Pencarian

Sabtu, 22 Mei 2021

Amal Shalih dan Fitnah Dalam Petunjuk

Manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna dalam pandangan Allah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mempunyai wujud kasar akan tetapi mempunyai kecerdasan sebagaimana makhluk di alam yang tinggi, bahkan dapat melampaui segenap kecerdasan makhluk-makhluk di alam yang tinggi. Dalam sejarahnya, penciptaan manusia yang pertama dilakukan di surga yang tinggi. Karena suatu peristiwa, manusia pertama tersebut bersama pasangannya diperintahkan untuk meninggalkan surga menuju ke bumi. Karena pengusiran dari surga, maka umat manusia menjadi berpecah-belah. Sebagian manusia menjadi musuh bagi manusia lainnya

Untuk kembali ke tempat tinggalnya di surga, setiap manusia diperintahkan untuk mencari jalan kembali dengan mengikuti petunjuk Allah. Allah akan mendatangkan kepada manusia petunjuk untuk kembali kepada Allah. Dengan mengikuti petunjuk tersebut, maka seseorang akan memperoleh jalan yang selamat dan tidak mengalami celaka.

﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
(123)Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(124)Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaha : 123-124)

Hidayah secara bahasa berarti petunjuk atau bimbingan, Secara istilah, Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan di sisi Allah. Hidayah mempunyai banyak tingkatan, dari hidayah bayan wal irsyad (penjelasan dan petunjuk) hingga hidayah yang diberikan bagi setiap makhluk. Penerima hidayah bayan wal irsyad wajib menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka. Kemudian ada hidayah yang merupakan hidayah yang Allah turunkan kepada siapa saja, yang mempunyai kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah. Selain itu, Allah sebenarnya juga memberikan petunjuk kepada setiap ciptaan setelah Dia memberikan bentuk kepada makhluk tersebut.

Manusia sebagai makhluk paling sempurna diciptakan dari dua tangan Rabbul Alamiin. Ini menunjukkan keberadaan dua entitas berbeda dalam satu diri manusia. Dalam setiap bentuk ciptaan, Allah memberikan hidayah dalam wujud yang berbeda. Dengan adanya dua bentuk ciptaan dalam diri manusia, setiap manusia dapat mencari petunjuk sesuai keadaan masing-masing. Sebagian cenderung dengan bentuk-bentuk duniawi, sebagian dapat mencari petunjuk dalam bentuk-bentuk kehidupan jiwa.

Membentuk Akhlak Al Karimah Dengan Hidayah

Hidayah yang harus diusahakan seseorang adalah hidayah untuk mendapatkan shirat al mustaqim agar dapat kembali kepada Allah dengan selamat. Pencarian hidayah Allah untuk menemukan shirat al mustaqim demikian itu merupakan salah satu bentuk pemurnian ubudiyah bagi Allah semata-mata. Dalam kehidupan manusia di bumi, banyak bentuk-bentuk petunjuk yang diberikan oleh selain Allah untuk membuat seseorang bingung dalam kehidupannya di dunia. Petunjuk itu merupakan upaya pencampuran agar manusia melakukan seruan kepada selain Allah. Syaitan selalu mengupayakan agar seseorang tergelincirkan untuk menyeru pada selain Allah. Mencari hidayah shirat al mustaqim merupakan pemurnian ubudiyah bagi Allah semata-mata.

﴾۱۷﴿قُلْ أَنَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(71)Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah dibimbangkan oleh syaitan di pesawangan di bumi dalam keadaan bingung. dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada petunjuk (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, (QS Al-An’aam : 71)

Salah satu parameter hidayah dari Allah adalah terbentuknya akhlak mulia dalam diri seseorang. Itu mensyaratkan pemurnian hati. Dengan keikhlasan, seseorang akan terbentuk sebagai makhluk yang mengerti jalan kehidupannya, sebagaimana seekor anak elang menemukan jalannya untuk terbang dengan kedua sayapnya. Hidayah Allah akan memberi petunjuk kepada seseorang hingga seseorang mengerti bahwa pengetahuan Alquran dan pengetahuan kehidupannya di bumi menyatu. Pengetahuan tentang ayat alquran itu ibarat sayap kanan dan pengetahuan kehidupan bumi ibarat sayap kiri, dan kedua sayap itu menyatu dalam diri seseorang untuk terbang mendekat kapada Allah. Amal-amal yang dikalungkan Allah di leher setiap insan adalah sayap untuk terbang mendekat kepada Allah. Itu adalah shirat al mustaqim baginya.

Untuk mewujudkan hal itu, manusia diciptakan berpasangan. Setiap manusia diciptakan berpasangan sebagai jiwa dan raga. Keberpasangan itu akan membentuk pengetahuan tentang kitabullah dalam jiwanya, dan pengetahuan kehidupan dunia dalam raganya. Dengan hidayah dari Allah, akan terbentuk pengetahuan jiwa dan pengetahuan raga secara setimbang sebagaimana terbentuknya sepasang sayap pada elang. Dengan kedua sayap itu seorang manusia dapat menemukan jalannya untuk kembali kepada Allah.

Wujud akhlak demikian harus dapat termanifestasi bagi semesta seseorang hingga wujud-wujud fisik. Untuk memanifestasikan di alam dunia, setiap manusia diciptakan berpasangan dengan isteri-isteri mereka. Hubungan fungsional antara seorang isteri dengan suami dalam upaya manifestasi akhlak seorang laki-laki dapat dilihat dalam gambaran fisik berupa harus hadirnya telur untuk benih laki-laki untuk melahirkan seorang bayi. Syaitan selalu berusaha memotong manifestasi akhlak yang baik hingga terlahir di semesta seseorang dengan upaya memisahkan seorang isteri dari suaminya. Dengan memisahkan seorang isteri dari suaminya, seorang suami yang telah memiliki kedua sayap setimbang untuk terbang mendekat kepada Allah tidak akan mampu mewujudkan amal shalihnya di alam dunia. Keberpasangan suami dan isteri harus menjadi perpanjangan dari keberpasangan jiwa dan raga suami, atau suami isteri, sebagai sepasang sayap untuk mendekat kepada Allah.

Petunjuk yang demikian yang akan mengantarkan seseorang untuk kembali kepada Allah dengan keselamatan, dan menjadi jalan untuk menghilangkan permusuhan di antara manusia. Itu adalah sunnah yang diajarkan oleh rasulullah SAW. Sebagian orang yang memperoleh petunjuk di alam dunia menjadi buta ketika dikumpulkan di alam makhsyar. Hal itu membuat mereka bertanya, apakah yang menyebabkan mereka dikumpulkan dalam keadaan buta, padahal dahulu mereka orang yang mendapatkan petunjuk ketika berada dalam kehidupan di dunia. Setiap orang harus berusaha menemukan petunjuk Allah yang sebenarnya, hingga dapat mengenali bahwa petunjuk yang diperoleh tidak hilang dalam kehidupan akhirat, hingga dirinya mengetahui jalan kehidupan yang harus ditempuh di dunia untuk mendekat kepada Allah.

Petunjuk-petunjuk yang dikatakan oleh teman-teman seseorang di bumi boleh jadi merupakan petunjuk yang akan hilang di alam akhirat bila dirinya tidak memperteguhnya dengan pengetahuan dari Allah. Itu merupakan wujud petunjuk yang bersifat kurang manfaatnya dalam kategori ringan. Sebagian petunjuk merupakan petunjuk yang dibangkitkan untuk menimbulkan kebingungan manusia dalam perjalanan di muka bumi. Dengan petunjuk itu, seseorang justru mengalami kebingungan untuk menempuh jalan kembali kepada Allah. Itu adalah petunjuk yang sifatnya membingungkan dalam kategori sedang. Sebagian petunjuk bersifat menyesatkan karena berasal dari syaitan. Itu adalah petunjuk yang membingungan dalam kategori berat.

Rasulullah SAW menjadikan pernikahan sebagai sunnah yang membimbing manusia untuk memperoleh petunjuk yang benar. Suami dan isteri harus membentuk keluarga dengan sebaik-baiknya. Setiap isteri hendaknya patuh kepada suaminya karena suaminya mengerti keadaan mereka. Seorang suami akan mengetahui keadaan rumah tangga mereka dengan menimbang keadaan dirinya. Ia dapat mengetahui apa yang salah dengan keadaan mereka dengan melihat jiwanya. Ketika keadaan bumi mereka tidak selaras dengan keadaan jiwa, suami akan mengetahui ketidakselarasan yang terjadi, dan barangkali ia dapat mengupayakan perbaikan yang bagi keadaan mereka. Isteri yang tidak mau mengikuti suaminya dalam upaya itu akan menghambat perbaikan yang harus dilakukan.

