Pencarian

Rabu, 06 September 2023

Bertaubat Melalui Shirat Al Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Jalan untuk didekatkan kepada Allah tersebut dikenal sebagai shirat al-mustaqim.

Shirat al-mustaqim merupakan ketetapan yang harus ditunaikan oleh masing-masing manusia untuk kembali kepada Allah. Untuk mengenali shirat al-mustaqim, setiap orang harus berserah diri melalui keislaman, yaitu sikap berserah diri kepada Allah dengan berusaha sungguh-sungguh untuk mengenali dan melaksanakan perintah Allah. Allah telah menetapkan perintah bagi setiap diri manusia sebelum kelahirannya di bumi, dan orang yang mengenali perintah itu adalah orang yang menemukan shiratal mustaqim. Pengetahuan seseorang terhadap perintah Allah yang telah ditetapkan itu merupakan nikmat Allah atas setiap diri manusia. Shirat al-mustaqim adalah jalan orang-orang yang telah diberi karunia nikmat Allah.

﴾۶﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(6)Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7)(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Faatihah : 6-7)

Orang-orang islam hendaknya berusaha menyatukan jalan dengan mereka yang diberi nikmat Allah dengan meminta petunjuk, yaitu petunjuk untuk menyatukan jalan di shirat al-mustaqim. Pada dasarnya mereka mengerjakan urusan Allah yang satu yang diberikan kepada Rasulullah SAW, tetapi terbagi-bagi dalam urusan masing-masing. Ada orang yang mengerjakan urusan berlainan dengan orang lain, ada yang beririsan urusannya, dan ada orang-orang yang urusannya menjadi bagian urusan orang lain. Shiratal mustaqim seorang isteri pada bagian besarnya berupa urusan yang menjadi bagian urusan suaminya.

Contoh kesatuan jalan dapat dilihat pada para wali di nusantara. Para waliyullah di nusantara mengenali nikmat Allah bagi mereka yaitu untuk mempersiapkan jalan bagi harta simpanan Rasulullah SAW sang merah putih yang akan berjuang di masa yang akan datang, maka sang merah putih dan para waliyullah mengerjakan satu urusan dari Rasulullah SAW secara berjamaah dalam shaff-shaff yang mereka ketahui. Mereka mengenali kesatuan urusan di antara mereka yaitu urusan Rasulullah SAW, dan para waliyullah tersebut mengenali washilah bagi mereka kepada Rasulullah SAW yaitu sang merah putih.

Setiap orang hendaknya memohon petunjuk Allah. Petunjuk di antara manusia seringkali berlaku layaknya shaff-shaff di antara orang-orang beriman. Suatu petunjuk bagi seorang imam sering berlaku pula terhadap umat mereka, dan suatu petunjuk bagi seseorang kadang perlu diberitahukan kepada imam mereka. Hampir semua petunjuk kepada Rasulullah SAW yang beliau sampaikan berlaku untuk setiap makhluk. Umat hendaknya mengikuti imam mereka, dan hal ini hendaknya disertai dengan upaya memahami petunjuk berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman itu yang akan menjadi akal bagi diri mereka masing-masing. Suatu petunjuk bagi seorang laki-laki bisa berlaku pula terhadap isterinya, dan isteri harus memberikan dukungan untuk pelaksanaan petunjuk suaminya. Beberapa petunjuk terhadap seorang isteri merupakan bentuk petunjuk yang harus disampaikan atau dilaksanakan bagi suaminya. Manakala suatu petunjuk kepada orang-orang yang berada di shiratal mustaqim yang disampaikan dibiarkan tanpa sambutan, umat mereka bisa dikatakan sebagai orang-orang yang tidak meminta petunjuk kepada jalan yang lurus.

Setiap orang harus menggunakan akal untuk bisa mengenali kebenaran yang dapat mengantarkan mereka menyatukan diri bersama orang yang memperoleh nikmat. Pikiran harus digunakan untuk mengenali kebenaran dan memisahkan kebathilan, dan akal digunakan untuk menyusun kebenaran dalam suatu kerangka akhlak hingga akal mereka dapat mengenali suatu kebenaran sebagai bagian tertentu dalam urusan yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mengenal urusan Allah merupakan pintu menyatukan diri bersama orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dalam barisan yang dipimpin Rasulullah SAW. Tanpa membina akal untuk mengenal urusan Allah bagi ruang dan jaman mereka, seseorang tidak bisa menemukan nikmat Allah. Kadangkala manusia berkeinginan mengenal diri, tetapi tidak memperhatikan hubungan dirinya kepada Allah melalui kesatuan amr Allah.

Islam, Iman dan Petunjuk

Memohon petunjuk harus dimulai dari sikap islam (berserah diri) dan berharap memperoleh cahaya iman. Keislaman mencakup seluruh manusia yang berkeinginan menata diri sesuai dengan kehendak Allah, baik orang tersebut memperoleh cahaya iman ataupun orang yang berusaha mengikuti orang-orang yang memperoleh cahaya iman. Orang yang benar-benar berusaha berserah diri akan memperoleh cahaya iman. Iman merupakan tingkatan lebih lanjut dari berserah diri, di mana seseorang memperoleh cahaya yang menjelaskan kehidupan mereka melalui hati mereka dengan iman. Batas keislaman seseorang adalah ucapan lisan mereka dengan kalimah syahadatain. Dalam beberapa hal, meninggalkan syariat tertentu atau masuk dalam keadaan-keadaan tertentu mengakibatkan seseorang kufur akan tetapi hukum sebagai muslim tetap berlaku atas mereka di masyarakat, tidak boleh diperlakukan sebagai orang kafir.

Menata diri sesuai kehendak Allah harus dilakukan seseorang mulai dari tataran lahiriah hingga mencapai kemuliaan akhlak sebagaimana Rasulullah SAW. Setiap manusia diciptakan secara sempurna lengkap dari alam jasmaniah hingga alam ruh termasuk alam malakut berupa nafs mereka yang setara dengan alam para malaikat. Alam jasmani merupakan alam terendah yang terjauh dari cahaya Allah, dan alam ruh merupakan alam tertinggi yang dekat kepada Allah, dan nafs manusia berada di antara kedua alam itu yang menghubungkan alam yang dekat kepada alam yang rendah. Menata diri harus dilakukan dari alam jasmani dan pikiran, dilakukan sedemikian hingga jasmani itu dapat tertib hingga diijinkan untuk mengenal nafs. Menata jasmani dalam hal ini termasuk menata keinginan jasmaniah dan hawa nafsu diri.

Bila seseorang bersungguh-sungguh menata diri untuk mengikuti Rasulullah SAW sebagai hamba yang didekatkan, Allah akan memberikan kepada hatinya cahaya iman. Akan terbina dalam diri mereka suatu bentuk hubungan kepada Allah, dan mereka akan mudah untuk memahami kebenaran dari sisi Allah. Kedua keadaan itu ada bersama-sama dan akan tumbuh pula keduanya. Hubungan kepada Allah yang tumbuh secara emosional tanpa dibarengi suatu ghirah untuk memahami kebenaran dan berbuat berdasarkan kebenaran itu seringkali tidaklah menunjukkan adanya cahaya iman. Sebaliknya ghirah terhadap kebenaran akan menjadikan seseorang semakin memahami hubungan mereka kepada Allah. Manakala suatu cahaya iman dipahami dengan hawa nafsu, seseorang akan melangkah dalam kesesatan tanpa mengetahui hubungan diri mereka kepada Allah.

Keimanan ada bersama keislaman, tidak terpisah darinya. Adanya keimanan dalam hati harus diwujudkan dalam amal-amal yang bermanfaat bagi umat manusia dan makhluk yang lain. Keimanan hendaknya tidak hanya terwujud dalam bentuk-bentuk bathin. Demikian pula bentuk amal lahiriah hendaknya tersambung kepada keimanan yang ada dalam qalb seseorang. Setiap amal hendaknya dilahirkan di atas suatu iktikad pengabdian kepada Allah. Akal akan menghubungkan amal seseorang dengan qalbnya yang memperoleh cahaya iman. Tanpa akal, amal-amal tidak terhubung secara baik dengan cahaya Allah, hanya berupa amal-amal yang dilakukan tanpa suatu pemahaman terhadap kehendak Allah.

Perlu perhatian dan ketelitian dalam menjalankan iman dan islam secara seimbang. Sebagai pendahuluan, hendaknya setiap orang memperdalam keislaman hingga memperoleh iman. Kadangkala seseorang menemukan suatu petunjuk dalam hati yang tidak terhubung secara baik dengan konstruk keislamannya, maka hendaknya ia berusaha menemukan hubungan terbaik di antara keduanya hingga keduanya berjalan seimbang. Secara umum, keimanan akan mengarahkan peningkatan keislaman seseorang, menjadi cahaya yang menjelaskan bentuk keislaman yang dapat dilaksanakan lebih lanjut. Akan tetapi tidak sedikit petunjuk merupakan ujian Allah bagi seseorang atau bahkan petunjuk dari syaitan. Orang yang benar-benar menginginkan kembali kepada Allah tentu akan berhati-hati meniti jalan dengan mencari landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Menjaga keseimbangan iman dan islam mencakup tindakan praktis. Setiap orang hendaknya berlaku setimbang dalam setiap keadaan. Manakala ia menerima petunjuk, ia harus berusaha menghubungkan dengan konstruk keislamannya dan melaksanakannya. Kadangkala seseorang telah menerima petunjuk tetapi tidak melaksanakan setelah memahaminya, dan ia kemudian meminta petunjuk yang lain. Hal demikian sama saja tidak meminta petunjuk. Kadangkala seseorang menggantungkan harapan kepada Allah manakala mengalami kesulitan, tetapi ia meninggalkan petunjuk yang telah dipahaminya, maka sebenarnya ia tidaklah bergantung kepada Allah. Amal yang ditentukan Allah tidak boleh ditinggalkan setelah diketahui, setidaknya manakala mengalami kesulitan ia tetap bersiap dan berada pada jalan untuk melaksanakan petunjuknya bila kesempatan terbuka.

Lurus dalam Mencari Jalan

Selain jalan orang-orang yang diberi nikmat, ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan jalan orang-orang yang tersesat. Syaitan akan selalu berusaha untuk menjadikan manusia menyimpang dari jalan yang lurus, baik dengan membujuk manusia untuk durhaka kepada Allah mengikuti keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri, maupun menggoda manusia untuk menempuh jalan yang keliru. Orang-orang yang tidak mempunyai keinginan untuk benar-benar menemukan jalan yang benar untuk kembali kepada Allah akan mudah terbujuk untuk menjadi golongan orang yang dimurkai Allah ataupun orang-orang yang tersesat.

﴾۱۲﴿وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ
Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya aku termasuk di antara para pemberi nasehat kepada kamu berdua", (QS Al-A’raaf : 21)

Iblis menjadikan dirinya sebagai penasihat bagi manusia agar dapat memasukkan kesesatan dalam langkah mereka. Terdapat banyak penasihat dalam diri manusia, dan iblis menjadikan dirinya penasihat di antara penasihat yang lain. Hati, akal, atau ruh dapat menjadi penasihat bagi setiap manusia. Hati seseorang akan selalu bersuara memberikan nasihat tentang kebaikan dan keburukan. Bila nasihat itu dituruti, seseorang akan dapat merasakan dengan benar ayat-ayat Allah yang sampai kepada dirinya. Manakala seseorang berusaha mengingat Allah, akhlaknya akan tumbuh mulia hingga dengan akalnya dapat memahami kehendak Allah. Akal demikian bisa menjadi penasihat bagi manusia. Semua fasilitas dalam diri itu merupakan penasihat-penasihat bagi setiap manusia.

Manakala seseorang berada dalam keadaan tertentu, Iblis berupaya memasukkan dirinya dalam golongan para penasihat bagi mereka baik ia laki-laki ataupun perempuan. Dalam pertumbuhannya, entitas dalam diri manusia berkembang bertahap. Pada awalnya seseorang mungkin tidak mempunyai kemampuan memahami kehendak Allah, tetapi pikirannya dapat mengumpulkan pengetahuan untuk menempuh jalan kembali kepada Allah bila digunakan dengan benar. Pada fase tertentu, ia mungkin akan mengalami keterbukaan terhadap penciptaan dirinya, dan tiba-tiba ia dapat memahami ayat Allah baik secara kauniyah maupun kitabullah. Ada fase perkembangan secara diskrit yang mungkin akan terjadi pada manusia, dan iblis akan hadir pada seseorang pada fase-fase diskrit itu untuk menjadikan dirinya sebagai penasihat.

Tipuan iblis terhadap manusia sangatlah halus. Mereka biasa menipu dalam selipan-selipan di antara kebenaran, tidak menipu dengan sesuatu yang tampak salah. Misalnya Iblis menunjukkan pohon thayyibah diri seseorang, sedangkan ada suatu tujuan syaitan tersembunyi dibalik pengetahuan tersebut. Bila penasihat-penasihat yang lain tidak cukup kuat memberikan nasihat penyeimbang untuk menempuh jalan kembali kepada Allah, seseorang akan mudah tertipu iblis menyangka ia adalah penasihat yang benar baginya. Bila akhlak seseorang terbina sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan bisa membedakan tipuan syaitan berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pertolongan Allah. Pertolongan Allah itu akan hadir mengiringi kuatnya keinginan seseorang untuk mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila menggantungkan pada kemampuan diri sendiri, pertolongan itu mungkin tidak datang.

Keinginan dan kebutuhan untuk mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus tumbuh dalam hati setiap orang beriman. Iblis itu dapat menipu manusia ketika berhadap-hadapan, dan dapat menipu pula dari tempat yang tidak terlihat manusia. Bila menganggap mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak lebih penting dari mengikuti orang lain atau mengikuti hal lainnya, maka syaitan akan dengan sangat mudah menipu tanpa memperlihatkan dirinya kepada mereka atau menipu dari tempat yang jauh dari diri mereka tanpa memberikan tipuan secara langsung. Membina diri berdasarkan selain kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menghasilkan akhlak yang rapuh terhadap tipuan.

Tidak terbatas dalam tipuan yang halus, syaitan seringkali menggunakan sihir kasar yang membalik cara pandang manusia terhadap kebenaran manakala memungkinkan. Suatu kekejian dapat dijadikan dalam pandangan manusia sebagai amr Allah. Manakala seseorang meninggalkan jalan washilah yang menghubungkan diri kepada Allah, ia dikatakan berbuat keji. Seorang isteri berbuat keji bila meninggalkan suaminya untuk orang lain, dan seorang laki-laki berbuat keji bila ia meninggalkan jalan Allah atau imam yang dikenalinya tanpa landasan yang haq. Tidak terbatas perorangan, suatu jamaah dapat dikatakan keji. Suatu jamaah yang meninggalkan tuntunan agama dapat dikatakan sebagai keji. Misalnya bila menempuh tazkiyatun-nafs hendaknya mereka memperhatikan tuntunan agama di kalangan mereka. Suatu jamaah tazkiyatun-nafs yang benar mengetahui washilah mereka kepada Rasulullah SAW dan tidak meninggalkan washilah mereka. Bila suatu jalan tazkiyatun nafs atau imamnya meninggalkan imam agama, mereka terbujuk perbuatan keji. Anak-anak didikan mereka akan kehilangan jalan untuk mengenal jati diri meskipun taat kepada imam mereka. Sebagian (besar) anak seharusnya tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga mengikuti ibunya, tetapi harus belajar menyatukan amal kepada urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Imam agama adalah orang yang dapat menghubungkan jamaah kepada amr jami’ Rasulullah SAW.



Minggu, 03 September 2023

Sihir dan Pengetahuan Tentang Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Jalan untuk didekatkan kepada Allah tersebut dikenal sebagai shirat al-mustaqim.

Akhlak al-karimah terbentuk melalui pengenalan terhadap Allah dengan mengenal asma’ul-husna yang dimiliki-Nya. Hal itu dapat diperoleh bila seseorang menempuh perjalanan kembali (bertaubat) kepada Allah. Bila ia menempuh perjalanan yang benar, ia akan menemukan keping-keping pengetahuan tentang asma ul-husna yang akan memperkenalkan dirinya kepada Allah sedikit demi sedikit, dan pada suatu saat ia akan memperoleh keterbukaan pengenalan terhadap penciptaan dirinya. Bila seseorang mengenali keterbukaan pengenalan diri, ia dikatakan mengenal rabb-nya. Yang dimaksud adalah mengenal tajalli Allah yang akan diperkenalkan kepada dirinya dan mengenal dengan benar kehendak Allah atas dirinya.

Memperoleh pengetahuan tentang Allah tidak hanya terjadi pada orang-orang yang bertaubat kepada Allah. Sebagian manusia menempuh jalan langit untuk kemegahan diri mereka dan memperoleh pengetahuan tentang Allah, akan tetapi sebagian pengetahuan yang mereka peroleh adalah pengetahuan yang salah. Sebagian dari para tukang sihir adalah orang-orang yang memperoleh pengetahuan yang salah tentang Allah, dan mereka memanifestasikan pengetahuan mereka itu kepada umat manusia. Mereka mengatakan kepada manusia perkataan-perkataan yang diada-adakan tentang Allah.

﴾۱۶﴿قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُم بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ
Berkata Musa kepada mereka: "Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan perkataan terhadap Allah secara dusta, maka Dia menimpa kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah tercerabutlah orang yang mengada-adakan (perkataan) (QS Thahaa : 61).

Perkataan yang diada-adakan tentang Allah merupakan salah satu tiang yang menopang tegaknya urusan syaitan di antara manusia selain dengan keburukan dan dengan kekejian. Sebagian ahli sihir merupakan orang-orang yang diajari pengetahuan tentang Allah oleh para syaitan sedangkan pengetahuan mereka itu hanya diada-adakan oleh syaitan. Dengan pengetahuan demikian, syaitan menegakkan tiang mereka untuk menegakkan urusan mereka atas umat manusia. Demikianlah para ahli sihir itu menegakkan urusan syaitan atas umat manusia diantaranya dengan perkataan-perkataan yang diada-adakan tentang Allah.

Ayat di atas bercerita tentang percakapan nabi Musa a.s kepada para ahli sihir Fir’aun. Para ahli sihir pada jaman dahulu adalah orang-orang yang dapat melakukan manipulasi-manipulasi wujud bendawi bagi pandangan umat manusia di alam jasmani dengan menggunakan pengetahuan yang diada-adakan tentang Allah. Pada jaman setelah nabi Muhammad SAW sihir syaitan itu tetap ada dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang diada-adakan tentang Allah, akan tetapi lebih banyak menyentuh tatanan kehidupan manusia. Sihir wujud bendawi saat ini kebanyakan hanya merupakan sihir kecil, sedangkan sihir besar syaitan diberikan pada banyak ahli sihir yang membantu kelompok-kelompok manusia untuk membuat persepsi dan pandangan yang keliru dalam tatanan umat manusia hingga tatanan yang baik dikatakan buruk dan tatanan yang buruk menjadi baik dalam pandangan manusia.

