Pencarian

Kamis, 26 September 2024

Khalil yang Haq

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari lurusnya jalan seseorang bertaubat kepada Allah. Sebagian kaum menggantikan tuntunan kitabullah itu dengan khalil-khalil dari kalangan manusia sedemikian manakala khalil-khalil mereka tersesat dalam mengambil pelajaran, maka kaum itu mengikutinya meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Nafs Wahidah Sebagai Khalil

Sebenarnya telah disediakan bagi setiap manusia seorang khalil haqiqi yang akan menjadi teman dekat baginya dalam bertaubat kembali kepada Allah. Khalil demikian merupakan pembawa perintah Allah khusus bagi seseorang yang harus dikerjakan dalam kehidupannya. Ia merupakan makhluk yang mengenal rabb-nya dan mengenal kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Manakala seseorang mengenal khalil tersebut, ia akan mengenal rabb-nya karena khalil tersebut mengenal rabb-nya. Khalil tersebut seringkali memperkenalkan diri kepada seseorang dengan perkataan engkau adalah aku dan aku adalah engkau, karena demikianlah khalil sangat serupa dengan khalilnya.

Sang khalil itu adalah nafs wahidah, nafs yang memahami kesatuan dirinya dalam al-jamaah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Dalam suatu perkataan, secara bebas terkandung pengertian bahwa ada bagian dari diri Rasulullah SAW di dalam nafs wahidah seseorang yang akan menyatukannya kepada Rasulullah SAW. Penjelasan ini berkorelasi dengan fungsi dari nafs wahidah yaitu menyatukan seseorang pada al-jamaah. Nafs wahidah itu merupakan bagian utama dari diri setiap manusia yang memahami kedudukan dirinya sebagai hamba Allah, kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW, kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan fungsi dirinya di alam ciptaan. Dengan pemahaman semacam itu, mereka dapat menyatukan diri dengan kebenaran universal dengan menjadi bagian darinya.

Walaupun serupa, sebenarnya ada perbedaan kedudukan di antara kedua entitas manusia tersebut. Manusia dalam bentuk jasmani merupakan makhluk bodoh dari alam dunia, sedangkan bentuk khalilnya merupakan makhluk langit dari alam cahaya yang lebih cerdas dalam memahami kehendak Allah. Manakala seseorang berkeinginan untuk menjadi hamba Allah yang benar, Allah akan memperkenalkan sang khalil kepada dirinya, maka ia akan mengetahui jalan ibadahnya kepada Allah melalui khalil tersebut dan dikatakan ia mengenal dirinya sendiri. Bila orang tersebut terus bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah setelah mengenal dirinya, ia dapat menyatu dalam satu entitas dengan khalilnya hingga suatu asma tertentu tersemat bagi orang tersebut.

Mengenal diri merupakan tahap awal seseorang memasuki jenjang agama. Sekalipun mengenal diri, kedua entitas diri seseorang itu sangat mungkin tetap dalam derajat yang berbeda tidak benar-benar menyatu. Entitas jasmani orang tersebut harus berjihad untuk menuju derajat yang layak agar dapat menyatu dengan sang khalil, hingga penyatuan tersebut mendatangkan pengesahan di alam yang tinggi. Sang khalil akan banyak mengajarkan hakikat-hakikat dari hal-hal yang terjadi dan jalan-jalan yang harus mereka tempuh kepada entitas jasmaninya, dan entitas jasmani itu harus berusaha memahami dengan sikap yang tepat dan mentaati apa-apa yang diinginkan oleh sang khalil untuk dapat menyatukan entitas-entitas diri mereka.

Dalam beberapa kasus, mungkin saja seseorang bersikap salah dalam hubungan dirinya dengan sang khalil. Khalil itu dapat dikenal dengan benar oleh entitas jasmaniahnya bila seseorang berkeinginan untuk mengenal dan menetapi jalan ibadahnya kepada Allah, karena sang khalil merupakan pembimbing dalam jalan ibadah manusia. Seseorang mungkin bisa menemukan sang khalil tetapi tidak mengenalnya dengan sudut pandang yang tepat manakala tidak diusahakan dengan jalan yang bertujuan beribadah kepada Allah. Misalnya kehadiran sang khalil bisa saja dipandang seseorang sebagai suatu status yang mengangkat kedudukan dirinya di antara makhluk, tidak dipandang sebagai khalil yang membimbing dirinya dalam ibadah kepada Allah. Bila demikian, seseorang telah salah dalam membina hubungan dengan sang khalil. Pengenalan diri seseorang yang tepat harus dilakukan dari sudut pandang jalan ibadah kepada Allah, maka ia berada pada hubungan yang tepat dengan sang khalil.

Setiap orang beriman hendaknya mencari khalil dengan jalan yang ditetapkan Allah berupa mengenal nafs wahidah, tidak secara sembarangan menjadikan si fulan sebagai khalil. Urusan Allah bagi setiap orang berbeda-beda hingga satu orang tidak dapat menjadi khalil bagi yang lain. Perbedaan urusan antar manusia dalam suatu umat seringkali, atau lebih banyak, bersifat melebar atau bersebelahan bukan dalam hubungan sebagaimana pokok dan cabangnya. Kalaupun satu orang dengan yang lain ada dalam hubungan pokok dan cabang, kadangkala harus ada perbedaan antara pokok dan cabang, ibarat misalnya suatu daun harus tumbuh pada cabang. Manakala seseorang menjadikan orang lain sebagai khalil, ia akan terkungkung pada dunia khalilnya. Alam dunia mereka akan menguncup semakin sempit karena orang-orang harus berbagi satu urusan dengan banyak sahabatnya.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
(28) Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu khalil(ku) (QS Al-Ankabuut : 28)

Kedudukan khalilullah dalam agama diberikan kepada nabi Ibrahim a.s. Hal ini menjadi indikasi bahwa nabi Ibrahim a.s dapat bertindak sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah. Pengetahuan beliau a.s tentang hakikat mencakup segenap alam yang diperkenalkan Allah dan beliau dapat bertindak benar berdasarkan pengetahuan beliau a.s. Seseorang selain beliau a.s tidak bisa menjadi khalilullah tetapi hanya menjadi khalil bagi nafs wahidah dirinya. Sebesar-besar pengetahuan diri tentang kebenaran, pengetahuan itu dibatasi dengan pengetahuan nafs wahidahnya. Ia tidak akan mampu mengenal seluruh kebenaran yang digelar Allah sehingga tidak akan dapat bertindak benar pada seluruh hal, hanya bisa benar pada bagian dirinya. Entitas jasmaniah seorang manusia bisa menjadi representasi sepenuhnya dari nafs wahidah dirinya manakala entitas jasmaniah itu mentaati, dan tidak akan bisa menjadi representasi bagi orang lain sebagai khalil karena selalu ada perbedaan di antara manusia yang mengakibatkan seseorang tidak bisa sepenuhnya memahami orang lain. Rasulullah SAW tidak mempunyai khalil dari kalangan makhluk bumi, walaupun ada Abu Bakar r.a mendampingi, sedangkan khalil beliau SAW adalah Rasulullah SAW.

Usaha untuk menemukan khalil yang hakiki akan menjadikan seseorang sungguh-sungguh mencari kebenaran dengan menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami kehendak Allah, dan menjauhkan dirinya dari bertaklid terhadap orang lain. Tumbuhnya manusia dengan akal yang kuat akan mendatangkan keberkahan yang banyak bagi semesta mereka. Sekalipun setiap manusia yang ada di sepanjang usia dunia berpegang pada satu kitabullah Alquran, buah yang dihasilkan dari masing-masing akan berbeda dengan sahabatnya hingga membuat dunia menjadi luas. Bila akal tidak tumbuh, dunia akan menjadi sempit karena setiap orang harus berebut dengan sahabatnya, satu urusan harus dibagi-bagi dengan orang lain tanpa masing-masing mengerti cara menumbuhkan apa yang dipegangnya.

Manakala suatu kaum secara sembarangan menjadikan seseorang sebagai khalil, bahaya besar yang mengancam mereka adalah kesesatan dalam mengambil pengajaran dimulai dengan kelemahan akal. Manakala suatu berita yang benar telah diketahui, mereka tidak berusaha memahami berita itu sesuai tuntunan Allah dan mungkin saja kemudian justru bertindak konyol. Boleh jadi pilar bangsa mereka runtuhkan, dan orang-orang yang berusaha menegakkan tidak mendapatkan tempat yang layak di antara mereka, atau bahkan mereka menghalangi dan berusaha menggagalkan usaha orang-orang yang menegakkan pilar itu. Misalnya manakala Dajjal akan tiba, mereka justru merusak tatanan keluarga di antara mereka, sedangkan keluarga merupakan pilar penting dalam menghadapi fitnah yang dibuat oleh syaitan. Orang-orang yang berusaha menegakkan pilar itu akan kesulitan mendapatkan tempat di antara mereka, dan kaum itu justru berusaha menggagalkan upaya untuk menegakkan pilar itu. Itu adalah kesesaatan dalam mengambil pelajaran karena tidak sungguh-sungguh mencari khalil yang benar. Adapun upaya mereka mencari khalil yang hakiki hanya merupakan gimmick tanpa mengenal isinya, tanpa menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah yang digelar bagi mereka, tergantikan dengan langkah sembarangan menjadikan seseorang di antara mereka sebagai khalil.

Membentuk Umat Yang Satu

Allah berkehendak agar orang-orang beriman bersatu dalam al-jamaah membentuk umat yang satu. Kesatuan demikian akan terjadi manakala seseorang mengenal dan menuruti nafs wahidah. Sebenarnya nafs wahidah itu sendiri sangat berperan untuk membentuk umat yang satu dalam ibadah kepada Allah, setidaknya umat yang harus tegak dari dirinya. Untuk membentuk umat demikian, ada hal-hal terkait nafs wahidah yang harus diperhatikan karena itu merupakan jalan untuk membentuk umat yang satu sesuai kehendak Allah.

Seseorang yang mengenal nafs wahidah hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk berjalan selaras dengan nafs wahidahnya. Ia akan dapat memahami sepenuhnya maksud dari nafs wahidahnya bila berada dalam keadaan ingin beribadah kepada Allah. Boleh jadi akan sangat banyak hambatan dari makhluk-makhluk jahat dan/atau bodoh agar ia tidak dapat selaras dengan nafs wahidah dirinya, tetapi ia akan tetap dapat memahami nafs wahidahnya dengan benar manakala tetap dalam keinginan beribadah kepada Allah. Bila seseorang mengenal nafs wahidah tanpa keinginan beribadah, ia akan mengalami banyak kesalahan dalam memahami maksud petunjuk yang diterimanya. Apa yang disampaikan nafs wahidah akan salah dipahami bila diterima hawa nafsu. Barangkali makhluk lain yang jahat atau bodoh tidak akan menghalangi, tetapi sebenarnya langkahnya tidak benar-benar mewujudkan kebaikan, atau sebenarnya justru menimbulkan masalah yang banyak bagi semesta dirinya.

Nafs wahidah seseorang itu tidak berdiri sendiri, terbagi menjadi pasangan-pasangan yang melahirkan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan yang banyak. Di antara pasangan nafs wahidah itu adalah entitas jasmani seorang laki-laki, dan itu adalah dirinya. Entitas jasmani itu sebenarnya membawakan pula anak-anak berupa hawa nafsu-hawa nafsu yang banyak yang bermanfaat untuk membantu mewujudkan kehendak Allah di alam dunia dalam menyatukan entitas-entitas di alam rendah. Tanpa entitas jasmani dan hawa nafsu, nafs wahidah hanya berkeinginan untuk kembali kepada Allah, dan kadangkala memusuhi entitas jasmani dirinya manakala terlalu kuat menginginkan dunia. Kehadiran syahwat dan hawa-nafsu yang banyak itu akan menjadikan seseorang dapat menyentuh dunia, dan akan mendatangkan kebaikan apabila hawa nafsu tunduk pada nafs wahidah.

Pasangan lain yang tercipta dari nafs wahidah berupa nafs seorang perempuan atau nafs-nafs beberapa perempuan yang diciptakan darinya, dan juga entitas jasmani dari perempuan itu. Nafs wahidah itu bertugas untuk menyatukan apa yang terserak dari diri mereka dalam ibadah kepada Allah, dan hal itu akan dapat dilakukan bila ia terhubung dengan pasangan-pasangannya. Perempuan-perempuan itu berperan membantu laki-laki yang diciptakan dari nafs wahidah tersebut. Bantuan itu dapat dilakukan baik secara jasmaniah ataupun bathiniah hingga nafs wahidah mereka itu terhubung dengan baik kepada alam dunianya. Peran bathiniah demikian merupakan peran khusus para isteri yang tidak dapat digantikan oleh makhluk lain.

Apabila terbentuk kesepakatan untuk bertaubat kepada Allah melalui kesatuan nafs wahidah, hubungan antar pasangan itu akan baik saling mencintai. Tetapi bukan tidak mungkin ada perbedaan-perbedaan di antara entitas jasmani laki-laki dan entitas jasmani perempuan yang berpasangan sedemikian seorang laki-laki bersikap tidak bersahabat atau justru bermusuhan dengan pasangannya atau sebaliknya. Hal demikian sangat mungkin terjadi sebagaimana nafs wahidah bisa saja memusuhi entitas jasmani dirinya. Perbedaan di antara entitas jasmani berpasangan bisa terjadi di tingkat iktikad misalnya tujuan kehidupan yang berbeda atau perbedaan menentukan pilihan dalam melangkah, ataupun perbedaan dalam tingkat adab duniawi seperti perlakuan yang buruk satu pihak terhadap lainnya. Bila bermusuhan, alam dunia yang diperuntukkan bagi mereka akan mengalami kekacauan. Syaitan membuat fitnah terbesar bagi manusia dengan jalan ini. Setiap orang hendaknya berusaha untuk membuat hubungan yang baik dengan pasangannya pada setiap tingkatan.

Pengesahan penyatuan seseorang dengan nafs wahidah akan terjadi mengikuti penyatuan nafs wahidah dan pasangan-pasangannya dalam ibadah kepada Allah, hingga entitas jasmani laki-laki ataupun entitas jasmani perempuan-perempuan pasangannya bersatu dalam ibadah kepada Allah mengikuti nafs wahidah. Penyatuan keberpasangan mengikuti nafs al-wahidah dalam lingkup pernikahan merupakan pembentukan bayt. Apabila seorang laki-laki tidak mengenal nafs wahidah, ia tidak akan dapat membentuk bayt. Sebagai turunan, apabila isteri tidak dapat mengenali kebenaran iktikad suaminya untuk beribadah kepada Allah, mereka tidak akan dapat membentuk bayt. Seorang laki-laki harus mengenal nafs wahidah dirinya, dan seorang isteri atau para isteri memahami suaminya serta menyatukan diri untuk melayani nafs wahidah dengan menghadirkan khazanah dunianya. Dengan cara demikian akan terbentuk bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Apabila suatu bayt terbentuk, pengesahan terhadap penyatuan seseorang dengan nafs wahidah mungkin akan terjadi.

Seseorang yang mengenal diri kadangkala diberitahu tentang proses pengesahan yang akan dilakukan terhadap penyatuan dirinya. Ada pemberitahuan yang lebih dibutuhkan entitas jasmaniah seseorang berupa pemberitahuan jalan yang menjadi kunci pengesahan itu. Seseorang mungkin saja mengetahui bahwa pengesahan dirinya akan dilakukan di hadirat washilahnya, atau di sidangnya Rasulullah SAW, atau bahkan di hadirat Ar-Rahman untuk orang tertentu. Khalifatullah al-Mahdi akan disahkan di hadirat Ar-Rahman. Kisah ini dapat ditemukan pada kitab nabi Idris. Bila pengesahan dilakukan di hadirat Ar-Rahman, seseorang tidaklah dimi’rajkan ke hadapan Ar-Rahman, tetapi Ar-Rahman menurunkan diri-Nya pada kedudukan orang tersebut di surga, tidak akan lebih rendah dari surga. Hanya Rasulullah SAW satu-satunya makhluk yang dihadirkan di hadirat Ar-Rahman.

Pengesahan demikian merupakan penanda pemberian ijin Allah atas suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang akan dikenal dengan fungsi tertentu dengan bayt yang terbentuk, dan ia dapat menjalankan fungsi itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah. Ada kemampuan-kemampuan yang dianugerahkan Allah agar bayt tersebut dapat merealisasikan kehendak Allah.

Selasa, 24 September 2024

Mengikuti Pengajaran Yang Benar

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi hanya mengikuti pendapat mereka sendiri.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
﴾۹۲﴿لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
(28) Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu khalil(ku). (29)Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari adz-dzikra ketika telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS Al-Ankabuut : 28-29)

Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari lurusnya jalan seseorang bertaubat kepada Allah. Sebagian kaum menggantikan tuntunan kitabullah itu dengan khalil-khalil dari kalangan mereka sendiri sedemikian manakala khalil-khalil mereka tersesat dalam mengambil pelajaran, maka kaum itu mengikutinya meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kesesatan itu terjadi karena dan manakala kaum tersebut meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan karena mengikuti seseorang kecuali manakala menjadikannya sebagai khalil. Menjadikan khalil artinya menjadikan seseorang sebagai representasi sepenuhnya dari kehendak Allah. Dalam banyak hal, mengikuti langkah-langkah seseorang yang benar akan sangat memudahkan suatu kaum untuk bertaubat kepada Allah, yaitu selama orang yang diikuti berjalan lurus dalam taubat kepada Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang yang diikuti menyimpang, suatu kaum tidak boleh mengikuti langkah panutan mereka karena mereka akan ikut menyimpang. Manakala suatu kaum menjadikan seseorang sebagai khalil, pandangan mereka akan tertutup dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga manakala khalil mereka menyimpang mereka tidak mengetahui bahwa khalil mereka menyimpang, hingga suatu tingkatan kaum itu akan menolak pengajaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dibacakan dengan benar. Keadaan demikian menunjukkan bahwa kaum itu telah disesatkan dari adz-dzikra oleh khalil mereka.

Sandaran kebenaran bagi seluruh orang beriman adalah tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan apa-apa yang disampaikan oleh seseorang di antara mereka. Kebenaran tidak terletak pada kedudukan seseorang di antara orang beriman, tetapi terletak pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang lemah atau dianggap lemah di antara orang beriman bertindak dengan nilai benar selama ia mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan seorang yang kuat di antara mereka bertindak salah manakala ia menentang tuntunan Allah. Tidak jarang akal suatu kaum terbalik-balik dalam menilai kebenaran, menganggap orang yang benar sebagai orang yang tidak berguna dan menilai kesesatan sebagai panutan yang paling baik. Hal demikian terjadi karena kaum tersebut tidak sungguh-sungguh menjadikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber pengajaran.

Kadangkala kaum yang berbuat demikian menjadikan sebagian dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber adz-dzikra, tetapi mengingkari bagian lain dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang tidak disukai hawa nafsu mereka. Tuntunan yang tidak mereka sukai mereka anggap ditujukan untuk menunjukkan keburukan-keburukan orang lain tidak menunjukkan sesuatu pada diri mereka untuk diperbaiki. Apabila ada realitas-realitas diri mereka yang sesuai ayat Allah yang tidak mereka sukai, mereka menganggap orang lain tidak memahami kebenaran dari firman itu dan kebenaran lain yang mereka ikuti. Sebenarnya kebenaran mereka demikian itu adalah kesesatan dari pengajaran yang difirmankan pada ayat di atas. Mereka tidak berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi memanfaatkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk pengajaran mereka, walaupun mungkin tanpa suatu iktikad buruk.

Kesesatan pengajaran demikian terkait dengan suatu tipuan syaitan yang sangat penipu. Sangat penipu tidak menunjukkan syaitan selalu berbuat menipu, tetapi menunjukkan syaitan sangat pandai dalam membuat tipuan. Bagi orang-orang yang telah berkembang kecerdasannya, mereka hanya menipu dalam hal-hal tertentu yang menentukan kecelakaan orang tersebut dan manusia seluruhnya bila mungkin. Mereka mungkin suka menunjukkan fenomena-fenomena yang benar selama tidak menunjukkan hakikatnya. Dalam hal-hal yang telah terjadi, mereka mempunyai rekaman yang tepat sehingga dapat memberikan informasi akurat tentang apa yang terjadi termasuk motivasi-motivasi manusia yang melatarbelakangi kejadian-kejadian manakala motivasi itu muncul karena bujukan syaitan. Dalam hal masa depan, mereka bisa memberikan informasi dan perhitungan terhadap apa-apa yang mungkin terjadi. Yang tidak mungkin mereka lakukan adalah memberikan pengetahuan hakikat terkait sesuatu yang terjadi, dan hakikat itu diturunkan Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Walaupun tidak akan mengajari, syaitan mungkin saja membenarkan keping-keping kebenaran yang diperoleh seseorang selama ia tidak mencari kebenarannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala syaitan menumbuhkan pengetahuan keping kebenaran itu dengan disertai menumbuhkan pijakan yang lain bagi syaitan dalam diri orang tersebut, maka para syaitan mempunyai pijakan yang kuat di atas waham kebenaran seseorang.

Kaum yang menjadikan seseorang sebagai khalil akan menyesali tindakan mereka karena kesesatan yang terjadi. Perbuatan itu akan menyesatkan mereka dari adz-dzikra hingga bahkan mendustakan kebenaran manakala orang lain menyampaikan pengajaran (adz-dzikra) yang benar. Setiap orang harus tetap melihat orang yang diikuti sebagai makhluk yang mungkin saja berbuat kesalahan. Hal demikian penting dilakukan. Akibat yang baik akan muncul bagi setiap pihak, tidak hanya diri sendiri tetapi juga bagi orang yang diikuti. Sikap demikian akan menjadikan pengikut dapat memahami terjadinya suatu kesalahan oleh orang yang diikuti. Manakala suatu kaum menjadikan seseorang sebagai khalil, mereka hanya akan bisa mengumpat khalilnya karena kesalahan yang terjadi, tidak mampu menilai peristiwa berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setidaknya mereka akan mengumpatnya kelak di akhirat. Kadangkala penyesalan muncul pada masa yang dekat sehingga seseorang dapat mengarahkan diri pada pemahaman yang benar. Orang benar akan bisa memberikan pendapat dengan cara pandang lain, pertimbangan, nasihat atau peringatan tanpa menghakimi dengan hawa nafsu, tetapi berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bersama Al-Jamaah

Kebenaran terletak pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang berusaha memperbaiki kehidupannya harus berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak orang yang menyandarkan kebenaran pada hal-hal lain, maka hal demikian mempunyai nilai relatif yang tidak kokoh. Kebenaran demikian mungkin bernilai benar manakala selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan bernilai salah bila bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang-orang yang tidak berusaha menyatukan kehidupannya dengan kitabullah Alquran akan menjadi kaum yang tidak mengacuhkan Alquran. Manakala suatu kaum tidak lagi mampu memahami kebenaran dari kitabullah Alquran yang disampaikan oleh orang lain sedangkan pembacaan itu telah jelas, mereka itu adalah orang yang menjadikan kitabullah Alquran sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan. Rasulullah SAW mengadukan kepada Allah keadaan umat beliau SAW yang berbuat demikian.

﴾۰۳﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
(30)Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS Al-Ankabuut : 30)

Aduan tersebut terkait dengan kedudukan beliau SAW sebagai Rasulullah. Ada bentuk-bentuk hubungan antar manusia yang harus diperhatikan dalam upaya menyatukan kehidupan terhadap kitabullah Alquran. Alquran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, dan amr-amr Allah yang ada di dalamnya diturunkan kepada para hamba yang dikehendaki-Nya yang berada dalam suatu hubungan tertentu sebagai al-jamaah. Pemahaman yang tepat terhadap kitabullah tidak diberikan Allah kepada manusia secara acak tanpa mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah yang menolong Rasulullah SAW. Sebaliknya amr Allah yang sebenarnya tidak diturunkan kecuali bersama kitabullah.

Hubungan al-jamaah demikian mempunyai keserupaan dengan hubungan pernikahan, berupa bentuk hubungan antar manusia dengan kaidah tertentu yang harus dipatuhi. Pernikahan menjadi setengah bagian dari agama yang menjadi mitsal paling sempurna bagi bentuk-bentuk hubungan antar manusia dalam agama. Seorang isteri hendaknya memperhatikan langkah suaminya dalam kembali kepada Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Demikian pula seorang suami harus memperhatikan isterinya sebagai representasi dari kauniyah semesta dirinya dalam rangka memperhatikan kehendak-kehendak Allah dalam kitabullah Alquran. Bentuk-bentuk hubungan antar manusia lainnya pada dasarnya mempunyai keserupaan dengan bentuk pernikahan dalam hubungan yang lebih longgar.

Usaha seseorang memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran harus dilakukan sedemikian terbentuk hubungan yang jelas antara tuntunan kitabullah dengan alam kauniyahnya, dan terhubung pula dengan ayat-ayat yang muncul dalam dirinya. Hal itu akan menghindarkan seseorang dari waham kebenaran, dan dengan demikian kitabullah Alquran menjadi rahmat bagi orang-orang yang mengikutinya. Setiap orang beriman pastilah akan menghadapi suatu masalah dalam kehidupannya dan umatnya sedangkan Alquran telah berbicara tentang masalah itu. Apabila ia memperhatikan tuntunan Alquran tentang masalahnya melalui washilahnya dan memperhatikan umpan balik dari pasangannya, ia akan mengetahui makna tuntunan kitabullah secara lebih nyata. Dalam banyak hal, amr Allah yang ditetapkan bagi dirinya benar-benar terdapat pada hubungannya dengan kauniyahnya melalui pasangannya.

Hubungan al-jamaah merupakan hubungan washilah dalam urusan amr jami’, tidak menunjukkan derajat kemuliaan. Derajat kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Amr Allah diturunkan melalui orang-orang yang ditentukan dan orang-orang lain dapat mengambil urusannya melalui orang yang ditentukan. Mukmin tertentu menjadi sumber bagi yang lain karena sifat pengetahuan baginya lebih mendasar, dan orang lain menjadi cabang urusan bagi sumber tersebut. Cabang urusan itu juga sekaligus menjadi sumber bagi cabang pengetahuan berikutnya. Seorang sumber harus berusaha menghadirkan tuntunan kitabullah yang menjadi landasan dzikirnya dengan cara sebaik-baiknya bagi para cabangnya agar mereka mengetahui secara pasti amr Allah bagi amal-amalnya, dan ia juga harus memperhatikan keadaan para cabangnya agar ia lebih memahami tuntunan kitabullah pada tingkatan yang lebih duniawi. Para cabang mungkin saja memperoleh pengembangan atau bahkan landasan dari ayat yang berbeda maka hal demikian hendaknya tidak dikekang kecuali jelas kesalahannya. Justru hal demikian harus ditumbuhkan karena kitabullah merupakan petunjuk untuk semua orang.

Mengacuhkan kitabullah Alquran dapat terjadi manakala seseorang berjuang tanpa memperhatikan hubungan aljamaah, sebagaimana seorang isteri yang berjihad dengan jalannya sendiri tanpa memperhatikan urusan suaminya di jalan Allah, atau sebaliknya sebagaimana suami tidak memperhatikan dengan benar realitas kauniyah bersama isterinya, terkungkung waham kebenarannya sendiri. Hal demikian menunjukkan seseorang tidak memperhatikan ayat Allah. Dalam hubungan pernikahan, amr Allah bagi seorang isteri terdapat pada diri suaminya, dan urusan duniawi bagi seorang laki-laki tergambar pada diri isterinya. Demikian pula orang yang memisahkan diri dari washilahnya di antara al-jamaah atau seseorang tidak memperhatikan kaumnya sesuai tuntunan kitabullah berarti tidak mengacuhkan kitabullah Alquran, semisal dengan keadaan isteri yang memisahkan diri dari suaminya atau suami yang terkungkung waham kebenarannya sendiri. Kadangkala seseorang berbalik dari petunjuk Allah untuk mengikuti keinginannya sendiri. Hal-hal demikian juga termasuk tidak mengacuhkan Alquran.

Setiap orang harus berusaha tetap berada pada al-jamaah tidak meninggalkannya sedikitpun. Al-jamaah dalam hal ini menunjuk pada orang-orang yang berada di atas kebenaran, berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amanahnya sesuai tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW tidak menyimpang apalagi dalam masalah yang bersifat fundamental. Kebenaran tidak boleh dinilai berdasarkan kemampuan dalam usaha mewujudkan sesuatu. Di tingkatan praktis, ada banyak tingkatan interaksi antara seseorang dengan kebenaran. Ada orang-orang yang diberi kemampuan untuk merealisasikan pengetahuan setelah diberikan pemahaman, ada orang-orang dengan tingkatan diberi pemahaman terhadap hakikat-hakikat dari kitabullah Alquran, ada orang-orang yang di tingkatan mampu menyentuh makna-makna dalam kitabullah Alquran, dan kebanyakan manusia diberi kemampuan untuk bisa membaca apa yang tertulis dalam kitabullah. Selalu ada kemungkinan kepalsuan atau kesesatan dari syaitan pada setiap tingkatan di atas, maka setiap orang harus berpegang pada kitabullah Alquran agar selamat. Orang lemah yang mengikuti kebenaran akan mendatangkan manfaat walaupun mungkin kecil, sedangkan orang yang mempunyai kemampuan besar tetapi melangkah pada jalan yang salah akan mendatangkan kerusakan yang besar. Bila suatu kaum menentukan kebenaran berdasarkan kemampuan seseorang, bisa saja timbul kerusakan yang besar karena kesalahan menilai kebenaran.

Kebenaran harus diperhatikan berdasarkan seluruh ayat-ayat Allah baik kitabullah atau kauniyah. Suatu pemahaman terhadap kitabullah bisa saja muncul dari hawa nafsu atau dari syaitan, maka pemahaman demikian tidak benar-benar menunjukkan perhatian terhadap kitabullah Alquran, atau dikatakan bahwa barangkali sebenarnya ia tidak mengacuhkan Alquran. Pemahaman kitabullah seharusnya terhubung pada amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya sebagai bukti kesungguhan menolong agama Allah, dan ia termasuk sebagai ahlu sunnah wal jamaah. Dalam hubungan semacam ini, syaitan sangat berkepentingan untuk memisahkan antara seorang suami dengan isterinya, karena akan memutuskan hubungan al-jamaah di antara umat, maka mereka mudah untuk menyesatkan manusia dari mendzikirkan Allah.

Dalam langkah lebih lanjut manakala setiap pihak berusaha untuk mengikuti al-jamaah, syaitan akan tetap berusaha menimbulkan kesalahpahaman di antara manusia untuk memutuskan hubungan washilah hingga amr Allah tidak terhubung sampai ke alam dunia. Tidak jarang pertukaran informasi antara pihak-pihak yang harus berkomunikasi dipecah-pecah hingga terjadi salah paham. Misalnya seseorang kadangkala dibuat tidak dapat memahami perkataan pihak lainnya secara sempurna melalui hawa nafsu mereka berupa kemarahan, harga diri atau bentuk-bentuk lainnya. Manakala tidak dapat dihalangi dengan cara demikian, jalan untuk sampainya informasi dibuat menghambat atau bahkan mengacaukan informasi hingga suatu pihak tidak dapat menerima informasi dengan tepat atau sempurna dari pihak lainnya. Bahkan kadang-kadang orang yang tidak berkepentingan terhadap pertukaran informasi dibuat terlibat oleh syaitan untuk memecah-belah informasi atau menghalangi terjadinya hubungan komunikasi yang baik. Hal-hal demikian harus diperhatikan oleh setiap orang agar terwujud keberjamaahan. Bila hanya mengandalkan iktikad baik tanpa memperhatikan keadaan, seseorang tidak akan mampu bertindak dengan benar.

Jumat, 20 September 2024

Mengikuti Khalil Dengan Benar

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak muslimin menjalani kehidupan hanya seperti jalan kehidupan orang kebanyakan atau bahkan jalan kehidupan orang-orang kafir tanpa berusaha menemukan keterhubungan kehidupannya dengan kitabullah Alquran. Banyak orang dari kalangan pengikut Rasulullah SAW menjadi tersesat karena tidak berusaha menghubungkan diri secara benar kepada Rasulullah SAW dengan mencari tuntunan kitabullah Alquran yang dapat diterapkan dalam kehidupan diri mereka. Kesesatan itu menjadikan mereka mengabaikan pembacaan firman Allah manakala seseorang membacakan firman Allah tentang kauniyah terkait suatu ayat kauniyah yang terjadi.

Orang-orang yang sesat dalam mengambil pengajaran banyak yang disebabkan karena mereka disesatkan oleh orang-orang yang mereka ikuti sedemikian hingga mereka kemudian menolak pengajaran-pengajaran yang benar dari firman Allah yang disampaikan. Kadangkala pikiran mereka itu muncul dari alam langit, tetapi mereka tidak memeriksa pikiran mereka atau alam langit asal pikiran itu berdasarkan kitabullah Alquran hingga mereka menentang firman Allah dalam Alquran. Perbuatan mereka menjadikan fulan sebagai khalil tanpa berpegang pada kitabullah Alquran akan menjadikan mereka menyesal.

﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil (ku). (QS Al-Furqaan : 28)

Ayat itu adalah ungkapan penyesalan orang-orang yang tersesat karena mengikuti orang lain tanpa melihat tuntunan kitabullah Alquran dalam langkah-langkahnya. Mereka menjadikan orang lain sebagai khalil dalam amal-amal dan usaha yang mereka lakukan, sedangkan khalil itu menjadikan mereka tersesat dari jalan Allah tanpa mereka ketahui. Kesadaran mereka itu baru muncul manakala mereka telah tiba di hadapan Allah, hingga mereka mengatakan : “Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil”.

Khalil (خَلِيلً) berarti sahabat dekat, menunjuk pada suatu kedekatan hubungan sedemikian hingga seseorang dikenal sama dengan sahabatnya. Dalam terminologi agama, seorang khalil berkedudukan lebih tinggi daripada wali. Nabi Ibrahim a.s adalah seorang khalil Allah, berkedudukan lebih utama di sisi Allah daripada keseluruhan kaum mukminin umumnya termasuk para wali Allah seluruhnya tanpa kecuali. Dalam hubungan khalil, seorang khalil Allah bisa menjadi sarana bagi orang lain untuk mengenali dengan benar kehendak Allah. Hal itu belum boleh dilakukan terhadap para wali Allah. Dalam hubungan kewalian, seorang wali Allah adalah seseorang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya dan berusaha mewakilkan urusannya kepada Allah, akan tetapi ia tidak dapat dijadikan sebagai parameter yang sepenuhnya benar terkait kehendak Allah karena mungkin saja ada yang salah dalam sikapnya tentang kehendak Allah. Khalifatullah Al-Mahdi a.s merupakan seorang mawla yang terbaik tetapi beliau dihitung sebagai orang jauh yang didekatkan berbeda dengan khalil Allah. Kedudukan khalil Allah diberikan kepada nabi Ibrahim a.s.

Pada dasarnya kaum muslimin hendaknya tidak menjadikan orang lain di antara mereka sebagai khalil dalam hubungannya kepada Allah. Mungkin saja ada kesalahan dalam sikap seseorang tentang kehendak Allah maka seseorang tidak boleh dijadikan khalil. Khalil dalam hubungan kepada Allah hanyalah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW karena berkedudukan lebih dari khalil. Cukuplah seseorang menjadikan orang lain sebagai wali dalam hubungannya kepada Allah, atau memperlakukan orang lain sebagai wali Allah manakala ditemukan tanda yang benar, tidak menjadikan orang lain sebagai khalil dalam hubungannya kepada Allah. Kitabullah Alquran menggantikan kehadiran khalilullah dalam kehidupan manusia pada jaman ini, menggantikan kehadirannya bukan kedudukan, maka hendaknya umat manusia tidak menjadikan orang lain sebagai khalil bagi mereka tetapi hendaknya menjadikan kitabullah sebagai tuntunan.

Hal demikian hendaknya tidak disikapi berlebihan, misalnya memandang bahwa tidak mungkin seorang manusia bisa mengenal kehendak Allah dengan benar. Mungkin saja seseorang mengenal kehendak Allah dengan benar, hanya saja pengenalannya mungkin terbatas pada urusannya, tidak sempurna atau mungkin saja ada kesalahan. Ada di antara manusia dikatakan sebagai orang yang mengenal Allah, maka pengetahuannya tentang kehendak Allah adalah benar akan tetapi terbatas pada urusan dirinya. Ada di antara manusia dapat memahami kehendak Allah sekalipun belum mengenal Allah maka pengetahuannya tidak sempurna. Pengenalan-pengenalan terbatas demikian itu bisa menjadi jalan bagi umat manusia untuk mengenal sebagian kehendak Allah melalui apa yang disampaikan orang tersebut bila disikapi dengan benar. Hanya saja hendaknya umat tidak menjadikan seseorang sebagai representasi yang sempurna dari kehendak Allah, atau dengan kata lain dijadikan sebagai khalil.

Mensikapi kebenaran dengan tepat akan menjadikan akal tumbuh menguat untuk memahami kehendak Allah. Ketepatan bersikap ini hanya dapat dilakukan bila suatu kaum berpegang erat pada tuntunan kitabullah. Demikian pula ketepatan dalam memahami kehendak Allah hanya akan diperoleh dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah. Di sisi lain, menjadikan seseorang sebagai representasi yang sempurna dari kehendak Allah akan menjadikan suatu kaum tersesat, dimulai dengan akal mereka melemah karena tidak digunakan untuk memahami tuntunan kitabullah menyangka bahwa suatu makhluk mampu menjadi representasi sempurna bagi kehendak Allah tanpa landasan yang benar. Keadaan ini akan menjadi suatu penyesalan bagi umat manusia kelak, hingga mereka mengatakan : “Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil”. Lemahnya akal yang terbentuk pada suatu kaum demikian akan melahirkan amal-amal yang tidak tepat. Barangkali mereka ingin melakukan amal-amal shalih sesuai dengan kehendak Allah, akan tetapi karena adanya kelemahan akal menjadikan amal-amal mereka tidak tepat. Seringkali mereka menjadi kaum yang keliru dalam memahami pengajaran Allah hingga apa-apa yang mereka lakukan justru merusak keadaan umat manusia tidak mendatangkan kebaikan.

Nabi Ibrahim a.s Sebagai Khalil

Kedudukan Khalilurrahman diberikan kepada nabi Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia, bahwa seorang manusia dapat menjadi makhluk yang mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Hendaknya setiap hamba Allah berusaha untuk mencapai keadaan mampu mewujudkan kehendak Allah dengan benar, tanpa berharap agar dirinya dipandang sebagai khalil Allah. Upaya demikian harus dengan niat ikhlas semata agar dirinya dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Kebenaran yang diberikan kepada nabi Ibrahim a.s mencakup segenap perbuatan yang pernah beliau lakukan kecuali pada kesalahan yang dapat dihitung dengan jari pada satu tangan maka predikat khalilullah layak beliau a.s sandang, sedangkan manusia secara keseluruhan akan melakukan banyak kesalahan yang tidak dapat dihitung sendiri. Bahkan manakala seseorang mencapai derajat tertingginya ia tetap bisa terjatuh atau bahkan dijatuhkan pada kesalahan.

Usaha untuk dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar harus dibina setiap hamba Allah dengan berproses mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Tanpa berproses mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s, pembinaan diri manusia tidaklah benar-benar menjadikannya mampu memahami apalagi mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Setiap hamba Allah harus berproses berhijrah ke tanah haram yang dijanjikan kemudian membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Dengan mengikuti millah demikian, seorang hamba Allah akan terbina sebagai insan yang dapat mewujudkan kehendak Allah dengan benar. Semakin jauh langkah yang ditempuh seseorang dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dengan tepat, semakin kuat pemahamannya terhadap kehendak Allah dan semakin benar upayanya dalam mewujudkan kehendak Allah.

Ketepatan dan kesempurnaan dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s harus diperhatikan oleh setiap hamba Allah. Sangat banyak kesalahan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan seseorang menyimpang dari jalan Allah. Ketepatan dalam mengikuti millah lebih utama daripada jauhnya proses yang ditempuh. Manakala seseorang menyimpang dari millah nabi Ibrahim a.s dan tidak berusaha mengkoreksi langkahnya, ia akan melangkah semakin jauh dari kebenaran. Ia akan tampak tumbuh dalam memahami dan mewujudkan kehendak Allah tetapi sebenarnya pemahamannya itu keliru. Ini adalah kesesatan dalam mengambil pengajaran, dan kesesatan itu akan mendatangkan pula kesesatan pada kaum yang menjadikannya sebagai khalil.

Kadangkala kesesatan itu terjadi karena seseorang tidak sempurna dalam berusaha mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Misalnya manakala mereka telah berhijrah mencapai tanah haram yang dijanjikan bagi diri mereka, mereka kemudian berbuat kufur dengan apa-apa yang diberikan Allah kepada mereka tidak melanjutkan langkah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

﴾۶۶﴿لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
﴾۷۶﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
(66) agar mereka berbuat kufur dengan apa-apa yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka menikmati (pemberian-Nya), maka kelak mereka akan mengetahui.(67) Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (mereka berada pada) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan berbuat kufur terhadap nikmat Allah? (QS Al-Ankabuut : 66-67)

Ayat-ayat tersebut menerangkan keadaan orang-orang yang mengikuti sebagian millah nabi Ibrahim a.s hingga berhijrah ke tanah haram yang dijanjikan, akan tetapi kemudian mereka berbuat kufur dengan karunia yang diberikan Allah dan bersenang-senang dengan karunia itu. Mereka mengikuti millah nabi Ibrahim a.s hingga mencapai tanah haram yang dijanjikan, akan tetapi karunia Allah ketika mereka mencapai tanah haramnya justru menjadikan mereka berbuat kufur dan bersenang-senang. Kasus demikian ini menunjukkan ketidaksempurnaan seseorang dalam mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s hingga menjadikan seseorang tersesat. Lebih dari demikian, tidak jarang seseorang tidak benar dalam mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan menyangka kesesatan mereka sebagai kebenaran dari sisi Allah.

Suatu pengenalan diri tidaklah menunjukkan seseorang telah mampu bertindak dengan benar sesuai dengan kehendak Allah. Pengenalan diri baru merupakan awal dari agama. Kemampuan seseorang bertindak dengan benar sesuai kehendak Allah akan diperoleh seseorang manakala Allah memberikan ijin-Nya terhadap bayt yang terbentuk dari upayanya mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Bayt demikian hanya terbentuk oleh orang-orang yang telah mengenal diri berhijrah mencapai tanah haram yang dijanjikan baginya dan kemudian tetap berusaha untuk mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak justru berbuat kufur setelah pengenalan dirinya.

Bayt itu harus dibangun sebagai manifestasi dari pertumbuhan nafs al-wahidah yang menyatukan umat manusia dalam memakmurkan bumi sebagai jalan ibadah kepada Allah. Bentuk bayt demikian berupa keluarga yang berusaha secara sinergis untuk meninggikan asma Allah dan mendzikirkan, bukan berbentuk bangunan. Mungkin kemudian harus terwujud pula bangunan untuk itu, tetapi yang menjadi inti bayt adalah sinergi dalam keluarga dalam mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Bila suatu keluarga terbelah dalam kehidupannya sekalipun masing-masing berusaha meninggikan asma Allah, mereka tidak akan dapat membentuk bayt, walaupun tentu saja masing-masing akan memperoleh bagian yang adil bagi dirinya.

Membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya merupakan puncak sasaran kehidupan di dunia, merupakan kesempurnaan langkah kehidupan yaitu mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Sasaran ini telah menghimpun langkah-langkah yang menjadi prasyaratnya, misalnya tazkiyatun nafs, mengenal jati diri sebagai hijrah menuju tanah yang dijanjikan, dan kondisi-kondisi pelengkap lainnya. Dari sisi sebaliknya, tazkiyatun nafs, pengenalan diri dan membina bayt sebenarnya harus bertujuan agar seseorang dapat meninggikan asma Allah dan mendzikirkan-Nya bukan dilakukan hanya untuk suci atau mengekspose keunggulan dengan mengenal diri. Seluruh langkah itu harus bertujuan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tidak ada manfaatnya mengenal diri bila tidak bisa memahami firman Allah dalam kitabullah Alquran, karena firman Allah itulah yang menjadi bahan meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Menempuh proses membina bayt akan menjadikan seseorang bisa memahami dan mewujudkan firman Allah untuk melakukan pemakmuran bumi. Tanpa proses ini, suatu kaum tidak akan dapat melakukan pemakmuran sesuai dengann firman Allah yang terkait hakikat dari keadaan yang terjadi, walaupun mungkin bisa berusaha memakmurkan. Bila musuh mereka melakukan tipu daya, tipu daya itu akan mudah menimpa mereka. Semakin tepat dan semakin jauh langkah yang ditempuh seseorang, semakin besar pemahaman yang dapat mereka peroleh dari kitabullah secara tepat dan dapat diwujudkan dalam kehidupan mereka. Tazkiyatun-nafs akan menjadikan seseorang mulai dapat menyentuh makna firman Allah dalam kitabullah Alquran. Pengenalan diri akan membuka bagi seseorang hakikat keadaan-keadaan yang terjadi di sekitarnya sesuai firman Allah, dan terbentuknya bayt akan menjadikan seseorang mampu mewujudkan kehendak Allah bagi semesta dirinya.

Bila diibaratkan merakit kendaraan, membina bayt hendaknya dilakukan untuk mewujudkan kendaraan yang baik aman dan berkinerja baik tidak menghasilkan sekadar kendaraan yang dapat berjalan. Setiap bagian kendaraan harus disusun dari komponen yang dengan baik dan disusun antara satu dengan lain sesuai dengan cetak birunya (blue print) sedemikian bagian-bagian itu bisa menjadi unit yang menyatu dalam fungsinya bukan hanya membentuk susunan komponen. Ada bagian-bagian tertentu yang harus disetting agar dapat berfungsi, misalnya roda kanan dan kiri harus disetting mengarah pada tujuan yang sama, maka kendaraan itu akan dapat berfungsi dengan baik. Demikian gambaran membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dilakukan sesuai dengan cetak biru yang benar. Bisa saja ditemukan pedoman perakitan palsu yang membuat kendaraan berjalan terbalik maju-mundurnya. Pemakmuran bumi merupakan bentuk perluasan dari membina bayt. Tanpa proses demikian, pemakmuran bumi dapat digambarkan layaknya kendaraan hippies lokal yang dibangun dengan tempelan-tempelan komponen yang seringkali tidak perlu dan justru mengganggu seperti penggunaan puluhan roda tanpa konsep desain yang jelas.

Kamis, 12 September 2024

Alquran Sebagai Sumber Pengajaran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada jaman ini harus dilakukan dengan berusaha menghubungkan kehidupan diri dengan kitabullah Alquran. Banyak di antara kaum muslimin yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW akan tetapi tidak mengetahui cara mengikutinya. Sebagian muslimin berusaha meniru tingkah laku Rasulullah SAW tanpa mengerti makna yang ditirunya, dan kadangkala justru merusak langkah orang lain yang mengikuti langkah Rasulullah SAW. Banyak muslimin menjalani kehidupan hanya seperti jalan kehidupan orang kebanyakan atau bahkan jalan kehidupan orang-orang kafir tanpa berusaha menemukan keterhubungan kehidupan dengan kitabullah Alquran. Jalan kehidupan demikian tidak akan menjadikan seseorang terhubung dengan kitabullah Alquran. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menghubungkan tuntunan kitabullah dengan kehidupan diri.

Sebagian kaum dari pengikut Rasulullah SAW menjadikan kitabullah Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan. Mereka adalah kaum muslimin yang telah diseru untuk mengikuti tuntunan kitabullah Alquran tetapi memilih untuk mengikuti apa atau siapa yang lebih mereka percayai daripada kitabullah Alquran. Sikap demikian ini sangatlah merugikan. Hal ini akan mendatangkan penyesalan yang besar atas diri mereka di hari kiamat. Rasulullah SAW akan sangat menyesalkan sikap kaum muslimin yang demikian di hadapan Allah.

﴾۹۲﴿لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
﴾۰۳﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
(29)Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari adz-dzikra ketika telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (30) Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS Al-Furqaan : 29-30)

Kata hajr (الهَجْرُ) dalam bahasa Arab berarti memutus, adalah lawan kata dari washl (الوَصْلُ) yang bermakna menyambung. Orang-orang yang berusaha menemukan kehidupan dirinya dalam kitabullah Alquran atau berusaha menemukan tuntunan kitabullah Alquran dalam kehidupan dirinya adalah orang-orang yang menyambungkan dirinya kepada Alquran, dan orang-orang yang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran setelah diserukan dengan jelas kepada mereka termasuk orang-orang yang memutuskan diri mereka dengan Alquran. Mereka adalah orang-orang yang terhubung atau terputus kepada Alquran.

Mengikuti Pengajaran

Sebagian kaum Rasulullah SAW menjadikan Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan. Mereka menjadikan Alquran terputus dari diri mereka, yaitu manakala diserukan kepada mereka untuk mengambil tuntunan kitabullah Alquran sebagai jalan ibadah dalam kehidupan mereka, mereka lebih mengikuti pendapat mereka sendiri. Mereka menyangka bahwa pendapat mereka lebih benar daripada firman Allah yang diserukan, sedangkan pendapat mereka tidak berbeda dengan pendapat orang-orang kebanyakan atau bahkan orang kafir yang muncul karena pikiran mereka. Mereka tidak melihat kebenaran dalam firman Allah yang disampaikan kepada mereka maka mereka memperlakukan firman Allah itu tidak lebih baik daripada pendapat mereka sendiri.

Yang menjadikan sebagian kaum rasulullah SAW tidak mengacuhkan kitabullah Alquran adalah kesesatan mereka dalam mengambil pelajaran (adz-dzikra). Dzikir merupakan upaya mewujudkan suatu pemahaman hingga wujud di alam dzahir. Mengambil pelajaran dalam ayat di atas menunjuk pada pemahaman yang mendasari suatu kaum dalam melakukan usaha-usaha dalam kehidupan mereka. Kesesatan dalam mengambil pelajaran menunjuk pada kesalahan pemahaman yang menyebabkan terjadinya kesalahan suatu kaum memahami keadaan dan mewujudkan kemakmuran. Misalnya manakala suatu kaum berada dalam keadaan genting tetapi mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan parameter pendapatan tidak berusaha mempersiapkan menghadapi keadaan genting, maka itu merupakan kesesatan mengambil pelajaran.

Orang-orang yang sesat dalam mengambil pengajaran umumnya disebabkan karena mereka disesatkan oleh orang-orang yang mereka ikuti sedemikian hingga mereka kemudian menolak pengajaran-pengajaran yang benar dari firman Allah dalam Alquran yang disampaikan. Kadangkala pikiran mereka itu muncul dari alam langit, tetapi mereka tidak memeriksa pikiran mereka atau alam langit asal pikiran itu berdasarkan kitabullah Alquran hingga mereka menentang firman Allah dalam Alquran. Sebenarnya syaitan turut serta dalam pengajaran-pengajaran yang mereka ikuti, tetapi hal itu akan terlambat mereka ketahui karena syaitan menjadikan pengajarannya tampak baik dalam pandangan manusia. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dahulu menjadikan fulan sebagai khalil tanpa berpegang pada kitabullah Alquran.

Adz-dzikra (pelajaran) yang benar terlahir dari pemahaman terhadap ayat-ayat Allah secara integral, meliputi integrasi pemahaman terhadap ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam diri manusia. Sebagian besar manusia saat ini hanya mengandalkan pemahaman terhadap ayat kauniyah saja tanpa terintegrasi dengan ayat kitabullah, maka hal itu belum menjamin terbentuknya adz-dzikra yang benar dan tidak tersesat. Sebagian manusia mengandalkan pemahaman berdasarkan ayat-ayat dalam diri mereka tanpa terintegrasi dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pemahaman demikian bukan merupakan adz-dzikra yang benar, dan bahkan bisa termasuk kesesatan yang sangat jauh manakala mereka menjadi orang-orang yang tidak menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah tetapi justru menganggap kebenaran adalah apa yang mereka ketahui dari indera bathiniah mereka. Adz-dzikra yang benar adalah pemahaman yang mengintegrasikan pemahaman ketiga ayat secara sinergis.

Barangkali tidak semua orang dapat memperoleh adz-dzikra secara mandiri. Hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mengikuti adz-dzikra yang benar atau untuk mengikuti adz-dzikra yang sesat. Setiap bagian dari ayat Allah telah dibentangkan secara nyata dan dapat dilihat sendiri oleh setiap muslimin. Manakala mengikuti orang yang memperoleh adz-dzikra, mereka harus berusaha melihat sendiri kebenaran adz-dzikra yang dibacakan berdasarkan seluruh ayat Allah yang digelar di semesta mereka. Manakala suatu pembacaan adz-dzikra tidak menunjukkan ayat kauniyah yang jelas, mungkin pengetahuan dirinya belum mencapai ayat kauniyah itu. Ia harus mengikuti pembacaan itu manakala melihat dasarnya dari ayat kitabullah. Ia boleh mengikuti atau membiarkannya bila tidak melihat dasarnya dari kitabullah. Manakala suatu pembacaan menyimpang dari ayat kitabullah, atau justru menentang ayat kitabullah, maka pembacaan itu merupakan adz-dzikra yang salah atau sesat. Ia tidak boleh mengikuti pembacaan itu. Apabila ia melihat integritas kauniyah dengan kitabullah manakala dibacakan, hendaknya mereka memikirkan kebenarannya dan mengikuti pengajaran itu manakala telah memahami. Manakala berbuat demikian, ia telah berusaha menyambungkan dirinya dengan Alquran.

Kesesatan dalam mengikuti adz-dzikra mempunyai banyak madlarat bagi umat manusia, karena pada dasarnya kesesatan adz-dzikra sangat terkait dengan syaitan untuk mencelakakan umat manusia. Adz-dzikra yang salah menjadikan setidaknya usaha-usaha yang dilakukan kaum muslimin tidak mendatangkan hasil yang memadai, semisal dengan penelitian yang dilakukan dengan kesalahan sistemik. Demikian usaha-usaha berdasarkan adz-dzikra yang salah merupakan usaha-usaha yang tidak mendatangkan hasil yang memadai. Adz-dzikra yang sesat akan mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia yang justru akan mengeliminasi adz-dzikra yang benar. Manakala ada orang-orang yang berusaha mewujudkan tuntunan kitabullah secara benar, orang-orang yang mengikuti pengajaran yang salah akan menjadi penghalang yang besar.

Manakala kaum muslimin menjadikan kitabullah Alquran sebagai tuntunan yang tidak diacuhkan, mereka akan dibingungkan dengan kehidupan di dunia. Upaya-upaya yang mereka pandang baik tidak mendatangkan hasil yang memadai. Kadangkala upaya yang mereka pandang sebagai suatu kebaktian kepada Allah sebenarnya merupakan maksiat yang akan mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia seluruhnya. Hal ini terkait dengan ketepatan adz-dzikra dalam mengikuti kehendak Allah, dan ketepatan itu akan diperoleh manakala kaum muslimin mengikuti tuntunan kitabullah Alquran tidak hanya mengandalkan kebenaran diri sendiri. Manakala kaum muslimin berusaha berdasarkan adz-dzikra yang benar, akar masalah yang membelit kehidupan mereka akan terlihat dan dapat disikapi dengan tepat maka usaha mereka akan mendatangkan hasil yang layak.

Mengikuti kitabullah Alquran harus dilakukan dengan tujuan membina akhlak mulia berupa terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri. Sifat rahmaniah menunjukkan terbinanya keinginan untuk bertindak mengikuti kebenaran selaras dengan firman Allah baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Sifat rahim menunjukkan sifat menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Bila telah terbina sifat-sifat ini, seseorang akan diberi kesempatan untuk memahami kitabullah Alquran dengan benar.

Keutamaan Kebenaran

Memahami kitabullah Alquran dengan benar berkedudukan lebih utama daripada amal yang terlahir darinya. Kebenaran yang dipahami dari kitabullah merupakan hakikat yang menjadi bobot sesorang dalam timbangan di hadirat Allah. Berhasil atau tidak usaha seseorang dalam mewujudkan pemahaman dari kitabullah Alquran, pemahaman hakikat itu akan menjadi bobot seseorang pada timbangan di hadirat Allah. Sebenarnya pemahaman itu juga menjadi bobot yang menentukan hasil-hasil amal manusia di alam dunia, akan tetapi tidak jarang amal-amal yang mereka lakukan tidak memperoleh tempat yang tepat di antara manusia maka amal-amal mereka tidak mendatangkan hasil yang memadai.

Orang-orang kafir benar-benar berusaha agar umat manusia tidak mendengar seruan kepada kitabullah Alquran dengan cara membuat kesibukan-kesibukan yang banyak berupa amal-amal bagi umat manusia. Mereka menghindarkan manusia untuk mendengarkan kitabullah Alquran dengan membuat-buat pekerjaan, sedangkan pekerjaan-pekerjaan itu tidak mendatangkan hasil hanya mendatangkan kesibukan. Kerja kerja dan kerja tanpa hasil yang memadai dan justru mendatangkan madlarat yang banyak di banyak sektor kehidupan.

﴾۶۲﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS Fushshilat : 26)

Orang-orang kafir yang menyibukkan manusia dengan hiruk-pikuk itu sebenarnya mempunyai tujuan yang jelas yaitu untuk mengalahkan kaum muslimin. Apabila orang-orang beriman terpancing untuk melakukan banyak kesibukan tanpa berusaha menghubungkan kehidupan diri mereka kepada kitabullah Alquran, maka mereka telah terkalahkan oleh orang kafir yang ingin mengalahkan. Keadaan negeri mereka akan berantakan karena orang kafir telah mengalahkan orang beriman.

Bobot amal orang beriman akan ditentukan oleh pengetahuannya terhadap hakikat. Tentu hal ini tidak menghilangkan kewajiban beramal, tetapi lebih menekankan bahwa hendaknya amal orang beriman diwujudkan berdasarkan adz-dzikra yang benar di atas pengetahuan dari kitabullah. Manakala orang beriman mengikuti kesibukan yang banyak yang dibuat oleh orang-orang kafir dengan melupakan tuntunan kitabullah, maka mereka akan terkalahkan oleh orang kafir. Sebaliknya kemenangan akan bisa diperoleh manakala orang-orang beriman memperhatikan tuntunan kitabullah hingga dapat beramal berdasarkan adz-dzikra yang tepat.

Adz-dzikra yang benar bagi seseorang bukanlah apa yang dibacakan orang lain kepada dirinya, tetapi apa yang dipahaminya dari kitabullah. Banyak orang mengikuti seseorang sebagai khalil dan menyangka bahwa segala yang diperbuat khalilnya adalah wujud hakikat dari kitabullah tanpa memperhatikan kesesuaian khalilnya dengan kitabullah. Hal ini dapat menyesatkan, dan mereka yang mengikuti akan disesatkan dari adz-dzikra. Setiap orang harus memperoleh adz-dzikra dari tuntunan kitabullah, bukan hanya mengikuti orang lain karena boleh jadi mereka akan disesatkan. Pembenaran seseorang terhadap khalilnya tanpa landasan kitabullah tidak menunjukkan benarnya khalil dan celaan seseorang kepada orang lain tanpa landasan kitabullah tidak menunjukkan ketercelaan orang yang dicela.

Seorang khalil yang benar akan menunjukkan kepada kaumnya cara untuk mengikuti kitabullah Alquran, tidak akan menekankan kebenaran dirinya lebih dari kitabullah Alquran. Hal ini akan dilakukan secara nyata lahir dan bathin, bukan mengatakan dirinya mengikuti kitabullah Alquran tetapi menolak sebagian firman Allah untuk mengikuti pendapatnya sendiri. Manakala seseorang berbuat demikian, ia sebenarnya belum mengikuti kitabullah Alquran baik ia menentang ataupun karena kebodohan, maka ia belum layak dijadikan khalil. Seorang khalil akan merasa lebih penting menunjukkan kepada umatnya cara mengikuti Alquran dan tidak berpikir sedikitpun untuk menyeru manusia mengikuti dirinya kecuali hanya karena kitabullah yang dipahaminya.

Kemenangan orang beriman terletak pada sikap mengikuti kitabullah Alquran berdasarkan pemahaman yang benar. Setiap orang mempunyai bagian dirinya dari kitabullah Alquran, maka apabila ia bisa memahami bagian dirinya dan mengikutinya, akan terwujud kemenangan dari dirinya dan ia bisa memberikan manfaatnya kepada orang lain. Tanpa pemahaman terhadap Alquran, ilmu yang diperoleh seseorang sebenarnya akan terliputi oleh ilmu Iblis. Semua terapan pengetahuan seseorang mempunyai kelemahan yang diketahui syaitan, maka syaitan dapat menyelipkan celah yang mendatangkan madlarat pada usaha yang dilakukan manusia. Misalnya seseorang mungkin berkeinginan untuk menempatkan manusia pada urusan yang tepat, pada prakteknya bisa saja ia menyingkirkan orang dari kedudukan yang tepat dan memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Hal itu bisa terjadi bila seseorang tidak berusaha berpegang pada kitabullah Alquran dan memahaminya. Manakala manusia memahami kitabullah Alquran, jalan syaitan merusak semakin menyempit. Semakin paham seseorang terhadap kandungan kitabullah, semakin syaitan tidak mampu membalik arah usaha manusia kecuali melalui kontra usaha berupa bentuk-bentuk di luar usaha seseorang itu sendiril.








Senin, 09 September 2024

Membina Masyarakat dengan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan mitsal yang paling sempurna bagi cahaya Allah. Allah memberikan cahaya bagi langit dan bumi agar manusia dan para makhluk dapat memahami kehendak Allah tentang penciptaan diri mereka, dan seluruh cahaya yang hendak ditampakkan Allah tersebut diberikan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merupakan misykat cahaya paling sempurna yang dapat membentuk seluruh bayangan cahaya Allah tanpa suatu kesalahan sedikitpun. Beliau SAW dapat memahami cahaya Allah hingga alam yang tertinggi di atas ‘Arsy.

﴾۵۱﴿يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu apa-apa yang kamu sembunyikan dari isi alkitab, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (QS Al-Maidah : 15)

Para rasul diberi pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran sesuai amanah masing-masing, termasuk kebenaran yang tersembunyi atau disembunyikan dari pandangan manusia. Secara khusus, Rasulullah SAW diberi pengetahuan yang sempurna terhadap semua kebenaran, maka beliau SAW dapat menceritakan semua kebenaran yang digelar Allah di alam semesta, tidak tersembunyi bagi beliau suatu kesalahan atau kebenaran yang disembunyikan. Demikian pula sebagian orang-orang beriman yang memperoleh ilmu dari kitabullah, diberikan kepada mereka pengetahuan-pengetahuan kebenaran secara terbatas pada amanah bagi mereka, termasuk mungkin pengetahuan kebenaran yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Orang-orang beriman sebenarnya membawa suatu amanah Allah yang harus ditunaikan sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW, tetapi tidak semua orang mengetahui. Hal itu menjadikan sebagian orang beriman memperoleh sebagian pengetahuan tentang hal-hal yang tersembunyi dari pandangan manusia sebagai tiruan dari pengetahuan Rasulullah SAW. Demikian pula mereka harus bertindak meniru Rasulullah SAW dalam urusannya, mengungkapkan kebenaran-kebenaran dari kitabullah yang tersembunyi, dan membiarkan sebagian pengetahuan kebenaran itu untuk diri mereka saja manakala belum dibutuhkan. Tidak semua orang beriman memperoleh pengetahuan demikian, tetapi orang-orang yang mengenal amanah yang harus mereka tunaikan mungkin diberi pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Pengetahuan terhadap ilmu-ilmu yang tersembunyi tidak perlu dijadikan masalah oleh orang-orang beriman karena merupakan kehendak Allah. Barangkali Allah memberikan pengetahuan demikian pada orang-orang yang dekat urusannya dengan kerasulan, atau dekat dengan Rasulullah SAW. Yang lebih penting diperhatikan oleh setiap orang beriman adalah berusaha menemukan amal shalih untuk jalan ibadah bagi diri mereka.

Pengetahuan demikian bukanlah suatu pengetahuan yang mengada-ada. Mereka memperoleh pengetahuan karena melihat ayat-ayat Allah yang terhampar di hadapan mereka dan mereka berusaha memandangnya dari sudut pandang kitabullah. Barangkali mereka berharap Allah memberikan petunjuk setelah usaha yang mereka lakukan maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Mereka bukan orang-orang yang menutup mata terhadap cara pandang orang-orang lain, akan tetapi pengetahuan mereka muncul lebih karena keinginan untuk memperoleh sudut pandang dari kitabullah. Dengan keadaan demikian, mereka memperoleh pengetahuan dari kitabullah hingga hal-hal yang tersembunyi dari pandangan manusia dan berbuat seperti para rasul berbuat. Mereka hanya akan mengungkapkan kebenaran yang berguna, penting atau dibutuhkan umat dan membiarkan hal yang tidak penting. Mereka tidak berusaha memperoleh sudut pandang dari kitabullah untuk dianggap pandai. Tidak selayaknya apa yang disampaikan orang demikian dikatakan pengetahuan yang mengada-ada.

Pengetahuan karena Menolong Rasulullah SAW

Secara prinsip, pengetahuan tersembunyi demikian sebenarnya diberikan kepada Rasulullah SAW atau rasul Allah. Manakala Allah juga memberikan kepada seseorang di antara hamba-hamba-Nya, hal itu barangkali karena adanya keinginan sungguh-sungguh hamba itu untuk membantu urusan Rasulullah SAW. Ciri dari orang yang diberi pengetahuan karena ingin membantu Rasulullah SAW akan sewarna dengan ciri Rasulullah SAW, bahwa ia mengungkapkan pengetahuannya yang dibutuhkan orang lain atau dipandang dibutuhkan dengan landasan kitabullah, tidak mengumbar semua pengetahuannya, dan dapat membiarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan dirinya manakala tidak mendatangkan madlarat. Tidak semua orang yang mengetahui hal tersembunyi memperoleh pengetahuannya dari Allah. Orang yang memaksa orang lain untuk tunduk dengan pengetahuannya tentang rahasia tidak menunjukkan keselarasan dengan sikap rasul Allah. Boleh jadi orang-orang demikian tidak memperoleh pengetahuannya dari Allah dan ia mengerjakan urusan tanpa ada sangkut-paut dengan urusan Rasulullah SAW.

Orang yang benar-benar menolong Rasulullah SAW ditandai dengan mengetahui amanah Allah yang harus ditunaikan sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW. Amanah itu dapat dicari seseorang dengan mencoba melihat semesta mereka melalui sudut pandang kitabullah. Pada awalnya ia tidak mengetahui untuk apa ia diciptakan. Apabila ia mau mengamati apa-apa yang terjadi pada semestanya dari sudut pandang kitabullah, ia akan mulai meraba urusan jamannya secara umum yang tergelar pada semestanya. Bila ada iktikad untuk berbuat baik disertai dengan usaha memahami semesta dengan sudut pandang kitabullah, usaha itu akan menuntun seseorang untuk menemukan amanah yang ditentukan bagi dirinya. Apa-apa yang terjadi atas dirinya menjadi ayat kunci yang akan menuntun pada jati diri. Pada saatnya, ia akan mengalami suatu keterbukaan terhadap makna-makna dalam kitabullah yang diperuntukkan bagi dirinya. Pada saat itu, ia akan mengetahui jalannya menolong Rasulullah SAW, dan ia dapat membantu Rasulullah SAW dengan benar.

Barangkali pada saat itu ia akan memperoleh pula pengetahuan-pengetahuan yang disembunyikan dari kitabullah. Apa yang boleh diungkapkan ke khalayak umum adalah hal-hal yang bermanfaat bagi umum. Keburukan-keburukan yang terlihat dari orang lain tidak boleh dibuka kepada umum, kecuali apa-apa yang jelas mendatangkan madlarat bagi masyarakat. Ia boleh membiarkan keburukan itu atau bila bisa memberikan nasihat dengan cara yang baik hendaknya ia memberikan nasihat. Nasihat yang baik itu lebih utama dilakukan. Apabila ia bisa mencegah keburukan itu muncul tanpa membuka keburukan, ia harus melakukannya dengan cara demikian. Apabila tidak ada perbaikan, ia boleh membuka keburukan itu secara terbatas cukup agar perbaikan bisa dilakukan. Kadangkala perbaikan harus dilakukan terhadap pihak terdampak dari keburukan yang terjadi, maka satu atau dua kasus yang buruk bisa dihadirkan untuk memunculkan upaya perbaikan terhadap dampak dari keburukan yang terjadi, yaitu agar masyarakat menyadari apa yang terjadi. Ilmu-ilmu yang bermanfaat hendaknya dibagikan kepada orang-orang yang layak menerima.

Orang yang ingin menolong Rasulullah SAW berkeinginan baik terhadap orang lain. Mereka berusaha memberikan kebaikan yang bisa mereka peroleh kepada orang lain, bukan memanfaatkan pengetahuan untuk menundukkan orang lain. Kadangkala mereka menemukan kebaikan melalui orang lain, dan kadangkala mereka menemukannya melalui sesuatu yang terjadi pada mereka. Pengetahuan itu menunjukkan jalan menuju keadaan yang lebih baik. Bisa saja seseorang yang ingin menolong Rasulullah SAW melihat keburukan pada sesuatu dan mengetahui jalan yang lebih baik, atau ia melihat adanya suatu kebaikan yang dapat dilakukan tanpa melihat keburukan. Pengetahuan yang diberikan Allah untuk menerangkan hal-hal tersembunyi merupakan bagian pengetahuan dari kitabullah yang bersifat integrasi berbagai hakikat. Pengetahuan ini bisa mencakup masalah praktis tidak terbatas pada pengetahuan dasar.

Menyusun Prioritas

Landasan pokok dari pembinaan umat manusia seluruhnya terletak pada apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau SAW mengetahui hal-hal tersembunyi yang harus dibina terlebih dahulu di antara umat manusia agar terbina umat yang beradab dengan akhlak mulia. Rasulullah SAW tidak sendiri dalam melakukan pembinaan umat. Orang-orang beriman yang menolong Rasulullah SAW dengan benar dalam membina umat akan memperoleh pula pengetahuan tentang prioritas-prioritas yang harus dibina di antara umatnya untuk urusan dirinya. Mereka adalah al-jamaah yang mempunyai jalinan urusan yang menyatu pada urusan amr jami’ Rasulullah SAW, terhubung melalui jalinan washilah di antara mereka. Seluruh susunan prioritas yang dikenal oleh orang yang ingin membantu Rasulullah SAW tumbuh di atas tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak bisa dikatakan membantu Rasulullah SAW manakala jalannya membina umat bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Ayat di atas secara tersirat menunjukkan bahwa ada susunan prioritas dalam melaksanakan pembinaan manusia. Ada hal-hal yang harus disampaikan kepada manusia dengan menentang kemauan mereka agar hal-hal tersebut dapat menghadirkan keadaan yang memungkinkan masyarakat berubah menjadi lebih baik, dan ada hal-hal yang perlu dibiarkan hingga suatu keadaan prasyarat tercapai terlebih dahulu. Tingkatan-tingkatan demikian hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikuti langkah rasul Allah dalam melakukan pembinaan di masyarakat. Untuk melakukan perbaikan di masyarakat, setiap orang harus menyusun prioritas-prioritas yang perlu dilakukan untuk tercapainya perbaikan. Prioritas-prioritas demikian ada yang bersifat tetap dan ada sebagian bergeser secara dinamis sesuai dengan dinamika perubahan di masyarakat.

Susunan prioritas oleh diri seseorang ada yang harus tumbuh berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan rasulullah SAW dan ayat-ayat kauniyah yang terjadi di semestanya. Susunan prioritas tetap seseorang tumbuh hanya di atas pengetahuan yang kokoh terkait pengetahuan tentang jati diri, bukan pengetahuan yang bersifat temporer. Gambaran prioritas tetap dapat dilihat pada hubungan Rasulullah SAW dan empat khulafa’ ar-rasyidin yang merupakan bentuk hubungan prioritas yang bersifat tetap sebagai turunan dari hubungan di langit. Sifat susunan prioritas pada diri seseorang yang demikian itu tidak bisa berubah secara mendadak karena adanya pengetahuan yang baru. Perubahan bentuk prioritas bisa saja terjadi sesuai dengan keadaan, akan tetapi akan mengarah kembali pada bentuk ideal tidak berubah secara drastis atau tidak terjadi perubahan mendasar. Bila ada pengeahuan yang baru, pengetahuan itu akan tumbuh sebagai cabang dari prioritas-prioritas yang telah tersusun, atau pengetahuan itu seharusnya tumbuh diberikan sebagai amanah bagi orang lain.

Ada prioritas yang perlu diperhatikan umat dalam membangun masyarakat madani. Sebagai ilustrasi, seandainya pemerintah ingin membangun budaya riset pada masyarakat, perlu dibina suatu komunitas yang mempunyai gairah terhadap keilmuan atau teknologi dengan mentalitas yang sesuai sehingga terwujud kemajuan bidang riset pada komunitas tersebut. Tanpa penyiapan yang baik, riset yang terbentuk mungkin hanya akan berputar-putar di tempat tanpa suatu kemajuan. Boleh jadi para periset hanya melakukan riset-riset tingkat dasar yang hasilnya hanya berupa bukti dari teori dasar yang telah diketahui oleh semua orang sejak lama. Riset demikian hanya akan membuang energi manusia. Para periset hendaknya mempunyai perhatian yang kuat terhadap kelengkapan teori-teori dasar dari riset yang dilakukan, dan melakukan riset berdasarkan pertimbangan keseluruhan teori-teori itu, bukan hanya membuktikan satu teori dasar yang telah diketahui umum. Suatu riset tidak boleh menggunakan teori dasar yang keliru atau metode yang keliru dan hal-hal lain yang menjadi sebab terjadinya kesalahan sistemik. Tidak kalah penting, hendaknya para periset dapat bekerja sama dengan periset lain yang mengerjakan riset bersama, berusaha mengakomodasi dan/atau memahami pemikiran periset lain sesuai perannya, tidak hanya mengikuti cara pandangnya sendiri. Bila tidak dibangun mentalitas yang benar di antara para periset, tidak akan tumbuh budaya riset di antara bangsa tersebut.

Di antara pokok pembinaan yang ditekankan oleh Rasulullah SAW sebagai pondasi pembinaan umat adalah pernikahan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Semua orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW harus memperhatikan masalah ini tidak mengabaikan, menyimpang atau membuat tuntunan baru. Terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan menjadi bibit terbentuknya masyarakat madani. Bila tidak memperhatikan hal ini, umat yang akan terbentuk tidak akan memperoleh pondasi dari peradaban masyarakat madani sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Bila meninggalkan atau menentang tuntunan ini, umat manusia akan tumbuh liar tidak berakal, tidak berarah dan tidak terbina dalam akhlak mulia.

Kadangkala kaum yang meninggalkan tuntunan ini bersifat menjadi lawan/musuh bagi orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Harapan untuk membina masyarakat madani bisa pupus karena langkah mereka. Bahkan untuk sekadar membentuk rumah tangga yang tenteram pun kadangkala sulit dilakukan. Misalnya mungkin nafs wahidah sebagai basis pernikahan ditinggalkan digantikan dengan mengikuti keinginan hawa nafsu. Adab dan akhlak terhadap pasangan dibuat tidak mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Manakala seseorang ingin membina rumah tangga yang sakinah, orang lain leluasa berbuat rusuh terhadap rumah tangganya. Manakala berusaha mengumpulkan rezeki yang terserak, rumah tangga menjadi berantakan ketika ia kembali ke rumah. Ketika ingin menunaikan petunjuk Allah, petunjuk Allah itu justru dijadikan bahan oleh orang lain untuk memperuncing perselisihan antara suami dan isteri. Memperisteri wanita shalihah kadang tidak mengurangi rasa waswas terhadap gangguan orang lain manakala ilmu Harut dan Marut digunakan secara bebas di antara masyarakat. Akan sulit membentuk rumah tangga yang tenteram di antara masyarakat yang mengabaikan ketentuan Allah, apalagi untuk membentuk peradaban masyarakat madani tentu akan menjadi sangat sulit karena tidak ada benihnya yang dapat tumbuh di antara orang yang tidak mengikuti tuntunan Allah. Seandainya seseorang di antara mereka tumbuh berakhlak mulia, bila ia tidak mempunyai penyambung ke alam duniawi berupa isteri yang mengikutinya, maka ia tidak akan mampu memberikan kontribusinya kepada masyarakat.

Apabila suatu kaum mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka bisa mengenali pengetahuan seseorang terhadap prioritas-prioritas tetap sebagai cabang dari urusan Rasulullah SAW. Prioritas dari diri seseorang itu hanya tumbuh di atas tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Masalah ini bisa menjadi penting, kadangkala seseorang kehilangan arah menyangka dirinya merupakan cabang dari Rasulullah SAW sedangkan langkahnya bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala suatu rumah tangga kehilangan kemampuan untuk mengenal petunjuk hingga suatu bisikan hawa nafsu disangka petunjuk dan petunjuk yang benar dihitung sebagai hawa nafsu. Demikian pula suatu kaum bisa kehilangan kemampuan mengenali kebenaran dan kebathilan karena meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga menyangka kebathilan yang mereka ikuti sebagai kebenaran dan menyangka kebenaran yang memperingatkan mereka sebagai kebathilan.