Pencarian

Minggu, 17 Maret 2024

Memurnikan Iman dari Kedzaliman

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW merupakan perjalanan yang sangat panjang, dan tidak akan dapat dilakukan tanpa langkah-langkah yang lebih terperinci. Sangat banyak nabi dan rasul diutus bagi umat manusia yang berfungsi memberikan perincian langkah-langkah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Millah nabi Ibrahim a.s merupakan perincian utama bagi sunnah Rasulullah SAW dalam derajat uswatun hasanah bagi umat manusia. Millah tersebut merupakan tahapan yang lebih terlihat jelas oleh kebanyakan umat manusia, bilamana diikuti maka akan mengantarkan mereka untuk lebih memahami sunnah Rasulullah SAW.

Di antara tahapan mengikuti millah Ibrahim a.s adalah pencapaian keimanan tanpa tercampur dengan suatu kedzaliman. Keadaan itu merupakan keadaan yang harus dicapai berdasarkan suatu sikap hanif dalam mengikuti kebenaran. Manakala seseorang bersikap hanif dalam kehidupannya, maka ia akan mencapai keadaan beriman dan tidak mencampurkan keimanan tersebut dengan suatu kedzaliman sedikitpun.

﴾۲۸﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS Al-An’aam : 82)

Kedzaliman menunjukkan suatu keadaan di mana seseorang menempatkan sesuatu tidak sesuai tempatnya. Hal itu berlaku pula terhadap turunan dari keadaan itu. Melakukan pekerjaan dengan cara yang menjadikan pekerjaan itu tidak bisa mencapai sasarannya merupakan kedzaliman. Menempuh perjalanan secara menyimpang hingga tidak mencapai tempat tujuan juga termasuk kedzaliman. Demikian pula perbuatan yang dilakukan terhadap sesuatu atau orang lain dengan cara tidak sebagaimana seharusnya merupakan kedzaliman. Banyak contoh-contoh terkait dengan kedzaliman yang berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Objek utama suatu kedzaliman adalah terhadap manusia termasuk diri sendiri, tetapi tidak terbatas pada manusia. Seseorang bisa melakukan suatu kedzaliman baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Hal ini terkait dengan hakikat penciptaan manusia, di mana setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu kedudukan tertentu yang harus ditempati. Sebagian manusia melakukan kedzaliman karena kejahatan hawa nafsu dan sebagian melakukannya karena kebodohan. Memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu yang menyalahi ketentuan Allah untuk mencapai keinginan sendiri merupakan contoh kedzaliman karena kejahatan. Manakala seseorang tidak memahami langkah yang perlu dilakukan dalam kehidupan dirinya, itu merupakan contoh kedzaliman karena kebodohan.

Banyak tingkatan kedzaliman yang biasa dilakukan oleh manusia pada setiap tahap langkahnya. Ada orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan sama sekali bahwa dirinya diciptakan Allah untuk kedudukan tertentu karena tidak mencari ilmu, maka ia telah dzalim terhadap diri sendiri. Kadangkala seseorang mengetahui berita tentang jalan taubat, tetapi ia tidak menempuh perjalanan taubat kembali kepada Allah maka ia telah berbuat dzalim. Kadangkala seseorang menyeret orang-orang lain secara paksa untuk suatu pemenuhan keinginan diri mereka sendiri, maka ia telah berbuat dzalim kepada orang lain. Kadangkala seseorang telah mengetahui takdir penciptaan dirinya tetapi kedudukan itu tidak dipenuhi karena memilih bentuk kehidupan yang lain maka ia telah berbuat dzalim. Dalam setiap perjalanan taubat terdapat bentuk kedzaliman masing-masing, termasuk hingga orang-orang terpilih yang tidak berpegang pada kitabullah dalam amalnya maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim.

Mengenal Kasus Kedzaliman

Gambaran paling nyata bentuk kedzaliman dapat dilihat pada ikatan pernikahan. Suatu pernikahan merupakan gambaran paling nyata bentuk hubungan manusia dalam kedudukan yang ditentukan bagi masing-masing, dan pernikahan merupakan sarana paling utama yang disediakan Allah untuk mengenal nafs wahidah. Seorang isteri mempunyai kedudukan khusus di sisi suaminya yang diikat dalam suatu perjanjian yang sangat kuat di hadapan Allah berupa mitsaqan ghalidza. Kedudukan itu merupakan gambaran turunan dari adanya suatu kedudukan khusus setiap laki-laki dalam amr jami’ Rasulullah SAW di alam yang lebih tinggi. Gambaran turunan itu ditampakkan di alam dzahir untuk memudahkan manusia memahami urusan kedudukan mereka di alam yang lebih tinggi. Suatu perbuatan yang keliru menyalahi tuntunan Allah yang dilakukan di dalam atau terhadap suatu pernikahan bisa menjadi kedzaliman yang sangat tinggi karena kedzaliman tersebut terkait mitsaqan ghalidza.

Perjodohan menjadi suatu masalah turunan dari pernikahan yang harus diperhatikan agar manusia bisa mencapai kedudukan dirinya, dan tidak terjebak pada kedzaliman. Pada prinsipnya, landasan utama perjodohan adalah menemukan jati penciptaan diri berupa nafs wahidah. Pasangan manusia pada dasarnya diciptakan dari satu nafs wahidah yang dibagi menjadi seorang laki-laki dengan pasangannya. Ada banyak jalan untuk memperoleh jodoh dengan berbagai derajat keutamaannya, Sekalipun tujuan prinsipnya satu yaitu untuk mengenali nafs wahidah, berbagai jalan itu diperbolehkan bagi manusia di dunia ini. Jalan yang berderajat paling dekat dengan tujuan itu adalah petunjuk jodoh. Banyak jalan lain dalam derajat yang lebih rendah yang diperbolehkan, maka hendaknya umat mengenali jalan-jalan itu agar tidak berbuat dzalim baik terhadap diri sendiri ataupun terhadap umat manusia. Satu keputusan seseorang tentang jodoh akan menentukan jalan kehidupan dirinya dan umat manusia, baik keputusan yang tepat ataupun keputusan yang keliru. Manakala seseorang memutuskan dengan keliru, ia telah berbuat dzalim.

Petunjuk merupakan jalan menemukan jodoh dalam derajat paling baik. Mengingkari petunjuk kadangkala merupakan sikap kufur dan dzalim. Di sisi lain tidak jarang petunjuk jodoh pada seseorang atau bahkan sepasang manusia merupakan hamburan keinginan syahwat dan hawa nafsu, hingga bahkan mungkin saja seorang isteri memperoleh petunjuk jodoh laki-laki lain atau sebaliknya. Petunjuk diharamkan demikian melibatkan syaitan. Kebenaran dari petunjuk jodoh harus diperiksa dengan sebaik-baiknya, tidak hanya diukur berdasarkan rasa suka atau tidak. Justru rasa suka atau tidak merupakan jebakan petunjuk yang paling sulit dikenali. Kemudian dua pihak hendaknya membuka hubungan untuk saling mengenali satu dengan yang lain. Medan pengenalan yang dibangun itu berkisar pada hal-hal yang mengarah pada pengenalan nafs wahidah. Sekiranya telah dapat mengukur tingkat kebenaran petunjuk, hendaknya mereka segera mengarah pada pernikahan.

Memutus proses perkenalan demikian termasuk kedzaliman yang besar. Perkenalan (ta’aruf) untuk memperoleh pengetahuan nafs wahidah termasuk langkah besar seseorang untuk memperoleh shirat al-mustaqim. Syaitan sangat mengawasi langkah orang-orang yang melangkah menuju kedudukan dirinya dengan benar, dan akan membuat mereka terputus dengan sekuat tenaga. Seseorang yang memutus usahanya sendiri untuk memperoleh kedudukan yang tepat tanpa alasan yang benar termasuk orang yang dzalim. Demikian pula orang-orang yang memotong kesempatan orang lain untuk berusaha demikian termasuk orang-orang yang dzalim. Kadangkala seseorang memutuskan sesuatu berdasar keinginan salah, maka hal demikian tidak menunjukkan alasan yang benar. Ada orang yang memutuskan secara salah karena informasi yang salah, tetapi dilakukan dengan nalar yang benar. Kadangkala kesalahan seseorang dalam memutuskan dipengaruhi adanya konsekuensi buruk yang mengancam dirinya bila mengambil keputusan yang lain. Dalam kesalahan demikian maka seseorang tidak sepenuhnya dzalim selama tidak sekadar mengikuti keinginan yang salah. Ada orang-orang yang tidak mau mengetahui sedikitpun dengan benar duduk masalahnya dan merasa berkuasa memutuskan hukumnya berdasarkan pendapatnya sendiri, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, maka hal demikian termasuk kedzaliman.

Kadangkala seseorang berjalan dalam remang-remang dalam urusan menemukan jodoh. Hal demikian merupakan hal yang wajar dalam kehidupan dunia. Sekalipun seseorang kemudian menikah dengan orang lain yang tidak diciptakan dari nafs wahidah yang sama, ia tidak menjadi orang yang celaka atau dzalim karena pernikahan itu, selama pernikahannya diusahakan dengan cara tidak melanggar syariat dan tidak bersikap munafik mengabaikan jodoh yang lebih tepat. Setiap upaya yang dilakukan dengan benar untuk memperoleh kedudukan yang tepat harus dihormati dengan baik, dan seharusnya dibantu tidak boleh diganggu. Bila usahanya salah hendaknya masyarakat tidak menghukumnya melebihi kesalahannya. Misalnya manakala seseorang baru berusaha menjajagi kebenaran petunjuk jodohnya, bila ternyata ia salah hendaknya tidak dihukum layaknya penjahat buronan. Cara memberi hukuman pun dapat menimbulkan kedzaliman. Misalnya bila seseorang dihukum suatu hukuman yang harus dilaksanakan terhadapnya oleh isterinya atau keluarganya yang lain sedangkan ia telah mempunyai akal, maka ia akan kehilangan seluruh kedudukan sosial dirinya. Hilangnya kedudukan sosial itu mungkin lebih kejam dari hukumannya sendiri, tetapi kejamnya hukum demikian itu tidak mendatangkan kebaikan bagi pihak manapun. Seorang laki-laki akan kehilangan kedudukan sosial dirinya bahkan di keluarganya, isteri akan kehilangan rasa bersyukur dan penghormatan terhadap suaminya, dan masyarakat tidak menerima keutamaan dari keluarga yang terhukum itu. Hukuman demikian termasuk kedzaliman, dan mencerminkan adanya suatu masalah berupa kebodohan sosial yang besar.

