Pencarian

Rabu, 23 Agustus 2023

Jalan Tengah dalam Taubat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW tidaklah diberi tugas untuk mempertunjukkan kepada umat mereka keajaiban-keajaiban Allah. Demikian pula para rasul yang lain. Kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Seorang rasul yang berkedudukan sangat tinggi mungkin saja tampak sebagaimana orang biasa saja karena Allah tidak memberikan ijin kepadanya untuk menampilkan keajaiban. Tetapi pasti rasul itu mengetahui jalan yang menjadikan manusia untuk mengenali hubungan diri mereka dengan Allah. Hendaknya umat manusia tidak salah dalam mengenali utusan Allah dan membedakan dengan pembawa keajaiban.

Banyak makhluk yang tergelincir dalam mencari jalan kembali kepada Allah karena keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh para panutan mereka. Mereka mengikuti orang shalih atau bahkan para nabi, tetapi mereka lebih memperhatikan keajaiban yang ditunjukkan daripada menemukan hubungan diri mereka terhadap Allah. Umat nabi Isa a.s menjadi contoh besar umat yang tersesat menjadikan nabi Isa a.s dan ibunda Maryam r.a sebagai ilah-ilah selain Allah. Nabi Isa a.s tidak sedikitpun mengajarkan kepada umat manusia untuk menjadikan diri beliau a.s sebagai ilah bahkan meratapi apa yang akan diperbuat oleh umat terhadap beliau. Dengan larangan demikian, tetap saja umat yang mengikuti menjadikan beliau a.s sebagai ilah selain Allah.

﴾۶۱۱﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang aku tidak mempunyai hak. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (QS Al-Maidah : 116)

Keajaiban-keajaiban itu akan mendatangkan urusan yang menjadi beban bagi nabi Isa a.s. Beliau akan ditanya tentang umat yang menjadikan beliau sebagai ilah selain Allah. Tentu beliau tidak mempunyai kesalahan dalam menyampaikan risalah kepada umatnya, tetapi pertanyaan Allah itu merupakan pertanyaan besar karena menyangkut dasar kehidupan setiap makhluk berupa tauhid. Pertanyaan demikian merupakan beban yang besar bagi seorang nabi, walaupun beliau a.s tidak mempunyai kesalahan.

Allah memperkarakan masalah demikian walaupun Dia Maha Mengetahui bahwa tidak ada suatu bersitan pun dalam hati nabi Isa a.s untuk berkata kepada umatnya agar umatnya menjadikan diri beliau sebagai ilah selain Allah, atau memancing yang demikian. Beliau benar-benar berusaha agar umat manusia beribadah kepada Allah tanpa ada keinginan sedikitpun untuk meninggikan diri beliau sendiri hingga mengarahkan manusia memandang beliau secara ambigu sebagai ilah. Bahkan beliau meratapi urusan yang akan menimpa diri beliau itu. Walaupun demikian, Allah tetap akan memperkarakan masalah itu karena besarnya urusan tauhid.

Setiap nabi dan rasul akan merasa sangat takut berurusan dengan melencengnya tauhid pada umat mereka. Demikian pula para shiddiqin dan syuhada serta orang-orang shalih. Mereka berhati-hati agar tidak mengangkat diri masing-masing secara berlebih hingga menjadikan umat mereka tersesat dalam bertauhid. Satu perbuatan atau bersitan hati yang menyebabkan umat melenceng dalam tauhid akan menjadi perkara besar di hadapan Allah kelak, dan Allah akan memperkarakan itu sebagaimana Dia bertanya perkara tersesatnya umat nabi Isa a.s. Tidak ada yang dapat menyembunyikan sesuatu di hadapan Allah, baik itu perbuatan yang nyata ataupun bersitan dalam hati, seluruhnya tidak ada yang terhalang dari pandangan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib.

Sikap takut demikian akan menjadikan umat yang mengikuti mereka sebagai umat yang mempunyai akal kuat. Keajaiban-keajaiban pada dasarnya menyentuh hawa nafsu orang-orang yang lemah, sedangkan kebenaran akan menyentuh akal orang-orang yang kuat akalnya. Suatu kebenaran akan memperkuat akal orang-orang yang berakal, sedangkan terlalu banyak keajaiban akan menjadi stimulasi penguatan hawa nafsu dan menyebabkan kelemahan akal. Manakala terlalu banyak berinteraksi dengan keajaiban, suatu umat mungkin akan terlemahkan akal mereka layaknya sihir hingga tidak dapat memahami kebenaran. Boleh jadi banyak di antara umat nabi Isa a.s merupakan pencari kebenaran, akan tetapi sisi keajaiban nabi Isa a.s menyebabkan banyak di antara mereka sebagai orang yang menjadikan nabi Isa a.s sebagai ilah selain Allah.

Mencari Jalan Tengah

Umat manusia hendaknya bersungguh-sungguh berusaha mengetahui apa yang diinginkan oleh para nabi terhadap diri umat manakala mengikuti mereka. Para nabi dan rasul tidak ingin diangkat atau dipandang umat manusia secara berlebih dari kedudukan mereka sebagai orang yang menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah. Bila setiap manusia menemukan jalan ibadah mereka yang sebenarnya kepada Allah, maka itulah keinginan yang sebenarnya dalam diri para nabi dan rasul. Manakala ada seseorang atau lebih menjadikan para nabi dan rasul itu lebih dari kedudukan yang ditentukan Allah, hal itu menjadi suatu perkara yang menakutkan bagi para nabi dan rasul. Mereka akan tertimpa perkara yang besar di hadapan Allah kelak.

Setiap orang hendaknya berusaha mengenal kehendak Allah terhadap diri mereka. Itu merupakan jalan ibadah yang ditentukan Allah bagi masing-masing manusia. Setiap manusia mempunyai urusan yang berbeda satu dengan yang lain, akan tetapi sebenarnya Allah menurunkan satu urusan bagi seluruh makhluknya yang hampir tidak terhingga. Satu urusan itu diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan dijelaskan dalam Alquran, dan urusan itu terbagi-bagi kepada setiap makhluk hingga makhluk yang ada di bumi.

Setiap orang harus beribadah hanya kepada Allah SWT tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Hal ini tidak berarti mencegah manusia untuk melakukan penghormatan atau perbuatan terhadap sesuatu yang lain layaknya gambaran sikap kepada Allah. Iblis mengambil makna berlebihan terhadap perintah untuk tidak mensekutukan Allah sedemikian hingga manakala diperintah Allah untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak perintah itu karena mengkontradiksikan perintah Allah dengan perintah-Nya yang lain, sedangkan pemikiran itu hanya menutupi kesombongan yang ada dalam diri Iblis sendiri.

Bagi kehidupan di bumi, Allah menurunkan suatu jalan bagi setiap manusia untuk kembali mendekat kepada-Nya. Kehidupan di bumi pada dasarnya terputus dari jalan kembali kepada Allah kecuali pada jalan-jalan yang diturunkan Allah. Manusia tidak dapat kembali mendekat kepada Allah kecuali melalui jalan-jalan yang diturunkan Allah, dan di jalan-jalan itu perintah-perintah Allah akan ditemukan oleh manusia. Manakala seseorang berada pada jalan itu, ia perlu belajar mensikapi segala sesuatu yang datang kepada dirinya sebagai turunan dari sikap terhadap Allah. Misalnya hendaknya seorang isteri taat kepada suaminya sebagai turunan ketaatannya kepada Allah. Ketaatan kepada suami adalah gambaran salinan ketaatan seorang perempuan kepada Allah, bilamana ketaatan itu tidak ada maka tidak ada ketaatan kepada Allah.

Salinan sikap itu paling tinggi dapat dilihat pada perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Perintah itu bukan merupakan perintah kesyirikan, karena perintah itu merupakan salinan sikap bersujud kepada Allah. Salinan-salinan sikap demikian diturunkan Allah hingga kehidupan di alam bumi, bukan hanya bagi para malaikat di langit yang tinggi. Setiap orang yang berharap kembali dekat kepada Allah hendaknya mencari bentuk-bentuk jalan ibadahnya di bumi dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan tidak melupakan pagar yang ditentukan Allah bagi mereka. Hal ini dapat diketahui dengan akal. Dengan akal, seseorang dapat mengetahui perintah dan batas-batas yang dapat dilakukannya untuk melaksanakan perintah itu.

Salinan sikap kepada Allah itu menjadi bukti benarnya penghambaan seseorang. Misalnya tidak boleh seseorang mengaku sebagai hamba Allah bila ia menentang kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, karena keduanya merupakan wujud turunan utama dari kehendak Allah. Seseorang tidak bisa bersikeras melakukan penentangan hanya dengan landasan niat baiknya. Selain kedua tuntunan utama itu, ada banyak turunan berikutnya yang harus disikapi setiap orang sebagai turunan ketaatan kepada Allah. Dalam hal demikian, masih sangat mungkin ditemukan hal-hal yang bathil pada turunan-turunan itu kecuali kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karenanya setiap manusia hendaknya selalu menghadap dan bergantung kepada Allah dalam mensikapinya.

