Pencarian

Kamis, 09 Maret 2023

Tegaknya Keluarga Sebagai Tiang Masyarakat

Allah menghendaki umat manusia untuk bersatu memakmurkan bumi sebagai umatan wahidah, akan tetapi manusia selalu berselisih di antara mereka. Hanya orang-orang yang membina diri mereka mengenali nafs wahidah yang mengetahui cara menyatukan diri mereka dalam umatan wahidah sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menekankan arti pentingnya pernikahan sebagai sunnah beliau SAW karena pernikahan merupakan sarana bagi setiap pengikut Rasulullah SAW untuk membina nafs wahidah. Dalam pernikahan, setiap nafs akan memperoleh pasangan yang akan menumbuhkan dirinya dan menjadi cermin yang memperkuat akal. Pernikahan sebagai sunnah Rasulullah SAW mempunyai peran sangat besar dalam pembinaan diri, hingga menjadi setengah bagian dari agama.

Salah satu aspek yang tumbuh melalui pernikahan adalah masalah waris. Seorang isteri menjadi ahli waris bagi suaminya karena pernikahannya dan juga sebaliknya, dari sebelumnya mungkin sebagai orang-orang yang sama sekali asing. Semua orang yang kemudian tumbuh terhubung pada suatu pernikahan akan menjadi ahli waris antara satu dengan yang lainnya. Hal demikian menunjukkan adanya suatu hubungan bagian bersama antara satu orang dengan orang lain dalam suatu keluarga yang terikat pada suatu pernikahan. Hubungan bagian bersama dalam suatu pernikahan ini menjadi landasan terwujudnya rezeki di alam jasmaniah mereka, sebagaimana seorang anak merupakan buah dari hubungan kebersamaan antara seorang suami dengan isteri.

Untuk mengupayakan terwujudnya buah rezeki di alam jasmaniah mereka, setiap laki-laki beriman perlu memperhatikan perihal warisan terhadap isterinya. Hal inilah yang akan membuahkan rezeki di alam jasmaniah bagi mereka, menjadi warisan di alam mulkiyah. Seorang mukmin pada dasarnya memiliki harta berupa akal untuk memahami kehendak Allah, dan seorang mukminat merupakan ladang yang akan menumbuhkan kehendak Allah yang dipahami suaminya hingga berbuah di bumi. Dengan mekanisme memperhatikan masalah waris, maka akan terwujud sumber rejeki di alam mulkiyah bagi pasangan mukmin dan mukminat.

Dalam prosesnya, seringkali proses waris di antara suami dan isteri ini terhambat. Seorang isteri mungkin saja merasa keberatan untuk menerima waris dari suaminya. Bila terjadi hal demikian, maka tidak halal bagi seorang suami untuk memberikan waris kepada isterinya dengan cara paksa. Seorang isteri tidak boleh dipaksa untuk menerima pengetahuan hakikat yang dikenal oleh akal suaminya.

﴾۹۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS An-Nisaa’ : 19)

Di alam mulkiyah, sangat jarang dijumpai seorang isteri menolak pemberian waris oleh suaminya. Hampir setiap orang akan mudah untuk menerima bagian dirinya yang diberikan secara benar. Akan tetapi di alam nafs, tidak semua perempuan dapat menerima bagian kebenaran hakikat bagi dirinya yang diberikan oleh suaminya sebagai warisan. Manakala seorang perempuan tidak mau menerima bagian warisan demikian, maka warisan itu akan tidak terwujud sebagai rezeki di alam mulkiyah. Pada kasus demikian, seorang suami tidak boleh memaksakan kepada isterinya untuk menerima warisannya.

Masalah kesiapan menerima warisan pada diri seorang perempuan terkait dengan kelurusan perjalanan taubat mereka. Seorang perempuan menempuh perjalanan taubat sebagai pendamping bagi suami. Manakala seorang perempuan berjalan beriring dengan suaminya dalam perjalanan taubat, ia akan mudah memahami segala bagian yang diberikan suaminya. Manakala tidak mengarah pada jalan yang sama atau ada perbedaan jarak yang jauh dengan suaminya, maka ia tidak akan mudah untuk menerima ajaran kebenaran dari suaminya. Dalam beberapa kasus, syaitan berhasil merusak kebersamaan melalui hati, di mana sepasang suami isteri yang berjalan beriring bersama di jalan taubat tidak saling memahami pasangannya. Bila seorang isteri berkhianat melakukan perbuatan keji baik secara dzahir atau bathin, ia akan sangat kesulitan menerima pengajaran suaminya, maka mereka tidak akan membuahkan buah duniawi berdasar pengetahuan ilahiah yang diperolehnya.

Batas bagi seorang laki-laki untuk memaksa isterinya adalah perbuatan keji yang dilakukan. Tanpa adanya perbuatan keji, seorang laki-laki tidak berhak untuk memaksa isterinya. Bila isteri berbuat keji, maka seorang laki-laki berhak untuk memaksa isterinya menerima pengajarannya hingga ia kembali. Dalam hal ini, sebagian perbuatan keji merupakan hal bathiniyah, maka hal ini harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Sekalipun terjadi secara bathiniah, hal itu tetap merupakan kekejian yang dapat menjadikan seorang perempuan bengkok akalnya bila tidak diajarkan kebenaran. Setiap mukmin perlu memperhatikan batasnya dengan tepat, bahwa pemaksaan itu hanya dapat dilakukan bila terjadi perbuatan keji yang nyata.

Seorang perempuan yang merealisasikan kekejian dalam bathinnya dengan upaya membersamai laki-laki lain termasuk dalam kekejian yang nyata. Kebersamaan seorang perempuan dengan laki-laki lain belum tentu merupakan perbuatan keji kecuali perbuatan itu terwujud karena adanya kekejian dalam bathin atau terjadi perbuatan keji yang nyata. Setiap perempuan hendaknya menjaga dirinya dengan batas-batas yang diijinkan oleh suaminya, termasuk manakala ia memandang bahwa yang dilakukannya adalah dalam rangka amal shalih. Bila seorang suami merasakan potensi kekejian yang dapat terjadi dalam amal shalih isterinya, baik potensi kekejian yang muncul dari isterinya atau yang muncul dari orang lain, ia berhak dan harus melarang isterinya melakukan amal itu untuk menghindari terjadinya kebengkokan akal.

Bila tidak terjadi perbuatan keji, setiap suami harus bergaul dengan isterinya dengan cara yang baik dalam setiap keadaan baik ia menyukai atau tidak menyukai mereka. Ketika menyukai, maka mudah baginya untuk mempergauli mereka. Manakala tidak menyukai, sebenarnya mereka akan menemukan kebaikan yang banyak dalam diri isterinya bila bergaul dengannya, karena Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada diri isterinya. Boleh jadi semua ketidaksukaan seorang laki-laki kepada isterinya hanya merupakan perasaan hawa nafsu yang keliru sedangkan isteri mereka merupakan mukminat yang membawa banyak kebaikan bagi suaminya dan juga umat manusia seluruhnya. Setiap laki-laki hendaknya mempergauli dengan baik isteri mereka yang tidak melakukan kekejian. Bila mereka menata hawa nafsunya secara sinergis bersama isterinya, ia akan menemukan rasa mawaddah dan rahmah antara suami dan isteri.

Bertakwa dalam Urusan Perempuan

Setiap orang hendaknya bertakwa kepada Allah terkait kaum perempuan. Terdapat amanah dari Allah dalam setiap diri perempuan, dan halalnya kemaluan perempuan bagi suaminya merupakan implikasi jasadiah dari telah tertanamnya benih kalimah thayyibah dalam nafs seorang suami pada ladang nafs isterinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ
Bertakwalah kalian kepada Allah tentang kaum wanita. Sesungguhnya, kalian mengambil mereka dengan disertai amanat dari Allah. Dan kalian meminta kehalalan kemaluan mereka beserta dengan kalimatullah. [HR Muslim].

Memperhatikan warisan bagi isteri dapat dilakukan setiap suami dengan melihat amanah yang terkandung dalam diri isterinya. Amanah itu harus dipahami dengan akal yang harus tumbuh memahami kehendak Allah. Amanah yang terkandung dalam diri setiap isteri akan menjadi bahan amal shalih yang harus diwujudkan oleh suaminya. Setiap suami harus berusaha mengenali dengan sungguh-sungguh amanah yang terkandung dalam diri isterinya.

Amanah Allah dalam diri setiap perempuan diperuntukkan bagi suami mereka, dan tidak ada laki-laki lain yang berhak untuk mengambilnya dari suaminya. Bila seorang laki-laki mengambil amanah dalam diri isteri orang lain, hal itu merupakan perbuatan syaitan. Hal ini terkait erat dengan pohon thayyibah nafs yang harus tumbuh dalam diri seorang perempuan. Tidak boleh ada dualitas dalam diri seorang perempuan dalam masalah amanah dan pohon thayyibah yang tumbuh pada dirinya. Pohon thayibah yang berhak mengambil amanah itu dan membuahkannya hanya nafs suaminya, tidak boleh berupa dua orang laki-laki yang berbeda, karena hanya suaminya yang dapat tumbuh sebagai pohon thayyibah bagi amanah Allah tersebut.

