Pencarian

Selasa, 24 September 2024

Mengikuti Pengajaran Yang Benar

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi hanya mengikuti pendapat mereka sendiri.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
﴾۹۲﴿لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
(28) Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu khalil(ku). (29)Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari adz-dzikra ketika telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS Al-Ankabuut : 28-29)

Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari lurusnya jalan seseorang bertaubat kepada Allah. Sebagian kaum menggantikan tuntunan kitabullah itu dengan khalil-khalil dari kalangan mereka sendiri sedemikian manakala khalil-khalil mereka tersesat dalam mengambil pelajaran, maka kaum itu mengikutinya meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kesesatan itu terjadi karena dan manakala kaum tersebut meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan karena mengikuti seseorang kecuali manakala menjadikannya sebagai khalil. Menjadikan khalil artinya menjadikan seseorang sebagai representasi sepenuhnya dari kehendak Allah. Dalam banyak hal, mengikuti langkah-langkah seseorang yang benar akan sangat memudahkan suatu kaum untuk bertaubat kepada Allah, yaitu selama orang yang diikuti berjalan lurus dalam taubat kepada Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang yang diikuti menyimpang, suatu kaum tidak boleh mengikuti langkah panutan mereka karena mereka akan ikut menyimpang. Manakala suatu kaum menjadikan seseorang sebagai khalil, pandangan mereka akan tertutup dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga manakala khalil mereka menyimpang mereka tidak mengetahui bahwa khalil mereka menyimpang, hingga suatu tingkatan kaum itu akan menolak pengajaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dibacakan dengan benar. Keadaan demikian menunjukkan bahwa kaum itu telah disesatkan dari adz-dzikra oleh khalil mereka.

Sandaran kebenaran bagi seluruh orang beriman adalah tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan apa-apa yang disampaikan oleh seseorang di antara mereka. Kebenaran tidak terletak pada kedudukan seseorang di antara orang beriman, tetapi terletak pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang lemah atau dianggap lemah di antara orang beriman bertindak dengan nilai benar selama ia mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan seorang yang kuat di antara mereka bertindak salah manakala ia menentang tuntunan Allah. Tidak jarang akal suatu kaum terbalik-balik dalam menilai kebenaran, menganggap orang yang benar sebagai orang yang tidak berguna dan menilai kesesatan sebagai panutan yang paling baik. Hal demikian terjadi karena kaum tersebut tidak sungguh-sungguh menjadikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber pengajaran.

Kadangkala kaum yang berbuat demikian menjadikan sebagian dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber adz-dzikra, tetapi mengingkari bagian lain dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang tidak disukai hawa nafsu mereka. Tuntunan yang tidak mereka sukai mereka anggap ditujukan untuk menunjukkan keburukan-keburukan orang lain tidak menunjukkan sesuatu pada diri mereka untuk diperbaiki. Apabila ada realitas-realitas diri mereka yang sesuai ayat Allah yang tidak mereka sukai, mereka menganggap orang lain tidak memahami kebenaran dari firman itu dan kebenaran lain yang mereka ikuti. Sebenarnya kebenaran mereka demikian itu adalah kesesatan dari pengajaran yang difirmankan pada ayat di atas. Mereka tidak berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi memanfaatkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk pengajaran mereka, walaupun mungkin tanpa suatu iktikad buruk.

