Pencarian

Kamis, 12 September 2024

Alquran Sebagai Sumber Pengajaran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak di antara kaum muslimin yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW akan tetapi tidak mengetahui cara mengikutinya. Sebagian muslimin berusaha meniru tingkah laku Rasulullah SAW tanpa mengerti makna yang ditirunya, dan kadangkala justru merusak langkah orang lain yang mengikuti langkah Rasulullah SAW. Banyak muslimin menjalani kehidupan hanya seperti jalan kehidupan orang kebanyakan atau bahkan jalan kehidupan orang-orang kafir tanpa berusaha menemukan keterhubungan kehidupan dengan kitabullah Alquran. Jalan kehidupan demikian tidak akan menjadikan seseorang terhubung dengan kitabullah Alquran. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menghubungkan tuntunan kitabullah dengan kehidupan diri.

Sebagian kaum dari pengikut Rasulullah SAW menjadikan kitabullah Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan. Mereka adalah kaum muslimin yang telah diseru untuk mengikuti tuntunan kitabullah Alquran tetapi memilih untuk mengikuti apa atau siapa yang lebih mereka percayai daripada kitabullah Alquran. Sikap demikian ini sangatlah merugikan. Hal ini akan mendatangkan penyesalan yang besar atas diri mereka di hari kiamat. Rasulullah SAW akan sangat menyesalkan sikap kaum muslimin yang demikian di hadapan Allah.

﴾۹۲﴿لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
﴾۰۳﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
(29)Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari adz-dzikra ketika telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (30) Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS Al-Furqaan : 29-30)

Kata hajr (الهَجْرُ) dalam bahasa Arab berarti memutus, adalah lawan kata dari washl (الوَصْلُ) yang bermakna menyambung. Orang-orang yang berusaha menemukan kehidupan dirinya dalam kitabullah Alquran atau berusaha menemukan tuntunan kitabullah Alquran dalam kehidupan dirinya adalah orang-orang yang menyambungkan dirinya kepada Alquran, dan orang-orang yang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran setelah diserukan dengan jelas kepada mereka termasuk orang-orang yang memutuskan diri mereka dengan Alquran. Mereka adalah orang-orang yang terhubung atau terputus kepada Alquran.

Mengikuti Pengajaran

Sebagian kaum Rasulullah SAW menjadikan Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan. Mereka menjadikan Alquran terputus dari diri mereka, yaitu manakala diserukan kepada mereka untuk mengambil tuntunan kitabullah Alquran sebagai jalan ibadah dalam kehidupan mereka, mereka lebih mengikuti pendapat mereka sendiri. Mereka menyangka bahwa pendapat mereka lebih benar daripada firman Allah yang diserukan, sedangkan pendapat mereka tidak berbeda dengan pendapat orang-orang kebanyakan atau bahkan orang kafir yang muncul karena pikiran mereka. Mereka tidak melihat kebenaran dalam firman Allah yang disampaikan kepada mereka maka mereka memperlakukan firman Allah itu tidak lebih baik daripada pendapat mereka sendiri.

Yang menjadikan sebagian kaum rasulullah SAW tidak mengacuhkan kitabullah Alquran adalah kesesatan mereka dalam mengambil pelajaran (adz-dzikra). Dzikir merupakan upaya mewujudkan suatu pemahaman hingga wujud di alam dzahir. Mengambil pelajaran dalam ayat di atas menunjuk pada pemahaman yang mendasari suatu kaum dalam melakukan usaha-usaha dalam kehidupan mereka. Kesesatan dalam mengambil pelajaran menunjuk pada kesalahan pemahaman yang menyebabkan terjadinya kesalahan suatu kaum memahami keadaan dan mewujudkan kemakmuran. Misalnya manakala suatu kaum berada dalam keadaan genting tetapi mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan parameter pendapatan tidak berusaha mempersiapkan menghadapi keadaan genting, maka itu merupakan kesesatan mengambil pelajaran.

Orang-orang yang sesat dalam mengambil pengajaran umumnya disebabkan karena mereka disesatkan oleh orang-orang yang mereka ikuti sedemikian hingga mereka kemudian menolak pengajaran-pengajaran yang benar dari firman Allah dalam Alquran yang disampaikan. Kadangkala pikiran mereka itu muncul dari alam langit, tetapi mereka tidak memeriksa pikiran mereka atau alam langit asal pikiran itu berdasarkan kitabullah Alquran hingga mereka menentang firman Allah dalam Alquran. Sebenarnya syaitan turut serta dalam pengajaran-pengajaran yang mereka ikuti, tetapi hal itu akan terlambat mereka ketahui karena syaitan menjadikan pengajarannya tampak baik dalam pandangan manusia. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dahulu menjadikan fulan sebagai khalil tanpa berpegang pada kitabullah Alquran.

Adz-dzikra (pelajaran) yang benar terlahir dari pemahaman terhadap ayat-ayat Allah secara integral, meliputi integrasi pemahaman terhadap ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam diri manusia. Sebagian besar manusia saat ini hanya mengandalkan pemahaman terhadap ayat kauniyah saja tanpa terintegrasi dengan ayat kitabullah, maka hal itu belum menjamin terbentuknya adz-dzikra yang benar dan tidak tersesat. Sebagian manusia mengandalkan pemahaman berdasarkan ayat-ayat dalam diri mereka tanpa terintegrasi dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pemahaman demikian bukan merupakan adz-dzikra yang benar, dan bahkan bisa termasuk kesesatan yang sangat jauh manakala mereka menjadi orang-orang yang tidak menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah tetapi justru menganggap kebenaran adalah apa yang mereka ketahui dari indera bathiniah mereka. Adz-dzikra yang benar adalah pemahaman yang mengintegrasikan pemahaman ketiga ayat secara sinergis.

Barangkali tidak semua orang dapat memperoleh adz-dzikra secara mandiri. Hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mengikuti adz-dzikra yang benar atau untuk mengikuti adz-dzikra yang sesat. Setiap bagian dari ayat Allah telah dibentangkan secara nyata dan dapat dilihat sendiri oleh setiap muslimin. Manakala mengikuti orang yang memperoleh adz-dzikra, mereka harus berusaha melihat sendiri kebenaran adz-dzikra yang dibacakan berdasarkan seluruh ayat Allah yang digelar di semesta mereka. Manakala suatu pembacaan adz-dzikra tidak menunjukkan ayat kauniyah yang jelas, mungkin pengetahuan dirinya belum mencapai ayat kauniyah itu. Ia harus mengikuti pembacaan itu manakala melihat dasarnya dari ayat kitabullah. Ia boleh mengikuti atau membiarkannya bila tidak melihat dasarnya dari kitabullah. Manakala suatu pembacaan menyimpang dari ayat kitabullah, atau justru menentang ayat kitabullah, maka pembacaan itu merupakan adz-dzikra yang salah atau sesat. Ia tidak boleh mengikuti pembacaan itu. Apabila ia melihat integritas kauniyah dengan kitabullah manakala dibacakan, hendaknya mereka memikirkan kebenarannya dan mengikuti pengajaran itu manakala telah memahami. Manakala berbuat demikian, ia telah berusaha menyambungkan dirinya dengan Alquran.

Kesesatan dalam mengikuti adz-dzikra mempunyai banyak madlarat bagi umat manusia, karena pada dasarnya kesesatan adz-dzikra sangat terkait dengan syaitan untuk mencelakakan umat manusia. Adz-dzikra yang salah menjadikan setidaknya usaha-usaha yang dilakukan kaum muslimin tidak mendatangkan hasil yang memadai, semisal dengan penelitian yang dilakukan dengan kesalahan sistemik. Demikian usaha-usaha berdasarkan adz-dzikra yang salah merupakan usaha-usaha yang tidak mendatangkan hasil yang memadai. Adz-dzikra yang sesat akan mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia yang justru akan mengeliminasi adz-dzikra yang benar. Manakala ada orang-orang yang berusaha mewujudkan tuntunan kitabullah secara benar, orang-orang yang mengikuti pengajaran yang salah akan menjadi penghalang yang besar.

Manakala kaum muslimin menjadikan kitabullah Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan, mereka akan dibingungkan dengan kehidupan di dunia. Upaya-upaya yang mereka pandang baik tidak mendatangkan hasil yang memadai. Kadangkala upaya yang mereka pandang sebagai suatu kebaktian kepada Allah sebenarnya merupakan maksiat yang akan mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia seluruhnya. Hal ini terkait dengan ketepatan adz-dzikra dalam mengikuti kehendak Allah, dan ketepatan itu akan diperoleh manakala kaum muslimin mengikuti tuntunan kitabullah Alquran tidak hanya mengandalkan kebenaran diri sendiri. Manakala kaum muslimin berusaha berdasarkan adz-dzikra yang benar, akar masalah yang membelit kehidupan mereka akan terlihat dan dapat disikapi dengan tepat maka usaha mereka akan mendatangkan hasil yang layak.

Mengikuti kitabullah Alquran harus dilakukan dengan tujuan membina akhlak mulia berupa terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri. Sifat rahmaniah menunjukkan terbinanya keinginan untuk bertindak mengikuti kebenaran selaras dengan firman Allah baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Sifat rahim menunjukkan sifat menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Bila telah terbina sifat-sifat ini, seseorang akan diberi kesempatan untuk memahami kitabullah Alquran dengan benar.

Keutamaan Kebenaran

Memahami kitabullah Alquran dengan benar berkedudukan lebih utama daripada amal yang terlahir darinya. Kebenaran yang dipahami dari kitabullah merupakan hakikat yang menjadi bobot sesorang dalam timbangan di hadirat Allah. Berhasil atau tidak usaha seseorang dalam mewujudkan pemahaman dari kitabullah Alquran, pemahaman hakikat itu akan menjadi bobot seseorang pada timbangan di hadirat Allah. Sebenarnya pemahaman itu juga menjadi bobot yang menentukan hasil-hasil amal manusia di alam dunia, akan tetapi tidak jarang amal-amal yang mereka lakukan tidak memperoleh tempat yang tepat di antara manusia maka amal-amal mereka tidak mendatangkan hasil yang memadai.

