Pencarian

Kamis, 09 April 2026

Keilmuan Tentang Alquran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Millah yang dijadikan tauladan utama millah nabi Ibrahim a.s adalah membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian hanya dapat dibentuk oleh mukminin yang membina diri sebagai misykat cahaya.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Ayat tersebut menguraikan tentang cara yang dapat dilakukan manusia untuk memahami cahaya Allah, dan menjelaskan tentang mitsal bagi cahaya Allah. Mitsal itu bukan mitsal bagi Allah, tetapi mitsal bagi cahaya Allah. Mitsal tersebut dapat menjelaskan tentang cahaya Allah secara benar, yaitu mitsal berupa misykat cahaya dengan struktur tertentu yang terbentuk di dalam misykat cahaya tersebut.

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera. Kamera berfungsi membentuk cahaya dari objek yang dibidik menjadi suatu bayangan gambar. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Terdapat beberapa fitur-fitur yang merupakan gambaran lebih lanjut tentang proses terbentuknya mitsal bagi cahaya Allah yang perlu penjelasan sangat panjang.

Misykat cahaya pada ayat di atas merupakan penjelasan tentang suatu akhlak yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Setiap orang beriman mempunyai potensi dapat menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak itu dibentuk dari cahaya Allah dengan akhlak mulia tertentu. Gambaran tentang kehendak Allah itu dapat dibentuk dengan berusaha membina misykat cahaya diri, tidak dapat dibentuk dengan memaksakan diri meraba kehendak Allah. Seandainya seseorang belum dapat membentuk gambar dari cahaya Allah, ia dapat mengikuti orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya untuk dapat memahami cahaya Allah. Penjelasan tentang kehendak Allah yang terpancar pada ayat-ayat Allah akan diketahui oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Penjelasan orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah.

Alquran merupakan cahaya Allah yang paling nyata untuk seluruh makhluk. Ia berbicara tentang seluruh hakikat dari sisi Allah tanpa tertinggal sedikitpun dengan bahasa yang dapat dipahami oleh makhluk hingga di tingkat jasmaniah. Sebenarnya apa yang disampaikan Alquran bukan hanya redaksi-redaksi jasmaniah, tetapi juga seluruh kandungan hakikat yang hendak digelar Allah sedangkan seluruh hakikat itu tidak terlepas dari redaksi jasmaniahnya. Sebagian manusia dapat memahami makna jasmaniahnya, dan sebagian manusia dapat memahami pula hakikat dari sisi Allah melalui redaksi kitabullah. Sebagian manusia tertutup hatinya untuk dapat memahaminya. Pemahaman yang komprehensif terhadap kandungan suatu ayat kitabullah Alquran hanya dibentuk oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya, dalam batasan kemampuan masing-masing.

Basis Keilmuan Alquran

Dewasa ini, kaidah tentang keilmuan kitabullah Alquran banyak bergeser dari basis akhlak kepada basis hafalan terhadap redaksi. Banyak orang-orang yang tidak membangun akhlak secara memadai kemudian menganggap diri sebagai ulama. Sebagian orang berafiliasi kepada penguasa-penguasa untuk dijadikan sebagai ulama yang membela kedudukan penguasa mereka tanpa sedikitpun ketakwaan kepada Allah. Mereka itu hanya memperalat hafalan untuk memperoleh kedudukan di sisi penguasa. Ini adalah ulama yang buruk, dan mereka memperoleh kedudukan di dunia karena upaya mereka yang buruk. Sebagian muslim berusaha untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran akan tetapi melupakan proses pembinaan akhlak, sedemikian ilmu mereka hanya merupakan suatu hafalan. Ilmu demikian ini mungkin akan bermanfaat untuk menjaga seorang muslim tergelincir ke neraka, tetapi tidak membangun pemahaman terhadap kehendak Allah. Pembinaan yang benar untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran harus dilakukan dengan pembinaan akhlak dimulai dari pensucian diri hingga terbentuk akhlak sebagai misykat cahaya. Akhlak yang demikian itu akan menumbuhkan pemahaman yang kuat terhadap tuntunan kitabullah, sedemikian seseorang memahami persoalan yang terjadi di alam kauniyah mereka selaras dengan tuntunan kitabullah, bukan pemahaman berupa suatu hafalan saja.