Hal ini tidak dapat dibantah dengan dalih apapun. Kadang seseorang merasa sebagai jodoh seorang perempuan tertentu maka ia mengambil amanah itu sedangkan mereka tidak menikah. Perasaan berjodoh seperti itu tidak mungkin benar kecuali pihak perempuan belum menikah, dan perbuatan mengambil amanah itu tidak sah. Bila pihak perempuan belum menikah, maka boleh jadi perasaan itu benar. Benarnya hal ini tidak ditunjukkan dengan rasa suka hawa nafsu di antara keduanya, akan tetapi kecenderungan mengalirnya amanah pada diri perempuan tersebut. Nafs seorang perempuan tercipta dari nafs wahidah laki-laki tertentu, dan amanah itu akan cenderung mengalir kepada laki-laki jodohnya itu. Bila seorang perempuan berserah diri, ia akan mengetahui arah amanah itu mengalir tanpa terhambat dengan hawa nafsu dalam dirinya. Demikian pula laki-laki yang berserah diri akan mengenali amanah yang mengarah pada dirinya. Bila seorang perempuan telah menikah, maka pemegang amanah itu adalah suaminya tidak boleh mengalir pada yang lain.

Banyak kebaikan yang Allah letakkan pada pasangan menikah mukmin dan mukminat, bahkan apabila mereka tidak saling menyukai pasangannya. Bila mereka bertakwa maka kebaikan Allah itu akan terbuka. Bila pasangan itu memperbaiki hawa nafsu mereka, maka akan timbul juga rasa mawaddah dan rahmah di antara mereka. Seandainya mereka membiarkan hawa nafsu mereka tidak tertata tetapi tetap bertakwa, mereka akan memperoleh kebaikan. Manakala seseorang merebut amanah yang Allah letakkan dalam diri seorang perempuan secara bathil, maka amanah itu bisa menjadi keburukan yang menimpa umat manusia.

Mewujudkan Masyarakat yang Kuat

Dalam pembinaan kaum mukminin, pernikahan hendaknya menjadi perhatian utama karena menjadi bagian utama dari agama. Tidak akan terbina kaum mukminin dengan akal yang kuat bilamana masalah pernikahan tidak diperhatikan. Orang-orang yang membujang tidak akan tumbuh akalnya untuk memahami ayat Allah kecuali hanya yang mereka inginkan saja, tidak memahami apa yang benar-benar menjadi kehendak Allah. Seburuk-buruknya orang yang beriman adalah orang-orang yang membujang di antara mereka, dan sebodoh-bodohnya orang beriman adalah yang membujang di antara mereka. Mereka tidak memperoleh media untuk bersentuhan dengan amanah Allah dan kalimah Allah karena tidak menikah.

Dari sahabat Athiyyah r.a beliau berkata :
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ.
Nabi saw. bersabda, “Seburuk-buruknya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang dan sebodoh-bodohnya meninggalnya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang.(HR Ahmad)

Pernikahan yang baik harus dibina agar masyarakat tegak. Tegaknya suatu masyarakat sangat tergantung dengan tegaknya keluarga dalam masyarakat dengan akal yang kuat. Akal yang kuat tidak akan diperoleh bila manusia hidup membujang.

Di jaman ini upaya menegakkan keluarga sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak banyak terlihat, dan justru menghadapi banyak hambatan. Tidak banyak umat islam yang mengetahui sunnah pernikahan hingga tujuan pokoknya. Lebih banyak manusia tidak mengetahui tujuan sunnah menikah dan kaidah dalam mewujudkan sunnah tersebut, memperturutkan keinginan diri dalam menempuh pernikahan. Sedangkan orang-orang yang mengetahui tujuan sunnah tersebut memperoleh halangan yang sangat banyak untuk mewujudkannya hingga manusia mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Tujuan pernikahan adalah terbentuknya bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Kaidah mewujudkannya adalah memanifestasikan buah dari khazanah yang terkandung dalam diri manusia. Setiap perempuan membawa amanah Allah bagi seorang laki-laki tertentu yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Upaya mewujudkan bayt tersebut hendaknya diusahakan setiap orang sejak sebelum menikah, tetapi tidak semua orang mampu menemukan pasangan demikian. Hanya orang yang berserah diri-lah yang akan menemukan pasangannya, karena itu hendaknya setiap orang dibina untuk berserah diri. Bila seseorang yang berserah diri menemukan pasangannya, hendaknya tidak ada yang menghalangi mereka menikah apalagi hingga mengharamkan apa yang halal karena hal demikian berasal dari syaitan.

Senin, 06 Maret 2023

Beriman Kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah menciptakan manusia di bumi, alam yang paling rendah di antara semua alam. Maka hendaknya setiap manusia bertaubat menempuh perjalanan kembali kepada Allah karena sebenarnya mereka diciptakan untuk menempati kedudukan yang paling mulia di antara para makhluk. Setiap manusia tidak diciptakan untuk semata menjadi makhluk bumi, akan tetapi diciptakan untuk dapat memahami penciptaan dari alam yang rendah hingga alam tertinggi secara paling sempurna. Dengan semua keadaan yang diberikan Allah, manusia hendaknya menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan bertaubat berjalan kembai kepada Allah.

Allah telah mengutus pemimpin segenap alam untuk dijadikan sebagai panutan kembali kepada Allah. Rasulullah SAW adalah sosok insan yang telah bertaubat kembali kepada Allah hingga mencapai kedudukan yang tertinggi di seluruh alam ciptaan. Beliau SAW dimi’rajkan ke kedudukan tertinggi di alam semesta hingga bertemu dengan wajah Allah yang Dia kehendaki untuk diperkenalkan kepada makhluk secara menyeluruh.

﴾۱۲﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab : 21)

Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW akan diperkenalkan kepada wajah-Nya secara parsial atau turunan dari wajah yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW. Mungkin seseorang dapat mengenal wajah-Nya tersebut dalam kehidupan dunia, dalam wujud gambaran yang Dia turunkan kepadanya dan dipahaminya, ataupun bertemu wujud wajah-Nya dengan memenuhi keadaan tertentu. Atau boleh jadi mereka mengenal wajah-Nya itu kelak di alam akhirat. Keseluruhan tajalli wajah-Nya yang mungkin Dia perkenalkan dan dipahami makhluk hanyalah wujud yang hendak Dia perkenalkan kepada makhluk, bukan wujud Dia yang sebenarnya. Tidak ada gambaran wajah Allah yang benar bila bukan merupakan bagian dari wajah-Nya yang diperkenalkan kepada Rasulullah SAW.

Allah-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk, sedangkan tidak ada kekuatan bagi makhluk untuk berupaya sendiri mengenal-Nya. Apa yang Rasulullah SAW ajarkan tentang Allah dan segala syariat merupakan jalan bagi makhluk agar Allah memperkenalkan diri-Nya. Bila manusia berusaha membuat gambaran tentang Allah secara berlebihan daripada apa yang diajarkan Rasulullah SAW, gambaran itu dapat menjadi berhala yang menyesatkan. Setiap orang harus menyandarkan harapan kepada Allah dan baru kemudian menempuh jalan mengikuti Rasulullah SAW dan tidak membuat gambaran sendiri untuk mengenal Allah.

Mengikuti Rasulullah SAW dengan Iman

Terdapat sebuah prinsip dalam mengikuti Rasulullah SAW kembali kepada Allah berupa keimanan. Keimanan bukanlah sekadar mempercayai sesuatu yang diajarkan atau apa-apa yang diketahui dalam perjalanan menuju Allah. Keimanan adalah menata diri dan semesta diri masing-masing sesuai kehendak Allah berdasarkan prinsip-prinsip keimanan yang digariskan-Nya. Dengan menata diri dan semestanya demikian, seseorang akan memperoleh jalan agar Allah memperkenalkan wajah-Nya

Terdapat beberapa sumber tatanan yang harus dibentuk dalam diri setiap manusia sebagaimana disebutkan dalam rukun iman. Allah menurunkan bagi manusia cahaya-cahaya iman yang menerangi kehidupan, maka orang-orang yang menata diri mereka mengikuti cahaya-cahaya itu merupakan orang beriman. Bila Allah menurunkan cahaya-Nya ke dalam hati seseorang akan tetapi orang tersebut tidak menata diri berdasarkan cahaya itu, maka ia tidak termasuk orang beriman. Sebagian pengikut Rasulullah SAW dikatakan kufur terhadap nikmat Allah karena menempuh jalan yang berbeda dari petunjuk cahaya Allah yang diturunkan ke dalam hatinya. Mereka bergelut dengan cahaya-cahaya iman, akan tetapi tidak menata diri mereka berdasarkan cahaya-cahaya itu.

Keimanan kepada Allah dan Rasulullah SAW menjadi sebuah tanda pengesahan keimanan yang ada pada diri seseorang. Orang yang beriman dengan sebenarnya adalah orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah SAW, dimana mereka melakukan amal yang terlahir dalam tingkatan jasadiah bersama dalam amr Rasulullah SAW.

﴾۲۶﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnya ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu amr jami’, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nuur : 62)

Keimanan demikian mempunyai tanda yang jelas, tidak dapat diaku oleh sembarang orang beriman. Tanda mereka adalah pengenalan terhadap urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka masing-masing berupa amr jami’. Urusan Rasulullah SAW membentang di seluruh alam semesta sepanjang adanya penciptaan dan sebelumnya, dan seseorang dapat mengenal bagian urusan Rasulullah SAW tersebut untuk ruang dan jamannya sebagai bagian amr jami’ bagi dirinya.

Orang yang mengenali amr jami’ tersebut dapat menjadi mukmin yang sebenarnya, yaitu apabila mereka tidak meninggalkan amr jami tersebut tanpa meminta ijin Rasulullah SAW. Orang-orang demikian seringkali berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, akan tetapi mereka tidak meninggalkan urusan Rasulullah SAW karena keadaan yang sulit kecuali setelah mereka meminta ijin. Banyak orang demikian terlihat dalam kesibukan untuk mencari bagian dari dunia mereka, akan tetapi tidak benar-benar mengambil bagian mereka kecuali untuk sekadar kebutuhan mereka atau bila mereka memperoleh jalan untuk melaksanakan amr jami’ melalui upaya duniawi mereka. Mereka itulah orang beriman yang sebenarnya.

Kesibukan seseorang yang mengenal amr jami’ dalam mengupayakan urusan dunia mereka pada dasarnya adalah suatu dosa. Semakin banyak kesibukan yang mereka lakukan selain urusan amr jami’, semakin banyak dosa yang mereka perbuat. Akan tetapi Rasulullah SAW memintakan ampun bagi orang-orang yang meminta ijin dalam kesibukan mereka selama kesibukan itu diijinkan. Bila kesibukan itu melampaui apa yang diijinkan Rasulullah SAW, maka tidak ada permintaan ampunan Rasulullah SAW bagi mereka.

Menata Diri dalam Jamaah

Keimanan yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh seseorang bila ia menata diri dalam keimanan. Amal dalam jamaah berupa amr jami’ merupakan buah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang menata diri dalam keimanan. Bila tidak memperoleh, boleh jadi seseorang belum sampai pada tahapan itu, atau ia keliru dalam melakukan penataan diri mereka. Hendaknya mereka selalu memperhatikan keadaan diri berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Dasar dari amal jamaah adalah penataan diri sendiri dan kesatuan yang terserak dari dirinya, kemudian menuju pada jamaah. Dalam fungsinya, nafs seorang laki-laki dapat diibaratkan sebagai 1 (sebuah) poros yang mempunyai roda-roda gerigi padanya. Al-jamaah dapat diibaratkan dalam kumpulan poros-poros beserta roda-roda gerigi, yang harus bekerja untuk menghasilkan suatu usaha tertentu dengan pola yang diharapkan, sebagaimana jam berputar dengan ajeg atau mesin pabrik bekerja dengan hasil tertentu. Usaha itu hanya dapat terjadi bila rangkaian itu terhubung pada mesin sumber penggerak.

 


Suatu amal shalih terjadi manakala seseorang terhubung kepada Rasulullah SAW melalui washilah yang tepat. Amal shalih akan efektif bila setiap laki-laki menggerakkan orang lain untuk bekerja menghasilkan amal shalih.

Satu poros dengan kelengkapannya adalah ibarat dari sebuah keluarga. Seorang isteri dapat diibaratkan sebagai pengikat syncro layaknya pemilih gigi perseneling yang membuat suatu roda gerigi terikat hubungan dengan porosnya atau terlepas hubungan. Ia bisa menambatkan atau melepaskan roda gerigi tertentu yang dipilih sehingga poros dapat berputar (1) mengikuti gerigi lain yang terhubung kepadanya, atau (2) memutarkan roda gerigi pada poros yang lain. Suatu keluarga dapat mencari washilah yang benar dengan cara mensyukuri hubungan dalam pernikahan, dan dapat memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain dengan mensyukurinya.

Suatu amal shalih harus terlahir berdasar amr jami’ yang terhubung pada urusan Rasulullah SAW. Tanpa suatu hubungan dengan amr jami’, suatu amal yang baik belum tentu termasuk dalam amal shalih. Bila suatu kaum mengikuti amal-amal berdasar amr panutan mereka dan terhubung pada amr jami’, maka mereka dikatakan melakukan amal shalih. Bila suatu kaum berbuat durhaka kepada amr Rasulullah SAW atau para washilah yang haq bagi mereka, mereka tidak dapat dikatakan melakukan amal shalih. Setiap perempuan harus mencari washilah kepada Rasulullah SAW melalui suaminya, tidak mencari jalan washilah yang lain. Bila demikian maka fungsi sebagai keluarga akan terganggu atau rusak, dan mereka berputar dan bergerak secara bathil tidak melahirkan amal shalih yang diharapkan.

Keimanan yang sebenarnya terwujud bila seseorang menempatkan diri pada posisi yang tepat dalam amr jami’ Rasulullah SAW, sehingga ia memperoleh wasilah beliau SAW dan dapat melaksanakan peran dirinya dalam amr jami tersebut. Hal itu dapat diperoleh dengan menata diri dan keluarga. Pernikahan adalah setengah bagian dari agama yang menjadikan seseorang bisa memperoleh kedudukan dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Keimanan-keimanan dalam bentuk yang lain merupakan pendahuluan atau komponen yang seharusnya mengantarkan seseorang memperoleh keadaan keimanan yang sebenarnya. Seseorang yang menempatkan dirinya pada tempat yang tepat dalam amr jami Rasulullah SAW inilah yang akan memperoleh kesempatan untuk mengenal wajah Allah bagi dirinya.

Amal shalih yang terlahir dari keimanan yang sebenarnya selalu mempunyai hubungan yang jelas kepada Rasulullah SAW, ditandai dengan kemudahan dalam memahami kehendak Allah yang difirmankan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hendaknya setiap orang berusaha menemukan washilah dalam hubungan yang tepat kepada Rasulullah SAW melalui kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mencari melalui cara sembarang. Banyak amal-amal dapat terlahir dalam suatu jamaah, baik amal-amal palsu yang terlahir karena hawa nafsu, syahwat ataupun syaitan ataupun amal shalih. Tidak semua amal yang terlihat baik merupakan amal shalih dari keimanan yang sebenarnya. Di antara amal-amal palsu, ada yang sifatnya berbahaya karena menipu menuju syaitan.

Seorang syaikh merupakan penghubung bagi para muridnya agar dapat tersambung kepada Rasulullah SAW. Seorang syaikh akan memperkenalkan arah dan pola amr jami’ kepada muridnya setelah proses pensucian diri hingga mereka dapat mengikuti amr itu, yaitu dengan membacakan kitabullah. Seringkali hubungan dengan syaikh merupakan pengantar sebelum benar-benar memperoleh washilah sebenarnya, layaknya seseorang yang menyelesaikan pendidikan kemudian harus menempati posisi pekerjaan bagian dari profesinya. Bagi muridnya perempuan, ia mengarahkan agar menjadi seorang isteri yang melekat pada suaminya. Suaminya adalah washilah bagi seorang perempuan yang membuatnya terhubung kepada Allah melalui baktinya. Sekalipun misalnya bersuami fir’aun, seorang isteri harus dapat bersikap sebagaimana Asiyah r.a. Perempuan bersuami tidak boleh melepaskan diri dari suaminya untuk orang lain, sebaliknya mereka harus mencari celah hubungan washilah yang tepat melalui suaminya.

Semakin banyak orang mengenal amr jami’, semakin mudah bagi seluruh anggota jamaah untuk mengenali amr jami’ bagi masing-masing. Bila demikian maka akan terbentuk suatu tatanan sosial yang membentuk umatan wahidah. Tidak banyak perselisihan terjadi di antara umat manusia sehingga mereka dapat melahirkan amal shalih dengan lebih baik.

Minggu, 05 Maret 2023

Pernikahan Sebagai Sunnah

Allah menghendaki umat manusia untuk bersatu memakmurkan bumi sebagai umatan wahidah, akan tetapi manusia selalu berselisih di antara mereka. Hanya orang-orang yang membina diri mereka mengenali nafs wahidah yang mengetahui cara menyatukan diri mereka dalam umatan wahidah sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW. Tanpa mengenal nafs wahidah dan membina kesatuan nafs wahidah tersebut untuk mengikuti Rasulullah SAW, setiap orang akan terjebak dalam perselisihan-perselisihan.

Rasulullah SAW menekankan arti pentingnya pernikahan sebagai sunnah beliau SAW. Pernikahan merupakan sarana bagi setiap pengikut Rasulullah SAW untuk membina nafs wahidah dan membina kesatuan nafs wahidah hingga benar-benar menyatu dalam umatan wahidah. Dalam pernikahan, setiap nafs akan memperoleh pasangan yang akan menumbuhkan dirinya dan menjadi cermin yang memperkuat akal. Pernikahan sebagai sunnah Rasulullah SAW mempunyai peran sangat besar dalam pembinaan diri, hingga menjadi setengah bagian dari agama.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه
Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR. Ibnu Majah, Bukhari dan Muslim)

Pernikahan merupakan media bagi setiap orang untuk memperoleh landasan ubudiyah yang sangat kuat. Dalam pernikahan, seorang perempuan memperoleh sarana mengabdikan diri untuk melayani imamnya sebagai wakil Allah yang nyata baginya. Seorang laki-laki memperoleh umat untuk melahirkan sifat kasih-sayang dalam pengabdian kepada Allah. Laki-laki dan perempuan memperoleh wahana untuk landasan melahirkan pengabdian mereka secara nyata kepada Allah, bukan hanya mengagungkan bentuk-bentuk ubudiyah yang tidak dibutuhkan Allah. Allah tidak membutuhkan seluruh bentuk ibadah hamba, akan tetapi kasih sayang-Nya dilimpahkan bagi orang yang memiliki sifat kasih-sayang yang serupa, yang dapat terwujud melalui wahana pernikahan.

Orang yang tidak beramal dengan sunnah Rasulullah SAW maka ia tidak termasuk dalam golongan pengikut Rasulullah SAW. Barangkali pernikahan merupakan bagian dari sunnah, bagian yang sangat besar dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam hadits di atas, tidak mengamalkan sunnah diapit di antara dua pernyataan pernikahan, maka hampir-hampir dapat dikatakan bahwa yang dimaksud tidak melakukan pengamalan sunnah adalah tidak melakukan pernikahan. Orang yang tidak melakukan pernikahan berarti tidak melakukan bagian besar dari sunnah Rasulullah SAW, dan hampir-hampir ia bukan merupakan bagian dari pengikut Rasulullah SAW. Untuk diri masing-masing, seseorang dapat mengatakan bahwa kalau tidak menikah maka bukan bagian dari umat Rasulullah SAW.

Hal ini penting diperhatikan oleh setiap umat Rasulullah SAW. Rasa tidak suka atau benci terhadap pernikahan merupakan suatu penyakit yang dapat mengeluarkan diri mereka dari golongan pengikut Rasulullah SAW. Syaitan mempunyai kepentingan yang besar untuk menumbuhkan rasa tidak suka terhadap pernikahan di antara umat Rasulullah SAW karena dengan perasaan tidak suka demikian mereka dapat keluar dari golongan pengikut Rasulullah SAW tanpa merasakannya.

Keburukan Tidak Menikah

Keluarnya seseorang dari golongan pengikut Rasulullah SAW bukanlah hanya tentang status. Keadaan seseorang yang keluar dari umat rasulullah SAW sebenarnya sangat mungkin menjadi buruk. Dalam hal membenci pernikahan, sebenarnya orang-orang demikian tidak berusaha mengalahkan hawa nafsu dengan menempatkan diri dalam pimpinan imam, atau tidak berusaha menumbuhkan kasih-sayang ilahiah dalam diri mereka layaknya sikap para laki-laki terhadap isteri. Hal demikian dapat terlihat bagai berada pada bayangan kesombongan pakaian syaitan.

Secara sosial, hal demikian akan berpotensi menumbuhkan masalah di antara manusia. Kesombongan akan mewujudkan kebebalan seseorang terhadap kebenaran. Yang dimaksud bebal adalah keadaan merasa pandai sedangkan ia tidak mengetahui. Kebebalan seseorang seringkali tidak terasakan oleh dirinya, akan tetapi orang lain yang akan menderita karena kebebalan itu. Hal ini karena syaitan menjadikan indah segala sesuatu dalam dirinya, sedangkan syaitan berkeinginan membuat kerusakan yang besar di antara umat manusia. Orang-orang yang memakai pakaian kesombongan akan memandang diri mereka baik sedangkan mereka berbuat kerusakan yang besar. Kebebalan merupakan sifat syaitan yang menyertai kesombongannya, terlihat cerdas akan tetapi tidak memahami kebenaran.

Bebal dan sombong merupakan kesatuan yang tidak terpisah. Manakala seseorang bebal terhadap kebenaran ayat-ayat Allah, maka sebenarnya terdapat kesombongan dalam diri mereka. Sebaliknya rendah hati dan kekuatan akal merupakan satu kesatuan. Manakala manusia menyangka seseorang yang terlihat berpakaian kebesaran sebagai sombong, tetapi orang tersebut dapat memahami perkataan kebenaran yang disampaikan, maka tidak layak kesombongan dituduhkan pada orang tersebut. Kadangkala dalam lingkup persahabatan atau pasangan, seseorang mengira sahabatnya atau pasangannya adalah orang yang sombong. Hendaknya ia menghapus sangkaannya manakala pasangannya dapat mengerti kebenaran yang disampaikan kepadanya. Banyak kesombongan dalam wujud kesederhanaan, dan tidak selalu rendah hati tampak dalam wujud kesederhanaan.

Pernikahan akan menghindarkan sifat bodoh dari masing-masing pengikut Rasulullah SAW. Pernikahan terwujud dari sikap pengabdian seseorang bagi orang lain yang merupakan turunan dari wujud pengabdian kepada Allah. Setiap orang yang menikah akan selalu menghadapi keadaan dan situasi yang memaksa diri mereka untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mewujudkan wahana pengabdian yang nyata berupa pernikahan tersebut, seseorang akan sulit untuk tumbuh akalnya untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda :

Dari sahabat Athiyyah r.a.
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ.
Nabi saw. bersabda, “Seburuk-buruknya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang dan sebodoh-bodohnya meninggalnya kalian adalah orang-orang kalian yang membujang.” HR Ahmad bin Hanbal r.a.

Orang yang membujang di antara orang-orang muslim akan termasuk dalam golongan orang yang paling buruk di antara umat Rasulullah SAW, dan akan meninggal dalam keadaan bebal. Hal ini terutama terkait orang-orang yang tidak menyukai pernikahan. Setiap orang hendaknya berusaha untuk menempatkan diri dalam jalinan kasih sayang Allah yang diturunkan dalam wujud pernikahan. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang tidak menyukai pernikahan dan orang yang tidak memperoleh jodoh mereka.

Rasa tidak suka terhadap pernikahan dapat tumbuh pada seseorang karena berbagai hal. Kadangkala seseorang merasa kecewa dengan pasangannya, atau kecewa terhadap keadaan yang tidak mendukung keinginan. Hal ini dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak menyukai pernikahan. Segala sesuatu yang menyentuh rasa tidak suka terhadap pernikahan sebenarnya berasal dari hawa nafsu. Bila ada rasa tidak menyukai pernikahan, hendaknya mereka memeriksa keadaan diri mereka agar dapat berpindah menuju keadaan mengikuti tuntunan Allah. Mereka harus berusaha mengalahkannya dengan berusaha memahami makna pernikahan dan juga dengan menikah.

Terdapat banyak bentuk perjodohan yang dapat dilakukan manusia. Seseorang dapat menikah berdasarkan perjodohan yang haq, berupa pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Ini adalah nikmat Allah yang sangat besar. Dinamika pernikahan pasangan demikian akan menjadikan mereka mudah mengerti terhadap kehendak Allah, walaupun tidak menutup kemungkinan pasangan itu tergelincir dari nikmat Allah. Kadangkala masalah yang menghampiri mereka sangat besar hingga dapat menggelincirkan hingga tidak menyukai pernikahan. Banyak bentuk keberpasangan yang lain yang terbentuk dari pernikahan, dan seluruhnya mempunyai kedudukan lebih baik daripada orang yang tidak menyukai pernikahan.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menikah dan melarang umatnya untuk memilih kehidupan membujang dengan larangan yang keras. Hal ini hendaknya diperhatikan oleh setiap orang. Setiap orang harus berusaha untuk dapat menikah, dan umat islam hendaknya membuat pernikahan menjadi mudah tanpa bermudah-mudah menikah. Pada jaman ini, banyak orang-orang yang tidak dapat menikah karena keadaan yang sulit untuk menikah bukan karena adanya keinginan membujang. Hal ini hendaknya diperhatikan oleh umat islam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا
dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras. (HR. Ahmad)

Senin, 27 Februari 2023

Bersegera Melakukan Amal

Manusia akan menghadapi suatu masa fitnah yang sangat gelap karena fitnah-fitnah syaitan. Mereka akan tidak mengetahui kebenaran dan kebathilan secara pasti karena fitnah-fitnah itu. Apa yang benar dalam ukuran Alquran dan sunnah Rasulullah SAW akan tampak samar-samar kebenarannya, dan yang turunan dari kedua tuntunan itu akan bisa tampak sebagai sesuatu yang bathil, sedangkan kebathilan akan dipandang manusia sebagai suatu kebenaran yang harus mereka ikuti. Bahkan sebagian manusia akan memandang bahwa Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebathilan. Demikian carut marut keadaan pada masa itu karena fitnah yang ditimbulkan oleh syaitan.

Dalam keadaan demikian Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk segera memulai amal. Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasûlullâh SAW bersabda :

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَـالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْـمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُـؤْمِنًـا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.
Bersegeralah memulai amal-amal karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit. (HR. Muslim no. 118, 186), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid).

Kata perintah memulai amal-amal itu (بَادِرُوْا) dapat dipahami sebagai perintah memulai amal yang bukan merupakan sebuah amal populer yang terpahami oleh masyarakat umum, sebagaimana seorang prajurit yang harus bertindak sendiri tanpa menunggu perintah atasan untuk menyelamatkan teman-temannya. Ada azas manfaat dan menghindari madlarat yang menjadi latar belakang perintah tersebut walaupun mungkin harus mengorbankan aspek kebersamaan dengan orang-orang lain. Perintah bertindak sendiri ini bukan dimaksudkan untuk mengesahkan tindakan berbuat sendiri tanpa musyawarah, akan tetapi karena ada madlarat yang sangat besar yang akan menimpa bila seseorang tidak memulai amalnya.

Perintah tersebut disampaikan kepada banyak orang, bukan hanya kepada seseorang. Manakala beberapa orang dapat memahami secara tepat kebenaran dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, hendaknya mereka bersama-sama bersegera menunaikan amal-amal yang mereka ketahui dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak menemukan sahabat yang mempunyai pemahaman yang sama sebagai landasan urusan masing-masing, maka hendaknya kesendirian itu tidak menghalangi untuk berbuat demi kebaikan umat manusia seluruhnya. Sangat penting untuk memulai amal-amal bersama-sama dengan orang lain yang memahami.

Perintah ini berlaku secara khusus pada masa fitnah dan bagi orang-orang tertentu. Pada masa itu, mungkin hanya beberapa orang yang mengetahui kebenaran dari Allah, dan mengetahui madlarat yang akan menimpa umat manusia, sedangkan kebanyakan orang hanya terhanyut dalam fenomena dzahiriah dan waham-waham tanpa landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah untuk urusan jaman mereka. Kepada orang-orang yang mengetahui kebenaran berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW inilah perintah ini ditujukan, tidak bagi kebanyakan umat manusia karena bilamana setiap orang bertindak tanpa mengikuti norma-norma yang berlaku maka keadaan akan semakin berantakan. Sikap bertindak sendiri demikian membutuhkan timbangan terhadap diri secara teliti, karena sangat mudah seseorang terjerumus bersikap merasa benar sendiri tanpa memperhatikan peringatan orang lain. Bagi orang yang memahami kebenaran berdasar kedua tuntunan mulia, maka perintah demikian disampaikan dengan redaksi tertentu, yang jelas bagi orang yang memahami.

Bentuk Amal

Amal-amal yang harus segera dilakukan itu adalah amal terkait dengan keselamatan umat manusia dari fitnah-fitnah yang akan datang, terutama terkait dengan keimanan umat manusia. Pada masa jaman itu tiba, seseorang dapat berubah-ubah keimanannya dengan sangat cepat. Bilamana pada sore hari seseorang beriman, ia bisa berubah menjadi kufur pada pagi hari berikutnya. Manakala seseorang beriman pada harinya, ia dapat berubah menjadi kufur pada sore harinya. Mereka dengan mudah menjual keimanan mereka dengan kekayaan duniawi.

Keimanan merupakan tatanan hati hingga semesta duniawi menurut kebenaran dari sisi Allah. Seseorang tidak beriman bila tidak berusaha menata hati mereka berdasar kebenaran dari Allah, dan tidak dikatakan benar-benar beriman manakala hati mereka berbalik dari kebenaran manakala menghadapi segala yang menyenangkan atau menguji hawa nafsu dan syahwat mereka, baik harta duniawi, perempuan-perempuan yang menyenangkan ataupun kedudukan di antara umat manusia. Pada tahapan berikutnya, keimanan akan berhadapan dengan tipu daya syaitan. Seseorang yang benar-benar beriman adalah orang yang diselamatkan dari tipu daya syaitan, dan mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang menyelamatkan mereka dengan pengetahuan yang memiliki landasan pada kitabullah. Tanpa mengetahui hal ini, sangat mungkin sebenarnya ia tertipu. Seandainya orang demikian tidak memperoleh jalan untuk menata semesta mereka menurut kebenaran dari Allah, mereka tetaplah orang yang benar-benar beriman. Sebaliknya seseorang yang dengan mudah memperoleh jalan menata semesta mereka tetapi tidak selamat dari tipuan syaitan, maka mereka bukan orang yang benar-benar beriman.

Upaya menjaga keimanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka harus memperoleh jalan untuk menata semesta mereka agar keimanan di antara umat manusia terjaga. Bila seseorang tidak benar-benar beriman, mereka akan mudah ditipu sehingga umat manusia tersesat mengikuti fitnah-fitnah. Bila orang beriman tidak mempunyai jalan untuk menata semesta mereka berdasarkan keimanan, sulit bagi mereka melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Bila orang yang benar-benar beriman tidak memperoleh jalan, maka hendaknya mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membangun jalan untuk memperhatikan keimanan dari umatnya dari fitnah-fitnah.

Manakala benar-benar tidak memperoleh jalan, tetaplah ia harus menyampaikan apa yang ia ketahui dari kebenaran dari sisi Allah yang seharusnya disampaikan kepada umatnya. Bukan tanggung jawabnya untuk menjadikan orang-orang beriman, dan ia hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikannnya. Hal ini tidak menghilangkan kewajibannya untuk menemukan jalan manakala jalan itu terlihat baginya. Manakala ia harus menyingkirkan halangan satu demi satu sebelum memperoleh jalan menyampaikan kepada umat, maka ia harus mengusahakan tersingkirnya halangan itu satu demi satu dengan cara yang baik.

Membina keimanan umat merupakan pokok yang harus diperhatikan. Selain pokok itu, ada masalah duniawi yang harus diperhatikan untuk menambah spektrum penjagaan, mengurangi orang-orang yang terpaksa menjual keimanannya untuk harta duniawi. Akan tetapi ini bersifat cabang yang harus diperhatikan setelah membina keimanan setiap umat. Keadaan pada zaman fitnah akan sangat sulit hingga tidak akan ada masalah duniawi yang dapat menjaga iman umat manusia. Upaya duniawi ini hanya berlaku untuk memperkuat pembinaan pada masa sebelum masa terberat tiba. Bila penataan masalah duniawi dilakukan dengan baik, ada potensi untuk mengurangi tingkat kesulitan pada masa sulit dan potensi banyak orang beriman yang dapat mencapai masa paling sulitnya.


Minggu, 26 Februari 2023

Masuk Islam Secara Kaffah

Allah menciptakan manusia di bumi agar mereka menjadi pemakmurnya. Untuk memenuhi hal itu, manusia harus bertaubat kepada Allah agar mereka mengetahui kehendak Allah yang harus mereka lakukan di muka bumi. Tanpa berusaha kembali kepada Allah, manusia hanya akan terjebak dalam fenomena-fenomena parsial yang terjadi pada semesta mereka. Apa yang sebenarnya terjadi tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh seseorang bila tidak bertaubat kepada Allah. Sekalipun setiap orang hanya melakukan segala amalnya sebagai bagian parsial dari keseluruhan, akan tetapi hendaknya mereka memperoleh pemahaman terhadap kebenaran universal untuk melakukan amal yang parsial. Hal itu dapat diperoleh bila mereka bertaubat kembali kepada Allah.

Manusia tidak dapat memahami keseluruhan kebenaran universal, akan tetapi dapat memahami bagian dari kebenaran universal secara benar. Itu adalah bagian yang harus dipenuhi oleh setiap diri manusia agar ia dapat menjadi pemakmur bumi. Pemahaman itu dapat diperoleh dengan benar bila seseorang sepenuhnya berpegang pada segala sesuatu yang diturunkan Allah secara haqq bagi umat manusia melalui jalan yang Dia tentukan. Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah panduan yang tidak ada sedikitpun kesalahan di dalamnya.

Selain kedua tuntunan mulia tersebut, sangat banyak hal yang dapat memberikan pemahaman kepada manusia karena kandungan Al-haqq yang disertakan Allah pada segala sesuatu. Akan tetapi sangat banyak potensi kesalahan yang mungkin timbul dari upaya seseorang memahami semesta mereka. Pemahaman yang sangat berpotensi  benar adalah pemahaman yang memperhatikan hubungan fenomena kauniyah dengan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Melalui metode tersebut, seseorang dapat memperoleh jalan memahami alam semesta mereka secara haqq sehingga memahami kehendak Sang Khalik dalam menciptakan mereka, walaupun dapat pula mereka memahami secara keliru. Hubungan yang kuat dalam pemahaman antara ayat kauniyah dan kitabullah akan dapat diketahui oleh manusia manakala mereka membina diri mereka berdasarkan kedua tuntunan mulia.

Orang-orang beriman diperintahkan untuk masuk ke dalam islam secara keseluruhan. Keislaman adalah usaha sungguh-sungguh seseorang untuk memahami dan melaksanakan kehendak Allah bagi dirinya.

﴾۸۰۲﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah : 208)

Ayat tersebut secara khusus berkaitan dengan suatu fase tertentu perjalanan taubat seseorang berupa penuntasan ibadah haji ke baitul haram. Syariat tersebut menggambarkan perjalanan mengikuti millah Ibrahim a.s untuk bertemu Allah dengan berhijrah ke tanah haram dan membangun bayt sebagai sarana melaksanakan pelayanan sebagai hamba Allah yang sebenarnya. Perjalanan taubat yang terkait ibadah haji tersebut adalah proses yang harus dituntaskan dalam pengenalan diri seseorang terhadap penciptaan dirinya. Kemudian setelah itu mereka dapat menjadi hamba Allah melalui pelayanan melalui sarana bait yang harus dibina berdasar pengenalan diri. Walaupun terkait secara khusus tetapi perintah tersebut berlaku pula secara umum.

Manakala seseorang mengenal penciptaan dirinya, dapat digambarkan bahwa ia memasuki tanah haram dirinya. Hendaknya ia terus mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membangun bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak berhenti pada kiblat pengenalan diri saja atau justru melangkah ke arah lain tanpa upaya mengikuti kehendak Allah. Mereka diperintahkan untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh, yaitu selalu berupaya menemukan dan melaksanakan sepenuhnya kehendak Allah terhadap dirinya, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam kehendak Allah bagi dirinya. Demikian itu yang dimaksudkan dalam perintah Allah kepada orang-orang beriman untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh.

Tidak semua orang beriman dapat memasuki islam secara menyeluruh manakala mereka memasuki tahapan mengenal penciptaan diri mereka. Seringkali mereka harus direpotkan dengan kehidupan dunia selain pelayanan bagi kehendak Allah. Karena hal itu, hendaknya mereka membentuk bayt agar dapat mendzikirkan dan meninggikan asma Allah melalui bayt tersebut. Bayt tersebut adalah kesatuan nafs wahidah dengan segala sesuatu yang terserak bagi dirinya, dimulai dengan penyatuan dengan nafs pasangan hidupnya berupa isterinya. Dengan terbentuknya bayt, maka mereka akan dapat memperoleh sarana untuk memasuki islam secara menyeluruh.

Manakala belum terbentuk bayt demikian, hendaknya mereka tidak menceburkan dirinya dalam kehidupan dunia sepenuhnya tetapi hendaknya berusaha hanya mengambil bagian dunia mereka secukupnya untuk kebutuhan mereka, dan bersungguh-sungguh untuk tetap menemukan dan melaksanakan kehendak Allah yang diperintahkan bagi dirinya, tidak meninggalkannya untuk dunia mereka. Sangat penting diperhatikan tentang terbentuknya bayt agar ia memperoleh sarana untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah di dalamnya, karena hanya dengan bayt demikian seseorang dapat masuk ke dalam islam secara kaffah.

Larangan Mengikuti Syaitan

Di ujung lain perintah tersebut, Allah melarang seseorang untuk mengikuti langkah-langkah syaitan setelah mereka menemukan pengenalan penciptaan diri mereka. Pengenalan tersebut merupakan fase terbitnya matahari bagi seseorang, dan tanduk syaitan akan terbit mengikuti terbitnya matahari tersebut. Syaitan yang terkuat bagi seseorang akan ikut terbit menyamar sebagai matahari bagi mereka, dan sangat banyak syaitan yang akan menyertai syaitan tersebut. Syariat haji harus disertai dengan melempar jumrah, karena kuatnya dan banyaknya syaitan yang harus diusir dari kehidupan seseorang manakala mereka menemukan tanah haram mereka. Bila seseorang mengikuti langkah syaitan tersebut, mereka akan membuat kerusakan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di bumi, sedangkan mereka memandang telah berbuat kebaikan.

Kerusakan yang paling utama ditimbulkan oleh seseorang yang mengikuti syaitan adalah kerusakan fungsi perempuan sebagai ladang bagi suaminya, dan kerusakan yang timbul pada generasi penerus mereka. Hal ini terutama terkait dengan bayt yang seharusnya terbentuk oleh seseorang setelah mereka tiba pada tanah haram mereka. Seseorang tidak akan dapat membentuk bayt manakala fungsi ladang pada kaum mukminat bagi suaminya dan generasi penerus dirusak. Selain itu, secara umum kerusakan fungsi ladang tersebut dan kerusakan generasi penerus akan membuat sendi-sendi kehidupan sosial seseorang menjadi lemah dan sendi-sendi kehidupan bangsa akan goyah atau runtuh. Tidak akan kuat suatu bangsa manakala fungsi ladang pada perempuan bagi suaminya dan generasi penerus dirusak.

Kerusakan fungsi perempuan sebagai ladang itu merupakan perilaku syaitan yang paling berbahaya. Fitnah terbesar syaitan akan dimunculkan dengan memisahkan seorang perempuan dari suaminya. Selain dengan cara demikian, sangat banyak rencana-rencana jahat yang akan diperbuat syaitan terhadap umat manusia agar umat manusia menemukan nasib celaka. Seringkali, hampir selalu, mereka menampakkan upaya mereka sebagai kebaikan yang menakjubkan bagi manusia. Mereka adalah musuh yang terbesar bagi manusia, hingga tidaklah pantas seseorang mengikuti langkah-langkah syaitan.

Setiap orang tidak boleh mengikuti syaitan baik secara langsung manakala dirinya memperoleh bisikan-bisikan syaitan, ataupun ketika mengetahui sesuatu dari rencana syaitan melalui orang-orang di sekitar mereka. Setiap orang hendaknya tidak mengikuti rencana-rencana syaitan tersebut. Banyak orang-orang yang mengikuti langkah-langkah syaitan mempunyai perkataan-perkataan yang menakjubkan bagi orang lain sedangkan mereka adalah penentang yang paling keras dengan serangan yang paling merusak umat manusia. Mengikuti orang-orang yang melaksanakan rencana syaitan akan memberikan serangan yang sangat merusak bagi umat manusia.

Upaya menghindari ini membutuhkan pengetahuan. Harus diperhatikan bagi setiap manusia bahwa seluruh kehendak Allah itu selalu terkait dengan Alquran, tidak ada suatu urusan atau perintah Allah yang bersifat independen terhadap Alquran, karena seluruh kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta telah difirmankan dalam Alquran. Sifat kehendak Allah adalah kebaikan, dan tidak ada kehendak Allah yang mempunyai sifat sia-sia sekadar kehendak untuk dituruti atau sekadar menguji. Hendaknya setiap pengetahuan tentang kehendak Allah berusaha dipahami kebaikannya dan diperiksa kedudukannya dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebelum benar-benar diikuti, atau ia telah tertipu syaitan.

Melawan syaitan adalah hal yang sangat sulit dan seringkali membuat seseorang terlihat seperti orang tidak waras, bahkan sulit untuk menjaga kewarasan diri sendiri manakala melawan syaitan. Manakala seseorang membalas sedikit melampaui apa yang diperbuat syaitan terhadapnya, seringkali ia akan menanggung sendiri perbuatan yang berlebih tersebut. Dalam banyak kasus, orang yang mentaati Allah dalam melawan syaitan seringkali dikatakan sahabatnya sebagai orang gila sebagaimana perkataan manusia terhadap para nabi. Perintah Allah dalam ayat ini bukan untuk melawan syaitan. Perintah Allah yang harus ditaati oleh setiap manusia dalam ayat ini adalah hendaknya mereka tidak mengikuti langkah-langkah syaitan. Untuk perintah demikian ini-pun seseorang seringkali membutuhkan keberanian yang besar untuk mengikuti firman Allah tidak sekadar mengikuti kata-kata orang lain. Hendaknya setiap orang mempunyai keberanian berpegang pada kitabullah dengan akalnya, dan melalui pikirannya.

Akal dan pikiran merupakan media bertaubat yang diberikan Allah kepada setiap manusia, diberikan hingga benar-benar menyatu dalam dirinya. Bagi orang beriman, pikiran hendaknya tidak berdiri sendiri tanpa akal, dan kadangkala akal harus berdiri sendiri tanpa dipengaruhi pikiran. Akal dan pikiran itu tidak boleh disia-siakan atau digunakan secara salah. Bila demikian ia telah memutuskan salah satu media yang disediakan Allah untuk bertaubat. Apa-apa yang diberitakan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan dapat dipahami dengan penalaran yang benar tanpa dipaksakan dapat menjadi petunjuk yang menunjukkan langkah-langkah syaitan. Manakala seseorang dihadapkan pada suatu pilihan yang tampak dalam pikirannya atau akalnya sebagai pilihan langkah mengikuti kehendak Allah dan langkah mengikuti syaitan, hendaknya ia mempunyai keberanian untuk mengikuti kehendak Allah, tidak mengikuti kata-kata kebanyakan orang. Pilihan yang salah bisa menjadi musibah yang menambah beban bagi orang yang berjihad melawan makar syaitan.

Islam Kaffah dan Ketergelinciran

Tidak semua orang yang mengikuti langkah-angkah syaitan adalah orang-orang jahat. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang tergelincir mengikuti langkah-langkah syaitan. Tidak ada keinginan orang-orang tersebut untuk bertindak jahat kepada sesama manusia, akan tetapi perbuatan mereka mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia karena mengikuti langkah syaitan. Permasalahan demikian itu seringkali tidak terlihat oleh orang-orang yang melakukannya, mengira bahwa amal-amal yang mereka lakukan adalah kebaikan yang diperintahkan Allah.

﴾۹۰۲﴿فَإِن زَلَلْتُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Tetapi jika kamu tergelincir sesudah datang kepadamu penjelasan-penjelasan kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah : 209)

Pada orang yang tergelincir, biasanya terjadi selisih yang jauh antara keinginan dengan langkah yang mereka tempuh. Mereka menginginkan sesuatu dari sisi Allah, tetapi menempuh jalan syaitan. Misalnya saat menginginkan persatuan umat, jalan untuk menyusun hati umat berupa syukur nikmat Allah tidak diberi jalannya. Manakala seseorang memperoleh petunjuk, ia diarahkan untuk mengikuti kecintaan hawa nafsu. Manakala seseorang memperoleh ilham melalui amalnya, ia dikatakan mengikuti hawa nafsu. Manakala dua pihak menginginkan ishlah, dikobarkan kemarahan di antara keduanya. Manakala dua orang saling berjodoh saling mengenali, dipisahkan kedua orang itu dari perjodohan mereka. Manakala sepasang suami isteri berkeinginan membina bayt, dibangkitkan khianat di antara mereka. Sangat sempit ruang bersyukur yang tersedia di antara mereka bagi orang-orang yang ingin mensyukuri jalan kehidupan yang ditentukan Allah sebagai nikmat-Nya. Mereka mengira diri mereka mengharap dan mencari nikmat Allah, sedangkan syaitan bergembira karena terbantu membuat sumpahnya terlaksana karena sedikitnya orang yang dapat bersyukur.

Bila mempunyai pengikut, banyak di antara mereka akan melakukan taklid menutup akal mereka mengikuti langkah keliru. Mereka tidak dapat mengenali kebenaran alhaqq dengan akal mereka manakala Allah menurunkannya, tertutup oleh sikap taklid mereka. Manakala usaha seseorang membaca Alquran dikatakan sebagai perkataan syaitan, mereka tidak dapat menilai atau memilih perkataan yang bersumber dari Alquran dan perkataan yang berasal dari syaitan. Hal itu merupakan kelemahan yang menjadi penyakit bagi orang beriman.

Hal demikian sering terjadi karena seseorang tidak memperhatikan penjelasan-penjelasan yang telah difirmankan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mempunyai keyakinan tentang kebenaran yang mereka ikuti sendiri. Sikap demikian sebenarnya merupakan sikap yang tumbuh dari sesuatu dalam diri mereka yang perlu diluruskan, dan sesuatu itu menjadi sebab yang merusak akhlak mulia. Akhlak mulia akan terbentuk manakala seseorang tumbuh mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia dapat mengenal kehendak Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan ia selalu berpegang pada kedua tuntunan itu. Akhlak mulia tidak tumbuh dengan cara sembarang.

Bilamana ia menjumpai penjelasan-penjelasan kebenaran, maka hendaknya ia kembali kepada Allah dengan mengikuti penjelasan-penjelasan kebenaran itu. Bila ia tidak mengikuti penjelasan-penjelasan itu, maka akan sangat banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya karena tetap mengikuti syaitan. Bila ia mengikuti penjelasan-penjelasan itu, maka ia telah mengurangi potensi kerusakan yang mungkin dapat diperbuat oleh syaitan, atau dapat memperbaiki apa yang telah rusk. Seseorang hendaknya berusaha kembali kepada Allah hingga ia dapat masuk dalam keadaan islam secara menyeluruh. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Senin, 20 Februari 2023

Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW merupakan manusia yang dijadikan Allah sebagai penghulu semesta alam. Semesta alam diciptakan Allah untuk memperkenalkan Rasulullah SAW. Beliau adalah makhluk yang mampu mengenal seluruh hakikat penciptaan alam semesta yang hendak Allah perkenalkan, dan dengan keadaan itu beliau SAW dijadikan sebagai panutan bagi setiap makhluk untuk mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang mengenal Allah dengan benar melalui jalan lain tanpa mengikuti tauladan Rasulullah SAW.

Kaum muslimin hendaknya berusaha untuk menyatukan langkah masing-masing pada jejak langkah Rasulullah SAW. Penyatuan langkah itu dapat dilakukan dengan memahami arah kehidupan yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan keimanan, dan kemudian menempuh langkah tiruannya. Tidak dikatakan mengikuti sunnah Rasulullah SAW orang-orang yang sibuk meniru syariat beliau SAW tanpa memperhatikan arah kehidupan yang dicontohkan beliau SAW, sedangkan mereka menimbulkan pertengkaran membanggakan polah mereka di antara saudara muslim mereka dan memecah-belah manusia dalam pertengkaran-pertengkaran.

Landasan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah keimanan, dimana seseorang dapat mengenali kebenaran sesuai kehendak Allah dengan keimanannya tanpa ada hijab yang mempengaruhi akurasi pengenalan kebenaran itu, dan ia dapat berbuat sesuai kehendak-Nya dengan rasa syukur. Seandainya suatu kebenaran dikatakan oleh orang yang dipandang hina, seorang beriman harus mengenali kebenaran itu dengan keimanannya, dan bila suatu kekufuran dikatakan oleh para pembesar mereka, mereka harus mengenali kekufuran itu tidak membenarkannya. Itu adalah keimanan yang disyaratkan untuk dapat menyatukan langkah mereka pada jejak langkah Rasulullah SAW.


﴾۴۵﴿وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya rahmat, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-An’aam : 54)

Dengan kemampuan mengenali kebenaran dengan cara demikian, dan melangkah menempuh kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya dengan rasa syukur, seseorang dapat datang kepada Rasulullah SAW dengan dasar keimanan kepada ayat-ayat Allah, sebagaimana disebutkan ayat di atas. Bila seseorang datang kepada Rasulullah SAW dengan keadaan demikian, Rasulullah SAW akan menyambut mereka dengan kegembiraan, menyampaikan salam dan menyampaikan pesan Allah bagi mereka. Salam Rasulullah SAW untuk hal demikian bukan bersifat salam balasan. Kadangkala beliau SAW datang kepada suatu jamaah, dan menyampaikan salam bagi jamaah tersebut. Beliau akan terlihat bagi orang-orang yang diberi kemampuan melihat dengan bashirah.

Salah satu pokok dari salam beliau SAW adalah manifestasi ayat di atas. Salam beliau SAW secara khusus ditujukan diantaranya kepada orang-orang yang menginginkan penyatuan langkah bersama beliau SAW berdasarkan keimanan terhadap ayat-ayat Allah. Orang yang disekitarnya memperoleh berkah kehadiran dan salam beliau SAW. Salam beliau SAW itu menandai bahwa orang yang memperoleh salam tersebut telah memulai penyatuan langkahnya bersama jejak langkah Rasulullah SAW. Orang yang dianggap telah menyatukan langkah tersebut adalah orang yang mengenali ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Alquran yang berjalan beriring, yang menandai keterbukaan pemahamannya terhadap urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya berupa amr jami’.

Madharat Abai Terhadap Sunnah

Keinginan untuk menyatukan langkah dalam jejak langkah bersama Rasulullah SAW harus terbina pada setiap orang beriman. Orang yang tumbuh keimanannya sebenarnya akan tumbuh pula keinginan demikian, akan tetapi boleh jadi syaitan memalingkannya pada hal lain. Terlalu banyak bahaya mengintai dalam perjalanan setiap orang menuju Allah tanpa menyatukan langkah bersama beliau SAW, bahkan tidak mungkin seseorang akan sampai pada kedekatan kepada Allah tanpa mengikuti langkah beliau SAW. Sebagian orang tersesat dalam perjalanan kembali kepada Allah karena mengandalkan kemampuan mereka sendiri dalam beramal, baik berdasar ilham ataupun petunjuk dalam dirinya ataupun mengikuti orang lain tanpa menyatukan diri pada sunnah Rasulullah SAW. Ada suatu kaum yang diberi petunjuk jalan menuju neraka jahim.

﴾۸۲﴿قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ
﴾۹۲﴿قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
﴾۰۳﴿وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ
(28) Mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): "Sungguh kalian yang datang kepada kami dari kanan. (29) (Pemimpin-pemimpin) mereka menjawab: "Sebenarnya kalian-lah yang tidak hendak beriman". (30) Dan sekali-kali kami tidaklah berkuasa terhadap kalian, bahkan kalianlah kaum yang melampaui batas. (QS As-Shaffat : 28-30)

Ayat-ayat tersebut di atas bercerita tentang suatu kaum yang tersesat mengikuti petunjuk menuju neraka jahim. Terjadi perbantahan antara para pengikut terhadap para pemimpin mereka. Para pengikut telah mengikuti pemimpin mereka karena pemimpin itu datang kepada mereka melalui sisi kanan. Para pemimpin tersebut tidak mau disalahkan oleh pengikut mereka, dan menunjukkan bahwa sebenarnya para pengikut mereka itulah yang tidak mau membina keimanan mereka. Para pemimpin itu tidaklah mempunyai kuasa atas pengikut, dan sebenarnya para pengikut mereka telah menjadi kaum yang melampaui batas.

Kaum tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan baik, dimana para pemimpin mendatangi orang-orang yang mengikutinya dari sisi kanan. Tidak ada yang salah di antara mereka karena pemimpin mendatangi mereka dari sisi kanan dan mereka kemudian mengikuti seseorang ke sisi kanan. Yang menjadi awal masalah adalah keimanan yang tidak terbina dengan benar, dan tidak terbinanya keimanan tersebut kemudian menjadikan mereka sebagai orang-orang yang melampaui batas. Persoalan ini akan diketahui pemimpinnya, dan kelak akan disampaikan sebagai penjelasan kepada kaumnya. Kaumnya tidak akan mempunyai suatu alasan karena mereka terlibat secara langsung apa yang dijelaskan oleh pemimpin mereka.

Keimanan merupakan bagian diri manusia yang sepenuhnya ditentukan hati seseorang tersebut. Suatu perbuatan dapat terlahir oleh seseorang manakala keadaan memungkinkan, tetapi keimanan merupakan cahaya yang tumbuh dalam hati yang tidak ditentukan keadaan oleh orang lain. Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat saja bercampur dengan para pendosa dalam keadaan beriman tanpa dipengaruhi keimanannya, atau boleh jadi seorang beriman tidak dapat melahirkan apa yang menjadi keimanannya karena keadaan tanpa mengurangi keimanan. Hal itu mungkin terjadi, tetapi seorang beriman tidak boleh berbuat semaunya tanpa berusaha melahirkan keimanan mereka. Setiap orang harus menumbuhkan keimanan tanpa dipengaruhi atau tertipu oleh keadaan yang dibuat orang lain, dan hal itu selalu dapat diusahakan dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bilamana persoalan ini disadari dalam kehidupan dunia, seharusnya mereka dapat menghindari keadaan sulit demikian, akan tetapi seringkali kesadaran semacam ini tumbuh terlambat. Selain itu seringkali tumbuh kelembaman atau keengganan dalam bersikap manakala tumbuh kesadaran untuk mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap pihak hendaknya mengambil langkah yang terbaik yang dapat mereka lakukan, tidak saling memberikan pengaruh buruk. Manakala seorang pemimpin menyadari, hendaknya mereka berusaha menumbuhkan keimanan pada kaumnya. Manakala para pengikut menyadari, mereka hendaknya bersegera mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terus melakukan penentangan terhadap kedua tuntunan mulia tersebut.

Keimanan yang seharusnya terbina dalam diri setiap muslimin harus dapat mengantar mereka dalam penyatuan dengan jejak langkah Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang terbentuk mengikuti langkah seseorang menyatukan langkah bersama jejak Rasulullah SAW. Misalnya seseorang akan mengenal imamnya yang menghubungkan diri mereka kepada Rasulullah SAW. Itu merupakan wujud yang lebih hakiki daripada seorang perempuan menemukan imam berwujud suami, setengah bagian agama lebih lanjut yang melengkapi setengah bagian agama yang diperoleh dalam pernikahannya. Setiap diri muslimin harus dapat mengenali kebenaran dari sisi Allah dengan keimanan tanpa terpengaruhi oleh bentuk-bentuk yang tergambar dalam hawa nafsu secara keliru, karena sangat mungkin imam tersebut tidak sebagaimana keinginan hawa nafsu mereka. Membina keimanan demikian harus dilakukan dengan menempuh langkah pensucian diri (tazkiyatun-nafs) serta berpegang teguh pada kitabullah dengan berusaha memahami dan mengikuti apa-apa yang diperoleh dari kitabullah. Bila seseorang tidak berpegang pada kitabullah, maka seseorang akan mudah dibelokkan pemahamannya oleh syaitan.

Ketika suatu kebenaran sampai kepada seseorang melalui sesuatu yang tampak hina, ia tidak boleh mengabaikan kebenaran itu atau justru menganggapnya suatu kebathilan. Demikian pula manakala suatu kebathilan datang melalui apa yang dianggap mulia, ia tidak boleh menjadikan kebathilan itu sebagai suatu kemuliaan. Kesalahan dalam urusan itu akan merusak keimanan. Kemampuan itu dapat diperoleh seseorang bila nafs mereka suci, dan terbina mengikuti kitabullah. Tanpa membangun keimanan semacam ini, mereka akan terseret oleh waham-waham dan syaitan, dan itu bukanlah keimanan. Inilah yang dikatakan oleh para pemimpin mereka bahwa sebenarnya mereka itu sendiri-lah yang tidak mau beriman. Terlepas dari peran pemimpinnya, setiap pengikut benar-benar mempunyai peran dalam ke(tidak)imanan diri sendiri. Muslimin tidak boleh meninggalkan prinsip membina keimanan yang benar, sehingga dapat menyatukan langkah dalam jejak langkah Rasulullah SAW.

Bila seseorang mengabaikan pembinaan keimanan yang benar, mereka akan terseret menjadi kaum yang melampaui batas. Sikap syukur harus ditumbuhkan dengan mengikuti kehendak Allah yang diketahui dalam pertumbuhan nafs mereka dibandingkan mengikuti apa-apa yang dicintai hawa nafsu mereka. Nafs setiap orang harus tumbuh mengikuti kitabullah, tidak mengikuti hawa nafsunya. Bila nafs tumbuh dengan kitabullah, mereka perlahan-lahan akan menemukan kedudukan diri mereka dalam kitabullah. Bila seseorang lebih senang mengikuti yang dicintai hawa nafsu mereka, pertumbuhan nafs mereka akan menyertai pertumbuhan hawa nafsu. Bila mengikuti hawa nafsu, mereka akan tumbuh sebagai makhluk yang melampaui batas.

Kadangkala pertumbuhan nafs tampak baik, tetapi tidak berpegang pada kitabullah dengan tertib. Hal demikian tidak menunjukkan keadaan yang benar-benar baik karena yang akan tumbuh tetaplah hawa nafsu walaupun hawa nafsu yang baik, sedangkan nafs mereka tidak tumbuh akalnya. Pertumbuhan akal akan terjadi hanya karena mengikuti kitabullah. Hawa nafsu yang baik itu tidak akan dapat memahami kebenaran manakala terselubung dalam hijab yang tidak sesuai dengan hawa nafsu, tidak mengenal kebenarannya kecuali hanya hawa kebenarannya saja tanpa sebuah keyakinan. Sebaliknya manakala mereka menemukan kebathilan dalam selubung hijab yang disukai hawa nafsu, mereka akan menganggap itu sebuah kebenaran. Lebih buruknya, orang-orang demikian dapat membantah petunjuk berupa ayat dalam kitabullah karena waham mereka. Manakala bantahan itu terjadi, mereka telah melampaui batas.

Setiap orang beriman harus melakukan amal untuk sumbangsih mereka bagi makhluk lain. Amal itu pada puncaknya bukanlah semata-mata berupa amal yang baik, tetapi berupa amal yang telah digariskan Allah bagi setiap diri manusia yang dikalungkan pada leher mereka sejak sebelum penciptaan mereka di dunia. Amal itu sebenarnya merupakan bagian dari urusan amr jami’ sebagai amr bagi Rasulullah SAW. Dengan melakukan amal-amalnya berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, seseorang akan memberikan sumbangsih paling besar yang dapat dilakukannya bagi manusia.

Tidak semua amal yang baik dapat memberikan hasil yang baik. Kadangkala amal yang baik mendatangkan kerusakan pada diri yang mengamalkannya, atau kadangkala ramainya amal justru mengeliminasi amal-amal yang mengikuti petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada ayat di atas, amal-amal baik yang mereka lakukan terlaksana disertai dengan kerusakan keimanan, dimana seseorang terhijab dengan amalnya dari keimanan, hingga pada akhirnya mereka menjadi orang-orang yang melampaui batas. Hasil dari orang-orang yang beramal akan tetapi terhijab dari keimanan tidaklah baik. Keterhijaban itu dapat dihindari bila seseorang berusaha menyatukan langkah mereka bersama jejak langkah Rasulullah SAW, tidak menempuh langkah mereka sendiri tanpa berpegang pada tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, atau bahkan menentang Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Meninggalkan sunnah Rasulullah SAW mengandalkan petunjuk sendiri akan menjadikan suatu kaum memperoleh petunjuk untuk menuju jalan jahim.