Pencarian

Selasa, 04 Juli 2023

Amar Ma’ruf Nahy Munkar

Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar ada umat yang menyeru manusia kepada kebaikan dan memerintahkan dengan al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Al-ma’ruf adalah pengetahuan tentang kehendak Allah sedangkan kemunkaran merupakan lawan dari al-ma’ruf, yaitu kebodohan terhadap kehendak Allah. Pengetahuan yang paling utama yang diperkenalkan Allah kepada makhluk tentang diri-Nya adalah asma Ar-rahman dan Ar-rahiim. Kedua asma tersebut akan dapat dikenali seseorang bila berusaha membentuk dirinya dalam citra Ar-rahman Ar-rahim. Tanpa membentuk diri dalam kedua citra tersebut, seseorang tidak akan dapat mengenali kedua asma mulia Allah yang utama kecuali hanya kata-kata tanpa pemahaman.

Pengetahuan tentang al-ma’ruf dan al-munkar terletak pada hati, di atas pikiran yang benar. Hati yang dapat mengenali al-ma’ruf dan al-munkar akan dapat terbentuk pada diri orang-orang yang ingin membentuk dirinya untuk mengenali asma Allah. Tanpa berusaha mengenali asma Allah, seseorang akan sulit mengenali Al-ma’ruf dan kemunkaran yang sampai kepada mereka karena mereka akan terseret untuk mengikuti hawa nafsu dan keinginan badaniah mereka sendiri. Bila seseorang hanya mengikuti seretan hawa nafsu dan keinginan badaniah mereka sendiri, mereka akan binasa tidak akan mengenali al-ma’ruf dan al-munkar.

Ibnu Mas’ud r.a berkata :
هَلَكَ مَنْ لَـمْ يَعْرِفْ قَلْبُهُ الْـمَعْرُوْفَ وَيُنْكِرُ قَلْبُهُ الْـمُنْكَرَ
Binasalah orang yang hatinya tidak mengenali kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. (Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (IX/no. 8564) dan Ibnu Abi Syaibah dalam al–Mushannaf (no. 38577))

Tingkat pengetahuan setiap orang terhadap kehendak Allah berbeda-beda. Sebagian manusia diciptakan untuk mempunyai kemampuan mengenal pengetahuan yang sangat banyak tentang Allah, dan sebagian orang diberi kemampuan lebih terbatas. Rasulullah SAW adalah makhluk yang mempunyai pengetahuan tentang Allah paling besar di seluruh semesta ciptaan Allah, dan makhluk yang lain hanya akan mendapatkan pengetahuan tentang Allah sebagai bagian dari pengetahuan Rasulullah SAW, tidak keluar darinya, dan mereka akan mengetahui kedudukan mereka masing-masing dalam amr Rasulullah SAW. Walaupun pengetahuan setiap orang tentang kehendak Allah bisa berbeda-beda, setiap orang dapat merasakan kebenaran dalam al-ma’ruf dan kesalahan dalam al-munkar. Binasalah orang yang hatinya tidak mengenali al-ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Kebinasaan manusia dalam perkara demikian terletak dalam akhlak diri mereka, di mana akal hati mereka tidak mampu mengenali al-ma’ruf yang disampaikan kepada mereka, dan tidak pula terbersit pengingkaran terhadap kemunkaran yang terjadi.

Kitabullah Sebagai Sumber Pengetahuan

Pengesahan pengenalan seseorang tentang al-ma’ruf terjadi manakala seseorang memahami Alquran dengan hatinya berdasarkan kitabullah yang ada di sisi-Nya, dan keping-keping pengenalan itu disempurnakan susunannya hingga dikatakan ia mengenal Allah. Dengan hal itu seseorang akan mengenal gambaran tentang rabb yang diperkenalkan kepada dirinya. Allah meletakkan suatu kitab di sisi-Nya, yang akan ditunjukkan kepada hamba yang berharap didekatkan kepada-Nya. Kitab tersebut memberikan penuturan dengan kebenaran (Al-haqq). Pemahaman yang sebenarnya seorang hamba terhadap Alquran akan mengikuti pembacaan diri mereka terhadap kitab yang ada di sisi-Nya tersebut.

﴾۲۶﴿وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang memberikan tuturan dengan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS Al-Mu’minun : 62)

Kitab tersebut merupakan bagian dari Alquran. Tidak ada sedikitpun bagian dari kitab tersebut yang keluar dari Alquran, berselisih ataupun bertentangan. Kitab itu merupakan bagian Alquran yang diperuntukkan bagi diri seorang hamba, dan dengan kitab tersebut ia akan mengenal Alquran sebagai firman Allah yang dipanjangkan hingga mencapai alam dunia bagi manusia, dan mengenal Rasulullah SAW sebagai ahli Alquran yang sebenarnya. Boleh jadi seorang hamba mempunyai bagian Alquran yang berbeda dengan sahabatnya, atau memperoleh penuturan dengan cara yang berbeda dengan sahabatnya akan tetapi tidak akan ada sedikitpun bagian atau penuturan itu yang keluar dari Alquran. Boleh jadi seseorang memperoleh tuturan pada satu bagian kehidupan dan terluput pada bagian lain karena suatu kesalahan. Selama masih dalam batas-batas yang tertuang dalam kitabullah Alquran, seseorang tidak akan tersesat mengikuti tuturan kitab tersebut karena tidak tersesat.

Sekalipun kitab itu ada di sisi-Nya pada kedudukan yang tinggi, pengetahuan tentang kandungan kitab itu tidak benar-benar bersifat tersembunyi. Setiap orang dapat menimbang kebenaran tuturan kitab tersebut berdasarkan Alquran. Tuturan itu merupakan penjelasan dari Alquran tanpa melenceng sedikitpun darinya. Orang yang bermakrifat dapat dikenali kebenaran ma’rifatnya oleh umat manusia, tidak seperti pengenalan manusia terhadap sesuatu yang bersifat ghaib. Seseorang tidak boleh mengatakan bahwa kebenaran dirinya berasal dari Allah ketika berselisih dengan sahabatnya tanpa landasan dari Alquran. Sebaliknya hendaknya ia menunjukkan landasan Alqurannya tanpa mengatasnamakan Allah, karena Alquran itulah landasan orang beriman berjamaah. Demikian manakala menunjukkan amr Allah hendaknya ia menunjukkan landasan dari Alquran, tidak bermudah untuk mengatasnamakan Allah. Manakala seseorang bercerita tentang pengetahuan langit yang tinggi tanpa ada dasarnya dalam Alquran, ketinggian pengetahuan itu sangat mungkin tidak ada artinya bagi umat manusia. Bahkan mungkin saja ia mencomot pengetahuan itu dari suatu kesesatan di tempat yang tinggi, maka hal demikian justru membahayakan. Sebaliknya mendustakan tuturan kitab di sisi-Nya tersebut dapat mendatangkan adzab Allah karena pendustaan terhadap kitabullah.

Kewajiban setiap orang adalah berusaha memahami dan berpegang pada kitabullah Alquran dengan sungguh-sungguh apapun keadaan mereka. Manakala ia mendengar tuturan kitab itu, ia tetap harus berpegang pada Alquran atau ia akan terlontar dari jalan-Nya menuju suatu kedudukan yang tidak mempunyai penjelasan kokoh. Demikian pula manakala ia belum memahami, ia harus berpegang pada kitabullah Alquran. Kadangkala seseorang menemukan suatu selisih pada antara ayat Allah dengan pemahaman dirinya. Hal demikian menunjukkan adanya suatu ketidakfahaman terhadap ayat tersebut. Boleh jadi ia memang tidak berurusan secara langsung dengan ayat tersebut atau ia belum mampu memahami dengan benar. ketidakpahaman demikian kadangkala tidak menjadi masalah yang besar. Tetapi keadaan itu berubah manakala ada seseorang yang dapat memberikan penjelasan tentang ayat Allah tersebut berdasarkan al-ma’ruf. Setiap orang harus dapat mengenali al-ma’ruf yang disampaikan kepada dirinya dan mengingkari kemunkaran yang mungkin ada. Bila tidak terbentuk sikap demikian, ia termasuk orang yang akan celaka. Barangkali ia terlalu banyak mengikuti hawa nafsu atau keinginan badaniah dirinya sendiri. Atau boleh jadi ia mengikuti suatu kesesatan yang menyebabkan nafs mereka salah bentuk.

Kadangkala seseorang keliru dalam membentuk nafs mereka. Hal ini dapat terlihat manakala seseorang berhadapan dengan kitabullah. Ketika seseorang menghadapi ayat kitabullah bertentangan dengan pemahaman dirinya atau kelompoknya dan ia menolak penjelasan yang benar dari kitabullah, ia telah keliru dalam membentuk nafs mereka. Manakala ia berada di shirat Al-mustaqim, ia berada pada sisi lawan dari pihak Allah. Bila seseorang merasa telah berusaha membentuk nafs mereka untuk mengenal asma Allah tetapi tidak dapat mengenali al-ma’ruf dan mengingkari kemunkaran, ada sesuatu yang merusak pertumbuhan nafs mereka. Pengingkaran terhadap ayat kitabullah oleh orang-orang demikian sama saja dengan pengingkaran orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Allah. Ada hal-hal mendasar yang harus diperhatikan kembali dalam membentuk akhlak agar dapat mengenali al-ma’ruf dan mengingkari kemunkaran.

