Pencarian

Jumat, 20 September 2024

Mengikuti Khalil Dengan Benar

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak muslimin menjalani kehidupan hanya seperti jalan kehidupan orang kebanyakan atau bahkan jalan kehidupan orang-orang kafir tanpa berusaha menemukan keterhubungan kehidupannya dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Kesesatan itu menjadikan mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah tentang kauniyah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi.

Orang-orang yang sesat dalam mengambil pengajaran banyak yang disebabkan karena mereka disesatkan oleh orang-orang yang mereka ikuti sedemikian hingga mereka kemudian menolak pengajaran-pengajaran yang benar dari firman Allah yang disampaikan. Kadangkala pikiran mereka itu muncul dari alam langit, tetapi mereka tidak memeriksa pikiran mereka atau alam langit asal pikiran itu berdasarkan kitabullah Alquran hingga mereka menentang firman Allah dalam Alquran. Perbuatan mereka menjadikan fulan sebagai khalil tanpa berpegang pada kitabullah Alquran akan menjadikan mereka menyesal.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil (ku). (QS Al-Furqaan : 28)

Ayat itu adalah ungkapan penyesalan orang-orang yang tersesat karena mengikuti orang lain tanpa melihat tuntunan kitabullah Alquran dalam langkah-langkahnya. Mereka menjadikan orang lain sebagai khalil dalam amal-amal dan usaha yang mereka lakukan, sedangkan khalil itu menjadikan mereka tersesat dari jalan Allah tanpa mereka ketahui. Kesadaran mereka itu baru muncul manakala mereka telah tiba di hadapan Allah, hingga mereka mengatakan : “Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil”.

Khalil (خَلِيلً) berarti sahabat dekat, menunjuk pada suatu kedekatan hubungan sedemikian hingga seseorang dikenal sama dengan sahabatnya. Dalam terminologi agama, seorang khalil berkedudukan lebih tinggi daripada wali. Nabi Ibrahim a.s adalah seorang khalil Allah, berkedudukan lebih utama di sisi Allah daripada keseluruhan kaum mukminin umumnya termasuk para wali Allah seluruhnya tanpa kecuali. Dalam hubungan khalil, seorang khalil Allah bisa menjadi sarana bagi orang lain untuk mengenali dengan benar kehendak Allah. Hal itu belum boleh dilakukan terhadap para wali Allah. Dalam hubungan kewalian, seorang wali Allah adalah seseorang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya dan berusaha mewakilkan urusannya kepada Allah, akan tetapi ia tidak dapat dijadikan sebagai parameter yang sepenuhnya benar terkait kehendak Allah karena mungkin saja ada yang salah dalam sikapnya tentang kehendak Allah. Khalifatullah Al-Mahdi a.s merupakan seorang mawla yang terbaik tetapi beliau dihitung sebagai orang jauh yang didekatkan berbeda dengan khalil Allah. Kedudukan khalil Allah diberikan kepada nabi Ibrahim a.s.

Pada dasarnya kaum muslimin hendaknya tidak menjadikan orang lain di antara mereka sebagai khalil dalam hubungannya kepada Allah. Mungkin saja ada kesalahan dalam sikap seseorang tentang kehendak Allah maka seseorang tidak boleh dijadikan khalil. Khalil dalam hubungan kepada Allah hanyalah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW karena berkedudukan lebih dari khalil. Cukuplah seseorang menjadikan orang lain sebagai wali dalam hubungannya kepada Allah, atau memperlakukan orang lain sebagai wali Allah manakala ditemukan tanda yang benar, tidak menjadikan orang lain sebagai khalil dalam hubungannya kepada Allah. Kitabullah Alquran menggantikan kehadiran khalilullah dalam kehidupan manusia pada jaman ini, menggantikan kehadirannya bukan kedudukan, maka hendaknya umat manusia tidak menjadikan orang lain sebagai khalil bagi mereka tetapi hendaknya menjadikan kitabullah sebagai tuntunan.

Hal demikian hendaknya tidak disikapi berlebihan, misalnya memandang bahwa tidak mungkin seorang manusia bisa mengenal kehendak Allah dengan benar. Mungkin saja seseorang mengenal kehendak Allah dengan benar, hanya saja pengenalannya mungkin terbatas pada urusannya, tidak sempurna atau mungkin saja ada kesalahan. Ada di antara manusia dikatakan sebagai orang yang mengenal Allah, maka pengetahuannya tentang kehendak Allah adalah benar akan tetapi terbatas pada urusan dirinya. Ada di antara manusia dapat memahami kehendak Allah sekalipun belum mengenal Allah maka pengetahuannya tidak sempurna. Pengenalan-pengenalan terbatas demikian itu bisa menjadi jalan bagi umat manusia untuk mengenal sebagian kehendak Allah melalui apa yang disampaikan orang tersebut bila disikapi dengan benar. Hanya saja hendaknya umat tidak menjadikan seseorang sebagai representasi yang sempurna dari kehendak Allah, atau dengan kata lain dijadikan sebagai khalil.

