Pencarian

Jumat, 24 Maret 2023

Mengikuti Hidayah

Allah menciptakan manusia di bumi untuk menjadi pemakmurnya. Manusia akan kembali kepada kedudukan mereka di surga setelah mereka menempuh kehidupan di bumi dengan membawa fadhilah yang sangat banyak dibandingkan dengan makhluk lainnya karena manusia menempuh kehidupan yang berat di bumi. Akan tetapi hanya sedikit orang yang dapat benar-benar kembali kepada kedudukan mereka ketika menempuh kehidupan di bumi. Banyak di antara manusia tersesat atau dzalim terhadap diri mereka sendiri. Sebagian orang dzalim melupakan tujuan kehidupan mereka sesuai dengan ketetapan Allah, dan sebagian orang yang bertaubat terjebak pada jalan yang keliru hingga mereka sesat.

Kunci keselamatan dalam menempuh perjalanan taubat bagi setiap orang adalah hidayah, atau petunjuk Allah. Hidayah dapat dijelaskan sebagai penjelasan atau pengarahan yang terang untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Dalam istilah agama, hidayah merupakan penjelasan atau pengarahan bagi manusia untuk mencapai kedudukan kembali di sisi Allah. Suatu pengetahuan tertentu dapat dikatakan sebagai hidayah manakala ilmu itu terkait dengan suatu tujuan tertentu. Manakala suatu ilmu menjadikan seseorang terpecah-belah kehilangan arah dari tujuan yang ditentukan, maka ilmu itu tidak dapat dikatakan sebagai hidayah. Kadang-kadang suatu ilmu ditampakkan layaknya hidayah, sedangkan ilmu itu tidak membuat manusia bertambah dalam memahami tujuan kehidupan mereka sedikitpun, maka ilmu itu manakala diikuti tidaklah termasuk dalam kategori hidayah.

Hidayah tidak terbatas bagi manusia. Allah telah menciptakan segala sesuatu berdasarkan suatu bentuk kejadian tertentu dan kemudian memberikan kepada mereka petunjuk untuk mencapai bentuk kejadiannya. Demikian pula bagi manusia, Allah memberikan petunjuk kepada mereka bentuk-bentuk hidayah yang paling tinggi di antara semua bentuk hidayah. Hal ini karena manusia diciptakan di suatu tempat terjauh di alam penciptaan untuk kembali kepada kedudukan di sisi Allah, karenanya bentuk hidayah bagi manusia merupakan bentuk hidayah yang paling utama.

﴾۰۵﴿قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ
Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (QS Thaha : 50)

Bentuk hidayah bagi makhluk akan bergantung pada bentuk yang ditentukan bagi makhluk. Makhluk jasmaniah akan memperoleh hidayah untuk mencapai kedudukan jasmaniah mereka, dan para malaikat memperoleh hidayah untuk melaksanakan kedudukan yang ditentukan bagi mereka di alam malakut. Manusia merupakan bentuk makhluk yang paling sempurna, mempunyai bentuk-bentuk jasmaniah di alam mulkiyah, bentuk-bentuk malakutiyah sebagaimana para malaikat, hingga bentuk-bentuk penciptaan yang paling tinggi di sisi Allah. Hidayah bagi manusia merupakan bentuk hidayah yang paling sempurna yang dikaruniakan Allah kepada makhluk-Nya.

Hidayah Yang Sempurna

Allah telah menurunkan hidayah yang paling sempurna kepada junjungan semesta alam Rasulullah SAW dalam bentuk kitabullah Alquran al-karim. Bentuk fisik kitabullah Alquran yang dapat dibaca manusia merupakan ringkasan dari seluruh hakikat yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW. Dibalik bacaan Alquran yang terwujud pada fisik kitab Alquran terdapat kandungan hakikat yang sangat besar mencakup seluruh hakikat penciptaan yang hendak diperkenalkan Allah kepada seluruh makhluk. Bila seseorang mempunyai akal, maka ia dapat memperoleh suatu penjelasan dan pengarahan yang terang tentang kehendak Allah melalui pembacaan kitabullah Alquran.

﴾۸۰۱﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ
Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu Al-Haqq dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya itu petunjuk untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu atas dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu". (QS Yunus : 108)

Kitabullah Alquran diturunkan hingga bentuk fisik yang dapat dibaca oleh setiap orang, baik ia kafir ataupun beriman. Bentuk fisik demikian dan bentuk-bentuk Alquran yang lebih hakiki hanya dapat dipahami dengan benar oleh orang-orang beriman saja, akan tetapi setiap bentuk Alquran dapat menjadi hidayah bagi setiap orang yang membacanya. Perlu diketahui bahwa orang beriman-pun tidak semuanya dapat memahami Alquran dengan benar karena adanya kemungkinan hawa nafsu yang berada pada diri mereka.

Manakala seorang beriman bertentangan dengan ayat kitabullah Alquran, mereka telah melenceng dari kebenaran. Kesesatan yang dilakukan oleh seseorang dalam mengikuti kebenaran tidak menjadi tanggungan Rasulullah SAW dan orang yang mengikutinya. Beliau SAW dan pengikutnya menyeru setiap orang kepada petunjuk tanpa ada keinginan melenceng, sedangkan melencengnya seseorang karena dirinya sendiri. Mereka tidak benar-benar mengharapkan petunjuk sehingga kemudian menempuh jalan yang sesat karena petunjuk yang sallah. Orang yang benar-benar mengharapkan petunjuk akan memperoleh petunjuk dari kebenaran yang telah diturunkan Allah.

Sangat banyak bentuk hidayah yang dapat terbuka bagi setiap orang yang membaca Alquran, baik hidayah dalam bentuk dasar di alam mulkiyah ataupun hidayah untuk alam yang tinggi. Orang yang memperoleh petunjuk dari Alquran dan beramal sesuai dengan petunjuk yang diperoleh merupakan orang yang memperoleh petunjuk bagi nafs mereka. Mereka akan mengetahui hakikat-hakikat penciptaan yang dikehendaki Allah bagi mereka. Hakikat itu menjelaskan makna kehidupan mereka dan memberikan arah kehidupan mereka, baik arah kehidupan jangka pendek maupun arah tujuan akhir kehidupan mereka di sisi Allah. Kadangkala seseorang memperoleh hidayah jangka pendek untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga tujuan akhirnya, dan kadangkala seseorang memperoleh hidayah untuk mengikuti keseluruhan langkah Rasulullah SAW kemudian ia memperoleh hidayah jangka pendek.

Setiap hidayah akan terkait dengan ayat kauniyah dan ayat kitabullah, dan berfungsi untuk melangkah bertaubat kepada Allah. Ayat kauniyah merupakan potongan ayat Allah yang diperkenalkan secara temporer kepada para penghuni semesta raya, bagian dari keseluruhan hakikat yang hendak Dia perkenalkan kepada makhluk. Kitabullah merupakan ringkasan dari keseluruhan hakikat tersebut. Suatu hidayah merupakan penjelasan atau pengarahan yang jelas terhadap keterkaitan ayat-ayat di atas, bukan suatu penjelasan yang tidak terkait dengan ayat Allah. Bila tidak terkait dengan ayat Allah dan langkah taubat, maka seseorang belum dikatakan telah memperoleh hidayah, walaupun ia mempunyai khazanah indera lahir atau bathin yang banyak.

Kadangkala suatu kauniyah berbeda dengan ayat kitabullah, dan hidayah itu dimaksudkan agar seseorang mengarahkan kauniyah mereka sesuai hidayah. Kadangkala suatu ayat kitabullah menjelaskan keadaan kauniyah yang terkamuflase oleh upaya suatu pihak tertentu sehingga suatu petunjuk tampak tidak terkait dengan ayat kauniyah, atau tidak sesuai dengan ayat kauniyah. Dalam peristiwa demikian cara pandang terhadap ayat kauniyah-lah yang harus diupayakan mengikuti petunjuk, yaitu petunjuk yang terkait dengan kitabullah. Bila diabaikan, ia akan terus menjadi orang yang tidak memahami petunjuk. Di sisi lain, kadangkala suatu petunjuk hanya merupakan bunga hawa nafsu atau penguji hati, maka hendaknya petunjuk itu tidak dijadikan seseorang alat untuk mendustakan ayat Allah.

Hidayah bukan hanya terkait iman atau kufur kepada Allah. Hidayah terkait dengan setiap tingkatan makhluk. Bagi manusia yang kafir, hidayah dapat berwujud keterbukaan hati untuk menerima suatu penjelasan kebenaran menghapus kekufuran mereka. Bagi manusia dalam iman tertentu, hidayah dapat berupa langkah praktis yang diperlukan untuk masalah diri mereka. Sebagian manusia memperoleh hidayah untuk mengentaskan permasalahan umat mereka. Setiap tingkatan manusia dapat memperoleh hidayah bila mereka mengikuti hidayah itu. Bila seseorang berhenti mengikuti hidayah, mereka akan berhenti pula dalam menerima hidayah. Bila mereka tersesat mensikapi, maka mereka akan tersesat pula.

Bagi orang-orang yang terus mengikuti hidayah, maka mereka akan terlepas dari rasa takut dan khawatir dalam kehidupan. Sebagian orang tidak menerima kebenaran, maka mereka tetap dalam keadaan kufur. Sebagian orang dapat memahami kebenaran tetapi memilih mengikuti kebutaan di alam yang rendah. Sebagian orang beriman tidak mau mengikuti hidayah bagi mereka, maka mereka terbelit oleh masalah mereka sendiri dan terbelit oleh hawa nafsu mereka tanpa memperoleh jalan yang terang oleh kitabullah. Boleh jadi mereka akan terbelit masalah sendiri sedangkan mereka terlena oleh hawa nafsu bercita-cita mengentaskan masalah umat. Boleh jadi mereka kemudian terjatuh dalam kekufuran menolak kebenaran sedangkan mereka mengira berjuang untuk kebaikan umat manusia. Hendaknya setiap orang mengikuti hidayah sesuai dengan keadaan mereka masing-masing agar memperoleh hidayah yang terus meningkat.