Sihir syaitan yang paling berpengaruh di bumi terjadi melalui pengetahuan yang salah, baik pengetahuan tentang Allah ataupun pengetahuan turunan dari kehendak Allah di alam dunia. Misalnya tatanan ribawi dalam kehidupan dunia tidak dapat hilang karena tidak terumuskan tatanan yang baik yang dapat melampaui tatanan ribawi. Hal ini terjadi karena adanya pengetahuan yang salah dan sihir syaitan. Kaum muslimin seringkali bingung tidak bisa mengatakan apakah tatanan ribawi itu dapat disebut riba, dan umat islam kemudian merasa nyaman dengan tatanan itu karena tidak mempunyai ide untuk tatanan yang baik. Pemikiran demikian membuat umat islam tidak dapat keluar dari sistem riba karena tidak mengetahui pokok dari riba yang terjadi.

Pengetahuan yang salah tentang Allah akan mendatangkan timpaan siksa atas orang yang membuatnya, dan mungkin para pengikutnya. Ada kejahatan dalam kedustaan pengetahuan tentang Allah yang diperbuat oleh syaitan yang akan menjadikan para makhluk celaka. Manakala para makhluk mengikuti kedustaan itu, mereka akan menjadi buruk dan/atau celaka hingga mendatangkan siksaan dari Allah karena keburukan mereka. Boleh jadi mereka akan menjadi makhluk-makhluk yang buruk sedangkan mereka merasa sebagai makhluk yang baik. Barangkali mereka mendatangkan kecelakaan sedangkan mereka merasa mengusahakan kebaikan.

Allah tidak berkehendak untuk menyiksa orang yang mengalami kesalahan karena kesalahannya, akan tetapi keburukan akhlak yang akan mendatangkan adzab. Juga karena keburukan yang menimpa makhluk lainnya. Pengetahuan yang keliru itu seringkali merepotkan dan mendatangkan celaka. Orang berakal akan merasa kesal terhadap orang-orang yang berpegang pada pengetahuan yang keliru. Sikap orang berakal seringkali merupakan bayangan sikap Allah. Berpegang pada ilmu yang keliru membuat seseorang tidak memahami pengetahuan mereka sendiri, sehingga tidak mau memperhatikan kebenaran dan memperbaiki diri. Kejengkelan makhluk-makhluk berakal itu dapat mengundang terperciknya siksa Allah. Siksa itu kemudian akan menimpa orang-orang yang mengatakan perkataan mengada-ada terhadap Allah. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan setiap hamba Allah adalah agar berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pengetahuan yang keliru tentang Allah tidak hanya terjadi pada ahli sihir. Orang-orang yang kembali dengan taubat dapat pula memperoleh pengetahuan yang diada-adakan tentang Allah bila tidak berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan sangat senang untuk memberikan ilham-ilham pengetahuan mereka kepada orang-orang yang mereka inginkan. Umat nabi Muhammad SAW sangatlah beruntung memperoleh salinan firman Allah di tangan mereka yang diturunkan dari sisi Allah. Dengan kitabullah Alquran setiap hamba Allah dapat memperoleh pengetahuan yang benar tentang Allah dan menyingkirkan pengetahuan-pengetahuan yang diada-adakan yang sampai pada mereka. Dengan pengetahuan yang benar, setiap hamba Allah dapat menempuh perjalanan kembali kepada Allah dengan selamat.

Pengetahuan yang diada-adakan akan mencerabut manusia dari jalan Allah. Kata “خَابَ” dapat dimaknai merugi dalam konteks rugi karena tercerabut dari kedudukan mereka yang benar. Setiap manusia hendaknya kembali bertaubat kepada Allah dengan membina akhlak mulia sebagaimana tumbuhnya pohon thayyibah dalam diri mereka. Tumbuhnya pohon thayyibah membutuhkan tempat tumbuh pada bumi dunia dan membutuhkan cahaya Allah. Manakala seseorang membuat perkataan yang diada-adakan tentang Allah, mereka tercerabut dari bumi mereka. Manakala seseorang mengikuti pengetahuan yang diada-adakan tentang Allah, pengetahuan itu dapat menjadikan pohon thayyibah mereka tercerabut dari tempat tumbuhnya, dan hal itu akan membuat pertumbuhan tidak baik pada pohon thayyibah.

Jalan Mulia tidak Selalu Cepat

Orang yang mempunyai pengetahuan tentang Allah akan ditinggikan derajatnya di antara para makhluk. Mereka akan dapat melihat kebenaran dan melihat apa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dengan ilmu mereka sehingga dapat memberikan penjelasan arah kehidupan yang benar kepada umat manusia. Mereka dapat memerintahkan manusia kepada al-ma’ruf dan menjauhkan manusia dari kemunkaran. Akan tetapi tidak semua manusia akan dapat melihat kebenaran yang disampaikan oleh orang berilmu. Seringkali umat mereka tidak mampu melihat kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang yang berilmu.

Dalam peristiwa nabi Musa a.s melawan para penyihir, para penyihir Fir’aun memandang Musa a.s dan Harun a.s sebagai penyihir sebagaimana mereka. Mereka tidak melihat perbedaan pengetahuan yang benar dengan pengetahuan yang diada-adakan pada diri mereka, tetapi tampak sama saja antara ilmu mereka dengan ilmu nabi Musa a.s dan nabi Harun a.s.

﴾۳۶﴿قَالُوا إِنْ هٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ
Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak mengusir kalian dari jalan kalian yang terbaik. (QS Thahaa :63)

Pengetahuan yang benar pada nabi Musa a.s dan nabi Harun a.s mereka pandang sebagai pengetahuan yang akan mengusir mereka dari jalan mereka yang paling cepat menguntungkan. Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan ke langit tanpa menyadari bahwa jalan mereka ke langit adalah jalan yang keliru. Akan tetapi mereka melihat jalan itu adalah jalan yang sangat efisien untuk mencapai suatu keinginan dalam waktu singkat. Segala sesuatu pada ilmu mereka tampak baik dalam pandangan para penyihir dan dengan itu mereka dapat memberikan kontribusi yang besar bagi negeri mesir.

Persepsi para ahli sihir itu akan tampak baik pada masa mereka, akan tetapi Allah Maha Mengetahui bahwa jalan demikian tidaklah baik. Jalan mereka itu hanya akan melahirkan manipulasi-manipulasi duniawi tanpa ada pemakmuran yang sebenarnya. Jalan yang benar dari sisi Allah diberikan kepada nabi Musa a.s dan Harun a.s, dan kedua nabi itu dikehendaki untuk mengalihkan jalan yang mereka tempuh menuju jalan yang dikehendaki Allah. Jalan nabi Musa a.s dan nabi Harun itulah yang dapat mengantarkan manusia kembali kepada Allah, dan jalan yang akan melahirkan kemakmuran di muka bumi. Jalan para ahli sihir itu hanya akan menjadikan mereka dan umat manusia hanya berputar-putar dalam masalah duniawi tidak beranjak darinya. Kemakmuran satu pihak hanya berdiri di atas kemiskinan pihak lain, sedangkan mereka tidak mempunyai arah kehidupan dalam penderitaan mereka.

Nabi Musa a.s dan nabi Harun a.s dipandang sebagai ahli sihir oleh para tukang sihir hingga mereka melihat hakikat yang ditampakkan oleh nabi Musa a.s. Para ahli sihir melakukan manipulasi pada tingkat tertentu hingga dapat mengubah bendawi yang mewujud secara berbeda dari hakikatnya, sedangkan nabi Musa a.s mewujudkan hakikat tertentu dari sisi Allah hingga mewujud secara jasmani. Sihir ini dapat diilustrasikan sebagaimana hipnotis, pelaku hipnotis melakukan manipulasi pada tingkat tertentu pada manusia objeknya hingga persepsi objek berubah, akan tetapi keadaan akhlak objek tersebut tidak berubah. Kadangkala akhlak objek tidak melampaui tingkatan yang dapat dilakukan oleh pelaku hingga objek tidak dapat mengembalikan atau menghilangkan hipnotis itu secara mandiri.

Dalam peristiwa nabi Musa a.s, para ahli sihir itu mampu memanipulasi pada tataran hampir mendekati hakikatnya hingga sihir mereka mempengaruhi bahkan diri seorang nabi. Beliau a.s merasa takut terhadap sihir mereka itu, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada nabi Musa a.s bahwa hakikat yang ada pada nabi Musa a.s berkedudukan lebih tinggi dari objek manipulasi yang dapat dilakukan oleh para ahli sihir. Ketika nabi Musa a.s membuktikan kepada para ahli sihir suatu hakikat dari sisi Allah, para ahli sihir itu mengetahui bahwa nabi Musa tidak melakukan manipulasi sihir tetapi diberi suatu hakikat yang harus diwujudkan kepada mereka. Para ahli sihir itu kemudian beriman kepada nabi Musa a.s dengan pengetahuan yang hak. Keyakinan berdasar pengetahuan itu tidak diperoleh oleh orang lain selain para ahli sihir karena pembuktian itu ditujukan terutama bagi ahli sihir.

Keyakinan para ahli sihir itu terjadi karena Allah menampakkan melalui nabi Musa a.s ilmu yang hak yang dekat dengan diri mereka. Seandainya ilmu itu terlalu jauh, mereka tidak akan melihat kebenaran itu dan barangkali akan menganggap nabi Musa a.s sebagai penyihir yang perlu ditakuti, atau tidak kalah buruk barangkali akan memandang nabi Musa a.s sebagai anak Allah. Demikian itu merupakan ketentuan Allah dalam sikap para nabi terhadap umatnya, mereka harus berusaha berbicara dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh kaumnya. Bila seorang pemimpin menunjukkan kehebatan yang tidak terjangkau oleh kaum mereka, kaum mereka akan mudah melenceng dari jalan Allah. Manakala tunduk, mereka tunduk secara tidak tepat, walaupun tunduk tetapi tidak mengikuti kebenaran yang dikehendaki Allah.