Kesesatan pengajaran demikian terkait dengan suatu tipuan syaitan yang sangat penipu. Sangat penipu tidak menunjukkan syaitan selalu berbuat menipu, tetapi menunjukkan syaitan sangat pandai dalam membuat tipuan. Bagi orang-orang yang telah berkembang kecerdasannya, mereka hanya menipu dalam hal-hal tertentu yang menentukan kecelakaan orang tersebut dan manusia seluruhnya bila mungkin. Mereka mungkin suka menunjukkan fenomena-fenomena yang benar selama tidak menunjukkan hakikatnya. Dalam hal-hal yang telah terjadi, mereka mempunyai rekaman yang tepat sehingga dapat memberikan informasi akurat tentang apa yang terjadi termasuk motivasi-motivasi manusia yang melatarbelakangi kejadian-kejadian manakala motivasi itu muncul karena bujukan syaitan. Dalam hal masa depan, mereka bisa memberikan informasi dan perhitungan terhadap apa-apa yang mungkin terjadi. Yang tidak mungkin mereka lakukan adalah memberikan pengetahuan hakikat terkait sesuatu yang terjadi, dan hakikat itu diturunkan Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Walaupun tidak akan mengajari, syaitan mungkin saja membenarkan keping-keping kebenaran yang diperoleh seseorang selama ia tidak mencari kebenarannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala syaitan menumbuhkan pengetahuan keping kebenaran itu dengan disertai menumbuhkan pijakan yang lain bagi syaitan dalam diri orang tersebut, maka para syaitan mempunyai pijakan yang kuat di atas waham kebenaran seseorang.

Kaum yang menjadikan seseorang sebagai khalil akan menyesali tindakan mereka karena kesesatan yang terjadi. Perbuatan itu akan menyesatkan mereka dari adz-dzikra hingga bahkan mendustakan kebenaran manakala orang lain menyampaikan pengajaran (adz-dzikra) yang benar. Setiap orang harus tetap melihat orang yang diikuti sebagai makhluk yang mungkin saja berbuat kesalahan. Hal demikian penting dilakukan. Akibat yang baik akan muncul bagi setiap pihak, tidak hanya diri sendiri tetapi juga bagi orang yang diikuti. Sikap demikian akan menjadikan pengikut dapat memahami terjadinya suatu kesalahan oleh orang yang diikuti. Manakala suatu kaum menjadikan seseorang sebagai khalil, mereka hanya akan bisa mengumpat khalilnya karena kesalahan yang terjadi, tidak mampu menilai peristiwa berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setidaknya mereka akan mengumpatnya kelak di akhirat. Kadangkala penyesalan muncul pada masa yang dekat sehingga seseorang dapat mengarahkan diri pada pemahaman yang benar. Orang benar akan bisa memberikan pendapat dengan cara pandang lain, pertimbangan, nasihat atau peringatan tanpa menghakimi dengan hawa nafsu, tetapi berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bersama Al-Jamaah

Kebenaran terletak pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang berusaha memperbaiki kehidupannya harus berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak orang yang menyandarkan kebenaran pada hal-hal lain, maka hal demikian mempunyai nilai relatif yang tidak kokoh. Kebenaran demikian mungkin bernilai benar manakala selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan bernilai salah bila bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang-orang yang tidak berusaha menyatukan kehidupannya dengan kitabullah Alquran akan menjadi kaum yang tidak mengacuhkan Alquran. Manakala suatu kaum tidak lagi mampu memahami kebenaran dari kitabullah Alquran yang disampaikan oleh orang lain sedangkan pembacaan itu telah jelas, mereka itu adalah orang yang menjadikan kitabullah Alquran sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan. Rasulullah SAW mengadukan kepada Allah keadaan umat beliau SAW yang berbuat demikian.

﴾۰۳﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
(30)Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS Al-Ankabuut : 30)

Aduan tersebut terkait dengan kedudukan beliau SAW sebagai Rasulullah. Ada bentuk-bentuk hubungan antar manusia yang harus diperhatikan dalam upaya menyatukan kehidupan terhadap kitabullah Alquran. Alquran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, dan amr-amr Allah yang ada di dalamnya diturunkan kepada para hamba yang dikehendaki-Nya yang berada dalam suatu hubungan tertentu sebagai al-jamaah. Pemahaman yang tepat terhadap kitabullah tidak diberikan Allah kepada manusia secara acak tanpa mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah yang menolong Rasulullah SAW. Sebaliknya amr Allah yang sebenarnya tidak diturunkan kecuali bersama kitabullah.

Hubungan al-jamaah demikian mempunyai keserupaan dengan hubungan pernikahan, berupa bentuk hubungan antar manusia dengan kaidah tertentu yang harus dipatuhi. Pernikahan menjadi setengah bagian dari agama yang menjadi mitsal paling sempurna bagi bentuk-bentuk hubungan antar manusia dalam agama. Seorang isteri hendaknya memperhatikan langkah suaminya dalam kembali kepada Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Demikian pula seorang suami harus memperhatikan isterinya sebagai representasi dari kauniyah semesta dirinya dalam rangka memperhatikan kehendak-kehendak Allah dalam kitabullah Alquran. Bentuk-bentuk hubungan antar manusia lainnya pada dasarnya mempunyai keserupaan dengan bentuk pernikahan dalam hubungan yang lebih longgar.

Usaha seseorang memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran harus dilakukan sedemikian terbentuk hubungan yang jelas antara tuntunan kitabullah dengan alam kauniyahnya, dan terhubung pula dengan ayat-ayat yang muncul dalam dirinya. Hal itu akan menghindarkan seseorang dari waham kebenaran, dan dengan demikian kitabullah Alquran menjadi rahmat bagi orang-orang yang mengikutinya. Setiap orang beriman pastilah akan menghadapi suatu masalah dalam kehidupannya dan umatnya sedangkan Alquran telah berbicara tentang masalah itu. Apabila ia memperhatikan tuntunan Alquran tentang masalahnya melalui washilahnya dan memperhatikan umpan balik dari pasangannya, ia akan mengetahui makna tuntunan kitabullah secara lebih nyata. Dalam banyak hal, amr Allah yang ditetapkan bagi dirinya benar-benar terdapat pada hubungannya dengan kauniyahnya melalui pasangannya.

Hubungan al-jamaah merupakan hubungan washilah dalam urusan amr jami’, tidak menunjukkan derajat kemuliaan. Derajat kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Amr Allah diturunkan melalui orang-orang yang ditentukan dan orang-orang lain dapat mengambil urusannya melalui orang yang ditentukan. Mukmin tertentu menjadi sumber bagi yang lain karena sifat pengetahuan baginya lebih mendasar, dan orang lain menjadi cabang urusan bagi sumber tersebut. Cabang urusan itu juga sekaligus menjadi sumber bagi cabang pengetahuan berikutnya. Seorang sumber harus berusaha menghadirkan tuntunan kitabullah yang menjadi landasan dzikirnya dengan cara sebaik-baiknya bagi para cabangnya agar mereka mengetahui secara pasti amr Allah bagi amal-amalnya, dan ia juga harus memperhatikan keadaan para cabangnya agar ia lebih memahami tuntunan kitabullah pada tingkatan yang lebih duniawi. Para cabang mungkin saja memperoleh pengembangan atau bahkan landasan dari ayat yang berbeda maka hal demikian hendaknya tidak dikekang kecuali jelas kesalahannya. Justru hal demikian harus ditumbuhkan karena kitabullah merupakan petunjuk untuk semua orang.

Mengacuhkan kitabullah Alquran dapat terjadi manakala seseorang berjuang tanpa memperhatikan hubungan aljamaah, sebagaimana seorang isteri yang berjihad dengan jalannya sendiri tanpa memperhatikan urusan suaminya di jalan Allah, atau sebaliknya sebagaimana suami tidak memperhatikan dengan benar realitas kauniyah bersama isterinya, terkungkung waham kebenarannya sendiri. Hal demikian menunjukkan seseorang tidak memperhatikan ayat Allah. Dalam hubungan pernikahan, amr Allah bagi seorang isteri terdapat pada diri suaminya, dan urusan duniawi bagi seorang laki-laki tergambar pada diri isterinya. Demikian pula orang yang memisahkan diri dari washilahnya di antara al-jamaah atau seseorang tidak memperhatikan kaumnya sesuai tuntunan kitabullah berarti tidak mengacuhkan kitabullah Alquran, semisal dengan keadaan isteri yang memisahkan diri dari suaminya atau suami yang terkungkung waham kebenarannya sendiri. Kadangkala seseorang berbalik dari petunjuk Allah untuk mengikuti keinginannya sendiri. Hal-hal demikian juga termasuk tidak mengacuhkan Alquran.

Setiap orang harus berusaha tetap berada pada al-jamaah tidak meninggalkannya sedikitpun. Al-jamaah dalam hal ini menunjuk pada orang-orang yang berada di atas kebenaran, berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amanahnya sesuai tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW tidak menyimpang apalagi dalam masalah yang bersifat fundamental. Kebenaran tidak boleh dinilai berdasarkan kemampuan dalam usaha mewujudkan sesuatu. Di tingkatan praktis, ada banyak tingkatan interaksi antara seseorang dengan kebenaran. Ada orang-orang yang diberi kemampuan untuk merealisasikan pengetahuan setelah diberikan pemahaman, ada orang-orang dengan tingkatan diberi pemahaman terhadap hakikat-hakikat dari kitabullah Alquran, ada orang-orang yang di tingkatan mampu menyentuh makna-makna dalam kitabullah Alquran, dan kebanyakan manusia diberi kemampuan untuk bisa membaca apa yang tertulis dalam kitabullah. Selalu ada kemungkinan kepalsuan atau kesesatan dari syaitan pada setiap tingkatan di atas, maka setiap orang harus berpegang pada kitabullah Alquran agar selamat. Orang lemah yang mengikuti kebenaran akan mendatangkan manfaat walaupun mungkin kecil, sedangkan orang yang mempunyai kemampuan besar tetapi melangkah pada jalan yang salah akan mendatangkan kerusakan yang besar. Bila suatu kaum menentukan kebenaran berdasarkan kemampuan seseorang, bisa saja timbul kerusakan yang besar karena kesalahan menilai kebenaran.

Kebenaran harus diperhatikan berdasarkan seluruh ayat-ayat Allah baik kitabullah atau kauniyah. Suatu pemahaman terhadap kitabullah bisa saja muncul dari hawa nafsu atau dari syaitan, maka pemahaman demikian tidak benar-benar menunjukkan perhatian terhadap kitabullah Alquran, atau dikatakan bahwa barangkali sebenarnya ia tidak mengacuhkan Alquran. Pemahaman kitabullah seharusnya terhubung pada amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya sebagai bukti kesungguhan menolong agama Allah, dan ia termasuk sebagai ahlu sunnah wal jamaah. Dalam hubungan semacam ini, syaitan sangat berkepentingan untuk memisahkan antara seorang suami dengan isterinya, karena akan memutuskan hubungan al-jamaah di antara umat, maka mereka mudah untuk menyesatkan manusia dari mendzikirkan Allah.

Dalam langkah lebih lanjut manakala setiap pihak berusaha untuk mengikuti al-jamaah, syaitan akan tetap berusaha menimbulkan kesalahpahaman di antara manusia untuk memutuskan hubungan washilah hingga amr Allah tidak terhubung sampai ke alam dunia. Tidak jarang pertukaran informasi antara pihak-pihak yang harus berkomunikasi dipecah-pecah hingga terjadi salah paham. Misalnya seseorang kadangkala dibuat tidak dapat memahami perkataan pihak lainnya secara sempurna melalui hawa nafsu mereka berupa kemarahan, harga diri atau bentuk-bentuk lainnya. Manakala tidak dapat dihalangi dengan cara demikian, jalan untuk sampainya informasi dibuat menghambat atau bahkan mengacaukan informasi hingga suatu pihak tidak dapat menerima informasi dengan tepat atau sempurna dari pihak lainnya. Bahkan kadang-kadang orang yang tidak berkepentingan terhadap pertukaran informasi dibuat terlibat oleh syaitan untuk memecah-belah informasi atau menghalangi terjadinya hubungan komunikasi yang baik. Hal-hal demikian harus diperhatikan oleh setiap orang agar terwujud keberjamaahan. Bila hanya mengandalkan iktikad baik tanpa memperhatikan keadaan, seseorang tidak akan mampu bertindak dengan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar