Pencarian

Kamis, 24 November 2022

Taat Pada Ketetapan Rasulullah SAW

Allah mengutus Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi semesta Alam. Dengan risalah beliau SAW, manusia memperoleh jalan untuk mengenal Allah dengan benar. Hal dapat diperoleh manusia dengan menumbuhkan nafs dalam dirinya hingga tumbuh menjadi pohon thayyibah yang memberikan buah dirinya bagi masyarakat, yaitu buah yang berasal dari khazanah yang tersimpan dalam diri. Pertumbuhan pohon thayyibah dalam diri setiap insan akan dapat terjadi dengan baik dan benar bila mereka selalu mengambil hikmah dari apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan selalu berhakim kepada beliau SAW.

Tanpa hal itu, pohon diri manusia tidak akan tumbuh untuk memberikan buah. Pada hakikatnya seseorang tidaklah memperoleh cahaya iman yang menumbuhkan nafs mereka tanpa mencari hikmah yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Ibarat benih yang tidak memperoleh cahaya matahari tidak akan tumbuh menjadi pohon yang baik, demikian pula nafs seseorang tidak akan tumbuh menjadi pohon thayyibah tanpa mencari hikmah melalui Rasulullah SAW. Beliau SAW adalah sumber pertumbuhan nafs manusia untuk menjadi pohon thayyibah yang dapat memberikan buah bagi masyarakat mereka.

Perselisihan Orang Beriman

Pertumbuhan nafs seseorang menuju terbentuknya pohon thayyibah akan memberikan sumbangsih dan warna bagi masyarakat mereka. Masyarakat akan memperoleh manfaat dari pertumbuhan nafs dalam diri seseorang. Pertumbuhan nafs seseorang akan disertai dengan terbentuknya suatu jalinan kasih sayang yang dibentuk orang tersebut menurut kehendak Allah, dan hal itu akan membentuk bagian jalinan kasih sayang di antara masyarakat bilamana jalinan itu tidak diputus-putuskan. Dan sebaliknya jalinan kasih sayang itu akan mempengaruhi pertumbuhan pohon thayyibahnya.

Akan tetapi seringkali terjadi suatu perselisihan manakala tumbuh suatu jalinan kasih sayang di antara masyarakat. Tidak semua pohon thayyibah di antara orang beriman tumbuh sesuai dengan kehendak Allah. Sebagian di antara orang-orang beriman tumbuh lurus sesuai dengan tuntunan Allah, sebagian terjebak mengikuti hawa nafsu dan sebagian mengikuti syaitan. Perbedaan yang ada tersebut menyebabkan terjadinya perselisihan walaupun mereka orang-orang beriman. Perbedaan demikian seringkali tidak bisa mencapai titik temu karena setiap kelompok mengikuti keyakinan masing-masing. Hal ini hendaknya diperhatikan oleh setiap pihak yang berselisih, bahwa mungkin saja ada selisih pertumbuhan dirinya terhadap apa yang dikehendaki Allah. Keyakinan sebagai pihak yang benar harus diukur berdasarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak hanya mengikuti keyakinan diri masing-masing.

Orang-orang yang merasa beriman akan tetapi mengabaikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk menghukumi pertumbuhan yang terjadi pada diri mereka dan jamaah mereka pada dasarnya tidaklah beriman. Keyakinan kebenaran apapun yang mereka ikuti tidaklah dapat dijadikan landasan manakala tidak mempunyai dasar sama sekali, berselisih atau bertentangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian orang berpegang pada logika mereka dalam membangun keyakinan, sebagian mengikuti hawa nafsu yang tumbuh kecerdasannya, dan sebagian orang mengikuti tipuan syaitan.

﴾۵۶﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap hal-hal yang tumbuh berkembang di antara mereka kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka mengupayakan keselamatan dengan sepenuhnya. (QS An-Nisaa’ : 65)

Ayat di atas bercerita tentang keadaan kelompok yang merasa diri mereka beriman dan menumbuhkan diri mereka berdasarkan keimanan mereka. Bahasan ayat ini tidak mencakup orang-orang yang tidak berusaha tumbuh menurut suatu keimanan. Dalam pertumbuhannya, seringkali terjadi perselisihan antara satu manusia dengan manusia lain atau suatu komunitas (jamaah) dengan komunitas yang lain. Perselisihan dalam ayat ini tidak menunjuk pada perselisihan dalam masalah umum, tetapi perselisihan terkait dengan pertumbuhan yang ada pada mereka (فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ). Perselisihan demikian merupakan bahan ujian bagi setiap pihak yang berselisih tentang keimanan yang mereka katakan. Orang-orang yang tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai hakim tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang beriman, apapun keyakinan yang mereka ikuti.

Sebagian orang-orang yang merasa beriman berbuat banyak hal dengan mengharapkan kebaikan (ihsan) dan berharap taufik, tetapi mereka berbuat hanya dengan apa-apa yang mereka pikir sendiri sebagai kebaikan tanpa mencari kebaikan dan taufik pada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, maka hal itu belum dimasukkan dalam kategori keimanan. Barangkali suatu saat mereka akan ditimpa suatu mushibah, maka mereka akan menyadari bahwa mereka tidaklah mengikuti firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya saja suatu mushibah yang menimpa barangkali akan membuat kerugian yang sangat banyak dibandingkan apabila mereka berusaha menemukan kebaikan dan taufik dengan mengikuti firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang yang mengandalkan logika dengan benar untuk memahami termasuk sebagai golongan orang yang berpikir, akan tetapi perjalanan menuju Allah tidak dapat mengandalkan pemikiran saja sepenuhnya. Banyak hal harus dibangun bersama dengan konstruk pemikiran manusia. Sebagian orang yang menggunakan pikiran mereka hanya menumbuhkan hawa nafsu hingga menjadikan diri mereka sebagai orang yang besar tanpa mengingat kebaikan Allah yang tersimpan dalam dirinya yang harus disumbangkan kepada masyarakat. Kadangkala ilmu mereka benar tetapi disertai dorongan hawa nafsu, dan kadangkala ilmu mereka terlahir dari hawa nafsu yang tumbuh cerdas namun tetap dalam kebodohan dari kehendak Allah. Orang yang mengikuti tipuan syaitan akan menjadi masalah tersendiri, karena walaupun mereka ingin mengikuti kebenaran, tetapi kebenaran yang mereka ikuti bercampur-campur dengan selipan syaitan yang membahayakan. Kebenaran itu dahulu diikuti syaitan dari alam yang tinggi tetapi diselipkan di antaranya sesuatu yang salah. Hal itu akan sangat sulit dilihat oleh manusia karena mereka hidup di alam yang rendah.

Dengan keadaan demikian, dapat dilihat bahwa orang-orang yang mengatakan dirinya beriman pada hakikatnya tidaklah beriman hingga mereka menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai hakim bagi mereka. Segala sesuatu yang tumbuh dalam diri seseorang dan yang tumbuh dalam masyarakat yang mengatakan diri mereka beriman hanya mungkin dikatakan benar bila mereka mempunyai dasar pertumbuhan mereka dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ketaatan, Berat Hati dan Berupaya

Yang dikatakan sebagai orang beriman hanyalah orang yang menerima apa yang ditetapkan Rasulullah SAW tanpa suatu keberatan dalam hati mereka, dan mereka kemudian berbuat selaras sesuai dengan ketetapan Rasulullah SAW dengan sungguh-sungguh mengerjakan apa yang dapat mereka berikan bagi ketetapan itu. Hal ini seringkali bukan hal yang mudah, karena kecenderungan manusia untuk bertindak dengan pikirannya sendiri. Kesungguh-sungguhan dalam berbuat sesuai perintah Rasulullah SAW hanya dapat diperoleh bila seseorang mengerti dengan benar apa yang menjadi urusan Rasulullah SAW bagi mereka dalam ruang dan jamannya. Orang yang tidak mempunyai pemahaman sedikitpun urusan Rasulullah SAW akan mempunyai kecenderungan untuk berbuat apa yang ada dalam pikirannya. Semakin mengerti seseorang terhadap urusan Rasulullah SAW, semakin mudah ia berbuat selaras dengan ketetapan Rasulullah SAW bagi mereka.

Misalnya dalam urusan kebangkitan islam, muslimin mungkin akan terbangkitkan hasratnya untuk membuat kajian intensif keislaman dan/atau mengupayakan terobosan-terobosan pemakmuran bumi. Hal ini merupakan implikasi yang lumrah sesuai pikiran muslimin dan manusia pada umumnya. Akan tetapi Rasulullah SAW melihat hal ini dengan cara yang berbeda karena beliau SAW melihat keseluruhan sisi masalah, dan memberikan suatu ketetapan bagi manusia yang tidak sesuai dengan pikiran muslimin umumnya. Rasulullah SAW bersabda : 'Perumpamaanku dan perumpamaan apa-apa yang Allah utus aku dengannya, adalah seperti seorang yang mendatangi suatu kaum, lalu ia berkata : Wahai kaumku sesungguhnya aku melihat pasukan musuh dengan mata kepalaku, dan sesungguhnya aku mengecam yang nyata, maka marilah menuju kepada keselamatan.

Di antara orang-orang beriman, sangat mungkin ada orang yang tumbuh dengan cara sedemikian hingga ia mengetahui hal yang disampaikan Rasulullah SAW dan memperjuangkannya dengan cara demikian atas kehendaknya sendiri pada awalnya. Ia melihat bahaya dari musuh yang akan menghancurkan menusia, ia mengecam apa yang diperbuat orang-orang lainnya dan ia menyeru umat manusia untuk menuju keselamatan. Apabila ada seseorang menyeru untuk menuju keselamatan sedangkan ia dapat menunjukkan musuh umat manusia dengan jelas, dan ia mengecam sesuatu yang nyata baginya, maka sangat mungkin ia adalah orang yang dijadikan Rasulullah SAW sebagai misal bagi diri Beliau SAW. Dalam ketetapan Rasulullah SAW, lebih penting bagi umat manusia untuk mencari keselamatan sebelum mereka memakmurkan bumi.

Kecaman itu sangat mungkin menimbulkan perselisihan, maka itu adalah contoh perselisihan karena sesuatu yang tumbuh di antara umat Rasulullah SAW ketika menumbuhkan diri mereka dalam keimanan (فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ). Barangkali kejadian demikian bisa menggambarkan keadaan dimana orang-orang yang merasa beriman merasa berat untuk mengikuti. Tentu sulit untuk menerima bahwa apa yang ada pada diri mereka dikecam oleh seseorang, sedangkan mereka memandang diri mereka bersungguh-sungguh mengupayakan suatu kebaikan (ihsan) dan taufik. Di sisi lain lain hendaknya dipahami bahwa dari sisi pengecamnya, tampak nyata baginya bahwa apa yang mereka usahakan hanya akan sia-sia sedangkan mereka tidak mengupayakan apa yang perlu dipersiapkan orang-orang beriman sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dalam perselisihan semacam ini, orang-orang yang merasa beriman hanya dapat dikatakan beriman apabila mereka menerima ketetapan Rasulullah SAW tanpa ada suatu keberatan dalam hatinya, bahwa beliau SAW menjadikan orang yang mengecam itu adalah misal bagi beliau SAW. Dalam prakteknya, hal itu akan disertai banyak hal lain yang membuat orang-orang yang merasa beriman semakin sulit menerima ketetapan Rasulullah SAW tersebut. Ketaatan mereka akan benar-benar diuji. Akan lebih mudah bila mereka menyadari bahwa ada sesuatu dalam pemahaman mereka yang telah menyelisihi tuntunan dalam urusan Rasulullah SAW, akan tetapi sadar atau tidak sadar itu adalah ketetapan Rasulullah SAW yang harus diterima.

Untuk dikatakan sebagai orang beriman, mereka tidak hanya harus menerima ketetapan Rasulullah SAW, tetapi harus pula berbuat sungguh-sungguh untuk mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan sesuai dengan apa yang diketahuinya untuk menuju keselamatan. Ketiganya merupakan satu paket yang menentukan keimanan, yaitu taat, tidak merasa berat hati, dan melakukan upaya menuju keselamatan. Menerima ketetapan Rasulullah SAW tanpa melakukan upaya keselamatan membuat ketaatannya tidak sempurna, dan mengupayakan keselamatan tanpa menerima ketetapan Rasulullah SAW akan menjadikan upayanya tanpa arah. Keadaan demikian akan dapat dilakukan bila setiap orang beriman berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami dengan benar urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Memahami hanya kilas bayangan urusan Rasulullah SAW akan menjadikan seseorang merasa faham tanpa memahami, dan tidak bisa memberikan upaya mereka selaras dengan ketetapan Rasulullah SAW.

Orang-orang yang mentaati Rasulullah SAW berarti telah mentaati Allah. Ketetapan itu sebenarnya akan menjaga keselamatan mereka. Segala sesuatu yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW berasal dari Allah yang mengetahui segenap makar yang mungkin dibuat oleh segenap makhluknya bagi yang lain, dan dengan ketaatan itu seseorang dapat menemukan jalan untuk menghindari makar yang dilakukan. Tanpa ketaatan demikian, sangat banyak makhluk jahat yang mempunyai kecerdasan, kepandaian, dan kelihaian di atas kemampuan manusia secara keseluruhan, dan mereka sangat siap untuk menipu termasuk dengan kebenaran-kebenaran yang bercampur dengan selipan dusta.

﴾۰۸﴿مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (mengikuti yang lain), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS An-Nisaa’ : 80)

Orang-orang yang tidak mentaati Rasulullah SAW hanya mengikuti ketetapan mereka sendiri atau orang yang mereka pilih sendiri, maka mereka itu menjadi tanggungan diri mereka sendiri dan tanggungan bagi orang yang mereka pilih. Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersama beliau SAW tidak mempunyai tanggungan untuk menjaga diri mereka. Mereka sendiri yang harus menjaga keselamatan diri mereka sendiri, dan hal itu tidak akan dapat dilakukan, pasti akan celaka. Barangkali manusia dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal yang mereka ketahui, akan tetapi sangat banyak hal yang di luar pengetahuan mereka.

Ketaatan kepada Allah hanya terjadi bila suatu umat taat kepada Rasulullah SAW. Tidak ada ketaatan kepada Allah dengan menyelisihi Rasulullah SAW. Iblis telah manjadi kafir manakala mereka tidak mau bersujud kepada Adam sebagai manifestasi khalifatullah pada saat itu, sedangkan khalifatullah hanya pengikut Rasulullah SAW. Maka demikian pula manusia tidak dapat dikatakan taat kepada Allah dengan melakukan hal yang bertentangan dengan ketetapan Rasulullah SAW. Ketaatan kepada Rasululullah SAW adalah ketaatan kepada Allah, dan durhaka kepada Rasulullah SAW adalah durhaka kepada Allah. Dalam derajat yang lebih rendah, durhaka pada imam merupakan kedurhakaan kepada Allah dengan batas-batas tertentu.

Kualitas Ketaatan

Ketaatan yang harus dilakukan orang-orang beriman tidaklah berarti menutup akal diri mereka, tetapi akal mereka harus dibina agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. Setiap orang yang beriman harus mengupayakan suatu ketaatan dalam bentuk ketaatan di atas pengetahuan tentang kehendak Allah, yang disebut sebagai ketaatan yang ma’ruf. Dengan ketaatan dalam kategori demikian, maka seseorang melakukan ketaatan dalam derajat ketaatan yang sesungguhnya. Dimulai dengan mengalahkan pendapatnya sendiri terhadap tuntunan Allah dan Rasulullah SAW, setiap orang harus membina akalnya agar dapat memahami apa yang sebenarnya menjadi kehendak Allah dalam semua tuntunan yang diikuti, maka ia akan berjalan menuju ketaatan yang ma’ruf.

﴾۳۵﴿ وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ قُل لَّا تُقْسِمُوا طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah: "Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang ma’ruf. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS An-Nuur : 53)

Ketaatan demikian terjadi pada tingkatan inti diri seorang manusia berupa nafs, tidak terjadi pada lapis-lapis palsu yang ada dalam diri seseorang berupa hawa nafsu. Kadang-kadang semangat yang muncul pada lapis-lapis palsu dalam diri manusia menghalangi seseorang untuk mengetahui ghirah yang ada pada tingkatan nafs. Demikian pula dalam semangat ketaatan, ketaatan yang berasal dari hawa nafsu kadangkala menghalangi seseorang untuk mengetahui makna ketaatan yang sesungguhnya berupa ketaatan yang ma’ruf.

Rasulullah SAW diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya agar tidak memperturutkan semangat ketaatan yang berasal dari hawa nafsu, tetapi hendaknya mereka mengubah ketaatan mereka menjadi ketaatan yang ma’ruf. Manakala umat islam mengucapkan sumpah-sumpah bagi Rasulullah SAW untuk pergi berjihad, hendaknya mereka tidak memperturutkan semangat itu dan hendaknya mereka memperhatikan terbentuknya ketaatan yang ma’ruf dalam diri mereka. Umat islam tidak boleh kehilangan semangat ketaatan, akan tetapi hendaknya mereka mengubah bentuk ketaatan mereka hingga menjadi ketaatan yang ma’ruf.

Umat Rasulullah SAW hendaknya tidak mengandalkan ketaatan dalam bentuk sumpah-sumpah dan tidak serta-merta membenarkan ketaatan seseorang berdasarkan cerita-cerita iktikadnya dalam menempuh agama. Ketaatan demikian merupakan bentuk ketaatan dalam tingkatan hawa nafsu, sedangkan yang dikehendaki Allah adalah ketaatan berdasarkan pengetahuan (ma’rifah). Ketaatan seseorang yang sebenarnya harus diukur dari kejelasan upayanya menunjukkan kehendak Allah ketika mengajak pada ketaatan. Demikian pula ukuran ketaatan diri sendiri hendaknya diukur berdasar pengetahuannya akan kehendak Allah.

Hal yang dilarang adalah melakukan taat tanpa mempunyai dasar pengetahuan kebaikan dan tidak membina bangunan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Ketaatan yang dilakukan hanya berdasarkan semangat hawa nafsu termasuk yang tidak diperbolehkan. Semangat ini dapat diketahui manakala mereka tidak dapat membedakan apakah keinginan dalam hatinya untuk bertindak akan melahirkan perbuatan kebaikan atau kerusakan. Hal yang dilarang ini termasuk keadaan kosong sama sekali dari pengetahuan hati tentang kebaikan yang menjadi kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha melakukan ketaatan yang ma’ruf, walaupun mungkin harus dimulai dalam derajat yang rendah.

Ketaatan yang ma’ruf adalah ketaatan berdasarkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Pengetahuan ini tidak akan diperoleh seseorang tanpa membaca ayat-ayat Allah dan menghayatinya dengan landasan jiwa yang bersih dan benar. Tujuan membaca ayat Allah adalah menanamkan nilai ma’rifah, akan tetapi ayat Allah bisa menumbuhkan kekuatan hawa nafsu seseorang manakala mereka tidak berusaha melakukan pensucian jiwa (tazkiyatun-nafs). Sikap nafs dalam membaca ayat Allah juga harus benar, yaitu menjadikan firman Allah sebagai imam yang memandu langkah memahami, tidak menjadikan firman Allah sebagai pembenaran bagi pendapat-pendapat dirinya.

Barangkali seseorang menemukan ayat-ayat yang bersesuaian dengan pemikiran yang ada pada dirinya, maka belum tentu hal itu berarti menjadikan firman Allah sebagai pembenar pendapatnya. Ketaatan yang ma’ruf terjadi dengan cara seperti fenomena demikian, yaitu terjadi keselarasan antara pemahaman dalam diri, pengamatan terhadap peristiwa pada semesta mereka, dan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Akan tetapi tetap harus berhati-hati, boleh jadi keselarasan demikian tidak selalu menunjukkan adanya ma’rifat dalam diri seseorang. Manakala ada firman Allah yang berselisih dengan pemahamannya, maka seseorang harus berusaha mengubah pemahaman dirinya untuk mengikuti firman Allah. Selisih itu bisa menjadi petunjuk apakah sikapnya terhadap firman Allah telah benar atau perlu dikoreksi kembali.



Minggu, 20 November 2022

Jalan Menuju Shirat Al-Mustaqim

Allah mengutus Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi semesta Alam. Dengan risalah beliau SAW, manusia memperoleh jalan untuk mengenal Allah dengan benar. Manusia dapat kembali kepada Allah dengan menempuh jalan mengikuti Rasulullah SAW, dan manakala seseorang bisa mengenal beliau SAW dengan musyahadah yang sebenarnya, maka seseorang akan memperoleh rahmat Allah dan mengalirkan rahmat itu bagi semesta mereka bersama-sama dengan mukminin lain dalam sebuah al-jamaah.

Menempuh jalan mengikuti Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membaca ayat-ayat yang diturunkan Allah yang menjelaskan segala sesuatu kepada umat manusia. Tanpa berusaha memahami ayat-ayat Allah yang menjelaskan sesuatu bagi umat manusia maka seseorang tidak bisa dikatakan berjalan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sekalipun mereka banyak melakukan amal-amal syariat yang dicontohkan. Sebagian golongan di antara manusia melakukan banyak syariat Allah tanpa berusaha bahkan menolak menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan Allah, maka mereka tidaklah termasuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagaimana yang mereka katakan. Allah akan menunjukkan shirat al-mustaqim bagi seseorang yang dikehendaki-Nya bila orang tersebut berusaha memahami ayat-ayat Allah yang menjelaskan. Shirat al-mustaqim adalah jalan kehidupan yang ditempuh seorang mukmin bersama-sama dengan Rasulullah SAW.

Shirat al-mustaqim akan ditunjukkan Allah kepada seseorang di antara mereka yang berusaha memahami ayat-ayat Allah agar mereka mengikuti Rasulullah SAW dengan sungguh-sungguh. Ayat-ayat Allah dan shirat al-mustaqim yang ditunjukkan kepada seseorang bertujuan agar orang tersebut menjadi bagian dari kebenaran sebagai penolong Allah dan Rasulullah SAW, tidak boleh digunakan untuk menunjukkan diri kepada orang lain dengan kepandaian, pengetahuan atau kedudukan dan lain-lain yang bersifat mengikuti hawa nafsu. Setiap orang hendaknya lebih berkeinginan untuk menjadi bagian dari penolong Rasulullah SAW. Hal ini dapat dilakukan bila seseorang mengenal kebenaran, tidak hidup dalam kepalsuan ragawi, kepalsuan alam langit. Ataupun tipuan syaitan.

Iman, Ketaatan dan Tidak Berpaling

Sebagian orang berpaling setelah mereka memahami ayat-ayat Allah dan ditunjukkan shirat al-mustaqim kepada mereka. Sebagian orang berpaling setelah mereka beriman dan berusaha mentaati Allah dan Rasulullah SAW. Mereka mengatakan bahwa mereka telah beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW dan mereka telah berusaha mentaati Allah dan Rasulullah SAW, akan tetapi kemudian dalam amalnya tidak berbuat demikian. Mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW memperturutkan diri mereka sendiri dengan berbekal pengetahuan mereka sendiri tentang ayat-ayat Allah dan shirat al-mustaqim.

﴾۷۴﴿وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذٰلِكَ وَمَا أُولٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ
Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)". Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu tidaklah bersama orang-orang yang beriman. (QS An-Nuur : 47)

Berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW untuk mengikuti pengetahuan yang diperoleh dirinya akan menjadikan seseorang terlepas dari al-jamaah. Pada dasarnya mereka tidaklah bersama dengan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang berusaha membina ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sebagian orang beriman berhasil menempuh jalan ketaatan dan sebagian orang beriman tidak berhasil akan tetapi mengetahui bahwa mereka telah melakukan ketidaktaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW sehingga timbul keinginan untuk menuju ketaatan. Sebagian orang melakukan ketidaktaatan tetapi tidak mengetahui ketidaktaatan yang dilakukannya karena mereka telah berpaling dari ketaatan itu. Manakala seseorang berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW, maka mereka telah terlepas dari keberjamaahan bersama orang-orang beriman.

Ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW harus dilakukan dengan melihat sungguh-sungguh tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak menurunkan kewalian tanpa berusaha memperoleh landasan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Makna kata يَتَوَلَّىٰ menunjuk pada arti berpaling karena mengambil wali yang lain, yaitu mengambil wali yang dianggap sebanding dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mengambil wali hingga bisa berpaling dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW kepada wali yang mereka pilih. Ini adalah langkah yang buruk.

Bila seseorang mengambil wali untuk memahami firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan ia berpegang sungguh-sungguh pada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu tidak termasuk dalam cakupan يَتَوَلَّىٰ pada ayat di atas. Justru kewalian dalam batasan ini sebenarnya sangat penting untuk dilakukan agar seseorang bisa mendekat pada seruan Rasulullah SAW. Akan tetapi bila ia tidak berpegang pada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, maka sangat mungkin ia terjatuh termasuk orang yang berpaling kepada wali yang dipilihnya.

Hal mendasar yang menjadi perhatian dalam ayat tersebut adalah mengambil perwalian secara salah. Ketaatan terhadap hukum Allah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan langkah lanjutan setelah benar cara mengambil hukum. Bila seseorang mengambil kewalian dengan cara yang salah, mereka salah secara mendasar yang akan menyeret pada kedurhakaan tidak memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang beriman harus berusaha taat kepada Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak menggantikan dengan ketaatan pada yang lain. Kadangkala mereka melakukan kesalahan yang menyalahi perintah Allah, hanya saja orang beriman akan mengetahui atau segera mengetahui ketidaktaatan mereka kepada Allah dan bersegera kembali kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW karena mereka menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai imam tidak mengangkat wali yang disetarakan.

Kadangkala hanya ada perbedaan yang sangat tipis antara ketaaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW dibandingkan dengan ketaatan kepada diri sendiri atau kelompok sendiri. Keberpalingan dari ketaatan kepada pengetahuan diri pada sebagian orang yang merasa beriman kadangkala terjadi tanpa disadari. Mereka mengira bahwa kejelasan-kejelasan yang timbul dalam dirinya seluruhnya merupakan kebenaran dari Allah tanpa memperhatikan kembali firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian kadangkala terjadi sedemikian hingga seseorang tidak mengetahui bahwa pengetahuannya telah bertentangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah, sedangkan mereka mengira mentaati Allah dan Rasulullah SAW. Manakala seseorang lebih memperturutkan kebenaran dirinya daripada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka telah berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Ciri berpalingnya seseorang dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW adalah berbaliknya sikap mereka ketika diseru untuk mengikuti tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Sikap berpaling itu tidak ditunjukkan dalam seluruh perbuatan mereka ketika diseru. Mereka mengikuti dan bersepakat dengan seruan manakala firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW bersesuaian dengan keadaan mereka. Apabila firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak sejalan dengan keadaan mereka, maka mereka berbalik pada pendapat mereka sendiri meninggalkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan demikian tidaklah menunjukkan ketaatan, dan keadaan mereka yang sebenarnya adalah berbalik dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai imam, tetapi mereka mengambil wali dengan keinginan sendiri tanpa mempunyai dasar petunjuk.

Terlepasnya seseorang dari al-jamaah dalam kasus demikian lebih menunjuk pada kualitas intrinsik yang tidak serupa dengan mukminin yang lain daripada bentuk fisik yang dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan huruf “بِا" untuk arti “bersama-sama”. Kadangkala terjadi penolakan pengakuan seorang al-mukmin terhadap orang lain karena perbedaan kualitas intrinsik yang tidak dapat dilihat orang lain kecuali setelah masa yang panjang, sedangkan bentuk luar mereka tampak serupa. Seringkali orang umum tidak bisa mengetahui atau melihat perbedaan di antara dua mukmin yang berselisih, di mana satu pihak tidak mau mengakui kebersamaan dengan yang lain.

Apa yang dilakukan al-mukmin tersebut dalam hal ini bukanlah kesombongan terhadap orang lain, akan tetapi karena pengetahuan terhadap sikap Allah yang tidak mengakui, maka ia sebagai hamba bersikap pula dengan sikap yang sama. Sebagian orang mukmin tetap bergaul bersama bersama orang-orang demikian karena berharap suatu saat dapat berjalan bersama mengikuti Rasulullah SAW. Hal ini boleh dilakukan dengan mengikuti kaidah perintah Rasulullah SAW untuk tetap dalam jamaah, sedangkan apapun hasilnya harus diterima, dua lebih baik dari satu, tiga lebih baik dari dua dan empat lebih baik dari tiga. Seorang mukmin dapat memilih salah satu dari beberapa jalan yang diperbolehkan bagi mereka.

Perbuatan yang dilakukan seseorang dengan cara mengambil wali demikian tidak dapat dipandang ringan. Seseorang yang mengambil wali dan tidak mengambil hukum Allah dan Rasulullah SAW akan mudah dimanfaatkan menjadi jalan syaitan untuk merusak orang-orang beriman. Demikianlah yang akan dilakukan syaitan. Syaitan dengan leluasa memasukkan selipan-selipan pada kebenaran yang mereka ikuti dan selipan syaitan itu kemudian dikenali sebagai kebenaran bagi mereka. Akal orang-orang beriman akan menjadi lemah manakala mereka membenarkan selipan-selipan dari syaitan, dan syaitan akan mudah mempersiapkan langkah untuk mencelakakan mereka. Alquran menegaskan bahwa mereka tidaklah bersama orang-orang yang beriman.

Mentaati Allah dan Rasulullah SAW

Orang-orang yang beriman apabila datang seruan kepada mereka kembali untuk berhukum kepada Allah dan Rasulullah SAW hanya akan mengatakan kami mendengar dan kami taat. Mereka menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai imam. Mereka menyadari bahwa diri mereka adalah makhluk yang bodoh dan seringkali mudah ditipu oleh banyak makhluk lain, sedangkan Ar-rahman berkehendak menjadikan mereka masing-masing memperoleh ilmu. Sama saja sikap mereka dalam berbagai keadaan diri, baik ketika dalam ketaatan ataupun ketidaktaatan mereka, bahwa mereka menjadikan Allah dan Rasulullah SAW sebagai hakim. Mereka mengetahui kelemahan diri mereka sebagai makhluk dengan pengetahuan yang sebenarnya, tidak hanya berupa ungkapan tentang kelemahan diri yang menghias tampilan akhlaknya.

﴾۱۵﴿إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya perkataan orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukumi di antara mereka hanyalah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nuur : 51)

Perkataan “kami mendengar dan kami mentaati” ini tidaklah dilakukan dengan menyingkirkan akal untuk memahami. Orang beriman harus benar-benar menggunakan akal untuk memperoleh pemahaman bersesuaian dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tidak menyelisihi apa yang ditetapkan Allah dan Rasulullah SAW dan menjadikannya imam. Apa yang tidak mereka pahami tetaplah mereka taati, agar kelak ia dapat memahami, sebagaimana ketaatan terhadap apa-apa yang telah mereka pahami agar bertambah kefaqihan mereka dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW.

Sebagian kaum muslimin mensikapi ayat ini dengan penekanan pada bertindak tanpa perlu menggunakan akal untuk memahami firman Allah, dan kemudian mempersulit diri dalam mengikuti contoh-contoh syariat hingga menimbulkan perdebatan dan perselisihan. Hal ini tidak tepat, karena Allah menurunkan petunjuk-Nya bagi umat manusia agar mereka dapat memahami. Sangat penting bagi setiap orang untuk mencapai ketaatan dalam kategori “ketaatan yang ma’ruf”. Tentu saja hanya sebagian kecil dari pengetahuan Allah yang dapat dipahami oleh setiap manusia. Bagian kecil dari pengetahuan Allah yang dapat dipahami oleh masing-masing itulah bagian yang harus berusaha dipahami berdasarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian besar syariat harus dilakukan setiap orang beriman dengan ittiba’ tanpa perlu mempertanya-tanyakan artinya. Dan bagian besar syariat yang harus dilakukan secara ittiba’ itu tidak boleh mempersulit diri hingga terjadi perbantahan dan perselisihan.

Di sisi lain, banyak manusia menentukan langkah kehidupannya tanpa memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadang seseorang berbuat dengan hawa nafsu untuk kepentingan mereka sendiri. Sebagian umat manusia berusaha berbuat kebaikan dengan pemikiran mereka sendiri tanpa sungguh-sungguh memperhatikan ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka tidak menemukan arah menyatukan langkah dalam al-jamaah. Orang-orang beriman hendaknya menimbang langkah kehidupan mereka berdasarkan tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga mereka menemukan kesatuan langkah mereka bersama Rasulullah SAW berupa shirat al-mustaqim. Menemukan wali yang tepat akan sangat membantu langkah seseorang dalam mencari arah kehidupan, akan tetapi setiap orang harus tetap mengutamakan perhatian terhadap firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW daripada perwalian apapun yang dipilihnya.

Kewalian yang benar merupakan perpanjangan dari cahaya yang diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW. Setiap wali menjadi perpanjangan cahaya Rasulullah dalam bidang yang menjadi urusan mereka, dan berfungsi sebagai turunan yang lebih mudah dijangkau oleh setiap orang. Satu wali mungkin saja berbeda perkataannya dengan wali yang lain dalam satu tuntunan yang sama, dan hal ini tidaklah salah selama perkataan mereka tidak bertentangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seorang yang dijadikan wali membuat perkataan yang bertentangan dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya setiap orang berpegang teguh pada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW karena boleh jadi ia mengambil wali secara keliru.

Penting bagi setiap orang untuk mencapai keadaan taat di atas kema’rufan, yaitu ketaatan di atas pengetahuan terhadap kehendak Allah. Manakala ia mentaati seseorang, ia mengetahui petunjuk tertentu dalam kitabullah yang menjadi landasan ketaatannya. Demikian pula ia tidak mengikuti orang lain manakala ia mengetahui berdasarkan petunjuk kitabullah bahwa ia akan celaka karena mengikutinya. Hal demikian termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang diberi kemampuan menentukan sendiri keputusan yang selaras dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Atau kadangkala suatu pengetahuan yang besar telah tersimpan dalam diri seseorang, dan ketika Rasulullah SAW memberikan suatu perintah maka perintah itu memicu terbitnya pengetahuan itu dan semangatnya berjihad. Itu adalah contoh ketaatan yang ma’ruf, yang harus dijadikan sasaran bagi setiap muslim dalam bersikap mendengar dan mentaati. Kalimat “ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا" harus dilakukan di atas landasan akal, tidak hanya mengikuti tanpa memahami.

Kamis, 10 November 2022

Akhlak Mukmin dan Upaya Shilaturrahmi

Allah menetapkan bagi setiap manusia untuk membina bentuk-bentuk hubungan tertentu bersama orang lain dalam bentuk hubungan yang Dia kehendaki. Bentuk hubungan yang ditentukan Allah itu akan menjadikan manusia memahami kebenaran dari sisi Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Mereka akan mempunyai kualitas kesaksian yang sungguh-sungguh terhadap kebenaran risalah Beliau SAW dan terhadap Allah. Mereka mempunyai pemahaman yang baik tentang segala sesuatu yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW, tidak hanya mengatakan tanpa ada pemahaman terhadap pernyataannya.


﴾۱۲﴿وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS Ar-Ra’du : 21)

Hubungan yang Allah tentukan itu terutama berupa terbentuknya hubungan antara seseorang kepada Allah melalui manifestasi asma Allah yang dihadirkannya sebagai Ar-rahim yang berkedudukan melekat pada ‘Arsy. Membangun hubungan kepada Allah melalui Ar-rahim ini harus dengan membina bentuk-bentuk hubungan antar manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah. Pernikahan merupakan pangkal terbentuknya hubungan yang dikehendaki Allah dan landasan tumbuhnya shilaturrahmi dalam diri seseorang kepada lingkungan sosial mereka. Melalui pernikahan, pohon thayyibah seorang laki-laki akan memperoleh ladang tempat tumbuhnya. Pertumbuhan pohon thayyibah itu akan menumbuhkan banyak bentuk-bentuk hubungan shilaturrahmi yang diperintahkan Allah untuk ditumbuhkan sehingga seseorang akan dapat tumbuh secara sosial.  

Akhlak Mukmin terhadap Mukminat

Syaitan akan selalu berusaha menghalangi terbentuknya hubungan yang diperintahkan Allah di antara manusia. Jalan utama syaitan untuk memotong-motong shilaturrahmi adalah pernikahan. Manakala syaitan bisa memperoleh jalan melalui pernikahan, mereka akan memperhatikan jalan itu tanpa melepaskannya dan tidak akan mengambil jalan lain yang lebih diutamakan, karena pernikahan itu merupakan pangkal shilaturrahmi yang diperintahkan Allah. Bahkan syaitan akan menimbulkan banyak pikiran buruk sebelum pernikahan yang dikehendaki Allah dilaksanakan oleh sepasang manusia.

Salah satu fenomena yang menghalangi upaya sepasang manusia untuk mewujudkan hubungan yang diperintahkan Allah di antara mukminin dan mukminat diterangkan Rasulullah SAW secara tersirat dalam hadits berikut :

لا يفْرَك مؤمنٌ مؤمنةً – أي: لا يُبغض ولا يكْره – إن كره منها خلقًا رضي منها آخر
Tidaklah seorang mu’min memaksa berpisah seorang mu’minat – atau tidaklah ia merasa marah dan tidaklah ia merasa benci - jika ia membenci satu akhlak maka ia akan ridha dengan akhlak yang lain.” (HR Ahmad 2/329, Muslim no.1469 dalam kitab As-shahih)

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menerangkan tentang keadaan yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin dalam hubungannya dengan seorang mukminat, yaitu bahwa ia tidak memaksa mukminat yang dekat kepadanya untuk berpisah, tidak merasa marah dengan kemarahan yang sungguh-sungguh, dan tidak membenci apa yang ada pada mukminat tersebut. Akhlak akan mempengaruhi proses terbinanya hubungan yang diperintahkan Allah. Dari sudut pandang tertentu, hadits ini merupakan teguran beliau SAW untuk memperbaiki sikap dalam hubungan antara mukmin dan mukminat. Ada banyak hal pada seorang mukminat yang dapat menjadikan diri seseorang ridha terhadap mukminat tersebut, dan sebagian rasa tidak suka hendaknya tidak menghalangi seorang mukmin untuk membina hubungan yang baik dengan seorang mukminat.

Dari kata yang digunakan, hadits ini menekankan pada keadaan hubungan antara seorang mukmin dan seorang mukminat, tidak secara khusus menunjuk pada interaksi pasangan suami dan isteri. Tidak ditunjukkan secara jelas adanya batasan suami dan isteri mukminin, sehingga dapat dilihat bahwa kasus itu mungkin pula terjadi pada hubungan mukmin dan mukminat dalam hubungan umum. Tetapi kalimat “tidak memaksa berpisah” menunjukkan adanya suatu hubungan yang erat di antara mukmin dan mukminat tersebut. Hal ini sangat mungkin menunjuk pada suatu keadaan khusus yang menunjukkan adanya ikatan tertentu antara seorang mukmin dengan seorang mukminat. Keadaan khusus itu boleh jadi adalah adanya perintah untuk membentuk hubungan yang diperintahkan Allah. Hadits tersebut tidak dibatasi kasus yang disebut dalam penjelasan di atas, tetapi bahwa kasus tersebut dapat dijelaskan oleh hadits di atas.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hendaknya seorang mukmin tidak memaksakan perpisahan terhadap seorang mukminat. Lebih lanjut Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada rasa marah (لا يُبغض ) dan tidak ada rasa benci (لا يكْره) pada mukmin tersebut terhadap sang mukminat. Rasa marah dalam terminologi tersebut menunjukkan rasa marah yang mendalam karena tidak menyukai suatu hal, dan rasa benci tersebut menunjukkan rasa tidak suka karena adanya suatu keterpaksaan. Seorang mukmin seharusnya tidak marah kepada mukminat karena rasa tidak suka terhadap sesuatu yang ada pada mukminat, dan tidak ada rasa tidak suka karena adanya suatu keterpaksaan. Mukmin tersebut harus berusaha untuk bisa menerima mukminat tanpa ada sesuatu yang menjadikannya tidak menyukai atau terpaksa menerima.

Sering terjadi seorang mukmin tidak bersikap dengan akhlak demikian. Hal itu menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Banyak faktor dapat terjadi yang menyebabkan seorang mukmin ingin memaksakan perpisahan dengan seorang mukminat karena adanya rasa marah atau rasa tidak suka. Dalam keadaan demikian, seorang mukmin hendaknya berusaha memperbaiki keadaannya agar ia dapat menghilangkan keinginan untuk memisahkan mukminat tersebut. Sangat banyak kebaikan dalam hal-hal yang menjadi perintah Allah untuk dihubungkan daripada hal-hal buruk yang menjadi beban pikirannya. Sangat mungkin hal-hal buruk yang menjadi pikiran tersebut sebenarnya merupakan waham yang timbul dalam persepsi sepihak dirinya, atau sebenarnya syaitan menghembuskan pikiran buruk itu agar keadaannya semakin buruk. Waham sepihak ataupun pikiran yang dihembuskan syaitan keduanya merupakan keburukan yang harus dihilangkan.

Memperbaiki keadaan demikian dapat ditempuh dengan membangun pengertian antara satu pihak dengan pihak yang lain. Rasa tidak suka pada pihak lain hendaknya disingkirkan terlebih dahulu dan kemudian bersikap terbuka atas kebaikan yang muncul dari mukminat tersebut tidak memandangnya berdasarkan prasangka. Bila seorang mukmin tidak menyukai satu akhlak pada mukminat yang terikat kepadanya, sangat banyak akhlak yang lain terdapat pada mukminat tersebut yang akan menjadikan dirinya senang kepadanya dan ia ridha. Pada beberapa kasus, ketidaksukaan seorang mukmin terhadap suatu akhlak pada mukminat yang dekat kepadanya sebenarnya hanya merupakan prasangka karena insiden-insiden yang terjadi secara kasuistik, bukan karena akhlak yang sebenarnya dari mukminat tersebut.

Bila ada persoalan dari kejadian-kejadian buruk yang melatari prasangka satu pihak terhadap pihak lain, hendaknya mereka bersabar. Kadangkala penjelasan tentang kejadian buruk itu akan datang secara bertahap, dan kadangkala seseorang tidak perlu lagi memikirkan persoalan kejadian tersebut. Namun selama ada penjelasan yang bisa diberikan, ada baiknya adanya suatu masalah dijelaskan oleh satu pihak kepada pihak lainnya, karena hal itu dapat menghilangkan potensi rasa keterpaksaan karena prasangka buruk yang mungkin masih tersisa. Kadangkala kebohongan dalam urusan ini mempunyai akibat yang lebih baik daripada menyisakan keterpaksaan.

Setiap pihak hendaknya menyadari bahwa syaitan seringkali berhasil menggelembungkan skala masalah melalui hembusan terhadap satu atau dua pihak, atau bahkan melalui campur tangan pihak lain. Sedemikian penting arti hubungan yang harus terbina di antara seorang mukmin dengan seorang mukminat berdasarkan perintah Allah sehingga syaitan berusaha dengan keras untuk merusak terbinanya hubungan demikian. Setiap orang harus berusaha mengikuti Rasulullah SAW dengan sebaik-baiknya, tidak mengikuti hawa nafsunya sendiri. “Tidaklah seorang mu’min memaksa berpisah seorang mu’minat”. Barangkali Rasulullah SAW menyampaikan hal itu dengan kalimat halus dalam bentuk tauladan, akan tetapi setiap mukmin harus menyadari arti penting dari perintah ini dengan akalnya.

Upaya untuk memperbaiki keadaan diri agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW akan mendapatkan banyak hambatan. Boleh jadi seseorang akan kesulitan untuk menemukan seorang perantara yang cukup baik untuk memperbaiki pemahaman di antara kedua pihak. Orang-orang yang tidak bertakwa boleh jadi akan merendahkan upayanya memperbaiki keadaan dan justru memberikan hambatan untuk membangun pemahaman sedangkan orang-orang yang bodoh hanya akan mengikuti orang-orang lain dalam mensikapi upayanya memperbaiki keadaan. Sangat banyak hambatan yang mungkin bisa muncul yang menghalangi seseorang untuk memperbaiki keadaannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, karena syaitan turut serta menghasut agar terjadi keadaan demikian. Seorang mukmin tidak boleh menyerah menghadapi hambatan. Bila suatu saat menyerah, mereka harus berusaha kembali bangkit ketika ada kesempatan bangkit untuk bersegera mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Upaya mengikuti tuntunan Rasulullah SAW akan jauh lebih mudah bila kedua pihak berusaha secara sinergis. Manakala satu pihak menolak atau tidak berkeinginan sama sekali untuk melaksanakan kehendak Allah, pihak yang lain adakalanya lebih baik memperhatikan urusan Allah yang lain yang menjadi amanah bagi dirinya. Kadangkala amanah yang lain itu menjadi pintu kembalinya urusan membina shilaturrahmi yang dikehendaki Allah. Bila tidak kembali, ia telah terlepas dari kewajiban membina satu bentuk shilaturrahmi yang dikehendaki Allah, tidak perlu menuntut pihak lain untuk memperhatikan tuntunan hadits di atas. Hadits di atas tidak mencakup sikap seorang mukminat terhadap seorang mukmin. Kadangkala satu pihak mengalami kesulitan untuk membina shilaturrahmi, maka pihak lain harus bersabar dan teguh pada urusan shilaturrahmi tersebut, tidak membuang urusan itu tanpa memperhatikannya. Bila ia membuang urusan itu, maka hal itu akan mempengaruhi pihak lain dalam membinanya.



Senin, 07 November 2022

Shilaturrahmi Dan Mahabbah

Allah menetapkan bagi setiap manusia untuk membina bentuk-bentuk hubungan tertentu bersama orang lain dalam bentuk hubungan yang Dia kehendaki. Orang-orang yang takut kepada Rabb-nya dan takut terhadap hisab yang buruk akan dapat meraba atau mengetahui bentuk-bentuk hubungan yang Allah kehendaki bagi dirinya, dan mereka akan berusaha untuk membentuk hubungan demikian agar perintah Allah tersebut terwujud dalam kehidupannya.


﴾۱۲﴿وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS Ar-Ra’du : 21)

Bentuk hubungan yang ditentukan Allah itu akan menjadikan manusia memahami kebenaran dari sisi Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Mereka akan mempunyai kualitas kesaksian yang sungguh-sungguh terhadap kebenaran risalah Beliau SAW dan terhadap Allah. Mereka mempunyai pemahaman yang baik tentang segala sesuatu yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW, tidak hanya mengatakan tanpa ada pemahaman terhadap pernyataannya.

Bentuk hubungan yang ditentukan Allah itu dikenal juga sebagai shilaturrahmi. Pada hakikatnya, bentuk hubungan itu bukan hanya untuk menghubungkan diri seseorang kepada makhluk lain, akan tetapi bentuk hubungan itu terutama adalah terbentuknya hubungan antara seseorang kepada Allah melalui manifestasi asma Allah yang dihadirkannya sebagai Ar-rahim yang berkedudukan melekat pada ‘Arsy. Membangun hubungan kepada Allah melalui Ar-rahim ini sebenarnya merupakan hal yang lebih utama bagi seseorang daripada bentuk hubungan antar manusia.

Bentuk shilaturrahmi transenden demikian tidak akan tersentuh oleh syaitan sedangkan bentuk shilaturrahmi horizontal dapat terganggu oleh makhluk yang lain. Syaitan ataupun orang lain dapat memotong-motong terbinanya hubungan horizontal yang diperintahkan Allah untuk dibina oleh seseorang, tetapi terpotong-potongnya shilaturrahmi horizontal demikian tidak memotong shilaturrahmi seseorang secara transenden. Akan terjadi ketidakseimbangan shilaturrahmi dalam diri seseorang manakala shilaturrahmi secara horizontal terpotong. Seseorang tetap dapat memahami kehendak-kehendak Allah manakala shilaturrahmi itu terpotong, akan tetapi bukti pemahamannya sulit untuk terlihat oleh orang lain. Bahkan barangkali seseorang tidak dapat melihat shilaturrahmi yang terbina dalam diri pasangannya kepada Arrahim manakala shilaturrahmi itu terpotong secara horizontal, yaitu bila terpotongnya shilaturrahmi itu mengenai pangkal dan landasan shilaturrahmi berupa pernikahan mereka.

Pernikahan merupakan pangkal shilaturrahmi dan landasan tumbuhnya shilaturrahmi dalam diri seseorang. Melalui pernikahan, pohon thayyibah seorang laki-laki akan memperoleh ladang tempat tumbuhnya. Pertumbuhan pohon thayyibah itu akan menumbuhkan banyak bentuk-bentuk hubungan shilaturrahmi yang diperintahkan Allah untuk ditumbuhkan sehingga seseorang akan dapat tumbuh secara sosial.

Pertumbuhan pohon thayyibah dan hubungan shilaturrahmi secara horizontal dalam diri seseorang akan mendatangkan rasa cinta mahabbah di antara suami, isteri dan seluruh keluarga, mendatangkan harta benda bagi mereka dan harta yang mendukung mereka untuk memberikan sumbangsih bagi masyarakat dan mewujudkan manifestasi kebaikan yang tersimpan dalam diri mereka. Pernikahan itu akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat yang terhubung dengan mereka.

إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ
Sesungguhnya silaturrahim itu (menumbuhkan) mahabbah (cinta) di dalam keluarga, menambah harta benda, dan memperpanjang jejak (al-atsar).” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi

Rasa cinta kasih (mahabbah) di antara suami dan isteri, bertambahnya harta benda dan terlahirnya jejak potensi seseorang bagi semesta mereka merupakan buah paling utama dari hubungan shiltaurrahmi horizontal yang terbina sesuai dengan kehendak Allah. Pasangan suami dan isteri mukminin hendaknya memperhatikan pertumbuhan pohon thayyibah dalam dirinya dan memperhatikan shilaturrahmi secara horizontal yang harus terbina agar memperoleh buah berupa rasa cinta (mahabbah), terhimpunnya harta dan terlahirnya amr Allah yang terkandung dalam diri mereka.

Mahabbah dan Tipuan Syaitan

Rasa cinta dalam kategori mahabbah merupakan bentuk cinta yang khusus, tumbuh pada nafs di atas sikap kasih sayang (rahim) yang ditandai dengan kepekaan hati seseorang terhadap pihak lainnya. Mahabbah merupakan bekal yang diperoleh manusia dari kehidupan di bumi untuk memperoleh kepekaan hati dalam memahami kehendak Allah. Sebagian manusia dapat memahami kehendak Allah dengan akalnya tetapi boleh jadi kepekaan terhadap ayat-ayat Allah lemah karena tidak terbangun mahabbah dalam dirinya. Orang yang terbangun dalam dirinya rasa mahabbah akan mempunyai kepekaan yang baik terhadap sesuatu yang dihadirkan Allah kepada mereka.

Mahabbah yang tumbuh pada nafs akan membuat terbinanya mahabbah secara transenden selain mahabbah horizontal. Mahabbah secara horizontal yang benar hanya terjadi pada kalangan terbatas terutama keluarga, tidak tumbuh secara acak atau sembarang. Seorang isteri yang terbina mahabbahnya terhadap laki-laki selain suaminya merupakan contoh mahabbah yang bathil. Hawa nafsu dapat meniru rasa mahabbah dalam batas tertentu secara temporer yang memunculkan kepekaannya terhadap yang dicintai. Hal ini dapat menjadi bekal membina mahabbah pada tingkatan nafs. Akan tetapi bila hawa nafsunya meniru mahabbah yang bathil, itu akan mencelakakannya maka hendaknya ia memadamkannya dan kembali kepada hawa nafsu yang lebih baik, atau ia berusaha mengenali kebenaran dengan nafsnya.

Syaitan dapat memunculkan tiruan rasa mahabbah dalam diri seseorang, baik tiruan mahabbah yang dilekatkan pada hawa nafsu dengan sihir mereka, atau tiruan mahabbah yang dilekatkan pada nafs dengan ilmu Harut dan Marut. Tiruan mahabbah yang dimunculkan syaitan mengandung banyak bahaya. Manusia akan kehilangan bagian akalnya manakala terkena hal ini. Misalnya seseorang yang tertimpa tiruan mahabbah pada tingkatan nafs berupa ilmu Harut dan Marut, ia dapat mempunyai kepekaan terhadap ayat-ayat Allah yang dihadirkan, akan tetapi ia tidak sepenuhnya mengerti kebenaran dan kesalahan yang tertangkap melalui kepekaan hatinya bahkan hingga abai terhadap syariat. Pada kedudukan yang tinggi, hal itu dapat menjadi ancaman bahaya yang besar. Hal lainnya, perempuan yang tertimpa tiruan mahabbah itu akan sulit untuk menumbuhkan secara aktif mahabbah yang benar bersama suaminya, karena tidak ada lagi entitas dalam dirinya yang lebih tinggi dari nafs untuk tempat tumbuhnya mahabbah sedangkan nafsnya telah terwarnai mahabbah yang bathil.

Membangun mahabbah dimulai dari shilaturrahmi secara horizontal. Shilaturrahmi secara horizontal dapat dipotong-potong oleh syaitan dari golongan jin dan manusia. Mereka yang memotong mendapatkan laknat Allah. Seseorang yang terpotong shilaturrahmi secara horizontal akan sulit memberikan manfaat dengan sebaik-baiknya bagi masyarakat, termasuk (manakala terpotong secara ekstrim) tidak dapat memberikan manfaat dengan baik bagi suami atau isteri mereka. Seorang suami mungkin tidak dapat memberikan apa yang dibutuhkan oleh isteri secara lahir dan bathin berupa harta dan mahabbah, dan seorang isteri sulit memahami suaminya. Hal demikian bukan karena keburukan pada suami atau isteri atau ketidakberjodohan, tetapi karena syaitan memperoleh jalan untuk memotong-motong hubungan yang harus terbina.

Jalan utama syaitan untuk memotong-motong shilaturrahmi adalah pernikahan. Manakala syaitan bisa memperoleh jalan melalui pernikahan, mereka akan memperhatikan jalan itu tanpa melepaskannya dan tidak akan mengambil jalan lain yang lebih diutamakan. Kadangkala syaitan mempersiapkan makar mereka sebelum sepasang manusia menikah. Mungkin dengan mempersiapkan keberadaan orang lain yang akan merusak pernikahan mereka atau membuat seseorang mendoakan sesuatu yang menghalangi kebaikan pernikahan mereka. Keberadaan seseorang demikian itu sangat membantu syaitan untuk membangun akses secara menyeluruh. Manakala menikah, pasangan itu dihantui syaitan melalui orang lain dengan berbagai hal yang dapat menjadikan hubungan pernikahan mereka terganggu hingga rusak, kuat diwarnai hembusan syaitan melalui penglihatan, pendengaran dan perasaan nafs masing-masing ataupun nafs mereka bersama, ataupun hembusan syaitan melalui interaksi fisik manusia, atau keduanya sekaligus.

Upaya syaitan demikian tidak perlu memperoleh perhatian secara khusus kecuali bila digunakan untuk memperhatikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak akan dapat mengimbangi makar syaitan dengan kemampuan dirinya. Bila ia terlalu memperhatikan makar itu, syaitan dapat membuat dirinya kebingungan dengan keadaan dirinya. Hendaknya mereka memperhatikan dan memperbaiki kelemahan dalam diri mereka sendiri. Jalan yang lebih selamat dari makar demikian adalah dengan kembali kepada Allah dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kadangkala terpotongnya shilaturahmi secara horizontal itu tidak menghalangi tumbuhnya shilaturrahmi secara transenden. Seseorang tetap akan memperoleh jalan untuk terhubung kepada Ar-rahim dalam keadaan shilaturrahmi secara horizontal terpotong-potong oleh syaitan. Akan tetapi ia akan sulit menunjukkannya dalam tataran sosial bahkan hingga tidak dapat menunjukkan rasa mahabbah kepada pasangannya. Ia mungkin saja dapat memahami ayat-ayat Allah baik berupa ayat-ayat kitabullah maupun ayat-ayat kauniyah, mengetahui ayat-ayat Allah itu ada dalam dirinya sendiri, tetapi mungkin saja semua itu hanya dianggap halusinasi oleh orang lain.

Tetap ada ketidakseimbangan pada diri orang yang shilaturrahminya terpotong berupa kualitas yang tumbuh tidak sempurna. Rasa cinta kasih (mahabbah), kepemilikan harta benda dan jejak sumbangsihnya bagi masyarakat (al-atsar) akan terlihat kurang. Hal itu juga terjadi pada aspek transenden, dimana rasa mahabbah dalam hubungan transenden juga terasa kurang, sedangkan ia memperoleh banyak pengetahuan. Hal itu akan terasa tidak seimbang bagi yang mengalami, ia merasa memperoleh rahmat akan tetapi tidak tumbuh mahabbah dan kepekaan bathin dalam berbagai hal, walaupun ia dapat membagikan pengetahuan bagi orang lain.

Dalam interaksi suami dan isteri, rasa mahabbah berdasarkan hawa nafsu akan semakin berkurang. Manakala shilaturrahmi dalam urusan horizontal terpotong, rasa mahabbah pada nafs mungkin terhambat pertumbuhannya. Seringkali terjadi masalah di antara suami dan isteri yang merasa tidak saling dicintai, sedangkan mereka telah berusaha dengan sebaik-baiknya bagi pasangan masing-masing. Hal ini harus disikapi dengan bijak oleh masing-masing pihak dengan membangun pikiran baik bahwa sebenarnya pasangannya telah berusaha memberikan yang terbaik. Mereka tidak boleh terbawa perasaan negatif pada hawa nafsu masing-masing.

Sikap Terhadap Mahabbah

Tidak tumbuhnya rasa mahabbah di antara pasangan tidak selalu menunjukkan seseorang kehilangan rasa sayang pada pasangannya. Rasa mahabbah merupakan rasa cinta secara khusus yang seharusnya tumbuh di atas kasih sayang, mempunyai derajat lebih tinggi dari kasih sayang (rahim). Gagalnya pasangan dalam memperoleh mahabbah tidak selalu menunjukkan hilangnya rasa sayang di antara pasangan, tetapi hanya menunjukkan tidak tumbuhnya rasa cinta yang derajat kualitasnya lebih tinggi. Salah bila menyimpulkan untuk meminta perceraian karena kegagalan tumbuhnya mahabbah, karena sangat mungkin ada rasa sayang yang besar pada pasangan yang tidak berhasil menumbuhkan mahabbah.

Sebenarnya Allah memberikan jalan keluar manakala shilaturrahmi terpotong. Misalnya pada pasangan yang tertimpa tiruan mahabbah dari syaitan pada nafs berupa ilmu Harut Marut, kadang Allah berkehendak agar mereka menumbuhkan suatu hubungan baru. Hubungan baru itu akan memunculkan mahabbah yang tumbuh dalam nafs, memunculkan sumber kekayaan harta benda, dan terwujudnya jejak sumbangsih mereka bagi masyarakat. Sumber itu akan menjadi sumber bagi semua pihak, bukan hanya bagi pelaku hubungan baru itu. Mahabbah yang tumbuh pada seorang laki-laki sangat mungkin akan menjadi mahabbah bagi semua isteri hingga tumbuh mahabbah yang sebenarnya pada setiap nafs, menghapus jejak-jejak tiruan mahabbah Harut Marut pada nafs yang pernah terkena.

Hendaknya mereka memperhatikan bersama-sama tentang hubungan shilaturrahmi yang harus dibina sesuai dengan kehendak Allah, karena hal itulah yang akan menjadi sumber kehidupan bagi mereka semuanya. Setiap orang harus bertakwa dengan memperhatikan orang lain. Ketakwaan itu adalah dengan memperhatikan apa yang dikehendaki Allah. Bila tidak bertakwa, maka jalan keluar dari Allah tidak akan memberikan berkah bagi mereka, dan syaitan akan merasa senang dengan penderitaan yang membelit. mungkin suatu pihak akan menuduh pihak lain mengikuti keinginannya sendiri, sedangkan hal itu merupakan kehendak Allah yang diketahui pihak yang dituduh. Kehendak Allah itu diturunkan untuk kebahagiaan manusia, sedangkan syaitan menghendaki agar manusia terhimpit dengan rasa tidak bersyukur.

Allah melaknat orang yang memotong-motong shilaturrahmi. Itu bisa menjadi gambaran pentingnya terbinanya shilaturrahmi sebagaimana kehendak Allah. Hendaknya hal ini menjadi bahan pertimbangan bagi setiap orang. Barangkali hanya ada perbedaan tipis antara tidak bersedia merealisasikan hubungan yang diperintahkan Allah dan memotong hubungan yang diperintahkan Allah, yaitu dalam hal hasilnya berupa tidak terjadinya hubungan yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan. Pilihan dalam hal ini bukan antara miskin atau berharta dan terpandang, tetapi merupakan pilihan apakah seseorang menginginkan menjadi hamba Allah atau tetap menghamba hawa nafsu.

Menghubungkan shilaturrahmi yang diperintahkan Allah merupakan langkah pokok yang harus ditunaikan untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Musyahadah terhadap risalah Rasulullah SAW akan diperoleh melalui jalan menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan di atas asas kasih sayang. Hendaknya setiap orang memperhatikan shilaturrahmi ini sebagai dasar membina mahabbah, menambah harta dan melahirkan jejak sumbangsih bagi masyarakat. Bila perhatian seseorang terbalik lebih memperhatikan mahabbah, menambah harta dan melahirkan jejak sumbangsih bagi masyarakat dibandingkan membina hubungan yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan di atas asas kasih sayang (shilaturrahmi), seseorang dapat tergelincir dalam langkah yang keliru untuk mencapai semua buah tersebut.

Sifat rahmah merupakan sifat Allah yang mencakup semua makhluk. Sifat inilah yang harus ditiru oleh manusia dalam rangka membina akhlak mulia dengan membina shilaturrahmi. Upaya yang penting dilakukan oleh orang-orang beriman adalah membina hubungan dengan Ar-rahiim (shilaturrahim) dengan memperhatikan segala hal yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan yang dapat diketahuinya dari makhluk yang lain. Mahabbah merupakan rizki yang dilimpahkan Allah bagi hamba yang dikehendaki. Demikian pula harta bendawi dan jejak sumbangsih seseorang merupakan rizki Allah bagi hamba. Hal demikian itu hanya Allah yang menentukan apakah Dia akan memberi atau tidak memberi. Bentuk-bentuk rezeki tersebut dapat menimbulkan stimulasi yang kuat terhadap hawa nafsu, sedangkan membina hubungan kasih sayang akan lebih murni dalam memperkuat nafs untuk memahami kehendak Allah.

Bahkan dalam masalah mahabbah, syaitan menyediakan tiruannya untuk menipu manusia. Bila seseorang membina tiruan mahabbah ini, ia akan merasa mencintai Allah tetapi sangat mungkin Allah tidak mencintainya. Mahabbah yang dikehendaki Allah berbeda dengan mahabbah yang diikutinya. Allah akan mencintai makhluk yang meniru akhlak dan amal yang dikehendaki-Nya, sedangkan orang yang mengikuti tiruan mahabbah tidak mengerti apa yang dikehendaki-Nya atau bahkan merusak pokok-pokok kehendak-Nya. Gambaran demikian itu adalah seorang perempuan yang mencintai laki-laki berakhlak mulia, tetapi yang dicintai perempuan itu adalah kekayaannya. Hal demikian tidak membuat laki-laki itu bisa mencintai perempuan yang mencintainya. Seorang dengan akhlak mulia akan mencintai pasangan yang mengerti pula akhlak mulia.

Kamis, 03 November 2022

Shilaturrahmi dan Risalah

Tujuan akhir penciptaan manusia adalah mengenal kebenaran tertinggi sebagai saksi bagi Allah. Kesaksian terhadap Allah dapat diukur dari pengenalan manusia terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Seseorang tidak dikatakan mengenal Allah tanpa mengenal makna-makna kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, karena benarnya seseorang dalam mengenal Allah hanya ditunjukkan dengan pengenalannya terhadap kebenaran risalah beliau SAW. Orang yang mengatakan dengan lisannya kesaksian terhadap risalah belum tentu benar-benar mengenal makna kebenaran risalah, akan tetapi hal itu telah mencukupi untuk dikatakan sebagai pengikut Rasulullah SAW.

Tingkat kesaksian seseorang diukur dari pemahaman akalnya tentang kebenaran risalah beliau SAW. Sebagian mukmin benar-benar melihat kesatuan kebenaran antara ayat kauniyah semesta dirinya dengan ayat-ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia menjadi saksi yang sebenarnya tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Sebagian orang yang beriman tunduk pada ajarannya, tetapi tidak berusaha memahami kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dengan akalnya melalui Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka kesaksiannya hanyalah sebatas apa yang diketahui dari kebenaran Rasulullah SAW. Mungkin ia membenarkan tetapi sebenarnya ia tidak memahami kebenarannya. Kesaksian seseorang terhadap Allah hanya diukur dari pemahamannya terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.

Landasan Memahami Kebenaran Risalah

Untuk memahami kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, ada beberapa tolok ukur yang harus diperhatikan oleh setiap manusia. Tolok ukur ini menentukan benarnya langkah setiap orang dalam mengikuti Rasulullah SAW hingga seseorang dapat memahami risalah dengan benar. Bila tidak memperhatikan tolok ukur ini, maka boleh jadi langkah seseorang sebenarnya telah menyeleweng dari jalan Allah, atau ia sebenarnya tidak memperhatikan dirinya dalam perjalanan kembali kepada Allah.

Beberapa tolok ukur itu disebutkan berikut ini.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ
﴾۱۲﴿وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
(20)(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,(21)dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS Ar-Ra’du : 20-21)

Perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ) dan perikatan (الْمِيثَاقَ) merupakan dua puncak tolok ukur perjalanan untuk memahami kebenaran risalah nabi Muhammad SAW. Tidak banyak orang yang benar-benar mengenal apa yang dimaksud dengan perjanjian Allah (عَهْدِ اللَّهِ) dan perikatan (الْمِيثَاقَ). Sebagian orang beriman mendengar dan berusaha mengenal keduanya, dan kebanyakan manusia tidak mengetahui kedua hal tersebut. Hal itu terjadi karena kedua hal itu merupakan tolok ukur puncak menjelang kebersamaan dalam Al-jamaah mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah sehingga tidak semua orang mengetahui.

Walaupun merupakan tolok ukur puncak, kedua hal tersebut bukan sesuatu yang tidak ada manifestasinya di kehidupan setiap manusia. Perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ) selalu hadir dalam setiap tahap perjalanan manusia. Dalam tahap awal perjalanan dan seterusnya, setiap orang beriman terikat dalam sebuah perjanjian untuk selalu taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya. Ketaatan ini seringkali diturunkan pula dalam wujud ketaatan pada wakil Rasulullah SAW. Seorang pemimpin yang telah disahkan menurut kitabullah merupakan wakil beliau SAW yang harus ditaati umat, dan kedurhakaan kepada orang tersebut merupakan kedurhakaan terhadap Rasulullah SAW. Hal ini harus dipahami dan diukur oleh setiap orang dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak bertaklid/membuta dalam mengikuti karena boleh jadi ada kesalahan atau kesesatan dalam langkah seseorang selain Rasulullah SAW.

Mengerti atau tidak mengerti isi perjanjian dirinya dengan Allah, setiap orang beriman harus berusaha mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW dalam setiap langkah kehidupannya, tidak melanggar apa yang telah ditetapkan baginya. Hal ini berlaku tanpa batas akhir. Ketika seseorang kemudian mengerti isi perjanjian dirinya dengan Allah, ia tetap harus menjaga ketaatannya kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW, tidak kemudian bertindak bebas dalam langkahnya dengan durhaka kepada Rasulullah SAW. Ketika seseorang bertindak secara bebas melepaskan ketaatannya kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW, maka ia telah menyimpang dari jalan Allah. Dalam beberapa hal, kedurhakaan terhadap wakil Rasulullah SAW juga termasuk menyimpang dari jalan Allah.

Demikian pula tentang perikatan (الْمِيثَاقَ), hal ini tidak hanya terjadi di alam yang tinggi pada suatu masa setelah seseorang mengenal isi perjanjian dirinya dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ). Perikatan (الْمِيثَاقَ) dari alam yang tinggi itu telah diturunkan Allah bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud-wujud yang hampir serupa dengan perjanjian di alam yang tinggi. Misalnya seorang laki-laki dan perempuan yang melakukan akad pernikahan sebenarnya telah mewujudkan sebuah perjanjian yang kokoh (مِّيثَاقًا غَلِيظًا) yang serupa dengan perjanjian para nabi dengan Allah (مِّيثَاقًا غَلِيظًا). Pernikahan merupakan representasi yang dihadirkan bagi setiap orang untuk mengenal perikatan para nabi dengan Allah dalam menolong Allah memperkenalkan asma-Nya yang Agung kepada setiap makhluk. Dengan menikah, seseorang dapat memperoleh sarana penghayatan tentang tujuan kehidupan bersama Rasulullah SAW, yaitu kembali kepada Allah dengan mendzikirkan dan meninggikan asma Allah kepada setiap makhluk.

Menghubungkan shilaturrahmi merupakan tolok ukur turunan berikutnya. Dalam makna hakiki, shilaturrahmi merupakan upaya untuk menghubungkan diri kepada Allah melalui manifestasi asma Allah yang dihadirkan bagi makhluk-Nya berupa Ar-rahim. Dalam kehidupan bumi, shilaturahmi hadir dalam wujud membentuk hubungan kasih sayang di antara manusia. Itu adalah bayangan silaturrahmi. Allah telah menghadirkan Ar-rahim di alam ciptaan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Ar-rahim berkedudukan melekat pada ‘Arsy, berada di bawahnya. Hanya asma Ar-rahman yang lebih tinggi kedudukannya daripada Ar-rahim. Bila seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Ar-rahim, maka ia akan mendapatkan hubungan washilah kepada Allah karena Allah memberikan washilah kepadanya melalui Ar-rahim. Barangsiapa memutuskan diri terhadap Ar-rahim, maka Allah memutuskan pula washilah kepadanya. Rasulullah SAW bersabda :

اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ
Ar-rahim bergantung di ‘Arsy seraya berkata: Barangsiapa yang menyambung hubungan padaku niscaya Allah menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskan aku niscaya Allah memutuskan hubungan dengannya.” (Muttafaq ‘alayh, Muslim 2555)

Yang paling mengenal Ar-rahim adalah nabi Ibrahim a.s. Beliau a.s menghadirkan bagi umat manusia tauladan dalam menyambungkan washilah kepada Ar-rahim. Barangsiapa mengikuti nabi Ibrahim a.s membangun washilah terhadap Ar-rahim maka Allah akan memberikan washilah kepada dirinya, dan barangsiapa menyelisihi nabi Ibrahim a.s dengan memotong-motong washilah terhadap Ar-rahim maka Allah akan memotong washilah kepadanya.

Millah nabi Ibrahim a.s yang paling utama adalah membangun bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah di dalamnya. Hal itu merupakan bentuk membina washilah terhadap Ar-rahim. Allah memberikan media bagi manusia untuk tujuan itu dalam kehidupan di alam bumi. Media yang melekat (atau dilekatkan) bagi setiap manusia dalam rangka membina washilah itu adalah pernikahan, yang harus diupayakan untuk menjadi bayt. Membangun washilah kepada Allah tidak dapat dilakukan semata-mata dalam dimensi transenden tetapi harus terwujud pula dalam dimensi horizontal. Demikian pula sebaliknya, pernikahan dan hubungan-hubungan horizontal lainnya harus diarahkan untuk mewujudkan washilah kepada Allah. Setiap pernikahan akan menghadirkan bagi seseorang hubungan sosial tertentu, dan hal itu harus dimanfaatkan untuk membina shilaturrahmi baik shilaturrahmi dalam wujud hubungan sosial dengan manusia lainnya maupun shilaturrahmi membina washilah terhadap Ar-rahim, keduanya saling berkaitan erat satu dengan yang lain melalui pernikahan.

Perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ), perikatan (الْمِيثَاقَ) dan shilaturrahmi merupakan hal-hal yang akan menjadikan seseorang memahami kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Hal itu akan meningkatkan kualitas kesaksian dirinya terhadap Allah. Perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ), perikatan (الْمِيثَاقَ) dan shilaturrahmi akan dikenali seseorang melalui pernikahan yang baik. Kadangkala seseorang memperoleh jodoh yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama dengan dirinya, maka ia akan memperoleh media yang baik untuk memahami perjanjian Allah (عَهْدِ اللَّهِ), perikatan (الْمِيثَاقَ) dan bentuk shilaturrahmi yang harus dibinanya itu melalui jodohnya. Boleh jadi seseorang memperoleh petunjuk tentang jodoh, maka hal itu termasuk petunjuk yang besar karena terkait dengan setengah bagian agama dirinya.

Dalam beberapa hal, mengingkari atau menolak bentuk perjodohan demikian merupakan sikap kufur terhadap nikmat Allah yang dapat menjatuhkan seseorang ke neraka. Sebagian orang menolak perjodohan demikian karena keadaan nafs-nya kufur sebab pengaruh hawa nafsu yang belum mampu bersyukur terhadap nikmat Allah. Sebagian orang menolak karena belum mempunyai kemampuan menanggung perilaku dan tindakan pasangannya terhadap dirinya. Hal ini kadang menjadi penyebab yang lebih berat karena seseorang tidak menemukan kekurangan yang harus diperbaiki dalam dirinya, tetapi melihat kekurangan itu pada pihak lain. Dan banyak hal lain yang mungkin menyebabkan penolakan. Beberapa orang tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, akan tetapi bila nafs-nya cukup baik maka pada akhirnya ia akan menerima petunjuk itu dengan rasa syukur.

Setiap orang harus bersyukur atau mencapai keadaan bersyukur. Bila kufur, ia harus mengubah dirinya dari sikap kufur menuju syukur. Mengubah sikap nafs dari kufur menuju syukur ini kadangkala membutuhkan upaya yang besar dan berat, terutama bila suatu dosa terjadi di antara dua pihak. Dosa itu akan membebani langkah. Semakin banyak dosa terjadi di antara dua pihak, semakin berat upaya yang harus dilakukan untuk mengubahnya. Dalam hal ini, syaitan akan berupaya agar terjadi banyak dosa antara satu pihak dengan pihak yang lain. Setiap orang harus berusaha menahan diri berbuat dosa terhadap yang lain.

Membina shilaturrahmi dalam hubungan yang sesuai dengan kehendak Allah akan terwujud dari sikap takut (khasyah) terhadap Allah dan takut (khauf) terhadap hisab yang buruk. Orang yang takut kepada Allah dan hisab yang buruk akan membina hubungan shilaturrahmi sesuai dengan kehendak Allah, sedangkan orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah dan terhadap hisab yang buruk akan membina hubungan tanpa dasar kehendak Allah, atau sebagian orang mungkin membina hubungan hanya untuk keuntungan saja. Pada dasarnya membina hubungan yang baik dengan setiap orang merupakan kebaikan, akan tetapi ada bentuk-bentuk hubungan dikehendaki Allah, dan ada yang sebenarnya terlahir lebih merupakan wujud representasi kepentingan diri seseorang daripada kepentingan membina washilah kepada Ar-rahim. Orang yang takut kepada Allah dan hisab yang buruk akan memperhatikan pembinaan washilah kepada Ar-rahim. Hanya dengan jalan membina hubungan sesuai dengan kehendak Allah inilah manusia akan memperoleh kedudukan sesuai jati dirinya.

Memperbaiki Shilaturrahmi

Perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ), perikatan (الْمِيثَاقَ) dan shilaturrahmi merupakan puncak-puncak tolok ukur kebersamaan seseorang dengan Rasulullah SAW dalam Al-jamaah. Orang yang berhasil memahami dan menjalani ketiga hal itu menunjukkan tingkat kebersamaan dirinya dalam al-jamaah mengikuti langkah perjalanan Rasulullah SAW. Orang yang tidak peduli terhadap hal-hal tersebut menunjukkan ketidakpedulian terhadap keadaan dirinya terhadap al-jamaah.

Sebagian orang merasa peduli dengan tolok ukur perjalanannya mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi mereka kemudian mendapat laknat Allah karena melakukan hal yang berkebalikan dengan millah Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka merusak perjanjian Allah setelah terjadi perikatan (الْمِيثَاقَ) baginya untuk menunaikan perjanjian itu, dan mereka memotong-motong apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya, dan melakukan kerusakan di muka bumi.

﴾۵۲﴿وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
Dan orang-orang yang merusak janji Allah setelah perikatannya, dan memotong apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).(QS Ar-Ra’du : 25)

Sebagian orang beriman sampai pada keadaan mengenal perjanjian Allah bagi dirinya dan kemudian diberi perikatan untuk melaksanakan perjanjian Allah. Akan tetapi ia melakukan kerusakan dalam melaksanakan perjanjian Allah setelah perikatan terjadi karena kurang memahami kehendak Allah. Mereka itulah orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah perikatannya.

Hal ini terkait dengan kualitas akal dalam memahami kehendak Allah ketika perikatan itu terjadi. Perjanjian Allah, perikatan dan washilah terhadap Ar-rahim harus dipahami secara benar tidak dipahami dengan campuran hawa nafsu. Hawa nafsu pada dasarnya tetaplah menginginkan suatu kedudukan walaupun hal itu terjadi melalui pengetahuan tentang perjanjian Allah dan perikatan, sedangkan Allah menghendaki manusia mengenal kasih sayang dari sisi-Nya secara murni. Perjanjian Allah dan perikatan itu merupakan parameter puncak perjalanan yang membutuhkan akal yang baik. Bila akal tidak merasakan campuran hawa nafsu dalam pemahamannya, maka hawa nafsu itu akan merusak pelaksanaan perjanjian Allah. Mereka akan merusak perjanjian Allah setelah perikatannya.

Kerusakan ini akan tampak bersamaan dengan perbuatannya yang lain yang merupakan turunannya. Hubungan shilaturrahmi akan terpotong-potong karena perbuatannya, bahkan mungkin hingga terjadi kerusakan fondasi bagi manusia dalam membangun bayt. Pembinaan pernikahan mewujudkan bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah merupakan bentuk pembinaan shilaturrahmi paling esensial. Bila millah Ibrahim a.s membangun bayt telah dirusak, maka perjalanan manusia dalam mengenal perjanjian dengan Allah (عَهْدِ اللَّهِ) dan perikatan (الْمِيثَاقَ) akan menjadi kacau balau. Manusia akan kehilangan jalan untuk memahami kehendak Allah dengan benar sekalipun bila terminologi-terminologi terkait hal itu menjadi kajian sehari-hari.

Terpotong-potongnya shilaturrahmi dalam kasus demikian dapat terjadi secara umum tidak hanya mengenai pribadi perseorangan. Orang-orang yang benar dalam mengikuti millah Ibrahim a.s membina bayt mungkin saja ikut terpotong-potong pula hubungan al-arhamnya karena kesalahan yang demikian. Tidak hanya shilaturrahmi yang terpotong, bisa jadi suatu pernikahan akan berkurang fungsi shilaturrahminya secara sosial dengan cara tertentu karena sunnah yang dilakukan secara berbeda dengan sunnah Rasulullah SAW. Karena hal ini, akan terjadi kerusakan di muka bumi. Setiap orang harus berusaha mengikuti millah Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW sepenuhnyab agar millah dan sunnah itu berfungsi secara sempurna, tidak melakukan dengan cara tersendiri.

Setiap manusia pada dasarnya mendapat perintah Allah untuk membina bentuk-bentuk hubungan tertentu sebagai kehendak-Nya, yang akan diketahui bila ia tidak sepenuhnya memperturutkan hawa nafsu. Perjodohan dan pernikahan merupakan bentuk pokok hubungan yang diperintahkan Allah. Beberapa orang memperoleh petunjuk tentang jodoh secara haq dan berpasangan, maka itu termasuk dalam hubungan yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan. Demikian pula pernikahan merupakan bentuk hubungan yang diperintahkan Allah. Banyak bentuk hubungan lain antar manusia yang merupakan hubungan yang diperintahkan Allah, dan pernikahan akan mengawali pertumbuhan bentuk hubungan lain tersebut.

Terpotongnya hubungan yang diperintahkan Allah akan mendatangkan laknat Allah. Merusak pernikahan orang lain merupakan contoh bentuk perbuatan merusak hubungan yang diperintahkan Allah untuk disambungkan. Memisahkan pasangan yang memperoleh petunjuk perjodohan secara haq tanpa melanggar syariat merupakan bentuk perbuatan merusak hubungan yang diperintahkan Allah. Perbuatan demikian dapat mendatangkan laknat Allah yang membuat seseorang celaka dan mendapatkan kehidupan akhirat yang buruk.

Setiap orang harus berusaha kembali bertaubat dengan arah yang benar mengikuti millah Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat penting mengembalikan hubungan-hubungan yang harus terbina sesuai dengan kehendak Allah manakala hubungan itu dirusak. Membiarkan kerusakan atau melanjutkan tindakan merusak hubungan yang harus terbina sesuai dengan kehendak Allah merupakan tindakan mengikuti syaitan yang akan mendatangkan laknat. Shilaturrahmi termasuk dalam puncak tolok ukur perjalanan mengikuti millah Ibrahim a.s yang harus diperhatikan lebih daripada yang lain, termasuk daripada amal-amal yang harus dilakukan. Baiknya shilaturrahmi akan akan memberikan bobot sangat besar terhadap amal shalih seseorang karena pemahaman terhadap kehendak Allah yang terkandung dalam shilaturrahmi. Sebaliknya rusaknya shilaturrahmi akan menghilangkan bobot amal shalih yang dilakukan karena rusaknya pemahaman terhadap kehendak Allah.

Setiap orang harus berupaya membina shilaturrahmi, karena shilaturrahmi akan terbangun bila setiap pihak berupaya dan menyambut dengan cara pandang yang sama. Seseorang mungkin saja berkeinginan membina hubungan sesuai perintah Allah akan tetapi bila sahabatnya tidak menyambut atau mempunyai waham berbeda, maka tidak terbentuk silaturrahmi secara horizontal. Setiap manusia akan berhadapan dengan hawa nafsu dan syaitan yang akan menghalanginya membina hubungan sesuai dengan kehendak Allah. Memperturutkan hawa nafsu akan menghalangi terbentuknya shilaturrahmi, dan syaitan akan menghembus-hembus hawa nafsu untuk mencegah terbinanya hubungan yang sesuai dengan kehendak Allah. Orang-orang yang mendorong atau memfasilitasi orang lain untuk memperturutkan hawa nafsu mencegah terjadinya bentuk-bentuk hubungan sesuai kehendak Allah sebenarnya telah membantu syaitan. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang memotong-motong shilaturrahmi yang dikehendaki Allah.