Akal dan Jalan Tengah

Ada orang-orang yang melakukan sikap-sikap salinan itu secara berlebihan tanpa menggunakan akalnya. Di antara mereka adalah orang-orang kafir yang mengambil hamba-hamba Allah sebagai wali bagi mereka selain Allah. Mereka tidak menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah dan hanya menyalin sikap-sikap orang yang ingin kembali kepada Allah. Manakala seseorang tidak berusaha menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah sedangkan mereka mengambil hamba-hamba Allah sebagai wali, mereka itu sangat mungkin termasuk dalam golongan orang-orang kafir yang menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali selain Allah. Manakala mendustakan ayat kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW, itu adalah tanda kekufurannya. Setiap orang hendaknya berusaha menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah hingga mereka dapat melihat jalan yang diturunkan Allah bagi mereka dengan akalnya. Tanpa hal ini, seseorang tidak akan bisa kembali dekat kepada Allah tanpa tersesat.

﴾۲۰۱﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi wali selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (QS Al-Kahfi : 102)

Orang-orang demikian merupakan fragmen bagian dari orang-orang yang menjadikan nabi Isa a.s dan ibunda Maryam r.a sebagai ilah selain Allah. Seandainya mereka adalah para pengikut nabi Isa a.s, niscaya mereka termasuk golongan orang-orang yang menjadikan nabi Isa a.s dan Maryam r.a sebagai ilah selain Allah. Umat nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari kedurhakaan sebagaimana umat nabi Isa a.s, sedemikian hingga Rasulullah SAW menangis karena kedurhakaan mereka. Bagi nabi Muhammad SAW, Allah memberikan janji bahwa Allah akan membuat Rasulullah SAW ridha dalam masalah umat beliau SAW dan Allah tidak akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s, umat Rasulullah SAW hendaknya bersegera kembali mengikuti Rasulullah SAW mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah beliau SAW.

عن عبداللَّه بن عَمْرو بن العاص رضي اللَّه عنهما: أَن النَّبِيَّ تَلا قَول اللَّه في إِبراهِيمَ : رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي [إبراهيم:36] وَقَوْلَ عِيسَى عليه السلام: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [المائدة:118]، فَرَفَعَ يَدَيْه وَقالَ: اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى، فَقَالَ اللَّه: يَا جبريلُ، اذْهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ -وَرَبُّكَ أَعْلَمُ- فسَلْهُ: مَا يُبْكِيهِ؟ فَأَتَاهُ جبرِيلُ، فَأَخْبَرَهُ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَا قَالَ، وَهُو أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا جِبريلُ، اذهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرضِيكَ في أُمَّتِكَ وَلا نَسُوؤُكَ رواه مسلم.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a bahwa Nabi SAW membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s : “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36). Beliau SAW juga membaca ucapan Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Maidah: 118)
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa): “ya Allah umatku, umatku!” dan beliau menangis. Maka Allah SWT berfirman, ‘Wahai Jibril, temui Muhammad,” dan Tuhanmu lebih mengetahui, ‘Tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis?’ Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah SAW memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, ‘Kami akan membuatmu ridha dalam masalah umatmu dan kami tidak akan menyakitimu.’’ (HR Muslim)

Di antara pokok masalah yang menimpa umat islam adalah penggunaan akal. Yang dimaksud akal adalah kekuatan untuk memahami kehendak Allah dan melaksanakannya. Akal harus dibina di dalam diri setiap insan, hingga setiap orang dalam suatu umat dapat memahami urusan Allah yang menjadi amanat bagi masing-masing. Akal berbeda dengan pikiran yang berada pada tataran jasmani, tetapi keduanya berjalan beriring. Akal tumbuh di atas landasan akhlak mulia dengan memahami kehendak Allah selaras tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu keinginan baik saja tidak cukup untuk menumbuhkan akal, harus disertai dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak bersama akal, pikiran akan berjalan ke segenap penjuru tanpa memahami kehendak Allah. Demikian pula bila tidak menggunakan pikiran untuk memahami kehendak Allah, akal sangat mungkin akan berjalan menyimpang tidak mengetahui batas-batas yang ditentukan Allah. Akal dan pikiran harus ditumbuhkan dalam diri setiap insan bersama-sama.

Kebersamaan akal dan pikiran ini dapat diibaratkan layaknya suami dan isteri, hanya saja terdapat dalam diri setiap satu orang. Keberpasangan dalam pernikahan merupakan perpanjangan dari bentuk keberpasangan akal dan pikiran dalam wujud yang nyata. Keberpasangan demikian sangat penting dalam pembinaan insan. Akal yang kuat bersama pikiran dengan orientasi berbeda akan menyebabkan seseorang lemah dalam melahirkan amal shalih. Pikiran yang kuat dengan akal yang lemah tidak akan dapat memahami kehendak Allah dan tidak dapat mewujudkan dalam bentuk amal shalih. Kedua aspek tersebut harus tumbuh bersama-sama dalam kehendak Allah.

Pembinaan ini akan memperoleh media yang baik bila ada pernikahan. Seorang laki-laki akan menemukan bahan bagi pikiran mereka melalui isteri-isteri mereka, dan ia dapat membina akal mereka dengan menghadapkan wajah kepada Allah. Seorang isteri akan menemukan kandungan bagi akal mereka dengan memahami suami mereka, dan keikutsertaan dalam mewujudkan amal shalih suami menguatkan pikiran mereka. Cara ini termasuk jalan yang haq untuk menemukan urusan Allah. Tanpa pernikahan, akal seorang perempuan akan selalu mengambang, dan pikiran seorang laki-laki tidak mempunyai bahan berpikir yang haq. Bila keduanya dapat berjalan beriring, mereka akan melahirkan amal shalih sebagai wujud ibadah mereka kepada Allah. Bila tidak dapat beriring, akan sulit bagi mereka untuk menempuh jalan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang laki-laki berakal tanpa isteri yang mentaatinya mungkin hanya akan dihinakan oleh umatnya manakala menyampaikan kebenaran, dan sebenarnya semesta mereka akan mengikuti sikap isterinya.

Minggu, 20 Agustus 2023

Seruan Para Rasul

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti Rasulullah SAW bertujuan agar seseorang menjadi hamba Allah yang diberi karunia untuk memberikan kebaikan kepada umat manusia. Itu adalah tujuan utama mengikuti Rasulullah SAW. Manusia tidaklah diperintahkan mencari atau memberikan keajaiban-keajaiban kepada orang lain.

﴾۱۱﴿قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَن نَّأْتِيَكُم بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ibrahim : 11)

Rasulullah SAW dan rasul-rasul yang lain berasal dari kalangan manusia, sama dengan manusia-manusia yang lain. Kelebihan yang ada pada para rasul itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada mereka, yang bermanfaat untuk memberikan dukungan kepada orang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Umat manusia hidup di bumi yang jauh dari sumber cahaya, sedangkan sumber cahaya itu yang menjadikan manusia memahami kebenaran. Memahami kebenaran itu menjadi kebahagiaan buat manusia. Allah menjadikan para rasul itu sebagai orang-orang yang memperoleh karunia agar memperkenalkan kepada umat manusia jalan untuk memperoleh kebahagiaan. Seringkali manusia salah membentuk kehidupan mereka hingga terjebak dalam kegelapan duniawi. Tidak jarang pula manusia tersesat manakala berjalan untuk mengenali hakikat dalam kehidupan mereka.

Para rasul tidaklah bertugas untuk mempertunjukkan kepada umat mereka keajaiban-keajaiban Allah. Kebahagiaan itu tidak tergantung pada keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Demikian pula kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh keajaiban-keajaiban yang mungkin ditunjukkan. Seorang rasul yang berkedudukan sangat tinggi mungkin saja tampak sebagaimana orang biasa saja karena Allah tidak memberikan kepadanya ijin untuk menampilkan keajaiban. Tetapi pasti rasul itu mengetahui jalan yang menjadikan manusia untuk mengenali hubungan diri mereka dengan Allah. Hendaknya umat manusia tidak salah dalam mengenali utusan Allah dan membedakan dengan pembawa keajaiban.

Menjadi Hamba Allah

Kebahagiaan manusia itu terletak pada pengenalan diri mereka, yaitu manakala mereka mengenali hubungan mereka dengan Allah melalui pengenalan diri. Wujud hubungan ini hendaknya secara nyata terlihat dalam pengenalan terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Pengenalan amr jami’ demikian disertai dengan pengenalan terhadap imam dalam urusan mereka, yang menjadi indikasi ketersambungan wasilahnya. Kadangkala seseorang mengenal diri mereka tetapi tidak mengetahui kedudukan mereka terhadap amr jami’ Rasulullah SAW, maka hal itu belum menjadi pengenalan diri yang tepat. Syaitan-pun pada dasarnya mendorong manusia pada pohon khuldi.

Sangat banyak hal yang akan mewarnai pengenalan hubungan seseorang dengan Allah. Seseorang akan mengetahui kemuliaan Allah dan berkeinginan untuk memperkenalkan kemuliaan itu kepada umat manusia. Ia akan berharap kepada Allah untuk dapat menjadi hamba-Nya, dan merasa takut untuk menyimpang dalam menjadi hamba-Nya. Sebagai seorang hamba, ia ingin mengerti apa yang diperintahkan tuannya, dan ia takut untuk menyimpang dari perintah itu. Hal-hal demikian akan mewarnai kebahagiaan seseorang dalam hubungannya kepada Allah.

Terkait dengan ayat di atas, seorang ulama memberikan gambaran dalam seratnya. Beliau menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ibadah kepada Allah.

Marganing laku utama          Jalannya langkah yang utama

utamaning gesang iki           (yang menjadi) keutamaan hidup ini

lamun ngerti mring Gusti-nya    (yaitu) jika paham terhadap Tuhan-nya

ingkang karya gesang iki        yang telah menjadikan hidup ini

tuwin ingkang paring rejeki      Juga yang telah memberikan rejeki

marang kawula sedarum         kepada hamba semuanya

kabeh para manungsa           semua manusia

ingkang gesang aneng bumi     yang hidup di bumi

kuwi ingkang lagya kena sinembaha     hanya itulah yang pantas untuk disembah

(Harum sari, sinom parijatha : 5)

Mengenali hubungan diri terhadap Allah merupakan pangkal dari rasa tawakkal. Karunia yang diberikan kepada para rasul menjadikan mereka mengenali hubungan mereka terhadap Allah, dan karena itu mereka bertawakkal. Para rasul itu tidak berkeinginan untuk memperoleh keajaiban-keajaiban bagi diri mereka dan tidak berkeinginan mempertunjukkan keajaiban-keajaiban Allah melalui mereka. Mereka hanya berkeinginan untuk menjadikan diri sebagai hamba Allah yang melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan dengan kehambaan itu para rasul membina tawakkal kepada Allah. Maka hendaknya orang-orang beriman membina pula ketawakkalan mereka kepada Allah mengikuti para rasul.

Para rasul mempunyai keutamaan dalam tawakkal mereka dibandingkan orang-orang kebanyakan. Keutamaan itu merupakan tauladan bagi orang lain, bahwa keutamaan itu bisa diperoleh oleh orang lain pula. Keutamaan tawakkalnya para rasul itu adalah bahwa mereka telah memperoleh petunjuk tentang jalan mereka, maka mereka mempunyai keyakinan dalam tawakkal mereka. Maka para rasul itu tidak mempunyai alasan sedikitpun untuk tidak bertawakal karena mereka mengetahui jalan yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka.

﴾۲۱﴿وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri". (QS Ibrahim : 12)

Walaupun telah ditunjukkan Allah, jalan itu bukan jalan yang terbebas dari halangan dan rintangan. Sangat banyak halangan dan rintangan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak beriman kepada mereka. Mereka tidak dapat melihat kebaikan pada seruan para rasul. Karena tidak dapat melihat kebaikannya, mereka melancarkan gangguan, halangan dan rintangan terhadap upaya para rasul menyeru umatnya. Sebagian orang tidak dapat melihat kebaikan itu karena buruknya akhlak mereka, dan sebagian orang tidak melihat kebaikan dalam seruan itu karena waham yang menutupi nafs mereka. Bila tidak membuka mata terhadap kebaikan dalam seruan para rasul, mereka kelak di akhirat akan menjadi tamu di neraka jahannam, atau mereka akan menjadi penghuni neraka itu.

Sebagian gangguan itu merupakan upaya orang-orang jahat untuk menghilangkan halangan untuk mencari keuntungan duniawi. Orang-orang yang jahat mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mencari keuntungan dengan merugikan orang lain. Sebagian lain gangguan itu muncul karena perbedaan pendapat dalam penghambaan kepada tuhan masing-masing. Pada dasarnya, keuntungan duniawi pun merupakan tuhan bagi orang-orang yang jahat. Selain itu, sangat banyak imajinasi tentang tuhan yang berbeda-beda pada setiap manusia. Gangguan-gangguan kepada para rasul itu muncul karena perbedaan tuhan di antara umat manusia, sedangkan para rasul menyeru umat manusia untuk menghambakan diri kepada Allah Sang Maha Pencipta Yang Maha Esa.

Para rasul itu tidak mengalami bias dalam memahami kehendak Allah, sedangkan yang lain hanya mempunyai gambaran mereka sendiri tentang tuhan. Bias di antara umat manusia dalam memahami kehendak Allah dapat menimbulkan perselisihan pada mereka terhadap para rasul, dan bahkan menjadikan mereka membuat gangguan-gangguan terhadap seruan para rasul. Bila umat manusia bersungguh-sungguh berusaha untuk memahami seruan para rasul, mereka akan memahami kemuliaan seruan mereka, tidak terjebak dalam waham-waham kebenaran palsu yang tidak bermanfaat manakala ingin kembali kepada Allah.

Dengan penghambaan diri kepada Allah, para rasul itu benar-benar bersabar terhadap gangguan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertakwa. Para rasul hanya berharap sepenuhnya dapat kembali kepada Allah dengan selamat bersama umat, tidak mengharapkan hal-hal lain secara berlebih, karenanya gangguan-gangguan itu tidaklah menjadikan hati mereka berpaling dari keinginan kembali kepada Allah. Sesungguhnya mereka milik Allah dan hanya kepada Allah mereka kembali. Para rasul mengetahui asal mereka sebagai tempat kembali, dan mengetahui pula jalan-jalan mereka untuk kembali.

dengan keadaan demikian, hendaknya umat bersikap dengan seksama tidak mengikuti perkataan orang-orang tanpa memikirkan kandungan yang disampaikan oleh orang lain dengan sebaik-baiknya. Banyaknya orang yang mengatakan sesuatu tidak menunjukkan benarnya perkataan itu, dan perkataan orang yang sendirian tidak selalu menunjukkan perkataan yang salah. Dalam beberapa keadaan, para rasul itu mengatakan kebenaran hanya sendirian tanpa ada orang yang mengikuti atau mendukungnya, sedangkan perkataan rasul itu menunjukkan jalan yang benar untuk menjadi hamba Allah.

Mengikuti Kitabullah dengan Seksama

Walaupun bersabar terhadap gangguan, selisih pemahaman umat terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kadangkala membuat para rasul bersedih hati. Ada di antara umat pengikut para nabi yang bersikeras dengan jalan mereka sendiri tanpa mengikuti langkah uswatun hasanah. Dalam suatu peristiwa, Rasulullah SAW merasakan rasa sedih yang sangat besar terhadap umat beliau SAW, dimana beliau SAW menyerukan : umatku, umatku. Hal itu beliau SAW lakukan setelah membacakan ayat tentang doa nabi Ibrahim terkait penyembahan berhala.

Sekalipun jelas seruan Rasulullah untuk beribadah kepada Allah tanpa mensekutukan dengan sesuatupun, dan nabi Ibrahim telah memberikan tauladan melalui millah beliau a.s, mungkin saja ada selisih pemahaman umat terhadap seruan kedua uswatun hasanah tersebut. Barangsiapa mengikuti millah nabi Ibrahim, maka mereka itu termasuk dalam golongan nabi. Bila mereka durhaka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ampunan dan kasih sayang Allah itu bukan berarti manusia bebas melakukan perbuatan menyelisihi langkah millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW dan berharap Allah kemudian mengampuni dan menyayangi mereka. Ampunan dan kasih sayang Allah akan dilimpahkan kepada umat manusia yang kembali mengikuti nabi Ibrahim a.s dan melakukan perbaikan terhadap kesalahan yang telah dilakukan.

