Pencarian

Rabu, 26 Juli 2017

Musyrikin dari Masa ke Masa

Syirik di antara bani Israel

Syaitan adalah musuh yang jelas bagi manusia sejak adam terusir dari surga. Pemimpin mereka adalah iblis dari kalangan jin, memimpin syaitan-syaitan dari kalangan jin dan manusia untuk menyesatkan segenap manusia kecuali hanya sedikit dari hamba-hamba Allah yang mukhlasin. Salah satu bentuk penyesatan yang digunakan syaitan adalah dengan menggoda manusia dengan kekuasaan atas dunia dan kekayaan melimpah.

Syaitan-syaitan itu menarik hawa nafsu manusia untuk memperoleh kekuasaan atas dunia dengan bacaan-bacaan kitab suci, dan menjerumuskan manusia untuk bertindak keji dan munkar demi mewujudkan angan-angan kekuasaan sebagaimana Babilonia. Mereka menyeret pengikutnya dalam rencana besar syaitan bagi manusia, sehingga menjadi musyrikin. Allah berfirman :
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan-lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babilon yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang  dengan isterinya.  (QS Albaqarah : 102)
Kaum yang pertama mendapatkan godaan semacam itu adalah kaum Israel setelah jaman kerajaan Sulaiman a.s. Dengan bacaan-bacaan syaitan itu, kaum Israel setelah jaman Sulaiman tercabik-cabik menjadi umat sesat yang menyembah Baal dan Asyera, setelah sebelumnya tersatukan dalam satu kerajaan di bawah pimpinan khalifah dan raja besar, umat yang mengabdi kepada Allah  tuhan yang memperkenalkan diri-Nya pada nabi Ibrahim a.s.

Umat Israel setelah meninggalnya raja Sulaiman a.s, terbagi dalam dua kerajaan yaitu kerajaan Israel yang dipimpin oleh Yerobeam, dan kerajaan Yehuda yang dipimpin oleh Rehabeam. Kerajaan Israel dibawah pimpinan Yerobeam menjadi kaum yang sesat, karena Yerobeam mendirikan patung-patung sapi untuk pengorbanan kepada Baal, sedangkan kerajaan Yehuda tidak mendirikan kuil pemujaan, akan tetapi sebagian rakyat Yehuda melakukan pemujaan hingga terdapat sebuah upacara pelacuran bakti. Puncak kejahatan kaum Israel terjadi pada jaman raja Ahab. Raja mendirikan kuil-kuil dan patung-patung untuk pemujaan Baal dan Ashera. Dalam kuil itu dilakukan pengorbanan untuk pemujaan Baal agar diberikan kekuatan dan kekuasaan, dan dilakukan pemujaan terhadap dewi Ashera agar diberikan kesuburan dan kemakmuran.

Upacara pemujaan Baal merupakan upacara yang sangat tidak berperikemanusiaan. Patung pemujaan Baal adalah berupa patung kepala sapi yang terhubung pada badan dengan tangan yang bisa bergerak dengan cara tertentu. Pada bagian bawah badan terdapat tungku yang dinyalakan dengan api berwarna merah. Tungku itu terhubung menyatu dengan badan patung, terhubung dengan kepala sapi dengan suatu lorong. Ketika pengorbanan dilakukan, seorang anak atau bayi diletakkan pada tangan patung Baal, dan dengan gerakan tangan tertentu, bayi itu digerakkan seolah ditelan oleh patung Baal menuju tungku pembakaran.

Pemujaan Ashera juga merupakan upacara yang sangat keji berupa upacara pelacuran bakti. Upacara dipimpin oleh pendeta laki-laki dan perempuan di suatu kuil dengan berhala berupa tiang-tiang tinggi Para pemimpin upacara dan para pesertanya melakukan persetubuhan secara liar sebagai bakti kepada Ashera, agar dilimpahkan kesuburan dan kemakmuran terhadap mereka. Pemujaan semacam ini menginspirasi sebagian manusia untuk membuat wahana hiburan berupa tarian tiang (pole dance), dan boleh jadi sebagian musyrikin  modern menyamarkan kuil mereka dlm bentuk wahana hiburan ini.

Hal-hal keji itu telah menyesatkan kaum Israel, sehingga mereka melakukan pembunuhan terhadap nabi-nabi yang hadir di antara mereka. Mereka lebih memilih nabi-nabi palsu yang mendukung mereka untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan daripada nabi-nabi yang mengingatkan mereka untuk beribadah dengan benar kepada Allah. Sekian banyak nabi-nabi mereka bunuh demi hasrat mereka akan kekuasaan dan kekayaan.

Asal Muasal Syirik

Pemujaan Baal dan Ashera dilakukan pertama kali oleh orang-orang di negeri  Babilon kuno yang berdiri setelah jaman nabi Nuh a.s. Mereka disesatkan oleh syaitan untuk menyembah para dewa yang memberikan kepada mereka kekuatan sihir. Dewa-dewa yang mereka perkenalkan itu pada tingkatan tertingginya adalah dewa Baal, Dewi Ashera, dan Dewi Asytoret, selain dewa-dewa lain yang menyesatkan manusia.

Dewa-dewi itu dahulu adalah para panglima Iblis dari golongan jin, akan tetapi sebenarnya ketiga dewa itu telah tewas dalam peristiwa banjir pada jaman nabi Nuh a.s. Penyembahan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap ketiga dewa itu hanyalah penyembahan terhadap nama-nama kosong yang telah tiada lagi tuhan yang mereka sembah. Itu adalah sebagian makna dzahir yang dimaksudkan oleh ayat berikut :
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu kekuasaan pun pada nama-nama itu. (QS Yusuf : 40)
Keadaan tersebut dapat kita temukan keterangannya dalam kitab nabi Idris, dimana disebutkan kisah tentang perintah terhadap para malaikat untuk melakukan tindakan penghakiman atas balatentara iblis yang telah menyesatkan manusia. Peristiwa penghakiman itu kemudian terjadi pada jaman nabi Nuh a.s. Dalam penghakiman itu, panglima Iblis yang bernama Azazel dan Semyaza diberi hukuman berupa diikat dan diletakkan pada tempat tertentu, dengan perlakuan tertentu. Sedangkan dua monster dipisahkan yang bernama Leviathan dan Behemoth.

Azazel yang diikat bukanlah pemimpin Iblis yang dahulu menolak perintah untuk bersujud pada Adam. Terdapat beberapa nama Azazel, baik yang berada pada level panglima atau pada level pemimpin di bawahnya. Yang diikat pada waktu  penghakiman jaman nabi Nuh a.s adalah Azazel yang berpangkat panglima, di antara tujuh panglima yang lain. Sedangkan pemimpin besar iblis tetap diberikan penangguhan hingga waktu yang telah ditentukan.

Di antara tujuh panglima iblis, empat diantaranya dikurung oleh para malaikat yang akan diijinkan untuk kembali keluar  pada akhir jaman. Azazel dan Semyaza merupakan dua di antara empat panglima itu. Behemoth dan leviathan adalah satu panglima lainnya, pada saat penghakiman itu telah dipisahkan.  Dari alkitab mazmur 74:14 dapat diketahui bahwa leviathan telah tewas. Behemoth  dan leviathan inilah yang dikenalkan sebagai Baal, dan dikenal dalam berbagai nama lain yaitu Bal, Bel, Belial dan Beelzebub. Baal dan Leviathan  merupakan  satu kesatuan,  panglima dan kendaraanya.

Dua panglima yang lain bernama Ashera dan Asytoret  juga tewas dalam penghakiman yang terjadi pada jaman nabi Nuh a.s. Maka sejak jaman nabi Nuh a.s, manusia telah diberi Allah  keamanan di bumi dari gangguan  para Iblis yang mempunyai kekuatan besar, karena yang tertinggal di antara mereka tidak seperti para penghulu mereka yang telah ditahan atau tewas.

Para panglima jin yang telah tewas itulah yang kemudian diperkenalkan oleh Iblis sebagai sesembahan bagi manusia setelah jaman nabi Nuh a.s. Para syaitan itu menggoda manusia dengan kekuatan sihir demi mendapatkan kekuasaan dan kekayaan, dengan melakukan pemujaan terhadap Baal, Ashera dan Asytoret. Pada zaman setelah nabi Sulaiman, godaan syaitan itu lebih diperkuat dengan bacaan-bacaan atas kerajaan Sulaiman, sehingga bani Israel tersesat mengikuti pemujaan terhadap Baal dan Ashera.

Pada dasarnya, para iblispun takut akan azab tuhan. Para iblis yang dijadikan sebagai sesembahan adalah yang telah mati di antara mereka, sedangkan yang masih hidup pada dasarnya mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Akan tetapi mereka keliru dalam mencari jalan kepada tuhannya, karena mereka mengikuti iblis yang terputus dari tuhannya.
Apa-apa  yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang  ditakuti (QS Al-Israa’ : 57)
Hanya pemimpin besar iblis yang mempunyai keberanian untuk mengajak manusia menyembah dirinya. Dia memperkenalkan dirinya kepada manusia sebagai dewa matahari, dan memperkenalkan dewi Ashera sebagai ratu para dewa, sedangkan Baal sebagai tuhan anak.

Syirik dari masa ke masa

Masyarakat Babilon kuno melakukan persembahan pada ketiga dewa itu. Mereka memuja iblis besar sebagai dewa matahari, menjadikan ratu Semiramis sebagai perwujudan dewi Ashera, dan anaknya Nimrod sang raja sebagai  perwujudan dari Baal. Nimrod menjadikan ibunya sebagai istri  dan telah membuatnya hamil sebelum Nimrod mati. Ketika Nimrod telah mati, maka anaknya menjadi perwujudan dari Baal. Dari masyarakat Babilon kuno inilah lahir konsep trinitas ketuhanan,  yang bertahan dari waktu ke waktu dalam nama yang lain. Masyarakat mesir mengenal trinitas dewa Ra sebagai dewa matahari, Osiris dan Isis sebagai nama lain dari trinitas tuhan di Babilon. Mereka menjadikan Fir’aun raja mereka sebagai perwujudan dewa Osiris dan ratunya sebagai Isis. Sebagian masyarakat yang lain melakukan pemujaan yang sama, atau  kadang dilakukan pemujaan terhadap Asytoret.

Masyarakat Israel seringkali membawa sesembahan orang mesir ini dalam hatinya, yang terwujud dalam berbagai peristiwa. Peristiwa pertama yang terjadi adalah terjadinya penyembahan patung sapi pada zaman Musa a.s  di dataran Sinai dalam perjalanan menuju tanah yang dijanjikan,. Patung itu merupakan tiruan dari Apis Bull, patung sesembahan masyarakat mesir bagi dewa Osiris. Pada masa setelah Sulaiman a.s, penyembahan itu dilakukan secara terang-terangan bahkan hingga terwujud kuil-kuil pemujaan yang sangat keji. 

Pada masa ketika Alquran diturunkan, kaum Israel kabbalah tetap mengikuti bacaan-bacaan syaitan dengan tatacara peribadatan ala Babilonia sebagaimana disebutkan ayat 102 surat Al-Baqarah. Dan di jaman ini kita mengenal dengan jelas bahwa jaman modern ini adalah jaman keemasan bagi kekuasaan Yahudi dengan ide Babilonia baru, menyatukan dunia di bawah satu kekuasaan dalam kendali mereka dalam wujud New World Order (NWO).

Menjelang zaman akhir, Allah akan mengijinkan para sesembahan itu untuk kembali ke dunia. Mereka akan memberikan kekuasaan dan kekayaan bagi para penyembahnya, akan tetapi kekuasaan dan kekayaan itu akan segera lenyap tanpa bekas. Kitab Wahyu pasal 17 dan 18 menjelaskan rinci tentang bangkitnya Babilonia baru dan penghakiman atas Babilonia,  keruntuhan yang akan terjadi padanya.

Nubuat kitab Wahyu Yohannes itu menceritakan tentang munculnya binatang berkepala tujuh bertanduk sepuluh. Binatang  itu sangat serupa dengan, atau boleh dikatakan bahwa itu adalah leviathan  atau Baal. Binatang itu pernah ada, kemudian telah dimatikan, dan kelak akan kembali diijinkan untuk muncul. Dia akan memberikan kekuasaan pada para penyembahnya untuk membentuk Babilonia baru di permukaan bumi di bawah kekuasaan mereka, bahkan dia sendiri yang akan menjadi raja bersamaan dengan raja penyembah Baal di akhir jaman, yaitu raja ke-tujuh  penyembah Baal dan raja ke-delapan binatang itu sendiri.

Binatang itu mengusung seorang pelacur besar yang memberikan kelimpahan  bagi para raja dan pedagang yang mau melakukan percabulan dengan pelacur besar itu. Itu adalah dewi Ashera yang dianggap memberikan kesuburan dan kemakmuran. Penduduk bumi akan mabuk oleh anggur percabulannya. Pelacur besar itulah rahasia yang mendukung terbentuknya Babilonia raya, dan pelacur besar itu adalah induk dari segala pelacuran semacamnya dan segala kekejian yang terjadi di muka bumi.  Yang dimaksudkan adalah pelacuran bakti.

Itulah nubuat tentang hal yang akan terjadi atas kemusyrikan yang ada di dunia ini. Dunia akan dikuasai oleh orang-orang musyrik para penyembah Baal dan Ashera, akan tetapi semua akan dilenyapkan dari dunia dalam sekejap. Beberapa ciri datangnya jaman nubuat itu telah mendekat. Misalnya bila dikaitkan dengan petunjuk nabi tentang kekacauan yang terjadi di Suriah dan Yaman yang melibatkan Najd, hal itu bersesuaian dengan petunjuk Rasulullah tentang fitnah dan tanduk syaitan yang akan muncul. 

Perbuatan Musyrikin di Jaman Akhir 

Rasulullah SAW telah memberitahukan tentang kedatangan Dajjal dalam sebuah hadits tentang Al-Jassasah  yang bersumber dari sahabat Tamim Ad-Daari r.a. Rasulullah SAW bersabda : 
Perhatikanlah, dia (Dajjal) muncul di laut Syria (Mediterania) atau Laut Yaman (Laut Merah). Tidak, sebaliknya  dia  berada di timur, dia berada di timur, dia berada di timur, dan beliau (rasulullah SAW) menunjukkan tangannya ke arah timur. (HR Ahmad no. 7028: kitab 41)
Dajjal itu akan muncul di Suriah dan/atau di Yaman, tetapi sesungguhnya dajjal itu bukan berasal  Suriah atau Yaman, tetapi dari arah timur. Rasulullah  berulang kali mengatakan bahwa dia berasal dari timur, dan beliau SAW telah berulang kali menjelaskan tentang asal tanduk syaitan bahwa dia berasal dari Najd yang terletak di arah timur kota Madinah.  Saat ini Najd terletak di Saudi Arabia yang sedang berperang melawan Yaman dan sedang terlibat dalam konflik di Suriah.

Kekacauan di Syam (Suriah) bukanlah kekacauan yang terjadi akibat perselisihan biasa antara dua negara. Ada suatu hal besar bagi penyembah Baal yang harus dikuasai di Suriah. Di Palmyra terletak kuil besar penyembahan Baal yang harus dikuasai oleh para penyembahnya, untuk menyambut kembalinya Baal ke dunia. Para penyembah Baal juga dengan gigih mencari orang yang akan menjadi musuh bagi Baal, sebagaimana diceritakan dalam sumber berikut ini. Hal itu menunjukkan bahwa gerakan untuk mempersiapkan kerajaan Babilon baru yang akan dipimpin oleh para penyembah Baal itu telah dilakukan secara besar-besaran.

Demikian pula kekacauan di Yaman. Pada jaman nabi Hud, bangsa Hadramaut di Yaman dikenal sebagai Eudaimonia Arabia. Mereka merupakan bangsa mayoritas musyrikin penyembah berhala,  mendirikan kuil berupa tiang-tiang yang tinggi sebagai berhala penyembahan bagi dewa mereka. Pada jaman akhir ini, kaum musyrikin berusaha dengan keras untuk dapat menguasai daerah Hadramaut di Yaman, bersama-sama dengan kuil Baal di Suriah. Mereka berusaha mempersiapkan penyambutan kedatangan dewa-dewa yang mereka sembah.

Kemenangan dan kekuasaan akan diberikan kepada umat yang beriman dan beramal shalih. Keamanan akan kembali diberikan kepada umat yang beriman setelah berada dalam keadaan ketakutan karena kekejaman Baal. Kekuasaan akan diberikan kepada umat yang beriman dan beramal shalih setelah sebagaimana sebelumnya bumi dikuasai oleh Baal dan para penyembahnya. Agama akan diteguhkan di muka bumi setelah peristiwa itu.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS An-Nuur : 55)

Kamis, 13 Juli 2017

Fitnah dan Ayat-ayat Mutasyabihat

Umat islam saat ini sedang dilanda fitnah sehingga banyak muslimin yang memerangi saudara muslim lainnya. Salah satu penyebab dari munculnya fitnah adalah penggunaan ayat-ayat mutasyabihat yang digunakan oleh orang-orang yang dalam hatinya terdapat kecondongan untuk menimbulkan fitnah di antara umat islam.
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecondongan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya (QS Ali Imran : 7)
Sebagian muslimin menimbulkan fitnah bagi sebagian yang lain dengan menggunakan takwil ayat-ayat untuk  dipersamakan  dengan amal-amal muslimin yang lain, sehingga muslimin yang lain mendapatkan tuduhan yang tidak benar.

Alquran merupakan kitab Allah yang paling sempurna, terjaga dari kebengkokan dan perubahan,  menjadi tali yang akan membimbing manusia menapaki sunnah rasulullah SAW hingga mencapai telaga al-kautsar. Tidak akan tersesat orang-orang yang mengikuti Alquran dalam menapaki sunnah rasulullah hingga mencapai telaga al-kautsar, kecuali orang-orang yang terdapat dalam hatinya kecondongan. Mereka tersesat karena mengikuti orang-orang yang mencari-cari fitnah dan takwil dari ayat-ayat yang mutasyabihat.

Fitnah menunjukkan sesuatu yang terjadi tidak sebagaimana yang terlihat.  Demikian pula muslimin yang mendapatkan fitnah oleh orang-orang yang menggunakan ayat mutasyabihat, sebenarnya mereka tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan. Mereka beramal berdasarkan tuntunan-tuntunan  petunjuk rasulullah SAW, dan sama sekali tidak bermaksud untuk melanggar hal-hal yang dituduhkan pihak lainnya. Akan tetapi karena adanya kecondongan pada hati orang-orang yang menuduhnya, maka dilemparkanlah tuduhan terhadap  amal-amal mereka.

Fitnah di antara Umat Islam

Di antara fitnah yang sering dilontarkan terhadap muslimin adalah tuduhan kemusyrikan terhadap orang-orang yang gemar berziarah kubur.  Mereka berniat dan berusaha untuk  melakukan hal-hal yang mengingatkan diri terhadap dekatnya maut, dan mereka berusaha melakukan napak tilas terhadap orang-orang shalih yang telah hidup sebelum mereka. Akan tetapi orang-orang yang mempunyai kecondongan dalam hatinya mencari-cari fitnah dan takwil berdasarkan ayat mutasyabihat yang bisa mereka temukan.  Di antara ayat yang mereka gunakan adalah sebagaimana ayat ini :
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar( QS Az-Zumar : 3)
Sebagian muslimin dituduh sebagai penyembah orang-orang  sholeh oleh muslimin lain  yang mencari-cari fitnah berdasarkan takwil. Para penuduh itu tidak mau memahami bahwa muslimin yang mereka tuduh melakukan amal berdasarkan tuntunan yang lain dari rasulullah SAW.  Seringkali duduk permasalahan yang sebenarnya dalam perkara tuduhan itu  tidak mempunyai arti penting bagi penuduh, karena sebenarnya mereka hanya berusaha menimbulkan fitnah, sehingga penjelasan dan tabayyun terhadap amal-amal yang dituduh tidak mempunyai arti bagi penuduh.