Sangat banyak jenis kedzaliman dapat terjadi pada diri seseorang tidak terbatas pada masalah pernikahan. Pada dasarnya semua bentuk kedzaliman yang lain dapat dipahami serupa dengan gambaran kedzaliman terhadap pernikahan, yaitu perbuatan yang akan merusak manusia dari kedudukan yang seharusnya hingga manusia tersingkirkan dari jalan Allah. Semua masalah kedzaliman pada dasarnya akan mendatangkan masalah yang sama yaitu tersingkirnya manusia dari jalan Allah. Kadangkala suatu kedzaliman tidak hanya menjauhkan seseorang dari jalan Allah, tetapi menjauhkan umat manusia seluruhnya dari jalan Allah, yaitu bila terjadi kedzaliman pada tingkat yang tinggi. Merusak pernikahan merupakan contoh kedzaliman paling tinggi karena terkait dengan mitsaqan ghalidza di sisi Allah. Demikian pula masalah merusak perjodohan yang tepat merupakan kedzaliman yang tinggi. Syaitan mendatangkan kerusakan paling besar kepada umat manusia dengan cara yang tinggi demikian.

Tauhid Dengan Amr Rasulullah SAW

Banyak tingkatan kedzaliman yang biasa dilakukan oleh manusia pada setiap tahap langkahnya. Ada orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan sama sekali bahwa dirinya diciptakan Allah untuk kedudukan tertentu karena tidak mencari ilmu, maka ia telah dzalim terhadap diri sendiri. Kadangkala seseorang mengetahui berita tentang jalan taubat, tetapi ia tidak menempuh perjalanan taubat kembali kepada Allah maka ia berbuat dzalim. Kadangkala seseorang menyeret orang-orang lain secara paksa untuk suatu pemenuhan keinginan diri mereka sendiri, maka ia telah berbuat dzalim kepada orang lain. Kadangkala seseorang telah mengetahui takdir penciptaan dirinya tetapi kedudukan itu tidak dipenuhi karena memilih bentuk kehidupan lain yang disukainya maka ia berbuat dzalim.

Dalam setiap perjalanan taubat terdapat bentuk kedzaliman masing-masing, termasuk hingga kalangan orang-orang terpilih yang tidak berpegang pada kitabullah dalam amalnya maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim. Orang-orang yang telah bersih hatinya dapat terhenti atau tersesat mengikuti ajaran yang tidak mengarah kembali kepada Allah. Bahkan orang-orang yang telah menjadi hamba Allah yang terpilih dapat berbalik menempuh kembali jalan kedzaliman.

﴾۲۳﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang bersegera berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Faathir : 32)

Orang-orang yang terpilih Allah untuk menerima pewarisan kitabullah dapat terjatuh berbuat dzalim kepada diri sendiri. Manakala seseorang yang terpilih tidak berusaha mengenali kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW secara tepat, ia dapat melampaui batas-batas dirinya atau bahkan menyimpang hingga keluar dari al-jamaah tidak berada pada amr jami’ Rasulullah SAW. Batas-batas diri bagi mereka terdapat dalam kitabullah yang diwariskan kepada dirinya, tetapi mereka tidak memperhatikan dengan baik urusannya. Perbuatan melampaui batas dan perbuatan yang lebih dari itu merupakan bentuk kedzaliman yang mungkin dilakukan oleh seorang yang terpilih Allah.

Manakala seseorang yang terpilih melakukan sesuatu pergerakan di luar amr Rasulullah SAW, mereka akan terjebak pada suatu bid’ah yang merusak. Amal mereka akan tertolak dari sisi Allah sekalipun tampak berbuat banyak kebaikan dalam pergerakannya. Amal mereka tertolak kecuali mereka benar-benar kembali kepada amr Rasulullah SAW dalam al-jama’ah. Adapun kebaikan yang diperoleh tidak akan menutup kerusakan yang ditimbulkan. Dalam prakteknya, hal demikian sangat menguras kekuatan umat untuk mengikuti perintah Rasulullah SAW dengan benar karena menjalankan suatu amr semu. Landasan pergerakan dan operasional praktisnya harus dikembalikan hingga sesuai dengan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka sesuai dengan kitabullah bersama al-jamaah yang lain, dimulai dengan memahami secara tepat kitab yang diwariskan kepadanya berdasarkan kitabullah Alquran sebagai kitab Rasulullah SAW. Dengan demikian ia akan mengenali dengan lebih tepat urusan dirinya sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW. Hendaknya seruan atau peringatan dari sahabat al-jamaah tidak diabaikan, tidak terjebak pada kebenaran semu diri sendiri. Kadangkala ahli bid’ah merasa bahwa ia termasuk al-jamaah, sedangkan sahabatnya atau wasilahnya telah melihat dan memperingatkan bahwa ia telah sendirian menyimpang dari al-jamaah.

Kedzaliman orang-orang yang terpilih seringkali tidak dapat dilihat oleh orang-orang umum. Bukan tanggung jawab semua orang untuk meluruskan kedzaliman demikian, tetapi setiap orang harus bertanggungjawab atas lurusnya langkah diri sendiri. Hendaknya setiap orang berusaha untuk kembali melangkah di jalan taubat dengan mengikuti kitabullah Alquran tanpa penyimpangan, karena setiap satu celah penyimpangan akan menjadi jalan masuk syubhat. Para pencari kebenaran harus waspada terhadap kemungkinan kesesatan yang bisa menimpa dirinya, waspada hingga dalam bentuk bersikap bahkan penyimpangan itu mungkin pula menimpa orang terpilih yang diikutinya, secara khusus manakala berselisih atau bertentangan dengan kitabullah.

Mengikuti nabi Ibrahim a.s harus dilakukan hingga mencapai keimanan yang bersih tanpa bercampur dengan kedzaliman. Dalam keadaan tertentu, seorang hamba Allah harus dapat bersikap tanpa toleransi memberikan pilihan kepada orang lain secara diskrit antara mengikuti petunjuk atau mencampurnya dengan kedzaliman. Di antara bersihnya keimanan adalah tidak mempertentangkan firman Allah dengan perkataan manusia yang berselisih atau bertentangan dengannya. Manakala seseorang menentang firman Allah karena mengikuti perkataan manusia, ia telah berakhlak buruk terhadap Allah hingga menutupi jalan menjadi makhluk mulia yang layak didekatkan kepada Allah. Suatu bid’ah akan menjadikan manusia mencampurkan keimanan dengan dengan kedzaliman hingga manusia menjadi tersesat, dan setiap kesesatan akan bertempat di neraka. Sekalipun orang yang mengikuti bid’ah dapat mencapai telaga al-kautsar dengan kebenaran mereka, mereka akan ditangkap para malaikat di sana dan digiring menuju neraka, dan Rasulullah SAW akan menjadi ridla atas penangkapan dan penggiringan itu setelah sebelumnya menyangka mereka umat beliau SAW.

Senin, 11 Maret 2024

Mewujudkan Kebaikan dengan Ijin Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Di antara tanda bahwa seseorang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah adalah terwariskannya kitabullah kepada dirinya. Allah mewariskan kitabullah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk menerima, maka para hamba Allah yang terpilih itu kemudian mempunyai bagian dari kitabullah untuk dijadikan sebagai landasan bagi amal-amal yang harus mereka lakukan.

﴾۲۳﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang bersegera berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Faathir : 32)

Sebagian dari hamba terpilih penerima waris kitabullah diijinkan Allah untuk bersegera berbuat kebaikan dengan kitabullah yang menjadi bagian mereka. Mereka dapat bersegera berbuat kebaikan demikian karena ijin Allah. Sebagian penerima waris tidak memperoleh ijin Allah sekalipun sangat ingin melakukan kebaikan, maka mereka menjadi suatu kaum yang berupaya keras untuk melangkah selaras dengan kitabullah bagi diri mereka. Mereka barangkali selalu berusaha berbuat untuk kebaikan, akan tetapi mungkin mereka tidak berhasil melakukan dan usaha mereka tidak mendatangkan hasil yang memadai. Hal demikian akan mewarnai para pewaris kitabullah yang tidak mendapatkan ijin Allah untuk bersegera melakukan kebaikan berdasarkan warisan yang telah mereka terima. Sebagian pewaris tersebut ada yang berbuat dzalim. Barangkali mereka juga memandang bahwa diri mereka adalah orang yang berbuat kebaikan bagi sesama, akan tetapi mereka tidak memperhatikan kitabullah maka mereka berbuat dzalim. Manakala mereka bertentangan dengan kitabullah, mereka tidak mengetahuinya atau merasa bahwa hal demikian tidak mungkin terjadi.

Pembinaan Insan Sempurna

Pewarisan kitabullah tersebut terjadi melalui mekanisme yang ditentukan Alquran berupa pembinaan misykat cahaya pada diri seorang hamba. Setiap hamba Allah hendaknya berusaha membentuk diri mereka sebagai misykat cahaya (layaknya kamera) yang membentuk bayangan cahaya Allah. Cahaya Allah itu berupa ayat-ayat kitabullah dan ayat-ayat kauniyah yang terjadi pada semesta. Manakala misykat cahaya seseorang terbentuk dengan baik, bayangan cahaya Allah itu akan menjadi ayat-ayat Allah yang jelas di dalam dada mereka, dan kumpulan ayat-ayat itu akan membentuk kitabullah manakala Allah berkehendak mewariskannya.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah (adalah) cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah benda berlubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam bola kaca (dan) bola kaca itu seakan-akan bintang (yang berkilau) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nuur : 35)

Misykat (benda berlubang) dan zujaajah (bola kaca) itu dapat digambarkan layaknya badan kamera dan lensanya. Cahaya Allah dapat dimisalkan dengan benar oleh orang-orang yang membina misykat dirinya layaknya kamera dalam susunan yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Bayangan cahaya Allah yang terbentuk pada diri seseorang sebagai misal bernilai itu benar walaupun bersifat parsial tidak menceritakan seluruh cahaya Allah. Ibaratnya, gambar foto dari suatu kamera dapat menceritakan dengan benar suatu objek yang dipotretnya, walaupun tidak seluruh aspek objek tergambarkan pada gambar foto tersebut. Demikian suatu misal cahaya Allah dapat diceritakan secara benar tetapi terbatas oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya.

Allah mewariskan kitabullah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk mewarisinya. Hamba-hamba yang terpilih itu berasal dari kalangan orang-orang yang membentuk diri mereka sebagai misykat cahaya Allah. Hal demikian merupakan prasyarat utama, karena kitabullah akan mempunyai tempat dan kedudukan dalam dada orang-orang yang demikian. Bila tidak membentuk diri sebagai misykat cahaya, kitabullah tidak akan mempunyai kedudukan yang layak dalam diri manusia. Adanya kecintaan dalam hati seseorang terhadap kebenaran akan menjadikan kitabullah mempunyai nilai yang tinggi manakala diwariskan kepada mereka. Bila tidak mempunyai kecintaan terhadap kebenaran, kitabullah tidak layak diwariskan kepada mereka.

Hal-hal demikian merupakan syarat pewarisan kitabullah, dan tidak semua orang demikian memperoleh pewarisan. Kebanyakan manusia tidak memenuhi syarat demikian. Kecintaan manusia terhadap kebenaran tidak jarang hanya merupakan ilusi yang menutupi fanatisme terhadap ajaran yang mereka ikuti, bukan benar-benar bentuk kecintaan terhadap kebenaran. Manakala suatu ayat kitabullah dihadapkan dengan pengajaran yang mereka terima, hanya sedikit manusia yang benar-benar akan memikirkan kebenaran kitabullah. Kebanyakan manusia hanya mengikuti pengajaran yang mereka terima, kadang disertai dengan alasan kosong mempertahankan keimanan terhadap pengajarannya, tidak berusaha memikirkan dan kemudian mengikuti kitabullah. Hal demikian menunjukkan bahwa kitabullah tidak mempunyai kedudukan di dalam dada mereka, dan belum tumbuh kecintaan terhadap kebenaran dalam hati mereka.

Bila mereka dari kalangan orang yang berusaha membentuk misykat, pembinaan mereka belum menyentuh dasar dari pembinaan. Kecintaan terhadap kitabullah tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali di atas kecintaan terhadap kebenaran. Misykat merupakan sarana utama bagi seseorang untuk memahami ayat-ayat Allah yang terbentuk dari akhlak mulia. Akhlak mulia terbentuk di atas pondasai kecintaan terhadap kebenaran, yaitu kebenaran dari sisi Allah. Sebagian orang memandang kebenaran adalah ajaran yang mereka ikuti, maka itu tidak selalu termasuk dalam kebenaran. Sebagian manusia menumbuhkan kecintaan terhadap kitabullah dengan suatu narasi kecintaan, maka narasi itu tidak akan benar-benar menumbuhkan kecintaan terhadap kitabullah dan tidak jarang hanya menjadi waham puja-puji yang kurang tepat. Kecintaan terhadap kitabullah harus dibangun di atas pondasi mencintai kebenaran dari sisi Allah.

Membina Bayt

Pembinaan misykat cahaya harus dilakukan dari pondasi hingga menyentuh kauniyah, sehingga seseorang dapat menghubungkan ayat kitabullah dengan ayat kauniyah yang terjadi pada semesta dirinya. Dimulai dengan pengenalan dasar-dasar dalam menempuh taubat, setiap orang harus dibina hingga menemukan jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya dalam kehidupan di dunia, dan melihat ayat-ayat Allah di alam kauniyah ketika melaksanakan ketetapan itu.

Di antara cara pembinaan untuk mencapai tujuan itu adalah pernikahan. Pernikahan merupakan sunnah Rasulullah SAW yang berfungsi untuk dapat mencapai sasaran akhir millah nabi Ibrahim a.s yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
di dalam bayt-bayt yang telah diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang (QS An-Nuur : 36)

Bila suatu pernikahan dapat dibina hingga terbentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, maka sasaran akhir kehidupan manusia di dunia telah tercapai. Ia hanya perlu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah melalui bayt tersebut. Adapun perjalanan taubat selanjutnya berupa mi’raj ke hadirat Allah merupakan karunia yang tidak dapat diusahakan seorang hamba. Allah yang menentukan apakah seorang hamba hendak diperjalankan ke hadirat-Nya atau tidak.

Bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sangat terkait dengan pewarisan kitabullah kepada hamba-hamba Allah yang terpilih. Seorang hamba yang menerima warisan kitabullah akan menjadi orang yang bersegera berbuat kebaikan dengan ijin Allah bila ia berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sebaliknya, seseorang dapat membentuk bayt yang diijinkan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah bila ia menjadi hamba yang terpilih untuk menerima warisan kitabullah. Pewarisan kitabullah menjadi prasyarat terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan pembinaan diri sebagai misykat cahaya menjadi prasyarat pewarisan kitabullah terhadap seseorang.

Pewarisan kitabullah merupakan fungsi personal seorang hamba, sedangkan pembentukan bayt merupakan fungsi sosialnya. Dalam prosesnya, pencapaian pewarisan kitabullah itu akan sangat terbantu dengan pernikahan, baik disertai keberhasilan membentuk bayt ataupun tidak. Pernikahan akan sangat berperan dalam membentuk misykat diri seorang hamba, sekalipun misalnya pernikahan itu kemudian porak poranda. Seorang hamba mungkin saja dapat mencapai fungsi personalnya memperoleh pewarisan kitabullah tetapi tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya bagi masyarakat karena tidak berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Keadaan itu akan menjadikan orang-orang demikian sebagai orang-orang pertengahan (مُّقْتَصِدٌ), orang yang tidak dapat berbuat kebaikan setelah menerima pewarisan kitabullah, sekalipun tidak terjatuh sebagai orang yang dzalim.

Bayt merupakan fungsi sosial, dan sangat dipengaruhi keadaan sosial. Perempuan sebagai penghubung seorang laki-laki ke alam duniawi mereka sebenarnya akan sangat terwarnai dengan keadaan sosial di masyarakat. Seorang isteri seringkali mewakili karakter duniawi, mencerminkan permasalahan di masyarakat yang harus ditangani. Sekalipun seorang isteri adalah perempuan shalihah, ia mungkin akan terlihat bengkok di mata suaminya, sedangkan kebengkokan itu sebenarnya merupakan kebengkokan masyarakatnya. Kebengkokan yang terlihat itu tidak dapat diluruskan karena akan menjadikannya patah. Kebengkokan itu dapat diluruskan melalui kebengkokan serupa yang ada di masyarakat maka isteri tersebut akan lurus. Dalam kasus tertentu, pengaruh terhadap kaum perempuan demikian akan menjadikan sebagian orang menjadi orang-orang pertengahan (مُّقْتَصِدٌ) yang tidak diijinkan untuk bersegera berbuat kebaikan.

Pembinaan yang benar terhadap kaum perempuan akan menentukan keberhasilan para laki-laki melakukan pengaliran khazanah dari sisi Allah ke alam duniawi. Bila pembinaan perempuan dirusak, akan terjadi kerusakan yang sangat besar di alam duniawi sekalipun banyak laki-laki shalih di antara mereka. Laki-laki shalih akan tampak tidak berguna bila para perempuan rusak. Pembinaan kaum perempuan yang benar itu berwujud pembinaan untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pembinaan ini tidak ditujukan khusus untuk perempuan, tetapi ada perbedaan penekanan bentuk dengan laki-laki. pembinaan perempuan harus ditujukan hingga sasaran demikian, tidak berhenti pada sasaran lain. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam pembinaan ini, baik ketika menikah ataupun sebelumnya.

Pembinaan bayt merupakan dasar-dasar pembinaan al-jamaah berdasarkan nafs wahidah. Allah memperkenalkan seluruh urusan penciptaan kepada Rasulullah SAW, dan setiap orang akan mengenal urusan itu melalui nafs wahidah mereka. Kaum laki-laki akan mengenal kedudukan diri masing-masing dalam urusan Rasulullah SAW melalui nafs wahidah mereka, mengenalnya dalam hubungan yang berjalin bersama-sama dengan para sahabatnya, baik dalam hubungan vertikal sebagai wasilah dan umat, ataupun hubungan horisontal persahabatan. Manakala seseorang mengenal dirinya tanpa mengenal kesatuan nafs wahidah, ia belum benar-benar mengenal diri. Kaum perempuan akan mengenali urusan itu melalui nafs wahidah suaminya sebagai penghubung terhadap urusan Rasulullah SAW, dan kadangkala disertai mengenal hubungannya dengan madunya. Hubungan-hubungan dalam agama demikian terbentuk sebagai suatu hubungan fraktal. Fraktal paling mewakili dan melekat pada seseorang dalam pembinaan al-jamaah berdasar nafs wahidah akan ditemukan dalam pernikahan dirinya.

Pembinaan akhlak mulia pada manusia hendaknya dilakukan dengan menapaki langkah membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Ada hal-hal buruk yang harus ditutup dan ada sifat-sifat baik yang harus ditumbuhkan dalam diri manusia dengan mengikuti tahap-tahap dalam millah nabi Ibrahim a.s. agar terbentuk akhlak mulia. Ada sifat buruk yang mutlak harus musnah dari diri manusia agar sifat baik dapat tumbuh dengan baik. Misalnya setiap orang harus menghindarkan sifat takabbur dari dirinya. Setiap orang harus mempunyai kemampuan mengenali kebenaran yang sampai kepada dirinya dan tidak merendahkan orang lain, karena itu menjadi syarat dasar membina akhlak mulia. Iblis terusir dari kedudukannya karena takabbur terhadap manusia. Setiap isteri tidak akan memahami kebenaran bila ia bersikap merendahkan suaminya. Demikian pula para laki-laki tidak akan mengenali kedudukan dirinya bila ia tidak mengenali kebenaran yang sampai kepada dirinya atau merendahkan orang lain. Kedudukan diri dalam al-jamaah hanya akan dikenali oleh orang yang tidak mempunyai sifat kesombongan dalam dirinya.