Had-had Allah

Membentuk akhlak mulia harus dilakukan hingga umat manusia tegak di atas batas-batas Allah dengan benar. Hal itu akan mencegah umat manusia dari kehancuran. Bila suatu umat membiarkan orang-orang mereka melakukan kebodohan (mungkar), maka umat itu akan tenggelam bersama-sama dalam keburukan. Bila sebagian dari umat itu mencegah orang lain untuk berbuat kemunkaran, maka mereka akan bersama-sama akan selamat.

dari An-Nu’mân bin Basyir r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اِسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِيْنَ فِـيْ أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْـمَـاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ ، فَقَالُوْا : لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِـيْ نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَـمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا ، فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا ، وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعًا.
Perumpamaan orang-orang yang tegak di atas batas-batas Allah dan orang-orang yang jatuh (melanggar) batas-batas Allah adalah seperti satu kaum yang berundi di atas perahu. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian di bawah. Adapun orang-orang yang berada di bawah apabila mereka ingin mengambil air mereka mesti melewati orang-orang yang berada di atas, dan mereka mengatakan, ‘Seandainya kita lobangi perahu ini, kita tidak akan mengganggu orang yang berada di atas kita.’ Seandainya orang-orang yang berada di atas membiarkan orang-orang yang berada di bawah melobangi perahu, maka akan binasalah semuanya. Dan seandainya mereka memegang tangan (melarang) orang-orang yang berada di bawah melakukan hal itu, maka selamatlah yang berada di atas dan di bawah semuanya. ( HR. al-Bukhari (no. 2493, 2686), at-Tirmidzi (no. 2173), Ahmad (4/268, 269, 270), al-Baihaqi (10/91) dan al-Baghawi (no. 4151))

kehidupan manusia bermasyarakat dapat diibaratkan seperti orang-orang yang naik pada sebuah kapal yang berlayar di atas air. Di atas kapal itu ada orang-orang yang dapat mengendalikan kapal, maka mereka memperoleh kedudukan pada tempat yang semestinya, baik mereka ada di bagian atas ataupun di bagian bawah. Banyak pula orang-orang yang memperoleh tempat di kapal itu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan bagi pelayaran kapal itu kecuali sekadar ikut berlayar untuk mencapai tujuan mereka.

Setiap orang di kapal itu mempunyai kebutuhan. Orang-orang yang mengikuti pelayaran itu membutuhkan air minum agar dapat hidup dengan baik selama dalam pelayaran baik mereka yang mempunyai keahlian berlayar maupun tidak. Orang-orang yang mempunyai keahlian pelayaran mempunyai pengetahuan bagaimana mengatur pengadaan air untuk minum mereka, sedangkan orang-orang yang tidak mengetahui harus mengikuti awak kapal yang mengatur air bagi mereka. Orang yang mengikuti tidak boleh mengusahakan air dengan cara mereka sendiri agar tidak mendatangkan bahaya bagi pelayaran mereka itu.

Kadangkala mengadakan air itu tampak mudah bagi sebagian orang, akan tetapi anggapan itu membahayakan. Air dan tempat mereka berada hanya berjarak sangat dekat, hanya dibatasi oleh dinding papan tipis, akan tetapi tidak serta merta orang-orang yang di lambung kapal itu boleh mengambil air secara langsung melubangi dinding papan itu. Setiap orang dalam kapal itu harus tetap melalui orang-orang yang berada di atas agar dapat memperoleh air bagi diri mereka. Bila mereka melakukannya, maka kapal itu akan selamat dan mereka semua akan selamat. Bila mereka melubangi maka kapal itu akan tenggelam, maka seluruhnya akan tenggelam.

Hal itu adalah ibarat kehidupan umat manusia di alam dunia. Allah membuat kehidupan manusia berada di atas ilmu-Nya, akan tetapi Dia mendinding manusia dari ilmu itu agar manusia selamat dalam kehidupannya. Allah tidak melarang manusia dari ilmu itu, tetapi hendaknya mereka mengetahui jalan untuk memperolehnya dengan benar. Ada orang-orang yang mengetahui jalan itu hingga orang-orang dapat bertanya atau mengikuti cara bagaimana memperolehnya. Orang-orang yang mengetahui jalan untuk memperoleh ilmu itu adalah orang-orang yang mengetahui had-had (hudud) Allah.

Dalam hal ini, ada orang-orang yang berpikiran bahwa mereka dapat memperoleh air bagi mereka dengan melubangi kapal. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui keberadaan ilmu Allah yang menjadi landasan kehidupan umat manusia, akan tetapi terburu-buru ingin bersegera memperoleh tanpa mengetahui jalan yang tepat untuk memperoleh ilmu-ilmu itu. Mereka menginginkan ilmu itu tanpa mengetahui hudud (had-had) Allah yang akan mengarahkan mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan dengan baik, tetapi justru melanggar had-had itu karena keinginan mereka. Mereka menempuh jalan yang salah untuk tujuan yang benar. Bila mereka melakukan hal itu, mereka akan tenggelam.

Al-ma’ruf harus dapat dikenali oleh manusia hingga wujud dasarnya. Banyak kebenaran yang dapat dikenali oleh seseorang tetapi tidak dapat diceritakan kepada orang lain, dan manakala ia menceritakan maka ia telah berbuat fitnah untuk manusia lainnya. Orang demikian tidak termasuk dalam kelompok orang yang bermakrifat dan ilmunya bukan al-ma’ruf karena termasuk melanggar had-had Allah. Mereka ibarat orang yang melubangi kapal untuk memberikan air kepada orang lain. Kebenaran yang dapat diceritakan kepada orang lain adalah kebenaran yang diceritakan oleh Alquran dan dapat diterima oleh orang lain yang mendengarnya. Tuturan kitab di sisi Allah yang dipahami seseorang seringkali dapat diceritakan kepada orang lain sebagai al-ma’ruf bila seseorang mengacu pada tatacara Alquran menceritakannya dengan dibantu tuturan tersebut, dengan mempertimbangkan sungguh-sungguh kemampuan orang yang mendengarnya.

Minggu, 02 Juli 2023

Amar Ma’ruf Nahy Munkar

Allah menciptakan makhluk agar makhluk mengenal Sang Khalik. Untuk urusan demikian, manusia menjadi puncak segala ciptaan-nya. Manusia dicipta berupa materi di alam bumi agar bisa memperoleh pengetahuan tentang Allah hingga ke ujung ciptaan-Nya. Selain itu, manusia diciptakan dari nafs yang serupa dengan alam malaikat, karenanya manusia dapat memiliki kecerdasan sebagaimana para malaikat bahkan lebih cerdas lagi. Ketika penciptaan khalifatullah, para malaikat muqarrabun diperintahkan untuk bersujud kepada khalifatullah karena kesempurnaan penciptaan beliau a.s.

Pengetahuan tentang Allah yang dapat diperoleh makhluk sering disebut sebagai ma’rifat. Pengetahuan yang disebut sebagai ma’rifat biasanya disematkan kepada orang-orang yang telah mengenal rabb mereka, yaitu orang yang mengenal penciptaan nafs mereka. Tidak semua orang mengenal penciptaan diri mereka, akan tetapi mereka memperoleh pengetahuan-pengetahuan tentang rabb mereka walaupun dalam bentuk kepingan-kepingan yang belum menyatu. Pengetahuan tentang Allah berupa kepingan-kepingan tersebut seringkali disebut sebagai al-ma’ruf.

Amar Ma’ruf

Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar ada umat yang bertugas untuk menyeru manusia kepada kebaikan dan memerintahkan dengan al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Kemunkaran merupakan lawan dari al-ma’ruf, yaitu kebodohan terhadap kehendak Allah. Bentuk kebodohan yang disebut kemunkaran itu tidak selalu berbentuk kemaksiatan dalam pandangan manusia, tetapi berupa kebodohan terhadap kehendak Allah. Orang-orang yang menyeru tersebut merupakan orang-orang yang beruntung.

﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Pengetahuan yang paling utama yang diperkenalkan Allah kepada makhluk tentang diri-Nya adalah asma Ar-rahman dan Ar-rahiim. Kedua asma tersebut akan dapat dikenali seseorang bila berusaha membentuk dirinya dalam citra Ar-rahman Ar-rahim. Tanpa membentuk diri dalam kedua citra tersebut, seseorang tidak akan dapat mengenali kedua asma mulia Allah yang utama kecuali hanya kata-kata tanpa pemahaman.

Cara paling sempurna pengenalan seseorang terhadap kedua asma Allah tersebut terjadi melalui terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Bayt tersebut merupakan kesatuan antara seorang laki-laki yang mengenal penciptaan dirinya dengan isterinya dalam keinginan untuk meninggikan asma Allah dan mendzikirkannya. Kedua asma Ar-rahman dan Ar-rahim akan tumbuh dan terwakili secara proporsional pada suami dan isteri dalam ikatan pernikahan mereka, dan dengan kesatuan ini sepasang suami dan isteri dapat mengenal Allah dengan cara paling sempurna.

Bayt demikian dijadikan sebagai kiblat bagi umat manusia dalam menempuh perjalanan kepada Allah, dalam hal ini secara khusus adalah bayt nabi Ibrahim a.s dan keluarga beliau sebagai perintis dan tauladan utama. Pada dasarnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama membentuk bayt demikian, tetapi mereka kebanyakan tidak mencapainya. Kiblat tersebut merupakan representasi penyatuan manusia terhadap hal-hal yang terserak bagi dirinya dalam kehidupan dunia untuk mengenal Allah. Semakin baik penyatuan yang terbentuk, semakin sempurna asma Allah yang dapat dikenal oleh seorang hamba. Bila seseorang tidak mempedulikan terbentuknya penyatuan dirinya dengan hal yang terserak, sulit bagi seseorang untuk dapat mengenal asma Allah. Akan sangat sulit bagi seseorang untuk mengenal Allah tanpa media yang ditentukan Allah. Pengenalan seseorang kepada Allah akan terjadi manakala mereka menapaki kehidupan pada jalan yang ditentukan Allah, dan tidak akan memperolehnya bila mereka memilih mengikuti kehidupan dengan hawa nafsu sendiri.

Penyatuan diri seseorang terhadap hal-hal yang terserak bagi dirinya dalam kehidupan di bumi adalah modal bagi mereka untuk memperoleh ma’rifat kepada Allah. Setiap keping penyatuan diri seseorang terhadap hal yang terserak bagi dirinya secara haq mengandung pengetahuan Al-ma’ruf, keping pengetahuan tentang Allah. Bila seseorang terus berupaya untuk kembali kepada Allah, pengetahuan itu akan terus bertambah dan suatu saat Allah akan membukakan bagi dirinya pengetahuan tentang penciptaan dirinya. Dengan terbukanya pengetahuan tentang dirinya, mereka akan mengenal tajaliat Allah yang hendak diperkenalkan kepada dirinya.

Orang yang mengenal rabb mereka adalah orang-orang yang memperoleh ma’rifat. Mereka itulah orang-orang yang seharusnya menjadi kaum yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan umat manusia kepada al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Mereka mempunyai makrifat kepada Allah hingga dapat menunjukkan kepada manusia jalan mereka kembali kepada Allah, dan mencegah mereka dari kebodohan berupa kemunkaran.