Hendaknya setiap orang yang mencari hidayah tidak pernah melepaskan upaya mereka dari kitabullah. Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang sangat jauh dari cahaya, dan demikian pula alam malakut mereka-pun merupakan hijab dari Allah yang dapat menyesatkan mereka dari tujuan yang sebenarnya. Kadangkala seorang beriman memperoleh hidayah untuk jangka pendek kemudian melupakan kitabullah karena merasa ia telah memperoleh hidayah yang sejati. Karena perbuatan itu maka mereka kemudian berbalik menuju langkah yang sesat. Seseorang dapat tersesat karena berpegang pada sebagian kitabullah dan melupakan yang lainnya. Tidak ada seseorang yang mengetahui seluruh kandungan kitabullah kecuali Rasulullah SAW, akan tetapi keadaan ini tidak boleh menjadikan seseorang bersikap mendustakan ayat dalam kitabullah karena tidak mengetahuinya. Bila ada orang lain membaca kitabullah dengan benar, ia tidak boleh mendustakannya. Mendustakan pembacaan yang benar itu merupakan kesesatan.

Seseorang dapat tersesat ketika mengikuti sebagian dari kitabullah, tetapi bukan kitabullah itu yang menyesatkannya. Mereka tersesat karena diri mereka sendiri. Mengenal suatu hakikat melalui bacaan kitabullah tidak boleh disikapi dengan kebanggaan dalam hawa nafsu, tetapi harus menumbuhkan sikap mengagungkan Allah. Bila seseorang berbangga dengan pengenalannya terhadap hakikat, mungkin mereka akan menganggap kecil orang lain dan menganggap dirinya lebih utama hingga tidak dapat mengenali khazanah dari orang lain. Sebenarnya sangat banyak hakikat yang mungkin diperkenalkan Allah kepada setiap manusia, tidak hanya diperuntukkan bagi orang tertentu saja. Selama suatu kebenaran yang dikenal seseorang mempunyai pijakan kitabullah, sangat mungkin kebenaran itu merupakan hakikat yang diturunkan dari sisi Allah. Seseorang tidak berhak untuk menganggap orang lain tidak mungkin mengenal kebenaran yang berbeda dengan dirinya. Manakala hal itu terjadi, mereka akan sangat mudah tergelincir mendustakan kebenaran hingga mereka menjadi orang yang tersesat.

Menyeru Pada Hidayah

Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk memberikan hidayah kepada orang lain. Rasulullah SAW-pun tidak diberi kewajiban untuk memberikan hidayah kepada umatnya. Demikian pula beliau berlepas diri dari orang-orang yang tersesat dalam mengikuti kebenaran yang Allah turunkan, bahwa kesesatan itu merupakan kesesatan dari nafs masing-masing. Seseorang yang memilih beriman hingga mendapat petunjuk atau memilih kufur terhadap seruan beliau SAW bukanlah tanggungan beliau SAW. Beliau berlepas diri dari orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, dan Allah tidak membebankan kekufuran mereka kepada beliau SAW.

﴾۲۷۲﴿ لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (QS Al-Baqarah : 272)

Hal demikian tidak berarti melepaskan kewajiban terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikutinya untuk menyeru manusia kepada hidayah. Setiap orang beriman harus menyeru orang lain kepada hidayah, akan tetapi keterbukaan hidayah dalam diri setiap orang tidak dapat diupayakan oleh orang-orang yang menyeru. Sejelas apapun penjelasan yang dapat diberikan oleh seseorang, belum tentu orang lain akan memperoleh cahaya yang menerangi kehidupan mereka bila mereka menutup hatinya dari kebenaran hakikat yang disampaikan. Allah-lah yang akan membuka hati orang-orang yang mendengarkan penjelasan kebenaran, yaitu orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Orang yang menyeru orang lain kepada hidayah akan memperoleh bagian pahala dari orang-orang yang mengikuti mereka tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya sedikitpun. Orang-orang yang memperoleh hidayah hendaknya menyeru orang lainnya kepada hidayah yang diketahuinya, maka mereka akan memperoleh balasan kebaikan sesuai dengan orang-orang yang mengikutinya.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً ، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَه ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أجُورِهمْ شَيئاً ، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيئاً
Barangsiapa menyeru kepada hidayah maka akan ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi)

Akan tetapi hendaknya mereka juga berhati-hati dengan memastikan terlebih dahulu bahwa apa yang diserukannya benar-benar merupakan hidayah, yaitu dengan cara memeriksa hidayahnya dengan kitabullah dan ayat kauniyah. Hidayah harus sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan bila bertentangan dengan kitabullah, maka apa yang disangka hidayah itu merupakan kesesatan. Akibat buruk dari seruan demikian benar-benar menjadi tanggungan orang yang menyerunya, tidak sebagaimana kesesatan orang-orang karena seruan kepada hidayah. Barang siapa menyeru manusia pada kesesatan, maka ia akan memperoleh bagian balasan yang buruk dari seluruh dosa orang-orang yang mengikutinya semuanya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya sedikitpun.

Orang-orang yang mengikuti kesesatan orang lain tidak dapat melepaskan dosa kesesatan itu dari diri mereka sendiri. Sekalipun penyeru kesesatan kepada mereka memperoleh beban dosa keseatan dirinya, tidaklah dosa dirinya berkurang sedikitpun. Seluruh dosa itu tetap menjadi tanggungan dirinya sendiri, tidak dikurangi dengan beban yang ditanggung penyerunya. Karena itu setiap orang hendaknya memperhatikan seruan yang mereka terima. Hidayah akan selalu terkait dengan ayat-ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah, tidak boleh terlepas darinya. Manakala ada gejala terlepas, hendaknya setiap orang berhati-hati dengan datangnya fitnah Allah ataupun tipuan syaitan terhadap dirinya.

Jumat, 17 Maret 2023

Prasangka Buruk dan Akhlak Buruk

Allah menghendaki umat manusia untuk bersatu memakmurkan bumi sebagai umatan wahidah, akan tetapi manusia selalu berselisih di antara mereka. Hanya orang-orang yang membina diri mereka mengenali nafs wahidah yang mengetahui cara menyatukan diri mereka dalam umatan wahidah sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW. Tanpa mengenal nafs wahidah dan membina kesatuan nafs wahidah tersebut untuk mengikuti Rasulullah SAW, setiap orang akan terjebak dalam perselisihan-perselisihan.

Ada modal dasar dalam diri yang harus dikelola dengan benar untuk mencapai tujuan di atas. Setiap orang diberi bekal kemampuan untuk berpikir. Setiap orang harus berusaha menyusun pikiran yang benar agar nafs mereka tumbuh berkembang. Berpikir merupakan bayangan di raga dari kecerdasan aql yang terdapat pada nafs mereka. Kedua kecerdasan pada setiap diri tersebut harus dibina untuk dapat memahami ayat-ayat secara solid dan benar. Kemampuan seseorang untuk berpikir berdasarkan fakta yang benar akan membuat nafs mereka mempunyai kemampuan untuk memahami kebenaran, dan sebaliknya bila seseorang menyusun kerangka berpikirnya tanpa landasan fakta yang benar, maka nafs mereka juga akan tumbuh memahami kebenaran secara mengambang.

Kebenaran pikiran seringkali merupakan hal yang berlawanan dengan prasangka. Prasangka merupakan suatu bentuk pikiran yang prematur. Sebagian besar prasangka merupakan dosa, dan hanya sebagian kecil prasangka tidak merupakan dosa. Perbuatan dosa akan merusak persaudaraan di antara orang-orang beriman. Penghinaan kepada orang lain seringkali terjadi karena seseorang tidak menggembalakan prasangkanya untuk menjadi lebih baik. Demikian pula orang mencari kesalahan orang lain dan berghibah karena prasangka. Orang yang berprasangka seringkali memandang diri mereka lebih baik daripada orang-orang yang mereka prasangkai. Seringkali keburukan yang ada dalam pikiran sebenarnya merupakan keburukan sendiri, bukan benar-benar keburukan objeknya, atau setidaknya keburukan sendiri yang bercampur dengan keburukan pada objeknya. Allah memerintahkan manusia untuk menghindari kebanyakan prasangka.

﴾۲۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujuraat : 12)

Suatu prasangka seringkali terjadi karena kurangnya pengenalan atau kedekatan seseorang kepada orang lainnya, kemudian mengambil kesimpulan tentang sahabatnya secara tergesa-gesa. Hal ini merupakan dorongan hawa nafsu yang harus dikendalikan. Setiap orang harus dapat memahami sahabatnya dengan benar. Proses pemahaman ini akan sangat dipengaruhi dengan keadaan diri masing-masing orang. Proses berpikir yang benar akan diperoleh oleh orang-orang yang menempuh jalan pensucian diri hingga Allah mensucikan nafs mereka. Menggembalakan prasangka merupakan bagian dari jalan pensucian diri, dan tanpa menggembalakannya maka Allah tidak akan mensucikannya.

Menggembalakan Prasangka

Prasangka buruk yang diperturutkan akan membawa seseorang pada suatu akhlak buruk. Manakala seseorang berprasangka buruk, prasangka buruk tersebut merupakan kesalahan yang mendatangkan kejahatan. Bila ia tidak berusaha memperbaiki prasangka buruknya, prasangka itu akan menjadi kejahatan. Apabila prasangka buruknya itu menjadikan dirinya menghukumi saudaranya dengan keburukan tanpa bisa menerima penjelasan apapun yang terkait, maka ia telah berakhlak buruk dalam bentuk dosa yang tidak terampuni. Akhlak buruk yang tumbuh karena adanya prasangka buruk merupakan dosa yang tidak terampuni.

Rasulullah SAW bersabda :
سوء الخلق ذنب لا يغفر و سوء الظن خطيءة تفوح
"Buruk akhlak itu adalah dosa yang tak terampunkan dan buruk prasangka adalah kesalahan yang mendatangkan kejahatan." (HR Ath-Thabarani)

Prasangka buruk itu terlahir dari sedikitnya atau tidak adanya keinginan memberikan kebaikan bagi saudaranya. Dalam pergaulan, setiap orang hendaknya berusaha melihat kebaikan yang ada pada diri sahabatnya, dan berusaha memberikan apa yang baik bagi sahabatnya. Bila ia menemukan suatu keburukan pada sahabatnya, hendaknya ia berusaha untuk memberikan kebaikan tidak hanya menghukuminya buruk. Bila ia bersikap demikian, ia tidak mudah terjatuh pada prasangka buruk. Barangkali masih ada pikiran buruk karena tindakan buruk sahabatnya, tetapi ia lebih terjaga untuk tidak terjatuh pada akhlak yang buruk.

Tanpa suatu keinginan baik, sangat mudah prasangka buruk itu mendatangkan suatu kejahatan pada seseorang. Prasangka buruk demikian itu pada suatu saat kemudian akan keluar dari lisannya kepada orang lain dan menimbulkan pula prasangka buruk pada orang lain karena sedikitnya atau tidak adanya keinginan baik yang terkandung dari kata-kata lisannya. Prasangka buruk itu kemudian menjadi beban yang semakin besar bagi orang yang diprasangkai, dan menimbulkan suatu kejahatan bagi mereka. Kadangkala prasangka demikian tidak mengandung kebenaran sama sekali sehingga lebih merupakan fitnah daripada suatu prasangka buruk, maka apa yang mereka kira sebuah prasangka itu sebenarnya merupakan fitnah bagi umat, maka kejahatan itu akan besar pula menimpa umat mukminin berupa fitnah.

Bila suatu prasangka buruk menjadikan seseorang yang berprasangka tidak dapat menerima penjelasan yang terkait, maka itu merupakan akhlak buruk yang merupakan dosa tidak terampuni. Sikap tidak dapat menerima penjelasan itu merupakan penanda yang dimunculkan Allah tentang adanya akhlak buruk berupa dosa yang tidak terampuni. Penanda itu mempunyai bentuk serupa dengan akhlaknya, yaitu dosa tidak diampuni ditandai dengan akhlak tidak mempunyai ampunan.

Tidak semua orang yang menolak benarnya penjelasan dari orang lain merupakan penanda adanya dosa demikian ini, karena boleh jadi ada penjelasan yang tidak benar. Orang yang tidak mempunyai keinginan memberikan kebaikan-lah yang mempunyai akhlak buruk karena prasangka, dan hal itu ditandai dengan tidak adanya keinginan menerima penjelasan terhadap persangkaan buruknya. Prasangka buruk seringkali menjadikan seseorang berakhlak buruk, dan sebaliknya akhlak buruk menjadikan seseorang mudah berprasangka buruk.

Dalam prakteknya, seseorang yang berprasangka buruk sangat mudah terjatuh pada akhlak buruk bila tidak menerima penjelasan orang lain terkait prasangkanya. Bila penjelasan tidak benar yang diberikan tidak mendatangkan madlarat, lebih aman bagi seseorang untuk menerima penjelasan itu dan mensikapinya sebagaimana keinginan yang memberikan penjelasan. Barangkali orang itu akan menempuh perbaikan tanpa ingin mengumbar keburukannya, atau tidak ingin tersebar keburukannya. Kadangkala seseorang menilai bahwa langkah perbaikan akan/perlu dilakukan tanpa memberikan penjelasan yang sebenarnya tentang keburukan yang pernah terjadi, maka keinginan untuk baik itu hendaknya diterima tanpa mengungkit keburukan yang dilakukan. Bila mempunyai kemampuan menegakkan perkataan yang benar, perkataan yang tegak itu akan memperkuat hati untuk berbuat benar. Hanya bila mendatangkan madlarat, maka penjelasan yang salah itu perlu diluruskan. Demikian langkah yang lebih aman bagi seseorang agar tidak terjatuh dalam akhlak buruk karena prasangka buruk yang timbul dalam dirinya.

Banyak bagian dari prasangka buruk merupakan hembusan yang ditiupkan syaitan, dikatakan sebagai “itsm”. Seseorang boleh jadi menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk tentang keadaan sahabatnya, sedangkan yang tumbuh dalam hatinya sebenarnya merupakan prasangka buruk. Hal itu merupakan hasil dari tiupan syaitan, bukan suatu petunjuk. Petunjuk hanya akan diberikan kepada orang yang mempunyai keinginan baik, dan keinginan baik itu seharusnya terukur dalam sikap yang terlahir berupa perbuatan yang baik. Bila suatu keinginan baik melahirkan perbuatan yang buruk terhadap orang lain, boleh jadi keinginan baik itu hanya sebuah ilusi memandang baik keburukan dalam diri.

Petunjuk juga harus bersesuaian dengan keadaan kauniyah, tidak bertentangan dengan realitasnya. Bila suatu petunjuk bertentangan dengan realitas sebenarnya, petunjuk itu boleh jadi hanya sebuah peringatan agar ia menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar tidak mengandalkan karunia inderawi yang merupakan titipan. Seringkali hal ini sulit disadari atau terlambat untuk disadari. Bila seseorang kemudian mengetahui ayat dalam kitabullah dan ayat kauniyah bertentangan dengan petunjuk, hendaknya mereka tidak mengikuti petunjuknya dengan membuta. Akan tetapi tidak jarang suatu petunjuk diturunkan untuk menyingkap kebenaran. Kadangkala suatu fenomena dibuat untuk menutupi realitas kauniyah yang sebenarnya, dan kadangkala suatu indera keliru dalam menerima petunjuk, tetapi ayat kitabullah tidak pernah berubah kebenarannya. Karenanya, hendaknya setiap orang mencari kebenaran melalui kitabullah sebagai sarana utama. Memahami ayat dalam kitabullah harus menjadi pedoman utama dalam memberikan kebaikan bagi sahabatnya, dan yang lain mengikuti pemahaman terhadap kitabullah.

Petunjuk yang diturunkan ke dalam hati manusia pada dasarnya berfungsi untuk membuka kandungan kitabullah, mempunyai bobot kebenaran tertentu yang dapat diukur berdasar pemahaman kepada ayat kitabullah dan ayat kauniyah yang menyertainya. Petunjuk itu bersifat ringan bila mendatangkan sedikit kandungan pemahaman terhadap kitabullah dan kauniyah, dan bobot besar bila mendatangkan pemahaman terhadap kitabullah dan ayat kauniyah. Petunjuk yang tidak mendatangkan pemahaman terhadap kitabullah dan kauniyah boleh jadi hanya bersifat menggembirakan harapan hawa nafsu seseorang. Hal ini bukan berarti menafikan manfaat dari petunjuk ke dalam hati manusia, karena boleh jadi pemahaman terhadap kitabullah dan kauniyah datang dalam waktu yang lama setelah datangnya petunjuk ke dalam hati. Setiap petunjuk hendaknya diperhatikan dan dijaga dengan baik disertai dengan menjaga angan dan hawa nafsu tidak melambung.

Kadangkala suatu umat terseret untuk berakhlak buruk manakala seseorang di antara mereka mempunyai akhlak yang buruk karena prasangka buruk. Dalam hal ini, berlaku hukum yang sama, bahwa sikap berprasangka buruk tanpa ampunan terhadap orang beriman merupakan penanda adanya akhlak buruk berupa dosa yang tidak diampuni Allah. Barangkali mereka tidak melakukan suatu dosa yang tidak diampuni sebelumnya, tetapi mengikuti prasangka buruk tanpa ampunan terhadap orang beriman itu sendiri merupakan dosa yang tidak diampuni Allah. Itu merupakan akhlak buruk yang akan menimbulkan kerusakan yang besar di antara orang-orang beriman.

Bila tidak ada keburukan itu pada saudaranya, maka prasangka itu sebenarnya merupakan fitnah. Akan ada beberapa aspek kehidupan yang memunculkan penanda bahwa mereka sebenarnya tidak mengetahui kebenaran dan kebathilan. Apa yang dipandang baik boleh jadi merupakan kebathilan yang merusak, sedangkan apa yang dipandang bathil merupakan kebenaran. Keadaan itu seringkali terjadi hingga mencegah seseorang melakukan amal shalih karena dipandang kebathilan. Kadangkala fitnah demikian menyentuh kunci-kunci keselamatan dari fitnah syaitan. Pernikahan dan perjodohan merupakan kunci utama yang akan mencegah fitnah syaitan, dan hal itu yang paling dirusak oleh syaitan. Orang yang berjihad untuk menegakkan benteng pertahanan tersebut akan dihantam syaitan dengan orang-orang yang berakhlak buruk karena mengikuti prasangka. Bila umat mengikuti akhlak buruk itu, akan sangat berat keadaan mereka manakala fitnah syaitan itu tiba.

Dalam kehidupan di antara umat yang demikian, bahkan upaya seseorang untuk memperbaiki prasangka buruk yang ada dalam dirinya terhadap sahabatnya boleh jadi akan menemukan hambatan yang besar. Ia barangkali menyadari bahwa prasangka itu harus diperbaiki agar terhindar dari beberapa bentuk kejahatan, akan tetapi orang-orang yang lain akan menghalangi dan mengembalikan upayanya memperbaiki prasangka menjadi buruk kembali karena mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Ia kemudian tidak dapat menahan kejahatan yang seharusnya bisa diupayakannya.

Bila menemukan keadaan demikian, setiap kesadaran kebenaran yang tumbuh dalam diri seseorang akan mempunyai nilai sangat besar. Setiap satu orang yang menyambut keinginan baik orang lain untuk menghilangkan prasangka buruk akan bernilai sangat berharga. Akan dijumpai banyak kerikil tajam yang dapat menggores luka, baik karena kesalahan sendiri ataupun pihak lain. Kadangkala goresan itu dibuat oleh orang lain yang tidak mengetahui sangkut paut masalah. Hendaknya setiap orang berpegang pesan Rasululullah SAW bahwa prasangka buruk itu adalah kesalahan yang akan mendatangkan kejahatan. Prasangka buruk itu kesalahan, tidak boleh dianggap kebenaran. Kadangkala perbaikan terhadap prasangka dapat dilakukan tanpa perkataan verbal, akan tetapi tidak jarang beberapa perbaikan prasangka itu harus diupayakan dengan membangun kesepahaman melalui percakapan.

Minggu, 12 Maret 2023

Meniti Jalan Taubat Melalui Nafs

Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi. Untuk mencapai kedudukan itu, setiap orang harus bertaubat kembali kepada Allah, karena hanya dengan mengenal Allah maka manusia layak dikatakan sebagai khalifatullah. Pada dasarnya setiap orang akan kembali kepada Allah, baik terpaksa ataupun dengan keinginan. Orang yang terpaksa akan menjalani proses kembali kepada Allah dengan cara yang sangat berat menempuh perjalanan setelah kematian mereka, sedangkan orang-orang yang menginginkan pertemuan dengan Allah akan dapat menemukan jalan mereka sejak kehidupan di dunia.

Jalan itu pada dasarnya terbentang dalam diri sendiri, akan tetapi tidak semua orang menemukannya, sangat sedikit. Allah menciptakan setiap manusia dari suatu nafs wahidah, dan jalan kembali itu telah tertulis dalam nafs wahidah tersebut berupa kitab diri yang di antaranya menunjukkan jalan untuk bertemu dengan rabb mereka. Kitab itu merupakan bagian dari Alquran yang menjelaskan makna yang terkandung dari kitabullah. Bila seseorang mengenali nafs wahidah yang merupakan cetak biru dirinya, maka ia akan mengetahui jalan kembalinya kepada Allah.

Allah memudahkan bagi setiap manusia cara mengenali nafs wahidah dirinya. Dia menurunkan dari nafs dirinya nafs isterinya, nafs yang menguraikan aspek duniawi yang seharusnya melekat bagi mereka. Nafs isterinya merupakan turunan pertama yang paling dekat dengan nafs wahidah, bisa menjadi cermin yang paling jelas bagi jati diri seseorang sebagai cermin yang berbicara hingga tingkatan jasadiah. Dari nafs-nafs tersebut, akan dikenali bermacam-macam turunan yang diperuntukkan bagi mereka. Semua aspek duniawi dari sepasang manusia terlihat dalam diri isterinya, dan urusan Allah bagi mereka akan terpahami oleh akal suaminya.

Bila pasangan manusia menemukan jodoh berdasarkan nafs wahidah penciptaan mereka, mereka akan memperoleh kemudahan menemukan jalan kembali kepada Allah. Sepasang manusia dapat berdiam dalam diri mereka tanpa perlu mencari sesuatu yang lain melalui jalan yang tidak diperuntukkan bagi mereka. Berdiamnya seseoran pada urusan dirinya saja tersebut merupakan keislaman secara kaffah. Hal ini dapat tercapai bila terwujud kesatuan di antara nafs mereka. Syaitan berusaha dengan sungguh-sungguh menghalangi terwujudnya kesatuan di antara nafs suami dan isteri hingga tidak dapat berdiam dalam urusan mereka.

﴾۱۲﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari nafs-nafs kalian supaya kamu berdiam kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-ruum : 21)

Parameter terbentuknya kesatuan nafs di antara suami dan isteri adalah terbentuknya rasa kasih sayang di antara mereka. Setiap orang yang membentuk kesatuan antara nafs mereka dengan isterinya akan mengalami pertumbuhan rasa kasih sayang, bilamana mereka berhasil melakukannya. Rasa kasih sayang tersebut akan sangat bermanfaat bagi mereka untuk menyatukan segala sesuatu yang terserak di antara mereka hingga puncaknya mereka dapat membentuk umat mereka sebagai bagian dari umatan wahidah yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain. Tanpa terbentuknya kesatuan nafs, rasa kasih sayang itu tidak akan cukup kuat tumbuhnya untuk menyatukan segala yang terserak bagi mereka, apalagi untuk membentuk umat sebagai bagian dari umatan wahidah. Rasa mawaddah dan rahmah merupakan bekal yang penting untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah.

Tumbuhnya rasa mawaddah dan rahmah merupakan parameter yang tumbuh terutama bagi orang-orang yang mengenal nafs wahidah mereka. Rasa kasih sayang demikian tumbuh pada nafs wahidah dan pasangannya, bukan rasa yang tumbuh di atas hawa nafsu. Kesatuan yang terbentuk di antara nafs wahidah tersebut tumbuh berdasarkan ghirah suami dan isteri untuk melaksanakan perintah Allah, dan ghirah tersebut menumbuhkan rasa kasih sayang secara khusus di antara suami dan isteri. Bila ghirah itu hanya tumbuh pada salah satu pihak, sulit terbentuk kesatuan untuk melaksanakan perintah Allah. Bila rasa kasih sayang tumbuh di atas hawa nafsu, mungkin mereka akan mendapatkan kemudahan untuk memperoleh duniawi, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk membentuk umat menuju umatan wahidah.

Dalam kehidupan di bumi, hampir setiap manusia hidup berdasarkan hawa nafsu. Sebagian manusia mengendalikan hawa nafsu mereka hingga hawa nafsu mereka menjadi baik, akan tetapi tetap saja warna kehidupan mereka ditentukan oleh hawa nafsu. Hawa nafsu menjadi kendaraan bagi mereka menempuh kehidupan dunia. Sebagian di antara mereka menggunakan hawa nafsu dengan benar hingga mereka mengenali nafs wahidah mereka, dan sebagian dari yang mengenali nafs wahidah mereka kemudian berhasil menjadikan nafs wahidah sebagai raja bagi diri mereka. Sebagian manusia mempertuhankan hawa nafsu hingga kehidupan mereka menjadi buruk.

Dalam setiap tahapan tersebut, hawa nafsu selalu melekat dalam kehidupan manusia, dan hal itu merupakan hal yang wajar. Kewajiban setiap orang adalah mendidik hawa nafsu mereka berdasarkan tuntunan Allah. Tidak wajar bila setiap orang dituntut untuk selalu meninggalkan hawa nafsunya karena mereka bukan malaikat. Hanya orang-orang yang berhasil menjadikan nafs wahidah mereka sebagai raja dalam diri mereka yang dapat menaklukkan hawa nafsu, sedangkan kebanyakan orang dituntut untuk mendidik hawa nafsu mereka agar lebih baik. Bahkan sebagian orang yang mengenal nafs wahidah mereka dituntut untuk mendidik hawa nafsu sebelum nafs wahidah layak dijadikan sebagai raja.

Demikianlah kehidupan orang-orang beriman. Banyak bagian dari rasa suka atau tidak suka bukan merupakan rasa cinta kasih tetapi lebih pada selera hawa nafsu. Tidak semua hal yang disukai mereka merupakan kebaikan, dan tidak semua yang tidak mereka sukai merupakan keburukan. Seringkali Allah meletakkan kebaikan yang sangat banyak pada sesuatu yang tidak disukai oleh orang beriman, atau sebaliknya boleh jadi Allah meletakkan keburukan yang besar pada sesuatu yang disukai mereka. Bila orang beriman tidak mendidik hawa nafsu mereka, mereka tidak akan mengenali kebaikan bagi mereka.

Sebagian besar penentuan pilihan dalam kehidupan manusia di dunia baik besar maupun kecil merupakan wahana mendidik hawa nafsu manusia, tetapi ada di antaranya merupakan titik yang menentukan jalan kehidupan untuk kembali kepada Allah, atau bahkan merupakan pilihan antara surga dan neraka. Kadangkala jalan menuju surga tampak bagai neraka, dan sebaliknya jalan menuju neraka tampak bagaikan surga. Kadangkala surga atau neraka ditentukan dari sesuatu yang tampak bagaikan sebuah pilihan kecil tanpa arti penting dalam pandangan manusia, kemudian mereka menentukan pilihan berdasarkan hawa nafsu.

Membina Kesatuan Mengikuti Nafs Wahidah

Kebaikan dan keburukan tidak dapat diukur berdasarkan rasa suka atau tidak suka tetapi harus diukur berdasarkan kehendak Allah. Kehendak Allah dapat dikenali oleh seseorang bila ia akrab dengan kitabullah. Bila ia tidak mengetahui perkataan dalam kitabullah, maka ia tidak mempunyai jalan untuk mengenal Allah karena hanya kitabullah yang tersambung secara langsung hingga tangan Allah. Para nabi dan rasul lebih berperan mengajarkan kitabullah di bumi, menyambungkan manusia kepada Allah melalui kitabullah, dan para malaikat mempunyai shaff tertentu yang tidak langsung terhubung kepada Allah. Manakala seseorang berhasil menghubungkan ayat alam kauniyah dirinya dengan ayat kitabullah dengan baik, ia telah melihat cara mengenali kehendak Allah. Terlepas dari benar atau tidak, ia harus memperhatikan secara lebih menyeluruh pengenalan dirinya terhadap kehendak Allah.

Mendidik hawa nafsu untuk mengenali kehendak Allah akan sangat dimudahkan bila seseorang menikah. Menikah akan mendekatkan seseorang pada nafs wahidah mereka, sehingga hawa nafsu merasakan dekatnya kehadiran nafs wahidah tersebut. Kemudahan untuk mengenali jalan taubat melalui pernikahan akan semakin besar manakala seseorang menentukan pernikahan mereka untuk mengikuti kehendak Allah, yaitu dimulai dengan memilih jodoh yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Bila menemukan jodoh demikian, hendaknya seseorang mensyukurinya dengan mengalahkan rasa suka atau tidak suka. Bila memilih rasa suka, ia sangat mungkin terjatuh pada sikap kufur terhadap nikmat Allah.

Banyak kebaikan yang Allah letakkan pada pasangan menikah mukmin dan mukminat, bahkan apabila mereka tidak saling menyukai pasangannya. Bila mereka bertakwa maka kebaikan Allah itu akan terbuka. Bila pasangan itu memperbaiki hawa nafsu mereka secara sinergis, maka akan timbul juga bagian dari rasa mawaddah dan rahmah di antara mereka. Seandainya mereka membiarkan hawa nafsu mereka tidak tertata sinergis tetapi tetap bertakwa, mereka akan memperoleh kebaikan.

﴾۹۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS An-Nisaa’ : 19)

Ayat di atas berbicara tentang waris antara laki-laki dan perempuan. Pokok waris yang dimaksud ayat di atas lebih menunjuk pada penurunan jati diri seorang laki-laki kepada isterinya, sebagaimana ulama adalah pewaris para nabi. Seorang suami tidak boleh memaksa seorang isteri untuk menjadi salinan jati diri suaminya, walaupun memang seharusnya terjadi proses penyalinan jati diri seorang suami oleh isterinya bilamana suaminya adalah seorang yang kembali kepada Allah. Setiap isteri harus tumbuh dalam agamanya dengan menyalin keshalihan suaminya berdasar iktikad dari dirinya sendiri tidak dipaksakan orang lain.

Larangan ini berlaku pula bagi laki-laki lain. Bila seorang laki-laki memaksakan salinan dirinya pada perempuan selain isterinya, ia menimpakan musibah pada perempuan yang dipaksa tersebut hingga dapat tercerabut dari agamanya. Bila perempuan tersebut berkeluarga, suami dan anak-anaknya kehilangan pula rumah yang baik untuk mereka berdiam dan tumbuh. Bila perempuan itu telah menempuh jalan taubat bersama suaminya, ia kehilangan kemampuan memahami ajaran suaminya. Ada ilmu yang diturunkan Allah dapat digunakan untuk menurunkan waris secara paksa, tetapi ilmu itu merupakan fitnah bagi manusia. Ilmu tersebut boleh jadi terlihat baik dalam pandangan manusia, akan tetapi sebenarnya menjadi senjata syaitan untuk memporak-porandakan manusia. Ilmu demikian itu tidak boleh digunakan oleh siapapun. Bila kemudian perempuan memperturutkan dorongan dalam dirinya berkhianat karena mengikuti ilmu itu, ia akan terseret menuju neraka.

Proses waris di antara suami dan isteri berguna untuk membina rasa mawaddah dan rahmah. Seorang suami yang mendidik isteri untuk melaksanakan amr Allah bagi mereka akan mencintai isteri yang menerima didikannya. Bila isteri menolak didikan itu, seringkali timbul rasa gerah dalam suaminya, maka hendaknya suami tidak memperturutkan hawa nafsu mereka dalam mensikapi isteri demikian. Sangat banyak kebaikan yang Allah letakkan pada isteri mereka manakala terjadi demikian. Bila proses waris berjalan dengan baik, maka akan tumbuh rasa cinta di antara suami dan isteri. Rasa cinta yang demikian inilah rasa mawaddah dan rahmah yang akan menjadi bekal untuk membentuk bagian dari umatan wahidah, sedangkan kebanyakan rasa suka dan tidak suka merupakan selera dari hawa nafsu.

Kadangkala seorang isteri tidak dapat membentuk diri sebagai salinan suaminya karena suatu musibah yang tidak diinginkan. Dalam hal demikian, seorang suami harus memahami keadaan mereka karena Allah yang menghendaki atau mengijinkan keadaan demikian. Bila seorang suami tidak menerima keadaan demikian, hal itu merupakan suatu bentuk kufur terhadap nikmat Allah. Kadangkala seorang perempuan membentuk citra diri mengikuti seorang laki-laki dan laki-laki itu mengetahui, maka sangat mungkin laki-laki tersebut akan mencintainya, akan tetapi hendaknya setiap orang berpegang bahwa hal demikian seharusnya terjadi hanya dalam suatu wadah pernikahan, tidak melakukannya tanpa suatu ikatan yang benar.

Selera hawa nafsu tidak harus selalu dihilangkan atau dilawan karena kadang membantu menumbuhkan nafs, akan tetapi tidak boleh diperturutkan atau dipertuhankan. Hawa nafsu harus dibina untuk memahami kebaikan dari sisi Allah. Dalam hal mencari jalan taubat, nafs wahidah merupakan bekal paling berharga yang tidak layak ditukar dengan kesenangan hawa nafsu apapun. Nafs wahidah itulah jalan utama bagi setiap orang untuk kembali kepada Allah.









Kamis, 09 Maret 2023

Tegaknya Keluarga Sebagai Tiang Masyarakat

Allah menghendaki umat manusia untuk bersatu memakmurkan bumi sebagai umatan wahidah, akan tetapi manusia selalu berselisih di antara mereka. Hanya orang-orang yang membina diri mereka mengenali nafs wahidah yang mengetahui cara menyatukan diri mereka dalam umatan wahidah sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menekankan arti pentingnya pernikahan sebagai sunnah beliau SAW karena pernikahan merupakan sarana bagi setiap pengikut Rasulullah SAW untuk membina nafs wahidah. Dalam pernikahan, setiap nafs akan memperoleh pasangan yang akan menumbuhkan dirinya dan menjadi cermin yang memperkuat akal. Pernikahan sebagai sunnah Rasulullah SAW mempunyai peran sangat besar dalam pembinaan diri, hingga menjadi setengah bagian dari agama.

Salah satu aspek yang tumbuh melalui pernikahan adalah masalah waris. Seorang isteri menjadi ahli waris bagi suaminya karena pernikahannya dan juga sebaliknya, dari sebelumnya mungkin sebagai orang-orang yang sama sekali asing. Semua orang yang kemudian tumbuh terhubung pada suatu pernikahan akan menjadi ahli waris antara satu dengan yang lainnya. Hal demikian menunjukkan adanya suatu hubungan bagian bersama antara satu orang dengan orang lain dalam suatu keluarga yang terikat pada suatu pernikahan. Hubungan bagian bersama dalam suatu pernikahan ini menjadi landasan terwujudnya rezeki di alam jasmaniah mereka, sebagaimana seorang anak merupakan buah dari hubungan kebersamaan antara seorang suami dengan isteri.

Untuk mengupayakan terwujudnya buah rezeki di alam jasmaniah mereka, setiap laki-laki beriman perlu memperhatikan perihal warisan terhadap isterinya. Hal inilah yang akan membuahkan rezeki di alam jasmaniah bagi mereka, menjadi warisan di alam mulkiyah. Seorang mukmin pada dasarnya memiliki harta berupa akal untuk memahami kehendak Allah, dan seorang mukminat merupakan ladang yang akan menumbuhkan kehendak Allah yang dipahami suaminya hingga berbuah di bumi. Dengan mekanisme memperhatikan masalah waris, maka akan terwujud sumber rejeki di alam mulkiyah bagi pasangan mukmin dan mukminat.

Dalam prosesnya, seringkali proses waris di antara suami dan isteri ini terhambat. Seorang isteri mungkin saja merasa keberatan untuk menerima waris dari suaminya. Bila terjadi hal demikian, maka tidak halal bagi seorang suami untuk memberikan waris kepada isterinya dengan cara paksa. Seorang isteri tidak boleh dipaksa untuk menerima pengetahuan hakikat yang dikenal oleh akal suaminya.

﴾۹۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS An-Nisaa’ : 19)

Di alam mulkiyah, sangat jarang dijumpai seorang isteri menolak pemberian waris oleh suaminya. Hampir setiap orang akan mudah untuk menerima bagian dirinya yang diberikan secara benar. Akan tetapi di alam nafs, tidak semua perempuan dapat menerima bagian kebenaran hakikat bagi dirinya yang diberikan oleh suaminya sebagai warisan. Manakala seorang perempuan tidak mau menerima bagian warisan demikian, maka warisan itu akan tidak terwujud sebagai rezeki di alam mulkiyah. Pada kasus demikian, seorang suami tidak boleh memaksakan kepada isterinya untuk menerima warisannya.

Masalah kesiapan menerima warisan pada diri seorang perempuan terkait dengan kelurusan perjalanan taubat mereka. Seorang perempuan menempuh perjalanan taubat sebagai pendamping bagi suami. Manakala seorang perempuan berjalan beriring dengan suaminya dalam perjalanan taubat, ia akan mudah memahami segala bagian yang diberikan suaminya. Manakala tidak mengarah pada jalan yang sama atau ada perbedaan jarak yang jauh dengan suaminya, maka ia tidak akan mudah untuk menerima ajaran kebenaran dari suaminya. Dalam beberapa kasus, syaitan berhasil merusak kebersamaan melalui hati, di mana sepasang suami isteri yang berjalan beriring bersama di jalan taubat tidak saling memahami pasangannya. Bila seorang isteri berkhianat melakukan perbuatan keji baik secara dzahir atau bathin, ia akan sangat kesulitan menerima pengajaran suaminya, maka mereka tidak akan membuahkan buah duniawi berdasar pengetahuan ilahiah yang diperolehnya.

Batas bagi seorang laki-laki untuk memaksa isterinya adalah perbuatan keji yang dilakukan. Tanpa adanya perbuatan keji, seorang laki-laki tidak berhak untuk memaksa isterinya. Bila isteri berbuat keji, maka seorang laki-laki berhak untuk memaksa isterinya menerima pengajarannya hingga ia kembali. Dalam hal ini, sebagian perbuatan keji merupakan hal bathiniyah, maka hal ini harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Sekalipun terjadi secara bathiniah, hal itu tetap merupakan kekejian yang dapat menjadikan seorang perempuan bengkok akalnya bila tidak diajarkan kebenaran. Setiap mukmin perlu memperhatikan batasnya dengan tepat, bahwa pemaksaan itu hanya dapat dilakukan bila terjadi perbuatan keji yang nyata.

Seorang perempuan yang merealisasikan kekejian dalam bathinnya dengan upaya membersamai laki-laki lain termasuk dalam kekejian yang nyata. Kebersamaan seorang perempuan dengan laki-laki lain belum tentu merupakan perbuatan keji kecuali perbuatan itu terwujud karena adanya kekejian dalam bathin atau terjadi perbuatan keji yang nyata. Setiap perempuan hendaknya menjaga dirinya dengan batas-batas yang diijinkan oleh suaminya, termasuk manakala ia memandang bahwa yang dilakukannya adalah dalam rangka amal shalih. Bila seorang suami merasakan potensi kekejian yang dapat terjadi dalam amal shalih isterinya, baik potensi kekejian yang muncul dari isterinya atau yang muncul dari orang lain, ia berhak dan harus melarang isterinya melakukan amal itu untuk menghindari terjadinya kebengkokan akal.

Bila tidak terjadi perbuatan keji, setiap suami harus bergaul dengan isterinya dengan cara yang baik dalam setiap keadaan baik ia menyukai atau tidak menyukai mereka. Ketika menyukai, maka mudah baginya untuk mempergauli mereka. Manakala tidak menyukai, sebenarnya mereka akan menemukan kebaikan yang banyak dalam diri isterinya bila bergaul dengannya, karena Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada diri isterinya. Boleh jadi semua ketidaksukaan seorang laki-laki kepada isterinya hanya merupakan perasaan hawa nafsu yang keliru sedangkan isteri mereka merupakan mukminat yang membawa banyak kebaikan bagi suaminya dan juga umat manusia seluruhnya. Setiap laki-laki hendaknya mempergauli dengan baik isteri mereka yang tidak melakukan kekejian. Bila mereka menata hawa nafsunya secara sinergis bersama isterinya, ia akan menemukan rasa mawaddah dan rahmah antara suami dan isteri.

Bertakwa dalam Urusan Perempuan

Setiap orang hendaknya bertakwa kepada Allah terkait kaum perempuan. Terdapat amanah dari Allah dalam setiap diri perempuan, dan halalnya kemaluan perempuan bagi suaminya merupakan implikasi jasadiah dari telah tertanamnya benih kalimah thayyibah dalam nafs seorang suami pada ladang nafs isterinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ
Bertakwalah kalian kepada Allah tentang kaum wanita. Sesungguhnya, kalian mengambil mereka dengan disertai amanat dari Allah. Dan kalian meminta kehalalan kemaluan mereka beserta dengan kalimatullah. [HR Muslim].

Memperhatikan warisan bagi isteri dapat dilakukan setiap suami dengan melihat amanah yang terkandung dalam diri isterinya. Amanah itu harus dipahami dengan akal yang harus tumbuh memahami kehendak Allah. Amanah yang terkandung dalam diri setiap isteri akan menjadi bahan amal shalih yang harus diwujudkan oleh suaminya. Setiap suami harus berusaha mengenali dengan sungguh-sungguh amanah yang terkandung dalam diri isterinya.

Amanah Allah dalam diri setiap perempuan diperuntukkan bagi suami mereka, dan tidak ada laki-laki lain yang berhak untuk mengambilnya dari suaminya. Bila seorang laki-laki mengambil amanah dalam diri isteri orang lain, hal itu merupakan perbuatan syaitan. Hal ini terkait erat dengan pohon thayyibah nafs yang harus tumbuh dalam diri seorang perempuan. Tidak boleh ada dualitas dalam diri seorang perempuan dalam masalah amanah dan pohon thayyibah yang tumbuh pada dirinya. Pohon thayibah yang berhak mengambil amanah itu dan membuahkannya hanya nafs suaminya, tidak boleh berupa dua orang laki-laki yang berbeda, karena hanya suaminya yang dapat tumbuh sebagai pohon thayyibah bagi amanah Allah tersebut.

Hal ini tidak dapat dibantah dengan dalih apapun. Kadang seseorang merasa sebagai jodoh seorang perempuan tertentu maka ia mengambil amanah itu sedangkan mereka tidak menikah. Perasaan berjodoh seperti itu tidak mungkin benar kecuali pihak perempuan belum menikah, dan perbuatan mengambil amanah itu tidak sah. Bila pihak perempuan belum menikah, maka boleh jadi perasaan itu benar. Benarnya hal ini tidak ditunjukkan dengan rasa suka hawa nafsu di antara keduanya, akan tetapi kecenderungan mengalirnya amanah pada diri perempuan tersebut. Nafs seorang perempuan tercipta dari nafs wahidah laki-laki tertentu, dan amanah itu akan cenderung mengalir kepada laki-laki jodohnya itu. Bila seorang perempuan berserah diri, ia akan mengetahui arah amanah itu mengalir tanpa terhambat dengan hawa nafsu dalam dirinya. Demikian pula laki-laki yang berserah diri akan mengenali amanah yang mengarah pada dirinya. Bila seorang perempuan telah menikah, maka pemegang amanah itu adalah suaminya tidak boleh mengalir pada yang lain.

Banyak kebaikan yang Allah letakkan pada pasangan menikah mukmin dan mukminat, bahkan apabila mereka tidak saling menyukai pasangannya. Bila mereka bertakwa maka kebaikan Allah itu akan terbuka. Bila pasangan itu memperbaiki hawa nafsu mereka, maka akan timbul juga rasa mawaddah dan rahmah di antara mereka. Seandainya mereka membiarkan hawa nafsu mereka tidak tertata tetapi tetap bertakwa, mereka akan memperoleh kebaikan. Manakala seseorang merebut amanah yang Allah letakkan dalam diri seorang perempuan secara bathil, maka amanah itu bisa menjadi keburukan yang menimpa umat manusia.

Mewujudkan Masyarakat yang Kuat

Dalam pembinaan kaum mukminin, pernikahan hendaknya menjadi perhatian utama karena menjadi bagian utama dari agama. Tidak akan terbina kaum mukminin dengan akal yang kuat bilamana masalah pernikahan tidak diperhatikan. Orang-orang yang membujang tidak akan tumbuh akalnya untuk memahami ayat Allah kecuali hanya yang mereka inginkan saja, tidak memahami apa yang benar-benar menjadi kehendak Allah. Seburuk-buruknya orang yang beriman adalah orang-orang yang membujang di antara mereka, dan sebodoh-bodohnya orang beriman adalah yang membujang di antara mereka. Mereka tidak memperoleh media untuk bersentuhan dengan amanah Allah dan kalimah Allah karena tidak menikah.

Dari sahabat Athiyyah r.a beliau berkata :
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ.
Nabi saw. bersabda, “Seburuk-buruknya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang dan sebodoh-bodohnya meninggalnya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang.(HR Ahmad)

Pernikahan yang baik harus dibina agar masyarakat tegak. Tegaknya suatu masyarakat sangat tergantung dengan tegaknya keluarga dalam masyarakat dengan akal yang kuat. Akal yang kuat tidak akan diperoleh bila manusia hidup membujang.

Di jaman ini upaya menegakkan keluarga sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak banyak terlihat, dan justru menghadapi banyak hambatan. Tidak banyak umat islam yang mengetahui sunnah pernikahan hingga tujuan pokoknya. Lebih banyak manusia tidak mengetahui tujuan sunnah menikah dan kaidah dalam mewujudkan sunnah tersebut, memperturutkan keinginan diri dalam menempuh pernikahan. Sedangkan orang-orang yang mengetahui tujuan sunnah tersebut memperoleh halangan yang sangat banyak untuk mewujudkannya hingga manusia mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Tujuan pernikahan adalah terbentuknya bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Kaidah mewujudkannya adalah memanifestasikan buah dari khazanah yang terkandung dalam diri manusia. Setiap perempuan membawa amanah Allah bagi seorang laki-laki tertentu yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Upaya mewujudkan bayt tersebut hendaknya diusahakan setiap orang sejak sebelum menikah, tetapi tidak semua orang mampu menemukan pasangan demikian. Hanya orang yang berserah diri-lah yang akan menemukan pasangannya, karena itu hendaknya setiap orang dibina untuk berserah diri. Bila seseorang yang berserah diri menemukan pasangannya, hendaknya tidak ada yang menghalangi mereka menikah apalagi hingga mengharamkan apa yang halal karena hal demikian berasal dari syaitan.

Senin, 06 Maret 2023

Beriman Kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah menciptakan manusia di bumi, alam yang paling rendah di antara semua alam. Maka hendaknya setiap manusia bertaubat menempuh perjalanan kembali kepada Allah karena sebenarnya mereka diciptakan untuk menempati kedudukan yang paling mulia di antara para makhluk. Setiap manusia tidak diciptakan untuk semata menjadi makhluk bumi, akan tetapi diciptakan untuk dapat memahami penciptaan dari alam yang rendah hingga alam tertinggi secara paling sempurna. Dengan semua keadaan yang diberikan Allah, manusia hendaknya menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan bertaubat berjalan kembai kepada Allah.

Allah telah mengutus pemimpin segenap alam untuk dijadikan sebagai panutan kembali kepada Allah. Rasulullah SAW adalah sosok insan yang telah bertaubat kembali kepada Allah hingga mencapai kedudukan yang tertinggi di seluruh alam ciptaan. Beliau SAW dimi’rajkan ke kedudukan tertinggi di alam semesta hingga bertemu dengan wajah Allah yang Dia kehendaki untuk diperkenalkan kepada makhluk secara menyeluruh.

﴾۱۲﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab : 21)

Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW akan diperkenalkan kepada wajah-Nya secara parsial atau turunan dari wajah yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW. Mungkin seseorang dapat mengenal wajah-Nya tersebut dalam kehidupan dunia, dalam wujud gambaran yang Dia turunkan kepadanya dan dipahaminya, ataupun bertemu wujud wajah-Nya dengan memenuhi keadaan tertentu. Atau boleh jadi mereka mengenal wajah-Nya itu kelak di alam akhirat. Keseluruhan tajalli wajah-Nya yang mungkin Dia perkenalkan dan dipahami makhluk hanyalah wujud yang hendak Dia perkenalkan kepada makhluk, bukan wujud Dia yang sebenarnya. Tidak ada gambaran wajah Allah yang benar bila bukan merupakan bagian dari wajah-Nya yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW.

Allah-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk, sedangkan tidak ada kekuatan bagi makhluk untuk berupaya sendiri mengenal-Nya. Apa yang Rasulullah SAW ajarkan tentang Allah dan segala syariat merupakan jalan bagi makhluk agar Allah memperkenalkan diri-Nya. Bila manusia berusaha membuat gambaran tentang Allah secara berlebihan daripada apa yang diajarkan Rasulullah SAW, gambaran itu dapat menjadi berhala yang menyesatkan. Setiap orang harus menyandarkan harapan kepada Allah dan baru kemudian menempuh jalan mengikuti Rasulullah SAW dan tidak membuat gambaran sendiri untuk mengenal Allah.

Mengikuti Rasulullah SAW dengan Iman

Terdapat sebuah prinsip dalam mengikuti Rasulullah SAW kembali kepada Allah berupa keimanan. Keimanan bukanlah sekadar mempercayai sesuatu yang diajarkan atau apa-apa yang diketahui dalam perjalanan menuju Allah. Keimanan adalah menata diri dan semesta diri masing-masing sesuai kehendak Allah berdasarkan prinsip-prinsip keimanan yang digariskan-Nya. Dengan menata diri dan semestanya demikian, seseorang akan memperoleh jalan agar Allah memperkenalkan wajah-Nya

Terdapat beberapa sumber tatanan yang harus dibentuk dalam diri setiap manusia sebagaimana disebutkan dalam rukun iman. Allah menurunkan bagi manusia cahaya-cahaya iman yang menerangi kehidupan, maka orang-orang yang menata diri mereka mengikuti cahaya-cahaya itu merupakan orang beriman. Bila Allah menurunkan cahaya-Nya ke dalam hati seseorang akan tetapi orang tersebut tidak menata diri berdasarkan cahaya itu, maka ia tidak termasuk orang beriman. Sebagian pengikut Rasulullah SAW dikatakan kufur terhadap nikmat Allah karena menempuh jalan yang berbeda dari petunjuk cahaya Allah yang diturunkan ke dalam hatinya. Mereka bergelut dengan cahaya-cahaya iman, akan tetapi tidak menata diri mereka berdasarkan cahaya-cahaya itu.

Keimanan kepada Allah dan Rasulullah SAW menjadi sebuah tanda pengesahan keimanan yang ada pada diri seseorang. Orang yang beriman dengan sebenarnya adalah orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah SAW, dimana mereka melakukan amal yang terlahir dalam tingkatan jasadiah bersama dalam amr Rasulullah SAW.

﴾۲۶﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnya ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu amr jami’, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nuur : 62)

Keimanan demikian mempunyai tanda yang jelas, tidak dapat diaku oleh sembarang orang beriman. Tanda mereka adalah pengenalan terhadap urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka masing-masing berupa amr jami’. Urusan Rasulullah SAW membentang di seluruh alam semesta sepanjang adanya penciptaan dan sebelumnya, dan seseorang dapat mengenal bagian urusan Rasulullah SAW tersebut untuk ruang dan jamannya sebagai bagian amr jami’ bagi dirinya.

Orang yang mengenali amr jami’ tersebut dapat menjadi mukmin yang sebenarnya, yaitu apabila mereka tidak meninggalkan amr jami tersebut tanpa meminta ijin Rasulullah SAW. Orang-orang demikian seringkali berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, akan tetapi mereka tidak meninggalkan urusan Rasulullah SAW karena keadaan yang sulit kecuali setelah mereka meminta ijin. Banyak orang demikian terlihat dalam kesibukan untuk mencari bagian dari dunia mereka, akan tetapi tidak benar-benar mengambil bagian mereka kecuali untuk sekadar kebutuhan mereka atau bila mereka memperoleh jalan untuk melaksanakan amr jami’ melalui upaya duniawi mereka. Mereka itulah orang beriman yang sebenarnya.

Kesibukan seseorang yang mengenal amr jami’ dalam mengupayakan urusan dunia mereka pada dasarnya adalah suatu dosa. Semakin banyak kesibukan yang mereka lakukan selain urusan amr jami’, semakin banyak dosa yang mereka perbuat. Akan tetapi Rasulullah SAW memintakan ampun bagi orang-orang yang meminta ijin dalam kesibukan mereka selama kesibukan itu diijinkan. Bila kesibukan itu melampaui apa yang diijinkan Rasulullah SAW, maka tidak ada permintaan ampunan Rasulullah SAW bagi mereka.

Menata Diri dalam Jamaah

Keimanan yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh seseorang bila ia menata diri dalam keimanan. Amal dalam jamaah berupa amr jami’ merupakan buah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang menata diri dalam keimanan. Bila tidak memperoleh, boleh jadi seseorang belum sampai pada tahapan itu, atau ia keliru dalam melakukan penataan diri mereka. Hendaknya mereka selalu memperhatikan keadaan diri berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Dasar dari amal jamaah adalah penataan diri sendiri dan kesatuan yang terserak dari dirinya, kemudian menuju pada jamaah. Dalam fungsinya, nafs seorang laki-laki dapat diibaratkan sebagai 1 (sebuah) poros yang mempunyai roda-roda gerigi padanya. Al-jamaah dapat diibaratkan dalam kumpulan poros-poros beserta roda-roda gerigi, yang harus bekerja untuk menghasilkan suatu usaha tertentu dengan pola yang diharapkan, sebagaimana jam berputar dengan ajeg atau mesin pabrik bekerja dengan hasil tertentu. Usaha itu hanya dapat terjadi bila rangkaian itu terhubung pada mesin sumber penggerak.

 


Suatu amal shalih terjadi manakala seseorang terhubung kepada Rasulullah SAW melalui washilah yang tepat. Amal shalih akan efektif bila setiap laki-laki menggerakkan orang lain untuk bekerja menghasilkan amal shalih.

Satu poros dengan kelengkapannya adalah ibarat dari sebuah keluarga. Seorang isteri dapat diibaratkan sebagai pengikat syncro layaknya pemilih gigi perseneling yang membuat suatu roda gerigi terikat hubungan dengan porosnya atau terlepas hubungan. Ia bisa menambatkan atau melepaskan roda gerigi tertentu yang dipilih sehingga poros dapat berputar (1) mengikuti gerigi lain yang terhubung kepadanya, atau (2) memutarkan roda gerigi pada poros yang lain. Suatu keluarga dapat mencari washilah yang benar dengan cara mensyukuri hubungan dalam pernikahan, dan dapat memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain dengan mensyukurinya.

Suatu amal shalih harus terlahir berdasar amr jami’ yang terhubung pada urusan Rasulullah SAW. Tanpa suatu hubungan dengan amr jami’, suatu amal yang baik belum tentu termasuk dalam amal shalih. Bila suatu kaum mengikuti amal-amal berdasar amr panutan mereka dan terhubung pada amr jami’, maka mereka dikatakan melakukan amal shalih. Bila suatu kaum berbuat durhaka kepada amr Rasulullah SAW atau para washilah yang haq bagi mereka, mereka tidak dapat dikatakan melakukan amal shalih. Setiap perempuan harus mencari washilah kepada Rasulullah SAW melalui suaminya, tidak mencari jalan washilah yang lain. Bila demikian maka fungsi sebagai keluarga akan terganggu atau rusak, dan mereka berputar dan bergerak secara bathil tidak melahirkan amal shalih yang diharapkan.

Keimanan yang sebenarnya terwujud bila seseorang menempatkan diri pada posisi yang tepat dalam amr jami’ Rasulullah SAW, sehingga ia memperoleh wasilah beliau SAW dan dapat melaksanakan peran dirinya dalam amr jami tersebut. Hal itu dapat diperoleh dengan menata diri dan keluarga. Pernikahan adalah setengah bagian dari agama yang menjadikan seseorang bisa memperoleh kedudukan dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Keimanan-keimanan dalam bentuk yang lain merupakan pendahuluan atau komponen yang seharusnya mengantarkan seseorang memperoleh keadaan keimanan yang sebenarnya. Seseorang yang menempatkan dirinya pada tempat yang tepat dalam amr jami Rasulullah SAW inilah yang akan memperoleh kesempatan untuk mengenal wajah Allah bagi dirinya.

Amal shalih yang terlahir dari keimanan yang sebenarnya selalu mempunyai hubungan yang jelas kepada Rasulullah SAW, ditandai dengan kemudahan dalam memahami kehendak Allah yang difirmankan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hendaknya setiap orang berusaha menemukan washilah dalam hubungan yang tepat kepada Rasulullah SAW melalui kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mencari melalui cara sembarang. Banyak amal-amal dapat terlahir dalam suatu jamaah, baik amal-amal palsu yang terlahir karena hawa nafsu, syahwat ataupun syaitan ataupun amal shalih. Tidak semua amal yang terlihat baik merupakan amal shalih dari keimanan yang sebenarnya. Di antara amal-amal palsu, ada yang sifatnya berbahaya karena menipu menuju syaitan.

Seorang syaikh merupakan penghubung bagi para muridnya agar dapat tersambung kepada Rasulullah SAW. Seorang syaikh akan memperkenalkan arah dan pola amr jami’ kepada muridnya setelah proses pensucian diri hingga mereka dapat mengikuti amr itu, yaitu dengan membacakan kitabullah. Seringkali hubungan dengan syaikh merupakan pengantar sebelum benar-benar memperoleh washilah sebenarnya, layaknya seseorang yang menyelesaikan pendidikan kemudian harus menempati posisi pekerjaan bagian dari profesinya. Bagi muridnya perempuan, ia mengarahkan agar menjadi seorang isteri yang melekat pada suaminya. Suaminya adalah washilah bagi seorang perempuan yang membuatnya terhubung kepada Allah melalui baktinya. Sekalipun misalnya bersuami fir’aun, seorang isteri harus dapat bersikap sebagaimana Asiyah r.a. Perempuan bersuami tidak boleh melepaskan diri dari suaminya untuk orang lain, sebaliknya mereka harus mencari celah hubungan washilah yang tepat melalui suaminya.

Semakin banyak orang mengenal amr jami’, semakin mudah bagi seluruh anggota jamaah untuk mengenali amr jami’ bagi masing-masing. Bila demikian maka akan terbentuk suatu tatanan sosial yang membentuk umatan wahidah. Tidak banyak perselisihan terjadi di antara umat manusia sehingga mereka dapat melahirkan amal shalih dengan lebih baik.

Minggu, 05 Maret 2023

Pernikahan Sebagai Sunnah

Allah menghendaki umat manusia untuk bersatu memakmurkan bumi sebagai umatan wahidah, akan tetapi manusia selalu berselisih di antara mereka. Hanya orang-orang yang membina diri mereka mengenali nafs wahidah yang mengetahui cara menyatukan diri mereka dalam umatan wahidah sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW. Tanpa mengenal nafs wahidah dan membina kesatuan nafs wahidah tersebut untuk mengikuti Rasulullah SAW, setiap orang akan terjebak dalam perselisihan-perselisihan.

Rasulullah SAW menekankan arti pentingnya pernikahan sebagai sunnah beliau SAW. Pernikahan merupakan sarana bagi setiap pengikut Rasulullah SAW untuk membina nafs wahidah dan membina kesatuan nafs wahidah hingga benar-benar menyatu dalam umatan wahidah. Dalam pernikahan, setiap nafs akan memperoleh pasangan yang akan menumbuhkan dirinya dan menjadi cermin yang memperkuat akal. Pernikahan sebagai sunnah Rasulullah SAW mempunyai peran sangat besar dalam pembinaan diri, hingga menjadi setengah bagian dari agama.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه
Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR. Ibnu Majah, Bukhari dan Muslim)

Pernikahan merupakan media bagi setiap orang untuk memperoleh landasan ubudiyah yang sangat kuat. Dalam pernikahan, seorang perempuan memperoleh sarana mengabdikan diri untuk melayani imamnya sebagai wakil Allah yang nyata baginya. Seorang laki-laki memperoleh umat untuk melahirkan sifat kasih-sayang dalam pengabdian kepada Allah. Laki-laki dan perempuan memperoleh wahana untuk landasan melahirkan pengabdian mereka secara nyata kepada Allah, bukan hanya mengagungkan bentuk-bentuk ubudiyah yang tidak dibutuhkan Allah. Allah tidak membutuhkan seluruh bentuk ibadah hamba, akan tetapi kasih sayang-Nya dilimpahkan bagi orang yang memiliki sifat kasih-sayang yang serupa, yang dapat terwujud melalui wahana pernikahan.

Orang yang tidak beramal dengan sunnah Rasulullah SAW maka ia tidak termasuk dalam golongan pengikut Rasulullah SAW. Barangkali pernikahan merupakan bagian dari sunnah, bagian yang sangat besar dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam hadits di atas, tidak mengamalkan sunnah diapit di antara dua pernyataan pernikahan, maka hampir-hampir dapat dikatakan bahwa yang dimaksud tidak melakukan pengamalan sunnah adalah tidak melakukan pernikahan. Orang yang tidak melakukan pernikahan berarti tidak melakukan bagian besar dari sunnah Rasulullah SAW, dan hampir-hampir ia bukan merupakan bagian dari pengikut Rasulullah SAW. Untuk diri masing-masing, seseorang dapat mengatakan bahwa kalau tidak menikah maka bukan bagian dari umat Rasulullah SAW.

Hal ini penting diperhatikan oleh setiap umat Rasulullah SAW. Rasa tidak suka atau benci terhadap pernikahan merupakan suatu penyakit yang dapat mengeluarkan diri mereka dari golongan pengikut Rasulullah SAW. Syaitan mempunyai kepentingan yang besar untuk menumbuhkan rasa tidak suka terhadap pernikahan di antara umat Rasulullah SAW karena dengan perasaan tidak suka demikian mereka dapat keluar dari golongan pengikut Rasulullah SAW tanpa merasakannya.

Keburukan Tidak Menikah

Keluarnya seseorang dari golongan pengikut Rasulullah SAW bukanlah hanya tentang status. Keadaan seseorang yang keluar dari umat rasulullah SAW sebenarnya sangat mungkin menjadi buruk. Dalam hal membenci pernikahan, sebenarnya orang-orang demikian tidak berusaha mengalahkan hawa nafsu dengan menempatkan diri dalam pimpinan imam, atau tidak berusaha menumbuhkan kasih-sayang ilahiah dalam diri mereka layaknya sikap para laki-laki terhadap isteri. Hal demikian dapat terlihat bagai berada pada bayangan kesombongan pakaian syaitan.

Secara sosial, hal demikian akan berpotensi menumbuhkan masalah di antara manusia. Kesombongan akan mewujudkan kebebalan seseorang terhadap kebenaran. Yang dimaksud bebal adalah keadaan merasa pandai sedangkan ia tidak mengetahui. Kebebalan seseorang seringkali tidak terasakan oleh dirinya, akan tetapi orang lain yang akan menderita karena kebebalan itu. Hal ini karena syaitan menjadikan indah segala sesuatu dalam dirinya, sedangkan syaitan berkeinginan membuat kerusakan yang besar di antara umat manusia. Orang-orang yang memakai pakaian kesombongan akan memandang diri mereka baik sedangkan mereka berbuat kerusakan yang besar. Kebebalan merupakan sifat syaitan yang menyertai kesombongannya, terlihat cerdas akan tetapi tidak memahami kebenaran.

Bebal dan sombong merupakan kesatuan yang tidak terpisah. Manakala seseorang bebal terhadap kebenaran ayat-ayat Allah, maka sebenarnya terdapat kesombongan dalam diri mereka. Sebaliknya rendah hati dan kekuatan akal merupakan satu kesatuan. Manakala manusia menyangka seseorang yang terlihat berpakaian kebesaran sebagai sombong, tetapi orang tersebut dapat memahami perkataan kebenaran yang disampaikan, maka tidak layak kesombongan dituduhkan pada orang tersebut. Kadangkala dalam lingkup persahabatan atau pasangan, seseorang mengira sahabatnya atau pasangannya adalah orang yang sombong. Hendaknya ia menghapus sangkaannya manakala pasangannya dapat mengerti kebenaran yang disampaikan kepadanya. Banyak kesombongan dalam wujud kesederhanaan, dan tidak selalu rendah hati tampak dalam wujud kesederhanaan.

Pernikahan akan menghindarkan sifat bodoh dari masing-masing pengikut Rasulullah SAW. Pernikahan terwujud dari sikap pengabdian seseorang bagi orang lain yang merupakan turunan dari wujud pengabdian kepada Allah. Setiap orang yang menikah akan selalu menghadapi keadaan dan situasi yang memaksa diri mereka untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mewujudkan wahana pengabdian yang nyata berupa pernikahan tersebut, seseorang akan sulit untuk tumbuh akalnya untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda :

Dari sahabat Athiyyah r.a.
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ.
Nabi saw. bersabda, “Seburuk-buruknya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang dan sebodoh-bodohnya meninggalnya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang.” HR Ahmad bin Hanbal r.a.

Orang yang membujang di antara orang-orang muslim akan termasuk dalam golongan orang yang paling buruk di antara umat Rasulullah SAW, dan akan meninggal dalam keadaan bebal. Hal ini terutama terkait orang-orang yang tidak menyukai pernikahan. Setiap orang hendaknya berusaha untuk menempatkan diri dalam jalinan kasih sayang Allah yang diturunkan dalam wujud pernikahan. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang tidak menyukai pernikahan dan orang yang tidak memperoleh jodoh mereka.

Rasa tidak suka terhadap pernikahan dapat tumbuh pada seseorang karena berbagai hal. Kadangkala seseorang merasa kecewa dengan pasangannya, atau kecewa terhadap keadaan yang tidak mendukung keinginan. Hal ini dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak menyukai pernikahan. Segala sesuatu yang menyentuh rasa tidak suka terhadap pernikahan sebenarnya berasal dari hawa nafsu. Bila ada rasa tidak menyukai pernikahan, hendaknya mereka memeriksa keadaan diri mereka agar dapat berpindah menuju keadaan mengikuti tuntunan Allah. Mereka harus berusaha mengalahkannya dengan berusaha memahami makna pernikahan dan juga dengan menikah.

Terdapat banyak bentuk perjodohan yang dapat dilakukan manusia. Seseorang dapat menikah berdasarkan perjodohan yang haq, berupa pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Ini adalah nikmat Allah yang sangat besar. Dinamika pernikahan pasangan demikian akan menjadikan mereka mudah mengerti terhadap kehendak Allah, walaupun tidak menutup kemungkinan pasangan itu tergelincir dari nikmat Allah. Kadangkala masalah yang menghampiri mereka sangat besar hingga dapat menggelincirkan hingga tidak menyukai pernikahan. Banyak bentuk keberpasangan yang lain yang terbentuk dari pernikahan, dan seluruhnya mempunyai kedudukan lebih baik daripada orang yang tidak menyukai pernikahan.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menikah dan melarang umatnya untuk memilih kehidupan membujang dengan larangan yang keras. Hal ini hendaknya diperhatikan oleh setiap orang. Setiap orang harus berusaha untuk dapat menikah, dan umat islam hendaknya membuat pernikahan menjadi mudah tanpa bermudah-mudah menikah. Pada jaman ini, banyak orang-orang yang tidak dapat menikah karena keadaan yang sulit untuk menikah bukan karena adanya keinginan membujang. Hal ini hendaknya diperhatikan oleh umat islam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا
dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras. (HR. Ahmad)