Orang-orang kafir benar-benar berusaha agar umat manusia tidak mendengar seruan kepada kitabullah Alquran dengan cara membuat kesibukan-kesibukan yang banyak berupa amal-amal bagi umat manusia. Mereka menghindarkan manusia untuk mendengarkan kitabullah Alquran dengan membuat-buat pekerjaan, sedangkan pekerjaan-pekerjaan itu tidak mendatangkan hasil hanya mendatangkan kesibukan. Kerja kerja dan kerja tanpa hasil yang memadai dan justru mendatangkan madlarat yang banyak di banyak sektor kehidupan.

﴾۶۲﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS Fushshilat : 26)

Orang-orang kafir yang menyibukkan manusia dengan hiruk-pikuk itu sebenarnya mempunyai tujuan yang jelas yaitu untuk mengalahkan kaum muslimin. Apabila orang-orang beriman terpancing untuk melakukan banyak kesibukan tanpa berusaha menghubungkan kehidupan diri mereka kepada kitabullah Alquran, maka mereka telah terkalahkan oleh orang kafir yang ingin mengalahkan. Keadaan negeri mereka akan berantakan karena orang kafir telah mengalahkan orang beriman.

Bobot amal orang beriman akan ditentukan oleh pengetahuannya terhadap hakikat. Tentu hal ini tidak menghilangkan kewajiban beramal, tetapi lebih menekankan bahwa hendaknya amal orang beriman diwujudkan berdasarkan adz-dzikra yang benar di atas pengetahuan dari kitabullah. Manakala orang beriman mengikuti kesibukan yang banyak yang dibuat oleh orang-orang kafir dengan melupakan tuntunan kitabullah, maka mereka akan terkalahkan oleh orang kafir. Sebaliknya kemenangan akan bisa diperoleh manakala orang-orang beriman memperhatikan tuntunan kitabullah hingga dapat beramal berdasarkan adz-dzikra yang tepat.

Adz-dzikra yang benar bagi seseorang bukanlah apa yang dibacakan orang lain kepada dirinya, tetapi apa yang dipahaminya dari kitabullah. Banyak orang mengikuti seseorang sebagai khalil dan menyangka bahwa segala yang diperbuat khalilnya adalah wujud hakikat dari kitabullah tanpa memperhatikan kesesuaian khalilnya dengan kitabullah. Hal ini dapat menyesatkan, dan mereka yang mengikuti akan disesatkan dari adz-dzikra. Setiap orang harus memperoleh adz-dzikra dari tuntunan kitabullah, bukan hanya mengikuti orang lain karena boleh jadi mereka akan disesatkan. Pembenaran seseorang terhadap khalilnya tanpa landasan kitabullah tidak menunjukkan benarnya khalil dan celaan seseorang kepada orang lain tanpa landasan kitabullah tidak menunjukkan ketercelaan orang yang dicela.

Seorang khalil yang benar akan menunjukkan kepada kaumnya cara untuk mengikuti kitabullah Alquran, tidak akan menekankan kebenaran dirinya lebih dari kitabullah Alquran. Hal ini akan dilakukan secara nyata lahir dan bathin, bukan mengatakan dirinya mengikuti kitabullah Alquran tetapi menolak sebagian firman Allah untuk mengikuti pendapatnya sendiri. Manakala seseorang berbuat demikian, ia sebenarnya belum mengikuti kitabullah Alquran baik ia menentang ataupun karena kebodohan, maka ia belum layak dijadikan khalil. Seorang khalil akan merasa lebih penting menunjukkan kepada umatnya cara mengikuti Alquran dan tidak berpikir sedikitpun untuk menyeru manusia mengikuti dirinya kecuali hanya karena kitabullah yang dipahaminya.

Kemenangan orang beriman terletak pada sikap mengikuti kitabullah Alquran berdasarkan pemahaman yang benar. Setiap orang mempunyai bagian dirinya dari kitabullah Alquran, maka apabila ia bisa memahami bagian dirinya dan mengikutinya, akan terwujud kemenangan dari dirinya dan ia bisa memberikan manfaatnya kepada orang lain. Tanpa pemahaman terhadap Alquran, ilmu yang diperoleh seseorang sebenarnya akan terliputi oleh ilmu Iblis. Semua terapan pengetahuan seseorang mempunyai kelemahan yang diketahui syaitan, maka syaitan dapat menyelipkan celah yang mendatangkan madlarat pada usaha yang dilakukan manusia. Misalnya seseorang mungkin berkeinginan untuk menempatkan manusia pada urusan yang tepat, pada prakteknya bisa saja ia menyingkirkan orang dari kedudukan yang tepat dan memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Hal itu bisa terjadi bila seseorang tidak berusaha berpegang pada kitabullah Alquran dan memahaminya. Manakala manusia memahami kitabullah Alquran, jalan syaitan merusak semakin menyempit. Semakin paham seseorang terhadap kandungan kitabullah, semakin syaitan tidak mampu membalik arah usaha manusia kecuali melalui kontra usaha berupa bentuk-bentuk di luar usaha seseorang itu sendiril.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar