Pencarian

Selasa, 23 Juni 2020

Agama, Yatim dan Kemiskinan

Shalat merupakan tiang bagi agama. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak melakukan shalat. Namun demikian, tidak setiap orang yang melakukan shalat berarti telah menegakkan agama mereka. Alquran dalam surat Al-Ma’un menjelaskan keadaan orang yang melakukan shalat tetapi sebenarnya termasuk dalam kelompok orang-orang yang mendustakan agama dan akan diganjar dengan neraka wail baginya. 

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ [ المـاعون:4-4] 

Maka neraka wail bagi orang-orang yang shalat, [Al Ma'un:4] 

Ayat tersebut bercerita tentang kecelakaan bagi orang yang shalat. Secara tersurat, ayat tersebut dikaitkan secara lebih kuat dan rapat dengan ayat sebelumnya sebagai penjelasan tentang sebab-sebab keadaan orang yang demikian. Disebutkan secara jelas kata penghubung “maka” yang menunjukkan ayat tersebut sebagai akibat yang berkaitan dengan sebab pada ayat sebelumnya. Shalat yang diganjar dengan neraka wail adalah shalat orang-orang yang mendustakan agama. Ayat berikutnya menjelaskan lebih lanjut tentang tanda keadaan orang yang shalat dengan cara demikian. 

Boleh jadi seseorang merasa aman dengan shalat yang telah dilakukannya, padahal barangkali shalatnya hanya akan diganjar dengan wail. Setiap orang harus memperhatikan shalatnya, agar tidak hanya diganjar dengan wail. Karena disebutkan kata hubung “maka” pada ayat tersebut secara jelas, hendaknya manusia memperhatikan sebab-sebab shalat demikian. Beberapa penyebab shalat yang demikian dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya sedangkan ciri shalat yang diganjar dengan wail dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya. 

Tegaknya shalat seorang hamba tidaklah dapat dilakukan dengan semata-mata berusaha keras memperbaiki pelaksanaan shalat. Tegaknya shalat seorang hamba hanya akan terjadi bila ia juga membangun agamanya. Agama adalah usaha pelaksanaan amanah Allah yang harus ditunaikan bagi semestanya berlandaskan akhlak mulia. Tanpa usaha ini, akan sulit bagi seseorang untuk menegakkan shalat, apalagi bila mendustakan agama. Kadang muncul waham bagi orang yang melakukan shalat bahwa dirinya telah memberikan pelayanan kepada Allah karena shalatnya, sedangkan dirinya tidak memperhatikan pelayanan bagi makhluk lain. Hal ini tidak tepat dan boleh jadi dirinya termasuk orang yang diganjar wail. Allah SWT adalah zat Yang Maha Kaya tidak membutuhkan sedikitpun shalat seorang atau seluruh hamba-Nya, tetapi hamba lah yang membutuhkan shalatnya. 

Barangkali manusia tidak terlalu peka dengan istilah mendustakan agama. Agama sangat terkait dengan masalah keyatiman dan kemiskinan. Bila kehidupan seseorang hanya untuk diri sendiri tidak memikirkan orang lain, boleh jadi dirinya termasuk dalam orang yang mendustakan agama. Orang yang suka menghardik orang yatim dan tidak memikirkan memberi makan orang miskin adalah orang-orang yang mendustakan agama. 

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ [ المـاعون:2-3] 

Itulah orang yang menghardik yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [Al Ma'un:2-3] 

Menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin adalah parameter yang jelas tentang orang yang mendustakan agama. Ada banyak proses yang menjadikan seseorang berangsur-angsur berbuat demikian terkait dengan akhlak dalam dirinya. Keinginan terhadap dunia dan hawa nafsu yang diperturutkan akan membuat orang sedikit demi sedikit tergelincir ke arah tersebut. 

Yatim 


Yatim yang dipahami umum adalah anak yang telah ditinggalkan oleh ayahnya sehingga tidak memperoleh pendukung dalam kehidupannya di alam dunia. Akan tetapi yatim tidak hanya terkait dengan kehidupan dunia saja. Rasulullah SAW dikatakan sebagai yatim ketika belum mengenal rabb-nya. Secara dzahir rasulullah SAW terlahir sebagai yatim tanpa ayah yang mendukung kehidupan dunia beliau, akan tetapi status yatim beliau SAW disematkan hingga Allah menemukan beliau SAW, yaitu pada kurang lebih saat ayat berikut turun : 

أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَ‍َٔاوَىٰ [ الضـحى:6-6] 

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? [Ad Duha:6] 

Ayat ini bercerita tentang peristiwa ketika Allah SWT menemui Rasulullah SAW. Digunakan bentuk kalimat present future yang menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi pada waktu ayat tersebut datang. Sebelum itu, rasulullah SAW adalah seorang yatim yang berjalan dimuka bumi mencari Allah. Kemudian Allah memperkenalkan diri-Nya kepada rasulullah SAW, maka rasulullah SAW tidak lagi yatim dan Allah memberikan perlindungan bagi rasulullah SAW sebagai wujud perwalian Allah sepenuhnya bagi beliau SAW. 

Sebelum keyatiman itu berakhir, sebenarnya Allah telah memperkenalkan diri-Nya secara kilasan-kilasan kepada rasulullah SAW dalam bentuk petunjuk-petunjuk. Keadaan yatim akan menjadikan manusia merasakan kegelapan. Tekanan kehidupan bagi seorang yatim akan menyebabkan kehidupannya mengalami gelap dan terang, gelap ketika menanggung datangnya ujian dan terang dengan datangnya petunjuk. Hal itu merupakan mekanisme datangnya petunjuk tentang Allah, yang berkehendak untuk menjadi wali bagi dirinya. Rasulullah SAW sebagai penghulu bagi orang yang ingin mengenal Allah mengalami keadaan demikian sebelum mengenal Allah, sebagai tauladan bagi orang-orang yang ingin mengikuti beliau SAW untuk mengenal Allah. Hal ini diterangkan dalam ayat berikut : 

وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ [ الضـحى:7-7] 

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. [Ad Duha:7] 

Kegelapan yang dialami rasulullah SAW bukanlah kegelapan dalam wujud kesesatan. Kegelapan itu dalam wujud ujian-ujian kehidupan yang tidak sepenuhnya dimengerti. Setiap orang yang mencari Allah akan mengalami kegelapan-kegelapan dalam bentuk demikian, dan dengan keadaan demikian Allah memperkenalkan diri-Nya dalam kilasan-kilasan petunjuk. 

Seringkali kehidupan orang yang ingin mengikuti rasulullah SAW dibentuk dalam kehidupan yatim. Sekalipun misalnya memiliki harta sangat banyak yang diwariskan oleh walinya, kaya raya, tetapi seorang yatim tidak mempunyai akses terhadap kekayaannya karena belum cukup akal. Demikian pula kadangkala seseorang diberi bekal sangat banyak untuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya dijadikan yatim oleh rabb-nya. Ketika membutuhkan sesuatu, tidak ada makhluk yang datang memberinya. Ketika sakit tidak ada yang merasa kehilangan, tidak ada yang merasa memerlukannya atau mengundang dirinya dan ketika mengundang tidak ada yang menghadiri undangannya. Kehidupannya seolah-olah gelap. Dalam kegelapan itulah petunjuk-petunjuk Allah akan bersinar dengan jelas bagi akalnya bila dirinya ikhlas dan berusaha bersabar. Akan tetapi seringkali beban kehidupan dan kegelapan tersebut menjatuhkannya pada keluhan yang menyebabkannya ditimpa kekufuran. Perjalanannya akan terhenti pada kesulitan-kesulitan duniawi, tidak membuatnya mengenal Allah, dan kadang menariknya kepada neraka. 

Keyatiman itu kadangkala tidak berhenti hanya pada aspek dunia seseorang. Kadangkala jiwapun dijadikan yatim. Cinta kasih dalam jiwanya dipisah dari hak-haknya melalui mekanisme yang mungkin terlihat rumit dalam ukuran manusia. Allah kadangkala mengijinkan syaitan untuk membuat fitnah-fitnah bagi jiwa seseorang melalui hubungannya bersama pasangannya. Ketika mencintai pasangannya, pasangan dibuat tidak menyambut cintanya. Keinginannya mengajak pasangan pada jalan Allah tidak disambut dengan layak, justru pasangannya lebih mempercayai orang yang akan mencelakakannya. Ketika berumah tangga, usahanya memberi kebaikan bagi pasangannya dianggap angin lalu oleh pasangannya tanpa rasa syukur, atau boleh jadi pasangannya meninggalkannya bersama orang lain atau pasangannya dirampas orang lain. Banyak hal yang mungkin terjadi pada seseorang hingga jiwanya menjadi yatim. 

Persoalan ini bukanlah persoalan romantika percintaan. Keberpasangan dalam hal ini merupakan masalah setengah bagian dari agama. Bagi kaum mukminin, pasangan merupakan ladang pertumbuhan jiwanya, atau jalan kepada tuhannya. Firaun adalah jalan bagi Asiyah r.a mengenal rabb-nya, sedangkan rasulullah SAW jalan bagi ummahat al-mukminin. Setiap suami adalah jalan bagi istri-istrinya. Makrifat seorang istri adalah pengenalannya terhadap urusan Allah SWT bagi dirinya melalui suaminya. Tidak ada jalan lain bagi seorang istri selain suaminya. Makrifat bagi perempuan itu kemudian akan terlihat dalam wujud tumbuhnya sifat-sifat perempuan ahli surga berupa sifat alwaduud (penuh cinta), alwaluud (subur) dan selalu kembali kepada suaminya. 

Makrifat ini akan selalu berusaha dihancurkan syaitan. Seorang istri mungkin bisa berusaha keras hingga memaksakan diri untuk memberikan amal terbaik kepada suaminya. Bila makrifatnya tumbuh, pelayanan itu akan mudah dilaksanakan. Akan tetapi syaitan akan selalu berusaha menjatuhkannya dalam usaha yang memayahkan dengan mencegah tumbuhnya pemahaman terhadap suaminya. Rumah tangganya akan tampak menjadi seperti neraka baginya. Suaminya akan tampak seperti orang yang tidak tahu terima kasih atas usahanya, sedangkan rezeki dari usaha suaminya akan sering mengalami kegagalan karena tidak adanya sifat subur dalam diri istrinya. Sulit menumbuhkan rasa bersyukur dalam keadaan seperti ini, dan cenderung membuat seorang istri kufur terhadap suami. 

Bagi seorang laki-laki, istri adalah ladang bagi jiwanya. Ketika pasangan mengkhianatinya, maka hal itu dapat diibaratkan tanaman yang dicabut dari ladangnya. Ini merupakan wujud keyatiman yang lebih dalam dan hal itu juga akan memunculkan keyatiman pada sisi duniawi dengan mekanisme yang rumit. Bila seorang suami mensia-siakan istrinya, sebenarnya akan mensia-siakan diri sendiri. Sikapnya terhadap istrinya sebenarnya adalah sikapnya terhadap dirinya sendiri, karena akan kembali kepada dirinya sendiri. 

Membangun Agama Melalui Kemiskinan dan Yatim 


Masalah yatim dan kemiskinan menjadi tema pokok dalam agama. Orang yang berpikir hanya kepentingan dirinya dan tidak berpikir tentang kebutuhan orang lain atau makhluk lain tidak akan dapat memperoleh agama, karena dia sebenarnya mendustakan agama dalam sikap batinnya walaupun mungkin tidak mengungkapkan secara lahir atau lisannya. Demikian pula orang yang mendzahirkan hardikan terhadap orang yatim berarti mendustakan agama. 

Memperhatikan kemiskinan menjadi sebuah syarat dasar bagi setiap orang untuk membangun agamanya. Tanpa kepedulian terhadap kemiskinan, tidak ada agama bagi seseorang. Barangkali seseorang bisa menipu diri untuk melakukan shalat khusyuk tanpa memiliki perhatian terhadap masalah kemiskinan, akan tetapi shalat itu akan diganjar dengan neraka wail. Sebenarnya tidak ada shalat khusyuk bagi orang yang tidak memiliki perhatian terhadap masalah kemiskinan. 

Dalam masalah yatim, Allah berkehendak memperkenalkan perwalian-Nya kepada orang yatim dan orang yang mengurus orang yatim. Dalam kehidupan yatim, Allah berkehendak untuk memberikan perwalian kepada seseorang bila orang tersebut beriman dan tidak mengeluh. Allah akan menjadi wali baginya. Allah juga memberikan jalan lain untuk memperkenalkan perwalian-Nya bagi manusia, kepada orang yang mengurusi kehidupan orang yatim dengan berusaha tidak menghardiknya, adil dan tidak menginginkan untuk menguasai hartanya. Persoalan yatim menjadi tema sentral yang tinggi dalam agama karena menyangkut perwalian-Nya bagi manusia. 

Bila seseorang atau sebuah jamaah berkeinginan untuk membangun agama, maka masalah kemiskinan dan keyatiman harus menjadi menu utama dalam pembahasan jamaah. Sebuah jamaah akan tertipu dalam kesibukan bilamana terjebak dalam perjuangan untuk kemegahan, fanatisme kelompok ataupun kebanggaan bertuhan dengan melupakan masalah kemiskinan dan keyatiman. Bilamana ada orang yang mampu mengurus masalah orang yatim, itu menjadi lahan yang baik untuk memperoleh pengenalan terhadap perwalian Allah bila dilakukan dengan ikhlas dan sepenuhnya menjaga amanah harta yatim yang diurus. Bilamana tidak mampu, maka harus sebisa mungkin menghindari sikap menghardik orang yatim. Setidaknya setiap orang beriman harus memikirkan kemanfaatan dirinya bagi orang lain, terutama bagi orang yang miskin. 

Sikap seseorang terhadap seorang yatim menjadi parameter agama. Mengurus yatim merupakan sumber keutamaan bagi yang melakukannya, baik mengurus yatim dalam bentuk anak-anak yang ditinggalkan ayahnya ataupun yatim dalam wujud sebagaimana rasulullah SAW sebelum ditemui Allah. Mungkin bentuk kedua tidak diperuntukkan bagi semua orang, hanya untuk orang-orang yang mengenal penciptaan dirinya. Akan tetapi setiap orang harus memperhatikan sikap yang benar terhadap setiap yatim. Barangkali yatim tersebut orang yang benar-benar mengikuti rasulullah SAW. Setiap orang yang mengurus yatim harus berusaha memberikan kasih sayang sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, menjadikan si yatim sebagaimana anaknya atau dirinya sendiri. Bila tidak mampu melakukan, setidaknya manusia tidak boleh melakukan hardikan terhadap anak yatim. 

Setiap orang harus berhati-hati dalam mengurus orang yatim. Memakan harta yatim merupakan dosa yang menghancurkan, yang dikenal sebagai al-mubiqaat. Dosa-dosa tersebut merupakan makar syaitan baik secara kasar ataupun halus. Dengan dosa semacam ini, umat akan hancur. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ 

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau SAW menjawab, “Syirik kepada Allâh; sihir; membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; lari dari perang; dan melakukan qadzaf terhadap wanita-wanita yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan lalai”. [HR. Al-Bukhâri, no: 3456; Muslim, no: 2669] 

Yatim dan kemiskinan merupakan sendi utama yang menjadi bahan dalam membangun agama. Banyak masalah yang harus dimengerti dalam agama, dan hal itu dapat digali melalui keyatiman dan kemiskinan. Dengan membangun agama maka seseorang dapat berusaha menegakkan shalatnya. 

Selasa, 26 Mei 2020

Petunjuk dan Permainan dalam Kehidupan Dunia


Orang-orang beriman hendaknya berjalan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tidak menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau. Rasulullah diperintahkan untuk meninggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, karena mereka adalah orang-orang yang tertipu dalam kehidupan dunia. Demikian pula orang-orang yang beriman hendaknya meninggalkan sikap yang demikian. 

وَذَرِ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَهُمۡ لَعِبٗا وَلَهۡوٗا وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ وَذَكِّرۡ بِهِۦٓ أَن تُبۡسَلَ نَفۡسُۢ بِمَا كَسَبَتۡ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ وَإِن تَعۡدِلۡ كُلَّ عَدۡلٖ لَّا يُؤۡخَذۡ مِنۡهَآۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أُبۡسِلُواْ بِمَا كَسَبُواْۖ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ [ الأنعام:70-70] 

Dan biarkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah dengannya agar jiwa itu tidak dijerumuskan karena perbuatannya sendiri (dimana) tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan karena usaha mereka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. [Al An'am : 70] 

Kehidupan dunia adalah permainan. Seseorang dapat mengalami kemenangan atau kekalahan dalam permainan. Demikianlah setiap orang diciptakan di alam dunia sebagai alam permainan. Sebagian orang bersungguh-sungguh dalam permainan hingga menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan hidup, menjadikan dunia sebagai tolok ukur kemenangan dan kekalahan, dan sebagian manusia mencari hal-hal yang lebih hakiki daripada permainan dunia. Sebagian besar manusia berada di antara kesadaran yang tercampur baur. Tujuan kehidupan mereka bercampur pada pencarian hal yang hakiki dan permainan dunia. 

Di antara manusia demikian, ada orang-orang yang menjadikan kehidupan dunia lebih utama dan menjadikan jalan agama sebagai bahan permainan memenangkan dunia, atau mereka mengalahkan agama demi dunia mereka. Ketika agama menguntungkan dunia mereka, mereka mengambilnya dan ketika agama merugikan dunia mereka, mereka meninggalkannya. Mereka itu adalah orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan. Sebagian orang menganggap agama mereka sangat ringan, tidak menganggapnya sebagai jalan hidup yang bernilai yang perlu diperjuangkan. Mereka adalah orang yang menjadikan agama sebagai senda gurau. 

Orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau merupakan golongan orang yang beragama tetapi tidak bersungguh-sungguh dalam agama mereka. Mereka termasuk orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka adalah orang-orang yang terancam terjerumus karena usaha-usaha yang mereka lakukan dalam kehidupan dunia. Apa-apa yang mereka usahakan dalam kehidupan dunia akan menyebabkan mereka terjerumus, sedangkan mereka sebelumnya berada dalam tepi jurang keselamatan dan permainan. 

Peringatan bagi mereka hendaknya disampaikan dengan ditunjukkan kepada mereka keadaan yang sebenarnya. Bilamana peringatan demikian tidak menyadarkan mereka, mereka akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang akan membuat kehidupan semakin tidak nyaman dan menyiksa. Pengetahuan yang mereka peroleh untuk kehidupan dunia tidak akan membuat kehidupan yang tenteram tetapi justru membuat kehidupan mereka panas dan menyiksa. Hal itu kelak akan berubah menjadi wujud neraka dalam kehidupan akhirat. 

Untuk selamat dari hal demikian, perlu akidah yang kuat ditumbuhkan dalam hati. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan syafaat bagi mereka dan tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pelindung mereka dari keterjerumusan mereka. Hanya akad dengan Allah yang dapat menjadi wali dan pemberi syafaat bagi keselamatan dalam kehidupan mereka, menyelamatkan mereka dari keterjerumusan. Tidak ada suatu tebusan pun yang dapat menyelamatkan kehidupan mereka selama mereka masih menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau. Tebusan-tebusan yang mereka lakukan atau mereka bayarkan akan bernilai sangat ringan sehingga tidak dapat menyelamatkan mereka. 


Petunjuk dan Kebingungan 


Permulaan dari tindakan menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau dapat dilihat ketika seseorang meninggalkan petunjuk dan memilih mengikuti keinginan sendiri. Orang-orang yang menjadikan doa-doa dan petunjuk jawaban atas doa-doa mereka sebagai bahan permainan untung dan rugi duniawi adalah dalam kategori orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Mereka akan berbalik membelakangi petunjuk-petunjuk setelah datang kepada mereka jawaban-jawaban atas doa-doa dan harapan dalam hati mereka kepada Allah. Ada perhitungan-perhitungan keuntungan dan kerugian duniawi sehingga mereka berbalik membelakangi petunjuk Allah bagi mereka. 

Keadaan mereka akan memulai hingga hampir menyerupai orang-orang yang berdoa kepada selain Allah, berdoa kepada segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan madlarat. Berdoa ataupun tidak berdoa hampir-hampir tidak ada artinya bagi mereka, karena kalaupun Allah menjawab doa dan memberikan petunjuk kepada mereka, mereka akan berbalik dari petunjuk yang diberikan dan memilih keinginan mereka sendiri. Demikian itu merupakan sikap yang akan terungkap dari orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka akan terjerumus dalam kekufuran. 



قُلۡ أَنَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعۡقَابِنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ كَٱلَّذِي ٱسۡتَهۡوَتۡهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِي ٱلۡأَرۡضِ حَيۡرَانَ لَهُۥٓ أَصۡحَٰبٞ يَدۡعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلۡهُدَى ٱئۡتِنَاۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۖ وَأُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [ الأنعام:71-71] 

Katakanlah: "Apakah kita menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan berbalik ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di bumi; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada petunjuk (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, [Al An'am:71] 

Tidak akan ada rasa khusyu dalam doa orang-orang yang berbalik membelakangi petunjuk dan jawaban bagi doa-doa dan harapan mereka. Mereka hampir-hampir mempersamakan Allah dengan sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak memberikan madlarat karena sikap mereka berbalik membelakangi petunjuk Allah yang diberikan ke dalam hati mereka. Alih-alih khusyu dalam doa, sebenarnya mereka terancam untuk terjerumus dalam kehidupan dunia. 

Orang yang bersikap demikian akan menjadi permainan syaitan. Syaitan akan membuat orang tersebut linglung dalam kehidupan dunia, terombang-ambing dalam pilihan-pilihan kosong, tidak ada pilihan yang diperuntukkan bagi mereka. Allah telah menentukan suatu pilihan tertentu dan memberikan beritanya bagi mereka, kemudian mereka menentukan pilihan sendiri. Allah melepaskan mereka dan syaitan menjadikan mereka linglung terombang-ambing dalam pilihan-pilihan tanpa suatu dasar. Hal itu akan membuat mereka linglung tidak mendapatkan pijakan yang mantap dalam kehidupan dunia. 

Bila mereka mencari kebenaran dan petunjuk, kawan-kawan mereka di alam dunia akan menyeru-nyeru pada arah yang berbeda-beda membingungkan arah kehidupannya, sedangkan syaitan akan memberikan petunjuk tanpa dasar kebenaran. Masing-masing kelompok kawan mengatakan untuk mengikuti petunjuk yang mereka ikuti. Orang demikian tidak akan dapat melihat kebenaran secara mantap dari dalam hatinya, hanya akan terombang-ambing dalam kebenaran versi manusia-manusia yang mendatangi mereka. Bila suatu kelompok mengatakan sesuatu, mereka mengikutinya. Demikian pula bila kelompok lain mendatangi, mereka akan tertarik kepadanya tidak memperoleh suatu kebenaran yang mempunyai pijakan dari dalam hatinya. 

Bila ada sebuah petunjuk, setiap orang harus memeriksanya berdasarkan kitabullah dan sunnah rasulullah SAW sebelum dianggap sebagai sebuah petunjuk yang sebenarnya. Petunjuk yang memperoleh penjelasan dari kitabullah itulah petunjuk Allah. Petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya. Hawa nafsu dapat memunculkan petunjuk, dan syaitan dapat memunculkan petunjuk melalui hawa nafsu. Bila tidak mempunyai sebuah basis dari kitabullah dan sunnah rasulullah, sebuah atau banyaknya petunjuk belum dapat dimasukkan dalam petunjuk Allah atau petunjuk yang sebenarnya. 

Bila seseorang memperoleh petunjuk Allah dalam kategori ini, maka hendaknya dirinya mengikuti petunjuk itu sebagai langkah berserah diri kepada Allah. Petunjuk itu boleh jadi sebuah perintah yang perlu dilaksanakan, dan pelaksanaan perintah itu dihitung sebagai langkah keberserahdirian. Keberserahdirian itu akan menjadikan seseorang sebagai umat rasulullah SAW pada hari kebangkitan. Rasulullah SAW akan menjadi saksi bagi umatnya, yaitu orang-orang yang menemukan Alquran sebagai kitab yang menjelaskan segala sesuatu. 

وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ [ النحل:89-89] 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [An Nahl:89] 

Sabtu, 23 Mei 2020

Petunjuk Allah dan Keselamatan


Allah telah menciptakan manusia di surga untuk bertempat tinggal di dalamnya dengan rahmat Allah, dan kemudian memerintahkan manusia untuk turun ke bumi agar menjadi pemakmur bumi. Bumi merupakan tempat tinggal sementara bagi manusia agar manusia belajar tentang petunjuk-petunjuk Allah. Petunjuk-petunjuk Allah harus diperhatikan dan diikuti agar manusia mendapatkan jalan yang benar untuk kembali ke tempat tinggal yang abadi, yaitu bertempat tinggal di surga. 

قَالَ ٱهۡبِطَا مِنۡهَا جَمِيعَۢاۖ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ [ طه:123-123]

Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. [Ta Ha:123]

Allah memerintahkan kepada Adam dan Hawa agar meninggalkan surga ketika keduanya melanggar perintah untuk tidak mendekati pohon khuldi. Karena harus keluar dari surga itu maka umat manusia kemudian menjadi terpecah-belah. Sebagian manusia menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Manusia tidak melihat hakikat secara jelas karena tabiat kehidupan mereka di bumi mengikat. Kedua putera Adam dan Hawa misalnya, salah satu membunuh saudaranya karena penerimaan Allah terhadap kurban yang mereka lakukan. Mereka tidak berselisih perihal kepentingan duniawi, tetapi karena masalah ketakwaan yang tidak dimengerti oleh salah satunya. Keduanya melaksanakan qurban bagi Allah atas hasil pekerjaan mereka untuk mendekatkan diri, dan Allah menerima qurban hanya dari salah satu dari keduanya karena ketakwaannya. 

۞وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ [ المائدة:27-27] 

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) dengan kebenaran, ketika keduanya melakukan kurban (agar dekat dengan Allah), maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata (Habil): "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". [Al Ma’idah:27] 

Masalah di antara kedua putera tersebut adalah tentang sikap terhadap Allah dalam keinginan mereka untuk dekat kepada-Nya. Keduanya melakukan qurban bagi Allah, salah satu melakukannya berdasarkan ketakwaan sehingga Allah menerima qurbannya, sedangkan salah satu tidak memiliki ketakwaan dalam qurbannya walaupun menginginkan kedekatan kepada Allah. 

Tidak ada peran syaitan dalam pembunuhan itu, dan peristiwa itu terjadi adalah murni disebabkan oleh dorongan hawa nafsu manusia yang tidak mengenal ketakwaan. Jiwa yang tidak mengenal ketakwaan itu adalah jiwa yang bodoh yang akan mendorong manusia untuk bermusuhan. Syaitan malah mendapatkan pelajaran dari peristiwa itu untuk menyesatkan manusia ketika manusia menginginkan kedekatan kepada Allah. Syaitan kemudian membuat rencana untuk membangkitkan suatu kaum yang kemudian disebut rasulullah SAW sebagai kaum khawarij. Mereka adalah kaum yang tidak mengenal ketakwaan kepada Allah, sementara mereka menginginkan untuk dekat kepada Allah sebagaimana putera sulung Adam melakukan kurban tanpa ketakwaan. 

Untuk menggembalakan kebodohan nafsu manusia maka Allah mendatangkan petunjuk. Petunjuk akan membuat jiwa manusia menjadi mengenal ketakwaan, sedikit demi sedikit untuk mengenal Allah, hingga pada akhirnya akan dibukakan pengenalan segala sesuatu yang menjadi kehendak Allah yang sebenarnya bilamana manusia mengikuti petunjuk dengan benar. Ada sebuah jaminan bagi manusia yang mengikuti petunjuk yang datang dari Allah berupa tidak akan tersesat dan celaka dalam perjalanan taubat. 

Petunjuk yang harus diikuti adalah petunjuk yang datang dari Allah. Dalam kehidupan manusia, banyak hal yang dapat mendatangkan petunjuk yang mungkin akan menyesatkan. Syaitan dapat memberikan petunjuk kepada wali-walinya, dan dia merupakan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. Hawa nafsu manusia dapat tertipu dengan angan-angan dan keinginan kuat yang berbekas bagaikan sebuah petunjuk. Petunjuk yang harus diikuti adalah petunjuk yang datang dari Allah. 

Macam-macam Petunjuk 


Alquran merupakan petunjuk yang sangat jelas dari Allah. Rasulullah SAW menguraikan petunjuk-petunjuk dalam alquran itu dalam penjelasan dalam wujud semua sunnah-sunnahnya. Keduanya menjadi pedoman pokok bagi manusia untuk berjalan kembali kepada Allah agar tidak tersesat dan celaka dalam perjalanannya. Setiap langkah yang melanggar kedua petunjuk itu akan menyebabkan manusia tersesat dan celaka. Setiap manusia harus mencari dan memeriksa semua langkah perjalanan kembalinya dari Alquran dan sunnah. 

Selain kedua pedoman tersebut, Allah telah menciptakan manusia dengan hati agar dapat mengetahui petunjuk dan peringatan melalui hatinya. Seluruh petunjuk melalui hatinya itu hanyalah untuk membuka apa yang terkandung dalam Alquran dan sunnah yang diperuntukkan baginya sesuai dengan kehendak Allah. Ketika dibaca menurut Alquran dan sunnah, maka petunjuk itu menjadi ayat. Seluruh petunjuk melalui hati harus diperiksa berdasarkan alquran dan sunnah. Tidak ada petunjuk yang benar bila melanggar Alquran dan sunnah rasulullah SAW. Kandungan Alquran dan sunnah hanya akan terbuka berdasarkan petunjuk melalui hati bila seseorang membaca dengan hati yang bersih. Hawa nafsu dapat membuat seseorang membacanya secara salah, tidak sesuai dengan kehendak Allah. 

Petunjuk yang datang dari Allah akan diberikan kepada orang-orang yang telah diterima taubatnya, sebagaimana Adam setelah menerima sebuah kalimat sebelumnya. Akan tetapi Allah juga akan memberikan petunjuk bagi orang-orang yang beriman yang menempuh jalan taubat sebagai sebuah jalan agar Allah menerima taubatnya. Petunjuk demikian adalah sebuah jalan (at-thaariq) yang akan mengarahkan manusia kepada penerimaan Allah terhadap taubatnya. 

ٱلنَّجۡمُ ٱلثَّاقِبُ [ الـطارق:3-3] 

(yaitu) bintang yang cahayanya menembus, [At Tariq:3] 

At-thaariq akan mengarahkan manusia kepada penerimaan Allah terhadap taubatnya. Setelah Allah menerima taubatnya, maka Allah akan mendatangkan kepadanya petunjuk. At-thaariq sepadan dengan bintang yang cahayanya menembus kegelapan malam hingga sampai kepada seorang manusia, maka dengan cahaya itu seseorang yang berada dalam kegelapan memperoleh arah perjalanan. 

Cahaya bintang itu menembus kegelapan. Dalam beberapa kasus, seseorang dapat memperoleh petunjuk dalam hati yang sesuai dengan keadaan dan keinginan dirinya. Hal demikian tidak sepenuhnya menggambarkan sifat bintang yang menembus. Bintang yang cahayanya menembus itu tergambarkan ketika seseorang tidak mengetahui sedikitpun sebelumnya tentang petunjuk yang datang kepadanya. Kadang-kadang bahkan dirinya tidak mengetahui apa yang dimaksud dalam petunjuk itu dalam waktu yang lama. 

Misalnya dalam hal yang merupakan awal dari setengah bagian dari agama, yaitu jodoh. Seseorang mungkin menemukan bintang yang cahayanya menembus dalam wujud penglihatan tentang seorang jodoh yang sama sekali tidak dikenalnya. Dalam beberapa tahun berikutnya, jodoh itu mungkin baru datang dalam kehidupannya. Atau mungkin jodoh yang dilihatnya adalah orang yang sama sekali tidak pernah terpikir untuk berjodoh dengan dirinya, atau malah orang yang tidak disukainya. Hal itu dapat menjadi contoh tentang bintang yang menembus. Cahaya bintang itu menembus kegelapan yang menyelimuti dirinya, menembus semua wahamnya. Setiap manusia memiliki kegelapan yang menyelimutinya pada bidang yang berbeda-beda. 

Mensikapi Petunjuk 


Bintang yang menembus itu adalah at-thaariq yang diperuntukkan bagi dirinya. Cahaya itu akan menunjukkan jalan agar Allah menerima taubatnya. Setiap orang harus mengikuti cahaya itu sebagai bentuk kebersyukuran terhadap petunjuk Allah. Itu merupakan benih cahaya yang akan menjadi cahaya petunjuk Allah dalam jalan lurusnya kelak. 

Harus disadari bahwa dirinya masih dalam kegelapan, karena itu maka dia harus memperoleh seorang guru pembimbing yang benar dalam mengikuti petunjuk, seorang mursyid di jalan taubat. Pada tahap itu, akal seseorang masih lemah bercampur aduk dengan hawa nafsu. Seorang mursyid merupakan pembimbing yang telah berada di atas cahaya petunjuk Allah yang diberi kemampuan untuk membaca semua petunjuk bagi murid yang mengikuti thariqah yang menjadi amanahnya. Beliau akan membimbing manusia meniti thariqah dengan membersihkan jiwanya, mencegahnya masuk dalam jebakan hawa nafsu dan syaitan, mengajari agar kuat akalnya dan pada akhirnya dapat membaca petunjuk Allah yang datang pada hatinya dengan benar. 

Walaupun mungkin hanya berkelip, petunjuk itu merupakan petunjuk dari Allah. Setiap orang harus mensyukuri setiap petunjuk yang datang, dengan berusaha menjadikannya sebagai ayat. Bila petunjuk itu mendapatkan penjelasan dari kitabullah, maka petunjuk itu menjadi ayat. Bila seseorang dibersihkan hatinya, dia harus berusaha membaca petunjuk yang datang dengan kitabullah, dengan disertai ketaatan dalam bimbingan mursyid. Usaha itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya. Sekalipun misalnya petunjuk itu adalah riak-riak hawa nafsu, maka keterangannya dari kitabullah itu akan memberikan ketenangan bagi hawa nafsunya. Kadangkala petunjuk harus dibaca setelah ada rangkaian petunjuk, sebagaimana membaca rasi bintang. Semua harus dilakukan dalam ketaatan kepada mursyid. Pada saatnya akan terbuka jalan terang yang diperuntukkan baginya berupa shirat al-mustaqim. 

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [ البقرة:39-39] 

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Al Baqarah:39] 

Ada jaminan bagi manusia yang mengikuti petunjuk dari Allah berupa tidak akan tersesat dan tidak akan celaka dalam perjalanan taubatnya. Bagi orang yang kufur dan mendustakan ayat Allah, maka dirinya diancam sebagai orang yang menjadi penghuni neraka, tinggal abadi di dalamnya.. Yang disebut kufur dan mendustakan ayat Allah tersebut sebenarnya masih terkait dengan perbuatan tidak mengikuti petunjuk, berupa bentuk kekufuran terhadap petunjuk yang telah mendapatkan penjelasan dari kitabullah dan sunnah. 

Ada perubahan objek pembahasan di antara ayat tersebut dengan ayat sebelumnya, berupa perubahan antara petunjuk menjadi ayat. Tersirat adanya sebuah keadaan tentang orang yang mendapatkan petunjuk akan tetapi tidak berusaha menjadikannya sebagai ayat Allah. Dalam hal semacam ini, syaitan akan berusaha keras untuk menyimpangkan manusia dengan berbagai cara. Syaitan-syaitan akan berusaha menyesatkannya dengan kehidupan di bumi, berusaha membuatnya kebingungan, dan berusaha membuat berbagai kelompok manusia menyerunya untuk kembali kepada mereka berdasarkan petunjuk mereka. Hendaknya setiap orang berusaha keras untuk mencari keterangan petunjuk yang datang kepadanya dengan kitabullah dan sunnah, agar petunjuk itu menjadi ayat baginya. Dan hendaknya dia berusaha tetap teguh dalam berpegang pada petunjuk Allah setelah dijelaskan kepadanya dengan kitabullah dan sunnah. Petunjuk saja tanpa landasan kitabullah akan menjadi sasaran syaitan untuk menyesatkannya. Sesungguhnya petunjuk yang benar itu adalah petunjuk Allah.

Minggu, 17 Mei 2020

Membangun Baitullah sebagai Jalan Menuju Allah


Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Kemuliaan akhlak itu akan terbentuk bila seseorang kembali kepada Allah. Tidak akan terbentuk kemuliaan akhlak dalam diri seseorang bila dia tidak berusaha untuk kembali (taubat) kepada Allah. 



قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [ يوسف:108-108]

Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [Yusuf:108]

Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti beliau akan selalu menyeru manusia untuk kembali kepada Allah dengan berdasar pada bashirah yang jelas. Ada orang-orang yang menyeru untuk kembali kepada Allah, padahal belum mempunyai visi yang jelas apa yang dimaksud dengan kembali kepada Allah, maka sebenarnya belum benar-benar mengikuti rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah. Bahkan syaitan juga menghadirkan bagi manusia penyeru-penyeru yang akan mengantarkan mereka menuju pintu jahannam, maka syaitan kemudian melemparkan orang-orang yang mengikuti seruan itu ke jahannam dari depan pintunya. Mereka adalah para khawarij yang sangat menyerupai orang islam, akan tetapi mereka sebenarnya telah terlempar jauh dari islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. 

Visi yang jelas tentang kembali kepada Allah adalah sebagaimana rasulullah SAW mi’raj ke ufuk yang tertinggi. Beliau SAW dimi’rajkan untuk bertemu dengan rabb-nya, dan kemudian dikembalikan ke dunia. Perjalanan mi’raj beliau merupakan sebuah berjalan kepada Allah dengan bashirah yang jelas, dan itu adalah jalan kembali yang paling singkat bagi makhluk-Nya. Kebanyakan manusia akan menempuh jalan kembalinya dalam waktu yang sangat panjang, membentang sejak dari kehidupan di dunia ini, kemudian memasuki alam barzakh, kemudian hari kiamat dan makhsyar hingga kelak bertemu dengan rabb di akhirat. Namun bukan tidak mungkin seseorang dapat menempuh perjalanan sebagaimana rasulullah SAW, kembali kepada Allah dan mengenal rabb-nya ketika dalam kehidupan di dunia. 

Isra’ mi’raj rasulullah SAW adalah sebuah hadiah Allah bagi hamba-Nya. Beliau diperjalankan Allah dari masjidil haram ke masjidil aqsha, dan kemudian dimi’rajkan ke ufuk yang tertinggi yang dapat dicapai beliau SAW, dan ufuk beliau adalah ufuk yang tertinggi dari seluruh semesta yang diciptakan Allah. Sebenarnya perjalanan semacam itu diberikan kepada hamba-Nya, tidak disebut khusus untuk rasulullah SAW. Allah akan memberikan hadiah perjalanan isra’ dan mi’raj kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, hingga ufuk yang dapat dicapai oleh masing-masing hamba itu. Tentu bentuknya tidak akan sama dengan isra mi’raj rasulullah SAW. 

Sebagai hadiah Allah, seorang insan tidak akan dapat mengusahakan untuk mendapatkan hal itu. Namun ada hal yang dapat diusahakan oleh insan agar memperoleh kesempatan mendapatkan hadiah itu. Seorang manusia harus berada di titik berangkat isra’ yaitu masjidil haram untuk memperoleh kesempatan itu. 

Masjidil haram itu adalah tempat bersujud kepada Allah. Masjidil haram yang dimaksudkan itu adalah tempat bersujud kepada Allah bagi masing-masing insan yang harus dibangun di dalam hatinya. Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh oleh setiap manusia agar dapat membangun masjidil haram, yang secara garis besar adalah sebagai berikut : 

1. Melakukan hijrah hingga mencapai tanah haram 

2. Membangun baitullah 

3. Melakukan pelayanan bagi orang-orang yang thawaf, iktikaf, rukuk dan sujud. 


Tanah Haram 


Sebagai awal proses membangun baitullah dalam hati adalah melakukan hijrah dari ikatan tabiat duniawi hingga menemukan tanah haramnya. Hijrah itu harus dilakukan untuk mengerti arti penciptaan dirinya. Menemukan tanah haram itu adalah mengenali penciptaan dirinya, mengenali untuk tujuan apa Allah menciptakan dirinya. Ketika seseorang mengenali penciptaan dirinya, maka dirinya akan melihat bahwa Allah telah menciptakan dirinya sebagai seseorang yang sangat khusus, tidak akan ada orang yang dapat menggantikan dirinya, tidak akan berebut dengan orang lain dalam urusan dirinya. Sebelum hal itu terjadi, dirinya akan melihat bahwa dunia adalah tempat perebutan satu dengan yang lain dan tidak aman, sedangkan setelahnya dia mengetahui bahwa dirinya berada dalam keadaan yang aman dan tidak akan berebut. 



أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا ءَامِنٗا وَيُتَخَطَّفُ ٱلنَّاسُ مِنۡ حَوۡلِهِمۡۚ حَوۡلِهِمۡۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَكۡفُرُونَ [ العنكبوت:67-67] 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka apakah mereka beriman terhadap hal yang bathil dan kufur kepada nikmat Allah? [Al 'Ankabut:67] 

Bila seseorang telah mencapai tanah haramnya, yang harus diperhatikan adalah hendaknya dirinya membersihkan semua kebatilan dalam dirinya, dan memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang disediakan bagi dirinya. Allah akan memberikan banyak hal ketika seseorang mencapai tanah haramnya, dalam rupa yang bermacam-macam sesuai dengan keadaannya. Akan tetapi pemberian-pemberian itu dimaksudkan untuk menguji apakah dirinya akan menjadi kufur karena pemberian-pemberian itu, dan atau dia akan bersenang-senang karenanya. Hendaknya setiap orang fokus memperhatikan setiap kebatilan-kebatilan dirinya yang mungkin terlihat dalam pemberian-pemberian itu berdasarkan kitabullah, dan memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang diperuntukkan bagi dirinya. 

