Pencarian

Minggu, 21 Agustus 2022

Takwa Yang Sebenarnya (Haqqa Taqwa)

Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk memperbaiki hubungan (ishlah) di antara mereka. Ishlah paling utama dilakukan di antara kaum mukminin adalah untuk menyatukan langkah dalam melaksanakan urusan Allah. Perintah ishlah di antara kaum mukminin tidak hanya dibatasi pada bentuk-bentuk pertikaian, akan tetapi juga dalam membangun persaudaraan dalam amr Allah. Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara, dan persaudaraan itu hendaknya dibina dengan kuat melalui ishlah di antara satu mukmin dengan mukmin yang lain dalam melaksankan perintah Allah berupa amr jami’ yang menjadi amanah Rasulullah SAW.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujuraat : 10).

Membangun persaudaraan di antara kaum mukminin harus dilandasi sebuah sikap takwa. Dengan sikap takwa maka kaum mukminin akan memperoleh rahmat Allah yang dijanjikan bagi mereka. Sikap takwa akan menjadikan seorang dan setiap mukmin dapat berjalan lurus dengan langkah yang kokoh untuk memperoleh rahmat Allah.

Tidak mudah untuk membuat batasan tentang takwa. Terminologi takwa berasal dari firman Allah kepada Rasulullah SAW, bukan kata yang berasal dari lisan orang-orang Arab. Bahkan di antara para sahabat seringkali terjadi pertanyaan tentang terminologi takwa agar diperoleh pemahaman yang lebih baik bagi diri mereka sendiri. Di kisahkan bahwa Umar bin Khatthab r.a pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay bin Ka’ab r.a menjawab, ”Pernahkan Anda melewati jalan yang penuh dengan duri?” Umar ibn Khattab r.a menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang Anda lakukan?” Umar menjawab, “Aku singsingkan lengan bajuku dan berhati-hati dalam melewatinya.”

Dari sisi lisan bahasa Arab, makna yang paling mendekati kata taqwa adalah “dengan penuh kekuatan, menambah kekuatan” (تَقَوّى). Terkait dengan perjalanan kembali kepada Allah yang digambarkan dalam berbagai ayat dalam Alquran, perintah taqwa kepada Allah memberi gambaran tentang suatu perintah untuk menambah kekuatan dalam berpegang pada kehendak Allah. Setiap mukmin diperintahkan agar berpegang pada kehendak Allah dalam berjalan kembali kepada Allah dengan kekuatan penuh dan menambah kekuatannya. Dengan ketakwaan, seseorang akan memperoleh sarana membina hubungan transenden dengan rabb-nya.

Ketakwaan dapat terwujud dalam setiap lapis keadaan dalam perjalanan kepada Allah. Seseorang dapat bertakwa pada tingkatan nafs dengan qalbnya atau lubb, dan dapat bertakwa pada tingkatan lahiriah. Keseluruhan ketakwaan itu harus terbangun pada diri seseorang, dari ketakwaan tingkat lahiriah hingga ketakwaan qalb yang tertinggi secara simetris. Dengan ketakwaan pada seluruh lapisan keadaannya maka seseorang akan memperoleh ketakwaan yang sesungguhnya (Haqqa Taqwa).

Pondasi bagi Ketakwaan yang Haqq

Pondasi ketakwaan terdapat pada lapis alam dunia. Ketakwaan di setiap lapisan dapat dibangun dengan baik bila ketakwaan di lapis kehidupan dunia dibangun. Seseorang mungkin diijinkan untuk dapat membangun ketakwaan pada lapisan qalb mereka, tetapi bila tidak disertai dengan membangun ketakwaan pada lapis dunia, maka ketakwaan itu dapat melenceng dan menyesatkannya. Ketakwaan pada lapis dunia adalah berpegang pada nash yang tertulis dalam Alquran. Sebagian kaum mukminin akan ditanggalkan pakaian ketakwaannya di akhirat kelak karena ketakwaan yang tidak terbangun hingga alam duniawi, sedangkan mereka membangun ketakwaan pada lapisan qalb yang tinggi di dunia. Ketakwaan pada lapis duniawi akan menentukan kekuatan ketakwaan yang sesungguhnya (haqqa tuqootihi) di seluruh lapisan kehidupan.

Untuk membangun ketakwaan yang sesungguhnya (haqqa tuqootihi), setiap orang harus berpegang teguh pada tali yang diturunkan Allah hingga alam duniawi. Tidak boleh seorang mukmin membangun hubungan kepada Allah tanpa disertai memperhatikan sarana yang diturunkan Allah hingga alam dunia sebagai washilah. Allah telah menurunkan seluruh fasilitas meraih ketakwaan pada segenap ufuk hingga mencapai alam duniawi. Alquran dapat dibaca oleh makhluk di alam bumi, dan mempunyai makna pada setiap lapisan alam hingga mencapai sisi Allah SWT. Hendaknya setiap manusia berpegang teguh pada tali Allah untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya.

﴾۳۰۱﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran : 103)

Alquran itu merupakan tali Allah yang diturunkan sebagai salah satu washilah agar manusia memperoleh jalan untuk bertakwa di setiap lapis keadaan mereka. Selain Alquran, Allah mengutus Rasulullah SAW sebagai makhluk yang dapat memahami seluruh kandungan Alquran dan sebagai pemimpin bagi seluruh makhluk. Tanpa memperhatikan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang tidak akan memperoleh ketakwaan, dan menentang Alquran akan mendatangkan kecelakaan bagi orang yang menentangnya.

Setiap orang harus berpegang teguh dengan kitabullah dengan akalnya. Ia harus membentuk akalnya dalam citra kitabullah tidak meleset darinya karena mengikuti yang lain. Kadangkala kerusakan ketakwaan manusia datang melalui fitnah-fitnah kemunkaran yang kecil dan manusia tidak mengingkarinya, dan kemunkaran-kemunkaran itu akhirnya menjadikan mereka mempunyai hati yang hitam. Ia menjadi tidak mengenali kebenaran dan tidak mengingkari kemunkaran, tetapi hanya mengenali apa yang disampaikan kepada mereka berdasarkan hawa nafsu mereka. Rasulullah SAW bersabda :

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah itu akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, satu serat satu serat. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka satu noda hitam tertempel dalam hatinya. Dan hati mana saja yang tidak menerimanya, akan tertitiklah pada hati itu satu titik putih, sehingga, jadilah hati itu dua macam; putih seperti batu pualam, sehingga fitnah apapun tidak akan membahayakannya selama ada langit dan bumi, sementara hati lainnya berwarna hitam legam, seperti teko terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran, tetapi hanya mengenali apa-apa yang diserap hawa nafsunya. [HR Muslim no. 144]

Bila seseorang tidak membentuk hatinya untuk mengenali kebaikan dan membenci kemunkaran berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka akan menjadi orang-orang yang hatinya seperti teko terbalik. Mereka mengenali kebaikan dari apa yang dikatakan oleh orang lain sebagai kebaikan, dan mengenali kemunkaran dari apa yang dikatakan oleh orang lain sebagai kemunkaran. Mereka tetap mengikuti perkataan orang lain itu walaupun perkataan itu terbalik-balik dari realitasnya layaknya fitnah. Mereka tidak mengenali kebenaran dan kemunkaran dengan hatinya berdasarkan kitabullah. Dengan keadaan demikian, tidak akan ada jalan ketakwaan bagi mereka.

Ketakwaan palsu merupakan salah satu jenis fitnah yang terbentuk dengan cara demikian. Manusia mengira sebuah ketakwaan sedangkan sebenarnya tidaklah demikian. Apa yang tampak sebagai ketakwaan demikian sebenarnya ketakwaan yang tidak berakar pada realitas tetapi melayang pada prasangka. Orang-orang yang mengikuti ketakwaan palsu akan mempunyai hati sebagaimana teko yang terbalik, tidak menyimpan pengetahuan kecuali hanya kata-katanya, dan pengetahuan (yang benar) tertumpah kembali keluar dari teko itu ketika kata-kata itu telah berlalu. Tidak terbentuk timbangan kebaikan dan kemunkaran dalam diri seseorang, hingga mereka tidak dapat menimbang kebaikan dan kemunkaran dengan akal mereka. Mereka mengenal kebaikan dan mengingkari kemunkaran berdasarkan perkataan yang  mereka ikuti tanpa timbangan dalam dirinya dan mengira semua perkataan itu benar tanpa mempunyai timbangan pengetahuan realitasnya.

Ketakwaan dan Persaudaraan

Ketakwaan yang benar mempunyai akar di semesta berupa persaudaraan. Ishlah di antara kaum mukminin menjadi dasar pembentukan persaudaraan yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang beriman. Tanpa membangun ishlah di antara orang-orang beriman, tidak akan terbentuk persaudaraan dan ketakwaan yang sesungguhnya. Merusak ishlah di antara dua orang mukmin yang menginginkan ishlah berimplikasi merusak akar persaudaraan dan ketakwaan. Dalam perkara demikian, hati orang yang bertakwa akan mempunyai sikap setidaknya merasakan kesegaran bersemainya akar takwa dari ishlah yang akan terjadi dan merasakan bahaya merusakkannya. Hatinya tidak merasa netral atau justru menentang terjadinya ishlah kecuali ada pengetahuan yang kuat tentang tipu daya syaitan. Lebih dari itu, ada pengetahuan yang besar dari setiap syariat dan hukum yang ditempuh oleh setiap mukmin. Setiap orang beriman harus membangun ketakwaan yang berkait erat dengan persaudaraan di antara mereka. Persaudaraan dan ketakwaan ini harus dibangun di atas landasan kitabullah, karena banyak hal palsu yang sebenarnya mendatangkan keburukan ketika suatu tujuan dicapai tanpa berpegang pada kitabullah.

Orang yang tidak berpegang pada kitabullah akan celaka. Gejala kecelakaan itu akan muncul terlebih dahulu, yaitu bercerai berai (tafarruq) dalam firqah yang saling bertentangan, dan bermusuh-musuhan. Bercerai-berai (tafarruq) merupakan bentuk lebih lanjut dari perselisihan (ikhtilaf), di mana suatu perselisihan telah memunculkan kelompok-kelompok yang saling menyalahkan pihak lain. Perselisihan merupakan hal yang biasa terjadi pada kaum mukminin yang belum memperoleh nikmat Allah karena pemahaman yang berbeda-beda. Bila tidak bertaubat, perselisihan dapat berlanjut menjadi bercerai-berai (tafarruq). Tanpa berpegang pada kitabullah, orang yang beriman tidak akan dapat menyatukan hati. Penyatuan hati akan mungkin terjadi bila setiap mukmin berpegang pada kitabullah menggunakan akalnya.

Ketakwaan yang sesungguhnya berkaitan dengan terbentuknya persaudaraan, dan terkait dengan amanah dalam kitabullah. Penyangkalan terhadap suatu ayat dalam kitabullah merupakan hambatan yang sangat besar dalam membentuk persaudaraan dan ketakwaan yang sesungguhnya. Demikian pula pelanggaran dan dosa terhadap ayat kitabullah menjadi hambatan besar berikutnya. Orang beriman mungkin terjatuh dalam perbuatan dosa, tetapi tidak akan menyangkal, berargumen, beralibi atau berkelit terhadap kebenaran kitabullah. Dosa terhadap kitabullah yang paling utama adalah menyangkalnya dan menyusun argumen yang berlainan dari kitabullah. Hal ini akan menyebabkan seseorang terlepas dari tuntunan kitabullah. Dosa seseorang berikutnya berupa melanggar amr terkait kitabullah yang telah diketahui. Persaudaraan yang mengantar pada ketakwaan sesungguhnya hanya terbangun di atas amr yang terkait kitabullah, tidak dapat terbentuk pada hal yang lain.

Penyatuan hati yang sebenarnya akan terjadi manakala seorang mukmin mengenal amr jami’ yang merupakan amanah Rasulullah SAW. Orang yang mengenal amr tersebut dan menjalankan peran dirinya adalah orang-orang yang memperoleh fadhilah Allah dan memperoleh nikmat Allah. Orang yang memperoleh nikmat Allah itulah yang akan berproses menjadi bersaudara karena nikmat Allah. Bila mukmin tidak memperoleh nikmat Allah, maka akan ditemukan adanya perselisihan baik dalam pengetahuan ataupun dalam amal yang dikerjakan. Orang yang memperoleh nikmat cenderung akan bersepakat dengan saudaranya walaupun mempunyai bentuk ilmu dan amal yang berbeda. Mereka berjalan dengan serasi sesuai dengan nikmat yang mereka peroleh tanpa membuat perselisihan.

Allah menurunkan wahana ketakwaan hingga mencapai kehidupan di bumi, menyentuh kehidupan setiap manusia dalam hubungan semi-vertikal transenden. Rasulullah SAW adalah imam bagi setiap laki-laki yang menjadi sarana ketaatan setiap orang kepada Allah. Setiap orang terhubung kepada Rasulullah SAW melalui para imam mereka, maka para imam mereka merupakan perpanjangan dari Rasulullah SAW. Ketika seseorang berusaha taat kepada Allah, maka mereka harus mentaati Rasulullah SAW. Bila akan mentaati Rasulullah SAW, maka mereka harus mentaati imam mereka selama tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa wahana turunan itu, tidak ada ketakwaan terbangun dalam diri seseorang. Persaudaraan dan ketakwaan yang sesungguhnya terdapat dalam jaring-jaring washilah hubungan semi-transenden ini.

Fragmen fraktal ketakwaan yang paling menyentuh kehidupan setiap manusia adalah pernikahan. Pernikahan akan membangun ketakwaan setiap insan secara utuh pada jiwa dan raga. Setiap orang akan memperoleh wahana untuk mengerti tuntunan Allah dalam kehidupan di alam raga hingga alam nafs masing-masing. Pernikahan menjadikan setiap manusia terlibat intensif secara jiwa dan raga membangun pemahaman terhadap kehendak Allah. Dengan wahana itu, seseorang dapat membangun ketakwaan secara paripurna, tumbuh dengan baik dalam kehidupan baik secara ragawi maupun tumbuh qalb mereka, terbangun ketakwaan di lapis alam dunia dan bertakwa pula di alam nafs hingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah.

Hubungan semi-vertikal transenden yang membentuk jaring washilah tergambar pula dalam pernikahan. Seorang suami adalah wahana ketakwaan seorang isteri yang menjadi wakil dari rabb sebagai objek bagi isterinya. Tanpa mentaati suami, seorang isteri tidak dapat memperoleh ketakwaan yang sebenarnya. Sebaliknya juga demikian, tanpa berusaha menuntun isterinya kepada Allah berdasarkan kitabullah, seorang laki-laki tidak memperoleh ketakwaan yang sebenarnya.

Mencederai prinsip semi-vertikal transenden yang tergambar dalam pernikahan akan mendatangkan kerusakan bangunan ketakwaan. Mungkin seorang perempuan dapat membangun ketakwaan pada tingkatan nafs mereka hingga dapat memperoleh sarana hubungan transenden dengan rabb-nya, atau memperoleh pengetahuan berbagai hal duniawi dari alam yang tinggi, akan tetapi bila ia meninggalkan suaminya, kelak di akhirat pakaian ketakwaan itu akan ditanggalkan. Demikian pula bila seorang laki-laki bertindak tanpa berpegang pada kitabullah dalam hubungan semi transenden tersebut, ia mungkin memperoleh sarana hubungan dengan rabb-nya melalui hatinya, akan tetapi kelak akan ditanggalkan pakaian ketakwaan itu dari dirinya. Sebenarnya hasil hubungan transendennya pun tidak sepenuhnya lurus bila ia memperhatikannya karena adanya ketakwaan palsu. Allah memberikan kepadanya petunjuk dengan kualitas sebagaimana sikapnya yang tidak konsisten dalam mengikuti Alquran. Keberpakaian palsu demikian terutama dapat terbentuk bila terdapat hal yang keliru dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Jalan membangun ketakwaan seutuhnya ini menjadi sasaran utama yang dirusak oleh syaitan jajaran tertinggi mereka. Seseorang akan disesatkan dari ketakwaannya manakala bisa disesatkan, dan dirusak jalan ketakwaan seutuhnya bila seseorang berjalan dengan lurus menuju ketakwaan sebenarnya. Kadangkala ditemukan orang yang telah membangun takwa di nafs mereka tetapi amal dan keadaannya di alam mulkiyah bertentangan dengan Alquran, kadang ditemukan orang yang diberi kemampuan membangun jalan ketakwaannya (hanya) pada lapis duniawi, tetapi sebenarnya ia telah membangun takwa karena jalannya yang seutuhnya telah dirusak syaitan. Perjuangan pasangan menikah untuk mewujudkan ketakwaan seutuhnya ini akan menghadapi upaya syaitan yang sangat banyak dari kalangan syaitan yang tertinggi mereka.

Kamis, 18 Agustus 2022

Mengishlahkan Kaum Mukminin

Setiap orang beriman harus berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Hal itu akan mengantarkan kaum mukminin pada pengenalan kepada Allah dan menjadi saksi yang sebenarnya bagi Allah. Perjalanan itu akan menjadikan umat manusia menemukan kesatuan dalam amr jami’ Rasulullah SAW dalam keragaman yang ada pada diri mereka.

Akan tetapi proses kesatuan itu tidak serta merta terwujud di antara kaum mukminin. Ketika seseorang memulai langkah mengikuti Rasulullah SAW, mukminin berada pada keragaman pola pikir di antara mereka dan pengetahuan kebenaran mungkin relatif tidak banyak. Keterbatasan pengetahuan seringkali mengurung seseorang dalam paradigma yang terbatas pula. Kadang seseorang yang baru memperoleh pengetahuan merasa telah mengenal seluruh kebenaran. Selain hal itu, kadangkala beberapa pihak tertimpa kesesatan dalam langkah mereka mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hal-hal demikian seringkali mengakibatkan perselisihan dan bahkan pertikaian di antara kaum mukminin.

﴾۹﴿وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Dan kalau ada dua golongan dari orang beriman berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya. Bila salah satu melakukan bughat terhadap yang lain, hendaklah kamu perangi pihak yang melakukan bughat sampai mereka kembali pada amr Allah. Kalau dia telah kembali, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku setimbang; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku setimbang. (QS Al-Hujuraat : 9)

Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk mengishlahkan pihak-pihak yang bertikai di antara kaum mukminin. Kaum mukminin tidak boleh abai terhadap perselisihan dan pertikaian yang terjadi di antara mereka. Ada sebuah dasar yang harus diperhatikan oleh kaum mukminin untuk melakukan ishlah pihak-pihak yang bertikai di antara kaum mukminin, yaitu hendaknya mereka kembali kepada amr Allah, yaitu untuk mengikuti amr jami’ yang diamanahkan kepada Rasulullah SAW. Tanpa landasan ini, barangkali sulit mendamaikan dua pihak mukminin yang bertikai, karena masing-masing memiliki landasan dalam tindakan mereka.

Kadangkala perselisihan di antara mukminin bersifat bughat, yaitu perselisihan dan pertikaian yang terjadi karena melencengnya salah satu pihak dari amr yang benar. Suatu bughat dilakukan oleh pihak yang keliru dalam melaksanakan amr, dilakukan terhadap pihak yang benar dalam melaksanakan amr. Bila terdapat kesalahan dalam melaksanakan amr, pasti akan terjadi perselisihan di antara kaum mukminin karena Allah memerintahkan kaum mukmininin yang melihat kesalahan untuk tidak mendiamkan kesalahan itu. Bila ia mampu, ia harus melakukan amar ma’ruf nahy munkar. Bila mukmin yang keliru menimbulkan pertikaian, maka dikatakan ia melakukan bughat terhadap mukmin yang lain.

Melawan Bughat

Bila ditemukan permasalahan bughat di antara kaum mukminin, kaum mukminin diperintahkan untuk memerangi kaum yang melakukan bughat hingga orang-orang yang melakukan bughat kembali kepada amr Allah. Memerangi kaum yang demikian tidak boleh tercampur dengan hawa nafsu. Prinsip ini sebenarnya berlaku dalam setiap peperangan, tetapi harus lebih diperhatikan terkait dengan kaum mukminin. Ketika suatu pihak menyadari kekeliruannya, pihak yang lain harus bersegera memberikan kesempatan untuk kembali kepada amr Allah, tidak melanjutkan pertikaiannya.

Permasalahan bughat harus dilihat dari sudut pandang amr Allah. Seorang ulama yang benar tidak dikatakan melakukan bughat terhadap khalifah yang salah, dan demikian sebaliknya khalifah yang benar tidak dikatakan melakukan bughat terhadap ulama yang salah. Demikian pula hubungan di antara semua elemen yang ada dalam suatu umat, permasalahan bughat harus dilihat dari sudut pandang amr Allah, tidak diukur berdasarkan kekuatan pihak-pihak yang bertikai. Seorang yang sendirian dalam amr Allah tidak dapat dikatakan melakukan bughat terhadap masyarakat besar yang keliru dalam mensikapi amr Allah. Amr Allah adalah tolok ukur kedudukan seseorang dalam perkara bughat.

Mengishlahkan dua pihak mukminin hanya dapat dilakukan dalam timbangan amr Allah. Orang yang mengishlahkan harus berusaha memahami amr Allah di antara dua orang yang berselisih dan memberikan saran langkah yang harus dilakukan berdasar amr Allah, bukan berdasarkan keberpihakan emosional. Orang yang tidak mengetahui atau tidak dapat menimbang amr Allah di antara dua pihak yang berselisih tidak layak menghakimi, baik salah satu atau kedua pihak sebagai benar atau salah. Seseorang tidak boleh menghakimi perkara di antara 2 mukmin yang berselisih hanya dengan mendengarkan masalah dari salah satu pihak, atau hanya dengan mengikuti pendapatnya sendiri. Keseluruhan pihak harus dipahami sudut pandangnya terhadap amr di antara mereka. Tidak ada hakim yang adil hanya dengan mengikuti pendapat mereka sendiri tanpa berusaha memahami masalah dari seluruh pihak.

Tujuan yang harus dicapai dalam ishlah adalah kembalinya kedua pihak pada amr Allah. Sikap damai yang ditempuh kedua pihak dengan menghindari amr Allah tidak menunjukkan keberhasilan ishlah, atau justru dapat dikatakan merupakan kegagalan ishlah. Dalam praktiknya, mengishlahkan pihak mukminin yang bertikai seringkali harus dilakukan dengan melawan kedua pihak agar masing-masing kembali kepada Amr Allah, dengan argumentasi atau dengan kekuatan. Kedua pihak yang berselisih seringkali cenderung terpancing berbuat hal yang melenceng dari amr Allah baik secara mandiri ataupun karena berbalasan. Penting memperhatikan keadaan terkini dari dua pihak, karena perselisihan demikian bersifat dinamis tidak seperti keadaan perselisihan orang kafir. Tindakan ishlah demikian tidak dalam rangka menjatuhkan hukuman terhadap salah satu pihak, tetapi membuat kesepahaman. Bila seseorang yang mengishlahkan hanya berdiri pada satu pihak, maka boleh jadi ia akan terlarut dalam perselisihan, dan perselisihan itu akan membesar.

Bila dua pihak yang berselisih menemukan kesepakatan langkah tentang amr Allah bagi mereka, tidak boleh ada pihak ketiga yang merusak kesepakatan itu dan menimbulkan kembali perselisihan di antara 2 pihak tersebut. Hal ini harus benar-benar diperhatikan. Secara syariat, salah satu kebohongan yang diperbolehkan adalah berbohong untuk melakukan ishlah di antara dua pihak mukmin yang berselisih. Hal ini menunjukkan keutamaan nilai ishlah di antara mukminin dibandingkan mempermasalahkan kesalahan. Bila ishlah yang diinginkan oleh dua pihak justru dirusak pihak lain, pihak ketiga itu bertentangan dengan tuntunan agama. Tidak ada seseorang yang memegang amanah Allah dalam bentuk merusak ishlah di atas amr Allah yang diinginkan dua mukminin yang bertikai. Amanah Allah yang tertulis dalam kitabullah adalah mengishlahkan para mukminin yang berselisih hingga mereka kembali kepada amr Allah. Apa yang tertulis dalam kitabullah tidak dapat dikalahkan dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan hal itu.

Melakukan ishlah di antara kaum mukminin merupakan perintah Allah. Perintah ini tidak boleh dianggap remeh oleh kaum mukminin. Betapa buruknya keadaan yang akan menimpa kaum mukminin manakala perintah melakukan ishlah tidak dilakukan di antara mereka. Harus disadari bahwa sering terjadi permasalahan yang sangat besar karena suatu upaya ishlah di antara dua orang tidak terfasilitasi atau bahkan dicegah terjadi di antara kaum mukminin, sedangkan keduanya berikhtiar melakukan ishlah untuk kembali kepada amr Allah bersama-sama. Pencegahan upaya ishlah demikian merupakan langkah syaitan untuk memecah belah kaum mukminin. Campur tangan syaitan ini harus disadari kaum beriman, bahwa akibatnya bisa sangat buruk sebagaimana syaitan memisahkan seorang isteri dari suaminya. Syaitan yang paling tinggi kedudukannya memisahkan seorang perempuan dari suaminya, dan memisahkan seorang mukmin dari mukmin lain berikutnya. Hal itu akan menyebabkan terpecah-belahnya umat manusia oleh syaitan. Para syaitan itu akan sangat leluasa memecah belah manakala mereka menemukan sekutu dari kalangan manusia. Kaum mukminin hendaknya tidak membangkitkan permusuhan di antara mukminin lain.

Suatu perselisihan kadangkala timbul dari rasa tidak suka atau kebencian seseorang kepada yang lain. Ishlah harus dilakukan termasuk dalam hal semacam ini agar terbentuk persaudaraan yang kuat di antara kaum mukminin. Kaum mukminin tidak boleh memfasilitasi perasaan tidak suka dan kebencian untuk terpantik dan berkobar di antara satu mukmin dengan mukmin yang lain, sebaliknya harus diupayakan semua pihak kembali kepada amr Allah. Ishlah harus dilakukan di antara mukminin. Rasa tidak suka atau kebencian merupakan perasaan yang timbul dari hawa nafsu, dan ikut serta mengobarkan perasaan itu juga merupakan karakteristik hawa nafsu, sedangkan hawa nafsu merupakan kebodohan. Keimanan tidak akan dapat tumbuh bersama kebodohan, dan kaum mukminin tidak boleh tumbuh di atas kebodohan.

Membangun Persaudaraan dan Kendalanya

Ishlah paling utama dilakukan di antara kaum mukminin adalah untuk menyatukan langkah dalam melaksanakan urusan Allah. Perintah ishlah di antara kaum mukminin tidak hanya dibatasi pada bentuk-bentuk pertikaian, akan tetapi juga dalam membangun persaudaraan dalam amr Allah. Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara, dan persaudaraan itu hendaknya dibina dengan kuat melalui ishlah di antara satu mukmin dengan mukmin yang lain dalam melaksanakan perintah Allah berupa amr jami’ yang menjadi amanah Rasulullah SAW.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujuraat : 10).

Ayat di atas mempunyai penekanan sedikit berbeda dengan ayat 9 untuk urusan yang sama berupa ishlah. Ishlah dalam ayat 10 lebih ditekankan dalam membentuk persaudaraan di antara kaum mukminin yaitu agar setiap mukmin memahami amr Allah secara komprehensif dan saling memahami satu dengan yang lain, sedangkan ayat 9 lebih ditekankan dalam menekan perselisihan dan pertikaian. Orang yang menegakkan ishlah di antara dua pihak yang bertikai dengan sikap setimbang akan dicintai Allah, dan orang-orang yang membangun ishlah untuk persaudaraan dalam ketakwaan akan memperoleh rahmat Allah.

Ada banyak penghalang bagi kaum mukminin dalam membangun persaudaraan, di antaranya adalah sikap suatu kaum merendahkan kaum yang lain dalam berbagai urusan. Sebagian orang merendahkan kaum yang lain dalam urusan ilmu dan pengetahuan, sebagian kaum merendahkan kaum yang lain dalam urusan duniawi. Dalam bidang apapun kaum mukminin tidak dibolehkan merendahkan kaum yang lain. Suatu kaum laki-laki tidak dibolehkan merendahkan kaum laki-laki yang lain, dan kaum perempuan tidak dibolehkan merendahkan kaum perempuan yang lain.

﴾۱۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum laki-laki merendahkan kaum laki-laki yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suatu kaum perempuan merendahkan kaum perempuan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah kefasikan sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujuraat : 11)

Sikap merendahkan bukanlah sikap yang baik, dan sebenarnya hal itu seringkali terjadi pada kaum yang berakhlak rendah. Ketika seseorang atau suatu kaum merendahkan kaum yang lain, seringkali sikapnya itu mencerminkan dirinya sendiri. Suatu kaum yang merendahkan kaum yang lain seringkali tidak lebih baik dari kaum yang direndahkan, dan lebih sering kaum yang direndahkan sebenarnya lebih baik dari kaum yang merendahkan. Sikap merendahkan demikian sangat menghambat proses terbentuknya ishlah dan persaudaraan di antara kaum mukminin.

Hal itu tidak hanya terjadi pada orang yang berakhlak rendah. Ketika seorang yang tinggi merendahkan orang lain, sangat mungkin orang yang direndahkan sebenarnya lebih baik dari yang merendahkan dan orang yang merendahkan tidak mampu melihat kebaikan orang yang direndahkan. Dalam keadaan apapun, sikap merendahkan orang lain bukan merupakan sifat yang baik. Orang yang merasa baik hendaknya mengajak orang lain pada kebaikan, tidak terjebak dalam sikap merendahkan hal-hal yang terlihat tidak baik pada orang lain. Bila seseorang merendahkan, perlu diperiksa barangkali ada keropos pada pondasi akhlak mulia orang tersebut.

Hal ini terkait dengan pertaubatan seseorang. Orang yang merendahkan sebenarnya dipertanyakan akad pertaubatannya. Tidak ada sifat sombong atau merendahkan orang lain dalam akhlak islam. Bila seseorang memiliki sikap merendahkan, boleh jadi sebenarnya ia tidak termasuk orang yang bertaubat, dan ia termasuk dalam orang yang dzalim. Pondasi akhlak mulia ini harus diperhatikan oleh setiap orang. Sejauh apapun ia mengikuti langkah Rasulullah SAW, ketika pondasi tersebut keropos maka sangat mungkin bangunan agamanya akan runtuh.

Selain tidak merendahkan orang lain, seseorang tidak dibolehkan menganggap diri sendiri tidak berharga. Hal ini menghambat perjalanan seseorang untuk dapat memahami amr jami’ Rasulullah SAW, termasuk di antaranya untuk mengenali jati dirinya sendiri. Setiap orang diciptakan untuk suatu tujuan mulia yang harus ditunaikan bagi setiap manusia. Permasalahan dosa dan kesalahan bagi orang lain harus disikapi dengan tepat, tidak menjadikan seseorang menganggap diri sendiri tercela. Hal ini bisa dilakukan dengan mengingat bahwa ia harus menjadi bagian dari jihad Rasulullah SAW. Penyesalan terhadap kesalahan terhadap orang lain harus ditempatkan pada sayap khauf dari yang berbeda dari sayap raja’ berupa harapan untuk memperoleh bagian dari amr Rasulullah SAW. Apa yang tercela dari dirinya berasal dari hawa nafsu dan syahwatnya, sedangkan dirinya tetaplah makhluk yang memikul suatu amanah yang harus diketahui dan ditunaikan. Ada banyak jalan syariat yang disediakan Allah agar seseorang dapat menundukkan syahwat dan hawa nafsunya, bila ia bergantung kepada Allah.

Penghalang ketiga yang menjadi penghalang membangun persaudaraan yaitu perilaku memberikan stigma buruk kepada orang lain. Hal itu akan menghambat upaya seseorang untuk memperoleh pengenalan terhadap amr Rasulullah SAW. Tidak ada kebaikan bagi suatu umat untuk memunculkan suatu stigma buruk bagi seseorang di antara mereka, dan memunculkan stigma itu dalam suatu panggilan tidak diperbolehkan. Di antara stigma dan panggilan yang paling buruk terhadap seorang mukmin adalah kefasikan setelah keimanan. Manakala mengalami peristiwa stigma tersebut atau stigma yang semakna dengan itu, maka itu adalah suatu stigma yang terburuk yang dapat terjadi di antara kaum mukminin.

Kadangkala suatu panggilan buruk itu benar terjadi, dan seringkali panggilan buruk itu tidak terjadi tetapi hanya merupakan prasangka buruk seseorang pada orang lainnya. Benar atau tidak, panggilan buruk itu hendaknya tidak dilakukan. Panggilan buruk itu adalah jalan yang buruk, dan setiap orang beriman harus mencari jalan yang lebih baik dalam mensikapi tindakan orang lain yang dipandang tidak baik. Hal ini terkait dengan akhlak, di mana akhlak yang mulia akan mensikapi hal yang buruk yang terjadi terhadap dirinya dengan cara yang baik. Melakukan panggilan buruk ini menunjukkan akhlak yang buruk, dan hal ini tidak mendatangkan manfaat bagi jamaah orang beriman. Bila seorang beriman memberikan stigma secara salah kepada orang beriman lain sebagai orang yang keluar dari iman atau kata lain yang semakna dengan itu, maka itu adalah akhlak yang paling buruk yang mungkin terjadi pada seorang yang beriman. Barangkali ia berada pada batas akhlak kufur.



Senin, 15 Agustus 2022

Iman Kepada Rasulullah SAW

Allah menciptakan seluruh makhluk agar makhluk mengenal Allah. Hal ini tentu menakjubkan, bahwa Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menjadikan makhluk dapat mengenal-Nya. Sebenarnya tidaklah makhluk dapat mengenal-Nya kecuali sebatas apa yang dapat dikenalnya dari apa yang diperkenalkan-Nya, melalui jalan yang disediakan-Nya, sedangkan Allah yang sesungguhnya tidak mungkin benar-benar dikenal Makhluk. Jalan yang sediakan Allah bagi makhluk untuk mengenal-Nya adalah Rasulullah SAW. Rasululllah SAW adalah inti seluruh penciptaan yang digelar Allah agar setiap makhluk mempunyai sarana untuk mengenal Allah.

Untuk mengenal Allah, orang-orang beriman harus mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Mereka hidup di alam yang ditentukan Allah berupa kehidupan di bumi dengan seluruh ragam Alhaqq dan kebathilan yang bercampur baur melingkupi kehidupan. Bila mengikuti Rasulullah SAW, maka seorang beriman akan mengenali sedikit demi sedikit kebenaran atau dilimpahi keterbukaan terhadap kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah, sehingga seseorang dapat memperoleh pengenalan terhadap Allah. Tanpa mengikuti Rasulullah SAW, tidak ada jalan bagi makhluk untuk mengenal Allah.

Setiap orang beriman harus menyadari bahwa Allah telah mengutus Rasulullah SAW dalam kehidupan mereka di bumi yang jauh dari cahaya. Beliau merupakan pembawa cahaya Allah yang paling utama bagi setiap lapis kehidupan hingga kehidupan di bumi. Beliau SAW membawa cahaya bagi setiap lapisan alam dari alam yang tinggi hingga alam rendah di dunia. Manusia di alam dunia dapat memperoleh jalan mengenal Allah dalam segala tingkatannya. Seorang kafir yang ingin menjadi muslim, kemudian menjadi beriman dan berhijrah, kemudian mengenal diri sendiri, dan kemudian mengenal amr Rasulullah SAW bagi ruang dan jamannya, seluruhnya dapat diperoleh seseorang dengan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam keadaan apapun, manusia dapat memperoleh jalan dengan mengikuti Rasulullah SAW.

﴾۷﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam banyak urusan benar-benarlah kamu mendapat celaka (laknat/kesusahan), tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti tuntunan, (QS Al-Hujuraat: 7)

Telah ditetapkan segala urusan (amr) dalam diri Rasulullah SAW yang dijadikan jalan bagi setiap manusia agar dapat mengenal Allah. Banyak urusan yang tergelar di kehidupan bumi dan alam semesta, tetapi hanya satu urusan yang mengantarkan seseorang berjalan mengenal Allah, yaitu urusan yang dilimpahkan kepada Rasulullah SAW. Seluruh urusan itu dapat ditemukan para pengikut beliau SAW dalam kitabullah Alquran.

Bila seseorang menempuh jalan yang lain, maka mungkin mereka akan menemukan kecelakaan. Makhluk yang tidak bertakwa kepada Allah banyak membuat urusan-urusan bagi kehidupan manusia. Para manusia yang tidak bertakwa dapat membuat suatu program urusan yang menyibukkan orang lain dengan imbalan materi yang besar untuk mengalihkan perhatian manusia dari jalan Allah, sedangkan program itu tidak mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi. Para syaitan di alam yang tinggi dapat mewahyukan suatu urusan yang membuat kehidupan yang sangat sulit bagi umat manusia. Banyak ragam urusan yang dapat muncul sedangkan urusan itu tidak memberikan manfaat bagi umat manusia, dan melalaikan umat manusia dari urusan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW tidak akan memperturutkan setiap keinginan manusia untuk terjun dalam urusan yang tidak berkaitan dengan urusan beliau. Hendaknya setiap mukmin mengetahui bahwa ada Rasulullah SAW yang diutus dalam kehidupan mereka, yang harus dijadikan tujuan kehidupan. Setiap orang beriman harus mengarahkan seluruh entitas dalam dirinya untuk mengenal arti kehadiran Rasulullah SAW di alam semesta. Hal itu dapat diketahui dengan cahaya iman. Seseorang yang beriman dengan cara demikian akan dibuat mencintai keimanannya. Keimanan yang menjadikan seseorang memahami kehadiran Rasulullah SAW di alam semesta merupakan keimanan yang dijadikan perhiasan dalam hati manusia.

Orang yang hatinya dihias Allah dengan keimanan akan menjadi benci terhadap kekufuran, kefasikan dan maksiat kepada Allah. Hal demikian harus tumbuh dalam hati orang beriman, tidak membiarkan dirinya terus bergelimang dalam kekufuran, kefasikan dan maksiat. Tidak adanya rasa tidak suka terhadap sikap kufur, kefasikan dan maksiat menandakan tidak tumbuhnya keimanan dalam hati. Sikap kufur terhadap kebenaran, fasik terhadap tujuan luhur dan durhaka terhadap urusan kebaikan harus dapat dirasakan oleh hati setiap manusia, tidak boleh diabaikan walaupun sedang bergumul dalam urusan duniawi. Kadangkala ada upaya menghilangkan perasaan terhadap kebenaran yang terbungkus dalam propaganda toleransi.

Mengikuti Rasulullah SAW

Banyak ragam cara yang dapat dilakukan seseorang untuk mengikuti amr Rasulullah SAW, yang harus dilakukan sesuai dengan keadaan masing-masing. Mengerjakan syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah syarat minimal yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Hal itu harus diikuti dengan pencarian amal shalih yang harus dikerjakan sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW. Seseorang harus memulai upaya penemuan diri dalam amr Rasulullah SAW dari akad dua kalimah syahadat, kemudian menjadi muslim dan mengharapkan keimanan, berhijrah dengan keimanannya untuk mencapai pengenalan jati diri, dan kemudian mengikuti amr jami’ yang menjadi amanah bagi Rasulullah SAW. Dengan cara demikian, seseorang dapat berusaha menemukan jalan mengikuti Rasulullah SAW. Setiap kebaikan yang diniatkan untuk mengikuti Rasulullah SAW akan mendekatkan seseorang kepada amr beliau SAW. Amal yang dikerjakan dengan tujuan demikian merupakan turunan dari amr Rasulullah SAW.

Beberapa orang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, dan secara khusus untuk dirinya. Mereka itulah orang yang termasuk dalam golongan Ar-raasyiduun, yaitu golongan orang-orang yang memperoleh tuntunan Allah. Urusan Rasulullah SAW itu mereka pahami melalui Alquran dan segenap ayat kauniyah di alam semesta mereka, tidak dipahami secara bebas berdasarkan diri mereka sendiri, walaupun secara praktis kadangkala mereka mengetahui realitas itu dalam nafs terlebih dahulu.

Orang lain dapat memperoleh manfaat yang besar dari golonga ar-rasyiduun untuk mengikuti Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Bahkan merugilah orang yang tidak memperoleh manfaat dari mereka. Namun perlu diperhatikan benar-benar bahwa setiap orang tidak boleh mengikuti perkataan yang bertentangan dengan Alquran. Perkataan menentang Alquran itu akan memutuskan hubungan mereka dengan Allah, Rasulullah SAW dan segenap jalan yang merupakan turunan amr Rasulullah SAW. Tidak ada jejak amr Allah dalam setiap hal yang bertentangan dengan Alquran, kecuali jejak amr yang mengantarkan pada neraka. Kelak masing-masing orang akan mempertanggungjawabkan keadaan mereka sendiri, dan orang yang mengatakan penentangan itu akan mempertanggungjawabkan perkataannya dan orang-orang yang mengikutinya. Harus disadari bahwa tidak ada jaminan kebenaran dari para manusia, dan bahwa syaitan mempunyai keahlian yang cukup baik untuk menipu orang-orang melalui kelalaian manusia.

Amal yang terbaik adalah amal yang benar-benar terhubung dengan urusan Rasulullah SAW yang dikenal berdasarkan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Amr jami’ Rasulullah SAW dan seluruh turunannya bernilai lebih baik daripada amr yang lain, walaupun amr yang lain terlihat bagaikan urusan yang tinggi. Syaitan dapat menyesatkan orang yang berakal dan kesesatan itu sangat berbahaya bagi yang lain. Amr dalam urusan yang diwahyukan oleh syaitan tidak mengandung kebaikan, tidak lebih baik daripada amal yang dikerjakan oleh seseorang yang berharap mengikuti Rasulullah SAW walaupun hanya berdasarkan bayang-bayang buram yang dikenalinya tentang amal shalih. Lebih baik bagi setiap orang beramal mengikuti dzahirnya Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan qalb yang biasa saja, atau bayang-bayang dari tuntunan itu daripada mengikuti amal yang tidak jelas sumber urusannya.

Sumber Fadhilah dan Nikmat

Beramal secara terhubung dengan urusan Rasulullah SAW merupakan fadhilah dari Allah dan kenikmatan Allah yang dikaruniakan kepada seorang hamba. Orang yang memperoleh fadhilah dan nikmat Allah adalah orang-orang yang beramal dalam amr Rasulullah SAW. Doa utama yang dibaca minimal 17 kali setiap hari oleh umat islam dalam setiap shalat adalah memohon petunjuk jalan orang yang diberi nikmat, maka demikian itulah gambaran orang-orang yang memperoleh nikmat Allah.

﴾۸﴿فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
sebagai fadhilah dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Hujuraat : 8)

Manusia dapat meniru jalan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah agar dapat mengarah pada jalan yang sama. Bersama orang yang demikian tentu merupakan suatu rezeki dan kemudahan. Mereka dapat menunjukkan cahaya Allah bagi orang yang lain tanpa mencampuri cahaya dengan hawa nafsu mereka. Semakin dekat seseorang pada shirat al-mustaqim, ia semakin bersifat mengurai cahaya tanpa melakukan intervensi, sehingga yang tampak adalah cahaya Allah tanpa gangguan dari eksistensi orang tersebut. Namun setiap orang tetap harus berhati-hati, hendaknya setiap orang selalu berpegang pada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melepaskannya. Alquran dan sunnah adalah cahaya Allah yang terjamin kebenarannya.

Orang yang mendustakan cahaya dari orang yang memperoleh nikmat Allah sebenarnya hampir sama dengan mendustakan kebenaran. Demikian pula bentuk sikap yang lain sebenarnya merupakan gambaran sikap masyarakat terhadap kebenaran. Manakala seseorang memperoleh nikmat Allah, ia dapat menjelaskan kandungan kitabullah yang dipahaminya tanpa kesalahan atau tafsiran sendiri, walaupun mungkin tidak seluruh kandungan Alquran dipahaminya. Bagian dari kebenaran kitabullah yang dapat diceritakan itu tetaplah kebenaran, bukan sesuatu yang melenceng dari kebenaran. Tidak ada makhluk yang memahami seluruh kebenaran kecuali Rasulullah SAW, sedangkan orang yang memperoleh nikmat Allah merupakan pengikut Rasulullah SAW. Ketika seseorang mendustakan bagian kebenaran dari orang itu, ia juga mendustakan kebenaran secara keseluruhan.

Bila ditemukan hal yang melenceng dari Alquran dari seseorang yang memperoleh nikmat Allah, maka itu menjadi tanggung jawab orang yang memperoleh nikmat. Bila ditemukan hal yang bertentangan dengan Alquran, maka boleh jadi orang tersebut sebenarnya tidak termasuk dalam kategori orang yang memperoleh nikmat Allah. Prinsip pokoknya, seseorang harus mengikuti kitabullah ketika mengikuti orang lain, dan tidak boleh mengikuti orang lain bila bertentangan dengan kitabullah. Yang akan menjadi bekal bagi kehidupan abadi bagi seseorang adalah pemahamannya terhadap kitabullah, bukan pada bentuk fisik amal-amal yang dilakukannya, sedangkan semua amal (hanya) menjadi sarana untuk memahami kitabullah. Timbangan pada hari akhirat kelak adalah Al-haqq.



Minggu, 07 Agustus 2022

Mengikuti Rasulullah SAW dengan Alquran

Manusia diciptakan di bumi dan diseru untuk kembali kepada Allah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Kembali kepada Allah adalah seruan Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersama dengan beliau SAW. Para insan tersebut menempuh suatu jalan yang disebut sebagai sabilillah. Sabilillah itu adalah jalan yang benar untuk kembali kepada Allah, dibenarkan Allah dan diimami oleh Rasulullah SAW.

Orang yang tidak menempuh jalan tersebut termasuk dalam kelompok orang-orang dzalim. Kelak orang-orang dzalim akan menyesali segenap upaya yang telah mereka upayakan di dunia karena tidak menumbuhkan bekal yang berguna untuk kembali kepada Allah. Upaya mereka untuk kesejahteraan duniawi akan lenyap, dan upaya mereka untuk memperoleh bagian akhirat ternyata mungkin tidak banyak menghasilkan buah yang bermanfaat bagi mereka. Dengan keadaan demikian, maka mereka pada suatu waktu kelak akan menggigit kedua tangan mereka.

﴾۷۲﴿وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"(QS Al-Furqan : 27).