Penyatuan seseorang dengan yang terserak baginya hendaknya dapat terpancar hingga penyatuan terhadap umat mereka, tidak hanya menjadi berkah bagi diri mereka sendiri. Untuk tujuan itu, hendaknya mereka memperhatikan bayt yang harus terbentuk. Manakala suatu umat berpecah-belah, mereka sebenarnya berada pada tepi jurang neraka. Allah akan menyatukan mereka yang dikehendaki dengan memberikan nikmat-Nya bagi mereka. Dengan nikmat-Nya, Allah menarik mereka dari tepi jurang neraka menuju persaudaraan. Orang-orang yang ditarik dengan nikmat Allah menuju persaudaraan adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada tali Allah, yaitu kitabullah Alquran, dan mereka tidak ingin berpecah belah. Tanpa berpegang pada Alquran bagi umat nabi Muhammad SAW, keinginan memperoleh nikmat Allah dapat dikatakan sebagai angan-angan. Kadangkala suatu kaum lebih mempercayai perkataan orang lain daripada kitabullah Alquran, sedangkan kedudukan keduanya sangatlah jauh.

Nahy Munkar

Kemunkaran adalah kebodohan terhadap kehendak Allah. Kadangkala seseorang berbuat munkar tanpa terlihat berbuat maksiat. Ketika suatu perbuatan dilakukan tanpa mempertimbangkan kehendak Allah yang benar maka ia sangat mungkin menjadi orang yang munkar. Orang-orang yang mencerai-beraikan umat manusia dari hal-hal yang terserak bagi mereka dalam kehidupan dunia mereka adalah orang-orang yang berbuat munkar. Mereka bertindak bodoh menghalangi manusia dari jalan untuk kembali kepada Allah. Seseorang yang mempunyai keinginan berpecah-belah dengan sahabat atau orang lain, orang yang mengobarkan perselisihan satu orang dengan orang lain atau mencegah ishlah di antara orang-orang yang ingin berishlah atau orang-orang yang menceraikan antara seorang suami dengan isterinya adalah contoh-contoh yang dapat dilihat dari orang-orang yang berbuat kemunkaran. Orang-orang yang mempunyai pengetahuan al-ma’ruf hendaknya mencegah umat manusia dari perbuatan kemunkaran.

Penyatuan seseorang dengan hal yang terserak dari dirinya akan menjadikan seseorang mudah membaca kitab dirinya, yaitu Alquran yang diperuntukkan bagi dirinya. Ia memperoleh semesta yang sesuai dengan kitab dirinya sehingga kitab itu mudah terbaca. Bila seseorang berbuat munkar dengan mencerai-beraikan seseorang dari yang terserak dari dirinya, maka seseorang akan kehilangan bagian besar dari pengetahuan kitab dirinya. Kemunkaran itu dapat terjadi terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap orang lain. Bila ia berbuat terhadap orang lain, maka akan terjadi perselisihan karena kemunkaran yang dilakukannya.

Kunci awal penyatuan diri seseorang dengan yang terserak dari dirinya adalah pernikahan dengan pasangan yang tepat. Pernikahan yang terbaik adalah pernikahan pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Pernikahan itu akan menjadi modal utama membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah di dalamnya. Pada setiap pernikahan, seseorang sebenarnya menambatkan garis kehidupan dirinya bersama dengan kehidupan pasangannya menikah. Bila menambatkan garis kehidupan dengan pasangan yang diciptakan dari nafs yang sama, ia telah menemukan bagian besar dari garis kehidupan yang tepat bagi agamanya. Mereka akan menyatukan banyak hal yang terserak dari diri mereka, dan mereka sangat mungkin akan memperoleh makrifat.

Setiap perbuatan yang mengakibatkan terpisahnya seseorang dari yang terserak bagi dirinya merupakan perbuatan munkar. Contoh kemunkaran dapat dilihat pada perbuatan memisahkan manusia dari cara berpikir yang benar atau akalnya, merusak akhlak perempuan terhadap suaminya, menumbuhkan kembali permusuhan di antara dua orang yang menginginkan ishlah, memecah belah suatu kaum atau bangsa dari persatuan mereka yang haq atau membangun negara tanpa melibatkan sumbangsih anak bangsa. Sangat banyak contoh kemunkaran yang dapat terjadi, dan kemunkaran tidak selalu terlihat dalam bentuk kemaksiatan. Kemunkaran terbesar yang dapat dilakukan seseorang adalah memisahkan pernikahan orang-orang yang berpasangan dari nafs mereka. Syaitan menggunakan cara ini untuk menimbulkan fitnah terbesar bagi umat manusia, dan mereka akan menggunakan manusia untuk melakukan fitnah itu.

Kemunkaran merupakan nilai intrinsik dari perbuatan itu sendiri, tidak dinilai dari niat mengerjakannya. Seseorang dapat merasa berniat baik mengerjakan sesuatu tetapi karena kebodohannya maka mereka berbuat kemunkaran. Ia akan mudah celaka dan menimbulkan celaka bagi orang lain. Manakala memberi nasehat, ia dapat merusak orang lain dengan nasehat yang dipandangnya kebaikan. Perintah dalam ayat di atas adalah hendaknya ada kelompok orang yang menegakkan amar ma’ruf nahy munkar dan mengajak kepada kebaikan. Tidak semua orang dapat menjadi orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahy munkar karena tidak semua orang bisa mengetahui kemunkaran yang terjadi, terutama dalam hal kebodohan (kemunkaran) yang terjadi di atas niat baik. Akan tetapi hendaknya setiap orang berusaha mencegah segala kebodohan yang jelas terlihat di sekitar mereka.

Mencegah kemunkaran yang samar hanya dapat dilakukan dengan pengetahuan al-ma’ruf. Pengetahuan demikian selalu mempunyai dasar pada kitabullah Alquran yang dipahami sesuai dengan kehendak Allah. Pemahaman demikian bersifat menyatukan pemahaman membentuk jamaah. Satu pihak memahami kebenaran dari yang lain dan mengetahui peran dirinya. Tanpa hal demikian, kelompok-kelompok manusia dapat terjebak dalam perdebatan, sekalipun masing-masing berpendapat mereka melaksanakan kehendak Allah. Pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah hanya terjadi di atas dasar kitabullah Alquran. Orang-orang yang berpecah-belah hendaknya berpegang teguh kepada tali Allah Alquran dan berharap nikmat-Nya. Tanpa berpegang pada tali Allah, seseorang akan tetap berada pada tepi jurang neraka bermusuh-musuhan. Seringkali mereka juga menyeret orang lain untuk bermusuhan. Dengan berpegang pada tali Allah dan berharap nikmat Allah, seseorang akan dapat bergerak menjauh dari tepi jurang neraka karena Allah menyusun hati mereka menjadi bersaudara.

Mendekatnya seseorang menuju Allah akan tampak pada alam dzahir mereka berupa persaudaraan dan rasa cinta kasih di antara manusia. Kedekatan kepada Allah tidak dapat diukur hanya dari gambaran kedekatan kepada Allah berdasar pada hawa nafsu atau hanya dalam bentuk-bentuk ibadah mahdlah saja. Bila tidak tumbuh rasa kasih sayang dalam diri seseorang terhadap orang lain, hal itu dapat menjadi gambaran bahwa seseorang tidak mendekat kepada Allah. Dirinya boleh jadi tidak bergerak dari tepi jurang neraka menuju Allah. Kaum khawarij menjadi contoh orang-orang yang ibadah mahdlah mereka membuat para sahabat berkecil hati, akan tetapi sebenarnya mereka sama sekali tidak mengikuti sunnah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Pengetahuan syariat mereka tidaklah menjadi jalan untuk memenuhi seruan Allah.

Sifat cinta kasih ini akan tumbuh dengan subur manakala setiap orang berusaha mengarahkan kehidupan untuk membentuk rumah tangga mereka sebagai bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membentuk bayt demikian hendaknya dilakukan hingga alam jasmani manusia. Setiap orang hendaknya berusaha membina bayt mereka untuk dapat memberikan apa yang dibutuhkan orang lain dari dirinya dan mewujudkan kedamaian sesuai dengan kehendak Allah dalam wujud kata-kata yang thayyib yang akan memperkenalkan manusia kepada kehendak Allah. Dengan perkataan yang thayyib, manusia akan memahami keadaan diri mereka dan dapat hidup dengan kedamaian (salaam), dan dapat memberikan sumbangsih untuk memberi pemenuhan kebutuhan bagi orang lain.

Kamis, 22 Juni 2023

Kitabullah Sebagai Landasan Amal Shalih

Mendzikirkan asma Allah merupakan bentuk ibadah yang dikehendaki Allah sebagai bentuk ibadah yang paling besar bagi setiap manusia. Dzikir berarti menyatakan. Yang dimaksud dzikir adalah upaya seseorang merealisasikan pemahaman mereka tentang kehendak Allah bagi semesta mereka. Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah kecuali untuk beribadah, dan bentuk ibadah yang sebenarnya adalah berdzikir. Berdzikir dengan cara demikian hanya dapat dilakukan bila seseorang memahami kitabullah Alquran sedemikian Alquran menceritakan kepada dirinya suatu bentuk amal yang harus dilakukannya.

Alquran akan menuturkan kepada seseorang bentuk-bentuk amal yang harus dilakukannya. Tuturan demikian akan terbaca oleh hamba yang mengharapkan kedekatan kepada Allah. Mereka akan menemukan suatu kitab yang menuturkan sesuatu tentang apa yang mereka hadapi dengan kebenaran (al-haqq). Allah meletakkan kitab tersebut di sisi-Nya, yang akan ditunjukkan kepada hamba yang berharap didekatkan kepada-Nya. Kitab tersebut memberikan penuturan dengan kebenaran (Al-haqq). Pemahaman yang sebenarnya seorang hamba terhadap Alquran akan mengikuti pembacaan diri mereka terhadap kitab yang ada di sisi-Nya tersebut.

﴾۲۶﴿وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang memberikan tuturan dengan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS Al-Mu’minun : 62)

Kitab tersebut merupakan bagian dari Alquran. Tidak ada sedikitpun bagian dari kitab tersebut yang keluar dari Alquran, berselisih ataupun bertentangan. Kitab itu merupakan bagian Alquran yang diperuntukkan bagi diri seorang hamba, dan dengan kitab tersebut ia akan mengenal Alquran sebagai firman Allah yang dipanjangkan hingga mencapai alam dunia bagi manusia, dan mengenal Rasulullah SAW sebagai ahli Alquran yang sebenarnya. Boleh jadi seorang hamba mempunyai bagian Alquran yang berbeda dengan sahabatnya, atau memperoleh penuturan dengan cara yang berbeda dengan sahabatnya akan tetapi tidak akan ada sedikitpun bagian atau penuturan itu yang keluar dari Alquran.