Kebatilan-kebatilan itu harus benar-benar dibersihkan terlebih dahulu. Setiap kebatilan yang tersisa dan terbawa dalam perjalanan menuju Allah akan menjadi bencana, yang semakin besar bencananya bila semakin dekat dengan Allah. Seseorang tidak boleh terburu-buru untuk memperoleh hadiah berupa Isra’ mi’raj karena boleh jadi akan membawa bencana bila ada kebatilan yang tersisa dalam dirinya. Masih banyak langkah yang harus ditempuh agar layak mengharapkan hadiah Isra’. Boleh jadi Allah mengabulkan harapan itu, dan kelak dia akan mengetahui keadaannya. 

Nikmat-nikmat Allah harus diperhatikan ketika seseorang mencapai tanah haramnya. Pengetahuan tentang nikmat Allah itu harus digunakan untuk melakukan langkah berikutnya, yaitu meninggikan pondasi baitullah dalam hatinya. Tanpa memperhatikan nikmat Allah, seseorang tidak akan mempunyai gambaran tentang baitullah yang harus dibangun di dalam hatinya. 
Meninggikan Dasar-Dasar Baitullah 

Baitullah dapat dibangun bila seseorang telah memperoleh gambaran nikmat Allah yang akan diberikan kepada dirinya. Profil itu adalah pengenalan terhadap jiwanya sendiri. Allah telah menciptakan dirinya dari satu nafs wahidah dirinya sendiri, sebuah jati diri yang dikehendaki Allah dalam penciptaan dirinya. Nafs wahidah dirinya itu adalah aspek langit yang menjadi acuan dalam membangun baitullahnya. 

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ [ البقرة:127-127] 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [Al Baqarah:127] 

Membangun baitullah adalah dengan meninggikan pondasi baitullah. Pondasi baitullah itu adalah aspek duniawi dirinya yang berupa jasmani dan hawa nafsu yang terbentuk dalam kehidupan dunia. Jasmani dan seluruh hawa nafsu harus dibangun agar sesuai dengan nafs wahidahnya, sehingga nafs wahidah itu dapat menghuni raganya dan memimpin seluruh hawa nafsunya. 

Di antara dasar-dasar (qawaid) baitullah bagi laki-laki itu adalah an-nisaa’, atau perempuan. Hal ini disebutkan dalam ayat 60 surat An-Nuur. Setiap orang harus membina baitullah dengan membina pernikahannya, karena istrinya harus menjadi bagian qawaid yang ditinggikan. Kualitas baitullah yang dapat dibangun oleh setiap laki-laki akan sangat dipengaruhi oleh istrinya. Seorang laki-laki tidak akan dapat membangun dirinya sebagai pribadi yang kokoh bila istrinya tidak menjadi pondasi yang kokoh. Setiap istri harus berusaha untuk memberikan pondasi yang kokoh bagi suaminya. 

Akan tetapi Allah memaafkan bila seorang istri tidak mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi baitullah suaminya, selama telah berusaha untuk memberikannya. Mungkin dirinya akan kehilangan kedudukan sebagai pemilik bait; atau dapat membagi beban mendukung baitullah suaminya dengan perempuan lain sehingga suaminya tumbuh dengan baitullah yang kokoh bersama dirinya. Setiap orang harus berusaha memberikan kesempatan bagi laki-laki untuk membangun baitullahnya dengan kokoh. Bila tidak mampu, seorang perempuan tidak boleh bertingkah dengan memperlihatkan perhiasan-perhiasan dunia dan hendaknya tetap menjaga kehormatan dirinya. 

Menjadikan Maqam Ibrahim Sebagai Mushalla 


Keluarga yang berhasil membina baitullah inilah bait yang mendapatkan ijin Allah untuk meninggikan dan didzikirkan di dalamnya asma-Nya, sebagaimana disebutkan dalam ayat An-Nuur. Laki-laki itu adalah orang yang mendapatkan petunjuk untuk mengenal cahaya Allah. Keluarga itu merupakan keluarga yang menjadi tempat berkumpul bagi manusia, dan ada keamanan pada keluarga itu. Dengan demikian keluarga tersebut telah mengikuti millah Ibrahim a.s untuk mendirikan baitullah. 

وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةٗ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنٗا وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ مُصَلّٗىۖ وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ [ البقرة:125-125] 

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". [Al Baqarah:125] 

Hendaknya diketahui bagi orang-orang yang telah mencapai tanah haramnya, dirinya harus membangun baitullah dalam hatinya, membangun jasmani dan hawa nafsunya melalui pernikahan yang baik. Pernikahan yang baik merupakan setengah bagian dari agama yang akan membuat baitullah dalam hatinya berdiri dengan kokoh. Tanpa keluarga yang baik, dirinya akan menjadi manusia yang rapuh. 

Dengan berdirinya baitullah dalam keluarga itu, hendaknya seseorang menemukan maqam Ibrahim dan menjadikan maqam Ibrahim tersebut sebagai kedudukan untuk melakukan shalat. Setelah mengenali maqam Ibrahim dan menjadikannya mushalla, maka hendaklah dirinya melakukan pelayanan dengan menjaga kebersihan baitullah bagi orang-orang yang thawaf, I’tikaf, yang rukuk dan sujud. 

Bila mengenal maqam ibrahim sebagai kedudukan untuk melakukan shalat, maka dirinya dapat berharap agar menjadi golongan orang-orang yang menegakkan shalat dengan sebenarnya, dan dapat menjaganya dengan pelayanan bagi orang-orang yang mencari jalan menuju Allah. Dengan demikan ia dapat berharap mendapatkan Isra’ dan mi’raj menuju ufuk dirinya. Dengan jalan itulah seseorang dikatakan mengikuti Rasulullah SAW dengan benar.

Sabtu, 16 Mei 2020

Ayat Allah Pada Pergantian Siang dan Malam



Allah menciptakan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya di langit dan bumi sebagai sebuah ayat yang menjelaskan bagi manusia. Allah menunjukkan fenomena yang sangat besar di langit sama dengan fenomena di dunia atom, sedangkan manusia ditempatkan berada di dunia tengah yang sama kompleksnya dengan alam-alam yang besar dan alam yang kecil. Manusia telah diciptakan dengan kelengkapan untuk dapat mencerap semua fenomena di alam semesta, dan ditempatkan di alam yang dapat diamati. 



إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ آل عمران:190-190] 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, [Al 'Imran:190] 

Akan tetapi manusia kebanyakan kemudian terkurung dalam dunianya tersendiri. Syaitan berusaha mengendalikan manusia agar terjebak dalam alam bawahnya saja tidak mencoba memahami alam semesta dengan seluruh kelengkapan yang ada pada dirinya. Syaitan dalam hal ini memerintahkan manusia dengan kekejian, yaitu menjebak manusia dalam alam parsial duniawi dirinya. Manusia kemudian melihat alam semesta ini tanpa memiliki integralitas dengan alamnya. Apa yang dilihatnya di langit seolah-olah tidak mempunyai kaitan dengan dirinya, begitu pula dengan dunia atom dianggap hanya sebuah teori yang hanya diperuntukkan bagi para saintis. 

Dengan cara pandang ini, ketika sesuatu fenomena terjadi di lingkungan, manusia tidak lagi memiliki cara pandang yang integral dalam memahami dan mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi. Ketika terjadi wabah penyakit misalnya, manusia cenderung terjebak dalam penyelesaian secara parsial jasmaniah, karena cara pandang terhadap kesehatan manusia terkurung dalam sudut pandang biofisik dan biokimia saja, tidak memandang manusia sebagai makhluk yang menjadi bagian integral dari kosmos yang memiliki struktur jaringan simetrik terhadap kosmos lengkap dengan interaksi elektromagnetik, interaksi optik dan bentuk-bentuk interaksi lain. Kalaupun ada, perhatian terhadap keterkaitan itu masih dalam porsi yang terlalu kecil dan dijadikan sebagai sesuatu yang mewah hampir tidak terjangkau kemampuan tenaga medis umumnya. 

Demikian pula misalnya bila terjadi kerusakan lingkungan. Manusia cenderung tidak memiliki cara pandang integral yang terkait dengan dinamika kosmos terhadap masalah lingkungan. Langit hanya terlihat sebagai kumpulan bintang-bintang dan benda angkasa tanpa makna terhadap masalah lingkungan yang terjadi. Manusia jaman ini tidak dapat melihat bentuk kehidupan terbaik yang seharusnya ditumbuhkan di suatu lingkungan berdasarkan keadaan bumi dan langitnya. Ketika suatu fenomena terjadi di sebuah lingkungan, manusia terjebak dalam sudut pandang lokal sehingga seringkali tidak dapat mengatasi masalah dengan baik. Hubungan antara langit dengan Biosfir yang sebenarnya menjadi agen pengubah daya kosmis langit untuk membangkitkan energi bagi lingkungannya tidak dipahami dan tidak diteliti dengan baik. Ketika terjadi kekeringan misalnya, manusia tidak dapat menentukan dengan baik langkah yang harus dilakukan terhadap lingkungan. 

Dunia sains saat ini telah berkembang sangat luas, akan tetapi sebenarnya ada suatu kekurangan yang terbentuk dalam dunia sains. Manusia hanya diarahkan untuk memahami salah satu sisi dari keseluruhan, hanya memahami sisi material dari semesta. Hal ini tidak terbentuk secara alami, tetapi ada upaya untuk mematikan usaha memahami keseluruhan sisi lainnya, sebagaimana syaitan berupaya untuk memerintahkan manusia untuk berbuat kekejian, berbuat berdasarkan sisi dunia saja mengabaikan sisi bathiniah. Satu sisi didorong maju untuk mematikan sisi-sisi yang lainnya. Kebanggaan ditumbuhkan pada satu sisi, yaitu yang didorong pada kemajuan materialistik, untuk menjadikan sisi lainnya terlihat tidak mempunyai arti dalam kehidupan manusia. Hal ini harus dibenahi agar manusia dapat mengerti alam semesta ini sebagai sebuah ayat yang besar dari sang Maha Pencipta, dan manusia dapat bertindak dengan benar terhadap alam semesta. 

Menjadi Setara untuk Memahami 


Setiap manusia perlu belajar untuk dapat memahami dan bertindak sesuai dengan alamnya. Agama adalah jalan untuk memahami dan bertindak dengan benar. Ayat Allah dalam penciptaan bumi dan langit serta pergantian siang dan malam akan mengajari manusia bagaimana memahami kosmosnya dengan benar. Bila berlaku sesuai dengan perilaku alamnya, maka seseorang akan memahami alamnya. 

Siang dan malam merupakan fenomena yang terjadi akibat adanya bulan yang mengelilingi bumi dengan ajeg. Tanpa bulan, tidak dapat ditentukan kapan akan terjadi siang dan malam di suatu permukaan bumi tertentu, tidak dapat ditentukan dari arah mana matahari akan terbit di suatu wilayah, tidak dapat ditentukan secara pasti kedudukan suatu wilayah terhadap wilayah lainnya karena permukaan bumi akan terus bergerak secara acak, dan fenomena-fenomena lain. Dengan hadirnya bulan mendampingi bumi, maka bumi mempunyai poros rotasi yang tetap sehingga terjadi pergantian siang dan malam secara ajeg. Dengan demikian, maka terbentuk kemakmuran di muka bumi. Biosfir tumbuh dengan baik menyediakan energi bagi kebutuhan kehidupan di muka bumi. Seluruh makhluk dapat hidup sejahtera karena kehadiran bulan bagi bumi. 

Terjadinya siang dan malam adalah ayat Allah yang akan menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya seseorang beramal. Setiap orang harus berjalan pada orbit dirinya untuk menghadap kepada Allah dengan benar sehingga dapat memakmurkan bumi dengan usaha sesuai kehendak Allah. Bulan berputar mengelilingi bumi untuk bersama-sama mengelilingi matahari. Bumi hanya perlu berputar dan berjalan mengelilingi matahari agar tercipta kemakmuran di permukaannya, tidak perlu mengerjakan hal-hal yang lain karena Allah telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pemakmurannya. Demikian ayat yang diberikan Allah bagi manusia agar manusia dapat memakmurkan buminya sesuai kehendak Allah. 

Penciptaan Langit dan Bumi 


Bumi, bulan dan matahari merupakan sebuah tatanan yang telah terbentuk berupa tata surya. Sebelum terbentuk, semua material dan energi yang ada masih merupakan dukhan yang belum mempunyai tatanan. Pemakmuran ketika bumi dan langit masih berbentuk dukhan akan sulit dilakukan. Hal ini merupakan gambaran bagi manusia bahwa manusia boleh jadi berada dalam keadaan sebagaimana dukhan. Materi dan energi yang berbentuk dukhan harus berusaha mendapatkan bentuk dan orbitnya agar menjadi entitas yang tenang, mengerti jati dirinya. Dengan mengerti jati dirinya, maka dia menjadi makhluk yang mengerti ke mana seharusnya dirinya menghadap, mendapatkan wasilah untuk menuju Allah. Bulan menghadap kepada bumi dan bumi berputar mengelilingi matahari, matahari berputar pada galaksi dan galaksi-galaksi berputar pada sesuatu yang sangat besar di jagad raya yang pada akhirnya menunjukkan kekuatan di balik semua penciptaan. 

Manusia ditempatkan di sebuah alam yang mewakili semua penciptaan. Alam mikro yang tidak terlihat manusia dapat diamati selaras dengan alam makro yang ada di langit. Ada kelahiran-kelahiran dan penciptaan-penciptaan baru yang selaras dengan penciptaan alam raya dalam kehidupan setiap manusia. Ada kekacauan yang dialami oleh setiap manusia dalam masa pembentukan dirinya, dan sebagian manusia mengetahui untuk apa diciptakan. Di antara yang mengetahui penciptaannya, sebagian manusia berhasil membentuk dirinya sebagaimana sebuah tata surya berhasil menempati orbitnya, sedangkan sebagian yang lain berusaha untuk menggapai orbit dirinya agar menjadi makhluk yang muthmainnah. Pembentukan alam raya merupakan sebuah ayat yang menunjukkan arah kehidupan manusia. 

Membangun Keluarga 


Agama merupakan sebuah jalan yang ditunjukkan bagi manusia agar dapat membentuk kehidupannya sebagaimana tata surya. Setengah dari agama itu adalah pernikahan. Pernikahan akan menunjukkan jalan kepada manusia untuk mengidentifikasi, mengenali dan menempati orbit dirinya sehingga dirinya dapat menjadi makhluk yang tenang dalam menghadap kepada rabb-nya, dan mengetahui jalan dan wasilah menuju rabb-nya. Agama adalah melaksanakan amal yang telah ditentukan Allah bagi setiap insan sejak sebelum penciptaannya. 

وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِي عُنُقِهِۦۖ وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبٗا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا [ الإسراء:13-13] 

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. [Al Isra":13] 

Sebagaimana bumi merupakan bagian dari tata surya, keluarga merupakan bagian dari masyarakat. Keluarga merupakan kunci untuk membangun kehidupan sosial masyarakat. Keluarga yang buruk akan menjadikan masyarakat buruk, dan masyarakat yang buruk akan membawa keburukan pada keluarga. Setiap orang harus berusaha membangun keluarga yang baik untuk membangun masyarakat yang baik. 

Membangun keluarga harus dimulai sejak sebelum pernikahan. Bagi orang-orang beriman yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, ada sebuah fasilitas berupa petunjuk pasangan yang diciptakan dari jiwanya sendiri, atau petunjuk pasangan yang sesuai bagi dirinya. Hal ini tidak akan ditemukan pada masyarakat yang terbiasa mengikuti keinginan sendiri. Seseorang tidak akan mendapatkan petunjuk yang kokoh tentang pasangan bila tidak terbiasa untuk mencari dan mengikuti kebenaran, dan lebih mengikuti keinginan hawa nafsu dalam menentukan perjodohan. Bila ada petunjuk, seringkali petunjuk itu tidak kokoh hanya sebagai hasil riak hawa nafsu. Hendaknya setiap manusia dibangun untuk kokoh mengikuti kebenaran dari hatinya agar terwujud pondasi bagi terwujudnya keluarga yang kokoh. Bila perjodohan melalui petunjuk itu terjadi, harus diusahakan agar tidak terjadi langkah berbalik berupa upaya mencari jodoh berdasarkan keinginan sendiri. 

Berikutnya masyarakat harus menciptakan budaya yang dapat melahirkan keluarga yang kokoh. Setiap perempuan harus terlindungi dari kejahatan dan diberi jalan untuk berperan membentuk keluarga yang baik sejak sebelum pernikahan dilaksanakan. Setiap istri harus terlindung dari godaan dan gangguan untuk melenceng dari jalan pengabdian melalui suaminya, dan setiap gadis harus diusahakan untuk mendapatkan pasangan laki-laki yang menjadi jalan pengabdiannya kepada Allah berdasarkan fitrahnya. 

Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk yang lengkap bagaimana seharusnya pernikahan dilakukan. Pernikahan harus ditempatkan dalam fungsi yang komprehensif, tidak hanya membentuk wadah ikatan cinta antara dua manusia berlainan jenis. Ada beberapa bentuk-bentuk praktek pernikahan terjadi di masyarakat yang tidak benar-benar selaras dengan sunnah rasulullah SAW dimana hal itu sebenarnya bisa menyebabkan lemahnya keluarga yang dibentuk. 

Nikah mut’ah misalnya, cenderung mempermudah manusia untuk mengakali perzinahan dalam wadah pernikahan, dan sangat sulit untuk membentuk pernikahan yang dapat berkontribusi membentuk masyarakat yang baik melalui pernikahan mut’ah. Nikah sirri secara ikatan sejoli jauh lebih baik daripada bentuk-bentuk hubungan berupa pacaran, akan tetapi bila itu dilakukan secara umum tanpa pemberitahuan kepada khalayak, masyarakat akan mengalami kebingungan untuk melihat status pernikahan seseorang, terutama pihak wanita. Ini akan potensial menimbulkan masalah. Mungkin seseorang berstatus istri mendapat pendekatan dari laki-laki lain karena ketidaktahuan terhadap status pernikahannya. Ini merupakan sebuah bentuk kejahatan yang dapat merusak keluarga dan masyarakat, walaupun dilakukan tanpa kesengajaan. Disisi lain, seorang gadis shalihah mungkin akan kehilangan banyak kesempatan untuk menentukan pasangan yang terbaik sesuai dirinya hanya akibat datangnya seorang laki-laki, karena gadis shalihah itu mungkin akan disangka telah berstatus menikah. Ini akan merugikan bagi gadis tersebut. Seharusnya pernikahan dilakukan sesuai dengan sunnah rasulullah SAW. 

Pernikahan harus dilaksanakan sesuai dengan sunnah rasulullah SAW dalam prinsip-prinsip agama. Rukun-rukun pernikahan harus terpenuhi, tanpa ada maksud dan niat untuk mengakali. Bila walimah terasa memberatkan, bentuk-bentuk pengumuman pernikahan itu harus tetap ada agar masyarakat tidak terbingungkan, dan keluarga baru itu mendapatkan kedudukan di antara masyarakat. Dengan mengikuti sunnah rasulullah SAW, diharapkan masyarakat yang tertib dan berbudaya sebagaimana tata surya dapat terbentuk.

Selasa, 12 Mei 2020

Pemakmuran Bumi dan Jamaah


Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Memakmurkan bumi merupakan sebuah jalan untuk ibadah manusia kepada Allah. Dengan memakmurkan bumi, maka akan tumbuh pengenalan seseorang kepada Allah sebagai satu-satunya ilah bagi semesta alam. Sebagai pembuka jalan untuk memakmurkan bumi, maka hendaknya manusia memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dengan permohonan ampunan dan bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mendekatkan hamba-Nya dan menjawab permohonannya.

۞وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ [ هود:61-61]

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan". [Hud:61]

Banyak cara yang dapat digunakan untuk memakmurkan bumi. Bumi merupakan realitas yang berada paling jauh dari sumber cahaya Allah, sehingga kebenaran yang ada di bumi bercampur dengan kegelapan-kegelapan. Banyak metode-metode yang dapat digunakan untuk memakmurkan bumi, metode yang baik maupun yang dihasilkan dari ide syaitaniah untuk kemakmuran bumi, walaupun kemakmuran itu bersifat semu.

Pemakmuran bumi harus benar-benar dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah, tidak dijadikan tujuan dalam kehidupan. Keberhasilan atau kegagalan dalam pemakmuran bukanlah parameter ubudiyah yang benar, karena Allah-lah yang meluaskan atau menyempitkan rezeki bagi hamba-Nya. Seseorang yang menjadikan pemakmuran bumi sebagai tujuan akan terjebak dalam permainan dan senda gurau, karena kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau. Sebenarnya dirinya tidak akan dapat memakmurkan bumi dengan benar karena dunia ini masih dikuasakan kepada seorang makhluk sangat cerdas yang kafir.

Syaitan banyak memberikan ide-ide kepada manusia tentang kemakmuran bumi. Sebelum Adam ditempatkan di bumi, Iblis adalah makhluk yang menjadi pemakmur bumi. Sebuah pohon tumbuh dari dasar neraka jahim sebagai pohon syaitan yang akan menarik manusia kepada jahim, yang disebut sebagai pohon zaqqum. Pohon itu memberikan buah kepada manusia sebagai fitnah, yaitu sesuatu yang terlihat tidak sebagaimana keadaan yang sebenarnya. Bilamana pemikiran syaitan itu memberikan sebuah pemikiran tentang pemakmuran bumi, sebenarnya terselip di antaranya hal-hal yang akan membawa manusia terseret ke dalam kemelaratan.

إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ لِّلظَّٰلِمِينَ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ طَلۡعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَٰطِينِ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِ‍ُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ [ الصّافّات:63-66]

63. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai fitnah bagi orang-orang yang zalim. 64. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar di dasar neraka jahim. 65. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. 66. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. [As Saffat:63-66]

Orang-orang yang dekat dengan pohon syaitan itu mengetahui bahwa mayang-mayang pohon itu adalah kepala-kepala syaitan, akan tetapi mereka tidak mempunyai kepedulian tentang segala kebaikan bagi manusia. Mereka hanya peduli terhadap kepentingan diri mereka sendiri dengan cara-cara syaitan. Mereka merekayasa sendi-sendi kehidupan di bumi berdasarkan pemikiran syaitan untuk keuntungan sendiri.

Sebagian besar manusia tidak mengetahui mayang-mayang buah itu, akan tetapi banyak orang yang ikut memakan buah-buah zaqqum itu dalam berbagai turunan wujudnya hingga memenuhi perutnya dengannya. Mereka tidak lagi mempunyai rasa bahwa ada yang salah dalam pemikiran-pemikiran dan perbuatan yang mereka lakukan, hanya bertindak pragmatis mengikuti tatacara kehidupan duniawi ini walaupun merugikan orang lain. Orang-orang demikian hanya berfikir tentang kepentingan dirinya dan memelihara segala akar penghidupan yang dibutuhkan untuk mendukung kepentingan mereka. Mereka tidak lagi berfikir tentang sesuatu kebaikan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat. buah yang mereka makan itu tidak akan mengenyangkan mereka tapi justru akan membuatnya semakin lapar dan rakus.

Sebagian besar manusia terhimpit dalam kehidupan duniawi akibat perbuatan orang-orang yang memakan buah-buah zaqqum. Kehidupan mereka menjadi sulit karena ketidakadilan yang terjadi akibat sistem kehidupan yang berjalan. Bilamana mereka menerima dengan hati ridla, maka kesulitan itu menjadi penghapus bagi dosa-dosa, tetapi banyak orang yang mengeluh karena kesulitan dalam kehidupan sehingga menambah dosa-dosa mereka. Walaupun buruk, kebanyakan orang akan memandang bahwa sistem kehidupan mereka adalah sistem kehidupan yang baik. Syaitan menghias pandangan mereka terhadap keburukan sebagai keindahan. 

Jamaah Sebagai Basis Pemakmuran


Orang-orang beriman yang mengabdi kepada Allah akan menemukan banyak ujian dalam dunia mereka masing-masing terkait merebaknya buah-buah zaqqum. Tidak jarang terjadi pengkerdilan daya pikir kritis menentang hati nurani, dirinya diarahkan oleh sistem untuk bersikap pragmatis secara kasar ataupun halus agar dapat memperoleh bagian dari dunia. Kadangkala tidak ada daya pemikiran yang mencukupi untuk mengimbangi tekanan itu, sehingga seringkali orang yang beriman merasa tidak nyaman dengan kehidupannya.

Bilamana mendapatkan teman orang-orang yang sama, orang-orang yang baik akan memperoleh kekuatan untuk bertindak lebih sesuai dengan hati nurani masing-masing. Ini merupakan kumpulan yang penting dan perlu dipelihara. Akan tetapi seringkali kumpulan demikian mendapatkan ujian dengan harta dan kekuasaan yang mengalir di antara kumpulan itu. Kemajuan dan kekuatan untuk tetap beramal dalam kebenaran akan ditentukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kumpulan tersebut, atau kadang-kadang hanya bergantung pada satu sosok yang kuat dalam kebenaran.

Sangat penting bagi setiap orang untuk menumbuhkan dirinya di jalan Allah dan berjamaah dalam sebuah masyarakat orang beriman. Setiap orang yang tumbuh akan memberikan kekuatan terhadap langkah kebenaran. Dalam pertumbuhannya, akan dijumpai dalam kehidupan orang beriman sebuah fase dimana Allah memperkenalkan kepada dirinya baitullah dalam hatinya, mengenal bagaimana dirinya harus bersujud kepada Allah. Ini adalah keadaan dimana seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan Allah. Itu akan diperoleh seseorang bila dirinya menempuh perjalanan menuju Allah dengan bertaubat kepada-Nya hingga dirinya mencapai sebuah keadaan yang disebut tanah suci (haraman).

أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا ءَامِنٗا وَيُتَخَطَّفُ ٱلنَّاسُ مِنۡ حَوۡلِهِمۡۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَكۡفُرُونَ [ العنكبوت:67-67]

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya saling berebut. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan kufur kepada nikmat Allah? [Al 'Ankabut:67]

Tanah suci yang didzahirkan bagi manusia adalah tanah suci Makkah dan Madinah. Di bumi Makkah terdapat bangunan kakbah sebagai masjidil haram yang dijadikan Allah sebagai qiblat bersujud umat manusia. Dalam ayat ini, tanah suci yang ditunjukkan bagi manusia adalah suatu keadaan yang akan dicapai oleh seseorang yang berjalan menuju Allah dimana dirinya mengenal baitullah dalam hatinya, mengenal bagaimana dirinya harus bersujud kepada Allah. Ini adalah keadaan dimana seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan Allah.

Dalam keadaan ini, seseorang akan diberi banyak hal yang menjadi kekuatan untuk melangkah dalam kebaikan. Akan tetapi masih terdapat kebatilan-kebatilan yang dapat menghinggapi setiap orang yang mencapai keadaan ini dan seringkali menjerumuskan pada sikap kufur. Setiap orang harus terus berusaha untuk beribadah dengan penuh keikhlasan semata-mata bagi Allah sehingga Allah memberikan ilmu sebagai landasan untuk beramal. Setiap orang harus terus berusaha mengetahui tentang hal yang batil dan apa nikmat yang dijanjikan Allah bagi dirinya, hingga mendapatkan ilmu untuk amalnya. Itu adalah mengusahakan buah hasanah.

Dalam tahapan ini, seseorang tidak boleh lagi menghadapkan wajahnya terhadap kemakmuran, atau merasa puas dengan pemakmuran bumi yang telah dijalankannya, tetapi harus senantiasa menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan memahami kitabullah. Ibadah yang dituntut bagi dirinya bukan lagi sekadar memakmurkan bumi, akan tetapi bagaimana membuat bumi ini secara bertahap berjalan sesuai dengan ilmu yang diketahuinya (al-ma’ruf) sesuai kehendak Allah, dan mencegah kemunkaran. Pemakmuran bumi dapat bernilai sebagai sebuah kebatilan selama ada hal yang tidak sesuai atau melanggar apa yang ditentukan Allah

Pada puncaknya, umat islam harus mempersiapkan jalan agar seorang khalifatullah, al-mahdi a.s dapat menggantikan kedudukan iblis dalam memakmurkan bumi. Mempersiapkan jalan bagi beliau adalah dengan mempersiapkan pengetahuan ilahi (al-ma’ruf) untuk pemakmuran bumi. Beliau adalah seorang pemakmur bumi yang diberi petunjuk (al-mahdi) yang menentukan langkahnya berdasarkan bayang-bayang kebenaran dari para pemberi petunjuknya (hudat), tidak (dapat) berjalan sendiri. Kaum muslimin pada zaman itu harus mempersiapkan pengetahuan yang cukup untuk mencabut peredaran buah zaqqum dari muka bumi dan menggantikan sendi-sendi kehidupan manusia dengan buah-buah hasanah.

Perubahan ini akan membuat makar syaitan yang sangat kuat. Setiap mukmin harus berusaha sungguh-sungguh dalam mendapatkan jalannya kepada Allah, tidak boleh melangkah setengah hati mencari kehendak Allah dengan mengusahakan pemakmuran dunia dengan segala cara, tanpa memikirkan buah-buah hasanah yang harus dirumuskan. Setiap mukmin harus mengusahakan sungguh-sungguh terwujudnya buah-buah hasanah dalam setiap langkah pemakmuran buminya. Hatinya harus berusaha ikhlash dalam beribadah kepada Allah.

Minggu, 10 Mei 2020

Pemakmuran Bumi Sebagai Jalan Ibadah


Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Memakmurkan bumi merupakan sebuah jalan untuk ibadah manusia kepada Allah. Dengan memakmurkan bumi, maka akan tumbuh pengenalan seseorang kepada Allah sebagai satu-satunya ilah bagi semesta alam. Sebagai pembuka jalan untuk memakmurkan bumi, maka hendaknya manusia memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dengan permohonan ampunan dan bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mendekatkan hamba-Nya dan menjawab permohonannya.


۞وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ [ هود:61-61]

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan". [Hud:61]

Pemakmuran bumi bukanlah tujuan kehidupan manusia, akan tetapi sebuah sarana untuk beribadah kepada Allah. Seringkali pemakmuran bumi justru mengarah kepada kerusakan manusia dan kerusakan alam secara keseluruhan, yaitu bila pemakmuran menjadi tujuan kehidupan. Kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan agar seseorang dapat mengenal tujuan yang sesungguhnya. Kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau agar seseorang mengenal kehidupan akhirat.

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ [ العنكبوت:64-64]

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [Al 'Ankabut:64]

Mengenal kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya akan diperoleh seseorang bila dirinya menempuh perjalanan menuju Allah dengan bertaubat kepada-Nya hingga dirinya mencapai sebuah keadaan yang disebut tanah suci (haraman). Itu adalah keadaan dimana dimana seseorang mengenal baitullah bagi dirinya.

أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا ءَامِنٗا وَيُتَخَطَّفُ ٱلنَّاسُ مِنۡ حَوۡلِهِمۡۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَكۡفُرُونَ [ العنكبوت:67-67]

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya saling berebut. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan kufur kepada nikmat Allah? [Al 'Ankabut:67]

Tanah suci yang didzahirkan bagi manusia adalah tanah suci Makkah dan Madinah. Di bumi Makkah terdapat bangunan kakbah sebagai masjidil haram yang dijadikan Allah sebagai qiblat bersujud umat manusia. Dalam ayat ini, tanah suci yang ditunjukkan bagi manusia adalah suatu keadaan yang akan dicapai oleh seseorang yang berjalan menuju Allah dimana dirinya mengenal baitullah dalam hatinya, mengenal bagaimana dirinya harus bersujud kepada Allah. Ini adalah keadaan dimana seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan Allah.

Ada banyak pemberian Allah bagi orang yang mencapai tanah haramnya. Akan tetapi pemberian itu dapat menjerumuskan orang tersebut dalam kekufuran. Orang yang mencapai tanah haram dapat menjadi kufur oleh pemberian Allah karena pencapaian tersebut. Bahkan seseorang dapat menjadi musyrik dengan mempertuhankan diri sendiri. 

لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ وَلِيَتَمَتَّعُواْۚ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ  [ العنكبوت:66-66]
agar mereka kufur karena apa yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka bersenang-senang. Kelak mereka akan mengetahui (QS Al-Ankabuut : 66)

Tanah Suci bagi Setiap Insan


Ciri dari tanah suci bagi setiap manusia adalah aman dan tidak ada perebutan antara satu orang dengan yang lain. Orang yang telah mengenal dirinya akan melihat bahwa Allah telah menciptakan dirinya dengan sangat khusus, tidak dapat digantikan oleh orang lain dan tidak akan ada orang lain yang mampu menjalankan tugasnya bagi dirinya.

Kehidupan dunia ini diciptakan bagi banyak manusia, dimana satu orang dengan lainnya diciptakan untuk mewujudkan suatu jamaah yang bekerja saling menguntungkan antara satu dengan yang lain. Satu orang harus mengerjakan sesuatu amal yang ditentukan baginya, berjalin dengan amal yang ditentukan bagi orang lain. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengenal dirinya dengan spesifik. Hal ini mengakibatkan seseorang merasa dapat mengerjakan suatu amal yang seharusnya menjadi amal yang ditentukan untuk orang lain. Maka orang-orang dapat saling berebut amalnya.

Sebelum seseorang mengenal dirinya, maka kehidupan akan terlihat seperti perebutan antara satu orang dengan orang lain. Dirinya harus ikut berebut dalam kehidupan dunia, berkompetisi untuk mendapatkan hal-hal bagi dirinya. Itu adalah ciri orang yang belum berada di tanah haram. Orang yang perjalanannya mencapai tanah haram akan melihat bahwa keadaan di wilayah itu sangat aman bagi dirinya dan tidak akan berebut dengan orang lain.

Akan tetapi orang yang mencapai tanah haram itu tidaklah benar-benar berada dalam keamanan. Ketidak amanan itu ada dalam dirinya sendiri, tidak dari luar. Sebagian kembali menjadi kafir dan justru kembali mencari kesenangan-kesenangan dunia dengan pemberian-pemberian dari Allah. Mereka tidak terus melanjutkan jalan untuk mengenal kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Tipuan pada wilayah ini sangat halus, dimana mungkin seseorang hanya merasa bahwa tujuan kehidupannya adalah untuk memakmurkan bumi, atau tergelincir mempertuhankan dirinya sendiri tanpa melihat kitabullah. Bila pemakmuran bumi menjadi tujuan maka itu salah, karena kedudukan pemakmuran bumi adalah sebuah sarana bagi seseorang untuk beribadah untuk mengenal Allah.

Masih ada kebatilan-kebatilan yang harus dibersihkan di tanah suci, dan setiap orang harus membersihkan kebatilan-kebatilan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Tidak membersihkan kebatilan-kebatilan dalam dirinya akan menyebabkan dirinya menjadi orang yang lebih beriman terhadap kebatilan dan kufur terhadap nikmat Allah. Seseorang akan mendapati dirinya beririsan dengan sahabatnya ketika telah berada di tanah haramnya. Setiap orang diciptakan secara khusus. Dirinya harus berusaha menemukan tempat dirinya secara presisi bersama para sahabatnya. Harus benar-benar diingat bahwa tidak ada perebutan di tanah haram.

Pasangan sebagai Tanah Suci

Salah satu sarana yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berada di tanah sucinya untuk membersihkan kebatilan-kebatilan dalam dirinya adalah pasangan. Seseorang akan melihat petunjuk atau mengenal pasangannya bila memasuki tanah sucinya. Mungkin dirinya akan melihat pasangan baru yang juga tepat bagi dirinya. Petunjuk pasangan itu boleh jadi ujian bagi dirinya agar membersihkan kebatilan, suatu petunjuk yang dapat menjadikannya kufur bila tidak disikapi dengan ketakwaan. Atau boleh jadi itu benar pasangan yang diciptakan dari jiwanya. Pasangan jiwanya akan membersihkan kebatilan-kebatilan dalam dirinya dan mendekatkan dirinya kepada nikmat Allah, selain akan memunculkan anak keturunan dan rezeki. Semua harus disikapi dengan ketakwaan agar tidak justru tersungkur dalam kekufuran.

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ [ النحل:72-72]

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah?" [An Nahl:72]

Bila petunjuk pasangan itu benar menunjukkan pasangan sejati, maka pasangan itu adalah tanah haramnya dalam bentuk yang lain. Wanita itu adalah ladang suci bagi pohon thayyibahnya. Jiwa wanita itu adalah tanah suci bagi bangunan baitullah dalam jiwanya yang harus dibina. Pasangan sebagai tanah suci ini benar-benar akan menuntun seseorang untuk membersihkan kebatilan-kebatilan yang ada di dalam dirinya dan mewujudkan nikmat Allah, bila disikapi dengan ketakwaan. Bila tidak ada masalah lagi dalam dirinya, maka pasangannya itu akan mewujudkan nikmat Allah, sedangkan bila masih ada kebatilan, maka pasangan itu akan membersihkan kebatilan-kebatilannya.

Mungkin seseorang tidak dalam bentuk hawa nafsu yang sesuai dengan kehendak-Nya ketika memasuki tanah haramnya, maka dia akan dihadapkan kepada pasangan yang sama sekali tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Tentu tidak ada pertimbangan aspek jasadiah dalam hal ini. Misalnya seseorang yang memasuki tanah haram dalam bentuk hawa nafsu terlalu lembut, padahal dirinya harus menjadi seorang pejuang, maka dirinya akan dihadapkan kepada pasangan yang akan membentuk hawa nafsunya menjadi sesuai dengan tugasnya.

Tidak lagi ada pertimbangan kaya atau miskin, cantik atau kurang cantik atau pertimbangan jasadiah lain dalam diri pasangannya bagi orang yang kebatilannya adalah murni bentuk hawa nafsunya. Bila ada pertimbangan jasadiah dalam pikirannya, maka masalah baginya sebenarnya juga berada pada aspek jasadiah. Boleh jadi dirinya sebenarnya berada dalam tarikan aspek bumi, baik kecantikan perempuan atau pemakmuran bumi yang dijadikan sebagai tujuan, atau bahkan sebenarnya keinginan pemakmuran diri sendiri berbungkus pemakmuran bumi. Pemakmuran bumi harus dijadikan sarana ibadah untuk mengenal Allah, tidak dijadikan tujuan. Dalam hal ini petunjuk pasangan itu bisa menjadi ujian yang akan menariknya kepada kesuksesan dan kejayaan duniawi saja, sementara dirinya terjebak dalam kekufuran karena pemberian itu.

Kadangkala pasangan yang muncul ketika memasuki tanah suci ini banyak. Bila keberpasangan yang dilihatnya berbenturan dengan syariat, maka hendaknya tidak memaksakan diri sebagai petunjuk. Semua petunjuk keberpasangan harus dibaca berdasarkan ketakwaan, membersihkan diri dari hasrat dan kebatilan-kebatilan. Mungkin ada yang salah atau kurang fokus dalam pengenalan dirinya. Seseorang ketika memasuki tanah sucinya harus benar-benar berusaha menemukan kebatilan-kebatilan yang masuk dalam keimanannya, tidak membawa kebatilannya untuk dekat kepada Allah karena hal itu dapat mendatangkan bencana ketika dekat kepada Allah.

Bila dua laki-laki atau lebih menemukan keberpasangan pada satu gadis atau janda yang sama, maka makrifat sang gadis akan menentukan salah satu pasangannya yang benar di antara para laki-laki itu, atau semuanya bukan pasangannya. Kadang seorang gadis tidak memilih sesuai makrifatnya, atau pengetahuan tentang dirinya kabur, maka walinya yang memutuskan. Bila gadis itu memiliki makrifat tentang pasangannya dan memilih yang salah, maka ia tidak akan menemukan nikmat Allah berupa shirat al mustaqim di dunia. Itu adalah kekufuran terhadap nikmat Allah dan beriman terhadap yang bathil.

Pemakmuran Bumi sebagai Kelemahan Akal


Pemakmuran bumi harus benar-benar dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah, tidak dijadikan tujuan dalam kehidupan. Keberhasilan atau kegagalan dalam pemakmuran bukanlah parameter ubudiyah yang benar, karena Allah-lah yang meluaskan atau menyempitkan rezeki bagi hamba-Nya. Seseorang yang menjadikan pemakmuran bumi sebagai tujuan akan terjebak dalam permainan dan senda gurau, karena kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau. Sebenarnya dirinya tidak akan dapat memakmurkan bumi dengan benar karena dunia ini masih dikuasakan kepada seorang makhluk sangat cerdas yang kafir. Orang yang menjadikan pemakmuran bumi sebagai tujuan akan seperti seseorang yang mencari kemakmuran dari rumah kasino.

Hal itu merupakan salah satu petunjuk adanya kelemahan akal manusia. Walaupun seseorang mengetahui bahwa pemakmuran bumi harus dilakukan dengan ilmu dari Allah, akan tetapi pengetahuannya itu tidak selalu menunjukkan adanya akal. Pada ayat sebelumnya, Allah menyinggung keadaan orang-orang yang demikian.


وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ مَوۡتِهَا لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ [ العنكبوت:63-63]

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak berakal. [Al 'Ankabut:63]

Orang-orang yang meyakini bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya dengan air yang diturunkan dari langit oleh Allah adalah orang-orang yang dalam keadaan baik. Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa Allah menurunkan pengetahuan dari langit kepada manusia. Mereka meyakini bahwa dengan pengetahuan itu Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Mereka adalah orang-orang yang baik maka hendaknya manusia bersyukur dengan memuji Allah atas mereka.

Akan tetapi keadaan tersebut tidak selalu menunjukkan akal dalam diri mereka. Ayat tersebut menyatakan bahwa kebanyakan dari orang-orang demikian tidaklah berakal. Seseorang harus mempunyai keyakinan bahwa kehidupan dunia ini adalah senda gurau dan permainan agar dapat mengetahui kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan di alam akhir. Dengan keyakinan demikian dan kemudian menempuh jalan kepada Allah maka akan terbangun akal pada diri orang tersebut.