Mensikapi kebenaran dengan tepat akan menjadikan akal tumbuh menguat untuk memahami kehendak Allah. Ketepatan bersikap ini hanya dapat dilakukan bila suatu kaum berpegang erat pada tuntunan kitabullah. Demikian pula ketepatan dalam memahami kehendak Allah hanya akan diperoleh dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah. Di sisi lain, menjadikan seseorang sebagai representasi yang sempurna dari kehendak Allah akan menjadikan suatu kaum tersesat, dimulai dengan akal mereka melemah karena tidak digunakan untuk memahami tuntunan kitabullah menyangka bahwa suatu makhluk mampu menjadi representasi sempurna bagi kehendak Allah tanpa landasan yang benar. Keadaan ini akan menjadi suatu penyesalan bagi umat manusia kelak, hingga mereka mengatakan : “Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil”. Lemahnya akal yang terbentuk pada suatu kaum demikian akan melahirkan amal-amal yang tidak tepat. Barangkali mereka ingin melakukan amal-amal shalih sesuai dengan kehendak Allah, akan tetapi karena adanya kelemahan akal menjadikan amal-amal mereka tidak tepat. Seringkali mereka menjadi kaum yang keliru dalam memahami pengajaran Allah hingga apa-apa yang mereka lakukan justru merusak keadaan umat manusia tidak mendatangkan kebaikan.

Nabi Ibrahim a.s Sebagai Khalil

Kedudukan Khalilurrahman diberikan kepada nabi Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia, bahwa seorang manusia dapat menjadi makhluk yang mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Hendaknya setiap hamba Allah berusaha untuk mencapai keadaan mampu mewujudkan kehendak Allah dengan benar, tanpa berharap agar dirinya dipandang sebagai khalil Allah. Upaya demikian harus dengan niat ikhlas semata agar dirinya dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Kebenaran yang diberikan kepada nabi Ibrahim a.s mencakup segenap perbuatan yang pernah beliau lakukan kecuali pada kesalahan yang dapat dihitung dengan jari pada satu tangan maka predikat khalilullah layak beliau a.s sandang, sedangkan manusia secara keseluruhan akan melakukan banyak kesalahan yang tidak dapat dihitung sendiri. Bahkan manakala seseorang mencapai derajat tertingginya ia tetap bisa terjatuh atau bahkan dijatuhkan pada kesalahan.

Usaha untuk dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar harus dibina setiap hamba Allah dengan berproses mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Tanpa berproses mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s, pembinaan diri manusia tidaklah benar-benar menjadikannya mampu memahami apalagi mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Setiap hamba Allah harus berproses berhijrah ke tanah haram yang dijanjikan kemudian membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Dengan mengikuti millah demikian, seorang hamba Allah akan terbina sebagai insan yang dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Semakin jauh langkah yang ditempuh seseorang dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dengan tepat, semakin kuat pemahamannya terhadap kehendak Allah dan semakin benar upayanya dalam mewujudkan kehendak Allah.

Ketepatan dan kesempurnaan dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s harus diperhatikan oleh setiap hamba Allah. Sangat banyak kesalahan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan seseorang menyimpang dari jalan Allah. Ketepatan dalam mengikuti millah lebih utama daripada jauhnya proses yang ditempuh. Manakala seseorang menyimpang dari millah nabi Ibrahim a.s dan tidak berusaha mengkoreksi langkahnya, ia akan melangkah semakin jauh dari kebenaran. Ia akan tampak tumbuh dalam memahami dan mewujudkan kehendak Allah tetapi sebenarnya pemahamannya itu keliru. Ini adalah kesesatan dalam mengambil pengajaran, dan kesesatan itu akan mendatangkan pula kesesatan pada kaum yang menjadikannya sebagai khalil.

Kadangkala kesesatan itu terjadi karena seseorang tidak sempurna dalam berusaha mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Misalnya manakala mereka telah berhijrah mencapai tanah haram yang dijanjikan bagi diri mereka, mereka kemudian berbuat kufur dengan apa-apa yang diberikan Allah kepada mereka tidak melanjutkan langkah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

﴾۶۶﴿لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
﴾۷۶﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
(66) agar mereka berbuat kufur dengan apa-apa yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka menikmati (pemberian-Nya), maka kelak mereka akan mengetahui.(67) Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (mereka berada pada) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan berbuat kufur terhadap nikmat Allah? (QS Al-Ankabuut : 66-67)

Ayat-ayat tersebut menerangkan keadaan orang-orang yang mengikuti sebagian millah nabi Ibrahim a.s hingga berhijrah ke tanah haram yang dijanjikan, akan tetapi kemudian mereka berbuat kufur dengan karunia yang diberikan Allah dan bersenang-senang dengan karunia itu. Mereka mengikuti millah nabi Ibrahim a.s hingga mencapai tanah haram yang dijanjikan, akan tetapi karunia Allah ketika mereka mencapai tanah haramnya justru menjadikan mereka berbuat kufur dan bersenang-senang. Kasus demikian ini menunjukkan ketidaksempurnaan seseorang dalam mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s hingga menjadikan seseorang tersesat. Lebih dari demikian, tidak jarang seseorang tidak benar dalam mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan menyangka kesesatan mereka sebagai kebenaran dari sisi Allah.

