Pencarian

Senin, 20 Februari 2023

Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW merupakan manusia yang dijadikan Allah sebagai penghulu semesta alam. Semesta alam diciptakan Allah untuk memperkenalkan Rasulullah SAW. Beliau adalah makhluk yang mampu mengenal seluruh hakikat penciptaan alam semesta yang hendak Allah perkenalkan, dan dengan keadaan itu beliau SAW dijadikan sebagai panutan bagi setiap makhluk untuk mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang mengenal Allah dengan benar melalui jalan lain tanpa mengikuti tauladan Rasulullah SAW.

Kaum muslimin hendaknya berusaha untuk menyatukan langkah masing-masing pada jejak langkah Rasulullah SAW. Penyatuan langkah itu dapat dilakukan dengan memahami arah kehidupan yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan keimanan, dan kemudian menempuh langkah tiruannya. Tidak dikatakan mengikuti sunnah Rasulullah SAW orang-orang yang sibuk meniru syariat beliau SAW tanpa memperhatikan arah kehidupan yang dicontohkan beliau SAW, sedangkan mereka menimbulkan pertengkaran membanggakan polah mereka di antara saudara muslim mereka dan memecah-belah manusia dalam pertengkaran-pertengkaran.

Landasan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah keimanan, dimana seseorang dapat mengenali kebenaran sesuai kehendak Allah dengan keimanannya tanpa ada hijab yang mempengaruhi akurasi pengenalan kebenaran itu, dan ia dapat berbuat sesuai kehendak-Nya dengan rasa syukur. Seandainya suatu kebenaran dikatakan oleh orang yang dipandang hina, seorang beriman harus mengenali kebenaran itu dengan keimanannya, dan bila suatu kekufuran dikatakan oleh para pembesar mereka, mereka harus mengenali kekufuran itu tidak membenarkannya. Itu adalah keimanan yang disyaratkan untuk dapat menyatukan langkah mereka pada jejak langkah Rasulullah SAW.


﴾۴۵﴿وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya rahmat, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-An’aam : 54)

Dengan kemampuan mengenali kebenaran dengan cara demikian, dan melangkah menempuh kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya dengan rasa syukur, seseorang dapat datang kepada Rasulullah SAW dengan dasar keimanan kepada ayat-ayat Allah, sebagaimana disebutkan ayat di atas. Bila seseorang datang kepada Rasulullah SAW dengan keadaan demikian, Rasulullah SAW akan menyambut mereka dengan kegembiraan, menyampaikan salam dan menyampaikan pesan Allah bagi mereka. Salam Rasulullah SAW untuk hal demikian bukan bersifat salam balasan. Kadangkala beliau SAW datang kepada suatu jamaah, dan menyampaikan salam bagi jamaah tersebut. Beliau akan terlihat bagi orang-orang yang diberi kemampuan melihat dengan bashirah.

Salah satu pokok dari salam beliau SAW adalah manifestasi ayat di atas. Salam beliau SAW secara khusus ditujukan diantaranya kepada orang-orang yang menginginkan penyatuan langkah bersama beliau SAW berdasarkan keimanan terhadap ayat-ayat Allah. Orang yang disekitarnya memperoleh berkah kehadiran dan salam beliau SAW. Salam beliau SAW itu menandai bahwa orang yang memperoleh salam tersebut telah memulai penyatuan langkahnya bersama jejak langkah Rasulullah SAW. Orang yang dianggap telah menyatukan langkah tersebut adalah orang yang mengenali ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Alquran yang berjalan beriring, yang menandai keterbukaan pemahamannya terhadap urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya berupa amr jami’.

Madharat Abai Terhadap Sunnah

Keinginan untuk menyatukan langkah dalam jejak langkah bersama Rasulullah SAW harus terbina pada setiap orang beriman. Orang yang tumbuh keimanannya sebenarnya akan tumbuh pula keinginan demikian, akan tetapi boleh jadi syaitan memalingkannya pada hal lain. Terlalu banyak bahaya mengintai dalam perjalanan setiap orang menuju Allah tanpa menyatukan langkah bersama beliau SAW, bahkan tidak mungkin seseorang akan sampai pada kedekatan kepada Allah tanpa mengikuti langkah beliau SAW. Sebagian orang tersesat dalam perjalanan kembali kepada Allah karena mengandalkan kemampuan mereka sendiri dalam beramal, baik berdasar ilham ataupun petunjuk dalam dirinya ataupun mengikuti orang lain tanpa menyatukan diri pada sunnah Rasulullah SAW. Ada suatu kaum yang diberi petunjuk jalan menuju neraka jahim.

﴾۸۲﴿قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ
﴾۹۲﴿قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
﴾۰۳﴿وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ
(28) Mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): "Sungguh kalian yang datang kepada kami dari kanan. (29) (Pemimpin-pemimpin) mereka menjawab: "Sebenarnya kalian-lah yang tidak hendak beriman". (30) Dan sekali-kali kami tidaklah berkuasa terhadap kalian, bahkan kalianlah kaum yang melampaui batas. (QS As-Shaffat : 28-30)

Ayat-ayat tersebut di atas bercerita tentang suatu kaum yang tersesat mengikuti petunjuk menuju neraka jahim. Terjadi perbantahan antara para pengikut terhadap para pemimpin mereka. Para pengikut telah mengikuti pemimpin mereka karena pemimpin itu datang kepada mereka melalui sisi kanan. Para pemimpin tersebut tidak mau disalahkan oleh pengikut mereka, dan menunjukkan bahwa sebenarnya para pengikut mereka itulah yang tidak mau membina keimanan mereka. Para pemimpin itu tidaklah mempunyai kuasa atas pengikut, dan sebenarnya para pengikut mereka telah menjadi kaum yang melampaui batas.

Kaum tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan baik, dimana para pemimpin mendatangi orang-orang yang mengikutinya dari sisi kanan. Tidak ada yang salah di antara mereka karena pemimpin mendatangi mereka dari sisi kanan dan mereka kemudian mengikuti seseorang ke sisi kanan. Yang menjadi awal masalah adalah keimanan yang tidak terbina dengan benar, dan tidak terbinanya keimanan tersebut kemudian menjadikan mereka sebagai orang-orang yang melampaui batas. Persoalan ini akan diketahui pemimpinnya, dan kelak akan disampaikan sebagai penjelasan kepada kaumnya. Kaumnya tidak akan mempunyai suatu alasan karena mereka terlibat secara langsung apa yang dijelaskan oleh pemimpin mereka.

Keimanan merupakan bagian diri manusia yang sepenuhnya ditentukan hati seseorang tersebut. Suatu perbuatan dapat terlahir oleh seseorang manakala keadaan memungkinkan, tetapi keimanan merupakan cahaya yang tumbuh dalam hati yang tidak ditentukan keadaan oleh orang lain. Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat saja bercampur dengan para pendosa dalam keadaan beriman tanpa dipengaruhi keimanannya, atau boleh jadi seorang beriman tidak dapat melahirkan apa yang menjadi keimanannya karena keadaan tanpa mengurangi keimanan. Hal itu mungkin terjadi, tetapi seorang beriman tidak boleh berbuat semaunya tanpa berusaha melahirkan keimanan mereka. Setiap orang harus menumbuhkan keimanan tanpa dipengaruhi atau tertipu oleh keadaan yang dibuat orang lain, dan hal itu selalu dapat diusahakan dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bilamana persoalan ini disadari dalam kehidupan dunia, seharusnya mereka dapat menghindari keadaan sulit demikian, akan tetapi seringkali kesadaran semacam ini tumbuh terlambat. Selain itu seringkali tumbuh kelembaman atau keengganan dalam bersikap manakala tumbuh kesadaran untuk mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap pihak hendaknya mengambil langkah yang terbaik yang dapat mereka lakukan, tidak saling memberikan pengaruh buruk. Manakala seorang pemimpin menyadari, hendaknya mereka berusaha menumbuhkan keimanan pada kaumnya. Manakala para pengikut menyadari, mereka hendaknya bersegera mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terus melakukan penentangan terhadap kedua tuntunan mulia tersebut.

Keimanan yang seharusnya terbina dalam diri setiap muslimin harus dapat mengantar mereka dalam penyatuan dengan jejak langkah Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang terbentuk mengikuti langkah seseorang menyatukan langkah bersama jejak Rasulullah SAW. Misalnya seseorang akan mengenal imamnya yang menghubungkan diri mereka kepada Rasulullah SAW. Itu merupakan wujud yang lebih hakiki daripada seorang perempuan menemukan imam berwujud suami, setengah bagian agama lebih lanjut yang melengkapi setengah bagian agama yang diperoleh dalam pernikahannya. Setiap diri muslimin harus dapat mengenali kebenaran dari sisi Allah dengan keimanan tanpa terpengaruhi oleh bentuk-bentuk yang tergambar dalam hawa nafsu secara keliru, karena sangat mungkin imam tersebut tidak sebagaimana keinginan hawa nafsu mereka. Membina keimanan demikian harus dilakukan dengan menempuh langkah pensucian diri (tazkiyatun-nafs) serta berpegang teguh pada kitabullah dengan berusaha memahami dan mengikuti apa-apa yang diperoleh dari kitabullah. Bila seseorang tidak berpegang pada kitabullah, maka seseorang akan mudah dibelokkan pemahamannya oleh syaitan.

Ketika suatu kebenaran sampai kepada seseorang melalui sesuatu yang tampak hina, ia tidak boleh mengabaikan kebenaran itu atau justru menganggapnya suatu kebathilan. Demikian pula manakala suatu kebathilan datang melalui apa yang dianggap mulia, ia tidak boleh menjadikan kebathilan itu sebagai suatu kemuliaan. Kesalahan dalam urusan itu akan merusak keimanan. Kemampuan itu dapat diperoleh seseorang bila nafs mereka suci, dan terbina mengikuti kitabullah. Tanpa membangun keimanan semacam ini, mereka akan terseret oleh waham-waham dan syaitan, dan itu bukanlah keimanan. Inilah yang dikatakan oleh para pemimpin mereka bahwa sebenarnya mereka itu sendiri-lah yang tidak mau beriman. Terlepas dari peran pemimpinnya, setiap pengikut benar-benar mempunyai peran dalam ke(tidak)imanan diri sendiri. Muslimin tidak boleh meninggalkan prinsip membina keimanan yang benar, sehingga dapat menyatukan langkah dalam jejak langkah Rasulullah SAW.

Bila seseorang mengabaikan pembinaan keimanan yang benar, mereka akan terseret menjadi kaum yang melampaui batas. Sikap syukur harus ditumbuhkan dengan mengikuti kehendak Allah yang diketahui dalam pertumbuhan nafs mereka dibandingkan mengikuti apa-apa yang dicintai hawa nafsu mereka. Nafs setiap orang harus tumbuh mengikuti kitabullah, tidak mengikuti hawa nafsunya. Bila nafs tumbuh dengan kitabullah, mereka perlahan-lahan akan menemukan kedudukan diri mereka dalam kitabullah. Bila seseorang lebih senang mengikuti yang dicintai hawa nafsu mereka, pertumbuhan nafs mereka akan menyertai pertumbuhan hawa nafsu. Bila mengikuti hawa nafsu, mereka akan tumbuh sebagai makhluk yang melampaui batas.

Kadangkala pertumbuhan nafs tampak baik, tetapi tidak berpegang pada kitabullah dengan tertib. Hal demikian tidak menunjukkan keadaan yang benar-benar baik karena yang akan tumbuh tetaplah hawa nafsu walaupun hawa nafsu yang baik, sedangkan nafs mereka tidak tumbuh akalnya. Pertumbuhan akal akan terjadi hanya karena mengikuti kitabullah. Hawa nafsu yang baik itu tidak akan dapat memahami kebenaran manakala terselubung dalam hijab yang tidak sesuai dengan hawa nafsu, tidak mengenal kebenarannya kecuali hanya hawa kebenarannya saja tanpa sebuah keyakinan. Sebaliknya manakala mereka menemukan kebathilan dalam selubung hijab yang disukai hawa nafsu, mereka akan menganggap itu sebuah kebenaran. Lebih buruknya, orang-orang demikian dapat membantah petunjuk berupa ayat dalam kitabullah karena waham mereka. Manakala bantahan itu terjadi, mereka telah melampaui batas.

Setiap orang beriman harus melakukan amal untuk sumbangsih mereka bagi makhluk lain. Amal itu pada puncaknya bukanlah semata-mata berupa amal yang baik, tetapi berupa amal yang telah digariskan Allah bagi setiap diri manusia yang dikalungkan pada leher mereka sejak sebelum penciptaan mereka di dunia. Amal itu sebenarnya merupakan bagian dari urusan amr jami’ sebagai amr bagi Rasulullah SAW. Dengan melakukan amal-amalnya berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, seseorang akan memberikan sumbangsih paling besar yang dapat dilakukannya bagi manusia.

Tidak semua amal yang baik dapat memberikan hasil yang baik. Kadangkala amal yang baik mendatangkan kerusakan pada diri yang mengamalkannya, atau kadangkala ramainya amal justru mengeliminasi amal-amal yang mengikuti petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada ayat di atas, amal-amal baik yang mereka lakukan terlaksana disertai dengan kerusakan keimanan, dimana seseorang terhijab dengan amalnya dari keimanan, hingga pada akhirnya mereka menjadi orang-orang yang melampaui batas. Hasil dari orang-orang yang beramal akan tetapi terhijab dari keimanan tidaklah baik. Keterhijaban itu dapat dihindari bila seseorang berusaha menyatukan langkah mereka bersama jejak langkah Rasulullah SAW, tidak menempuh langkah mereka sendiri tanpa berpegang pada tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, atau bahkan menentang Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Meninggalkan sunnah Rasulullah SAW mengandalkan petunjuk sendiri akan menjadikan suatu kaum memperoleh petunjuk untuk menuju jalan jahim.



Kamis, 16 Februari 2023

Mengharap Rahmat Allah

Allah memberikan perintah kepada Rasulullah SAW untuk memberikan salam kepada orang-orang beriman kepada ayat-ayat Allah yang datang kepada beliau SAW, dan menjelaskan kepada mereka bahwa Allah telah menetapkan atas diri-Nya rahmat berupa ampunan dan kasih sayang bagi orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan setelah mengerjakan perbuatan yang buruk.

﴾۴۵﴿وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-An’aam : 54)

Ayat tersebut merupakan perintah Allah kepada Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah dan datang kepada beliau SAW. Perintah demikian itu juga akan diikuti oleh orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW dengan sebenarnya. Hal demikian akan terjadi walaupun seandainya mereka tidak mengetahui ayat ini. Walaupun sebuah perintah, sebenarnya ada sebuah latar belakang kegembiraan dalam hati mereka yang menjadikan orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW akan bergembira menyambut orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah dan datang kepada Rasulullah SAW.

Yang dimaksud ayat di atas sebagai orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah adalah orang-orang yang dapat melihat kebenaran ayat-ayat yang disampaikan kepada mereka melampaui hijab diri mereka, bukan orang-orang yang sekadar mengikuti. Mereka dapat melihat kebenaran menembus hijab, mengetahui kebenaran itu dengan hatinya tanpa terhalang hijab yang mungkin terbentang dalam dirinya menutupi kebenaran ayat-ayat Allah. Sebagian besar pengikut Rasulullah SAW sebenarnya terhijab dari ayat-ayat yang disampaikan kepada mereka walaupun kebenaran itu terang dibacakan kepada mereka, dan hijab itu barangkali hanya sebuah hijab yang tipis. Hanya sedikit orang yang dapat mengenali kebenaran di balik hijab, maka mereka yang datang kepada Rasulullah SAW itulah yang diperintahkan kepada Rasulullah SAW untuk diberi ucapan salam beliau SAW.

﴾۳۵﴿وَكَذٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوا أَهٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian lain, supaya mereka berkata: "semacam inikah orang-orang di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (QS Al-An’aam : 53)

Kebanyakan orang yang mengikuti Rasulullah SAW akan terhijab dari ayat-ayat Allah karena adanya hijab yang menutupinya. Di antara mereka akan memandang rendah kepada kebenaran ayat-ayat Allah bahkan dengan mengatakan : "semacam inikah orang-orang di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?". Mereka memandang rendah orang yang menyampaikan kebenaran sekalipun orang itu adalah sahabat mereka sendiri, karena menilai sahabat itu tidak mempunyai sesuatu yang layak untuk diikuti. Mereka tidak melihat kebenaran ayat-ayat yang disampaikan karena barangkali ada suatu keinginan yang tidak ditemukan pada orang yang menyampaikan kebenaran itu. Sebagian orang islam yang terhijab mengucapkan perkataan itu dengan jelas secara langsung, dan sebagian orang mengambil sikap berdiam akan tetapi tidak mengambil kebenaran yang sampai kepada mereka. Tidaklah mereka itu termasuk dalam kelompok orang yang datang kepada Rasulullah dalam keadaan beriman kepada ayat-ayat Allah sehingga layak memperoleh ucapan salam dari Rasulullah SAW. 

Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikuti akan bergembira dan menyampaikan salam kepada orang-orang yang datang kepada beliau SAW dengan beriman kepada ayat-ayat-Nya tanpa terhijab oleh berbagai macam hijab dari keinginan mereka sendiri. Kadangkala kegembiraan Rasulullah SAW (atau pengikut beliau SAW) yang demikian itu hanya terjadi setengah-setengah atau tidak terjadi sepenuhnya, yaitu manakala terdapat sikap kufur terhadap nikmat Allah pada orang yang datang. Manakala seseorang beriman pada kebenaran ayat-ayat Allah, hendaknya mereka mengikuti keimanan itu dengan sikap merasa senang terhadap ketentuan Allah yang ditetapkan bagi mereka dan mengikuti ketetapan itu agar ia memperoleh sarana berdzikir meninggikan asma Allah. Bila seseorang tidak menyukai ketentuan Allah terhadap dirinya, atau masih berkeinginan berpaling pada suatu hijab yang disukainya, maka sebenarnya keimanan itu belum terjadi sepenuhnya. Hendaknya seseorang mengikuti kebenaran ayat-ayat Allah dengan penuh rasa syukur untuk mendzikirkan asma Allah. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bersyukur kepada-Nya.

Taubat dan Memperbaiki Keadaan

Orang-orang yang demikian itulah yang dikatakan orang dengan keimanan terhadap ayat-ayat-Nya. Bila ia datang kepada Rasulullah SAW, ia layak diberi ucapan salam oleh Rasulullah SAW. Allah telah menetapkan rahmat bagi diri-Nya terhadap orang-orang demikian, dengan berbagai kondisi yang harus ditaati orang tersebut. Apabila mereka berbuat suatu keburukan karena kebodohan mereka, maka mereka kembali bertaubat dan melakukan perbaikan terhadap segala hal yang terkait dengan hal buruk yang telah dikerjakannya. Bila mereka bertaubat dan melakukan perbaikan, maka Allah akan menampakkan bagi mereka bahwa Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Taubat adalah kembali kepada Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW untuk menjadi dekat kepada-Nya. Orang yang mengikuti Rasulullah SAW tetapi berbuat buruk mengikuti hawa nafsu mereka sebenarnya telah terlupa dari jalan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Bila mereka terus mengikuti hawa nafsu, mereka telah menyimpang dari langkah mengikuti Rasulullah SAW. Segala amal yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan amal yang bersumber dari hawa nafsu, baik karena hawa nafsu itu sendiri atau karena ada syaitan yang menghembuskan ke dada orang tersebut. Bila mereka kembali mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka itu kembali kepada jalan taubat.

Seringkali seseorang terjatuh pada perbuatan buruk. Banyak akibat buruk yang terjadi mengikuti perbuatan buruk. Bila ia terus berbuat buruk itu tanpa menyadarinya, semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan dan semakin besar dan banyak sumber keburukan yang menjadi penyebabnya. Bila seseorang menyadari perbuatan buruknya dan menghentikannya, ia bisa membiarkan perbuatan buruknya terus menimbulkan akibat buruk atau ia bisa melakukan perbaikan atas perbuatan buruknya hingga selanjutnya tidak menimbulkan akibat buruk yang lebih banyak. Ketetapan rahmat Allah akan berlaku bagi orang yang menghentikan perbuatan buruknya dan melakukan perbaikan atas perbuatan buruk yang pernah dilakukannya.

Perbaikan terhadap perbuatan buruk seringkali menguras banyak tenaga dan membutuhkan kekuatan mental yang besar. Akan lebih mudah bagi seseorang untuk berharap rahmat Allah dengan mengupayakan ketaatan sepenuhnya kepada Allah, akan tetapi setiap manusia akan terjatuh dalam kesalahan. Barangkali Allah menghendaki agar setiap manusia untuk mempunyai kekuatan untuk memperbaiki akibat buruk dari perbuatannya. Hendaknya manusia selalu berharap kepada Allah agar menjaga dirinya dari hawa nafsunya sendiri. Harapan ini hendaknya dilakukan dengan hatinya, tidak hanya dengan kata-kata sedangkan ia sebenarnya merasa yakin sepenuhnya dengan kekuatan dirinya untuk menjadi hamba Allah. Orang yang terhijab terhadap kebenaran ayat Allah pada dasarnya juga mempunyai keyakinan pada kekuatan dirinya untuk menjadi hamba Allah, tidak mengandalkan Allah dan apa yang Dia turunkan secara haq, dan barangkali tidak menyadari bahwa Allah menurunkan penjelasan ayat-Nya melalui hamba yang dikehendaki-Nya.

Rahmat Allah dan Jalan Pendosa

Pendustaan terhadap ayat Allah oleh orang-orang muslim sebenarnya adalah jalan untuk masuk pada golongan para pendosa. Ketika seorang muslim tidak dapat memahami suatu kebenaran yang disampaikan kepada mereka, maka mereka akan terseret oleh waham-waham mereka. Apa yang mereka perbuat tidak mempunyai tuntunan pada kebenaran dan waham yang mereka ikuti itu akan mengarahkan mereka kepada dosa-dosa. Mereka mengira bahwa apa-apa yang mereka perbuat merupakan kebaikan, sedangkan kebaikan yang diturunkan Allah telah mereka tinggalkan tidak mereka ikuti.

﴾۵۵﴿وَكَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran, dan supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa.(QS Al-An’aam : 55)

Ayat tersebut berbicara tentang dua hal, yaitu penjelasan ayat-ayat Allah dan jalan orang-orang yang berdosa. Penjelasan ayat Allah adalah tentang rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah dan datang kepada Rasulullah SAW. Jalan orang yang berdosa yaitu orang-orang muslim yang akan terjatuh pada golongan para pendosa karena mengikuti hijab waham mereka tidak mengikuti ayat-ayat Allah.

Rahmat Allah akan diberikan kepada orang yang datang kepada Rasulullah SAW setelah keimanan mereka. Komitmen kepada Rasulullah SAW berdasarkan keimanan kepada ayat-ayat Allah merupakan batas yang harus dilalui orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Orang yang beriman kepada ayat Allah tetapi tidak datang memberikan komitmen kepada Rasulullah SAW berdasarkan keimanan mereka tidak termasuk dalam kelompok yang akan memperoleh rahmat Allah. Orang yang memberikan komitmen kepada Rasulullah SAW tanpa keimanan kepada ayat Allah tidak pula termasuk dalam kelompok yang telah benar dalam berharap rahmat Allah, karena komitmen mereka boleh jadi kosong dari syarat yang harus dipenuhi. Manakala mereka melanggar tuntunan Rasulullah SAW, barangkali mereka hanya akan membanggakan komitmen mereka kepada Rasulullah SAW tidak berusaha menemukan dan mengikuti jalan yang diturunkan Allah secara haq.

Ayat ini berlaku secara abadi walaupun Rasulullah SAW telah meninggal dunia. Datang kepada Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan mendatangi al-jamaah yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka berupa amr jami’. Tidak seluruh pengetahuan Rasulullah SAW mereka ketahui, akan tetapi apa yang mereka ketahui dari sunnah Rasulullah SAW benar. Mereka akan menyambut gembira orang-orang yang datang kepada Rasulullah SAW dengan keimanan, bukan karena datang kepada mereka, tetapi karena komitmen untuk mengikuti Rasulullah SAW bersama-sama. Mereka tidak ingin diikuti kecuali ketika bersama-sama dalam urusan Rasulullah SAW. Mereka bukan orang yang ingin terlihat megah, dan kebanyakan manusia dan kaum muslimin akan memandang mereka sebagai orang-orang yang lemah hingga barangkali akan bertanya : semacam inikah orang-orang di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?. Boleh jadi mereka mempunyai sifat polos tidak mempunyai bermacam kemampuan karena takut kepada Allah, termasuk kemampuan memahami orang lain kecuali apa yang sampai pada mereka. Hanya saja mereka mempunyai komitmen yang kuat pada kebenaran ayat-ayat Allah.

Terkait dengan batas komitmen, kurang dari batas itu seorang muslim akan berada pada jalan orang-orang yang berdosa. Barangkali mereka belum termasuk dalam golongan orang-orang berdosa, akan tetapi sangat besar kemungkinan mereka akan berjalan ke arah yang keliru hingga mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang berdosa. Kalaupun tidak berubah menjadi pendosa, mereka tidak memperoleh pijakan yang kuat dalam agamanya. Kepada muslim demikian, ayat yang lebih tepat disampaikan bukan tentang mengharapkan rahmat Allah dalam kategori khusus, tetapi hendaknya mereka mencari jalan keimanan dan cara bersyukur kepada Allah. Itu adalah sasaran yang lebih dekat dan lebih mudah untuk dicapai. Ketika berbicara tentang rahmat Allah secara khusus, barangkali pembicaraan itu hanya akan dipahami oleh hawa nafsu mereka. Mereka harus menyadari tentang syarat yang harus dipenuhi untuk mengharapkan rahmat Allah, atau hanya angan-angan tentang rahmat Allah yang akan terbangkitkan dalam nafs mereka.

Ayat di atas menyatukan kedua objek pembicaraan dalam satu ayat. Kaum muslimin hendaknya mencari kedua hal tersebut sekaligus, tidak memisahkan kedua tujuan tanpa suatu keterkaitan. Kedua objek pembicaraan tersebut merupakan dua hal yang terkait erat dan bersambung, dan setiap orang yang membacanya hendaknya mengukur diri dengan sesuatu yang jelas berdasarkan kedua ayat yang mendahuluinya. Kedua ayat tentang dua objek itu dibuat terpisah agar seseorang mengetahui keadaan diri secara jelas.

Selasa, 14 Februari 2023

Taubat dan Kejahatan (الشَرِّ)

Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah bagi-Nya yang memimpin alam semesta dalam ibadah kepada Allah. Terdapat sebuah kelengkapan sebagai makhluk yang disematkan kepada manusia sehingga manusia dapat memperoleh kedudukan sebagai pemimpin alam semesta. Terdapat nafs dalam diri manusia yang merupakan esensi manusia yang sebenarnya, diciptakan dari cahaya yang setara dengan asal penciptaan para malaikat, dan manusia dilengkapi pula dengan badan jasmaniah yang menjadikan mereka benar-benar mengerti karakteristik perilaku makhluk di alam rendah. Selain kedua hal tersebut, Allah juga memberikan hadiah entitas rububiyah kepada manusia yang dikehendaki-Nya yang berasal dari alam ruh berupa ruh qudus. Dengan kelengkapan demikian, maka manusia akan menjadi khalifah bagi-Nya di alam dunia.

Itu adalah kesempurnaan akhlak bagi manusia, yang menjadikan manusia dikatakan mengenal Allah karena memperoleh ma’rifah. Untuk mencapai keadaan demikian, setiap orang harus bertaubat kembali kepada Allah mengikuti Rasulullah SAW, karena Allah hanya akan memberikan ma’rifah melalui satu jalan yang dikehendaki-Nya tidak dapat diperoleh melalui jalan yang lain. Sebenarnya tidak ada makhluk yang dapat mengenal Allah, tetapi Allah yang memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk berupa manusia yang dikehendaki dari kalangan orang-orang yang bertaubat menempuh jalan kembali kepada-Nya. Rasulullah SAW mengenal totalitas wajah Allah yang hendak Dia perkenalkan kepada makhluk, dan makhluk lain mengenal wajah Allah yang diperkenalkan kepada dirinya sebagai turunan dari wajah-Nya yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW.

Manusia akan memperoleh ma’rifah bila mereka membina akhlak mulia dalam dirinya. Dalam perjalanan membina akhlak mulia, manusia akan berhadapan dengan kepalsuan yang terbit dari dirinya dan sekitarnya, kepalsuan yang dapat membentuk suatu akhlak buruk dalam dirinya. Kepalsuan demikian merupakan kejahatan (الشَرِّ). Kejahatan ini bisa ditemukan oleh setiap manusia di semua tempat, baik di dalam dirinya sendiri, yang terbit dari dirinya sendiri maupun yang dihembuskan oleh syaitan, dan juga ditemukan di luar diri manusia dari segenap ciptaan.

Di antara contoh akhlak buruk yang mewujud karena seseorang terjerumus kejahatan (الشَرِّ) demikian adalah penghinaan seorang muslim terhadap saudaranya muslim. Penghinaan seorang muslim atau mukmin terhadap saudara muslim merupakan tanda yang mencukupi untuk menunjukkan bahwa seseorang telah tertipu kejahatan. Barangkali ia memandang dirinya telah menjadi seseorang yang mulia, maka ia tidak memandang kebaikan yang ada pada saudaranya. Pada suatu masa, ia merasa layak untuk menjadikan saudaranya dipandang hina oleh manusia, maka cukuplah ia dikatakan terjerumus dalam kejahatan (الشَرِّ). Rasulullah SAW bersabda :

: بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Cukuplah seseorang dikatakan jahat bila ia menghina saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. [HR. Muslim]

Perbuatan demikian itu termasuk dalam perbuatan jahat yang menunjukkan keburukan akhlak dan akan merusak jalinan persaudaraan. Persangkaan buruk seseorang terhadap saudaranya yang dihina seringkali tidaklah benar-benar ada kecuali hanya fenomena kulitnya saja sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan tentang keadaan yang sebenarnya. Bila ia mempunyai pengetahuan, barangkali ia tidak memahami apa yang dia ketahui. Bagi pihak lainnya, suatu hinaan kadang benar-benar membuat berantakan karena syaitan menyertai dan memperoleh akses melalui hinaan itu.

Dalam kasus tertentu, tidak perlu lebih dari satu kasus penghinaan untuk menunjukkan bahwa seseorang telah terjatuh dalam perbuatan jahat, dimana syaitan merencanakan untuk menggunakan seseorang untuk satu kali menghinakan orang lain. Misalnya boleh jadi syaitan menggunakan seseorang untuk melakukan penghinaan agar seorang suami atau isteri memandang pasangannya hina, maka orang yang dihina akan tertimpa fitnah syaitan yang sangat besar. Sekalipun bila yang dihina sedang berjuang di jalan Allah, orang tersebut boleh jadi akan ditinggalkan oleh umatnya yang memandangnya secara hina pula karena tampak tidak berpakaian dengan baik, maka umatnya ada dalam bahaya besar.

Dalam peristiwa demikian, hendaknya setiap orang tidak serta merta mengikuti perkataan hinaan dan meneliti dengan sungguh-sungguh keadaan hingga ia mengetahui dengan benar keadaan mereka. Bila serta-merta mengikuti, maka ia ikut pula menghinakan saudaranya. Mungkin ia akan mendapati sebagian sifat hinaan itu ada, tetapi barangkali tidak seluruh hinaan menggambarkan keadaan mereka dengan benar. Misalnya seandainya yang dihina berbohong, hendaknya diketahuinya tingkat kebohongannya dan disikapi dengan tepat. Boleh jadi ia berbohong sekadar untuk menyenangkan, atau menutup aib dirinya yang tidak perlu diketahui, atau menutupi sesuatu yang ia berkomitmen untuk berbuat jahat, atau ia benar-benar tertipu mengikuti kebenaran yang palsu atau banyak kebohongan jenis yang lain. Hendaknya semua disikapi dengan tepat hingga ia memberi pakaian dengan baik kepada pasangannya, tidak serta merta ikut memandang hina.

Kejahatan (الشَرِّ) di dalam Diri

Manusia hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan (الشَرِّ). Kejahatan itu ada di setiap tempat. Kejahatan yang terbit di dalam diri manusia berwujud bisikan-bisikan jahat yang tersembunyi. Bisikan itu muncul di dalam dada manusia, dihembuskan baik oleh manusia ataupun jin dari golongan syaitan, tersembunyi kejahatannya dari pemahaman manusia sehingga manusia seringkali tidak menyadari bahwa bisikan itu berbahaya. Bisikan itu kadangkala tampak baik, akan tetapi menjadikan manusia mempunyai akhlak yang buruk.

﴾۴﴿مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
﴾۵﴿الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
﴾۶﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
(4) Dari kejahatan bisikan jahat yang tersembunyi, (5) yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, (6) dari (golongan) jin dan manusia. (QS An-Naas : 4-6)

Ada banyak bisikan yang dapat terbit dalam dada manusia. Bisikan itu sebagian muncul karena hawa nafsu dan alam rendah lainnya, sebagian muncul sebagai petunjuk melalui keimanan. Sebenarnya ada perbedaan pada keduanya, akan tetapi hanya akan tampak jelas bagi orang yang bertakwa. Syaitan dari kalangan jin dan manusia dapat menerbitkan suatu bisikan dalam dada manusia. Bisikan itu boleh jadi tampak sebagai bisikan yang baik, bisa jadi berbentuk persuasi yang meyakinkan dan tampak baik dan segala bentuk bisikan tersembunyi lainnya, sedangkan ada suatu kejahatan yang dibawa oleh bisikan itu. Ada banyak bentuk bisikan jahat yang dapat terbit di dalam dada setiap manusia yang kejahatannya tersembunyi dari pandangan dirinya.

Setiap orang harus berlindung kepada Allah dari setiap bisikan di dalam dadanya, tidak mengikuti setiap bisikan dalam dadanya karena boleh jadi bisikan itu merupakan bisikan jahat yang menyebabkan seseorang menjadi berakhlak buruk. Mengikuti ayat-ayat kitabullah dapat menjadi media memohon perlindungan kepada Allah bila dilakukan tanpa melupakan permohonan perlindungan. Bila hanya mengandalkan pemahaman, pemahaman itu boleh jadi hanya merupakan produk hawa nafsu. Setiap orang harus memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan yang tersembunyi, karena manusia di bumi berada pada keadaan yang paling lemah di antara makhluk cerdas yang lain.

Kejahatan (الشَرِّ) dari Luar Diri

Selain di dalam diri, banyak kejahatan yang muncul dari luar diri manusia. Dalam perjalanan taubat kembali kepada Allah, seseorang akan menemukan suatu fase perubahan dari kegelapan kehidupan dunia menuju pada terangnya petunjuk Allah. Hal itu dapat ditemukan manusia dalam kehidupan di dunia bagi orang-orang yang kembali kepada Allah. Fase perubahan tersebut akan dikenali sebagai sebuah fase falaq, yaitu menjelang terbitnya fajar yang akan menyinari kehidupan seseorang dalam petunjuk.

Fase perubahan tersebut merupakan sebuah fase yang mengundang banyak kejahatan (الشَرِّ) dari seluruh alam ciptaan. Banyak makhluk akan menggoda menawarkan dirinya untuk memberikan manfaat yang banyak. Orang-orang yang terjebak dalam kekuatan paradigma duniawi akan berupaya memasyarakatkan paradigma mereka untuk membentuk akhlak manusia sebagaimana yang mereka inginkan. Banyak orang-orang yang mengikuti syaitan berusaha memasukkan konsep-konsep akidah mereka untuk menyelewengkan akidah yang tegak, dan orang-orang ataupun jin yang hasad akan berusaha menjatuhkan dengan cara yang licik. Keseluruhan hal itu dapat mempengaruhi seseorang dalam perjalanan mereka kembali kepada Allah, hingga seseorang berbelok tersesat dari jalan Allah atau berbalik menuju kehidupan dunia, atau kehilangan ghirah berjihad di jalan Allah.

﴾۱﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
﴾۲﴿مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
﴾۳﴿وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
﴾۴﴿وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
﴾۵﴿وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
(1) Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai waktu fajar, (2) dari kejahatan makhluk-Nya, (3) dan dari kejahatan (pelaku) malam apabila dalam gelap gulita, (4) dan dari kejahatan wanita-wanita yang menghembus pada buhul-buhul, (5) dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki". (QS Al-Falaq : 1-5)

Orang-orang yang bertaubat diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah manakala mereka mencapai fase falaq dalam kehidupan mereka. Semua fenomena kejahatan (الشَرِّ) ini merupakan ujian terhadap keikhlasan yang harus ditumbuhkan oleh setiap orang ketika menempuh jalan kembali kepada Allah. Setiap orang hendaknya selalu berhati-hati menghadapi kejahatan (الشَرِّ) itu, karena itu akan tumbuh semakin memuncak hingga matahari terbit, dimana tanduk syaitan akan ikut menyertai terbitnya matahari.

Fase falaq akan ditemukan oleh seseorang yang bertaubat dengan beberapa tanda. Di antara tanda itu adalah adanya beberapa makhluk menawarkan diri untuk memberikan manfaat duniawi. Ada pentaubat yang menemukan tanda falaq mereka berupa keterbukaan tawaran untuk terlibat dalam upaya-upaya duniawi dari orang-orang yang tidak mempunyai kepedulian kepada kebaikan selain kepedulian tentang kepentingan-kepentingan duniawi mereka. Sebagian manusia menemukan tanda falaq mereka berupa rumusan-rumusan akidah yang dihembuskan ke dalam dada mereka sedangkan akidah itu mengandung kebathilan tanpa terlihat olehnya. Sebagian menemukan tanda falaq mereka berupa orang-orang yang hasad terhadap kebaikan yang diberikan kepada mereka. Tanda-tanda itu mungkin ditemukan dalam berbagai bentuk kombinasi tanda-tanda itu.

Hendaknya setiap orang menghadapi kejahatan (الشَرِّ) masa falaq mereka dengan ketakwaan. Setiap tanda itu hendaknya dibaca dalam kacamata kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia menemukan kebenaran hakikat dari semua hal itu, karena beserta yang dihadirkan Allah juga terdapat kejahatan yang terkandung dalam peristiwa itu. Bila seseorang mensikapi tanda itu semata dengan berpegang prinsip “semesta mendukung”, maka ia akan mudah terseret dalam kejahatan. Setiap orang harus berusaha menemukan kehendak Allah dalam tanda yang dihadirkan-Nya, baik ia harus menjalani tanda itu ataupun ia harus menghindari. Manakala menjalani tanda itu, ia harus berpegang pada kitabullah karena akan banyak berhubungan dengan banyak kejahatan (الشَرِّ). Tanpa ketakwaan, kejahatan itu akan mengubahnya menuju akhlak yang buruk.

Rabu, 08 Februari 2023

Membina Persaudaraan

Allah SWT memerintahkan umat islam dan orang-orang beriman untuk tidak berpecah belah dan untuk membangun persatuan dalam persaudaraan. Keberhasilan membangun persaudaraan merupakan indikator bahwa Allah menjauhkan umat tersebut dari tepi jurang neraka. Akan tetapi persatuan itu tampaknya tidak mudah untuk terwujud di antara umat islam. Seringkali suatu golongan menyeru umat islam dan orang-orang beriman untuk bersatu, tetapi sebenarnya seruan itu hanya menyeret manusia pada golongan mereka, dan memusuhi golongan yang lain. Manakala umat islam dan orang-orang beriman berada pada keadaan bercerai berai dan bermusuh-musuhan, pada dasarnya mereka bukanlah termasuk dalam golongan yang diselamatkan Allah dari tepi jurang neraka.

﴾۳۰۱﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menyusun hati-hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran : 103)

Persaudaraan itu hanya akan terbentuk di atas Alquran, tidak bergantung pada tafsir seseorang atau suatu golongan yang mendakwahkan kebenaran mereka. Banyak penjelasan manusia yang dapat membuat seseorang memahami Alquran, tetapi penting diperhatikan bahwa penjelasan itu tidak melenceng dari setiap firman Allah dalam Alquran. Banyak golongan yang dibangkitkan syaitan untuk menyesatkan manusia. Setiap golongan yang berusaha menyesatkan manusia akan menunjukkan klaim-klaim kebenaran mereka untuk menyembunyikan kesesatan dalam ajaran mereka. Mereka itu akan menjadi yang paling keras mengklaim kebenaran tanpa menunjukkan makna kebenaran dalam Alquran. Seringkali mereka menunjukkan kedudukan diri mereka sebagai orang yang paling memahami dan paling mengikuti langkah ahlus-sunnah, dan menjadikan manusia objek seruan mereka sebagai golongan awam agar tidak mempunyai keberanian berusaha memahami Alquran kecuali dengan pemikiran golongan mereka. Klaim kebenaran mereka dan metode mereka menyeru akan menjadikan umat islam dan orang beriman bercerai-berai dan bermusuh-musuhan.

Orang yang paling dekat pada sikap menyeru pada kebenaran adalah orang yang mengajak setiap orang untuk membuka pemahaman masing-masing tentang Alquran dengan berlandaskan pada pensucian nafs dan persaudaraan di atas kebenaran. Setiap orang harus memiliki pemahaman terhadap Alquran sebagai firman Allah kepada setiap hamba-Nya, di atas landasan kesucian jiwa dengan tujuan membentuk persaudaraan bersama orang-orang beriman. Pada dasarnya setiap orang akan dapat memahami Alquran yang menjadi bagian bagi mereka, dengan pemahaman sesuai dengan jati diri masing-masing. Perbedaan pemahaman satu orang dengan orang lain seharusnya tidaklah menunjukkan perselisihan, tetapi karena adanya perbedaan jati diri masing-masing. Pemahaman seseorang terhadap ayat Alquran dapat bernilai benar bila dipahami di atas landasan kesucian jiwa dan pemahamannya tidak mengarah pada perselisihan dan permusuhan, tetapi mengarah pada persaudaraan.

Allah-lah yang menyusun hati-hati orang beriman untuk menjadi bagian dari al-jamaah hingga mereka mengetahui persaudaraan. Manakala suatu kelompok bercerai-berai dan bermusuhan, mereka bukanlah orang yang disusun hatinya untuk membentuk persaudaraan. Boleh jadi mereka mengira dapat mempersatukan hati-hati manusia, sedangkan Allah-lah yang menyusun hati orang beriman. Allah menyusun hati-hati orang beriman secara berangsur-angsur karena keadaan manusia harus berubah lebih baik berangsur, demikian hingga mereka mencapai persaudaraan yang sesungguhnya. Bila seseorang tidak mengetahui kedudukan diri dalam al-jamaah, hal ini menunjukkan qalb mereka belum benar-benar tersusun dalam persaudaraan.

Yang mengawali langkah tersusunnya qalb seorang hamba adalah nikmat Allah. Nikmat Allah dilimpahkan kepada setiap orang beriman, baik ketika seseorang masih berada pada tepi jurang neraka permusuhan dan bercerai-berai, ataupun ketika telah bergerak mendekat kepada Allah. Apabila seorang hamba mensyukuri setiap ketentuan yang diberikan Allah kepadanya dengan mentaatinya, maka hatinya akan tersusun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hati mereka akan tersusun dalam al-jamaah dengan sebenar-benarnya. Itu adalah nikmat yang diberikan Allah kepada seluruh manusia. Tanpa mensyukuri ketentuan yang diberikan Allah, tidak ada celah bagi seorang hamba untuk menempuh langkah menyusun hati mereka.

Terdapat nikmat dengan tingkatan lain yang dilimpahkan Allah kepada hamba-Nya, yang ditandai dengan munculnya pengetahuan tentang kedudukan mereka dalam al-jamaah mengikuti Rasulullah SAW hingga mereka mengetahui makna persaudaraan yang sesungguhnya. Nikmat yang kedua ini dapat menjadi indikasi bahwa seseorang telah diselamatkan Allah dari jurang neraka. Tanpa nikmat jenis demikian, boleh jadi seseorang tergelincir menuju neraka dalam langkah mereka mengikuti Rasulullah SAW.

Persaudaaran Muslimin

Perjalanan mengikuti Rasulullah SAW ditempuh sejak seseorang menyatakan kalimah syahadat. Mereka menjadi golongan muslimin dengan kedua kalimat syahadat itu. Orang-orang muslim merupakan kelompok orang yang berada pada tepian jurang neraka, walaupun mereka tidak berada di jurang neraka akan tetapi kehidupan mereka berada dekat dengan neraka. Mereka dapat bergerak menjauh dari tepian jurang neraka bila mereka bersungguh-sungguh mencari dan mengikuti petunjuk untuk mendekat kepada Allah. Bila tidak, mereka akan mudah untuk terjerumus kepada neraka.

Terdapat sebuah ketentuan bagi setiap orang muslim dalam masalah persaudaraan. Kaum muslimin merupakan saudara di antara mereka. Satu muslimin merupakan saudara bagi muslim lain. Dengan persaudaraan itu diharamkan bagi seorang muslim terhadap muslim lainnya untuk mendzalimi, meninggalkan tidak mempedulikannya dan menghinakannya. Ketika seseorang berbuat sesuatu dengan tujuan buruk bagi saudaranya, ia telah mendzaliminya. Bila seseorang tidak memperhatikan ketika mengetahui saudaranya dalam kesulitan, ia telah meninggalkannya. Bila seseorang menjadikan saudaranya dipandang hina oleh orang lain, ia telah menghinakannya. Hal-hal demikian merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Rasulullah SAW bagi setiap umatnya, sebagai dasar yang menjadi landasan persaudaraan mengikuti Rasulullah SAW.

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh mendzaliminya, meninggalkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan jahat bila menghina saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. [HR. Muslim]

Mentaati ketentuan dasar tersebut merupakan landasan ketakwaan. Melanggar ketentuan itu menunjukkan rendahnya kualitas ketakwaan seorang muslim. Umat manusia tidak boleh mengukur ketakwaan berdasarkan tampilan yang ditunjukkan orang lain dengan mencederai landasan persaudaraan, baik dengan tampilan sikap palsu ubudiyah ataupun klaim-klaim ketakwaan oleh seseorang. Ketakwaan seseorang bernilai buruk walaupun ia mengatakan ketakwaan dirinya atau bersikap dengan ketaatan syariat yang ketat, sedangkan ia tidak mentaati landasan persaudaraan dengan muslim lainnya.

Rasulullah SAW menekankan pentingnya ketakwaan dalam urusan ini. Beliau SAW menunjukkan ke dada beliau sendiri hingga tiga kali (3x) dengan bersabda : Taqwa adalah di sini. Seseorang tidak bisa mengukur ketakwaan orang lain melalui tampilan-tampilannya atau pengakuan-pengakuannya. Ketakwaan itu ada di dalam dada. Seseorang yang dengan hatinya memperhatikan saudaranya dengan prinsip persaudaraan yang disabdakan Rasulullah SAW lebih berhak dikatakan bertakwa daripada orang yang menyukai untuk menampilkan pakaian ketakwaan secara dzahir atau melakukan pengakuan-pengakuan tentangnya.

Ada sebuah batas kejahatan yang ditunjukkan melalui prinsip persaudaraan. Cukuplah seseorang dikatakan sebagai orang jahat manakala ia melakukan penghinaan kepada saudaranya muslim. Manakala seseorang membuat seorang muslim terjatuh sebagai orang hina dalam pandangan manusia, maka hal itu menunjukkan bahwa seseorang tersebut jahat. Ada kesombongan dalam diri orang tersebut yang menjadikannya merasa lebih mulia dari yang dihina, mungkin pula dari orang-orang seluruhnya, dan hal itu adalah sebuah kejahatan baik terlahir atau tidak. Manakala seseorang melahirkan kesombongannya dengan menghina seorang muslim, telah cukuplah tanda bagi manusia bahwa orang yang sombong tersebut adalah orang jahat. Sangat banyak kandungan kejahatan yang dapat diselipkan syaitan pada seseorang yang menghina muslim lainnya. Seorang Muslim terhadap Muslim lain haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.

Persaudaraan di antara Mukminin

Prinsip persaudaraan di antara muslimin harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap orang agar mereka dapat mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga mengenal kedudukan diri mereka dalam al-jamaah. Orang-orang muslim yang berupaya dekat kepada Allah menjauh dari tepi jurang neraka mengikuti Rasulullah SAW termasuk dalam golongan orang-orang beriman. Mereka adalah kaum mukminin yang memperoleh cahaya iman dengan hati mereka. Bila mereka terus mencari petunjuk Allah dan mentaatinya, maka mereka akan memperoleh nikmat berupa pengetahuan tentang kedudukan mereka dalam al-jamaah dalam mengikuti Rasulullah SAW.

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًاوَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. Dan (Rasulullah SAW) menjalinkan jari-jemari kedua tangannya. (HR Muttafaq ‘alaihi).

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya laksana bangunan, satu dengan lainnya saling menguatkan. Muslimin yang terus berusaha mencari petunjuk Allah dan mengikutinya akan menemukan keadaan mengenal penciptaan diri sendiri. Dengan mengenal dirinya, mereka mengetahui fungsi dirinya bagi orang-orang lain, dan kemudian mereka mengetahui bahwa saudara-saudara mereka al-mukminin juga memperkuat fungsi dirinya dalam menunaikan kehendak Allah. Mereka itulah yang termasuk dalam golongan al-mukminin.

Bangunan yang harus dibentuk oleh jamaah al-mukminun adalah bangunan agama yang telah disempurnakan ketika Rasulullah SAW selesai diutus. Setiap orang mukmin seharusnya menemukan fungsi dirinya untuk menampilkan agamanya secara berjamaah bersama kaum almukminin lainnya, satu dengan lain berjalin berkelindan saling memperkuat kedudukan mereka. Hal demikian harus dimulai dengan mentaati prinsip persaudaraan di antara muslimin sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.

Ketika menerangkan demikian, Rasulullah SAW menjalinkan jari-jemari kedua tangannya. Fungsi satu orang mukmin terhadap mukmin yang lain sebenarnya berjalin berkelindan satu dengan yang lain, ibarat suatu kain disusun dari benang-benang yang banyak. Manakala seseorang mengenal penciptaan dirinya, orang lain dapat memperhatikan pola kain yang harus dibentuk, maka ia akan dapat mengenali pula fungsi penciptaan dirinya. Hal itu dapat dilakukan bila ia memperhatikan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk Allah dalam Alquran yang menjadi bagian dirinya. Bila ia hanya mengikuti saja orang lain tanpa mencari firman Allah, ia tidak akan menemukan nikmat Allah yang harus disyukurinya, dan dengan demikian barangkali Allah tidak akan menyusun hatinya untuk menjadi bersaudara dalam al-jamaah.

Minggu, 05 Februari 2023

Membina Persaudaraan Orang Beriman

Allah menjadikan orang-orang beriman yang bertaubat kembali kepada-Nya sebagai orang-orang yang bersaudara. Hati orang-orang beriman yang dijadikan bersaudara tersebut tersusun pada tempat-tempat tertentu sesuai dengan kehendak Allah, berada pada urusan jamaah mengikuti Rasulullah SAW. Mereka telah berhijrah dari tepi jurang neraka mengikuti Rasulullah SAW untuk dekat kepada Allah, dan Allah menunjukkan kedudukan mereka masing-masing agar dapat terus mengikuti Rasulullah SAW. Dengan keadaan demikian, mereka itu menjadi orang-orang yang benar-benar bersaudara. Mereka itulah al-mukminun yang sesungguhnya.

Mereka mengetahui arti bersaudara berdasarkan kasih sayang yang tumbuh dalam hati mereka. Dengan kasih sayang itu mereka menyayangi orang-orang lain terutama orang-orang yang beriman. Dengan rasa persaudaraan itu mereka diperintahkan Allah untuk melakukan perbaikan hubungan di antara dua saudara yang berselisih, dengan upaya di atas dasar ketakwaan kepada Allah. Upaya mengishlahkan di atas dasar ketakwaan itu akan mendatangkan rahmat Allah bagi mereka.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(QS Al-Hujuraat : 10)

Orang yang mengerti arti persaudaraan itulah yang mengetahui jalan penyusunan hati. Karena itu mereka diperintahkan untuk menyeru orang lain menuju ishlah. Orang-orang beriman yang berselisih keadaan mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam perspektif masing-masing. Jalan untuk menyusun hati-hati itu hanyalah di atas ketakwaan. Manakala seseorang tidak mengerti ketakwaan, mereka tidak akan dapat menyusun hati untuk bersaudara. Ia harus dapat mengerti kedua sudut pandang masalah saudara-saudara mereka yang berselisih secara adil. Bila seseorang terjebak untuk berpihak pada perspektif salah satu pihak yang berselisih, mereka hanya akan menambah intensitas perselisihan.

Perselisihan pada dasarnya terjadi karena ada perbedaan cara pandang terhadap objek masalah yang sama. Perselisihan tidak terjadi pada orang-orang yang berkiprah pada objek masalah yang berbeda, kecuali pada hawa nafsu orang-orang yang terhasut. Manakala kedua pihak tidak mempunyai cara pandang yang sama, potensi perselisihan itu dapat muncul. Bila salah satu atau kedua pihak tidak dapat menerima cara pandang pihak lainnya, maka terjadilah perselisihan.

Pada sebagian kasus, perselisihan terjadi bukan karena kedua pihak tidak dapat menerima cara pandang pihak lainnya, tetapi terjadi karena hasutan di antara mereka. Kadangkala ada syaitan yang menggerakkan hasutan itu, dan kadangkala ada orang-orang lain yang terhasut hawa nafsunya mencampuri urusan di antara keduanya, maka perselisihan itu terus terjadi. Ketika dua pihak yang berselisih mencapai keadaan yang sama, mengetahui dan bersepakat untuk menempuh jalan yang sama, syaitan dan orang-orang yang terhasut melakukan upaya untuk merusak ishlah di antara dua pihak yang berselisih. Dalam kasus demikian, orang-orang yang terhasut itu sebenarnya telah mengikuti langkah-langkah syaitan.

 

Penghalang Persaudaraan dan Ishlah

Penghinaan

Terkait persaudaraan dan penyelesaian perselisihan, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar persaudaraan terbentuk dengan baik dan perselisihan benar-benar dapat tuntas dan tercapai ishlah yang sepenuhnya, yaitu masalah penghinaan dan laqab keburukan, serta prasangka. Hal-hal ini dapat menjadi api dalam sekam yang menyebabkan perselisihan kembali terjadi, dan seringkali ishlah tidak benar-benar terjadi manakala hal-hal tersebut tidak diperhatikan. Tidak hanya ketika ishlah, hal-hal di atas dapat mengobarkan perselisihan tanpa perselisihan sebelumnya

Allah melarang orang-orang beriman untuk saling merendahkan. Suatu kaum laki-laki di antara orang beriman tidak boleh menganggap hina kaum laki-laki yang lain. Demikian pula suatu kaum perempuan beriman tidak boleh merendahkan kaum beriman yang lain atau menganggapnya hina. Orang beriman tidak boleh memandang tercela diri mereka dan tidak boleh memberikan predikat yang buruk di antara mereka.