Para shalihin hingga para nabi mengajak manusia untuk mengubah akhlak mereka menuju kesempurnaan kemuliaan akhlak. Kemuliaan akhlak mencakup bentuk-bentuk adab yang mencapai inti dalam diri manusia. Landasan yang membentuk akhlak mulia adalah sifat rahmaniah dan rahimiah. Kedua sifat itulah hal yang seharusnya dimanifestasikan setiap manusia bagi semesta mereka secara tersambung dari sisi Allah melalui Rasulullah SAW hingga termanifestasi di alam dunia melalui diri mereka. Itu akan terwujud hanya melalui orang yang mempunyai akhlak mulia. Manusia tidak boleh mempelajari sihir karena sihir akan memanifestasikan keinginan syaitan dan dengan itu seseorang terputus hubungannya kepada Allah. Manusia tidak diperintahkan mengejar keajaiban, apalagi dengan melupakan Allah. Sihir tidak akan sedikitpun memanifestasikan kehendak Allah, sekalipun manakala sihir itu tampak seperti syariat agama, dan hasil-hasilnya tampak mengagumkan. Kadangkala agama tampak dekat dengan sihir dan sebaliknya. Perbedaan sihir dengan agama terletak pada adanya asas rahmaniah dan rahimiah dalam menunaikan agama.

Minggu, 27 Agustus 2023

Halangan dalam Bersyukur

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Jalan untuk didekatkan kepada Allah tersebut dikenal sebagai shirat al-mustaqim.

Jalan itu adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat Allah. Mereka telah memperoleh nikmat Allah, dan mereka bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan-Nya. Nikmat Allah dalam kehidupan di dunia adalah bentuk-bentuk kehidupan yang telah ditetapkan Allah bagi setiap orang sejak sebelum penciptaan mereka di dunia. Orang yang memperoleh nikmat Allah adalah orang-orang yang mengenali bentuk kehidupan yang ditentukan Allah bagi diri mereka. Hal itu merupakan karunia Allah, sedangkan seseorang hanya dapat berharap untuk memperolehnya.

Bersyukur dapat digambarkan sebagaimana seseorang yang menemukan jodoh yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama, kemudian menikah dan menunaikan amal-amal yang ditentukan bagi mereka. Pernikahan dengan jodoh yang tepat itu sendiri merupakan setengah bagian dari agama seseorang, dan ketakwaan melaksanakan amal yang ditentukan bagi mereka merupakan setengah bagian yang lain. Mereka menemukan apa yang terserak dan diperuntukkan bagi diri mereka di antara semua hal yang lain, dan kemudian memilih apa yang haq bagi diri mereka masing-masing. Itu adalah nikmat Allah bagi seorang hamba.

Sangat Sedikit Orang yang Bersyukur

Mensyukuri nikmat Allah bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Kebanyakan manusia tidak dapat memilih apa yang haq bagi diri dari apa yang ditemui di semesta mereka. Sebagian kecil manusia dapat bersyukur, sebagian orang tidak memperoleh jalan untuk bersyukur walaupun memperoleh nikmat Allah, sebagian besar manusia tidak mengetahui jalan mereka untuk bersyukur, dan sebagian manusia kufur terhadap nikmat Allah yang ditentukan bagi mereka. Sebagian besar manusia termasuk dalam kelompok orang-orang yang tidak bersyukur, walaupun belum tentu termasuk orang yang kufur.

Keadaan demikian tidak terlepas dari upaya syaitan menghalangi manusia untuk bersyukur. Syaitan akan mendatangi manusia dari usaha dengan tangan mereka, mendatangi manusia dari apa-apa yang telah berlalu, dari samping kanan mereka dan dari samping kiri. Syaitan mendatangi manusia dari segala arah agar manusia tidak dapat bersyukur terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada mereka, atau bahkan menjadikan manusia kufur terhadap nikmat itu bilamana mampu.

﴾۷۱﴿ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
kemudian aku benar-benar akan mendatangi mereka dari antara kedua tangan mereka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (QS Al-a’raaf : 17)

Ayat tersebut merupakan sumpah Iblis besar di hadapan Allah. Iblis itu akan turun sendiri kepada orang-orang yang ingin mensyukuri nikmat Allah. Hal itu ia lakukan setelah atau manakala ia tidak berhasil mendapatkan kedudukan di shirat al-mustaqim seseorang. Hal ini ditunjukkan kata “kemudian (ثُمَّ)” yang menunjukkan sekuen dari kalimat sebelumnya, sedangkan ayat sebelumnya adalah tentang sumpah bahwa ia akan benar-benar duduk bagi manusia di shirat al-mustaqim mereka. Setiap orang harus berhati-hati agar Iblis tidak duduk menjadi penasihat baginya. Iblis besar itu benar-benar akan menghalangi jalan seseorang untuk bersyukur setelah seseorang mengenali shirat al-mustaqim mereka sedangkan iblis tidak memperoleh tempat di shirat al-mustaqim itu baginya. Bila seseorang belum mencapai keadaan itu, bukan Iblis besar itu yang turun. Tetapi tetap akan sangat banyak Iblis lain yang berusaha menghalangi atau menyesatkan setiap orang yang berusaha bersyukur.

Arah Syaitan Menghalangi Syukur

Demikian itu gambaran halangan yang akan dihadapi manusia untuk bersyukur. Setiap manusia perlu membina ‘azam (kehendak) yang kuat untuk menjadi hamba Allah agar dapat menjadi hamba yang bersyukur. Setiap orang harus dapat mengutamakan keinginan untuk menjadi hamba Allah dengan mengesampingkan hawa nafsu dan syahwat, serta membina pengetahuan yang benar dalam menghamba kepada Allah dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak demikian, syaitan akan memalingkan manusia dari bersyukur. Bila tersisa hawa nafsu atau keinginan jasmaniah, syaitan akan menambatkan pengaruh pada keduanya untuk menjadikan seseorang tidak dapat bersyukur. Bila seseorang mempunyai ilmu yang keliru, syaitan akan mendorongnya untuk tersesat. Iblis mengambil beberapa arah dari manusia, yaitu di antara kedua tangan manusia, dari sisi belakang, dari sisi kanan dan dari sisi kiri.

Apa yang ada di antara kedua tangan manusia dapat menjadi jalan masuk syaitan memalingkan dari bersyukur. Hendaknya setiap orang memeriksa dan mencari sudut pandang yang tepat terhadap apa yang ada di antara kedua tangannya, karena hal itu dapat menjadi jalan syaitan memalingkannya dari bersyukur. Sudut pandang yang terbaik akan terwujud dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan itu merupakan jalan untuk menumbuhkan ‘azam menjadi hamba Allah. Suatu ‘azam ibadah bisa saja melenceng dari kehendak Allah bila tidak mempunyai sudut pandang yang tepat.

Seandainya seseorang telah menikahi jodoh yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama, syaitan dapat memalingkan mereka dari bersyukur. Itu contoh syaitan yang datang dari arah yang ada di antara kedua tangan manusia. Anak, murid atau orang-orang yang dalam kekuasaan seseorang termasuk dalam contoh demikian, dan yang paling utama adalah pasangan menikah. Boleh jadi syaitan akan menimbulkan perselisihan langkah di antara mereka hingga tidak dapat menyatukan diri dalam suatu bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Atau syaitan memunculkan prasangka atau waham yang salah hingga salah satu atau kedua pihak tidak dapat saling memahami yang lain dalam urusan kehendak Allah, maka mereka berselisih menempuh langkah untuk dekat kepada Allah. Hal demikian dapat dilakukan syaitan terhadap dua pihak yang sama-sama ingin kembali kepada Allah. Apa yang ada di antara kedua tangan manusia dapat menjadi arah syaitan menghalangi manusia untuk bersyukur.

Syaitan juga mendatangi manusia dari yang ada di belakang mereka. Orang-orang yang menyelisihi atau memusuhi adalah contoh orang lain yang ada di belakang. Ada beberapa golongan orang yang berada di belakang. Yang paling menyulitkan seseorang untuk bersyukur adalah orang-orang yang seharusnya dekat dalam urusan penghambaan seseorang akan tetapi menjadi orang yang menyelisihi, dan syaitan datang melalui mereka. Dekatnya urusan akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pelaksanaan urusan Allah di shirat al-mustaqim. Tidak mudah bagi seseorang mengabaikan gangguan atau perselisihan yang mungkin muncul dari orang-orang yang seharusnya dekat dengan dirinya.

Dalam kasus demikian, seringkali masalah yang sebenarnya terjadi tidak sebesar fenomena perselisihan yang tampak atau dirasakan di antara mereka masing-masing. Syaitan meniup api perselisihan itu di antara mereka hingga berkobar besar, baik melalui nafs mereka ataupun melalui orang-orang yang ada di sekitar mereka. Bila masing-masing mempunyai iktikad baik dan membuka komunikasi dengan pikiran terbuka, bisa memaafkan kesalahan yang terjadi dan bisa memberikan kejelasan iktikad untuk melangkah menuju keadaan lebih baik, perselisihan mungkin akan menjadi reda. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa semua peristiwa yang pernah terjadi akan mewarnai upaya itu. Suatu kalimat dengan maksud yang baik belum tentu dapat dipahami pihak lain secara proporsional atau justru dipahami terbalik karena peristiwa masa lalu. Hal demikian tidak menunjukkan tidak ada keinginan baik di antara masing-masing, tetapi ada latar belakang berbeda yang harus dipahami bersama. Perbedaan itu dapat mengubah persepsi satu pihak terhadap sesuatu yang disampaikan oleh pihak yang lain.

Orang-orang yang berada di sekitar orang yang akan bersyukur termasuk orang yang akan didatangi syaitan untuk mencegah orang tersebut bersyukur. Syaitan akan mendatangi seseorang yang ingin bersyukur dari sisi kanan dan sisi kiri orang tersebut. Sahabat-sahabatnya dalam kehidupan duniawi ataupun sahabat dalam menolong agama Allah akan dijadikan syaitan sebagai jalan untuk mencegah seseorang bersyukur. Seseorang mungkin saja didatangi oleh suatu syaitan dalam kedudukan tertentu yang terlalu tinggi bagi orang tersebut sedangkan syaitan itu tidak bertujuan untuk menipunya, tetapi untuk mencegah orang lain dari bersyukur. Ia tidak akan dapat mengenali cela atau sihir syaitan itu. Bila ia berpegang pada kitabullah, ia akan selamat dari perbuatan menghalangi manusia dari jalan Allah. Bila ia mengikuti bujukan syaitan itu, ia akan turut celaka dan hawa nafsunya akan menjadi sangat cerdik dengan nuansa keji dan munkar. Hendaknya seseorang tidak melepaskan diri dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedikitpun agar ia selamat.

Mencapai Keadaan Yang Baik untuk Bersyukur

Kaum beriman diperintahkan mengishlahkan saudara yang berselisih karena sulitnya dua pihak yang berselisih memahami secara langsung pihak lain. Akan tetapi tidak jarang orang-orang beriman justru mengacaukan proses ishlah di antara dua pihak yang ingin melakukan ishlah hingga perselisihan di antara mereka semakin besar. Manakala orang beriman tidak menggunakan akal untuk memahami perintah Allah, mereka akan dijadikan munkar oleh syaitan untuk justru memperuncing masalah di antara orang yang ingin melakukan ishlah. Hendaknya orang-orang beriman berusaha benar-benar menggunakan akalnya, atau setidaknya pikirannya, agar perselisihan yang terjadi di antara mereka dapat mencapai ishlah, tidak justru dikobarkan perselisihan di antara dua orang yang keduanya menginginkan ishlah. Orang yang dengan sengaja merusak proses ishlah dua pihak mukminin yang menginginkan ishlah adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat : 10)

Dalam proses ishlah, yang penting diperhatikan adalah hendaknya kedua pihak yang berselisih kembali kepada perintah Allah. Itu adalah sasaran terbaik yang seharusnya dicapai. Kadangkala sasaran demikian tidak dapat tercapai, dan hanya sasaran sekunder yang dapat disepakati. Itu merupakan hasil sementara yang tidak dilarang. Hal demikian tidak menjadi masalah selama tidak menyisihkan kehendak Allah (amr Allah) dari kesepakatan itu. Bila amr Allah tidak diperhatikan dalam melaksanakan ishlah di antara orang-orang beriman, maka ishlah itu tidak memperoleh manfaat terbaik dan perselisihan di antara mereka mungkin termasuk dalam kategori bughat di antara satu orang atau kelompok terhadap yang lain. Bila salah satu pihak tidak ingin kembali atau tidak mau mempertimbangkan amr Allah di antara mereka, maka orang-orang beriman hendaknya memerangi orang yang tidak mau kembali kepada amr Allah hingga mereka kembali kepada amr Allah.

Sebagian orang beriman mempunyai ‘azam dalam melaksanakan perintah Allah sebagai jalan ibadah mereka. Mereka adalah orang-orang yang menghadapi syaitan diri mereka yang mendatangi dari antara kedua tangan mereka, dari belakang, dari sisi kanan dan dari sisi kiri. Bagi mereka, toleransi terhadap suatu upaya mencapai kesepakatan seringkali sangat tipis hingga pilihan yang dapat mereka sodorkan hanyalah mengikuti pendapat mereka atau tetap berjalan masing-masing atau bahkan tetap bermusuhan. Memusuhi mereka merupakan perbuatan bughat, karena amr Allah ada pada diri mereka. Hendaknya orang-orang beriman yang berusaha mengishlahkan benar-benar memperhatikan dan mempertimbangkan pendapat mereka, apakah pendapat mereka itu hanya berasal dari hawa nafsu mereka atau merupakan perintah Allah yang sebenarnya. Perlu diperhatikan bahwa dalam kasus demikian mereka semua sebenarnya sedang berhadapan dengan syaitan yang dapat membuat fitnah yang sangat besar.

Sekalipun seseorang berupaya beramal shalih berdasarkan suatu ‘azam, tetap ada kemungkinan ia mengalami salah paham terhadap orang lain. Syaitan benar-benar berusaha membuat fitnah terhadap mereka hingga mungkin saja syaitan menutup mata mereka dari duduk masalah yang sebenarnya. Objektifitas seseorang dalam melihat masalah tidak menjamin lenyapnya  kesalahpahaman manakala proses yang terjadi telah berjalan secara rumit. Bila ada orang beriman melihat duduk masalah dalam salah paham itu, hendaknya mereka menjelaskan kesalahpahaman mereka kepada pihak-pihak yang berselisih paham. Bila seseorang telah mempunyai ‘azam, ia akan dapat menilai permasalahan dengan baik. Bila seseorang tetap bersikeras dengan pendapatnya setelah memperoleh penjelasan masalah, hendaknya ia tidak diberi jalan untuk melampiaskan hawa nafsunya, atau mereka hendaknya menilai apakah penjelasan masalah itu telah mencukupi.

Syukur dan Pemakmuran Bumi

Bersyukur akan mendatangkan tambahan yang banyak dari Allah bagi manusia hingga dapat terwujud kemakmuran di bumi. Pemakmuran di bumi terwujud melalui syukur, dan terkait dengan terbentuknya bayt. Umrah (pemakmuran) harus dilakukan dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s berupa bayt. Suatu rumah tangga akan menumbuhkan rasa mawaddah yang menjadi landasan kesuburan umat manusia hingga dapat memberikan pemakmuran di bumi, dan hal itu terkait dengan upaya bersyukur.

Syaitan akan menghalangi orang bersyukur dengan segala cara yang dapat dia tempuh, dan halangan yang terbesar di antaranya melalui rumah tangga. Mencela atau merendahkan kemiskinan atau orang-orang miskin tidak akan dapat menumbuhkan pemakmuran bumi, dan justru akan menimbulkan kekacauan dan permusuhan. Kadangkala seseorang kehilangan kesempatan menikah terbaik karena miskin, atau pertumbuhan rasa mawaddah di rumah tangga mereka terampas secara tidak hak. Hal demikian merupakan perbuatan pemiskinan, karena perbuatan itu menghilangkan jalan kemakmuran dari Allah bila seseorang membina bayt mereka.

Sekalipun bila seseorang tidak merasa khawatir dengan kemiskinan, pemiskinan tidak boleh dilakukan padanya. Ada amanat Allah bagi setiap orang untuk memakmurkan bumi mereka yang mungkin tidak dapat dilakukan bila mereka dimiskinkan. Untuk memahami kebenaran, seringkali umat mereka membutuhkan sosok yang lebih baik daripada orang miskin, dan kemiskinan seseorang bisa menjadi fitnah bagi umat mereka. Ada pula orang-orang dekat yang mungkin akan mengeluh terhadap kemiskinan hingga mereka berdosa. Banyak keburukan dalam suatu pemiskinan terhadap seseorang. Pemiskinan dari sisi agama seringkali terjadi melalui rusaknya pernikahan, baik dalam kasus tidak dapat menikah ataupun kasus hilangnya mawaddah dan sarana bersyukur lain yang dapat tumbuh di dalam pernikahan.

Untuk tercapainya pemakmuran, masyarakat hendaknya dapat bersyukur, atau setidaknya tidak menjadi penghalang bagi orang-orang yang ingin bersyukur. Sebagian orang bisa memperoleh jalan ibadah dengan mengikuti atau membantu orang yang bersyukur, yaitu bila dilakukan dengan cara yang baik. Seorang perempuan bisa membantu sebagai isteri dengan sikap yang baik. Orang-orang lain bisa memperoleh jalan ibadah mereka dengan membantu seseorang yang bersyukur dengan bergantung kepada Allah, akan tetapi tidak akan bisa menyamai nilai bantuan seorang isteri kepada suaminya. Kadang seorang perempuan merasa takut miskin hingga mencaci amal suaminya dan menuntut nafkah melalui amal selain yang bisa dilakukan suaminya dengan baik. Itu tidak akan mendatangkan kebaikan. Setiap isteri hendaknya menyadari bahwa rasa mawaddah dalam dirinya merupakan faktor utama yang menumbuhkan kemakmuran bagi mereka dan semesta.

Rabu, 23 Agustus 2023

Jalan Tengah dalam Taubat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW tidaklah diberi tugas untuk mempertunjukkan kepada umat mereka keajaiban-keajaiban Allah. Demikian pula para rasul yang lain. Kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Seorang rasul yang berkedudukan sangat tinggi mungkin saja tampak sebagaimana orang biasa saja karena Allah tidak memberikan ijin kepadanya untuk menampilkan keajaiban. Tetapi pasti rasul itu mengetahui jalan yang menjadikan manusia untuk mengenali hubungan diri mereka dengan Allah. Hendaknya umat manusia tidak salah dalam mengenali utusan Allah dan membedakan dengan pembawa keajaiban.

Banyak makhluk yang tergelincir dalam mencari jalan kembali kepada Allah karena keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh para panutan mereka. Mereka mengikuti orang shalih atau bahkan para nabi, tetapi mereka lebih memperhatikan keajaiban yang ditunjukkan daripada menemukan hubungan diri mereka terhadap Allah. Umat nabi Isa a.s menjadi contoh besar umat yang tersesat menjadikan nabi Isa a.s dan ibunda Maryam r.a sebagai ilah-ilah selain Allah. Nabi Isa a.s tidak sedikitpun mengajarkan kepada umat manusia untuk menjadikan diri beliau a.s sebagai ilah bahkan meratapi apa yang akan diperbuat oleh umat terhadap beliau. Dengan larangan demikian, tetap saja umat yang mengikuti menjadikan beliau a.s sebagai ilah selain Allah.

﴾۶۱۱﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang aku tidak mempunyai hak. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (QS Al-Maidah : 116)

Keajaiban-keajaiban itu akan mendatangkan urusan yang menjadi beban bagi nabi Isa a.s. Beliau akan ditanya tentang umat yang menjadikan beliau sebagai ilah selain Allah. Tentu beliau tidak mempunyai kesalahan dalam menyampaikan risalah kepada umatnya, tetapi pertanyaan Allah itu merupakan pertanyaan besar karena menyangkut dasar kehidupan setiap makhluk berupa tauhid. Pertanyaan demikian merupakan beban yang besar bagi seorang nabi, walaupun beliau a.s tidak mempunyai kesalahan.

Allah memperkarakan masalah demikian walaupun Dia Maha Mengetahui bahwa tidak ada suatu bersitan pun dalam hati nabi Isa a.s untuk berkata kepada umatnya agar umatnya menjadikan diri beliau sebagai ilah selain Allah, atau memancing yang demikian. Beliau benar-benar berusaha agar umat manusia beribadah kepada Allah tanpa ada keinginan sedikitpun untuk meninggikan diri beliau sendiri hingga mengarahkan manusia memandang beliau secara ambigu sebagai ilah. Bahkan beliau meratapi urusan yang akan menimpa diri beliau itu. Walaupun demikian, Allah tetap akan memperkarakan masalah itu karena besarnya urusan tauhid.

Setiap nabi dan rasul akan merasa sangat takut berurusan dengan melencengnya tauhid pada umat mereka. Demikian pula para shiddiqin dan syuhada serta orang-orang shalih. Mereka berhati-hati agar tidak mengangkat diri masing-masing secara berlebih hingga menjadikan umat mereka tersesat dalam bertauhid. Satu perbuatan atau bersitan hati yang menyebabkan umat melenceng dalam tauhid akan menjadi perkara besar di hadapan Allah kelak, dan Allah akan memperkarakan itu sebagaimana Dia bertanya perkara tersesatnya umat nabi Isa a.s. Tidak ada yang dapat menyembunyikan sesuatu di hadapan Allah, baik itu perbuatan yang nyata ataupun bersitan dalam hati, seluruhnya tidak ada yang terhalang dari pandangan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib.

Sikap takut demikian akan menjadikan umat yang mengikuti mereka sebagai umat yang mempunyai akal kuat. Keajaiban-keajaiban pada dasarnya menyentuh hawa nafsu orang-orang yang lemah, sedangkan kebenaran akan menyentuh akal orang-orang yang kuat akalnya. Suatu kebenaran akan memperkuat akal orang-orang yang berakal, sedangkan terlalu banyak keajaiban akan menjadi stimulasi penguatan hawa nafsu dan menyebabkan kelemahan akal. Manakala terlalu banyak berinteraksi dengan keajaiban, suatu umat mungkin akan terlemahkan akal mereka layaknya sihir hingga tidak dapat memahami kebenaran. Boleh jadi banyak di antara umat nabi Isa a.s merupakan pencari kebenaran, akan tetapi sisi keajaiban nabi Isa a.s menyebabkan banyak di antara mereka sebagai orang yang menjadikan nabi Isa a.s sebagai ilah selain Allah.

Mencari Jalan Tengah

Umat manusia hendaknya bersungguh-sungguh berusaha mengetahui apa yang diinginkan oleh para nabi terhadap diri umat manakala mengikuti mereka. Para nabi dan rasul tidak ingin diangkat atau dipandang umat manusia secara berlebih dari kedudukan mereka sebagai orang yang menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah. Bila setiap manusia menemukan jalan ibadah mereka yang sebenarnya kepada Allah, maka itulah keinginan yang sebenarnya dalam diri para nabi dan rasul. Manakala ada seseorang atau lebih menjadikan para nabi dan rasul itu lebih dari kedudukan yang ditentukan Allah, hal itu menjadi suatu perkara yang menakutkan bagi para nabi dan rasul. Mereka akan tertimpa perkara yang besar di hadapan Allah kelak.

Setiap orang hendaknya berusaha mengenal kehendak Allah terhadap diri mereka. Itu merupakan jalan ibadah yang ditentukan Allah bagi masing-masing manusia. Setiap manusia mempunyai urusan yang berbeda satu dengan yang lain, akan tetapi sebenarnya Allah menurunkan satu urusan bagi seluruh makhluknya yang hampir tidak terhingga. Satu urusan itu diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan dijelaskan dalam Alquran, dan urusan itu terbagi-bagi kepada setiap makhluk hingga makhluk yang ada di bumi.

Setiap orang harus beribadah hanya kepada Allah SWT tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Hal ini tidak berarti mencegah manusia untuk melakukan penghormatan atau perbuatan terhadap sesuatu yang lain layaknya gambaran sikap kepada Allah. Iblis mengambil makna berlebihan terhadap perintah untuk tidak mensekutukan Allah sedemikian hingga manakala diperintah Allah untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak perintah itu karena mengkontradiksikan perintah Allah dengan perintah-Nya yang lain, sedangkan pemikiran itu hanya menutupi kesombongan yang ada dalam diri Iblis sendiri.

Bagi kehidupan di bumi, Allah menurunkan suatu jalan bagi setiap manusia untuk kembali mendekat kepada-Nya. Kehidupan di bumi pada dasarnya terputus dari jalan kembali kepada Allah kecuali pada jalan-jalan yang diturunkan Allah. Manusia tidak dapat kembali mendekat kepada Allah kecuali melalui jalan-jalan yang diturunkan Allah, dan di jalan-jalan itu perintah-perintah Allah akan ditemukan oleh manusia. Manakala seseorang berada pada jalan itu, ia perlu belajar mensikapi segala sesuatu yang datang kepada dirinya sebagai turunan dari sikap terhadap Allah. Misalnya hendaknya seorang isteri taat kepada suaminya sebagai turunan ketaatannya kepada Allah. Ketaatan kepada suami adalah gambaran salinan ketaatan seorang perempuan kepada Allah, bilamana ketaatan itu tidak ada maka tidak ada ketaatan kepada Allah.

Salinan sikap itu paling tinggi dapat dilihat pada perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Perintah itu bukan merupakan perintah kesyirikan, karena perintah itu merupakan salinan sikap bersujud kepada Allah. Salinan-salinan sikap demikian diturunkan Allah hingga kehidupan di alam bumi, bukan hanya bagi para malaikat di langit yang tinggi. Setiap orang yang berharap kembali dekat kepada Allah hendaknya mencari bentuk-bentuk jalan ibadahnya di bumi dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan tidak melupakan pagar yang ditentukan Allah bagi mereka. Hal ini dapat diketahui dengan akal. Dengan akal, seseorang dapat mengetahui perintah dan batas-batas yang dapat dilakukannya untuk melaksanakan perintah itu.

Salinan sikap kepada Allah itu menjadi bukti benarnya penghambaan seseorang. Misalnya tidak boleh seseorang mengaku sebagai hamba Allah bila ia menentang kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, karena keduanya merupakan wujud turunan utama dari kehendak Allah. Seseorang tidak bisa bersikeras melakukan penentangan hanya dengan landasan niat baiknya. Selain kedua tuntunan utama itu, ada banyak turunan berikutnya yang harus disikapi setiap orang sebagai turunan ketaatan kepada Allah. Dalam hal demikian, masih sangat mungkin ditemukan hal-hal yang bathil pada turunan-turunan itu kecuali kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karenanya setiap manusia hendaknya selalu menghadap dan bergantung kepada Allah dalam mensikapinya.

Akal dan Jalan Tengah

Ada orang-orang yang melakukan sikap-sikap salinan itu secara berlebihan tanpa menggunakan akalnya. Di antara mereka adalah orang-orang kafir yang mengambil hamba-hamba Allah sebagai wali bagi mereka selain Allah. Mereka tidak menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah dan hanya menyalin sikap-sikap orang yang ingin kembali kepada Allah. Manakala seseorang tidak berusaha menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah sedangkan mereka mengambil hamba-hamba Allah sebagai wali, mereka itu sangat mungkin termasuk dalam golongan orang-orang kafir yang menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali selain Allah. Manakala mendustakan ayat kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW, itu adalah tanda kekufurannya. Setiap orang hendaknya berusaha menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah hingga mereka dapat melihat jalan yang diturunkan Allah bagi mereka dengan akalnya. Tanpa hal ini, seseorang tidak akan bisa kembali dekat kepada Allah tanpa tersesat.

﴾۲۰۱﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi wali selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (QS Al-Kahfi : 102)

Orang-orang demikian merupakan fragmen bagian dari orang-orang yang menjadikan nabi Isa a.s dan ibunda Maryam r.a sebagai ilah selain Allah. Seandainya mereka adalah para pengikut nabi Isa a.s, niscaya mereka termasuk golongan orang-orang yang menjadikan nabi Isa a.s dan Maryam r.a sebagai ilah selain Allah. Umat nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari kedurhakaan sebagaimana umat nabi Isa a.s, sedemikian hingga Rasulullah SAW menangis karena kedurhakaan mereka. Bagi nabi Muhammad SAW, Allah memberikan janji bahwa Allah akan membuat Rasulullah SAW ridha dalam masalah umat beliau SAW dan Allah tidak akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s, umat Rasulullah SAW hendaknya bersegera kembali mengikuti Rasulullah SAW mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah beliau SAW.

عن عبداللَّه بن عَمْرو بن العاص رضي اللَّه عنهما: أَن النَّبِيَّ تَلا قَول اللَّه في إِبراهِيمَ : رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي [إبراهيم:36] وَقَوْلَ عِيسَى عليه السلام: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [المائدة:118]، فَرَفَعَ يَدَيْه وَقالَ: اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى، فَقَالَ اللَّه: يَا جبريلُ، اذْهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ -وَرَبُّكَ أَعْلَمُ- فسَلْهُ: مَا يُبْكِيهِ؟ فَأَتَاهُ جبرِيلُ، فَأَخْبَرَهُ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَا قَالَ، وَهُو أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا جِبريلُ، اذهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرضِيكَ في أُمَّتِكَ وَلا نَسُوؤُكَ رواه مسلم.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a bahwa Nabi SAW membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s : “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36). Beliau SAW juga membaca ucapan Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Maidah: 118)
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa): “ya Allah umatku, umatku!” dan beliau menangis. Maka Allah SWT berfirman, ‘Wahai Jibril, temui Muhammad,” dan Tuhanmu lebih mengetahui, ‘Tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis?’ Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah SAW memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, ‘Kami akan membuatmu ridha dalam masalah umatmu dan kami tidak akan menyakitimu.’’ (HR Muslim)

Di antara pokok masalah yang menimpa umat islam adalah penggunaan akal. Yang dimaksud akal adalah kekuatan untuk memahami kehendak Allah dan melaksanakannya. Akal harus dibina di dalam diri setiap insan, hingga setiap orang dalam suatu umat dapat memahami urusan Allah yang menjadi amanat bagi masing-masing. Akal berbeda dengan pikiran yang berada pada tataran jasmani, tetapi keduanya berjalan beriring. Akal tumbuh di atas landasan akhlak mulia dengan memahami kehendak Allah selaras tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu keinginan baik saja tidak cukup untuk menumbuhkan akal, harus disertai dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak bersama akal, pikiran akan berjalan ke segenap penjuru tanpa memahami kehendak Allah. Demikian pula bila tidak menggunakan pikiran untuk memahami kehendak Allah, akal sangat mungkin akan berjalan menyimpang tidak mengetahui batas-batas yang ditentukan Allah. Akal dan pikiran harus ditumbuhkan dalam diri setiap insan bersama-sama.

Kebersamaan akal dan pikiran ini dapat diibaratkan layaknya suami dan isteri, hanya saja terdapat dalam diri setiap satu orang. Keberpasangan dalam pernikahan merupakan perpanjangan dari bentuk keberpasangan akal dan pikiran dalam wujud yang nyata. Keberpasangan demikian sangat penting dalam pembinaan insan. Akal yang kuat bersama pikiran dengan orientasi berbeda akan menyebabkan seseorang lemah dalam melahirkan amal shalih. Pikiran yang kuat dengan akal yang lemah tidak akan dapat memahami kehendak Allah dan tidak dapat mewujudkan dalam bentuk amal shalih. Kedua aspek tersebut harus tumbuh bersama-sama dalam kehendak Allah.

Pembinaan ini akan memperoleh media yang baik bila ada pernikahan. Seorang laki-laki akan menemukan bahan bagi pikiran mereka melalui isteri-isteri mereka, dan ia dapat membina akal mereka dengan menghadapkan wajah kepada Allah. Seorang isteri akan menemukan kandungan bagi akal mereka dengan memahami suami mereka, dan keikutsertaan dalam mewujudkan amal shalih suami menguatkan pikiran mereka. Cara ini termasuk jalan yang haq untuk menemukan urusan Allah. Tanpa pernikahan, akal seorang perempuan akan selalu mengambang, dan pikiran seorang laki-laki tidak mempunyai bahan berpikir yang haq. Bila keduanya dapat berjalan beriring, mereka akan melahirkan amal shalih sebagai wujud ibadah mereka kepada Allah. Bila tidak dapat beriring, akan sulit bagi mereka untuk menempuh jalan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang laki-laki berakal tanpa isteri yang mentaatinya mungkin hanya akan dihinakan oleh umatnya manakala menyampaikan kebenaran, dan sebenarnya semesta mereka akan mengikuti sikap isterinya.

Minggu, 20 Agustus 2023

Seruan Para Rasul

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti Rasulullah SAW bertujuan agar seseorang menjadi hamba Allah yang diberi karunia untuk memberikan kebaikan kepada umat manusia. Itu adalah tujuan utama mengikuti Rasulullah SAW. Manusia tidaklah diperintahkan mencari atau memberikan keajaiban-keajaiban kepada orang lain.

﴾۱۱﴿قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَن نَّأْتِيَكُم بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ibrahim : 11)

Rasulullah SAW dan rasul-rasul yang lain berasal dari kalangan manusia, sama dengan manusia-manusia yang lain. Kelebihan yang ada pada para rasul itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada mereka, yang bermanfaat untuk memberikan dukungan kepada orang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Umat manusia hidup di bumi yang jauh dari sumber cahaya, sedangkan sumber cahaya itu yang menjadikan manusia memahami kebenaran. Memahami kebenaran itu menjadi kebahagiaan buat manusia. Allah menjadikan para rasul itu sebagai orang-orang yang memperoleh karunia agar memperkenalkan kepada umat manusia jalan untuk memperoleh kebahagiaan. Seringkali manusia salah membentuk kehidupan mereka hingga terjebak dalam kegelapan duniawi. Tidak jarang pula manusia tersesat manakala berjalan untuk mengenali hakikat dalam kehidupan mereka.

Para rasul tidaklah bertugas untuk mempertunjukkan kepada umat mereka keajaiban-keajaiban Allah. Kebahagiaan itu tidak tergantung pada keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Demikian pula kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Seorang rasul yang berkedudukan sangat tinggi mungkin saja tampak sebagaimana orang biasa saja karena Allah tidak memberikan kepadanya ijin untuk menampilkan keajaiban. Tetapi pasti rasul itu mengetahui jalan yang menjadikan manusia untuk mengenali hubungan diri mereka dengan Allah. Hendaknya umat manusia tidak salah dalam mengenali utusan Allah dan membedakan dengan pembawa keajaiban.

Menjadi Hamba Allah

Kebahagiaan manusia itu terletak pada pengenalan diri mereka, yaitu manakala mereka mengenali hubungan mereka dengan Allah melalui pengenalan diri. Wujud hubungan ini hendaknya secara nyata terlihat dalam pengenalan terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Pengenalan amr jami’ demikian disertai dengan pengenalan terhadap imam dalam urusan mereka, yang menjadi indikasi ketersambungan wasilahnya. Kadangkala seseorang mengenal diri mereka tetapi tidak mengetahui kedudukan mereka terhadap amr jami’ Rasulullah SAW, maka hal itu belum menjadi pengenalan diri yang tepat. Syaitan-pun pada dasarnya mendorong manusia pada pohon khuldi.

Sangat banyak hal yang akan mewarnai pengenalan hubungan seseorang dengan Allah. Seseorang akan mengetahui kemuliaan Allah dan berkeinginan untuk memperkenalkan kemuliaan itu kepada umat manusia. Ia akan berharap kepada Allah untuk dapat menjadi hamba-Nya, dan merasa takut untuk menyimpang dalam menjadi hamba-Nya. Sebagai seorang hamba, ia ingin mengerti apa yang diperintahkan tuannya, dan ia takut untuk menyimpang dari perintah itu. Hal-hal demikian akan mewarnai kebahagiaan seseorang dalam hubungannya kepada Allah.

Terkait dengan ayat di atas, seorang ulama memberikan gambaran dalam seratnya. Beliau menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ibadah kepada Allah.

Marganing laku utama          Jalannya langkah yang utama

utamaning gesang iki           (yang menjadi) keutamaan hidup ini

lamun ngerti mring Gusti-nya    (yaitu) jika paham terhadap Tuhan-nya

ingkang karya gesang iki        yang telah menjadikan hidup ini

tuwin ingkang paring rejeki      Juga yang telah memberikan rejeki

marang kawula sedarum         kepada hamba semuanya

kabeh para manungsa           semua manusia

ingkang gesang aneng bumi     yang hidup di bumi

kuwi ingkang lagya kena sinembaha     hanya itulah yang pantas untuk disembah

(Harum sari, sinom parijatha : 5)

Mengenali hubungan diri terhadap Allah merupakan pangkal dari rasa tawakkal. Karunia yang diberikan kepada para rasul menjadikan mereka mengenali hubungan mereka terhadap Allah, dan karena itu mereka bertawakkal. Para rasul itu tidak berkeinginan untuk memperoleh keajaiban-keajaiban bagi diri mereka dan tidak berkeinginan mempertunjukkan keajaiban-keajaiban Allah melalui mereka. Mereka hanya berkeinginan untuk menjadikan diri sebagai hamba Allah yang melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan dengan kehambaan itu para rasul membina tawakkal kepada Allah. Maka hendaknya orang-orang beriman membina pula ketawakkalan mereka kepada Allah mengikuti para rasul.

