Pencarian

Selasa, 17 Oktober 2023

Ilmu dalam Perjalanan Taubat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menyatukan langkah hanya dapat dilakukan seseorang bila ia mempunyai kerangka ilmu. Setiap orang harus membina kerangka ilmu dalam diri mereka agar dapat melakukan tafaquh terhadap tuntunan Allah. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mempunyai referensi untuk menyatukan langkah terhadap langkah Rasulullah. Ilmu walaupun sedikit tetap merupakan bayang-bayang cahaya Allah, dan dari yang sedikit itu setiap orang harus mencari jalan memperoleh yang lebih baik. Bila seseorang membuang cahaya yang sedikit, ia akan terjatuh pada kegelapan.

﴾۶۳﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isra : 36)

Ayat di atas bukan berarti melarang seseorang untuk mengikuti, tetapi melarang manusia untuk tidak mempunyai ilmu. Terhadap Rasulullah SAW, larangan itu tidak muncul karena Rasulullah SAW memberikan tauladan dalam setiap aspek kehidupan. Selama seseorang mempunyai keimanan bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah, maka hendaknya ia mengikuti Rasulullah SAW. Seandainya seseorang hanya mengetahui kebaikan adab Rasulullah SAW terhadap orang lain, ia boleh mengikuti kebaikan adab yang diketahuinya. Apabila seseorang mempunyai pengetahuan tentang Allah dan kedudukan Rasulullah SAW di sisi Allah, maka hendaknya ia mengikuti Rasulullah SAW dengan pengetahuannya. Setiap orang hendaknya mengikuti Rasulullah SAW dengan pengetahuan terbaiknya. Tidak mengikuti Rasulullah SAW untuk suatu pengetahuan lain hanyalah sebuah kebodohan, bukan suatu pengetahuan yang benar.

Terhadap selain Rasulullah SAW, larangan itu harus benar-benar diperhatikan. Setiap orang bisa menjumpai keadaan yang bermacam-macam. Ada syaitan yang dapat menipu manusia baik yang bodoh maupun yang pandai, ada orang-orang jahat yang berkeinginan menyesatkan. Ada orang-orang alim tetapi ilmu mereka tidak meliputi segenap aspek. Bila seseorang tidak memperhatikan jalannya dalam mengikuti orang lain, maka ia dapat terperosok dalam kesalahan yang berbahaya.

Selain keadaan di atas, ada orang-orang yang dapat benar-benar memberi petunjuk kepada manusia untuk menuju kebenaran, tetapi hendaknya umat lebih memperhatikan kaitan seruan mereka terhadap firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengikuti secara bebas apa yang mereka sampaikan tanpa mencari pijakannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Firman Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW lebih memberikan pijakan yang kokoh bagi orang-orang yang berusaha memahami kebenaran daripada perkataan seluruh manusia.

Bertuhan Selain Allah

Dalam sebuah hadits diceritakan tentang suatu bahaya yang dapat menimpa orang-orang yang tidak berpegang pada ilmu dalam kehidupan mereka, sebagaimana hadits berikut :

Dari Adiy bin Hatim at-Tha’i berkata :
أتيتُ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ وفي عنقي صليبٌ من ذَهبٍ. فقالَ يا عديُّ اطرح عنْكَ هذا الوثَنَ وسمعتُهُ يقرأُ في سورةِ براءةٌ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ قالَ أما إنَّهم لم يَكونوا يعبدونَهم ولَكنَّهم كانوا إذا أحلُّوا لَهم شيئًا استحلُّوهُ وإذا حرَّموا عليْهم شيئًا حرَّموه.
Aku (Adi bin Hatim ath-Tha’i) datang kepada Nabi SAW sedangkan di leherku terdapat salib dari emas. Maka Nabi menasehatiku, ‘Wahai Adi jatuhkan berhala ini dari lehermu’. Dan aku mendengar Nabi Saw membaca ayat dari surat Bara’ah (ayat 31): Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah. (‘Adiy berkata) : sebenarnya mereka tidak menyembahnya, (Rasulullah SAW bersabda): tapi ketika mereka (ulama dan rahib) itu menghalalkan sesuatu maka mereka (umat) ikuti, dan ketika mereka (ulama dan rahib) itu mengharamkan sesuatu mereka (umat) ikuti. (HR At-Tirmidzi no. 3095 dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi)

Adiy bin Hatim merupakan seorang sahabat yang masuk islam dari sebelumnya mengikuti agama kristiani. Kristiani yang tersebar di jazirah Arab lebih diwarnai kristen tauhid semacam kristen arian. Mereka adalah pengikut kristiani yang tidak mengakui trinitas ketuhanan sebagaimana kristiani yang lain, dan tersebar ke jazirah arabia karena nubuwah tentang nabi akhir jaman yang akan turun di wilayah Arabia. Demikian ‘Adiy bin Hatim merupakan penganut kristen yang bertauhid, walaupun dalam kacamata modern tampak sebagai kristen yang tercampur dengan agama shabiiyah. Sekalipun bertauhid, bukan jaminan bahwa penganut agama itu berjalan dengan lurus. Kristen di Arabia tidak terlepas dari praktek menjadikan orang-orang alim dan para rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.

Rasulullah SAW menerangkan keadaan mereka termasuk kepada ‘Adiy bin Hatim, dan Adiy bin Hatim menyanggah penjelasan Rasulullah SAW tersebut. Dalam pandangan ‘Adiy bin Hatim, orang-orang kristen semacam dirinya tidaklah menjadikan orang-orang alim dan rahib mereka, juga nabi Isa a.s sebagai tuhan-tuhan yang mereka sembah. Rasulullah SAW mengetahui pendapat ‘Adiy dan menjelaskan lebih lanjut bahwa cara mereka menjadikan para alim dan rahib sebagai tuhan tidaklah dengan cara menyembah mereka, akan tetapi dengan mengikuti mereka secara berlebih tanpa pengetahuan, sedemikian manakala para alim dan rahib mereka menghalalkan apa yang diharamkan, maka mereka mengikutinya menghalalkan apa yang diharamkan. Demikian pula manakala para alim dan rahib mengharamkan apa yang dihalalkan, maka mereka mengikuti mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal demikian itu adalah bentuk penyembahan terhadap para alim dan rahib di antara mereka.

Dengan pernjelasan Rasulullah SAW demikian, Adiy bin Hatim mengetahui keutamaan yang besar dalam jalan ibadah kaum muslimin, yaitu beribadah dengan dasar akal yang memahami kehendak Allah. Sekalipun sama-sama bertauhid, umat yang mengikuti Rasulullah SAW mempunyai derajat yang berbeda dengan kristiani yang sebelumnya diikutinya karena adanya penekanan terhadap penggunaan akal dalam beribadah. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal merupakan gejala pokok yang menunjukkan jatuhnya umat beragama pada penyembahan kepada selain Allah, dalam hal ini penyembahan terhadap para ulama dan rahib. Gejala tersebut hanya terjadi pada umat yang akalnya lemah, atau tumbuh secara menyimpang dari kehendak Allah, hingga bahkan hal-hal pokok yang diharamkan dan dihalalkan dapat saling tertukar dalam pandangan umat. Gejala itu tidak akan terjadi pada umat yang menggunakan akalnya dengan benar.

Rasulullah SAW barangkali tidak menyebut mereka sebagai orang-orang musyrik karena tidak ada keinginan untuk menyembah selain Allah. Akan tetapi mereka bukanlah kaum yang dapat tumbuh dengan baik karena akal yang terberangus dalam penyembahan kepada selain Allah. Dalam beberapa kategori, mereka dapat dikatakan sebagai kafir karena mendustakan ayat-ayat Allah. Beberapa ayat Allah yang tidak dipilih oleh para alim dan rahib di antara mereka menjadi tidak berfungsi karena digantikan dengan sabda-sabda para alim dan rahib di antara mereka sedangkan sabda itu bertentangan dengan firman Allah.

Memperbaiki Keadaan

Mendukung para ulama dan rahib dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah merupakan tanda yang nyata bahwa umat telah menjadikan para ulama dan rahib sebagai tuhan selain Allah. Tanda demikian tidak berdiri sendiri, tetapi sebenarnya disertai dengan keburukan yang banyak yang mendahuluinya. Memperbaiki ubudiyah kepada Allah di antara umat yang demikian harus disertai dengan memperbaiki keburukan-keburukan yang terbina sebelumnya, tidak hanya dengan langkah kembali mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal. Ada hal fundamental pada umat yang tidak dapat mendukung perbaikan, yaitu sikap umat dalam menggunakan akal. Setiap orang harus mempunyai kemampuan menggunakan akal dengan benar.

Di antara buruknya keadaan mereka adalah keadaan semacam orang yang tidak mempunyai akal untuk memahami kehendak Allah. Mereka hanya mengenal kebenaran dari apa yang dikatakan sebagai kebenaran, dan mengenal keburukan dari apa yang dikatakan sebagai keburukan. Ketika suatu keburukan dikatakan sebagai kebaikan, mereka menyangka itu sebagai kebaikan. Ketika suatu kebaikan dikatakan sebagai keburukan, mereka menyangka itu sebagai keburukan. Mereka tidak dapat menemukan jalan yang disediakan Allah bagi masing-masing untuk melangkah mendekat kepada Allah melalui kebenaran. Ketika Allah memberikan petunjuk, mereka tidak mengenal kandungan petunjuk tersebut. Bahkan manakala kitabullah berbicara secara fasih tentang keadaan mereka, mereka boleh jadi akan mendustakan firman Allah atas diri mereka tersebut. Itu gejala yang timbul bahwa mereka menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.

Seringkali tampak adanya sikap fanatik pada kaum demikian. Barangkali ada orang-orang yang mengeluhkan ketetapan yang diturunkan Allah dan justru mendapatkan dukungan umat. Masyarakat tidak mengembalikan keadaan mereka menuju jalan Allah tapi justru menjauhkannya dalam bentuk dukungan. Misalnya manakala seorang isteri mengeluhkan suaminya yang dipandang terlalu berkeinginan melaksanakan amal shalih, isteri tersebut memperoleh dukungan umat dan umat mencegah suaminya melakukan amal shalih dan menghakimi suaminya sebagai orang tidak adil, tanpa berusaha memahami terlebih dahulu apa yang diperjuangkan suaminya. Atau boleh jadi ada di antara mereka orang mengeluhkan kepada manusia tentang suatu petunjuk Allah, maka umat kemudian merusak jalan-jalan asbabnya untuk mencegah terwujudnya petunjuk itu tanpa berpegang pada landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Fanatisme demikian ini merupakan bentuk kekufuran yang sangat merusak umat manusia. Seharusnya setiap orang diarahkan untuk kembali mencari kehendak Allah dalam kehidupan mereka, dan itulah bentuk keislaman yang sesungguhnya. Dalam hal semacam ini, sebenarnya masyarakat mengabaikan atau tidak ingin mengetahui kehendak Allah, tetapi lebih cenderung hanya mengikuti persangkaan atau perkataan orang-orang alim dan rahib di antara mereka.

Secara sosial, keburukan yang mungkin muncul antara lain prasangka buruk terhadap orang-orang yang berusaha beramal shalih, suatu prasangka tertentu yang termasuk dalam kategori perkataan yang paling dusta. Sebagian prasangka di antara umat demikian (terutama terhadap orang-orang yang menemukan bentuk amal shalih) merupakan bagian dari perkataan yang paling dusta hingga dapat menghilangkan kekuatan untuk terlahirnya amal shalih. Prasangka itu kemudian menyebar sebagai perkataan yang kokoh di antara masyarakat. Manakala seseorang di antara mereka menemukan perintah Allah bagi diri mereka, mungkin muncul tuduhan-tuduhan buruk yang mengakibatkan kekuatan untuk beramal mengempis. Barangkali perkataan itu tidak berpengaruh besar dalam motivasi personal, tetapi akan mempengaruhi kekuatan beramal yang membutuhkan dukungan sosial. Hal ini akan berpengaruh terhadap umat. Amal shalih yang seharusnya menjadi inspirasi bagi yang lain hanya akan dianggap keburukan, dan umat akan lebih senang beramal dengan persangkaan mereka sendiri daripada mengenal amal shalih yang menjadi kehendak Allah. Persangkaan buruk demikian harus diredakan atau diganti dengan tumbuhnya sikap supportif terhadap orang yang berusaha menunaikan amal shalih mereka.

Karena keadaan demikian, apa yang menjadi kehendak Allah bagi umat manusia menjadi terbengkalai tidak dijadikan sebagai amal shalih. Mereka tidak menghambakan diri kepada Allah walaupun menginginkannya, tetapi menghambakan diri kepada para ulama dan rahib di antara mereka. Urusan para ulama dan rahib menjadi lebih utama daripada apa-apa yang dikehendaki Allah untuk ruang dan jaman mereka. Mereka menyangka bahwa mereka menghambakan diri kepada Allah sedangkan mereka mengabaikan kehendak Allah atas mereka. Sebenarnya Allah dan Rasulullah SAW memandang bahwa mereka telah mengabdi kepada para ulama dan rahib di antara mereka, sedangkan mereka menyangka mengabdi kepada Allah.

Jalan utama agar umat yang demikian bisa kembali ke jalan Allah adalah membina umat agar menggunakan akal dengan benar. Perlu dilakukan pelatihan dan bimbingan terhadap kekuatan jiwa dalam mengamati ayat-ayat Allah baik kauniyah maupun dalam kitabullah, dan hubungan di antara keduanya. Tidak semua orang yang kuat pikirannya mempunyai akal yang kuat. Kekuatan akal seseorang diukur dari pemahaman seseorang terhadap hubungan ayat dalam kitabullah dan kauniyah secara sinergis. Kekuatan akal tidak diukur berdasarkan kemampuan lisan menceritakan ulang apa yang diceritakan kepada mereka. Dalam ibarat misykat, kekuatan akal itu diukur dari kualitas bayangan pohon thayibah yang terbentuk dalam bola kaca mereka. Kekuatan akal itu yang akan memurnikan penghambaan sesseorang kepada Allah, membersihkan penghambaan kepada selain Allah termasuk kepada para ulama dan rahib di antara mereka.

Keikhlasan tidak akan terbentuk pada diri seseorang dengan usaha mereka sendiri, tetapi akan terbentuk karena terbinanya akal. Para ulama khawarij membina keikhlasan manusia dengan pengajaran memerangi bid’ah dan mereka merasa diri paling suci. Kalaupun mereka suci, kesucian itu tidak akan membina akal mereka untuk memahami ayat Allah. Cara itu tidaklah membina keikhlasan kecuali hanya khayalan saja. Sebagian orang menempuh jalan tazkiyatun-nafs, maka tazkiyatun-nafs itu membantu tumbuhnya akal, dan tumbuhnya akal menumbuhkan keikhlasan. Tazkiyatun-nafs tidaklah dilakukan untuk mencapai kesucian diri, tetapi untuk menumbuhkan keikhlasan, dan hal itu akan terjadi melalui tumbuhnya kekuatan akal dalam memahami ayat-ayat Allah, berupa pemahaman terhadap ayat kauniyah bersama dengan ayat kitabullah. Nafs mereka menjadi peka dan membutuhkan ayat-ayat Allah. Manakala seseorang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, atau mengikutinya, kekuatan akal yang ada sebenarnya hampir runtuh. Langit hampir runtuh dan bumi hampir-hampir terbelah manakala seseorang mengatakan bahwa Allah mengambil anak, apalagi bila mereka menjadikan sesuatu sebagai tuhan selain Allah.





Kamis, 12 Oktober 2023

Tafakuh terhadap Kitabullah dan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara cara mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah memanfaatkan karunia Allah untuk memahami kehendak-Nya. Allah memberikan kepada setiap manusia qalb, mata hati dan pendengaran agar dimanfaatkan manusia untuk memahami kehendak-Nya dan berbuat sesuai dengan kehendak yang dipahami sesuai dengan ayat-ayat Allah yang ditunjukkan kepada mereka, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta kauniyah yang digelar bagi mereka.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-Israa’ : 179)

Allah menjadikan kebanyakan dari kalangan manusia dan jin yang mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk bertafaqquh terhadap ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah sebagai isi neraka jahannam. Mereka termasuk orang-orang yang lalai dari nikmat Allah, tidak menggunakan nikmat Allah sebagaimana yang Allah kehendaki, dan kelalaian itu akan menjadikan mereka sebagai ahli neraka.

Bertafaqquh adalah upaya membentuk pemahaman dan mewujudkan tindakan (hingga tingkatan dzahir) yang tepat dalam upaya mengikuti tuntunan Allah. Tuntunan dalam hal ini tidak terbatas pada aspek-aspek syariah saja. Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya memberikan tuntunan kepada manusia tentang visi kehidupan yang hakiki dan juga tuntunan amal yang harus diwujudkan untuk mencapai visi tersebut. Orang yang bertafaqquh dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW seharusnya menemukan visi kehidupan mereka dan juga langkah praktis yang harus dilakukan untuk merealisasikan visi tersebut.

Banyak bahaya yang dapat terjadi pada orang-orang yang berada pada kriteria ayat di atas dan tidak berusaha menemukan visi kehidupan berdasarkan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka dapat tertimpa fitnah melalui karunia-karunia yang diperolehnya. Manakala yang diperoleh seseorang melalui indera mereka bernilai benar, hendaknya ia menyusun pemahamannya sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia akan memperoleh visi dan langkah yang sesuai dengan mengikuti tuntunan tersebut. Manakala pemahaman itu berlebih dari tuntunannya hendaknya dicukupkan berpegang pada tuntunan, apabila pemahamannya rapuh, hendaknya ia mengokohkan, dan manakala pemahamannya bertentangan, maka hendaknya ia merombak pemahamannya mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah tidak mengikuti indera mereka sendiri. Selain memberikan informasi yang bermanfaat, indera bathiniah dapat membuat fitnah yang banyak bila tidak digunakan dengan tepat. Segala sesuatu yang diperoleh melalui qalb, pendengaran dan penglihatan bathin dapat dipersepsi secara salah oleh seseorang, dan tidak sedikit pula merupakan tipuan syaitan.

Bahaya Bila Menyimpang

Bila seseorang tidak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya, lebih sesat daripada hewan-hewan ternak yang hanya mementingkan syahwat dan hawa nafsu masing-masing. Bila orang-orang hanya mengikuti hawa nafsu dan syahwat masing-masing, maka perselisihan mereka dengan orang yang berkeinginan kembali kepada Allah hanya akan berkisar pada kepentingan mereka di alam dunia saja. Bila orang-orang tersesat dalam jalan taubatnya, mereka akan bisa berselisih dengan orang yang kembali kepada Allah dalam banyak langkah-langkah mereka untuk kembali kepada Allah, menimbulkan kekacauan pada setiap tingkatan yang dicapai oleh masing-masing.

Kekacauan yang terjadi akan berpengaruh hingga alam dunia, tidak hanya kekacauan pada tingkatan pemahaman. Misalnya ketika menghadapi fitnah, hingga fitnah yang terbesar berupa Dajjal. Orang-orang yang benar-benar ingin kembali kepada Allah menginginkan semua orang selamat dengan menempuh langkah berdasarkan tuntunan Allah. Dalam pandangan mereka, pertahanan terhadap fitnah Dajjal yang paling baik bagi setiap orang salah satunya adalah rumah tangga yang baik, dan mereka mengetahui sistem Dajjal akan merusak pernikahan hingga konsep-konsep elementernya. Para laki-laki dan perempuan bahkan akan dibingungkan syaitan hingga kebingungan terhadap identitas elementer diri mereka masing-masing berupa jenis kelamin sendiri yang sebenarnya sangat mudah dikenali. Hal ini bertujuan agar manusia tidak dapat mengenali sedikitpun apalagi mengikuti agama sesuai millah dan sunnah uswatun hasanah membina bayt berupa rumah tangga. Sangat banyak langkah syaitan yang membuat manusia menjadi kebingungan dalam langkah mereka, tidak mampu membedakan jalan yang lurus dengan jalan yang keji dan buruk, atau merasakan perkataan yang hak tentang Allah.

Orang-orang yang mengikuti tuntunan Allah akan benar-benar berusaha menyeru umat manusia untuk membina bayt sebagai sarana pertahanan diri mereka dari fitnah dan sarana beribadah kepada Allah berdasarkan tuntunan yang benar. Orang-orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu akan memperoleh sebagian yang menguntungkan dengan seruan mereka, karena terbukanya jalan kemakmuran duniawi dan kemegahannya melalui seruan itu, apabila mereka mendengar. Hal ini mungkin berbeda bagi sebagian orang. Bagi orang-orang yang hanya mengikuti indera mereka tanpa berpegang pada tuntunan Allah, seruan ini boleh jadi akan memperoleh hambatan dan penentangan. Seruan ini bisa saja dianggap tidak penting karena indera mereka mengatakan tidak penting untuk dilakukan, sedangkan mereka tidak memahami tuntunan Allah bahwa setengah bagian agama adalah pernikahan. Lebih sulit lagi, bisa jadi mereka menghalang-halangi orang-orang untuk berusaha membina rumah tangga sesuai tuntunan Allah, atau merusak tuntunan Allah dalam urusan pernikahan, atau bahkan merusak rumah tangga orang-orang yang berusaha menyeru umat untuk membina pernikahan mereka sesuai tuntunan Allah. Banyak hal yang mungkin dilakukan bertentangan dengan kitabullah.

Syaitan akan bergembira dengan kerusakan melalui orang yang tidak bertafaquh. Mereka dijadikan syaitan pintu untuk merusak umat manusia hingga mencapai orang-orang yang mempunyai kualifikasi terbaik. Seandainya orang yang baik itu tidak mengikuti syaitan, maka keadaannya akan menjadi sulit untuk melaksanakan amal-amal shalih mereka. Ini adalah kesesatan yang lebih jauh karena tidak bertafaquh yang menimpa orang-orang yang hanya mengikuti indera mereka.

Kerangka Ilmu Sebagai Acuan

Menyatukan langkah sesuai tuntunan Allah hanya dapat dilakukan seseorang bila ia mempunyai kerangka ilmu. Setiap orang harus membina kerangka ilmu dalam diri mereka agar dapat melakukan tafaquh terhadap tuntunan Allah. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mempunyai referensi untuk menyatukan langkah terhadap kehendak Allah. Sedikit atau banyaknya, ilmu harus menjadi acuan bagi setiap orang untuk melangkah, yaitu ilmu yang benar. Ilmu walaupun sedikit tetap merupakan bayang-bayang cahaya Allah, dan dari yang sedikit itu setiap orang harus mencari jalan memperoleh yang lebih baik. Bila seseorang membuang cahaya yang sedikit, ia akan terjatuh pada kegelapan. Sebenarnya sama saja bagi mereka sekalipun akal telah menjadi kuat, wajib tetap berpegang pada ilmu, atau ia akan tersesat.

﴾۶۳﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isra : 36)

Ayat di atas melarang orang beriman untuk mengikuti sesuatu yang ia tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Maksudnya adalah bahwa seseorang tidak boleh terus mengikuti orang lain tanpa menambah pengetahuannya, atau tidak boleh terus mengikuti sedangkan tidak bertambah pengetahuannya ketika mengikutinya. Hal itu agar seseorang tidak terus-menerus mengikuti langkah yang salah atau sia-sia. Seseorang boleh mengikuti orang lain tanpa lebih dahulu mempunyai pengetahuan, tetapi ia harus berusaha memperoleh pengetahuan segera setelah ia mengikutinya, tidak boleh terus mengikuti tanpa dibekali dengan pengetahuan tentang apa yang diikutinya.

Secara umum, setiap orang harus melangkah untuk menambah pengetahuan, dan hal itu akan lebih mudah dilakukan dengan mengikuti orang lain yang mempunyai pengetahuan. Umat manusia akan sulit berkembang atau justru akan rusak bila setiap orang mengandalkan dan hanya mempercayai pengetahuan masing-masing. Melangkah bersama dalam jamaah akan lebih memudahkan seseorang menambah pengetahuannya. Bila tidak bertambah pengetahuannya dengan mengikuti, hendaknya ia tidak terus mengikuti langkah orang lain itu. Ia harus berhenti sejenak, memeriksa keadaan ilmunya dan kesertaannya mengikuti jamaahnya. Ia boleh meneruskan langkah apabila telah mengetahui keadaannya dan jalan menambah ilmunya. Dalam keadaan tertentu, boleh jadi seseorang harus berpaling kepada orang yang lebih mendekati tafakuh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang harus memfokuskan diri dengan dasar konstruksi keilmuan dirinya sebelum mengikuti orang lain. Ini lebih penting daripada mengikuti orang lain. Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ketika mengikuti manusia adalah banyak orang jahat yang diberi pengetahuan dengan tujuan menjebak manusia terjerumus pada kejahatan. Para pengikut syaitan memperoleh banyak pengetahuan dari syaitan, tetapi pengetahuan itu digunkaan untuk kejahatan. Sedikit ilmu kebenaran yang terbina pada dirinya lebih baik daripada kemilau keilmuan yang tidak dipahami. Setiap orang harus mengkonstruk kerangka ilmu yang paling sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena itulah yang akan menjadi bekal untuk bertafakuh. Walaupun harus dengan melihat kepada orang lain agar mudah membina, ia harus mengawasi konstruk keilmuan dirinya agar dapat tetap bertafaquh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membiarkannya menyimpang dari keduanya.

Membina diri dengan cara demikian akan menjadikan suatu umat menjadi kuat dalam melaksanakan kehendak Allah. Bila tidak, suatu masyarakat yang mengikuti kebenaran akan mengalami kejumudan terhenti pada suatu fase dan kemudian menyimpang dari jalan yang lurus. Telah banyak umat yang lemah dan menyimpang sekalipun mereka berkeinginan mengikuti kebenaran. Umat kristiani menjadikan para cendekia dan rahib mereka sebagai sembahan-sembahan selain Allah karena lemah dalam membina ilmu. Demikian pula kaum muslimin sebenarnya dapat berubah seperti kaum yang lain menjadikan sembahan-sembahan selain Allah berupa para wali mereka, yaitu manakala mereka mengikuti para wali mereka dalam menghalalkan yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal ini sebagaiana dijelaskan Rasulullah SAW kepada sahabat Adiy bin Hatim.

Orang yang berhati-hati dalam mengikuti ilmu seringkali akan dipandang masyarakat umum sebagai orang yang keras kepala. Hal ini merupakan tantangan awal yang harus dihadapi oleh orang yang ingin beribadah kepada Allah dengan sebenarnya, bahwa ia lebih memperhatikan perintah Allah daripada pendapat manusia. Hal ini tidak berarti seseorang boleh mengabaikan semua perkataan manusia. Hanya ketika perkataan manusia tidak selaras atau bertentangan dengan firman Allah maka ia boleh tidak sejalan dengan manusia. Bila suatu perkataan lebih baik daripada konstruk ilmu dirinya maka ia harus membina kembali konstruk keilmuannya mengikuti yang lebih baik, dan kebaikan dalam cara ini lebih banyak ditemukan. Sebenarnya boleh jadi banyak pengetahuan dirinya juga tidak selaras dengan firman Allah maka hendaknya ia tetap memperhatikan perkataan manusia untuk membantu lebih menselaraskan diri dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada saatnya seseorang harus melakukan amar ma’ruf nahy munkar dengan pengetahuan yang telah diberikan kepadanya. Derajat yang sebenarnya tercapai ketika seseorang mengenal Allah, ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap nafs diri mereka. Ketika seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan, mereka akan mengenal Allah sebagai rabb mereka, mengenal kehendak Allah dengan benar. Boleh jadi mereka tidak mempunyai informasi yang terinci tentang sesuatu, tetapi mereka memahami kehendak Allah terkait dengan urusan yang harus mereka kerjakan. Sebagian orang mempunyai pemahaman lebih luas daripada orang lain dan lebih cepat menerima petunjuk, tetapi yang harus diikuti setiap orang adalah pemahaman yang lebih terkait dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Itu lebih mendekatkan pada sikap tafakuh terhadap ayat-ayat Allah. Sebelum mencapai derajat yang sebenarnya, setiap orang harus berusaha beramar ma’ruf nahy munkar terhadap masyarakat mereka, akan tetapi tidak boleh memaksakan pemahaman mereka untuk diterima. Manakala suatu kemunkaran terjadi, ia harus berusaha mencegah dengan sebaik-baiknya berdasarkan ilmu yang diketahui.





Senin, 09 Oktober 2023

Bahaya Menyelisihi Kitabullah dan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan yang dapat mengantarkan umat manusia memperoleh shalawat. Itu merupakan kedudukan tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Mengikuti Rasulullah SAW akan menjadikan manusia mulia dengan kemuliaan yang sebenarnya.

﴾۳۴﴿هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang memberi shalawat kepada kalian dan para malaikat-Nya (memberi shalawat pula), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS Al-Ahzaab : 43)

Setiap orang beriman hendaknya berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat membentuk akhlak al-karimah. Manakala seseorang tidak berpegang teguh dengan keduanya, sangat banyak tipuan yang akan menghampiri seseorang dan ia tidak dapat mengenali tipuan itu.

Hal itu lebih ditekankan lagi bagi orang-orang yang menempuh perjalanan taubat kembali kepada Allah. Seorang syaikh menekankan dengan sangat kepada murid-muridnya secara tertulis tentang kemungkinan buruk yang bisa menimpa murid-muridnya, maka hendaknya para murid memperhatikan hal ini.

Ulàh Jiwa ingkàng dàdya               Olah Jiwa yang menjadi

màrga tama, àywa màlih ingkàng rupi    Jalan utama (hendaknya) tak berubah bentuk

ngrusàk mring ummàt Allah             (menjadi) Merusak umat Allah

(SJ Dandanggula : 2)

Hal itu merupakan pesan yang harus diperhatikan para murid terhadap syaikh, ditempatkan pada ayat nomor 2 pada serat utama. Bila seseorang tidak bertakwa dalam perjalanan taubatnya, apa yang diajarkan oleh sang syaikh dapat berubah bentuk menjadi sesuatu yang merusak umat Allah. Hendaknya hal ini benar-benar diperhatikan. Umat yang akan rusak karena orang yang tidak bertakwa dalam taubatnya adalah umat Allah, bukan orang umum atau orang yang jahat.

Terkait pesan ini, sang syaikh banyak menekankan ayat-ayat terkait dengan pertaubatan. Di antara ayat yang sering disampaikan kepada para murid adalah ayat-ayat tentang penggunaan akal. Akal adalah kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah. Akal merupakan parameter utama perkembangan akhlak manusia dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW membina akhlak mulia. Tanpa terbina akal dalam diri seseorang, tidak akan terbina akhlak mulia dalam dirinya. Adab yang tampak menarik bagi orang lain sebenarnya tidak selalu menunjukkan terbentuknya akhlak mulia, sedangkan akhlak mulia lebih ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk mengartikulasikan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berikut beberapa penekanan yang disampaikan syaikh.

Tertimpa Kotoran

Di antara ayat terkait hal itu adalah ayat berikut :

﴾۰۰۱﴿وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yunus : 100)

Ayat di atas ditujukan kepada orang yang beriman, bahwa keimanan mereka terjadi karena ada izin Allah, maka hendaknya mereka memperhatikan Allah dengan keimanan mereka. Cara memperhatikan yang dituntut dalam ayat di atas adalah agar setiap orang beriman menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah. Bila orang beriman tidak menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah, maka Allah akan menimpakan kotoran kepada mereka.

Menggunakan akal merupakan langkah lanjutan dari keimanan. Manakala seseorang memperoleh keimanan, ia harus berusaha menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah. Upaya itu harus dilakukan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dimulai dari tatanan syariat yang harus dipenuhi, terus hingga dapat memahami amal-amal yang harus dilakukannya bagi semesta masing-masing sesuai apa yang dipahami dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tanpa usaha menggunakan akal, seorang beriman akan ditimpa kotoran ( الرِّجْسَ). Allah akan menimpakan kotoran kepada orang-orang beriman yang tidak menggunakan akalnya. Dalam istilah para wali, hal itu dikatakan sebagai maskumambang, yaitu emas yang mengambang di air. Tidak ada emas yang dapat mengambang di air kecuali kotoran. Allah akan menimpakan kotoran maskumambang kepada orang-orang beriman yang tidak menggunakan akalnya. Maskumambang tidak hanya terkait dengan keinginan badaniah dan hawa nafsu saja. Terkait akal, ilmu yang tampak bagai sesuatu yang berkilau dalam pandangan manusia boleh jadi hanya merupakan kotoran yang tidak ada artinya. Misalnya ketika membahas detail masalah akal, belum tentu pembahasan itu membuat seseorang menggunakan akalnya. Sikap seseorang yang menjadikan itu sebagai kotoran, bukan ilmu yang salah. Setiap orang beriman harus berusaha memahami kehendak Allah bagi mereka, tidak hanya mengikuti perkataan-perkataan yang disampaikan orang lain.

Sifat kotoran ini sering tidak terlihat oleh yang tidak menggunakan akal, tetapi terlihat bagi orang-orang yang telah berusaha sungguh-sungguh memahami kehendak Allah. Bagi mereka, orang-orang yang hanya mengikuti perkataan orang lain tampak hanya berpegang pada sesuatu yang tidak mempunyai nilai dalam perjalanan taubat kepada Allah. Perkataan yang benar bila tidak dipahami hanya menyerupai beo dan orang yang tidak menggunakan akalnya seringkali bukan hanya membeo perkataan yang benar, akan tetapi tidak jarang mengikuti pula perkataan-perkataan bathil tanpa mempunyai pemahaman bahwa perkataan itu bathil. Atau ketika mendengar suatu perkataan haq, mereka bimbang, tidak memahami atau mungkin mendustakan.

Masalah utama yang mungkin muncul dari tidak menggunakan akal adalah tidak ada langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia agar layak hadir di hadirat Allah. Langkah pokok untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW adalah menggunakan akal. Landasan dasar akhlak mulia adalah akal yang memahami kehendak Allah dengan benar sehingga tumbuh adab yang baik dari landasan itu. Banyak manusia berharap untuk dapat hadir di hadirat Allah dengan langkah taubat mereka. Mendekat kepada Allah sebenarnya mempersyaratkan suatu akhlak mulia agar kehadirannya memang layak untuk diijinkan. Kadangkala seseorang tidak memperhatikan keadaan akhlak dirinya terlebih dahulu dan terburu mengusahakan jalan lain untuk dekat kepada Allah. Orang yang akan selamat dalam perjalanannya adalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia.

Tidak terbentuknya akal juga akan memunculkan masalah kekacauan dalam memakmurkan bumi. Pemakmuran tidak akan terwujud bila tatanan bumi tidak mengikuti kehendak Allah. Bila manusia mempunyai pikiran yang kuat tetapi akal tidak berusaha memahami kehendak Allah, pikiran itu hanya mengikuti pendapat mereka sendiri tidak terbimbing dengan benar untuk mewujudkan kemakmuran. Suatu langkah kebaikan mungkin akan dieliminasi keburukan yang menyertainya. Lebih buruk lagi, kadang ketika ketika kitabullah menuntun umat manusia menghadapi ancaman, mereka mungkin justru membangun kemegahan-kemegahan tanpa memperhatikan ancaman itu, sedangkan mereka merasa memakmurkan bumi. Umat manusia akan hancur lebur karena musuh bisa menghancurkan mereka dengan mudah.

Kerusakan pada semesta manusia seringkali merupakan perwujudan kerusakan pada nafs mereka. Ketidakmampuan orang-orang beriman untuk menggunakan akal merupakan suatu masalah kerusakan dan sumber kerusakan pada semesta mereka. Dalam kasus kecil, seringkali orang-orang beriman merasa menjadi agen kemajuan bangsa tetapi sebenarnya bahkan tidak dapat melangkah mencapai sasaran personal masing-masing sekalipun. Dalam kasus lebih besar, timbul perasaan sebagai orang besar hingga mereka menghalalkan untuk diri mereka sendiri apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan bagi orang-orang lainnya apa yang dihalalkan Allah. Tidak menggunakan akal dalam perkara demikian merupakan pintu kerusakan yang sangat besar bagi umat manusia.

Kesesatan

Ayat lain yang sering dijadikan sorotan sang syaikh terkait dengan kerusakan yang bisa timbul dalam perjalanan taubat adalah tentang tidak bertafaqquh dengan qalb. Bertafaqquh merupakan upaya membentuk pemahaman dan mewujudkan tindakan (hingga tingkatan dzahir) yang tepat dalam upaya mengikuti tuntunan Allah. Tuntunan dalam hal ini tidak terbatas pada aspek-aspek syariah saja. Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya memberikan tuntunan kepada manusia tentang visi kehidupan yang hakiki dan juga tuntunan amal yang harus diwujudkan untuk mencapai visi tersebut. Orang yang bertafaqquh dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW seharusnya menemukan visi kehidupan mereka dan juga langkah praktis yang harus dilakukan untuk merealisasikan visi tersebut.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-Israa’ : 179)

Allah menjadikan kebanyakan kalangan manusia dan jin yang mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk bertafaqquh terhadap ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah sebagai isi neraka jahannam. Mereka termasuk orang-orang yang lalai dari nikmat Allah, tidak menggunakan nikmat Allah sebagaimana yang Allah kehendaki, dan kelalaian itu akan menjadikan mereka sebagai ahli neraka.

Barangkali ada sebagian kecil di antara orang-orang demikian tidak menjadi ahli neraka manakala mereka tidak termasuk orang yang lalai, tetapi kebanyakan adalah orang-orang yang lalai. Orang yang menggunakan qalb, mata dan telinga bathin yang diberikan kepada mereka untuk tujuan yang keliru, atau tidak sesuai dengan tuntunan Allah termasuk sebagai ahli neraka. Demikian pula orang-orang yang hanya mengikuti perkataan orang lain dengan meninggalkan ayat-ayat Allah, atau tanpa memperhatikan ayat Allah, semuanya termasuk orang-orang yang lalai tidak menggunakan dengan benar karunia yang diberikan Allah. Setiap orang yang tidak menggunakan pemberian Allah untuk memperhatikan ayat-ayat Allah termasuk sebagai orang-orang yang lalai.

Qalb, mata hati dan telinga bathin merupakan pemberian Allah kepada orang-orang yang dikehendaki sebagai modal untuk memahami kehendak Allah dengan akal mereka. Hal ini dapat diibaratkan sebagai misykat dengan lubang cahaya layaknya kamera yang berfungsi untuk membentuk bayangan cahaya Allah pada fotosensor kamera. Kamera itu harus digunakan untuk membidik objek-objek yang ditentukan, tidak boleh disalahgunakan, dan tidak boleh tidak digunakan untuk hal yang ditentukan. Manakala ada ayat-ayat Allah sampai kepada mereka, hendaknya mereka menggunakan pemberian tersebut untuk memahami ayat-ayat itu, tidak mengabaikannya. Itu adalah batas kelalaian orang-orang yang diberi karunia qalb, mata hati dan telinga bathin. Penyalahgunaan merupakan kelalaian yang lebih besar.

Seorang manusia tidak akan dapat memperhatikan setiap ayat Allah yang dibentangkan pada setiap waktu. Hal ini tidak menghilangkan kewajiban bagi orang beriman untuk memperhatikan ayat Allah yang sampai kepada mereka. Apa yang dapat dipahami oleh akalnya-lah yang wajib diperhatikan oleh setiap manusia. Ia harus memperhatikan ayat-ayat yang tiba kepadanya dan dipahaminya walaupun hanya sedikit atau samar-samar, dan kemudian disertai usaha memfokuskan gambar yang dapat terbentuk pada akalnya berdasarkan ayat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seringkali seseorang memandang kauniyah secara buram, kemudian mengikuti waham atau perkataan manusia yang menambah buram pandangannya terhadap ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka hal itu berarti tidak menggunakan karunia untuk hal yang ditentukan. Setiap orang hendaknya mengusahakan penjelasan yang lebih baik untuk akal masing-masing, tidak sembarang memilih penjelasan.

Sasaran pokok yang harus diperhatikan dalam menggunakan karunia Allah adalah menemukan jalan untuk menyatukan diri dengan urusan Rasulullah SAW, berupa urusan yang tertera dalam kitabullah dan sunnah beliau SAW. Pertumbuhan akal hendaknya berarah menyatu dengan urusan Rasulullah SAW, tidak merambah arah yang tidak jelas. Sekalipun bila tumbuh akalnya, syaitan dengan mudah dapat bertengger pada salah satu cabang akal yang tidak menyatu arahnya. Hal demikian sama saja seperti orang yang mengikuti waham atau perkataan orang lain, tetapi dalam hal ini lebih berat yaitu mengikuti perkataan syaitan. Pertumbuhan akal yang menyimpang dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ini dapat menimbulkan masalah bid’ah, suatu kesesatan yang sulit dikenali kesesatannya oleh umat manusia. Bahkan Rasulullah SAW kelak akan berusaha menyelamatkan, akan tetapi berubah manakala mengetahui bid’ah mereka.

Penyatuan arah pertumbuhan akal ini merupakan upaya memahami (يَفْقَهُونَ). Pengenalan diri seseorang terhadap nafs adalah pengenalan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW, dan hal ini tidak terjadi kecuali seseorang dapat memahami (يَفْقَهُونَ) ayat-ayat Allah. Pengenalan diri seseorang terhadap amal-amal yang ditentukan baginya merupakan turunan dari pengenalan dirinya terhadap nafs, tetapi baru pengenalan pada ketentuan jasmani saja, belum mengenal nafs. Orang yang dikatakan mengenal rabb-nya adalah orang yang mengenal nafs berupa kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW, bukan hanya mengenal amal yang ditentukan baginya.

Setiap syaikh bertanggung jawab membina murid-muridnya untuk dapat menyatu dengan urusan Rasulullah SAW. Barangkali seorang syaikh mempunyai tanggung jawab sebagian dari semua langkah penyatuan yang diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan benar-benar memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagian dari apa yang disampaikan sang syaikh merupakan bentuk-bentuk penjagaan yang harus disampaika kepada murid-muridnya agar tidak tidak salah tumbuh atau justru menimbulkan kerusakan bagi umat Allah, maka hendaknya para murid benar-benar memperhatikan sang syaikh. Dengan memperhatikan pesan sang syaikh, seorang murid akan dapat tumbuh akalnya dan terjaga dari kesesatan yang mungkin terjadi.

Senin, 02 Oktober 2023

Menggapai Shalawat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah dan para malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, dan memanjangkan shalawat itu bagi hamba-hamba Allah yang sebenarnya. Shalawat Allah dan para malaikat-Nya tidak terhenti hanya kepada Rasulullah SAW, tetapi diperpanjang kepada hamba-hamba Allah. Di antara orang beriman, ada orang-orang yang mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka, mereka mengenal kedudukan diri mereka dalam urusan itu, dan mereka berusaha untuk melaksanakan amanah yang diberikan kepada mereka dengan keikhlasan. Mereka itu adalah hamba Allah yang sebenarnya dan mereka itu orang-orang yang memperoleh shalawat dari Allah dan para malaikat-Nya karena kesertaan mereka dalam urusan Rasulullah SAW.


﴾۳۴﴿هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang memberi shalawat kepada kalian dan para malaikat-Nya (memberi shalawat pula), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS Al-Ahzaab : 43)

Orang-orang beriman hendaknya memberikan shalawat kepada nabi agar dirinya terhubung kepada nabi SAW. Dengan keterhubungan seseorang terhadap Rasulullah maka ia akan memperoleh shalawat sebagai perpanjangan shalawat terhadap Rasulullah SAW. Allah memberikan shalawat kepada seorang hamba setelah seorang hamba mengalami keterbukaan pengetahuan terhadap urusan Rasulullah SAW dan kedudukan dirinya dalam urusan tersebut.

Shalawat merupakan karunia tertinggi bagi penghambaan seseorang, hamba yang dapat bersaksi dengan sebenarnya bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah. Ia mengetahui bahwa segala sesuatu yang baik untuk makhluk mempunyai sumber dari ilmu yang dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, dan sangat banyak madlarat yang dapat muncul manakala ia melanggar apa yang dilarang Rasulullah SAW, atau manakala ia tidak mengetahui hubungan suatu urusan dengan Rasulullah SAW. Pada intinya, ia mengetahui bahwa segala hal yang baik berasal dari Allah yang turun dalam cakupan urusan Rasulullah SAW, dan tidak ingin mencari urusan di luar urusan Rasulullah SAW. Sebagian manusia tidak ingin mencari perintah Allah tanpa melalui Rasulullah SAW, dengan selalu berusaha menemukan tuntunan perintah bagi amalnya.

Musyahadah demikian terjadi melalui pintu berupa pengenalan penciptaan diri. Terdapat dua pengenalan diri seorang hamba, yaitu pengenalan penciptaan nafs dan pengenalan penciptaan jasmani. Pengenalan penciptaan jasmani ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap ketetapan amal, ajal, rezeki serta kesusahan dan kesenangan yang diperuntukkan bagi dirinya. Ketetapan demikian itu dituliskan malaikat atas perintah Allah secara baru pada masa penciptaan jasmani dalam kandungan pada usia 120 hari. Dalam proses perjalanan taubat, pengenalan diri seseorang akan dimulai dengan pengenalan terhadap penciptaan jasmani mereka, yaitu pengenalan 4 kalimat Allah tersebut. Dengan pengenalan penciptaan jasmani, terbuka bagi seseorang pengenalan terhadap kandungan kitabullah, karena keempat kalimat tersebut berfungsi sebagai jalan pengenalan seseorang terhadap kandungan kitabullah.

Pengenalan seseorang terhadap nafsnya ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Hal ini terjadi bersama atau setelah terjadinya pengenalan diri seseorang terhadap penciptaan jasmani mereka. Keadaan pada masa pengenalan diri sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya, dimana pengetahuan sangat terbuka, baik pengetahuan berupa kebenaran maupun kesesatan, dan pengetahuan-pengetahuan tersebut tampak indah. Tanpa keinginan menjadi hamba Allah, dalam banyak hal seseorang akan sulit memilih atau membedakan antara kebenaran atau kesesatan. Bila seseorang berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan mengerti nilai kebenaran dan halusnya kesesatan pada pengetahuan yang datang, dan kemudian tertuntun untuk mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah.

Dengan mengenal nafs, seseorang akan mengenal urusan rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka, dan kemudian mengenal orang-orang yang seharusnya terhubung kepada diri mereka. Ia akan mengenali kedudukan isterinya bagi dirinya, atau perempuan yang seharusnya menjadi isterinya, dan kemudian membina hubungan yang tepat sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal-hal terkait dengan akhlak dan kekuatan batiniah seorang hamba akan berkembang bila terbina hubungan yang benar di antara nafs-nafs yang seharusnya terhubung berdasar tuntunan Allah. Hal ini akan menjadi pondasi membina hubungan transenden kepada Allah, dan juga hubungan horizontal. Tuntunan Allah harus menjadi pusat perhatian karena itu yang akan membentuk seseorang menjadi hamba. Mereka tidak ingin menempuh jalan tanpa tuntunan yang kuat, atau hanya berdasarkan keinginan mereka sendiri, atau justru berdasar dorongan yang melanggar tuntunan Allah. Hanya berdasar tuntunan Allah maka sikap dan kekuatan batin akan berkembang dengan baik dengan buah yang baik.

Mencapai keadaan demikian dapat dilakukan secara bersama, tidak harus ditempuh secara bersambung. Seseorang dapat menginginkan untuk mengenal urusan rasulullah SAW tanpa harus mengenal nafs atau jasmani mereka terlebih dahulu, bahkan harus dijadikan keinginan utama. Keinginan tersebut akan menjadi syafaat yang memudahkan dirinya untuk menempuh jalan mengenal nafs dan mengenal jasmani mereka, jika ia bersungguh-sungguh berusaha untuk mencapai keberjamaahan bersama Rasulullah SAW. Kebanyakan manusia mengira bahwa mereka sungguh-sungguh ingin mencapai keberjamaahan mengenal urusan Rasulullah SAW, tetapi sebenarnya hanya mengikuti perkataan manusia tanpa menggunakan akal untuk benar-benar memahami urusan Rasulullah SAW.

Langkah Mengikuti Rasulullah SAW 

Upaya mengikuti langkah Rasulullah SAW mengenal nafs harus diwujudkan melalui langkah yang nyata mengikuti sunnah untuk mengenal penciptaan nafs mereka. Menikah merupakan jalan paling baik untuk mengungkap jati diri nafs wahidah masing-masing. Pernikahan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Rasulullah SAW, tidak melanggar ketentuan yang digariskan karena hal demikian boleh jadi lebih mewujudkan perbuatan keji daripada sunnah Rasulullah SAW. Ada sasaran-sasaran yang harus tercapai melalui pernikahan sebagai tanda bahwa pernikahan mereka menuju pengenalan terhadap nafs masing-masing. Tanda itu muncul bila kedua pihak berjalan searah. Bila tidak, tanda itu mungkin tidak muncul tetapi masing-masing akan mengetahui perkembangan pertumbuhan nafs mereka.

Sasaran itu berupa terwujudnya sakinah, mawaddah dan rahmah di antara pasangan. Seorang perempuan akan merasa tenteram berada di samping suaminya, tanpa menginginkan keadaan yang lain. Ini bukan berarti tidak mau berubah, tetapi lebih menunjukkan sikap mau menerima keadaan tanpa menginginkan hal yang lain. Apapun yang dilakukan suaminya untuk menuju keadaan yang lebih baik dalam agama, ia dapat menerima dan memberikan dukungan yang diperlukan, tidak menginginkan keadaan lain berupa kemegahan dan tujuan nisbi lain. Seorang laki-laki merasa tenteram dalam mengikuti tuntunan agama yang dipahaminya, dan tidak mengharapkan hasil yang bermacam-macam kecuali kebaikan bagi umat manusia termasuk diri mereka sendiri. Itu adalah tanda terwujudnya sakinah mawaddah dan rahmah.

Keadaan demikian tidak mudah diwujudkan. Syaitan sangat ingin manusia berbuat keji. Seringkali seorang perempuan dibuat merasa tidak yakin bahwa laki-laki yang menikahinya benar-benar merupakan jodohnya. Banyak perempuan yang menyimpan perasaan atau sisa perasaan terhadap laki-laki lain, dan itu menjadi benih yang disirami syaitan agar tumbuh besar. Bukan tidak mungkin pula pasangan mukmin, terutama mukminat dijerat syaitan dalam kebingungan tidak yakin bahwa suaminya adalah jodohnya, karena syaitan menemukan jalan untuk menjeratnya. Hal itu akan menjadikan rumah tangga mereka berguncang secara lahir dan bathin, dan tidak menunjukkan pencapaian sasaran-sasaran pernikahan. Kadang jeratan demikian tidak menunjukkan kejelasan jalan yang dipakai oleh syaitan, dan mukminat itu hanya merasa tidak yakin dengan pernikahannya. Kadangkala jeratan itu kemudian menjadi jelas, dilakukan melalui orang tertentu. Sekalipun pasangan mukmin dan mukminat, syaitan bukan berarti kehilangan jalan untuk menebarkan kekejian di antara mereka. Mereka menguasai ilmu Harut Marut untuk hal demikian. Hal itu merupakan hambatan yang sering dihadapi oleh orang yang ingin mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Selain menghindari kekejian, setiap pasangan harus berusaha membentuk akhlak dan adab yang mulia. Sangat sulit bagi pasangan untuk menempuh langkah mengikuti sunnah bila tidak disertai membina akhlak dan adab mulia. Sebelum menikah, setiap pihak hendaknya berada pada suatu tujuan yang sama yaitu mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Ini adalah asas kethayyiban yang harus dipenuhi. Tidak semua perbedaan harus dijadikan masalah, tetapi bila satu pihak berada pada tujuan yang berbeda dengan pihak lain, perjalanan kehidupan mereka akan menjadi sulit. Bukan tidak mungkin satu pihak merendahkan pihak lain karena tujuan yang berbeda. Misalnya satu pihak menginginkan kemegahan kehidupan dunia dan pihak lain menempuh sunnah untuk menyatukan langkah dengan Rasulullah SAW, mungkin salah satu pihak akan menuduh pihak lain tidak mempunyai kemampuan memenuhi harapan pihak lainnya.

Keinginan mengenal penciptaan jasmani merupakan tujuan turunan berikutnya dari keinginan menyatukan langkah bersama Rasulullah SAW. Ini merupakan parameter terdekat dengan pengenalan terhadap nafs, tetapi belum benar-benar mencapai pengenalan nafs. Seseorang yang mengenal penciptaan jasmani mereka akan mengalami keterbukaan pemahaman terhadap kitabullah, tetapi belum mengenal kedudukan diri mereka di antara jamaah Rasulullah SAW dalam amr jami’. Bila tidak bertakwa kepada Allah, ia bisa menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Iblis besar itu bisa memperoleh kedudukan menjadi pemberi nasihat bagi orang yang mengenal penciptaan jasmani mereka tetapi tidak berusaha menempuh jalan menyatukan langkah bersama Rasulullah SAW. Hal demikian secara jelas dikisahkan sejak penciptaan Adam dan Hawa di surga.

Ayat Allah Bagi Hamba-Nya

Shalawat akan menjadikan seorang hamba keluar dari kegelapan menuju cahaya karena Allah menjadikan mereka demikian. Dengan kedudukan hamba di terangnya cahaya, maka mereka bisa mengenal cahaya Allah. Mereka dapat mengenal bentuk penghambaan diri mereka kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Shalawat demikian itu terlimpah manakala seorang hamba mengalami keterbukaan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Keterbukaan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah itu akan menjadikan seorang hamba memperoleh kedudukan di tempat yang terang setelah dipindahkan dari tempat yang gelap. Mereka memahami bahwa ayat-ayat Allah itu adalah cahaya yang menjadikan kehidupan mereka terang.

﴾۹﴿هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِّيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Dialah yang selalu menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (QS Al-Hadiid : 9)

Keadaan itu dilimpahkan kepada orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Mereka berkeinginan untuk memahami kehendak Allah dengan benar dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Manakala Allah ridha dengan mereka, Dia menurunkan pemahaman terhadap ayat-ayat kitabullah kepadanya dan menjadikan kehidupan mereka terang setelah dipindahkan dari kegelapan. Mereka kemudian bersama dengan Rasulullah SAW dalam amr jami’ bagi ruang dan jaman mereka, maka mereka memperoleh shalawat.

Puncak pengabulan keinginan menjadi hamba itu ditandai dengan musyahadah bahwa tiada ilah selain Allah dan nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah. Ia mengetahui bahwa segala hal yang baik berasal dari Allah yang turun dalam cakupan urusan Rasulullah SAW, tidak ingin mencari-cari urusan di luar urusan Rasulullah SAW. Kadangkala hal demikian tidak terlihat oleh orang lain, tetapi ia mempunyai pengetahuan tentang kaitan amal yang dikerjakannya terhadap urusan Rasulullah SAW. Musyahadah itu disertai dengan keadaan turunannya berupa pengetahuan tentang kedudukan nafs dirinya di antara hamba-hamba Allah dan juga keberpasangannya, dan pengetahuan tentang ketetapan Allah tentang jasmaniah dirinya, dan ia tidak berbuat kerusakan dalam keadaan-keadaan turunan musyahadah itu.