Fitnah Syaitan Dalam Keberpasangan

Syaitan akan berupaya memisahkan setiap perjodohan yang baik. Memisahkan seorang perempuan yang berjodoh baik bagi seorang laki-laki tertentu merupakan kemenangan pertama bagi syaitan. Ini berlawanan dengan parameter kemenangan seorang pembimbing agama. Menikahkan seorang laki-laki dengan jodoh yang terbaik merupakan langkah kemenangan pertama bagi seorang syaikh. Seorang syaikh bahkan kadangkala bermain siasat untuk memaksa terjadinya pertemuan dan pernikahan seorang laki-laki dengan jodohnya dalam upayanya melangkah di antara basyiran (berita baik) dan nadziran (peringatan) yang harus diemban bagi umatnya. Siasat demikian harus beliau lakukan sebagai upaya meredam, mengimbangi atau memusnahkan fitnah syaitan yang berupaya dengan cara sebaliknya memisahkan isteri dari suaminya. Siasat ini kadang harus diaksanakan, tidak dapat ditempuh seorang syaikh dengan cara lain.

Seorang syaikh tidak akan terjebak untuk mengejar berita baik (basyiran) dari Allah saja, tetapi pasti juga akan memperhatikan peringatan (nadziran) yang akan menghancurkan mereka. Kadangkala seorang syaikh mengerti bahwa syaitan akan melakukan langkah yang akan berakibat sangat buruk untuk umat yang menjadi tanggung jawabnya, hingga kadang mengerti bahwa umatnya kelak harus kembali bangkit dari debu kekalahan mereka. Sebuah langkah strategis harus dilakukan, dan seringkali hal itu dengan menikahkan seseorang laki-laki dengan jodohnya. Langkah itu adalah kemenangan sang syaikh yang tertunda. Tanpa langkah itu, umatnya akan berantakan dan hisab baginya di alam akhirat akan berjalan berat.

Bersiasat dengan cara demikian hanya dapat dilakukan bila seseorang mengenal realitas yang terjadi, yang menjadi dasar suatu peristiwa lain yang mungkin terjadi. Syaikh itu harus mengenal hakikat (Al-Haqq) yang menjadi landasan suatu peristiwa yang mungkin akan terjadi. Tanpa mengenal Al-Haqq, seseorang tidak diperkenankan untuk memaksakan sesuatu terjadi. Bahkan seorang nabi Nuh a.s tidak diperkenankan untuk sekadar memohon sesuatu tanpa mengetahui apa yang diminta, tentu lebih dilarang bila memaksakan sesuatu untuk terjadi. Di jaman sekarang, pengenalan hakikat (Alhaqq) hanya benar bila dapat divalidasi dengan kitabullah Alquran.

Upaya syaitan untuk memisahkan orang yang berjodoh sangatlah besar. Suatu perjodohan yang baik dapat diubah menjadi suatu bencana besar bagi manusia dengan hembusan-hembusan pada hawa nafsu manusia. Suatu rencana pernikahan dapat diubah syaitan menjadi perang bubat yang memisahkan umat manusia. Demikian syaitan selalu hadir untuk melakukan tipuan-tipuan untuk memisahkan dalam setiap proses perjodohan yang baik.

Sepasang manusia yang menerima petunjuk perjodohan yang sama dapat menjadi sumber malapetaka bagi umat manakala ada pihak-pihak terlena oleh tipuan syaitan. Dalam hal semacam itu, setiap pihak harus berusaha berlindung dan menghindar dari tipuan syaitan hingga tidak menjadi sumber malapetaka bagi manusia. Dalam tingkatan tertentu, memohon petunjuk pun tidak diperkenankan tanpa berusaha mengetahui hakikatnya terlebih dahulu, sebagaimana nabi Nuh a.s tidak diperkenankan memohon tanpa mengetahui hakikatnya. Petunjuk yang benar yang turun kepada masing-masing pasangan kadangkala tidak dapat dibatalkan dengan permohonan petunjuk oleh orang lain tanpa berusaha mengetahui terlebih dahulu hakikat dari perjodohan mereka. Syaitan dalam tingkatan yang sangat tinggi akan berusaha untuk hadir bagi semua pihak yang dilibatkan sebagai upaya membuat fitnah bagi manusia.

Syaitan tidak hanya hadir dalam perjodohan yang baik. Ketika perjodohan yang dipandang seseorang tidak baik terjadi, semua pihak tidak boleh melakukan tindakan secara gegabah karena syaitan hadir di antara mereka. Tidak boleh suatu pihak melakukan hinaan terhadap pihak lainnya. Ada hati dan cinta yang terlibat dalam perjodohan itu, walaupun mungkin hanya sepihak. Sebuah hinaan yang ditujukan pada pihak lain akan membangkitkan pikiran dan kalimat buruk dalam pikiran pihak yang dihina, padahal ada hati dan cinta dalam diri mereka. Seringkali hal buruk menimpa seseorang sebagai qishas hinaan yang dilakukannya kepada jodoh yang datang kepadanya, dan hanya dapat dihilangkan atas ijin Allah dengan meminta maaf atas hinaan yang dilakukannya. Syaitan memanfaatkan jiwa-jiwa manusia dan hukum-hukum Allah untuk menimbulkan fitnah di antara manusia.

Orang-orang beriman tidak boleh merasa aman dari melakukan tindakan buruk semacam ini. Syaitan yang hadir justru akan semakin tinggi pangkatnya ketika berurusan dengan orang-orang beriman, dan setiap pihak akan didorong untuk melakukan tindakan buruk dalam proses demikian. Orang beriman seringkali melakukan hal yang buruk ini dan justru merasa bahwa mereka melakukan perbuatan yang baik.

Sekalipun seseorang benar-benar ikhlas untuk agama dalam perjodohan harapannya, sebuah hinaan dalam menolaknya akan membangkitkan dalam dirinya pikiran dan kalimat buruk tentang jodoh yang diharapkan. Seseorang yang ikhlas dalam agama mungkin akan berusaha menahan kalimat itu untuk tidak keluar dari mulutnya, tetapi kalimat buruk itu pasti akan bangkit dalam pikirannya. Boleh jadi ia tidak bisa menahan rembesan sebagian kalimat buruk itu dalam munajatnya kepada Allah. Itu merupakan sumber fitnah yang mungkin timbul dari proses perjodohan. Dalam perjodohan secara umum, Rasulullah SAW menyarankan umatnya untuk menerima pinangan orang lain untuk menghindari fitnah. Beberapa kriteria perjodohan secara khusus lebih utama atau harus dilakukan hingga memungkinkan untuk tidak menerima pinangan seseorang.

Setiap orang harus memperhatikan batas yang dapat dilakukan dalam interaksinya tentang perjodohannya. Dalam suatu perjodohan terkandung batas-batas keimanan, dimana seseorang dapat tergolong kepada orang yang kufur terhadap nikmat Allah dan beriman kepada yang bathil bilamana bersikap salah dalam tindakannya ketika berinteraksi dalam perjodohan. Masalah rejeki, paras wajah, nasab dan agama mengandung batas-batas keimanan yang harus dipatuhi. Seseorang harus mempertimbangkan perjodohan yang datang dengan sebaik-baiknya, boleh menerima atau menolak, tetapi tidak boleh menghina persoalan rezeki, paras wajah, nasab ataupun agama seseorang karena itu terkait langsung dengan kehendak Allah. Menerima atau menolak jodoh yang datang harus dilakukan dengan cara dan kalimat yang sebaik-baiknya, tidak menimbulkan fitnah di antara masyarakat. Seringkali fitnah itu kembali kepada orang yang melakukan tindakan tidak baik.


Selasa, 18 Mei 2021

Ruh dan Keterbukaan Amanah

Dalam perjalanan kembali kepada Allah, ada sebuah fase dimana Allah akan mewahyukan kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya ruh yang membawa perintah-Nya. Dengan ruh tersebut, seseorang akan mengerti tentang kitab diri yang harus dipatuhinya dalam kehidupan di dunia. Bila orang itu memenuhi ketetapan dalam kitab dirinya, maka ia akan memperoleh hakikat-hakikat kebenaran (alhaqq) yang akan menjadi pemberat timbangan pada hari akhir. Kesesuaian amal dengan kitab diri itulah yang mendatangkan pengertian tentang kebenaran. Kadangkala seseorang sangat banyak beramal akan tetapi tidak mendatangkan pengertian tentang kebenaran. Hal itu menjadi tanda bahwa kehidupan dirinya melenceng jauh dari kitab yang telah ditentukan baginya.

﴾۲۵﴿وَكَذٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dengan (membawa) perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS As-Syuura : 52)

Ruh merupakan entitas yang menurunkan amr Allah kepada seseorang yang dikehendaki Allah, sehingga orang tersebut mengerti amanah yang harus ditunaikan di alam dunia. Dengan turunnya amr Allah ke dalam hati, maka orang itu mengerti untuk apa dirinya diciptakan. Tanda bahwa ruh telah diwahyukan ke dalam hati seseorang adalah keterbukaan pemahamannya tentang alkitab bagi dirinya, dan pemahamannya akan iman dalam hatinya. Alkitab itu adalah bagian dirinya dari Alquran. Orang itu akan mengerti ayat-ayat Alquran yang diperuntukkan bagi dirinya, ayat yang menjelaskan segala sesuatu terkait kehidupan dirinya dan semua amanah yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia. Sebelum pewahyuan ruh, seseorang hanya dapat menyentuh permukaan ayat-ayat alquran dan barangkali ayat-ayat itu tidak bercerita secara jelas dan khusus tentang kehidupan dirinya. Setelah pewahyuan ruh, maka ruh itu membacakan alkitab kepada dirinya sehingga dirinya mengerti alkitab dan imannya.

Pewahyuan ruh ke dalam hati seseorang akan membuka pengetahuan dalam dirinya, berupa pengetahuan yang menjelaskan. Seseorang akan mengalami keterbukaan yang sangat jelas tentang kehidupan dirinya, dari berupa pengetahuan tentang kitab dirinya hingga pada pengetahuan yang membuat dia mengenal rabb-nya, setelah mengenal nafs-nya. Pengenalan seseorang tentang rabb-nya itu merupakan pengetahuan tentang keimanan. Pengetahuan keimanan seseorang yang memperoleh pewahyuan ruh kepada rabb-nya terjadi berdasarkan pada pengenalan tentang dirinya. Pengetahuan itu membuatnya mengenal keimanan.

Pencarian Jati Diri Berdasarkan Alquran

Pewahyuan ruh kepada seseorang akan terjadi bila seseorang bersungguh-sungguh mencari jalan kembali kepada Allah melalui Alquran. Allah menjadikan Alquran sebagai cahaya yang memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki Allah. Tidak ada yang memberi seseorang petunjuk sebagaimana Alquran memberikan petunjuk, sehingga orang itu bisa memperoleh pewahyuan ruh. Alquran akan menunjukkan segala yang harus dilakukan seseorang untuk menemukan jalan kembali, sejak awal pencarian hingga seterusnya. Alquran selalu menjadi cahaya bagi orang yang mencari jalan kembali kepada Allah, tanpa ada batas perjalanan yang ditempuh. Kesesatan yang mungkin terjadi ketika seseorang mengikuti Alquran tidak terjadi karena Alquran, tetapi lebih diakibatkan karena kesalahan orang itu dalam bersikap terhadap Alquran.

Perjalanan menuju Allah merupakan perjalanan sangat panjang dan sangat banyak kesamaran yang dapat menyesatkan seseorang ke jalan yang salah. Dalam banyak kasus, tidak menggunakan Alquran untuk kembali kepada Allah akan membuka celah kesesatan yang sangat besar. Banyak tipuan terbentang bagi manusia baik yang halus ataupun tipuan yang kasar. Semakin jauh perjalanan seseorang, semakin halus ilusi dan tipuan yang menghampiri mereka. Tanpa berpegang teguh pada Alquran, celah kesesatan akan terbuka semakin besar. Seseorang harus selalu berpegang kepada Alquran sejak awal mula perjalanan. Hal ini tidak boleh dihentikan ketika seseorang memperoleh pewahyuan ruh bagi mereka. Setiap pembacaan ruh terhadap kehidupannya harus diperiksa berdasarkan Alquran.

Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin saja dikehendaki Allah untuk memperoleh jalan yang lurus, sehingga timbul kecintaannya terhadap Alquran setelah pewahyuan ruh. Kecintaan terhadap Alquran dengan cara semacam ini merupakan perbuatan yang benar. Manusia boleh mengikuti pembacaan Alquran oleh seseorang yang dikehendaki Allah dengan cara demikian untuk memperoleh petunjuk pada jalan yang lurus. Sebaliknya sebagian manusia meninggalkan Alquran setelah mendapatkan petunjuk. Ini menunjukkan perbuatan yang tidak benar, dan menunjukkan ada kesalahan dalam pencariannya. Setiap orang tidak boleh meninggalkan Alquran dalam keadaan apapun, baik sebelum ataupun setelah pewahyuan ruh kepada dirinya. Tidak boleh seseorang mengikuti perkataan yang meninggalkan Alquran untuk memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus.

Keterbukaan Jati Diri

Keterbukaan seseorang terhadap jati dirinya merupakan sebuah pertanda tentang datangnya urusan (amr) Allah bagi seseorang. Allah mempunyai hadiah besar yang akan diberikan kepada orang itu bilamana melaksanakan amanah yang diberikan kepada dirinya dengan sebaik-baiknya. Amanah itu merupakan gambaran shirat al-mustaqim yang harus ditempuh untuk kembali kepada Allah.

Hadiah itu berupa pengampunan Allah bagi dirinya atas dosa-dosa yang telah lalu ataupun dosa-dosa yang akan datang, dan Allah berkehendak menyempurnakan nikmat-Nya bagi dirinya, dan Allah berkehendak memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Amanah yang dilihatnya merupakan petunjuk yang harus dilaksanakan. Bila seseorang melaksanakan amanah Allah, Allah akan memberikan petunjuk lebih banyak sehingga ia akan benar-benar melihat bahwa jalan itu adalah jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah.


﴾۱﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
﴾۲﴿لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا


(1)Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (2)supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, (QS Al-Fath :1-2)

Keterbukaan yang diberikan Allah itu merupakan fenomena yang terjadi mengikuti pewahyuan ruh kepada seseorang. Ruh itu merupakan cahaya di atas cahaya yang diperkenalkan Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Hal ini bersifat universal di seluruh alam, fenomena yang menunjukkan bahwa seseorang telah mengenal shirat al-mustaqim bagi dirinya.

Setiap manusia yang mengenal fenomena ini dapat mengenali hal itu, walaupun diungkapkan dalam bahasa yang berbeda. Dalam khazanah jawa, cahaya di atas cahaya ini dikenal sebagai Nurcahya, dan definisi ini sama persis dengan khazanah dari Alquran, walaupun dalam sudut pandang yang berbeda. Seorang ulama menjelaskan dalam seratnya sebagai berikut :

SS Sinom no 193

Nurcahya iku rawuhnya

nur cahaya (cahaya di atas cahaya) itu datangnya

tan ana kang bisa ngerti

tidak ada yang bisa mengetahui

nanging bisa dipun rasa

tapi bisa dirasakan

kinanthi kang jiwa resik

melalui jiwa yang bersih

arsa pirsa ingkang ghaib

akan mengetahui yang ghaib

winuruk kabeh kang ilmu

diajar semua ilmu

yaiku tandha ingkang nyata

Itulah tanda yang nyata

lamun sira sampun panggih

jika engkau sudah bertemu

jiwanira rinengga kang nur lan cahya.

jiwamu yang dihiasi nur dan cahaya


Pupuh sinom tersebut di atas menjelaskan dan menegaskan bahwa peristiwa keterbukaan bagi seorang laki-laki itu merupakan tanda yang nyata bahwa laki-laki itu telah bertemu dengan jiwanya yang berhias cahaya-cahaya. Cahaya di atas cahaya itu akan hadir tanpa ada yang mengetahui. Peristiwa kehadiran cahaya di atas cahaya ini adalah peristiwa seorang laki-laki mengenal diri sendiri, dimana dengan mengenal diri sendiri maka dirinya mengenal rabb-nya. Cahaya di atas cahaya itu adalah cahaya pengenalan seseorang terhadap cahaya Allah.

Ini merupakan standar yang pasti tentang pengenalan diri seorang laki-laki terhadap cahaya Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al-fath ataupun As-Syuura di atas. Dalam banyak kisah, peristiwa semacam itu ditandai dengan pertemuan seseorang dengan jiwanya, akan tetapi penulis tidak menemukan teks tertulis yang menjelaskan demikian, dan sebaliknya teks sinom tersebut menjelaskan tentang standar yang lebih pasti tentang pengenalan terhadap cahaya di atas cahaya. Hal yang pasti terjadi, Allah membukakan kesadaran tentang dirinya yang sebenarnya.

Barangkali tidak semua orang yang mengenal jiwanya mengalami pertemuan dengan jiwanya, atau ada hal-hal khusus yang menyebabkan perbedaan peristiwa demikian. Seorang laki-laki yang mengenal cahaya Allah boleh jadi akan bertemu dengan jiwanya, tetapi bisa juga cahaya di atas cahaya itu datang tanpa diketahui oleh seorangpun, bahkan boleh jadi laki-laki yang bersangkutan tidak mengetahui kehadiran cahaya di atas cahaya itu, tetapi hanya bisa merasakan melalui jiwanya.


Kamis, 13 Mei 2021

Ruh, Amr Allah dan Bacaan Alquran

Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Ini adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh setiap manusia sejak kehidupannya di bumi hingga kelak bertemu Allah di alam makhsyar. Sebagian manusia bertemu Allah dalam ridha-Nya, sebagian bertemu dengan murka-Nya, dan sebagian besar manusia digiring untuk bertemu Allah setelah kesesatan mereka dalam semua fase kehidupan yang berjalan ribuan tahun.

Untuk memperoleh jalan kehidupan yang selamat, setiap orang hendaknya berusaha benar-benar mengikuti apa-apa yang diturunkan kepada mereka berupa kitabullah dan tidak mengikuti apa-apa yang selain itu dengan menjadikannya sebagai wali. Hal ini seringkali tidak mudah dilakukan karena kehidupan di bumi. Manusia seringkali lebih mempercayai apa yang ada ditangannya daripada ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam kitabullah.

Dalam perjalanan kembali kepada Allah, ada sebuah fase dimana Allah akan mewahyukan kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya ruh yang membawa perintah-Nya. Dengan ruh tersebut, seseorang akan mengerti tentang kitab diri yang harus dipatuhinya dalam kehidupan di dunia. Bila orang itu memenuhi kitab dirinya, maka dirinya akan memperoleh hakikat-hakikat kebenaran (alhaqq) yang akan menjadi pemberat timbangan pada hari akhir. Kesesuaian amal dengan kitab diri itulah yang mendatangkan pengertian tentang kebenaran. Kadangkala seseorang sangat banyak beramal akan tetapi tidak mendatangkan pengertian tentang kebenaran. Hal itu menjadi tanda bahwa kehidupan dirinya melenceng jauh dari kitab yang telah ditentukan baginya.

 

﴾۲۵﴿وَكَذٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari amr (urusan) Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami telah menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS As-Syuura : 52)

Ruh pada dasarnya merupakan entitas yang menurunkan amr Allah kepada seseorang yang dikehendaki Allah, sehingga orang tersebut mengerti amanah yang harus ditunaikan di alam dunia. Seringkali orang tersebut melihat turunnya ruh kepada dirinya dalam wujud yang dikehendaki Allah, kemudian dirinya mengerti tentang urusan Allah bagi kehidupannya. Akan tetapi bukan tidak mungkin hanya terjadi tiba-tiba hatinya mengerti tentang urusan Allah yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia. Dengan turunnya amr Allah ke dalam hati, maka orang itu mengerti untuk apa dirinya diciptakan.

Amr Allah yang diturunkan kepada seorang hamba merupakan bagian dari amr yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Amr itu akan mengantarkan seseorang untuk mengerti tentang amr jami’ Rasulullah SAW, dimana ia akan mengerti peran dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW. Visi besar Rasulullah SAW akan dimengerti orang tersebut, walaupun dirinya hanya diberi kemampuan pada sebagian kecil dari amr jami’ Rasulullah SAW. Tidak ada amr yang diturunkan Allah kepada seseorang yang terpisah dari amr jami’ Rasulullah SAW. Hal ini perlu diperhatikan, karena iblis pun sebenarnya juga mendorong seseorang untuk mengenal diri, akan tetapi terlepas dari amr jami’ Rasulullah SAW.

Tanda bahwa ruh telah diwahyukan ke dalam hati seseorang adalah pemahamannya tentang alkitab bagi dirinya, dan pemahamannya akan iman dalam hatinya. Alkitab itu adalah bagian dirinya dari Alquran. Orang itu akan mengerti ayat-ayat Alquran yang diperuntukkan bagi dirinya, ayat yang menjelaskan segala sesuatu terkait kehidupan dirinya dan semua amanah yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia. Sebelum pewahyuan ruh, seseorang hanya dapat menyentuh permukaan ayat-ayat alquran dan barangkali ayat-ayat itu tidak bercerita secara jelas dan khusus tentang kehidupan dirinya. Setelah pewahyuan ruh, maka ruh itu membacakan alkitab kepada dirinya sehingga dirinya mengerti alkitab dan imannya.

Walaupun pemahaman seseorang terhadap Alkitab dirinya baru terjadi bilamana ada pewahyuan ruh, akan tetapi Allah selalu menjadikan Alquran sebagai cahaya terang yang menerangi kehidupan hamba-hamba yang dikehendaki. Alquran itu selalu memberikan petunjuk kepada hamba-hamba yang dikehendaki Allah untuk menerima petunjuk-Nya. Orang-orang yang memperoleh terangnya cahaya Alquran adalah hamba-hamba yang dikehendaki Allah untuk menerima petunjuk-Nya walaupun mungkin belum menerima pewahyuan ruh. Bilamana seseorang dapat membaca Alquran dengan membawa cahaya, manusia tidak boleh menganggap pembacaan itu sebagai hal remeh karena status orang yang membacanya.

Orang yang telah menerima pewahyuan ruh itu dijadikan Allah sebagai orang-orang yang dapat memberikan petunjuk bagi manusia menuju shirat al-mustaqim. Mereka benar-benar memberikan petunjuk menuju shirat al-mustaqim karena mereka telah mengikuti Rasulullah SAW dengan benar, dalam urusan masing-masing. Tidak semua hal dilakukan dengan benar oleh orang yang telah menerima pewahyuan ruh, tetapi dibatasi oleh urusan Allah yang diturunkan bagi masing-masing. Dalam tingkatan berikutnya, orang-orang yang telah memperoleh terangnya Alquran dapat dikatakan sebagai orang yang dapat menunjukkan kepada shirat al-mustaqim, walaupun mungkin saja masih ada kesalahan yang bisa dilakukan dalam mengikuti rasulullah SAW.

Tidak boleh ada kerancuan dalam melibatkan ruh dalam memahami Alquran. Kadangkala seseorang menganggap bahwa pemahaman tentang Alquran harus divalidasi oleh ruh. Hal ini merupakan cara pandang yang terbalik. Cara pandang yang benar adalah apa yang diturunkan oleh ruh ke dalam hati manusia harus divalidasi dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Yang menjadi amanah bagi seseorang adalah bacaan ruh yang dapat divalidasi dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, dan turunannya yang jelas. Ini harus diperhatikan karena boleh jadi syaitan juga melemparkan bisikan tentang amr. Alquran merupakan panduan menyeluruh yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW sebagai penghulu segenap makhluk, petunjuknya meliputi segenap hal yang dibutuhkan oleh segenap makhluk yang menginginkan kebenaran, sedangkan ruh merupakan pembawa bagian dari Alquran untuk perseorangan. Alquran lebih menyeluruh dibandingkan pembacaan ruh.

 

Ruh dan Jamaah

Ruh menjelaskan ayat Alquran bagi perseorangan, dan bagi tiap-tiap orang terdapat ruh yang akan membacakan bagian Alquran bagi dirinya. Ruh bersifat personal bagi perseorangan. Dalam jamaah, ruh-ruh berkumpul bersama berdasarkan kesamaan yang mereka kenal. Sebagian ruh berkumpul karena mengenal ruh lain yang membawa urusan berdekatan, sedangkan satu ruh dengan ruh lain yang urusannya berjauhan akan berpisah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
الأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف
Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.” (HR. Muslim 6376)

Ruh bukanlah entitas yang maha mengetahui. Walaupun jauh lebih berpengetahuan daripada jasmani manusia, pengetahuan yang dibawa satu ruh mempunyai batas-batas tertentu, tidak mencakup semua hal. Tidak ada manusia yang menjadi segel kebenaran kecuali rasulullah SAW, dan mungkin beberapa manusia yang dipilih Allah. Satu ruh belum tentu mengenal ruh orang lain. Demikian pula berlaku dalam pembacaan Alquran. Satu ayat yang dibacakan satu ruh kepada seseorang belum tentu bisa dibaca oleh ruh yang diperuntukkan bagi orang lain. Masing-masing orang akan mengetahui pembacaan Alquran oleh ruh dirinya, dan belum tentu mengetahui pembacaan Alquran oleh ruh orang lain yang terpisah dengan ruh-nya. Dengan demikian, seseorang belum tentu bisa melakukan validasi terhadap bacaan Alquran oleh ruh orang lain.

Validasi Alquran bisa dilakukan dalam struktur kesatuan. Rasulullah SAW bisa melakukan validasi terhadap semua bacaan Alquran, dan bahkan beliau harus dijadikan pedoman kebenaran pembacaan Alquran setiap manusia. Tidak ada pembacaan Alquran yang benar yang bertentangan dengan penjelasan Rasulullah SAW. Pemahaman suatu ayat Alquran satu orang dengan orang lain bisa berbeda, akan tetapi tidak pernah pemahaman yang benar bertentangan dengan penjelasan rasulullah SAW. Dalam struktur kesatuan yang sama, satu orang pemimpin urusan mungkin dapat melakukan validasi pemahaman terhadap ruh yang ada dalam kesatuannya, akan tetapi tidak ada jaminan bahwa pemahaman pemimpin lebih baik daripada anak buahnya dalam urusan anak buahnya. Ketakwaan masing-masing menentukan kualitas pemahaman seseorang terhadap Alquran.

Pada sudut pandang sebaliknya, tidak ada orang yang bisa melakukan validasi atas apa yang diajarkan rasulullah SAW. Para ahli hadits dan ulama lain tidak mempunyai hak untuk menghukumi salah atau benar suatu isi hadits. Ilmu mereka tidak akan meliputi pengetahuan rasulullah SAW. Mereka hanya menentukan kategori hadits sebagai shahih, dlaif atau kategori lain berdasarkan kriteria periwayatan hadits. Demikian pula pada masyarakat junud al mujannadah berdasarkan ruh, seorang anak buah tidak akan dapat melakukan validasi terhadap pemimpinnya, dan seorang pemimpin tidak akan dapat melakukan validasi terhadap ruh dari kesatuan yang lainnya. Hal ini harus dimengerti orang yang mendapatkan wahyu ruh tentang ruh mereka, bahwa mereka mempunyai batasan yang tidak boleh dilampaui. Penting bagi mereka mengenal pemimpin mereka sebagai jalan untuk mengenal Rasulullah SAW. Tanpa wasilah, boleh jadi mereka tersesat.

Senin, 10 Mei 2021

Pernikahan Sebagai Sarana Mengenal Allah

Allah memberikan petunjuk kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya untuk mengenal cahaya Allah dalam wujud permisalan berupa cahaya di atas cahaya. Sekalipun berupa cahaya di atas cahaya, entitas itu bukanlah zat Allah akan tetapi hanya merupakan permisalan bagi cahaya Allah yang hendak diperkenalkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Tidak ada satu makhluk-pun yang pernah bertemu dengan Allah kecuali dalam wujud permisalan yang dikehendaki-Nya.

Manusia merupakan hamba-Nya yang dikehendaki untuk diperkenalkan kepada cahaya-Nya dalam wujud yang paling tinggi. Manusia itu adalah Rasulullah Muhammad SAW. Tidak ada makhluk yang dapat mengenal Allah lebih baik daripada beliau SAW, karena beliau mengenal cahaya Allah di ufuk yang tertinggi. Para makhluk langit yang tinggi tidak dapat mengenal wujud cahaya itu sebagaimana pengenalan Rasulullah SAW.

Orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW akan diperkenalkan kepada cahaya-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ada kriteria yang harus dipenuhi agar seseorang termasuk dalam kelompok yang dikehendaki Allah untuk diperkenalkan kepada cahaya-Nya. Salah satu kriteria itu adalah bahwa orang itu berada di dalam rumah-rumah yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebutkan asma Allah di dalamnya.



﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Di dalam rumah-rumah yang telah Allah izinkan ditinggikan dan disebut asma-Nya di dalamnya, mereka bertasbih bagi-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan waktu petang (QS An-Nuur : 36)

Rumah-rumah itu adalah rumah tangga yang harus dibentuk sesuai dengan kehendak Allah. Itu adalah salah satu syarat utama untuk mengenal cahaya Allah, syarat yang disebutkan terlebih dahulu daripada kualitas pribadi seseorang. Asma Allah hanya dapat ditinggikan bila terbentuk rumah tangga yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebutkan asma-Nya di dalamnya. Dengan membentuk rumah tangga sesuai dengan kehendak Allah, maka seorang laki-laki memiliki basis untuk meninggikan asma Allah. Tidak ada seorang laki-laki yang dapat meninggikan asma Allah tanpa rumah tangga yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan didzikirkan asma-Nya di dalamnya.

Harus terbentuk hubungan antar suami-istri sesuai dengan kehendak Allah, rumah tangga yang dapat memancarkan bayangan asma Allah berupa Ar-Rahman Ar-Rahiim. Seorang suami harus tumbuh akalnya untuk memahami kitabullah yang diajarkan oleh Ar-Rahman. Isteri atau para isteri harus tumbuh sifat-sifat rahimiyahnya sebagai perempuan ahli surga sehingga pemahaman suaminya terhadap Alquran dapat tumbuh subur di alam duniawi.

Ta’addud Untuk Memurnikan Kasih Sayang

Kadangkala keluarga itu harus ditumbuhkan sebagai keluarga lebih dengan satu isteri (ta’addud). Hubungan semacam ini dibentuk untuk memancarkan hubungan citra rahmaniah dan rahimiah Allah terhadap banyak makhluk-Nya. Dengan hubungan ta’addud demikian orang-orang yang terlibat dalam pernikahan akan dimurnikan untuk mengenal asma-asma Allah yang tertinggi, yang tidak dapat diperoleh dengan jalan yang lain. Seorang laki-laki akan dituntut setiap saat untuk belajar bersikap adil melalui para istrinya, bagi umat yang menjadi tanggungannya. Demikian pula para isteri dituntut untuk selalu belajar membangun kasih sayang terhadap orang lain berdasarkan kemurnian jiwanya, di mana masing-masing isteri harus belajar membersihkan jiwanya dengan bergaul dengan isteri yang lain di atas dasar kasih sayang.

Bentuk keluarga demikian akan menghindarkan para pihak dalam keluarga dari bentuk cinta egoistik. Kemurnian pengenalan terhadap kasih sayang Allah demikian merupakan basis dalam meninggikan asma Allah. Asma Allah hanya dapat ditinggikan melalui kasih sayang yang murni. Dahulu Iblis tampak sebagai makhluk yang sangat mulia, makhluk yang taat dan makhluk mencintai zat Mulia yang memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam. Tetapi cinta Iblis itu ternyata merupakan wujud cinta yang egoistik. Ketika diperintahkan bersujud kepada Adam, terungkaplah bentuk cinta iblis kepada Allah yang sebenarnya, bahwa cintanya hanyalah cinta pada diri sendiri bukan cinta kepada kemuliaan asma Allah. Hakikat bentuk cinta egoistik iblis demikian tidak dikenali para makhluk sebelumnya dari iblis. Demikian pula bentuk cinta egoistik itu akan sulit untuk dikenali dalam keluarga yang monogamis, dan lebih mudah dikenali dalam hubungan rumah tangga yang berta’addud.

Tuntutan untuk membentuk bayt sebagaimana ayat di atas tidaklah mudah. Setiap pihak dituntut untuk bertakwa kepada Allah. Ta’addud demikian hanya dapat dilakukan bilamana seseorang telah mengenal keadilan.

﴾۳﴿وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku setimbang terhadap para yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang sesuai bagi kalian: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat bertinggi-tinggi (QS An-Nisaa’ : 3)

Pada prinsipnya, ta’addud merupakan solusi bagi seseorang agar dapat berbuat setimbang terhadap umat yang menjadi tanggungan seseorang. Ta’addud bukanlah jalan yang mudah bagi orang kebanyakan. Bagi orang-orang kebanyakan, diperintahkan untuk mengambil satu saja isteri bagi mereka atau cukuplah budak-budak yang mereka kuasai. Dengan mengambil hanya satu orang isteri saja, maka orang-orang akan terhindar dari berbuat dzalim.

Orang yang telah mengenal keadilan-lah yang diperintahkan Alquran untuk melakukan pernikahan ta’addud. Dengan pernikahan ta’addud itu seorang laki-laki yang telah mengenal keadilan akan tertuntun untuk berbuat setimbang terhadap umat yang menjadi tanggungannya, melalui keadilan terhadap isteri-isterinya. Parameter pengenalan seseorang terhadap keadilan terlihat dari pengenalannya terhadap nafs wahidah dirinya. Dengan mengenal nafs wahidah dirinya, seseorang akan mengenal nafs istri-istrinya sebagai bagian dari nafs wahidah dirinya. Orang yang tidak mengenal nafs wahidahnya belum termasuk orang yang adil.

Pengenalan seseorang terhadap nafs isteri-isterinya akan tercermin dari cara melihat dan bersikap kepada isterinya. Seseorang yang mengenal keadilan akan memahami bahwa tanpa peran isterinya, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa bagi umatnya. Isterinya adalah pintu masuk dirinya kepada umatnya. Dengan pemahaman demikian, seseorang yang mengenal keadilan harus bergerak untuk membentuk bayt sebagai sarana untuk meninggikan asma Allah di antara umat yang menjadi tanggungannya.

Bagi seseorang yang mengenal keadilan, seorang isteri adalah instrumen yang menghubungkan dirinya dengan umatnya. Tanpa isteri yang tepat, dirinya tidak akan dapat terhubung dengan umatnya. Dalam perintah ta’addud, memperoleh instrumen yang tepat ini merupakan tujuan yang harus diperoleh, bukan untuk bermegah-megah atau bersenang-senang dengan banyaknya isteri. Orang yang berta’addud dengan tujuan lain akan cenderung mudah untuk terjebak dalam kehidupan bermegah-megah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
Dunia adalah peralatan, dan sebaik-baik peralatan dunia adalah wanita yang shalihah. (HR Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020) dan al-Baihaqi (VII/80) )

Perempuan merupakan bagian laki-laki yang membawa aspek dunia baginya. Aspek-aspek dunia bagi seorang laki-laki shalih melekat pada sosok manusia berupa isterinya. Tanpa seorang isteri yang shalihah, seorang laki-laki shalih tidak akan dapat mengolah dunia yang diperuntukkan baginya dengan baik sebagaimana seseorang yang tidak mempunyai alat untuk bekerja.

Dalam pandangan laki-laki shalih yang mengenal keadilan, seorang isteri adalah instrumen yang menghubungkannya kepada umatnya. Ibarat seorang engineer yang harus melakukan simulasi-simulasi perhitungan, seorang isteri akan terlihat bagaikan komputer yang menghadirkan seluruh perhitungan-perhitungan yang perlu dilakukan. Tanpa komputer itu, seseorang harus melakukan usaha penuh susah payah dengan resiko kesalahan yang sangat tinggi. Demikian gambaran seorang perempuan sebagai mata’ (peralatan/instrumen) bagi laki-laki.

Membentuk Keshalihan Dalam Rumah Tangga

Ada prinsip keshalihan yang harus dipenuhi agar sebuah bayt terbentuk. Setiap istri harus mengikuti perjuangan suaminya dengan tenang, dan harus berusaha menghadirkan jiwanya ketika suaminya membutuhkan. Setiap istri harus berusaha mendampingi suaminya dengan tingkat kehadiran yang sebaik-baiknya. Tingkatan itu berupa berusaha memperhatikan dengan kesediaan mendengar atau melihat, berusaha memahami, berusaha membenarkan dan berusaha turut serta dalam perjuangan suaminya. Semakin tinggi tingkatan kehadirannya bagi suaminya, maka semakin besar arti dirinya bagi suaminya, dan semakin mudah bagi suaminya mengolah segala hal yang menjadi urusannya di dunia. Tingkatan kehadiran jiwa bagi suaminya itu menunjukkan tingkatan keshalihan seorang isteri.

Kadangkala sepasang suami isteri yang berusaha menempuh jalan kembali kepada Allah terpisahkan sangat jauh karena perbuatan syaitan. Pasangan itu dapat bertengkar karena cara pandang yang sangat berbeda. Seorang isteri dapat melihat suatu perkara sebagai perintah Allah, sedangkan suaminya melihat itu sebagai fitnah yang dibuat oleh syaitan bagi mereka, atau sebaliknya. Seorang isteri harus berusaha menghadirkan jiwanya bagi suaminya sebagai jalan untuk menemukan jalan bersatu kembali. Tanpa menghadirkan jiwanya, isteri tersebut akan terenggut oleh fitnah syaitan. Demikian pula seorang suami harus mengikuti yang terbaik, tidak mengikuti hawa nafsu dirinya.

Ketika seorang suami berpendapat bahwa perkara yang dipandang perintah Allah oleh isteri sebagai fitnah syaitan, istri tidak boleh serta merta menolak argumentasi suaminya. Dirinya harus menyelidiki dengan benar dan sungguh-sungguh argumentasi suaminya. Bila ada ayat Alquran yang menjadi landasan argumentasi suaminya, dirinya tidak boleh semena-mena menuduh bahwa suaminya hanya memperalat ayat-ayat Alquran sebagai pendukung argumentasi. Seringkali keyakinan perempuan itu tentang perkaranya sebagai perintah Allah itu hanyalah sebuah waham dan ilusi. Dalam kasus demikian, seorang laki-laki shalih akan melihat fitnah yang sangat besar di antara umatnya, yang membengkokkan akal umat menuju jalan yang celaka. Istrinya menjadi instrumen dasar yang menjadi cermin keadaan umatnya.

Ada kemungkinan perempuan itu tidak dapat memahami suaminya. Maka perempuan itu harus melakukan ketaatan pada suami dengan tidak melakukan hal yang dianggapnya sebagai perintah Allah tersebut. Hal itu mencukupi untuk keadaan dirinya saat itu. Mungkin hal itu berat baginya karena konflik paradigma dalam batin. Perempuan demikian harus bersiap hidup dalam kesulitan secara dzahir dan bathin. Suaminya akan kesulitan mengelola dunianya. Akan lebih baik bila ia bisa menghilangkan pikiran tentang perintah Allah itu sebagai tanggung jawabnya. Kewajibannya adalah mendengarkan dan mentaati suaminya, bukan mewujudkan perintah Allah yang absurd bagi suaminya yang shalih. Ketaatan dalam keterpaksaan itu merupakan bentuk menghadirkan jiwa bagi suami pada tingkatan yang paling rendah.

Tingkatan yang lebih baik bagi perempuan itu adalah berusaha memahami apa yang disampaikan suaminya. Bagaimanapun seorang perempuan tetaplah manusia yang diberi akal untuk memahami Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Alquran dan Sunnah itu telah diturunkan hingga tingkatan akal semua manusia, bukan hanya laki-laki saja. Seorang perempuan harus berusaha memahami Alquran, sunnah dan apa-apa yang diajarkan oleh suaminya walaupun suaminya belum menjadi orang suci. Mungkin suami hanya mengetahui terangnya Alquran, belum bisa membedakan apakah terangnya itu karena ruh qudus, jiwa, aql atau hal lain. Alquran dan sunnah yang dimengerti suaminya harus berusaha dipahami oleh setiap istri, tidak boleh diremehkan isteri karena status suaminya yang belum layak di matanya. Menilai layak atau tidak suaminya untuk mengajarkan Alquran bukanlah tugas isteri. Upaya memahami itu merupakan upaya menghadirkan jiwa bagi suaminya dalam tingkatan yang lebih baik.

Setelah memahami apa yang diajarkan suaminya, seorang perempuan hendaknya berusaha memperoleh kedudukan untuk menentukan sikap bagi suaminya dengan ilmu, baik membenarkan atau memberikan koreksi. Apa yang benar dari suaminya harus dibenarkan dan didukung langkahnya, tidak menggantungkan dukungannya pada pendapat orang lain. Tidak ada kedekatan seseorang melebihi kedekatan antara suami atau isteri. Tidak boleh ada orang lain yang lebih menentukan sikap dalam interaksi antara suami dan isteri dibanding diri mereka sendiri. Seorang suami atau isteri harus dapat menentukan sendiri bahwa suami atau isterinya berbuat benar atau kurang tepat, tidak berdasarkan penilaian orang lain. Bila benar maka pasangannya harus didukung tanpa menunggu komentar orang lain, dan bila salah hendaknya ia memberitahu dan memberi masukan pada pasangannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Ini merupakan kehadiran jiwa setelah berusaha memahami suaminya.

Kehadiran yang sebenarnya jiwa seorang isteri akan terjadi bila seorang isteri dapat memahami, membenarkan dan terlibat dalam amal shalih suaminya. Hal ini merupakan tingkatan keshalihan terbaik seorang isteri. Dengan keadaan ini, seorang isteri dapat menjadi instrumen terbaik bagi suaminya untuk melaksanakan tanggung jawabnya bagi umatnya. Dengan keadaan seperti ini, sepasang suami isteri dapat berharap untuk mewujudkan bait yang mendapatkan ijin Allah untuk ditinggikan dan disebutkan asma-Nya di dalamnya.

Tidak mudah bagi pasangan suami isteri untuk membangun bait, dan keshalihan yang terbentuk tidaklah menjadi satu-satunya syarat terbentuknya bait. Memahami kehendak Allah menjadi hal terpenting untuk mewujudkan bait. Bilamana Allah berkehendak agar rumah tangga itu memurnikan bentuk kasih sayang di antara mereka untuk lebih mengenal rahmaniah dan rahimiah-Nya melalui rumah tangga ta’addud, mereka harus membentuk rumah tangga yang demikian, tidak memperturutkan keinginan mereka sendiri. Setiap pihak yang terlibat dalam rumah tangga itu harus memperhatikan kehendak Allah bagi mereka. Bait itu hanya terbentuk melalui ijin Allah bagi mereka, bukan berdasar atas usaha mereka membentuk bait.

Kamis, 06 Mei 2021

Meraih Akhirat dengan Dunia

Allah menciptakan manusia di alam dunia agar manusia dapat belajar dari kehidupan di dunia. Setiap orang harus dapat memanfaatkan kehidupannya selama di dunia untuk memperoleh kedudukan di akhirat. Kehidupan di dunia ini merupakan alat yang harus dapat dimanfaatkan setiap orang untuk kehidupan akhiratnya.

Kehidupan dunia bukanlah kehidupan sebenarnya bagi setiap manusia. Setiap manusia akan mengalami kematian, dan dengan kematian itu akan mengakhiri masa kehidupannya di dunia. Dengan kematiannya, seseorang dipaksa melepaskan kelalaian selama hidup di dunia untuk berjalan menuju kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Seseorang yang tidak lalai untuk mempersiapkan kehidupan akhiratnya akan dengan mudah melakukan perjalanan itu dengan arah yang benar. Orang yang lalai akan sulit untuk melakukan perjalanan itu, terpenjara dalam kegelapan alam kubur dan kesesatan di alam makhsyar selama 50.000 tahun.


﴾۹۳﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah peralatan dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS Al-Mu’min : 39)

Dengan mengenal dunia sebagai alat, maka kehidupan seseorang di alam berikutnya akan menjadi mudah, sebagaimana seseorang yang bekerja dengan alat yang tepat. Bila seseorang gagal memanfaatkan dunianya sebagai alat, maka perjalanannya menuju tempat tinggal sebenarnya akan sulit sebagaimana seseorang bekerja tanpa alat yang tepat. Tanpa mengenal dunia sebagai alat maka kehidupan seseorang di alam berikutnya akan sulit.

Manfaat dunia sebagai alat adalah bahwa dunia diciptakan dengan segala hakikat yang akan memberikan arahan pada setiap orang untuk mengenal Allah. Manusia harus berusaha mengenal hakikat-hakikat yang diperkenalkan Allah di balik dunia. Dunia seharusnya membangun jiwa seseorang untuk tumbuh mengenal segala hakikat. Manusia tidak boleh terlena justru menjadikan wujud kasar dunia sebagai tujuan kehidupan, karena wujud kasar kehidupan dunia itu akan lenyap dengan cepat ketika manusia meninggal. Dengan mengenal hakikat dalam kehidupan dunia, seseorang memperoleh alat untuk kehidupan akhirat.

Sebagian orang mengatakan bahwa kehidupan dunia adalah perhiasan bagi seseorang. Hal itu merupakan makna yang tidak akurat untuk kata mata’. Mata’ dalam bahasa arab menunjukkan makna alat, sebagaimana panci sebagai alat masak. Segala sesuatu yang diambil di dunia oleh seseorang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan pertanggungjawaban itu akan menakutkan setiap manusia. Allah mengetahui segala yang tersembunyi dibalik setiap tindakan manusia, dan Allah Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu yang diambil oleh seseorang. Pertanyaan Allah terhadap manusia atas segala sesuatu yang diambil di dunia ini akan sangat teliti dan menakutkan bagi manusia. Setiap orang harus berhati-hati dalam mengambil dunia ini sebagai perhiasan dirinya.

Dunia Yang Menipu

Bila seseorang terburu-buru mengambil kehidupan dunia sebagai perhiasan tanpa mengetahui proses yang benar, maka dirinya akan mudah terjebak dalam kesuburan kehidupan dunia yang bersifat sementara sebagaimana tanaman yang menghijau kemudian menguning dan dengan cepat menjadi hancur. Kesuburan kehidupan dunia itu boleh jadi akan mengundang azab yang keras di akhirat. Manusia harus bijaksana dalam mengambil kesuburan dunia ini sehingga dirinya memperoleh ampunan dari Allah dan keridhaan-keridhaan-Nya.


﴾۰۲﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah peralatan yang menipu. (QS Al-Hadid : 20)

Allah menciptakan dunia ini penuh dengan keindahan-keindahan walaupun bersifat sementara. Seseorang dapat menemukan kehidupan dunia yang sangat subur, berupa harta yang berkembang dengan cepat, pekerjaan-pekerjaan yang melahirkan prestasi dan karya-karya indah yang mengagumkan bagi manusia lain. Tetapi semua hal itu bersifat sementara bagi dirinya yang harus ditinggalkan ketika kematian menghampiri. Hal itu diibaratkan sebagaimana tanaman yang menghijau dan kemudian tiba-tiba menguning dan hancur.

Pada hakikatnya, kehidupan dunia ini adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan bilamana seseorang mengambil dunia sebagai tujuan. Perhiasan-perhiasan dunia, kemegahan-kemegahan, dan kebanggaan-kebanggaan dunia tampak dapat tumbuh berkembang sebagaimana tanaman yang tumbuh berkembang dengan baik. Hal-hal demikian dapat diusahakan oleh seseorang dalam kehidupan dunianya dengan mengikuti segala aturan-aturan di dunia.

Allah akan membiarkan orang-orang yang tidak mau lagi mengingat kehidupan yang sebenarnya untuk melakukan permainan dunia, dan Dia akan mengajarkan orang yang menginginkan kehidupan akhiratnya untuk hidup secara setimbang dalam kehidupan dunia. Orang-orang yang dibiarkan Allah dalam kehidupan dunia akan memperoleh adzab yang pedih dalam kehidupan akhiratnya. Sebagian orang yang diajari kehidupan setimbang dapat menikmati kehijauan dunia dengan sebaik-baiknya, dan dapat berharap untuk memperoleh maghfirah dan keridhaan Allah di alam akhirat. Sebagian orang harus hidup dalam kesulitan untuk suatu pengajaran yang lain dari Allah.

Memanfaatkan Dunia Untuk Akhirat

Kehidupan dunia adalah alat yang harus dikenali manusia. Ada gambaran (simulasi) kehidupan abadi dalam kehidupan dunia. Simulasi itu adalah hakikat-hakikat penciptaan. Simulasi itu seharusnya dikenal oleh setiap orang untuk mendapatkan kehidupan yang baik dalam kehidupan di akhirat. Dengan mengenali simulasi itu seseorang dapat memperoleh kehidupan akhirat yang sebaik-baiknya. Simulasi yang dikenali itu adalah alat yang seharusnya diperoleh manusia dalam kehidupan di dunia untuk kehidupan akhiratnya.

Untuk memudahkan manusia mengenali hakikat-hakikat penciptaan dunia, Allah memberikan bantuan bagi manusia berupa isteri yang shalihah. Wanita shalihah membawa representasi hakikat-hakikat penciptaan dunia bagi manusia. Setiap orang akan lebih mudah mengenali hakikat-hakikat dunianya dengan menikahi wanita yang bersesuaian dengan dirinya.


Abdullah bin ‘Amr r.a berkata : Rasulullah SAW bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
Dunia adalah peralatan, dan sebaik-baik peralatan dunia adalah wanita yang shalihah. (HR Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020) dan al-Baihaqi (VII/80) )

Setiap wanita merupakan bagian dari laki-laki tertentu. Dirinya menjadi pembawa bagian duniawi bagi suaminya, sedangkan suami menjadi akal bagi mereka berdua. Bagian harta dunia dan pengetahuan hakikat yang menerangi kehidupan akhirat bagi sepasang manusia akan muncul dengan sebaik-baiknya bilamana seseorang menikah dengan pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Bilamana seseorang memperturutkan hawa nafsu dalam menentukan jodoh, potensi sumber rejeki itu akan berkurang luasannya. Bilamana seseorang mengingkari jodoh yang ditunjukkan Allah kepadanya, maka dirinya telah kufur terhadap nikmat Allah.

Ada proses yang harus dilalui oleh sepasang suami istri untuk menemukan sumber rejeki bagi mereka, yaitu pasangan itu harus menjadi pasangan yang shalih dan shalihah. Tanpa berproses menuju keshalihan, kemunculan rezeki bagi mereka akan terhambat. Seorang laki-laki yang tidak berkembang akalnya untuk memahami cahaya Allah tidak akan dapat menemukan rezeki yang hakiki bagi mereka walaupun mungkin saja potensi sumber rezeki itu besar. Demikian pula seorang laki-laki shalih tidak akan dapat mengolah sumber rezeki duniawi mereka bilamana seorang isteri tidak menjadi pendamping yang shalihah bagi suaminya.

Bagi seorang laki-laki shalih, seorang isteri shalihah adalah alat yang paling baik untuk mengolah dunia mereka sebagai media memperoleh hakikat. Tidak hanya dalam urusan hakikat, suaminya akan mendapatkan alat untuk mengolah rezeki duniawi mereka. Bilamana seorang laki-laki shalih memperoleh hijaunya kehidupan dunia melalui pernikahan dengan istri shalihah, tersedia maghfirah Allah dan keridhaan-keridhaan-Nya dalam kehidupan akhirat. Mereka dapat menikmati kehidupan dunia dan akhirat dengan sebaik-baiknya.

Keshalihan seorang mukminat adalah ketenangannya dalam mendampingi suaminya dan penjagaannya atas hal ghaib yang ada dalam dirinya bagi suaminya. Hal ghaib itu merupakan media yang menjadi alat bagi suaminya untuk mengolah dunia mereka. Kadangkala seorang mukminat yang menjaga diri tidak berhasil mempertahankan hal ghaib itu. Seseorang dapat melakukan qadzaf yang menghilangkan paksa hal ghaib itu bagi suaminya. Perbuatan semacam ini termasuk dalam kelompok 7 dosa besar sebagaimana membunuh dan lain-lain yang dapat menghancurkan kehidupan umat manusia.






Selasa, 04 Mei 2021

Membentuk Jamaah, Berhukum Dengan Alquran

 

Alquran memerintahkan orang-orang beriman agar mentaati Allah, mentaati Rasulullah dan para ulil amri di antara mereka. Hal itu menjadi prinsip tata kelola bermasyarakat dalam islam. Dengan tata kelola demikian, maka urusan Allah yang harus tergelar dibumi dapat berjalan dengan baik, dimana setiap orang dapat melahirkan hal-hal yang terbaik yang terkandung dalam diri masing-masing.

Yang dimaksud sebagai Ulil Amri dalam ayat tersebut menunjuk pada orang-orang yang telah mengenal urusan dari Allah yang harus mereka tunaikan dalam kehidupan mereka di bumi. Mereka adalah orang-orang yang telah tumbuh di atas amr Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, dengan mengenali dan melaksanakan amr mereka sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW. Para Ulil Amri bukanlah orang yang tumbuh di atas amr atau kepentingan mereka sendiri tanpa mengenal kedudukan mereka dalam perjuangan Rasulullah SAW.



﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik penjelasannya. (QS An-Nisaa’ : 59)

Seruan dalam ayat ini merupakan suatu kesatuan. Dengan prinsip ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada Rasulullah SAW dan para Ulil Amri di antara orang-orang beriman, jamaah mukminin dapat tumbuh sebagai satu umat yang bersaudara, menjadi sebuah jamaah yang berjuang di atas kebenaran Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW tanpa kesesatan. Mereka menjadi jamaah yang dimisalkan sebagai pohon yang mengeluarkan tunas, dan tunas itu tumbuh menguat, besar dan lurus di atas batangnya, yang menyenangkan hati penanamnya. Mereka itu adalah al-jamaah. Sebagian mukminin tumbuh sebagai tunas di atas pokok pohonnya, mengerjakan amr rasulullah SAW, sebagian mukminin tumbuh sebagai tunas dari suatu cabang pohon, akan tetapi tetap menyatu dalam satu pohon Rasulullah SAW.

Setiap orang beriman harus berusaha mentaati orang-orang yang menunjukkan penyatuan langkah kepada Alquran dan perjuangan Rasullah SAW, karena sangat mungkin mereka itu adalah para Ulil Amri. Di jaman modern, tidak semua Ulil Amri terlihat sebagai orang-orang yang memiliki kekuasaan, dan sebaliknya tidak semua orang yang memegang kekuasaan merupakan Ulil Amr dalam kategori yang disebut ayat di atas. Wajib bagi mukminin untuk mengikuti orang yang menunjukkan kesatuan langkahnya dengan Alquran dan perjuangan Rasulullah SAW. Hal ini perlu disikapi dengan hati-hati, karena kadang seseorang menyeru manusia kepada diri mereka sendiri berdasar hawa nafsu mereka tanpa berusaha menyatu menuju Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Akan tetapi kadangkala seorang mukmin terpaksa berselisih dengan Ulil Amr. Sebagian Ulil Amr barangkali adalah orang-orang yang baru tumbuh dalam hatinya pengenalan terhadap urusan dari Allah bagi mereka, dan mereka berusaha sungguh-sungguh untuk menyatukan pengenalan mereka terhadap Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang demikian termasuk dalam kategori Ulil Amri selama berusaha untuk menyatukan diri kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak terlena memperturutkan rasa besar diri karena pengenalan mereka kepada amr diri mereka. Kadangkala seseorang berbalik menuju kekafiran ketika mereka mengenal penciptaan diri mereka.

Dalam peristiwa demikian, setiap mukmin diperintahkan untuk mengembalikan perselisihan mereka kepada Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada Ulil Amri yang benar akan menolak ajakan untuk kembali kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, karena itu justru akan membantu para Ulil Amri itu untuk membuka Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW dalam urusan mereka. Di pihak sebaliknya, setiap mukmin harus benar-benar bersikap kembali kepada kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW tanpa ada keinginan membantah ajakan Ulil Amri untuk menyatu dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Sikap demikian merupakan syarat agar seseorang termasuk dalam golongan orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Bila tidak bersikap demikian, maka keimanannya kepada Allah dan hari kemudian diragukan.

Perlu diperhatikan bahwa seorang Ulil Amri pada dasarnya mempunyai akal yang telah tumbuh lebih sempurna daripada kebanyakan mukminin. Selama penjelasan Ulil Amri tidak menyelisihi nash dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, seorang mukmin harus berusaha memahami penjelasan itu dengan hati yang bersih tidak berusaha menyelisihi atau menyanggah. Bila tidak dapat memahami penjelasannya, maka dirinya harus berpegang kepada nash Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak berpegang dengan argumentasi lain. Dengan demikian maka akan diperoleh akibat yang lebih baik, dan diperoleh penjelasan dan takwil yang lebih ihsan. Hal ini sangat penting diperhatikan agar terbentuk persaudaraan dalam jamaah.

Berselisih pemahaman dengan Ulil Amri masih diperbolehkan di kalangan umat beriman selama hati seseorang tetap terbuka untuk memahami nash Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak bersikeras dengan pemahaman sendiri.

 

Menghindari Thaghut

Sebagian orang merasa sebagai orang beriman kepada Alquran dan kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, akan tetapi dalam prakteknya mereka menginginkan berhukum kepada thaghut. Mereka bukanlah orang yang termasuk dalam kategori benar-benar beriman, akan tetapi hanya merasa sebagai orang beriman. Orang-orang yang benar-benar beriman adalah orang-orang yang kembali kepada Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak mengikuti perkataan mereka sendiri atau mencari-cari pemaknaan dengan cara yang salah.

Sebagian orang yang merasa beriman menginginkan untuk berhakim terhadap hal-hal lain dan terhadap pemahaman-pemahaman mereka sendiri yang salah, melenceng dari apa yang tercantum dalam nash kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha untuk mengkalibrasi setiap pemahamannya terhadap suatu kebenaran agar selalu bersesuaian dengan tuntunan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman yang salah terhadap suatu kebenaran bisa menjadi sebuah thaghut.



﴾۰۶﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang merasa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, sedangkan mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu? Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An-Nisaa : 60)

Allah telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mengingkari thaghut. Setiap thaghut akan membawa orang-orang yang merasa mengikuti cahaya Allah menuju arah sebaliknya, yaitu kepada kegelapan. Pemahaman yang salah terhadap kebenaran akan menuntun seseorang menuju kegelapan dengan cara yang seringkali tidak disadari. Hal seperti ini dapat dihindari dengan mengikuti Sunnah Rasulullah dan para Ulil Amri. Bila seseorang bersikeras mengikuti pemahamannya sendiri tanpa berusaha memahami penjelasan dari Ulil Amri, maka dirinya sebenarnya mengikuti thaghut. Hal ini tidak sama dengan orang yang tidak mampu memahami penjelasan karena berpegang pada nash Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, karena boleh jadi ia tetap berpegang pada petunjuk Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Berselisih pemahaman dengan Ulil Amri masih diperbolehkan di kalangan umat beriman selama hati seseorang tetap terbuka untuk memahami nash Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak bersikeras dengan pemahaman sendiri.

Bila seseorang mengikuti suatu thaghut, maka syaitan akan berusaha menyesatkannya dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya. Kepingan-kepingan kebenaran akan diperkenalkan syaitan kepada orang tersebut untuk menuntunnya menuju kegelapan dirinya sendiri. Pengetahuan kebenaran semacam ini justru membentuk jiwanya mengarah pada akhlak yang buruk, bertolak belakang dengan pembentukan akhlak mulia. Sangat mungkin syaitan tidak mendorongnya kepada suatu kesalahan yang jelas, tetapi menyesatkan dengan kepingan-kepingan kebenaran untuk membangkitkan kegelapan diri, sebagaimana Iblis dahulu menyesatkan Adam dan Hawa dengan pohon khuldi. Dengan kepingan kebenaran syaitan berusaha menyesatkan manusia dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya. Upaya itu dilakukan syaitan dengan menggunakan thaghut.

 

Alquran Sebagai Keterangan Terinci

Bagi orang-orang yang memahami Alquran, mencari keputusan dengan dasar yang berlainan dengan Alquran adalah sesuatu yang aneh dan mengherankan. Alquran adalah keterangan yang sangat terperinci yang diturunkan Allah bagi umat manusia, tidak memerlukan keterangan dari selain kitabullah. Hanya Sunnah Rasulullah SAW yang layak menjadi penguat penjelasan bahwa pemahaman seseorang tentang Alquran tidak keliru, dan hal itu telah sangat mencukupi. Menggantungkan keputusan kepada selain ketentuan Allah merupakan hal yang mengherankan bagi mereka.



﴾۴۱۱﴿أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan kebenaran. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (QS Al-An’aam :114)

Dalam pandangan ahli Alquran, kitabullah itu benar-benar diturunkan dari Rabbul ‘alamiin dengan kebenaran yang nyata, yang tidak bisa dipersamakan dengan pendapat atau keterangan dari makhluk atau orang selain Rasulullah SAW. Para ahli Alquran adalah orang-orang yang telah diberi alkitab sebagai ayat-ayat yang menjelaskan dalam dada mereka. Alkitab itu merupakan bagian dari Alquran yang diperuntukkan bagi seseorang, sedangkan Alquran itu merupakan alkitab bagi Rasulullah SAW. Dengan demikian, mereka mengetahui kedudukan mereka dalam perjuangan Rasulullah SAW.

Dengan alkitab yang diberikan ke dalam dada mereka, para ahli alquran mengetahui bahwa Alquran yang mereka kenal adalah keterangan yang diturunkan Allah, bukan dari zat yang lain dan tentu saja tidak boleh dipersamakan dengan keterangan yang lain. Dalam pandangan mereka, tidak ada sesuatupun yang dapat memberikan keterangan sebagaimana Alquran kecuali rabb mereka. Alquran dalam pandangan mereka berisi kebenaran yang sangat jelas.

Manakala Alquran itu telah jelas dalam pandangan seseorang dan bersesuaian dengan penjelasan Rasulullah SAW, maka hendaknya mereka tidak meragukan kebenaran yang sampai kepada mereka. Tidak perlu upaya-upaya lain selain berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Parameter benarnya seseorang dalam berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW adalah kemuliaan akhlak. Hal ini kadang-kadang agak sulit untuk diukur seseorang karena waham tentang kemuliaan akhlak yang kadang memiliki kesamaan dengan sikap-sikap munafik. Dalam tataran praktis, kemuliaan akhlak itu ditunjukkan dengan rasa kasih sayang seseorang terhadap semua makhluk. Bila seseorang bersifat penyayang terhadap yang lain dan perbuatan serta pemahamannya bersesuaian dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW maka ia berpegang pada tali Allah dengan benar. Bila tidak mempunyai sifat penyayang dan berdalil dengan teori-teori agama, maka belum tentu dia mengenal kebenaran agama. Bilamana terlihat bersifat penyayang tetapi menyelisihi Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, barangkali orang tersebut sedang melakukan kesalahan. Kemuliaan akhlak lah yang menjadi tolok ukur kebenaran seseorang dalam berpegang pada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.