Kitab tersebut menuturkan kepada manusia pengetahuan dengan kebenaran (al-haqq). Manusia akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan tentang apa yang terjadi pada semesta mereka dan mengerti hakikat yang ada dibalik semesta dirinya. Dengan hakikat itu, ia mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Pengetahuan itu terkait dengan semesta kauniyah, dan hakikat itu terkait dengan akhlak al-karimah yang harus dibentuk seseorang di dalam dirinya. Akhlak al-karimah menempati kedudukan yang lebih tinggi maknanya daripada pengetahuan tentang semesta.

Kitab yang ada di sisi Allah ini secara umum telah mencukupi bagi manusia yang meminta petunjuk Allah. Seorang hamba tidak perlu bertindak lancang menghadap Allah untuk meminta petunjuk-Nya kemudian bersikap sewenang-wenang atas nama Allah. Keberjamaahan umat manusia terletak pada pemahaman yang benar terhadap kitab diri mereka. Kitab itu akan menuturkan kandungan dari firman Allah yang telah difirmankan dalam kitabullah Alquran, sedangkan Alquran telah menjelaskan semua hal tentang penciptaan-Nya. Hal ini tidak berarti mencegah seseorang bertawajuh kepada Allah, akan tetapi hendaknya setiap hamba menjaga akhlak dan adab diri dalam menghadap kepada Allah. Adab demikian hanya akan terbentuk bila seorang hamba telah berusaha sungguh-sungguh mentaati firman Allah yang dipanjangkan-Nya hingga alam dunia berupa buku kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa adab ketaatan demikian, bahkan mencari kitab di sisi-Nya pun merupakan bentuk akhlak dan adab yang tidak layak, apatah lagi langsung menghadap kepada-Nya untuk meminta petunjuk.

Di sisi lain, setiap hamba harus memohon petunjuk pada Shirat Al-Mustaqim. Upaya memohon petunjuk demikian hendaknya dilakukan setelah mencari pengetahuan tentang ayat-ayat dalam kitabullah. Petunjuk yang dimohon seorang hamba harus terkait dengan pengetahuan tentang ayat dalam kitabullah dan ayat kauniyah pada semesta mereka. Petunjuk akan menjelaskan sesuatu, maka petunjuk yang benar adalah petunjuk terhadap ayat Allah. Petunjuk yang diturunkan bagi permohonan demikian akan mengantarkan seorang hamba menuju Shirat Al-Mustaqim. Tanpa mempunyai landasan kitabullah, petunjuk yang diturunkan dapat bersifat bebas tidak mengarahkan pada Shirat Al-Mustaqim. Boleh jadi petunjuk itu tampak megah dan menjelaskan, akan tetapi sebenarnya tidak mempunyai arah yang tepat.

Amal Shalih

Pengetahuan yang dituturkan dari kitab diri akan membuat seseorang mengerti amal-amal yang harus dilakukan di alam dunia bagi semesta mereka. Pengetahuan tentang amal-amal ini merupakan turunan dari akhlak al-karimah dan pengetahuan tentang semesta. Amal-amal yang dapat diperbuat seseorang dapat dilakukan dari berbagai landasan, di antaranya landasan akhlak al-karimah dan pengetahuan tentang semesta. Itu adalah amal yang sebaik-baiknya. Sebagian orang beramal dengan landasan eksistensi diri mereka yang kadangkala terbungkus waham kebenaran sebagai jati diri. Sebagian orang beramal dengan landasan kebutuhan terhadap alam duniawi, yang seringkali disertai dengan ketamakan terhadap dunia. Sangat banyak kemungkinan yang bisa menjadi landasan seseorang melahirkan amal-amal mereka.

Tepatnya landasan amal seseorang ditentukan keadaan hati mereka. Seseorang yang ikhlas menginginkan kedekatan kepada Sang Sumber Kebaikan akan menemukan landasan amal dari kitab diri mereka. Sebagian besar manusia tidak dalam keadaan demikian. Mereka banyak berkecimpung dengan alam-alam yang rendah dan alam langit yang masih bersifat semu, hingga hati mereka terlalaikan oleh alam yang rendah dan alam yang semu. Hanya sebagian kecil manusia yang hatinya terpaut pada Sang Sumber Kebaikan.

﴾۳۶﴿بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ
Tetapi hati mereka itu dalam kesesatan dari (kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada itu, mereka bersungguh-sungguh mengerjakan untuk mencapainya. (QS Al-Mu’minun : 63)

Kebanyakan manusia tidak menyadari keberadaan kitab ini. Hati manusia terlalaikan dari langkah menuju Allah dan dari keberadaan kitab ini karena banyak mengerjakan amal yang lain. Sebaliknya karena terlalaikan dari kitab ini, kebanyakan manusia bersungguh-sungguh dalam amal-amal yang mereka tentukan sendiri dan bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran mereka, tidak bertujuan melaksanakan apa yang ditentukan dalam kitab diri.

Setiap hamba Allah seharusnya mengerjakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka sesuai dengan pengetahuan yang dituturkan kitab diri mereka. Itu adalah amal shalih yang sebenarnya. Sebagian hamba Allah berhasil membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dalam bayt itu. Pengetahuan yang diperoleh dari kitab diri mereka menjadi bahan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allh. Mereka meninggikan asma Allah dan mendzikirkan asma tersebut berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari kitab diri, dan mereka meninggalkan amal-amal yang lain untuk amal yang ditentukan itu.

Tidak banyak orang yang berhasil mendirikan bayt demikian. Sebagian orang mengetahui kitab diri mereka, dan mereka beramal meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan tetapi tidak dapat meninggalkan amal-amal yang tidak mempunyai landasan dalam kitab diri mereka. Bagi orang-orang demikian, mereka akan dapat membuka tambahan khazanah dari kitab diri mereka melalui amal-amal yang ditentukan dalam kitab diri, dan memperoleh bagian lain bagi amal-amal yang dilakukan sesuai dengan landasan amal yang lain itu. Hendaknya mereka mengusahakan jalan agar dapat sepenuhnya melakukan amal-amal berdasarkan kitab diri mereka. Amal shalih mereka terletak pada amal yang dilakukan berdasarkan kitab diri mereka dan amal yang lain itu hanya diijinkan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Allah mencela orang-orang yang tidak peduli dengan amal-amal berdasarkan kitab diri mereka dan terus melakukan amal berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Amal yang merupakan amr Allah adalah amal yang diturunkan dari pengetahuan kitab diri. Sebagian orang beriman menentukan amal shalih mereka tanpa berdasarkan pengetahuan kitab diri. Amal yang terlihat baik berdasarkan kriteria sendiri belum tentu merupakan perintah Allah, walaupun seringkali sama sekali bukan hal yang buruk. Hanya saja hendaknya disadari bahwa amal itu belum tentu merupakan amr Allah. Bila mereka mendustakan orang yang mengerjakan amr Allah karena mengikuti tujuan amal mereka sendiri, mereka akan celaka.

Kasus lainnya, kadangkala seseorang menemukan atau mengarah pada kitab diri yang palsu. Kitab palsu itu akan membalik secara halus urusan syaitan menjadi tampak seperti amr Allah. Orang yang membaca dan/atau mengikutinya akan berubah menjadi bodoh (munkar), atau keji atau mengatakan perkataan tentang Allah tanpa dasar pengetahuan. Sulit bagi seseorang melihat kesalahan kitab itu dengan kekuatannya sendiri karena kitab ini dari makhluk cerdas yang pernah tinggal di alam yang tinggi. Para pengikut mereka akan lebih sulit lagi melihat hal itu karena keadaan yang lebih rendah. Manakala suatu kitab berselisih atau bertentangan dengan Alquran, kitab itu palsu. Setiap orang harus berusaha mengarahkan kehidupan mereka untuk memahami kitab diri yang benar agar mengenali amal yang menjadi perintah Allah.

Jati diri seseorang juga merupakan bagian dari kitab diri. Bila seseorang memahami kitab dirinya, ia akan menemukan jati dirinya pada kitab tersebut. Seseorang bisa menemukan jati dirinya melalui jalan lain, tetapi pengenalan diri yang sebenarnya terjadi melalui pemahaman terhadap kitab diri. Kitab diri akan mengajarkan kepada seseorang pengetahuan tentang kauniyah mereka dan hakikat-hakikat yang menyertainya. Dengan pengetahuan tersebut, seseorang akan mendapat pijakan untuk mengenal penciptaan diri mereka di antara makhluk yang lain. Bila menemukan jati diri tanpa pengetahuan kauniyah dan hakikat yang menyertainya, seseorang dapat tergelincir dari ibadahnya kepada Allah sebagaimana dahulu Adam digelincirkan syaitan.

Mencari Amal Shalih

Kebanyakan manusia tidak mengetahui kitab diri mereka. Sebagian memperoleh kabar dan berusaha mengarahkan kehidupan mereka sesuai dengan kabar yang diterima, sebagian memperoleh kabar dan tidak peduli dengan kabar yang mereka terima, dan sebagian orang tidak memperoleh berita sama sekali karena tidak pernah mempedulikan arah kehidupan mereka.

Untuk memahami kitab diri, seseorang dapat mengikuti orang-orang yang telah mengenal kandungan dalam kitab diri mereka. Mereka adalah para ahlul bayt atau setidaknya orang yang mengenal kandungan kitab diri mereka tanpa suatu kesalahan. Bila seseorang menemukan ahlul bayt yang hidup pada ruang dan waktu yang sama dengan dirinya, pada dasarnya mereka mempunyai urusan yang beririsan, dan ia seharusnya lebih mudah menemukan bagian kitab diri mereka dengan mengikuti ahlul bayt tersebut. Dalam kasus ini, orang-orang hendaknya berhati-hati dalam bersikap. Mengingkari urusan seorang ahlul bayt atau orang yang mengenal kandungan kitab dirinya yang ada di dekat mereka pada dasarnya relatif akan bisa mendatangkan adzab, baik karena tidak bersyukur ataupun sikap pengingkaran. Keberadaan seorang ahlul bayt yang ada di dekat kaum pada dasarnya membawa kehendak Allah bagi suatu kaum.

Mengenali ahlul bayt akan selaras dengan pengenalan seseorang terhadap kitabullah. Seseorang hanya akan mengenali orang yang benar bila ia mengenali kebenaran. Bila seseorang tidak peduli dengan kebenaran, ia tidak akan mengenali orang yang benar. Manakala mereka memuji tanpa landasan kitabullah, pujian itu tidak menunjukkan kebenaran orang yang dipuji. Demikian pula manakala mereka mengikuti orang yang mereka puji, hal itu tidak menunjukkan mereka telah mengikuti kebenaran. Seseorang dikatakan mengenali ahlul bayt manakala mereka memahami kebenaran ahlul bayt tersebut berdasarkan kitabullah. Dalam hal mengikuti ahlul bayt untuk memahami kitab diri, seseorang harus berpegang pada kitabullah dan berusaha memahaminya berdasarkan penjelasan dari ahlul bayt, tidak bersikap mengikuti ahlul bayt tanpa suatu tujuan. Bagi ahlul bayt, sikap mengikuti tanpa tujuan itu akan menjadi beban yang harus mereka pertanggungjawabkan hingga kelak di akhirat.

Pengenalan seseorang terhadap kitab dirinya akan tampak pada pengenalannya terhadap ayat-ayat Allah secara integral, yaitu ayat kitabullah dan ayat Allah pada semesta mereka. Demikian pula ahlul bayt akan terlihat dari pengenalan mereka terhadap ayat Allah. Hal utama yang menjadi perhatian mereka bagi kaumnya adalah jalan menuju Allah, bukan pengetahuan mereka tentang ayat kauniyah. Boleh jadi mereka tidak akan menunjukkan jalan menuju kauniyah selama seseorang tidak mengarahkan perhatian mereka kepada Allah, karena mungkin saja jalan menuju kauniyah itu akan merusak.

Penting bagi setiap orang untuk berusaha memahami kitab diri mereka dan menemukan orang yang menuju Allah bersama mereka hingga mereka dapat melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka dengan benar. Kebersamaan itu penting karena merupakan perpanjangan dari al-jamaah. Orang yang belum mengetahui urusan diri mereka dapat mengikuti orang lain yang telah mengetahuinya, dan mereka akan mengetahui bahwa urusan Allah bagi mereka akan berdekatan. Amal mereka dapat diperkirakan berdasarkan amal shalih sahabat yang telah mengetahuinya. Manakala setiap orang dalam kebersamaan itu telah mengetahui amr Allah bagi masing-masing, mereka dapat melakukan amal secara berjamaah bersinergi satu terhadap yang lain hingga hasil yang mereka peroleh akan bernilai tinggi.

Selasa, 20 Juni 2023

Memperhatikan Ajaran Alquran

Tujuan akhir perjalanan kehidupan setiap manusia adalah mengikuti Rasulullah SAW hingga menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Tidak ada makhluk yang mengenal Allah dengan benar melalui jalan lain tanpa mengikuti tauladan Rasulullah SAW. Untuk menjadi hamba yang didekatkan, beliau SAW menegakkan dzikir dari bait yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan didzikirkan asma-Nya dalam rumah itu.

Mendzikirkan asma Allah merupakan bentuk ibadah yang dikehendaki Allah sebagai bentuk ibadah yang paling besar bagi setiap makhluk. Dzikir berarti menyatakan. Yang dimaksud dzikir adalah upaya seseorang merealisasikan pemahaman mereka tentang kehendak Allah bagi semesta mereka. Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah kecuali untuk beribadah, dan bentuk ibadah yang sebenarnya adalah berdzikir. Berdzikir dengan cara demikian hanya dapat dilakukan bila seseorang memahami kitabullah Alquran sedemikian hingga Alquran menceritakan kepada dirinya suatu bentuk amal yang harus dilakukannya.

Mengabaikan Pengajaran Alquran

Manakala seseorang memperoleh dzikir mereka, hendaknya orang lain memperhatikan dzikir tersebut agar mereka memahami kehendak Allah. Seringkali terjadi penolakan atau pengabaian oleh suatu kaum terhadap suatu dzikir yang diturunkan kepada seorang hamba Allah. Hal demikian itu sebenarnya akan mendatangkan suatu adzab kerendahan dan kehinaan bagi kaum tersebut. Alquran akan meninggikan derajat orang-orang yang mengikutinya, dan menghinakan dan merendahkan orang-orang yang menolaknya. Manakala suatu dzikir yang diturunkan Allah melalui Alquran dibacakan oleh seseorang bagi suatu kaum, hendaknya mereka memperhatikan dzikir tersebut agar mereka menjadi mulia karena Alquran, atau mereka akan direndahkan karena penolakan kepada Alquran.

﴾۴۳۱﴿وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ
Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu, tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?" (QS Thahaa : 134)

Penolakan terhadap suatu dzikir demikian akan mendatangkan kebinasaan yang membawa kehinaan dan kerendahan. Allah tidak mendatangkan adzab demikian kecuali Allah telah mendatangkan rasul yang membacakan ayat Alquran dan kaum tersebut menolaknya. Orang yang memperoleh pemahaman dari Alquran tentang bentuk dzikir mereka adalah orang-orang yang telah mencapai kebersamaan dengan Rasulullah SAW dalam al-jamaah. Mereka mengatakan apa yang mereka pahami, sedangkan pemahaman mereka sepenuhnya merupakan bagian dari pemahaman Rasulullah SAW. Bila mereka salah, kesalahan itu tidak merusak ajaran Rasulullah SAW. Manakala mereka membacakan ayat Allah, mereka sebenarnya menyampaikan kepada kaumnya bacaan Rasulullah SAW, walaupun terbatas dalam pemahaman dirinya.

Seandainya adzab tersebut diberikan sebelum dibacakan kepada mereka ayat Alquran, tentulah kaum itu akan bisa berkata : "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?" Tetapi Allah telah menurunkan ayat Alquran, maka hendaknya dipikirkan mengapa terjadi peng-andaian. Perkataan demikian menggambarkan keadaan yang akan menimpa suatu kaum manakala mereka ditimpa adzab karena tidak mengikuti bacaan Alquran. Barangkali mereka menyangka bahwa Allah tidak mengutus kepada mereka rasul yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alquran. Barangkali mereka kebingungan mengapa mereka tidak mengikuti saja ayat-ayat Allah. Barangkali mereka merasa kebingungan mengapa tiba-tiba mereka menjadi hina dan rendah.

Keseluruhan tanda tanya itu hanya ada dalam pikiran mereka. Kenyataan yang sebenarnya, Allah telah mengutus rasul untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat Alquran sedangkan mereka tidak mengikuti bacaan Alquran itu sehingga mereka ditimpa adzab yang menjadikan hina dan rendah. Adzab yang diancamkan itu diperuntukkan bagi umat manusia setelah Alquran diturunkan. Manakala adzab itu terjadi, Allah sebenarnya telah mengutus rasul membacakan ayat Alquran kepada mereka. Bila mereka bersikap tidak benar pada pembacaan ayat Alquran, maka Allah akan memberikan adzab demikian sedangkan mereka mengira Allah tidak mengutus rasul untuk membacakan kepada mereka ayat Alquran. Allah telah mengutus rasul membacakan kepada mereka Alquran sedangkan mereka tidak memperhatikan bacaan itu. Mereka lebih meyakini pemahaman mereka daripada bacaan rasul terhadap ayat Allah.

Ketika mereka mengira Allah tidak mengutus rasul membacakan ayat Allah, barangkali mereka terkena fitnah atau mereka tidak menggunakan akal mereka. Fitnah dapat menjadikan seseorang berpikir tentang sesuatu secara tidak semestinya atau bahkan berkebalikan. Demikian pula kelemahan akal akan menjadikan seseorang sulit untuk memberikan nilai secara benar terhadap suatu kebenaran atau kesesatan. Bila kedua hal tersebut terjadi, maka suatu kaum tidak akan menyadari manakala suatu ayat Alquran dibacakan kepada mereka oleh seseorang yang perkataan mereka sesuai dengan perkataan Rasulullah SAW, sebagai kalimat dalam tingkatan dzikir yang sebenarnya.

Apabila kaum itu terkena fitnah dalam kejadian demikian, fitnah itu sebenarnya terjadi karena perbuatan kaum itu sendiri, bukan karena perbuatan orang yang membacakan ayat Allah kepada mereka. Orang yang membacakan ayat Allah berdasar dzikir tidak mempunyai tanggung jawab terhadap fitnah yang menimpa kecuali dalam lingkup yang sangat terbatas. Bila kaum itu tetap membiarkan perbuatan mereka yang menimbulkan fitnah, mereka akan tertimpa fitnah mereka sendiri. Kadangkala keadaan lebih buruk, mereka boleh jadi mengagungkan sumber-sumber fitnah yang dilakukan di antara mereka atau menghalangi orang-orang yang berusaha menutup fitnah di antara mereka karena tipuan syaitan.

Demikian pula kelemahan dalam menggunakan akal akan menghalangi mereka memahami pembacaan ayat Alquran dengan pemahaman secara semestinya. Mereka bisa menganggap suatu kebenaran sebagai kesesatan dan menganggap kesesatan sebagai kebenaran. Itu merupakan kotoran yang ditimpakan Allah kepada orang yang tidak menggunakan akalnya. Setiap orang hendaknya berusaha menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah, tidak hanya mengikuti perkataan panutan mereka. Bila pemahamannya benar, akalnya akan menguat untuk memahami kehendak Allah. Bila ia keliru, sama saja bobot dosanya baik kekeliruan itu dari pemahamannya sendiri ataupun ketika ia mengikuti pemahaman orang lain. Selama ia berusaha berpikir dan memahami dengan benar sesuai batas kemampuan akalnya, ia tidak akan terbebani dosa yang berat. Bila pemahamannya salah, setidaknya ia tidak ditimpa Allah dengan kotoran akal, sedangkan bila ia hanya mengikuti perkataan orang lain tanpa memahami ia mungkin akan keliru dan tertimpa kotoran pada akalnya.

Setiap orang harus memperhatikan ayat-ayat Allah. Berusaha memahami ayat Allah merupakan pokok yang harus diupayakan. Untuk memahami ayat Allah, ia bisa mengikuti orang lain yang dapat membimbingnya, akan tetapi hendaknya ia tidak melupakan tujuannya untuk memahami ayat Allah dengan akalnya. Bila seseorang berusaha sendiri untuk memahami, ia mungkin akan menyusun pemahaman secara sembarangan dan tidak akan mengetahui kesalahan dalam menyusun pemahamannya. Seorang guru yang benar akan sangat membantu menyusun pemahaman yang benar. Ada adab murid yang harus dipenuhi dalam urusan ini, akan tetapi hendaknya adab itu tidak menjadikan seseorang murid boleh melanggar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Guru yang benar akan mengajarkan tazkiyatun nafs sebagai landasan memahami ayat Allah.

Bila seseorang melanggar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam upaya memahami, atau mereka kacau dalam menyusun pemahaman, barangkali ia akan menjadi kaum yang bertanya mengapa tidak diutus kepada mereka rasul hingga mereka dapat mengikuti ayat Allah. Boleh jadi ia salah dalam memahami pengajaran gurunya, atau ia menutup mata dalam menyusun pemahaman yang benar tentang ayat Allah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang hendaknya menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Bila seseorang menjadi fanatik tidak melihat tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka dapat menjadi kelompok orang yang ditimpa adzab yang menjadikan mereka rendah dan hina.

Penantian Bukti Kebenaran

Kelompok demikian akan menjadi penentang bagi penyampai ayat Allah, baik secara terang-terangan maupun hanya pada sikap dan pendirian mereka. Dalam pertentangan demikian, setiap pihak sebenarnya menantikan suatu peristiwa terbuktinya kebenaran pemahaman masing-masing. Penentang itu mengharapkan munculnya bukti kesalahan orang-orang yang mengikuti ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan orang yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mengharapkan para penentang memahami dan mengikuti kebenaran sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Masing-masing merasa benar dan menantikan bukti kebenaran dimunculkan.

﴾۵۳۱﴿قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَىٰ
Katakanlah: "Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk". (QS Thahaa : 135)

Masing-masing pihak merasa sebagai kelompok yang menempuh jalan yang lurus dan mendapat petunjuk, hanya saja ada perbedaan sikap di antara mereka. Salah satu pihak benar-benar menginginkan berusaha mengikuti ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan pihak lain merasa sebagai pihak yang benar dan mendapat petunjuk. Pihak yang berusaha mengikuti ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW berusaha mengetahui kebenaran dan kesalahan untuk membantu pemahaman penentangnya, sedangkan para penentang ingin melihat bukti kesalahan dari pihak lain. Masing-masing menanti, dan kelak akan mengetahui siapa yang menempuh jalan yang lurus dan mendapat petunjuk.

Bagi para pengikut Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, perbedaan seringkali tidak dapat diabaikan layaknya perbedaan pendapat manusia secara umum. Mereka mengetahui dan berkeinginan menunjukkan kepada kaumnya jalan untuk dekat kepada Allah. Itu merupakan hal yang sangat berharga yang ingin diberikan kepada kaumnya. Pada kasus lain, seringkali mereka mengetahui betapa berbahaya kesalahan yang dilakukan oleh para penentang mereka. Bila tidak diperingatkan, akan timbul bahaya yang sangat besar menimpa mereka. Mereka tidak akan mendekati perbantahan selama tidak ada hal yang berbahaya bagi kaumnya, dan akan berusaha menyelamatkan kaumnya manakala melihat bahaya. Hal-hal demikian akan membuat mereka tidak dapat tenang membiarkan perbedaan yang terjadi.

Demikian pula seringkali para penentang tidak dapat menerima penjelasan dari penyeru kepada ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala terjadi hal demikian, para penyeru akan berpegang pada prinsip dan mengatakan : "Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk". Ujung akhir dari penantian itu akan terjadi manakala terjadi adzab. Perbedaan itu tidak selalu mencapai ujung akhir manakala para penentang bertaubat kembali berusaha memahami ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak memaksakan pemahaman mereka sebagai kebenaran. Selama pemahaman kebenaran mereka dipaksakan tanpa berlandaskan ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW, akan terjadi penantian dari masing-masing pihak hingga adzab Allah diturunkan di antara mereka.



Minggu, 18 Juni 2023

Mendzikirkan Asma Allah dengan Alquran

Tujuan akhir perjalanan kehidupan setiap manusia adalah mengikuti Rasulullah SAW hingga menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Rasulullah SAW merupakan manusia yang dijadikan Allah sebagai penghulu semesta alam. Semesta alam diciptakan Allah untuk memperkenalkan Rasulullah SAW. Beliau adalah makhluk yang mampu mengenal seluruh hakikat penciptaan alam semesta yang hendak Allah perkenalkan, dan dengan keadaan itu beliau SAW dijadikan sebagai panutan bagi setiap makhluk untuk mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang mengenal Allah dengan benar melalui jalan lain tanpa mengikuti tauladan Rasulullah SAW. Untuk menjadi hamba yang didekatkan, beliau SAW menegakkan dzikir dari bait yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan didzikirkan asma-Nya dalam rumah itu.

Mendzikirkan asma Allah merupakan bentuk ibadah yang dikehendaki Allah sebagai bentuk ibadah yang paling besar bagi setiap makhluk. Mendzikirkan asma Allah merupakan tugas yang ditetapkan bagi setiap manusia. Yang dimaksud dzikir adalah upaya seseorang merealisasikan pemahaman mereka tentang kehendak Allah bagi semesta mereka. Allah telah menentukan kewajiban mendzikirkan asma Allah sebelum nabi Adam a.s dan Hawa diturunkan ke bumi. Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah kecuali untuk beribadah, dan bentuk ibadah yang sebenarnya adalah berdzikir.

Berdzikir dengan cara demikian hanya dapat dilakukan bila seseorang memahami kitabullah Alquran hingga Alquran menceritakan kepada dirinya suatu bentuk dzikir yang harus dilakukannya. Tidak ada suatu dzikir tanpa landasan pengetahuan kitabullah Alquran. Seseorang mungkin bisa belajar berdzikir berdasarkan bacaan orang lain yang memahami kitabullah Alquran, tetapi dzikir yang sebenarnya terjadi manakala kitabullah Alquran memberikan cerita kepada dirinya tentang dzikir yang harus dilakukan dirinya.

﴾۳۱۱﴿وَكَذٰلِكَ أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari janji-janji agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menceritakan adz-dzikra bagi mereka. (QS Thahaa : 113)

Cerita dari Alquran tentang bentuk dzikir yang harus dilakukan seseorang merupakan bentuk ketakwaan yang diberikan Allah. Bia ia melaksanakan dzikir itu, ia menjadi orang yang bertakwa dengan sebenarnya. Seseorang dapat mengetahui kadar ketakwaannya berdasarkan nilai bacaan Alquran yang ditampakkan kepada dirinya. Atau seseorang belajar bertakwa dengan mengukur kesesuaian keadaannya dengan lafadz Alquran yang dapat dipahaminya. Seseorang tidak dapat mengukur kadar ketakwaan dirinya berdasarkan emosi yang ada pada suatu saat. Manakala seseorang merasa dekat kepada Allah, belum tentu sebenarnya ia dekat kepada Allah karena boleh jadi itu hanya luapan hawa nafsu. Hal demikian bisa digunakan untuk membina diri seseorang dalam ketaatan kepada Allah dengan menyentuh hawa nafsu, dan sangat mungkin merupakan suatu kebaikan, akan tetapi bukan suatu ukuran ketakwaan yang benar. Nilai ketakwaan seseorang dapat dilihat dari adz-dzikra yang muncul dari Alquran kepada dirinya.

Tanpa landasan Alquran, pengikut Rasulullah SAW tidak dapat mengukur ketakwaan diri. Setiap pengetahuan langit yang terbuka kepada seorang hamba hendaknya memperoleh landasan dari Alquran agar dapat diukur kebenarannya. Alquran dapat menunjukkan pengetahuan yang terbuka kepada seseorang dan mengklasifikasinya sebagai inti pengetahuan, pengetahuan sekunder atau hiasan-hiasan bagi pengetahuan yang terbuka atau bahkan bunga-bunga hawa nafsu yang terkandung dalam suatu pengetahuan. Dengan mengetahui klasifikasi pengetahuan berdasarkan Alquran, seseorang dapat mengukur kadar ketakwaan dirinya.

Sebagian dari pengetahuan inti yang terbuka kepada seorang hamba dari Alquran adalah adz-dzikra yang akan menceritakan kepada mereka bentuk amal ibadah yang terbesar bagi mereka. Tidak ada adz-dzikra yang tidak secara langsung berhubungan dengan suatu nash dari Alquran. Adz-dzikra tidak berbentuk sebagai pengetahuan turunan dari Alquran, tetapi selalu sebagai pengetahuan inti tentang suatu kandungan dalam nash Alquran. Suatu ayat Alquran boleh jadi membuka suatu pengetahuan yang sangat besar tentang ayat kauniyah pada semesta dan semua itu menjadi pengetahuan inti dari suatu ayat Alquran. Walaupun demikian hendaknya seseorang yang mengalami keterbukaan tetap berhati-hati terhadap kemungkinan kesalahan informasi, tanpa mengingkari adz-dzikra yang terbuka pada mereka.

Suatu adz-dzikra yang diberikan kepada seorang hamba berkaitan dengan adz-dzikra bagi sahabatnya. Suatu jamaah dapat mengikuti langkah sahabatnya untuk memperoleh adz-dzikra bagi masing-masing. Adz-dzikra bagi seseorang berkaitan dengan ruang dan jaman mereka, dan setiap orang pada ruang dan jaman yang sama pada dasarnya akan menghadapi ayat kauniyah yang sama, walaupun mungkin berbeda-beda dalam detail masalahnya. Dengan keadaan demikian, suatu adz-dzikra yang terbuka pada salah seorang di antara kaum akan dapat menjadi sumber adz-dzikra bagi yang lain, hanya saja bentuk-bentuk pengetahuan mereka mungkin berbeda.

Suatu adz-dzikra akan mempunyai dampak yang berbeda-beda terhadap kaum yang berbeda. Sekalipun sama-sama muslim, seringkali dampak yang timbul berbeda-beda tergantung akal mereka. Suatu kaum yang menggunakan akal akan mudah untuk mengenali dan bersama-sama mengerjakan amr Allah untuk ruang dan jaman mereka manakala suatu adz-dzikra diturunkan kepada salah seorang di antara kaum tersebut. Kaum yang tidak menggunakan akal dan pikiran seringkali hanya akan ditimpa kebingungan membaca suatu adz-dzikra yang diberikan. Mereka tidak akan mudah untuk menilai bobot suatu kebenaran dan membedakannya dari kesesatan hingga suatu kesesatan disangka sebagai kebenaran dan suatu kebenaran disangka sebagai kesesatan. Kebingungan demikian merupakan najis (ar-rijs) yang ditimpakan Allah kepada kaum yang tidak menggunakan akalnya.  

Mawas Diri dengan Alquran

Bila seseorang melaksanakan dzikir mereka, mereka sebenarnya juga meninggikan asma Allah bagi semesta mereka. Semesta mereka akan melihat bahwa Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya. Mereka memahami hal demikian dengan akal mereka, tidak berdasarkan suatu doktrin yang tidak mereka pahami maknanya. Sebagian manusia menyusun perkataan tentang Allah tanpa berdasar pengetahuan karena mengikuti syaitan tanpa menyadari. Sebagian orang berusaha mengagungkan asma Allah dengan hawa nafsu mereka, maka mereka tidak berhasil mengantarkan orang-orang yang mengikuti menjadi memahami bahwa Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya kecuali hanya anggukan kepala tanpa memahami maknanya. Sebagian di antara orang yang mengagungkan asma Allah justru mencegah para pengikut mereka menggunakan akal dan pikiran mereka dan menjadikan mereka sebagai kaum yang bodoh tanpa akal hingga mungkin mereka menghinakan orang-orang yang memperoleh adz-dzikra.

﴾۴۱۱﴿فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (QS Thahaa : 114)

Salah satu keadaan yang justru bisa menjadikan suatu kaum menjadi bodoh adalah tergesa-gesanya seseorang dengan Alquran sebelum sempurna diturunkannya pemahaman mereka hingga mencapai keadaan adz-dzikra. Pada dasarnya ilmu dari Alquran bagi hamba-Nya tidak akan pernah mencapai kesempurnaan dan akan selalu bertambah hingga tidak akan pernah suatu pemahaman Alquran diturunkan secara sempurna. Akan tetapi ada suatu keadaan dimana suatu ayat Alquran dikatakan diturunkan secara sempurna, yaitu manakala Alquran memberikan cerita tentang Adz-dzikra yang menjadi amal shalih bagi seseorang bagi ruang dan jaman mereka.

Adz-dzikra akan menempatkan seseorang pada suatu kedudukan di antara al-jamaah, yaitu para pengikut Rasulullah SAW yang sebenarnya. Mereka akan dijadikan memahami kedudukan Rasulullah SAW di antara semua ciptaan, dan memahami kedudukan dirinya di antara para pengikut Rasulullah SAW. Ia mengenal kepada siapa ia harus bermakmum agar terhubung kepada Rasulullah SAW. Ia mencapai sebuah musyahadah yang sebenarnya, bahwa tiada Ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah. Kedudukan ini akan diperoleh seorang hamba Allah setelah ia mengenal penciptaan dirinya. Walaupun seseorang yang mengenal diri dikatakan mengenal rabb-nya, pengesahan musyahadah seorang hamba yang sebenarnya terhadap ilahiah bukanlah musyahadah penciptaan diri, tetapi musyahadah bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah. Seseorang tidak dikatakan tergesa-gesa membacakan Alquran manakala ia mengetahui dzikirnya sebagai bagian dari amr jami’ yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.

Ketergesaan seseorang membacakan Alquran ditunjukkan dengan pengakuan diri terhadap status dalam Alquran tanpa memahami kedudukan dirinya dalam Al-jamaah. Tidak ada salahnya bagi setiap orang mengajarkan kandungan kitabullah kepada orang lain selama dilakukan berdasar kebenaran dengan niat yang baik, akan tetapi pengajaran itu akan menjadi salah manakala ia melakukan pengakuan-pengakuan status diri dalam Alquran sedangkan ia tidak mengetahui kedudukan dirinya di antara jamaah Rasulullah SAW. Kesempurnaan pemahaman Alquran mempunyai beberapa parameter yang kokoh dan menyatu yang harus terpenuhi. Bila seseorang tergesa-gesa membacakan Alquran, ia tidak akan menemukan adz-dzikra dan tidak dapat mendzikirkan dan meninggikan asma Allah bagi semesta mereka, atau justru akan menimbulkan kerusakan di antara umatnya. Mereka akan terhijab karena ketergesa-gesaannya.

Orang yang telah memperoleh adz-dzikra tidak termasuk dalam golongan orang yang tergesa-gesa dengan Alquran. Hukum tentang ketergesaan dengan Alquran tidak berlaku bagi mereka sehingga mereka boleh melakukan pengakuan terhadap kedudukan diri dalam Alquran atau tidak melakukannya agar umat lebih tajam dalam memperhatikan Alquran. Manakala mereka menegaskan kedudukan diri mereka, mereka berkeinginan agar orang lain memperhatikan Alquran, tidak memperhatikan dirinya. Penegasan mereka bukan ketergesaan dengan Alquran, karena mereka mengetahui kandungan dalam Alquran bukan hanya sampulnya saja. Penegasan pengakuan seseorang yang memperoleh Adz-dzikra tentang kedudukan mereka dalam Alquran salah satunya seringkali menunjukkan adanya kelemahan akal suatu kaum dalam memperhatikan Alquran sedangkan mereka merasa mempelajarinya. Seseorang yang dengan mudah menunjukkan kedudukan diri mereka seringkali termasuk dalam golongan yang tergesa-gesa dengan Alquran tanpa mawas diri.

Bagi kaum yang mencari adz-dzikra bagi mereka, hendaknya mereka memperhatikan benar-benar kandungan Alquran yang disampaikan kepada diri mereka. Hanya pemahaman Alquran yang dikatakan sempurna yang dapat mengantarkan menemukan adz-dzikra. Tidak semua ilmu Alquran yang disampaikan orang lain kepada mereka merupakan pemahaman yang sempurna yang dapat mengantarkan mereka menemukan adz-dzikra. Sebagian dari ilmu Alquran yang menakjubkan kadangkala hanya merupakan sampul-sampul pengetahuan yang diturunkan melalui Alquran, bukan kandungan yang sebenarnya yang dapat mengantarkannya memperoleh adz-dzikra. Sumpah-sumpah seorang pengajar tentang keadaan diri mereka tidak dapat dijadikan pegangan bahwa mereka tidak tergesa-gesa dengan Alquran, karena hal itu seringkali justru menunjukkan ketergesa-gesaan dengan Alquran. Setiap orang hendaknya memperhatikan kandungan Alquran untuk dapat melihat orang-orang yang dapat mengantarkan diri mereka menuju adz-dzikra.

Bagi orang-orang dalam Al-jamaah, tidak ada yang merasa bahwa mereka adalah orang yang paripurna. Hanya Rasulullah SAW insan yang paripurna, sedangkan yang lain menempati hanya kedudukan tertentu sebagai bagian dalam al-jamaah. Hal ini tidak berarti menghilangkan adanya hirarki imam dan makmum, hanya saja setiap diri akan berusaha sebaik-baiknya untuk memperoleh pengetahuan terbaik melalui ketakwaan. Kebersamaan dalam al-jamaah itu telah mencukupi bagi mereka, akan tetapi dalam hal ilmu mereka selalu memohon kepada Allah agar Allah menambahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat. Hal itu terkait dengan kebutuhan pengetahuan mereka tentang Allah dan kehendak-Nya, bukan untuk kemegahan diri mereka sendiri. Tidak ada seseorang dalam Al-jamaah merasa lebih unggul karena pengetahuannya, tetapi lebih merasa perlu memperoleh pengetahuan bersama yang lain.

Selasa, 13 Juni 2023

Dzikir Sebagai Jalan Taubat

Manusia diciptakan sebagai khalifatullah di bumi yang memperoleh amanah untuk memakmurkan bumi mereka. Walaupun demikian, manusia bukan sepenuhnya makhluk bumi. Mereka adalah makhluk yang diciptakan di surga yang dilengkapi dengan jasmani dari bumi. Sebenarnya jati diri penciptaan manusia adalah nafs wahidah yang ada dalam diri mereka sebagai entitas yang layak tinggal di surga, dan jasmani mereka merupakan kelengkapan yang dipakaikan kepada mereka untuk kehidupan di bumi dan di akhirat kelak.

Manusia akan ditarik oleh kehidupan jasmani mereka hingga mereka hidup layaknya makhluk bumi sepenuhnya atau lebih buruk lagi. Hal itu merupakan penurunan dari keadaan yang tinggi, dan telah dialami oleh manusia sejak penciptaan Adam dan Hawa di surga. Hampir setiap manusia akan mengalami penurunan derajat dari makhluk langit menuju makhluk bumi kecuali beberapa insan yang dikehendaki Allah. Akan tetapi Allah menghendaki manusia menjadi pemakmur bumi mereka. Hal ini hanya akan dapat dilakukan bila manusia menempuh jalan kembali kepada Allah hingga mereka mengetahui jati diri penciptaan diri mereka.

﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS Thahaa : 123)

Ayat di atas menjelaskan peristiwa pengusiran Adam dan Hawa dari surga menuju bumi. Adam dan Hawa merupakan gambaran tentang kesatuan diri manusia dengan bagian dirinya. Adam lebih menunjukkan jati diri manusia sebagai nafs wahidah yang mempunyai akal kuat untuk memahami kehendak Allah, sedangkan Hawa lebih menunjukkan aspek manusia pada sisi jasmaniah yang membawa khazanah duniawi bagi suami mereka. Penyatuan kedua entitas itu akan membawa pemakmuran bagi alam bumi mereka karena terlahirnya pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah ke alam bumi. Akan tetapi dalam kehidupan di bumi, kedua entitas dalam diri setiap manusia akan diturunkan derajat mereka ke alam bumi karena pengaruh aspek jasmaniah dan tipu daya syaitan.

Turunnya manusia dari keadaan mereka menjadi serupa dengan makhluk bumi akan menjadikan mereka bermusuh-musuhan satu dengan yang lain. Akal mereka menjadi lemah dan hawa nafsu menguat hingga timbul permusuhan satu dengan yang lain. Permusuhan itu muncul dalam diri setiap manusia karena tumbuhnya hawa nafsu. Bila akal menguat hingga dapat memahami kehendak Allah, manusia akan mempunyai jalan untuk mengurangi dorongan permusuhan dalam diri mereka. Bila tidak ada akal yang kuat manusia akan cenderung selalu bermusuh-musuhan satu dengan yang lain.

Kekuatan akal ditunjukkan dengan kemampuan untuk memahami dan melaksanakan kehendak Allah yang diturunkan melalui petunjuk-petunjuk-Nya. Orang yang memahami dan melaksanakan petunjuk-petunjuk yang diturunkan Allah kepada mereka merupakan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Sebagian orang tidak menerima petunjuk, sebagian menerima petunjuk tetapi tidak memahami, sebagian memahami tetapi tidak mempunyai keberanian melaksanakan, atau tidak mempunyai kemampuan melaksanakan hingga menunda pelaksanaannya atau tidak melaksanakannya, dan sebagian orang memahami dan melaksanakan. Orang yang memahami dan berusaha melaksanakan petunjuk Allah itulah orang yang mengikuti petunjuk Allah. Mereka itulah orang-orang yang tidak tersesat dan tidak akan celaka.

Petunjuk Allah adalah petunjuk yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya. Sangat banyak petunjuk yang mungkin diterima oleh seorang manusia, dan sebagian di antara petunjuk itu adalah petunjuk Allah. Selain Allah, banyak makhluk dapat memberikan petunjuk kepada manusia, di antaranya syaitan selalu memberikan hembusan-hembusan ke dada-dada setiap manusia agar manusia mengikuti kehendak syaitan. Hendaknya setiap orang tidak bermudah-mudah menyangka bahwa petunjuk kepada dirinya adalah petunjuk Allah. Ia harus menguji dengan benar petunjuk yang diterima dirinya.

Petunjuk dan Dzikir

Petunjuk Allah diberikan kepada hamba-Nya yang ingin berdzikir kepada Allah. Dzikir kepada Allah adalah keinginan mewujudkan kehendak Allah yang menjadi amanah bagi dirinya dalam kehidupan di alam dunia. Berdzikir merupakan jalan ibadah yang paling besar bagi setiap hamba Allah. Manakala petunjuk-petunjuk yang diterima oleh seorang manusia tidak terkait dengan suatu keinginan untuk berdzikir kepada Allah, petunjuk itu belum tentu merupakan petunjuk Allah. Seseorang yang tidak mempunyai bersit keinginan mengetahui kehendak Allah atas dirinya sebagai jalan penghambaan dirinya tidak akan menerima petunjuk Allah, walaupun sangat mungkin ia menerima banyak petunjuk dari yang lain.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari dzikir kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thahaa: 124)

Wujud petunjuk Allah akan tumbuh dalam diri setiap hamba Allah selaras dengan langkah uswatun hasanah dalam berdzikir kepada Allah. Petunjuk-petunjuk Allah akan mengarahkan seseorang untuk mengenal jati diri penciptaannya dan mengenali kebersamaan dengan pasangannya dan dapat mendzikirkan dan meninggikan asma Allah melalui kebersamaan itu. Barangkali pada awalnya seseorang tidak mengerti makna petunjuk yang diberikan kepada diri mereka. Petunjuk itu akan tumbuh pemahamannya bila digunakan untuk memahami kitabullah dan ayat-ayat kauniyah dirinya dengan hati yang hanif dan berharap memahami kehendak Allah atas dirinya.

Dengan cara demikian, seseorang akan menuju dan melewati tahapan tiba di tanah haram yang dijanjikan bagi dirinya, kemudian menuju tahapan membentuk bayt di tanah haramnya tersebut bersama isterinya hingga memperoleh izin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di dalam bait mereka. Bila suatu petunjuk tidak menjadikan seseorang melewati tahapan-tahapan itu, boleh jadi petunjuk itu bukan petunjuk Allah atau sebenarnya ia tidak mengikuti petunjuk Allah. Atau tidak ada keinginan berdzikir kepada Allah.

Tahapan itu hendaknya dijadikan alat untuk mengevaluasi langkah dzikir mereka kepada Allah. Tahapan itu bersifat integral dan saling membantu. Mencari bentuk dzikir, mengelola pernikahan dan mencari pengenalan diri harus dilakukan secara sinergis bersama karena saling menentukan keberhasilan. Berusaha mengenali bentuk dzikir akan mengantarkan seseorang untuk mengenali jati dirinya. Demikian pula pernikahan yang baik akan memudahkan seseorang mengenal penciptaan dirinya. Jati diri seseorang sebenarnya menyatu dengan jati diri isteri sehingga profil jati diri dapat dilihat secara lebih komplit melalui pernikahan. Pengenalan terhadap diri dan terhadap isteri akan menjadi bekal seseorang membentuk bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Bila seseorang melupakan salah satunya, ia akan kehilangan salah satu alat kontrol dan evaluasi. Misalnya bila tidak menyadari bahwa keberhasilan mereka diperoleh melalui proses kebersamaan dalam pernikahan, ia atau mereka akan mudah didorong syaitan pada suatu kekejian dan kemunkaran tanpa kendali evaluasi. Mereka bisa saja kemudian kehilangan media berdzikir berbentuk bayt untuk berdzikir dan meninggikan asma Allah.

Setiap orang hendaknya memperhatikan proses setiap tahapan dengan sebaik-baiknya karena akan mempengaruhi kualitas tahap berikutnya. Setiap akhir tahapan menuju tahap baru hendaknya diperhatikan dengan sebaik-baiknya hingga tahapan berikutnya dapat ditempuh dengan baik. Manakala seseorang mengalami keterbukaan pengenalan jati diri penciptaannya, hendaknya ia memeriksa semua pengetahuannya dengan kitabullah dan menimbang manfaat pengetahuannya. Tanpa hal ini, syaitan akan mudah menyesatkan. Syaitan telah menunggu setiap manusia pada masa terbit dan tenggelamnya ruh. Barangsiapa berpaling dari dzikir kepada Allah maka bagi mereka kehidupan yang sempit dan kelak akan dikumpulkan dalam keadaan buta.

Setiap orang hendaknya mengikuti petunjuk Allah. Seringkali petunjuk Allah itu berat bagi hawa nafsu, tetapi mengikutinya akan menyelamatkan langkah mereka dari kesesatan dan kesengsaraan. Petunjuk itu akan mengarahkan manusia pada jalan menuju Allah melalui dzikir kepada-Nya. Dzikir seseorang kepada Allah akan mendatangkan banyak rezeki bagi dirinya baik rezeki jasmaniah maupun rezeki bagi bathin mereka, karenanya mereka akan terhindar dari kesengsaraan dengan mengikuti petunjuk Allah. Itu merupakan nikmat Allah. Kufur kepada nikmat Allah akan mendatangkan adzab yang menyengsarakan.

Menolak petunjuk akan mendatangkan kesengsaraan karena adzab Allah, yaitu bila petunjuk itu terkait dengan jalan berdzikir kepada Allah. Suatu petunjuk terkait dengan pernikahan merupakan petunjuk yang sangat besar karena terkait bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Petunjuk pernikahan terkait pula dengan jati diri nafs wahidah. Di tahapan apapun, petunjuk pernikahan merupakan petunjuk yang bernilai besar. Manakala berat bagi hawa nafsu, petunjuk itu sangat mungkin merupakan petunjuk yang benar, sedangkan bila menyenangkan bagi hawa nafsu maka sulit untuk mengukur bobot kebenaran petunjuk itu. Setiap orang hendaknya berusaha mengikuti petunjuk tidak menolaknya. Bila belum diberi kemampuan atau kesempatan, ia mungkin boleh menunda pelaksanaan petunjuk itu tetapi tidak menolaknya. Bila ia menolak petunjuk, ia akan sangat mudah atau telah tersesat karena memilih jalan kehidupan berdasarkan hawa nafsu, dan akan menghadapi kehidupan yang menyengsarakan.

Kitabullah dan Sunnah Sebagai Petunjuk

Banyak orang merasa mengikuti petunjuk tetapi tidak mengerti keterkaitannya dengan dzikir dan jalan berdzikir mereka kepada Allah. Petunjuk-petunjuk bagi mereka barangkali akan banyak bermunculan tetapi sebenarnya tidak benar-benar menjadi petunjuk karena tidak berkaitan dengan dzikir kepada Allah. Sebagian manusia tidak membina sarana untuk berdzikir dengan petunjuk karena tidak mempunyai keinginan berdzikir tetapi hanya berkeinginan terhadap petunjuk. Kadangkala mereka membina sarana berdzikir berdasarkan petunjuk sembarangan atau petunjuk yang salah tidak menimbang dengan berdasar kebutuhan untuk berdzikir yang terbebas dari kekejian dan kemunkaran. Kelak mereka boleh jadi akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta meskipun memperoleh banyak petunjuk-petunjuk selama kehidupan di dunia.

Berdzikir kepada Allah hanya dapat dilakukan bila seseorang memahami kehendak Allah berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manusia tidak dapat memahami dengan akurat kehendak Allah tanpa berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha menselaraskan pemahaman mereka dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga masalah-masalah detail yang terkait diri mereka. Membina pemahaman demikian itu kelak akan menjadi syafaat bagi mereka di hadapan Allah, hingga mungkin Allah akan memberikan izin kepada orang-orang yang diridhai perkataan mereka untuk memberikan syafaat setelah Rasulullah SAW, yaitu orang yang mempunyai perkataan selaras dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۹۰۱﴿يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Ar-Rahman telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thahaa : 109)

Mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersifat wajib bagi setiap orang yang berusaha kembali kepada Allah dengan mendzikirkan asma Allah. Seseorang tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk kembali kepada Allah, tetapi harus berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebelum Rasulullah SAW diutus, Iblis masih sangat merindukan Rabb yang dahulu mengusirnya dari surga dan ingin kembali kepada-Nya tetapi ia memilih jalannya sendiri untuk kembali kepada-Nya, tidak mau menerima jalan yang ditentukan Allah. Seberapapun besar kerinduannya pada Rabb-nya tidak dapat menjadikannya dekat kepada Allah. Demikian pula manusia, ia harus mencari jalan yang ditentukan Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengandalkan dirinya sendiri.