Setiap orang membutuhkan bekal untuk perjalanan kembali kepada Allah. Orang-orang kafir tidak mempedulikan perkara demikian bagi mereka, sedangkan orang-orang yang beriman akan memikirkan bekal perjalanan mereka. Sebagian orang berusaha melakukan banyak kebaikan untuk bekal mereka dalam perjalanan. Sebagian amal kebaikan yang dilakukan manusia hangus karena sikap dalam beramal, sebagian amal menghasilkan buah yang sedikit, dan sebagian amal menghasilkan buah yang berlipat-lipat dari bobot amal yang mereka perbuat.

Banyak atau sedikitnya buah dari amal manusia tergantung kepada seberapa tepat langkah mereka dalam mengikuti Rasulullah SAW kembali kepada Allah. Orang yang tepat langkahnya dalam mengikuti Rasulullah SAW akan memperoleh buah yang sangat banyak dari amal-amal mereka, sedangkan orang yang mengikuti pendapat diri sendiri hanya akan mendapatkan buah yang tidak banyak dan sebagian orang yang beramal tetap termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim.

Orang-orang yang dzalim akan menggigit kedua tangan mereka sendiri karena amal-amal mereka tidak menghasilkan bekal bagi kehidupan mereka. Pada suatu saat kelak mereka akan menyadari bahwa mereka sebenarnya memperoleh buah yang lebih baik untuk setiap amal mereka dengan mengikuti Rasulullah SAW, dan mereka akan mengatakan "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Sebenarnya hal ini berlaku pula bagi setiap orang, bahwa hasil dari setiap amal mereka tergantung dari seberapa pemahaman mereka dalam mengikuti Rasulullah SAW. Sebagian orang beriman beramal hanya sekadar meniru amal yang dicontohkan Rasulullah SAW, dan sebagian orang yang terbaik memahami benar apa urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya dan berbuat sesuai dengan perintah-perintah yang dipahaminya dari Alquran. Mereka masing-masing akan memperoleh bagian sesuai dengan kesertaan mereka dalam sabilillah yang dipimpin Rasulullah SAW.

Memperhatikan Alquran

Mengikuti Rasulullah SAW yang sebenarnya adalah dengan memahami kandungan Alquran dan beramal berdasarkan pemahaman itu. Umat Rasulullah SAW tidak boleh bersikap tidak benar terhadap Alquran, karena Alquran adalah tali Allah yang dibawa oleh Rasulullah SAW bagi umat manusia. Tidak ada kebenaran yang bertentangan dengan kandungan Alquran, dan seluruh kebenaran mempunyai sumber asal dalam Alquran. Manakala seseorang bersikap salah terdapat Alquran, maka boleh jadi sebenarnya ia telah mengikuti syaitan.

Rasulullah SAW mengeluhkan sikap umatnya yang salah dalam mensikapi Alquran.

﴾۰۳﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS Al-Furqan : 30)

Ayat di atas adalah keluhan Rasulullah Muhammad SAW kepada Allah terkait sikap umatnya terhadap Alquran. Rasul yang disebutkan merujuk pada Rasulullah Muhammad SAW, dan kaum yang disebutkan merujuk pada umat beliau SAW. Objek yang disebutkan adalah tentang Alquran, bukan kitab secara umum yang diturunkan Allah. Umat Rasulullah SAW akan tertimpa suatu keadaan dimana mereka menjadikan Alquran hanya bagai arsip yang perhatian terhadapnya dikalahkan oleh umatnya (مَهْجُورً), dimana umat akan lebih memperhatikan sesuatu yang lain daripada memperhatikan Alquran. Umat islam tidak membuang Alquran, akan tetapi menjadikan Alquran hanya sebagai perhatian sampingan layaknya arsip.

Setiap orang harus menjadikan Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW sebagai pedoman pokok (qanun). Banyak insan dapat memberikan penjelasan tentang Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW, maka setiap orang yang memperoleh penjelasan itu harus berusaha mengikuti dan tidak mendustakan. Hal ini berlaku selama tidak ada selisih antara penjelasan dengan nash ayat Alquran. Bila ada selisih, maka setiap orang harus mengikuti nash ayat Alquran tidak menjadikan nash ayat Alquran sebagai suatu sampingan. Setiap orang harus mentaati Alquran ketika mengikuti orang lain, dan tidak ada ketaatan dalam perkara yang menyelisihi ayat Alquran. Bila satu orang berselisih dengan yang lain, maka hendaknya setiap orang mengikuti orang yang mengikuti Alquran. Bila seseorang mendustakan orang lain yang mengikuti Alquran, maka hal itu berarti menjadikan Alquran tidak diacuhkan (مَهْجُورً).

Barangkali ayat ini merujuk pada kaum muslimin di jaman modern. Penulis tidak menjumpai kisah dalam hadits bahwa Rasulullah SAW pernah mengeluh. Ketika jaman Rasulullah SAW, tidak ada umat islam yang menjadikan Alquran layaknya arsip, karena bergaul dengan Rasulullah SAW sama saja dengan bergaul dengan Alquran. Pada jaman kejayaan islam, sebagian besar umat berpegang teguh dengan Alquran, dan maksiat yang mungkin dilakukan umatnya tidak menjadikan mereka teralihkan dari mengutamakan Alquran. Keluhan Rasulullah SAW ini sangat mungkin akan terjadi pada masa yang jauh dari jaman Rasulullah SAW.

Muslimin yang mengikuti orang lain hendaknya berhati-hati agar tidak bersikap mengabaikan Alquran, karena boleh jadi ia mengikuti musuh Rasulullah SAW. Setiap hal yang bertentangan dengan Alquran tidak layak untuk diikuti. Setiap orang yang mengajak bersikap mengabaikan Alquran tidak sepantasnya diikuti, dan boleh jadi ia merupakan orang yang dijadikan Allah sebagai musuh bagi Rasulullah SAW.

Di akhirat kelak, banyak orang menyesali kiranya ia dijauhkan dari seseorang yang dahulu menjadi khalilnya.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
﴾۹۲﴿لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
(28) Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil (29).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Ad-dzikra ketika ad-dzikra itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong.(QS Al-Furqan : 29)

Khalil yang disesali oleh orang-orang tersebut adalah teman karib yang terlihat baik tetapi mengarahkan dirinya untuk mengabaikan pelajaran dari Alquran, tidak menjadikan nash Alquran sebagai qanun (canon) bagi mereka, dan lebih mengutamakan pendapat mereka sendiri mengalahkan uraian dari Alquran. Mereka tertimpa kesesatan manakala suatu bacaan Alquran yang benar sampai kepada mereka, dan mereka memilih mengikuti perkataan khalilnya daripada bacaan Alquran yang benar.

Pendapat yang mengalahkan uraian Alquran merupakan kesesatan nyata. Selain itu mungkin ada kesesatan kecil lain yang berupa sedikit melesetnya pemahaman terhadap Alquran. Orang berdosa itu mengikuti syaitan ketika mereka mengabaikan Alquran yag disampaikan kepada mereka. Dalam hal ini, bukan kekufuran yang dikeluhkan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi sikap mengabaikan Alquran. Syaitan bagi Rasulullah telah berislam, dan hanya syaitan dari kalangan tertentu yang dapat menjadikan seseorang sebagai musuh Rasulullah SAW. Barangkali tidak semua orang yang mengabaikan Alquran termasuk dalam kategori orang yang dijadikan musuh bagi Rasulullah SAW, tetapi mereka sebenarnya telah mengikuti syaitan baik secara langsung atau tidak langsung.

Musuh Rasulullah SAW

Persoalan mengesampingkan Alquran dari perhatian umat islam yang dimaksudkan ayat di atas adalah peristiwa yang terjadi karena perbuatan musuh-musuh Rasulullah SAW yang melibatkan orang-orang yang berdosa. Setiap nabi mempunyai musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa, dan orang-orang berdosa itu menyelewengkan umat dari tuntunan kitabullah. Demikian pula Rasulullah SAW mempunyai musuh dari kalangan orang yang berdosa, dan mereka menyebabkan umat Rasulullah SAW mensikapi Alquran bagai arsip, bukan sebagai qanun yang menjadi landasan langkah mereka.

﴾۱۳﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.(QS Al-Furqan : 31)

Setiap muslim harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam sikap mengabaikan Alquran. Berbuat suatu dosa dan menjadikan Alquran tidak sebagai qanun boleh jadi akan mengundang suatu kehendak Allah, yaitu kehendak untuk menjadikannya sebagai musuh bagi Rasulullah SAW. Bila seseorang berdosa dan kemudian mengabaikan Alquran yang dibacakan baginya, tidak bertaubat dengan Alquran, ia barangkali menyediakan dirinya untuk dijadikan Allah sebagai musuh, atau setidaknya pengikut musuh Rasulullah SAW. Bila bertaubat, orang lain yang berdosa dan mengarahkan kaumnya bersikap abai terhadap Alquran yang akan Allah jadikan sebagai musuh bagi Rasulullah SAW.

Para pendosa dalam hal ini menunjuk pada orang-orang yang melakukan perbuatan dosa dan tidak merasa bahwa perbuatannya adalah suatu dosa, atau lebih mengutamakan dosanya daripada bertaubat. Hal ini boleh jadi disebabkan karena seseorang terbiasa dengan perbuatan dosanya, atau karena syaitan menjadikan perbuatan dosanya tampak baik dalam pandangannya. Tidak boleh seseorang yang berbuat dosa dianggap sebagai pendosa secara sembarangan. Seseorang yang bertaubat dari suatu dosa seringkali terlihat lebih buruk daripada orang yang sepenuhnya tetap mengikuti syaitan dalam dosa. Demikian pula manakala seseorang melihat kesalahan dirinya akan tampak buruk daripada orang yang benar-benar tertipu oleh syaitan memandang baik perbuatan dirinya. Yang tampak buruk kadang lebih mempunyai kesempatan untuk bertaubat. Dosa atau tidaknya perbuatan seseorang harus diukur berdasarkan Alquran.

Bila menemukan orang yang mengajak untuk mengabaikan suatu bacaan Alquran yang benar, hendaknya mereka tidak mengikuti seruan itu. Bila yang mengajak mempunyai dosa yang tersamarkan, hendaknya ia lebih berhati-hati barangkali ia mengikuti orang yang hendak dijadikan Allah sebagai musuh bagi Rasulullah SAW. Pada dasarnya tidak perlu seseorang mengetahui dosa orang lain kecuali untuk mencari jalan yang selamat dari tipuan syaitan. Tidak demikian terhadap dosa seseorang yang mengajak orang lain mengabaikan Alquran. Seseorang kadang perlu mengungkit dosa orang lain untuk menyelamatkan dirinya dan orang lain dari seruan itu, karena boleh jadi ia adalah orang yang dijadikan Allah sebagai musuh bagi Rasulullah SAW. Bersahabat dengan musuh Rasulullah akan mendatangkan penyesalan yang besar kelak di akhirat.

Mengikuti Alquran harus diupayakan hingga dalam permasalahan detail yang mengatur kehidupan manusia, tidak hanya terjebak dalam keindahan gimmick, jargon atau pengetahuan yang bersifat overview terhadap Alquran. Kadangkala syaitan menunjukkan suatu keindahan pengetahuan untuk mencegah manusia dari makna Alquran yang sebenarnya. Mereka menghalangi manusia dari Alquran dengan keindahan suatu pengetahuan yang bersifat gimik, jargon atau pengetahuan overview.

Hal ini menuntut setiap orang untuk menggunakan akal sepenuhnya. Boleh jadi muslimin akan berhadapan dengan versi baru Abu Hakam yang bijaksana dalam pandangan masyarakat, akan tetapi sebenarnya adalah Abu Jahal dalam pandangan islam. Hanya saja versi baru ini tidak berdiri sebagai orang kafir, tetapi (hanya?) berposisi menjadikan umat islam mengabaikan Alquran lebih meyakini pendapat mereka sendiri. Musuh Rasulullah SAW yang sebenarnya bukanlah kaum kafir seperti Abu Jahal, tetapi sebagaimana dijelaskan ayat-ayat ini.

Selasa, 02 Agustus 2022

Melihat Langit dan Bumi Membina Akal

Allah memberikan cahaya keimanan kepada orang-orang yang diijinkan untuk beriman. Cahaya keimanan merupakan cahaya milik Allah yang tidak dapat diaku makhluk tanpa ijin dari Allah. Tidak ada jiwa seseorang yang dapat beriman tanpa ijin Allah. Seseorang boleh mengatakan bahwa dirinya seorang yang berserah diri atau muslim, tetapi tentang keimanan adalah hak Allah untuk memberikan atau menahan dari hamba-Nya.
﴾۰۰۱﴿وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kekotoran kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (QS Yunus : 100)

Fungsi cahaya keimanan adalah agar seseorang dapat mengendalikan dirinya bersesuaian dengan kehendak Allah dengan akal. Akal yang dimaksudkan dalam alquran tidak menunjuk pada setiap kecerdasan manusia, akan tetapi secara khusus menunjuk pada kekuatan membina diri untuk memahami kehendak Allah dan berbuat berdasarkan pemahaman tersebut. Akal merupakan tali kekang yang berguna untuk mengendalikan diri sebagaimana tali kendali yang dipasangkan pada kuda tunggangan atau penarik kereta. Orang yang berusaha memahami dan berbuat sesuai dengan kehendak Allah adalah orang yang berakal, dapat diibaratkan kuda yang mudah dikendalikan tuannya, sedangkan tanpa akal dapat diibaratkan kuda liar yang tidak dikendalikan.

Seseorang tidak dibolehkan mengaku sebagai orang beriman, tetapi harus selalu berharap kepada Allah agar melimpahkan cahaya keimanan kepada dirinya. Ada landasan yang harus dijadikan pegangan dalam mengharapkan keimanan, yaitu agar terbentuk akal yang menghubungkan dirinya kepada Allah. Seseorang tidak boleh mengharapkan cahaya keimanan untuk status dirinya di antara manusia. Cahaya keimanan itu harus dimanfaatkan dengan benar oleh setiap orang yang memperolehnya, yaitu memahami dan berbuat sesuai dengan kehendak Allah tidak menggunakannya untuk mengunggulkan diri di antara manusia.

Bila seseorang memperoleh cahaya keimanan dan tidak digunakan untuk membina akal, maka Allah akan menurunkan kotoran pengetahuan bersama petunjuk yang turun melalui cahaya keimanan. Batasan hal tersebut adalah bila cahaya keimanan tidak digunakan untuk membina akal. Bila ada keinginan tidak baik dengan memanfaatkan keimanan, maka boleh jadi akan lebih buruk lagi apa yang turun karena keimanannya. Allah hanya memberikan cahaya keimanan kepada orang-orang yang diijinkan untuk menerimanya.

Kotoran ( الرِّجْسَ) yang ditimpakan Allah kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya akan menjadikan mereka sebagai orang yang keliru dalam beragama. Mereka mungkin merasa melakukan kebaikan sedangkan mereka melakukan kerusakan, atau merasa sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk sedangkan mereka menghalangi manusia dari jalan Allah, atau merasa mengagungkan Allah sedangkan mereka membantu urusan-urusan syaitan dalam merusak umat manusia.

Sebagian manusia yang tertimpa kotoran itu dapat diumpamakan bagai orang-orang yang memegang pisau pada bilah tajamnya. Orang-orang khawarij berbuat demikian terhadap petunjuk-petunjuk Alquran. Pada sebagian orang beriman, orang-orang demikian dapat diibaratkan seperti orang yang tidak amanah dalam menjalankan profesinya. Semisal seorang tukang jahit, ia seharusnya menjahit pakaian sesuai dengan pemakainya, baik dirinya sendiri ataupun pelanggannya. Ia tidak boleh memotong pakaian pelanggannya untuk dirinya, atau mensia-siakan bahan pakaian milik pelanggannya yang diberikan untuk dijadikan pakaian. Bila penjahit itu tertimpa kotoran (الرِّجْس), ia akan merasa benar melakukan hal yang melanggar ketentuan itu, sehingga orang yang membutuhkan pakaian akan kebingungan untuk menemukan pakaian bagi dirinya. Ketika orang yang membutuhkan pakaian mengalami kebingungan, penjahit yang tertimpa kotoran itu mungkin merasa tidak ada sesuatu yang salah dalam perbuatannya, sedangkan masalah itu timbul karena perbuatannya.

Hal pokok yang harus diperhatikan oleh orang yang membina akal adalah pemahaman terhadap Alquran. Pemahaman itu harus diusahakan sedemikian hingga dapat memahami semesta mereka bersesuaian dengan ayat dalam kitabullah. Hal itu tercapai bersamaan dengan keterbukaan ayat dalam diri, yaitu qalb mereka menerangkan apa yang ada dalam Alquran dan apa yang terjadi pada semesta mereka. Setiap orang mempunyai kesempatan memperoleh kefahaman dalam tingkatan demikian. Keterbukaan itu dapat terjadi pada setiap orang, akan tetapi tanpa berpegang pada Alquran, kefahaman yang muncul dalam nafs seseorang boleh jadi merupakan kotoran (الرِّجْس) yang ditimpakan Allah kepadanya.

Memperhatikan Langit dan Bumi

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memperhatikan segala apa yang ada di langit dan di bumi agar mereka dapat membina akal. Hal ini terkait dengan alam mulkiyah dan alam ghaib yang dapat dipahami oleh orang-orang beriman. Perintah ini tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak beriman, karena tidaklah berguna ayat-ayat dan peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.

﴾۱۰۱﴿قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat ayat-ayat Allah dan para pemberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS Yunus : 101)

Hanya orang-orang yang beriman yang akan memperoleh manfaat dari memperhatikan apa-apa yang ada di langit dan bumi, yaitu bila mereka menemukan ayat-ayat Allah dan mengerti penjelasan para pemberi peringatan. Orang-orang yang tidak beriman tidak memperoleh manfaat. Manfaat yang diperoleh orang-orang beriman adalah arah bentuk kehidupan di bumi bersesuaian dengan bentuk kehidupan yang dikehendaki Allah, sehingga memungkinkan terjadinya perwujudan bentuk kehidupan tersebut. Orang-orang yang tidak beriman tidak akan memahami bentuk kehidupan yang dikehendaki Allah, dan tidak semua orang beriman memahami yang demikian. Kehidupan orang-orang yang tidak beriman hanya akan berputar-putar dalam rutinitas yang berulang-ulang.

Terkait kotoran ( الرِّجْسَ), terdapat banyak kotoran baik yang ada di alam mulkiyah maupun di alam atasnya. Kotoran di alam mulkiyah merupakan sifat kotor yang ada pada alam jasmani, sedangkan kotoran di alam nafs berasal dari syaitan. Kotoran pada tingkat nafs merupakan hal utama yang harus dijaga setiap orang agar tidak mengenai nafs, dan penjagaan itu harus dilakukan sejak dari tingkatan ragawi. Allah menjadikan beberapa hal najis, beberapa makanan diharamkan, dan beberapa sifat manusia harus disucikan. Bagi manusia, hal itu merupakan pagar agar manusia tidak tertimpa kotoran di alam nafs mereka karena hal itu menimbulkan masalah yang rumit di antara manusia.

Kotoran tersebut menimbulkan banyak masalah bagi makhluk-makhluk hidup dan lebih lanjut juga bagi makhluk-makhluk berakal. Kotoran di bumi dapat menyebabkan penyakit bagi makhluk-makhluk jasmaniah, dan kotoran di alam nafs menimbulkan masalah yang merupakan penyakit bagi akal makhluk yang berakal. Kotoran di bumi dan kotoran di langit itu dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lain menimbulkan masalah bagi seluruh makhluk. Misalnya mengabaikan najis akan mempengaruhi keteledoran seseorang dalam menjaga kesucian nafs. Memakan daging babi dapat menyuburkan sifat rakus dalam diri manusia. Sifat buruk satu orang dapat memicu munculnya sifat buruk lain, dan menularkan sifat buruk itu pada orang lain. Keseluruhan batasan yang ditentukan Allah merupakan pagar yang menjaga manusia dari kotoran, terutama kotoran di alam nafs.

Kotoran pada nafs tidak hanya muncul dari alam mulkiyah. Syaitan pun membuat kotoran bagi nafs dari alam mereka, dan kotoran dari syaitan inilah kotoran yang paling berbahaya bagi umat manusia. Najis dan makanan haram akan mempengaruhi kekotoran manusia secara berjenjang, dari kotoran di tingkatan raga, kotoran hawa nafsu hingga kotoran nafs. Syaitan dapat tiba-tiba menimpakan kotoran dalam hawa nafsu ataupun nafs seseorang tanpa melalui alam mulkiyah. Kotoran pada hawa nafsu akan menjadikan seseorang kehilangan ketenteraman dalam hidupnya, sedangkan kotoran pada nafs akan membuat tatanan kehidupan masyarakat menjadi semrawut dan terbalik-balik. Kadangkala seseorang merasa mengagungkan Allah tetapi sebenarnya mengangkat syiar syaitan karena kotoran pada nafs manusia.

Kesemrawutan dan terbalik-baliknya akal manusia akan berakibat tenggelamnya kebenaran dari pandangan umat manusia. Pada taraf tertentu, umat manusia tidak mampu melihat atau memihak kebenaran dan sebaliknya membenarkan kebathilan karena kotoran pada nafs. Rasulullah SAW mengalami masa akhir hayat yang sangat berat karena apa yang akan menimpa umatnya, di antaranya karena masalah yang timbul karena kotoran pada nafs. Tumbuhnya akal manusia hendaknya selalu dijaga dari kotoran yang mungkin menimpa, karena pada dasarnya akal yang terkotori oleh syaitan akan mempunyai kecenderungan tumbuh mengikuti syaitan. Kotoran itu akan menjadikan sendi kehidupan umat manusia menjadi sulit, baik untuk kehidupan dunia maupun untuk kehidupan akhirat. Manusia tidak melihat kebenaran dalam kehidupan mereka bila banyak yang tumbuh mengikuti syaitan.

Mewujudkan Kehendak Allah dalam Kehidupan Bumi

Memperhatikan pasangan langit dan bumi berhubungan erat dengan penggunaan akal dan pikiran serta dengan keberpasangan laki-laki dan perempuan. Akal berfungsi menghubungkan kehidupan seorang manusia di bumi dengan kehendak Allah, sedangkan pikiran lebih berfungsi dalam memahami proses kehidupan di bumi. Bila seseorang berakal, maka seharusnya mereka mengimplementasikan pemahaman mereka terhadap kehendak Allah ke dalam kehidupan di bumi. Hal ini membutuhkan integralitas akal dengan pikiran dalam diri manusia. Dalam upaya membentuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah, setiap orang membutuhkan kebersamaan. Seorang laki-laki memahami kehendak Allah dan isteri memahami kehendak Allah dari suaminya dan menghadirkan aspek bumi bagi mereka. Keberpasangan antara suami dan isteri merupakan representasi langit dan bumi dalam wujud manusia.

Kehidupan seorang manusia di bumi tidak dapat dikatakan sepenuhnya merupakan realisasi kehendak Allah. Banyak kehidupan manusia berjalan sebagai turunan dari kehendak Allah, akan tetapi sebenarnya terdapat pula banyak hal bathil yang berasal dari natur kegelapan mewarnai kehidupan baik di dalam diri manusia itu sendiri ataupun dari semesta mereka. Syaitan banyak menyisipkan kebathilan dalam sendi-sendi kehidupan di bumi dan mengatur manusia dengan sendi-sendi yang dibuatnya. Setiap manusia harus berusaha membangun akal agar mengetahui kehendak Allah yang sebenarnya bagi kehidupan mereka dan merealisasikannya, dan demikian itulah tugas setiap manusia sebagai khalifatullah.

Intergralnya seseorang dalam akal dan pikiran akan mempengaruhi tingkat kebersyukuran. Kadangkala seseorang berserah diri pada kehendak Allah tetapi tidak memahami kehendak Allah dan tidak memahami pengaturan yang ditentukan Allah bagi mereka dalam kehidupan di bumi. Dengan keadaan demikian, seseorang tidak dikatakan bersyukur sepenuhnya. Orang yang bersyukur mempersyaratkan adanya pemahaman tentang kehidupan mereka di bumi bersesuaian dengan pemahaman terhadap kehendak Allah, kemudian berbuat yang terbaik dengan pemahaman tersebut. Kebersyukuran seseorang yang sebenarnya seringkali dimulai pada usia 40 tahun.

Kebersyukuran pada prinsip dasarnya adalah berusaha mengarahkan bentuk kehidupan sesuai bentuk kehidupan yang dikehendaki Allah. Kadangkala seseorang hanya berserah kepada Allah dalam berbuat tanpa memperhatikan keadaannya di bumi. Misalnya kadang seseorang beramal hanya untuk satu kali mengerjakan perintah Allah, dan ia tidak memikirkan keberlanjutan perjuangannya. Hal ini merupakan sikap yang tidak terlalu tepat karena kurang integralnya akal dan pikirannya. Setiap orang harus berusaha memikirkan bentuk perjuangan yang harus dilakukannya berdasarkan bentuk kehidupannya di bumi. Bila seseorang harus berhutang untuk memulai perjuangannya, ia harus berpikir sungguh-sungguh hingga perjuangannya memperoleh bentuknya sesuai dengan kehendak Allah, kemudian rejeki mengalir dari perjuangannya hingga ia dapat mengembalikan hutangnya.

Manakala seseorang mengetahui kehendak Allah yang menjadi amanahnya, maka ia seharusnya berusaha mengetahui sarana untuk memperjuangkannya di muka bumi. Boleh jadi ia harus bekerja atau berjual beli agar dapat memberikan manfaat yang sebesarnya bagi umat, atau ia memanfaatkan atau mengelola infaq umat untuk perjuangannya, yaitu apabila ia mengetahui perjuangannya akan mendatangkan manfaat bagi umatnya berlipat ganda daripada infaq yang dimanfaatkannya dari umat. Boleh jadi seseorang harus mengkombinasikan berbagai metoda kebumian untuk membiayai apa yang perlu diperjuangkan dari pemahamannya tentang kehendak Allah.

Di sisi lain, untuk terwujudnya pelaksanaan amanah, setiap orang harus mengelola keberpasangan dirinya dengan isterinya. Keberpasangan antara suami dan isteri merupakan bagian lain dari usaha melihat langit dan bumi, sebagai representasi langit dan bumi dalam wujud manusia. Kebersamaan ini akan menjadi sarana terbentuknya kehidupan sesuai dengan kehendak Allah dan manusia akan dapat bersyukur dengan kehidupan yang demikian. Tanpa keadaan demikian, sangat sulit membentuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Suami dan isteri merupakan pakaian satu sama lain. Bila berpakaian baik, seseorang akan mudah menutup aib dirinya dan akan dipandang baik oleh orang lain, dan sebaliknya bila pakaiannya buruk maka kelemahan dan aibnya akan sangat mudah terlihat oleh orang lain. Dengan baiknya keberpakaian, sepasang manusia akan mudah membentuk kehidupan mereka agar sesuai dengan kehendak Allah. Sekalipun masih banyak aib yang ada pada salah satu pihak atu kedua pihak, keberpasangan itu akan menutupi aib-aib yang ada. Syaitan sangat merusak terbentuknya hubungan yang baik di antara suami isteri dan menimbulkan fitnah yang paling besar dengan memisahkan seorang isteri dari suaminya.

Kebersamaan seseorang dengan isterinya dalam perintah Allah merupakan wujud ekstensi integralitas pikiran dan akal manusia, dan itu akan menjadi pintu integrasi terhadap semesta mereka. Kedua hal tersebut berhubungan erat satu dengan lainnya. Orang yang integral dalam berpikir dan menggunakan akal akan mempunyai arah dalam membentuk kehidupan keluarga, dan kehidupan keluarga yang baik akan memudahkan pasangan untuk menggunakan akal dan pikirannya dengan baik dan benar. Menyatukan pikiran dan akal merupakan perbuatan memperhatikan apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan apa-apa yang ada di langit dan di bumi, karena terdapat ayat-ayat Allah dan penjelasan peringatan para pemberi peringatan bagi orang-orang yang memperhatikan.