﴾۱۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS Al-Hujuraat : 11)

Penghinaan merupakan perbuatan yang lahir dari kesombongan seseorang terhadap orang lainnya, perbuatan dosa yang dapat merusak hubungan antar manusia dan merusak persaudaraan di antara orang-orang beriman. Buruknya bentuk perbuatan demikian melebihi akhlak iblis, karena iblis hanya mempertanyakan kedudukan penciptaan mereka terhadap manusia tanpa perbuatan merendahkan makhluk-Nya. Dalam kebanyakan kasus, orang yang melakukan penghinaan sebenarnya tidak lebih baik dari orang yang dihina, dan dari sudut pandang agama sangat jarang kasus orang yang menghina lebih baik daripada yang dihina.

Perbuatan demikian apabila dilakukan oleh seorang beriman kepada orang beriman lain akan menyebabkan terbentuknya celah batin yang memisahkan kedua orang tersebut. Tidak ada manfaat yang diperoleh oleh seseorang dengan melakukan penghinaan kepada orang lain. Bila yang dihina dari kalangan orang yang mengikuti hawa nafsu, maka akan muncul kemarahan dan mungkin dendam yang merugikan orang yang menghina. Bila dari kalangan yang berakhlak mulia, pancaran kesombongan yang terpapar pada seseorang akan membuat ia merasa enggan untuk berdekatan dengan orang yang menghina. Hanya dampak negatif yang akan kembali kepada orang yang menghina.

Terkait dengan ishlah yang harus dilakukan di antara dua orang beriman, suatu penghinaan akan meninggalkan suatu ganjalan masalah yang menghambat terbentuknya ishlah, yang menghalangi kedua pihak untuk dapat menyatu sebagai saudara. Manakala kedua pihak telah mendekatkan celah pemisah dengan saling memaafkan, objek penghinaan yang pernah terjadi akan tetap menimbulkan suatu pertanyaan bagi masing-masing pihak terutama yang dihina. Ada perbedaan yang sangat jauh di antara kedua pihak dalam perkara objek penghinaan, dan perbedaan itu akan menjadi sumber perasaan gamang untuk bersama-sama. Hal itu menyebabkan keretakan persaudaraan di antara orang beriman.

Seringkali hal ini tidak dapat ditangani sendiri oleh kedua pihak yang berselisih, karena perbincangan ke arah objek itu tentu akan melibatkan emosi yang kuat. Orang beriman diperintahkan untuk mengishlahkan saudara seiman mereka di antaranya karena adanya masalah demikian. Tanpa masalah demikian, pengishlahan selalu perlu dilakukan di antara orang beriman yang berselisih. Dalam hal ini, pengishlahan harus dilakukan dengan memperhatikan tercapainya keselarasan pandangan kedua pihak dalam perkara objek penghinaan tersebut untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Penyelesaian masalah di antara dua pihak tanpa mengembalikan kepada jalan Allah bukanlah keberhasilan.

Prasangka

Pada tingkatan lebih rendah, prasangka merupakan batas antara dosa dan tidak berdosa yang mempengaruhi terbentuknya persaudaraan. Sebagian besar prasangka merupakan dosa, dan hanya sebagian kecil prasangka tidak merupakan dosa. Perbuatan dosa akan merusak persaudaraan di antara orang-orang beriman. Penghinaan kepada orang lain seringkali terjadi karena seseorang tidak menggembalakan prasangkanya untuk menjadi lebih baik. Demikian pula orang mencari kesalahan orang lain dan berghibah karena prasangka.

﴾۲۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujuraat : 12)

Setiap orang diberi bekal kemampuan untuk berpikir. Itu merupakan bayangan di raga dari kecerdasan yang terdapat pada nafs mereka. Kedua kecerdasan pada setiap diri tersebut harus dibina untuk dapat memahami ayat-ayat secara solid dan benar. Kemampuan seseorang untuk berpikir berdasarkan fakta yang benar akan membuat nafs mereka mempunyai kemampuan untuk memahami kebenaran, dan sebaliknya bila seseorang menyusun kerangka berpikirnya tanpa landasan fakta yang benar, maka nafs mereka juga akan tumbuh memahami kebenaran secara mengambang.

Setiap orang harus berusaha menyusun metode berpikir yang benar agar nafs mereka tumbuh berkembang. Setiap orang akan selalu menghadapi masalah prasangka dalam pikiran mereka. Dalam kehidupan, tidak mudah untuk mendapatkan seluruh fakta yang dijadikan landasan berpikir. Ketika mengetahui suatu fakta, sebenarnya seseorang hanya menemukan bagian dari fakta. Sebagian boleh jadi tidak benar manakala berbicara, maka pengakuan seseorang belum tentu merupakan fakta yang benar. Seseorang baru dikatakan benar-benar memperoleh fakta manakala menemukan fakta kauniyah selaras dengan ayat Alquran. Dengan keadaan demikian, beberapa jenis prasangka tidaklah menjadi dosa bagi seseorang untuk dijadikan landasan berpikir. Walaupun mengetahui hanya sebagian dari fakta, suatu hal yang dipikirkan oleh seseorang tidak dikatakan sebagai prasangka.

Prasangka yang membawa dosa sangat mudah ditemukan dalam hubungan sosial. Suatu prasangka yang memancing seseorang untuk bertindak mencari-cari kesalahan orang lain dan membicarakan keburukan orang lain merupakan prasangka yang membawa dosa. Seseorang tidak boleh terseret pada sikap mencari keburukan orang lain dan memancing atau terpancing ghibah terhadap orang lain. Hendaknya mereka menimbang bobot prasangka mereka dalam kebenarannya, menemukan kebaikan pada prasangka itu, dan mengetahui manfaat prasangka mereka, maka mereka mungkin dapat terhindar dari prasangka yang membawa dosa. Bila tidak menimbang kebenaran, kebaikan dan manfaatnya, sangat mudah bagi seseorang terjatuh pada prasangka yang membawa dosa.

Sebagaimana penghinaan, orang yang berprasangka dengan dosa seringkali memandang diri mereka lebih baik daripada orang-orang yang mereka prasangkai. Seringkali keburukan yang ada dalam pikiran sebenarnya merupakan keburukan sendiri, bukan benar-benar keburukan objeknya, atau setidaknya keburukan sendiri yang bercampur dengan keburukan pada objeknya. Manakala suatu pembicaraan berdasarkan prasangka diarahkan untuk menjadi cermin, orang yang berprasangka akan merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Hal itu menunjukkan bahwa prasangka yang diikutinya merupakan dosa.

Suatu prasangka dengan dosa seringkali terjadi karena kurangnya pengenalan atau kedekatan seseorang kepada orang lainnya, kemudian mengambil kesimpulan tentang sahabatnya secara tergesa-gesa. Hal ini merupakan dorongan hawa nafsu yang harus dikendalikan. Setiap orang harus dapat memahami sahabatnya dengan benar. Proses pemahaman ini akan sangat dipengaruhi dengan keadaan diri masing-masing orang. Setiap keberadaan keinginan dalam diri seseorang akan mempengaruhi proses penilaiannya terhadap orang lain, hingga kadangkala menutup pandangan dari adanya kebaikan pada sahabatnya. Orang yang bersih jiwanya akan mudah memandang orang lain dengan kebaikan. Dalam pergaulan, setiap orang hendaknya berusaha melihat kebaikan yang ada pada diri sahabatnya, dan berusaha memberikan apa yang baik bagi sahabatnya, dan berusaha untuk memahami sahabatnya tidak memberikan prasangka tentang suatu keburukan dengan tergesa-gesa tanpa suatu keinginan untuk memberikan kebaikan bagi sahabatnya.

Sebagaimana penghinaan, prasangka menjadikan persaudaraan di antara orang-orang beriman tidak terbina dengan utuh. Setiap orang beriman hendaknya menggembalakan prasangka yang ada pada diri mereka hingga prasangka mereka tidak menimbulkan dosa dan kerusakan pada persaudaraan orang-orang beriman. Salah satu pertanda benarnya perjalanan seseorang mendekat kepada Allah adalah membina persaudaraan bersama orang-orang beriman. Tanpa membina persaudaraan, seorang beriman pada dasarnya masih berada di tepi jurang neraka, belum berjalan mendekat kembali kepada Allah.