عن عبداللَّه بن عَمْرو بن العاص رضي اللَّه عنهما: أَن النَّبِيَّ تَلا قَول اللَّه في إِبراهِيمَ : رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي [إبراهيم:36] وَقَوْلَ عِيسَى عليه السلام: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [المائدة:118]، فَرَفَعَ يَدَيْه وَقالَ: اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى، فَقَالَ اللَّه: يَا جبريلُ، اذْهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ -وَرَبُّكَ أَعْلَمُ- فسَلْهُ: مَا يُبْكِيهِ؟ فَأَتَاهُ جبرِيلُ، فَأَخْبَرَهُ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَا قَالَ، وَهُو أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا جِبريلُ، اذهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرضِيكَ في أُمَّتِكَ وَلا نَسُوؤُكَ رواه مسلم.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a bahwa Nabi SAW membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s : “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36). Beliau SAW juga membaca ucapan Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Maidah: 118)
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa): “ya Allah umatku, umatku!” dan beliau menangis. Maka Allah SWT berfirman, ‘Wahai Jibril, temui Muhammad,” dan Tuhanmu lebih mengetahui, ‘Tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis?’ Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah SAW memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, ‘Kami akan membuatmu ridha dalam masalah umatmu dan kami tidak akan menyakitimu.’’ (HR Muslim)

Doa nabi Ibrahim a.s atas maghfirah dan kasih sayang Allah dalam ayat di atas diperuntukkan bagi umat yang mungkin menyelisihi millah beliau a.s, bukan bagi orang-orang kafir yang mendustakan risalah beliau a.s. Barangkali mereka adalah umat yang datang setelah beliau a.s dan menjadi pengikut beliau a.s. Demikian pula doa nabi Isa a.s diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang mungkin akan mendapat siksa Allah karena kedurhakaan mereka dalam ibadah mereka.

Ibadah kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s, dan menyelisihi millah itu akan menyebabkan seseorang tergelincir pada penyembahan terhadap berhala. Banyak manusia tersesatkan ibadahnya karena penyembahan yang lain yang tampak dalam bentuk menyelisihi millah nabi Ibrahim a.s, yang menunjukkan bahwa langkah mereka salah. Para nabi sangat berharap bahwa umat mereka memperoleh ampunan Allah atas kedurhakaan yang mereka perbuat terkait dengan ibadah mereka kepada Allah.

Umat nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari kedurhakaan sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s dan nabi Isa a.s, sedemikian hingga Rasulullah SAW menangis karena kedurhakaan mereka. Bagi nabi Muhammad SAW, Allah memberikan janji bahwa Allah akan membuat Rasulullah SAW ridha dalam masalah umat beliau SAW dan Allah tidak akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Sebagaimana umat nabi Ibrahim a.s, umat Rasulullah SAW hendaknya bersegera kembali mengikuti Rasulullah SAW mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah beliau SAW.

Umat Rasulullah SAW yang berjuang tanpa tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya waspada bahwa mereka termasuk umat yang akan menyakiti Rasulullah SAW. Manakala firman Allah dalam Alquran dikalahkan oleh perkataan mereka, mereka itulah kaum yang menyakiti hati Rasulullah SAW, maka hendaknya mereka bersegera kembali kepada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pedoman dalam mencari amr Allah, yaitu kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan mengikuti pikiran hawa nafsu dalam diri manusia. Setiap orang hanya mengetahui sebagian dari Alquran, hendaknya ia tidak boleh mendustakan firman Allah yang disampaikan kepada dirinya, karena pendustaan itu merupakan penyelewengan dari amr Allah. Dalam kasus tertentu, perbedaan mengabdi kepada Allah atau mengabdi kepada syaitan hanya berselisih tipis tanpa terlihat manusia bila tidak berpegang pada kitabullah Alquran.

Senin, 14 Agustus 2023

Kitabullah dan Pertumbuhan Nafs

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dengan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Akhlak al-karimah merupakan akhlak yang terbentuk karena tumbuhnya kalimah Allah dalam diri seseorang. Kesempurnaan kemuliaan akhlak menunjukkan terbentuknya nafs yang mampu bersikap di atas pemahaman yang benar terhadap firman-firman Allah dalam Alquran, dan mengarahkan bentuk kehidupannya untuk berjalan di atas petunjuk firman Allah. Allah telah membuat perumpamaan kalimah thayyibah sebagai pohon yang baik, yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Itu adalah perumpamaan firman Allah yang tumbuh dalam qalb manusia hingga qalb itu dapat memberikan buahnya pada setiap musim.

﴾۴۲﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim : 24)

Setiap orang beriman harus menemukan firman Allah yang dapat menumbuhkan akar dalam hatinya hingga tumbuh menjadi pohon yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Alquran dapat menumbuhkan qalb manusia hingga menjulang ke langit, akan tetapi qalb manusia mempunyai batasan dan kendala. Karena batasan dan kendala pada qalb itu, seringkali tidak semua firman Allah dapat dipahami dan tumbuh dengan baik di qalb. Beberapa firman Allah seringkali dapat tumbuh lebih kuat dalam hati seseorang dibandingkan ayat yang lain, maka hendaknya firman itu dapat menumbuhkan benih yang tumbuh dalam hati mereka. Hendaknya qalb mereka tumbuh hingga mereka dapat melihat makna dari firman-firman Allah yang lain.

Pertumbuhan firman Allah dalam diri manusia dapat dilihat dari pertumbuhan fikiran, akal dan akhlak. Pikiran merupakan kecerdasan manusia di tingkat jasmani, sedangkan akal merupakan kecerdasan di tingkat nafs. Pikiran berguna untuk memahami hal-hal yang bersifat dzahir, sedangkan akal berguna untuk memahami kehendak Allah. Landasan pertumbuhan pikiran dan akal yang benar adalah keinginan untuk memiliki akhlak yang mulia. Akal hanya akan terbentuk di atas akhlak mulia. Setiap orang harus menggunakan pikiran dengan benar untuk membina akal hingga dapat memahami kehendak Allah bagi mereka, dan dengan pemahaman itu mereka hendaknya membentuk akhlak al-karimah. Tanda seseorang memahami dengan benar kehendak Allah adalah terbentuknya kesatuan pemahaman yang benar terhadap ayat Allah dalam bentuk ayat kauniyah maupun ayat dalam kitabullah. Itu adalah tanda tumbuhnya firman Allah dalam diri seseorang.

Akal dan Pikiran untuk Memahami

Sebagian manusia tidak menggunakan pikiran mereka untuk memahami firman Allah. Ada yang tidak menggunakan pikiran itu karena mereka mempunyai tujuan kehidupan yang kufur dan pikiran mereka hanya digunakan untuk mencari apa yang menjadi keinginan mereka. Manakala tidak terbersit suatu kebaikan dalam hati seseorang, mereka akan berubah menjadi orang-orang yang kufur. Seringkali orang-orang kufur itu kemudian menjadi orang-orang yang memusuhi kebenaran karena kuatnya keinginan mereka terhadap hal-hal yang bathil tanpa pernah memikirkan kebaikan yang sebenarnya.

Sebagian orang tidak menggunakan pikiran dengan benar karena akal mereka yang lemah. Mereka memilih menggunakan pikiran untuk mengikuti pendapat mereka sendiri atau pendapat kelompok mereka daripada memahami kehendak Allah. Manakala suatu ayat Allah dibacakan kepada mereka, pikiran mereka mungkin dapat memahami kebenaran ayat-ayat yang dibacakan, akan tetapi mereka tidak mau mengetahui kedudukan kebenaran itu di sisi Allah. Walaupun pikiran mereka mengenali kebenaran, akan tetapi akal mereka terlalu lemah untuk mengenali kehendak Allah yang disampaikan kepada mereka. Mereka memilih untuk mengikuti kebenaran yang ada dalam waham mereka daripada keinginan untuk menjadi hamba Allah.

Orang yang bersikap demikian termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya, dan mereka tidak dapat tumbuh menjadi orang-orang yang baik akhlaknya. Mereka mungkin mempunyai hati tapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat dan mempunyai pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Kadang mereka malah terjerumus lebih buruk sebagai orang yang tidak menggunakan pikiran untuk mengenali kebenaran. Orang yang berakhlak mulia terlahir dari orang-orang yang mampu memahami dan mengikuti kehendak Allah, sedangkan tanpa menggunakan akal manusia hanya akan mengalir mengikuti arus perkataan manusia. Kebaikan-kebaikan yang muncul dari diri mereka terlahir dari waham kebaikan dalam pikiran, tidak terlahir dari suatu keikhlasan untuk bersaksi terhadap Allah dan Rasulullah SAW. Bilamana Allah menghendaki, mereka akan tersapu layaknya buih yang mengambang di permukaan air. Manakala mengikuti kesesatan, mereka tidak akan mengetahui bahwa langkah mereka tersesat.

Setiap orang hendaknya menggunakan pikiran dan akal mereka untuk mengenali kehendak Allah atas diri mereka dengan berpedoman pada firman Allah. Firman Allah itu hendaknya dipahami berdasarkan ayat kauniyah yang digelar Allah pada semesta mereka. Melihat hubungan kedua ayat itu akan sangat memudahkan manusia untuk memahami kehendak Allah. Seringkali melihat ayat kitabullah terlebih dahulu daripada ayat kauniyah lebih memudahkan untuk memahami daripada melihat ayat kauniyah secara langsung, karena ayat kitabullah itu akan membentuk cara pandang tertentu terhadap ayat kauniyah yang harus diperhatikan.

Keberadaan seseorang yang dapat menjelaskan hubungan ayat kitabullah terhadap ayat kauniyah akan sangat membantu umat dalam melihat ayat yang menjadi pangkal pertumbuhan nafs mereka. Orang yang dapat membantu menjelaskan hubungan tersebut adalah orang yang mengenal urusan jaman mereka. Mereka mengetahui kesatuan ayat kitabullah dan ayat kauniyah bagi diri mereka, dan dengan hal itu ia bisa menjelaskan contoh kesatuan ayat kitabullah dengan ayat kauniyah hingga orang lain dapat berusaha mencari atau menemukan kesatuan ayat kitabullah dan ayat kauniyah bagi masing-masing. Sebagian orang demikian merupakan orang yang bertugas untuk mendidik manusia untuk dapat membaca kitabullah bagi mereka, maka mereka itu yang bertanggung jawab mendidik manusia. Para pendidik itu tidak hanya membacakan ayat Allah, tetapi mengajarkan manusia cara membaca kitabullah. Setiap orang yang mengetahui urusan jaman mereka akan mengetahui kesatuan ayat kitabullah dengan ayat kauniyah yang dapat dijadikan contoh cara menemukan firman Allah yang dapat tumbuh dalam qalb masing-masing, tetapi mereka tidak diberi amanat untuk mendidik cara membaca kitabullah.

Tazkiyatun Nafs sebagai Landasan Menumbuhkan Kalimah

Dalam mengajarkan manusia membaca kitabullah, ada prinsip yang selalu menjadi pedoman yaitu mengajarkan para pengikutnya untuk menjadi orang-orang yang disucikan. Para pengajar kitabullah adalah orang-orang yang mendidik manusia untuk melakukan tazkiyatun-nafs dengan metode yang diajarkan Allah kepada para pendidik tersebut.

﴾۹۷﴿لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS Al-Waqi’ah : 79)

Proses tazkiyatun-nafs dapat diibaratkan sebagai mempersiapkan ladang berupa qalb manusia agar siap untuk menjadi wahana pertumbuhan benih firman Allah yang ada dalam hati masing-masing. Tazkiyatun nafs bukan bertujuan untuk kesucian jiwa itu saja, tetapi harus dapat menumbuhkan benih kalimah thayyibah menjadi pohon thayyibah yang memberikan buahnya pada setiap musim. Tanpa menumbuhkan pohon thayyibah, pensucian jiwa itu tidak menghasilkan manfaat yang dikehendaki Allah. Para pendidik akan membantu setiap muridnya untuk menumbuhkan benih dalam hati mereka dan menunjukkan dan mengobati penyakit yang mungkin tumbuh mengganggu pertumbuhan benih itu, hingga masing-masing murid mengenali buah yang harus dihasilkan.

Pada dasarnya benih itu telah ada di setiap qalb manusia, sedangkan ayat-ayat kitabullah itu menampakkan bentuk benih masing-masing hingga masing-masing manusia dapat merawat pertumbuhan firman Allah tersebut. Ayat demikian itulah yang harus diperjuangkan oleh setiap manusia. Ayat-ayat kitabullah yang akan menyentuh hati seorang manusia mungkin berbeda dengan orang lainnya, dan hanya orang-orang yang disucikan lah yang akan menyentuh ayat kitabullah. Bila tidak melakukan tazkiyatun-nafs, firman Allah tidak menyentuh hati manusia dengan baik. Mungkin akan ada suatu tutupan yang bisa menimbulkan cacat dan cela. Sekalipun misalnya tersentuh dengan ayat yang sama, satu orang bisa mempunyai pemahaman yang berbeda karena benih yang dicahayai kitabullah mempunyai perbedaan, akan tetapi tidak akan menyimpang dari ayat kitabullah.

Para pendidik akan mengarahkan agar para murid mengenali benih kalimah thayyibah dalam diri mereka setelah melakukan tazkiyatun nafs. Ada banyak hal yang dapat membantu para murid untuk mengenali benih dalam diri mereka. Selain tentang diri, pengenalan tentang urusan jaman sebagai amr jami’ Rasulullah SAW akan membantu seseorang melihat kedudukan diri yang dapat mereka sumbangkan bagi amr tersebut. Setiap orang hendaknya tumbuh ghirah mereka untuk mengenali kehendak Allah melalui ayat-ayat dalam kitabullah, yaitu ayat yang menyentuh hati mereka dan terhubung dengan kauniyah yang merupakan bagian dari urusan jaman. Hal-hal demikian akan mengarahkan cahaya kitabullah untuk menerangi benih yang ada dalam diri mereka. Dengan cahaya itu pikiran, akal dan akhlak umat manusia akan tumbuh menjadi pohon thayibah.

Seseorang tumbuh dengan benar manakala akal dan pikiran mereka tumbuh menyatu. Dalam kehidupan kebanyakan manusia, pikiran tumbuh sendiri tanpa disertai dengan akal. Hal demikian akan ditandai dengan buramnya visi kehidupan. Walaupun mungkin tampak baik, tanpa tumbuhnya akal tidak ada isi hakikat yang menjadi bobot kehidupan manusia. Orang beriman hendaknya menumbuhkan akal mereka untuk mengenal kehendak Allah, dan menjadikan pikiran mereka makmum yang mengikuti akal. Tanpa menggunakan pikiran dan akal, seseorang tidak akan dapat menumbuhkan benih diri mereka menjadi pohon thayyibah, sedangkan syaitan akan mendorong mereka pada pohon khuldi. Tazkiyatun-nafs harus dilaksanakan dengan memperhatikan terbentuknya akhlak mulia dengan dituntun Alquran mengikuti millah Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Firman Allah harus menjadi bentuk benih yang ditumbuhkan dalam diri setiap manusia.

Dalam format terbaik, akal dan pikiran dapat diibaratkan dengan pernikahan. Akal adalah suami dan pikiran sebagai isteri. Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai pikiran yang membutuhkan imam berupa akal. Tanpa akal, pikiran dapat bergerak bebas tanpa arah yang benar. Bila akal masing-masing berkembang, mereka akan menyadari kebutuhan mereka terhadap imam mereka. Hal itu tergambar pula pada jasmani, di mana para perempuan membutuhkan imam yang menghubungkan mereka kepada Allah berupa suaminya. Sebenarnya para laki-laki pun membutuhkan imam bagi dirinya yang menghubungkan diri mereka pada amr Allah, dan pada puncaknya seseorang mengetahui bahwa pemimpin tertinggi yang menghubungkan diri mereka kepada Allah adalah Rasulullah SAW.

Sebaliknya format pernikahan hendaknya dibentuk layaknya hubungan akal dan pikiran. Seorang suami akan kuat dalam berusaha memahami kehendak Allah dengan akalnya, dan isteri mempunyai kekuatan menyediakan pijakan yang kuat di alam duniawi mereka. Kebanyakan laki-laki tidak berusaha menumbuhkan akal dan berusaha hanya dengan pikiran, sedangkan para perempuan lebih cenderung suka mengikuti hawa nafsu daripada berjuang menggunakan pikiran mereka untuk membantu langkah suaminya. Buruknya lagi, sebagian manusia tidak menggunakan pikiran bahkan untuk memahami kehendak Allah atau mengusahakan untuk agamanya.

Pernikahan dapat menjadi gambaran bagi landasan lurusnya pertumbuhan manusia. Akal dan pikiran hendaknya menyatu untuk beribadah kepada Allah, tidak untuk bersenang-senang memuaskan hasrat. Tanpa suatu pernikahan, kebersamaan laki-laki dan perempuan dalam suatu mawaddah pada dasarnya hanya mengikuti hasrat dan syaitan-lah yang memperoleh tempat berpijak pada mereka. Tanpa iktikad beribadah kepada Allah dan menempuh jalan yang ditentukan Allah, mawaddah yang mungkin tumbuh bersifat palsu. Mawaddah palsu itu bisa menjadi kanker yang dapat mematikan mawaddah yang bermanfaat dalam ibadah dengan benar kepada Allah. Kadangkala syaitan memperoleh jalan untuk menebarkan kanker demikian kepada manusia melalui pemujaan-pemujaan yang bathil. Dalam keadaan demikian, hendaknya manusia berpegang pada tuntunan kitabullah, setidaknya agar mempunyai daya tahan hingga kanker tersebut tidak mematikan seluruhnya. Setiap rasa mawaddah hendaknya tumbuh dalam iktikad ibadah kepada Allah dan ditumbuhkan dengan melalui jalan yang ditentukan Allah. Demikian warna akal dan pikiran yang harus tumbuh pada diri setiap manusia hendaknya ditumbuhkan dalam iktikad ibadah kepada Allah dan ditumbuhkan dengan jalan yang ditentukan Allah. Alquran harus menjadi penuntun pertumbuhan akal dan pikiran setiap diri manusia.



Rabu, 09 Agustus 2023

Pemahaman Sebagai Landasan Ibadah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Akhlak al-karimah akan diperoleh seseorang apabila ia membentuk akhlak Alquran dalam dirinya. Ia dapat mensikapi peristiwa yang terjadi di alam kauniyah sejalan dengan kitabullah Alquran.

Untuk akhlak mulia demikian Allah memberikan kepada manusia dan jin berbagai indera pada nafs mereka. Allah memberikan qalb, penglihatan dan pendengaran hati agar manusia memahami ayat-ayat Allah. Bekal-bekal itu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, tidak digunakan untuk kepentingan lain secara bebas. Bila tidak dimanfaatkan untuk memahami ayat-ayat Allah, manusia dapat tersesat sejauh-jauhnya dengan bekal-bekal yang diberikan kepada mereka.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam banyak dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)

Hal penting yang harus diperhatikan setiap orang beriman adalah mengetahui makna kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW bagi kehidupan mereka. Setiap orang harus menemukan ayat kitabullah yang menjadi pokok perjuangannya, yaitu ayat yang tergelar pada semesta mereka dan sesuai dengan hasrat hatinya. Sahabat bisa membantu memperkenalkan kandungan kitabullah Alquran, maka kandungan kitabullah itulah yang menjadi penerang bagi mereka. Mengikuti petunjuk sahabat tanpa mengetahui kandungan kitabullah Alquran hanyalah merupakan seruan kosong tanpa makna bagi jiwa mereka. Petunjuk tanpa pemahaman terhadap kitabullah itu suatu saat akan menjadi bahan kebingungan bagi mereka terutama manakala sahabat tersebut berbuat salah. Bila seseorang berpegang pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia dapat tetap berpegang pada petunjuk Allah manakala sahabatnya berbuat salah, hingga ia tidak mengalami kebingungan dalam menempuh kehidupan menuju Allah.

Beberapa Aspek dalam Ibadah

Terkait dengan ayat di atas, seorang ulama menuliskan penjelasan dalam seratnya. Beliau menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ibadah kepada Allah.

Yèn sira arsa manembah           Jika engkau hendak bersembah

ngagema margi agami              Gunakanlah jalan agama

aywa ngantya mundhut liya         Jangan sampai menggunakan yang lain

laku tindak tanpa pikir             berbuat dan melangkah tanpa berpikir

mung kabekta ing karsi             Hanya terbawa keinginan

bujuking hawa lan nepsu            bujukan hawa dan nafsu

kapilut ing rembag liya             Terpukau pada omongan orang lain

para kanca garwa tuwin             Para sahabat isteri ataupun

pra manungsa ingkang datan nut agama Para Manusia yang tidak mengikuti agama


Marganing laku utama              Jalannya langkah yang utama

utamaning gesang iki               (yang menjadi) keutamaan hidup ini

lamun ngerti mring Gusti-nya        (yaitu) jika paham terhadap Tuhan-nya

ingkang karya gesang iki            yang telah menjadikan hidup ini

tuwin ingkang paring rejeki          Juga yang telah memberikan rejeki

marang kawula sedarum             kepada hamba semuanya

kabeh para manungsa               semua manusia

ingkang gesang aneng bumi          yang hidup di bumi

kuwi ingkang lagya kena sinembaha   hanya itulah yang pantas untuk disembah

(Harum sari, sinom parijatha : 4-5)

Ayat nomor 4 menyebutkan beberapa komponen yang harus dipenuhi dalam ibadah berupa menggunakan pikiran, tidak hanya mengikuti keinginan beribadah, hawa dan nafsu dan tidak hanya mengikuti perkataan orang lain. Ayat nomor 5 menjelaskan tentang jalan keutamaan yang dapat diperoleh seseorang sebagai jalan untuk beribadah kepada Allah dengan sebenarnya berupa pemahaman terhadap Allah.

Beribadah kepada Allah harus menggunakan pikiran, tidak boleh meninggalkan proses berpikir. Berpikir dalam hal ini menunjuk pada menggunakan pikiran untuk memahami kehendak Allah berdasarkan ayat-ayat Allah yang diturunkan dalam kitabullah dan digelar pada ayat-ayat kauniyah sebagaimana disebutkan pada surat Al-a’raf di atas. Hanya dengan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah maka seseorang akan menemukan jalan ibadahnya kepada Allah di bumi dalam wujud amal-amal bagi sesama makhluk di dunia.

Pikiran merupakan kecerdasan pada tingkatan jasmaniah. Bila menggunakan pikiran mereka dengan benar, orang beriman akan dapat membentuk akal. Akal yaitu kecerdasan untuk memahami kehendak Allah pada tingkatan jiwa. Akal-lah yang menjadikan manusia memahami kehendak Allah, sedangkan pikiran saja bersifat terpecah-belah tidak bisa mengetahui kehendak Allah. Manakala pikiran mengendus kecerdasan akal, pikiran akan dapat mengikuti akalnya. Selain pikiran yang benar, pertumbuhan akal yang terbentuk pada seseorang bergantung pada kemuliaan akhlak. Ini lebih utama daripada pikiran. Bila akhlak seseorang buruk maka pikirannya tidak akan dapat menyentuh pemahaman terhadap kehendak Allah.

Pikiran harus digunakan setiap orang untuk merumuskan perbuatan dan langkah yang akan ditempuh. Selain amal, manusia perlu mengetahui langkah kehidupan yang perlu ditempuh. Setiap manusia diciptakan untuk tujuan tertentu, maka hendaknya mereka mencari langkah yang benar untuk tujuan itu. Seseorang bisa memahami tujuan dan langkah kehidupan bila mereka memahami kesatuan ayat Allah dalam kitabullah dan ayat kauniyah. Setiap amal hendaknya menjadi langkah yang benar untuk mencapai sasaran dan tujuan kehidupan. Bila seseorang baru bisa menemukan amal, hendaknya mereka juga memikirkan langkah kehidupan mereka, tidak hanya dapat berbuat baik tanpa menemukan arah melangkah. Manakala menemukan arah melangkah, hendaknya mereka mengupayakan penyatuan perbuatan mereka dalam langkah yang benar.

Sebagian orang menyangka bahwa ibadah hanya boleh dilakukan dengan mengikuti contoh-contoh dari Rasulullah SAW. Pemikiran semacam itu merupakan pemikiran yang terwarnai oleh paham kaum khawarij, yaitu kaum yang mengutamakan bentuk ibadah mahdlah (hingga menjadikan para sahabat Rasulullah SAW berkecil hati), tetapi mereka melupakan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah secara keseluruhan, bahwa ibadah manusia mencakup pula ibadah dalam bentuk amal bagi sesama makhluk. Kaum khawarij keluar jauh dari islam dengan meninggalkan pentingnya pemahaman dalam beribadah. Umat islam hendaknya berhati-hati terhadap upaya tipuan melalui kaum khawarij yang memisahkan pemahaman dalam ibadah, yaitu pemahaman terhadap kesatuan ayat Allah dalam kitabullah dan kauniyah serta ayat dalam diri manusia, karena hal itu dapat menjadikan mereka keluar pula dari islam sebagaimana kaum khawarij keluar dari islam karena hal itu.

Hendaknya setiap manusia menemukan jalan ibadah yang menjadi kehendak Allah bagi mereka, tidak salah sangka terhadap Allah dalam ibadahnya. Allah tidak membutuhkan sujudnya manusia, tetapi hamba-lah yang membutuhkan sujud kepada Allah. Ini akan dimengerti hamba Allah bila mereka menemukan jalan bersujud mereka. Hal ini tidak berarti membolehkan seseorang untuk membuat sendiri syariat, karena syariat hanya boleh dengan mengikuti Rasulullah SAW. Jalan bersujud bagi setiap hamba Allah yang dimaksud adalah bersujud dalam bentuk melakukan amal-amal jasmaniah memberikan manfaat bagi sesama. Hal ini dapat ditemukan seorang hamba Allah bila mereka memahami kesatuan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan ayat kauniyah yang digelar di semesta mereka.

Tidak hanya terhadap pemikiran kaum khawarij, setiap orang hendaknya memperhatikan dirinya agar tidak mengikuti segala ujaran tanpa menggunakan pikiran. Ujaran dan ajaran dari orang lain harus digunakan sebagai penjelasan terhadap pokok masalah yang digelar Allah, tidak dijadikan sumber urusan agama mereka. Demikian pula segenap dorongan hawa dan nafsu harus diarahkan untuk memahami ayat Allah yang digelar pada semesta mereka, tidak dijadikan sebagai pokok amal dan langkah dalam agama. Manakala Allah memberi karunia qalb, penglihatan, dan pendengaran, semua karunia itu harus pula digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Bila seseorang mengambil agama hanya dengan qalb mereka, atau penglihatan atau pendengaran dan mereka meninggalkan ayat-ayat Allah mereka akan tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya, lebih sesat dari makhluk yang hanya mempunyai indera jasmaniah.

Menggunakan pikiran tidak boleh ditinggalkan bahkan manakala seseorang menyangka menemukan wali. Manakala mengangkat hamba-hamba Allah sebagai wali, manusia tidak boleh meninggalkan pikiran mereka yang benar untuk mengikuti para wali yang mereka angkat. Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah terwujud dalam bentuk jasmaniah sebagai bahan pengajaran manusia hingga tingkat pikiran. Manakala seseorang meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan meninggalkan pikiran yang benar, mereka telah menjadikan hamba-hamba Allah itu sebagai wali selain Allah. Orang yang berbuat demikian termasuk sebagai orang-orang yang kafir dan kelak mereka akan masuk dalam neraka jahannam karena pendustaan mereka terhadap kitabullah.

Dalam menggunakan pikiran, hendaknya setiap orang berhati-hati terhadap beberapa dorongan dalam diri mereka berupa keinginan (karsi), hawa dan nafsu. Keinginan beribadah pada serat tersebut menunjuk pada keinginan untuk melakukan ibadah tanpa berpegang pada pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam tingkat tertentu, keinginan demikian dapat menjadi sesuatu yang menyesatkan, dimana seseorang mungkin akan memandang diri mereka mempunyai kedudukan tinggi sebagai seorang hamba yang melaksanakan perintah Allah, sedangkan apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak menyentuh kehendak Allah. Manakala mereka tidak berusaha untuk kembali berpegang pada kitabullah, mereka akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh. Bila kembali, firman Allah akan memangkas pertumbuhan keinginan yang tidak haq, mengarahkan pada pertumbuhan yang haq serta mengokohkan pertumbuhan diri pada realitas hakikat.

Hawa dan nafsu menunjukkan dorongan dalam diri dalam kualitas yang buruk, berupa kualitas intrinsik akhlak yang buruk dan hawa yang keluar dari kualitas buruk itu. Setiap makhluk berakal harus berusaha menghidupkan rasa kasih sayang dalam dirinya, maka hal itu akan mengubah akhlak nafs mereka menuju lebih baik. Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyuburkan pertumbuhan rasa kasih sayang dalam diri seseorang hingga seseorang dapat mempunyai kesadaran yang menerbitkan dorongan nafs yang baik. Bila tidak, pertumbuhan itu dapat mengarah pada hal yang keliru atau nafs mereka tidak tumbuh menuju akhlak yang baik, sedemikian mereka hanya dapat mensikapi fenomena kehidupan dengan hawa nafsu saja tanpa pengetahuan yang diturunkan Allah. Keliru dalam bersikap kadangkala lebih berbahaya daripada kebodohan, karena syaitan berusaha mengambil bagian. Hal demikian menunjukkan adanya akhlak yang tidak baik.

Wali Selain Allah

Sebagian manusia menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali bagi mereka selain Allah. Hal ini terjadi manakala seseorang meninggalkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti orang yang mereka jadikan sebagai wali, maka wali yang mereka pilih itu merupakan wali selain Allah. Sekalipun orang yang mereka angkat itu adalah seorang wali Allah, meninggalkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW menjadikan wali tersebut sebagai wali selain Allah bagi mereka.

﴾۲۰۱﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) menjadikan hamba-hamba-Ku menjadi wali selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir (QS Al-Kahfi : 102)

Sikap menjadikan hamba Allah sebagai wali tanpa memperhatikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak akan mengantarkan seseorang memperoleh cahaya Allah yang akan menerangi kehidupan mereka. Manakala memandang perkataan hamba Allah sejajar dengan firman Allah, seseorang telah menjadikan hamba-Nya sebagai wali selain Allah. Mereka tidak akan menemukan amal shalih yang menjadi jalan untuk kembali kepada Allah, justru mereka akan kembali menuju neraka sebagai tempat kembali mereka. Mereka barangkali merasa mengikuti hamba-hamba Allah, akan tetapi mereka tidak mengikuti cahaya Allah.

Sikap demikian seringkali mengarah berlebihan, yaitu menjadikan hamba-hamba Allah yang mereka ikuti sebagai pujaan selain Allah, hingga lebih mempercayai perkataan mereka daripada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini sama sekali tidak diperbolehkan. Seorang hamba Allah bisa menjadi penunjuk jalan kepada Allah selama ia berada di jalan Allah, dan setiap orang harus berharap kepada Allah manakala mengikuti hamba Allah yang lain, tidak menjadikannya sejajar dengan Allah atau sebagai tandingan-Nya.

Kamis, 03 Agustus 2023

Rasulullah SAW Sebagai Uswatun Hasanah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk tugas demikian Allah mengutus seorang manusia. Rasulullah SAW diutus dari kalangan manusia yang diciptakan dari alam yang terjauh dari sumber cahaya, dan dilengkapi ruh yang berasal dari alam tertinggi. Karena penciptaan demikian, beliau SAW sebenarnya mempunyai pengetahuan yang paling sempurna terhadap segala masalah yang mungkin dialami oleh sesuatu yang diciptakan Allah. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari hal demikian justru berangan-angan bahwa utusan yang didatangkan kepada mereka berasal dari kalangan malaikat dari alam yang tinggi.

﴾۰۱۱﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS Al-Kahfi : 110)

Sebagian manusia menginginkan adanya keajaiban-keajaiban yang melampaui batasan umum kemanusiaan untuk membuat mereka kembali kepada Allah, dan sebagian manusia kafir terhadap seruan untuk kembali kepada Allah. Hal demikian menunjukkan adanya kelemahan dalam menggunakan akal, sedangkan sebenarnya bagi mereka telah disediakan potensi kemampuan akal yang mencukupi untuk memahami seruan Rasulullah SAW. Sebagian manusia memperoleh cahaya yang menerangi kehidupan mereka karena beriman kepada manusia mulia yang menyeru mereka untuk kembali kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang berakal.

Jalan untuk kembali kepada Allah telah disediakan Allah bagi setiap manusia di alam dunia ini, yang diletakkan dalam diri masing-masing. Rasulullah SAW telah menunjukkan jalan itu kepada umat manusia. Apa yang beliau SAW tunjukkan merupakan kebenaran yang telah benar-benar beliau pahami. Beliau SAW sebagai manusia bumi telah menempuh millah Ibrahim a.s dari bumi hingga diberi karunia mi’raj hingga ufuk yang tertinggi berjumpa dengan wajah Allah. Setiap manusia mempunyai jalan untuk berjumpa dengan wajah Allah dengan menempuh jalan yang ditentukan baginya mengikuti jalan Rasulullah SAW.

Pengetahuan yang beliau SAW peroleh merupakan pengetahuan berdasarkan wahyu. Sifat pengetahuan berdasar wahyu merupakan pengetahuan atas suatu kesadaran. Wahyu yang diturunkan seringkali merupakan pembenar bagi suatu kesadaran yang dimiliki sebelumnya, atau setidaknya seseorang telah memiliki kesadaran yang mendekati kandungan wahyu tersebut. Demikian pula Rasulullah SAW merupakan manusia yang telah mempunyai akhlak Alquran sebelum Alquran itu diturunkan, dan turunnya Alquran sekaligus merupakan pembenar bagi akhlak beliau SAW. Akhlak dalam diri beliau SAW menjadikan beliau SAW mengetahui bahwasanya ilah bagi manusia hanyalah ilah yang satu, Allah SWT, dan kemudian wahyu Allah memberikan penegasan dan penjelasan apa yang telah diketahui Rasulullah SWT.

Lurusnya akhlak Rasulullah SAW dalam ibadahnya mencakup hal-hal terperinci. Hal ini tidak akan mampu diperoleh orang lain kecuali mengikuti Rasulullah SAW. Sangat banyak orang yang menyangka bahwa dirinya adalah orang-orang yang baik atau berbuat kebaikan sedangkan usaha mereka dalam kehidupan dunia sebenarnya adalah usaha yang sesat. Bahkan kadangkala manakala orang -orang lain memperingatkan kekeliruan yang mereka perbuat dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak dapat melihat kesesatan mereka. Tidak demikian dengan keadaan Rasulullah SAW. Beliau SAW mempunyai kesadaran tentang kebenaran hingga masalah yang sangat terperinci. Karena akhlak itu beliau SAW tidak berbuat salah, dan Alquran diturunkan kepada seorang manusia dengan akhlak demikian.

Sebagian orang berada dalam keadaan bodoh. Hal itu terkait dengan akal. Yang menjadikan seseorang termasuk dalam golongan bodoh bukanlah kemampuan logika, tetapi karena akhlak yang buruk. Kelemahan dalam memahami kebenaran merupakan kelemahan akal dan akhlak yang buruk. Tidak terbatas itu, kadangkala manusia salah dalam memahami hukum-hukum yang ditentukan Allah bagi mereka, maka itu juga termasuk dalam kelemahan akal. Manakala seseorang berada dalam kelemahan akal, mereka mereka seringkali mudah terjatuh dalam golongan orang-orang kafir.

Mengambil Wali selain Allah

Di antara orang-orang kafir adalah orang-orang yang menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali bagi mereka selain Allah. Pikiran demikian itu jauh dari hukum Allah, dan orang yang mempunyai pikiran demikian termasuk dalam golongan orang-orang kafir. Barangkali mereka mencari wali bagi kehidupan mereka, akan tetapi mereka tidak menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah, maka kelemahan akal demikian menjadikan mereka tetap dalam keadaan kafir. Barangkali mereka mengira bahwa hamba-hamba Allah itu bisa menyamai kedudukan Allah hingga mereka menjadikan hamba-hamba Allah itu sebagai wali bagi mereka.

﴾۲۰۱﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi wali selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (QS Al-kahfi :102)

Hal seperti ini termasuk dalam perincian masalah yang harus dipahami dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Ada di antara umat manusia orang yang benar-benar berkeinginan untuk menjadi hamba Allah hingga Allah ridha kepada mereka. Mereka dapat menunjukkan kepada manusia kehendak Allah, maka manusia dapat memperoleh manfaat yang besar dari mereka. Akan tetapi setiap manusia hendaknya mengetahui batas dalam mengikuti mereka. Manakala berselisih atau bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, umat manusia tidak boleh mengikuti perkataan mereka dengan mengabaikan kedua tuntunan mulia tersebut, atau mereka termasuk dalam kelompok orang kafir yang menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali bagi mereka selain Allah. indikator kekufuran dalam peristiwa demikian adalah ketidakmampuan untuk melihat dan mendengar ayat-ayat Allah yang digelar pada semesta mereka sedangkan mereka berurusan dengannya.

Sikap demikian tidak akan mengantarkan seseorang memperoleh cahaya Allah yang akan menerangi kehidupan mereka. Mereka barangkali merasa mengikuti hamba-hamba Allah, akan tetapi mereka tidak mengikuti cahaya Allah. Sikap demikian seringkali mengarah berlebihan, yaitu menjadikan hamba-hamba Allah yang mereka ikuti sebagai pujaan selain Allah, hingga lebih mempercayai perkataan mereka daripada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini sama sekali tidak diperbolehkan. Seorang hamba Allah bisa menjadi penunjuk jalan kepada Allah selama ia berada di jalan Allah, dan setiap orang harus berharap kepada Allah manakala mengikuti hamba Allah yang lain, tidak menjadikannya sejajar dengan Allah atau sebagai tandingan-Nya. Manakala memandang perkataan hamba Allah sejajar dengan firman Allah, seseorang telah menjadikan hamba-Nya sebagai wali selain Allah. Mereka tidak akan menemukan amal shalih yang menjadi jalan untuk kembali kepada Allah, justru mereka akan kembali menuju neraka sebagai tempat kembali mereka.

Rasulullah SAW sangat mencegah dan menghindarkan umatnya dari keadaan demikian. Allah memberikan perintah kepada Rasulullah SAW untuk mengedepankan sisi manusiawi beliau SAW dalam menyeru manusia untuk kembali kepada Allah, maka hendaknya manusia mengikuti beliau SAW hingga sisi manusiawi diri mereka. Kebenaran telah Allah turunkan hingga menjangkau alam dunia yang gelap, maka hendaknya manusia mencari kebenaran itu padanya dengan kitabullah, tidak tersilaukan dengan tingginya suatu cahaya yang mungkin saja palsu yang dapat menipu mereka hingga tersesat dari jalan Allah. Tidak ada buruknya mengikuti kebenaran makhluk bumi selama mereka berharap kepada Allah dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak ada kebaikan menjadikan hamba-hamba Allah menjadi wali sedangkan hamba itu berlainan atau berseberangan dengan Allah.

Kedudukan Allah tidak dapat disejajarkan dengan apapun termasuk dengan hamba-Nya. Firman Allah tidak dapat disejajarkan derajatnya dengan perkataan lain walaupun perkataan hamba-Nya. Perkataan yang lain benar hanya bila bersifat penjelasan terhadap ayat kitabullah, dan tidak mungkin bersifat benar manakala diucapkan dengan maksud sebagai kedudukan yang sama dengan suatu ayat kitabullah. Kadangkala syaitan menjadikan seseorang terlupa terhadap kedudukan Allah dan mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan kitabullah. Bila manusia menilai suatu ucapan seorang hamba-Nya dapat sejajar atau dapat digunakan untuk menghapus makna suatu ayat kitabullah, maka ia termasuk dalam orang yang menjadikan hamba-Nya sebagai wali selain Allah.

Status kehambaan seseorang terkait dengan Allah harus diukur dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengikuti hawa nafsu. Setiap orang hanya dapat mengambil amr Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak melalui jalan yang lain, dan tidak ada amr Allah yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apa yang diambil seseorang dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itulah yang dapat menjadi bagian dari amal shalih, bukan pada perbuatan mengikuti orang lain tanpa suatu landasan yang benar dari kitabullah, sekalipun mereka mengikuti para wali. Menjadikan seorang hamba Allah sebagai wali tanpa berusaha memperoleh sesuatu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak akan mendatangkan manfaat bagi manusia, dan ia mungkin saja akan jatuh termasuk dalam golongan orang kafir.

Sesat dalam Usaha

Seringkali manusia berbuat demikian, dan mereka memandang bahwa diri mereka telah berbuat kebaikan dengan perbuatannya. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu manakala perbuatan mereka di dunia ini sesat sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat dengan perbuatan yang sebaik-baiknya.

﴾۴۰۱﴿الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Yaitu orang-orang yang telah sesat usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS Al-Kahfi :104)

Kesesatan adalah perjalanan yang keliru arah. Tidak dikatakan tersesat seseorang yang kafir karena tidak berjalan. Orang-orang yang sesat seringkali memandang bahwa diri mereka adalah golongan orang-orang yang terbaik, tetapi sebenarnya mereka tidak berada pada jalan yang benar. Demikian orang-orang yang paling merugi usahanya, mereka memandang diri mereka sebagai orang-orang yang melakukan amal-amal yang terbaik sedangkan mereka tidak mengenali kehendak Allah terhadap diri mereka. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang menjadikan hamba-hamba Allah sebagai wali tetapi tidak berusaha mengambil kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai landasan amal mereka, hingga manakala mereka bertentangan dengan kitabullah mereka lebih mempercayai pendapat mereka sendiri daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kesesatan pada ayat di atas berada pada tingkatan usaha (سَعْيُ) bukan pada tingkatan amal. Suatu usaha menunjukkan rangkaian amal-amal yang mempunyai sasaran tertentu, baik sasaran sementara ataupun sasaran akhir. Misalnya suatu sa’i bisa mempunyai sasaran untuk umrah atau haji, maka sa’i tersebut bernilai benar. Dalam hal usaha yang tersesat, yang dikatakan tersesat adalah sasaran yang hendak dicapai tidak sesuai dengan kehendak Allah. Pada tingkatan amal, boleh jadi mereka tidak melakukan suatu kesalahan tetapi sasaran yang dituju dengan usaha itu tidak menyentuh kehendak Allah atau justru bertentangan dengan kehendak Allah.

Parameter tersesat atau tidaknya seseorang adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasullah SAW dengan cara yang hanif tidaklah tersesat walaupun belum dapat melangkah jauh. Orang yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dapat dikatakan tersesat walaupun ia telah menempuh perjalanan yang panjang. Dalam banyak kejadian, seseorang menjadi tersesat karena memperoleh makna yang salah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan adanya akhlak keliru yang tumbuh dalam diri mereka. Bila seseorang berusaha membentuk akhlak mulia secara hanif, makna yang keliru itu akan terasa kekeliruannya. Akhlak mulia akan menjadikan seseorang memahami sasaran dan tujuan yang harus dicapai dan dapat merasakan kekeliruan dalam arah usahanya.

Kemuliaan akhlak itu ditunjukkan ketulusan/kehanifan seseorang dalam mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada perjalanan yang telah lanjut, seorang hamba Allah akan menemukan kesatuan urusan Allah sebagai bagian dari amr jami Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Orang lain bisa hendaknya mengikuti mereka untuk menemukan amr Allah yang menjadi amanah bagi mereka, dengan memperhatikan dan mengutamakan ayat-ayat Allah yang digelar. Para hamba Allah itu akan membantu, sedangkan sumber amr Allah ada pada kitabullah. Mengikuti mereka tidak akan memberi manfaat bila tidak memperhatikan kitabullah. Di sisi lain, banyak kepalsuan berasal dari makhluk, karenanya setiap orang hendaknya memperhatikan ayat-ayat kitabullah dan kauniyah mereka.