Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari lurusnya jalan seseorang bertaubat kepada Allah. Sebagian kaum menggantikan tuntunan kitabullah itu dengan khalil-khalil dari kalangan manusia sedemikian manakala khalil-khalil mereka tersesat dalam mengambil pelajaran, maka kaum itu mengikutinya meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Nafs Wahidah Sebagai Khalil
Sebenarnya telah disediakan bagi setiap manusia seorang khalil haqiqi yang akan menjadi teman dekat baginya dalam bertaubat kembali kepada Allah. Khalil demikian merupakan pembawa perintah Allah khusus bagi seseorang yang harus dikerjakan dalam kehidupannya. Ia merupakan makhluk yang mengenal rabb-nya dan mengenal kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Manakala seseorang mengenal khalil tersebut, ia akan mengenal rabb-nya karena khalil tersebut mengenal rabb-nya. Khalil tersebut seringkali memperkenalkan diri kepada seseorang dengan perkataan engkau adalah aku dan aku adalah engkau, karena demikianlah khalil sangat serupa dengan khalilnya.
Sang khalil itu adalah nafs wahidah, nafs yang memahami kesatuan dirinya dalam al-jamaah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Dalam suatu perkataan, secara bebas terkandung pengertian bahwa ada bagian dari diri Rasulullah SAW di dalam nafs wahidah seseorang yang akan menyatukannya kepada Rasulullah SAW. Penjelasan ini berkorelasi dengan fungsi dari nafs wahidah yaitu menyatukan seseorang pada al-jamaah. Nafs wahidah itu merupakan bagian utama dari diri setiap manusia yang memahami kedudukan dirinya sebagai hamba Allah, kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW, kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan fungsi dirinya di alam ciptaan. Dengan pemahaman semacam itu, mereka dapat menyatukan diri dengan kebenaran universal dengan menjadi bagian darinya.
Walaupun serupa, sebenarnya ada perbedaan kedudukan di antara kedua entitas manusia tersebut. Manusia dalam bentuk jasmani merupakan makhluk bodoh dari alam dunia, sedangkan bentuk khalilnya merupakan makhluk langit dari alam cahaya yang lebih cerdas dalam memahami kehendak Allah. Manakala seseorang berkeinginan untuk menjadi hamba Allah yang benar, Allah akan memperkenalkan sang khalil kepada dirinya, maka ia akan mengetahui jalan ibadahnya kepada Allah melalui khalil tersebut dan dikatakan ia mengenal dirinya sendiri. Bila orang tersebut terus bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah setelah mengenal dirinya, ia dapat menyatu dalam satu entitas dengan khalilnya hingga suatu asma tertentu tersemat bagi orang tersebut.
Mengenal diri merupakan tahap awal seseorang memasuki jenjang agama. Sekalipun mengenal diri, kedua entitas diri seseorang itu sangat mungkin tetap dalam derajat yang berbeda tidak benar-benar menyatu. Entitas jasmani orang tersebut harus berjihad untuk menuju derajat yang layak agar dapat menyatu dengan sang khalil, hingga penyatuan tersebut mendatangkan pengesahan di alam yang tinggi. Sang khalil akan banyak mengajarkan hakikat-hakikat dari hal-hal yang terjadi dan jalan-jalan yang harus mereka tempuh kepada entitas jasmaninya, dan entitas jasmani itu harus berusaha memahami dengan sikap yang tepat dan mentaati apa-apa yang diinginkan oleh sang khalil untuk dapat menyatukan entitas-entitas diri mereka.
Dalam beberapa kasus, mungkin saja seseorang bersikap salah dalam hubungan dirinya dengan sang khalil. Khalil itu dapat dikenal dengan benar oleh entitas jasmaniahnya bila seseorang berkeinginan untuk mengenal dan menetapi jalan ibadahnya kepada Allah, karena sang khalil merupakan pembimbing dalam jalan ibadah manusia. Seseorang mungkin bisa menemukan sang khalil tetapi tidak mengenalnya dengan sudut pandang yang tepat manakala tidak diusahakan dengan jalan yang bertujuan beribadah kepada Allah. Misalnya kehadiran sang khalil bisa saja dipandang seseorang sebagai suatu status yang mengangkat kedudukan dirinya di antara makhluk, tidak dipandang sebagai khalil yang membimbing dirinya dalam ibadah kepada Allah. Bila demikian, seseorang telah salah dalam membina hubungan dengan sang khalil. Pengenalan diri seseorang yang tepat harus dilakukan dari sudut pandang jalan ibadah kepada Allah, maka ia berada pada hubungan yang tepat dengan sang khalil.
Setiap orang beriman hendaknya mencari khalil dengan jalan yang ditetapkan Allah berupa mengenal nafs wahidah, tidak secara sembarangan menjadikan si fulan sebagai khalil. Urusan Allah bagi setiap orang berbeda-beda hingga satu orang tidak dapat menjadi khalil bagi yang lain. Perbedaan urusan antar manusia dalam suatu umat seringkali, atau lebih banyak, bersifat melebar atau bersebelahan bukan dalam hubungan sebagaimana pokok dan cabangnya. Kalaupun satu orang dengan yang lain ada dalam hubungan pokok dan cabang, kadangkala harus ada perbedaan antara pokok dan cabang, ibarat misalnya suatu daun harus tumbuh pada cabang. Manakala seseorang menjadikan orang lain sebagai khalil, ia akan terkungkung pada dunia khalilnya. Alam dunia mereka akan menguncup semakin sempit karena orang-orang harus berbagi satu urusan dengan banyak sahabatnya.
﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
(28) Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu khalil(ku) (QS Al-Ankabuut : 28)
Kedudukan khalilullah dalam agama diberikan kepada nabi Ibrahim a.s. Hal ini menjadi indikasi bahwa nabi Ibrahim a.s dapat bertindak sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah. Pengetahuan beliau a.s tentang hakikat mencakup segenap alam yang diperkenalkan Allah dan beliau dapat bertindak benar berdasarkan pengetahuan beliau a.s. Seseorang selain beliau a.s tidak bisa menjadi khalilullah tetapi hanya menjadi khalil bagi nafs wahidah dirinya. Sebesar-besar pengetahuan diri tentang kebenaran, pengetahuan itu dibatasi dengan pengetahuan nafs wahidahnya. Ia tidak akan mampu mengenal seluruh kebenaran yang digelar Allah sehingga tidak akan dapat bertindak benar pada seluruh hal, hanya bisa benar pada bagian dirinya. Entitas jasmaniah seorang manusia bisa menjadi representasi sepenuhnya dari nafs wahidah dirinya manakala entitas jasmaniah itu mentaati, dan tidak akan bisa menjadi representasi bagi orang lain sebagai khalil karena selalu ada perbedaan di antara manusia yang mengakibatkan seseorang tidak bisa sepenuhnya memahami orang lain. Rasulullah SAW tidak mempunyai khalil dari kalangan makhluk bumi, walaupun ada Abu Bakar r.a mendampingi, sedangkan khalil beliau SAW adalah Rasulullah SAW.
Usaha untuk menemukan khalil yang hakiki akan menjadikan seseorang sungguh-sungguh mencari kebenaran dengan menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami kehendak Allah, dan menjauhkan dirinya dari bertaklid terhadap orang lain. Tumbuhnya manusia dengan akal yang kuat akan mendatangkan keberkahan yang banyak bagi semesta mereka. Sekalipun setiap manusia yang ada di sepanjang usia dunia berpegang pada satu kitabullah Alquran, buah yang dihasilkan dari masing-masing akan berbeda dengan sahabatnya hingga membuat dunia menjadi luas. Bila akal tidak tumbuh, dunia akan menjadi sempit karena setiap orang harus berebut dengan sahabatnya, satu urusan harus dibagi-bagi dengan orang lain tanpa masing-masing mengerti cara menumbuhkan apa yang dipegangnya.
Manakala suatu kaum secara sembarangan menjadikan seseorang sebagai khalil, bahaya besar yang mengancam mereka adalah kesesatan dalam mengambil pengajaran dimulai dengan kelemahan akal. Manakala suatu berita yang benar telah diketahui, mereka tidak berusaha memahami berita itu sesuai tuntunan Allah dan mungkin saja kemudian justru bertindak konyol. Boleh jadi pilar bangsa mereka runtuhkan, dan orang-orang yang berusaha menegakkan tidak mendapatkan tempat yang layak di antara mereka, atau bahkan mereka menghalangi dan berusaha menggagalkan usaha orang-orang yang menegakkan pilar itu. Misalnya manakala Dajjal akan tiba, mereka justru merusak tatanan keluarga di antara mereka, sedangkan keluarga merupakan pilar penting dalam menghadapi fitnah yang dibuat oleh syaitan. Orang-orang yang berusaha menegakkan pilar itu akan kesulitan mendapatkan tempat di antara mereka, dan kaum itu justru berusaha menggagalkan upaya untuk menegakkan pilar itu. Itu adalah kesesaatan dalam mengambil pelajaran karena tidak sungguh-sungguh mencari khalil yang benar. Adapun upaya mereka mencari khalil yang hakiki hanya merupakan gimmick tanpa mengenal isinya, tanpa menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah yang digelar bagi mereka, tergantikan dengan langkah sembarangan menjadikan seseorang di antara mereka sebagai khalil.
Membentuk Umat Yang Satu
Allah berkehendak agar orang-orang beriman bersatu dalam al-jamaah membentuk umat yang satu. Kesatuan demikian akan terjadi manakala seseorang mengenal dan menuruti nafs wahidah. Sebenarnya nafs wahidah itu sendiri sangat berperan untuk membentuk umat yang satu dalam ibadah kepada Allah, setidaknya umat yang harus tegak dari dirinya. Untuk membentuk umat demikian, ada hal-hal terkait nafs wahidah yang harus diperhatikan karena itu merupakan jalan untuk membentuk umat yang satu sesuai kehendak Allah.
Seseorang yang mengenal nafs wahidah hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk berjalan selaras dengan nafs wahidahnya. Ia akan dapat memahami sepenuhnya maksud dari nafs wahidahnya bila berada dalam keadaan ingin beribadah kepada Allah. Boleh jadi akan sangat banyak hambatan dari makhluk-makhluk jahat dan/atau bodoh agar ia tidak dapat selaras dengan nafs wahidah dirinya, tetapi ia akan tetap dapat memahami nafs wahidahnya dengan benar manakala tetap dalam keinginan beribadah kepada Allah. Bila seseorang mengenal nafs wahidah tanpa keinginan beribadah, ia akan mengalami banyak kesalahan dalam memahami maksud petunjuk yang diterimanya. Apa yang disampaikan nafs wahidah akan salah dipahami bila diterima hawa nafsu. Barangkali makhluk lain yang jahat atau bodoh tidak akan menghalangi, tetapi sebenarnya langkahnya tidak benar-benar mewujudkan kebaikan, atau sebenarnya justru menimbulkan masalah yang banyak bagi semesta dirinya.
Nafs wahidah seseorang itu tidak berdiri sendiri, terbagi menjadi pasangan-pasangan yang melahirkan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan yang banyak. Di antara pasangan nafs wahidah itu adalah entitas jasmani seorang laki-laki, dan itu adalah dirinya. Entitas jasmani itu sebenarnya membawakan pula anak-anak berupa hawa nafsu-hawa nafsu yang banyak yang bermanfaat untuk membantu mewujudkan kehendak Allah di alam dunia dalam menyatukan entitas-entitas di alam rendah. Tanpa entitas jasmani dan hawa nafsu, nafs wahidah hanya berkeinginan untuk kembali kepada Allah, dan kadangkala memusuhi entitas jasmani dirinya manakala terlalu kuat menginginkan dunia. Kehadiran syahwat dan hawa-nafsu yang banyak itu akan menjadikan seseorang dapat menyentuh dunia, dan akan mendatangkan kebaikan apabila hawa nafsu tunduk pada nafs wahidah.
Pasangan lain yang tercipta dari nafs wahidah berupa nafs seorang perempuan atau nafs-nafs beberapa perempuan yang diciptakan darinya, dan juga entitas jasmani dari perempuan itu. Nafs wahidah itu bertugas untuk menyatukan apa yang terserak dari diri mereka dalam ibadah kepada Allah, dan hal itu akan dapat dilakukan bila ia terhubung dengan pasangan-pasangannya. Perempuan-perempuan itu berperan membantu laki-laki yang diciptakan dari nafs wahidah tersebut. Bantuan itu dapat dilakukan baik secara jasmaniah ataupun bathiniah hingga nafs wahidah mereka itu terhubung dengan baik kepada alam dunianya. Peran bathiniah demikian merupakan peran khusus para isteri yang tidak dapat digantikan oleh makhluk lain.
Apabila
terbentuk kesepakatan untuk bertaubat kepada Allah melalui kesatuan
nafs wahidah, hubungan antar pasangan itu akan baik saling mencintai.
Tetapi bukan tidak mungkin ada perbedaan-perbedaan di antara entitas
jasmani laki-laki dan entitas jasmani perempuan yang berpasangan
sedemikian seorang laki-laki bersikap tidak bersahabat atau justru
bermusuhan dengan pasangannya atau sebaliknya. Hal demikian sangat
mungkin terjadi sebagaimana nafs wahidah bisa saja memusuhi entitas
jasmani dirinya. Perbedaan di antara entitas jasmani berpasangan
bisa terjadi di tingkat iktikad misalnya tujuan kehidupan yang
berbeda atau perbedaan menentukan pilihan dalam melangkah, ataupun
perbedaan dalam tingkat adab duniawi seperti perlakuan yang buruk
satu pihak terhadap lainnya. Bila bermusuhan, alam dunia yang
diperuntukkan bagi mereka akan mengalami kekacauan. Syaitan membuat
fitnah terbesar bagi manusia dengan jalan ini. Setiap orang hendaknya berusaha untuk membuat hubungan yang baik dengan pasangannya pada setiap tingkatan.
Pengesahan penyatuan seseorang dengan nafs wahidah akan terjadi mengikuti penyatuan nafs wahidah dan pasangan-pasangannya dalam ibadah kepada Allah, hingga entitas jasmani laki-laki ataupun entitas jasmani perempuan-perempuan pasangannya bersatu dalam ibadah kepada Allah mengikuti nafs wahidah. Penyatuan keberpasangan mengikuti nafs al-wahidah dalam lingkup pernikahan merupakan pembentukan bayt. Apabila seorang laki-laki tidak mengenal nafs wahidah, ia tidak akan dapat membentuk bayt. Sebagai turunan, apabila isteri tidak dapat mengenali kebenaran iktikad suaminya untuk beribadah kepada Allah, mereka tidak akan dapat membentuk bayt. Seorang laki-laki harus mengenal nafs wahidah dirinya, dan seorang isteri atau para isteri memahami suaminya serta menyatukan diri untuk melayani nafs wahidah dengan menghadirkan khazanah dunianya. Dengan cara demikian akan terbentuk bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Apabila suatu bayt terbentuk, pengesahan terhadap penyatuan seseorang dengan nafs wahidah mungkin akan terjadi.
Seseorang yang mengenal diri kadangkala diberitahu tentang proses pengesahan yang akan dilakukan terhadap penyatuan dirinya. Ada pemberitahuan yang lebih dibutuhkan entitas jasmaniah seseorang berupa pemberitahuan jalan yang menjadi kunci pengesahan itu. Seseorang mungkin saja mengetahui bahwa pengesahan dirinya akan dilakukan di hadirat washilahnya, atau di sidangnya Rasulullah SAW, atau bahkan di hadirat Ar-Rahman untuk orang tertentu. Khalifatullah al-Mahdi akan disahkan di hadirat Ar-Rahman. Kisah ini dapat ditemukan pada kitab nabi Idris. Bila pengesahan dilakukan di hadirat Ar-Rahman, seseorang tidaklah dimi’rajkan ke hadapan Ar-Rahman, tetapi Ar-Rahman menurunkan diri-Nya pada kedudukan orang tersebut di surga, tidak akan lebih rendah dari surga. Hanya Rasulullah SAW satu-satunya makhluk yang dihadirkan di hadirat Ar-Rahman.
Pengesahan demikian merupakan penanda pemberian ijin Allah atas suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang akan dikenal dengan fungsi tertentu dengan bayt yang terbentuk, dan ia dapat menjalankan fungsi itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah. Ada kemampuan-kemampuan yang dianugerahkan Allah agar bayt tersebut dapat merealisasikan kehendak Allah.