Setiap usaha memahami tuntunan kitabullah akan mendatangkan manfaat yang besar bagi manusia, kecuali pemahaman orang-orang yang diniatkan untuk mencari kedudukan dari penguasa dengan ilmu mereka. Keburukan itu muncul dari hasrat rendah para ulama buruk itu, bukan dari tuntunan kitabullah. Dewasa ini banyak ulama yang buruk dikeluhkan oleh kaum muslimin lainnya, akan tetapi para ulama yang buruk itu tidak sedikitpun mengerti keburukan yang dikeluhkan kaum muslimin, dan justru menuduh muslimin hanya mengikuti syaitan-syaitan yang menjauhkan masyarakat dari ulama. Tidak semua orang yang berusaha memahami kitabullah tanpa membina diri sebagai misykat cahaya adalah ulama yang buruk, tidak demikian, tetapi benar-benar ada orang yang sebenarnya hanya menginginkan kedudukan dengan pengetahuan mereka. Tidak semua ulama yang kurang memahami masalah adalah ulama yang buruk, tetapi ada ulama yang tidak mempunyai pengetahuan karena niat mereka yang buruk.

Setiap ulama yang buruk tidak akan memahami masalah secara komprehensif karena terhalang niat yang tidak baik. Tentulah mereka tidak menempuh jalan untuk memahami cahaya Allah dengan benar. Barangkali mereka tidak menempuh proses tazkiyatun-nafs hingga Allah mensucikan jiwa mereka untuk dapat menyentuh ayat-ayat Allah. Barangkali mereka tidak membina sifat rahman dan rahim yang akan memfungsikan zujajah mereka memfokuskan cahaya Allah untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang datang. Banyak hal yang benar-benar akan menghambat seseorang untuk memahami masalah secara komprehensif sesuai dengan ayat-ayat Allah. Mereka tidak dapat memahami realitas berdasarkan tuntunan kitabullah, hanya memahami perkataan-perkataan kuno yang mereka pelajari dari literatur-literatur yang dibuat oleh orang-orang sebelum mereka. Dengan keilmuan yang semacam ini, umat islam menjadi terbelakang dalam melakukan pemakmuran dunia yang menjadi kewajiban mereka. Ini bukan karena ajaran islam yang menghambat, akan tetapi perkataan para ulama buruk itu yang menghambat kemajuan umat Islam. Mereka seperti orang purba yang membanggakan masa lalu secara keliru, melupakan bahwa kitabullah Alquran merupakan petunjuk yang diturunkan Allah untuk dijadikan petunjuk sepanjang masa yang dapat dimanfaatkan oleh setiap generasi manusia untuk memahami ayat Allah.

Mengenali ulama yang buruk dapat dilakukan dengan melihat tuduhan yang mereka lakukan terhadap proses pembinaan misykat cahaya. Orang yang melakukan tuduhan paling keras terhadap pemahaman yang berbeda tanpa berusaha memahami kebenaran dari pihak lainnya, mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan hasrat duniawi bagi diri mereka, bukan orang-orang yang berjuang untuk kalimat Allah. Mereka mungkin menggunakan teks-teks ajaran secara tekstual tanpa berusaha memahami nilai kebaikan dari teks yang digunakan, dan cenderung menahan masyarakat untuk memahami nilai-nilai mulia yang dapat diikuti. Mengalirnya pemahaman yang bernilai mulia dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan racun bagi upaya mereka, yang sebenarnya merupakan obat bagi penyakit di masyarakat.

Penyakit masyarakat itu banyak bersumber dari upaya para ulama yang buruk. Tidak jarang mereka membuat status diri mereka secara kelompok sebagai ulama, sedangkan masyarakat yang pandai tidak bisa melihat manfaat keilmuan mereka. Hanya orang yang bodoh yang mengakui keulamaan mereka, yaitu orang yang tidak mempunyai akal untuk menghayati kebaikan dalam tuntunan Allah dan memaksakan diri memandang doktrin mereka sebagai kebaikan. Para ulama buruk itu sering bertingkah laku seperti orang purba yang berbangga dengan masa lalu secara keliru, melupakan bahwa kitabullah Alquran merupakan petunjuk yang diberikan untuk sepanjang masa yang dapat dipahami dan dihayati oleh setiap generasi manusia. Seringkali keinginan masyarakat untuk memahami nilai kebaikan dalam tuntunan kitabullah dipandang sebagai racun yang merusak masyarakat, sedangkan sebenarnya doktrin mereka itulah yang merupakan penyakit bagi masyarakat. Ini tidak menutup fakta adanya sebagian pemikiran masyarakat yang menyimpang bukan terlahir dari keinginan yang baik, tetapi menunjukkan adanya upaya ulama yang buruk melakukan pembungkaman keinginan baik sebagian masyarakat untuk menghayati nilai kebaikan dari tuntunan kitabullah.

Penggolongan diri sebagai ulama’ oleh ulama yang buruk pada kaidahnya ditentang dengan status uswatun hasanah Rasulullah SAW sebagai orang yang ummi (tidak bisa membaca). Ada peraturan-peraturan yang dibuat untuk mengesahkan hak-hak keulamaan berdasarkan aturan sendiri, dan penetapan aturan ini menafikan bahwa nilai tuntunan kitabullah bersifat universal yang dapat dipahami oleh para ummi (orang buta huruf). Bahkan benar-benar makhluk paling mulia yang paling memahami nilai kemuliaan tuntunan kitabullah adalah seorang yang ummi. Mereka menghilangkan hak golongan selain mereka dengan membuat aturan keulamaan mereka sendiri, sedangkan aturan keulamaan itu buruk. Mereka menghilangkan metode atau jalan yang seharusnya ditempuh manusia agar dapat memahami tuntunan kitabullah dengan mengikuti Rasulullah SAW, dan menarik manusia untuk mengikuti cara memahami kitabullah mengikuti cara mereka, mencekoki manusia dengan pemahaman mereka sendiri.

Menimbang Manfaat Pengetahuan

Aturan keilmuan atau keulamaan terkait kandungan kitabullah Alquran hendaknya disusun secara haq mengikuti tuntunan kitabullah Alquran itu sendiri. Manusia yang paling utama keilmuannya terkait kandungan kitabullah Alquran adalah orang-orang yang telah membina diri mereka sebagai misykat cahaya. Mereka adalah orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah secara selaras baik terhadap ayat kitabullah maupun ayat kauniyah. Derajat berikutnya adalah orang-orang yang berusaha membina diri sebagai misykat cahaya dengan mencapai tahapan orang yang disucikan sedemikian mereka dapat menyentuh kandungan ayat Alquran. Derajat lebih rendah dari keadaan demikian sebenarnya hanya dapat meraba kandungan dari ayat Alquran berdasarkan redaksi yang dzahiriahnya, bukan termasuk orang yang berilmu dengan Alquran. Ilmu-ilmu demikian dapat dimanfaatkan untuk menjaga diri dalam batas-batas syariat agar tidak menjadi orang celaka, tetapi sebenarnya belum dapat mengungkapkan suatu hakikat yang terkandung dalam suatu petunjuk kitabullah Alquran. Orang-orang yang menginginkan bagian duniawi baik harta ataupun kedudukan di antara manusia dengan keilmuan mereka hendaknya tidak dipandang sebagai golongan ulama, karena mereka dapat merusak tuntunan kitabullah dengan hasrat mereka terhadap bagian duniawi.

Tingkat keutamaan ilmu-ilmu demikian dapat dinilai berdasarkan penjelasan terperinci dalam ayat misykat cahaya. Keikhlasan beribadah kepada Allah merupakan dasar memahami ilmu Alquran, yaitu hanya menghadapkan wajah semata-mata untuk menghamba kepada Allah. Lubang misykat harus mengarah kepada cahaya Allah tidak boleh berlubang di sembarang tempat karena akan merusak bayangan. Pensucian jiwa dan raga dari dosa-dosa bermanfaat agar zujajah (lensa) bisa jernih tidak mengganggu cahaya, dan latihan pengaturan fokus dilakukan dengan membina sifat rahman dan rahim. Bayangan yang dibentuk adalah pohon thayibah yang akan mengantarkan seseorang mengenal diri untuk apa diciptakan. Dengan pengenalan diri itu, zujajah berupa nafs akan mendapatkan minyak yang berkilauan hingga tampak seolah-olah bercahaya sebelum disentuh api. Seorang ulama bukan orang yang bodoh tentang dirinya sendiri, dan orang yang bodoh tentang penciptaan dirinya sendiri hendaknya tidak menggolongkan diri sebagai ulama. Orang yang mengenal penciptaan dirinya sendiri akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain menunjukkan ilmu tentang Allah utamanya terkait ilmu yang ada pada dirinya sendiri. Mungkin tidak semua ilmu bisa ditunjukkan, tetapi ia bisa menunjukkan kepada manusia ilmu yang bermanfaat untuk penghambaan kepada Allah dengan ilmu yang ada pada dirinya sendiri, tidak menunjukkan ilmu yang hanya dicomot dari perkataan orang lain.

Ilmu orang-orang demikian memberikan manfaat yang sangat baik kepada orang lain dan umat manusia untuk memahami bentuk pengabdian kepada Allah dan mewujudkan kebaikan. Ilmu mereka bukan ilmu yang menjerat akal, akan tetapi justru membuka akal untuk memahami petunjuk Allah. Dengan ilmu mereka, seseorang akan bisa menyadari kedudukan dirinya dalam kitabullah dan melangkah untuk memperbaiki keadaan diri apabila keadaan diri mereka salah atau melangkah mewujudkan amal shalih apabila mereka berada pada kedudukan yang benar. Tentu saja besarnya manfaat itu ditentukan oleh yang mendengarnya. Ada sebagian orang yang bodoh sulit untuk menyadari kebenaran yang disampaikan oleh orang yang berilmu, tetapi mereka merasa pandai dengan waham yang salah. Mereka mungkin banyak beramal dengan mengabaikan amal shalih yang diperintahkan Allah. Sebagian manusia merasa telah menjadi orang baik tidak membutuhkan ilmu yang benar. Sebagian orang kufur tidak ingin memperbaiki keadaan mengikuti petunjuk Allah. Bila demikian maka ilmu yang disampaikan orang berilmu tidak akan mendatangkan manfaat. Orang yang ikhlas akan memperoleh manfaat yang sangat besar dari ilmu yang disampaikan.

Ada orang-orang yang melangkah lebih lanjut membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, maka mereka memperoleh kekuatan untuk mewujudkan ilmu mereka dari kitabullah hingga terwujud di alam dunia. Sebenarnya setiap orang yang terbentuk misykat cahaya akan terdorong melangkah membina bayt, akan tetapi mungkin banyak hambatan yang menghalangi langkah mereka sedemikian mereka hanya menyampaikan apa yang mereka pahami dari kitabullah tanpa mampu membentuk bayt. Ada pula orang yang dirusakkan rumah tangganya hingga tidak dapat membentuk bayt dan bahkan ditimpa fitnah yang buruk dalam pandangan masyarakat mereka. Apabila seseorang dapat membentuk bayt, hendaknya mereka membentuk bayt agar kandungan kitabullah dapat tersiar seluas-luasnya kepada masyarakat mereka.