Para rasul mempunyai keutamaan dalam tawakkal mereka dibandingkan orang-orang kebanyakan. Keutamaan itu merupakan tauladan bagi orang lain, bahwa keutamaan itu bisa diperoleh oleh orang lain pula. Keutamaan tawakkalnya para rasul itu adalah bahwa mereka telah memperoleh petunjuk tentang jalan mereka, maka mereka mempunyai keyakinan dalam tawakkal mereka. Maka para rasul itu tidak mempunyai alasan sedikitpun untuk tidak bertawakal karena mereka mengetahui jalan yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka.

﴾۲۱﴿وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri". (QS Ibrahim : 12)

Walaupun telah ditunjukkan Allah, jalan itu bukan jalan yang terbebas dari halangan dan rintangan. Sangat banyak halangan dan rintangan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak beriman kepada mereka. Mereka tidak dapat melihat kebaikan pada seruan para rasul. Karena tidak dapat melihat kebaikannya, mereka melancarkan gangguan, halangan dan rintangan terhadap upaya para rasul menyeru umatnya. Sebagian orang tidak dapat melihat kebaikan itu karena buruknya akhlak mereka, dan sebagian orang tidak melihat kebaikan dalam seruan itu karena waham yang menutupi nafs mereka. Bila tidak membuka mata terhadap kebaikan dalam seruan para rasul, mereka kelak di akhirat akan menjadi tamu di neraka jahannam, atau mereka akan menjadi penghuni neraka itu.

Sebagian gangguan itu merupakan upaya orang-orang jahat untuk menghilangkan halangan untuk mencari keuntungan duniawi. Orang-orang yang jahat mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mencari keuntungan dengan merugikan orang lain. Sebagian lain gangguan itu muncul karena perbedaan pendapat dalam penghambaan kepada tuhan masing-masing. Pada dasarnya, keuntungan duniawi pun merupakan tuhan bagi orang-orang yang jahat. Selain itu, sangat banyak imajinasi tentang tuhan yang berbeda-beda pada setiap manusia. Gangguan-gangguan kepada para rasul itu muncul karena perbedaan tuhan di antara umat manusia, sedangkan para rasul menyeru umat manusia untuk menghambakan diri kepada Allah Sang Maha Pencipta Yang Maha Esa.

Para rasul itu tidak mengalami bias dalam memahami kehendak Allah, sedangkan yang lain hanya mempunyai gambaran mereka sendiri tentang tuhan. Bias di antara umat manusia dalam memahami kehendak Allah dapat menimbulkan perselisihan pada mereka terhadap para rasul, dan bahkan menjadikan mereka membuat gangguan-gangguan terhadap seruan para rasul. Bila umat manusia bersungguh-sungguh berusaha untuk memahami seruan para rasul, mereka akan memahami kemuliaan seruan mereka, tidak terjebak dalam waham-waham kebenaran palsu yang tidak bermanfaat manakala ingin kembali kepada Allah.

Dengan penghambaan diri kepada Allah, para rasul itu benar-benar bersabar terhadap gangguan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertakwa. Para rasul hanya berharap sepenuhnya dapat kembali kepada Allah dengan selamat bersama umat, tidak mengharapkan hal-hal lain secara berlebih, karenanya gangguan-gangguan itu tidaklah menjadikan hati mereka berpaling dari keinginan kembali kepada Allah. Sesungguhnya mereka milik Allah dan hanya kepada Allah mereka kembali. Para rasul mengetahui asal mereka sebagai tempat kembali, dan mengetahui pula jalan-jalan mereka untuk kembali.

dengan keadaan demikian, hendaknya umat bersikap dengan seksama tidak mengikuti perkataan orang-orang tanpa memikirkan kandungan yang disampaikan oleh orang lain dengan sebaik-baiknya. Banyaknya orang yang mengatakan sesuatu tidak menunjukkan benarnya perkataan itu, dan perkataan orang yang sendirian tidak selalu menunjukkan perkataan yang salah. Dalam beberapa keadaan, para rasul itu mengatakan kebenaran hanya sendirian tanpa ada orang yang mengikuti atau mendukungnya, sedangkan perkataan rasul itu menunjukkan jalan yang benar untuk menjadi hamba Allah.

Mengikuti Kitabullah dengan Seksama

Walaupun bersabar terhadap gangguan, selisih pemahaman umat terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kadangkala membuat para rasul bersedih hati. Ada di antara umat pengikut para nabi yang bersikeras dengan jalan mereka sendiri tanpa mengikuti langkah uswatun hasanah. Dalam suatu peristiwa, Rasulullah SAW merasakan rasa sedih yang sangat besar terhadap umat beliau SAW, dimana beliau SAW menyerukan : umatku, umatku. Hal itu beliau SAW lakukan setelah membacakan ayat tentang doa nabi Ibrahim terkait penyembahan berhala.

Sekalipun jelas seruan Rasulullah untuk beribadah kepada Allah tanpa mensekutukan dengan sesuatupun, dan nabi Ibrahim telah memberikan tauladan melalui millah beliau a.s, mungkin saja ada selisih pemahaman umat terhadap seruan kedua uswatun hasanah tersebut. Barangsiapa mengikuti millah nabi Ibrahim, maka mereka itu termasuk dalam golongan nabi. Bila mereka durhaka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ampunan dan kasih sayang Allah itu bukan berarti manusia bebas melakukan perbuatan menyelisihi langkah millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW dan berharap Allah kemudian mengampuni dan menyayangi mereka. Ampunan dan kasih sayang Allah akan dilimpahkan kepada umat manusia yang kembali mengikuti nabi Ibrahim a.s dan melakukan perbaikan terhadap kesalahan yang telah dilakukan.

عن عبداللَّه بن عَمْرو بن العاص رضي اللَّه عنهما: أَن النَّبِيَّ تَلا قَول اللَّه في إِبراهِيمَ : رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي [إبراهيم:36] وَقَوْلَ عِيسَى عليه السلام: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [المائدة:118]، فَرَفَعَ يَدَيْه وَقالَ: اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى، فَقَالَ اللَّه: يَا جبريلُ، اذْهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ -وَرَبُّكَ أَعْلَمُ- فسَلْهُ: مَا يُبْكِيهِ؟ فَأَتَاهُ جبرِيلُ، فَأَخْبَرَهُ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَا قَالَ، وَهُو أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا جِبريلُ، اذهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرضِيكَ في أُمَّتِكَ وَلا نَسُوؤُكَ رواه مسلم.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a bahwa Nabi SAW membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s : “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36). Beliau SAW juga membaca ucapan Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Maidah: 118)
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa): “ya Allah umatku, umatku!” dan beliau menangis. Maka Allah SWT berfirman, ‘Wahai Jibril, temui Muhammad,” dan Tuhanmu lebih mengetahui, ‘Tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis?’ Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah SAW memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, ‘Kami akan membuatmu ridha dalam masalah umatmu dan kami tidak akan menyakitimu.’’ (HR Muslim)

Doa nabi Ibrahim a.s atas maghfirah dan kasih sayang Allah dalam ayat di atas diperuntukkan bagi umat yang mungkin menyelisihi millah beliau a.s, bukan bagi orang-orang kafir yang mendustakan risalah beliau a.s. Barangkali mereka adalah umat yang datang setelah beliau a.s dan menjadi pengikut beliau a.s. Demikian pula doa nabi Isa a.s diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang mungkin akan mendapat siksa Allah karena kedurhakaan mereka dalam ibadah mereka.

Ibadah kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s, dan menyelisihi millah itu akan menyebabkan seseorang tergelincir pada penyembahan terhadap berhala. Banyak manusia tersesatkan ibadahnya karena penyembahan yang lain yang tampak dalam bentuk menyelisihi millah nabi Ibrahim a.s, yang menunjukkan bahwa langkah mereka salah. Para nabi sangat berharap bahwa umat mereka memperoleh ampunan Allah atas kedurhakaan yang mereka perbuat terkait dengan ibadah mereka kepada Allah.

Umat nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari kedurhakaan sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s dan nabi Isa a.s, sedemikian hingga Rasulullah SAW menangis karena kedurhakaan mereka. Bagi nabi Muhammad SAW, Allah memberikan janji bahwa Allah akan membuat Rasulullah SAW ridha dalam masalah umat beliau SAW dan Allah tidak akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s, umat Rasulullah SAW hendaknya bersegera kembali mengikuti Rasulullah SAW mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah beliau SAW.

Umat Rasulullah SAW yang berjuang tanpa tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya waspada bahwa mereka termasuk umat yang akan menyakiti Rasulullah SAW. Manakala firman Allah dalam Alquran dikalahkan oleh perkataan mereka, mereka itulah kaum yang menyakiti hati Rasulullah SAW, maka hendaknya mereka bersegera kembali kepada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pedoman dalam mencari amr Allah, yaitu kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan mengikuti pikiran hawa nafsu dalam diri manusia. Setiap orang hanya mengetahui sebagian dari Alquran, hendaknya ia tidak boleh mendustakan firman Allah yang disampaikan kepada dirinya, karena pendustaan itu merupakan penyelewengan dari amr Allah. Dalam kasus tertentu, perbedaan mengabdi kepada Allah atau mengabdi kepada syaitan hanya berselisih tipis tanpa terlihat manusia bila tidak berpegang pada kitabullah Alquran.