Pembinaan bayt harus dilakukan terhadap setiap orang, baik menikah ataupun tidak menikah. Ada beberapa prinsip dalam pernikahan harus dikenal oleh setiap orang. Misalnya setiap orang harus menghindari jalan yang keji, tidak terbatas hanya orang yang menikah. Jalan yang keji akan menjadikan seseorang berakhlak salah dan menentang kebenaran. Pada dasarnya Rasulullah SAW melarang keras umat islam untuk hidup tanpa menikah, akan tetapi dalam kehidupan nyata kadangkala seseorang kesulitan untuk memperoleh jodohnya baik karena harapan dalam diri salah maupun budaya masyarakat yang salah dan lain-lain. Bila seseorang tidak dapat membentuk bayt, ia harus dibina untuk dapat menyesuaikan diri di antara al-jamaah dengan sebaik-baiknya, membina suatu pribadi yang selaras dengan orang-orang yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah tidak menjadi penentang atau penghalang bagi mereka. Penentangan terhadap orang-orang yang berusaha untuk meninggikan asma Allah dan mendzikirkan-Nya akan mendatangkan kerusakan yang sangat besar terhadap umat manusia. Manakala seseorang memperoleh jalan dalam membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, ia harus mensyukuri dengan sebaik-baiknya hingga terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk itu.

Pembinaan bayt menjadi kunci pemakmuran bumi sesuai dengan kehendak Allah. Kaum laki-laki hendaknya membentuk diri sebagai misykat cahaya yang membentuk bayangan cahaya Allah, dan kaum perempuan berperan melahirkan ke alam dunia bayangan cahaya Allah yang terbentuk pada diri suaminya. Dengan jalan demikian, pemakmuran bumi mengikuti kehendak Allah akan terwujud.

Kamis, 07 Maret 2024

Menggapai Rahmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW menuju akhlak mulia harus dilakukan dengan berusaha mengikuti tuntunan berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga tingkatan amal-amal. Amal yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itulah yang dapat dikatakan sebagai amal-amal shalih, dan amal shalih itu akan mendatangkan janji Allah untuk memberikan balasan surga. Surga tidak akan dapat diperoleh seseorang hanya dengan amal-amal perbuatan manusia, karena surga hanya diperoleh dengan rahmat Allah, dan rahmat itu ada pada Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran. Demikian pula surga tidak akan diperoleh dengan mewujudkan angan-angan, baik orang angan-angan kaum muslimin ataupun angan-angan ahli kitab lainnya.

﴾۳۲۱﴿لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
(Balasan) itu bukanlah menurut angan-anganmu dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan keburukan, niscaya akan diberi pembalasan dengan (keburukan) itu dan ia tidak mendapat wali dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.(QS An-Nisaa :123)

Sebagian amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang islam dapat dikatakan sebagai angan-angan, yaitu amal-amal yang dilakukan tanpa suatu landasan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tetapi hanya berdasarkan suatu cita-cita yang terbentuk pada tataran hawa nafsu. Sebagian di antara muslimin ada yang membangun suatu cita-cita tanpa suatu landasan dan proses yang benar, tidak melakukan amal berdasar suatu ketulusan atau cita-cita yang benar. Landasan dan proses yang benar itu adalah keinginan membina diri dalam sifat rahman dan rahim dan berbuat atas kedua sifat itu. Dalam kasus yang rumit, suatu kaum mungkin menyangka bahwa mereka berbuat di atas cita-cita yang benar dengan landasan membina sifat rahman dan rahim tetapi tidak menyadari bahwa urusan mereka tidak terhubung kepada Rasulullah SAW sedangkan seharusnya mereka telah seharusnya menghubungkannya, tetapi menolak menghubungkannya dengan benar. Cita-cita demikian termasuk angan-angan. Manakala seseorang atau suatu kaum beramal berdasarkan cita-cita pada hawa nafsunya, maka ia sebenarnya hanya berbuat keburukan (سُوءًا) dan ia akan memperoleh balasan sesuai dengannya. Mereka tidak akan mendapatkan wali dan tidak pula penolong bagi perbuatan-perbuatan mereka.

Berbagai Macam Angan-Angan

Kebanyakan angan-angan berasal dari syaitan, atau bilamana seseorang membentuk sendiri angan-angan itu pada hawa nafsunya, maka syaitan kemudian menyuburkannya. Hampir setiap keinginan pada manusia pada dasarnya berasal dari hawa nafsu kecuali disertai keinginan untuk membina sifat rahman dan rahim dalam dirinya. Syaitan bisa menumbuhkan angan-angan pada diri manusia sekalipun berdasarkan ayat-ayat kitabullah manakala ayat-ayat kitabullah itu ditumbuhkan pada tingkatan hawa nafsu tanpa keinginan untuk membina sifat rahman dan rahim dalam diri. Seorang manusia dapat berkhotbah dengan ribuan dalil untuk membangkitkan umat, akan tetapi bila tidak dilakukan di atas landasan keinginan membina sifat rahman dan rahim, ia dapat dikalahkan syaitan untuk berbuat mengikuti hawa nafsu.

Suatu seruan tauhid sekalipun dapat digunakan syaitan untuk menyesatkan manusia. Kaum khawarij adalah orang-orang yang paling keras menyerukan tauhid kepada umat manusia, tetapi seruan mereka tidak dilandasi dengan pembinaan sifat rahman dan rahim. Pada ujungnya, orang-orang yang mengikuti langkah kaum khawarij akan tersesat sangat jauh, karena mereka sebenarnya mengikuti syaitan. Harus disadari bahwa Iblis terkutuk benar-benar bertauhid bila diukur dalam kacamata manusia, tidak ingin bersembah kepada selain Allah hingga tidak mau bersujud kepada Adam manakala diperintahkan. Ia mempunyai tauhid tersendiri, sedangkan Allah menghendaki setiap makhluk untuk bertauhid dengan jalan membina sifat rahman dan rahim meniru asma Allah yang paling utama sehingga makhluk itu menjadi layak sebagai makhluk yang didekatkan kepada Allah. Sujudnya iblis selama ribuan tahun umur mereka tidak boleh dijadikan representasi tauhid yang dikehendaki Allah. Iblis diusir karena akhlaknya buruk bukan karena sujudnya kepada Allah.

Sebagian angan-angan tumbuh di kalangan orang-orang yang berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW. Akhlak mulia harus ditumbuhkan di atas jalan tazkiyatun-nafs. Setiap orang harus mencapai kesucian nafs tertentu sebelum diarahkan pada suatu sasaran amanah yang ditentukan bagi mereka. Hal ini diperlukan agar hawa nafsu tidak menyimpangkan mereka manakala melaksanakan amal-amal berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Harus tumbuh dalam diri setiap orang suatu keinginan untuk memberikan rasa cinta kasih kepada orang lain dengan jalan yang ditentukan Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dalam suatu bentuk keinginan yang tidak terkotori oleh keinginan lainnya ataupun dendam dan perasaan yang lain. Bila telah tumbuh keinginan demikian, hendaknya mereka diperkenalkan kepada amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Bila amr jami’ Rasulullah SAW diperkenalkan terlalu dini, kebanyakan manusia akan melangkah secara menyimpang mengikuti hawa nafsu yang tumbuh semakin cerdas, dengan dibantu syaitan.

Orang-orang yang menyimpang karena pengenalan terlalu dini terhadap amr yang harus mereka laksanakan akan sangat sulit untuk menyatu dalam aljamaah. Mereka mungkin akan tampak sangat pandai mengerti banyak hal dalam banyak urusan, tetapi mereka tidak mengetahui arah yang harus ditempuh untuk kembali kepada Allah. Tidak jarang pengetahuan di antara mereka unik yang sulit untuk dipahami orang lain dan sulit pula ditemukan salahnya. Ada sedikit manfaat dari pengetahuan itu, tetapi madlaratnya sangat besar. Muslimin secara umum akan kesulitan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar karena langkah mereka telah lebih jauh, dan syaitan membacakan kepada mereka sesuatu yang membuat mereka mempunyai suatu pengetahuan yang diyakini. Mereka akan melangkah tak tertahan tidak menyatu dalam jamaah mengikuti Rasulullah SAW, sedangkan mereka memandang amal-amal mereka sebagai kebaikan.

Di sisi lain, orang-orang yang telah siap untuk mengikuti langkah al-jamaah hendaknya diarahkan untuk mengikuti amr jami’ Rasulullah SAW. Tanpa mengenal amr jami’, pembinaan akhlak di antara mereka akan terhenti tidak berkembang. Akal mereka tidak akan mengenal dengan benar urusan yang harus dikerjakan sebagai amanah bagi diri mereka masing-masing. Orang-orang yang telah bersih hati belum tentu mampu mengenali ke arah mana mereka harus melangkah bila tidak diperkenalkan kepada amr jami’. Hanya sedikit orang yang secara mandiri mempunyai keyakinan dalam melangkah mengikuti Rasulullah SAW.

Amanah Allah bagi setiap manusia telah tertulis dalam kitabullah Alquran, akan tetapi manusia tidak memahaminya. Rasulullah SAW mengajarkan kitabullah itu kepada manusia, demikian pula para pewaris nabi, maka hendaknya manusia mencari kepada Rasulullah SAW. Mereka akan mendapatkan amanah itu sebagai satu urusan dalam amr jami’ Rasulullah SAW, baik secara langsung maupun melalui wasilah-wasilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Amal yang dikalungkan Allah bagi setiap manusia ada dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka setiap orang hanya akan menemukan amanahnya itu melalui kitabullah Alquran.

Amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka itu harus dilaksanakan agar pemakmuran bumi terwujud. Manusia tidak akan menemukan amanahnya melalui angan-angan yang mereka bangun sendiri ataupun dibangun syaitan, hanya melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tazkiyatun-nafs menjadi pondasi untuk mengenal urusan itu. Ayat-ayat Allah berupa kitabullah dan ayat kauniyah harus digunakan untuk membaca kehendak Allah, sehingga manusia dapat menyatu dalam suatu jamaah mengikuti Rasulullah SAW bersama wasilah-wasilah mereka dan umat mereka. Manakala seseorang belum mengenal kedudukan Rasulullah SAW dalam urusan dirinya, ia sebenarnya belum benar-benar mengenal dirinya.

Waspada dalam Menempuh Jalan Taubat

Sikap waspada dalam menempuh perjalanan kembali kepada Allah harus selalu dipertahankan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manusia dapat tergelincir dalam setiap tahapan perjalanan mereka. Seseorang yang masih kuat hawa nafsunya dapat tergelincir mengikuti syaitan menjadi orang-orang yang kuat dan jahat di antara manusia. Kaum muslimin dapat tertipu mengikuti ajaran orang-orang khawarij. Orang-orang yang telah bersih hatinya dapat terhenti atau tersesat mengikuti ajaran yang tidak mengarah kembali kepada Allah. Bahkan orang-orang yang telah menjadi hamba Allah yang terpilih dapat berbalik menempuh kembali jalan kedzaliman.

﴾۲۳﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang bersegera berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Faathir : 32)

Ayat di atas bercerita tentang keadaan para hamba Allah yang terpilih untuk menerima warisan Rasulullah SAW berupa kitabullah Alquran. Ada tiga keadaan para hamba Allah yang terpilih. Ada orang-orang yang mendzalimi diri mereka sendiri setelah menerima warisan kitabullah, ada orang-orang yang hanya mampu berdiri pada pertengahan berusaha sebisa mungkin mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan sebagian orang memperoleh ijin Allah untuk bersegera berbuat kebaikan setelah menerimanya. Orang-orang yang bersegera berbuat kebaikan tidaklah akan mampu bersegera berbuat kebaikan dengan warisan kitabullah yang diterimanya, tetapi hanya dapat melakukannya dengan ijin Allah.

Bilamana Allah belum mengijinkan, maka keinginan mulia orang yang mewarisi kitabullah hanya akan terwujud dalam bentuk menjadi umat pertengahan. Barangkali mereka tidak dapat memberikan sumbangsih mereka kepada orang lain sesuai dengan bagian kitabullah yang mereka warisi dari Rasulullah SAW. Umat islam tidak boleh mengatakan terhadap apa-apa yang mereka sampaikan sebagai omong kosong tanpa bukti. Boleh jadi masalah yang menghambat mereka untuk memberikan sumbangsih dari kitabullah adalah umat islam sendiri, bukan keadaan para pewaris kitabullah tersebut. Hal demikian lebih mungkin terjadi walaupun bukan tidak mungkin ada persoalan pula pada pewaris kitabullah tersebut. Pengetahuan tentang hal-hal yang menjadikan izin Allah tidak diturunkan kepada mereka berada di sisi Allah. Yang jelas, mereka bukan orang yang kemudian menempuh jalan yang dzalim setelah menerima warisan kitabullah, sekalipun belum diijinkan Allah untuk memberikan sumbangsih diri mereka kepada umat.

Di antara orang yang dijadikan sebagai hamba Allah yang terpilih menerima warisan kitabullah Alquran, ada orang-orang yang kemudian tergelincir menjadi orang-orang yang dzalim. Mereka tidak melangkah mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi justru mengikuti diri mereka sendiri. Sekalipun seseorang telah terpilih untuk menerima warisan kitabullah, seorang hamba tidak boleh mengandalkan diri sendiri dalam melangkah. Persangkaan bahwa dirinya baik, benar, mengandalkan Allah dan lain-lain tidaklah berarti benar manakala tidak berpegang pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan ia sebenarnya mengandalkan diri sendiri. Persangkaan mengandalkan Allah itu hanya benar bila ia berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tidak sedikit di antara persangkaan-persangkaan manusia sebenarnya merupakan angan-angan yang dibangkitkan oleh syaitan, termasuk persangkaan-persangkaan tentang kebaikan. Nilai persangkaan demikian akan dapat diketahui dengan diuji berdasar kitabullah Alquran. Menilai persangkaan berdasarkan sumpah-sumpah orang yang menyangka tidak dapat menunjukkan bobot yang benar. Manakala Alquran dan sunnah Rasulullah SAW mengatakan hal yang sama, maka persangkaan itu adalah persangkaan yang benar dan berisi. Manakala Alquran mengatakan yang sebaliknya, maka persangkaan itu hanyalah angan-angan yang dibangkitkan syaitan. Rahmat Allah tidak akan diperoleh dengan mengikuti angan-angan, sekalipun angan-angan dari orang beriman atau angan-angan para ahli kitab. Rahmat Allah terdapat dalam langkah mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seandainya seorang mukmin memperoleh suatu penjelasan dalam dirinya, ia hendaknya mencari penjelasan itu dari kitabullah Alquran, tidak membiarkan penjelasan itu tanpa landasan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada masalah rumit di kalangan umat yang mungkin akan muncul dari ahli waris Alquran yang mendzalimi diri. Kedzaliman demikian akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar, hanya saja mungkin hanya sedikit orang yang bisa menyadari kerusakan yang akan datang. Kebanyakan orang tidak dapat menyadari kerusakan yang akan ditimbulkan dan melihat urusan mereka baik-baik saja. Dzalim terkait dengan langkah kembali (taubat) kepada Allah. Manakala seseorang yang dijadikan pewaris kitabullah kemudian berbuat dzalim, ia berbelok menyimpang atau berbalik dari langkah taubat kepada Allah. Sebagai pewaris kitabullah, tentu seseorang telah menempuh langkah yang jauh dalam taubatnya. Mungkin banyak orang telah mengikuti langkahnya, dan kedzaliman yang dilakukan akan sulit diketahui oleh para pengikutnya. Mungkin mereka akan mengikuti pula langkah-langkah yang ditempuh, atau mereka akan menemukan jalan taubat yang tidak tetap arahnya untuk ditempuh. Keadaan demikian akan menimbulkan kesulitan dalam skala yang besar. 

Hendaknya setiap orang berusaha untuk kembali melangkah di jalan taubat dengan mengikuti kitabullah Alquran. Para pencari kebenaran yang mengikuti harus selalu berpegang pada kitabullah. Bila ia dapat mengalami kecurigaan terhadap kemungkinan kesesatan sahabatnya, kesesatan itu mungkin pula menimpa dirinya. Bahkan kesesatan itu mungkin pula menimpa orang terpilih yang diikutinya manakala berselisih atau bertentangan dengan kitabullah. Berpegang pada kitabullah dalam perjalanan taubat bersifat mutlak, tidak ada yang dapat menjamin kebenaran termasuk para wali Allah manakala berselisih atau bertentangan dengannya. Para pewaris manakala berselisih hendaknya kembali pula berpegang pula kepada kitabullah, tidak mengandalkan diri sendiri. Hendaknya ia mentaati tuntunan Rasulullah SAW hingga tidak keluar dari al-jamaah.

Orang lain yang juga mempunyai bagian dari kitabullah mungkin akan dapat membantu untuk jalan kembali kepada kitabullah dan mengurangi kerusakan yang akan ditimbulkan, setidaknya mengetahui cara berusaha untuk mencegah kedzaliman. Hamba-hamba Allah yang terpilih untuk mewarisi kitabullah pada dasarnya hanya mewarisi sebagian dari kitabullah yang merupakan bagian mereka saja. Manakala mereka mempunyai rasa takut kepada Allah, mereka itu adalah ulama. Tanda dari rasa takut itu adalah mereka mengetahui bahwa banyak hal yang tidak diturunkan kepada dirinya dan mungkin diturunkan kepada sahabatnya. Mereka mengetahui bahwa orang-orang lain mempunyai warna yang berbeda-beda dari dirinya, dan seluruhnya membawa khazanah diri mereka masing-masing. Manakala orang lain membacakan khazanah dirinya, ia mengetahui bahwa khazanah itu dari Allah yang bisa memberikan manfaat besar kepada dirinya. Bila seseorang takut kepada Allah, ia akan memperoleh manfaat dari sahabatnya. Bila seseorang merasa bahwa kitabullah hanya untuk dirinya, ia akan kesulitan melihat khazanah Allah yang diturunkan kepada sahabatnya dan sulit untuk mendapatkan manfaatnya.

Senin, 04 Maret 2024

Membina Istiqamah dalam Agama

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Allah telah menggariskan jalan-jalan kehidupan bagi setiap manusia, baik jalan ketakwaannya ataupun jalan yang penuh dosa. Setiap orang dapat memilih garis kehidupan yang telah ditentukan tersebut. Bila bertakwa, seseorang akan menemukan di jalan kehidupan yang dikehendaki Allah pengetahuan yang banyak tentang Allah. Pengetahuan itu merupakan sumber keihsanan bagi setiap hamba. Agama yang paling ihsan dapat diperoleh seseorang dengan jalan menempuh kehidupan berserah diri, berbuat dengan penuh keihsanan dan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s secara hanif.

Jalan yang dikehendaki Allah bagi setiap hamba-Nya sebagai jalan ketakwaannya disebut shirat al-mustaqim. Orang yang berusaha untuk melaksanakan jalan ketakwaannya disebut sebagai orang-orang yang melakukan istiqamah. Istiqamah secara bahasa berarti menegakkan diri, yaitu menegakkan diri untuk melaksanakan jalan kehidupan yang dikehendaki Allah sebagai jalan ketakwaan dirinya berupa shirat al-mustaqim.

﴾۰۳﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka agar (mengatakan) : "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fusshilat : 30)

Orang-orang yang mampu istiqamah adalah orang yang mampu berkata bahwa Tuhan mereka adalah Allah. Hal ini menunjukkan keadaan orang-orang yang telah mengenal Allah sebagai rabb mereka, tidak menunjuk pada umat islam secara umum yang ingin menjadi hamba-hamba Allah. Mereka orang-orang yang telah mengenal penciptaan diri mereka, yang diturnjukkan di antaranya dengan pengenalan terhadap amal-amal yang dikalungkan Allah di leher mereka. Dengan mengenal penciptaan diri mereka maka mereka mengenal rabb mereka. Mereka itulah yang dikatakan pada ayat-ayat di atas sebagai orang-orang yang mengatakan bahwa rabb mereka adalah Allah.

Keadaan mengenal penciptaan diri merupakan suatu tahapan tertentu dalam perjalanan kembali kepada Allah, yang setara dengan perjalanan bani Israel mencapai tanah suci yang dijanjikan, atau perjalanan nabi Ibrahim a.s dan Siti Hajar r.a ke lembah bakkah. Perjalanan kembali (taubat) kepada Allah harus ditempuh dengan langkah-langkah dengan arah tertentu sesuai dengan millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW. Taubat tidak sepeuhnya sama dengan memohon ampunan atas dosa-dosa (Istighfar). Istighfar merupakan bagian dari taubat, dan taubat merupakan perjalanan panjang agar seorang hamba layak dihadirkan di hadirat Allah sebagaimana Rasulullah SAW hadir di ufuk yang tertinggi. Sebagian besar manusia akan dihadirkan di hadirat Allah kelak pada masa penimbangan, baik sebagai makhluk mulia ataupun sebagai makhluk yang hina, dan sebagian kecil manusia dihadirkan sebelum masa itu sebagai makhluk mulia.

Perjalanan taubat itu harus ditempuh setiap orang di dunia dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s di antaranya berhijrah ke tanah suci yang dijanjikan dan membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Hijrah nabi Musa a.s bersama bani Israel ke tanah yang dijanjikan merupakan bagian dari millah nabi Ibrahim a.s. Millah nabi Ibrahim a.s merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW, dan pencapaian tanah suci yang dijanjikan merupakan bagian dari millah nabi Ibrahim a.s yang diperinci penjelasannya dalam perjalanan nabi Musa a.s bersama bani Israel dari negeri mesir menuju tanah yang dijanjikan. Millah nabi Ibrahim a.s merupakan tauladan yang sempurna bagi kehidupan di dunia, sedangkan sunnah Rasulullah SAW menjelaskan tauladan yang lebih luas dan lebih sempurna.

Perjalanan nabi Musa a.s pada dasarnya merupakan langkah mengikuti kitabullah, yaitu kitabullah yang diturunkan kepada nabi Musa a.s. Kitab tersebut hendaknya dijadikan imam bagi orang-orang yang berhijrah, karena kitab tersebut merupakan imam dan sarana mencapai rahmat Allah bagi orang-orang yang berhijrah. Secara praktis, sulit bagi muslimin untuk menemukan kitab nabi Musa yang otentik, karena bahkan bani Israel sendiri pun kehilangan kitab tersebut sejak dahulu kala. Akan tetapi, Alquran sangat banyak menjelaskan tentang tauladan nabi Musa a.s dalam menuntun bani Israel berhijrah, dan sebenarnya ada hamba-hamba Allah di kalangan umat Rasulullah SAW yang dijadikan sebagai pembimbing umat manusia untuk berhijrah. Maka mereka itulah orang-orang yang memahami kandungan kitab nabi Musa a.s untuk berhijrah, sehingga menjadikan kitab nabi Musa sebagai imam dan rahmat bukan suatu hal yang mustahil dilakukan oleh umat nabi Muhammad SAW.

Alquran menjelaskan setiap kebenaran dengan jelas, termasuk seluruh kandungan kitab nabi Musa a.s ataupun shuhuf nabi Ibrahim a.s. Tetapi hanya orang-orang tertentu yang dapat menurunkan penjelasan tersebut dalam nilai-nilainya. Hanya saja penurunan penjelasan itu mungkin akan dibatasi oleh orang yang menurunkannya sehingga mereka mungkin tidak mengungkap seluruh kandungan kitab nabi Musa a.s ataupun shuhuf nabi Ibrahim a.s. Keterbatasan umat manusia dalam mengungkap kandungan kitabullah-kitabullah tidak akan menjadikan seseorang atau orang-orang yang mengikuti mereka celaka selama tidak bertentangan atau menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran. Bila seseorang berpegang pada kitabullah Alquran dengan hati bersih, mereka tidak akan celaka. Orang yang mengikuti langkah uswatun hasanah tidak celaka walaupun hanya mampu menempuh langkah yang sedikit, selama ia dapat memenuhi syarat-syarat minimal.

Bila seseorang telah mengikuti kitab nabi Musa a.s hingga memperoleh rahmat, mereka akan mengenal diri mereka dan mengenal rabb mereka. Mereka tiba di tanah suci yang dijanjikan. Apabila mereka melaksanakan amal-amal yang dikehendaki Allah bagi mereka, maka mereka itulah orang-orang yang istiqamah. Mereka orang-orang yang menempuh shirat al-mustaqim. Proses istiqamah ini dapat dilakukan bila seseorang telah melempar jumrah, mengusir syaitan dari pengetahuan ma’rifah dalam dirinya. Tanduk syaitan akan ikut serta terbit manakala matahari mulai terbit atau manakala tenggelam. Hal ini terkait dengan terbit atau tenggelamnya suatu ma’rifah pada manusia. Bila suatu ma’rifat yang terbit tidak disertai dengan langkah mengusir syaitan dari ma’rifat itu, maka syaitan akan menyertainya di shirat al-mustaqim. Istiqamah hanya dapat dilakukan oleh seseorang manakala ia telah mengusir syaitan dari ma’rifah yang terbuka kepada dirinya.

Hidayah Thariq

Manakala seseorang telah istiqamah, ia dapat melakukan dzikir yang sebenarnya. Dzikir merupakan upaya mengartikulasikan suatu pemahaman hingga terwujud ke semesta diri mereka. Sebagian orang berdzikir dengan melafadzkan pujian-pujian kepada Allah dengan lidah mereka, dan sebagian berdzikir dengan mewujudkan pemahaman diri mereka tentang kehendak Allah hingga terwujud pada semesta melalui amal-amal yang dilakukan. Shabahat Ali ibn Abi Thalib r.a termasuk orang yang diperintahkan untuk berdzikir dangan cara tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib r.a untuk mendzikirkan asma Allah dengan mengikuti petunjuk, yaitu petunjuk Allah kepada beliau r.a yang dijadikan Allah sebagai jalan hidupnya ( الطَّرِيقَ).

Dari Ali ibn Abi Thalib berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
وَاذْكُرْ بِالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ
Berdzikirlah dengan hidayah, yaitu hidayah bagimu tentang jalan (at-thariq), dan (berusahalah) dengan sadad (ketepatan) seperti tepatnya anak panah (yang mengenai sasarannya)“. (HR Muslim no: 2725)

Amal seseorang hendaknya dilakukan sebagai dzikir untuk merealisasikan petunjuk tentang jalan hidup ( الطَّرِيقَ). Jalan hidup ( الطَّرِيقَ) artinya jejak yang membentuk jalan, atau jalan setapak, menunjuk pada suatu jalan yang lingkupnya terbatas, bersifat terikat pada ruang dan/atau waktu tertentu. Seluruh alam semesta diciptakan bagi Rasulullah SAW, dan setiap orang memperoleh bagian dari urusan Rasulullah SAW sesuai ruang dan waktu kehidupan mereka, maka bagian bagi mereka itu merupakan jalan hidup ( الطَّرِيقَ) mereka. Di kalangan umat islam, dikenal adanya thariqah-thariqah berupa jamaah-jamaah yang berusaha untuk menemukan dan melaksanakan amr jami’ untuk ruang dan jaman mereka masing-masing, dipimpin oleh orang-orang yang mengenal amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Thariq tidak terbatas pada thariqah, mencakup juga jalan semua orang yang menyatukan diri pada amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Orang-orang yang memperoleh petunjuk demikian itu diperintahkan untuk berdzikir dengan hidayah tersebut.

Pengenalan tentang amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan waktu demikian penting untuk dipahami oleh orang-orang yang berthariqah. Tidak ada gunanya berthariqah manakala seseorang tidak mau memahami amr jami’ tersebut. Sebagian orang mengaku berthariqah akan tetapi mencela orang-orang yang berusaha untuk memahami amr jami’ Rasulullah SAW bagi ruang dan jaman mereka, maka mereka itu secara prinsip mendustakan mursyid yang mengajak mereka untuk menyatukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Masalah ketidaksiapan nafs atau berlebihannya para murid dalam memahami menjadi tanggung jawab sang mursyid, bahwa ia harus memangkas sikap berlebihan atau mencegah pertumbuhan hawa nafsu murid yang salah. Setiap mursyid bertanggung jawab untuk membersihkan nafs para murid, membantu murid untuk memahami urusannya dengan tepat dan menjaga dari kesesatan. Para murid tidak berhak mencela murid lain berdasarkan kepingan yang dilihat dari tindakan sang mursyid. Adapun bila ia mengetahui urusan itu, ia boleh berbagi pemahamannya kepada sahabatnya, atau bila ia mengetahui sikap berlebihan sahabatnya ia boleh memperingatkan kesalahan itu. Tetapi hendaknya ia tidak mencela sahabatnya dalam upayanya memahami urusan Rasulullah SAW tanpa alasan yang jelas atau prasangka. Dalam hal ini, ia juga tidak boleh menyepelekan sahabatnya bila shahabatnya ternyata mempunyai pengetahuan yang lebih baik karena sikap demikian itu termasuk kesombongan.

Melakukan dengan Tepat

Prinsip berikutnya dalam istiqamah adalah melakukan dengan tepat urusannya. Setiap amal istiqamah mempunyai sasaran tertentu sebagaimana orang yang memanah mempunyai sasaran di tempat yang jauh yang harus dibidik. Istiqamah tidak diibaratkan orang yang menghujani musuh dengan anak panah secara acak, tetapi memanah suatu sasaran. Ia harus mengetahui sasaran itu sebelum melakukan amalnya, dan kemudian beramal untuk mencapai sasaran yang diketahuinya. Seseorang yang istiqamah tidak boleh beramal tanpa mengetahui sasaran yang dituju, dan tidak boleh melakukan amal secara menyimpang dari sasarannya. Ia harus mengetahui sasarannya, dan melakukan amal dengan sebaik-baiknya untuk mencapai sasaran itu.

Ketepatan (السَّدَاد ) menunjukkan ketepatan sebagaimana perkataan yang tepat dalam menjelaskan masalah dan merumuskan langkah untuk mencapai tujuan. Prinsip ketepatan lebih diutamakan Rasulullah SAW terhadap umatnya dibandingkan dengan jumlah pelaksanaan perintah. Umat Rasulullah SAW tidak akan mempunyai kesanggupan atau kemampuan untuk melaksanakan semua perintah yang disampaikan kepada mereka. Karena hal ini, Rasulullah SAW tidak memerintahkan umat islam untuk melaksanakan semua perintah Allah, akan tetapi hendaknya mereka lebih memperhatikan ketepatan mereka dalam melaksanakan perintah.

dari al-Hakam bin Hazn al-Kulafi bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا
Wahai manusia! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengerjakan – atau tidak akan sanggup – (mengerjakan) semua yang diperintahkan padamu, akan tetapi (berusahalah) untuk lebih tepat (dalam melaksanakan) dan berilah kabar gembira“. (HR Abu Dawud no: 1097, Ahmad 17856)

Akar dari ketepatan adalah pemahaman. Semakin baik pemahaman seseorang, semakin besar kemungkinan langkah yang tepat bisa dilakukan. Bila tidak mempunyai pemahaman, seseorang hanya bisa meniru perbuatan, tidak dapat dikatakan melaksanakan amal untuk mencapai sasaran. Meniru amal itu seringkali tidak salah, tetapi amal tidak seharusnya terus dilakukan dengan cara demikian. Setiap orang harus berusaha memahami sasaran yang diberikan kepada dirinya, dan melakukan amal dengan tepat. Ibarat orang memanah, ia melihat sasaran disertai dengan memahami dinamika yang terjadi pada sasarannya, memahami fenomena medan yang ada di antara sasaran dengan dirinya, dan memahami mekanisme dalam dirinya. Hal itu akan menjadikan seseorang bisa mengarahkan dengan tepat anak panahnya. Bila hanya bisa melontarkan anak panah tanpa mengerti sasaran dan medan, ia sebenarnya tidak memahami. Demikian seorang beriman diajar memahami untuk memperoleh ketepatan mencapai sasaran.

Sasaran thariq setiap orang berbeda-beda, tetapi semuanya adalah penyatuan terhadap amr jami’ Rasulullah SAW dalam bidang masing-masing. Ada suatu penanda yang jelas bahwa seseorang mengetahui sasaran hidupnya. Pengetahuan tentang sasaran itu pada kebanyakan orang seringkali hanya berupa pengetahuan samar-samar atau persangkaan dari meraba-raba pengalaman hidupnya, maka itu belum menjadi pemahaman yang jelas tentang sasaran amalnya. Sasaran yang sebenarnya bagi setiap orang akan terbuka secara tiba-tiba, berupa keterbukaan jati diri penciptaannya. Sebelum itu, ia harus mengikuti orang-orang yang telah mengerti jati diri mereka.

Manakala seseorang dapat mengetahui sasaran bagi amal yang harus dilaksanakan, hendaknya mereka beramal sesuai dengan sasarannya. Banyak fenomena yang ada di antara seseorang dengan sasaran yang harus diperhatikan, maka ia akan dapat mewujudkan amal yang sadid (tepat sasaran). Mewujudkan amal yang sadid akan menjadi medan jihad yang menyenangkan bagi orang-orang yang telah mengetahui sasaran hidupnya, menjadi suatu sumber kegembiraan bagi orang-orang yang memperolehnya. Mereka itu adalah orang-orang yang memperoleh kabar gembira tentang surga yang dijanjikan bagi mereka, di mana surga mereka kelak akan serupa dengan kehidupan dirinya di bumi tersebut, dalam intensitas yang berbeda. Orang-orang yang memperoleh keadaan demikian hendaknya memberikan kabar gembira kepada orang-orang lain agar mereka juga mengetahui jalan untuk memperoleh kegembiraan.

Kabar gembira tentang surga bagi para hamba Allah yang istiqamah merupakan pencapaian yang sangat baik. Kabar itu hendaknya disampaikan pula kepada orang lain agar orang lain dapat mengarahkan kehidupan mereka mencapai keadaan yang sama. Amal-amal yang meniru keadaan orang yang memperoleh kabar gembira tersebut sebenarnya juga akan mendatangkan kegembiraan, walaupun dalam intensitas yang berbeda. Bila setiap orang bekerja untuk mencapai sasaran yang tepat dengan timbangan yang teliti maka mereka akan memperoleh kegembiraan dengan pekerjaan mereka, sekalipun mungkin hanya berbentuk kegembiraan di dunia. Di dunia yang korup, sekadar bekerja untuk membidik sasaran yang tepat seringkali susah dilakukan karena tuntutan dari banyak pihak untuk bekerja secara tidak jujur dan curang. Dalam keadaan demikian, suasana muamalah di antara manusia akan lebih mendekati suasana interaksi ahli neraka daripada berita gembira layaknya surga. Tidak sedikit juga orang-orang yang beramal baik dalam kungkungan kebodohan, tidak mampu memahami arah kehidupan apakah mereka mengarah ke surga atau ke neraka. Banyak masalah lain terkait dengan sikap istiqamah yang dapat dijelaskan dengan memberikan kabar gembira tentang sikap istiqamah.

Jumat, 01 Maret 2024

Keihsanan dan Kekuatan Masyarakat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Allah telah menggariskan jalan-jalan kehidupan bagi setiap manusia, baik jalan ketakwaannya ataupun jalan yang penuh dosa. Setiap orang dapat memilih garis kehidupan yang telah ditentukan tersebut. Bila bertakwa, seseorang akan menemukan di jalan kehidupan yang dikehendaki Allah pengetahuan yang banyak tentang Allah. Pengetahuan itu merupakan sumber keihsanan bagi setiap hamba. Agama yang paling ihsan dapat diperoleh seseorang dengan jalan menempuh kehidupan berserah diri, berbuat dengan penuh keihsanan dan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s secara hanif. Allah telah menjadikan nabi Ibrahim a.s sebagai khalil (kesayangan) bagi-Nya, karena itu jalan yang telah beliau a.s tempuh hendaknya dijadikan panduan bagi umat manusia sebagai jalan untuk kembali kepada Allah.

﴾۳۵﴿وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Israa’ : 53)

Baiknya agama seseorang akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat mereka. Millah nabi Ibrahim a.s akan menjadikan seseorang mampu melahirkan amal sebagai sumbangsih mereka bagi kehidupan bermasyarakat. Keislaman akan menjadikan seseorang erat berpegang pada tali Allah, dan keihsanan akan menjadikan kualitas amal-amal menjadi baik. Ada hubungan timbal balik di antara ketiga keadaan di atas yang akan menjadikan seseorang meningkat kebaikannya.

Salah satu manfaat keihsanan adalah menghilangkan perselisihan di antara hamba-hamba Allah. Syaitan selalu berusaha untuk menimbulkan perselisihan di antara manusia. Karena perbuatan syaitan umat manusia menjadi berselisih satu dengan yang lain. Tidak semua perselisihan terjadi karena perbuatan syaitan, akan tetapi syaitan selalu bergembira dan berusaha memperbesar perselisihan di antara manusia. Perselisihan demikian tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang kafir. Orang-orang yang berjuang di atas kebaikan untuk tujuan yang sama seringkali tidak terlepas dari perselisihan karena perbuatan syaitan. Demikian pula beriman tidak terlepas dari upaya syaitan untuk menimbulkan perselisihan. Keihsanan dan perkataan yang ihsan akan mengalahkan perbuatan syaitan yang membuat perselisihan di antara umat manusia.

Syaitan Sebagai Qarin

Keihsanan tidak dapat diukur dengan hawa nafsu, tetapi harus diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mengukur keihsanan tanpa melihat tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bisa menjadi sangat berbahaya. Ada orang-orang yang mengira bahwa mereka menjalankan perintah Allah sedangkan sebenarnya mereka terjerumus mengikuti syaitan. Suatu keihsanan mungkin saja berbenturan dengan keihsanan yang lain, sedangkan salah satu di antara keihsanan itu atau keduanya palsu. Bila suatu keihsanan ditenggelamkan dengan keihsanan yang palsu, maka syaitan akan mudah menimbulkan perselisihan di antara manusia. Cara demikian termasuk cara syaitan yang paling efektif untuk meredam meningkatnya keihsanan di antara manusia, dan seringkali hal demikian dibantu oleh manusia sendiri tanpa menyadari dan justru merasa ihsan. Setiap keihsanan harus diukur bobot kebenarannya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۵۲﴿ وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُم مَّا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ
Dan Kami sertakan bagi mereka qarin-qarin (teman karib) yang menjadikan mereka memandang indah apa yang ada di tangan mereka dan di belakang mereka dan benarlah atas mereka perkataan atas umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. (QS Fusshilat : 25-26)

Allah menyertakan kepada orang-orang tertentu qarin-qarin, sedangkan mereka dan umat mereka dijadikan sebagaimana nasib umat-umat yang terdahulu. Qarin bagi mereka itu bisa berasal dari alam jin dan manusia, kebanyakan berasal dari alam jin yang diqarinkan bagi manusia. Para jin tersebut mempunyai pengetahuan dari kehidupan yang lebih panjang dari umat manusia sehingga bisa memberikan nasihat-nasihat berdasarkan pengalaman mereka. Manakala qarin itu berasal dari kalangan jin jenis Iblis, mereka mungkin bahkan mengalami kehidupan di alam yang tinggi di masa lalu. Mereka bisa memberikan nasihat-nasihat berdasar pengetahuan di alam yang tinggi.

Para qarin menjadikan manusia-manusia dan umat yang mengikuti mereka memandang indah segala sesuatu yang mereka perbuat dan apa-apa yang akan terjadi mengikuti perbuatan mereka. Mereka memberikan arahan perbuatan-perbuatan kepada seseorang yang didampinginya, dan orang tersebut kemudian tampak dalam pandangan manusia sebagai orang yang cerdas. Demikian pula mereka sendiri merasakan tambahan kecerdasan yang lebih daripada manusia lainnya. Arahan itu seringkali berupa tindakan-tindakan yang berada di daerah abu-abu syubhat, banyak madlarat bagi umat manusia dan ada keuntungan darinya akan tetapi para syaitan membuat sisi keuntungan itu lebih tersiar bagi manusia. Manusia akan sulit membuktikan kesalahan dari tindakan yang dilakukan walaupun sebagian mampu melihat madlarat yang ditimbulkan dari tindakan itu. Para qarin itu menjadikan apa-apa yang mereka perbuat indah dalam pandangan manusia, sedangkan madlaratnya dijadikan bahan perbantahan-perbantahan di antara manusia yang menjadikan mereka lemah, dan para qarin itu leluasa berkuasa bersama yang disertainya.

Arahan mereka tidak terbatas pada batasan-batasan syubhat. Tidak sedikit para qarin memberikan arahan perbuatan yang jelas diharamkan Allah, dan perbuatan itu dijadikan indah dalam pandangan dirinya dan umatnya. Karena itu mereka dan umat mereka tidak memandang keharaman perbuatan mereka dan justru memandang indah. Suatu perbuatan yang haram dapat dipuja-puji oleh suatu umat manusia sebagai perbuatan mulia karena qarin yang berbuat demikian. Sebagian qarin itu berasal dari kalangan Iblis yang pernah menempati kedudukan tinggi, maka mereka dapat memberikan arahan sesuai keadaan di kedudukan yang tinggi. Bila manusia mengukur keihsanan dengan hawa nafsu mereka, maka syaitan dengan mudah menipu mereka. Umat manusia akan mengetahui ukuran kebenaran keihsanan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seseorang yang ihsan pada dasarnya mempunyai pengetahuan tentang urusan Allah, dan mereka mampu membaca ayat Allah berdasarkan pengetahuan dan akhlak mulianya, dan mampu mengenali tipuan syaitan yang datang dengan keihsanannya. Kesucian hati akan mengantar seseorang untuk berakhlak mulia, dan pengetahuan tentang Allah tumbuh mengikuti akal yang tumbuh karena akhlak mulia itu. Kesucian tanpa membentuk akhlak mulia dengan akal yang baik tidak mendatangkan manfaat, dan tidak jarang justru mendatangkan kesombongan karena indera-indera qalb yang menguat tanpa disertai akal. Akhlak mulia tidak hanya ditunjukkan dengan kesucian, tetapi juga tumbuhnya akal dalam qalbnya. Dalam kasus tertentu, Allah mungkin saja berkehendak menonjolkan pentingnya tumbuhnya akal mendahului kesucian melalui seorang hamba-Nya.

Cara Syaitan Mengalahkan Keihsanan Umat

Banyak orang yang mempunyai qarin bukan karena Allah menyertakannya. Sebagian orang memperoleh warisan. Sebagian orang bisa dekat dengan para jin walaupun tidak terikat pada qarin. Hal demikian tidak menjadi suatu penyebab terbentuknya umat yang celaka, dan orang-orang demikian pada dasarnya dapat lebih mudah lepas dari para qarin mereka. Tapi perlu disadari bahwa para jin itu akan berbuat seperti para qarin yang disertakan Allah, karena mereka sebenarnya qarin, memberikan nasihat-nasihat yang mungkin tampak baik tetapi tidak membawa kebaikan pada ujungnya atau justru menyesatkan. Setiap orang hendaknya selalu berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar bisa menempuh jalan yang paling ihsan.

Qarin yang dilekatkan kepada seseorang adalah qarin yang menjadikan umat manusia menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian penentangan itu dilakukan dengan bahasa yang sama dengan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan sebagian penentangan dilakukan dengan bahasa turunan berupa kaidah dalam kehidupan yang bertentangan dengan kitabullah Alquran.

﴾۶۲﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu menyimak Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS Fusshilat : 25-26)

Tidak semua pembahasan tentang kitabullah atau pembahasan urusan-urusan berdasarkan kitabullah merupakan pembahasan yang benar. Para Qarin sebenarnya juga mengarahkan umat manusia menimbulkan hiruk pikuk dalam pembahasan Alquran untuk mengalahkan umat manusia. Hiruk pikuk tentang Alquran yang mereka buat disebut dengan istilah الْغَوْا yang menunjuk pada hiruk pikuk berkata-kata. Mereka memunculkan pembahasan-pembahasan tentang Alquran untuk menenggelamkan pembahasan tentang Alquran yang paling akurat mengungkapkan kebenaran dari sisi Allah. Pada masyarakat yang kurang akalnya, pembahasan yang akurat akan mudah ditenggelamkan, sedangkan pada masyarakat berakal kuat, para qarin akan sulit untuk menenggelamkan. Setiap jamaah yang berusaha mengikuti Rasulullah SAW hendaknya berusaha agar pembahasan Alquran yang paling akurat mengungkapkan kebenaran dari sisi Allah dapat terlihat dengan jelas, atau setidaknya tidak ditenggelamkan, tanpa terjebak pada fanatisme.

Setiap orang beriman harus mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s berserah diri dengan sikap hanif mengikuti kebenaran yang lebih baik. Manakala seseorang fanatik dengan kebenaran dirinya sebagai kebenaran final, ia akan mudah dikalahkan. Langkah nabi Ibrahim a.s kembali kepada Allah merupakan tauladan perjalanan yang sempurna bagi umat manusia dalam kehidupan di dunia, perjalanan keluar melarikan diri dari kesyirikan hingga terbina suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Millah nabi Ibrahim a.s tersusun dari tahapan-tahapan yang dapat ditempuh sebagai arah yang jelas, dan dapat dijadikan ukuran keihsanan mereka untuk mengetahui dan mengurai tipu daya syaitan pada setiap tingkatan. Tanpa mengikuti millah nabi Ibrahim a.s, manusia tidak akan mengetahui cara mengurai tipuan syaitan yang akan menghampiri diri mereka.

Pada bahasa agama, para qarin dari kalangan syaitan mengajarkan kepada manusia konsep-konsep tauhid dan syariat yang dibuat sedemikian tidak menjadikan umat manusia memperoleh jalan untuk kembali mendekat kepada Allah. Mereka mengubah-ubah kedudukan firman-firman Allah sebagaimana para ahlul kitab mengubah-ubah kedudukan firman Allah dalam kitab mereka hingga manusia mengalami kesulitan untuk mengenali kehendak Allah yang sebenarnya, dan pengajaran itu justru menimbulkan perselisihan di antara umat Rasulullah SAW. Pada dasarnya Alquran tidak akan dapat dibengkokkan, tetapi syaitan dapat mengubah kedudukan ayat-ayatnya dalam pembahasannya di antara manusia. Kaum khawarij berbangga dengan syariat mereka yang menjadikan para sahabat berkecil hati, tetapi sebenarnya mereka tidak melangkah sedikitpun kembali kepada Allah.

Selain pengajaran dengan mengubah kedudukan firman-firman Allah, para qarin juga mengajarkan kepada manusia suatu kesesatan ketika menempuh taubat dengan kalimat-kalimat yang menentang firman Allah. Mereka akan berbangga dengan tingkat pengetahuan di antara mereka tanpa menyadari kesesatannya. Mereka kemudian tergelincir pada suatu kesombongan sehingga mengabaikan kebenaran dan menganggap remeh manusia yang menyampaikan kebenaran. Kesombongan tidak boleh ada sedikitpun pada manusia sekalipun telah mencapai kedudukan yang tinggi. Kadangkala seseorang menjadi sombong ketika telah mencapai langkah tertentu tanpa menyadari kesombongannya. Ia meremehkan orang lain dan mungkin saja merampas haknya di sisi Allah, tanpa menyadari nilai yang dirampas itu dalam pandangan Allah, kerusakannya bagi sunnah Rasulullah SAW dan millah Ibrahim a.s, dan manfaatnya bagi orang yang dirampas. Manakala disampaikan kepada mereka firman Allah, mereka tidak memandang firman itu sebagai bacaan yang benar. Dengan demikian mereka menentang firman Allah berupa pembacaan Alquran, sedangkan pembacaan itu dilakukan dengan benar. Kerusakan karena kesesatan demikian akan mengakibatkan kerusakan yang sangat besar.

Para qarin itu juga akan merusak sendi-sendi kehidupan berdasar tuntunan kitabullah. Alquran telah memberikan tuntunan pokok-pokok dalam menempuh kehidupan di dunia. Misalnya sendi-sendi keadilan dan pemakmuran dalam kehidupan duniawi telah diajarkan Alquran. Para qarin itu juga mengajarkan kepada manusia untuk merusak sendi-sendi kehidupan sesuai tuntunan Alquran. Pemakmuran di antara mereka mungkin akan dihitung hanya secara gross berupa pendapatan secara nasional tanpa memperhatikan secara proporsional bahwa yang memperoleh pendapatan itu hanya segelintir manusia di antara mereka, sedangkan orang-orang miskin tidak diperhatikan keadaannya. Dengan mengemukakan pendapatan nasional, mereka menjadikan diri mereka dipandang baik oleh manusia, sedangkan tuntunan kitabullah Alquran telah dilanggar. Orang-orang yang terikat pada qarin akan melanggar ketentuan-ketentuan dalam Alquran dengan sengaja untuk mengalahkan umat manusia. Bila orang beriman dalam keadaan lemah tidak mengenal keihsanan atau berbantah-bantah tanpa keihsanan dalam urusan itu, maka mereka akan terkalahkan.

Cara-cara yang dilakukan para syaitan tidak terbatas pada contoh-contoh di atas. Sangat banyak upaya makar syaitan yang dilakukan, baik sendiri ataupun dengan melibatkan umat manusia. Orang-orang beriman hendaknya membina keihsanan setimbang dengan upaya makar syaitan yang mereka lihat, karena keihsanan itu yang akan mengalahkan tipu daya syaitan. Di satu sisi, makar syaitan itu dapat dipandang oleh orang-orang beriman sebagai stimulus untuk meningkatkan keihsanan masing-masing. Tidak ada hal bathil yang dihadirkan Allah bagi setiap orang beriman.