Tentu saja hal itu menimbulkan perselisihan di antara muslimin, dan perselisihan itulah yang kelak akan Allah putuskan perkaranya di antara mereka. Tidak akan terdapat titik temu penyelesaian dalam perselisihan itu, karena memang ada pihak yang tidak mempunyai keinginan mencari titik temu dan pemecahan masalah. Sebagian di antara yang berselisih hanyalah berusaha mencari-cari dan menimbulkan fitnah. Mereka adalah orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Para pendusta dan sangat ingkar itu adalah orang-orang yang mengambil wali-wali selain Allah. Mereka adalah orang-orang yang menyembah para wali-wali mereka selain Allah, dan menganggap wali-wali mereka adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini merupakan salah satu kepelikan yang muncul dalam perselisihan di antara muslimin, karena masing-masing pihak merasa sebagai orang-orang yang mencari jalan kepada Allah, baik orang-orang yang mengikuti para pendusta dan sangat ingkar ataupun orang-orang yang benar-benar mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hal itulah yang harus dicari penjelasannya dari tuntunan rasulullah SAW dalam perkara itu. Mustahil ditemukan titik terang permasalahannya tanpa melihat tuntunan dari rasulullah SAW ataupun dari ayat-ayat lain dari Alquran. Setiap pihak akan mempunyai alibi dan alasan untuk merasa benar. 

Tuhan dari kalangan Alim dan Rahib

Permasalahan menjadikan para alim dan rahib sebagai tuhan ini merupakan perihal pelik di setiap agama. Orang-orang yahudi mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, sedangkan orang Nasrani mengatakan bahwa Isa ibn Maryam adalah anak Allah. Ini hanyalah perkataan-perkataan yang mereka buat-buat saja tanpa pengetahuan, sebagaimana perkataan orang-orang kafir tentang tuhan-tuhan mereka. Yahudi dan nasrani berbuat demikian padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Ilah yang esa tidak ada Ilah selain Dia.
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan  Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [At-Taubah: 31]
Umat islam akan dilanda penyakit yang sama dengan umat yahudi dan umat nasrani, dalam bentuk yang berbeda. Orang islam akan menjadikan orang-orang alim dan rahib di antara mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Akan tetapi umat islam tidak akan mengatakan bahwa  orang-orang alim dan rahib itu sebagai anak Allah, sekalipun terhadap rasulullah SAW, akan tetapi mereka akan berbuat demikian dalam bentuk yang lain. Dalam sebuah hadits, rasulullah SAW menjelaskan ayat tersebut :
Ketika Adiy bin Hatim r.a mendengar ayat ini (QS At-Taubah : 31), ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka." Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:  Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya?!" Ia menjawab, "Ya. benar." Maka beliau bersabda, "Itulah bentuk ibadah kepada mereka." [Hadits Riwayat. At-Tirmidzi]
Umat islam tidak akan dengan sengaja beriktikad  menjadikan orang-orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan yang patut untuk disembah. Hal itu sangat diketahui oleh para shahabat yang hidup di jaman rasulullah SAW, sebagaimana telah diungkapkan oleh Adiy bin Hatim r.a yang berkata : "Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”. Para shahabat jaman rasulullah SAW sangat mengenal bahwa islam tidak akan dapat dibengkokkan sehingga  tidak memungkinkan terjadinya penyembahan kepada para alim dan rahib secara sengaja dengan iktikad demikian.

Penyembahan para alim dan rahib di kalangan umat islam akan terjadi dalam bentuk lain berupa mengikuti penghalalan para alim dan rahib mereka atas apa yang diharamkan Allah dan pengharaman mereka atas apa yang Allah halalkan. Itulah bentuk menjadikan para alim dan rahib sebagai tuhan  yang mungkin terjadi di antara umat islam. Tidak akan terjadi di antara umat islam  seseorang atau sekelompok orang yang menganggap para alim atau rahib  di antara mereka atau yang mendahului mereka sebagai tuhan yang patut disembah. Tidak ada satupun orang yang mengatakan itu kecuali jelas dikenal bahwa mereka bukan termasuk orang islam.

Hal sumirlah yang akan menjebak umat islam dalam perkataan sebagaimana perkataan orang yahudi dan nasrani, dan orang-orang kafir sebelum mereka, yaitu berupa kesertaan umat islam untuk mengikuti penghalalan para alim dan rahib mereka atas apa yang diharamkan Allah dan pengharaman mereka atas apa yang dihalalkan oleh Allah. Orang-orang yang mengikuti para alim dan rahib tanpa peduli pada maksud dan ketentuan halal dan haram sesungguhnya terjebak pada sikap mempertuhan para alim dan rahib.  Setiap insan harus peduli pada tujuan sunnah/perjalanan yang diajarkan rasulullah, dan peduli pada hal-hal berupa ketentuan halal dan haram, dan mengikuti ketentuan tersebut sesuai dengan ketentuan Allah,  bukan sekadar ketentuan yang dikatakan oleh para alim dan rahib panutan mereka. 

Penghalalan yang apa yang diharamkan Allah

Di antara bentuk penghalalan atas apa yang diharamkan Allah adalah mengada-adakan kedustaan terhadap Allah. Membuat-buat perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan adalah termasuk  perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 surat Al-A’raaf. Membuat teori tauhid tanpa pengetahuan terhadap Allah SWT adalah hal yang diharamkan. Orang yang mengenal Allah SWT mempunyai ciri yang jelas, yaitu setidaknya mereka mengenal untuk apa diri mereka diciptakan.

Orang yang mengadakan perkataan-perkataan tentang Allah sebagai kedustaan adalah orang-orang yang paling dzalim. Tidak ada orang yang lebih dzalim daripada orang yang mengadakan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan sebagai kedustaan. Keadaan mereka sama dengan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Apabila ayat Allah dibacakan secara benar kepada mereka, maka mereka akan mendustakan bacaan itu.
Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. (QS Yunus : 17)
Mereka itu adalah orang-orang yang menyembah  selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan. Orang-orang yang mengikuti perbuatan membuat perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan berimplikasi menjadi penyembah orang-orang yang membuat perkataan-perkataan itu.

Para penyembah para alim dan rahib membuat struktur kerahiban untuk menjalankan urusan syariat, dan memberikan gelar-gelar keilmuan secara berlebihan kepada para alim di antara mereka tanpa pengetahuan yang benar. Mereka  menganggap bahwa orang-orang yang mereka sembah adalah para pemberi syafaat kepada mereka di sisi Allah. Banyak perkataan orang alim dan rahib yang mereka pertuhankan sebenarnya tidak menyentuh pengetahuan yang benar atau bahkan bertentangan dengan kitab Allah. Menurut mereka, kitabullah mutlak perlu ditafsirkan oleh para alim dan rahib yang mereka pertuhankan, sedangkan manusia tidak akan mampu memahami kitabullah dengan benar tanpa tafsir mereka.

Pemberian gelar-gelar keilmuan terhadap para alim mereka itu hanyalah pengabaran kosong kepada Allah perihal apa yang tidak diketahui Allah. Dalam pengetahuan Allah, orang-orang yg mereka pertuhankan tidaklah mempunyai pengetahuan sebagaimana gelar yang mereka dengung-dengungkan. Mereka mengabarkan kepada Allah berita kosong yg berbeda dengan pengetahuan Allah.
Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).(QS Yunus : 18)
Mereka menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan. Ketika para alim mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yg halal, mereka mengikutinya tanpa memeriksa kehalalan dan keharaman perihalnya.  Ketika para alim dan rahib mereka menganggap kafir orang-orang mukmin, mereka mengikutinya tanpa memeriksa dengan teliti perihal pengkafiran yang dimaksudkan oleh alquran. Mereka mengambil ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan  fitnah di antara orang-orang mukmin. 

Di antara ayat yang digunakan untuk menghalalkan pengkafiran adalah sebagai berikut :
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan  di antara yang demikian (iman atau kafir),
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS An-Nisaa : 150-151)

Di antara orang-orang yang mengikuti nabi, terdapat orang-orang yang  mengatakan bahwa dirinya beriman kepada sebagian dan kafir terhadap sebagian yang lain. Dengan perkataan itu, mereka bermaksud untuk mencari jalan lain sehingga mereka tidak dikatakan sebagai orang-orang kafir akan tetapi sebenarnya mereka tidak beriman.

Mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir. Mereka tidak akan beriman walaupun mereka berada di antara orang-orang beriman. Mereka termasuk orang-orang kafir walaupun mereka tidak berada di antara orang-orang kafir. Mereka adalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Bagi mereka telah disediakan siksaan yang menghinakan.

Orang-orang yang mengikuti para alim dan rahib yang mengkafirkan muslimin lainnya tidak memeriksa dengan teliti perihal tersebut, sehingga mereka ikut menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dengan demikian mereka menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan.  Ayat mutasyabihat seperti di atas digunakan dengan serampangan untuk mengkafirkan orang-orang islam yang lain, tidak menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam golongan kafir yang sesungguhnya.

Jalan di antara kekafiran dan dan keimanan yang mereka tempuh merupakan jalan yang paling buruk di antara jalan kalangan  munafikin. Hal itu dijelaskan dalam ayat sebagai berikut :
Kemudian kalian memerangi  diri kalian  dan mengusir segolongan dari kalian dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS Al-Baqarah : 85)
Mereka menempuh jalan yang tidak ditempuh oleh orang-orang yang menampakkan kekafiran secara jelas, dan mereka tidak juga menempuh jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman. Jalan yang mereka tempuh  adalah berupa perbuatan memasuki  golongan muslimin kemudian memerangi orang-orang yang menjadi saudara mereka dalam islam, mengusir segolongan di antara mereka dari kampung halamannya, dan membantu untuk terjadinya dosa dan permusuhan di antara  muslimin. Mereka masuk dalam golongan orang-orang muslimin, akan tetapi kemudian mereka memerangi orang-orang muslimin. Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebagian dan kafir terhadap sebagian.

Keterangan alquran telah tersedia dengan sedemikian jelas, akan tetapi orang-orang yang mempertuhankan para alim dan rahib tidak pernah memeriksa dengan akalnya tentang pengharaman dan penghalalan. Mereka menggunakan ayat-ayat mutasyabihat dengan serampangan untuk membangkitkan fitnah di antara kaum muslimin. Banyak perbuatan dosa, permusuhan dan keributan di antara umat islam akibat ulah mereka, sementara mereka memperlihatkan diri sebagai orang islam. Mereka seolah-olah peduli dengan dengan keadaan orang-orang islam dengan menebus para tawanan perang dari kalangan umat islam.

Kamis, 08 Juni 2017

KEHARAMAN KEMUSYRIKAN


Allah telah membuat ketentuan pokok dalam halal dan haram. Ketentuan lain tentang  halal dan haram yang muncul akan terkait salah satu atau lebih dari kelima pokok tersebut. Kelima pokok tersebut merupakan sumber keharaman atas segala sesuatu, dan tidak halal bagi siapapun melakukannya walaupun mungkin hal yang haram itu terlihat indah.
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-A’raaf : 32-33)
Di antara ketentuan pokok itu adalah mengharamkan kemusyrikan. Allah telah menjadikan kemusyrikan sebagai salah satu pokok keharaman.  Sebagai salah satu pokok keharaman, umat islam harus mengambil sikap menjauh dari hal-hal yang bersifat kemusyrikan. Alquran telah menjelaskan bahwa sebagian di antara umat islam akan termasuk dalam golongan musyrikin.

Salah satu ciri yang menandai umat islam yang terjerat mengikuti musyrikin adalah mereka dilanda kerancuan konsep syirik hingga terbingungkan menuduh umat islam yang lain terjebak dalam kemusyrikan. Musyrikin bersama syaitan  membangkitkan  kebanggaan di antara mereka dengan dengan suatu ajaran. Tauhid di antara mereka di takwil secara bodoh, kemudian ditarik hingga melampaui batas/ekstrim, kemudian dibuat intihal untuk menuduh umat islam yang lain. Itulah yang dibuat kaum musyrikin untuk menyeret umat islam ke dalam golongan mereka. Dari hal itu muncul  kerancuan konsep syirik yang beredar di kalangan mereka, bahkan hingga mereka  memerangi umat islam demi kemenangan musyrikin. Semua bughat itu direncanakan berdasarkan kerancuan konsep kemusyrikan yang tersebar di antara mereka.

GOLONGAN MUSYRIKIN


Syaitan adalah musuh yang jelas bagi manusia sejak adam terusir dari surga. Pemimpin mereka adalah iblis dari kalangan jin, memimpin syaitan-syaitan dari kalangan jin dan manusia untuk menyesatkan segenap manusia kecuali hanya sedikit dari hamba-hamba Allah yang mukhlasin. Salah satu bentuk penyesatan yang digunakan syaitan adalah dengan menggoda manusia dengan kekuasaan atas dunia.

Kaum Yahudi Kabbalah mengatakan bahwa mereka mengikuti nabi Sulaiman untuk mewujudkan satu negara dunia, akan tetapi  mereka hanyalah mengikuti bacaan syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal syaitan-syaitan itu  kafir,  tidak mengenal kehendak Allah. Nabi Sulaiman bukanlah orang kafir yang tidak mengetahui kehendak Allah. Dengan bacaan itu syaitan-syaitan itu menarik hawa nafsu manusia untuk memperoleh kekuasaan atas dunia, dan menjerumuskan manusia untuk bertindak keji dan munkar demi mewujudkan angan-angan kekuasaan sebagaimana Babilonia. Mereka terseret dalam rencana besar syaitan bagi manusia, sehingga menjadi musyrikin. Allah berfirman :
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan-lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babilon yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang  dengan isterinya.  (QS Albaqarah : 102)
Ayat tersebut bercerita tentang kaum Yahudi Kabbalah, yaitu orang-orang Yahudi yang membuang kitabullah ke belakang punggungnya dan memilih untuk mengikuti bacaan syaitan. Maka mereka menyembah tuhan yang akan memberikan kepada mereka kekuasaan atas seluruh dunia. Tetapi tuhan yang dimaksudkan tersebut sebenarnya adalah Iblis yang akan memberikan kekuasaan kepada para Dajjal atas ijin Allah. Konsep negara Babilonia dihembus-hembuskan syaitan pada kaum Yahudi kabbalah yang hidup setelah jaman nabi Sulaiman a.s.

Bacaan syaitan itu adalah berupa penafsiran syaitan atas apa yang disampaikan malaikat Harut dan Marut pada zaman Babilonia pertama. Babilonia pertama adalah sebuah negara yang didirikan untuk mempersatukan seluruh manusia dalam sebuah negara. Bumi ini dijanjikan akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih, akan tetapi pewarisan bumi itu merupakan fitnah bagi manusia, hendaknya manusia tidak menjadi kafir karena fitnah itu. Kedua malaikat itu selalu memperingatkan manusia sebelum mengajarkannya,  bahwa kekuasaan hanyalah fitnah, dan  janganlah manusia menjadi kafir karena janji itu. Akan tetapi sebagian orang lebih menginginkan fitnah itu  tanpa mengindahkan peringatan dari malaikat Harut dan Marut maka mereka menjadi kafir.

Syaitan-syaitan itu juga kemudian mengajarkan sihir kepada manusia sembari terus menghembuskan bacaan tentang kejayaan dan kekuasaan bagi kaum Yahudi Kabbalah. Sihir akan menyertai pengikut syaitan, seolah-olah memperkuat langkah mereka untuk mewujudkan mimpi kekuasaan sebagaimana Babilonia. Akan tetapi sihir itu tidak berguna bagi mereka. Mereka melupakan bahwa kehidupan mereka pendek, sedangkan cita-cita Babilonia yang dihembuskan syaitan itu hanya dapat diwujudkan dalam beberapa generasi, walaupun mereka menggunakan sihir sekalipun.

Semangat menguasai dunia itu selalu dihembus-hembuskan syaitan kepada para penyembahnya hingga hari ini. Sekelompok manusia bekerja secara rahasia  mewujudkan kolonialisme di dunia untuk mempersatukan dunia dalam kekuasaan mereka. Mereka berusaha mewujudkan hal itu berdasarkan rencana yang dibuat syaitan untuk jangka panjang bagi manusia, sedangkan syaitan membuat rencana itu berdasarkan bacaan kitab suci. Rencana syaitan itu menjerumuskan manusia untuk berbuat keji dan munkar. Bukti bahwa dunia ini dikuasai oleh kelompok orang yang bekerja sinergis untuk mewujudkan New World Order tidak terbantahkan, dan Alquran telah mengatakan apa yang terjadi di dunia ini dengan sebenarnya.

Mereka adalah kelompok musyrikin paling merusak bagi umat manusia, walaupun kerusakan itu tersembunyi dari mata manusia. Mereka menjerat manusia dengan hutang-hutang yang dibuat  hanya dengan mempermainkan aturan tertentu, dan manusia yang dijerat  dijadikan budak yang bekerja bagi mereka. Sekian banyak manusia dipekerjakan untuk diambil hasil keringatnya.

Selain kelompok musyrikin di atas, banyak kelompok musyrikin lain ataupun musyrikin individu, baik bersifat turunan dari kelompok itu maupun kemusyrikan yang berdiri sendiri di atas hawa nafsu masing-masing. Kelompok musyrikin yang bersifat turunan itu bahkan  tersebar mencapai umat islam yang mengikuti nabi Muhammad SAW dan Alquran.

MUSYIKIN DI ANTARA MANUSIA


Di antara manusia, terdapat orang-orang yang menghamba kepada syaitan-syaitan. Mereka menyembah syaitan karena memperturutkan keinginan mereka akan kekuasaan dan kekayaan duniawi. Syaitan-syaitan pun menipu orang-orang yang menyembahnya dengan seolah-olah memberikan apa yang menjadi keinginan mereka. 

Sebagian di antara para penyembahnya menjadi wali-wali bagi syaitan. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kriteria tertentu sesuai dengan keinginan syaitan, dan mereka melakukan ritual-ritual untuk mengikat perwalian mereka dengan syaitan. Kepada wali-wali mereka inilah syaitan-syaitan memberikan wahyu. Dengan wahyu itu disusun langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menjebak orang-orang islam untuk mengikuti langkah orang-orang musyrik.
Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar mewahyukan kepada wali-walinya agar mereka berbantah-bantah dengan kalian; dan jika kalian  mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS Al-An’aam : 121)
Hal yang paling berbahaya bagi umat islam bukanlah makar dari kalangan mereka, tetapi ketaatan yang muncul di kalangan umat islam pada langkah-langkah yang mereka rencanakan. Sesungguhnya syaitan itu benar-benar memberikan wahyu kepada wali-walinya sedemikian agar kaum muslimin menjadi musyrik. Umat islam tidak akan tersentuh makar mereka selama mengikuti petunjuk dari alquran dengan menundukkan akalnya.

MUSYRIKIN DI ANTARA UMAT ISLAM


Muslimin yang mengikuti langkah-langkah yang dibuat oleh orang-orang musyrikin - yang dipimpin oleh syaitan -,  akan termasuk dalam golongan orang-orang musyrik. Sangat penting bagi muslimin untuk mengenali langkah-langkah yang dibuat oleh syaitan menjebak kaum muslimin dalam kemusyrikan. Makar-makar yang dibuat oleh syaitan-syaitan bersama kaum musyrikin tidak akan berguna bagi kaum muslimin, tetapi langkah-langkah jebakan yang diwahyukan syaitan untuk menjadikan muslimin sebagai musyrikin boleh jadi akan menyeret banyak muslimin menjadi musyrikin.

Metode paling efektif  yang digunakan oleh orang-orang musyrik mengalahkan umat islam  adalah dengan membangkitkan suatu ajaran yang indah untuk menipu kaum muslimin. Ajaran-ajaran itu menyerupai ajaran yang disampaikan oleh para nabi akan tetapi memunculkan hasil yang berbeda dari yang diajarkan oleh para nabi dan rasul.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al-An’aam : 112)
Ajaran itu adalah hasil dari bisikan-bisikan oleh para syaitan yang menjadi musuh bagi para nabi. Syaitan-syaitan itu mempunyai derajat yang tinggi di antara para syaitan, sehingga layak  berperan sebagai musuh para nabi. Syaitan-syaitan itu berasal  dari kalangan manusia dan jin, sehingga mereka sangat mengenal manusia karena adanya syaitan dari kalangan manusia, dan mempunyai pengetahuan yang lebih purba karena adanya syaitan dari kalangan jin. 

Perkataan-perkataan mereka  adalah perkataan yang indah, bukan perkataan-perkataan yang jelas kesesatannya. Mereka menggunakan ajaran-ajaran para nabi untuk menipu orang-orang yang tertarik dengan ajaran yang baik, akan tetapi mereka membuat  dan membangkit-bangkitkan semangat yang menyesatkan dalam mengikuti ajaran para nabi. Perkataan indah yang mereka bangkitkan berupa pengetahuan yang benar berdasarkan manthiq, akan tetapi pengetahuan itu tidak memberikan kebaikan bagi jiwanya. Ilmu itu benar menurut logika dan potongan petunjuk agama, akan tetapi tidak membawa cahaya yang bisa dibawa ketika mati. Semua keindahan perkataan-perkataan itu tidak berguna bagi jiwa, dan akan lenyap ketika mati.

Allah SWT memerintahkan untuk membiarkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Mereka tidak dapat membengkokkan  ajaran islam sedikitpun, sehingga Allah membiarkan mereka mengerjakan hal-hal seperti itu, dan memerintahkan umat islam membiarkan hal seperti itu. Hanya bagian kecil yang diselipkan oleh mereka, dengan mengubah-ubah kedudukan ayat satu dengan yang lain. Yang terpengaruhi oleh ajaran mereka adalah orang-orang mempunyai akal yang lemah. Umat islam yang berakal lebih kuat, hati yang baik  tidak akan terlalu jauh mengikuti kemusyrikan yang mereka inginkan.

Termasuk yang mereka ada-adakan adalah perkataan tentang Allah SWT berupa teori tauhid. Perkataan mereka tidak membengkokkan sedikitpun tauhid yang diajarkan para nabi, akan tetapi juga tidak menjelaskan tentang tauhid para nabi dengan benar. Teori tauhid itu hanya berupa takwil berdasarkan kebodohan. Dari ajaran itu, langkah mereka selanjutnya adalah menarik manusia menuju ekstrimitas melampaui batas dan membuat intihal untuk menyerang muslim yang lain.

Allah telah menurunkan islam sebagai agama yang sempurna, termasuk bagaimana cara mengenali langkah-langkah yang dibuat oleh syaitan. Di antara langkah tipuan syaitan yang diwahyukan kepada wali-walinya adalah  munculnya ajaran baru yang diselipkan dalam agama. Ciri dari ajaran baru yang diselipkan itu adalah memecah-belah agama menjadi beberapa golongan, dan tiap-tiap golongan itu berbangga-bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Syaitan bersama para pengikutnya membangkit-bangkitkan kebanggaan, fanatisme pada setiap golongan dalam beragama tersebut.
dan janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-ruum : 31-32)
Muslimin yang mengikuti golongan-golongan tersebut akan termasuk dalam golongan musyrikin. Mereka akan menjadi kaki tangan kaum musyrikin untuk melemahkan dan menghancurkan islam dari dalam islam sendiri. Kaum musyrikin menyadari bahwa tidak akan mungkin mengalahkan islam tanpa membuat kekacauan dan kerusakan di dalam umat islam, maka mereka menjalankan wahyu dari syaitan untuk mengalahkan islam.

Islam adalah agama yang bertujuan kepada Allah dengan cara bertauhid, mempersatukan kehidupan pada jalan yang dikehendaki Allah SWT yang bersifat Ar-rahmaan Ar-rahiim. Allah telah menetapkan jalan kehidupan bagi setiap manusia, dan jalan yang dikehendaki Allah hanya dapat ditempuh dengan membangun diri dengan sifat rahmaniah dan rahiimiyah. Penghambaan , ubudiyah yang ditempuh seseorang tanpa membangun sifat rahman dan rahiim hanya akan dipenuhi tipuan syaitan yang dihias sedemikian sehingga orang tersebut memandang indah perbuatannya.

Rabu, 07 Juni 2017

Halal, Haram dan Berkata tentang Allah tanpa pengetahuan

Rasulullah SAW adalah insan tertinggi yang menjadi panutan segenap alam, membentuk umat yang terbaik di antara seluruh manusia. Beliau membawa orang-orang yang mengikutinya menjadi umat terbaik, yaitu umat yang memerintahkan dengan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran. Memerintahkan dengan ma’ruf artinya menjalankan urusannya berdasarkan pengetahuan (ma’ruf)  dan mencegah manusia menjalankan urusannya berdasarkan kebodohan (munkar).

Beliau adalah insan yang menjadi panutan bagi seluruh makhluk. Akan tetapi beliau dijadikan sebagai insan yang ummi, tidak mengenal literasi, tidak bisa membaca dan menulis. Ke-ummi-an beliau adalah kehendak Allah agar diperhatikan oleh manusia yang mengikutinya. Hal itu untuk menjelaskan dan menekankan bahwa pengetahuan yang beliau bawa bukanlah tentang literasi terhadap wacana yang beredar di antara makhluk. Beliau menjadi panutan karena pengetahuannya berdasar kesucian hati sehingga jelas bagi seluruh makhluk bahwa pengetahuan yang beliau ajarkan berasal dari Allah. 
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang thayyib dan mengharamkan bagi mereka segala yang kotor dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka, itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-A’raaf : 157)
Sebelum umat dipimpin mencapai keadaan umat terbaik, beliau SAW menentukan bagi umat yang mengikutinya perihal halal dan haram. Beliau menghalalkan bagi umatnya segala hal yang thayyib dan mengharamkan segala yang kotor. Segala yang thayyib akan memperkuat keadaan umatnya sehingga umatnya dapat menempuh perjalanan dengan lebih sigap, sedangkan segala yang kotor akan menjerumuskan umatnya bergelimang pada kotoran sehingga umatnya akan terhalangi untuk mendapatkan kemajuan dalam mengikuti sunnahnya.

Untuk membawa umatnya menjadi umat terbaik, beliau SAW membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang mengikat umatnya. Beban dan belenggu  itu adalah beban-beban duniawi dan keterikatan-keterikatan duniawi. Diajarkan kepada umatnya tujuan kehidupan, yaitu mencapai akhlak mulia, dan beliau membawa umatnya untuk melepaskan dari keterikatan dunia.

HALAL DAN HARAM

Ketentuan halal dan haram merupakan salah satu langkah untuk mengikuti rasulullah SAW dalam perjalanan untuk mencapai tujuan kehidupan, yaitu mencapai Akhlakul karimah, bentuk ciptaan mulia yang layak di hadirat tuhan. Halal dan haram itu bukanlah sesuatu yang dibuat semata-mata untuk mengikat manusia pada ketentuan itu, tetapi ketentuan itulah yang akan mendukung perjalanan menuju akhlakul karimah.

Umat-umat terdahulu telah terjebak pada sikap kesyirikan karena membuta pada panutannya. Mereka terjebak menjadikan orang-orang alim dan para rahib di antara mereka sebagai tuhan karena sikap dan perbuatan mereka dalam berusaha mengikuti para panutan.  Mereka kaum yang berusaha mengikuti rasul di antara mereka, berpindah dari kehidupan dunia menuju Allah,  akan tetapi mereka terjebak membuta pada para alim dan rahib hingga ketika para alim dan rahib menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal umat itu mengikuti mereka.
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan  Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [At-Taubah: 31]
Dalam sebuah hadits, rasulullah SAW menjelaskan ayat tersebut :
Ketika Adiy bin Hatim r.a mendengar ayat ini, ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka." Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:  Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya?!" Ia menjawab, "Ya. benar." Maka beliau bersabda, "Itulah bentuk ibadah kepada mereka." [Hadits Riwayat. At-Tirmidzi]

Orang-orang yang mengikuti para alim dan rahib tanpa peduli pada maksud dan ketentuan halal dan haram sesungguhnya terjebak pada sikap mempertuhan para alim dan rahib.  Setiap insan harus peduli pada tujuan sunnah/perjalanan yang diajarkan rasulullah, dan peduli pada hal-hal berupa ketentuan halal dan haram, dan mengikuti ketentuan tersebut sesuai dengan ketentuan Allah,  bukan sekadar ketentuan yang dikatakan oleh para alim dan rahib panutan mereka. 

Boleh jadi ketentuan itu benar, atau salah, akan tetapi yang terpenting adalah bahwa setiap insan hendaknya peduli perihal pengetahuan halal dan haram bagi dirinya. Para alim dan rahib belum tentu mengetahui secara menyeluruh dalam perihal tertentu bagi umatnya, karena itu setiap insan harus berusaha mencari dari ketentuan Allah dan rasul-Nya. Atau boleh jadi ada di antara  yang dianggap sebagai para alim dan rahib  mempunyai rencana buruk terhadap agama. Perihal apapun terkait ketentuan halal dan haram, setiap orang  harus mencari ketentuannya dari kitabullah dan sunnah.

Sikap penghalalan atau pengharaman itu kadangkala terlihat suatu hal yang baik, padahal menjerumuskan pada akhlak yang buruk berupa kelemahan akal. Beberapa penyimpangan dalam penentuan halal dan haram itu dibungkus dalam bungkus yang indah. Misalnya memerangi orang muslim adalah hal yang sangat diharamkan secara qath’iy, namun beberapa pihak membuat penghalalan perbuatan itu dengan menyusun mujadalah secara indah, mengutip satu petunjuk dan menyembunyikan petunjuk yang lain. 

Mengikuti para alim dan rahib dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah telah dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Hal itu merupakan kejatuhan pada sikap mempertuhan para alim dan rahib. Itu adalah perbuatan menjadikan manusia sebagai tuhan. Dalam hal ini rasulullah SAW mengingatkan bahwa umatnya pasti mengikuti langkah-langkah yahudi dan nasrani itu, dan beliau benar-benar mengkhawatirkan hal itu menimpa umatnya.

BATASAN HALAL DAN HARAM SECARA UMUM


Batasan  hal-hal yang diharamkan Allah telah ditentukan sebagai berikut : 
1. perbuatan yang keji baik yang terlihat ataupun tersembunyi,
2. perbuatan dosa
3. bughat, yaitu melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar
4. mempersekutukan Allah dengan sesuatu
5. mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa pengetahuan

hanya itulah yang diharamkan oleh Allah. Tidak ada sesuatu hal yang diharamkan selain kelima hal di atas, dan tidak ada di antara lima hal di atas dihalalkan bagi manusia. Tidak ada manusia boleh menganggap halal  salah satu perbuatan di atas  bagi dirinya.
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-A’raaf : 32-33)
Hal-hal di atas adalah ketentuan pokok dalam halal dan haram. Ketentuan lain tentang  halal dan haram yang muncul pasti akan terkait salah satu atau lebih dari kelima pokok tersebut. Kelima pokok tersebut merupakan sumber keharaman atas segala sesuatu, dan tidak halal bagi siapapun melakukannya walaupun mungkin hal yang haram itu terlihat indah, misalnya berbicara tentang Allah, padahal pembicaraan indah itu tanpa pengetahuan.

BERKATA TERHADAP ALLAH TANPA PENGETAHUAN

Setiap manusia dituntut untuk mengenal tuhannya, akan tetapi Allah menentukan  keharaman untuk berbicara tentang Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui. Untuk itu setiap orang harus berhati-hati untuk mengambil pengetahuan tentang Allah. Membuat definisi tentang Allah adalah tindakan haram. Membuat teori tentang tauhid tanpa mengenal Allah  adalah haram. Membicarakan teori tentang tuhan dari orang yang tidak mengenal Allah adalah haram. Hal itu sebagaimana telah ditentukan dari ayat di atas yaitu untuk tidak berkata tentang Allah dengan  hal yang tidak diketahui. 

Banyak insan telah mengenal rabb-nya. Hanya yang berasal dari mereka itulah ilmu tauhid itu boleh dipelajari. Mereka mempunyai tanda yang jelas, bahwa setidaknya mereka telah mengenal dirinya, mengetahui qadla yang ditentukan Allah bagi dirinya sebelum dilahirkan. Ilmu tauhid yang hanya dibuat-buat oleh manusia yang tidak mengenal Allah tidak boleh dipelajari atau dibicarakan dengan orang lain, sekalipun berdasarkan dalil dari kitab suci. Boleh jadi yang membuatnya tidak mempunyai pengetahuan tentang Allah, atau boleh jadi di antara mereka ada yang menukar tempat suatu ayat dengan yang lain, atau boleh jadi menyembunyikan suatu ayat. Konsep tauhid yang rancu ini telah melanda umat islam tanpa umat menyadari, sehingga umat islam menjadi lemah.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disifatkan oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS An-Nahl : 115-116)
Mengenal Allah hanya dapat dilakukan secara personal. Pengetahuan seseorang tentang Allah tidak akan terkatakan kepada orang lain. Pensifatan-pensifatan terhadap Allah oleh lisan-lisan manusia tidaklah dapat menceritakan tentang sifat yang sebenarnya bagi Allah,  maka hendaklah setiap orang berhati-hati untuk menyebutkan pensifatan bagi Allah karena boleh jadi akan menyebabkan dirinya terjebak pada perbuatan mengadakan kebohongan terhadap Allah.

Seseorang yang mengenal Allah tidak akan mampu mengajarkan tentang Allah kepada orang lain, tetapi hanya bisa menunjukkan jalan bagi orang lain untuk mengenal-Nya, serta menunjukkan kesalahan dan mendukung perjalanan yang perlu ditempuh bagi muridnya. Mengikuti kata-kata seorang rasul atau mursyid yang benar tentang sifat Allah tidak akan mengantar seseorang mengenal Allah, sedangkan yang bisa mengantarkan adalah dengan melakukan petunjuknya. Apalagi bila hanya mengikuti kata-kata orang yang hanya mengadakan kebohongan terhadap Allah, karena mereka orang yang tidak akan beruntung.

TAUHID ZAMAN INI

Sebagian dari umat islam telah membuat perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, yang kemudian disusun dalam sebuah rumusan tauhid. Dikatakan dalam rumusan itu bahwa di antara tauhid adalah mengesakan Allah SWT  dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya, sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Hal seperti ini termasuk dalam mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan.

Dalam rumusan di atas, ayat-ayat alquran yang digunakan tidak dipahami sebagaimana mestinya dalam sudut pandang yang tepat. Allah telah menggelar ayat kauniyah tidak bersesuaian dengan pemahaman ayat yang seperti itu. Kenyataan yang terjadi tidak demikian adanya. Misalnya fakta bahwa kita bisa menemukan sekumpulan engineer yang telah diberi kemampuan untuk menciptakan peralatan-peralatan modern yang canggih hanya dengan mengambil sebagian kecil prinsip dari aturan yang telah Allah tentukan. 
Allah berkehendak agar dikenal oleh manusia melalui setiap bidang yang ditekuni oleh masing-masing, dalam bidang apapun. Hendaknya setiap orang mencari pengetahuan kebenaran dalam bidang masing-masing hingga ke ufuk untuk mengenal Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Dapat dipastikan bahwa Allah SWT tidak akan dapat dikenal oleh orang-orang yang mematikan  atau tidak mau menggunakan akalnya dengan benar, karena orang-orang yang semacam ini hanya akan ditimpakan kepada mereka kotoran (ar-rijs) berupa pemahaman yang tidak berguna.

Banyak gambaran tidak benar dalam rumusan tauhid itu, sehingga sangat memungkinkan timbul kesan yang salah terhadap Allah, gambaran yang tidak dikehendaki Allah. Rumusan itu tidak akan membuat manusia merasakan kehadiran Allah. Sekalipun orang percaya sepenuhnya tentang Allah dengan rububiyah dan nama dan shifat-Nya, tetapi dengan rumusan seperti itu jiwanya tidak akan tumbuh untuk bisa merasakan kehadiran Allah. Bila diibaratkan pohon, kepercayaan itu hanya menumbuhkan pohon yang tercerabut dari bumi. Kepercayaan seperti itu tidak dapat menjadikan manusia yang mengikutinya mencapai kedudukan yang kokoh di bumi.  Setiap insan perlu mengenal rumusan tauhid yang benar agar tumbuh pohon yang baik, akarnya menghunjam ke dalam bumi dan cabangnya menjulang di langit.

Tidak ada makhluk yang  bisa sepenuhnya mengenal Allah. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, akan tetapi beliau tidak mengenal sedikitpun tentang Dzat Allah SWT.  Beliau adalah makhluk yang paling mengenal tajalliyat Allah di seluruh alam semesta, hingga di ufuk yang tertinggi, akan tetapi seluruh yang beliau kenal hanyalah tajalliyat yang dikehendaki Allah SWT untuk diperkenalkan, agar makhluk mengenal-Nya. Seluruh makhluk selain rasulullah SAW bisa mengenal Allah hanya dengan cara mengambil bagian pengetahuan dari pengetahuan beliau SAW dengan hatinya.

Setiap manusia diciptakan untuk mengenal Allah, sebatas apa yang mampu dikenalnya. Batas kemampuan pengenalan manusia terhadap Allah adalah mengenal diri sebagai khalifatullah masterpiece makhluk-Nya,  tidak bisa lebih dari itu dan tidak  lain dari itu. Dengan mengenal diri, seseorang mulai dapat mengetahui keagungan Allah dalam segala hal.

Jumat, 05 Mei 2017

ISLAM DAN ISLAMOPHOBIA (2)

Umat islam akan menemui sebuah jaman dimana fitnah merajalela di antara manusia. Keadaan pada zaman itu adalah kegelapan, dimana kebenaran disangka kesesatan dan kesesatan disangka kebenaran. Muncul para da’i yang menyeru kepada pintu-pintu Jahannam. Rasulullah telah menjelaskan dalam sebuah hadits tentang hal yang harus dilakukan untuk mensikapi zaman itu secara tepat, tidak melenceng yang menyebabkan terjerembab dalam kesesatan.
Dari Hudzaifah ibn Al-yaman : Aku bertanya (kepada Nabi SAW) : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu,  dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu". [Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399].
Keadaan pada zaman kedatangan fitnah akan gelap. Pandangan manusia akan tertukar, memandang keburukan sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai keburukan. Bahkan islam akan dipandang sebagai agama yang buruk oleh sebagian manusia, sedangkan sebagian manusia yang lain mengikuti para da’i yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Sangat sedikit orang yang bisa berjalan di tengah, di jalan yang benar tanpa menyimpang.

Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar manusia mencari al-jamaah, yaitu jamaah kaum muslimin dan imamnya. Jama’ah kaum muslimin itu adalah jama’ah yang mengikuti sunnah rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikutinya. Apabila tidak menemukan jamaah atau imamnya, maka hendaklah setiap orang menghindari setiap firqah, dan mencari pegangan berupa pokok pohon,  tanpa pernah mengendorkan usaha itu hingga maut menjemput. Apabila telah mendapatkan pokok itu, hendaknya manusia menggigitnya dengan sungguh-sungguh tidak melepaskannya.

JAMAAH KAUM MUSLIMIN


Yang dimaksud sebagai al-jamaah adalah orang yang telah mengenal kebenaran.  Al-jamaah adalah orang-orang yang telah melihat kebenaran Allah  dan mengajak manusia untuk menuju kepada Allah walaupun mereka sendirian. Mereka telah mencapai kedudukan dirinya di sisi Allah. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah Ibn Mas’ud sebagai berikut :
Berkata Amru bin Maimuun  kepada Abdullah bin Mas'ud : Bagaimana sikap kami terhadap Jama'ah ? Lalu beliau menjawab kepadaku : Wahai Amru bin Maimuun sesungguhnya Jumhur Jama'ah merekalah yang menyelisihi Al-Jama'ah, dan Al-Jama'ah itu adalah yang sesuai dengan kebenaran Allah Subhanahu wa Ta'ala walaupun kamu sendirian" [oleh Al-Lalikaaiy dalam Syarh Ushul I'tikad Ahlus Sunnnah wa Jama'ah (160) dan Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyqi 13/322/2]
Al-haq bukanlah kebenaran menurut persangkaan seseorang berdasarkan dalil-dalil, walaupun itu tercantum dalam kitab suci. Boleh jadi persangkaan itu salah atau benar, tetapi tidak ada yang bisa menjamin hal itu. Yang dimaksud sebagai Alhaq adalah penjelasan kebenaran dari ayat-ayat yang tercantum dalam kitab suci, di ufuk dan dalam jiwa tanpa ada perselisihan. Parameter bahwa seseorang mengenal alhaq terdapat dalam dirinya, yaitu dirinya mengenal qadla untuk apa dirinya diciptakan.  Alhaq akan diperlihatkan Allah dalam ayat-ayatnya yang terdapat pada ufuk-ufuk dan pada jiwa-jiwa manusia :
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami di  ufuk-ufuk dan pada jiwa-jiwa mereka sehingga hal itu saling menjelaskan bagi mereka bahwasanya itu adalah kebenaran (QS Fussilat : 53)
Ayat qauliyah tercantum dalam kitab suci, sedangkan ayat kauniyah tersebar pada ufuk-ufuk dan di dalam jiwa-jiwa. Ufuk merupakan titik terjauh yang mampu dicapai oleh manusia, berupa kedudukan masing-masing di sisi rabb-nya. Seseorang tidak akan bisa melampaui kedudukan dirinya, dan tidak bisa menempati kedudukan orang lain di sisi rabb. Seseorang  hanya bisa mencapai kedudukan dirinya. Rasulullah SAW berada pada ufuk tertinggi yang tidak bisa dicapai oleh makhluk lain.

Pada jiwa manusia,  Qadla telah tertulis sebelum dilahirkan ke dunia. Setiap manusia terlahir dengan membawa qadla (ketetapan) yang harus dijalankan dirinya setelah dilahirkan ke dunia. Pada (1) Kedudukan dirinya di sisi rabb  dan  (2) Qadla dirinya, terdapat ayat-ayat yang kelak akan diperlihatkan Allah kepada manusia.  Kedua ayat tersebut bersesuaian satu dengan yang lain, dan keduanya akan memperlihatkan bagi dirinya tentang kebenaran. 
Hudzaifah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, katanya : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan kepadaku dua buah hadits, yang satu telah saya ketahui dan yang satu masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa amanat itu diturunkan di lubuk hati manusia, lalu mereka mengetahuinya dari Al-Qur'an, kemudian mereka ketahui dari As-Sunnah. Dan beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanat itu. (HR Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11:333)
Hadits tersebut menjelaskan keterkaitan hati, alquran dan assunnah dalam masalah amanah. Amanah telah tertulis dalam hati manusia, Alquran adalah ayat qauliyah-Nya yang akan membuka amanah, sedangkan as-sunnah adalah perjalanan untuk mencapai amanah. Setelah mencapai kedudukan diri, maka manusia akan mengetahui bahwa pada kedudukan dirinya dan di dalam dirinya terdapat sebentuk amanah yang dahulu telah ditetapkan sebelum kelahirannya.

Kata “sa” yang berarti “akan” menunjukkan suatu waktu yang terjadi di masa mendatang. Hal itu menunjukkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui ayat-ayat itu, tetapi “akan” diperlihatkan ayat-ayat itu dengan kondisi tertentu.  Dia akan memperlihatkan  ayat-ayat itu ketika seseorang telah mencapai kedudukan dirinya di sisi rabb-nya, atau mencapai kesempurnaan akhlak. 
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari ‘amr kami. Sebelumnya engkau  tidaklah mengetahui apakah alkitab (alquran) itu dan apakah al-iman itu, tetapi kami menjadikannya cahaya yang dengannya kami  memberi petunjuk kepada yang Kami kehendaki dari  hamba-hamba Kami. (QS Az-zukhruf : 52)
Kehidupan seorang mukmin yang berjalan mengikuti sunnah rasulullah SAW akan semakin terang dengan Alquran. Puncak kejelasan itu adalah hadirnya ruh al-quds. Seorang mu’min  akan mendapatkan petunjuk dari cahaya iman, akan tetapi sebelum diberi ruh alquds, pada dasarnya seorang mu’min belum mengenal alkitab (alquran) dan al-iman dengan tepat.  Alquran yang berupa tulisan pada buku adalah ujung dari alquran yang mencapai kaum mukminin. Ujung alquran yang lain berada dalam genggaman rabb.  Dengan ruh al-quds, apa yang dimaksud sebagai al-kitab dan al-iman itu baru dapat diketahui dengan benar-benar tepat sesuai yang dikehendaki Allah SWT atas dirinya.

FIRQAH-FIRQAH


Firqah-firqah yang harus dihindari merupakan semua kelompok yang mempunyai akar pada dakhaan, yaitu kaum yang mengikuti jalan selain apa yang disunnahkan rasulullah SAW. Hanya dari jalan itulah kaum musyrikin dapat memalingkan umat islam dari agamanya. Jalan kesesatan itu jelas, dan sunnah rasulullah juga jelas. Akan tetapi mereka membangkitkan ajaran yang setengah benar sedemikian sehingga umat islam mengikutinya hanya berdasarkan teks-teks, tidak berdasarkan pemahaman terhadap sunnah rasulullah SAW.
Dari 'Irbadh Ibnu Sariyah r. a berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang masih hidup diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian". [Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440].
Syaitan akan senantiasa berusaha menyesatkan manusia sehingga mengikuti syaitan dalam kesesatan. Di antara langkah tipuan syaitan yang diwahyukan kepada wali-walinya adalah  munculnya ajaran baru yang diselipkan dalam ajaran agama. Ajaran baru itu akan membuat umat islam berselisih. Ciri dari ajaran baru yang diselipkan itu adalah memecah-belah agama menjadi beberapa golongan, dan tiap-tiap golongan itu berbangga-bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Syaitan bersama para pengikutnya membangkit-bangkitkan kebanggaan, fanatisme pada setiap golongan dalam beragama tersebut.
dan janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-ruum : 31-32)
Muslimin yang mengikuti golongan-golongan tersebut akan termasuk dalam golongan musyrikin. Mereka akan menjadi kaki tangan kaum musyrikin untuk melemahkan dan menghancurkan islam dari dalam islam sendiri. Kaum musyrikin menyadari bahwa tidak akan mungkin mengalahkan islam tanpa membuat kekacauan dan kerusakan di dalam umat islam, maka mereka menjalankan wahyu dari syaitan untuk mengalahkan islam.

Ajaran setengah benar berdasarkan teks-teks tanpa menekankan pemahaman terhadap ayat yang dibaca adalah  sebagaimana pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari bumi. Pohon itu tidak dapat tegak sedikitpun.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun (QS Ibrahim : 26)
Setiap pohon mengenal cahaya yang sampai pada dirinya.  Demikian pula orang belajar teks tanpa memahami sunnah nabi mempercayai bahwa Allah telah memberikan cahaya kepada seluruh alam, baik berupa kitab-kitab, malaikat, rasul-rasul qadla dan qadar, serta percaya dengan hari akhir,  akan tetapi kepercayaan itu hanya sebuah konsepsi yang tidak mempunyai basis bagi kehidupan di bumi. Hal itu berbeda dengan orang yang memahami sunnah nabi. Cahaya dari Allah itu akan mengantarkan dirinya mengenal qadla yang telah ditetapkan bagi dirinya.  Dengan pengenalan itu dirinya dapat tegak di atas bumi dan bahkan bisa memberikan buah bagi makhluk di sekitarnya.

POKOK POHON


Menggigit pokok pohon dalam perintah hadits di atas bukan berarti muslimin menggigit suatu pokok pohon yang berada di dalam hutan. Yang dimaksudkan sebagai pohon adalah  syajarah thayyibah (pohon yang baik) yang menjadi permisalan bagi kalimah thayyibah.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat thayyibah  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS Ibrahim : 24-25)
Jiwa yang baik itu dimisalkan sebagai pohon yang baik, pengetahuan jasadiahnya berakar ke bumi dan jiwanya menjulang di langit mencari cahaya Allah. Pohon itu dapat mengeluarkan buah yang berasal dari pemahamannya atas ayat-ayat Allah bagi  dirinya, buah yang bisa diberikan kepada orang lain. Dengan jiwa yang tumbuh dengan baik itulah manusia dapat mengenal kalimah thayyibah dan berbuat ihsan, beribadah seolah-olah dirinya melihat Allah, atau Allah melihat dirinya. 

Buah yang dihasilkan merupakan bukti atas pengenalan kalimah thayyibah, yaitu pengenalan qadla diri. Tidak semua muslimin mengenal qadla bagi dirinya, tetapi di antara muslimin terdapat orang yang telah mengenal qadla dirinya. Mereka itulah pokok-pokok pohon yang telah memberikan buahnya dalam setiap musim. Mereka itulah  pokok pohon yang dimaksudkan dalam hadits di atas. 
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (QS Al-Fath : 18)
Mereka adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada rasulullah SAW di bawah pohon dirinya. Mereka telah mengenal pohon dirinya, dan berbaiat kepada rasulullah  untuk menjalankan urusan yang telah ditetapkan bagi dirinya yang merupakan bagian dari urusan rasulullah SAW. Tidak ada manusia yang bisa mengenal dirinya tanpa sebuah kehendak yang kuat untuk mengambil urusan dari rasulullah SAW, karena seluruh urusan yang ditetapkan Allah bagi makhluk merupakan urusan bagi rasulullah SAW.

Mereka adalah orang-orang yang akan diberikan kemenangan yang dekat, yaitu kemenangan di dunia, dan di akhirat mereka mendapatkan surga. Mereka orang-orang yang layak mendapatkan gelar radliyallahu ‘anhu, yaitu orang-orang yang Allah telah meridlai mereka.

Pada zaman itu, orang-orang yang belum mendapatkan jamaah kaum muslimin dan imamnya hendaknya terus menerus berusaha untuk mencari pokok pohon seperti itu, hingga maut menjemput dirinya.  Apabila telah menemukan pokok itu, hendaknya mengikuti dengan sungguh-sungguh dan seksama.

Rabu, 03 Mei 2017

Islam dan Islamophobia

Agama islam adalah agama yang sempurna untuk mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah yang telah disediakan bagi setiap manusia sejak sebelum penciptaannya. Untuk mencapai kedudukan yang mulia itu, seseorang harus menumbuhkan jiwanya hingga mengenal fitrah penciptaan dirinya.
maka tegakkanlah wajahmu bagi agama secara hanif, yaitu fitrah Allah yang manusia diciptakan atas fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, bahwasanya itulah agama yang tegak tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS 30:30)
Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk membimbing manusia menumbuhkan diri mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah. Beliau adalah pembimbing yang paling sempurna bagi segenap makhluk untuk menyempurnakan bentuk ciptaan bagi dirinya. Untuk mencapai kesempurnaan bentuk, manusia harus tumbuh akalnya dengan sempurna hingga mencapai kualitas lubb.
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
Dengan kesempurnaan kualitas akal, Allah berkehendak untuk memberikan nafakh ruh bagi manusia, sehingga amr (urusan) kehendak Allah tercermin dalam kehidupan manusia yang sempurna. Dengan demikian, maka manusia dapat  menjadi khalifatullah di bumi.

ISLAMOPHOBIA


Jalan islam yang mulia itu saat ini mendapatkan fitnah dari berbagai pihak. Kaum musyrikin membangkitkan fitnah dalam agama yang mulia sehingga agama islam menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian manusia. Manusia menganggap islam sebagai jalan yang mengancam kehidupan, padahal sebenarnya tidaklah agama islam mengajarkan yang demikian.

Kaum musyrikin menjadi agen bagi syaitan untuk membangkitkan fitnah di dalam agama islam, dan kaum musyrikin mengambil sebagian umat islam untuk menyebarkan fitnah itu. Hal itu sebagaimana telah diajarkan rasulullah SAW kepada para sahabat sebagaimana hadits berikut :
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang menyambutnya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu". [Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399].

Akan bangkit para penyeru (da’i) yang mengajak kepada pintu Jahannam. Mereka menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa muslimin dan penampilan mereka sama dengan penampilan muslimin. Mereka tidak mengantarkan manusia dengan ajaran yang jelas sesat menuju Jahannam, tetapi ajaran mereka hanya mengantar pengikutnya hingga pintu Jahannam. Tidak terlihat Jahannam dari ajaran itu, akan tetapi barangsiapa menyambut ajakan itu syaitan akan melemparkannya kepada Jahannam. Itu adalah pekerjaan  syaitan melalui para pengikutnya membangkitkan fitnah kepada agama islam yang mulia.

Itulah fitnah yang menimpa Islam. Hal itulah yang membangkitkan Islamophobia bagi umat manusia. Setiap muslim harus menyadari hal itu agar tidak tergelincir mendekati pintu Jahannam, dan bisa menjelaskan kepada manusia tentang islam yang sebenarnya melawan fitnah yang melanda islam.

Hadits di atas bercerita tentang maju-mundur dan kejatuhan umat islam. Umat islam pernah berjaya, kemudian mengalami kekalahan, dan kemudian berjaya kembali sebelum akhirnya terpuruk dalam kekuasaan manusia lainnya. Beberapa negara islam saat ini jelas-jelas menjadi kaki tangan orang barat untuk mengacaukan negeri islam yang lain. Inilah jaman dimana keburukan yang mana da’i-da’i yang menyeru pada pintu Jahannam itu telah muncul. 

Kejayaan umat islam pertama adalah kejayaan pada jaman Nabi SAW hingga khilafah Abbasiyah dan Cordoba terkalahkan pada abad 12 M. Kekalahan itu menandai munculnya keburukan pertama yang muncul, walaupun umat islam tidak sepenuhnya terkalahkan. Khilafah islam Safawiah, Fathimiah, Mamluk masih berdiri dengan kuat, namun kekalahan itu menunjukkan telah adanya kemunduran yang terjadi di kalangan umat islam.

Kejayaan umat islam kembali bangkit pada abad yang sama. Itu adalah kejayaan yang kedua bagi umat islam, namun kejayaan itu bangkit bersama dakhan. Khilafah Turki Usmani bangkit sejak ertugrul al-ghazi dan keturunannya berjuang menegakkan khilafah islam yang besar. Kebangkitan itu tidak murni bagi seluruh muslimin, di mana sebagian umat islam mengikuti sebuah dakhan yang muncul. Bid’ah telah muncul di antara umat islam, dan dari dakhan itu terwariskan hingga dapat muncul  da’i yang menyeru kepada Jahannam pada periode berikutnya.

Keruntuhan Turki menjadi penanda keburukan berupa kemunculan para da’i yang menyeru pada pintu-pintu Jahannam. Para da’i itu mengagung-agungkan pembuat dakhan sebagai syaikh yang menjadi panutan, padahal pada jaman kejayaan islam, syaikh itu lebih sering menjadi tahanan bagi ulama-ulama pada jamannya. Para ulama pada jaman kejayaan islam mengenal sosok itu sebagai pembuat bid’ah yang harus dipenjarakan, tetapi umat islam pada jaman kegelapan menjadikannya syaikh yang menjadi panutan.

Seperti itulah islam yang dikenal kebanyakan manusia jaman ini, sehingga wajarlah muncul sikap islamophobia. Umat islam pun harus mewaspadai hal itu, dan harus kembali kepada agama yang sempurna,  menjadikan diri berakhlak mulia agar islam kembali bersinar menerangi dunia.

PARA PENYERU


Para penyeru kepada Jahannam bukanlah menyeru pada jalan yang jelas menuju kesesatan . Mereka menyeru hanya kepada pintu Jahannam dengan bahasa yang sama dan penampilan yang sama dengan umat muslimin pada jaman rasulullah SAW.

Mereka membangun kerangka pengetahuan agama, sehingga mereka timbul anggapan di kalangan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih mendapat petunjuk daripada umat-umat yang lain. Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah tentang hal itu.
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran)<> karena kesombongan di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS Faathir : 42:43)
Mereka menjadi umat yang bersumpah atas nama Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah karena mereka sombong dan karena mereka mempunya rencana jahat. Sebagian besar dari mereka merasa sombong dengan pengetahuan dan perbuatan mereka, dan sebagian yang menjadi pemimpin di antara  mereka mempunyai rencana yang jahat terhadap umat islam. 

Merekapun menanti-nantikan akan kedatangan sunnatullah berupa sunnah yang telah terjadi pada orang-orang terdahulu. Mereka menganggap bagi mereka sunnah yang baik dan bagi selain mereka sunnah yang buruk, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa yang buruk itu adalah bagi mereka. Sunnah itu tidak akan tergantikan dan tidak akan menyimpang dari apa yang ditetapkan.
Maka apakah (keadaan) orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS Faathir :8)
Syaitan menjadikan perbuatan mereka terlihat indah di mata mereka sehingga mereka meyakini bahwa pekerjaan mereka itu baik. Sekalipun rasulullah SAW telah memperingatkan bahwa mereka mengikuti tanduk syaitan yang muncul memporakporandakan negeri Yaman dan Syam, mereka menganggap bahwa pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang baik.

MENCARI ISLAM


Manusia harus menyempurnakan dirinya agar menjadi makhluk berakhlak yang indah, tetapi manusia akan dibuat oleh syaitan memandang indah keadaan dirinya. Itulah yang akan menghalangi manusia menuju akhlak yang mulia. Bahkan pandangan indah itu membuat manusia menjadi tersesat, melakukan perbuatan maksiat yang bertentangan dengan perintah Allah akan tetapi memandangnya sebagai sebuah bentuk perbuatan yang baik.

Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, maka setiap orang yang mengharapkan kemuliaan harus mendekat kepada Allah. Tidak ada jalan lain untuk menuju kemuliaan. Hanya kalimat yang baiklah yang naik kepada-Nya, dan amal shalih dari orang yang naik yang akan dinaikkan-Nya. Sedangkan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur.
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik kalimat-kalimat yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Faathir :10)
Kalimat yang baik (kalimah thayyibah) itu adalah jiwa manusia yang tumbuh mencari cahaya tuhannya. Jiwa setiap orang harus tumbuh dengan baik, ditandai dengan menguatnya akal, agar dirinya bisa merasakan dan melihat kehadiran Allah, dan bergerak untuk mendekat kepada-Nya.  Tanpa jiwa yang baik, jiwa seseorang tidak akan mengetahui kehadiran Allah dalam kehidupannya.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat thayyibah  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS Ibrahim : 24-25)
Kehadiran Allah hanya dikenal dalam bentuk kalimah thayyibah yang dimengerti oleh orang yang jiwanya tumbuh dengan baik. Jiwa itu dimisalkan sebagai pohon yang baik, pengetahuan jasadiahnya berakar ke bumi dan jiwanya menjulang di langit mencari cahaya Allah. Pohon itu dapat mengeluarkan buah berupa pemahaman atas ayat-ayat Allah bagi  dirinya yang bisa diberikan kepada orang lain. Dengan jiwa yang tumbuh dengan baik itulah manusia dapat berbuat ihsan, dan buah yang dihasilkan merupakan bukti atas pengenalan diri.

Dengan jiwa yang tumbuh dengan baik seseorang akan mengerti ayat-ayat Allah baik berupa ayat qauliyah maupun kauniyah dan keterkaitan dari keduanya. Langkah kehidupannya tertuntun oleh alquran dan sunnah rasulullah SAW. Dirinya mempunyai penglihatan, pendengaran dan perbuatan yang tertuntun oleh petunjuk Allah, bukan semata-mata penafsiran logika yang disangka sebagai petunjuk. Dirinya mengerti apa kehendak Allah atas dirinya di antara seluruh lingkungannya, dan melihat lingkungannya sebagai penjelasan dari alquran.

Itulah sebagian perbuatan orang-orang islam yang mengikuti langkah-langkah rasulullah SAW dan orang-orang yang bersamanya. Mereka memanggil manusia menuju Allah di atas Bashirah, tidak semata-mata berdasarkan persangkaan. Mereka mengetahui dengan pasti ayat-ayat Allah yang terjadi di sekitar dirinya, dan mengikuti ayat-ayat itu.
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."(QS Yusuf : 108)