Suatu pengenalan diri tidaklah menunjukkan seseorang telah mampu bertindak dengan benar sesuai dengan kehendak Allah. Pengenalan diri baru merupakan awal dari agama. Kemampuan seseorang bertindak dengan benar sesuai kehendak Allah akan diperoleh seseorang manakala Allah memberikan ijin-Nya terhadap bayt yang terbentuk dari upayanya mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Bayt demikian hanya terbentuk oleh orang-orang yang telah mengenal diri berhijrah mencapai tanah haram yang dijanjikan baginya dan kemudian tetap berusaha untuk mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak justru berbuat kufur setelah pengenalan dirinya.

Bayt itu harus dibangun sebagai manifestasi dari pertumbuhan nafs al-wahidah yang menyatukan umat manusia dalam memakmurkan bumi sebagai jalan ibadah kepada Allah. Bentuk bayt demikian berupa keluarga yang berusaha secara sinergis untuk meninggikan asma Allah dan mendzikirkan, bukan berbentuk bangunan. Mungkin kemudian harus terwujud pula bangunan untuk itu, tetapi yang menjadi inti bayt adalah sinergi dalam keluarga dalam mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Bila suatu keluarga terbelah dalam kehidupannya sekalipun masing-masing berusaha meninggikan asma Allah, mereka tidak akan dapat membentuk bayt, walaupun tentu saja masing-masing akan memperoleh bagian yang adil bagi dirinya.

Membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya merupakan puncak sasaran kehidupan di dunia, merupakan kesempurnaan langkah kehidupan yaitu mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Sasaran ini telah menghimpun langkah-langkah yang menjadi prasyaratnya, misalnya tazkiyatun nafs, mengenal jati diri sebagai hijrah menuju tanah yang dijanjikan, dan kondisi-kondisi pelengkap lainnya. Dari sisi sebaliknya, tazkiyatun nafs, pengenalan diri dan membina bayt sebenarnya harus bertujuan agar seseorang dapat meninggikan asma Allah dan mendzikirkan-Nya bukan dilakukan hanya untuk suci atau mengekspose keunggulan dengan mengenal diri. Seluruh langkah itu harus bertujuan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tidak ada manfaatnya mengenal diri bila tidak bisa memahami firman Allah dalam kitabullah Alquran, karena firman Allah itulah yang menjadi bahan meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Menempuh proses membina bayt akan menjadikan seseorang bisa memahami dan mewujudkan firman Allah untuk melakukan pemakmuran bumi. Tanpa proses ini, suatu kaum tidak akan dapat melakukan pemakmuran sesuai dengann firman Allah yang terkait hakikat dari keadaan yang terjadi, walaupun mungkin bisa berusaha memakmurkan. Bila musuh mereka melakukan tipu daya, tipu daya itu akan mudah menimpa mereka. Semakin tepat dan semakin jauh langkah yang ditempuh seseorang, semakin besar pemahaman yang dapat mereka peroleh dari kitabullah secara tepat dan dapat diwujudkan dalam kehidupan mereka. Tazkiyatun-nafs akan menjadikan seseorang mulai dapat menyentuh makna firman Allah dalam kitabullah Alquran. Pengenalan diri akan membuka bagi seseorang hakikat keadaan-keadaan yang terjadi di sekitarnya sesuai firman Allah, dan terbentuknya bayt akan menjadikan seseorang mampu mewujudkan kehendak Allah bagi semesta dirinya.

Bila diibaratkan merakit kendaraan, membina bayt hendaknya dilakukan untuk mewujudkan kendaraan yang baik aman dan berkinerja baik tidak menghasilkan sekadar kendaraan yang dapat berjalan. Setiap bagian kendaraan harus disusun dari komponen yang dengan baik dan disusun antara satu dengan lain sesuai dengan cetak birunya (blue print) sedemikian bagian-bagian itu bisa menjadi unit yang menyatu dalam fungsinya bukan hanya membentuk susunan komponen. Ada bagian-bagian tertentu yang harus disetting agar dapat berfungsi, misalnya roda kanan dan kiri harus disetting mengarah pada tujuan yang sama, maka kendaraan itu akan dapat berfungsi dengan baik. Demikian gambaran membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dilakukan sesuai dengan cetak biru yang benar. Bisa saja ditemukan pedoman perakitan palsu yang membuat kendaraan berjalan terbalik maju-mundurnya. Pemakmuran bumi merupakan bentuk perluasan dari membina bayt. Tanpa proses demikian, pemakmuran bumi dapat digambarkan layaknya kendaraan hippies lokal yang dibangun dengan tempelan-tempelan komponen yang seringkali tidak perlu dan justru mengganggu seperti penggunaan puluhan roda tanpa konsep desain yang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar