin rendah dengan kebergantungan terhadap obat-obatan yang semakin tinggi. Pendidikan tidak menjadikan orang-orang yang dididik mampu tumbuh menyatu dengan semesta mereka, sedangkan orang-orang yang berusaha berpikir justru disingkirkan. Fenomena-fenomena tersebut merupakan gambaran-gambaran yang muncul dari kurang utuhnya agama, terjadi pemisahan isteri dari suaminya atau pemisahan manusia dengan akalnya sebagai perusakan setengah bagian dari agama. Sangat banyak persoalan bangsa tidak terbatas pada perkara-perkara di atas yang seharusnya dientaskan oleh orang-orang beriman dengan menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Upaya itu dapat dilakukan dengan melakukan upaya penataan akal pada setiap insan dan penataan keluarga sebagai taatanan sosial.

Penataan akal dan pikiran dalam hal ini adalah pengenalan terhadap nilai-nilai kemuliaan dalam kebenaran. Pengajaran untuk penataan akal dan pikiran harus dilakukan agar terjadi pembinaan akhlak mulia, bukan hanya dalam bentuk keterampilan melakukan manipulasi duniawi. Seseorang yang merendahkan orang lain karena pengetahuan dirinya tidak menunjukkan akal dan pikiran yang benar, bahkan bila sekalipun terkait pengetahuan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kaum tidak bisa mengapresiasi nilai suatu kebenaran yang disampaikan oleh orang lain karena waham yang diajarkan, maka pengajaran kaum itu sebenarnya gagal. Kadangkala seorang isteri tidak bisa menghormati suaminya sekalipun telah diberi pengetahuan kehidupan yang banyak hanya karena sempitnya rezeki. Ia mungkin mengikuti suatu pengajaran dari orang lain. Hal demikian tidak menunjukkan pembinaan akal yang benar. Sekalipun orang banyak memandang hebat pengetahuan yang dimiliki seseorang, bila pengajaran yang dilakukan menghasilkan orang yang tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan dalam tuntunan Allah, sebenarnya pengajaran itu tidak mendidik akal dan pikiran manusia dengan benar. Pembinaan akal dan pikiran harus menghasilkan manusia-manusia yang peka terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan di dalamnya.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memperhatikan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait berbagai persoalan yang terjadi. Bila orang beriman hanya mengikuti perkataan orang saja, mereka tidak akan mengetahui benih dalam diri mereka dan tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran. Seandainya perkataan orang yang diikuti benar, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menjelaskan kebenaran lebih baik dari kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebanyakan perkataan manusia terkait kauniyah hanyalah ungkapan kepingan fenomena. Banyak perkataan manusia yang disampaikan hanya untuk menunjukkan ia mengetahui tanpa suatu dorongan untuk berbuat berdasar kebenaran. Sangat banyak perkataan yang diorganisir untuk diarahkan menutup pandangan manusia dari melihat kebenaran yang sesungguhnya, dan hanya sebagian kecil yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat terhadap kebenaran. Perkataan yang paling bermanfaat bagi manusia adalah perkataan yang dimaksudkan agar manusia mengetahui hakikat yang terjadi berdasarkan berita dari sisi Allah, agar manusia dapat berbuat dengan benar hingga diperoleh kebaikan dari sisi Allah. Perkataan demikian berbentuk seruan terhadap kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran.

Menghindari Keburukan

Menyeru pada kebaikan (الْخَيْرِ), menyuruh dengan al-ma’ruf (المَعْرُوف ), dan mencegah dari al-munkar (الْمُنكَرِ) harus dilakukan oleh orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang mewujud pada fenomena kauniyah pada semesta mereka. Tanda bahwa upaya demikian dilakukan dengan benar adalah apabila umat menjadi mengetahui amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Bila umat tidak menjadi mengerti urusan Allah untuk mereka, boleh jadi mereka bukan termasuk golongan orang-orang yang seharusnya melakukan amal-amal itu, atau mereka harus berusaha untuk lebih memahami lagi tuntunan Allah secara lebih tepat. Boleh jadi amal mereka menyeru orang lain kepada Allah merupakan amal yang baik yang harus tetap dilakukan terus menerus, hanya saja sebenarnya ayat Allah di atas bukan ditujukan bagi mereka. Ada hal yang harus diperhatikan, bahwa mungkin saja seruan akan menimbulkan perselisihan yang banyak bila tanpa suatu landasan pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Di antara langkah syaitan adalah memecah-belah muslimin dengan perselisihan satu dengan yang lain berdasarkan kebanggaan terhadap kebenaran pada diri masing-masing.

Sangat banyak perselisihan terjadi di antara umat manusia karena pemahaman yang berbeda-beda. Perselisihan demikian tidak boleh terjadi, sedangkan perbedaannya hendaknya dijadikan bahan pemikiran. Setiap orang islam hendaknya berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW sesuai dengan pengetahuan dirinya. Apabila ia tidak mempunyai pengetahuan tentang suatu perkara, hendaknya ia mengikuti pemahaman yang dapat ia peroleh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan menghindari perselisihan dengan orang lain. Ia tidak boleh berselisih dengan orang lain dengan berlandaskan pemahamannya sendiri ataupun berselisih mengikuti orang-orang lain yang menghasut untuk melakukan perselisihan dengan muslimin lain.

Hal ini hendaknya tidak mengurangi kewaspadaan. Di antara kaum muslimin, sebenarnya ada kaum yang dibangkitkan oleh musyrikin agar memudahkan musyrikin mengalahkan kaum mukminin, maka menyelisihi muslimin yang merupakan bagian dari musyrikin diperbolehkan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya mengikuti perkataan manusia.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)

Kaum musyrikin sebenarnya juga membangkitkan golongan-golongan di antara muslimin sebagai sekutu. Ciri golongan demikian adalah mereka memecah-belah umat islam dalam beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan golongannya sendiri. Suatu kelompok yang berbangga-bangga dengan pendapat mereka sendiri dan menuding muslimin lain sebagai kelompok-kelompok yang salah merupakan ciri kuat bahwa mereka kelompok muslim terafiliasi kepada musyrikin. Mereka tidak menyeru muslimin untuk menjadi hamba Allah yang bersifat rahman dan rahim, tetapi lebih mengutamakan kebanggaan terhadap ajaran kelompok sendiri untuk memecah-belah umat islam.

Kebenaran yang bisa digunakan syaitan melalui musyrikin demikian sebenarnya hanya merupakan potongan kebenaran, bukan kebenaran yang utuh. Syaitan mungkin saja merasa senang ketika seseorang mengenal suatu potongan kebenaran apabila bisa dijadikan bahan untuk panutan orang-orang menjadi sesat. Hal pertama yang dilakukan syaitan terhadap orang yang mengenal potongan kebenaran adalah menjadikan mereka memandang potongan kebenaran itu sebagai kebenaran mutlak. Apabila ia berhasil melakukannya kemudian syaitan menjadikannya pemimpin bagi orang-orang lain menuju kesesatan. Ia tidak mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan tidak lagi melihat jalan untuk menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap kebenaran yang terpisah dari amr jami’ Rasulullah SAW merupakan potongan kebenaran, baik ia merupakan pokok yang terpisah maupun cabang dari pokok yang terpisah sedangkan ia tidak berusaha mencari hubungan kepada Rasulullah SAW. Tanda terpisahnya seseorang dari amr jami’ Rasulullah SAW berupa tindakan durhaka terhadap kebenaran sedangkan ia mungkin memandangnya indah.

Suatu kebenaran yang utuh akan menjadikan orang-orang yang mengikutinya dapat menyatukan langkah dengan amr jami’ Rasulullah SAW. Mungkin saja seseorang hanya memahami sebagian dari kebenaran, tetapi bersifat utuh yaitu apabila kebenaran itu menjadikannya dapat menyatukan diri terhadap urusan jamannya, atau dengan kata lain menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Mustahil bagi para makhluk untuk dapat memahami seluruh kebenaran yang digelar Allah kecuali bagi Rasulullah SAW. Seluruh makhluk hanya dapat memahami kebenaran yang menjadi bagian bagi dirinya, tetapi kebenaran itu sebenarnya telah menjadi kebenaran yang utuh manakala dapat menjadikannya menyatukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Manakala seseorang memahami kebenaran secara utuh, ia akan mengetahui arah seruan yang harus dilakukan kepada orang lain, mengetahui adanya kemungkinan kebenaran pada mukminin lain dan tidak memecahbelah dirinya dari mukminin lain yang berjihad di jalan Allah terutama tidak memisahkan diri dari para washilah bagi dirinya kepada amr jami’ Rasulullah SAW.

Sekutu musyrikin dari kalangan muslimin demikian benar-benar ada dan mereka memperjuangkan kemenangan musyrikin dengan tampilan muslimin. Manakala suatu kelompok dalam islam berjuang melawan kaum musyrikin, sebagian kelompok muslim lain memecah-belah umat islam yang lain agar memusuhi muslimin yang berjuang. Mungkin hanya para pemimpin mereka yang benar-benar terhubung dengan pergerakan kaum musyrikin, sedangkan para pengikutnya hanya orang-orang bodoh yang mudah dihasut untuk memusuhi orang islam dan jihadnya. Sekalipun hanya karena kebodohan, tetapi kebodohan mereka merepotkan kaum mukminin. Para pemimpin mereka duduk mesra dengan musyrikin agar diberi kekayaan atau kekuasaan dengan menggunakan pakaian muslim dan potongan-potongan kebenaran sebagai bahan hasutan kepada muslimin. Ajaran mereka itu terutama digunakan untuk memecah belah muslimin dalam berbagai kelompok, dan membangkitkan kebanggaan terhadap kelompok mereka sendiri agar dapat digunakan memunculkan permusuhan di antara muslimin.

Masalah besar yang mungkin timbul dari sekutu musyrikin dari kelompok muslimin adalah agitasi terhadap dunia muslimin. Mungkin saja mereka tampak berperang dengan musyrikin yang telah memberikan kepada mereka kekayaan dan kekuasaan tetapi sebenarnya perang itu hanya suatu sandiwara untuk menimbulkan kesengsaraan yang besar terhadap seluruh umat manusia termasuk kepada kaum muslimin. Manakala kaum mukminin berperang terhadap musyrikin, mereka masing-masing berperang untuk dapat mengakhiri upaya dari pihak lain. Mungkin berlangsung lama tetapi mempunyai tujuan yang jelas. Bila musyrikin berperang dengan sekutunya dari kalangan muslimin, mereka bisa memanjang-manjangkan perang tanpa keinginan untuk mengakhiri, hanya bertujuan untuk menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia. Mungkin orang lapangan bertempur sangat hebat, tetapi keputusan-keputusan yang diambil para pemimpin mereka lebih bertujuan menyengsarakan umat manusia secara menyeluruh daripada strategi untuk menang. Syaitan berkeinginan demikian, dan demikian pula kaum musyrikin karena keuntungan yang bisa diperoleh. Sekutu kaum musyrikin dari kaum muslimin akan terhasut karena kebodohan mereka menyangka berjuang untuk agama Allah.






Kamis, 24 Juli 2025

Menolong Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dalam bentuk menolong Allah dengan membangun akhlak mulia di atas sifat rahman dan rahim. Allah berkehendak untuk dikenal oleh makhluk sebagai Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan Dia hanya bisa dikenal dengan benar oleh makhluk yang membina diri sebagai makhluk yang pengasih dan penyayang, karenanya menolong Allah hanya dapat dilakukan dengan membina diri di atas kasih dan sayang.

﴾۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)

Menolong Allah hanya dapat dilakukan oleh makhluk dengan memperkenalkan sifat kasih sayang Allah hingga terbentuk tatanan makhluk yang bertindak dengan landasan sifat kasih sayang. Menolong Allah tidak menunjukkan adanya keterbatasan Allah, tetapi merupakan suatu mekanisme yang disediakan untuk mengangkat derajat para hamba Allah hingga seorang hamba bisa menjadi termasuk dalam golongan penolong Allah. Terdapat kelemahan dan keterbatasan yang banyak pada makhluk termasuk dalam hubungan kepada Allah, dan Allah berkehendak agar makhluk-makhluk yang terpilih hadir sebagai penyampai kehendak-Nya kepada makhluk yang lemah dan terbatas. Makhluk-makhluk yang dikehendaki itu hendaknya menjadi para penolong Allah dari golongan orang-orang beriman.

Tindakan di atas landasan kasih sayang adalah perbuatan yang ditujukan untuk memberikan kebaikan bagi orang lain atau masyarakat secara luas dengan cara yang baik. Tindakan demikian yang terbaik dilakukan adalah dengan menimbang suatu keadaan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta bertindak sesuai dengan tuntunan. Orang-orang yang tidak mengenal bobot kebaikan atau keburukan dalam suatu perkara tidak benar-benar menunjukkan perbuatan berlandaskan kasih sayang. Mungkin saja perbuatan seseorang benar dan tepat tetapi bobot kebenarannya ringan. Bila ia mengetahui nilai-nilai kemuliaan yang terkandung dalam perbuatan yang dilakukannya, ia akan memperoleh bobot kebenaran yang besar.

Termasuk dalam bertindak berlandaskan kasih sayang adalah bertindak tegas terhadap orang-orang kafir yang merugikan masyarakat secara umum hingga diperoleh kebaikan dalam tatanan bermasyarakat. Yang dimaksud dengan orang kafir adalah orang-orang yang menolak tuntunan yang diturunkan Allah untuk mengikuti kepentingan atau keinginan diri sendiri tanpa mempedulikan keburukan yang timbul bagi masyarakat. Orang-orang yang berusaha mengikuti tuntunan agama tertentu dengan benar tidak termasuk dalam golongan orang kafir yang boleh diperangi, karena mereka termasuk dalam golongan ahlul kitab. Perbedaan tingkat kesadaran terhadap tuntunan yang diturunkan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk menggolongkan seseorang atau suatu kaum sebagai kafirun. Sebaliknya manakala suatu kaum beragama atau memanfaatkan suatu tuntunan agama tertentu secara salah, mereka bisa tergolong pada kafirin. Kaum zionis merupakan contoh orang yang menggunakan tuntunan agama secara salah yang harus diperangi oleh muslimin dan umat manusia seluruhnya.

Secara khusus, menolong Allah hanya dapat dilakukan oleh orang-orang islam dan beriman, tidak dapat dilakukan oleh agama yang lain. Tatanan kemasyarakatan yang sempurna hanya diajarkan dalam ajaran nabi Muhammad SAW, sehingga kemampuan untuk menolong Allah hanya diberikan kepada umat nabi Muhammad SAW. Agama lain secara umum mengajarkan penataan diri setiap manusia, belum menyentuh tatanan masyarakat secara luas. Dalam beberapa hal, terjadi pengubahan-pengubahan pada agama lain yang tidak memungkinkan umat untuk dapat memahami kehendak Allah dengan tepat. Pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah tanpa suatu kesalahan hanya dapat dilakukan oleh umat Islam, yaitu dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya orang yang dibersihkan saja yang bisa memahami tuntunan Allah, tidak semua muslimin bisa memahami dengan benar. Manusia yang ingin memahami kehendak Allah dengan benar tanpa kesalahan saat ini hanya bisa melakukannya dengan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Memahami nilai tuntunan Allah terkait tatanan bermasyarakat merupakan bekal utama orang yang berkeinginan untuk menolong Allah. Menolong Allah tidak ilakukan dengan semangat atau fanatisme saja. Tidak semua keinginan baik termasuk dalam kategori menolong Allah, tetapi hanya orang-orang yang mengenal nilai kebenaran dalam tuntunan Allah yang masuk dalam kelompok orang-orang yang diseru untuk menolong Allah. Menolong Allah hanyalah melaksanakan urusan-urusan yang diperintahkan Allah bukan melaksanakan urusan yang muncul dalam pikiran sendiri. Hal ini dapat dipahami dengan kerangka pemahaman misykat cahaya, yaitu orang yang dapat membentuk bayangan kehendak Allah dengan misykat cahaya dirinya. Mungkin pohon thayibah dirinya belum ternyalakan dengan api, tetapi ia telah mengetahui urusan Allah untuk ruang dan jamannya. Urusan yang dikerjakan bukan mencomot sesuatu yang dipandang baik, tetapi dilandasi dengan pengetahuan terhadap kehendak Allah terkait urusan ruang dan jamannya. Pada jaman diutusnya rasul, orang-orang yang mengikuti dan membantu rasul Allah dengan suatu landasan pemahaman terhadap urusan-Nya dapat dikatakan menolong Allah. Tanpa memahami urusan Allah, seseorang belum termasuk dalam kategori penolong Allah. Mungkin bukan dalam konteks buruk, tetapi hanya belum dapat tergolong menolong Allah.

Pada jaman dahulu, menolong Allah dilakukan dengan membantu utusan Allah yang hadir di antara mereka. Di jaman ini, seluruh perbuatan menolong Allah hanya benar dilakukan bila mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada urusan menolong Allah yang keluar dari kedua landasan tersebut. Amal-amal yang terwujud untuk menolong Allah bisa bermacam-macam tetapi seluruhnya terwujud melalui pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa memahami urusan Allah, seseorang belum termasuk dalam kategori penolong Allah. Pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya benar apabila terjadi melalui hati yang disucikan dan mempunyai keinginan untuk menghamba kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Di antara ciri penghambaan yang sungguh-sungguh demikian adalah pengetahuan kedudukan diri dalam urusan Al-jamaah. Setidaknya orang tersebut mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan urusan beliau SAW untuk ruang dan jamannya, dan lebih lanjut ia mengenal wasilah dirinya untuk terhubung kepada urusan Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya mengupayakan sesuatu yang dipandang baik tanpa mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, ia belum termasuk dalam golongan orang yang menolong Allah. Bila seseorang menyimpang dari penjelasan washilahnya berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia tidak termasuk dalam golongan yang menolong Allah. Melakukan hal demikian telah menjadikan seseorang keluar dari al-jamaah.

Berjamaah Menolong Allah

Menolong Allah akan mewujudkan kemakmuran secara menyeluruh bagi kehidupan di bumi. Saat ini banyak bentuk kemakmuran semu di antara manusia. Sebagian orang hidup kaya raya tanpa memahami nilai-nilai yang berharga dalam kehidupannya, maka itu bisa menjadi contoh orang yang memperoleh kemakmuran semu. Ia mungkin masih akan mengkhawatirkan banyak hal bahkan hartanya sekalipun hingga tidak dapat berbuat baik secara bergembira. Mungkin saja orang tua dan anak sama-sama menjadi orang kaya raya tetapi saling berebut harta pihak lain. Orang-orang yang makmur secara menyeluruh akan bisa berbuat baik kepada orang lain secara riang dan ringan bahkan sekalipun ia dalam keterbatasan. Orang yang menolong Allah akan menyeru manusia untuk mengenal kehendak Allah untuk memakmurkan kehidupan para makhluk. Mungkin tidak seluruh aspek kehidupan dapat dimakmurkan, tetapi amalnya akan memberikan bagian dari pemakmuran di alam dunia.

Dewasa ini, sangat banyak permasalahan dalam masyarakat muncul karena kurangnya orang yang menolong Allah. Banyak ajaran-ajaran yang disisipkan oleh musyrikin hingga umat islam kehilangan nilai dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun tidak dapat membengkokkan kebenarannya, tetapi umat tidak lagi mengenal tingginya kemuliaan dalam kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian menjadikan hanya sedikit orang yang paham bagaimana menolong Allah. Di sisi lain, banyak pula masalah yang muncul bukan karena tidak ada yang menolong Allah tetapi masyarakat tidak memperhatikan orang-orang yang menolong Allah, terutama manakala masyarakat terjebak dalam jalan berpikir pragmatis materialistis. Hanya sedikit orang yang benar-benar berpikir tentang kebenaran, sedangkan kebanyakan umat lebih memilih mengikuti apa yang dikatakan benar tidak berpikir untuk mengikuti yang benar. Kemalasan berpikir atau kemalasan mengikuti pikiran yang benar menjadikan umat tidak menemukan kebenaran yang mengantar mereka memahami keadaan dengan tepat sehingga hanya sedikit orang yang bisa menolong Allah.

Dengan keadaan demikian, para pemikir atau orang-orang yang berjihad di jalan Allah di antara masyarakat banyak yang tidak dihargai dengan selayaknya, tidak memperoleh dukungan secara memadai untuk mewujudkan pemikiran atau jihad-jihad yang mereka lakukan karena tidak mendatangkan materi secara langsung kepada seseorang atau masyarakat. Dunia hiburan di masyarakat yang malas berpikir akan lebih banyak mendatangkan materi bagi para pelakunya daripada bagi para pemikir kebenaran karena para pemilik modal lebih menyukai dunia hiburan yang disukai massa daripada orang-orang yang menggunakan akal. Mereka akan mengalami kehidupan yang sulit karena keadaan ini. Masyarakat akan terhegemoni dengan harta benda materi duniawi yang dikuasai para pemodal. Para sponsor komersial (tidak seluruhnya) mungkin tidak memberikan sumbangan sponsor untuk mendukung tegaknya peradaban tanpa suatu kepentingan tertentu dalam sumbangan mereka. Bila masyarakat tidak membuat suatu sistem yang dapat mendukung peradaban yang berakal, cepat atau lambat bangsa mereka akan menjadi bangsa yang terpinggirkan hingga terjerat penjajahan bahkan oleh bangsa sendiri. Hal ini akan berproses secara alamiah karena watak dunia memang seperti demikian.

Islam sangat mencegah terjadinya marginalisasi peradaban. Di antara jalan menegakkan peradaban berlandaskan akal adalah penggunaan infaq secara benar, dan tidak hanya infaq. Infaq merupakan sumbangan yang diberikan untuk belanja menegakkan agama Allah. Orang yang berinfaq hendaknya memperhatikan penggunaan dari infaq yang dia berikan atau memperhatikan orang yang menggunakan infaqnya agar tidak digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat. Kadangkala seseorang harus memilih pemberian infaq yang paling mendatangkan manfaat manakala infaq bisa diberikan kepada berbagai program yang tampak berguna. Program yang paling bermanfaat bagi umat adalah program dari orang-orang yang memahami kehendak Allah berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. itu adalah penyaluran infaq yang terbaik.

Para pengelola infaq masyarakat harus berusaha dengan sebaik-baiknya untuk dapat menggunakan infaq yang mereka kelola untuk program-program ataupun individu yang dapat menegakkan urusan Allah, tidak menggunakannya mengikuti hawa nafsu atau untuk kepentingan sendiri. Tanggung jawab pengelola infaq tidak terbatas hanya terkait harta infaq saja, tetapi juga tanggung jawab dalam penyaluran kepada urusan menolong Allah sebagai sabilillah. Keberadaan orang-orang tersia-siakan yang menegakkan urusan Allah akan menjadi tanggung jawab para pengelola infaq, dan masyarakat bisa mempertanyakan hal itu atau mengalihkan infaq mereka secara langsung manakala mengetahui jalan penyalurannya. Penerima dan penggunaan infaq tidak sama dengan penerima dan penggunaan zakat. Infaq tidak dibatasi dengan nilai bagian dari harta, hingga apabila seseorang berkomitmen untuk memberikan sangat banyak bagian dari hartanya hal itu tidak menjadi masalah, atau sebaliknya tidak ada nilai minimal harus diberikan walaupun seseorang mungkin menjadi tercela bila tidak mempunyai rencana berinfaq. Orang yang menjual kehidupannya sepenuhnya untuk Allah mungkin tidak lagi mempunyai bagian harta untuk infaq dan sebaliknya ia merupakan penerima infaq. Hal ini berbeda dengan zakat yang dibatasi dengan jumlah tertentu dari harta.

Sangat banyak hal yang harus diperhatikan agar peradaban manusia tidak termarginalkan, tidak terbatas dalam pemanfaatan infaq saja. Setiap orang beriman hendaknya berusaha untuk menjadi penolong Allah agar terbentuk peradaban yang kuat pada umat manusia dengan membentuk diri sebagai misykat cahaya Allah. Setiap orang yang menolong agama Allah akan menghadirkan peradaban yang baik sesuai dengan bidang amal shalih dirinya. Mereka akan menutup kekurangan atau lubang dalam peradaban yang dibangun dan menyempurnakan peradaban yang telah terbentuk sebelumnya. Pada dasarnya setiap manusia dapat menjadi penolong Allah, tetapi harus melalui proses yang panjang hingga ia benar-benar memahami kehendak Allah dengan tepat. Setiap orang yang menolong Allah akan memberikan kontribusi yang besar bagi umat manusia.



Kamis, 17 Juli 2025

Mewujudkan Kebaikan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setiap pengikut Rasulullah SAW hendaknya menyeru kepada orang lain agar berusaha mewujudkan amal-amal masing-masing sebagai amal shalih hingga terwujud kemakmuran di bumi. Secara khusus, ada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Orang-orang yang diperintahkan demikian adalah penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung.

﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Kaum mukminin hendaknya membentuk suatu kelompok yang menyeru umat untuk mewujudkan kebaikan baik berupa nilai-nilai dan tatanan bermasyarakat yang baik maupun terwujudnya kesejahteraan jasmaniah yang baik, memerintah untuk berbuat dengan alma’ruf dan mencegah kemunkaran. Amanah demikian tidak boleh diserahkan kepada orang-orang musyrik, kafir, munafiq ataupun kaum yang menyukai kemunkaran karena akan disalahgunakan untuk memperoleh keinginan syahwat dan hawa nafsu kekuasaan mereka. Para penyeru itu hendaknya juga memerintahkan kepada masyarakat untuk berbuat sesuai dengan kehendak Allah hingga masyarakat bisa ikut merasakan atau bahkan mengetahui kehendak Allah atas diri mereka, serta mencegah manusia untuk berbuat kemunkaran.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha untuk memahami kehendak Allah hingga dapat mencegah kemunkaran. Hal ini harus diperhatikan dengan seksama. Kadangkala suatu kaum berusaha menata umatnya untuk menunaikan bidang masing-masing tetapi secara praktis justru menghambat orang-orang yang telah mengetahui bidang yang harus dikerjakannya. Manakala seseorang mengetahui melalui keterbukaan (alfathu) ayat Allah yang harus diwujudkan, ia harus dibantu untuk mewujudkan usahanya karena itu merupakan pintu menuju kebaikan. Sebenarnya di antara muslimin mempunyai keterkaitan amanah di antara mereka maka mereka, maka suatu jamaah akan dapat meraba atau mengenali amanah bagi diri masing-masing dengan membantu terlaksananya amanah salah seorang dari mereka. Manakala suatu kaum tidak dapat memperoleh pengetahuan tentang amanah Allah melalui orang-orang yang mengetahui bersama mereka, mungkin akal mereka harus dibina dengan lebih baik agar bisa memahami apa-apa yang diterangkan. Atau boleh jadi mereka sebenarnya hanya mengikuti suatu prasangka tentang kehendak Allah tanpa memeriksa dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh Menyeru Pada Kebaikan

Kadangkala dibutuhkan usaha yang sangat banyak untuk menyeru manusia pada kebaikan. Usaha menyeru pada kebaikan dan beramar ma’ruf nahy munkar hanya akan berhasil dengan baik jika dilakukan dengan kebersamaan dalam masyarakat dan mempunyai landasan tuntunan Allah. Di suatu masyarakat yang sangat munkar, suatu pencegahan terhadap kemunkaran saja boleh jadi akan mendatangkan gejolak yang besar di masyarakat hingga menyuruh kepada al-ma’ruf dan menyeru kepada kebaikan tidak dapat dilaksanakan. Di masyarakat yang berusaha untuk melaksanakan kehendak Allah, menyuruh manusia untuk beramal berdasarkan al-ma’ruf mungkin akan mudah dilaksanakan, dan menyeru pada kebaikan akan lebih mudah memperoleh hasil. Meski demikian kadangkala suatu kaum berusaha melaksanakan kehendak Allah tetapi sulit untuk menyeru pada kebaikan karena waham yang terbentuk pada masyarakat menghalangi upaya memperoleh kebaikan. Boleh jadi suatu kaum yang ingin melaksanakan kehendak Allah menyangka bahwa prasangka kebaikan sendiri lebih baik daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka menyeru kepada kebaikan itu sulit dilaksanakan.

Membina kebersamaan umat dalam mengupayakan kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran harus dilakukan dengan menyentuh landasan akhlak setiap manusia disertai membina kemampuan sosial yang baik. Setiap orang harus dididik agar mau menggunakan pikiran dan akal masing-masing dengan benar. Itu adalah landasan akhlak setiap manusia. Manakala suatu kaum tidak dibina untuk menggunakan pikiran dan akal dengan benar, mereka akan menyimpang hanya mengikuti hawa nafsu dan syahwat diri sendiri tidak akan mengetahui bahwa kebaikan akan datang melalui kebersamaan. Kecerdasan di atas kemunkaran demikian bisa tumbuh menjadi semakin besar dan membentuk jaringan kekuatan melakukan kemunkaran hingga mengalahkan usaha orang-orang yang ingin menjadi baik.

Membina kemampuan sosial harus dilakukan untuk menjalin kebersamaan dalam mengupayakan kebaikan. Kebaikan tidak akan diperoleh dengan usaha sendirian. Gambaran membina kebersamaan mengupayakan kebaikan itu dapat ditemukan dalam pernikahan, dan sebenarnya pernikahan merupakan ladang membina kemampuan sosial yang paling fundamental untuk mengupayakan kebaikan. Kebersamaan dalam mengupayakan kebaikan itu terbentuk seperti pernikahan dimana seseorang harus menemukan imam bagi dirinya yang menghubungkannya dengan kehendak Allah, dan kemudian beramal di atas sifat kasih sayang untuk mendatangkan kebaikan bagi isteri dan keluarganya. Demikian pula ditemukan hubungan di mana seorang isteri terhadap isteri lain harus dapat membangun sinergi dalam menunaikan kehendak Allah mengikuti suaminya. Setiap diri dalam masyarakat sebenarnya mempunyai peran ganda baik sebagai pemimpin ataupun layaknya isteri dan anak-anak, tidak terpaku hanya dalam satu peran. Kesepahaman masyarakat dalam bersinergi untuk mengupayakan kebaikan akan tumbuh dengan baik melalui hubungan yang terpimpin dan terhubung kepada Allah mengikuti tumbuhnya rumah tangga masing-masing, bukan bentuk-bentuk pengetahuan liar. Kesepahaman demikian akan menumbuhkan sinergi sehingga kebaikan itu akan tumbuh di antara umat.

Pernikahan juga menggambarkan penyatuan antara manusia dengan buminya, sedemikian terwujud kebaikan antara jiwa dan raga manusia. Laki-laki merupakan benih pohon thayibah, sedangkan perempuan merupakan ladang tempat benih pohon tumbuh. Pernikahan merupakan gambaran penyatuan antara manusia dengan bumi dirinya. Mengupayakan kebaikan harus dilakukan melalui jalan penyatuan antara manusia dengan bumi dirinya, dan hal itu dapat dilakukan seseorang melalui pernikahannya apabila ia memahami. Setiap pernikahan akan menambatkan kedua pihak yang menikah pada suatu garis kehidupan tertentu bersama, dan hal itu merupakan bumi diri yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya karena akan mengantarkan mereka untuk memberikan kebaikan kepada umatnya. Tidak hanya bagi yang menikah, setiap orang harus menghormati setiap pernikahan karena proses demikian. Manakala suatu pernikahan dirusak, sebenarnya telah terjadi kerusakan yang sangat besar karena hilangnya kebaikan yang dapat disumbangkan pasangan tersebut. Tidak hanya pernikahan, potensi perjodohan yang dirusak juga mendatangkan kerusakan karena kebaikan yang tidak bisa terwujud.

Pintu bagi setiap orang untuk dapat melakukan dengan baik upaya mencari kebaikan secara terintegrasi dengan bumi adalah pernikahan mereka. Para perempuan suatu negeri menjadi gambaran keadaan duniawi negeri tersebut termasuk dalam urusan kemunkaran-kemunkaran yang ada. Kadangkala ditemukan perempuan mempunyai prasangka buruk kepada setiap laki-laki karena salah pengasuhan hingga ia sulit memperoleh jodoh. Manakala diturunkan petunjuk kepada seseorang perempuan tentang jodoh yang tepat, boleh jadi ia memandang rendah jodoh yang ditunjukkan dan menginginkan jodoh yang lain yang dianggap lebih baik. Kadangkala syaitan menjeratkan fitnah di antara para perempuan yang ingin mengikuti petunjuk. Bahkan dalam pernikahan pun seseorang yang shalihah dapat terjerat pada suatu kekejian. Hal demikian merupakan gambaran umum bahwa ada kemunkaran-kemunkaran pada negeri tersebut yang harus ditangani oleh para penyeru kebaikan di antara mereka.

Kemunkaran-kemunkaran akan mengganggu upaya menuju kebaikan. Manakala suatu masyarakat memandang kebenaran sebagai hal yang buruk atau sebaliknya bila menganggap yang buruk sebagai kebaikan, mereka akan sulit untuk melangkah menuju kebaikan. Sangat banyak warna kejahilan ditemukan pada masyarakat dalam membentuk kebersamaan. Banyak orang-orang yang memandang kebenaran sebagai keburukan atau keburukan sebagai kebaikan karena pendidikan yang diberikan kepadanya buruk. Manakala ia ditunjukkan pada suatu urusan yang baik, ia memandang urusan itu rendah dan menginginkan urusan lain yang terlihat baginya lebih mentereng sedangkan ia tidak mempunyai kemampuan dalam urusan itu. Ketika sudah mempunyai urusan yang baik dari sisi Allah, seseorang mungkin masih berharap untuk memperoleh urusan lain secara bathil. Banyak pelacur-pelacur intelektual yang menjilat penguasa untuk memperoleh rangkap jabatan dengan cara yang bathil. Hal-hal demikian merupakan contoh-contoh bentuk kebathilan yang dapat terjadi di antara masyarakat.

Pembinaan Mukminat untuk Kebaikan Negeri

Pembinaan para perempuan mukminat harus dilakukan hingga para mukminat itu bisa mencintai dan menolong suaminya yang mukmin dalam menunaikan amanah Allah, tidak mencintai dengan kecintaan yang keliru. Kecintaan terhadap suami merupakan bentuk kesuburan yang tumbuh pada para mukminat yang akan mendatangkan hasil yang banyak bagi usaha suaminya. Kebaikan pada suatu umat akan terwujud melalui kesuburan para mukminat terhadap suaminya. Kecintaan seorang perempuan kepada suaminya dalam banyak hal merupakan kecintaan yang benar tetapi bobot yang paling besar adalah kecintaan karena Allah. Perempuan bersuami tidak boleh tergoda memilih kecintaan kepada laki-laki kecuali terhadap suaminya sendiri. Bila tidak demikian kecintaan itu merupakan sebuah kecintaan yang salah. Sedikit berbeda dengan perempuan yang belum menentukan suami, para perempuan mukminat demikian harus dibina untuk menumbuhkan kecintaan terhadap laki-laki hanya karena Allah, tidak karena harta atau kedudukan.

Kesalahan dalam pembinaan kaum perempuan akan mendatangkan masalah besar bagi suatu bangsa. Orang-orang shalih di antara mereka tidak akan bisa berbuat banyak apabila isteri-isteri mereka tertimpa masalah. Dalam banyak kasus, para laki-laki suatu kaum akan menderita manakala para perempuan salah didik dengan kesulitan yang berlipat. Misalnya manakala usaha mereka tidak mendatangkan hasil yang layak karena kurangnya doa para isteri, kemudian isteri mereka justru memandang hina kemampuan suaminya dalam berusaha. Hal ini akan sangat menguras energi kaum laki-laki dan energi bangsa untuk memperoleh kebaikan. Demikian pula mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak karena kurang baiknya keadaan rumah tangga sehingga mendatangkan masalah yang rumit. Sangat banyak masalah yang mungkin timbul dari kesalahan dalam membina para perempuan. Kaum mukminin hendaknya berusaha untuk mendidik kaum perempuan dengan benar agar mereka bisa memperoleh kebaikan yang banyak.

Boleh dikatakan bahwa upaya menyeru pada kebaikan akan sia-sia secara lahiriah manakala para mukminat salah didik. Syaitan secara khusus menggunakan pemisahan rumah tangga untuk merusak keadaan kaum mukminin. Pada puncaknya, fitnah terbesar bagi manusia akan dilakukan syaitan melalui pemisahan para isteri dari suaminya. Upaya syaitan demikian mungkin akan sangat intensif. Misalnya manakala seorang mukmin memperoleh petunjuk cara memperbaiki rumah tangganya yang telah dirusak syaitan, syaitan boleh jadi juga akan menggagalkan terlaksananya petunjuk itu sedemikian hingga bukan perbaikan yang diperoleh dengan mengikuti petunjuk tetapi justru timbul kerusakan yang lebih besar karena hantaman syaitan. Seorang mukmin kadangkala harus menghitung petunjuknya sebagai suatu pertaruhan antara kebaikan dan keburukan manakala mengikutinya karena syaitan yang mencari celah merusak melalui petunjuk. Bukan petunjuknya salah tetapi fitnah syaitan itu bisa sedemikian dahsyat bagi manusia. Boleh jadi bukan kesalahan orang yang ingin memperbaiki keadaan yang menyebabkan kerusakan lebih besar tetapi karena kaumnya yang tidak berhati-hati terhadap tipu daya syaitan yang menyebabkan kerusakan lebih berat. Umat harus benar-benar memperhatikan tuntunan Allah untuk membina para perempuan mukminat, tidak melangkah sedikitpun mengikuti syaitan.



Senin, 14 Juli 2025

Mewujudkan Kebaikan Pada Umat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan secara berjamaah. Setiap pengikut Rasulullah SAW hendaknya menyeru kepada orang lain agar berusaha mewujudkan amal-amal masing-masing sebagai amal shalih hingga terwujud kemakmuran di bumi. Barangkali tidak semua orang mengenal amal shalih yang ditentukan bagi masing-masing, sebagai turunannya hendaknya para pengikut Rasulullah SAW menyeru agar setiap orang mengikuti al-jamaah yang melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka.

Secara khusus, ada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Orang-orang yang diperintahkan demikian adalah penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung.

﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Para penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung demikian dapat menunjukkan manusia pada kebaikan (الْخَيْرِ), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Kebaikan (الْخَيْرِ) menunjuk pada kebaikan yang berwujud nilai-nilai kebaikan, tatanan yang mendatangkan kebaikan maupun kebaikan dalam wujud harta benda yang baik. Nilai-nilai kebaikan (الْخَيْرِ) akan menjadikan umat manusia hidup secara baik dengan terbentuknya hubungan antar manusia yang saling mensejahterakan. Tidak semua harta benda merupakan kebaikan tetapi ada harta benda yang baik di antara berbagai harta benda, maka harta benda yang baik demikian itu termasuk الْخَيْرِ. Al-ma’ruf ( المَعْرُوف ) menunjuk pada pengetahuan terhadap kehendak Allah sedemikian orang-orang yang mengikuti perintah orang-orang demikian akan memahami kehendak Allah atas diri mereka atau diri masing-masing. Al-munkar (الْمُنكَرِ ) menunjuk pada kebodohan terhadap kebenaran.

Menyeru Pada Kebaikan

Yang perlu diwujudkan oleh kaum mukminin tidak hanya amar ma’ruf nahy munkar. Kaum mukminin hendaknya membentuk kelompok yang menyeru umat untuk mewujudkan kebaikan baik berupa nilai-nilai dan tatanan bermasyarakat yang baik maupun terwujudnya kesejahteraan jasmaniah yang baik. Amanah demikian tidak boleh diserahkan kepada orang-orang musyrik, kafir, munafiq ataupun kaum yang menyukai kemunkaran karena akan disalahgunakan untuk memperoleh keinginan syahwat dan hawa nafsu kekuasaan mereka. Hal ini mensyaratkan kebersihan kelompok penyeru dari kemunkaran, pengetahuan kelompok terhadap kehendak Allah yang berdasar pada pengetahuan terhadap kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, serta kemampuan merumuskan langkah-langkah yang dibutuhkan agar terwujud kebaikan pada masyarakat. Bila kaum mukminin terus mengikuti prasangka sendiri tentang kebaikan, tidak akan terwujud kebaikan di antara masyarakat, atau mereka justru menjadi penghambat utama terbentuknya kebaikan di masyarakat karena waham.

Dewasa ini umat manusia terjebak pada sistem yang semakin memburuk. Orang-orang kaya semakin kaya dan orang miskin sulit untuk mentas dari kemiskinan mereka. Para pemegang kekuasaan di antara mereka tidak mampu merumuskan langkah-langkah yang memadai untuk mensejahterakan masyarakat dan bahkan cenderung terjerumus pada pensejahteraan diri sendiri dan kelompoknya dan berpihak pada pemilik modal. Manakala merumuskan suatu program, program itu tampak bagus wujudnya tetapi tidak dilaksanakan dengan baik dan justru ditemukan berbagai celah-celah untuk dikorupsi untuk kepentingan satu pihak. Kadangkala satu orang atau satu golongan memperoleh legitimasi untuk menindas yang lain dengan celah-celah hukum. Masyarakat sulit untuk menemukan jalan untuk membangun kesejahteraan bersama karena tatanan yang buruk. Bila dicermati, sebenarnya masyarakat memang dijebak pada tatanan yang buruk tetapi kebanyakan tidak menyadarinya dan sebagian kecil dari masyarakat justru menikmati sistem yang buruk tersebut.

Orang-orang yang beruntung mempunyai pengetahuan tentang kebaikan yang seharusnya diperoleh masyarakat. Mereka mengetahui langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk mewujudkan kebaikan bagi masyarakat. Semakin bertambah orang-orang yang mampu menyeru pada kebaikan, akan semakin mudah terwujud kesejahteraan kehidupan bermasyarakat karena banyaknya kebaikan yang dapat diwujudkan. Hanya saja seringkali masyarakat tidak menyadari seruan kebaikan itu karena rendahnya kesadaran terhadap tuntunan Allah. Bila masyarakat tidak mempunyai kemampuan menilai kebenaran, mereka tidak akan mengerti nilai dari suatu seruan menuju kebaikan. Tanpa suatu pemahaman terhadap nilai seruan itu, masyarakat tidak akan mengikuti, dan tidak terwujud kebaikan pada masyarakat mereka.

Selain karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap tuntunan Allah, tidak terwujudnya kebaikan itu juga bisa disebabkan karena waham pada masyarakat. Masyarakat besar seringkali mengikuti waham tentang kebenaran sehingga tidak dapat mengikuti kebenaran dari sisi Allah. Mereka bukan orang-orang yang mempunyai keinginan buruk tetapi terjebak pada waham kebenaran sedemikian tidak dapat mengikuti seruan terhadap kebaikan. Mereka memandang suatu kebaikan dan mengikutinya sedangkan kebaikan yang mereka ikuti tidak benar-benar mendatangkan kebaikan dan mereka tidak berusaha berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala datang suatu seruan terhadap kebaikan yang secara potensial dapat mendatangkan kebaikan, mereka tidak mengikuti seruan itu karena telah terisi waham kebaikan kosong dalam diri mereka. Bahkan manakala seruan kebaikan itu jelas mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mereka mungkin tidak terpikir untuk mengikutinya karena waham mereka. Bila demikian maka seruan terhadap kebaikan itu tidak akan mendatangkan hasil.

Waham kebaikan itu tidak jarang membuat orang-orang yang mengetahui kebaikan dari kalangan orang yang beruntung tidak mendapatkan tempat yang layak di masyarakat. Penyalahguna bansos akan dipandang lebih mulia daripada orang-orang yang menyeru pada kebaikan karena akal masyarakat yang rendah. Orang-orang yang jahat dan pandai akan berusaha menimpakan kesulitan pada orang yang mampu menyeru pada kebaikan karena akan menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk berbuat curang terhadap masyarakat. Bukan hanya itu, kadangkala waham masyarakat menjadikan orang-orang yang dapat menyeru pada kebaikan justru terjepit dengan berbagai masalah bukan dibantu ataupun diikuti seruan mereka. Hal demikian bisa terjadi melibatkan hasutan syaitan terhadap orang-orang baik yang hanya mengikuti waham. Manakala sekadar mengikuti waham, para penyeru kebaikan itu mungkin hanya tidak mendapatkan tempat di antara masyarakat.

Menyuruh dengan Al-ma’ruf

Para penyeru pada kebaikan itu dapat dikenali dengan kemampuan mereka menyuruh kepada al-ma’ruf dan mencegah dari al-munkar. Al-ma’ruf ( المَعْرُوف ) menunjuk pada pengetahuan terhadap kehendak Allah. Dengan pengetahuan demikian, penyeru itu memerintahkan kepada orang lain untuk berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Pengetahuan terhadap kehendak Allah itu bukan hanya dalam bentuk-bentuk syariat seperti shalat, puasa, zakat dan ibadah mahdlah lainnya, tetapi juga pengetahuan terhadap keadaan alam kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian mereka mengetahui amal-amal yang seharusnya ditunaikan oleh manusia untuk kebaikan diri mereka. Pengetahuan terhadap kehendak Allah itu bukan dalam bentuk subjektif sedemikian seseorang dapat secara bebas mengaku mengetahui kehendak Allah, tetapi berupa pengetahuan yang dapat diterangkan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin beberapa pengetahuan cukup rumit untuk diterangkan secara langsung berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi ada hubungan yang logis antara pengetahuannya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Di antara tanda bahwa suatu perintah dilakukan berdasarkan al-ma’ruf itu adalah seseorang yang diperintah bisa ikut mengetahui kehendak Allah. Seseorang akan mudah mengetahui bahwa perintah demikian itu adalah suatu kehendak Allah karena kesesuaian perintah dengan keadaan kauniyah yang dihadapi. Dalam beberapa keadaan, seseorang mungkin saja harus melakukan perintah tanpa mengetahui keadaan secara tepat, tetapi kemudian ia dapat mengetahui kebenaran dari perintah itu dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan memperhatikan keadaan dengan seksama. Tidak jarang pengetahuan seseorang terhadap suatu keadaan tertutup dengan informasi yang salah, maka informasi itu dapat diluruskan dengan mengikuti perintah. Manakala seseorang atau suatu kaum terus menerus melakukan perintah tanpa bisa memahami perintahnya sebagai kehendak Allah, barangkali mereka tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, atau perintahnya merupakan perintah yang tidak berdasarkan al-ma’ruf. Setiap perintah berdasarkan al-ma’ruf akan dapat mendatangkan pengetahuan yang benar terhadap ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang mentaatinya.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha untuk memahami kehendak Allah hingga dapat mencegah kemunkaran sesuai bidang masing-masing. Hal ini harus diperhatikan dengan seksama. Kadangkala suatu kaum berusaha menata umatnya untuk menunaikan bidang masing-masing tetapi secara praktis justru menghambat orang-orang yang telah mengetahui bidang yang harus dikerjakannya. Ini merupakan waham kebenaran. Manakala seseorang mengetahui ayat Allah yang harus diperhatikan melalui keterbukaan (alfathu), ia harus dibantu untuk mewujudkan usahanya tidak dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan lain yang diinginkan kaum tersebut. Pemaksaan demikian merupakan penghalangan terwujudnya amanah Allah. Paaaaaa prinsipnya pengenalan diri setiap mukmin sebenarnya berbentuk pengetahuan tentang ayat Allah yang menjadi amanah bagi dirinya, tidak dibangun berdasarkan pengetahuan keunggulan diri. Umat islam harus mewadahi terwujudnya amanah Allah di bumi. Sebenarnya di antara muslimin mempunyai keterkaitan amanah dengan salah seorang di antara mereka maka mereka akan dapat meraba atau mengenali amanah bersama bagi diri masing-masing dengan membantu terlaksananya amanah salah seorang dari mereka.

Seseorang atau suatu kaum mungkin saja terjangkit waham bahwa mereka melaksanakan kehendak Allah hingga menjadi orang-orang yang berbahaya. Setiap kehendak Allah mempunyai landasan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat dipahami setiap orang dengan penalaran yang lurus. Tuntunan Allah itu kadangkala dipahami dengan penalaran yang keliru atau penghayatan yang salah. Kaum zionis menjadi contoh kaum yang berbahaya karena waham mereka dalam pandangan Allah. Kesesatan demikian tidak hanya menjangkiti kaum zionis saja. Setiap umat beragama dapat terjangkiti waham yang berbahaya, tetapi puncak kejahatatan itu tampak pada kaum zionis. Tuntunan kitab yang diberikan kepada mereka dipahami dengan cara yang salah, sedemikian terwujudlah orang-orang yang berbahaya bagi umat manusia. Syaitan memperoleh kebebasan dalam mengarahkan langkah-langkah mereka dalam menimbulkan kerusakan di bumi. Mereka menjadi orang-orang yang tampak kuat di antara manusia karena arahan-arahan dari syaitan kepada para pemimpin mereka, tetapi sebenarnya kekuatan mereka itu seperti sarang laba-laba manakala orang lain mengetahui jaring-jaring kejahatan yang mereka perbuat. Hanya saja hanya sedikit manusia yang berusaha untuk mengurai kekuatan jaring-jaring kejahatan mereka.

Tazkiyatun-nafs menjadi landasan pokok memahami tuntunan kitabullah secara benar. Kitabullah Alquran tidak akan dapat tersentuh kecuali oleh orang-orang yang dibersihkan hatinya. Hal tersebut tidak digantikan dengan pengetahuan ilmu tafsir. Kitabullah Alquran merupakan petunjuk bagi setiap orang yang bertakwa. Setiap muslim hendaknya melakukan tazkiyatun-nafs dan berusaha membentuk akhlak mengikuti kehendak Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka ia akan bisa meraba atau mengetahui makna yang terkandung dalam ayat kitabullah, secara khusus makna bagi dirinya. Boleh jadi ada makna-makna yang dipahami secara tidak tepat maka makna itu belum berlaku final, harus digantikan dengan yang lebih baik. Setiap pemahaman bisa menjadi pedoman arah dalam memperkuat akal. Harus tumbuh suatu keinginan pada diri seseorang untuk mewujudkan amanah dari suatu ayat Allah. Pada saatnya bila Allah berkenan ia akan mengalami keterbukaan terhadap makna-makna yang menjadi kandungan dalam ayat-ayat kitabullah selaras dengan keadaan kauniyah.

Mencegah Kemunkaran

Selain bisa memerintahkan dengan al-ma’ruf, orang-orang yang bisa menyeru pada kebaikan mempunyai kemampuan mengetahui kemunkaran yang terjadi di antara mereka. Al-munkar (الْمُنكَرِ ) menunjuk pada kebodohan terhadap kebenaran. Kadangkala kemunkaran terlihat benar dan indah dalam pandangan manusia tetapi sebenarnya tidak mengandung nilai kebaikan padanya. Misalnya kadangkala suatu kaum menjadi jahat karena merasa menjadi hamba Allah yang terbaik sedangkan banyak ketentuan Allah dilanggar. Mereka tidak mengetahui nilai-nilai kebenaran tetapi merasa telah menjadi hamba yang terbaik. Kadangkala suatu kaum berada pada tepi kesesatan karena sikap demikian. Atau misalnya kala ayat kitabullah ditafsir tanpa suatu landasan kebersihan hati kemudian digunakan untuk menyerang dan memecah-belah kaum muslimin. Secara fragmen mungkin tidak terlihat ada yang salah pada penafsiran ayat tersebut tetapi dampak yang ditimbulkan memecah-belah kaum muslimin. Banyak kasus-kasus kemunkaran dalam bentuk lain. Hal ini sering tidak dapat dicegah oleh orang-orang biasa tetapi orang-orang yang menyeru pada kebaikan mengetahuinya.

Suatu kemunkaran di antara hamba-hamba Allah akan menjadi pangkal munculnya kemunkaran yang banyak pada masyarakat manusia secara umum. Manakala kemunkaran terjadi pada kaum mukminin, akan marak kemunkaran pada masyarakat. Manakala kemunkaran marak terjadi pada masyarakat, boleh jadi itu menunjukkan terjadinya banyak kemunkaran di antara orang-orang beriman. Manakala kaum mukminin terhindar dari kemunkaran, mereka akan dapat mencegah kemunkaran yang terjadi pada masyarakat luas. Setiap orang beriman hendaknya berusaha untuk memahami kehendak Allah hingga dapat mencegah kemunkaran sesuai bidang masing-masing.

Maraknya kemunkaran di antara masyarakat ditandai dengan munculnya kesimpangsiuran dan perselisihan pendapat karena ada berbagai perkataan yang berbeda tanpa mengerti duduk masalah secara tepat. Banyak orang yang berani mengeluarkan kebohongan-kebohongan untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dari masyarakat banyak. Kebohongan-kebohongan itu seringkali bertentangan dengan kenyataan yang terjadi tetapi dijadikan sebagai kebenaran. Kemunkaran di masyarakat luas dapat terjadi secara terorganisasi hingga terlembagakan dalam wujud kekuasaan yang tidak dapat dicegah kemunkarannya melalui usaha-usaha pribadi. Seseorang leluasa berbuat kemunkaran karena adanya mandat kemunkaran dan perlindungan dari atasannya. Terwujudnya lembaga-lembaga yang melakukan kemunkaran bisa terjadi karena adanya kemunkaran-kemunkaran pada kaum beriman yang tidak dibersihkan. Untuk mencegah kemunkaran yang terlembagakan demikian, orang beriman harus berusaha secara berjamaah masing-masing memberikan nasihat untuk mencegah kemunkaran dalam bidang sesuai dengan dirinya. Pencegahan kemunkaran tidak akan dapat dilakukan manakala seseorang tidak mengenal kehendak Allah.

Untuk mewujudkan langkah menyeru pada kebaikan beramar ma’ruf nahy munkar, langkah yang perlu ditempuh adalah menata pikiran dan akal untuk meningkatkan pengetahuan umat dan menata keluarga mengikuti tuntunan yang benar hingga masyarakat mengetahui tatanan sosial dalam lingkup terdekat diri mereka. Setiap orang hendaknya bisa berpikir dan menggunakan akal untuk dirinya, dan memikirkan nilai manfaat yang dapat diberikan dirinya kepada keluarga, baik kepada suami atau isteri dan anak-anak serta keluarga besar mereka. Setiap orang hendaknya membangun shilaturahmi dan terhubung kepada pihak lain dan saling memahami secara semestinya, tidak boleh dipotong-potong hubungan shilaturahmi mereka terutama antara suami dan isteri. Manakala tatanan diri dan tatanan keluarga tidak terbina, mustahil mewujudkan tatanan dalam tingkat masyarakat atau negara dengan baik. Orang yang mengetahui tidak akan mampu melaksanakan, dan orang yang merusak tidak mengetahui kebaikan dan amar ma’ruf nahy munkar yang harus dilaksanakan.